Anda di halaman 1dari 27

A.

KONSEP DASAR PENYAKIT


1. DEFINISI HIV/AIDS
Menurut Departemen Kesehatan (2014), HIV atau Human Immunodeficiency Virus
adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia yang kemudian
berdampak pada penurunan sistem kekebalan tubuh sehingga menimbulkan satu penyakit
yang disebut AIDS. HIV menyerang sel-sel darah putih yang dimana sel-sel darah putih
itu merupakan bagian dari sitem kekebalan tubuh yang berfungsi melindungi tubuh dari
serangan penyakit.

AIDS merupakan bentuk paling hebat dari infeksi HIV, mulai dan kelainan ringan dalam
respon imun tanpa tanda dan gejala yang nyata hingga keadaan imunosupresi dan
berkaitan dengan berbagai infeksi yang dapat membawa kematian dan dengan kelainan
malignitas yang jarang terjadi. (Centre for Disease Control and Prevention)

2. EPIDEMIOLOGI HIV/AIDS
AIDS pertama dikenal sebagai gejala entitas klinis yang aneh pada tahun 1981;
namun secara retrospektif dapat dilacak kembali bahwa kasus AIDS secara terbatas telah
muncul selama tahun 1970-an di AS dan di beberapa bagian di dunia (Haiti, Afrika,
Eropa). Akhir 1999, lebih dari 700.000 kasus AIDS dilaporan di AS. Walaupun AS
tercatat mempunyai kasus AIDS terbesar, estimasi kumulatif dan angka tahunan AIDS di
negara-negara sub- Sahara Afrika ternyata jauh lebih tinggi.
Di seluruh dunia, WHO memperkirakan lebih dari 13 juta kasus (dan sekitar 2/3
nya di negara-negara sub-Sahara Afrika) terjadi pada tahun 1999. Di AS, distribusi kasus
AIDS disebabkan oleh faktor “risk behavior” yang berubah pada dekade yang lalu.
Walaupun wabah AIDS di AS terutama terjadi pada pria yang berhubungan sex dengan
pria, angka pertambahan terbesar di laporkan pada pertengahan tahun 1990-an terjadi
diantara wanita dan populasi minoritas. Pada tahun 1993 AIDS muncul sebagai penyebab
kematian terbesar pada penduduk berusia 25 - 44 tahun, tetapi turun ke urutan kedua
sesudah kematian yang disebabkan oleh kecelakaan pada tahun 1996. Namun, infeksi
HIV tetap merupakan kasus tertinggi penyebab kematian pada pria dan wanita kulit hitam
berusia 25 - 44 tahun.
Penurunan insidens dan kematian karena AIDS di Amerika Utara sejak
pertengahan tahun 1990 antara lain karena efektifnya pengobatan antiretroviral,
disamping upaya pencegahan dan evolusi alamiah dari wabah juga berperan. HIV/AIDS
yang dihubungkan dengan penggunaan jarum suntik terus berperan dalam wabah HIV
terutama dikalangan kaum minoritas kulit berwarna di AS. Penularan heteroseksual dari
HIV di AS meningkat secara bermakna dan menjadi pola predominan dalam penyebaran
HIV di negara-negara berkembang. Kesenjangan besar dalam mendapatkan terapi
antiretroviral antara negera berkembang dan negara maju di ilustrasikan dengan
menurunnya kematian karena AIDS pertahun di semua negara maju sejak pertengahan
tahun 1990-an dibandingkan dengan meningkatnya kematian karena AIDS pertahun di
sebagian besar negara berkembang yang mempunyai prevalensi HIV yang tinggi.
Di AS dan negara-negara barat, insidens HIV pertahunnya menurun secara
bermakna sebelum pertengahan tahun 1980-an dan tetap relatif rendah sejak itu. Namun,
di beberapa negara sub-Sahara Afrika yang sangat berat terkena penyakit ini, insidens
HIV tahunan yang tetap tinggi hampir tidak teratasi sepanjang tahun 1980 dan 1990-an.
Negara-negara di luar Sub-Sahara Afrika, tingginya prevalensi HIV (lebih dari 1%) pada
populasi usia 15 - 49 tahun, ditemukan di negara-negara Karibia, Asia Selatan dan Asia
Tenggara. Dari sekitar 33.4 juta orang yang hidup dengan HIV/AIDS pada tahun 1999
diseluruh dunia, 22.5 juta diantaranya ada di negara-negara sub-Sahara Afrika dan 6,7
juta ada di Asia Selatan dan Asia Tenggara, 1,4 juta ada di Amerika Latin dan 665.000 di
AS. Diseluruh dunia AIDS menyebabkan 14 juta kematian, termasuk 2,5 juta di tahun
1998. HIV-1 adalah yang paling tinggi; HIV-2 hanya ditemukan paling banyak di Afrika
Barat dan di negara lain yang secara epidemiologis berhubungan dengan Afrika Barat.
3. ETIOLOGI HIV/AIDS
Penyebab penyakit AIDS adalah HIV yaitu virus yang masuk dalam kelompok retrovirus
yang biasanya menyerang organ-organ vital sistem kekebalan tubuh manusia. Penyakit ini
dapat ditularkan melalui penularan seksual, kontaminasi patogen di dalam darah, dan
penularan masa perinatal.

1. Faktor risiko untuk tertular HIV pada bayi dan anak adalah :
a) bayi yang lahir dari ibu dengan pasangan biseksual,
b) bayi yang lahir dari ibu dengan pasangan berganti,
c) bayi yang lahir dari ibu atau pasangannya penyalahguna obat intravena,
d) bayi atau anak yang mendapat transfusi darah atau produk darah berulang,
e) anak yang terpapar pada infeksi HIV dari kekerasan seksual (perlakuan salah seksual),
dan
f) anak remaja dengan hubungan seksual berganti-ganti pasangan.

