Anda di halaman 1dari 8

Jurnal Common | Volume 1 Nomor 2 | Desember 2017

KOMUNIKASI SEBAGAI PENYEBAB DAN SOLUSI KONFLIK SOSIAL


M. Ali Syamsuddin Amin

Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Komputer Indonesia, Jalan
Dipatiukur

m.ali.syamsudin@email.unikom.ac.id

Abstract

Communication is an important element in social life. Although communication often leads to social conflict, but its
settlement through communication as well. What communication is the cause of the conflict, and what kind of
communication is the solution to the conflict, and what are the dominant elements of communication required to
achieve harmony in competition ?. The purpose of the three permaslah assessment is expected to find information that
is expected to be useful to predict the effect of communication that will occur when implementing communications in
various fields of life, both local and global. Through literature study methods from various writings from books,
articles, and other scientific papers, obtained various information as an analysis of the causes and solutions of social
conflicts and the dominant elements needed in communicating. Communication that is based on personal and group
ambitions can foster various biases, inconsistencies that lead to misunderstanding, misinterpretation and
miscommunication. Inconsistent causes the growth of social conflict both horizontal and vertical. Consistent
communication on the values of togetherness brings peace and at the same time becomes a solution to social conflict.

Keywords: Communication, social conflict, consistency, peace.

Abstrak

Komunikasi merupakan unsur penting dalam kehidupan sosial. Meskipun komunikasi sering menimbulkan konflik
sosial, tetapi penyelesaianya pun melalui komunikasi juga. Komunikasi yang bagaimana yang menjadi penyebab
konflik, dan komunikasi yang bagaimana yang menjadi solusi konflik, serta unsur dominan apa yang dibutuhkan
komunikasi agar dapat mencapai kehamonian dalam persaingan? Tujuan dari kajian tiga permasalahan tersebut
diharapkan dapat menemukan informasi yang diharapkan dapat berguna untuk memrediksi efek komunikasi yang akan
terjadi ketika melaksanakan komunikasi di berbagai lapangan kehidupan, baik lokal maupun global. Melalui metode
studi literatur dari berbagai tulisan, baik dari buku, artikel, maupun tulisan ilmiah lainnya, diperoleh berbagai informasi
sebagai bahan analisis penyebab dan solusi dari konflik sosial serta unsur dominan yang dibutuhkan dalam
berkomunikasi. Komunikasi yang banyak disandarkan kepada ambisi pribadi dan kelompok dapat menumbuhkan
berbagai bias, sifat inkonsisten yang mengakibatkan salah pengertian, salah interpretasi, dan salah berkomunikasi.
Inkonsisten menyebabkan tumbuhnya konflik sosial, baik bersifat horizontal maupun vertikal. Komunikasi yang
konsisten pada nilai-nilai kebersamaan menumbuhkan kedamaian dan sekaligus menjadi solusi bagi konflik sosial.

Kata kunci: komunikasi, konflik sosial, konsistensi, kedamaian.

