Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Di era modernisasi ini, listrik merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi manusia.
Karena listrik dapat dikatakan sebagai penunjang utama aktivitas manusia. Oleh sebab itu maka
diperlukanlah suatu sistem tenaga listrik yang handal. Salah satu faktor yang memegang peranan
penting dalam mendapatkan suatu sistem tenaga listrik yang handal adalah pemeliharaan. Dengan
adanya pemeliharaan yang baik dan berkelanjutan maka gangguan- gangguan yang disebabkan
peralatan maupun faktor lainnya dapat diperkecil. Selain itu, dengan adanya pemeliharaan, maka
peralatan-peralatan yang terpasang pada sistem tenaga listrik dapat berfungsi dengan baik. Salah
satu peralatan tersebut adalah LBS (Load Break Switch) yang memiliki peran penting baik itu
dalam maneuver penyulang maupun melokalisir gangguan. Jika tanpa adanya pemeliharaan yang
rutin maka LBS tersebut akan mengalami kerusakan dan tidak dapat dimanfaatkan pada saat
diperlukan.

Namun dalam kegiatan pemeliharaan ini terdapat kendala yang merugikan masyarakat
serta PLN sendiri. Kendala tersebut adalah terjadinya pemadaman listrik saat proses pemeliharaan.
Hal ini tentu merugikan masyarakat sebagai konsumen karena pemadaman menyebabkan aliran
listrik terputus dan mengganggu aktivitas masyarakat. Apalagi jika LBS yang dipelihara memiliki
posisi NO ( Normaly Open ), maka daerah yang padam pun akan semakin luas. PLN sebagai pihak
yang menyediakan layanan listrik juga mengalami kerugian karena listrik yang tidak tersalurkan
ke konsumen.

Salah satu hal yang dapat dijadikan solusi bagi persoalan diatas adalah pemeliharaan
tersebut dilakasanakan dengan metode PDKB ( Pekerjaan

Dalam Keadaan Bertegangan ).Dimana metode ini dapat melaksanakan kegiatan pemeliharaan
dimana sistem masih dialiri tegangan listrik. Metode PDKB ini dilaksanakan oleh orang-orang
yang tergabung dalam regu PDKB, dimana sebelumnya telah mendapatkan pelatihan dan memiliki
izin untuk melaksanakan PDKB.
1.2 PERMASALAHAN

Dari latar belakang tersebut, terdapat beberapa permasalahan yang dapat dibahas, antara lain :

1. Apa itu PDKB?


2. Bagaimana langkah-langkah pemeliharaan LBS Normally Open dengan
menggunakan metode PDKB-TM berjarak?
3. Berapa Kwh dan rupiah yang dapat diselamatkan apabila pemeliharaan LBS
Normally Open dilaksanakan dengan metode PDKB?
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Load Break Switch (LBS)

Load Break Switch (LBS) merupakan suatu alat pemutus atau penyambung sirkuit pada
sistem distribusi listrik dalam keadaaan berbeban. LBS mirip dengan alat pemutus tenaga (PMT)
atau Circuit Breaker (CB) dan biasanya dipasang dalam saluran distribusi listrik.
LBS digunakan untuk pemutusan lokal apabila terjadi gangguan atau ingin dilakukan
perawatan jaringan distribusi pada daerah tertentu sehingga daerah yang tidak mengalami
gangguan atau perawatan tidak mengalami pemadaman listrik. Pada saat terjadi bencana atau
gangguan listrik, seperti gempa, angin ribut, pohon tumbang, dan lain-lain sering terjadi gangguan
pada jaringan distribusi seperti kabel tumbang. Pada kasus seperti itu diperlukan tindakan yang
cepat dalam memutuskan saluran listrik untuk menghindari bahaya yang dapat ditimbulkan.

