Anda di halaman 1dari 14

1. Jelaskan defenisi dari imunodefisiensi serta pembagiannya ?

Jawaban :

Imunodefisiensi adalah kelainan dalam perkembangan dan fungsi sistem imun yang
mengakibatkan peningkatan terhadap infeksi reaktivasi infeksi laten seperti
sitomegalovirus dan tuberculosis. Dimana respon imun normal tetap mengawasi infeksi
namun tidak mengeradikasi infeksi tersebut dan meningkatkan angka kejadian kanker
tertentu. (1)

A. Imunodefisiensi Kongenital (Primer)

Imunidefisiensi kongenital disebabkan oleh defek genetik yang mengakibatkan


hambatan maturasi atau fungsi berbagai komponen sistem imun. Imunodefisiensi
tersebut memiliki beberapa persamaan sifat dengan yang paling umum adalah adanya
komplikasi infeksi. Beberapa kelainan tersebut mengakibatkan peningkatan nyata pada
kepekaan terhadap infeksi yang dapat bermanifestasi sesaat setelah kelahiran dan dapat
fatal bila defek imunologis tersebut tidak dikoreksi. Imunodefisiensi lain dapat
berakibat pada infeksi ringan dan mungkin pertama terdeteksi pada saat usia dewasa.
Selain itu defisiensi imun spesifik kongenital sangat jarang terjadi. Defisiensi sel B
ditandai dengan infeksi rekuren oleh bakteri. Defisiensi sel T ditandai dengan infeksi
virus,jamur dan ptotozoa yang rekuren. Penyakit komplemen menunjukkan defek
dalam jalur aktivasi klasik, alternative dan atau lektin yang meningkatkan mekanisme
pertahanan pejamu spesifik. (1)

B. Imunodefisiensi Didapat (Sekunder)

Imuno defisiensi didapat atau sekunder sering ditemukan. Defisiensi tersebut


mengenai fungsi fagosit dan limfosit yang dapat terjadi akibat infeksi HIV,
malnutrisi,terapi sitotoksik dan lainnya. Defisiensi imun sekunder dapat meningkatkan
kerentanan terhadap infeksi oportunistik. Faktor-faktor yang mempengruhinya adalah
infeksi, obat dan trauma dan juga tindakan kateterisasi dan bedah, penyinaran, penyakit
berat, kehilangan immunoglobulin,agamalobulinemia dengan timona. Defisiensi
sistem imun seringkali berkembang karena obnormalitas yang bersifat non genetic
namun didapat selama hidup. Abnormalitas yang paling serius dan tersebar di seluruh
dunia adalah infeksi HIV. Penyebab terseringnya imunodefisiensi sekunder dinegara
maju adalah kanker yang melibatkan sumsum tulang dan berbagai macam terapi. (1)
2. Faktor – faktor yang dapat menimbulkan defisiensi imun sekunder ?
Jawaban :

Faktor Komponen Yang Kena

Proses Penuaan Infeksi meningkat, penurunan respons


terhadap vaksinasi, penurunan respons sel T
dan Sel B serta perubahan dalam kualitas
respon imun.

Malnutrisi Malnutrisi protein-kalori dan kekurangan


elemen gizi tertentu (besi,seng/Zn), sebab
tersering defisiensi imun sekunder.

Mikroba Imunosupresif Contohnya : Malaria, virus, campak, terutama


HIV, mekanismenya melibatkan penurunan
fungsi sel T dan APC

Obat Imunosupresif Steroid.

Obat Sitotoksik/Iradiasi Obat yang banyak digunakan terhadap tumor,


juga membunuh sel penting dari sistem imun
termasuk sel induk, progenitor neutrofil dan
limfosit yang cepat membelah dalam organ
limfoid.

Tumor Efek direk dari tumor terhadap sistem imun


melalui penglepasan molekul imunoregulator
imunosupresif (TNF-β).

