Anda di halaman 1dari 11

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ...................................................................................................1


BAB I
PENDAHULUAN...........................................................................................2
1.1. Latar Belakang...........................................................................................2
1.2. Tujuan Praktikum.......................................................................................2
1.3. Manfaat Praktikum....................................................................................2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA..................................................................................3
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM...................................................................5
3.1. Tempat Dan Waktu.....................................................................................5
3.2. Alat dan Bahan...........................................................................................5
3.3. Prosedur Pelaksanaan................................................................................5
BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN.........................................7
4.1. Hasil Pengamatan......................................................................................7
4.2. Pembahasan...............................................................................................8
4.3. Pertanyaan..................................................................................................10
BAB V
PENUTUP.......................................................................................................11
5.1. Kesimpulan................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................12
LAMPIRAN FOTO........................................................................................13

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tanah merupakan media penting bagi tumbuhan karena tanah
menyediakan berbagai kebutuhannya, disamping mengsuplai hamper seluruh
nutrisi yang dibutuhkan. Air merupukan salah satu komponen tanah yang menjadi
pelarut dan media reaksi kimia dalam tanah. Umumnya setelah hujan deras, tanah
disiram air yang sangat berlebihan, sebagian, air hujan akan masuk menembus
jauh ke dalam tanah terutama karena pengaruh gravitasi. Sebagian air akan diikat
keloid tanah (air higroskopis), sebagian lagi ditahan dalam rongga kapiler di
antara partikel-partikel tanah (air partikel).kemampuan tanah mengikat air
berbeda-beda tergantung jenis dan tekstur tanah.
Keberadaan air dalam tanah terdapat dalam berbagai bentuk, meliputi air
gravitasi, air kimia, air higrokopis dan air kapiler. Air kapiler dan air higroskopis
dapat dimanfaatkan (diserap) akar tumbuhan, sedangkan yang lain tidak.
Ketersediaan air dalam tanah sangat sipengaruhi oleh struktur dan tekstur tanah
itu sendiri. Tanah bertekstur pasir, debu dan liat memiliki daya ikat terhadap air
yang berbeda, untuk mengetahui hubungan tanah dengan air perlu dilakukan
pengamatan secara cerdas melalui percobaan-percobaan.

2.2 Tujuan praktikum


Tujuan dari praktikum adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui kemampuan tanah mengikat air
2. Untuk mengetahui gerak kapilaritas air pada beberapa tekstur tanah

3.3 Manfaat praktikum


Manfaat dari praktikum yaitu sebagai berikut :
1. Mengetahui tanah dapat mengikat air
2. Mengetahui gerak kapilaritas air berbeda-beda pada beberapa tekstur
tanah.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Air mempunyai fungsi yang penting dalam tanah. Menurut Majid (2011)
bahwa air terdapat dalam tanah karena ditahan (diserap) oleh massa tanah,
tertahan oleh lapisan kedap air, atau karena keadaan drainase yang kurang baik.
Air dapat meresap atau ditahan oleh tanah karena adanya gaya-gaya adhesi,
kohesi, dan gravitasi.
Tekstur tanah bergantung pada ukuran partikel-partikelnya. Partikel tanah
dapat berkisar dari pasir yang kasar ( 0,02-2 mm ) , lempung ( 0,002-0,02 ) hingga
partikel mikroskopis yakni tanah liat ( kurang dari 0,002 mm ) . Partikel-partikel
tanah yang berbeda ini muncul karena pengikisan bebatuan. Pembekuan air di
dalam retakan bebatuan menyebabkan bebatuan pecah secara mekanis, dan asam
lemah di dalam tanah menghancurkan bebatuan secara kimiawi. Ketika
organisme-organisme menembus batu, mereka mempercepat penghancuran
melalui agen agen mekanis dan kimiawi. (Campbell, 2008 )
Tanah-tanah yang bertekstur pasir mempunyai luas permukaan yang kecil
sehingga sulit untuk menahan air maupun unsur hara. Tanah-tanah yang bertekstur
lempung mempunyai luas permukaan yang besar sehingga kemampuan menahan
air dan menyediakan unsur hara tinggi. Tanah bertekstur halus lebih aktif dalam
reaksi kimia daripada tanah yang bertekstur kasar. Tanah-tanah yang bertekstur
halus mempunyai kemampuan menyimpan air dan hara makanan bagi tanaman
(Kay, 2000)
Kapilaritas adalah pergerakan air dari situs yang berkadar tinggi ke situs
yang berkadar air rendah akibat kenaikan energy retensinya. Kapilaritas air pada
tanah ini dipengaruhi oleh struktur tanah. Struktur tanah merupakan sifat fisik
tanah yang menggambarkan susunan ruangan partikel-partikel tanah yang
bergabung satu dengan yang lain membentuk agregat dari hasil proses
pedogenesis. Struktur tanah berhubungan dengan cara dimana partikel pasir, debu,
dan liat relatif disusun satu sama lain (Dani, 2000)
Menurut Hardjowigeno (2003) tekstur tanah menunjukkan kasar halusnya
tanah. Tekstur tanah merupakan perbandingan antara butir-butir pasir, debu dan
liat. Untuk membedakan masing-masing tekstur tanah dapat dilihat ciri–ciri dari

