Anda di halaman 1dari 52

Biografi Chairil Anwar – Sastrawan

Besar Indonesia
HASNA WIJAYATI
30 AGUSTUS 2017




 7
Shares

Salah satu biografi sastrawan Indonesia yang paling banyak dicari adalah biografi
Chairil Anwar. Siapa dia? Anda tentunya pernah mendengar namanya bukan? Nama
Chairil Anwar telah begitu poopuler di Indonesia, bahkan namanya juga banyak
dikenal dalam dunia sastra di berbagai negara.

Ia adalah penyair besar yang telah melahirkan berbagai karya sastra yang begitu
fenomenal. Ia memiliki julukan populer yang cukup menarik, yakni “Si Binatang
Jalang”. Kenapa Chairil Anwar dijuluki “Si Binatang Jalang”? Jangan berburuk sangka
dulu ya. Julukan ini ia dapatkan karena karya puisinya yang berjudul “Aku”. Di dalam
karya tersebut, Chairil Anwar menuliskan kata “Akulah Binatang Jalang.”

Karya tersebut pula yang membuat nama Chairil Anwar semakin fenomenal dalam
dunia sastra. Ia dikenal sebagai penyair Angkatan ’45. Hasil karyanya diperkirakan
ada sekitar 96 karya.

Berbagai karya Chairil Anwar memiliki karakter yang khas dan menarik. Kebanyakan
memiliki tema seputar kematian, individualisme, dan ekstensialisme. Karena karya
sastra Chairil Anwar ini yang khas, ia pun dikenal sebagai pelopor puisi ’45 dan puisi
modern.

Karya -karya Chairil Anwar telah dimuat dalam tiga buku kompilasi, meliputi : Deru
Campur Debu (1949), Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949). Serta
ada lagi karya lain berjudul Tiga Menguak Takdir yang merupakan buku kumpulan
puisi hasil karyanya bersama Asrul Sani dan Rivai Apin (1950). Karya -karya Chairil
Anwar ini banyak yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, seperti Bahasa
Inggris, Bahasa Jerman, dan Bahasa Spanyol.

Membaca sekilas tentang profil Chairil Anwar membuat Anda sangat tertarik bukan?
Ia memang merupakan sosok yang hebat dan penuh dengan inspirasi. Jadi, langsung
saja yuk kita tengok biografi Chairil Anwar yang berhasil kita rangkum berikut ini ya.
Profil Chairil Anwar
Sebelum masuk ke uraian tentang biografi Chairil Anwar, nama Lengkap : Chairil
AnwarChairil Anwar merupakan seorang tokoh populer, sastrawan dan penyair
terkenal Indonesia hingga saat ini. Berbagai macam karyanya sangat mewarnai
khasanah kesusasteraan Indonesia dan mengilhami lahirnya sastrawan besar
di Indonesia generasi berikutnya. Kumpulan puisi seperti bertema perjuangan,
politik hingga cinta telah dihasilkannya, hingga ia dinobatkan oleh H.B.
Jassin sebagai pelopor Angkatan '45 dan puisi modern Indonesia.

Chairil Anwar merupakan anak tunggal, lahir di Medan, Sumatera Utara, 26


Juli 1922. Ayahnya bernama Toeloes, mantan bupati Kabupaten Indragiri Riau,
berasal dari Taeh Baruah, Limapuluh Kota, Sumatra Barat. Sedangkan
ibunya Saleha, berasal dari Situjuh, Limapuluh Kota. Chairil Anwar masih
punya pertalian keluarga dengan Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama
Indonesia.Tempat Lahir : Medan, Indonesia

Chairil Anwar masuk sekolah Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah


dasar untuk orang-orang pribumi waktu masa penjajahan Belanda. Dia
kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs
(MULO), sekolah menengah pertama Hindia Belanda, tetapi dia keluar sebelum
lulus. Dia mulai untuk menulis sebagai seorang remaja tetapi tak satupun puisi
awalnya yang ditemukan.

Pada usia sembilan belas tahun, setelah perceraian orang-tuanya, Chairil


Anwar pindah dengan ibunya ke Jakarta di mana dia berkenalan dengan dunia
sastra. Meskipun pendidikannya tak selesai, Chairil Anwarmenguasai bahasa
Inggris, bahasa Belanda dan bahasa Jerman, dan dia mengisi jam-jamnya
dengan membaca karya-karya pengarang internasional ternama,
seperti: Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J.
Slaurhoff dan Edgar du Perron. Penulis-penulis ini sangat memengaruhi
tulisannya dan secara tidak langsung memengaruhi puisi tatanan
kesusasteraan Indonesia.

Nama Chairil Anwar mulai terkenal dalam dunia sastera setelah pemuatan
tulisannya di "Majalah Nisan" pada tahun 1942, pada saat itu dia baru berusia
dua puluh tahun. Hampir semua puisi-puisi yang dia tulis merujuk pada
kematian. Chairil Anwarketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta jatuh
cinta pada Sri Ayati tetapi hingga akhir hayatnya Chairil Anwar tidak memiliki
keberanian untuk mengungkapkannya. Puisi-puisinya beredar di atas kertas
murah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia dan tidak diterbitkan
hingga tahun 1945.

Semua tulisannya yang asli, modifikasi, atau yang diduga diciplak dikompilasi
dalam tiga buku : Deru Campur Debu (1949); Kerikil Tajam Yang Terampas
dan Yang Putus (1949); dan Tiga Menguak Takdir(1950, kumpulan puisi
dengan Asrul Sani dan Rivai Apin).

Vitalitas puitis Chairil Anwar tidak pernah diimbangi kondisi fisiknya. Sebelum
menginjak usia 27 tahun, sejumlah penyakit telah menimpanya. Chairil
Anwarmeninggal dalam usia muda di Rumah Sakit CBZ (sekarang Rumah
Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo), Jakarta pada tanggal 28 April 1949. Penyebab
kematiannya tidak diketahui pasti, menurut dugaan lebih karena penyakit TBC.
Ia dimakamkan sehari kemudian di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak,
Jakarta. Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari masa ke masa.
Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar.Tanggal
Lahir : 26 Juli 1922

Meninggal : 28 April 1949

Nama Julukan : Si Binatang Jalang

Kebangsaan : Indonesia

Nama Ayah : Toeloes

Nama Ibu : Saleha

Pendidikan : Hollandsch-Inlandsche School (HIS); Meer Uitgebreid Lager Onderwijs


(MULO)

Pekerjaan/ Karir : Penyair/ Sastrawan, Penyiar Radio Jepang di Jakarta saat masa
pendudukan Jepang

Jumlah Karya : 96 karya, termasuk 70 puisi

Masa Kecil Chairil Anwar


Chairil Anwar kecil menghasilkan masa -masa awal hidupnya di kota Medan,
Sumatera Utara. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya, yakni Toeloes dan Saleha.
Kedua orang tua Chairil ini berasal dari kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.

Ayah Chairil adalah orang yang cukup ternama. Ia pernah menduduki jabatan terakhir
sebagai bupati Inderagiri, Riau. Bahkan, Chairil ini juga masih memiliki ikatan keluarga
dengan Soetan Sjahrir, yang merupakan Perdana Menteri pertama Indonesia.

Chairil sendiri merupakan putra tunggal mereka. Sebagai anak tunggal, Chairil kecil
banyak dimanjakan oleh orang tuanya. Karenanya, ia tumbuh menjadi sosok yang
keras kepala. Ia bahkan sering tidak ingin menikmati kehilangan apa pun yang
diinginkan atau disukainya. Sikap ini rupanya adalah sikap yang diturunkan dari kedua
orang tuanya.

Dari segi pendidikan, Chairil Anwar sempat mendapatkan pendidikan di sebuah


sekolah dasar khusus untuk kaum pribumi, Hollandsch-Inlandsche School (HIS). Ini
adalah sekolah dasar yang dibangun khusus untuk orang-orang pribumi masa
penjajahan Belanda. Setelah lulus pendidikan dasar dari sana, Chairil melanjutkan
pendidikan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO).

Jalan pendidikan Chairil berhenti setelahnya. Ia berhenti sekolah ketika usianya 18


tahun. Meski telah berhenti sekolah, tidak berarti Chairil tidak memiliki cita -cita. Saat
itu ia sudah memutuskan untuk menjadi seorang seniman. Keinginannya menjadi
seniman bahkan sudah diungkapkannya sejak usia 15 tahun.

Chairil kecil telah tumbuh dewasa. Ketika ia mulai beranjak dewasa, kehidupan Chairil
banyak berubah. Ayah dan ibunya bercerai. Chairil memutuskan untuk ikut bersama
ibunya. Mereka pun pindah ke Batavia atau kota yang kini kita kenal sebagai ibu kota
Indonesia. Meskipun telah berpisah dari ayahnya, Chairil tetap mendapatkan nafkah
dari ayahnya.

Di kota Batavia inilah, Chairil mulai lebih akrab dengan dunia sastra. Otak Chairil
Anwar terbilang encer. Sekali pun pendidikan yang dia tekuni tidak tinggi, tapi dia
mampu menguasai beberapa bahasa asing dengan baik, seperti bahasa Belanda,
bahasa Jerman dan bahasa Inggris.

Chairil juga senang membaca buku. Seringkali ia menghabiskan waktu untuk


menikmati bacaan dari karya para pengarang ternama internasional. Beberapa
pengarang ternama yang karyanya senang i abaca misalnya, Rainer Maria Rilke, W.H.
Auden, Archibald MacLeish, Edgar du Perron, Hendrik Marsman, dan J. Slaurhoff.

Jika diamati dari karya -karya Chairil selanjutnya, penulis -penulis ini turut memberikan
kontribusi terhadap gaya bahasa Chairil. Karya Chairil Anwar banyak yang
mengadopsi tatanan karyanya, termasuk mempengaruhi tatanan kesusasteraan
Indonesia.

Karir Chairil Anwar sebagai Penyair


Puisi perama Chairil dipublikasikan tahun 1942. Puisi yang ia lahirkan ketika usianya
masih 20 tahun tersebut, berjudul “Nisan”. Setelah puisi inilah, nama Chairil Anwar
mulai dikenal dalam dunia sastra Indonesia. Namun, ada yang khas dari puisi -puisi
Chairil Anwar. Kebanyakan puisi buatan Chairil bertema kematian.