Trauma Infeksi meningkat, diduga berhubungan


dengan penglepasan molekul imunosupresif
seperti glukokortikoid.

Penyakit lain seperti diabetes Diabetes sering berhubungan dengan infeksi.


Lain-Lain Depresi, penyakit alzaimer, penyakit Celiac,
Sarkoidosis, penyakit limfoproliferatif,
makroglobulinemia Waldenstrom, anemia
aplastik, neoplasia. (2)

3. Penyakit – penyakit apa saja yang berhubungan dengan scenario ?


Jawaban :

 HIV/ AIDS adalah Kumpulam gejala yang di sebabkan oleh menurunnya kekebalan
tubuh akibat infeksi virus HIV.(3)
 Gonore infeksi menular seksual pada epitel dan umumnya bermanivestasi ,menjadi
seviksitis, urethritis,proktitis,dan kongjungtivitis.(3)
 Trikomoniasis adalah penyakit menular yang di sebabkan oleh trichomonas vaginalis.
 Chancroid adalah penyakit yang di sebabkan oleh bakteri haemoplilus ducreyl. Pada
penderita akan mucul bisul kecil yang kamudian akan menjadi luka pada alat kelamin. (3)
 Lyymphogranuloma venereum / LGV adalah penyakit yang di sebabkan oleh infeksi
bakteri chlamydia trachomatis. (3)
 Sifilis adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri bernama Treponema pallidum. Sifilis
adalah salah satu infeksi menular seksual (IMS). Umumnya, infeksi ini menyebar melalui
hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi. Selain melalui hubungan intim, bakteri
penyebab sifilis juga bisa menyebar melalui pajanan cairan tubuh penderitanya, misalnya
melalui darah.(3)
 Skabies merupakan suatu penyakit kulit menular yang disebabkan oleh infeksi tungau
Sarcoptes scabiei. Infeksi tungau ini dapat menyebabkan gatal-gatal yang sangat hebat.
Skabies ditandai dengan lesi. Terdapat dua lesi pada skabies yaitu lesi spesifik (liang atau
terowongan) dan lesi nonspesifik (papula, vesikel dan ekskoriasi). Tempat khas dari tubuh
yang biasanya tekena skabies adalah jari-jari, pergelangan tangan, lipatan aksila, perut,
bokong, dan alat kelamin.(4)
 Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri berbentuk
batang (basil) yang dikenal dengan nama Mycobacterium Tuberculosis. Penularan
penyakit ini melalui dahak penderita yang mengandung basil tuberkulosis paru tersebut.
Pada waktu penderita batuk, butir-butir air ludah beterbangan di udara yang mengandung
basil TBC dan terhisap oleh orang yang sehat dan masuk ke dalam paru yang kemudian
menyebabkan penyakit tuberkulosis paru. (5)
4. Jelaskan patomekanisme dari gejala papul merah serta mengapa pada malam hari rasa
gatalnya begitu hebat ?
Jawaban :

- Gejala papul merah dapat terjadi karena infeksi tungau Sarcoptes scabei, Infeksi
tungau ini dapat menyebabkan gatal-gatal yang sangat hebat. Skabies ditandai dengan
lesi. Terdapat dua lesi pada skabies yaitu lesi spesifik (liang atau terowongan) dan lesi
nonspesifik (papul, vesikel dan ekskoriasi). Tempat khas dari tubuh yang biasanya
tekena skabies adalah jari-jari, pergelangan tangan, lipatan aksila, perut, bokong, dan
alat kelamin. Secara umum, transmisinya terjadi secara langsung melalui kontak antar
kulit. Selain itu, transmisinya dapat terjadi secara tidak langsung yang dikarenakan
infeksi tungau dari pakaian ataupun dari tempat tidur. Tungau tersebut menggali
terowongan pada stratum korneum dan melangsungkan siklus kehidupannya dalam
terowongan tersebut. Host memberikan respon berupa rasa gatal dikarenakan adanya
beberapa tungau. Siklus hidup S. scabiei dimulai saat tungau dewasa masuk ke dalam
kulit host (manusia) dan tungau betina bertelur. Larva menetas dari telur dan akhirnya
berkembang menjadi tungau dewasa, dan siklus berulang. Lesi kulit pada skabies
disebabkan oleh liang atau terowongan tungau dan respons inflamasi yang lebih luas
di kulit, yang disebabkan oleh reaksi hipersensitif terhadap tungau dan produknya. (4)
Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau skabies, tetapi juga oleh
penderita sendiri akibat garukan. Gatal yang terjadi disebabkan oleh sensitisasi
terhadap sekret dan ekskret tungau yang memerlukan waktu kurang lebih satu bulan
setelah infestasi. Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan
ditemukannya papul. (6)

