Anda di halaman 1dari 12

1

LEMBAGA PENDIDIKAN POLRI


SEKOLAH STAF DAN PIMPINAN MENENGAH

TOPIK :
PERKEMBANAN DEMOKRASI TERHADAP TUGAS POKOK POLRI
JUDUL :
OPTIMALISASI DETEKSI DINI INTELKAM POLRES X
GUNA MENCEGAH AKSI UNJUK RASA YANG ANARKIS DALAM PILKADA 2013
DALAM RANGKA TERWUJUDNYA KAMTIBMAS YANG KONDUSIF

I. PENDAHULUAN
1. Latar belakang.
Demokrasi yang baik dan sehat adalah suatu sistem demokrasi yang dijalankan dengan
tetap merujuk aturan atau koridor hukum yang berlaku. bukannya jalan sendiri-sendiri
alasannya, ini demokrasi, semua orang punya hak yang sama dan bebas melakukan apa saja,
akhirnya apa yang terjadi-bisa kita nilai langsung hasilnya. kerusuhan pilkada, arogansi
aparatur negara, korupsi, kolusi, abused of power, anarkhisme massa dan lain sebagainya,
semuanya berdalih demokrasi.
Maka disinilah terjadi bias demokrasi. tidak seperti apa yang didambakan, apa yang
diidamkan, dan apa yang dikehendaki semangat reformasi pada tahun 1998 ketika digulirkan
dulu.
Pada sisi yang lain pemahaman masyarakat terhadap demokrasi pasca reformasi telah
membias bahkan cenderung salah tafsir. Demokrasi yang seharusnya bermakna adalah
kekuasaan ditangan rakyat yang dengan menjunjung tinggi norma-norma hukum, sosial
budaya dan agama, malah bergeser kepada kebebasan yang tidak bisa tersentuh oleh hukum
mapun norma-norma lain yang diakui oleh masyarakat. Demokrasi yang seharusnya penuh
dengan kebebasan, toleransi, menghormati perbedaan, persamaan hak, persaudaraan, terbuka
dan tidak memaksakan kehendak, malah sekarang masyarakat pada faktanya mewujudkan
demokrasi menjadi kebebasan yang tidak terbatas, perbedaan menjadi sumber konflik,
keterbukaan menjadi sumber hujat menghujuat dan toleransi menjadi pemaksaaan kehendak.
Dengan kondisi demikian, pada tahun 2013 pemerintah daerah akan menyelenggarakan
pesta demokrasi politik yaitu pemilihan Kepada Daerah dan Wakil Daerah.
2

Pesta politik yang akan berlangsung pada tahun ini, banyak langkah-langkah yang
dilakukan oleh para pendukung calon Kepala daerah dan Wakil Kepala Daerah melalui
kendaraan partai politik sudah dimulai dari sekarang, “Mapping” (pemetaan) kekuatan yang
tidak hanya dilakukan terhadap sasaran politik formal saja seperti partai-partai politik, tokoh-
tokoh politik, LSM-Satgas yang dibentuk khusus oleh partai politik untuk mendukung partai-
partai politik tertentu, akan tetapi terhadap perkembangan politik informalpun seperti Ormas,
LSM non politik, komunitas masyarakat, tokoh-tokoh agama, budaya, adat dan lain-lain yang
mempunyai kekuatan massa telah menjadi incaran dari para pelaku politik formal.
Pesta demokrasi politik yang berarti semua kekuatan politik baik itu formal maupun
informal akan di pergunakan oleh masing-masing partai politik guna mencapai tujuan yang
telah diagendakan.
Banyak potensi-potensi yang ada dimasyarakat yang akan berdampak dari agenda pesta
politik Pilkada 2013 yang dilakukan oleh para politikus-politikus dari lembaga eksekutif,
legislatif maupun oleh para tim suksesi parta politik terhadap potensi masyarakat yang
menjadi objek dari perkembangan politik informal tersebut seperti Ormas-ormas, LSM,
Komunitas masyarakat, dan lembaga-lembaga informal lainnya. Pada umumnya potensi-
potensi masyarakat tersebut akan menjadi sasaran dari perkembangan politik informal. Oleh
karena itu, Polri harus dapat mensikapi perkembangan issu tersebut sehingga mulai dari
melakukan pemberdayaan melalui kerjasama pendekatan, koordinasi pembinaan dan lain-lain
dengan potensi masyarakat yang ada dalam rangka untuk mendukung tugas-tugas kepolisian
dalam rangka pengamanan Pilkada 2013.

