Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN AKHIR PRATIKUM SUPERVISI I

PERAN PEKERJA SOSIAL DALAM UPAYA


MENGALIHKAN KEBIASAN NGELEM PADA ANAK
JALANAN DI RUMAH SINGGAH AL-MA’UN MELALUI
MOTIVASI BELAJAR

Oleh :
ADRI ROSANDRI (D1A016051)

ILMU KESEJAHTERAAN SOSIAL


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS BENGKULU
2019

1
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan syukur alhamdulillah atas kehadirat Allah SWT,


yang mana telah memberikan rahmat dan karunia-nya kepada saya sehingga
dapat menyelesaikan laporan pratikum ini, yang berjudul “Peran Pekerja Sosial
dalam Upaya Mengalihkan Kebiasan Ngelem Pada Anak Jalanan di Rumah
Singgah Al-Ma’un melalui Motivasi Belajar “.
laporan ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang masalah
anak jalanan di Kota Bengkulu, berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber
informasi, referensi, dan berita. Tak lupa saya mengucapkan terima kasih yang
tak terhingga kepada dosen pembimbing dan semua pihak yang telah ikut serta
membantu saya, orang tua saya tercinta yang telah memberikan dukungan baik
moril maupun materil sehingga laporan ini berhasil diselesaikan.
Semoga laporan ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan
menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa
Universitas Bengkulu. Saya menyadari bahwa laporan ini masih banyak
kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu, kepada dosen pembimbing saya
meminta masukannya demi perbaikan pembuatan laporan ini
di masa yang akan datang, dan saya juga mengharapkan kritik dan saran dari
para pembaca lainnya.

Bengkulu, Mei 2019

Adri Rosandri

2
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL .............................................................................. 1


KATA PENGANTAR ............................................................................... 2
DAFTAR ISI .............................................................................................. 3
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................... 4
B. Tujuan ............................................................................................... 5
II. PEMBAHASAN
A. Pengertian Pengembangan Masyarakat ............................................. 4
B. Metode Pengembangan Masyarakat .................................................. 4
C. Prinsip Pemilihan Metode Pengembangan Masyarakat ..................... 5
D. Ragam metode dan Teknik Pengembangan Masyarakat .................. 6
III. PENUTUP
A. Kesimpulan ........................................................................................ 13
DAFTAR PUSTAKA

3
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendekatan pemberdayaan masyarakat yang diwujudkan dalam
pembangunan secara psrtisipatif kiranya sanagat sesuai dan dapat dilandasi
untuk mengantisipasi timbulnya perubahan-perubahan dalam masyarakat
beserta lingkaungan strategisnya. Sebagai konsep dasar pembanguanan
pastisipatif adalah melakukan upaya pembangunan atas dasar pemenuhan
kebutuhan masyarakat itu sendiri sehingga masyarakat itu mampu untuk
berkembng dan mengatasi permasalahnya secara mandiri,berkesinambungan
dan berkelanjutan.
Dalam pemberdayaan masyarakat, seorang pemberdaya harus
menempatkan diri sebagai bagian dari masyarakat dan memperlakukan
masyarakat sesuai dengan moral, dan memandang warga sebagai subyek yang
mempunyai hak untuk mengatur kehidupan mereka serta mempunyai
keinginan dan kemampuan untuk berbuat demikaian. Dalam melakukan
suatu kegiatan pengembangan masyarakat diperlukan metode-metode yang
tepat sehingga pengembangan masyarakat dapat terwujud. Metode
merupakan langkah bagi pelaku pengembangan masyrakat untuk
mendekatkan diri dengan sasaran pengembangan masyarakat. Dengan
menerapkan metode yang sesuai maka program pengembangan masyarakt
dapat terlaksana dengan baik
B. Tujuan

1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan pemberdayaan masyarakat.