Gambar 2.1 Load Break Switch (LBS)

LBS yang biasa dipakai PT.PLN (Persero) yaitu LBS tipe SF6 yaitu Tegangan Line
Maksimum pada Swicthgear Ratings antara 12kV atau 24kV dengan arus kontinyu 630 A RMS.
Media Isolasi Gas SF6 dengan tekanan operasional gas SF6 pada suhu 20 C adalah 200kPa Gauge.
Pengoperasian secara manual dapat dilakukan secara independent oleh operator. Tekanan untuk
mengoperasikan tuas Max 20 kg. Switch pemutus beban dilengkapi dengan bushing boots
elastomeric untuk ruang terbuka. Boots tersebut dapat menampung kabel berisolasi dengan
ukuran diameter antara 16 – 32 mm dan akan menghasilkan sistem yang terisolir penuh. Kabel
pre-cut yang telah diberi terminal dapat digunakan langsung untuk bushing switch Pemutus
Beban dan telah memenuhi persyaratan yang sesuai dengan peralatan tersebut. Namun demikian,
untuk kabel, dapat menggunakan yang telah disediakan oleh peralatan tersebut sepanjang masih
memenuhi spesifikasi yang ditentukan. Kabel standart yang digunakan dapat dilihat pada tabel
2.1

Tabel 2.1 Standar Kabel yang digunakan pada LBS SF6

Gambar 2.2 LBS dengan Gas SF6

Konstruksi dan Operasi Load Break Switch dan Sectionaliser pada gambar 2.2 dapat
diuraikan sebagai berikut. Load Break Swicth menggunakan puffer interrupter di dalam sebuah
tangki baja anti karat yang dilas penuh yang diisi dengan gas SF6. Interrupter tersebut diletakkan
secara berkelompok dan digerakkan oleh mekanisme pegas. Ini dioperasikan baik secara manual
maupun dengan sebuah motor DC dalam kompartemen motor di bawah tangki. Listrik motor
berasal dari batere-batere 24V dalam ruang kontrol. Transformer-transformer arus dipasang di
dalam tangki dan dihubungkan ke elemen-elemen elektronik untuk memberikan indikasi
gangguan dan line measurement. Terdapat bushing-bushing epoksi dengan transformer tegangan
kapasitif, ini terhubung ke elemen-elemen elektronik untuk memberikan line sensing dan
pengukuran. Elemen-elemen elektronik kontrol terletak dalam ruang kontrol memiliki standar
yang sama yang digunakan untuk mengoperasikan swicthgear intelijen, yang dihubungkan ke
swicthgear dengan kabel kontrol yang dimasukkan ke Swicth Cable Entry Module (SCEM) yang
terletak di dalam kompartemen motor.
Karena LBS ingin dioperasikan dengan menggunakan sistem SCADA atau secara remote,
maka pada LBS ditambahkan sebuah panel kontrol yang dihubungkan dengan RTU (Remote
Terminal Unit). Berikut adalah gambar dari box panel rangkaian kontrol RTU dan LBS (Gambar
2.8)

Gambar 2.8 Kotak Panel RTU dan LBS

Berdasarkan gambar 2.8 diatas dapat kita lihat bahwa dengan menggunakan sistem
SCADA LBS memiliki panel kontrol yang terhubung dengan RTU.
Gambar 2.9 Panel Kontrol LBS