2. Permasalahan.
Berdasarkan latar belakang pemikiran di atas, maka permasalahan yang akan dibahas
pada penulisan ini adalah optimalisasi pemberdayaan komunitas buruh guna mencegah aksi
unjuk rasa yang anarkis dalam rangka terselenggaranya Pilkada 2013
3. Pokok-pokok persoalan.
Merujuk pada permasalahan diatas, maka pokok-pokok persoalan yang akan dibahas
dalam tulisan ini adalah sebagai berikut :
a. Bagaimana kondisi SDM Sat Intelkam dalam pemberdayaan komunitas buruh?
b. Bagaimana sistem dan metode pemberdayaan komunitas buruh buruh?
4. Ruang Lingkup
Representasi penulisan naskah ini tentang optimalisasi pemberdayaan komunitas buruh
guna mencegah aksi unjuk rasa yang anarkis dalam rangka terselenggaranya Pilkada 2013,
3

ditinjau dari aspek sumber daya manusia dan sistem metode yang diterapkan khususnya pada
fungsi Sat Intelkam, selanjutnya secara proporsional difokuskan pada kesatuan Polres X.

II. PEMBAHASAN.
5. FAKTA-FAKTA.
Kegiatan dan aktifitas buruh di Wilayah Kab. X secara umum dapat berdampak
terhadap situasi Kamtibmas disebabkan permasalahan kesejahteraan para buruh maupun
permasalahan upah tahunan (UMK), dampak sosial yang terjadi dibidang Kamtibmas yaitu
pada tahun 2011 sebanyak 50 kasus unjuk rasa dan tahun 2012 sebanyak 40 kasus unjuk rasa,
dengan agenda dan permasalahan menyangkut masalah buruh, tenaga kerja, kebijakan bidang
ekonomi, politik dan lain-lain.
Jumlah buruh yang bekerja dalam bidang industri maupun perdagangan serta
pembangunan, maka jumlah buruh diwilayah hukum Polres X kurang lebih 98.512 orang
yang bergabung dalam 15 kelompok dan bernaung dalam satu koalisi yaitu koalisi Persatuan
Buruh.
Sumber daya manusia dan sistem dan metode dalam pemberdayaan buruh di Polres X
dengan indikator-indikator yang dimiliki antara lain sebagai berikut :
a. Sumber daya manusia
1) Kuantitas, jumlah personel Sat Intelkam secara rill 57 orang, sementara DSP 70
orang, jadi kekurangan personil sebanyak 13 orang termasuk 1 Pa, 10 Ba dan 3
orang PNS.
2) Kualitas.
a) Penunjukan LO secara melekat pada kelompok buruh yang ada di
Kabupaten X yang ada sebanyak 15 kelompok, setiap kelompok telah
ditunjuk satu anggota sebagai LO dari personel Sat intelkam.
b) Personel yang ditunjuk menjadi LO untuk komunitas buruh semuanya
berasal dari golongan Bintara yang ada di Polres X khususnya pada Sat
Intelkam.
b. Sistem dan metode pemberdayaan komunitas buruh
1) Pendekatan reaktif, jika ada moment atu even tertentu seperti Mayday, Pemilu
Kada dan Pemilu baru anggota / LO tersebut aktif, hal ini disebabkan karena
banyak tugas-tugas lain dan kurangnya controling yang dilakukan khususnya pada
saat kondisi aman
4

2) Komunikasi rutin dengan kelompok-kelompok buruh dilakukan secara rutin 3 bulan


satu kali dalam bentuk pertemuan seperti pelaksanaan makan bersama dirumah
makan yang disponsori pihak Polres.
3) Dalam membina hubungan dengan komunitas buruh Sat intelkam memberikan
prioritas dalam kemudahan pengurusan perijinan dan penerbitan SKCK baik bagi
individu buruh, keluarga besar para buruh bahkan masyarakat yang dalam proses
pengurusannya melewati komunitas buruh.