2. Cara Penularan
Penularan HIV dari ibu kepada bayinya dapat melalui:
a) Dari ibu kepada anak dalam kandungannya (antepartum)
Ibu hamil yang terinfeksi HIV dapat menularkan virus tersebut ke bayi yang dikandungnya.
Cara transmisi ini dinamakan juga transmisi secara vertikal. Transmisi dapat terjadi melalui
plasenta (intrauterin) intrapartum, yaitu pada waktu bayi terpapar dengan darah ibu.
b) Selama persalinan (intrapartum)
Selama persalinan bayi dapat tertular darah atau cairan servikovaginal yang mengandung
HIV melalui paparan trakeobronkial atau tertelan pada jalan lahir.
c) Bayi baru lahir terpajan oleh cairan tubuh ibu yang terinfeksi
Pada ibu yang terinfeksi HIV, ditemukan virus pada cairan vagina 21%, cairan aspirasi
lambung pada bayi yang dilahirkan. Besarnya paparan pada jalan lahir sangat dipengaruhi
dengan adanya kadar HIV pada cairan vagina ibu, cara persalinan, ulkus serviks atau vagina,
perlukaan dinding vagina, infeksi cairan ketuban, ketuban pecah dini, persalinan prematur,
penggunaan elektrode pada kepala janin, penggunaan vakum atau forsep, episiotomi dan
rendahnya kadar CD4 pada ibu.
Ketuban pecah lebih dari 4 jam sebelum persalinan akan meningkatkan resiko transmisi
antepartum sampai dua kali lipat dibandingkan jika ketuban pecah kurang dari 4 jam sebelum
persalinan.
d) Bayi tertular melalui pemberian ASI
Transmisi pasca persalinan sering terjadi melalui pemberian ASI (Air susu ibu). ASI
diketahui banyak mengandung HIV dalam jumlah cukup banyak. Konsentrasi median sel
yang terinfeksi HIV pada ibu yang tenderita HIV adalah 1 per 10 4 sel, partikel virus ini
dapat ditemukan pada componen sel dan non sel ASI. Berbagai factor yang dapat
mempengaruhi resiko tranmisi HIV melalui ASI antara lain mastitis atau luka di puting, lesi
di mucosa mulut bayi, prematuritas dan respon imun bayi. Penularan HIV melalui ASI
diketahui merupakan faktor penting penularan paska persalinan dan meningkatkan resiko
tranmisi dua kali lipat.
3. Transmisi infeksi HIV/AIDS terdiri dari 5 fase yaitu :
a. Periode jendela. Lamanya 4 minggu sampai 6 bulan setelah infeksi. Tidak ada gejala
b. Fase infeksi HIV primer akut. Lamanya 1-2 minggu dengan gejala flu likes illness
c. Infeksi asimtomatik . Lamanya 1-15 atau lebih tahun dengan tidak adanya gejala
d. Supresi imun simtomayik. Diatas 3 tahun dengan gejala demam,keringat malam hari,
BB menurun, diare, neuropati, lemah, rash, limfadenopati, lesi mulut.
e. AIDS. Lamanya bervariasi antara 1-5 tahun dari kondisi AIDS pertama kali ditegakan.
Didapatkan infeksi oporturnis berat dan tumor pada berbagai sistem tubuh, dan
manifestasi neurologist.

4. KLASIFIKASI
Terdapat dua definisi tentang AIDS, yang keduanya dikeluarkan oleh Centers for Disease
Control and Prevention (CDC). Awalnya CDC tidak memiliki nama resmi untuk penyakit
ini; sehingga AIDS dirujuk dengan nama penyakit yang berhubungan dengannya,
contohnya ialah limfadenopati. Para penemu HIV bahkan pada mulanya menamai AIDS
dengan nama virus tersebut.[47][48] CDC mulai menggunakan kata AIDS pada bulan
September tahun 1982, dan mendefinisikan penyakit ini.[49]Tahun 1993, CDC
memperluas definisi AIDS mereka dengan memasukkan semua orang yang jumlah sel T
CD4+ di bawah 200 per µL darah atau 14% dari seluruh limfositnya sebagai pengidap
positif HIV.[50] Mayoritas kasus AIDS di negara maju menggunakan kedua definisi
tersebut, baik definisi CDC terakhir maupun pra-1993. Diagnosis terhadap AIDS tetap
dipertahankan, walaupun jumlah sel T CD4+ meningkat di atas 200 per µL darah setelah
perawatan ataupun penyakit-penyakit tanda AIDS yang ada telah sembuh.
Klasifikasi Stadium Klinis HIV AIDS Menurut WHO
Klasifikasi Stadium klinis WHO
Asimtomatik 1
Ringan 2
Sedang 3
Berat 4

Stadium Klinis WHO untuk Bayi dan Anak yang Terinfeksi HIV a, b

Stadium klinis 1
 Asimtomatik
 Limfadenopati generalisata persisten

Stadium klinis 2
 Hepatosplenomegali persisten yang tidak dapat dijelaskana
 Erupsi pruritik papular
 Infeksi virus wart luas
 Angular cheilitis
 Moluskum kontagiosum luas
 Ulserasi oral berulang
 Pembesaran kelenjar parotis persisten yang tidak dapat dijelaskan
 Eritema ginggival lineal
 Herpes zoster
 Infeksi saluran napas atas kronik atau berulang (otitis media, otorrhoea, sinusitis,
tonsillitis )
 Infeksi kuku oleh fungus

Stadium klinis 3
 Malnutrisi sedang yang tidak dapat dijelaskan, tidak berespons secara adekuat
terhadap terapi standara
 Diare persisten yang tidak dapat dijelaskan (14 hari atau lebih ) a
 Demam persisten yang tidak dapat dijelaskan (lebih dari 37.5o C intermiten atau
konstan, > 1 bulan) a
 Kandidosis oral persisten (di luar saat 6- 8 minggu pertama kehidupan)
 Oral hairy leukoplakia
 Periodontitis/ginggivitis ulseratif nekrotikans akut
 TB kelenjar
 TB Paru
 Pneumonia bakterial yang berat dan berulang
 Pneumonistis interstitial limfoid simtomatik
 Penyakit paru-berhubungan dengan HIV yang kronik termasuk bronkiektasis
 Anemia yang tidak dapat dijelaskan (<8g/dl ), neutropenia (<500/mm3) atau
trombositopenia (<50 000/ mm3)