Tema kematian sepertinya masih merupakan tema yang janggal kala itu. Ketika ia
pertama kali mengirim hasil karya puisi ke Majalah Pandji untuk dimuat, karya -karya
tersebut banyak ditolak. Alasannya, puisi Chairil terlalu individualistis sifatnya. Selain
itu, tema tersebut tidak sesuai dengan semangat yang dianut masyarakat kala itu,
yakni semangat Kawasan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya.

Meski begitu, setelah puisi pertamanya ini, ia terus melanjutkan hobinya menulis.
Tulisan -tulisan Chairil selanjutnya, selain bertema kematian, juga ada yang bertema
pemberontakan, individualisme, hingga eksistensialisme.
Berbagai puisinya ini memiliki karakter khas yang menarik, dan sering dianggap multi-
interpretasi. Namun, gaya bahasa ini pula yang membuat tulisan Chairil Anwar
menjadi semakin populer dan digemari.

Kehidupan Cinta Chairil Anwar


Karir Chairil Anwar tidak hanya sekedar dalam dunia tulis menulis puisi saja. Ia juga
sempat menjadi seorang penyiar radio Jepang di Jakarta. Ketika menjadi penyiar
inilah, Chairil jatuh cinta pada Sri Ayati. Namun sayang, bahkan hingga akhir
hayatnya, Chairil tidak punya keberanian menyampaikan perasaan cintanya pada Sri
Hayati.

Pada akhirnya, ia justru memilih menikah dengan gadis lain benama Hapsah
Wiraredja. Pernikahan mereka berlangsung pada tanggal 6 Agustus 1946. Dari
pernikahan ini, Chairil Anwar mendapatkan keturunan seorang putri canik yang
dinamainya Evawani Alissa.

Kehidupan pernikahan Chairil rupanya tidak berjalan mulus. Pasangan ini kemudian
harus menghadapi perceraian di akhir tahun 1948.

Kondisi Fisik Chairil Anwar


Jiwa seni Chairil Anwar memang begitu sehat dan memukau. Namun sayang, hal ini
tidak sejalan dengan kondisi fisik Chairil Anwar. Semasa hidupnya, ia harus
menghadapi banyak penyakit. Hingga pada akhirnya, ia harus menyerah pada
kehidupan.

Nafas terakhir Chairil Anwar dihembuskan di usianya yang ke 27 tahun. Usia yang
sungguh pendek bukan? Berakhirnya usia Chairil tentu juga menandai berakhirnya
pula upayanya untuk menghasilkan karya sastra. Meski begitu, aneka karya sastra
yang sempat ia lahirkan tetap banyak dikenal dan dikagumi hingga sekarang ini.

Mengenai penyebab pasti kematian Chairil Anwar masih belum dapat dikonfirmasi.
Banyak dugaan yang menyatakan bahwa penyebab kematiannya adalah penyakit
TBC. Namun, catatan rumah sakit menyatakan ia dirawat karena penyakit tifus.

Chairil memang sudah lama mengidap penyakit paru -paru dan infeksi. Penyakit inilah
yang membuat fisik Chairil Anwar menjadi lemah hingga akhirnya ia menderita
penyakit usus. Ususnya yang rusak pecah dan membuatnya meninggal. Ketika
hendak meninggal, suhu tubuhnya sangat tinggi hingga membuat ia mengigau
“Tuhanku … tuhanku …”

Ia meninggal di Rumah Sakit CBZ atau sebuah rumah sakit yang sekarang dikenal
sebagai Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta. Di rumah sakit ini, ia dirawat
dari tanggal 22 hingga 28 April 1949.

Lalu, pada 28 April 1949, jam setengah tiga sore Chairil Anwar meninggal. Sehari
kemudian, Chairil Anwar baru dimakamkan di TPU Karet Bivak. Dari RSCM, ada
banyak pemuda dan para Republikan terkemuka yang turut mengantarkannya menuju
ke Karet.

Meski masa hidup dan masa berkarirnya singkat, nama Chairil Anwar sudah sempat
sukses menarik perhatian banyak orang. Ia juga telah memiliki banyak penggemar.
Karenanya, ketika ia dimakamkan, banyak penggemar yang berziarah. Makamnya
hingga kini juga masih sering dikunjungi oleh para penggemarnya. Bahkan, hari di
mana Chairil meninggal juga diperingati para penggemarnya sebagai Hari Chairil
Anwar.

Usia Chairil Anwar yang pendek dikatakan telah diprediksi. Seorang kritikus sastra
Indonesia asal Belanda, A. Teeuw bahkan menyatakan bahwa sebetulnya Chairil
Anwar telah menyadari bahwa dirinya akan mati muda. Hal ini dilihat dari tema
menyerah yang dituliskannya di dalam puisinya dengan judul “Jang Terampas Dan
Jang Putus”.

Hasil Karya Chairil Anwar


Di masa hidupnya yang singkat, karya Chairil Anwar sudah menghasilkan cukup
banyak karya. Ia menulis sejumlah karya sekitar 94. Di dalam karya tersebut termasuk
ada 70 puisi. Banyak dari puisi -puisi karya Chairil Anwar yang belum sempat
dipublikasikan semasa hidupnya, dan baru dipublikasikan setelah ia meninggal.

Puisi terakhir yang ditulis Chairil berjudul “Cemara Menderai Sampai Jauh”. Karya ini
ditulis Chairil pada tahun 1949. Adapun karya Chairil yang paling fenomenal adalah
karya yang berjudul “Aku” dan “Krawang Bekasi”.

Seluruh karya Chairil Anwar ini, kemudian dikompilasikan ke dalam tiga buah buku.
Karya -karya tersebut termasuk karya yang asli, modifikasi, serta yang diduga diciplak.
Buku kompilasi tersebut diterbitkan oleh Pustaka Rakyat.

Buku kompilasi yang pertama diterbutkan dengan judul “Deru Campur Debu” pada
tahun 1949. Lalu, buku kedua diberi judul “Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang
Putus”, yang terbit pada tahun 1949. Buku terakhir berjudul “Tiga Menguak Takdir”
dan terbit pada tahun 1950. Buku ketiga ini adalah kumpulan puisi dengan Asrul Sani
dan Rivai Apin.

Selain itu, ada juga karya “Aku Ini Binatang Jalang: koleksi sajak 1942-1949” yang
merupakan hasil sunting Pamusuk Eneste, dengan disertai kata penutup oleh Sapardi
Djoko Damono yang terbit pada tahun 1986. Di tahun 1998, diterbitkan pula kompilasi
karyanya yang lain dengan judul “Derai-derai Cemara”.

Karyanya yang lain, ada juga yang berjudul “Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948),
terjemahan karya Andre Gide, dan Kena Gempur (1951), terjemahan karya John
Steinbeck.

Berbagai karya Chairil Anwar ini tidak hanya dikagumi di Indonesia saja. Karya -
karyanya juga diterjemahkan ke dalam bahasa asing, seperti bahasa Inggris, Jerman,
bahasa Rusia dan Spanyol. Berikut adalah beberapa terjemahan karya-karya Chairil
Anwar :
 “Sharp gravel, Indonesian poems”, oleh Donna M. Dickinson (Berkeley, California, 1960)
 “Cuatro poemas indonesios [por] Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati” (Madrid: Palma
de Mallorca, 1962)
 Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York, New
Directions, 1963)
 “Only Dust: Three Modern Indonesian Poets”, oleh Ulli Beier (Port Moresby [New Guinea]:
Papua Pocket Poets, 1969)
 The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Burton
Raffel (Albany, State University of New York Press, 1970)
 The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Liaw Yock Fang,
dengan bantuan H. B. Jassin (Singapore: University Education Press, 1974)
 Feuer und Asche: sämtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath (Wina:
Octopus Verlag, 1978)
 The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, oleh Burton Raffel
(Athens, Ohio: Ohio University, Center for International Studies, 1993)
 Dalam Kumpulan “Poeti Indonezii” (Penyair-Penyair Indonesia). Terjemahan oleh S.
Semovolos. Moscow: Inostrannaya Literatura, 1959, № 4, hlm. 3-5; 1960, № 2, hlm. 39-
42.
 Dalam Kumpulan “Golosa Tryoh Tisyach Ostrovov” (Suara Tiga Ribu Pulau). Terjemahan
oleh Sergei Severtsev. Moscow, 1963, hlm. 19-38.
 Dalam kumpulan “Pokoryat Vishinu” (Bertakhta di Atasnya). Puisi penyair Malaysia dan
Indonesia dalam terjemahan Victor Pogadaev. Moscow: Klyuch-C, 2009, hlm. 87-89.
 Boen S. Oemarjati, “Chairil Anwar: The Poet and his Language” (Den Haag: Martinus
Nijhoff, 1972).

Kontroversi Chairil Anwar


Selain pernah meraih beragam pujian, Chairil Anwar juga pernah menuai kontroversi
karena hasil karyanya. Beberapa puisi hasil karya Chairil pernah dianggap sebagai
karya hasil plagiarism oleh H.B Jassin.

Di dalam tulisan yang dimuat di Mimbar Indonesia dengan judul Karya Asli, Saduran,
dan Plagiat, H.B Jassin menguraikan tentang bagaimana kemiripan puisi Karawang-
Bekasi yang dibandingkan dengan The Dead Young Soldiers karya Archibald
MacLeish. Meski menunjukkan perbandingannya, Jassin tidak menyalahkan Chairil.

Jassing mengungkapkan, meskipun karya tersebut mirip, rasa khas dari Chairil tetap
ada di dalam karya Chairil sendiri. Sedangkan jika melihat sajak dari MacLeish, Jassin
mengungkapkan bahwa karyanya hanya berupa katalisator penciptaan dari karya
Chairil Anwar.