Berdasarkan gambar 2.9 di atas terdapat beberapa macam tombol dan socket panel kontrol
tersebut. Fungsi dari masing – masing bagian panel tersebut adalah sebagai berikut :
1. Battery Test Terminal : digunakan untuk mengecek power (battery) yang
digunakan pada LBS untuk menggerakan motornya.
2. LED for Locking (Control & Switch) : sebuah lampu tanda yang berfungsi untuk
menunjukkan bahwa LBS dalam posisi control (remote) atau switch (manual)
3. LED for Low Gas Pressure : lampu tanda yang berfungsi untuk memberitahukan
kepada operator (dispatcher) yang ada di UPD bahwa Gas SF6 yang ada pada LBS
dalam keadaan low / kurang.
4. Lamp Test Button : lampu yang digunakan untuk mengetes panel apakah sudah
dapat beroperasi / sumber sudah masuk kedalam rangkaian panel
5. Operation Local / Remote : saklar yang digunakan untuk memposisikan LBS
dioperasikan secara local atau remote (menggunakan sistem SCADA)
6. Control Lock / Unlock : saklar yang berfungsi untuk mengunci atau membuka
kontrol remote.
7. Open / Close & LED Indicator : merupakan tombol tekan dan lampu tanda yang
berfungsi untuk mengetes rangkaian kontrol LBS sudah dapat beroperasi dengan
normal. Apabila ditekan tombol open maka lampu diatas open akan menyala dan
sebaliknya.
8. Fuse for Control Circuit Protection : sebagaimana dengan fungsi fuse pada
umumnya, fuse ini digunakan sebagai pengaman rangkaian dari arus lebih atau short
circuit pada rangkaian.
9. Power ON / OFF : sebagai saklar utama untuk menghidupkan atau mematikan
panel kontrol LBS
10. LED Indicator for Battery charging , Low Battery & battery test button:
merupakan lampu tanda dan tombol yang menunjukkan bahwa battere sedang di
charge atau batere dalam keadaan lemah (low), serta tombol yang digunakan untuk
mengetes batere apakah sudah terpasang pada rangkaian atau tidak.

Agar dapat dioperasikan dengan menggunakan sistem SCADA panel kontrol LBS harus
dihubungkan dengan RTU, menghubungkan panel kontrol dengan RTU diperlukan sebuah
pengkabelan (wiring) yang benar agar dapat beroperasi dengan benar dan normal.

2.2 Sejarah singkat dan pengertian PDKB TM


Untuk lebih menyukseskan visi PLN, PLN membentuk banyak perubahan dari waktu ke
waktu sehingga visi PLN dapat tercapai, terutama di sisi keandalan pelayanan, sehingga
mengurangi keluhan masyarakat dan menaikkan citra PLN di mata masyarakat.

Tahun 1984, PLN mengirimkan salah satu pegawai terbaiknya untuk mengikuti pelatihan
PDKB di Perancis dan setelah kembali ke Indonesia dengan berbekal ilmu tersebut di bentuk
tim dari lingkungan beliau bekerja di PLN Udiklat Semarang dan melatihnya dengan peralatan
yang sudah ada.

Tahun 1993 atau tepatnya tanggal 10 Nopember 1993 di PLN Udiklat Semarang
terbentuklah satu tim pertama yang siap dan menjadi cikal bakal terbentuknya PDKB-PDKB
yang lain di seluruh Indonesia.

Selanjutnya pada tahun 1994 terbitlah SK Direksi Nomer: 057.K/7003/DIR/1994 tanggal


13 Desember 1994 yang merupakan dasar hukum terbentuknya Tim PDKB di PLN.
PDKB – TM adalah suatu pekerjaan memelihara, memodifikasi, rehabilitasi dan perluasan
jaringan dimana tetap dalam keadaan bertegangan, sehingga pelanggan PLN tetap bisa
menggunakan listriknya tanpa adanya pemadaman.
Sebelum melaksanakan pekerjaan PDKB, PDKB harus memiliki alat – alat kerja yang
sudah dicek ketahanannya terhadap tegangan listrik/isolatornya, keterampilan anggota-
anggota PDKB/linesmen, dan juga harus mengikuti prosedur kerjanya/SOP.
Teknik PDKB-TM dibagi menjadi 3 metode:
1. Metode berjarak yaitu metode dengan menggunakan hotline stick atau tongkat isolasi
2. Metode sentuh langsung yaitu dengan memakai pijakan isolasi dan sarung tangan
isolasi.
3. Metode potensial yaitu dengan menyamakan beda potensial antara tubuh manusia di
dalam bucket mobil sentuh langsung dengan jaringan.

