Anda di halaman 1dari 5

UJIAN AKHIR SEMESTER

PROGRAM STUDI MAGISTER (S2) PARIWISATA


MATA KULIAH: SOSIOLOGI PARAIWISATA
HARI/TANGGAL: SELASA, 28 MEI 2019
DOSEN PENGAMPU: PROF. DR. A.A NGR ANOM KUMBARA, MA

SOAL-SOAL UJAN
1. Jelaskan relevansi dan sumbangan sosiologi terhadap ilmu pariwisata!
2. Jelaskan domain aspek-aspek sosiolgis studi pariwisata
3. Buat analisis kasus fenomena pariwisata dengan mengaplikasikan satu teori
sosiologi yang saudara anggap relevan dengan kasus yang dimaksud !.
4. Perkembangan pariwisata meniscayakan munculnya paradoks-paradoks di
dalamnya secara ekologis, sosiologis, dan kultural. Jelaskan dan beri contoh
analisis kasus-kasus; apa maksud dari pernyataan tersebut, mengapa
demikian?

Keterangan:
jawban soal dikerjakan di rumah dalam waktu 1 hari sejak soal diterima
oleh karya siswa. Jawaban dibuat dalam bentuk tulis tangan disetor ke
bagian akademik pada jam kerja. Keterlambatan menyetor jawaban akan
berakibat adanya pengurangan nilai.

