Anda di halaman 1dari 47

I.

Konsep Dasar Keluarga


1. Definisi
Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan,
kelahiran dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan, mempertahankan
budaya dan meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional serta
social dari tiap anggota keluarga (Gusti, 2013)
Keluarga adalah suatu sistem social yang berisi dua atau lebig
orang yang hidup bersama yang mempunyai hubungan darah, perkawinan
atau adopsi, atau tinggal bersama dan saling menguntungkan, mempunyai
tujuan bersama, mempunyai generasi penerus, saling pengertian dan saling
menyayangi (Achjar, 2010).
Kelurga adalah suatu ikatan atau persekutuan hidup atas dasar
perkawinan antara orang dewasa yang berlaian jenis yang hidup bersama
atau seorang laki-laki atau seorang perempuan yang sudah sendirian
dengan atau tanpa anak, baik anaknya sendiri atau adopsi dan tinggal
dalam sebuah rumah tangga (Dion&Betan, 2013).
2. Karakeristik Keluarga
a. Terdiri dari dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan darah,
perkawinan atau adopsi.
b. Anggota keluarga biasanya hidup bersama atau jika terpisah mereka
tetap mempethatikan satu sama lain.
c. Anggota keluarga berinterkasi satu sama lain dan masing-masing
mempunyai peran social : suami, istri, anak, kakak, dan adik.
d. Mempunyai tujuan yaitu ; menciptakan dan mempertahankan budaya
dan meningkatkan perkembangan fisik, psikologis, dan sosial anggota
(Gusti, 2013).
3. Tipe-Tipe Keluarga
a. Tipe Keluarga Tradisional
 Keluarga inti (Nuclear family) adalah keluarga yang hanya terdiri
dari ayah, ibu, anak yang diperoleh dari keturunan atau adopsi atau
keduanya.
 Keluarga besar (Extended family) adalah keluarga inti ditambah
anggota keluarga lain yang masih mempunyai hubungan darah
(kakek, nenek, paman, bibi, saudara, sepupu, dll).
 Keluarga bentukkan kembali (Dyadic family) adalah keluarga baru
yang terbentuk dari pasangan yang telah cerai atau kehilangan
pasangannya.
 Orang tua tunggal (Single parent family) adalah keluaraga yang
terdiri dari salah satu orang tua dengan anak-anak akibat perceraian
atau ditinggal pasangan.
 The single adult living alone adalah orang dewasa yang tinggal
sendiri tanpa pernah menikah.
 The unmarried teenage mother adalah ibu dengan anak tanpa
perkawainan.
 Keluarga usila (Niddle age/Aging couple) adalah suami sebagai
pencari uang, istri dirumah atau kedua-duanya bekerja atau tingal di
rumah, anak-anaknya sudah meninggalkan rumah karena
sekolah/perkawinan/meniti karir (Gusti, 2013).
b. Tipe Keluarga Non Tradisional
 Commune family adalah lebih satu keluarga tanpa pertalian darah
hidup serumah.
 Orang tua (ayah dan ibu) yang tidak ada ikatan perkawinan dan
anak hidup bersama dalam satu rumah tangga.
 Homoseksual adalah dua individu yang sejenis hidup bersama
dalam satu rumah tangga (Gusti, 2013).
Menurut Carter&Mc Goldick (1988) dalam Setiawati&Dermawan (2005),
membagi tipe keluarga berdasar:
 Keluarga berantai (sereal family) yaitu keluargayang terdiri dari
wanita dan peria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan
keluarga inti.
 Keluarga berkomposisi, yaitu keluarga yang perkawinannya
berpoligami dan hidup secara bersama-sama.
 Keluarga kabitas, yaitu keluarga yang terbentuk tanpa pernikahan
(Achjar, 2010)
4. Tahap dan Tugas Perkembangan Keluarga
a. Tahap pasangan baru atau keluarga baru (beginning family)
Keluarga baru dimulai pada saat masing-masing individu yaitu
suami dan istri membentuk keluarga memulai perkawinan yang sah
dan meninggalkan keluarga masing-masing dalam arti secara
psikologis keluarga tersebut sudah memiliki keluarga baru.
Tugas perkembangan pada tahap ini adalah:
 Membina hubungan intim dan kepuasan bersama.
 Menetapkan tujuan bersama.
 Membina hubungan dengan keluarga lain, teman dan kelompok
social.
 Merencanakan anak-KB.
 Menyesuaikan diri dengan kehamilan dan mempersiapkan diri
untuk menjadi orang tua.
Sedangkan menurut Carter dan Mc.Goldrik, 1988, Duval dan Miller,
1985 tugas perkembangan keluarga meliputi :
 Membangun perkawainan yang saling memuaskan.
 Menghubungkan jaringan persaudaraan secara harmonis.
 Keluarga berencana (keputusan tentang kedudukan sebagai orang
tua). (Gusti, 2013).
b. Tahap keluarga kelahiran anak pertama (child bearing family)
Keluarga yang menantikan kelahiran dimulai dari kehamilan
sampai kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai anak pertama
berusia 30 bulan (3,2 tahun). Kehamilan dan kelahiran bayi perlu
dipersiapkan oleh pasangan suami istri melalui beberapa tugas
perkembangan yang penting. Kelahiran bayi pertama member
perubahan yang besar dalam keluarga, sehingga pasangan harus
beradaptasi dengan perannya untuk memenuhi kebutuhan bayi. Sering
terjadi dengan kelahiran bayi, pasangan merasa diabaikan karena focus
perhatian kedua pasangan tertuju pada bayi. Suami merasa belum siap
ayah atau sebaliknya istri belum siap menjadi ibu.
Tugas perkembangan pada tahap ini :
 Persiapan menjadi orang tua.
 Membagi peran dan tanggung jawab.
 Menata ruang untuk anak atau mengembangkan suasana rumah
yang menyenangkan.
 Mempersiapkan biaya atau dana child bearing.
 Memfasilitasi role learning anggota keluarga.
 Bertanggung jawab memenuhi kebutuhan bayi sampai balita.
 Mengadakan kebiasaan keagamaan secara rutin.
Sedangkan menurut Carter dan Mc.Goldrik, 1988, Duval dan Miller,
1985 tugas perkembangan keluarga meliputi :
 Membentuk keluarga muda sebagai sebuah unit yang mantap
(mengintegrasikan bayi baru ke dalam keluarga).
 Rekonsiliasi tugas-tugas perkembangan yang bertentangan dan
kebutuhan anggota keluarga.
 Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan.
 Memperluas persahabatan dengan keluarga besar dengan
menambahkan peran-peran orang tua, kakek dan nenek (Gusti,
2013).
c. Tahap keluarga dengan anak pra sekolah (families with preschool)
Tahap ini dimulai saat kelahiran anak berusia 2,5 tahun dan
berakhir saat anak berusia 5 tahun. Pada tahap ini orang tua
beradaptasi terhadap kebutuhan-kebutuhan dan minat dari anak pra
sekolah dalam meningkatkan pertumbuhannya. Kehidupan keluarga
pada tahap ini sangat sibuk dan anak sangat tergantung pada orang tua.
Kedua orang tua harus mengatur waktunya sedemikian rupa sehingga
kebutuhan anak, suami istri dan pekerjaan dapat terpenuhi. Orang tua
menjadi arsitek keluarga dalam merancang dan mengarahkan
perkembangan keluarga agar kehidupan perkawinan tetap utuh dan
langgeng dengan cara menguatkan kerjasama antar suami-istri. Orang
tua mempunyai peran untuk menstimulasi perkembangan individual
anak khususnya kemandirian anak agar tugas perkembangan anak pada