Tim PDKB yang ada di Area Bali Timur adalah Tim PDKB tegangan menengah
dengan Metode Berjarak dan Metode Sentuh langsung. Metode Berjarak adalah sebuah metode
dengan menggunakan jarak aman.

Jarak yang diperbolehkan adalah 6 EP (elemen pelindung), 1 EP = 10cm dari konduktor


(nilai maksimum), sehingga tidak dizinkan untuk melanggar jarak tersebut. Sedangkan untuk
metode sentuh langsung adalah sebuah metode dengan menggunakan pijakan isolasi dan
sarung isolasi, dan juga memiliki sebuah mobil khusus sentuh langsung yang tentunya juga
sudah terisolasi.

2.3 Persyaratan Dalam PDKB-TM

PDKB bukan pekerjaan yang bisa dilakukan setiap orang, karena setiap personil PDKB
harus dilatih dengan khusus dan mempunyai sertifikat kompetensi. Adapun syarat-syarat yang
harus dimiliki oleh regu PDKB, antara lain:

1. Wajib ada Linesman


2. Wajib ada Groundman
3. Wajib ada Pengawas Pekerjaan dan Pengawas K3
4. Menandatangani SP2B (Surat Perintah melaksanakan Pekerjaan Bertegangan)
untuk Linesmen dan groundmen.
5. Menandatangani SP3B (Surat Perintah Pengawas Pekerjaan
Bertegangan) untuk Pengawas K3 dan Pengawas Pekerjaan
6. Alat pelindung diri (APD) standar dan dalam keadaan baik yang dicek oleh
pengawas K3 dan Linesman sebelum bekerja.
7. Peralatan yang diberi lapisan silikon untuk mencegah aliran air disaat pekerjaan
dalam keadaan hujan.

2.4 Peralatan Kerja Pemeliharaan LBS Normally Open dengan Metode PDKBTM
Berjarak

2.4.1 Peralatan Kerja

Dalam PDKB – TM digunakan peralatan-peralatan yang telah diuji dengan tegangan


100KV per 30 cm. Semua peralatan berisolasi dan harus di uji tegangan setiap 3 bulan sekali,
sehingga jika terjadi kebocoran cepat diketahui. Secara umum peralatan yang dipakai antara
lain sebagai berikut :

A. Hook Pole

Gambar 2.10 Hook Pole

Hook pole adalah peralatan yang digunakan untuk pemasangan dan pembongkaran
peralatan yang akan dipasang di konduktor bertegangan. Dalam hal ini, hook pole digunakan
untuk memasang cover pada jaringan, dan memasang/ melepas LLC pada SUTM.

B. Tie Pole

Gambar 2.11 Tie Pole dengan ujungnya memakai “Rotary Blade” dan “Rotary Prong”
Tie pole adalah peralatan yang digunakan untuk membantu mengupas konduktor jenis
A3CS. Adapun fungsi lainnya yang berbagai macam, seperti mengikat tie wire untuk isolator
tumpu.

C. Tangga isolasi

Gambar 2.12 Tangga Isolasi

Tangga Isolasi adalah tangga yang dipakai oleh linesman agar tidak menyentuh langsung
dengan ground.

D. Tangga Alumunium

Gambar 2.13 Tangga Aluminium

Tangga yang terbuat dari bahan alumunium yang digunakan sebagai pondasi agar tidak
meleset. Biasanya digunakan sebagai tangga paling bawah baru dilanjutkan menggunakan
tangga isolasi. Nama lainnya adalah Allumunium based ladder.

E. Measuring Rod
Gambar 2.14 Meassuring Rod

Measuring Rod adalah sebuah perlatan dalam PDKB yang terbuat dari fiberglass
digunakan sebagai alat ukur panjang. 1 strip dalam measuring rod mewakili 1 ep (10 cm).
Selalu digunakan pada awal pekerjaan dengan mengukur jarak EP.