6. ANALISA.
Satuan Intelkam memiliki tugas pokok untuk melakukan deteksi terhadap segala
perubahan kehidupan sosial dalam masyarakat serta perkembangan di bidang Ipoleksosbud
untuk dapat menandai kemungkinan adanya aspek kriminogen, selanjutnya melakukan
identifikasi hakekat ancaman terhadap Kamtibmas1 . Tentunya untuk dapat melakukan
deteksi, Sat Intelkam harus memiliki bahan keterangan yang akurat untuk dapat melakukan
deteksi dini terhadap setiap gejala awal yang muncul dalam masyarakat. Bahan keterangan
tersebut salah satunya diperoleh dari jaringan intelijen yang dibentuk oleh anggota Sat
Intelkam. Namun demikian, tidak semua jaringan intelijen yang telah dibentuk dapat
memberikan kontribusi yang positif bagi Polri. Hal ini terjadi karena Polri belum dapat
menjalin kemitraan yang baik dan juga belum dapat memberdayakan jaringan intelijen dengan
baik. Dari sudut pandang fungsi Intelkam pengamanan dilakukan dalam bentuk kegiatan
pemberdayaan melalui giat monitoring, pembinaan, koordinasi, kerjasama dengan sasaran
individu, kelompok, organisasi, objek vital dan perusahaan vital. Sedangkan penggalangan
adalah kegiatan intelijen yang terdiri dari proses intelijen terhadap satu sasaran yang intinya
untuk merubah sasaran tersebut agar mau mengikuti keinginan sesuai dengan user melalui
suatu proses yang dilakukan secara terencana, dengan anggaran tertentu, waktu tertentu dan
personil tertentu.
Berdasarkan fakta-fakta tersebut diatas optimalisasi pemberdayaan komunitas buruh
guna mencegah unjuk rasa anarkis dalam rangka terselenggaranya Pilkada 2013, dapat
menganalisa sebagai berikut:
a. Sumber daya manusia
1) Kuantitas, jumlah personel Sat Intelkam secara rill 57 orang, sementara DSP 70
orang, jadi baru terpenuhi 81,42 %, dengan kekurangan tersebut sedikit banyak

1
Y. Wahyu Saronto, Jasir Karwita, Intelijen, Teori, Aplikasi dan Modernisasi, 2001
5

turut mempengaruhi dalam melaksanakan tugasnya dalam memberikan pelayanan


kepada masyarakat.

2) Kualitas
a) Kelompok yang mewadahi komunitas buruh di Polres X semuanya ada 15
kelompok, dimana setiap satu kelompok beranggotakan kurang lebih 2000
s/d 2500 buruh, dengan keterbatasan personel secara kuantitas dari Sat
Intelkam maka penunjukan LO untuk membina setiap perwakilan dari
kelompok buruh tersebut hanya baru mampu satu personel untuk setiap
kelompok. LO yang seharusnya melekat pada setiap kelompok tersebut
karena keterbatasan juga dalam pelaksanaanya tidak bisa melekat secara
optimal, sehingga perlu dukungan kekuatan pesonel untuk mengoptimalkan
peran LO dalam setiap kelompok buruh tersebut.
b) 15 Personel yang ditunjuk menjadi LO untuk komunitas buruh dari
golongan Bintara dan tidak ada dari golongan perwira. Perbedaan pangkat
dalam organisasi kepolisian menunjukan adanya perbedaan skill,
pengalaman dan wawasan sehingga kualitas LO yang melekat pada setiap
kelompok buruh tidak bisa optimal, ditambah lagi dengan beban pekerjaan
lain yang tidak hanya memfokuskan pada pemberdayaan komunitas buruh.

