Anda di halaman 1dari 14

I AR.TlJKJEi..

ALIRAN-ALIRAN METAFISIKA
(Studi Kritis Filsafat Ilmu)

Rizal Mustansyir
Staf Pengajar Fakultas,Filsafat Universitas Gadjah Mada

Filsafat sebagai studi


kritis mengenai segala sesuatu
di alam semesta ini menempatkan kedudukan
metafisika sebagai pokok kajian yang sangat penting,
bahkan Rene Descartes, tokoh utama filsafat Barat Modern
mengatakan bahwa metafisika itu akar dari pohon ilmu
pengetahuan, pohonnya adalah fisika sedangkan dahan-
dahannya adalah cabang ilmu lainnya (Kennick, 1966: 1).
Ibarat pohon yang tumbuh subur dan kokoh, karena
didukung fungsi akar yang menyerap sari~sari ma~
kanan dan menahan berdiri tegaknya pohon itu,
maka perkembangan ilmu pengetahuan ju ~
:sa sangat terdukung (baik langsung
maupun tidak) oleh metafisika.

PENGANTAR dan divelifikasi (verifiable). Padahal


statemen-statemen metafisika itu sendili
Sumba:lgsih metafisika terhadap lebih mempakan olah pikir yang me-
perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ngatasi dan tidak menyentuh wilayah
ini tidak begitu disadali (bahkan ada empilik-positivistik. Bahkan kalangan
yang menolak) oleh para ilmuwan. pemikir empilik-positivistik menamainya
Karena kebanyakan ilmuwan sekarang sebagai pseudo-scientific. Inilah salah
ini --terutama mereka yang menolak satu alasan mengapa perbincangan
"
metafisika-- sangat dipengamhi visi em- metafisika di kalangan ilmuwan
pilik-Positivistik. Segala sesuatu di- cenderung dihindali, Kendatipun
katakan ilmiah jika dapat diukur demikian secara jujur kita harus me-
(l1r:Nlnl!Jk), dapat dihitung (accountable), ngakui bahv·:a para metafisikus itu
JURNAL fIL)AfAT. JUlI 1997 1
sendiri tidak terlalu besar perhatiannya arti "bijaksana", sedangkan sophia bemlti
terhadap problem-problem manusia yang "kebijaksanaan" (Ali Mudhofir, 1996:4).
konkl'et. Mereka lebih banyak berkutat Menurut sejarah filsafat, orang
pada masalah-masalah sepelii: Being yang peltama kali memakai istilah phi-
and Nothingness (Ada/Ketiadaan), losophia atau filsafat adalah Pythagoras
Change and permanence (572-497 SM). Ketika beliau ditanya
(perubahan/ketetapan), yang bagi para apakah ia sebagai orang yang bijaksana,
ilmuwan merupakan pseudo-problems maka Pythagoras dengan rendah hati
(persoalan-persoalan semu). menyebut dirinya sebagai philosophos,
Oleh karena itu makalah ini akan yakni pencinta kebijaksanaan (lover of"
memusatkan diri pada masalah sum- wL<;dom).
bangsih metansika terhadap Pada awal mulanya, tidak ada per-
perkembangan ilmu pengetahuan. Sum- bedaan lingkup filsafat dengan ilmu,
bangsih macam apa yang dibelikan karena filsuf-filsuf terdahulu juga ter-
metafisika terhadap ilmu pengetahuan? masuk ilmuwan. Namun dalam
Mungkinkah ilmu pengetahuan itu perkembangan lebih lanjut, terutama era
berkembang tanpa metafisika? Persoalan- pasca Renaissance, ilmu-ilmu mulai
persoalan penting apa saja yang ada memisahkan diri dari induknya, filsafat.
dalam wilayah metafisika? Sehingga memang ada perbedaan yang
Namun sebelum sampai pada pem- cukup prinsipiil antara filsafat dengan
bahasan masalah metafisika, akan ilmu.
diketengahkan secara singkat pengeliian Filsafat berbeda dengan ilmu, baik
dan ruang lingkup filsafat dan ilmu dalam hal metode maupun ruang
pengetahuan. Makalah ini juga akan me- lingkupnya. Objek formal filsafat terarah
maparkan pendirian bebempa pacta unsur-unsur keumuman, sedang-
metafisikus, baik yang berpaham monis- kan ilmu-ilmu khusus lebih terarah pada
tik maupun pluralistik. hal-hal yang lebih spesifik. Aspek keu-
muman menempatkan kedudukan filsafat
PEMBAHASAN di atas ilmu, sehingga filsafat dapat
mencari hubungan-hubungan di antara
Pengertian dan Ruang Lingkup Filsafat berbagai bidimg ilmu, ini yang di-
namakan multidisipliner. Objek matelial
Istilah "filsafat" dalam bahasa Indo- filsafat mencakup apa saja yang ada di
nesia memiliki padanan kata falsafah alam semesta, baik yang ada dalam ke-
(Amb), philosophy (Inggris), philosophia nyataan maupun yang ada dalam
(Latin), philosophie (Jerman, Belanda, kemungkinan, sedang objek material
Pemncis). Semua istilah itu bersumber ilmu-ilmu khusus menyangkut pokok
pada istilah Yunani philosophia. Ada dua bahasan teltentu yang sifatnya terbatas.
alii istilah filsafat secara etimologik yang
agak berbeda. Alii peltama, apabila isti- Pengertian Ilmu
lah filsafat mengacu pada asal kata
pl1l1ein (mencintai) dan sophos Kata ilmu berasal dali kata dalam
(bijaksana) itu ber~uii mencintai hal-hal bahasa Inggris: science. Kata science ini
yang bersifat bijaksana (bijaksana di sini berasal dari kata Latin Scientia yang ber-
mengacu pada kata sifat). Alii kedua, alti pengetahuan. Kata scientia ini
apabila filsafat mengacu pada asal kata berasal dati bentuk kata kelja scire yang
phi/os (teman) dan, sophiEl altinya mempelajari, mengetahui. Pada
(kebijaksanaan) itu benuii teman kebi· mulanya cakupan ilmu (science) secara
jaksanaan (kebijaksanaan disini mengacu etimologis menunjuk pada pengetahuan
pada kata benda). semata-mata, pengetahuan mengenai apa
Istiiah Yunani philGin benuti saja (Dampier, 1986). Pertumbuhan se-
"mencintai", sedangkan pl1Jlos bertuii lanjutnya pengeliian ilmu (science) ini
"teman". Selanjutnya istilah sophos ber- mengalami l-1erluasan alti, sehingga
JURNAL FILS-AFAT. JUU 1997 Q
menunjuk pada segenap pengetahuan bergerak (the study of the eternal and
sistematik (SysteJluitic knowledge). Pe- immovable), dan Theology (Alan R.
makaian yang luas dari kata ilmu White, 1987:31).
(science) ini ditemskan dalam bahasa Pada umumnya persoalan-persoal-
Jerman dengan istilah Wissenschaft yang an metafisis dapat diklasifikasikan ke
berlaku terhadap kumpulan pengetahuan dalam tiga bagian, yaitu ontologi
apapun yang teratur, termasuk di dalam- (metafisika umum), kosmologi, dan an-
nya Nllturwissenschaften yang mencakup tropologi.
ilmu-ilmu kealaman maupun Geisteswis- (a) Persoalan Ontologi misalnya:
senschaften yang mencakup ilmu Apa yang dimaksud dengan, keberadaan
pengetahuan kemanusiaan (the Humani- atau eksistensi itu? Bagaimanakah peng-
ties), sementara daiam bahasa Indonesia golongan keberadaan atau eksistensi?
dikenal sebagai ilmu-ilmu budaya yang (b) Persoalan-persoalan kosmologis
pada umumnya mencakup pengetahuan- (alam), persoalan yang beltalian dengan
pengetahuan tentang bahasa dan sastra, asal-mula, perkembangan dan struktur
estetika, sejarah, filsafat, dan agama alamo Misalnya: Jenis ketel"aturan apa
(Dampier, 1966). yang ada dalam alam? Apa hakikat
llmu dapat dipandang sebagai hubungan sebab dan akibat? Apakah m-
suatu kegiatan manusia yang melibatkan ang dan waktu itu?
berbagai komponen seperti: obejek yang (c) Persoalan-persoalan antropologi
ditelaah, metode yang dipakai untuk me- (manusia) misalnya:
nelaah o~iek tersebut, hasil telaah itu Bagaimana hubungan antara
disusun secara sistematik, kebenarannya badan dan jiwa? Apakah manusia itu
dapat dipeltanggungiawabkan secant memiliki kebebasan kehendak atau ti-
umum. dak?