Stadium klinis 4b
 Malnutrisi, wasting dan stunting berat yang tidak dapat dijelaskan dan tidak
berespons terhadap terapi standara
 Pneumonia pneumosistis
 Infeksi bakterial berat yang berulang (misalnya empiema, piomiositis, infeksi tulang
dan sendi, HIV/AIDS, kecuali pneumonia)
 Infeksi herpes simplex kronik (orolabial atau kutaneus > 1 bulan atau viseralis di
lokasi manapun)
 TB ekstrapulmonar
 Sarkoma Kaposi
 Kandidiasis esofagus (atau trakea, bronkus, atau paru)
 Toksoplasmosis susunan saraf pusat (di luar masa neonatus)
 Ensefalopati HIV
 Infeksi sitomegalovirus (CMV), retinitis atau infeksi CMV pada organ lain, dengan
onset umur > 1bulan
 Kriptokokosis ekstrapulmonar termasuk HIV/AIDS
 Mikosis endemik diseminata (histoplasmosis, coccidiomycosis)
 Kriptosporidiosis kronik (dengan diarea)
 Isosporiasis kronik
 Infeksi mikobakteria non-tuberkulosis diseminata
 Kardiomiopati atau nefropati yang dihubungkan dengan HIV yang simtomatik
 Limfoma sel B non-Hodgkin atau limfoma serebral
 Progressive multifocal leukoencephalopathy

5. TANDA DAN GEJALA


Dimulai dari beberapa minggu sampai beberapa bulan sebelum timbulnya infeksi
oportunistik :
1. Demam
2. Malaise
3. Keletihan
4. Keringat Malam
5. Penurunan BB
6. Diare Kronik
7. Limfadenopati
8. Kandidiasis Oral
Atau bisa juga dibagi menjadi 2 tanda dan gejala:
Gejala mayor :

 Demam berkepanjangan lebih dari 3 bulan


 Diare kronis lebih dan 1 bulan berulang maupun terus menerus
 Penurunan berat badan lebih dan 10% dalam 3 bulan ( 2 dan 3 gejala utama ).

Gejala minor

 Batuk kronis selama 1 bulan


 Infeksi pada mulut dan tenggorokan disebabkan jamur candida albican
 Pembengkakan kelenjar getah bening diseluruh tubuh yang menetap
 Munculnya herpes zosters berulang
 Bercak – bercak dan gatal- gatal diseluruh tubuh

6. PATOFISIOLOGI
HIV secara khusus menginfeksi limfosit dengan antigen permukaan CD4, yang
bekerja sebagai reseptor viral. Subset limfosit ini, yang mencakup limfosit penolong dengan
peran kritis dalam mempertahankan responsivitas imun, juga meperlihatkan pengurangan
bertahap bersamaan dengan perkembangan penyakit. Mekanisme infeksi HIV yang
menyebabkan penurunan sel CD4.
HIV secara istimewa menginfeksi limfosit dengan antigen permukaan CD4, yang
bekerja sebagai reseptor viral. Subset limfosit ini, yang mencakup linfosit penolong dengan
peran kritis dalam mempertahankan responsivitas imun, juga memperlihatkan pengurangan
bertahap bersamaan dengan perkembangan penyakit.
Mekanisme infeksi HIV yang menyebabkan penurunan sel CD4 ini tidak pasti,
meskipun kemungkinan mencakup infeksi litik sel CD4 itu sendiri; induksi apoptosis melalui
antigen viral, yang dapat bekerja sebagai superantigen; penghancuran sel yang terinfeksi
melalui mekanisme imun antiviral penjamu dan kematian atau disfungsi precursor limfosit
atau sel asesorius pada timus dan kelenjar getah bening. HIV dapat menginfeksi jenis sel
selain limfosit.
Infeksi HIV pada monosit, tidak seperti infeksi pada limfosit CD4, tidak
menyebabkan kematian sel. Monosit yang terinfeksi dapat berperang sebagai reservoir virus
laten tetapi tidak dapat diinduksi, dan dapat membawa virus ke organ, terutama otak, dan
menetap di otak. Percobaan hibridisasi memperlihatkan asam nukleat viral pada sel-sel
kromafin mukosa usus, epitel glomerular dan tubular dan astroglia. Pada jaringan janin,
pemulihan virus yang paling konsisten adalah dari otak, hati, dan paru. Patologi terkait HIV
melibatkan banyak organ, meskipun sering sulit untuk mengetahui apakah kerusakan
terutama disebabkan oleh infeksi virus local atau komplikasi infeksi lain atau autoimun.
Infeksi HIV biasanya secara klinis tidak bergejala saat terakhir, meskipun “ priode
inkubasi “ atau interval sebelum muncul gejala infeksi HIV, secara umum lebih singkat pada
infeksi perinatal dibandingkan pada infeksi HIV dewasa. Selama fase ini, gangguan regulasi
imun sering tampak pada saat tes, terutama berkenaan dengan fungsi sel B;
hipergameglobulinemia dengan produksi antibody nonfungsional lebih universal diantara
anak-anak yang terinfeksi HIV dari pada dewasa, sering meningkat pada usia 3 sampai 6
bulan.
Ketidakmampuan untuk berespon terhadap antigen baru ini dengan produksi
imunoglobulin secara klinis mempengaruhi bayi tanpa pajanan antigen sebelumnya,
berperang pada infeksi dan keparahan infeksi bakteri yang lebih berat pada infeksi HIV
pediatrik. Deplesi limfosit CD4 sering merupakan temuan lanjutan, dan mungkin tidak
berkorelasi dengan status simtomatik. Bayi dan anak-anak dengan infeksi HIV sering
memiliki jumlah limfosit yang normal, dan 15% pasien dengan AIDS periatrik mungkin
memiliki resiko limfosit CD4 terhadap CD8 yang normal. Panjamu yang berkembang untuk
beberapa alasan menderita imunopatologi yang berbeda dengan dewasa, dan kerentanan
perkembangan system saraf pusat menerangkan frekuensi relatif ensefalopati yang terjadi
pada infeksi HIV anak.
7. WOC

8. PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan umum: composmetis, stupor, semi koma, koma.
Ekspresi wajah, penampilan ( berpakaian)
b. Tanda-tanda vital meliputi: suhu, nadi, pernapasan. Tekanan darah
c. Antropometri meliputi: panjang badan, berat badan, lingkar lengan atas, lingkar kepala,
lingkar dada, lingkar abdomen.
d. Head To Toe
1) Kulit : Pucat dan turgor kulit agak buruk
2) Kepal dan leher : Normal tidak ada kerontokan rambut, warna hitam dan tidak ada
peradangan
3) Kuku : Jari tabuh
4) Mata / penglihatan :Sklera pucat dan nampak kelopak mata cekung
5) 5) Hidung :Tidak ada Peradangan, tidak ada reaksi alergi, tidak ada polip, dan fxungsi
penciuman normal
6) 6) Telinga :Bentuk simetris kanan/kiri, tidak ada peradangan, tidak ada perdarahan
7) Mulut dan gigi: Terjadi peradangan pada rongga mulut dan mukosa, terjadi Peradangan
dan perdarahan pada gigi ,gangguan menelan(-), bibir dan mukosa mulut klien nampak
kering dan bibir pecah-pecah.
8) Leher: Terjadi peradangan pada eksofagus.
9) Dada : dada masih terlihat normal
10) Abdomen : Turgor jelek ,tidak ada massa, peristaltik usus meningkat dan perut mules dan
mual.
11) Perineum dan genitalia : Pada alat genital terdapat bintik-bintik radang
12) Extremitas atas/ bawah : Extremitas atas dan extremitas bawah tonus otot lemah akibat
tidak ada energi karena diare dan proses penyakit.
11 Pola Fungsi GORDON
a. Pola persepsi dam manajemen kesehatan
Pada kasus ini klien dan keluarga tidak mengerti bahwa seks bebas dan kehamilan dengan
ibu pengindap dapat menyebabkan penyakit yang berbahaya, seperti penyakit yang sedang
diderita klien. perawat perlu mengkaji bagaimana klien memandang penyakit yang
dideritanya, apakah klien tau apa penyebab penyakitnya sekarang?
b. Pola nutrisi dan metabolic
Biasanya pada pasien terdapat bising usus hiperaktif; penurunan berat badan: parawakan
kurus, menurunnya lemak subkutan/massa otot; turgor kulit buruk; lesi pada rongga mulut,
adanya selaput putih dan perubahan warna; kurangnya kebersihan gigi, adanya gigi yang
tanggal; edema. Pada kasus pasien ini mengalami penurunan BB sejak 2 bulan yang lalu.
c. Pola eliminasi
Biasanya pasien mengalami Diare intermitten, terus menerus dengan/tanpa nyeri tekan
abdomen, lesi/abses rektal/perianal, feses encer dan/tanpa disertai mukus atau darah, diare
pekat, perubahan jumlah, warna, dan karakteristik urine. Pada kasus pasien ini sudah 1 bulan
mengalami diare berat.
d. Pola latihan /aktivitas
Biasaya pada pasien HIV Massa otot menurun, terjadi respon fisiologis terhadap aktivitas
seperti perubahan pada tekanan darah, frekuensi denyut jantung, dan pernafasan. Pada kasus
ini pasien hanya terbaring lemah diatas tempat tidurnya dan mengalami sesak nafas.
e. Pola istirahat tidur
Pasien diduga mengalami gangguan tidur dikarenakan klien mengalami sesak nafas dan
batuk yang menetap.
f. Pola persepsi kognitif
Biasanya terjadi Perubahan status mental dengan rentang antara kacau mental sampai
dimensia, lupa, konsentrasi buruk, kesadaran menurun, apatis, retardasi psikomotor/respon
melambat. Ide paranoid, ansietas berkembang bebas, harapan yang tidak realistis. Timbul
refleks tidak normal, menurunnya kekuatan otot, gaya berjalan ataksia. Tremor pada motorik
kasar/halus, menurunnya motorik fokalis, hemiparase, kejang Hemoragi retina dan eksudat
(renitis CMV).
g. Pola persepsi diri
Biasanya pasien memiliki Perilaku menarik diri, mengingkari, depresi, ekspresi takut,
perilaku marah, postur tubuh mengelak, menangis, kontak mata kurang, gagal menepati janji
atau banyak janji.
h. Pola Koping dan toleransi stress
Biasanya pasien mengalami depresi dikarenakan penyakit yang dialaminya. Serta adanya
tekanan yang datang dari lingkungannya.
i. Pola peran hubungan
Biasanya pasien mengalami Perubahan pada interaksi keluarga/orang terdekat, aktivitas
yang tak terorganisasi, perobahan penyusunan tujuan.
j. Pola reproduksi seksual
Biasanya pasien mengalami Herpes, kutil atau rabas pada kulit genitalia.
k. Pola keyakinan
Pola keyakinan perlu dikaji oleh perawat terhadap klien agar kebutuhan spiritual klien data
dipenuhi selama proses perawatan klien di RS. kaji apakah ada pantangan agama dalam
proses pengobatan klien.

9. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK/PENUNJANG
Jenis pemeriksaan laboratorium HIV dapat berupa:

1. Uji Serologis
 Rapid test: reagen yang sudah dievaluasi oleh institusi yang ditunjuk
Kementerian Kesehatan, dapat mendeteksi baik antibodi terhadap HIV -1
maupun HIV-2.
 Enzyme immunoassay (EIA): untuk mendeteksi antibodi untuk HIV-1 dan
HIV-2
 Western Blot: konfirmasi pada kasus yang sulit
2. Uji Virologis dengan Polymerase Chain Reaction (PCR)
 HIV DNA kualitatif: untuk diagnosis pada bayi.
 HIV RNA kuantitatif : untuk memeriksa jumlah virus di dalam darah dan dapat
digunakan untuk pemantauan terapi ARV pada dewasa dan diagnosis pada bayi jika
HIV DNA tidak tersedia.
3. CD4: untuk mengukur status imunodefisiensi sebagai petunjuk dini progresivitas
penyakit karena jumlah CD4 menurun lebih dahulu dibandingkan kondisi klinis pas ien.
Pemantauan CD4 dapat digunakan untuk memulai pemberian ARV atau penggantian obat.
Pemeriksaaan untuk diagnosis HIV dilakukan dengan tes antibodi menggunakan strategi
III (pemeriksaan dengan menggunakan 3 jenis tes antibodi yang berbeda sensitivitas da n
spesivisitasnya). Kombinasi 3 reagen rapid testHIV dapat digunakan untuk tujuan
diagnosis. Reagen yang dipilih didasarkan pada sensitivitas dan spesifisitas tiap jenis
reagen. Untuk diagnosis pasien tanpa gejala harus menggunakan strategi III dengan
persyaratan reagen sebagai berikut :
 Sensitvitas reagen pertama ≥ 99%
 Spesifisitas reagen kedua ≥98% dan lebih tinggi dari spesifisitas reagen pertama
 Spesifisitas reagen ketiga ≥99% dan lebih tinggi dari spesifisitas reagen pertama
dan kedua
 Asal antigen atau prinsip tes dari reagen 1,2,dan 3 tidak sama
 Kombinasi reagen dengan hasil indeterminate ≤ 5%.
Interpretasi hasil dan tindak lanjutnya adalah sebagai berikut:

1. Positif: A1, A2, dan A3 reaktif


>>>Dirujuk untuk pengobatan HIV

2. Negatif:
 A1 non reaktif
 A1 reaktif, pengulangan A1 dan A2 non reaktif
 Salah satu reaktif, tapi tidak ada risiko
>>>Bila berisiko, dianjurkan pemeriksaan ulang minimum 3 bulan, 6 bulan dan 12 bulan
dari pemeriksaan pertama sampai satu tahun.