2. Mengetahui metode-metode dalam pemberdayaan masyarakat.

4
II. PEMBAHASAN

A. Pengertian Pengembangan Masyarakat


Pengembangan masyarakat secara etimologi menurut Ibnu Khaldun
adalah pengembangan berarti membina dan meningkatkan kualitas,
sedangkan masyarakat berarti kumpulan manusia yang meneliti hubungan
dan keterkaitan idiologis yang satu dengan yang lainnya. Lebih lanjut Ibnu
Khaldun menjelaskan bahwa manusia itu secara individu diberikan
kelebihan,namun secara Qadrati manusia memiliki kekurangan, sehingga
kelebihan itu perlu dibina agar dapat mengembangkan potensi pribadi untuk
dapat membangun.
Zubaedi (2013:4) menjelaskan pengertian pengembangan
masyarakat adalah upaya mengembangkan sebuah kondisi masyarakat
secara berkelanjutan dan aktif berlandaskan prinsip prinsip keadilan social
dan saling menghargai. Dengan demikian, pengembangan masyarakat
adalah komitmen dalam memberdayakan masyarakat lapis bawah sehingga
mereka memiliki berbagai pilihan nyata menyangkut masa
depannya,masyarakat lapis bawah umumnya terdiri atas orang-orang lemah,
tidak berdaya dan miskin, karena tidak memiliki sumber daya atau tidak
memiliki kemampuan untuk mengontrol sarana produksi.
Sasaran utama pemberdayaan adalah idividu,keluarga serta
kelompok masyarakat. Dalam mengupayakan agar seseorang tahu dan sadar,
kuncinya terletak pada keberhasilan membuat orang tersebut memahami
bahwa sesuatu(misalnya diare) adalah masalah baginya dan bagi
masyarakatnya.sepanjang orang yang bersangkutan belum mengetahui dan
menyadari bahwa sesuatu itu merupakan masalah, maka orang tersebut tidak
akan bersedia menerima menerima informasi apapun lebih lanjut.
Manakalah ia telah menyadari masalah yang dihadapinya,maka kepadanya
harus diberikan informasi umum lebih lanjut tentang masalah yang
bersangkutan. (Depkese RI,2006).

5
B. Metode Pengembangan Masyarakat
Kata “metodologi” berasal dari bahasa Yunani yaitu methodos,
yang berarti cara atau jalan. Dalam bahasa Inggris kata ini ditulis method,
dan bangsa Arab menterjemahkannya dengan thariqat dan manhaj. Dalam
bahasa Indonesia, kata tersebut megandung arti: cara yang teratur dan ter
pikir baik baik untuk mencapai maksud (dalam ilmu pengetahuan dan
sebagainya); cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan
suatu kegiatan guna mencapai suatu yang ditentukan (KBBI,1998:580)
Maka, metode merupakan suatu kerangka kerja untuk menyusun
suatu tindakan atau suatu kerangka berfikir, menyusun gagasan yang
beraturan, berarah dan berkonteks yang patut (relevan) dengan maksud dan
tujuan. Metodologi ialah suatu sistem terbuat, oleh karena itu metodoogi
merupakan seperangkat unsur yang membentuk satu.

C. Ragam Metode Pengembangan Masyarakat


1. Metode Pengembangan Masyarakat
Untuk menjangkau masyarakat secara luas pendekatan yang digunakan oleh
yaitu pembinaan melalui pembinaan sumberdaya manusianya seperti
pembinaan kelompok dan kader lokal.
a. Pembinaan melalui kelompok mempunyai beberapa kelebihan
antara lain:
· Mempermudah pengorganisasian
· Memperlancar pencapaian tujuan bersama
· Meningkatkan kerjasama dan gotong-royong
b. Pembinaan kader lokal diharapkan membentuk seseorang menjadi
motivator, fasilitator dan katalisator bagi masyarakat sendiri
sehingga keberlanjutan kegiatan diharapkan dapat lebih terjamin.