Metafisika Aliran-Aliran Metafisika

Metafisika adalah cabang filsafat Persoalan metafisika dalam hal ke-


yang membahas persoalan tentang ke- beradaan menimbulkan beberapa aliran
bel"adaan (being) atau eksistensi , metafisika. Ada yang melihat persoalan
(existence). Istilah metafisika berasal dari kebel"adaan itu dari segi kualitas dan
kata Yunani meta ta physika yang dapat kuantitas. Aliran metafisika yang melihat
diartikan sesuatu yang ada di balik atau Keberadaan dati segi kualitas yaitu: Ma-
di belakang benda-benda fisiko Alistoteles tetialisme dan Spilitualisme. Aliran
tidak memakai istilah metafisika melain- metafisika yang melihat Keberadaan dari
kan proto philosophia (filsafat peltama). segi kuantitas adalah Monisme, Dual-
Filsafat peltama ini memuat uraian ten- isme, dan pluralisme. Kelima aliran inilah
tang sesuatu yang ada di belakang gejala- yang akan dibahas dalam tulisan ini.
gejala fisik seperti bergerak, bembah,
hidup, mati. Metafisika dapat didefinisi- 1. Materialisme
kan sebagai studi atau pemikiran tentang Suatu pandangan metafisik yang
sifat yang terdalam (ultimate nature) dad menganggap bahwa tidak ada hal yang
kenyataan atau keberadaan. nyata selain materi. Bahkan pikiran dan
Atistoteles menyebut beberapa isti- kesadaran hanyalah penjelmaan dati ma-
lah yang maknanya setara dengan teli dan dapat dikembalikan pada unsur-
metafisika, yaitu: filsafat Peltama (First unsur fisiko Mateli adalah sesuatu hal
Philosophy), pengetahuan tentang sebab yang kelihatan, dapat diraba, berbentuk,
(knowledge of Clillse), Studi tenta ng Ada menempati mango Hal-hal yang bersifat
sebagai Ada (the study ofBeing as Being), kerohanian seperti fikiran, jiwa, keyaki-
Studi tentang Ousia (Being), studi tentang nan, l'asa sedih dan rasa senang,
hal-hal abadi dan yang tidak dapat hanyala.h ungkapan proses kebendaan.
JURNAL fIUiAFAT. JULl 1997 3
Tokoh-tokohnya antal'a lain: kan jiwa kembali ke kesatuan dengan
a. Demokritos (460-370 SM), Tuhan. Plotinus menerangkan bahwa
berkeyakinan bahwa alam semesta ter- untuk gemk ke atas atau pun ke bawah,
susun atas atom-atom kecil yang maka pel'an besal' diletakkan pada sim-
memiliki bentuk dan badan. Atom-atom bol-simbol. Seluruh dunia indemwi
ini mempunyai sifat yang sarna, perbe- diresapi oleh kenyataan-kenyataan mis-
daannya hanya tentang besal', bentuk dan terius, dipengaruhinya dan diberikannya
letaknya. Jiwa pun, menurut Demokritos realitas yang bel'beda. Dunia itu menjadi
dikatakan teljadi dari atom-atom, hanya ekspresi hal-hal l'ahasia, sebagaimana
saja atom-atom jiwa itu lebih kecil, bulat halnya wajah manusia menampakkan le-
dan amat mudah bergemk. bih daripada yang inderawi semata.
b. Thomas Hobbes 0588-1679) Kenyataan indel'awi bagi Plotinus men-
berpendapat bahwa segala sesuatu yang jadi jalan untuk menerobos sampai pada
teljadi di dunia merupakan gerak dari kenyataan tt'ansenden. Plotinus menun-
mateli. Termasuk juga di sini pikimn, jukkan bahwa dalam keanekawarnaan
perasaan adalah gel'ak materi belaka. yang kaya itu dicari kesatuan yang ter-
Karena segala sesuatu terjadi dari benda- sembunyi melalui kontemplasi yang
benda kecil, maka bagi Hobbes, filsafat intens dan mendalam (Bakker, 1984: 43:
sarna dengan ilmu yang mempelajari 45).
benda-benda. Pemikiran metafisika Plotinus di-
pusatkan pada tuntutan bagi kesatuan.
2. SpiJitualisme Plotinus bahkan lebih eksttim dalipada
Suatu pandangan metafisika yang Plato dalam persoalan hal Satu (the One)
menganggap bahwa kenyataan yang ter- dan hal Banyak (the Many). Sebab Plato
dalam adalah roh (Pneuma, Nous, pada prinsipnya menolak pandangan ek-
Reason, Logos) yaitu roh yang mengisi strim tentang hal Satu dan hal Banyak.
dan mendasari seluruh alamo Tokoh Plato justeru mengkompromikan kedua
spiritualisme yang terkenal adalah Plo- plinsip di atas dengan aturan bilangan
tinus dan Hegel. terbatas (definite number) (Sontag, 1970:
a. Plotinus (204-270) 56). Pel'bedaan antam Plato dan Plotinus
Filsafat Plotinus merupakan tel'lihat paling jelas, jika kita memban-
kelanjutan filsafat Plato, sehingga dingkan keanekaragaman (multiplicity)
ajarannya juga dikenal dengan nama dan pel'bedaan esensial dalam prinsip
Neo-Platonisme. Plotinus sebagaimana pertama Platonik dengan plinsip tunggal
halnya Plato, mengarahkan filsafatnya Plotinus, bahwa segala sesuatu sangat
pada upaya menuju kesatuan ·melalui ta- tel~antung pada hal Satu me One).
hap-tahap mulai dali fisik, akal, jiwa Segala sesuatu bersumber pada hal
sampai pada titik puncak kesatuan yang Satu (the One) yang digambal'kan oleh
dinamakannya to Hen. Kenyataan terdiri Plotinus sebagai suatu himrki sebagai
dari Yang-Satu (to Hen), dan Yang-Satu berikut: hal Satu (the One), akal (reason),
bagaikan sumbel' melimpahkan Roh jiwa (soul) dan hal-hal fisik (physical)
(Nous): Roh memancarkan Jiwa (Psykhe); (Sontag, 1970: 5~). The One dalam fil-
dan Jiwa memancarkan rnateri. Proses ini safat Plotinus mengacu pada gagasan
dinamakan proses emanasi, di mana di- mengenai Tuhan. The One adalah
hasilkan hal-hal yang kesempurnaannya kebaikan yang merupakan tujuan hidup
semakin berkumng. Namun penjelmaan manusia. The One adalah Yang Esa, yang
paling rendah pun tidak pernah lepas segala sesuatu ikut ambil bagian di da-
dari kesatuan dengan Yang-Satu (Bakker, lamnya sepanjang segala sesuatu itu ada
1992: 27 - 28). (Delfgaauw, 1992: 46).
Plotinus sebagaimana halnya den- Proses jiwa menuju ke al'ah hal satu
gan Plato, memihak pada kesatuan, yaitu digambarkan Plotinus sebagai berikut.
penurunan kemurruan ilahi dan kenai- Jiwa haruslah dimengerti menu rut
JURNAl FllSN·AT. JULI 1997 4
cal'anya sendil'i; yakni melalui cam peng- alam semesta pada dasarnya adalah ma-
gabungan atau penyatuan; tetapi dalam teri dalam suatu kondisi tertentu
upaya pencarian untuk mengetahui ke- (Hutchins, 1986: 50).
satuan itu hendaknya dihindari cam
penyatuan melalui penyadamn yang te- b. G.W.f. Hegel
lah dikenal sebelumnya; sebab kalau Dalil Hegel yang terkenal berbunyi:
demikian, maka penyadaran itu tidaklah "Semuanya yang real bersifat rasional