- Gatalnya memuncak pada malam hari karena S. scabei merupakan hewan yang
nopturnal dimana aktifitas tungau yang lebih tinggi pada suhu yang lembab dan
panas.(6)

5. Bagaimana hubungan pemakaian tato dengan kondisi atau gejala yang dialami penderita ?
Jawaban :

Kata “tato” berasal dari kata Tahitian / Tatu, yang memilki arti : menandakan
sesuatu. Rajah atau tato (Bahasa Inggris: tattoo) adalah suatu tanda yang dibuat dengan
memasukkan pigmen ke dalam kulit. Sebenarnya rasa sakit pasti dialami ketika membuat
tato di tubuh, namun karena nilai yang tinggi dari tato, dan harga diri yang didapatkan,
maka rasa sakit itu tidak dianggap masalah. Efek samping yang bisa muncul dari
pembuatan tato adalah adanya risiko infeksi seperti penggunaan jarum yang tidak steril
atau kandungan zat-zat berbahaya dari tinta yang dipakai. Beberapa faktor resiko dari
penderita, berperan dalam penularan HIV/AIDS. Dengan adanya keadaan penderita
dengan keadaan bertato memungkinkan penderita tertular HIV/AIDS yang akan berimbas
pada penularan kepada keluarganya. Penggunaan jarum yang tidak steril pada proses
pembuatan tato menyebabkan beberapa penyakit yang bisa ditimbulkan dari proses tato
yang tidak steril adalah infeksi HIV AIDS, Hepatitis B atau C, TBC, Mycobacterium,
Sifilis, Malaria dan Lepra. (7)

6. Mengapa terjadi infeksi berulang pada penderita ?


Jawaban :

Human Immunodeficiency Virus terutamamenginfeksi limfosit CD4 atau T helper


(Th),sehingga dari waktu ke waktu jumlahnya akan menurun, demikian juga fungsinya
akan semakin menurun. Th mempunyai peranan sentral dalam mengatur sistem imunitas
tubuh, utamanya system imun adaptive yang memiliki kemampuan untuk mengingat
antigen pathogen. Bila teraktivasi oleh antigen, Th akan merangsang baik respon imun
seluler maupun respon imun humoral, sehingga seluruh sistem imun akan terpengaruh.
Namun yang terutama sekali mengalami kerusakan adalah system imun seluler. Jadi
akibat HIV akan terjadi gangguan jumlah maupun fungsi Th yang menyebabkan
hampir keseluruhan respon imunitas tubuh tidak berlangsung normal, selain itu produksi
sel t memori juga akan ikut terganggu sehingga kemampuan untuk mengingat antigen akan
menurun. (8)

7. Jelaskan langkah – langkah diagnostic ?


Jawaban :

 Anamnesis

Diagnosis HIV ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis dan


pemeriksaan laboratorium. Anamnesis yang mendukung kemungkinan infeksi HIV
misalnya :

 Lahir dari ibu dengan resiko tinggi


 Lahir dari ibu dengan pasangan resiko tinggi
 Penerima transfusi darah atau komponennya, lebih-lebih berulang dan tanpa uji
tapis HIV
 Penggunaan obat parenteral atau intravena dengan keliru (biasanyapecandu
narkotika)
 Kebiasaan seksual yang keliru. (9)

 Pemeriksaan Fisik

 Suhu.