fase ini tercapai.
Tugas perkembangan keluarga :
 Memenuhi kebutuhan anggota keluarga, seperti kebutuhan tempat
tinggal, privasi dan rasa aman.
 Membantu anak untuk bersosialisasi.
 Beradapatasi dengan anak yang baru lahir, di dalam maupun di luar
keluarga (keluarga lain dan lingkungan sekitar).
 Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak.
 Pembagian tanggung jawab anggota keluarga.
 Kegiatan dan waktu untuk stimulasi tubuh kembang anak.
Sedangkan menurut Carter dan Mc.Goldrik, 1988, Duval dan Miller,
1985 tugas perkembangan keluarga meliputi :
 Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti : rumah, ruang
bermain, privasi dan keamanan.
 Mensosialisasikan anak.
 Mengintegrasikan anak yang baru sementara tetap memenuhi
kebutuhan anak-anak yang lain.
 Mempertahankan hubungan yang sehat dalam keluarga (hubungan
perkawinan dan hubungan orang tua dan anak) dan di luar keluarga
(keluarga besar dan komunitas) (Gusti, 2013).
d. Tahap keluarga dengan anak usia sekolah (families with school
children)
Tahap ini dimualai pada saat anak tertua memasuki sekolah pada
usia 6 tahun dan berakhir pada usia 12 tahun. Pada fase ini umumnya
keluarga mencapai jumlah anggota keluarga maksimal, sehingga
keluarga sangat sibuk. Selain aktivitas di sekolah, masing-masing anak
memiliki akivitas dan minat sendiri. Demikian pula orang tua yang
mempunyai aktivitas berbeda dengan anak. Untuk itu, keluarga perlu
bekerjasama untuk mencapai tugas perkembangan. Pada tahap ini
keluarga (orang tua) perlu belajar berpisah dengan anak, member
kesempatan pada anak untuk bersosialisasi, baik aktivitas di sekolah
maupun di luar sekolah.
Tugas perkembangan pada tahap ini adalah :
 Memberikan perhatian tentang kegiatan social anak, pendidikan dan
semangat belajar.
 Tetap mempertahankan hubungan yag harmonis dalam perkawinan.
 Mendorong anak untuk mencapai pengembangan daya intelektual.
 Menyediakan aktivitas untuk anak.
 Menyesuaikan pada aktivitas komunitas dengan mengikutsertakan
anak.
Sedangkan menurut Carter dan Mc.Goldrik, 1988, Duval dan Miller,
1985 tugas perkembangan keluarga meliputi :
 Mensosialisasikan anak-anak termasuk menigkatkan prestasi
sekolah dan pengembangan hubungan dengan teman sebaya yang
sehat.
 Mempertahankan hubungn perkawinan yang memuaskan.
 Memenuhi kebutuhan kesehatan fisik anggota keluarga (Gusti,
2013).
e. Tahap keluarga dengan anak remaja (families with tenagers)
Tahap ini dimulai pada saat anak pertama berusia 13 tahun dan
biasanya berakhir sampai pada usia 19-20 tahun, pada saat anak
meninggalkan orang tuanya. Tujuannya adalah melepas anak remaja
dan member tanggung jawab serta kebebasan yang lebih besar untuk
mempersiapkan diri menjadi lebih dewasa.
Tahap ini meupakan tahapan yang paling sulit, karena orang tua
melepas otoritas dan membiming anak untuk bertanggung jawab. Anak
harus mempunyai otoritas sendiri yang berkaitan denganperan dan
fungsinya. Seringkali muncul konflik antara oarng tua dan remaja
karena anak menginginkan kebebasan untuk melakukan aktivitasnya,
sementara orang tua perlu menciptakan komunikasi yang terbuka,
kecurigaan, dan permusuhan sehingga hubungan orang tua dan remaja
tetap harmonis.
Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini adalah:
 Memberikan kebebasan yang seimbang dengan tanggung jawab
mengingat remaja yang sudah bertambah dan meningkat
otonominya.
 Mempertahankan hubungan yang intim dengan keluarga.
 Mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan orang tua,
hindari perdebatan. Kecurigaan dan permusuhan.
 Perubahan sistem peran dan peraturan untuk tumbuh kembang
keluarga.
Sedangkan menurut Carter dan Mc.Goldrik, 1988, Duval dan Miller,
1985 tugas perkembangan keluarga meliputi :
 Menyeimbagkan kebebasan dengan tanggung jawab ketika remaja
menjadi dewasa dan semakin mandiri.
 Memfokuskan kembali hubungan perkawinan.
 Berkomunikasi dengan terbuka antara orang tua dan anak-anak.
f. Tahap keluarga dengan anak dewasa atau pelepasan (launching center
families)
Tahap ini dimulai pada saat anak terakhir meninggalkan rumah.
Lamanya tahap ini tergantung jumlah anak dalam keluarga atau jika
anak yang belum berkeluarga dan tetap tinggal bersama orang tua.
Tujuan utama pada tahap ini adalah mengorganisasikan kembali
keluarga untuk tetap berperan dalam melepas anak untuk hidup sendiri.
Keluarga mempersiapkan anaknya yang tertua untuk membentuk
keluarga sendiri dan tetap membantu anak terakhir untuk lebih
mandiri. Pada saat semua anak meninggalkan rumah, pasangan perlu
menata ulang dan membina hubungan suami-istri seperti pada fase
awal. Orang tua akan merasa kehilangan peran dalam merawat anak
dan merasa kosong karena anak-anak sudah tidak tinggal serumah lagi.
Untuk mengatasi keadaan ini orang tua perlu melakukan aktivitas
kerja, meningkatkan peran sebagai pasangan dan tetap memelihara
hubungan dengan anak.
Tugas perkembangan keluarga :
 Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar.
 Mempertahankan keintiman pasangan.
 Membantu orang tua suami atau istri yang sangat sakit dan
memasuki masa tua.
 Mempersiapkan anak untuk hidup mandiri dan menerima kepergian
anaknya.
 Menata kembali fasilitas dan sumber yang ada pada keluarga.
 Berperan suami-istri kakek dan nenek.
 Menciptakan lingkungan rumah yang dapat terjadi contoh bagi
anak-anaknya.
Sedangkan menurut Carter dan Mc.Goldrik, 1988, Duval dan Miller,
1985 tugas perkembangan keluarga meliputi :
 Memperluas siklus keluarga dengan memasukkan anggota keluarga
baru yang didapatkan melalui perkawinan anak-anak.
 Melanjutkan untuk memperbarui dan menyesuaikan kembali
hubungan perkawinan.
 Membantu orang tua lanjut usia dan sakit-sakitan dari suami
maupun istri.
g. Tahap keluarga usia pertengahan (middle age families)
Tahapan ini dimulai pada saat anak terakhir meniggalkan rumah
dan berakhir pada saat pension atau salah satu pasangan meninggal.
Pada beberapa pasngan pada fase ini dirasakan sulit karena masalah
lanjut usia. Perpisahan dengan anak dan perasaan gagal sebagai orang
tua. Pada tahap ini semua anak meninggalkan rumah, maka pasangan
berfokus untuk mempertahankan kesehatan dengan berbagai aktivitas.
Pola hidup sehat, diit seimbang, olahraga rutin, menikmati hidup dan
mengisi waktu dengn pekerjaan. Pasangan juga mempertahankan
hubungan dengan teman sebaya dan keluarga anaknya dengan cara
mengadakan pertemuan keluarga antara generasi atau anak cucu,
sehingga pasagan dapat merasakan kebahagiaan sebagai kakek nenek.
Hubungan antar pasangan perlu semakin dieratkan dengan
memperhatikan ketergantungan dan kemandirian masing-masing
pilihan.
Tugas perkembangan keluarga ;