Chairil Anwar adalah penyair kelahiran kota Medan, Sumatera Utara pada tanggal 26
Juli 1922. Dia mewakili anak-anak dari pasangan Toeloes dan Saleha yang berasal dari
kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Ayahnya adalah seorang Bupati Inderagiri,
Riau.
Dia masih ada ikatan saudara dari Soetan Sjahrir yang merupakan perdana menteri
yang pertama di Republik Indonesia. Saat kecil dia mulai bersekolah di sekolah dasar
untuk pribumi pada masa pendudukan Belanda.
Sekolah ini bernama Holland-Inlandsche School (HIS). Lalu beliau juga melanjutkan
sekolahnya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO).
Saat berusia 18 tahun ia memutuskan untuk berhenti sekolah, ia mengatakan bahwa
saat disetujui 15 tahun ia disetujui untuk menjadikan dirinya sebagai seorang seniman.
Setelah orang tua dia bercerai, pada saat dia menerima 19 tahun. Chairil memulai
diskusi untuk pindah ke Batavia (Jakarta), disanalah dia memulai berkenalan dengan
yang disebut dunia sastra tersebut. Meski sudah bercerai, ayah chairil masih ingat
nafkah.
Meski dia tidak sekolah, Chairil Anwar juga bisa membantah beberapa bahasa seperti
Inggris, Belanda dan Jerman. Dia juga mengisi dengan membaca karya sastra dari
pengarang terkenal seperti: rainer maria Rilke, WH Auden, Archibald MacLeish, Hendrik
Marsman, J. Slaurhoff, dan Edgar du Perron.
Karena itu, tulisannya bertentangan dengan penulis tersebut dan langsung terhadap
tatanan kesusasteraan Indonesia.
PUISI KARYA CHAIRIL ANWAR

urusandunia.com
Puisi karya chairil anwar memang sudah banyak yang buat buatnya. Puisi tersebut
dapat dimusikalisasikan dengan iringan musik. Memang musikalisasi puisi sangat
mudah kita cermati dari kita membaca sambil menghayati. Berikut adalah beberapa
puisi Chairil Anwar yang populer di Indonesia:
AKU
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang' kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih perih
Dan akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
AKU BERKACA
Ini muka penuh luka
Siapa punya?
Kudengar seru menderu
dalam hatiku
Apa hanya angin lalu?
Lagu lain pula
Menggelepar tengah malam buta
Ah…….!!
Segala menebal, semuanya mengental
Segala tak kukenal …………. !!
Selamat tinggal …………….!
CERITA BUAT DIEN TAMAELA
Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu
Beta Pattirajawane
Kikisan laut
Berdarah laut
Beta Pattirajawane
Saat lahir dibawakan
Datu dayung sampan
Beta Pattirajawane, memegang hutan pala
Beta api di pantai. Siapa yang mendekat
Tiga kali menyebut beta punya nama
Dalam sunyi malam ganggang menari
Menurut beta punya tifa,
Pohon pala, badan perawan jadi
Hidup sampai pagi tiba.
Mari menari!
mari beria!
mari berlupa!
Awas jangan bikin beta marah
Beta bikin pala mati, gadis kaku
Beta kirim datu-datu!
Beta ada di malam, ada di siang
Irama ganggang dan apiakaran pulau…
Beta Pattirajawane
Yang dijaga datu-datu
Cuma satu
CINTAKU JAUH DI PULAU
Cintaku jauh di pulau
Gadis manis, sekarang iseng sendiri
Perahu melancar, bulan memancar
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai disetujui
Di air yang tenang, di angin mendayu
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja."
Amboi! Jalan sudah bertambah kutempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh
Mengapa Ajal dipanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku ?!
Manisku jauh di pulau,
jika 'ku mati, dia mati iseng sendiri.
DERAI DERAI CEMARA
Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam
Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah melebihi waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada bahan
yang bukan dasar perhitungan sekarang
Hidup hanya mengembalikan kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak bisa diucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah
DIPONEGORO
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menunggu
Tak gentar. Lawan jumlah seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
DOA
Untuk pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh
Terima Kau penuh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
HAMPA
Kepada Sri
Sepi di luar. Sepi mendesak-mendesak
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai di puncak. Sepi memagut,
Tak satu otoritas melepaskan-renggut
Segala menunggu. Menanti. Menanti
Sepi
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencengkung punda
Sampai binasa semuanya. Belum apa-apa
Bertuba udara. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menunggu.
KAWANKU DAN AKU
Kami sama pejalan larut
Menembus kabut
Hujan mengucur badan
Berkakuan kapal-kapal di pelabuhan
Darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat
Siapa bilang-kata?
Kawanku hanya rangka saja
Karena dera mengelucak tenaga
Dia bertanya jam berapa?
Sudah larut sekali
Hilang tenggelam segala makna
Dan gerak tak punya arti
KEPADA KAWAN
Sebelum ajal mendekat dan mengkhianat,

mencengkam dari belakang 'tika kita tidak melihat,

selama masih menggelombang dalam dada darah serta rasa,

belum puas kecewa dan gentar belum ada,

tidak lupa tiba-tiba bisa malam membenam,

layar merah berkibar hilang dalam kelam,

kawan, mari kita menempatkan sekarang di sini:

Ajal yang menarik kita, juga mencekik diri sendiri!

Jadi
Isi gelas sepenuhnya lantas kosongkan,

Tembus jelajah dunia ini dan balikkan

Peluk kucup perempuan, jika diizinkan merayu,

Pilih kuda yang paling pembohong, pacu laju,

Jangan tambatkan pada siang dan malam

Dan

Hancurkan lagi apa yang kau perbuat,

Hilang sonder pusaka, sonder kerabat.

Tidak meminta ampun atas segala dosa,

Tidak memberi tahu siapa saja!

Jadi

mari kita putuskan sekali lagi:

Ajal yang menarik kita, 'kan menarik angkasa sepi,

Sekali lagi kawan, sebaris lagi:

Tikamkan pedangmu hingga ke hulu

Pada siapa yang mengairi kemurnian madu !!!

KEPADA PEMINTA-MINTA
Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi, aku
Nanti darahku jadi beku
Jangan lagi kau bercerita
Sudah tercacar semua di muka
Nanah meleleh dari muka
Sambil Berjalan kau usap juga
Bersuara setiap kau melangkah
Mengerang setiap kau melihat
Menetes dari suasana kau datang
Sembarang kau merebah
Mengganggu dalam mimpiku
Menghempas aku di bumi keras
Di bibirku terasa pedas
Mengaum di telingaku
Baik, baik, aku akan menghadap Dia
Menyerahkan diri dan segala dosa
Tapi jangan tentang lagi, aku
Nanti darahku jadi beku
KRAWANG - BEKASI
Kami yang sekarang terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan mengangkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati?
Kami berbicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah mencoba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa menyelesaikan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk meraih kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi mengatakan
Kaulah sekarang yang berkata
Kami berbicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Tetap Bung Hatta
Tetap Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pertimbangan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
1957
LAGU SIUL

https://berjurnalitan.wordpress.com
Laron pada mati
Terbakar di sumbu lampu
Aku juga menemu
Ajal di cerlang caya matamu
Dia berlari! ini badan yang selama berjaga
Habis hangus di api matamu
'Ku kayak tidak tahu saja.
II
Aku kira
Beginilah nanti jadinya:
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara mirip Ahasveros
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta,
Tak satu juga pintu terbuka.
Jadi baik kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak 'kan apa-apa,
Aku terpanggang tinggal rangka
25 November 1945
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah mati.
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Jalan Sesungguhnya
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang
MALAM
Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
–Thermopylae? -
- jagal tidak dikenal? -
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang
MALAM DI PEGUNUNGAN
Aku berpikir: Bulan inikah yang membikin dingin,
Jadi pucat rumah dan kaku pepohonan?
Sekali ini aku terlalu bisa jawab kepingin:
Eh, ada bocah cilik main kejaran dengan bayangan!
1947
PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO
Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan melewati pertemuan di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut
Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu urat
Di kapalmu di kapal-kapal kita
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh
PRAJURIT JAGA MALAM
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu?
Pemuda-pemuda yang tua, tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian ada di sisiku selama membersihkan daerah ini mati
Aku suka mereka yang berjuang hidup
Aku suka mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu!
RUMAHKU
Rumahku dari unggun-timbun sajak
Kaca jernih dari luar segala nampakKulari dari gedong lebar halaman
Aku tersesat tak bisa jalanKemah kudirikan kompilasi senjakala
Di pagi terbang entah ke manaRumahku dari unggun-timbun sajak
Di sini saya berbini dan beranakRasanya lama lagi, tapi datangnya datang
Aku tidak lagi meraih petang
Biar berleleran kata manis madu
Jika menagih yang satu27 April 1943
SAJAK PUTIH
Bersandar pada tari warna pelangi
Kau depanku bertudung sutra senja
Di matamu hitam kembang mawar dan melati
Harum rambutmu mengalun bergelut senda
Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
Meriak muka air kolam jiwa
Dan dalam dadaku memerdu lagu
Menarik menari seluruh aku
Hidup dari hidupku, pintu terbuka
Selama matamu bagiku menengadah
Selama darah mengalir
Antara kita Mati datang tidak membelah ...
1944
SEBUAH KAMAR
Sebuah jendela lewat kamar ini
di dunia. Bulan yang menyinar ke dalam
mau lebih banyak tahu.
"Sudah lima anak bernyawa di sini,
Aku salah satu! ”
Ibuku tertidur dalam tersedu,
Keramaian penjara sepi selalu,
Bapakku sendiri terbaring jemu
Matanya menatap orang tersalib di batu!
Sekeliling dunia membunuh diri!
Aku meminta adik lagi pada
Ibu dan bapakku, karena mereka berada
d luar hitungan: Kamar begini
3 x 4, terlalu sempit buat sulitnyawa!
SENJA DI PELABUHAN KECIL
Buat Sri Ayati
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang dan temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus dirimu dalam mempercayai akan berpaut
Gerimisingkatkan kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan sekarang tanah dan air tidur hilang ombak
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
Dari pantai ganda, sedu penghabisan bisa terdekap.
TAK SEPADAN
Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara mirip Ahasveros
Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka
Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak 'kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka
Februari 1943
TUHANKU
aku hilang bentuk
remuk
Tuhanku
aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling
13 November 1943
TUTI ARTIC
Antara bahagia sekarang dan nanti jurang ternganga,
adikku yang lagi keenakan menjilat es artic;
sakit ini kau cintaku, kuhiasi dengan susu + coca cola
isteriku dalam latihan; kita hentikan jam berdetik.
Kau pintar benar-benar bercium, ada goresan tinggal terasa
-ketika kita bepergian kuantar kau pulang -
panas darahmu, sungguh lekas kau jadi dara,
mimpi tua bangka ke langit lagi menjulang.
Pilihanmu saban hari menjemput, saban kali bertukar;
Besok kita berselisih jalan, tidak tahu:
Sorga hanya permainan dimainkan.
Aku juga suka kau, semua lekas berlalu
Aku dan Tuti + Salam + Amoi… hati terlantar,
YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS
Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
Menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
Malam menambahkan merasuk, rimba jadi semati tugu
Di Karet, di Karet (daerahku yad) sampai juga deru dingin
Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang dan aku bisa lagi lepaskan
kisah baru padamu;
Tapi sekarang hanya tangan yang bergerak lantang
Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku.