3. Indeterminate:
 dua tes reaktif
 1 tes reaktif dengan risiko atau pasangan berisiko
>>>Tes diulang 2 minggu lagi dengan sampel berbeda, jika tetap indeterminate, lanjutkan
dengan PCR
>>>Jika tidak ada PCR, rapid test diulang 3, 6, dan 12 bulan dari pemeriksaan yang
pertama. Jika sampai satu tahun hasil tetap indeterminate dan faktor risiko rendah, hasil
dapat dinyatakan sebagai negatif

10. PENATALAKSANAAN
1) Pengobatan suporatif :
Tujuan:
a) Meningkatkan keadaan umum pasien
b) Pemberian gizi yang sesuai
c) Obat sistomatik dan vitamin
d) Dukungan psikologis
2) Pengobatan infeksi oportunistik:
Infeksi:
a) Kandidiasis eosofagus
b) Tuberculosis
c) Toksoplasmosis
d) Herpes
e) Pcp
f) Pengobatan yang terkait AIDS, Limfoma malignum, Sarcoma Kaposi dan
Sarcoma Servik disesuaikan dengan terapi penyakit kanker.
Terapi:
a) Flikonasol
b) Rifampisin, INH,Etambutol, Pirazinamid, Stremptomisin
c) Pirimetamin, Sulfadiazine, Asam Folat
d) Asiklovir
e) Kotrimoksazol.
3) Pengobatan anti retro virus (ARV)
Tujuan:
a) Mengurangi kematian dan kesakitan
b) Menurunkan jumlah virus
c) Meningkatkan kekebalan tubuh
d) Mengurangi resiko penularan
11. KOMPLIKASI
1. Oral Lesi
Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis
Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral, nutrisi, dehidrasi, penurunan berat
badan, keletihan dan cacat. Kandidiasis oral ditandai oleh bercak-bercak putih seperti krim
dalam rongga mulut. Jika tidak diobati, kandidiasis oral akan berlanjut mengeni esophagus
dan lambung. Tanda dan gejala yang menyertai mencakup keluhan menelan yang sulit dan
rasa sakit di balik sternum (nyeri retrosternal).
2. Neurologik
a) Ensefalopati HIV atau disebut pula sebagai kompleks dimensia AIDS (ADC; AIDS
dementia complex). Manifestasi dini mencakup gangguan daya ingat, sakit kepala,
kesulitan berkonsentrasi, konfusi progresif, perlambatan psikomotorik, apatis dan
ataksia. stadium lanjut mencakup gangguan kognitif global, kelambatan dalam respon
verbal, gangguan efektif seperti pandangan yang kosong, hiperefleksi paraparesis
spastic, psikosis, halusinasi, tremor, inkontinensia, dan kematian.
b) HIV/AIDS kriptokokus ditandai oleh gejala seperti demam, sakit kepala, malaise, kaku
kuduk, mual, muntah, perubahan status mental dan kejang-kejang. diagnosis ditegakkan
dengan analisis cairan serebospinal.
3. Gastrointestinal
a) Wasting syndrome kini diikutsertakan dalam definisi kasus yang diperbarui untuk
penyakit AIDS. Kriteria diagnostiknya mencakup penurunan BB > 10% dari BB
awal, diare yang kronis selama lebih dari 30 hari atau kelemahan yang kronis, dan
demam yang kambuhan atau menetap tanpa adanya penyakit lain yang dapat
menjelaskan gejala ini.
b) Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan
sarcoma Kaposi. Dengan efek, penurunan berat badan, anoreksia, demam,
malabsorbsi, dan dehidrasi.
c) Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat illegal, alkoholik.
Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam atritis.
d) Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang
sebagai akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rektal, gatal-gatal
dan diare.
4. Respirasi
Pneumocystic Carinii. Gejala napas yang pendek, sesak nafas (dispnea), batuk-batuk,
nyeri dada, hipoksia, keletihan dan demam akan menyertai pelbagi infeksi oportunis, seperti
yang disebabkan oleh Mycobacterium Intracellulare (MAI), cytomegalovirus, virus influenza,
pneumococcus, dan strongyloides.
5. Dermatologik
Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena xerosis,
reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri, gatal, rasa terbakar, infeksi
sekunder dan sepsis. Infeksi oportunis seperti herpes zoster dan herpes simpleks akan disertai
dengan pembentukan vesikel yang nyeri dan merusak integritas kulit.
moluskum kontangiosum merupakan infeksi virus yang ditandai oleh pembentukan plak yang
disertai deformitas. dermatitis sosoreika akan disertai ruam yang difus, bersisik dengan
indurasi yang mengenai kulit kepala serta wajah.penderita AIDS juga dapat memperlihatkan
folikulitis menyeluruh yang disertai dengan kulit yang kering dan mengelupas atau dengan
dermatitis atopik seperti ekzema dan psoriasis.
6. Sensorik
a) Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva atau kelopak mata : retinitis
sitomegalovirus berefek kebutaan
b) Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan pendengaran dengan efek
nyeri yang berhubungan dengan mielopati, HIV/AIDS, sitomegalovirus dan reaksi-
reaksi obat.