101
Jurnal Common | Volume 1 Nomor 2 | Desember 2017

1. Pendahuluan sosial. Namun komunikasi juga dapat


meredakan ketegangan, bahkan mencegah
1.1 Latar Belakang konflik sosial. Dengan demikian timbul
Dalam setiap kehidupan sosial sering permasalahan sebagai berikut: (1)
terjadi konflik sosial. Konflik senantiasa Komunikasi yang bagaimana yang menjadi
melekat pada setiap orang. Oleh karena itu penyebab konflik sosial? (2) Komunikasi
konflik selalu terjadi, baik dalam lingkup yang bagaimana yang dapat berperan sebagai
kecil dan sederhana seperti keluarga, solusi dari konflik sosial? (3) Unsur dominan
tetangga, teman sepermainan, kelompok apa yang dapat dilibatkan dalam
orgnisasi atau instansi, maupun pada lingkup berkomunikasi agar kehidupan sosial
yang lebih besar seperti pada setiap mencapai kedamaian dalam persaingan?
komunitas, masyarakat, negara sampai pada
hubungan internasional. Konflik sosial
1.3 Tujuan dan Kegunaan Penulisan
mewarnai komunikasi dalam segenap aspek
Tulisan ini diharapkan dapat memberikan
interakasi manusia dan struktur sosial, bahkan
informasi untuk memrediksi efek komunikasi,
sampai pada pertikaian terbuka, seperti
baik dari komunikator, pesan, media, maupun
perang, revolusi, pemogokan dan gerakan
komunikan. Informasi tersebut dapat
perlawanan.
digunakan pada setiap komunikasi di berbagai
Perspektif konflik sebagai konsep untuk
tingkatan sistem sosial guna terciptanya
menggeneralisasi berbagai analisis yang
kehidupan sosial yang damai dan harmoni.
menggunakan pendekatan konflik.
Pendekatan ini menjelaskan bukan hanya
suatu tatanan sosial terpelihara meskipun di 1.4 Metode Penulisan
dalamnya terdapat kesenjangan, namun juga Metode yang digunakan dalam tulisan ini
bagaimana struktur sosial menjalani adalah studi literatur dengan meramu berbagai
perubahan. Pendekatan konflik memandang sumber informasi, baik dari buku maupun
organisasi, masyarakat, negara, bahkan dunia tulisan-tulisan para ahli di dalam jurnal,
sebagai ajang pertandingan individu dan internet, maupun media sosial lainnya.
kelompok untuk menentukan siapa
pemenangnya, atau siapa yang terbaik.
2. Pembahasan
Komunikasi dibangun dalam rangka
mewujudkan karakter persaingan atau
2.1 Komunikasi Penyebab Konflik Sosial
ketidaksesuaian. Pemaksaan atau koersif
dipandang sebagai cara utama bagi setiap Kuper (2000: 156), memandang
orang untuk mencapai ambisinya. Namun di bahwa “Pada umumnya para ilmuwan sosial
lain pihak diasumsikan pula bahwa setiap berusaha memahami jenis konflik yang
manusia tidak ingin di dominasi atau dikuasai berlangsung dalam konteks hubungan saling
secara paksa, sehingga setiap kali ada tergantung dan hubungan pertukaran yang
pemaksaan akan selalu terjadi perlawanan melembaga.” Hubungan saling
(lihat Adam Kuper & Jesika Kuper, dalam ketergantungan memerlukan konsistensi
Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial, 2000, hal 1555- berupa fenomena yang teratur yang
1556). Komunikasi yang dibangun untuk memungkinkan untuk diprediksi. Konsistensi
memaksa, mendominasi, serta menghinakan tersebut menjadi dasar bagai pengembangan
orang lain akan selalu menuai perlawanan. semua ilmu. Severin & James (2001 : 155)
menyatakan bahwa konsep umum tentang
1.2 Permasalahan konsistensi mendasari semua ilmu. Konsep
Komunikasi sering menimbulkan konsistensi dalam perilaku manusia adalah
kesalahpahaman yang menimbulkan konflik perpanjangan dunia fisika ke dalam area