Demam umum pada orang yang terinfeksi HIV, bahkan bila tidak ada gejala
lain. Demam kadang-kadang bisa menjadi tanda dari jenis penyakit infeksi tertentu
atau kanker yang lebih umum pada orang yang mempunyai sistem kekebalan tubuh
lemah. Dokter akan memeriksa suhu anda pada setiap kunjungan. (9)

 Berat.

Pemeriksaan berat badan dilakukan pada setiap kunjungan.Kehilangan 10%


atau lebih dari berat badan Anda mungkin akibat dari sindrom wasting, yang
merupakan salah satu tanda-tanda AIDS, dan yang paling parah Tahap terakhir
infeksi HIV. Diperlukan bantuan tambahan gizi yang cukup jika anda telah
kehilangan berat badan.(9)

 Mata

Cytomegalovirus (CMV) retinitis adalah komplikasi umum AIDS. Hal ini


terjadi lebih sering pada orang yang memiliki CD4 jumlah kurang dari100 sel per
mikroliter (MCL). Termasuk gejala floaters, penglihatan kabur, atau kehilangan
penglihatan. Jika terdapat gejala retinitis CMV, diharuskan memeriksakan diri ke
dokter mata sesegera mungkin. Beberapa dokter menyarankan kunjungan dokter
mata setiap 3 sampai 6 bulan jika jumlah CD4 anda kurang dari 100 sel per
mikroliter (MCL). (9)

 Mulut

Infeksi Jamur mulut dan luka mulut lainnya sangat umum padaorang yang
terinfeksi HIV. Dokter akan akan melakukan pemeriksaan mulut pada setiap
kunjungan. pemeriksaan gigi setidaknya dua kalisetahun. Jika Anda beresiko
terkena penyakit gusi (penyakit periodontal), Anda perlu ke dokter gigi Anda lebih
sering. (9)
 Kelenjar getah bening.

Pembesaran kelenjar getah bening (limfadenopati) tidak selalu disebabkan


oleh HIV. Pada pemeriksaan kelenjar getah bening yang semakin membesar atau
jika ditemukan ukuran yang berbeda, Dokter akan memeriksa kelenjar getah bening
Anda pada setiap kunjungan. (9)

 Perut

Pemeriksaan abdomen mungkin menunjukkan hati yang


membesar (hepatomegali) atau pembesaran limpa (splenomegali). Kondisi ini
dapatdisebabkan oleh infeksi baru atau mungkin menunjukkan kanker. Dokter akan
melakukan pemeriksaan perut pada kunjungan setiap atau jika pasien mengalami
gejala-gejala seperti nyeri di kanan atas atau bagian kiri atasperut Anda.(9)

 Kulit

Kulit merupakan masalah yang umum untuk penderita HIV.pemeriksaan


yang teratur dapat mengungkapkan kondisi yang dapatdiobati mulai tingkat
keparahan daridermatitis seboroik dapat sarkoma Kaposi. Dokter akan melakukan
pemeriksaan kulit setiap 6 bulan atau kapan gejala berkembang. (9)

 Pemeriksaan Penunjang

 Pemeriksaan Antigen p24

Salah satu cara pemeriksaan langsung terhadap virus HIV untuk


mendiagnosis HIV adalah pemeriksaan antigen p24 yang ditemukan pada serum,
plasma, dan cairan serebrospinal. Kadarnya meningkat beberapa saat awal infeksi
dan beberapa saat sebelum penderita memasuki stadium AIDS. Penderita yang baru
terinfeksi, antigen p24 dapat positif hingga 45 hari setelah infeksi. Oleh karena itu
pemeriksaan ini hanya dianjurkan untuk pemeriksaan tambahan pada penderita
resiko tinggi tertular HIV. (9)