berbeda dari objek intuisi itu sendiri. dan semuanya yang rasional bersifat
Kendatipun demikian, hal ini akan meru- ·rcal'~ Maksudnya ialah bahwa luasnya
pakan suatu sumber kekuatan jika rasio sarna dengan luasnya realitas. Real-
filsafat itu benar-benar dapat memberi itas seluruhnya adalah proses pemikiran
pengetahuan tentang pprihal kesatuan (Ide) yang memikirkan dirinya sendiri
kepada kita. Di saat kita sedang menye- (Beliens, 1989: 68). Pikiran adalah esensi
lidiki kesatuan, maka kita akan dali alam dan alam adalah keseluruhan
mengetahui pl'insip Kebaikan dan Hal jiwa yang diobjektifkan. Alam adalah
Pokok pada seluruh segi kehidupan; proses pikiran yang memudar. Alam
kal'ena itu kita tidak boleh berpijak dati adalah akal yang Mutlak (Absolute Nea-
kenyataan mengenai Hal Pokok yang ada s(m), yang mengekpresikan dirinya
di antara hal-hal yang sudah lampau: dalam bentuk luar. Oleh karena itu, hu-
kita harus menemukan Hal Pokok kum-hukum pikiran merupakan hukum-
(Keutamaan) yang berasal dati hal-hal hukum realitas. Hegel berpendapat
inderawi secara langsung. Jelas seluruh bahwa pembedaan dalam dunia fenome-
kejahatan yang ada di dalam diri kita na itu bet'Sifat relatif, keadaannya tidak
harus mengarah pada Kebaikan, kita mempengaruhi kesatuan dali akal yang
harus menumbuhkan Keutamaan di da- positif (Titus, 1984: 321). Tindakan atau
lam did kita; dari keberagaman kita peketjaan manusia menunjukkan adanya
harus menuju pada hal Satu; dan hal itu distansi antal'a subjek spiritual dati objek
hanya bisa diperoleh manakala kita material, karena manusia menggunakan
memiliki pengetahuan tentang Hal Pokok objek untuk memenuhi kebutuhannya
(Keutamaan) dan Kesatuan (Hutchins, dengan peltama-tama menangkapnya
1986: 355). sebagai objek, kemudian mengubahnya
Bagaimana jiwa menuju pada ke- menjadi sesuatu yang lain.
satuan pada Kebaikan dan Keutamaan Studi filsafat bagi Hegel, men-
merupakan suatu proses intuisi yang ti- cakup tiga bagian yaitu, logika, filsafat
dak dapat dipahami secara indel'awi. Alam, dan Filsafat Roh. Logika harus di-
Sebaliknya hal-hal fisik justru dipahami pahami sebagai sistem akal murru.
secal'a inderawi. Keseluruhan sistem kategoti atau konsep
Hal-hal fisik (physical) yang dalam logika Hegel, merupakan suatu
berada pada urutan terbawahmenurut definisi progresif tentang Tuhan atau
Plotinus, adalah bentuk (cMos) dalam sesuatu yang Absolut dalam dilinya
realitas inderawi. Bentuk (eidos) dalam sendiri. Gagasan logik semata-mata pe-
realitas inderawi adalah tanpa aktivitas, nalaran abstrak, atau penalaran yang
karena itu tidak real; dan mateli juga ti- tidak eksis dan tidak diwuiudkan dalam
dak real. Realitas inderawi adalah yang dilinya sendiri. Triade loglka Hegel me-
tet'baik, sesuatu yang hanya ambil bagian nempatkan ide itu sendit; sebagai tesis,
dalam realitas sesungguhnya. Duma alam (nature) sebagai antitesis, dan Roh
inderawi adalah suatu refleksi dal'i dUllia (Spirit) sebagai sintesis. Roh Tuhan me-
spilitual dalam cermin rnateri (Ralph nurut Hegel, adalah ide yang absolut
Inge, 1948: 152). Keberadaan dibatasi yang menciptakan semua realitas melalui
pada aspek jasmamah; di dalamnya pengasingan (alienating) substansinya
hanya ada materi, yang merupakan un- dalam dunia alamiah dan duma manusia.
sur utama alam semesta. Unsur-unsur Setelah pengasingan substansi itu dalam
JURNAL f-IL)Af-AT. JULI 1997 5
dunia realitas, ide yang absolut seeara hanya ada satu kenyataan fundamental.
progresif mengasumsikan kembali sub- Kenyataan tersebut dapat berupa jiwa,
stansinya ke dalam dirinya sendiri dan materi, Tuhan atau substansi lainnya
kemudian tiba pada kesadaran diri sepe- yang tidak dapat diketahui. Monisme ini
nuhnya atau Roh Mutlak (Absolutc berasal dad kata monas - adis, padanan
Spirit). Oleh karena itu, seluruh realitas kata dari monade yang artinya kesatuan
adalah rasional dalam beberapa eara, se- (Prent, 1969: 544). Monisme dalam se-
bab ide atau akal diaktualisasikan di jarah perkembangan filsafat Barat,
dalamnya (Sullivan, 1970: 40). mengandung dua pengeltian sebagai
Harun Hadiwijono 0989: 101) berikut.
meringkas filsafat Hegel ke dalam tiga ta- Periama, monisme seeara
hap sebagai berikut. metafisik berarti pandangan yang meng-
a) Tahap ketika Roh berada dalam anggap adanya satu kenyataan dasar.
keadaan "ada dalam dilinya sendili". Aliran ini sering disebut Singularisme.
Ilmu filsafat yang membicarakan Roh Parmenides dari Elea dianggap sebagai
berada dalam keadaan ini disebutnya pemuka Monisme Kuno. Dikatakan
Logika. bahwa yang ada itu sama sekali satu,
b) Dalam tahap kedua Roh bemda sempurna, dan tidak dapat dibagi-bagi.
dalam keadaan "berbeda dengan dilinya Sedangkan pemuka Monisme Moderen
sendili", berbeda dengan·'yang lain". Roh adalah Spinoza yang menganggap hanya
di sini keluar dari dilinya sendili, men- ada satu substansi. Substansi ini adalah
jadikan dilinya "di luar" dilinya dalam Yang Esa, kekal, tak terbatas, mandili,
bentuk alam, yang terikat kepada ruang tidak tergantung pada apapun di luar
dan waktu. Ilmu filsafat yang membi- dili-Nya. Karena itu segala sesuatu yang
camkan tahap ini disebutnya Filsafat ada, karena keterbatasannya, tergantung
alamo pada yang Satu ini. Segala sesuatu ini
c) Akhirnya tahap ketiga, yaitu ta- merupakan cam beradanya substansi
hap ketika Roh kembali pada dirinya tersebut. Tuhan merupakan cam ber-
sendili, yaitu kembali daripada berada di adanya substansi tersebut. Tuhan
luar dilinya, sehingga Roh berada dalam merupakan satu kesatuan umum yang
keadaan "dalam dilinya dan bagi dirinya mengungkapkan diri di dunia. Penger-
sendili. Tahap ini menjadi sasaran Filsa- . tian substansi sama dengan pengeltian
fat Roh. Tuhan, dan karena sama dengan penger-
Filsafat Hegel dinamakan juga ide- tian segala sesuatu yang Ada, maka sama
alisme dan pada hakikatnya idealisme dengan pengeltian alamo jadi substansi --
bersifat monistik, artinya hanya ada satu dalam pandangan Spinoza-- sama
kenyataan yang diakuinya, yaitu pemiki- dengan Tuhan sama dengan alamo
ran. Tampaklah bahwa di dalam Kedua, monisme secara epistemolo-