102
Jurnal Common | Volume 1 Nomor 2 | Desember 2017

perilaku manusia. Banyak manusia berupaya Komunikator penyebab inkonsisten,


untuk dapat konsisten dalam beberapa cara banyak variasi penyebab inkonsisten
seperti dalam bersikap, berperilaku, bahkan meskipun selalu terjadi kemiripan. Karakter
bersikap dan berperilaku dalam persepsi kita komunikator yang abisius untuk disanjung,
tentang dunia, tentang seseorang, tentang untuk selalu berada di atas orang lain dan
ambisi, bahkan tentang perkembangan menganggap orang lain selalu rendah di
kepribadian. Manusia mengatur dunianya hadapnnya. Paksaan dan dominasi menjadi
dengan cara berkomunikasi yang menurutnya alat mencapai harapannya. Wujud harapannya
masuk akal dan bemakna. berupa ketamakan atau keserakahan.
Namun, dalam berkomunikkasi itulah Athailah, menyatakan bahwa tidak akan
manusia sering mengedepankan ambisinya. berkembang penyakit pada seseorang kecuali
Sedangkan ambisi lebih banyak tidak di atas biji ketamakan. Dari ketamakan
konsisten, bahkan sering merekayasa akal pejabat terseret ke penjara, orang tidak
sehatnya demi harapan nafsunya. beriman menjadi perampok, penipu, mafia,
Pengembangan ambisi semacam itulah yang dan kejahatan lainnya. Pesan-pesan dari
menggerakkan komunikasi menjadi bersifat koruptor pemilik karakter buruk berkaitan erat
inkonsistensi, emosioanal, dan sentimental, dengan isi pesan yang hendak disampaikan,
shingga tidak lagi rasional dan banyak tujuan, serta media atau sarana yang
menimbulkan salah pengertian. Komunikasi digunakan. Hal tersebut dapat dianalisis dari
yang menimbulkan salah pengertian inilah komunikator yang berada di penjara
yang menjadi penyebab konflik sosial mengendalikan peredaraan narkoba di luar
berkembang di berbagai lingkungan penjara. Banyak contoh komunikasi dalam
kehidupan, di keluarga, di lingkungan kehidupan sehari-hari seperti dalam kasus
tetangga, di kelompok teman sepermainan di pilkada, pemilu, bahkan dalam pemilihan
lingkunan kerja, di instansi, di komunitas, kepemimpinan setiap organisasi, partai,
masyarakat, dan negara, bahkan antarnegara. ormas, instansi, selalu ditemukan komunikasi
Ambisi induvidu dalam pengembangannya yang dibangun bersifat inkonsisten.
menyeret individu lain hingga terbentuk Komunikator ambisius telah mewarnai pesan
ambisi kelompok yang memiliki kesamaan dan media yang inkonsisten yang
berhadapan dengan ambisi kelompok yang menyebabkan kegaduhan dan
tidak memiliki kesamaan perspektif. ketidakharmonisan yang pada akhirnya
Komunikasi inkonsisten bisa terjadi pada menjadi konflik horizontal dan vertikal.
unsur komunikator, bisa juga dari pesan yang Demikian juga konflik pada tataran negara-
disampaikan atau bisa juga terjadi pada negara di dunia, seperti di Timur Tengah
komunikan. Berdasarkan Analisis R.D. Nye, hancur karena komunikator, pesan, dan media
terdapat lima sumber penyebab konflik massa dan sarana kominikasi lainnya yang
dalam hubungan interpersonal yaitu: (1) inkonsisten.
Kompetisi; (2) Dominasi; (3) Kegagalan; (4) Pesan sebagai penyebab konflik pada
Provokasi; (5) Perbedaan Nilai (dalam umumnya para ilmuwan sosial berpendapat
Rakhmat,1985 hal. 146). Komunikator yang bahwa sumber konflik sosial adalah
memiliki sikap tertutup dapat menimbulkan hubungan-hubungan sosial dengan pesan
konflik sebagai berikut: (1) Menilai pesan yang menghasilkan berbagai efek komunikasi,
berdasarkan motif pribadi; (2) Berpikir baik terencana maupun tidak terencana,
Simplistis; (3) Berorientasi pada sumber; (4) seperti pesan politik, dan pesan ekonomi.
Mencari informasi dari sumber sendiri; (5) Mereka jarang menyoroti sifat dasar biologis
Secara kaku mempertahankan dan membela manusia sebagai penyebabnya. Ross (1993)
diri atau membela sistem kepercayaan; (6) menyatakan berbagai kondisi sosial yang
Tidak mampu membiarkan inkonsistensi dihadapi salah satu pihak yang terlibat dalam