b. Sistem dan Metode Pemberdayaan Komunitas Buruh


1) Pendekatan reaktif adalah pola pendekatana yang tidak sesuai lagi dengan
paradigma baru Polri karena pendekatan reaktif cenderung bersifat pasif yaitu
reaksi akan timbul jika ada aksi. Oleh karena itu, didalam paradigma baru polri
pendekatan reaktif tidak lagi dominan, akan tetapi yang lebih dominan adalah
pendekatan proaktif sebagai wujud dari paradigma baru polri.
2) Kerjasama .
Semakin hari dinamika operasional tugas Polri semakin berat dan komplek.
Untuk membantu dan menghadapi itu semua Polri tidak dapat sendiri tetapi harus
melibatkan komponen formal dan informal yang ada dilingkungannya. Oleh
karena itu pola pengamanan dengan bentuk kerjasama yang dilakukan oleh Sat
Intel sangat tepat dalam mensikapi kekurangan dan keterbatasan yang dimiliki
oleh Polres x saat ini.
6

3) Komunikasi rutin.
Hal terpenting dalam komunikasi adalah tidak terbatas oleh waktu, jarak dan
tempat. Dalam melakukan komunikasi jangan hanya terpaku pada salah satu aspek
tersebut, akan tetapi ketiga aspek tersebut harus dapat terwujud didalam satu
kegiatan, sehingga esensi dari komunikasi yang berupa informasi-informasi
penting yang berhubungan dengan tugas kepolisian dapat tergali.
4) Terobosan kreatif yaitu menjadi konsultan dalam pemecahan masalah.
Pemberian prioritas bagi komunitas buruh khususnya dalam hal penerbitan
SKCK dan perijinan akan berdampak pada penilaian diskriminasi dari komponen
masyarakat lain, apalagi dalam penerbitan tersebut mengabaikan prosedur yang
sudah ada. Dalam rangka untuk menimbulkan kesan yang positif dan untuk
menimbulkan hubungan emosional antara masyarakat dan polri, maka polri
didalam mengemban tugasnya harus mampu bertindak adil tanpa diskriminasi
dengan berperan menjadi konselor dalam pemecahan masalah yang dihadapi oleh
masyarakat. Begitu juga halnya dengan komunitas buruh yang ada di polres x,
untuk menimbulkan ikatan emosional diantara komunitas buruh dan LO maka LO
harus mampu menjadi konsultan bagi komunitas tersebut dalam pemecahan
masalah.

7. UPAYA PEMECAHAN MASALAH.


Sesuai dengan agenda politik, pada tahun 2013 dalam menyelenggarakan pesta
demokrasi Pemilu Kada dan Wakil Kepala Daerah, kegiatan kegiatan yang dilakukan oleh
pelaku politik formal sudah mulai membias kepada individu, kelompok maupun organisasi
masyarakat sehingga mereka semua akan menjadi sasaran dari perkembangan politik
informal.2
Salah satu potensi masyarakat yang sangat rawan dari perkembangan politik informal
adalah komunitas buruh, khususnya profesi buruh yang memiliki kekuatan yang cukup besar,
hal ini akan menjadi sasaran prioritas dari lembaga politik formal untuk melakukan
pendekatan kepada mereka dengan berbagai cara dan janji-janji.
Adapun kerawanan yang akan timbul dari potensi komunitas buruh pada Pilkada
diantaranya adalah pemanfaatan komunitas buruh oleh lembaga/pelaku politik formal untuk
kepentingan masing-masing dari partai politik, sehingga sangat rawan terhadap konflik massa
berupa unjuk rasa anarkis atau perkelahian antar massa pendukung partai, sehingga perlu