idealisme --termasuk idealisme Hegel-- gis beralti pandangan yang menganggap
selalu terdapat suatu gerak dari yang bahwa o~iek yang nyata dan idea tentang
majemuk (plural) ke yang tunggal persepsi atau konsepsi adalah satu dalam
(unity). Gemk ini menyangkut pemikir- bentuknya sebagai pengetahuan (Runes,
an. Pemikiran ini menembus suasana 1979: 201).
semu yang menyelimuti yang majemuk Monisme biasa juga dianut oleh
dan menemukan kenyataan berupa yang idealisme dan rasionalisme, yang mem-
tunggal (Delfgaauw, 1988: 55). belikan tekanan pada sifat dasar yang
Aliran metafisika yang f\1elihat ke- satu yang mendasali substansi atau ke-
beradaan dali segi kuantitas meliputi: nyataan. Monisme memiliki keunggulan
Monisme, Dualisme, dan Pluralisme. dalam hal abstmksi dan daya pengikat
dan perekat (kohesi) untuk menyatukan
I.Monismc bagian-bagian yang saling terpisah
Aliran yang menyatakan bahwa menjadi satu kesatuan dengan menemu-
JURNAL FIL)AfAT. JULI 1997 6
kan titik-titik kesamaan. Monisme lebih abadi dan tidak terbatas (Spinoza, 1966:
menaruh perhatian pada aspek kesamaan 159). Lebih lanjut Spinoza memerinci
daripadaaspek perbedaan. Seorang
i substansi Tuhan sebagai berikut. Tuban
penganut monis berkecenderungan tidak menghuni dan bukan sebab se-
menjadi seorang determinis, karena ia mentara dari segala sesuatu. Segala
akan cenderung menekankan segalanya sesuatu yang ada, ada di dalam Tuhan,
dengan mengorbankan sikap individual, dan harus dikonsepsikan melalui Tuhan,
seperti: spontanitas (Ewing, 1962: 221). oleh karena itu Tuhan adalah penyebab
Tokoh-tokohnya antara lain: Thales dari segala sesuatu yang ada .di dalam
(625-545 8M) yang berpendapat bahwa dirinya. Selain Tuhan tidak ada substansi,
kenyataan yang terdalam adalah satu tak sesuatu pun dalam dirinya sendiri
substansi, yaitu air. AnaximanJer (610- abadi pada Tuhan. Tuhan dan seluruh
547 8M) berkeyakinan bahwa yang atlibutnya bersifat abadi. Substansi Tu-
merupakan ·kenyataan terdalam adalah han eksis secara niscaya, yaitu
Apeiron, yaitu sesuatu yang tanpa batas, keberadaan yang mengatasi kodratnya
tak dapat ditentukan dan tidak memiliki atau mengikuti batisannya; oleh karena
persamaan dengan salah satu benda yang itu Tuhan abadi (Spinoza, 1966: 165).
ada dalam duma. Anaximenes (585-528) Spinoza mendasarkan pandangan
berkeyakinan bahwa yang merupakan filsafatnya pada aksioma-aksioma seba-
unsu1" kenyataan yang sedalam-dalamnya gai berikut
adalah udara" Filsuf modern yang ter- (a) . Segala sesuatu yang eksis, maka
masuk tokoh utama momsme adalah ia eksis di dalam dirinya sendiri atau di
Baruch Spinoza. dalam sesuatu yang lain.
(b). Sesuatu yallS tidak dapat diko-
a. Baruch Spinoza nsepsikan melalui sesuatu yang la.in, pash
Ia berpendapat bahwa hanya ada dapat dikonsepsikan nlelalui dilinya
satu substansi vaitu Tuhan. Dalam hal illi sendili.
Tuhan diidentikkan dengan alam (c). Dari suatu sebab tertentu yang
(Natura/Is nllturataJ" la secara tegas me- diajukan, secara niscaya diikuti oleh se-
nolak kemungki:nan pluralitas substansi, buah akibat: dan di pihak lain, jika suatu
dan menyodorkan istilah realitas absolut, sebab tidak ditentukan, maka tidak
istilah ini setara altinya dengan rno- mungkin akan diikuti oleh akibat ter-
nisme.. Spinoza menegaskan bahwa tentu pula.
realitas ultimate nlerupakan Causa sui (d) . Pengetahuan tentang suatu
dan merupakan substansi yang senlata- akibat tergalltung pada keterlibatan
mata inklusif. Kausalitas adalah pellgetahuan dali suatu akibat.
kausalitas imanen, dan setiap ada ter- (e). Sesuatu yang tidak lazim tidak
tentu terletak di dalam satu keberadaan akan dapat dimengelti, karena sesuatu
substansi (Runes, 1979: 298-299). selalu dimaksudkan bagi yang lain; ini
Substansi adalah sesuatu yang ada beratti konsepsi sesuatu yang tidak lazim
di dalam dilinya sendiri dan dikonsepsi- itu tidak nlelibatkan konsepsi yang lain.
kan melalui dilinya, atau dengan kata (0. Sebuah ide yang benar
laill suatu konsepsi yang dapat diformu- haruslah bersesuaian dengan gagasan
lasikan dan terbebas dati konsepsi atau objeknya..
lainllya. Spinoza diklasifikasikan sebagai (g). Apabila sesuatu dapat dikon-
penganut faham Teologi - RasionaI sepsikan sebagai ketiadaan, maka
(Ratio/Ill! 111eology).. Ia mendefinisikan esensinya tidak melibatkan keberadaan
Tuhan sebagai suatu keberadaan yang (Spinoza, 1966: 160) .
secara mutlak tidak terbatas, yaitu suatu
substansi yang terdiri atas atribut-atlibut b. A.N.Whitehead
yang tidak terbatas, dall setiap atribut \Vhitehead adalah filsuf abad
mengungkapkan hakikat (esensi) yang keduapuluh yang membangun pemikiran
JURNAL FIL~AFAT. JUU 1997 7
filsafatnya melalui kritik atas pemikiran hewan, yang jauh lebih kompleks dari-
filafat sebelumnya. Filsafat Whitehead pada level tumbuh-tumbuhan.
dikenal sebagai filsafat organisme, yaitu Koordinasi antar anggota pada level
suatu sistem kepercayaan yang mengaju- tumbuh-tumbuhan lebih tertutup, se-
kan pandangan integral untuk dangkan pada level hewan adalah sesuai
memahami tentang manusia. Whitehead dengan masyarakat feodal, ada pimpinan
memandang manusia sebagai kesatuan yang menjadi satu pusat kel...-uatan dan
personal (personal unity). Manusia di menjadi kendali yang menyatukan kese-
satu pihak merupakan kesatuan did (self luruhan. Pada level ini ada interaksi
unity), di pihak lain kesatuan koordinat komunikatif dari ekspresi dan perasaan
(coordinate unity). Kesatuan diri me- antar anggota. Level tertinggi adalah
ngacu pada diri manusia itu senditi, yang manusia yang memiliki metalitas ber-
timbul dali kesatuan koordinat sebagai derajat tinggi. Pada manusia otak (brain)
anggota masyarakat (Hardono Hadi, memegang peran yang sangat penting.
1993: 181). Manusia sebagai kesatuan Struktur otak sangat rumit dan lembut
diri tidak dapat dipisahkan dari keter- dan pusat dominan untuk mengolah
hubungannya dengan manusia yang lain. pengalaman yang bergerak dari satu
Manusia juga adalah identitas personal momen ke momen lainnya. Whitehead
yaitu karaktelistik teltentu sebagai suatu dalam Process of Keality 0979;109) me-