103
Jurnal Common | Volume 1 Nomor 2 | Desember 2017

suatu konflik biasanya sudah cukup untuk seseorang marah-marah hanya karena
mengungkap terjadinya pertentangan. mencium aroma tidak sedap dari orang yang
Penyebab pertentangan dapat di telusuri atas ada di sebelahnya. Sebuah kasus pada acara
dasar tingkat organisasi, dan atas dasar tingkat makan bersama di restoran seorang kepala
kekompakannya, bahkan juga atas dasar sekolah memandangi seorang guru terus-
tujuan, dan cara yang digunakan. Konflik atas menerus dan berlanjut kepada pengalihan
dasar tujuan dapat dibedakan antara konflik mata pelajaran terhadap guru lain, karena
konsensual dengan konflik dissensual. waktu makan memakai jaket kulit, yang
Konflik konsensual adalah konflik yang dipandang kepala sekolah kurang etis. Efek
terjadi karena merebutkan sesuatu yang dari peristiwa itu terjadi konflik
bernilai materi sedangkan konflik dissensual berkepanjangan yang mengakibatkan guru
adalah konflik yang didasarkan pada sutu tersebut pindah tempat bekerja. Dari kasus
tujuan yang dianggap bernilai immateri. tersebut dapat di pahami bahwa isyarat-isyarat
Konflik berdasarkan cara yang digunakan nonverbal bisa dikatakan mengomunikasikan
sangat bervariasi, mulai dari pemaksaan informasi mengenai emosi, ucapan,
terang-terangan, ancaman, sampai dengan perbedaan-perbedaan individual dan
bujukan, misalnya bujukan dari partai-partai hubungan-hubungan antarpribadi. Kuper dkk.
politik pada saat pemilihan umum, atau pada (2000), memandang arti penting isyarat-
pemimpin yang ingin menanamkan isyarat nonverbal dalam mengomunikasikan
kekuasaannya. emosi berasal dari observasi-observasi.
Media sebagai penyebab konflik, Darwin (1872) berpendapat bahwa ekspresi-
terutama media massa sering menyebabkan ekspresi emosi melalui wajah merupakan
berkembanganya masalah-masalah sosial bagian dari respons alamiah, adaptif, dan
yang menyeret pada konflik, dan citra buruk fisiologis. Pemikiran mutakhir sangat
pada kognisi masyarakat juga terhadap media dipengaruhi oleh model “neuro-kultural” dari
massa itu sendiri. Efek dari media massa Ekman. (Ekman (1972), Ekman dan Friesen
membentuk proses perubahan sosial. Bungin (1986) menyatakan, menurut model itu, emosi
(2006: 91) memandang perubahan sosial dasar yang memiliki ekspresi alamiah bisa
sebagai perubahan yang di alami oleh dimodifkasi melalui pembelajaran atas apa
anggota masyarakat serta semua unsur budaya yang disebutnya sebagai kaidah pertunjukan
dan sistem sosial, pada semua tingkat (display rules), yakni norma-norma yang
kehidupan, baik secara sukarela maupun mengatur ekspresi emosi dalam konteks sosial
dipengaruhi oleh unsur-unsur eksternal. yang beragam. Ekspresi alamiah melalui
Kemudian meninggalkan pola-pola wajah bersifat alamiah sekaligus juga dapat
kehidupan, budaya, sistem sosial lama, dan dipelajari.
menyesuaikan diri atau menggunakan pola- Komunikasi nonverbal berkaitan
pola kehidupan, budaya dan sistem sosial dengan ucapan. Gerak isyarat pada dasarnya
yang baru. Dalam proses peralihan inilah merupakan tambahan dari ucapan yang
sumber-sumber konflik mendapat penguatan digunakan sebagai alat untuk mengelaborasi
potensial melalui komunikasi, baik pesan lisan atau sebagai pengganti bila
komunikasi verbal maupun komunikasi ucapan itu sulit atau tidak mungkin di
nonverbal. ucapkan. Kendon (1985) yang menunjukkan
Konflik sosial tampak pada ekspresi bahwa gerak isyarat sebagai cara ekspresi
muka, kontak mata, mata molotot, posisi visual tidak bersuara memiliki sifat-sifat yang
tubuh, gerak isyarat (gesture) dan jarak sangat berbeda dari ucapan, sehingga
antarpribadi. Sering terjadi kontak fisik konsekwensinya gerak isyarat memadai untuk
disebabkan berkembangnya konflik menyampaikan tugas-tugas komunikasi
nonverbal. Bahkan, sering juga terjadi tertentu. Sebuah ilustrasi ketika dua orang