 Mempertahankan kesehatan.
 Mempunyai lebih banyak waktu dan kebebasan waktu dalam arti
mengolah minat sosial dan waktu santai.
 Memulihkan hubungan dengan generasi muda tua.
 Keakraban dengan pasangan.
 Memelihara hubungan/kontak dengan anak dan keluarga.
 Persiapan masa tua atau pension dan meningkatkan keakraban
pasangan.
Sedangkan menurut Carter dan Mc.Goldrik, 1988, Duval dan Miller,
1985 tugas perkembangan keluarga meliputi :
 Menyediakan lingkungan yang meningkatkan kesehatan.
 Mempertahankan hubungan-hubungan yang memuaskan dan penuh
arti dengan para orang tua lansia dan anak-anak.
 Memperkokoh hubungan perkawinan (Gusti, 2013).
h. Tahap keluarga lanjut usia
Tahapan terakhir perkembangan keluarga ini adalah dimulai pada
saat salh satu pasangan pension berlanjut salah satu pasngan
meninggal sampai keduanya meninggal. Proses lanjut usia dan pension
merupakan realita yang tidak dapat dihindari karena berbagai proses
stressor dan kehilangan yang harus dialami keluarga. Stressor tersebut
karena berkurangnya pendapatan, kehilangan berbagai hubungan
social, kehilangan pekerjaan serta perasaan menurunnya produktivitas
dan fungsi kesehatan. Mempertahankan penataan kehidupan yang
memuaskan merupakan tugas utama keluarga pada tahap ini. Lanjut
usia umumnya lebih dapat beradaptasi tinggal di rumah sendiri dari
pada tinggal bersama anaknya.
Tugas perkembangan keluarga :
 Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan.
 Adaptasi dengan perubahan kehilangan pasangan, teman, kekuatan
fisik dan pendapatan.
 Mempertahankan keakraban suami istri dan saling merawat.
 Mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial masyarakat.
 Melakukan file review.
 Menerima kematian pasangan, kawan dan mempersiapkan
kematian.
Sedangkan menurut Carter dan Mc.Goldrik, 1988, Duval dan Miller,
1985 tugas perkembangan keluarga meliputi :
 Mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan.
 Menyesuaikan terhadap pendapatan yang menurun.
 Mempertahankan hubungan perkawinan.
 Meyesuaikan diri terhadap kehilangan pasangan.
 Mempertahankan ikatan keluarga antar generasi.
 Meneruskan untuk memahami ekstensi mereka (penelaahan dan
integrasi hidup). (gusti, 2013).
5. Fungsi Keluarga
Fungsi keluarga merupakan hasil atau konsekuensi dari struktur keluarga
atau sesuatu tentang apa yang dilakukan oleh keluarga. Terdapat beberapa
fungsi keluarga menurut Friedman (1998), Setiawati&Dermawan (2005)
yaitu:
a. Fungsi afektif
Fungsi afektif merupakan fungsi keluarga dalam memenuhi
kebutuhan pemeliharaan kepribadian dari anggota keluarga.
Merupakan respon dari keluarga terhadap kondisi dan situasi yang
dialami tiap anggota keluarga baik senang maupun sedih,
denganmelihat bagaiman cara keluarga mengekspresikan kasih sayang.
b. Fungsi sisoalisasi
Fungsi sosialisasi tercermin dalam melakukan pembinaan
sosialisasi pada anak, membentuk nilai dan norma yang diyakini anak,
memberikan batasan perilaku yang boleh dan tidak boleh pada anak,
meneruskan nilai-nilai budaya keluarga. Bagaimana keluarga produktif
terhadap soaial dan bagaimana keluarga memperkenalkan anak dengan
dunia luar dengan belajar berdisiplin, mengenal budaya dan norma
melalui hubungan iteraksi dalam keluarga sehinga mampu berperan
dalam masyarakat.
c. Fungsi perawatan kesehatan
Fungsi perawatan kesehatan keluarga merupakan fungsi keluarga
dalam melindungi keamanan dan kesehatan seluruh anggota keluarga
serta menjamin pemenuhan kebutuhan perkembangan fisik, mental dan
spiritual, dengan cara memelihara dan merawat anggota keluarga serta
mengenali kondisi sakit tiap anggota keluarga.
d. Fungsi ekonomi
Fungsi ekonomi, untuk memenuhi kebutuhan keluarga seperti sandang,
pangan,papan dan kebutuhan lain melalui keefektifan sumber dana
keluarga. Mencari sumber penghasilan guna memenuhi kebutuhan
keluarga, pengaturan penghasilan keluarga, menabung untuk
memenuhi kebutuhan keluarga.
e. Fungsi biologis
Fungsi biologis, bukan hanya untuk ditunjukkan untuk meneruskan
keturunan tetapi untuk memelihara dan membesarkan anak untuk
kelanjutan generasi selanjutnya.
f. Fungsi psikologis
Fungsi psikologis, terlihat bagaimana keluarga memberikan kasih
saying dan rasa aman, memberikan perhatian diantara anggota
keluarga, membina kedewasaan kepribadian anggota keluarga dan
memberikan identitas keluarga.
g. Fungsi pendidikan
Fungsi pendidikan diberikan keluarga dalam rangka memberikan
pengetahuan, ketrampilan, membentuk perilaku anak, mempersiapkan
anak untuk kehidupan dewasa, mendidik anak sesuai dengan tingkatan
perkembangannya (Achjar, 2010)
6. Peran dan Fungsi Keluarga
Berbagai pern formal dalam keluarga (Nasrul Effendy, 1998 dalam
Dion&Yasnita, 2013)
a. Peran ayah adalah sebagai suami dari istri dan ayah dari anak-anak
berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, perlindungan dan pemberi
rasa aman. Juga sebagai kepala keluarga, sebagai anggota dari
kelompok sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungan.
b. Peran ibu adalah sebagai istri dari suami dan ibu dari anak-anak
berperan unuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan
pendidik bagi anak-anaknya, perlindungan dan salah satu angota
kelompok social, serta sebagai anggota masyarakat dan lingkungan di
samping dapat berperan pula sebagai pencari nafkah tambahan
keluarga.
c. Peran anak adalah melaksanakan peran psikososial sesuai dengan
tingkat perkembangannya baik fisik, mental, social dan spiritual.
II. Tinjauan Kasus
1. Definisi
Vertigo dapat digolongkan sebagai salah satu bentuk gangguan
keseimbangan atau gangguan orientasi ruangan. Banyak system atau organ
tubuuh yang ikut terlibat dalam mengatur dan mempertahankan
keseimbangan tubuh kita. Keseimbangan diatur oleh integritas berbagai
sistem diantaranya system vestibular, system visual, dan system somato
sensorik (propiosetik). Untuk mempertahankan keseimbangan diruangan,
maka sedikitnya 2 dari 3 system tersebut diatas harus difungsikan dengan
baik. Pada vertigo, penderita merasa atau melihat lingkungannya bergerak
atau dirinya bergerak terhadap lingkungannya. Gerakan yang dialami
biasanya berputar namun kadang berbentuk linier seperti mau jatuh atau
rasa ditarik menjauhi bidang vertical.
Pada penderita vertigo kadang-kadang dapat kita saksikan adanya
nistagmus. Nistagmus yaitu gerak ritmik yang involunter dari pada
bolamata. (Lumban Tobing. S.M.2003)
Vertigo adalah sensasi berputar atau pusing yang merupakan suatu gejala
penderita merasakn benda-benda disekitarnya bergerak-gerak memutar
atau bergerak naik turun karena gangguan pada system keseimbangan.
(Arsyad Soepardi Efiaty dan Nurbaiti, 2002).