peljalanan historis dari kejadian sesung- negaskan hal itu dalam pernyataan
guhnya yang membentuk suatu belikut.
masyarakat. Whitehead menggunakan tIthe brain is coordinated so thtlt a
istilah kesatuan personal dali keberadaan peculiar rk--hness of inheritance is en-
manusia mengacu pada solidaritas tem- joyed 110W by this and now by that pari;
poral atau kesinambungan kesatuan diri and thus there is produced the presiding
yang berlangsung secara konstan dari personality at that moment in the body.
waJ...1u ke waktu (Hardono Hadi, 1993; 111is route of presiding occasions proba-
181). bly wanders from pari to pari of the
Whitehead membedakan hewan brain'~
tingkat tinggi dengan manusia. Ia Otak manusia merupakan struktur
mengetengahkan adanya level-level mu- pengalaman yang sangat kompleks seba-
lai dari yang paling rendah sampai ke gai supeljek yang menyumbangkan suatu
paling tinggi. Perbedaan antara manusia pola umum yang mel"embes keseluruhan
dengan hewan terletak pada perbedaan tubuh. Dengan demikian manusia seba-
derajat. Ia menegaskan bahwa keluasan gai organisme berderajat tinggi adalah
derajat menjadikan semuanya berbeda. kesatuan yang menyeluruh yang
Perbedaan antara koordinasi internal 01'- memiliki keplibadiannya sendiri dan
ganisme hidup tingkat rendah dan mampu me- ngatasi karal..'ieristik-
koordinasi internal hewan tingkat tinggi karaJ...'ielistik dari bagian-bagian sebagai
sangat jelas. Level pertama adalah In- seorang tuan besar (overlord).
teraksi antar anggota organisme hidup Bakker 0995: 51) menyimpulkan
tingkat rendah yang tidak mampu men- pandangan Whitehead mengenai
capai kepuasan estetik yang lebih tinggi. hubungan manusia dan dunianya sebagai
Pada hewan tingkat rendah fungsi ang- pluralitas tak terbatas. Mel"eka bukanlah
gota semata-mata beltahan (survival), substansi, melainkan suatu peristiwa atau
Kehidupan seluruh organisme sangat ter- entitas aktual (event, actual entity); sifat-
gantung pada daya bertahan para sifat dan relasi-l"elasi juga termasuk
anggota. Level kedua adalah koordinasi kesatuan peristiwa tersebut. Keseluruhan
pada level tumbuh-tumbuhan, anggota pelistiwa itu saling berhubungan, dan
masyarakat tumbuh-tumbuhan masih masing-masing 'menangkap' seluruh
dapat beltahan meskipun mereka dunia. Mereka adalah inti-inti subjektif
dipisahkan dali kesatuan organismenya. atau prinsip subjektif. Pelistiwa-pelistiwa
Level ketiga adalah struktur koordinasi itu tadi menghayati kemungkinan-ke-
)U~NAL fILl)AfAT. JULI 1997 8
mungkinan o~iek-o~iek abadi (eternal dianggap definitif atau sempurna. Segala
object) yang tidak bersifat real, melain- sesuatu yang ada senantiasa "sedang
kan hanya merupakan idea-idea. menjadi" (Be11ens, 1989: 10). Parmenides
berpendirian sebaliknya bahwa mustahil
2. Dualisme ada perbedaan dan kejamakan; hal yang
Aliran yang menganggap adanya demikian itu hanya khayalan dan semu.
dua substansi yang masing-masing ber- Hal yang mengada adalah satu dan tidak
did sendili. Tokoh-tokoh yang termasuk terbagi; bersifat sempurna dan komplit
aliran ini adalah Plato (428-348 SM), bagaikan bola bulat (Bakker, 1992: 27).
Immanuel Kant, Descartes. Tokoh Du- Plato memadukan kedua pandangan di
alisme yang dibicarakan dalam makalah atas dengan mengatakan, bahwa dunia
ini adalah Plato. real dengan kejamakan dan kemacam-
ragamannya hanya merupakan dunia
a. P I a to bayangan, sehingga yang benar-benar
fa membedakan dua dunia yaitu ada (to ontoos on) dan meniamin ke-
dunia indera (dunia bayang-bayang) dan satuannya ialah dunia ide-ide.' Dunia ide
dunia intelek (dunia ide). Plato bertitik itu tersusun dengan cara hil'arkis di
tolak dad problem hal Satu (the One) bawah pimpinan ide utama, "Yang Baik".
dan hal Banyak (the Many) untuk me- Kesatuan dan kejamakan terpisah men-
mahami realitas. Pemikirannya mengenai jadi dua dunia (Bakker, 1992: 33).
hal Satu dan hal Banyak merupakan sin- Kesatuan hanya dapat digambar-
tesa antara dua pemikir besar kan manakala dihadapkan pada hal
sebelumnya, yakni Heraklitus dan Par- Banyak (the Many), hal ini teriihat jelas
menides. Plato bertitik tolak dari polemik dalam pandangan metafisika Plato
antara Parmenides dengan Heraklitos. (Sontag, 1970: 41). Hal Satu mengand-
Parmenides menganggap bahwa realitas ung kualitas kedua setelah kesatuan,
itu berasal dali hal Satu (the One), yang suatu kualitas yang berhubungan secara
tetap, tidak berubah; sedangkan Herakli- kodrati dengan hal Banyak, yakni kuali-
tos bertitik tolak dari hal Banyak (the tas hal ada yang selain hal Banyak. Hal
M3.11Y), yang selalu berubah. Plato me- Satu dan hal Banyak dalam pandangan
madukan kedua pandangan tersebut dan Plato tak ubahnya dengan sekeping mata
menyatakan, bahwa di samping hal-hal uang pada kedua belah sisinya.
yang beranekaragam dan yang dikuasai Pemikiran metafisika Plato terarah
oleh gerak selia perubahan-perubahan pada pembahasan mengenai Being (hal
itu --sebagaimana yang diyakini oleh ada) dan becoming (menjadi). Plato ada-
Heraklitos-- tentu ada yang tetap, yang lah filsuf yang peliama kali
tidak berubah -sebagaimana diyakini membangkitkan persoalan Being dan
oleh Parmenides. Plato menuniukkan mempe11entangkannya dengan becom-
bahwa yang serba berubah itu dikenal ing. Plato menemukan bahwa "becoming
oleh pengamatan, sedangkan yang tidak " (hal menjadi) -yakni dunia yang be-
berubah dikenal oleh akal. Plato berhasil rubah- tidak memuaskan atau tidak
menjembatani peltentangan yang ada memadai sebagai objek pengetahuan;
antal'a Heraklitos -yang menyangkal tiap karena bagi Plato setiap bentuk pengeta-
perhentian- dan Parmenides yang me- huan bersesuaian dengan suatu jenis
nyangkal tiap gerak dan perubahan. Hal o~iek. Plato memikirkan pengetahuan asli
yang tetap, yang tidak berubah, yang (genuine A71OHTledge), yaitu suatu jenis
kekal itu oleh Plato disebut ide (Harun pengetahuan yang tidak dapat berubah,
Hadiwijono, 1989: 39-40; Be11ens, 1989: sehingga objeknya haruslah sesuatu yang
14). tidak dapat berubah (cJumgeless). Plato
Heraklitos berpendilian bahwa da- yakin bahwa pengetahuan (yang asli) itu
"