CHAIRIL ANWAR
Chairil Anwar (lahir di Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922 – wafat
di Jakarta, 28 April 1949 pada umur 26 tahun) atau dikenal sebagai
“Si Binatang Jalang” (dalam karyanya berjudul Aku [1]) adalah penyair
terkemuka Indonesia. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan
oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan ’45 dan puisi modern
Indonesia.
Masa kecilDilahirkan di Medan, Chairil Anwar merupakan anak tunggal.
Ayahnya bernama Toeloes, yang bekerja sebagai pamongpraja. Dari pihak
ibunya, Saleha dia masih punya pertalian keluarga dengan Sutan
Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia.
Chairil masuk sekolah Holland Indische school (HIS), sekolah dasar
untuk orang-orang pribumi waktu penjajah Belanda. Dia kemudian
meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, sekolah
menengah pertama belanda, tetapi dia keluar sebelum lulus. Dia mulai
untuk menulis sebagai seorang remaja tetapi tak satupun puisi awalnya
yang ditemukan.
Pada usia sembilan belas tahun, setelah perceraian orang-tuanya,
Chairil pindah dengan ibunya ke Jakarta di mana dia berkenalan dengan
dunia sastera. Meskipun pendidikannya tak selesai, Chairil menguasai
bahasa Inggris, bahasa Belanda dan bahasa Jerman, dan dia mengisi jam-
jamnya dengan membaca pengarang internasional ternama, seperti: Rainer
M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff
dan Edgar du Perron. Penulis-penulis ini sangat mempengaruhi
tulisannya dan secara tidak langsung mempengaruhi puisi tatanan
kesusasteraan Indonesia.
Masa Dewasa Nama Chairil mulai terkenal dalam dunia sastera setelah
pemuatan tulisannya di “Majalah Nisan” pada tahun 1942, pada saat itu
dia baru berusia dua puluh tahun. Hampir semua puisi-puisi yang dia
tulis merujuk pada kematian. Chairil ketika menjadi penyiar radio
Jepang di Jakarta jatuh cinta pada Sri Ayati tetapi hingga akhir
hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya.
Semua tulisannya yang asli, modifikasi, atau yang diduga diciplak
dikompilasi dalam tiga buku : Deru Campur Debu (1949); Kerikil Tajam
Yang Terampas dan Yang Putus (1949); dan Tiga Menguak Takdir (1950,
kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin).
Akhir Hidup Vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangi kondisi
fisiknya, yang bertambah lemah akibat gaya hidupnya yang semrawut.
Sebelum dia bisa menginjak usia dua puluh tujuh tahun, dia sudah kena
sejumlah penyakit. Chairil Anwar meninggal dalam usia muda karena
penyakit TBC Dia dikuburkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak,
Jakarta. Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari zaman ke
zaman. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil
Anwar.Buku-buku
1. Deru Campur Debu (1949)
2. Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (1949)
3. Tiga Menguak Takdir (1950) (dengan Asrul Sani dan Rivai Apin)
4. “Aku Ini Binatang Jalang: koleksi sajak 1942-1949″, diedit oleh
Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986)
5. Derai-derai Cemara (1998)
6. Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948), terjemahan karya Andre Gide
7. Kena Gempur (1951), terjemahan karya John Steinbeck
8. Terjemahan ke dalam bahasa asing
9. Karya-karya Chairil juga banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing,
antara lain bahasa Inggris, Jerman dan Spanyol. Terjemahan karya-
karyanya di antaranya adalah:
10. “Sharp gravel, Indonesian poems”, oleh Donna M. Dickinson (Berkeley?
California, 1960)
11. “Cuatro poemas indonesios [por] Amir Hamzah, Chairil Anwar,
Walujati” (Madrid: Palma de Mallorca, 1962)
12. Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam
(New York, New Directions, 1963)
13. “Only Dust: Three Modern Indonesian Poets”, oleh Ulli Beier (Port
Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969)
14. The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, disunting dan
diterjemahkan oleh Burton Raffel (Albany, State University of New York
Press, 1970)
15. The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh
Liaw Yock Fang, dengan bantuan H. B. Jassin (Singapore: University
Education Press, 1974)
• Feuer und Asche: sämtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter
Karwath (Wina: Octopus Verlag, 1978)
16. The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar,
oleh Burton Raffel (Athens, Ohio: Ohio University, Center for
International Studies, 1993)
Karya-karya tentang Chairil Anwar
17. Chairil Anwar: memperingati hari 28 April 1949, diselenggarakan oleh
Bagian Kesenian Djawatan Kebudajaan, Kementerian Pendidikan,
Pengadjaran dan Kebudajaan (Djakarta, 1953)
18. Boen S. Oemarjati, “Chairil Anwar: The Poet and his Language” (Den
Haag: Martinus Nijhoff, 1972).
5 Sifat Chairil Anwar yang Perlu Ditiru Generasi
Milenial
Oleh Ahmad Ibo pada 26 Jul 2017, 18:00 WIB

Liputan6.com, Jakarta Lahir dan besar di Medan, Chairil Anwar pindah ke Batavia
atau sekarang Jakarta ketika berumur 18 tahun. Di Batavia, ia mulai menggeluti
dunia sastra dan menulis berbagai Puisi. Dua tahun berselang ia merilis puisi
pertamanya dan perlahan mengukuhkan namanya sebagai salah satu penyair ikonik
Indonesia.

Lahir dan besar di Medan, Chairil Anwar pindah ke Jakarta saat dirinya berusia 18
tahun. Masa remajanya di Jakarta digunakan untuk menggeluti dunia sastra dan
banyak menulis puisi. Bersama Rivai Apin dan Asrul Sani, Chairil Anwar diberi
julukan sebagai tokoh pembaharu puisi modern Indonesia. Kritikus HB Jassin
bahkan mengukuhkan namanya sebagai pelopor sastrawan angkatan 45.

Sayangnya, gaya hidup yang tidak teratur dan cenderung bohemian membuatnya
mati muda. Pada 28 April 1949 dirinya meninggal dunia akibat beragam penyakit
yang dideritanya. Di usianya yang baru 27 tahun, Chairil Anwar berpulang. Meski
hidupnya terlalu singkat, namun namanya tertulis dalam tinta emas sejarah sastra
Indonesia. Karya-karya puisinya abadi, terus diperbincangkan, bahkan di kalangan
akademisi luar negeri.

Baik atau tidaknya sifat Chairil Anwar semasa hidupnya, banyak pelajaran yang
sesungguhnya dapat dipetik generasi milenial. Berikut 6 sifat pada sosok Chairil
Anwar yang perlu ditiru generasi milenial, seperti yang disusun Liputan6.com, Rabu
(26/7/2017).

Sayang Ibu
HB Jassin dalam dokumentasi yang tertulis di Harian Jayakarta bertahun 1988
pernah mengungkapkan, tahun 1943 Chairil Anwar pernah ditahan dan dipenjarakan
polisi. Dirinya lantas menulis surat pendek untuk ibunya yang diberikan kepada HB
Jassin. “Sin tolong ibuku. Aku ditahan,” begitu isi surat.

“Surat pendek Chairil merupakan jeritan seorang anak yang sayang kepada ibunya,”
ujar Jassin.

Pejuang Cinta
Bukan rahasia lagi jika Chairil Anwar memiliki banyak tambatan hati. Setidaknya ada
8 wanita yang pernah singgah di hatinya, yang bahkan menginspirasinya untuk
membuat puisi. Para wanita yang antara lain Ida Nasution, Dian Tamaela, hingga Sri
Aryati kerap disebut dalam puisi atau bahkan menjadi persembahan dari puisi cinta
Chairil Anwar.

Multilingual
Meski “tak beres” dalam pendidikannya, Chairil Anwar ternyata seorang multilingual
alias menguasai lebih dari satu bahasa. Selain bahasa Indonesia, bahasa lain yang
dikuasainya antara lain bahasa Inggris, Belanda, dan Jerman. Kegemarannya
membaca membuat Chairil Anwar menguasai berbagai bahasa.

Seniman Berdikari
Sempat memiliki pekerjaan tetap, Chairil Anwar memilih untuk menjadi manusia
merdeka yang bebas berkarya. Tak tergantung siapa pun membuat Chairil Anwar
pantas dinobatkan sebagai sosok seniman berdikari yang tidak bisa “dipesan”
kekuasaan. Meski selalu hidup dalam himpitan ekonomi, namun honornya dari
menulis puisi bisa menutupi kekurangannya.

Urakan yang Cinta Tanah Air


Meski dikenal memiliki gaya hidup yang bohemian namun kecintaan Chairil
Anwarkepada bangsanya yang perlu diragukan lagi. Karya-karyanya antara
lain Diponegoro, Persetujuan dengan Bung Karno, hingga Akumenjadi puisi yang
menggambarkan sikapnya yang patriot. Bahkan dirinya turut andil dalam membuat
slogan propaganda kemerdekaan Republik Indonesia pada masa penjajahan
Jepang.

Chairil Anwar dan Fakta Mengejutkan Tentangnya


Oleh Ahmad Ibo pada 25 Jul 2017, 11:00 WIB

Liputan6.com, Jakarta Hari ini, tepat 22 Juli 95 tahun lalu, seorang penyair
“binatang jalang” lahir. Chairil Anwar menjadi sastrawan ikonik yang dimiliki
Indonesia, karena puisi-puisinya yang lugas, tegas, dan menjadi pembaharu bagi
dunia puisi Indonesia pada saat itu.