6
2. Teknik dan Metode Lapangan
Masyarakat mempunyai karakteristiknya masing-masing. Untuk itu ada
beberapa teknik dan metode pendekatan lapangan lain:
a. Participatori Rural Appraisal (PRA), teknik ini merupakan
kelanjutan dari RRA yang mengemas metode-metode
pengembangan masyarakat menjadi bagian dari metodenya.
b. Achievement Motivation Training (AMT), yaitu latihan motivasi
yang berdasarkan pada prinsip-prinsip pendidikan orang dewasa
yang memperhatikan 3 aspek domain, yaitu achievement, power dan
psikomotorik.
c. Action-Research adalah sebuah metode untuk menyadarkan
masyarakat terhadap potensi dan masalah yang ada pada masyarakat.
d. Participatory Action Research adalah metode penyadaran
masyarakat terhadap potensi dan masalah yang dimiliki yang
menekankan pada keikutsertaan masyarakat pada kegiatan yang
dilaksanakan.
e. Why tree dan problem tree merupakan metode perencanaan dan
evaluasi yang mempergunakan struktur analisis jaringan seperti
pohon. Teknik ini antara lain problem tree, solution tree dan
sebagainya.
Terdapat beberapa metode pemberdayaan masyarakat yang digunakan sejak
lama. Antara lain adalah sebagai berikut:
No Kelompok Ragam Metode Ket
. Metode
1. Tatap-muka Percakapan/dialog, Individual
Anjang-sana,
Anjang-karya. Kelompok
Pertemuan,
Ceramah, diskusi,
FGD, RRA, PRA, Masal
PLA, Sekolah
Lapang, Pelatihan.
Pameran

7
2. Percakapan Telepon, TV, Radio. Individual
tak-langsung Teleconference Kelompok
3. Demonstrasi Demonstrasi cara, Kelompok
Demonstrasi hasil,
Demonstrasi cara
dan hasil.
4. Barang Foto, pamflet,
cetakan leaflet, folder,
brosur, poster,
baliho, dll
5. Media-masa Surat kabar, tabloid, Media cetak
majalah. Media lisan
Radio, tape-recorder. Media
TV, VCD, DVD. terproyeksi
6. Kampanye Gabungan dari semua metoda di atas

Sumber: Konsep-Konsep Pemberdayaan Masyarakat (Mardikanto, 2011)


Selain metode di atas, terdapat beberapa metode pemberdayaan
masyarakat partisipatif. Antara lain adalah sebagai berikut
(widyaastuti:2011):
1) RRA (Rapid Rural Appraisal)
RRA merupakan metoda penilaian keadaan desa secara cepat, yang
dalam praktek, kegiatan RRA lebih banyak dilakukan oleh “orang luar”
dengan tanpa atau sedikit melibatkan masyarakat setempat. Meskipun sering
dikatakan sebagai teknik penelitian yang “cepat dan kasar/kotor” tetapi RRA
dinilai masih lebih baik dibanding teknik-teknik kuantitatif klasik.
Sebagai suatu teknik penilaian, RRA menggabungkan beberapa teknik
yang terdiri dari:
a) Review/telaahan data sekunder, termasuk peta wilayah dan pengamatan
lapang secara ringkas
b) Oservasi/pengamatan lapang secara langsung
c) Wawancara dengan informan kunci dan lokakarya
d) Pemetaan dan pembuatan diagram/grafik
e) Studi kasus, sejarah lokal, dan biografi

8
f) Kecenderungan-kecenderungan
g) Pembuatan kuesioner sederhana yang singkat
h) Pembuatan laporan lapang secara cepat
Untuk itu, terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan, yaitu:
a) Efektivitas dan efisiensi, kaitannya dengan biaya, waktu, dengan
perolehan informasi yang dapat dipercaya yang dapat digunakan
dibanding sekadar jumah dan ketepatan serta relevansi informasi yang
dibutuhkan.
b) Hindari bias, melalui: introspeksi, dengarkan, tanyakan secara berulang-
ulang, tanyakan kepada kelompok termiskin.
c) Triangulasi sumber informasi dan libatkan Tim Multi-disiplin untuk
bertanya dalam beragam perspektif
d) Belajar dari dan bersama masyarakat
e) Belajar cepat melalui eksplorasi, cross-check dan jangan terpaku pada
bekuan yang telah disiapkan
2) PRA (Participatory Rural Appraisal)
PRA merupakan penyempurnaan dari RRA. PRA dilakukan dengan lebih
banyak melibatkan “orang dalam” yang terdiri dari semua stakeholders
dengan difasilitasi oleh orang-luar yang lebih berfungsi sebagai narasumber
atau fasilitator dibanding sebagai instruktur atau guru yang menggurui.
Melalui PRA dilakukan kegiatan-kegiatan:
a) Pemetaan-wilayah dan kegiatan yang terkait dengan topik penilaian
keadaan.
b) Analisis keadaan yang berupa:
i. Kedaan masa lalu, sekarang, dan kecenderungannya di masa
depan
ii. Identifikasi tentang perubahan-perubahan yang terjadi dan
alasan-alasan atau penyebabnya
iii. Identifikasi (akar) masalah dan alternatif-alternatif pemecahan
masalah