 Kultur HIV

HIV dapat di kultur dari cairan plasma, serum, peripheral blood


mononuclear cells (PBMCs), cairan cerebrospinal,saliva, semen, lender serviks,
serta ASI. KUltur HIV biasanya tumbuh dalam 21 hari. (9)
 HIV – RNA

Jumlah HIV-RNA adalah pemeriksaan yang menggunakan twknologi PCR


untuk mengetahui jumlah HIV dalam darah. Pemeriksaan ini merupakan
pemeriksaan yang penting untuk mengetahui dinamika HIV dalam tubuh. HIV-
RNA dapat positif pada 11 hari setelah terinfeksi sehingga menurukan masa jendela
pada skrining donor darah. (9)

 Pemeriksaan Antibodi

Pemeriksaan serologi untuk ,mendeteksi antibody terhadap HIV secara


umum di klasifikaskan sebagai pemeriksaan penapisan dan pemeriksaan
konfirmasi. Pada pemeriksaan penapisan metode yang di gunakan adalah ELISA.
Metode ELISA menggunakan antigen yang dilabel sebagai konjugat sehingga hasi
pemeriksaan sangat sensitive dan dapat mengurasi masa jendela. (9)

8. Jelaskan DD dan DS
Jawaban :

a. GONORE

 DEFINISI

Gonorea dalam arti luas mencakup semua penyakit yang disebabkan oleh
Neisseria gonorrhoeae. Gonore adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri
Neisseria gonorrhoeae yang sering menyerang membran mukosa uretra pada pria dan
endoservik pada wanita. Gonore sering ditularkan melalui kontak seksual.(10)

 EPIDEMIOLOGI

Infeksi gonore di Indonesia menempati urutan yang tertinggi dari semua


jenis penyakit menular seksual. Gonore adalah penyakit yang harus dilaporkan
kedua paling sering dilaporkan di Amerika Serikat. Penderita paling banyak dijumpai
pada remaja dan dewasa muda. Hal tersebut dapat dimungkinkan karena aktivitas
seksual pada umur tersebut cukup tinggi. (10)
 ETIOLOGI

Penyebab gonore adalah genokokok yang ditemukan oleh Albert Ludwig


Siegmund Neisser berkebangsaan Jerman, melalui pengecatan hapusan duh tubuh
uretra, vagina dan konjungtiva dan pertama kali di kultur in vitro tahun 1882 oleh
Leistikow. Bakteri Neisseria gonorrhoeae adalah bakteri diplokokus gram negatif yang
aerob dan berbentuk seperti biji kopi. Terletak intraselular yang biasanya terdapat di
dalam leukosit polimorfonuklear. Bakteri tersebut memilki diameter sekitar 0,8 μm.
Selain itu, kuman ini tidak motil dan tidak berspora. Suhu 35°C-37°C dan pH 7,2- 7,6
merupakan kondisi optimal untuk bakteri Neisseria gonorrhoeae tumbuh. Secara
morfologik gonokokok ini terdiri atas 4 tipe, yaitu tipe 1 dan 2 yang mempunyai pili
yang bersifat virulen, serta tipe 3 dan 4 yang tidak mempunyai pili dan bersifat non
virulen. Pili akan melekat pada mukosa epitel dan akan menimbulkan reaksi radang.
(10)