Chairil Anwar meninggal dalam usia yang masih teramat muda, yaitu 27 tahun,
akibat komplikasi penyakit yang dideritanya. Namun demikian, karya-karyanya
masih tetap hidup dan terus bergema, cerita tentangnya juga tak pernah sepi dari
pembicaraan banyak orang, bahkan di ruang akademis.
Berikut fakta-fakta dan cerita menarik tentang Chairil Anwar yang perlu Anda
ketahui, seperti yang disusun tim Liputan6.com, Selasa (26/7/2017).

Puisi Modern
Chairil Anwar bukan hanya sekadar penyair dan penulis puisi. Dirinya juga dianggap
sebagai pembaharu dunia puisi tanah air. Karya-karyanya sempat ditolak Majalah
Pandji Pustaka karena dianggap menyimpang dari pakem teori puisi saat itu, namun
kritikus HB Jassin menilai puisi-puisi Chairil Anwar sebagai bentuk puisi modern
Indonesia. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, Chairil Anwar oleh HB Jassin
dianggap sebagai pelopor puisi modern Indonesia dan masuk dalam angkatan 45.

Simak juga video menarik berikut ini:

Slogan

Chairil Anwar melewati masa remaja saat penjajahan Jepang. Saat itu seni menjadi
alat propaganda untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Banyak seniman ambil
bagian untuk menyulut rasa nasionalisme Indonesia. Slogan-slogan diciptakan,
salah satunya “Merdeka atau Mati!” yang diambil dari kata-kata Sukarno dalam
pidatonya.

Perupa Affandi juga pernah mendapat tugas membuat poster propaganda, namun
dirinya bingung dengan slogan yang ingin disematkan. Tercetuslah ide Chairil Anwar
yang dengan spontanitas menyahut, “Bung Ayo Bung!”. Poster dengan gambar
seorang pemuda melepas rantai yang melilit tangannya sambil membawa bendera
merah putih itu kemudian disebar ke berbagai daerah, dan berhasil membakar rasa
nasionalisme masyarakat.

Menurut sejarawan JJ Rizal, slogan “Bung Ayo Bung!’ yang dilontarkan Chairil
Anwar ternyata terinspirasi dari ucapan pelacur-pelacur Jakarta yang menawarkan
dirinya di Pasar Senen, yang dahulu sempat menjadi “markas” bagi para seniman
kota, termasuk Chairil Anwar.

Para

Dalam buku Mengenal Chairil Anwar yang ditulis Pamusuk Eneste terungkap, meski
dikenal urakan Chairil Anwar ternyata pandai memikat hati wanita. Beberapa karya
puisinya bahkan ada yang diperuntukan khusus bagi mereka wanita yang pernah
singgah di hati Chairil Anwar. Dalam buku tersebut diungkap beberapa wanita
tersebut antara lain Dien Tamaela, Gadis Rasid, Karinah Moorjono, Sri Arjati, Ida,
dan Sumirat. Nama-nama itu kerap menjadi judul puisi, masuk dalam bait, atau
bahkan ditulis langsung oleh Chairil sebagai persembahan.

Tuduhan Plagiat

Meski menjuluki Chairil Anwar sebagai “Bapak Puisi Modern Indonesia”, kritikus HB
Jassin dalam tulisannya pernah menyerang karya puisi Chairil Anwar yang berjudul
Kerawang – Bekasi sebagai karya plagiat dari sajak The Dead Young Soldiers
tulisan Archibald MacLeash.

Namun demikian HB Jassin tetap membela Chairil Anwar dan mengatakan dalam
sebuah esainya, “sajak Chairil begitu bagus dan gambarannya lain sama sekali
dengan sajak MacLeash. Memang mereka membicarakan hal yang sama. Tapi
kalaupun orang mengklaim Krawang-Bekasi adalah sajak terjemahan, ya
sebenarnya tidak juga. Saya merasa bahwa sajak ini sungguh-sungguh sesuatu
yang dirasakan Chairil Anwar.”

Kenakalan Masa Remaja

Kenakalan masa remaja Chairil Anwar tidak hanya tertulis dalam puisi dan slogan-
slogan propagandanya. Gaya hidup penyair angkatan 45 ini juga penuh dengan
kenakalan dan cenderung urakan, mulai dari menggadaikan barang teman,
mengunjungi lokalisasi di kawasan Senen, merayu gadis penjaga toko buku agar
dapat membaca buku tiap hari, hingga merobek bagian buku di perpustakaan.
Namun demikian, Chairil Anwar dikenal sebagai sosok yang tegas dan cinta tanah
air.

Chairil Anwar (lahir di Medan, 26 Juli 1922 – meninggal di Jakarta, 28 April 1949 pada umur
26 tahun), dijuluki sebagai "Si Binatang Jalang" (dari karyanya yang berjudul Aku),
adalah penyair terkemuka Indonesia berdarah Minangkabau. Dia diperkirakan telah menulis
96 karya, termasuk 70 puisi. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, dia dinobatkan oleh H.B.
Jassin sebagai pelopor Angkatan '45sekaligus puisi modern Indonesia.
Chairil Anwar

Lahir 26 Juli 1922


Medan, Sumatra
Timur, Hindia Belanda

Meninggal 28 April 1949(umur 26)


Jakarta, Indonesia

Pekerjaan Penyair

Kebangsaan Indonesia

Periode 1942–1949
menulis

Angkatan Angkatan ‘45

Karya Aku
terkenal
Krawang Bekasi

Chairil lahir dan dibesarkan di Medan, sebelum pindah ke Batavia (sekarang Jakarta)
dengan ibunya pada tahun 1940, di mana dia mulai menggeluti dunia sastra. Setelah
mempublikasikan puisi pertamanya pada tahun 1942, Chairil terus menulis. Puisinya
menyangkut berbagai tema, mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, dan
eksistensialisme, hingga tak jarang multi-interpretasi.

KehidupanSunting
Chairil Anwar dilahirkan di Medan, Sumatera Utara pada 26 Juli 1922. Dia merupakan anak
satu-satunya dari pasangan Toeloes dan Saleha, keduanya berasal dari Kabupaten Lima Puluh
Kota, Sumatera Barat. Jabatan terakhir ayahnya adalah sebagai bupatiIndragiri, Riau. Dia masih
memiliki pertalian keluarga dengan Soetan Sjahrir, Perdana Menteri pertama
Indonesia.[1] Sebagai anak tunggal, orang tuanya selalu memanjakannya,[2] namun Chairil
cenderung bersikap keras kepala dan tidak ingin kehilangan apapun; sedikit cerminan dari
kepribadian orang tuanya.
Chairil Anwar mulai mengenyam pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah
dasar untuk orang-orang pribumi pada masa penjajahan Belanda. Dia kemudian meneruskan
pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Saat usianya mencapai 18 tahun, dia
tidak lagi bersekolah.[3] Chairil mengatakan bahwa sejak usia 15 tahun, dia telah bertekad
menjadi seorang seniman.[4]
Pada usia 19 tahun, setelah perceraian orang tuanya, Chairil bersama ibunya pindah ke Batavia
(sekarang Jakarta) di mana dia berkenalan dengan dunia sastra; walau telah bercerai, ayahnya
tetap menafkahinya dan ibunya.[5] Meskipun tidak dapat menyelesaikan sekolahnya, ia dapat
menguasai berbagai bahasa asing seperti Inggris, Belanda, dan Jerman.[6] Ia juga mengisi jam-
jamnya dengan membaca karya-karya pengarang internasional ternama, seperti: Rainer Maria
Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, Hendrik Marsman, J. Slaurhoff, dan Edgar du Perron.
Penulis-penulis tersebut sangat memengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung terhadap
tatanan kesusasteraan Indonesia.

PenyairSunting

Puisi Aku yang dipajang di tembok di Leiden

Nama Chairil mulai terkenal dalam dunia sastra setelah pemuatan puisinya yang
berjudul Nisan pada tahun 1942, saat itu ia baru berusia 20 tahun.[6] Hampir semua puisi-
puisi yang ia tulis merujuk pada kematian.[6]Namun saat pertama kali mengirimkan puisi-
puisinya di majalah Pandji Pustaka untuk dimuat, banyak yang ditolak karena dianggap
terlalu individualistis dan tidak sesuai dengan semangat Kawasan Kemakmuran Bersama Asia
Timur Raya. Ketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta, Chairil jatuh cinta pada Sri
Ayati tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk
mengungkapkannya. Puisi-puisinya beredar di atas kertas murah selama masa pendudukan
Jepang di Indonesia dan tidak diterbitkan hingga tahun 1945.[6][7] Kemudian ia memutuskan
untuk menikah dengan Hapsah Wiraredja pada 6 Agustus 1946. Mereka dikaruniai seorang
putri bernama Evawani Alissa, namun bercerai pada akhir tahun 1948.