lam dunia alamiah tidak ada sesuatu pun harus diarahkan pada Being. Being bagi
yang tetap. Tidak ada sesuatu pun yang Plato, dibentuk oleh dUliia yang mel'U-
JURNAl FILS-AfAT. JUlI 1997 9
pakan pola-pola dari segala sesuatu yang yang dapat dimasukkan dalam plural-
dapat diinderawi, sedangkan ide-ide itu isme diantaranya teoli para filsuf Yunani
secara kodrati bersifat kekal dan abadi. Kuno yang menganggap kenyataan ter-
Alasan Plato membedakan Being dan be- diti dali udara, tanah, api dan air --
coming, adalah sebagai cara untuk dalam upaya mencali Arkhe atau asal-
mencari dasar kebenaran pengetahuan. usul alam semesta-- tingkatan monade
Tiap pemahaman akan sesuatu melibat- dalam filsafat Leibniz; pandangan Her-
kan sebuah proses latihan dan bali tentang banyak benda dalam dirinya
pendidikan yang panjang bagi ketajaman sendiri, teori pragmatisme William James
mental, yang hanya dapat dicapai tentang "yang banyak yang dapat diker-
melalui disiplin. Bidang FOlms yang me- jakan".
nentukan bidang Being tidak sulit untuk . Pluralisme ini pada umumnya
dipahami, manakala Forms merupakan dianut oleh empirisisme, realisme dan
kualitas universal dali hal-hal yang da- pragmatisme, karena senantiasa mem-
pat diinderawi, sifat-sifat sesuatu se- betikan tekanan pada sifat dasar yang
perti: "merah", "manusia", merupakan bermacam-macam dali pengalaman. Plu-
kualitas sesuatu yang konkret, yang mu- ralisme memiliki keunggulan dalam hal-
dah dipahami oleh orang awam. Se- hal yang bersifat praktis-pragmatis, dekat
sungguhnya Plato lebih menaruh per- dengan problem konkret, karena me-
hatian pada kualitas yang lebih abstrak, mang diangkat dali pengalaman konkret.
yakni hal-hal yang mencerminkan sifat- Pluralisme lebih menekankan pada per-
sifat yang lebih umum (general bedaan-perbedaan datipada kesamaan-
properties) seperti: "Kesatuan", "Keadilan"
kesamaan. Seorang penganut pluralis
dan "Kebaikan". Sifat-sifat belakangan inicenderung menjadi seorang indeterminis.
mengandung ide-ide abadi yang tidak Seorang penganut pluralis menganggap
akan pernah mati dan selalu merupakan bahwa alam ini terbentuk dati sejumlah
.problem aktual dalam pemikiran umat entitas yang tidak saling berhubungan
manusia (Sontag, 1970: 32). Hal Banyak (disconnected) dan tidak telikat satu
(the Many), ujar Plato, memang bisa ter- sama lain, sehingga masing-masing en-
lihat dalam kenyataan konkret namun titas itu dipanqang eksis (Ewing, 1962:
sulit dikenal, sedangkan ide lebih dikenal 221). Para filsuf yang termasuk plural-
isme di antamya: Empedokles (490-430
tetapi tidak terlihat. Di sini tidak sepelti
halnya objek-objek inderawi, ide tidak SM) yang menyatakan bahwa hakikat
memiliki Ol~an yang terpisah-pisah, kenyataan terdiri dari empat unsur yaitu:
melainkan sebagai sebuah pikiran, yang udara, api, air dan tanah. Anaxagoras
melalui suatu kekuatan yang ada dalam (500-428 SM) yang menyatakanbahwa
dirinya, merenungkan sifat-sifat univer- hakikat kenyataan terdiri dali unsur-
sal segala sesuatu (Ambrose, 1966: 81). unsur yang tak terhitung banyaknya,
Tujuan utama filsafat menurut sebanyak jumlah sifat benda dan se-
Plato adalah penyelidikan pada entitas, muanya itu dikuasai oleh suatu tenaga
sepelti apa yang dimaksudkan dengan yang dinamakan nous. Dikatakannya
keadilan, kecantikan, cinta, hasrat, ke- bahwa nous adalah suatu zat yang paling
samaan, kesatuan (White,1987: 14). halus yang memiliki sifat pandai
bel~erak dan mengatur. Tokoh plural-
3. Pluralisme isme yang akan dibicsarakan secara rind
yaitu aliran yang tidak mengakui dalam makalah ini adalah Leibniz dan
adanya satu substansi atau dua sybstansi filsuf Postmodemisme, J.F.Lyotard.
melainkan banyak substansi. Dagobert D.
Runes (1979: 221) menyatakan bahwa a.Leibniz (1646-1716)
pluralisme merupakan suatu teoti yang Ia menyatakan bahwa hakikat ke-
menganggap bahwa kenyataan itu tidak nyataan terdili dali monade-monade
terdiri dari satu substansi. Teoti-teOli yang tidak terhingga banyaknya.
JURNAl FILS-AfAT. JUU 1997 10
Monade adalah substansi yang tidak dua substansi yang persis sarna, atau ber-
berluas, selalu berzerak, tidak terbagi, beda (soIL') lIUI11ero).. Leibniz menyebut
dan tidak dapat rusak. Setiap monade hal ini sebagai keniscayaan rnetafisik
saling berhubungan dalam suatu sistem (11eCeS&'lIY l11etapllysically). Iamengaju-
yang sebelumnya telah diselaraskan kan empat alasan, dua alasan pertama
Harmonia prestabilia.. Leibniz mendasar- bersifat kebetulan, sedang dua berikutnya
kan pandangan safatnya pada monade- bersifat luscaya. Peliama, mengandaikan
monade. Leibniz memandang dua hal yang tak dapat dibedakan dalam
kenyataan pada dasar nya terdiri dari hal tnengada adalah bertentangan de-
pusat-pusat berdaya dan titik-titik ke- ngan plinsip alasan yang memadai
sadaran (nlonadisme; monas bel'alti (Reason SufficiclIt), karena itu sarna hal-
pusat tertutup) . Monade-monade itu ti- nya dengan mengakui adanya sesuatu
dak berkeluasan; mereka tidak tanpa alasan. Jilea ada hal yang tidak da-
terbagikan; tidak termusnahkan atau pat dibedakan, maka Tuhan tidak punya
abadi.. Mereka tidak saling me Inpenga- alasal1 untuk memilih yang satu lebih
ruhi, melainkan merupakan pusat-pusat dahulu daripada yang lain. Kedua, terda-
tertutup dengan daya berkembang pat dalam suatu peltim .. bangan untuk
sendiri.. Setiap monade mencerminkan mengalalni, apakah tidak mungkin se-
alanl semesta, masing-masing menurut seorang menemukan secara Ilyata,
caranya pribadi. Senlua substansi misalnya: dua lembar daun yang identik
terbentuk oleh penggabungan monade- atau seorang ahli nlikroskop menemukan
monade itu. Kesan hubungan antara dua tetesan air hujan yang tampak iden-
substansi -substansi muncul dati suatu tik kalau dilihat dengan mata telaf\iang
kekesuaiall dan kecocokan 018l111onie menjadi berbeda manakala dilihat deng-
prestablieJ yang dibelikan oleh Tuhan an nlikl"oskop. Ketiga, predikat itu
(Bakker, 1992: 32). terkandung di dalam subjek Keempat,
Pemikiran Leibniz mengenai jika A lain dalipada A, kemudian A yang
monade ini sedikit banyak di}'engaruhi menulut dugaan tidak dapat dibedakan
oleh doktrin atomistik, yang biasanya di . . dali A, juga harus menjadi lain daripada
namakan juga filsafat mekanistik (White, A, yaitu lain daripada A itu sendiri, jelas
1987: 63). Sistem metafisika Leibniz ber- ini hal yang tidak tnasuk akal (absurd).
pusat pada atom-atom matet; yang nyata, Berdasarkan prillciples of Indiscernibles
yang merupakan komponen-konlponen illi Leibniz rnenyinlpulkan bahvva dunia
sesuatu.. Atom...atom itu sederhana dan akan tersusun dari serangkaian substansi,
tanpa bagian-bagian. Mereka tidak nlem- setiap substansi berbeda satu sarna lain,
punyai bagian, tidak dapat musnah, dan penampakan dunia dali suatu sudut
melainkan hanya ciptaan seketika.. yang berbeda, karena itu mengandung
Monade-monade itu tidak memiliki len- persepsi yang 1Jerbeda (\\lhite, 1987: 67) .
dela-jendela, tempat datang dan per~lnya AsunlSi Leibniz mengenai Law of
segala sesuatu. Kualitas setiap monade Contil1uity didasarkan atas minatnya
berbeda satu sarna lain, dan abadi. Setiap pada bidang matentatik dan kalkulus. Di
monade adalah cermin kehidupan atau dalaln Inatelnatik misalnya, rangkaian
sebuah cerminyang diberkati dengan ak- fraksi antara bilangan nol dan satu,
tivitas batiniah, mewakiIi alam semesta bentuk-bentuk item nlelupakan suatu
sesuai dengall petunjuk yallS telah di- kOl1tilll1Ull1. Leibruz Inenyinlpulkan
gariskan (\Vhite, 1987: 65-66). bahwa Hukunl keberlangsungan itu di-
Sistenl metafisika Leibtuz bersunl- dasarkan pada ketidakterbatasan, yakni
bel" pada dua prillsip logis, yaitu Idcl1tity keniscayaan mutlak dalaln bidang Geo-
of Indiscenlibles dan LalV of COlltilluitr: metli, yang juga berhasil diterapkan
Menurut plinsip Idc/ltif)T of Indiscerlli- dalam bidang Fisika, sebab kebijaksanaan
bles, tidak ada dua pengada mutlak riel, itu bersumber dari segala sesuatu,
yang tak dapat dibedakan, atau tidak ada tindakan-tindakan yang merupakan