3
ketiga tekstur tanah tersebut. Selain itu, setiap tekstur tanah mempunyai
karakteristiknya masing–masing. Karateristik tekstur pasir yaitu daya menahan air
rendah, ukuran yang besar menyebabkan ruang pori besar lebih banyak, perkolasi
cepat, sehingga aerasi dan drainase tanah pasir relative baik. Partikel pasir ini
berbentuk bulat dan tidak lekat satu sama lain. Karakteristik tekstur debu yaitu
pasir kecil, yang tanah keringnya menggumpal tetapi mudah pecah jika basah,
empuk dan menepung. Fraksi debu mempunyai sedikit sifat plastis dan kohesi
yang cukup baik. Karateristik tekstur liat yaitu berbentuk lempeng, punya sifat
lekat yang tinggi sehingga bila dibasahi amat lengket dan sangat plastis, sifat
mengembang dan mengkerut yang besar.
Struktur tanah berhubungan dengan cara dimana partikel pasir, debu, dan
liat relatif disusun satu sama lain. Kisaran air tanah tersedia bagi tanaman
merupakan air yang terikat antara kapasitas lapang dan titik layu permanen yang
besarnya bervariasi tergantung pada tekstur tanah, makin halus tekstur makin
besar kisarannya (Hakim et all. 1986). Faktor-faktor yang mempengaruhi kadar
air di dalam tanah adalah tekstur tanah, kadar bahan organik tanah, kedalaman
solum atau lapisan tanah, iklim dan tumbuhan, senyawa kimiawi, pori tanah, dan
permeabilitas tanah.
Kapasitas lapang adalah keadaan tanah yang cukup lembab yang
menunjukan air terbanyak yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya tarik
gravitasi. Tinggi rendahnya kapasitas lapang tergantung pada jenis tanah dan
ruang pori-pori total pada setiap jenis tanah berbeda sebab ruang pori-pori total
pada tanah berpasir semakin rendah, tetapi sebagian dari pori-pori itu terdiri dari
pori-pori yang besar dan sangat efisien dalam lalu lintas air maupun udara.
(Rohmat dan Soekarno, 2006)
Berdasarkan hal diatas, terdapat rumusan permasalahan yaitu bagaimana
kemampuan tanah mengikat air dan gerak kapilaritas air pada beberapa jenis
tanah. Maka perlu dilakukan percobaan dengan tujuan untuk mengetahui
kemampuan tanah mengikat air dan gerak kapilaritas air pada beberapa jenis
tanah.

4
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Tempat dan Waktu


Praktikum dilaksanakan, di Praktikum Laboratorium Terpadu, Jurusan
Agribisnis, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah. Pada hari Senin, 6 Mei 2019, Pukul 08.00 WIB sampai selesai.