Makam Chairil di TPU Karet Bivak

Vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangi kondisi fisiknya. Sebelum menginjak usia 27
tahun, sejumlah penyakit telah menimpanya. Chairil meninggal dalam usia muda di Rumah
Sakit CBZ (sekarang Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo), Jakarta pada tanggal 28
April 1949. Penyebab kematiannya tidak diketahui pasti, menurut dugaan lebih karena
penyakit TBC. Ia dimakamkan sehari kemudian di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak,
Jakarta.[8] Chairil dirawat di CBZ (RSCM) dari 22-28 April 1949. Menurut catatan rumah
sakit, ia dirawat karena tifus. Meskipun demikian, ia sebenarnya sudah lama menderita
penyakit paru-paru dan infeksi yang menyebabkan dirinya makin lemah, sehingga timbullah
penyakit usus yang membawa kematian dirinya - yakni ususnya pecah. Tapi, menjelang
akhir hayatnya ia menggigau karena tinggi panas badannya, dan di saat dia insaf akan
dirinya dia mengucap, "Tuhanku, Tuhanku...". Dia meninggal pada pukul setengah tiga sore
28 April 1949, dan dikuburkan keesokan harinya, diangkut dari kamar mayat RSCM ke Karet
oleh banyak pemuda dan orang-orang Republikan termuka.[9] Makamnya diziarahi oleh
ribuan pengagumnya dari masa ke masa. Hari meninggalnya juga selalu diperingati
sebagai Hari Chairil Anwar. Kritikus sastra Indonesia asal Belanda, A. Teeuwmenyebutkan
bahwa "Chairil telah menyadari akan mati muda, seperti tema menyerah yang terdapat
dalam puisi berjudul Jang Terampas Dan Jang Putus".[3]
Selama hidupnya, Chairil telah menulis sekitar 94 karya, termasuk 70 puisi; kebanyakan
tidak dipublikasikan hingga kematiannya. Puisi terakhir Chairil berjudul Cemara Menderai
Sampai Jauh, ditulis pada tahun 1949,[4]sedangkan karyanya yang paling terkenal
berjudul Aku dan Krawang Bekasi.[5] Semua tulisannya baik yang asli, modifikasi, atau yang
diduga dijiplak, dikompilasi dalam tiga buku yang diterbitkan oleh Pustaka Rakyat. Kompilasi
pertama berjudul Deru Campur Debu (1949), kemudian disusul oleh Kerikil Tajam Yang
Terampas dan Yang Putus (1949), dan Tiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi
dengan Asrul Sani dan Rivai Apin)
Karya tulis yang diterbitkanSunting

Sampul Buku "Deru Campur Debu"

 Deru Campur Debu (1949)


 Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (1949)
 Tiga Menguak Takdir (1950) (dengan Asrul Sani dan Rivai Apin)
 "Aku Ini Binatang Jalang: koleksi sajak 1942-1949", disunting oleh Pamusuk Eneste, kata
penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986)
 Derai-derai Cemara (1998)


Diterjemahkan dari Andre Gide

Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948), terjemahan karya Andre Gide


 Kena Gempur (1951), terjemahan karya John Steinbeck

Terjemahan ke bahasa asingSunting


Karya-karya Chairil juga banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa
Inggris, Jerman, bahasa Rusia dan Spanyol. Terjemahan karya-karyanya di antaranya adalah:
 "Sharp Gravel, Indonesian Poems", oleh Donna M. Dickinson (Berkeley, California, 1960)
 "Cuatro Poemas Indonesios [por] Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati" (Madrid: Palma de
Mallorca, 1962)
 Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York, New Directions,
1963)
 "Only Dust: Three Modern Indonesian Poets", oleh Ulli Beier (Port Moresby [New Guinea]:
Papua Pocket Poets, 1969)
 The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Burton
Raffel (Albany, State University of New York Press, 1970)
 The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Liaw Yock Fang,
dengan bantuan H. B. Jassin (Singapore: University Education Press, 1974)
 Feuer und Asche: sämtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath (Wina:
Octopus Verlag, 1978)
 The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, oleh Burton Raffel (Athens,
Ohio: Ohio University, Center for International Studies, 1993)
 Dalam Kumpulan "Poeti Indonezii" (Penyair-Penyair Indonesia). Terjemahan oleh S. Semovolos.
Moscow: Inostrannaya Literatura, 1959, № 4, hlm. 3-5; 1960, № 2, hlm. 39-42.
 Dalam Kumpulan "Golosa Tryoh Tisyach Ostrovov" (Suara Tiga Ribu Pulau). Terjemahan oleh
Sergei Severtsev. Moscow, 1963, hlm. 19-38.
 Dalam Kumpulan "Pokoryat Vishinu" (Bertakhta di Atasnya). Puisi penyair Malaysia dan
Indonesia dalam terjemahan Victor Pogadaev. Moscow: Klyuch-C, 2009, hlm. 87-89.

Karya-karya tentang Chairil AnwarSunting


 Chairil Anwar: memperingati hari 28 April 1949, diselenggarakan oleh Bagian Kesenian
Djawatan Kebudajaan, Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan (Djakarta, 1953)
 Boen S. Oemarjati, "Chairil Anwar: The Poet and His Language" (Den Haag: Martinus Nijhoff,
1972).
 Abdul Kadir Bakar, "Sekelumit Pembicaraan tentang Penyair Chairil Anwar" (Ujung Pandang:
Lembaga Penelitian dan Pengembangan Ilmu-Ilmu Sastra, Fakultas Sastra, Universitas
Hasanuddin, 1974)
 S.U.S. Nababan, "A Linguistic Analysis of the Poetry of Amir Hamzah and Chairil Anwar" (New
York, 1976)
 Arief Budiman, "Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan" (Jakarta: Pustaka Jaya, 1976)
 Robin Anne Ross, Some Prominent Themes in the Poetry of Chairil Anwar, Auckland, 1976
 H.B. Jassin, "Chairil Anwar, Pelopor Angkatan '45, disertai kumpulan hasil tulisannya", (Jakarta:
Gunung Agung, 1983)
 Husain Junus, "Gaya Bahasa Chairil Anwar" (Manado: Universitas Sam Ratulangi, 1984)
 Rachmat Djoko Pradopo, "Bahasa Puisi Penyair Utama Sastra Indonesia Modern" (Jakarta: Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985)
 Sjumandjaya, "Aku: Berdasarkan Perjalanan Hidup dan Karya Penyair Chairil Anwar (Jakarta:
Grafitipers, 1987)
 Pamusuk Eneste, "Mengenal Chairil Anwar" (Jakarta: Obor, 1995)
 Zaenal Hakim, "Edisi kritis puisi Chairil Anwar" (Jakarta: Dian Rakyat, 1996)
 Drama Pengadilan Sastra Chairil Anwarkarya Eko Tunas, sutradara Joshua Igho, di Gedung
Kesenian Kota Tegal (2006).

KontroversiSunting
Puisi hasil karya Chairil sempat dituduh sebagai hasil plagiarisme[10] oleh H.B Jassin. Dalam
tulisannya pada Mimbar Indonesiayang berjudul Karya Asli, Saduran, dan Plagiatia membahas
tentang kemiripan puisi Karawang-Bekasi dengan The Dead Young Soldiers karya Archibald
MacLeish. Namun, Jassin tidak menyalahkan Chairil. Menurut dia, meskipun mirip, tetap ada
rasa Chairil di dalamnya. Sedangkan sajak MacLeish, menurut Jassin, hanyalah katalisator
penciptaan.

Daftar karya Chairil Anwar


 Baca dalam bahasa lain

 Pantau halaman ini


 Sunting

Penulis Indonesia Chairil Anwar (1922–1949) menulis 75 puisi, 7 prosa, dan


3 koleksi puisi. Ia juga menerjemahkan 10 puisi dan 4 prosa. Kebanyakan puisi-
puisi asli Anwar dimasukkan dalam versi koleksinya: Deru Campur Debu, Kerikil-
Kerikil Tajam dan yang Terampas dan yang Putus (keduanya 1949), dan Tiga
Menguak Takdir (1950). Pada tahun 1956, HB Jassin mengumpulkan dan
mendokumentasikan sebagian besar karya-karya Anwar yang masih tersisa dalam
buku berjudul Chairil Anwar: Pelopor Angkatan 45,[1]dan pada tahun 1970 Burton
Raffelmenerbitkan terjemahan bahasa Inggris dari karya-karya asli Anwar dalam
buku berjudul The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar.[2]
Daftar pustaka Chairil Anwar
Foto Chairil Anwar yang sedang merokok.

Terbitan

↙Koleksi 3

↙Puisi 75

↙Puisi terjemahan 10

↙Prosa asli 7

↙Prosa terjemahan 4

Anwar lahir di Medan, Sumatra Utara, dan menempuh pendidikan di sekolah-


sekolah yang dijalankan oleh pemerintahan kolonial Belanda sampai sekitar 1940,
ketika ia dan ibunya pindah ke ibukota, Batavia (sekarang Jakarta).[3] Ketika itu, ia
mulai masuk dalam dunia sastra setempat.[4] Pada tahun 1942, ia menulis "Nisan",
yang secara umum dianggap sebagai puisi pertamanya.[5] Ia menulis secara intensif
pada masa pendudukan Jepang (1942–1945). Pada waktu itu, ia mengubah puisi-
puisinya untuk menghindari penyensoran; contohnya, judul karya terbaiknya,
"Aku" untuk beberapa waktu dikenal sebagai "Semangat" untuk menghindari
penyensoran karena dianggap bertemakan individualitas.[6] Namun, individualisme
Anwar cukup menonjol, seperti pada baris "Aku mau hidup seribu tahun lagi" dari
"Aku" yang sering dikutip. Pada tahun-tahun berikutnya, individualisme ini
berkembang menjadi rasa fatalis. Karena itu, mengidentifikasikan sebuah tema
tunggal yang menyatukan seluruh karya Anwar adalah hal yang sulit.[7] Kata
seorang pemain perempuan, ia wafat pada usia 27 tahun; beberapa sumber
menyebut sifilis sebagai penyebab kematiannya.[8]
Setelah kematiannya, Anwar dikritik atas tuduhan plagiarisme pada beberapa
karya yang dikeluarkan namun tidak ditulis sebagai hasil terjemahan puisi
asing.[9] Karya-karya aslinya, tidak seperti puisi yang dibuat oleh penulis-penulis
pada masa yang sama, penggunaan bahasa sehari-hari tidak digunakan dalam
puisinya, mencampur kata-kata dari bahasa-bahasa asing.[10] Puisi-puisi Anwar
dianggap multi-tafsir.[7] Dengan demikian, tuduhan plagiarisme tersebut –
meskipun disebarluaskan pada waktu penemuannya – tidak mempengaruhi
warisannya. Sarjana sastra Indonesia asal Belanda yang bernama A.
Teeuwmendeskripsikan Anwar sebagai "penyair yang sempurna, [11] sementara
Raffel mendiskripsikannya sebagai "tokoh sastra terbaik di Indonesia".[12] Tanggal
kematiannya, 28 April, dirayakan sebagai Hari Puisi Nasional.[4]
Daftar berikut terbagi menjadi lima tabel berdasarkan jenis karya di dalamnya.
Tabel-tabel ini awalnya disusun berdasarkan urutan abjad judulnya, namun bisa
diurutkan berdasarkan elemen lain. Judul-judul aslinya yang menggunakan
ejaan Van Ophuijsen dan Republik distandardisasikan dengan Ejaan Yang
Disempurnakan yang saat ini digunakan di Indonesia. Untuk karya tanpa judul,
kata-kata pertamanya ditulis dalam kurung. Tahun-tahun yang digunakan berasal
dari kalender Gregorian; karya-karya yang ditulis pada tahun 1942 dan 1945
kebanyakan menggunakan kalender Jepang kōki (皇紀). Selain yang diberi catatan,
entri-entri daftar ini didasarkan pada kompilasi puisi buatan (Jassin 1968,
hlm. 163–172) dan (Raffel 1970, hlm. vii–ix).
Puisi asliSunting

"Aku" karya Anwar pada sebuah dinding di Belanda


Dalam "Yang Terampas dan Yang Luput", Anwar memprediksi pemakamannya di Karet Bivak.[4]

Anwar kemudian mengembangkan puisi bertemakan mortalitas dan rasa menyerah.