2
Drs. Sumadi, MSi, makalah tentang perkembangan politik dan demokrasi di Indonesia.
7

pengamanan intelijen terhadap komunitas buruh melalui optimalisasi pemberdayaan


komunitas buruh sebagai berikut:
a. Sumber daya manusia.
Menurut A.F. Stoner manajemen sumber daya manusia adalah suatu prosedur
yang berkelanjutan yang bertujuan untuk memasok suatu organisasi atau perusahaan
dengan orang-orang yang tepat untuk ditempatkan pada posisi dan jabatan yang tepat
pada saat organisasi memerlukannya.
Sumber daya manusia merupakan asset terpenting Polri dalam menjalankan tujuan
Undang-Undang No.2Tahun 2002, pergelaran kekuatan sumber daya manusia
merupakan asset yang tidak mengalami penyusutan bila dikembangkan secara efektif
dan efisien3. Pada dasarnya setiap sumber daya manusia memiliki potensi untuk
memberikan kontribusi yang produktif bagi organisasi, namun kontribusi perlu
didukung oleh kuantitas dan kualitas dari sumber daya manusianya tersebut sehingga
dapat mendorong kinerja yang efektif dan efisien.
Pada satuan intelkam Polres x didapat fakta-fakta dalam dalam melakukan
kegiatan pengamanan dengan pola pemberdayaan komunitas buruh adalah sebagai
berikut :
1) Secara kuantitas memang jumlah personel Sat Intelkam masih kurang, dimana
Rillnya 57 personel sedangkan DSP adalah 70 personel. Kekurangan personel
didalam organisasi Polri merupakan permasalahan klasik oleh sebab itu
kekurangan personel harus disikapi secara proaktif diantaranya sebagai berikut:
a) Memanfaatkan personel Polres dari Bag/Sat/Sie diluar fungsi intel. Anggota
yang dilibatkan bukan sembarang anggota, tetapi harus anggota yang
mempunyai kompetensi. Begitu juga dengan perwiranya, perwira dapat
ditunjuk baik itu sebagai LO maupun sebagai pengendali LO.
b) Memanfaatkan jaringan intelijen yang telah terbina. Jaringan harus
masyarakat berprofesi buruh dan tidak mesti harus ketua kelompok buruh,
kenapa bukan ketua kelompok buruh saja? Pembentukan jaringan intel
bukanlah hal yang mudah, melalui satu proses intelijen dengan anggaran,
waktu dan personel yang telah ditentukan dan itu semua menjadi kendala
Sat Intelkam didalam pelaksanaanya dan juga untuk menghindari
kecemburuan dari kelompok buruh tertentu juga. Sebaiknya memanfaatkan
jaringan intelijen yang sudah terbentuk saja dari profesi buruh, kalau itu

3
Kantor Deputi SDM Kapolri, Buku Reformasi Berkelanjutan Institusi Polisi Republik Indonesia Bidang Sumber Daya Manusia
8

belum ada maka cukup dengan membuat jaringan intelijen baru dengan
sasaran profesi individu buruh. Hal ini akan sangat bermanfaat untuk
memonitor perkembangan situasi aktual yang terjadi dikalangan buruh baik
yang bersifat politik, ekonomi, sosial dan budaya.
2) Kualitas
Bagi personel Polres X yang ditunjuk sebagai LO dalam rangka untuk
mengamankan komunitas buruh harus memiliki kompetensi dengan cara
meningkatkan kualitas mereka, diantaranya:
a) Skill merupakan kemampuan seseorang untuk melakukan suatu aktifitas atau
pekerjaan yang berhubungan dengan individu Polri.
b) Knowledge, LO harus mempunyai pengetahuan khususnya terhadap
perkembangan issu-issu sosial, permasalahan-permasalahan sosial yang
sedang terjadi, sehingga akan selalu menjadi topik pembahasan didalam
komunitas tersebut sehingga komunitas buruh terbuka akan wawasan dan
pengetahuannya.
c) Meningkatkan keterampilan, keterampilan petugas LO dapat ditingkatkan
melalui pelatihan-pelatihan dan dikjur yang berhubungan dengan tugas-
tugas tehnis taktis kepolisian seperti dikjur negosiator, dikjur intel/ dikjur/
pelatihan Binmas dan lain sebagainya.