3.2 Alat dan Bahan


Alat: Bahan:
- Pipa gelas berdiameter 5 cm, - Tiga jenis tanah
panjang 60 cm, 3 buah a. Pasir
- Kain kasa b. Lempung
- Beker gelas, 3 buah c. Liat
- Statip dan klem secukupnya - Air aquades

3.3 Prosedur Pelakasanaan


a) Gerak kapilaritas air :
1. Keringkan ke tiga sampel tanah dalam oven 103 oC sampai tidak
mengandung air.
2. Sumbatlah salah satu ujung pipa kaca dengan kain kasa (sebagai alas).
3. Masukkan sampel tanah ke dalam pipa sampai 2/3 bagian.
4. Tegakkan pipa dengan statip dan masukkan alas pipa tersebut dalam
beaker gelas yang telah diisi air sebanyak 200 ml.
5. Amatilah kenaikan air dalam tabung selama minimal 3 hari. Amati pipa
manakah yang airnya paling cepat merambat.
6. Ukurlah tinggi kenaikan air tiap 5 menit selama 30 menit
7. Masukkan data hasil pengamatan ke dalam table.

b) Kemampuan tanah mengikat air :


1. Keringkan ke-3 sampel tanah (pasi, kebun, liat) sampai tidak
mengandung air.

5
2. Timbang 30 g sampel tanah. Taruhlah di dalam corong tegak yang
dasarnya disumbat dengan sedikit kapas.
3. Tuangkan 60 ml air secara perlahan ke permukaan tanah dalam corong
itu, biarkan air meresap kedalam tanah.
4. Ukur kecepatan tanah melalukan air dengan mencatat waktu yang
dibutuhkan dari awal penuangan air sampai tetes pertama muncul.
Segera tamping kelebihan air yang keluar dari bawah corong dengan
gelas ukur.
5. Biarkan air terus lalu sampai tidak ada lagi yang menetes keluar.
Keadaan air tanah itu disebut dalam keadaan “kapasitas lapangan”
(field capacity).
6. Catat volume yang dilalukan (tertampung dalam beaker) dan hitung
berapa air tertahan oleh partikel tanah (volume mula-mula – volume
yang tertampung di gelas ukur)
7. Hitunglah presentasi air yang diserap tanah itu. Bandingkan dengan
jenis tanah yang berbeda.
8. Masukkan data hasil pengamatan kemampuan tanah mengikat air dalam
tabel.

BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Pengamatan

6
a) gerak kapilaritas air

Tabel. 1 Gerak Kapilaritas Air


Menit ke- Tanah pasir Tanah lempung Tanah liat
5 10 ml 20 ml 0 ml
10 20 ml 40 ml 5 ml
15 38 ml 50 ml 10 ml
20 56 ml 65 ml 22 ml
Sisa air 144 ml 135 ml 163 ml
Rata-rata kecepatan
31 ml 43,75 ml 9,25 ml
perambatan air

Grafik. 1 Gerak Kapilaritas Air

Grafik Gerak Kapilaritas Air


70 65

60 56
50
50
40 38
tnggi (ml)

40

30
20 20 22
20
10 10
10 5
0
0
5 10 15 20
waktu (menit)
Ta nah Pas i r Ta nah Kebun Ta nah Li at

Keterangan:
1. air aquades 200ml
2. lama waktu pengamatan 20 menit
b) kemampuan tanah mengikat air

Tabel. 2 Kemampuan Tanah Mengikat Air


Tanah pasir Tanah lempung Tanah liat
ulanga Wkt Volume air Wkt Volume air Wkt Volume air
n tetes 1 tertahan tetes tertahan tetes tertahan
1 1
1 105 d 27 ml 29 d 32 ml - 60 ml