"Persetujuan dengan Bung Karno" merujuk pada Presiden Sukarno; M. Balfas mendeskripsikan puisi tersebut
sebagai penjelasan dari bahasa presiden sebagai sebuah tema.[13]
"Diponegoro" membahas tentang Pangeran Diponegoro, yang memimpin sebuah perang melawan penjajah
belanda dari 1925 sampai 1930.

Beberapa pembaca puisi Anwar yang berjudul "Isa" menganggap Anwar memiliki pandangan positif terhadap
Kekristenan.[14]
Keterangan

Karya tidak diterbitkan

Puisi asli Chairil Anwar

Judul Ditulis Catatan

Diterbitkan
dalam Pandji
"1943" 1943
Poestaka, 1 Januari
1944
Digabung
dalam Kerikil-Kerikil
24 Juli
"?" Tajam dan yang
1943
Terampas dan yang
Putus

Digabung
dalam Kerikil-Kerikil
Tajam dan yang
Februari
"Ajakan" Terampas dan yang
1943
Putus; digunakan
untuk pidato Anwar di
radio pada tahun 1943

Digabung
dalam Kerikil-Kerikil
Tajam dan yang
Maret Terampas dan yang
"Aku"
1943 Putus dan Deru
Campur Debu; dikenal
juga sebagai
"Semangat"

Digabung
dalam Kerikil-Kerikil
8 Juni
"Aku" Tajam dan yang
1943
Terampas dan yang
Putus
Pertama kali
("Aku Berada
1949 diterbitkan
Kembali")
dalam Serikat, 1949

Pertama kali
"Aku Berkisar diterbitkan
1949
Antara Mereka" dalam Ipphos Report,
Februari 1949

Digabung
dalam Kerikil-Kerikil
7 Juni
"Bercerai" Tajam dan yang
1943
Terampas dan yang
Putus

Pertama kali
"'Betina'-nya diterbitkan
1946
Affandi" dalam Pantja Raja, 1
Januari 1947

Pertama kali
diterbitkan
"Buat Album dalam Pantja Raja, 1
1946
D.S." Januari 1947; digabung
dalam Deru Campur
Debu

Pertama kali
diterbitkan
dalam Siasat, 2 Januari
1949; juga diterbitkan
dalam Internasional,
"Buat Gadis
1948 Januari 1949; digabung
Rasid"
dalam Kerikil-Kerikil
Tajam dan yang
Terampas dan yang
Putus; dikenal juga
sebagai "Buat Gadis"

Pertama kali
"Buat Nyonya diterbitkan
1949
N." dalam Ipphos Report,
Februari 1949

23 Pertama kali
"Catastrophe" September diterbitkan
1945 dalam Seroean Noesa,
1946; dalam bahasa
Belanda; Jassin
mempertanyakan
keaslian puisi tersebut

Pertama kali
diterbitkan
dalam Pantja Raja, 1
"Catetan Tahun Februari 1947;
1946
1946" digabung dalam Deru
Campur
Debu dan Tiga
Menguak Takdir

Digabung
dalam Kerikil-Kerikil
9 Juni
"Cerita" Tajam dan yang
1943
Terampas dan yang
Putus

Pertama kali
diterbitkan
dalam Pantja Raja, 15
"Cerita Buat November 1946;
1946
Dien Tamaela" digabung dalam Deru
Campur
Debu dan Tiga
Menguak Takdir

Pertama kali
diterbitkan
dalam Pantja Raja, 1
"Cintaku Jauh di
1946 Januari 1947; digabung
Pulau"
dalam Deru Campur
Debu dan Tiga
Menguak Takdir

"Dalam Kereta" 15 Maret


1944

Pertama kali
diterbitkan
"Dari Dia" 1946
dalam Pantja Raja, 1
Januari 1947

13 Juli Digabung
"Dendam" dalam Kerikil-Kerikil
1943
Tajam dan yang
Terampas dan yang
Putus

Pertama kali
diterbitkan
dalam Mutiara, 15 Mei
1949; juga diterbitkan
dalam Internasional,
Juni 1949; digabung
"Derai-Derai
1949 dalam Kerikil-Kerikil
Cemara"
Tajam dan yang
Terampas dan yang
Putus dan Tiga
Menguak Takdir;
terkadang diterbitkan
tanpa judul

Digabung
dalam Kerikil-Kerikil
29 Juni
"Dimesjid" Tajam dan yang
1943
Terampas dan yang
Putus

Pertama kali
diterbitkan
Februari dalam Kerikil-Kerikil
"Diponegoro"
1943 Tajam dan yang
Terampas dan yang
Putus

Pertama kali
diterbitkan
13
dalam Pantja Raja, 15
"Doa" November
November 1946;
1943
digabung dalam Deru
Campur Debu

Digabung
dalam Kerikil-Kerikil
14 Mei Tajam dan yang
"Hampa"
1943 Terampas dan yang
Putus dan Deru
Campur Debu

Maret Digabung
"Hukum" dalam Kerikil-Kerikil
1943
Tajam dan yang
Terampas dan yang
Putus

Pertama kali
diterbitkan
dalam Siasat, 26
Desember 1948;
"Ina Mia" 1948 digabung
dalam Kerikil-Kerikil
Tajam dan yang
Terampas dan yang
Putus

Pertama kali
diterbitkan
12
dalam Pantja Raja, 15
"Isa" November
November 1946;
1943
digabung dalam Deru
Campur Debu

Pertama kali
diterbitkan
"Kabar dari dalam Pantja Raja, 15
1946
Laut" Januari 1947; digabung
dalam Deru Campur
Debu

Pertama kali
diterbitkan
dalam Pembangoenan,
10 Januari 1946;
"Kawanku dan 5 Juni digabung
Aku" 1943 dalam Kerikil-Kerikil
Tajam dan yang
Terampas dan yang
Putus dan Deru
Campur Debu

Digabung
dalam Kerikil-Kerikil
19 April
"Kenangan" Tajam dan yang
1943
Terampas dan yang
Putus

Pertama kali
30
"Kepada diterbitkan
November
Kawan" dalam Pantja Raja, 1
1946
Desember 1946
Pertama kali
diterbitkan
"Kepada dalam Pantja Raja, 1
1946
Pelukis Affandi" Januari 1947; digabung
dalam Deru Campur
Debu

Digabung
dalam Kerikil-Kerikil
Tajam dan yang
Terampas dan yang
Putus dan Deru
"Kepada
Campur Debu;
Peminta- Juni 1943
menurut Jassin, karya
Peminta"
tersebut merupakan
plagiat dari puisi "Tot
den Arme" ("To the
Poor") karya Willem
Elsschot

Pertama kali
diterbitkan
"Kepada Penyair dalam Pantja Raja, 1
1945
Bohang" Januari 1947; digabung
dalam Deru Campur
Debu

Pertama kali
diterbitkan
dalam Pembangoenan,
10 Desember 1945;
digabung
"Kesabaran" April 1943
dalam Kerikil-Kerikil
Tajam dan yang
Terampas dan yang
Putusdan Deru
Campur Debu

Digabung
dalam Kerikil-Kerikil
Tajam dan yang
("Kita Guyah Terampas dan yang
Juli 1943
Lemah") Putus; digunakan
untuk pidatonya secara
terbuka pada tahun
1943
Pertama kali
diterbitkan
dalam Mimbar
Indonesia, 20
November 1948;
digabung
dalam Kerikil-Kerikil
Tajam dan yang
Terampas dan yang
"Krawang- Putus dan Tiga
1948
Bekasi" Menguak Takdir; juga
dikenal sebagai
"Kenang, Kenanglah
Kami"; menurut Jassin,
karya tersebut
merupakan plagiat dari
puisi "The Young Dead
Soldiers"
karya Archibald
MacLeish

Pertama kali
diterbitkan
dalam Pembangoenan,
"Kupu Malam Maret 25 Mei 1946; digabung
dan Biniku" 1943 dalam Kerikil-Kerikil
Tajam dan yang
Terampas dan yang
Putus

Digabung
dalam Kerikil-Kerikil
Maret
"Lagu Biasa" Tajam dan yang
1943
Terampas dan yang
Putus

Digabung dalam Deru


28 Campur Debu; dalam
"Lagu Siul" November dua bagian; bagian
1945 kedua is the same as
"Tak Sepadan"

Pertama kali
diterbitkan
"Malam" 1945 dalam Pantja Raja, 1
Desember 1946;
digabung
dalam Kerikil-Kerikil
Tajam dan yang
Terampas dan yang
Putus

Pertama kali
diterbitkan
"Malam di dalam Pantja Raja, 1
1947
Pegenungan" June 1947; digabung
dalam Deru Campur
Debu

("Mari") 1949

Digabung
dalam Kerikil-Kerikil
13 Juli
"Merdeka" Tajam dan yang
1943
Terampas dan yang
Putus

Pertama kali
"Mirat Muda, diterbitkan
1949
Chairil Muda" dalam Ipphos Report,
Februari 1949

Digabung
("Mulutmu dalam Kerikil-Kerikil
12 Juli
Mencubit Tajam dan yang
1943
Mulutku") Terampas dan yang
Putus

Digabung
dalam Kerikil-Kerikil
Oktober
"Nisan" Tajam dan yang
1942
Terampas dan yang
Putus

Pertama kali
diterbitkan
"Nocturno dalam Pantja Raja, 1
1946
(Fragment)" Januari 1947; digabung
dalam Deru Campur
Debu

Pertama kali
diterbitkan
8 Januari dalam Pembangoenan,
"Orang Berdua"
1946 25 Januari 1946;
digabung dalam Deru
Campur Debu; juga
berjudul "Dengan
Mirat"