b. Sistem dan metode pemberdayaan komunitas buruh


Persoalan mendasar yang perlu dipecahkan dalam mengantisipasi persiapan dan
pelaksanaan Pemilukada, agar tidak mengakibatkan rusaknya sendi-sendi demokrasi
serta terganggunya keamanan dan ketertiban masyarakat, sebaliknya dapat menjadi
penyaluran berbagai perbedaan dengan cara-cara yang beradab tanpa kekerasan apalagi
kerusuhan massa serta menghasilkan pimpinan daerah yang berkualitas, sehingga
diperlukan upaya mengoptimalisasikan penyelidikan fungsi Intelijen guna menghadapi
Pemilukada dalam rangka mewujudkan stabilitas kamtibmas yang kondusif, adapun
sistem dan metode yang dilaksanakan sebagai upaya optimalisasi yaitu :
1) Pendekatan proaktif.
Pengamanan yang dilakukan oleh anggota Sat Intel terhadap kelompok-
kelompok komunitas buruh berbeda dengan pengamanan yang dilakukan oleh
Polri berseragam terhadap buruh. Polri berseragam pengamanan sesuai dengan
SOP yang telah ditentukan didalam MOP dan bersifat terbuka. Hal ini berbeda
9

dengan pengamanan Intel terhadap satu kegiatan atau organisasi, dimana


pengaman intel lebih cenderung berbentuk nonfisik dalam arti pengkondisian
objek yang diamankan sehingga dapat mendukung tugas-tugas kepolisian. Salah
satu pendekatan pengamanan yang dilakukan oleh LO terhadap komunitas buruh
adalah pendekatan proaktif. Pendekatan Proaktif beda dengan pendekatan reaktif,
karena pendekatan reaktif cenderung bersifat pasif yaitu reaksi akan timbul jika
ada aksi, sama halnya seperti pemadam kebakaran akan ada reaksi jika ada aksi
dari si jago merah. Oleh karena itu, didalam paradigma baru polri pendekatan
reaktif tidak lagi dominan, akan tetapi yang lebih dominan adalah pendekatan
proaktif sebagai wujud dari paradigma baru polri dengan upaya sebagai berikut:
a) Kunjungan/sambang. LO dapat melakukan komunikasi dengan para buruh
yang ada didalam wadah kelompok-kelompoknya dengan melakukan
kunjungan kerumah rumah tempat tinggal mereka dengan melihat secara
langsung kondisi rumah dan keluarganya atau bisa juga LO mengunjungi
tempat kerja para buruh sambil mengenali lingkungan kerja mereka, hal ini
akan sangat berdampak dalam menggali komunikasi khususnya unutk
meningkatkan hubungan emosional antara buruh dan LOnya.
b) Komunikasi yang proaktif tidak boleh terbatas oleh waktu, tempat dan jarak,
oleh karena itu LO harus mempunyai data yang lengkap tentang sarana
komunikasi yang dimiliki oleh buruh seperti telepon genggam sebagai
sarana komunikai pendukung, dengan kondisi ini tidak ada alasan hambatan
dalam hal menjalin komunikasi yang proaktif.
2) Kerjasama, yaitu terus menerus melakukan pendekatan dengan sasaran para
tokoh-tokoh buruh agar mereka terbuka wawasannya. Pendekatan-pendekatan
tersebut jangan dilakukan oleh LO saja akan tetapi langsung oleh Kapolres sambil
memberikan pencerahan terhadap wawasan para buruh yang selanjutnya secara
berkesinambungan ditindak lanjuti oleh para LO sehingga tidak terputus.
Penjelasan yang diberikan secara langsung oleh Kapolres dan juga pejabat polres
akan sangat berpengaruh terhadap respons buruh
3) Pertemuan
a) Pertemuan rutin seperti arisan bulanan di kalangan komunitas buruh. Dalam
hal ini LO harus mendorong agar komunitas buruh mau membuat
pertemuan rutin diantara mereka dalam bentuk arisan atau lain-lain. Kalau
pertemuan rutin intern mereka sudah ada maka LO harus wajib hadir dalam
10