2. Etiologi
a. Otologo 24-61% kasus
- Benigna Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV)
- Meniere Desease
- Parese N VIII Uni/bilateral
- Otitis media
b. Neurologik 23-30% kasus
- Gangguan serebrovaskuler batang otak/serebelum
- Ataksia karena neuropati
- Gangguan visus
- Gangguan serebelum
- Gangguan sirkulasi LCS
- Multuole skeloris
- Vertigo servical
c. Interna kurang lebih 33% karena gangguan kardiovaskuler
- Tekanan darah naik turun
- Aritmia kordis
- Penyakit koroner
- Infeksi
- Glikemia
- Intoksikasi obat : Nifedipin, Benzodiazepin, Xanax
d. Psikiatrik > 50% kasus
- Depresi
- Fobia
- Anxietas
- Psikosomatis
e. Fisiologik
- Melihat turun dari ketinggian.
3. Pathway
Trauma Ukuran lensa mata tidak Aliran darah Infeksi pada telinga dalam
cerebellum
sama (vestibuler)
ke otak
telinga dalam (vestibuler)

VERTIGO

Penurunan fungsi Tekanan intra Tekanan pada otot


Stress meningkat
kognitif kranial leher

Cemas Nyeri Koping individu tidak efektif Gangguan pola tidur


4. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis pada klien dengan vertigo yaitu perasaan berputar yang
kadang-kadang disertai gejala sehubungan dengan mual, muntah, rasa
kepala berat, nafsu makan turun, lelah, lidah pucat dengan selaput putih
lengket, nadi lemah, puyeng (dizziness), nyeri kepala, penglihatan kabur,
tinnitus, mulut pahit, mata merah, mudah tersinggung, gelisah, liah merah
dengan selaput tipis.
Pasien vertigo akan mengelih jika posisi kepala berubah pada usatu
keadaan tertentu. Pasien akan merasa berputar atau merasa sekelilingnya
berputar jika akan ke tempat tidur, berguling dari satu sisi ke sisi lainnya,
bangkit dari tempat tidur di pagi hari, mencapai sesuatu yang tinggi atau
jika kepala digerakkan ke belakang.
Biasanya vertigo hanya berlangsung 5-10 detik. Kadang-kadang disertai
rasa mual dan seringkali pasien merasa cemas. Penderita biasanya dapat
mengenali keadaan ini dan berusaha menghindarinya dengan tidak
melakukan gerakan yang dapat menimbulkan vertigo.
Vertigo tidak akan terjadi kepala tegak lurus atau berputar secara aksial
tanpa ekstensi, pada hamper sebagian besar pasien, vertigo akan berkurang
dan akhirnya berhenti secara spontan dalam beberapa hari atau beberapa
bula, tetapi kadang-kadang dapat juga sampai beberapa tahun.
Pada anamnesis, pasien mengeluhkan kepala terasa pusing berputar pada
perubahan posisi kepala dengan posisi tertentu. Secara klinis vertigo
terjadi pada perubahan posisi kepala dan akan berkurang serta akhirnya
berhenti secara spontan setelah beberapa waktu. Pada pemeriksaan THT
secara umum tidak didapatkan kelainan berarti, dan pada uji kalori tidak
ada paresis kanal.
Uji posisi dapat membantu mendiagnosa vertigo, yang paling baik adalah
dengan melakukan manuver Hallpike : penderita duduk tegak, kepalanya
dipegang pada kedua sisi oleh pemeriksa, lalu kepala dijatuhkan mendadak
sambil menengok ke satu sisi. Pada tes ini akan didapatkan nistagmus
posisi dengan gejala :
1. Penderita vertigo akan merasakan sensasi gerakan seperti berputar,
baik dirinya sendiri atau lingkungan
2. Merasakan mual yang luar biasa
3. Sering muntah sebagai akibat dari rasa mual
4. Gerakan mata yang abnormal
5. Tiba - tiba muncul keringat dingin
6. Telinga sering terasa berdenging
7. Mengalami kesulitan bicara
8. Mengalami kesulitan berjalan karena merasakan sensasi gerakan
berputar
9. Pada keadaan tertentu, penderita juga bisa mengalami ganguuan
penglihatan

5. Pemeriksaan Penunjang/Diagnostic
Meliputi uji tes keberadaan bakteri melalui laboratorium, sedangkan untuk
pemeriksaan diagnostik yang penting untuk dilakukan pada klien dengan
kasus vertigo antara lain:
a. Pemeriksaan fisik
o Pemeriksaan mata
o Pemeriksaan alat keseimbangan tubuh
o Pemeriksaan neurologik
o Pemeriksaan otologik
o Pemeriksaan fisik umum
b. Pemeriksaan khusus
o ENG
o Audiometri dan BAEP
o Psikiatrik
c. Pemeriksaan tambahan
o Radiologik dan Imaging
o EEG, EM
6. Penatalaksanaan Medis
a. Penatalaksanaan Medis
Beberapa terapi yang dapat diberikan adalah terapi dengan obat-obatan
seperti :
1. Anti kolinergik
- Sulfas Atropin : 0,4 mg/im
- Scopolamin : 0,6 mg IV bisa diulang tiap 3 jam
2. Simpatomimetika
- Epidame 1,5 mg IV bisa diulang tiap 30 menit
3. Menghambat aktivitas nukleus vestibuler
- Golongan antihistamin