F. Wire Holding Pole

Gambar 2.15 Wire Holding Pole

Wire Holding Pole adalah alat PDKB yang digunakan untuk menjepit dan mengarahkan
konduktor agar tidak menyentuh phasa lain ataupun ground.

G. Safety Jumper Holder (SJH)

Gambar 2.16 Safety Jumper Holder (SJH)

Safety Jumper Holder (SJH) adalah alat inovasi PDKB yang digunakan untuk mengunci
jumperan agar tidak terpental dan menyentuh phasa lain.
H. String Cover dan Conductor Cover

Gambar 2.17 String Cover dan Conductor Cover

String Cover berfungsi untuk menutupi isolator penegang dan Conductor Cover
berfungsi untuk menutupi konduktor.

2.4.2 Material

Material yang diperlukan antara lain :

A. Live Line Connector (LLC)

Gambar 2.18 Live Line Connector (LLC)

Live Line Connector (LLC) berfungsi untuk menyambungkan antara jumper dengan
jaringan.
B. Graisse

Gambar 2.19 Graisse

Graisse atau gemuk kontak berfungsi untuk melumasi kontak-kontak peralatan agar tidak
macet saat dioperasikan.

C. Spray Anti Karat

Gambar 2.20 Spray Anti Karat

Spray anti karat berfungsi untuk melumasi peralatan sekaligus berfungsi untuk mencegah
karatan pada peralatan.
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Identifikasi Masalah


PT. PLN ( Persero) merupakan perusahaan BUMN yang bergerak di bidang
ketenagalistrikan, dimana dalam menjalankan bisnis kelistrikan selalu mengutamakan
kepuasan konsumen, sehingga diperlukan kualitas energi listrik yang baik. Dalam
mempertahankan kualitas energi listrik yang didistribusikan, maka perlu usaha untuk
melakukan pemeliharaan secara berkala demi mencegah terjadinya kerusakan yang dapat
mengakibatkan gangguan dalam kegiatan pendistribusian listrik. Pada pengoperasian sistem
tenaga listrik terdapat berbagai macam faktor yang dapat mempengaruhi akan terjadinya
gangguan. Gangguan tersebut berupa berkurangnya kemampuan peralatan, meningkatnya
beban, dan lepasnya peralatan-peralatan yang tersambung ke sistem.

Permasalahan yang sering timbul pada pengoperasian LBS antara lain :

• LBS tidak bisa dioperasikan.

• Pergerakan ketiga pisau LBS tidak serempak.

• Pisau LBS tidak menutup ataupun membuka dengan sempurna.

• Stang LBS sulit untuk dioperasikan

3.2 Pra-anggapan
Secara umum ada beberapa penyebab sehingga LBS menjadi bermasalah seperti yang
dijelaskan pada sub bab sebelumnya, antara lain :
1. Pengkristalan pada graisse yang terlalu banyak diberikan pada pemeliharaan
sebelumnya.
2. Kendornya pegangan LBS pada interphase connecting pipe.

3. Posisi stang LBS terhalang sehingga menyulitkan untuk dioperasikan.

4. Ada komponenn LBS yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya.


Pemeliharaan secara preventif pada LBS merupakan salah satu cara untuk mengatasi
kegagalan pengoperasian pada LBS dan menjaga komponen di dalamnya tetap dalam kondisi
baik. Dengan dilakukannya pemeliharaan yang berkala dengan baik dan dilakukan sesuai
dengan prosedur, maka akan diperoleh umur peralatan yang diharapkan sesuai dengan umur
teknisnya dengan demikian akan diperoleh kinerja peralatan yang optimal serta mampu
meminimalisir kegagalan pengoperasian pada LBS.