104
Jurnal Common | Volume 1 Nomor 2 | Desember 2017

anak SD di kelas beradu mulut saling memaki dikomunikasikan. Komunikasi dapat menjadi
yang kemudian diketahui oleh guru kelasnya pemicu lakhirnya konflik, namun komunikasi
dan kedua-duanya di marahi, dengan juga dapat menjadi benteng untuk mencegah
sembunyi-sembunyi walau kepala menunduk konflik terjadi; (5) Media massa ikut terlibat
karena takut oleh gurunya, namun anak yang dalam pusaran konflik melalui pemberitaan
merasa berani sekali-kali dia memoloti yang cenderung menambah parah konflik
temannya sambil berusaha menunjukkan alih-alih membantu agar konflik cepat
kepalan tangannya. Kepalan tangan anak berakhir; (6) Hal ini tidak lebih dikarenakan
tersebut menyampaikan informasi penting paradigma lama yang masih dipakai oleh
mengenai perbedaan individu dan hubungan insan pers, yaitu, bad news is good news. (7)
antarpribadi. Pandangan ini memberikan Pemerintah cenderung menggunakan
makna bahwa gerak isyarat seharusnya tidak pendekatan hard power (kekuatan militer)
dianggap lebih rendah dari ucapan, melainkan dalam menyelesaikan konflik horizontal di
sebagai sumber tambahan, dari komunikasi Indonesia, sedangkan masyarakat butuh
multisaluran yang memberi kemungkinan pendekatan yang lebih humanis (manusiawi)
lebih jauh kepada pembicara terlatih untuk dan mengutamakan dignity (martabat); (8)
menyampaikan makna. Kepalan tangan yang Tidak tuntasnya penyelesaian konflik oleh
ditunjukkan merupakan sumber informasi pemerintah, sehingga menyisakan residu
yang penting dipahami karena dapat seperti dendam dan ketidakadilan. Keadaan
meningkatkan konflik ucapan kepada konflik tersebut sewaktu-waktu akan muncul sebagai
fisik yang lebih membahayakan. pemicu konflik di masyarakat.
Fakhrimal, menyimpulkan hasil Hasil Penelitian Lamira, menyatakan
penelitiannya bahwa: (1) Konflik merupakan bahwa konflik yang terjadi di berbagai daerah
ancaman bagi keharmonisan kehidupan di Indonesia menunjukan, antara lain,
masyarakat, bahkan ia menjadi ancaman bagi kurangnya kemampuan pemerintah dalam
disintegrasi bangsa. Konsekuensi logis dari mengatasi penyebab terjadinya konflik.
bangsa plural seperti Indonesia adalah Konflik muncul dengan menggunakan
tumbuh suburnya konflik horizontal di simbol-simbol etnis, agama, dan ras. Hal ini
masyarakat; (2) Konflik horizontal terjadi akibat adanya akumulasi “tekanan”
merupakan bentuk ekspresi ketimpangan secara mental, spritual, politik, sosial, budaya,
sosial yang diwariskan oleh rezim Orde Baru. dan ekonomi yang dirasakan oleh sebagian
Meskipun dalam tataran luar selama Orde masyarakat. Komunikasi yang dilakukan oleh
Baru konflik nyaris tidak ada dan kondisi para pegawai memiliki peranan yang sangat
keamanan nasional terkendali, namun potensi penting dalam fungsi jabatan setiap informan
konflik tetap tertanam dan menunggu untuk mencapai tujuan organisasi di Dinas
pemicunya saja; (3) Ketidakpuasan elit politik Bina Marga tersebut. Faktor-faktor penyebab
terhadap hasil kompetisi yang berlangsung terjadinya konflik yang didapat dari informan
menjadi salah satu faktor pendorong seperti keterbatasan sumber, yakni seorang
terjadinya konflik horizontal, sehingga informan tidak mengetahui informasi-
cenderung mamanfaatkan isu sara (suku, informasi baru, sehingga timbul suatu
agama, ras, antargolongan) sebagai masalah atau tujuan yang berbeda, yakni
pelampiasan kepentingan yang tidak pendapat atau pemikiran seseorang tidak sama
terakomodasi; (4) Banyak faktor yang dengan yang lainnya merupakan suatu
menyebabkan konflik horizontal dapat masalah yang harus diselesaikan secara
terjadi, akan tetapi yang palaing penting dari bijaksana. Mereka mengatasinya dengan cara
semua itu adalah komunikasi. Mengikuti berdiskusi atau memberikan motivasi yang
sebuah pameo, komunikasi bukanlah baik terhadap lainnya, sehingga masalah
segalanya, namun segalanya perlu tersebut cepat terselesaikan.