Golongan ini, yang menghambat aktivitas nukleus vestibularis adalah:

a. Diphenhidramin: 1,5 mg/im/oral bisa diulang tiap 2 jam


b. Dimenhidrinat: 50-100 mg/ 6 jam.
Jika terapi di atas tidak dapat mengatasi kelainan yang diderita dianjurkan
untuk terapi bedah. Terapi menurut (Cermin Dunia Kedokteran No. 144,
2004: 48) Terdiri dari :
- Terapi kausal
sebagian besar kausa vertigo tidak diketahui penyebabnya, sehingga
terapi biasanya bersifat simtomatik. Terapi kausal disesuaikan dengan
faktor penyebabnya.
- Terapi simtomatik
ditujukan kepada 2 gejala utama yaitu rasa berputar dan gejala
otonomnya. Pemilihan obat-obat anti vertigo tergantung pada efek obat
bersangkutan, berat ringan vertigo dan fasenya. Misalnya pada fase akut
dapat diberikan obat penenang untuk menghilangkan rasa cemas,
disamping anti vertigo lainnya.
- Terapi Rehabilitasi
Bertujuan untuk membangkitkan dan meningkatkan kompensasi sentral
dan habituasi pada pasien dengan gangguan vestibuler. Beberapa bentuk
latihan yang dapat dilakukan adalah latihan vestibuler, latihan visual
vestibuler atau latihan berjalan.
III. Tinjauan Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Aktivitas/istirahat
- Letih, lemah, malaise
- Keterbatasan gerak
- Ketegangan mata, kesulitan membaca
- Insomnia, bangun pada pagi hari dengan disertai nyeri kepala.
- Sakit kepala yang hebat saat perubahan postur tubuh, aktivitas
kerja atau karena perubahan cuaca
Sirkulasi
- Riwayat hipertensi
- Denyutan vaskuler, misal daerah temporal
- Pucat, wajah tampak kemerahan

Integritas Ego

- Factor-faktor stress emosional/lingkungan tertentu


- Perubahan ketidakmampuan, keputusan, ketidakberdayaan depresi
- Kekhawatiran, ansietas, peka rangsangan selama sakit kepala
- Mekanisme refresif/dekensif (sakit kepala kronik)

Makanan dan cairan

- Makanan yang tinggi vasorectilnya misal : kafein, coklat, bawang,


keju, alcohol, anggur, danging, tomat, makanan berlemak, jeruk,
saus, hotdog, MSG.
- Mual/muntah, anoreksia, (selama nyeri)
- Penurunan berat badan

Neurosensoris

- Pening disorientasi (selama sakit kepala)


- Riwayat kejang, cedera kepala yang baru terjadi, trauma, stroke
- Aura : fasialis, olfaktorius, tinnitus
- Perubahan visual, sensitive terhadap cahaya/suara yang keras,
epistaktis
- Paratesia, kelemahan progresif/paralysis satu sisi tempore
- Perubahan pada pola bicara/pola piker
- Mudah terangsang peka terhadap stimulus
- Penurunan reflex tendon alam

Nyeri/kenyamanan
- Karakteristik nyeri tergangtung pada jenis sakit kepala, misal
migraine, ketegangan otot, tumor otak, pasca trauma, sinusitis.
- Nyeri, kemerahan, pucat pada daerah wajah
- Focus menyempit
- Focus pada diri sendiri
- Respon emosional / prilaku tak terarah seperti menangis, gelisah
- Otot-otot daerah leherjuga menegang

Keamananan

- Riwayat alergi atau reaksi alergi


- Demam
- Gangguan cara berjalan, paratezia, paralisis
- Drainase nasal purulent (sakit kepala pada gangguan sinus)

Interaksi social
- Perubahan dalam tanggung jawab/peran interaksi social yang
berhubungan dengan penyakit

Penyuluhan
- Riwayat hipertensi, migraine, stroke, penyakit pada keluarga
- Penggunaan alcohol/obat lain termasuk kafein, kontrasepsi oral
atau menopause
2. Diagnosa, Hasil, dan Intervensi Keperawatan

Diagnosis keperawatan Hasil yang dicapai Intervensi


NANDA (NOC) (NIC)
Gangguan Rasa Nyaman Paint control Manajemen Nyeri
Nyeri - Mampu mengontrol nyeri (tahu - Kaji nyeri secara komperhensif (lokasi,
penyebab nyeri, mampu karakteristik, durasi,frekuensi, kualitas,
Yang berhubungan dengan
menggunakan tehnik dan factor presipitasi)
peningkatan tekanan
nonfarmakologi untuk mengurangi - Observasi reaksi nonverbal dari
intrakranial
nyeri, mencari bantuan) ketidaknyamanan
- Melaporkan bahwa nyeri berkurang - Kontrol lingkungan yang dapat
dengan menggunakan managemen mempengaruhi nyeri seperti suhu
nyeri ruangan, pencahayaan dang kebisingan.
- Mampu mengenali nyeri (skala, - Ajarkan tehnik nonfarmakologi : nafas
intensitas, frekuensi, dan tanda dalam, relaksasi, distraksi, kompres
nyeri) hangat
- Menyatakan rasa nyaman setelah - Berikan analgetik untuk mengurangi
nyeri berkurang nyeri
- Tanda vital dalam rentang normal
- Tidak mengalami gangguan tidur
Gangguan pola istirahat Comfort Level Sleep Enhancement
dan tidur - Pola tidur, kualitas dalam batas - Determinasi efek-efek medikasi terhadap
Yang berhubungan dengan normal pola tidur
tekanan pada otot leher - Jumlah jam tidur dalam batas - Jelaskan pentingnya tidur yang adekuat
normal - Fasilitasi untuk mempertahankan
- Perasaan fresh sesudah aktivitas sebelum tidur (membaca)
tidur/istirahat - Ciptakan lingkungan yang nyaman
- Mampu mngidentifikasi hal-hal - Kolaborasi pemberian obat tidur
yang meningkatkan tidur
Koping individu tidak - Mampu mengidentifikasi perilaku - Diskusikan tentang perilaku koping,
efektif koping yang tidak efektif dan seperti pemakaian alkohol, kebiasaan
akibatnya. merokok, pola makan, strategi relaksasi.
Yang berhubungan dengan
- Dekati klien dengan penuh ramah dan
stres yang meningkat
- Mampu mengungkapkan kesadaran perhatian. Ambil keuntungan dari
tentang kemampuan koping yang kegiatan yang dapat diajarkan.
dimiliki. - Sarankan klien untuk mengekspresikan
perasaannya dan diskusi mengenai
bagaimana vertigo menggangu kerja dan
kesenangan hidup.