+selamat bekerja+

1. Pendekatan sosiologis tentang pariwisata mencoba melihat hubungan antara


kekuatan (potensi) pariwisata, yaitu orang, kelompok, organisasi/badan usaha
kepariwisataan dan masyarakat serta objek dan daya tarik wisata, organisasi,
kelembagaan pemerintah juga mobilitas sosial yaitu kunjungan wisatawan ke
daerah-daerah tujuan wisata. Analisis terhadap kekuatan, mutu dan
karakteristik pelayanan wisata, organisasi, kelembagaan, interaksi sosial dari
lembaga pelayanan, serta permasalahan memiliki hubungan dengan sistem
pengembangan pariwisata. Kajian dan analisis sosiologis mengenai
kepariwisataan dilakukan melalui kegiatan mendeskripsikan, menjelaskan, dan
memahami hal-hal terkait fenomena, permasalahan maupun perkembangan
bidang kepariwisataan. Hubungan sosial dan peranan mereka, baik para
wisatawan maupun masyarakat berlangsung untuk memenuhi kepentingan
dan pencapaian tujuan bersama dilokasi berlangsungnya kegiatan
kepariwisataan. Oleh sebab itu, sosiologi memiliki relevansi dalam memahami
bidang kegiatan kepariwisataan. Konsep, teori dan analisisnya bisa membantu
menjelaskan fenomena dan permasalahan terkait kepariwisataan.
Adapun sumbangan sosiologi terhadap ilmu pariwisata dapat dilihat sebagai
berikut:
a. Sebagai bagian dari Sosiologi Migrasi (Sociology of Migration), karena
menyangkut perpindahan manusia dengan segala sebab dan akibatnya.
b. Sebagai bagian dari Sosiologi Bersenang-senang (Sociology of Leisure),
karena hakekatnya perjalanan wisatawan adalah untuk bersenang-senang.
c. Sebagai cabang tersendiri dari sosiologi, dikarenakan sifat, karakterisitik,
cakupan, maupun konsekuensi dari pariwisata sangat berbeda dari migrasi
pada umumnya, baik dari segi prilaku, motivasi, dan fantasi para pelaku
(migran dan wisatawan). Dan pengertian leisure juga terlalu luas yang
meliputi berbagai aktivitas yang dapat dilakukan tanpa melakukan
perjalanan wisata.
2. Domain aspek-aspek sosiologi pariwisata meliputi meliputi :
a. Motivasi Wisatawan, Motivasi merupakan hal yang sangat mendasar
dalam studi tentang wisatawan dan pariwisata, karena motivasi
merupakan “Trigger” dari proses perjalanan wisata, walau motivasi ini
acapkali tidak disadari secara penuh oleh wisatawan itu sendiri.
Social or interpersonal motivation yaitu motivasi yang bersifat sosial,
seperti mengunjungi teman dan keluarga, menemui mitra kerja,
melakukan hal-hal yang dianggap mendatangkan gengsi (Prestice),
melakukan ziarah, pelarian dari situasi yang membosankan dan
seterusnya.
b. Ciri-ciri demografis, sosial dan ekonomi, hal ini berkaitan erat dengan
mempelajari dinamika kependudukan manusia. Seseorang yang hendak
melakukan perjalanan wisata, terlebih dahulu wajib memahami kondisi
demografis wilayah yang akan didatangi. Di sisi lain, aspek sosial ekonomi
menjadi landasan seorang wisatawan dapat mengetahui kedudukan atau
posisi seseorang dalam kelompok masyarakat yang ditentukan oleh jenis
aktivitas ekonomi, pendidikan serta pendapatan. Pemahaman tentang
aspek ini dapat menunjang keberlangsungan kenyamanan dan keamanan
wisatawan itu sendiri saat berwisata yang di tempat yang dituju.
c. Tujuan kunjungan, aspek ini menjadi bagian penting dalam memandang
interaksi sosial wisatawan dengan warga lokal. Hal tersebut didasari oleh
beragam jenis tujuan kunjungan seorang wisatawan, ada dari segi ingin
bersantai, bersuka ria, rileks (lepas dari rutinitas); ingin mencari suasana
baru atau suasana lain; memenuhi rasa ingin tahu untuk menambah
wawasan; Ingin berpetualang untuk mencari pengalaman baru; hingga
mencari kepuasan dari yang sudah didapatkan. Dari faktor-faktor tersebut
seorang wisatawan sudah dapat memprediksikan interaksi sosial apa yang
akan terjadi nantinya sehingga dapat mempengaruhi lama tinggal,
aktivitas yang dilakukan di daerah tujuan wisata dan juga tingkat
kepuasan.
3. Salah satu teori dalam ilmu sosiologis, yiatu interaksi simbolik. Proses interaksi
dan komunikasi selalu mempertukarkan lambang-lambang simbolik yang
syarat dengan muatan makna. Dalam satu studi yang dilakukan oleh Sigit
Tripambudi, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, menemukan bahwa orang-
orang yang berkunjung ke Yogyakarta memaknai perbedaan etnik secara
dominan, yaitu sebagai keunikan dan kekayaan bangsa yang membedakan
bangsa Indonesia berbeda dengan bangsa-bangsa lainnya. Kondisi tersebut
menjadikan Indonesia rawan terhadap konflik antaretnis. Orang-orang yang
berkunjung di Yogyakarta yang berasal dari berbagai etnik suku masih ada