3.3 Data Lokasi Pekerjaan

Berdasarkan Surat Perintah Melaksanakan Pekerjaan Bertegangan (SP2B) dan Surat


Penunjukan Pengawas Pekerjaan Bertegangan (SP3B), diketahui data – data sebagai berikut :
Penyulang : Goa Lawah
Beban : 104 Ampere
Jumlah Pelanggan : 7177 Pelanggan
Gardu Induk : Gianyar
Nama LBS : LBS Rama
Alamat Pekerjaan : Jalan Rama, Klungkung

3.4 Upaya Meminimalisir Kegagalan Pengoperasian LBS dengan Cara Pemeliharaan Rutin.
Pemeliharaan merupakan suatu pekerjaan yang dilaksanakan untuk mencegah
terjadinya kerusakan dan untuk mendapat jaminan bahwa suatu sistem/peralatan akan
berfungsi secara optimal. LBS merupakan salah satu alat yang sangat penting dalam suatu
sistem ketenagalistrikan. Oleh karena itu pemeliharaan LBS sesuai dengan SOP dan
berkelanjutan sangat diperlukan untuk tetap menjaga kondisi peralatan tetap optimal dan
menghindari kegagalan saat pengoperasiannya.

3.5 Tahapan Pelaksanaan Pemeliharaan LBS


I. Mensurvey lokasi pekerjaan yang dilakukan oleh preparator.

II. Pembuatan SP2B/SP3B yang ditandatangani kepala operasi/wakil dan supervisor PDKB.
III. Breifing pekerjaan dan penandatanganan SP2B/SP3B oleh kepala regu dan pelaksana
PDKB.
IV. Kepala regu memimpin tim menuju lokasi pekerjaan.

V. Persiapan lokasi pekerjaan.

1. Memarkirkan mobil peralatan dan memasang rambu-rambu peringatan


pekerjaan bertegangan.

Gambar 3.1 Memarkir mobil alat dan memasang rambu-rambu pekerjaan.

2. Seluruh personil menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) dan


mempersiapkan peralatan yang akan digunakan.

Gambar 3.2 Mengenakan APD dan mempersiapkan peralatan


3. Berdoa kemudian menyerukan yel-yel PDKB

Gambar 3.3 Berdoa yang dipimpin oleh pengawas K3

4. Pengawas pekerjaan (kepala regu) melapor kepada piket pengatur


distribusi bahwa Tim PDKB akan melakukan pekerjaan pemeliharaan LBS
Rama, Penyulang Goa Lawah.

Gambar 3.4 Pengawas pekerjaan melapor ke piket pengatur distribusi


VI. Pelaksanaan pekerjaan.
1. Memasang tangga alumunium dan kemudian dilanjutkan dengan
memasang tangga isolasi

Gambar 3.5 Linesman memasang tangga alumunium dan tangga isolasi.

2. Mengukur jarak EP yaitu 60 cm menggunakan Mesauring

Rod

Gambar 3.6 Linesman mengukur jarak EP


3. Melepas jumper LBS menggunakan Hook Pole dari SUTM kemudian
dijepit dengan Wire Holding Pole

Gambar 3.7 melepas jumper menggunakan Hook Pole dan dijepit dengan Wire Holding Pole

4. Menggulung jumper membentuk kupu-kupu menggunakan Wire


Holding Pole kemudian menguncinya dengan menggunakan Safety Jumper
Holder (SJH).

Gambar 3.8 menggulung jumper dan menguncinya dengan SJH


5. Memasang Conductor Cover ketiga fasa

Gambar 3.9 memasang conductor cover ketiga fasa

6. Melakukan pemeliharaan LBS dengan memberi pelumas dan graisse


pada bagian-bagian kontak LBS dan mengecek LLC apakah masih dalam
kondisi baik.