Cemas Kontrol Kecemasan Anxiety Reduction (penurunan


- Mampu mengidentifikasi dan kecemasan)
Yang berhubungan dengan
mengungkapkan gejala cemas
penurunan fungsi kognitif - Gunakan pendekatan yang menenangkan
- Mengidentifikasi dan
dan kurangnya pengetahuan - Jelaskan semua prisedur dan apa yang
mengungkapkan dan menunjukkan
terhadap penyakitnya dirasakan selama prosedur
tehnik untuk mengontrol cemas
- Temani pasien untuk memberikan
- Vital sign dalam batas normal
keamanan dan mengurangi takut
- Postur tubuh, ekspresi wajah, bahas
- Berikan informasi faktual mengenai
atubh dan tingkat aktivitas
diagnosis, tindakan prognosis
menunjukkan berkurangnya
- Dengarkan dengan penuh perhatian
kecemasan
- Identifikasi tingkat kecemasan
- Dorong pasien untuk mengungkapkan
perasaan, ketautan, persepsi
- Kolaborasi pemberian obat anti cemas
I. PENGKAJIAN TAHAP 1
A. Data Umum
1. Nama Kepala Keluarga (KK) : Tn. A
2. Usia : 35 tahun
3. Pendidikan : SMA
4. Pekerjaan : Wiraswasta
5. Alamat : Br. Cemenggaon, Celuk, Sukawati
6. Komposisi Keluarga :
No Nama Jenis Umur Hubungan Pendidikan Pekerjaan
Kelamin dengan KK
1 Ny. I Perempuan Istri SMA swasta

2 An. Y Laki-laki 16 Anak SMA Pelajar

3 An. C Perempuan 10 Anak SD Pelajar


7. Genogram

Keterangan :

Laki-laki Meninggal

Perempuan

Pasien

Garis hubungan

Tinggal serumah

8. Tipe Keluarga : Keluarga inti.


9. Suku Bangsa : Indonesia.
10. Agama : Hindu.
11. Status Sosial ekonomi keluarga
a. Pendapatan keluarga satu bulan :
Tn. A mengatakan pendapatan perbulan didapat dari penghasilan kerja
dirinya sendiri dan istrinya sebesar Rp. 5.000.000/ Bulan
b. Pengelola keuangan keluarga : Keuangan keluarga dikelola oleh Tn. A
c. Bagaimana pandangan keluarga terhadap pendidikan anggota keluarga :
Klien mengatakan pendidikan tersebut sangat penting untuk bekal dimasa
yang akan datang
d. Adakah nilai/keyakinan/agama yang bertentangan dengan kesehatan :
Keluarga Tn. A mengatakan tidak ada suatu keyakinan yang bertentangan
dengan nilai/keyakinan/agama.
12. Aktifitas rekreasi keluarga
a. Kebiasaan rekreasi dalam keluarga :
Biasanya sebulan sekali Tn. A mengajak keluarganya pergi jalan-jalan ke
mall atau makan bersama di luar rumah.
b. Bagaimana keluarga menggunakan waktu senggangnya :
Jika ada waktu senggang atau hari libur Tn. A biasanya menonton TV
bersama.
B. Riwayat Perkembangan
1. Tahap perkembangan saat ini :
Tahap V : Keluarga dengan Anak Remaja, dimana anak pertama berusia 16
tahun
2. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi :
Tidak ada tahap perkembangan yang belum terpenuhi karena tahapan sudah
terpenuhi sesuai dengan tahapan yang ada.
3. Riwayat keluarga inti :
Tn. A dan Ny. I sudah menikah sejak 16 tahun yang lalu. Alm. Ny. I memilki
riwayat penyakit Ca. mamae, dan Tn. A memiliki riwayat Vertigo.
4. Riwayat Keluarga sebelumnya :
Tidak memiliki penyakit keturunan seperti DM, jantung, dan hipertensi.
C. Lingkungan
1. Karakteristik rumah :
Denah rumah :

Kamar Mandi
Bale Dauh Kamar Suci

septictank
Bale Daja

Halaman

Bale Delod

Bale Dangin

Merajan

Warung
Tempat
Sampah

Pintu Masuk Rumah


a. Jenis rumah : Modern.
b. Jenis bangunan : Permanen.
c. Luas bangunan : 2 are.
d. Luas pekarangan : 3 are.
e. Status kepemilikan rumah : Pribadi.
f. Kondisi ventilasi rumah : Baik.
g. Kondisi penerangan rumah : Baik.
h. Kondisi pencahayaan rumah : Baik.
i. Kondisi lantai : Bersih.
j. Kebersihan rumah secara keseluruhan : Baik.
k. Bagaimana pembagian ruangan-ruangan di rumah : Baik.
l. Pengelolaan sampah keluarga : Tn. A menggunakan layanan pengangkut
sampah BUMDes (Badan Usaha Masyarakat Desa).
m. Sumber air bersih dalam keluarga : Sumur Bor.
n. Kondisi jamban keluarga : Baik.
o. Pembuangan limbah : Melalui sepiteng.
2. Karakteristik tetangga dan komunitas RW
Keluarga Tn. A memiliki hubungan yang baik dengan tetangganya.
3. Mobilisasi geografi keluarga
Keluarga Tn. A tidak pernah berpindah rumah.
4. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
Alm Istri dari Tn. A dahulu sering mengikuti kegiatan PKK di banjarnya,
mengikuti senam banjarnya.
5. Sistem pendukung keluarga
Tn. A dan Alm. Ny. I menyelesaikan masalah bersama tanpa campur tangan
orang tua atau mertua.
D. Struktur Keluarga
1. Pola komunikasi keluarga :
Tidak mengalami masalah. Jika ada Tn. A dan Alm. Ny. I mencari solusi untuk
masalah tersebut.
2. Kekuatan keluarga :
Antar anggota keluarga keluarga saling menghormati dan menghargai serta
pengambilamn keputusan berdasrkan keputusan bersama.
3. Peran Keluarga :
Tn. A : Sebagai ayah dan kepala keluarga merupakan pencari nafkah, ia
merupakan pemimpin keluarga. Ia selalu berusaha menjadi ayah dan orang tua
tunnggal yang baik serta selalu berusaha sebaik-baiknya untuk memenuhi
kebutuhan anaknya.
An. Y : sebagai anak pertama yang memasuki usia remaja, kegiatan An. Y
ialah sekolah dan mengikuti kegiatan extra klikuler di sekolahnya.
An. C : sebagai anak kedua memasuki usia 10 tahun, kegiatan An. C ialah
sekolah dan mengikuti les tambahan sepilang sekolah.
4. Nilai dan norma budaya :
Nilai yang mereka anut adalah kepercayaan hindu yang berasal dari nilai-nilai
daerah Bali. Norma yang dianut adalah norma agama, jika ada sesuatu yang
tidak baik mereka tidak akan melakukan hal tersebut.
E. Fungsi Keluarga
1. Fungsi afektif/koping :
Keluarga Tn. A saling menyayangi satu sama lain. Apabila ada keluarga yang
sakit, maka anggota keluarganya akan selalu membantu.
2. Fungsi sosialisasi :
Keluarga Tn. A merupakan keluarga yang rukun dengan tetangga serta tidak
memiliki masalah dengan tetangga, sehingga tidak memiliki masalah dalam
bersosialisasi.
3. Fungsi Ekonomi :
Dalam kehidupan sehari-hari keluarga Tn. A menggunakan sumber
penghasilan dari Tn. A yang dikelola oleh Tn.A sendiri sehingga dapat
dipergunakan dengan baik.
4. Fungsi fisik dan perawatan Keluarga :
Pada saat ada anggota keluarga yang sakit, Tn. A hanya membeli obat d
warung (apotek) dan menyuruh anggota keluarga yang sakit beristirahat.
F. Stress dan Koping Keluarga
1. Stressor jangka pendek :
Tn. A mengatakan bila dirinya merasa pusing dan sakit kepala berputar, Tn.A
hanya beristirahat sebentar dan meminum obat analgesic yang dibeli di apotek.
2. Kemampuan keluarga berespon terhadap masalah :
Keluarga memiliki sistem dukungan sosial keluarga kuat, dimana keluarga
besar akan membantu jika keluarga Tn. A memiliki masalah serta pola
komunikasi di dalam keluarga tergolong baik.
3. Strategi koping yang digunakan :
Tn.A mengatakan strategi yang digunakan adalah menggunakan pengalaman
masa lalu. Keluarga besar juga bersedia membantu sehingga juga mebbunakan
sistem dukungan sosial.
4. Strategi adaptasi disfungsional :
Keluarga terutama Tn. A secara sadar telah melakukan adaptasi disfungsional,
yaitu dengan membiarkan dirinya sendiri jika pusing dan sakit kepala berputar
hanya membiarkannya begitu saja.
G.Pemeriksaan Fisik (Pendekatan Head to Toe)
Nama Anggota Keluarga
Pemeriksaan
Bp. Ibu. An. An.
UMUM
1. Penampilan Umum Baik - Baik Baik
Cara Berpakaian Rapi - Rapi Rapi
Kebersihan personal Bersih - Bersih Bersih
Postur dan cara belajar Tegak - Tegak Tegak
Bentuk dan ukuran tubuh Sedang - Sedang Sedang
Tanda-tanda vital TD: - TD: N: 90
130/80 100/60 x/mnt
mmHg mmHg RR: 20
N: 80 N: 80 x/mnt
x/mnt x/mnt S: 36,2⁰ C
RR: 20 RR: 20
x/mnt x/mnt
S: 36,3⁰ C S: 36,1⁰ C
2. Status mental dan cara berbicara
Status emosi Stabil - Stabil Stabil
Orientasi Baik - Baik Baik
Proses berpikir Baik - Baik Baik
Gaya bicara Baik - Baik Baik
PEMERIKSAAN KULIT
Kuku Bersih - Bersih Bersih
PEMERIKSAAN KEPALA
Bentuk & sensori Baik - Baik Baik
Rambut Bersih dan - Bersih dan Bersih dan
berwarna berwarna berwarna
hitam. hitam. hitam.
Mata Simetris - Simetris Simetris
Hidung Simetris - Simetris Simetris
dan dan dan
bersih. bersih. bersih.
Telinga Simetris - Simetris Simetris
dan bersih dan bersih dan bersih