yang merasa diperlakukan secara diskriminatif. Mereka adalah para
pendatang yang berasal dari etnik yang secara ekstrim berbeda secara fisik.
Wisatawan yang datang dengan latar belakang suku berbeda dan memiliki
warna kulit berbeda pula ternyata berpengaruh terhadap pola interaksi antara
warga yang mayoritas dengan wisatawan yang minoritas.
4. Tidak dapat dipungkiri pengembangan pariwisata melahirkan beragam
paradoks serta ketimpang baik dari sisi ekologis, sosiologis maupun kultural.
Beragam paradoks tersebut dapat dilihat dalam kasus-kasus berikut:
a. Sisi Ekologis
Di Desa Senyubuk, Belitung, lubang sedalam 40 meter bekas tambang
timah sudah penuh terisi air. Warnanya hijau kebiru-biruan. Ia dikelilingi
bukit dengan jalan setapak. Open Pit Nam Salu begitu orang-orang
menyebutnya. Sejak 2014, Open Pit Nam Salu resmi menjadi destinasi
wisata. Di lokasi itu, para pengunjung tidak hanya sekadar bisa berfoto,
tetapi juga bermalam dan mendirikan tenda. Ia bahkan masuk dalam salah
satu destinasi Belitong Geopark. Warna air di lubang-lubang bekas
tambang memang tampak indah dan menarik. Ia seperti danau dengan air
berwarna biru kehijau-hijauan, tampak indah untuk difoto. Namun, airnya
bukan air biasa, ada logam berat dan zat asam tambang terkandung di
dalamnya. Dari sudut pandang lain, reklamasi seharusnya adalah upaya
yang dilakukan untuk mengembalikan lahan bekas tambang mendekati
kondisi awal. Bila sebelumnya kawasan tambang itu adalah hutan, maka
harus dikembalikan seperti hutan bukan malah mengundang wisatawan
untuk datang bersenang-senang yang nyatanya menyimpan banyak
persoalan.
b. Sisi Sosiologis
Salah satu dari dampak pariwisata, yaitu hadirnya pembangunan hotel,
apartemen bahkan ruang privat bagi para elit. Kurang cukupnya lahan
mengakibatkan para pengambil kebijakan harus berpikir kerar. Salah satu
upaya dari hal tersebut adalah reklamasi pantai seperti yang terjadi di
Teluk Jakarta. Alih-alih untuk mendapatkan keuntungan, tindakan ini
nyatanya menjadi paradoks tersendiri dari segi sosiologis. Reklamasi
mempengaruhi interaksi sosial di antara masyarakat. Masyarakat yang
berpenghasilan rendah akan tersisih, karena dengan penataan ruang,
maka akan berimplikasi pada nilai lahan maupun gaya hidup di wilayah
tersebut. Timbulnya kawasan hunian yang yang eksklusif tersebut tidak
diimbangi dengan peningkatan kemampuan ekonomi masyarakat lama.
Dampak negatif baik langsung atau tak langsung dari reklamasi seperti
terjadinya relokasi pemukiman khususnya masyarakat pantai, sebagai
akibat penataan kota, akan mengakibat perubahan kehidupan sosial dan
ekonomi. Masalah yang berhubungan dengan biota laut atau pantai di
atas juga dapat berimbas pada ekonomi nelayan. Matinya biota laut dapat
membuat ikan yang dulunya mempunyai sumber pangan menjadi lebih
sedikit sehiungga ikan tersebut akan melakukan migrasi ke daerah lain
atau kea rah laut yang lebih dalam. Dari hal ini tampak bahwa para
nelayan akan semakin sulit dalam mencari ikan.
c. Sisi Kultural
Pengembangan pariwisata Toraja dulunya sempat menimbulkan
bentrokan antara para pemimpin lokal Toraja dan pemerintah Provinsi
Sulawesi Selatan yang menjadi pengembang wisata, pada tahun 1985.
Delapan belas desa Toraja dan pemakaman tradisional dijadikan obyek
wisata yang dilindungi, sehingga masyarakat dilarang mengubah bentuk
rumah tongkonan dan pemakaman milik mereka. Masyarakat lokal mulai
merasa dieksploitasi secara kultural dan ritual serta tradisi mereka
dijadikan komoditas dan dirasa makin komersial lalu kehilangan esensinya.
Maka di tahun 1987 beberapa desa yang disebut sebagai obyek wisata pun
menutup diri dari wisatawan. Namun, isolasi diri tidak berlangsung lama,
bahkan hanya beberapa hari. Pasalnya penduduk sulit bertahan hidup
tanpa pendapatan dari penjualan suvenir lokal. Dengan arti lain
komersialisasi Tana Toraja tidak bisa dipandang seratus persen negatif,
karena efektif dalam meningkatkan kewirausahaan dan keberlanjutan
ekonomi lokal. Belum lagi, budaya yang menjadi atraksi utama menjadi
tuntutan bagi warga setempat untuk tetap mempertahankan adat
istiadatnya seotentik mungkin.

Dari beragam kondisi di atas dapat diketahui bahwa pariwisata juga dapat
menimbulkan sisi negatif dari sekdara memandang faktor ekonomi yang
melonjak sebagai tujuan. Sudah sebaiknya pariwisata mampu
menawarkan konsep wisata yang postif dari segi ekonomi namun tidak
mengesampingkan faktor ekologis, sosiologis dan juga kultural.