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


A. Pengkajian
1. Identitas klien meliputi: nama/nama panggilan,tempat tanggal lahir/usia, jenis kelamin,
agama, paendidikan, alamat, tanggal masuk, tanggal pengkajian.
2. Identitas penanggungjawab
3. Keluhan Utama
Orangtua klien mengeluhkan anaknya batuk- batuk disertai sesak napas.
4. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien terus batuk – batuk sejak satu minggu yang lalu, kemudian dua hari yang lalu mulai
disertai sesak napas.klien juga terkena diare dengan frekuensi BAB cukup tinggi.sejak
semalam klien demam dan di perparah lagi klien tidak mau menyusu, karena itu orang tua
klien membawanya ke rumah sakit.
b. Riwayat Kesehatan Lalu (khusus untuk anak 0-5 tahun)
a) Prenatal Care
a. Pemeriksaan kehamilan
b. Keluhan selama hamil
c. Riwayat terkena sinar tidak ada
d. Kenaikan berat badan selama hamil
e. Imunisasi
b) Natal
a. Tempat melahirkan
b. Lama dan jenis persalinan
c. Penolong persalinan
d. komplikasi selama persalinan ataupun setelah persalinan (sedikit perdarahan daerah
vagina).
c) Post Natal
a. Kondisi Bayi : BB lahir.. kg, PB.. cm
b. Kondisi anak saat lahir: baik/tidak
c. Penyakit yang pernah dialami … setelah imunisasi
d. Kecelakaan yang pernah dialami: ada/tidak ada
e. Imunisasi
f. Alergi
g. Perkembangan anak dibanding saudara-saudara
5. Riwayat Kesehatan Keluarga
Adakah anggota keluarga yang mengidap HIV : missal, ibu.
6. Riwayat Imunisasi
Jenis imunisasi apa saja yang pernah diberikan, waktu pemberian dan reaksi setelah
pemberian. Missal; imunisasi BCG, DPT, Polio, Campak, Hepatitis.
7. Riwayat Tumbuh Kembang
a) Tinggi Badan : PB lahir .. cm, PB masuk RS :.. Cm
b) Perkembangan tiap tahap ( berapa bulan)
Berguling, duduk, merangkak, berdiri, berjalan, senyum kepada orang lain, bicara pertama
kali, berpakaian tanpa bantuan .
8. Riwayat Nutrisi
a. Pemberian ASI
1. Pertama kali di susui : berapa jam setelah lahir
2. Cara Pemberian : Setiap Kali menangis dan tanpa menangis
3. Lama Pemberin : berapa menit
4. Diberikan sampai usia berapa
b. Pemberian Susu Formula :missal; SGM
c. Pola perubahan nutrisi tiap tahap usia sampai nutrisi saat ini
4. Riwayat Psiko Sosial
a) Anak tinggal di mana, keadaan Lingkungan, fasilitas rumah
b) Hubungan antar anggota kelurga baik
c) Pengasuh anak adalah orang tua, pengasuh,dll
9. Riwayat spiritual
Kegiatan ibadah, tempat ibadah.
10. Reaksi Hospitalisasi
a) Pengalaman Keluarga tentang Sakit dan rawat inap
b) Pemahaman anak tentang sakit dan rawat Inap
11. Aktivitas sehari-hari
Kaji sebelum sakit dirumah dan selama dirawat dirumah sakit tentang: nutrisi, cairan,
eliminasi, istirahat/tidur, personal hygiene, aktivitas/mobilisasi, rekreasi.
12. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum: composmetis, stupor, semi koma, koma.
Ekspresi wajah, penampilan ( berpakaian)
b. Tanda-tanda vital meliputi: suhu, nadi, pernapasan. Tekanan darah
c. Antropometri meliputi: panjang badan, berat badan, lingkar lengan atas, lingkar kepala,
lingkar dada, lingkar abdomen.
d. Head To Toe
13) Kulit : Pucat dan turgor kulit agak buruk
14) Kepal dan leher : Normal tidak ada kerontokan rambut, warna hitam dan tidak ada
peradangan
15) Kuku : Jari tabuh
16) Mata / penglihatan :Sklera pucat dan nampak kelopak mata cekung
17) 5) Hidung :Tidak ada Peradangan, tidak ada reaksi alergi, tidak ada polip, dan fxungsi
penciuman normal
18) 6) Telinga :Bentuk simetris kanan/kiri, tidak ada peradangan, tidak ada perdarahan
19) Mulut dan gigi: Terjadi peradangan pada rongga mulut dan mukosa, terjadi Peradangan
dan perdarahan pada gigi ,gangguan menelan(-), bibir dan mukosa mulut klien nampak
kering dan bibir pecah-pecah.
20) Leher: Terjadi peradangan pada eksofagus.
21) Dada : dada masih terlihat normal
22) Abdomen : Turgor jelek ,tidak ada massa, peristaltik usus meningkat dan perut mules dan
mual.
23) Perineum dan genitalia : Pada alat genital terdapat bintik-bintik radang
24) Extremitas atas/ bawah : Extremitas atas dan extremitas bawah tonus otot lemah akibat
tidak ada energi karena diare dan proses penyakit.
11 Pola Fungsi GORDON
a. Pola persepsi dam manajemen kesehatan
Pada kasus ini klien dan keluarga tidak mengerti bahwa seks bebas dan kehamilan dengan
ibu pengindap dapat menyebabkan penyakit yang berbahaya, seperti penyakit yang sedang
diderita klien. perawat perlu mengkaji bagaimana klien memandang penyakit yang
dideritanya, apakah klien tau apa penyebab penyakitnya sekarang?
b. Pola nutrisi dan metabolic
Biasanya pada pasien terdapat bising usus hiperaktif; penurunan berat badan: parawakan
kurus, menurunnya lemak subkutan/massa otot; turgor kulit buruk; lesi pada rongga mulut,
adanya selaput putih dan perubahan warna; kurangnya kebersihan gigi, adanya gigi yang
tanggal; edema. Pada kasus pasien ini mengalami penurunan BB sejak 2 bulan yang lalu.
c. Pola eliminasi
Biasanya pasien mengalami Diare intermitten, terus menerus dengan/tanpa nyeri tekan
abdomen, lesi/abses rektal/perianal, feses encer dan/tanpa disertai mukus atau darah, diare
pekat, perubahan jumlah, warna, dan karakteristik urine. Pada kasus pasien ini sudah 1 bulan
mengalami diare berat.
d. Pola latihan /aktivitas
Biasaya pada pasien HIV Massa otot menurun, terjadi respon fisiologis terhadap aktivitas
seperti perubahan pada tekanan darah, frekuensi denyut jantung, dan pernafasan. Pada kasus
ini pasien hanya terbaring lemah diatas tempat tidurnya dan mengalami sesak nafas.
e. Pola istirahat tidur
Pasien diduga mengalami gangguan tidur dikarenakan klien mengalami sesak nafas dan
batuk yang menetap.
f. Pola persepsi kognitif
Biasanya terjadi Perubahan status mental dengan rentang antara kacau mental sampai
dimensia, lupa, konsentrasi buruk, kesadaran menurun, apatis, retardasi psikomotor/respon
melambat. Ide paranoid, ansietas berkembang bebas, harapan yang tidak realistis. Timbul
refleks tidak normal, menurunnya kekuatan otot, gaya berjalan ataksia. Tremor pada motorik
kasar/halus, menurunnya motorik fokalis, hemiparase, kejang Hemoragi retina dan eksudat
(renitis CMV).
g. Pola persepsi diri
Biasanya pasien memiliki Perilaku menarik diri, mengingkari, depresi, ekspresi takut,
perilaku marah, postur tubuh mengelak, menangis, kontak mata kurang, gagal menepati janji
atau banyak janji.
h. Pola Koping dan toleransi stress
Biasanya pasien mengalami depresi dikarenakan penyakit yang dialaminya. Serta adanya
tekanan yang datang dari lingkungannya.
i. Pola peran hubungan
Biasanya pasien mengalami Perubahan pada interaksi keluarga/orang terdekat, aktivitas
yang tak terorganisasi, perobahan penyusunan tujuan.
j. Pola reproduksi seksual
Biasanya pasien mengalami Herpes, kutil atau rabas pada kulit genitalia.
k. Pola keyakinan
Pola keyakinan perlu dikaji oleh perawat terhadap klien agar kebutuhan spiritual klien data
dipenuhi selama proses perawatan klien di RS. kaji apakah ada pantangan agama dalam
proses pengobatan klien.
1. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan akumulasi secret