Digabung
dalam Kerikil-Kerikil
Februari
"Pelarian" Tajam dan yang
1943
Terampas dan yang
Putus

Pertama kali
diterbitkan
dalam Siasat, 4 Januari
"Pemberian 1947; kemudian
1946
Tahu" termasuk dalam Kisah,
Mei 1955; bagian dari
artikel "Tiga Muka Satu
Pokok"

Pertama kali
diterbitkan
dalam Pembangoenan,
10 Desember 1945;
Maret digabung
"Penerimaan"
1943 dalam Kerikil-Kerikil
Tajam dan yang
Terampas dan yang
Putusdan Deru
Campur Debu

Digabung
dalam Kerikil-Kerikil
Desember
"Penghidupan" Tajam dan yang
1942
Terampas dan yang
Putus

Digabung
dalam Kerikil-Kerikil
16 April
"Perhitungan" Tajam dan yang
1943
Terampas dan yang
Putus

Pertama kali
diterbitkan
"Perjurit Jaga dalam Siasat, 2 Januari
1948 1949; digabung
Malam"
dalam Kerikil-Kerikil
Tajam dan yang
Terampas dan yang
Putusdan Tiga
Menguak Takdir

Pertama kali
diterbitkan
dalam Mimbar
Indonesia, 10
"Persetujuan
November 1948;
dengan Bung 1948
digabung
Karno"
dalam Kerikil-Kerikil
Tajam dan yang
Terampas dan yang
Putus

Pertama kali
diterbitkan
dalam Siasat, 9 Januari
1949; juga diterbitkan
dalam Internasional,
"Puncak" 1948
Januari 1949; digabung
dalam Kerikil-Kerikil
Tajam dan yang
Terampas dan yang
Putus

Digabung
dalam Kerikil-Kerikil
27 April
"Rumahku" Tajam dan yang
1943
Terampas dan yang
Putus

Pertama kali
diterbitkan
dalam Pantja Raja, 1
April 1947; digabung
"Sajak Buat 28
dalam Tiga Menguak
Basuki Februari
Takdir; oertama kali
Resobowo" 1947
diterbitkan dengan
"Sorga" sebagai "Dua
Sajak Buat Basuki
Resobowo"

Digabung dalam Deru


18 Januari Campur
"Sajak Putih"
1944 Debu dan Tiga
Menguak Takdir

"Sebuah Kamar" 1946 Pertama kali


diterbitkan
dalam Pantja Raja, 1
Januari 1947; digabung
dalam Deru Campur
Debu

("Selama Bulan Pertama kali


Menyinari diterbitkan
1948
Dadanya Jadi dalam Siasat, 19
Pualam") Desember 1948

Digabung
dalam Kerikil-Kerikil
"Selamat 12 Juli Tajam dan yang
Tinggal" 1943 Terampas dan yang
Putus dan Deru
Campur Debu

Digabung
dalam Kerikil-Kerikil
Februari
"Sendiri" Tajam dan yang
1943
Terampas dan yang
Putus

Pertama kali
diterbitkan
"Senja di
dalam Pantja Raja, 15
Pelabuhan 1946
Januari 1947; digabung
Kecil"
dalam Tiga Menguak
Takdir

Digabung
dalam Kerikil-Kerikil
Februari Tajam dan yang
"Sia-Sia"
1943 Terampas dan yang
Putus dan Deru
Campur Debu

Pertama kali
diterbitkan dalam Asia
Raja, 1944; kemudian
"Siap-Sedia" 1944
diterbitkan
dalam Keboedajaan
Timoer II, 1944

Pertama kali
diterbitkan
"Situasi" 1946
dalam Pantja Raja, 15
November 1946
Pertama kali
diterbitkan
dalam Pantja Raja, 1
April 1947; digabung
25 dalam Deru Campur
"Sorga" Februari Debu; pertama kali
1947 diterbitkan dalam
"Sajak Buat Basuki
Resobowo" sebagai
"Dua Sajak Buat Basuki
Resobowo"

Digabung
dalam Kerikil-Kerikil
Februari
"Suara Malam" Tajam dan yang
1943
Terampas dan yang
Putus

Pertama kali
diterbitkan
dalam Siasat, 12
("Sudah Dulu Desember 1948;
Lagi Terjadi 1948 digabung
Begini") dalam Kerikil-Kerikil
Tajam dan yang
Terampas dan yang
Putus

Digabung
dalam Kerikil-Kerikil
Maret
"Taman" Tajam dan yang
1943
Terampas dan yang
Putus

Pertama kali
diterbitkan
dalam Pantja Raja, 1
"Tuti Artic" 1947
Juni 1947; digabung
dalam Deru Campur
Debu

Pertama kali
diterbitkan
"Yang Terampas dalam Mutiara, 15 Mei
1949 1949; juga diterbitkan
dan Yang Luput"
dalam Karya (Mei
1949)
dan Internasional(Juni
1949); digabung
dalam Kerikil-Kerikil
Tajam dan yang
Terampas dan yang
Putus dan Tiga
Menguak Takdir;
diterbitkan dengan tiga
nama yang berbeda;
nama alternatifnya
adalah "Yang Terampas
dan Yang Putus" dan
"Buat Mirat"

Puisi terjemahanSunting

Anwar menerjemahkan dua puisi dari penulis Amerika W. H. Auden.

Keterangan

Karya tidak diterbitkan

Puisi yang diterjemahkan oleh Chairil Anwar


Judul Penulis Catatan

Pertama kali diterbitkan


dalam Mimbar Indonesia,
("Biar Malam 18 November 1950;
1949 diterjemahkan dari puisi
Kini Lalu")
"Song IV" karya W. H.
Auden

Pertama kali diterbitkan


dalam Mimbar Indonesia, 3
November 1948;
"Datang Dara
1948 diterjemahkan dari sebuah
Hilang Dara"
puisi karya Xu Zhimo;
pertama kali diterbitkan
sebagai karya milik Anwar

Pertama kali diterbitkan


dalam Mimbar Indonesia, 3
November 1948;
"Fragmen" 1948 diterjemahkan dari sebuah
puisi karya Conrad Aiken;
pertama kali diterbitkan
sebagai karya milik Anwar

Pertama kali diterbitkan


dalam Gelanggang
Pemoeda, December 1945;
"Hari Akhir
diterjemahkan dari
Olanda di 1945
"Vloekzang" karya S.E.W.
Jawa"
Roorda van Eysinga (dibuat
dalam bentuk teks oleh
Sentot)

Pertama kali diterbitkan


dalam Gema Soeasana,
June 1948; kemudian
diterbitkan ulang
"Huesca" 1948
dalam Siasat, 5 November
1950; diterjemahkan dari
sebuah puisi karya John
Cornford

"Jenak Tidak diterbitkan;


1947
Berbenar" diterjemahkan dari puisi
"Ernste Stunde"
karya Rainer Maria Rilke

Pertama kali diterbitkan


dalam Karya, April 1949;
kemudian diterbitkan ulang
"Lagu Orang
1949 dalam Serikat, 15 Juni
Usiran"
1949; diterjemahkan dari
puisi "Refugee Blues"
karya W. H. Auden

Pertama kali diterbitkan


dalam Pembangoenan, 25
Januari 1946;
"Mirliton" 1945
diterjemahkan dari sebuah
puisi karya Edgar du
Perron

Diterbitkan dalam Gema


Soeasana, Januari 1948;
"Musim
1947 diterjemahkan dari puisi
Gugur"
"Herbsttag" karya Rainer
Maria Rilke

Diterbitkan
dalam Djambatan, Oktober
"P.P.C." 1945 1946; diterjemahkan dari
sebuah puisi karya Edgar
du Perron

Diterbitkan
dalam Djambatan, Oktober
"Somewhere" 1945 1946; diterjemahkan dari
sebuah puisi karya Edgar
du Perro
Prosa asliSunting

Anwar membuat dua pidato yang ditranskrip dan diterbitkan di surat kabar.

Keterangan

Karya tidak diterbitkan

Prosa asli Chairil Anwar

Bulan
Judul penerbitan Penerbitan Catatan
pertama

Sebuah surat
terbuka kepada
"Berhadapan 28 Agustus
Pemandangan HB Jassin;
Mata" 1943 tertanggal 25
Agustus 1943

Artikel pada
pengembangan
10
kontemporer
"Hoppla!" Desember Pembangoenan
dalam puisi
1945
Indonesia;
tertanggal 1945
("Maar Ik Prosa lirik;
Wil Stil Zijn") N/A N/A dalam bahasa
Belanda

"Membuat Menggabungkan
Sajak, puisi dan seni
Juni 1949 Internasional
Melihat visual;
Lukisan" tertanggal 1949

Transkript
sebuah pidato
"Pidato
7 Februari karya Anwar di
Chairil Zenith
1951 Pusat
Anwar 1943"
Kebudayaan, 7
Juli 1943

Pertama kali
dalam
25 serangkaian
"Pidato
Februari Siasat pidato radio
Radio 1946"
1951 yang tak
terealisasikan;
tertanggal 1946

Sebuah anekdot
mengenai seni
dan kreatifitas;
tertanggal 1946;
"Tiga Muka 4 Januari
Siasat kemudian
Satu Pokok" 1947
diterbitkan
ulang
dalam Kisah,
1955
Prosa terjemahanSunting

Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948)

Keterangan

Karya tidak diterbitkan

Prosa yang diterjemahkan oleh Chairil Anwar

Bulan
Judul penerbitan Penerbitan Catatan
pertama

"Beberapa
Surat dan N/A
N/A
Sajak R.M.
Rilke"

Diterjemahkan
dari cerita
"Kena 1 Februari pendek "The
Pantja Raja
Gempur" 1947 Raid"
karya John
Steinbeck
Diterjemahkan
dari cerita
"Pulanglah pendek "Le
Dia Si September Pudjangga retour de
Anak 1948 Baru l'enfant
Hilang" prodigue"
karya André
Gide

Diterjemahkan
dari cerita
"Tempat
pendek "A
yang Juli
Clean, Well-
Bersih dan 1949/Agustus Internasional
Lighted
Lampunya 1949
Place"
Terang"
karya Ernest
Hemingway