105
Jurnal Common | Volume 1 Nomor 2 | Desember 2017

Kurangnya kemampuan memahami terhadap penetapan Ibukota Kabupaten Buton


problematika yang timbul dari efek pesan Utara dilakukan melalui: (a) pendekatan
yang sering bias dan tidak utuh, karena celling effect dalam rangka mensejajarkan
keterbatasan yang ada menimbulkan informasi dan komunikasidi masyarakat; (b)
miskomunikasi, misinterpretasi, dan pendekatan narrow casting dalam rangka
misunderstanding yang sulit dikendalikan merangsang keterlibatan masyarakat secara
menyebabkan terjadinya konflik. Kurangnya aktif dalam setiap proses komunikasi; (c)
kemampuan mengomunikasikan penyebab pemanfaatan saluran tradisional dengan cara
konflik dapat menimbulkan berbagai tekanan melibatkan tokoh masyarakat kharismatik dan
dalam berbagai sektor kehidupan. tradisi budaya yang merupakan bagian dari
sikap dan perilaku dalam masyarakat; dan (d)
menciptakan mekanisme keikutsertaan
2.2 Komunikasi sebagai Solusi Konflik
khalayak, yaitu mekanisme komunikasi
Sosial?.
partisipasi yang dilakukan dengancara
Konflik horizontal dapat dimakanai mengikutsertakan (partisipasi)
sebagai konflik sosial yang melibatkan masyarakat/khalayak dalam setiap aktivitas
gesekan sebagai efek dari komunikasi yang komunikasi. Keseluruhan pendekatan tersebut
tidak sehat, atau tidak berlangsung bertujuan menyelesaikan konflik sehubungan
sebagaimana mestinya sehingga menimbulkan dengan penempatan Ibukota Kabupaten Buton
pertentangan, bahkan pertempuran antar Utara. Namun dalam praktiknya tidak satu
masyarakat. pun pendekatan resolusi konflik yang
Hasil penelitian Hidayat (2010) diimplementasikan oleh pemerintah
menunjukkan bahwa komunikasi antarpribadi Kabupaten Buton Utara.
berperan dalam menyelesaikan konflik pada Upaya penyelesaian konflik dapat
hubungan persahabatan remaja SMU Negeri 7 dilakukan melalui komunikasi dengan cara
Medan. Hal ini terbukti dengan cara mereka negosiasi. Negosiasi merupakan keterampilan
melakukan komunikasi antarpribadi dengan yang digunakan setiap orang dalam kehidupan
sikap kesediaan membuka diri, rasa empati sehari-hari. Fisher (2001:115) menyatakan,
yang tinggi terhadap sahabatnya, sikap saling negosiasi merupakan suatu proses terstruktur
mengahargai, sikap positif dan mendukung yang digunakan oleh pihak yang berkonflik
terhadap sahabatnya. Maka, komunikasi untuk melakukan dialog tentang isu-isu di
antarpribadi efektif yang terjalin dapat mana masing-masing pihak memiliki
dijadikan solusi dalam menyelesaikan pendapat yang berbeda. Tujuan negosiasi
masalah pada suatu hubungan persahabatan. yang untuk mencari klarifikasi tentang isu-isu
Hasil penelitian Latif (2012) atau masalah-masalah dan mencoba mencari
menyimpulkan dalam penelitianya yang kesepakatan tentang cara penyelesaiannya.
berjudul “Strategi Komunikasi dalam Negosiasi ini pada prinsipnya dilakukan
Penyelesaian Konflik Buton Utara,” sebagai dengan pihak-pihak pembuat keputusan dan
berikut: (1) Iklim komunikasi yang kebijakan agar keputusan dan kebijakan yang
berlangsung antara pihak pemerintah dikeluarkan sesuai dengan kepentingan
Kabupaten Buton Utara dengan masyarakat bersama dan dapat menyelesaikan konflik
menunjukan keadaan yang kurang baik karena yang selama ini terjadi. Penyelesai konflik
penerapan strategi kemunikasi yang tidak melallui komunikasi dapat juga dilakukan
tepat. Hali ini terlihat dari (a) komunitas dan melalui mediasi. Moelino (2003: 99)
frekuensi komunikasi antara pemerintah menyatakan, perundingan dengan mediasi,
dengan masyrakat sangat minim; (b) suasana yakni melalui suatu proses perundingan
komunikasi yang tercipta selalu dalam dengan bantuan pihak ketiga (mediator)
suasana disharmonis. (2) Resulusi konflik sebagai penengah. Mediasi merupakan proses