2. Pola napas tidk efektif berhubungan dengan penurunan ekspansi paru
3. Hipertermi berhubungan dengan pelepasan pyrogen dari hipotalamus sekunder
terhadap reaksi antigen dan antibody
4. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan pemasukan dan pengeluaran
sekunder karena kehilangan nafsu makan dan diare
5. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kekambuhan penyakit, diare, kehilangan nafsu makan, kandidiasis oral.
6. Nyeri b.d infeksi, kerusakan integument yang ditandai dengan nyeri pada luka atau
lesi pada tubuh.

2. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


No Diagnosa Tujuan dan Intervensi Rasional
keperawatan kriteria
evaluasi
1 Nyeri b.d Setelah Nic:
infeksi, diberikan Pain Management - Agar perawat
kerusakan asuhan O: memahami
integument keperawata - Observasi reaksi non timgkat nyeri
yang ditandai n verbal dari pasien
dengan nyeri selama ...X ketidaknyamanan - Pengalaman
pada luka 24 jam - Evaluasi pengalaman nyeri nyeri pasien
atau lesi pada diharapkan masa lampau membantu
tubuh. Nyeri dapat - Kaji nyeri secara perawat
teratasi komprehensif menentukan
Kriteria N: tindakan
evaluasi - Control lingkungan yang selanjutnya
Noc: dapat mempengaruhi nyeri
1) Pain seperti suhu - Lingkungan
Level ruangan,pencahayaan,dan yang
2) Pain kebisingan mendukung
control - Kurangi faktor presipitasi mampu
3) Comfor nyeri membuat
t level - Pilih dan lakukan penanganan
penangan nyeri nyeri
Kriteria (farmakologi dan non berhasil.
hasil farmakologi)
1) Ma - Berikan anagetik untuk
mp mengurangi nyeri
u E:
me - Ajarkan teknik non - .penanganan
ngo farmakologi nyeri
ntro C: farmakologi
l - Kolaborasikan dengan dan non
nye dokter jika ada keluhan farmakologi
ri dan tindakan nyeri tidak mampu
(tah berhasil. membuat
u pasien bisa
pen mengatasi
yeb nyerinya.
ab - Analgetik
nye membantu
ri, pengurangan
ma nyeri dengan
mp cepat
u - Teknik non
me farmakologi
ngg mampu
una membantu
kan pasien
tek mengurangi
nik nyeri secara
non mandiri
far - Dokter bisa
ma meresepkan
kol obat
ogi analgetik
unt yang
uk membantu
me mengurangi
ngu nyeri.
ran
gi
nye
ri,m
enc
ari
ban
tua
n)
2) Mel
apo
rka
n
bah
wa
nye
ri
ber
kur
ang
den
gan
me
ngg
una
kan
ma
naje
mae
n
nye
ri
3) Ma
mp
u
me
nge
nali
nye
ri
(ska
la
inte
nsit
as,
frek
uen
si
dan
tan
da
nye
ri)
4) Men
yata
kan
rasa
nya
ma
n
sete
lah
nye
ri
ber
kur
ang

2 .Risiko tinggi Setelah Nic:


ketidakseimb diberikan Nutritional managenent
angan nutrisi asuhan O:
kurang dari keperawata - Observasi peningkatan
kebutuhan n BB. - Peningkatan
tubuh b.d selama ...X BB
kurangnya 24 jam merupakan
asupan diharapkan salah satu
makanan Nutrisi tanda
yang adekuat sesuai - Monitor TTV pasien keberhasilan
ditandai dengan - Monitor jumlah nutrisi dari program
dengan kebutuhan pasien yang
keluaran tubuh. N: dilakukan.
berlebih Noc: - Berikan makanan dalam - Untuk
berupa diare Nutritional porsi sedikit tapi sering. mengetahui
akut. status - Bantu pasien dalam mekan keadaan
Keriteria dan minum peroral umum
hasil: E: pasien.
1) Pasien - Beri penjelasan tentang - Untuk
tidak pentingnya kebutuhan menentukan
mual nutrisi bagi tubuh intake pasien
dan
tidak
muntah. C: - Pengkajian
2) Pasien - Kolaborasi dengan ahli makanan
mengko gizi untuk menentukan mempengaru
nsumsi jumlah nutrisi yang i selera
75% dibutuhkan pasien makan dan
nutrisi proses
sesuai ogertif.
dengan - Agar
umur. kebutuhan
3) Menunj nutrisi pasien
ukkan terpenuhi
peningk
atan BB.