7
Keterangan
1. air aquades 60 ml

4.2. Pembahasan
a) gerak kapilaritas air
Tanah merupakan media penting bagi tumbuhan karena tanah
menyediakan berbagai kebutuhannya, disamping mengsuplai hampir seluruh
nutrisi yang dibutuhkan. Air merupukan salah satu komponen tanah yang menjadi
pelarut dan media reaksi kimia dalam tanah. Tanah juga memiliki sifat sifat
morfologi. Sifat morfologi adalah sifat tanah yang dapat diamati dan dipelajari,
kadar air dalam tanah berbeda-beda antara satu tempat dengan tempat lain.
Manfaat mengetahui kadar air tanah yaitu untuk mengetahui proses pelapukan
mineral dan bahan organic tanah yaitu reaksi yang mempersiapkan hara yang larut
bagi pertumbuhan tanaman, menduga kebutuhan air selama proses irigasi,
mengetahui kemampuan seatu jenis tanah mengenai daya simpan lengas tanah.
Berdasarkan pengamatan terhadap gerak kapiler pada ketiga jenis tanah.
Terdapat perbedaan tingkat kapilaritas dari setiap tanah. Berdasarkan perolehan
pada tabel hasil, tanah lempung mempunyai tingkat kapilaritas yang paling tinggi
yaitu rata-rata 43,75 ml, kemudian tanah pasir dengan tingkat kapilaritas yaitu
rata-rata 31 ml dan tanah liat yang mempunyai tingkat rata-rata yang paling
rendah dengan rata-rata 9,25 ml. kapilaritas di pengaruhi oleh kandungan mineral
yang larut dalam tanah itu sendiri. Jadi urutan ini dapat dikatakan bahwa
kandungan mineral dalam tanah pasir dan tanah lempung lebih sedikit dibanding
dengan tanah liat, Jika dikaitkan dengan peluang air bagi tanaman apabila ketiga
jenis tanah ini digunakan sebagai media tanam maka tanah liat lah yang memiliki
peluang besar untuk keberhasilan dalam bercocok tanam.
Kemampuan tanah dapat menahan air antara lain dipengaruhi oleh tekstur
tanah. Tanah-tanah yang bertekstur kasar mempunyai daya menahan air yang
lebih kecil dari pada tanah yang bertekstur halus.Tanah-tanah yang bertekstur
pasir mempunyai luas permukaan yang kecil sehingga sulit untuk menahan air
maupun unsur hara. Tanah-tanah yang bertekstur lempung mempunyai luas
permukaan yang besar sehingga kemampuan menahan air dan menyediakan unsur
hara tinggi. Tanah bertekstur halus seperti tanah liat lebih aktif dalam reaksi kimia

8
daripada tanah yang bertekstur kasar. Tanah-tanah yang bertekstur halus
mempunyai kemampuan menyimpan air dan hara makanan bagi tanaman (Kay,
2000). Pasir umumnya lebih mudah kering dari pada tanah-tanah bertekstur
berlempung atau liat (Hardjowigeno, 1992)

b) kemampuan air mengikat tanah


Kapasitas lapang adalah keadaan tanah yang cukup lembab yang
menunjukan air terbanyak yang dapat ditahan oleh tanah terhadap gaya
tarik gravitasi. Tinggi rendahnya kapasitas lapang tergantung pada jenis
tanah dan ruang pori-pori total pada setiap jenis tanah berbeda sebab ruang
pori-pori total pada tanah berpasir semakin rendah, tetapi sebagian dari
pori-pori itu terdiri dari pori-pori yang besar dan sangat efisien dalam lalu
lintas air maupun udara. (Rohmat dan Soekarno, 2006)
Struktur tanah berhubungan dengan cara dimana partikel pasir,
debu, dan liat relatif disusun satu sama lain. Kisaran air tanah tersedia bagi
tanaman merupakan air yang terikat antara kapasitas lapang dan titik layu
permanen yang besarnya bervariasi tergantung pada tekstur tanah, makin
halus tekstur makin besar kisarannya (Hakim et all. 1986).
Berdasarkan Tabel 2 tersebut, dapat dilihat bahwa waktu yang
dibutuhkan untuk tetes pertama pada masing-masing tanah berbeda. Pada
tanah pasir dibutuhkan waktu 105 detik, pada tanah kebun dibutuhkan
waktu 29 detik dan pada tanah liat tidak mengeluarkan tetes sama sekali.
Secara berurutan tetes pertama dimulai dari tanah lempung/kebun, tanah
pasir dan kemudian tanah liat.
Sesuai dengan sifatnya, tanah dapat menahan air. Sehingga saat air
yang dituangkan sebanyak 60 ml ke masing-masing tanah, terdapat
beberapa volume yang tertahan oleh tanah. Berdasarkan Tabel 2 volume
air yang tertahan pada masing-masing tanah berbeda. Pada tanah liat
paling banyak menahan air dibanding 2 jenis tanah lainnya yaitu sebanyak
60 ml atau seluruh air aquades tertahan oleh tanah liat, pada tanah kebun
menahan air sebanyak 32 ml dan pada tanah pasir menahan air sebanyak
27ml. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa tanah liat lebih banyak
menahan air. Hal ini disebabkan oleh karena tanah liat terdiri dari partikel