JURNAl FIL)AfAT. JULI 1997 11


suatu geometer sempurna. sebanyak pengetahuan melalui semacam meta-
variasi yang mungkin, sepanjang wacana atau narasi-besar seperti
kdertiban teltinggi yang mungkin. Ber- "kemajuan",' "kebebasan akal",
dasarkan penggabungan kedua prinsip "emansipasi". Postmo- dernisme adalah
itu, maka kita akan mendapat sebuah sebaliknya, ketidakperecayaan segala
gambaran alam semesta, di mana setiap bentuk cerita besar itu. Lyotard me-
monacle merefleksikan keseluruhan dari nyarankan untuk kembali ke pragmatika
setiap sudut yang berbeda pada setiap bahasa ala Wittgenstein, yaitu mengakui
bentuk terkecil dari kehadiran yang saja bahwa kita memang hidup dalam
diberikan oleh monade yang lain, se- berbagai permainan-bahasa (Language-
hingga keseluruhan alam merupakan games) yang sulit saling bcrkomunikasi
sistem monade-monade yang tidak terba- secara adil dan bebas (Bambang Sugi-
tas yang menghadirkan alam semesta harto, 1996: 58).
dari setiap sudut pandangan yang mung- Ciri atau karakteristik sebuah per-
kin (White, 1987: 67). mainan bahasa dirinci lebih jauh oleh
Lyotard sebagai berikut.
b. Jean-Francois Lyotard Pertama, bahwa aturan-aturan itu
Lyotard termasuk yang paling tidaklahmempengaruhi ditinya sendiri,
keras menyuarakan gaung pluralitas. aturan bukan merupakan legitimasi ter-
Lyotard ini pula yang memperkenalkan hadap aturan itu sendiri, melainkan
postmodernisme dalam bidang filsafat sebagai objek peljanjian, baik secara
sekitar tahun 70-an. Ia mengadopsi eksplisit maupun tidak di antara para pe-
konsep language-games Wittgenstein main.
untuk menjelaskan fenomena masyarakat Kedua, bahwa jika tidak ada
Pascamodernisme. Pluralitas merupakan aturan, maka tidak ada permainan,
isu senh"al yang dikumandangkan oleh bahkan modifikasi sekecil apapun ter-
Lyotard. Ia mengakui bahwa bukunya hadap sebuah aturan akan mengubah
yang beljudul The Postmodernism Con- kodrat sebuah permainan. Suatu gerak
dition merupakan teks sambilan atau ucapan yang tidak memenuhi syarat
(occasional fext), karena karyanya itu aturan-aturan tidak termasuk ke dalam
merupakan titik persilangan perdebatan permainan tersebut.
berbagai macam bidang yang berbeda- Ketiga, ucapan atau kata-kata dian-
beda sepelti: politik, ekonomi, estetika, jurkan agar mengikuti ketentuan yang
filsafat, arsitektur, film, dan sastra, saling harus senantiasa dikatakan: "Setiap tu-
silang menyilang (Asikin Arif, 1991: 10). turan sebaiknya mengandung pemikiran
Kaum postmodernist -termasuk Lyotard- sebagaimana halnya gerak dalam sebuah
melihat kenyataan sebagai suatu plurali- permainan (Lyotard, 1989: 122-123).
tas atau keberagaman yang tidak berkait Lyotard menekankan pentingnya
satu sama lain. Dalam keberagaman yang aspek retorik dan kompetitif dalam tiap
irasional itu manusia kehilangan opti- permainan bahasa. Interaksi antar per-
mismenya untuk menentukan, mainan bahasa memang ditandai
merencanakan, dan menegaskan kecenderungan untuk saling menakluk-
kepribadiannya (Hardono Hadi, 1993: 3- kan. Tiap ungkapan bisa dipandang
4). sebagai "tindakan politis" ntuk mendo-
Lyotard mendefinisikan postmo- rninasi permainan bahasa lain. Berbicara
dernisme sebagai suatu bentuk keraguan beralti "berkelahi" atau beljuang dalam
bahkan ketidakpercayaan kepada meta- pe~latan agnistik lalu lintas permainan
wacana atau cerita-cerita besar, bahasa. Dalam suasana pluralistik yang
khususnya yang timbul sejak jaman demikian itu bagi Lyotard, yang berlaku
Pencerahan (Moore,1990: 126). Lyotard bukanlah universalitas akal ataupun ke-
melihat bahwa modernisme bertendensi butuhan akan kesepakatan, melainkan
untuk melegitimasikan tiap bentuk justenl kebutuhan untuk menggerogoti
JURNAl fIL)AfAT. JULI 1997 12
kesepakatan-kesepakatan yang telah ma- sesuai dengan otonomi dan karak1:eristik
pan untuk memberikan kembali peluang masing-masing bidang ilmu.
bagi karal'1er-karakter lokal tiapwacana, Di samping itu metafisika sebagai
argumentasi, dan legitimasi untuk dihar- suatu bangun enigmatik membentuk
gai. Bentuk intelel'tual situasi semacam wawasan pikir yang kuat, karena melatih
ini bukan dimaksudkan untuk memben- aka! kita untuk senantiasa memahami se-
tuk suatu meta-wacana yang suatu secara sungguh-sungguh .dan mau
mempersatukan dan mendasari segala mengerahkan segenap kemampuan yang
wacana lainnya, melainkan keragaman kita-miliki untuk memecahkan suatu per-
narasi-nal"asikecil dan meta-al-gumen soalan. Beberapa peran metafisika dalam
yang saling mencali peluang untuk tam- ilmu pengetahuan yaitu:
pil dan diakui dalam percaturan bahasa Pertama, metafisika mengajarkan
(Bambang SUgihalto, 1996: 59). cara berpikir yang cermat dan tidak ke-
naI lelah dalam pengembangan ilmu
KESIMPULAN pengetahuan.
Berdasarkan uraian di atas, terlihat Kedua, metafisika menuntut· olisi-
bah\va para metafisikus, baik yang mo- nalitas berpikir yang sangat diperlukan
nistik maupun pluralistik, tergolong ke bagi ilmu pengetahuan.
dalaln empat kelompok besar, yaitu (1). Ketiga, metafisika membelikan ba-
Monistik-materialisme seperti: Thales, han peltimbangan yang matang bagi
Anaximander. (2) Monistik-spilitualistne pengembangan ilmu pengetahuan, teru-
sepelti: Plotinus, HegeL (3). Pluralistik- tama pada wilayah presupposition
matelialistne sepelti: Demokritos, (praanggapan-praanggapan), sehingga
Leibniz, dan Lyotard. (4). Pluralistik persoalan yang diajukan memiliki lan-
(Dualistik) - spilitualislne sepelti: Plato. dasan berpijak yang kuat. Collingwood
Valiasi perpaduan antara penekanan menyebuhlya dengan istilah '1ogical effi-
pacta segi kuantitas dan kualitas dati Ke- cacy" (kemujuratl logis).
beradaan ini mengandung implikasi bagi Keempat, tnetafisika, terutama yang
petlgembangan ilmu pengetahuan. Mi- berpijak pada kualitas (entah matetial-
salnya seorang penganut Monistik- isme ataupun spilitualisme) akan
matelialisme tentu lebih COlleenl pada nlewarnai perkembangan ilmu pengeta-
ilmu-ilmu kealaman (NatuJWissenscha.ft) huan itu sendili. Seorang penganut
dan menganuap bidang ilmunya sebagai matelialisme cenderullg menge mbang-
induk bagi pengembangan ilmu-ilmu kan ilmu-ilmu pengetahuan yang bersifat
lain. Seorang penganut Monistik-spilitu- exact (ilmu-ilmu pasti) , sedangkan
alisme tentu lebih concern pada ilmu- peganut spiritualislne cenderung
illnu kerohanian (GeiftalSVtmwJaff) dall mengembangkan ilmu-ilmu keroharuan
menganggap bidang ilmunya sebagai (sosiaI, humaniora, dan keagamaan). Hal
wadah utama bagi titik tolak pengenl- yang terbaik tentunya memadukan kedua
bangan bidang-bidang ilmu lain. Seorang bidang ilmu tersebut.
penganut pluralistik-nuterialisnle akatt Kelima, A-1etafisika yang berpijak
lebih concern pada JJellgembangan be- pada segi kuantitas (elltah monisme, du-
berapa bidang ilmu kealatnan dan alistne, ataupun pluralisme) akan
mengembangkannya sesuai dengan menjadikan visi ilmu pengetahuan
aturan, hukulll, ataupun yang berkenlbang menurut ramifikasi
otonon1 pada masing-masing bidang. (percabangan) yang sangat kaya dan lJer-
Seorang penganut pluralistik-spiritual- aneka ragam (dualis dan pluralis),
iSlue akan lebih menaruh perhatian pada namun temp berpijak pada pola-pola
beberapa ilmu kerohanian-kenlanusiaan yang standar (monis).
dall 1l1elihatnya dari berbagai perspek.'iif