- Pasien dan
keluarga
dapat
mengerti
dengan
kebutuhan
nutrisi bagi
tubuh
- Agar
kebutuhan
pasien
terpenuhi
3 Kekurangan Keseimbang O: 1. dokumentasi yang
volume an cairan - Ukur dan catat pemasukan akurat akan
cairan tubuh dan pengeluaran. Tinjau membantu dalam
berhubungan adekuat ulang catatan intra operasi. mengidentifikasi
dengan - Pantau suhu kulit, palpasi pengeluaran cairan.
sekunder Setelah denyut perifer. hipotensi, takikardia,
karena dilakukan - Pantau tanda-tanda vital. peningkatan
kehilangan tindakan N: pernapasa
nafsu makan selama .... X Letakkan pasien pada posisi yang
2. mengindikasikan
dan diare 24 Jam jam sesuai, tergantung pada kekuatan kekurangan cairan.
kebutuhan pernapasan. 3. Elevasi kepala dan
cairan dapat E: posisi miring akan
terpenuhi Dorong keluarga untuk membantu mencegah terjadinya
dengan pasien makan. aspirasi dari muntah.
criteria: C: 4. Kulit yang dingin/
- Tidak ada Kolaborasi, berikan cairan lembab, denyut yang
tanda-tanda parenteral, produksi darah dan lemah
dehidrasi. atau plasma ekspander. mengindikasikan
- turgor penurunan Sirkulasi
kulit perifer.
normal, 5. Gantikan
membran kehilangan cairan
mukosa yang telah
lembab didokumen-tasikan
- dan
pengeluaran
urine yan
sekunder
4. Hipertermi Tupan O:
: 1. Lingkungan yang
berhubungan suhu tubuh Pantau suhu tubuh anak setiap 1-2 sejuk membantu
dengan klien jam, bila terjadi peningkatan menurunkan suhu
pelepasan kembali secara tiba-tiba tubuh dengan cara
pyrogen dari normal N: radiasi.
hipotalamus Tupen -: Pertahankan lingkungan sejuk,2. Peningkatan suhu
sekunder setelah dengan menggunakan piyama dan secara tiba-tiba akan
terhadap dilakukan selimut yang tidak tebal. mengakibat an
reaksi tindakan - Beri antimikroba / antibiotic jika kejang
antigen dan selama .... X disarankan . 3. Antimikroba
antibody 24 Jam 4.jam - Berikan kompres dengan suhu 37 mungkin disarankan
suhu tubuhoC pada anak untuk mengobati
menurunE: organismo penyebab
dengan E: 4. Kompres hangat
criteria; Ajarkan indikasi dan penanganan efektif mendingin-
- Anak akan yang diperlukan. kan tubuh melalui
mempertahaC: cara konduksi
nkan Kolaboratif 5. Antipiretik seperti
suhu tubuh Beri antipiretik sesuai petunjuk asetaminofen
yang normal (Tylenol), efektif
- Klien menurunkan demam
mampu
menunjukka
n TTV yang
normal :
- suhu
36’50C,
- Nadi :
80x/m,
- P : 20x /
m dn
- TD :
110/80
mmHg
5. Bersihan Noc 1. Penurunan aliran
jalan nafas Jalan nafas Auskultasi area paru,catat area udara terjadi pada
tidak efektif kembali penurunan/tidak ada aliran udara area konsolidasi
berhubungan efektif/norm dan bunyi napas adventisius dengan cairan.
dengan al - kaji ulang tanda-tanda vital (irama 2. Pernapasan
akumulasi dan frekuensi, serta gerakan dinding dangkal dan
secret Setelah dada) gerakan dada
dilakukan N: tidak simetris
tindakan - Berikan cairan sedikitnya terjadi karena
selama .... X 2500 ml/hari (kecuali ketidaknyaman
24 Jam jam kontraindikasi) gerakan dinding
anak - berikan obat yang dapat dada.
menunjukan meningkatkan efektifnya 3. Cairan
yang efektif jalan nafas (seperti (khususnya yang
dengan bronchodilator hangat)
criteria E: memobilisasi dan
hasil: Bantu pasien latihan napas sering. mengeluar-kan
- secret
Mempert C: 4. Napas dalam
ahankan Kolaborasikan penggunaan suction memudahkan
kepatenan ekspansi
jalan napas maksimum
dengan paru/jalan napas
bunyi napas lebih kecil.
bersih/jelas. 5. alat untuk
- Klien menurunkan
merasa spasme bronkhus
nyaman dengan
ketika memobilisasi
bernapas sekret.
- Tidak ada 6. Merangsang
sekret batuk atau
pembersihan
jalan napas
secara mekanik
6. Pola Pola napas
O: 1. Kecepatan
napas tidak kembali Kaji frekuensi kedalaman biasanya meningkat.
efektif efektif pernapasandan ekpansi paru. 2. Dispnue dan
berhubungan Setelah Catat upaya pernapasan terjadi peningkatan
dengan dilakukan Auskuttsi bunyi napas dan catat kerja nafas.
penurunan tindakan adanya bunyi seperti ronkhi. 3. Bunyi nafas
ekspansi paru selama .... XObservasi pola batuk dan karaktrer menurun / tidak ada
24 Jam jam secret bila jalan nafas
pola napas
N: obstruktif sekunder
kembali Berikan oksigen tambahan terhadap pendarahan
norma Tinggikan
l, kepala dan bantu
4.
dengan mengubah posisi 5. Kongesti alveolar
criteria mengakibatkan
hasil: batuk kering / iritasi.
- klien 6. Memaksimalkan
Menunjuka bernafas dan
n pola nafas menurunkan kerja
efektif nafas.
dengan 7. Duduk tinggi
frekuensi memungkinkan
dan ekspansi paru
kedalaman memudahkan
dalam pernafasan
rentang
normal
- klien
mengatakan
tidak sesak
lagi.

1. Implementasi
Implementasi dibuat sesuai dengan intervensi yang sudah dibuat sesuai diagnosa
keperawatan

2. Evaluasi
Evaluasi dibuat dengan melihat perkembangan pasien selama diberikan asuhan
keperawatan sesuai diagnosa keperawatan dan tujuan evaluasi dibuat menggunakan
SOAP
S: subjektif
O: objektif
A: analisis
P: (plan) perencanaan
Daftar Pustaka

Padila, 2012. Buku ajar: Keperawatan Medikal Bedah .Bengkulu. Nuha Medika

http://patologiklinik.com/2018/04/05/pemeriksaan-laboratorium-pada-hivaids/

https://www.klikdokter.com/tanya-dokter/read/2772451/pemeriksaan-laboratorium-untuk-hivaids

https://www.autoimuncare.com/sistem-klasifikasi-cdc-hiv/

https://www.scribd.com/doc/95539373/Sistem-Klasifikasi-Kategori-Klinis-Hiv