setiap pertemuan tersebut dan setiap pertemuan jangan sekedar hadir akan
tetapi harus ada warna yang bisa dirasakan oleh komunitas buruh tersebut.
Oleh sebab itu sebelum LO menghadiri acara pertemuan rutin tersebut
terlebih dahulu melapor kepada kapolres dan kasat intel untuk memohon
arahan atau petunjuk sehingga misi-misi dari Polres bisa disampaikan begitu
juga issu-issu penting yang perlu dikomunikasikan dalam forum terbuka
dalam acara tersebut tidak salah.
b) Pertemuaan insidentil, yaitu dalam pertemuan ini maka yang menjadi
fasilisator harus dari pihak Polres x dengan bentuk acara olah raga bersama
dan kalau perlu kegiatan bakti sosial bersama dalam rangka memperingati
hari-hari besar nasional dan juga HUT Polri dengan bentuk pengobatan
gratis, sunatan massal dan lain-lain.
4) Terobosan kreatif yaitu menjadi konsultan dalam pemecahan masalah.
a) Diharapkan LO dapat berperan sebagai konselor yang baik dalam mencari
pemecahan masalah didalam lingkungan komunitas buruh
b) Mampu menjadi konsultan bagi komunitas tersebut dalam pemecahan
masalah dengan komunitas buruh yang ada di Polres x, untuk menimbulkan
ikatan emosional diantara komunitas buruh dan LO maka LO.
c) Dalam rangka untuk menimbulkan kesan yang positif dan untuk
menimbulkan hubungan emosional antara masyarakat dan Polri, maka Polri
didalam mengemban tugasnya harus mampu bertindak adil tanpa
diskriminasi dengan berperan menjadi konselor dalam pemecahan masalah
yang dihadapi oleh masyarakat.

III. PENUTUP
8. Kesimpulan.
a. Sumber daya manusia yang dimiliki untuk memberdayakan potensi buruh saat ini masih
dirasakan kurang optimal karena .keterbatasan personel secara kuantitas dari Sat
Intelkam, LO yang seharusnya melekat pada setiap kelompok karena keterbatasan
pelaksanaanya tidak bisa berjalan optimal, ditambah lagi dengan beban pekerjaan lain
sehinga tidak fokus pada pemberdayaan komunitas buruh, oleh sebab itu upaya yang
dilakukan harus disikapi secara proaktif antara lain Memanfaatkan personel polres dari
Bag/Sat/Sie diluar fungsi intel, memanfaatkan jaringan intelijen yang telah terbina dan
11

secara kualitas yaitu diharapkan personel memiliki kompetensi dengan cara


meningkatkan kualitas mereka.
b. Penerapan sistem dan metode yang dilakukan saat ini masih kurang optimal karena
selama ini pendekatan yang dilakukan bersifat reaktif, namun sisi baiknya yaitu
memberikan prioritas kemudahan pengurusan perijinan dan penerbitan SKCK, untuk
lebih mengoptimalkan pemberdayaan buruh, maka upaya yang dilakukan antara lain
pendekatan proaktif, kunjungan/sambang, komunikasi yang proaktif, kerjasama,
pertemuan rutin, pertemuaan insidentil, maupun terobosan kreatif sebagai konsultan
dalam pemecahan masalah yang dihadapi para buruh.

9. Rekomendasi.
Agar menunjuk personel Polres X untuk mengikuti pendidikan dan kejuruan yang
berhubungan dengan tugas-tugas tehnis taktis kepolisian seperti dikjur negosiator, dikjur intel,
dikjur pelatihan Binmas dan lain sebagainya, personel tersebut nantinya dijadikan sebagai LO
yang memiliki kualifikasi dan kompetensi, rencana tersebut agar dikoordinasikan dengan
pihak Biro SDM Polda Y.
12
DAFTAR PUSTAKA

1. Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, Sinar Grafika
Jakarta 2002.
2. Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2010 tentang Susunan
Organisasi dan Tata Kerja pada Tingkat Kepolisian Resort dan Kepolisian Sektor;
3. Ceramah / kuliah perkembangan politik dan demokrasi, kepada peserta didik Sespimmen Polri
Dikreg Ke-53 T.A. 2013, Lembang, Juli 2013.