106
Jurnal Common | Volume 1 Nomor 2 | Desember 2017

penyelesaian konflik melalui perantara, yaitu berkomunikasi. Konsistensi bersifat normatif,


kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh pihak memandu proses komunikasi kepada efek
ketiga, yang tidak terlibat dalam sengketa, ideal yang menjadi harapan semua manusia
untuk membantu para kelompok yang dalam berinteraksi sosial. Oleh karena itu,
bersengketa. konsistensi merupakan unsur dominan yang
harus selalu terlibat dalam berkomunikasi
yang membangun kehidupan sosial yang
2.3 Unsur Dominan yang harus Terlibat
damai dalam persaingan.
Langsung dalam Berkomunikasi
Dari diskusi pembahasan di atas, baik
komunikasi sebagai penyebab konflik 3. Kesimpulan
maupun komunikasi sebagai solusi konflik Dari pembahasan tersebut di atas dapat
dapat ditarik kesimpulan bahwa diperlukan disimpulkan bahwa dalam kehidupan sosial
adanya unsur dominan yang selalu terlibat selalu terjadi kedamaian dan konflik sosial
dalam setiap komunikasi di mana pun dan yang disebabkan oleh komunikasi yang
siapa pun serta pada tingkat apa pun agar berlangsung di berbagai lapangan kehidupan
komunikasi tersebut memberi manfaat dari yang paling sederhana sampai kepada
kedamaian dalam persaingan pada semua yang paling kompleks. Kedamaian terjadi
pihak yang berkumunikasi, khususnya dan karena komunikasi yang bersifat konsisten
pada kenyamanan kehidupan umat manusia terhadap norma-norma sosial tertinggi.
pada umumnya. Adapaun unsur dominan Sedangkan konflik sosial selalu terjadi karena
yang harus selalu terlibat itu adalah komunikasi yang bersifat inkonsisten
konsistensi. Severin dkk. (2005: 156) terhadap norma-norma sosial dan selalu
menyatakan bahwa “teori konsistensi menimbulkan keadaan yang tidak seimbang.
mengakui usaha-usaha manusia untuk Keadaan tidak seimbang menghasilkan
rasional, tetapi dalam mencapainya kita sering ketegangan dan ketegangan menciptakan
menunjukkan irasionalitas yang mencolok.” konflik sosial.
Hal tersebut menunjukkan adanya kekuatan
irasional mewarnai usaha setiap manusia.
4. Rekomendasi
Kekuatan irasiosional sifatnya tidak
Untuk menciptakan kehidupan sosial yang
terhingga, karena itu kekuatan rasio tidak
damai, harmonis, dan memiliki kohesivenis
akan mampu mencapainya. Kekuatan
tinggi dalam kehdiupan sosial dipelukan
irasional hanya dapat dicapai melalui
komunikasi yang konsisten baik pada
keyakinan atau keimanan. Keimanan
komunikator, pesan mendia, maupun
memberikan makna hakikat hidup, serta
komunikan, melibatkan nilai-nilai
mengarahkan kehidupan kepada nilai
kebersamaan. Untuk itu, disarankan agar
kehidupan tertinggi secara konsisten. Severin
komunikasi diciptakan secara konsisten dan
dkk. (2005: 155) menyatakan bahwa kita
selalu menghindari komunikasi yang bersifat
menggunakan rasionalisasi sebagai upaya
inkonsisten, yang diwarnai ambisi pribadi
untuk menjelaskan perilaku tidak rasional
atau kelompok.
dengan cara yang rasional atau konsisten pada
diri kita sendiri. Kita sering menggunakan
alat-alat yang mungkin tampaknya tidak Daftar Pustaka
rasional atau tidak konsisten bagi orang lain.
Bungin, Burhan H.M. 2006. Sosiologi
Konsistensi adalah menyakini Komunikasi, Jakarta, Kencana Prenada
kekuatan irasional secara rasional, melalui Media Group.
segala sesuatu yang bersifat fisik dan nonfisik
pada setiap perilaku manusia dalam