9
iv. Kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman atau
analisis strength, weakness, opportunity, and treat(SWOT) terhadap
semua alternatif pemecahan masalah.
c) Pemilihan alternatif pemecahan masalah yang paling layak atau dapat
diandalkan (dapat dilaksanakan, efisien, dan diterima oleh sistem
sosialnya).
d) Rincian tentang stakeholders dan peran yang diharapkan dari para pihak,
serta jumlah dan sumber-sumber pembiayaan yang dapat diharapkan untuk
melaksanakan program/kegiatan yang akan diusulkan/direkomendasikan.
3) FGD (Focus Group Discussion) atau Diskusi Kelompok yang Terarah
Sebagai suatu metoda pengumpulan data, FGD merupakan interaksi
individu-individu (sekitar 10-30 orang) yang tidak saling mengenal dan oleh
seorang pemandu (moderator) diarahkan untuk mendiskusikan pemahaman
dan atau pengalamannya tentang sesuatu program atau kegiatan yang diikuti
dan atau dicermatinya.
Sebagai suatu metoda pengumpulan data, FGD dirancang dalam
beberapa tahapan, yaitu:
a) Perumusan kejelasan tujuan FGD, utamanya tentang isu-isu pokok yang
akan dipercakapkan, sesuai dengan tujuan kegiatannya.
b) Persiapan pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan
c) Identifikasi dan pemilihan partisipan, yang terdiri dari para pemangku
kepentingan kegiatan terkait, dan atau narasumber yang berkompeten.
d) Persiapan ruangan diskusi, termasuk tata-suara, tata-letak, dan
perlengkapan diskusi (komputer dan LCD, papan-tulis, peta-singkap,
kertas-plano, kertas meta-plan, spidol berwarna, dll)
e) Pelaksanaan diskusi
f) Analisis data (hasil diskusi)
g) Penulisan laporan, termasuk lampiran tentang transkrip diskusi, rekaman
suara, foto, dll.
Tentang hal ini, Krueger (1994)) menyampaikan adanya beberapa jenis
pertanyaan yang harus disiapkan, yaitu:

10
a) Pertanyaan pembuka, yang sebenarnya hanya berfungsi sebagai penciran
suasana (ice breaking), agar proses interaksi/diskusi antar peserta dapat
berlangsung lancar
b) Pertanyaan pengantar,
c) Pertanyaan transisi, yaitu pertanyaan tentang isu pokok yang berfungsi
untuk membuka wawasan partisipan tentang topik diskusi
d) Pertanyaan kunci, yang terdiri sekitar 5 isu yang akan dikaji melalui FGD
e) Pertanyaan penutup, tentang catatan tambahan yang ingin disampaikan
oleh para peserta.
4) PLA (Participatory Learning and Action), atau proses belajar dan
praktek secara partisipatif
PLA merupakan bentuk baru dari metoda pemberdayaan masyarakat
yang dahulu dikenal sebagai “learning by doing” atau belajar sambil bekerja.
Secara singkat, PLA merupakan metoda pemberdayaan masyarakat yang
terdiri dari proses belajar tentang suatu topik, seperti pesemaian, pengolahan
lahan, perlindungan hama tanaman, dll. Yang segera setelah itu diikuti aksi
atau kegiatan riil yang relevan dengan materi pemberdayaan masyarakat
tersebut.
Melalui kegiatan PLA, akan diperoleh beragam manfaat, berupa:
a) Segala sesuatu yang tidak mungkin dapat dijaab oleh “orang luar”
b) Masyarakat setempat akan memperoleh banyak pengetahuan yang
berbasis pada pengalaman yang dibentuk dari lingkungan kehidupan
mereka yang sangat kompleks
c) Masyarakat akan melihat bahwa masyarakat setempat lebih mampu
untuk mengemukakan masalah dan solusi yang tepat dibanding orang luar
d) Melalui PLA, orang luar dapat memainkan peran penghubung antara
masyarakat setempat dengan lembaga lain yang diperlukan. Disamping itu,
mereka dapat menawarkan keahlian tanpa harus memaksakan
kehendaknya.
Terkait dengan hal itu, sebagai metoda belajar partisipatif, PLA memiliki
beberapa prinsip sebagai berikut:

11
a) PLA merupakan proses belajar secara berkelompok yang dilakukan oleh
semua stakeholders secara interaktif dalam suatu proses analisis bersama
b) Multi perspective, yang mencerminkan beragam interpretasi pemecahan
masalah yang riil yang dilakukan oleh para pihak yang beragam dan
berbeda cara pandangnya
c) Spesifik lokasi, sesuai dengan kondisi para pihak yang terlibat
d) Difasilitasi oleh ahli dan stakeholders (bukan anggota kelompok belajar)
yang bertindak sebagai katalisator dan fasilitator dalam pengambil
keputusan; dan (jika diperlukan) mereka akan meneruskannya kepada
pengambil keputusan
e) Pemimpin perubahan, dalam arti bahwa keputusan yang diambil melalui
PLA akan dijadikan acuan bagi perubahan-perubahan yang akan
dilaksanakan oleh masyarakat setempat
5) SL atau Sekolah Lapang (Farmers Field School)
Sebagai metoda pemberdayaan masyarakat, SL/FFs merupakan kegiatan
pertemuan berkala yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat pada
hamparan tertentu, yang diawali dengan membahas masalah yang sedang
dihadapi, kemudian diikuti dengan curah pendapat, berbagi pengalaman
(sharing), tentang alternatif dan pemilihan cara-cara pemecahan masalah
yang paling efektif dan efisien sesuai dengan sumberdaya yang dimiliki.
6) Pelatihan Partisipatif
Penyelenggaraan pemberdayaan masyarakat harus diawali dengan
“scopping” atau penelusuran tentang program pendidikan yang diperlukan
dan analisis kebutuhan atau “need assesment”. Untuk kemudian berdasarkan
analisis kebutuhannya, disusunlah programa atau acara pemberdayaan
masyarakat yang dalam pendidikan formal (sekolah) disebut dengan silabus
dan kurikulum, dan perumusan modul/lembar persiapan fasilitator pada setiap
pelaksanaan pemberdayaan masyarakat.
Berbeda dengan kegiatan pelatihan konvensional, pelatihan partisipatif
dirancang sebagai implementasi metoda pendidikan orang dewasa (POD),
dengan ciri utama:

12
a) Hubungan instruktur/fasilitator dengan peserta didik tidak lagi bersifat
vertikal tetapi bersifat lateral/horizontal
b) Lebih mengutamakan proses daripada hasil, dalam arti, keberhasilan
pelatihan tidak diukur dari seberapa banyak terjadi alih-pengetahuan,
tetapi seberapa jauh terjadi interaksi atau diskusi dan berbagi pengalaman
(sharing) antara sesama peserta maupun antara fasilitator dan pesertanya.

Metode-metode pengembangan selanjutnya yaitu :


1. Metode Penanggulangan
Penanggulangan adalah upaya yang dilaksanakan untuk mencegah,
mengahadapi, atau mengatasi suatu keadaan mencakup aktivitas preventif dan
sekaligus berupaya untuk memperbaiki perilaku seseorang yang telah dinyatakan
bersalah (sebagai narapidana) di lembaga pemasyarakatan, dengan kata lain upaya
penanggulangan pencurian dapat dilakukan secara preventif dan refresif.
Penanggulangan yaitu upaya mengatasi dan memberi solusi kepada anak-anak
yang melakukan perbuatan menyimpang seperti mencuri serta kepada para pihak
yang berhubungan dengan anak tersebut, seperti orang tua, guru, tokoh
masyarakat maupun pemerintah.
2. Metode Pemberdayaan.
Pemberdayaan adalah proses pembangunan di mana masyarakat
berinisiatif untuk memulai proses kegiatan sosial untuk memperbaiki situasi dan
kondisi diri sendiri. Pemberdayaan adalah kata yang mempunyai arti sifat emotif,
atau proses sebagai akibat masalah yang harus dipecahkan, dan untuk memperoleh
otonomi, motivasi, ketrampilan, untuk tujuan organisasi atau lembaga.
3. Metode Komunikasi.
Metode komunikasi adalah suatu penilaian terhadap pengukuran kekuatan
hubungan yang dilakukan dalam antara dua pihak untuk melakukan suatu
komunikasi, ilmu komunikasi dalam pembelajaran untuk menjadikan komunikasi
yang diberikan kepada orang lain mampu dalam menerimanya sehingga hubungan
akan menjadi lebih maksimal dalam berhubungan dengan menjalani suatu
kerjasama dengan organisasi yang dilakukan dan berfokus dalam suatu catatan