9
sangat kecil berkuran koloid dengan banyak permukaan hidrofilik. Jadi air
yang kadarnya lebih rendah daripada kapasitas lapang sebagian besar di
tahan oleh daya tarik antara molekul air dan permukaan partikel tanah liat.
Tanah liat mampu menahan lebih banyak air yang tersedia bagi tumbuhan.
Tanah yang kaya akan tanah liat dan humus (atau tanah bertekstur sedang)
mampu menahan air paling banyak, (Frank, 1995).
Sedangkan pada tanah pasir menahan air paling rendah. Menurut
Hakim et al (1986) bahwa tanah yang didominasi pasir akan banyak
mempunyai pori-pori makro, tanah yang didominasi debu akan
mempunyai pori-pori meso (sedang), sedangkan didominasi liat akan
banyak mempunyai pori-pori mikro. Hal ini berbanding terbalik dengan
luas permukaan yang terbentuk, luas permukaan mencerminkan luas situs
yang dapat bersentuhan dengan air, energi atau bahan lain, sehingga makin
dominan fraksi pasir akan makin kecil daya tahannya untuk menahan
tanah.
Makin poreus tanah akan makin mudah akar untuk berpenetrasi,
serta makin mudah air dan udara untuk bersirkulasi tetapi makin mudah
pula air untuk hilang dari tanah dan sebaliknya, makin tidak poreus tanah
akan makin sulit akar untuk berpenetrasi serta makin sulit air dan udara
untuk bersirkulasi. Oleh karena itu, maka tanah yang baik dicerminkan
oleh komposisi ideal dari kedua kondisi ini, sehingga tanah bertekstur
debu dan lempung akan mempunyai ketersediaan yang optimum bagi
tanaman, namun dari segi nutrisi tanah lempung lebih baik ketimbang
tanah bertekstur debu (Nyakpa, 1989).

BAB V
KESIMPULAN

10
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan
bahwa:
a. gerak kapiler pada tanah yang memiliki kecepatan tertinggi untuk
menyerap air adalah tanah kebun, disusul dengan tanah pasir dan tanah
liat. Hal ini pengaruhi oleh kandungan mineral yang larut dalam tanah itu
sendiri. Jadi urutan ini dapat dikatakan bahwa kandungan mineral dalam
tanah pasir dan tanah lempung lebih sedikit dibanding dengan tanah liat
b. pada percobaan kemampuan tanah mengikat air, tanah yang memiliki
kemampuan mengikat air tertinggi dari ketiga jenis tanah yaitu tanah liat.
Hal ini disebabkan oleh karena tanah liat terdiri dari partikel sangat kecil
berkuran koloid dengan banyak permukaan hidrofilik.

DAFTAR PUSTAKA

Astuti, puji,dkk. 2018. Penuntun Praktikum Ilmu Tanaman. Universitas Islam


Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Jakarta

Campbell, dkk. 2008. Biologi Jilid II Edisi kedelapan. Erlangga : Jakarta


Hakim, N.M.Y. Nyakpa, A.M.Lubis, S.Ghani, Nugroho, M.R.Soul,
M.A.Diha, G.B.Hong, N.H.Balley., 1986.Dasar-Dasar Ilmu
Tanah.Universitas Lampung, Lampung.
Hardjowigeno. 1992. Genesis Tanah; proses Pembentukan Tanah Dan Morfologi
Tanah. CV. Jakarta: Rajawali

Sandra, Shara Aljogja. 2017. Fisiologi.


http://sharaals.blogspot.com/2017/05/ (diakses pada tanggal 10 Mei 2019)

11