107
Jurnal Common | Volume 1 Nomor 2 | Desember 2017

Darwin Charles, 1872. Dalam Kuper Adam Persahabatan Remaja SMU Negeri 7
dkk., 2000. Ensiklopedi Ilmu – Ilmu Medan.” Artikel PDF.
Sosial, Divisi Buku Perguruan Tinggi,
Jakarta, PT RajaGrafindo Persada. Latif, Fauzn, 2012. “Strategi Komunikasi
dalam Penyelesaian Konflik Buton
Ekman ,1972. Dalam Kuper Adam dkk., Utara.
2000. Ensiklopedi Ilmu – Ilmu Sosial,
Divisi Buku Perguruan Tinggi, Lamria, Maria. Tth. “Analisa terhadap
Jakarta, PT RajaGrafindo Persada. Terjadinya Konflik Horizontal di
Kalimantan Barat.” Jurnal Hukum
Ekman dan Friesen, 1986. Dalam Kuper Humaniter
Adam dkk., 2000. Ensiklopedi Ilmu –
Ilmu Sosial, Divisi Buku Perguruan Kuper Adam & Kuper Jessica, 2000.
Tinggi, Jakarta, PT RajaGrafindo Ensiklopedi Ilmu-Ilmu Sosial, Divisi
Persada. Buku Perguruan Tinggi, Jakarta, PT
RajaGrafindo Persada.
Fisher S., Jawed L., Steve W., Dekha I. A.,
Richard S. dan Sue W. 2001. Ross, M.H, 1993. The Culture of Conflict,
Mengelola Konflik, Keterampilan dan New Haven, CT.
Strategi untuk Bertindak. The British
Council Indonesia. Jakarta. Saverin. J. Warner & Tankard, Jr. W. James,
2005. Teori Komunikasi Sejarah,
Hidayat, Rizki Putra, 2010. “Peran Merode dan Terapan di dalam Media
Komunikasi Antarpribadi sebagai Massa, Terj. Sugeng Heryanto,
Soludi Konflik pada Hubungan Jakarta, Kencana Prenada Media

108

Anda mungkin juga menyukai