 PATOGENESIS

Neisseria gonorrhoeae dapat ditularkan melalui kontak seksual atau melalui


penularan vertikal pada saat melahirkan. Bakteri ini terutama mengenai epitel
kolumnar dan epitel kuboidal manusia. Patogenesis gonore terbagi menjadi 5 tahap
sebagai berikut: Fase 1 adalah bakteri Neisseria gonorrhoeae menginfeksi permukaan
selaput lendir dapat ditemukan di uretra, endoserviks dan anus. Fase 2 adalah bakteri
ke microvillus sel epitel kolumnar untuk kolonisasi selama infeksi, bakteri dibantu
oleh fimbriae, pili. Fimbriae terutama terdiri dari protein pilin oligomer yang
digunakan untuk melekatkan bakteri ke sel-sel dari permukaan selaput lendir. Protein
membran luar PII Oppacity associated protein (OPA) kemudian membantu bakteri
mengikat dan menyerang sel inang. Fase 3 adalah masuknya bakteri ke dalam sel
kolumnar dengan proses yang disebut endositosis di mana bakteri yang ditelan oleh
membran sel kolumnar, membentuk vakuola. Fase 4 adalah vakuola ini kemudian
dibawa ke membran basal sel inang, dimana bakteri berkembang biak setelah
dibebaskan ke dalam jaringan sub epitel dengan proses eksositosis. Peptidoglikan dan
bakteri LOS (Lipo Oligo Sakharida) dilepaskan selama infeksi. Gonococcus dapat
memiliki dan mengubah banyak jenis antigen dari Neisseria LOS. LOS merangsang
tumor necrosis factor, atau TNF, yang akan mengakibatkan kerusakan sel. Fase 5
reaksi inflamasi yang dihasilkan menyebabkan infiltrasi neutrofil. Selaput lendir
hancur mengakibatkan akumulasi Neisseria gonorrhoeae dan neutrofil pada jaringan
ikat subepitel. Respon imun host memicu Neisseria gonorrhoeae untuk menghasilkan
protease IgA ekstraseluler yang menyebabkan hilangnya aktivitas antibodi dan
mempromosikan virulensi. (10)

 MANIFESTASI KLINIS

Neisseria gonorrhoeae dapat menyebabkan gejala simptomatik maupun


asimptomatik infeksi pada saluran genital. Gejala kliniknya tumpang tindih dengan
gejala penyakit infeksi menular seksual lainya. Infeksi gonokokal terbatas pada
permukaan yang mengandung mukosa. Infeksi terjadi pada area yang dilapisi dengan
epitel kolumner, diantaranya serviks, uretra, rectum, faring dan konjungtiva. Pada
wanita gejala klinis subjektif dan objektif jarang didapatkan karena duh endoservik
yang terletak dibagian dalam sehingga mengakibatkan gejala klinis jarang didapatkan.
Infeksi pada wanita mengenai serviks dengan gejala utama meliputi duh tubuh vagina
yang berasal dari endoservisitis yang bersifat purulen dan agak berbau namun pada
beberapa pasien kadang mempunyai gejala minimal. Kemudian timbul disuria dan
dispareunia. Jika bersifat asimptomatis maka dapat berkembang menjadi penyakit
radang panggul. Penyakit ini bisa akibat dari menjalarnya infeksi ke endometrium, tuba
falopii, ovarium dan peritoneum. (10)

 DIAGNOSIS

Diagnosis gonore dapat ditegakkan atas dasar anamnesis, pemeriksaan fisik,


dan pemeriksaan laboratorium. Diagnostik laboratorium yang digunakan antara lain:

1) Mikroskopis
Pemeriksaan mikroskopis yang digunakan adalah dengan pengecatan gram.
Pengambilan sampel dari swab endoservik pada wanita. Hasil positif akan tampak
diplokokus gram negatif. Pengecatan positif pada wanita memiliki sensitivitas
sebesar 30% - 50% dan spesifitas sebesar 90-99 %.(10)
2) Kultur
Untuk identifikasi dilakukan pembiakan dengan menggunakan media selektif yang
diperkaya yaitu Media Thayer Martin yang mengandung vankomisin, dan nistatin yang
dapat menekan pertumbuhan bakteri Gram positif, Gram negatif dan jamur, dimana
tampak koloni berwarna putih keabuan, mengkilat dan cembung. Kultur diinkubasi
pada suhu 350C – 370C dan atmosfer yang mengandung CO2 5%. Pemeriksaan kultur
dengan bahan dari duh uretra pria, sensitivitasnya lebih tinggi 94% - 98% daripada
duh endoserviks 85 % - 95%, sedangkan spesifisitasnya sama yaitu 99%. (10)