13
pembelajaran yang baik untuk menyampaikan informasi dalam suatu metode
komunikasi dalam menyelesaikan suatu permasalahan yang diinformasikan dalam
pembelajaran yang didapatkan dari kegiatannya tersebut yang dilakukan.
4. Metode Politik Ekonomi Sosial dan Budaya (POLEKSOSBUD)
Metode berdasarkan kepada pendekatan kepada masyarakat sesuai dengan
tingkat ekonomi meraka. Kemudian, kita dapat melakukan pengembangan
masyarakat juga melalui kegiatan sosial di masyarakat. Dalam masyarakat juga
teradapat budaya-budaya yang dapat dikembangkan.
5. Metode Leadership dan Kelembagaan
Suatu metode agar dalam masyarakat tercipta pengembangan
kepemimpinan. Kepemimpinan yang dikembangkangan yaitu yang memiliki
kemampuan dan kesiapan yang dimiliki oleh seseorang untuk dapat
mempengaruhi, mendorong, mengajak, menunutun, menggerakan dan kalau perlu
memaksa orang lain agar ia menerima pengaruh itu dan selanjutnya berbuat
sesuatu yang dapat membantu pencapaian tujuan-tujuan.
6. Metode Pariwisata dan Karyawisata
Metode pariwisata adalah cara atau upaya-upaya yang dilakukan untuk
mengem bangkan objek wisata yang ada di daerah tertentu agar menarik minat
para wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk berkunjung di daerah
wisata tersebut. Sedangkan karyawisata adalah adanya kegiatan dalam pariwisata
yang menimbulkan suatu karya.

14
III. PENUTUP

A. Tanggapan

Tanggapan saya, dari uraian di atas jelas bahwa untuk melakukan


pengembangan dalam masyarakat, metodologi mempunyai kedudukan yang
sangat penting di dalam perkembangan keilmuan. Sesuatu pembahasan dinilai
ilmiah atau tidak, dapat dilihat dari aspek metodologinya. Metode merupakan
suatu kerangka kerja untuk menyusun suatu tindakan atau suatu kerangka berfikir,
menyusun gagasan yang beraturan, berarah dan berkonteks yang patut (relevan)
dengan maksud dan tujuan. Selain itu, dalam konteks Pengembangan Masyarakat
metodologi berperan sangat penting untuk memahami konsep konsep para ilmuan
dalam memajukan suatu daerah.

Pengembangan masyarakat (community development) adalah kegiatan


pengembangan masyarakat yang harus dilakukan secara sistematis, terencana dan
diarahakan untuk memperbesar akses masyarakat guna mencapai kondisi sosial,
ekonomi, dan kualitas kehidupan yang lebih baik apabila dibandingkan dengan
kegiatan pembangunan sebelumnya.

15
DAFTAR PUSTAKA

http://makalah-update.blogspot.com/2013/05/pengembangan masyarakat Islam


html, diakses pada tanggal 10 April 2019

http://widyaastuti-agrittude.blogspot.com/2011/10/prinsip-prinsip-metode-dan-
teknik.html, diakses pada tanggal 10 April 2019

Kamus Umum Bahasa Indonesia, Cet. IX, Balai Pustaka, Jakarta, 1986,

Mardikanto, Totok. 2011. Pemberdayaan Masyarakat. Surakarta. UNS Press

Muniruddin, Metodologi Pengembangan Masyarakat, Jurnal Pengembangan


Masyarakat UIN SU Medan Volume IV, No. 4, Tahun 2017

Puspropkes Depkes RI. 2006. Pemberdayaan Kesehatan Desa. Pusat Promosi


Kesehatan: Jakarta.

Team Penyusun Kamus Basar Bahasa Indonesia, Cet. I, Balai Pustaka, Jakarta,
1988

Zubaedi, Pengembangan Masyarakat, Wacana & Praktik, Kencana Prenada


Media Group, Jakarta, 2013, hal. 4

16