JURNAl f-ll)AfAT. JUU 1997 13


DAITAR PUSTAKA }11lJ1CC 1Oday,Cambridge University
Press, Cambridge.
Ali Mudhofir, 1996, "Pengantar Filsafat", LyotaI'd, Jr.., 1989,111e lbstnlodercn Con-
dalam Filsafat Illnll, disusun oleh: dition." A Repol1 on Knowledge,
Tim Dosen Filsafat Ilmu Universitas Fourth Edition, Manchester Univer-
Gadjah Mada, Libel1y,Yogyakarta. sity Press, Manchester.
Asikin Arif, 1991, ttPostmodernisme", da- Pranarka, AM.W., 1996, Epistenlologi
lam Juma1 Filsafat, VoI.1,Jakarta Pancasila, Makalah pada Internship
Bahm, A.J., 1974, Metaphysics An Intro- Dosen-Dosen Filsafat Pancasila se In-
duction, Harper & Row, New York. donesia yang diselenggarakanPusat
Bakker, 1989, Metode-Metode Fi/safat, Studi Pancasila Universitas G&djah
Ghalia, Jakal1a. Mada, Yogyakarta.
Bakker, A., 1992, 011tO/ogi: Metafisika Ralph I.W., 1948, Tile Philosophy of
Unlunl, Kanisius, Yogyakarta. Plotinus, Third Edition,Longmans,
Bakker, A., 1995, Kosnlologi, Kanisius, Green and Co, London.
Yogyakarta. Rockmore, T., 1993, Before & After Hegel;
Bambang Sugihalto, 1995, Postn1odem- A Historical 111hvdllction to Hegel's
isnle: Ta.ntangan bagi Filsafat, Tholrgilf, University of California
Gramedia, Jakarta. Press, California.
Be11ens, K., 1981, Filsafat Ba.l~t Dalal11 Runes, D., 1979, Dictiol1/iry of Pililoso-
Abad X~ Jilid I,Gramedia, Jakarta. phy, Littlefield Adams & Co, Totowa,
Be11ens, K., 1989, Filsafat Darat Dalalll New Jersey.
Abad ",\:x; Jilid II, Gramedia, Jakal1a. Sontag, F., 1970, Prob/enls of Metaphys-
Delfgaauw, B., 1988, Beknopte ics, Chandler Publishing Company,
Geschiedenis del" Wijsbegeerte, Alih Pennsylvania.
Bahasa: Soejono Soema~ono Sejarah Spinoza, Benedict., 1966, "Concerning
Kingkas fi1safat Baral, Tiara Wacana, God", dalam Metapllysics, Edited by:
Yogyakarta. W.E. Kennick and Moerris Lazerow-
Ewing, A.C., 1962, Tile Filndalllenta1 itz, Prentice-Hall, Nevv Jersey.
Questions of Pllilosophy, Collier Sullivan, J. E.,1970, Prop/lets Of The
Books, New York. West;" An Introduction to the Pill1oso-
Froe, A.de., 1984, Apakah Fi/safat itu0 phy of History, Holt, Rinehart and
Alih Bahasa: Soejono Soemal~ono, Winston Inc., New York.
Nul" Cahaya, Yogyakarta. White, A.R., 1987, Met/lods of Metapl1y-
Hal"dono Hadi, 1989, A Whitehea.dian sics, Croom Helm Ltd,New York.
Reflection on Human Person, Disser- Whitehead, A.N., 1979,Process of Reality.
tation Information Service, UMI, New Titus, Smith and Nolan, 1989, Living Is-
York. sues in Philosophy, teljemahan: H.M.
Hamersma, H., 1983, Tokoll-tokoh Fi/safa! Rasyidi Persoalan-Persoa/al1 Fi/safat,
Daral Modem, Gramedia,Jakarta. Bulan BintAng, Jakal1a.
Harun-Hadiwijono., 1989, Sari Sejarall
Filsafat Barat 2, Cetakan ·kelima,
Kanisius, Yogyakarta.
Jones, W.T., 1975, The Twentiel/l Century
to Wittgenstein and Sartre, Second
Edition, Harcourt Brace Jovanovich
Inc., New York.
Kennick, 1966, Metaphysics, Prentice-
Hall. Inc., Englewood Cliffs, New
Jersey.
Lyotard, J.r., 1983, "Presentations" dalam
Alan Montefiore (ed), PJl11osoplly in
JURNAL fILS-AFAT. JUU 1997 14