3) Pemeriksaan definitif
a) Tes oksidase
Pada tes oksidase koloni genus Neisseria menghasilkan indofenol oksidase
sehingga memberikan hasil tes oksidase positif. Tes oksidase dilakukan dengan
cara meneteskan reagen 1% tetrametil parafenilen diamin monohidrokhlorid pada
koloni. Jika hasil tes positif maka akan berubah menjadi merah jambu dan makin
lama semakin menghitam. Sebaliknya hasil negatif menunjukkan warna koloni
tidak berubah atau tetap berwarna coklat. Dalam tes ini, reagen tersebut membunuh
mikroorganisme tetapi tidak merubah morfologi dan sifat pewarnaan. (10)
b) Tes fermentasi
Tes fermentasi digunakan untuk mengidentifikasi bakteri yang mampu
memfermentasikan karbohidrat. Pada tes fermentasi terjadi perubahan warna pada
media glukosa yang berubah menjadi warna kuning, artinya bakteri ini membentuk
asam dari fermentasi glukosa. Media glukosa juga terbentuk gelembung pada
tabung Durham yang diletakkan terbalik didalam tabung media, artinya hasil
fermentasi berupa gas. (10)

 KOMPLIKASI

Komplikasi local terdiri dari salpingitis akut(PID) dan abses kelenjar Bartholin
pada wanita, epididymitis, penile lympangitis, prostatitits, seminal vasculitis dan
striktur uretra pada pria. Kompilikasi jangka panjak dari PID termasuk sterilitas dan
ririsiko kehamilan ektopik. (10)
Infeksi gonokokal diseminata dapat berkomplikasi enkokarditis, meningitis dan
miokarditis. Endocarditis biasanya mempengaruhi katup aorta dan progresivitasnya
cepat, menyebabkan kerusakan katup dan gagal jantung. Kasus sindroma dermatitis-
artritis sembuh spontan, tapi artritis septik yang diterapi dapat mengakibatkan
osteomyelitis lanjut atau kerusakan sendi. (10)

 PROGNOSIS

Dengan terapi segera, infeksi gonokokal pada uretra jarang menyebabkan


morbiditas jangka panjang. (10)
3.sumber : sitti setiawati, dkk. 2017.buku ilmu penyakit dalam : internal publishing : Jakarta )

2. Bratawidjaya K G. Imunologi Dasar Edisi ke-10. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas


Kedokteran Universitas Indonesia; 2012.

1. DAFTAR PUSTAKA:Baratawidjaja Garna Karnen & Iris Rengganis. Imunologi


Dasar.Edisi 10: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

5.FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN TB PARU DAN UPAYA


PENANGGULANGANNYA Factors Affecting The Occurrence Of Pulmonary Tb And Efforts To
Overcome Helper Sahat P Man
4. DIAGNOSIS DAN REGIMEN PENGOBATAN SKABIES Mayang Kusuma Dewi, Nasrul Wathoni
Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran Jalan Raya Bandung - Sumedang Km. 21 Jatinangor
45363

6.Djuanda, Adhi. 2010. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta : Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia

7.STUDI KUALITATIF RESIKO PENULARAN HIV/AIDS MELALUI PENGGUNAAN


TATO DI KECAMATAN SEMARANG TENGAH KOTA SEMARANG Erna Kusumawati1) ,
Agustin Rahmawati 2) 1 Program Studi DIII Kebidanan, Fakultas Ilmu Keperawatan dan
Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Semarang
8. Imunologi Human Immunodeficiency Virus (HIV)dalam KehamilanMaya Savira1 l 2014

9. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi VI. Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Interna
Publishing. Diponegoro 71 Jakarta Timur