Mulut Bersih dan - Bersih dan Bersih dan


lembab. lembab. lembab.
Leher Tidak ada - Tidak ada Tidak ada
pembesara pembesara pembesara
n kelenjar n kelenjar n kelenjar
tiroid tiroid tiroid
Dada Simetris - Simetris Simetris
dan tidak dan tidak dan tidak
ada ada ada
penggunaa penggunaa penggunaa
n otot n otot n otot
bantu bantu bantu
pernapasa pernapasa pernapasa
n n n
ABDOMEN - - - -
GENETALIA & ANUS - - - -
EKSTREMITAS
Ekstremitas Atas Simetris, - Simetris, Simetris,
akral akral akral
hangat. hangat. hangat.
Ekstremitas bawah Simetris, - Simetris, Simetris,
akral akral akral
hangat. hangat. hangat.

H.Harapan Keluarga : Tn. A berharap agar keluarganya terhindar dari penyakit


menular dan penyakit berbahaya.
PENGKAJIAN TAHAP II
I. Pelaksanaan 5 Tugas kesehatan keluarga oleh Keluarga
1. Mengenal masalah keluarga :
Tn. A tidak mengetahui tentang penyakitnya yaitu vertigo, bila muncul sakit
kepala berputar Tn. A langsung menghentikan aktifitas dan hanya beristirahat
sebentar.
2. Mengambil keputusan :
Tn.A biasanya lebih memilih dirawat di Rumah, bila keadaaan memburuk
Tn.A mengajak anggota keluarga ke Rumah Sakit.
3. Merawat anggota keluarga yang sakit :
Jika Tn.A mengeluk pusing dan sakit kepala berputar, beliau hanya beristirahat
dan mengkonsumsi obat analgesic.
4. Memelihara lingkungan :
Tn.A setiap hari membersihkan rumahnya.
5. Menggunakan fasilitas/pelayanan kesehatan :
Keluarga Tn. A tidak mampu menggunakan fasilitas kesehatan.
J. Analisa Data
No Data Etiologi Masalah
1. Do : aliran darah ke otak Gangguan Rasa
Tn. A mengatakan bahwa Tn. A mengeluh Nyaman Nyeri
pusing dan sakit kepala berputar namun
Tn.A hanya beristirahat saja dan Vertigo
mengkonsumsi analgesic yang dibeli di
warung (apotek).
Ds : Gangguan Rasa nyaman Nyeri
Tn. A tampak sedang menahan sakit kepala.
TD : 130/80 N: 98x/m

2. DS: Sikap keluarga kurang terhadap Ketidakmampuan


Tn.A mengatakan jarang mengunjungi pelayanan kesehatan keluarga
pelayanan kesehatan. menggunakan
Ketidakmampuan keluarga
Do : fasilitas
menggunakan fasilitas
Pasien tampak hanya diberikan obat dari kesehatan
kesehatan
warung (apotek).
K. Prioritas Masalah
Perhitunga Pembenaran
No Kriteria Skor Bobot
n
1. Sifat Masalah 2÷3×1=0,6 Tn. A mengatakan kurang
Skala : Tidak/kurang sehat 3 1 mengetahui masalah
Ancaman kesehatan* 2 kesehatan di keluarganya.
Keadaan sejahtera 1
2. Kemungkinan masalah 2 2÷2×2=2 Masalah dengan mudah
dapat diubah diatasi karena keinginan
Skala : Mudah* 2 keluarga.
Sebagian 1
Tidak dapat 0

3. Potensial masalah untuk 1 3÷3×1=1 Potensi masalah untuk


dicegah dicegah tinggi karena
Skala : Tinggi 3 keluarga Tn. A dapat
Cukup* 2 memahami karena pendidikan
Rendah 1 keluarga Tn. A cukup
mendukung.
4. Menonjolnya masalah 1 1÷2×1=0,5 Keluarga Tn. A mengatakan
Skala : Masalah berat, harus 2 masalah vertigo yang tidak
segera ditangani perlu diatasi kerana Tn. A
Ada masalah tetapi tidak 1 masih bisa beraktivitas
perlu ditangani
Masalah tidak dirasakan* 0
JUMLAH 3,2