Gambar 3.10 penyemprotan pelumas pada bagian kontak LBS

7. Mencoba mengoperasikan LBS untuk memeriksa keserempakan dan


kesempurnaan fungsi pisau LBS dengan Linesman berada di bawah LBS.
Gambar 3.11 mencoba mengoperasikan LBS

8. Melepas Conductor Cover dimulai dari fasa yang terjauh dari

Linesman

Gambar 3.12 melepas conductor cover


9. Melepas Safety Jumper Holder (SJH) menggunakan Hook Pole
dilanjutkan dengan menyambung jumper ke SUTM menggunakan Hook Pole.

Gambar 3.13 melepas SJH dan dilanjutkan dengan menyambung jumper ke SUTM

10. Melepas peralatan kerja.

Gambar 3.14 melepas tangga


11. Kepala regu melaporkan kepada piket pengawas bahwa pekerjaan
pemeliharaan LBS telah selesai dilaksanakan.

Gambar 3.15 Pengawas pekerjaan melapor ke piket pengawas

12. Berdoa, evaluasi pekerjaan, dan menyerukan yel-yel PDKB.

Gambar 3.16 Berdoa


3.6 Analisa kWh yang Terselamatkan
Berdasarkan pekerjaan pemeliharaan LBS Rama yang dilaksanakan hari Jumat ,
tanggal 2 Desember 2016 di Jalan Rama, Klungkung, dapat diasumsikan energi (kWh) yang
dapat terselamatkan :
Diketahui :
V : 20 kV
I : 104 A
Cos ƥ : 0,85
√3 : 1,732
t : 4 Jam (waktu standar pekerjaan padam) Rumus : W
=P.t
P = V . I . √3. Cos ƥ
Maka : P = 20 X 104 X 1.732 X 0.85
= 3.062,176 kW
W = 3.062,176 X 4 jam
= 12.248,704 kWh

3.7 Analisa Rupiah yang Terselamatkan

Banyak keuntungan yang dapat diberikan oleh PDKB, baik itu dari sisi pekerjaan
ataupun dari sisi penjualan energi. Dikarenakan pekerjaan dilaksanakan secara tidak padam,
maka energi yang tersalurkan akan maksimal sehingga akan menghasilkan keuntungan
finansial bagi perusahaan. Dari hasil perhitungan maka dapat dilihat pengaruh pekerjaan
pemeliharaan LBS dengan metode PDKB dilihat dari penyelamatan kWh jual. Dimana kWh
yang dapat diselamatkan sebesar 12.234,56 kWh dan asumsi harga rata-rata per-kWh pada
bulan Desember tahun 2016 di PLN Area Bali Timur sebesar Rp. 1.057 per kWh*, dengan
rumus :
Rupiah terselamatkan = Harga/kWh x kWh terselamatkan
= Rp.1.057,- x 12.248,704
= Rp. 12.946.880,1
(*Sumber data : Data Pengusahaan PT PLN (Persero) Area Bali Timur Tahun 2016)
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian pada isi makalah hingga pembahasan di atas ,maka penulis dapat
mengambil kesimpulan sebagai berikut :

1. PDKB merupakan suatu pekerjaan memelihara, memodifikasi,


rehabilitasi, dan perluasan jaringan dimana tetap dalam keadaan bertegangan,
sehingga pelanggan PLN tetap bisa menggunakan listriknya tanpa adanya
pemadaman.

2. Pemeliharaan rutin LBS sangat perlu dilakukan karena dengan


pemeliharaan yang terencana dan dilakukan sesuai dengan SOP maka akan
diperoleh kinerja peralatan yang maksimum,sehingga dapat meminimalisir
kegagalan pengoperasian LBS dan juga umur peralatan yang sesuai dengan
umur teknisnya.

3. Pemeliharaan LBS Rama dengan menggunakan metode PDKB dapat


menyelamatkan energi (kWh) sebesar 12.248,704 kWh dan rupiah yang
terselamatkan sebesar Rp. 12.946.880,1

Anda mungkin juga menyukai