Prioritas Diagnosa Keperawatan


1. Defisiensi Pengetahuan berhubungan dengan ketidaktahuan Tn. S dan Ny. E tentang penyebab dan dampak dari anemia.
2. Ketidakmampuan keluarga dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan berhubungan dengan Tn. S tidak mengajak keluarganya
ke Puskesmas jika sakit kecuali keadaanya sudah mulai memburuk.
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

Diagnosa Tujuan Evaluasi


No Rencana Tindakan
Keperawatan Umum Khusus Kriteria Standar
1 Verbal 1. Pengetahuan keluarga tentang
Vertigo dapat
disebabkan oleh vertigo.
masalah
Setelah diberikan 2. Jelaskan kepada keluarga
ketidakseimbangan di
asuhan keperawatan otak atau telinga tentang tehnik nonfarmakologi
bagian dalam yang
selama 2x pertemuan seperti tehnik nafas dalam,
dipicu oleh beberapa
Gangguan Rasa diharapkan keluarga Setelah dilakukan hal. relaksasi, distraksi dan kompres
Di antaranya adalah:
Nyaman Nyeri dapat mengatasi tindakan keperawatan hangat untuk mengurangi nyeri.
- Benign paroxysmal
gangguan rasa Nyaman selama 2x45 menit positional vertigo .
(BPPV)
Nyeri diharapkan keluarga
- Vertigo juga bisa
mampu: disebabkan oleh
peradangan di
1. mampu mengontrol
telinga bagian
nyeri dalam.
- Vertigo juga bisa
2. mengungkapkan
disebabkan oleh
nyeri berkurang meningkatnya
volume darah di
dasar otak, karena
ada pendarahan di
otak belakang.
- Vertigo juga dapat
disebkan oleh stress

2 Ketidakmampuan Keluarga dapat Verbal Keluarga dapat


Jelaskan kepada keluarga
keluarga menggunakan tempat menggunakan fasilitas
kemana mereka meminta
menggunakan pelayanan kesehatan pelayanan kesehatan
pertolongan untuk perawatan dan
fasilitas kesehatan dengan tepat untuk dengan tepat sesuai
pengobatan anemia.
guna perawatan Setelah dilakukan mengatasi anemia. kebutuhan.
dan pengobatan kujungan selama 2x Setelah 2x 45 menit
diare diharapkan keluarga kunjungan rumah.
berhubungan dapat menggunakan Dengan kriteria hasil
dengan sikap fasilitas kesehatan a. Keluarga dapat
keluarga yang sesuai kebutuhan. menjelaskan secara
kurang serta lisan kemana mereka
kurangnya harus meminta
pengetahuan pertolongan untuk
tentang perawatan dan
pentingnya segera pengobatan anemia.
datang ke tempat
pelayanan
kesehatan.
IMPLEMENTASI
ASUHAN KEPERAWATANKELUARGA

Diagnosa Tanggal dan


No Implementasi Respon Paraf
Keperawatan waktu
1. Minggu, 28 DS: Keluarga
Gangguan Rasa
April 2019 TUK 1: Tn. A
Nyaman Nyeri
Pukul 19.00 1. Mengkaji Nyeri mengatakan
Wita secara komoperhensif sakit kepala
2. mengajarkan tehnik berputar
nonfarmakologi seperti muncul apabila
nafas dalam, relaksasi, beliau
distraksi, dan kompres mengalami
hangat stress dan
kelelahan
bekerja
DO: Tn.A
mampu
melakukan
tehnik
nonfarmakologi
yang diajarkan

2. Ketidakmampuan Selasa, 30 TUK 1: DS: Klien


keluarga April 2019 Menjelaskan kepada mengerti
menggunakan Pukul 18.00 keluarga jika ada kemana mereka
fasilitas Wita keluarga yang sakit dapat meminta
kesehatan guna dapat meminta pertolongan
perawatan dan petolongan untuk dan perawatan
pengobatan perawatan dan dan pengobatan
vertigo pengobatan peyakit vertigo
berhubungan vertigo. DO: Keluarga
dengan sikap tampak
keluarga yang mengerti
kurang serta tentang
kurangnya penjelasan
pengetahuan yang diberikan.
tentang TUK 2: DS: Keluarga
pentingnya Mengajarkan keluarga mengatakan
segera datang ke untuk memantau mengerti
tempat pelayanan tekanan darah, denyut dengan
kesehatan. nadi dan pernafasan memantau
dan menganjurkan tekanan darah,
periode istirahat yang denyut nadi
sering atau tirah dan pernafasan
baring (jarang) sesuai dan
indikasi. menganjurkan
periode
istirahat yang
sering atau
tirah baring
(jarang) sesuai
indikasi.
DO: Keluarga
tampak
mengikuti
memantau
tekanan darah,
denyut nadi
dan pernafasan
dan
menganjurkan
periode
istirahat yang
sering atau
tirah baring
(jarang) sesuai
indikasi.
I. EVALUASI ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

No. Tgl/Jam Diagnosa Evaluasi Paraf


1 Selasa,30 Gangguan Rasa Nyaman S S: Keluaga Tn. A mampu melakukan tehnik (niko)
April Nyeri nonfarmakologi yang diajarkan
2019 o
Pukul: O
21.00 O : Keluarga Tn.A mampu melakukan
Wita tehnik nonfarmakologi yang diajarkan
A : TUK 1 tercapai
S : Pertahankan intervensi
2 Ketidakmampuan S : Keluarga mengerti kemana mereka (niko)
Keluarga dapat meminta pertolongan, perawatan
Menggunakan dan pengobatan diare serta mampu
Fasilitas Kesehatan mengikuti instruksi untuk melakukan
cuci tangan yang benar.
O : Keluarga tampak mengerti tentang
penjelasan yang diberikan serta tampak
mengikuti cara mencuci tangan yang
benar.
A : TUK 1dan TUK 2 tercapai.
P : Pertahankan intervensi.
Anjurkan keluarga untuk mencuci tangan
yang benar terutama sebelum makan
dan setelah buang air besar.
Sukawati,………………
Mahasiswa

(……………………………)

Mengetahui

Clinical Instruktur/CI ClinicalTeaching/CT

(………………………….) (……………………………..)
Daftar Pustaka

Dosen Keperawatan Medikal-Bedah Indonesia.(2017).Rencana Asuhan Keperawatan Medikal-Bedah.Jakarta:EGC

Amin Huda Nurarif dan Hardhi Kusuma.(2015).Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosis Medis &
NANDA.Jogyakarta:Mediaction

Ridha, H. N. (2014). Buku Ajar Keperawatan Anak. (Pustaka Pelajar, Ed.). Yogyakarta.

ADP, S. G.(2013). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Keluarga. Jakarta: Trans Info Madia

Achjar, K. A. H.(2010).Aplikasi Praktis Asuhan Keperawatan Keluarga Bagi Mahasiswa Keperawatan dan Praktis
Perawatan Perkesmas. Jakarta:Sagung Seto

Padila.(2012). Buku Ajar Keperawatan Keluarga. Yogyakarta:Nuha Medika

www. medicastore. com. (2003).