Anda di halaman 1dari 21

« AMALAN MEMOHON REZEKI

ASMA SUNGE RAJEH (versi lain) »

KEUTAMAAN SHALAT TARAWIH MALAM KE-1


SAMPAI MALAM KE-30

101 Votes

ki ahmad

Dari Ali bin Abi Thalib ra bahwa dia berkata: Nabi SAW ditanya tentang keutamaan-keutamaan
tarawih di bulan Ramadhan. Kemudian beliau bersabda:
1. Orang mukmin keluar dari dosanya pada malam pertama, seperti saat dia dilahirkan oleh
ibunya.
2. Dan pada malam kedua, ia diampuni, dan juga kedua orang tuanya, jika keduanya mukmin.
3. Dan pada malam ketiga, seorang malaikat berseru dibawah ‘Arsy: “Mulailah beramal, semoga
Allah mengampuni dosamu yang telah lewat.”
4. Pada malam keempat, dia memperoleh pahala seperti pahala membaca Taurat, Injil, Zabur,
dan Al-Furqan (Al-Quran).
5. Pada malam kelima, Allah Ta’ala memeberikan pahala seperti pahala orang yang shalat di
Masjidil Haram, masjid Madinah dan Masjidil Aqsha.
6. Pada malam keenam, Allah Ta’ala memberikan pahala orang yang berthawaf di Baitul
Makmur dan dimohonkan ampun oleh setiap batu dan cadas.
7. Pada malam ketujuh, seolah-olah ia mencapai derajat Nabi Musa a.s. dan kemenangannya atas
Fir’aun dan Haman.
8. Pada malam kedelapan, Allah Ta’ala memberinya apa yang pernah Dia berikan kepada Nabi
Ibrahin as
9. Pada malam kesembilan, seolah-olah ia beribadat kepada Allah Ta’ala sebagaimana ibadatnya
Nabi saw.
10. Pada Malam kesepuluh, Allah Ta’ala mengaruniai dia kebaikan dunia dan akhirat.
11. Pada malam kesebelas, ia keluar dari dunia seperti saat ia dilahirkan dari perut ibunya.
12. Pada malam keduabelas, ia datang pada hari kiamat sedang wajahnya bagaikan bulan di
malam purnama.
13. Pada malam ketigabelas, ia datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dari segala
keburukan.
14. Pada malam keempat belas, para malaikat datang seraya memberi kesaksian untuknya,
bahwa ia telah melakukan shalat tarawih, maka Allah tidak menghisabnya pada hari kiamat.
15. Pada malam kelima belas, ia didoakan oleh para malaikat dan para penanggung (pemikul)
Arsy dan Kursi.
16. Pada malam keenam belas, Allah menerapkan baginya kebebasan untuk selamat dari neraka
dan kebebasan masuk ke dalam surga.
17. Pada malam ketujuh belas, ia diberi pahala seperti pahala para nabi.
18. Pada malam kedelapan belas, seorang malaikat berseru, “Hai hamba Allah, sesungguhnya
Allah ridha kepadamu dan kepada ibu bapakmu.”
19. Pada malam kesembilan belas, Allah mengangkat derajat-derajatnya dalam surga Firdaus.
20. Pada malam kedua puluh, Allah memberi pahala para Syuhada (orang-orang yang mati
syahid) dan shalihin (orang-orang yang saleh).
21. Pada malam kedua puluh satu, Allah membangun untuknya sebuah gedung dari cahaya.
22. Pada malam kedua puluh dua, ia datang pada hari kiamat dalam keadaan aman dari setiap
kesedihan dan kesusahan.
23. Pada malam kedua puluh tiga, Allah membangun untuknya sebuah kota di dalam surga.
24. Pada malam kedua puluh empat, ia memperoleh duapuluh empat doa yang dikabulkan.
25. Pada malam kedua puluh lima , Allah Ta’ala menghapuskan darinya azab kubur.
26. Pada malam keduapuluh enam, Allah mengangkat pahalanya selama empat puluh tahun.
27. Pada malam keduapuluh tujuh, ia dapat melewati shirath pada hari kiamat, bagaikan kilat
yang menyambar.
28. Pada malam keduapuluh delapan, Allah mengangkat baginya seribu derajat dalam surga.
29. Pada malam kedua puluh sembilan, Allah memberinya pahala seribu haji yang diterima.
30. Dan pada malam ketiga puluh, Allah ber firman : “Hai hamba-Ku, makanlah buah-buahan
surga, mandilah dari air Salsabil dan minumlah dari telaga Kautsar. Akulah Tuhanmu, dan
engkau hamba-Ku.”
Akhirnya, semoga amal ibadah kita diterima dan kita mendapatkan pangkat dan derajat dari
Allah sebagai seorang yang bertakwa.

Sumber Hadist dari Kitab Duratun Nasihin, Bab Keistimewaan Bulan Ramadhan.
Kuliah Subuh ramadhan oleh Drs.H. Moh. Isa Anwari BAH
Ditulis dan disampaikan oleh : Drs. H. Moh. Isa Anwari Bah

Subuh Ramadhan ke: 1.

TIPOLOGI MANUSIA MENYAMBUT RAMADHAN

Dalam menyambut tibanya bulan Suci Ramadhan, terdapat beberapa kategori dan model dalam
kaum muslimin, antara lain:

Pertama, golongan yang sangat antusias menyambut Ramadhan, karena sadar akan banyaknya
bonus rahmat dan pahala yang akan mereka dapat di bulan itu. Mereka adalah yang menyadari
sepenuhnya makna dan nilai yang ada dalam bulan Ramadhan. Sehingga, jauh-jauh hari sebelum bulan
suci ini hadir di hadapannya, mereka telah berkemas-kemas untuk mengarungi perjalanan rohani yang
demikian mengasyikkan.

Semua perbekalan untuk menjalani perjalanan rohani itu telah mereka persiapkan dengan sebaik-
baiknya dan sematang-matangnya. Mereka menyadari bahwa perjalanan rohani yang akan ditempuhnya
dalam sebulan itu bukan perjalanan yang mudah dan gampang, Ia memerlukan stamina fisik dan rohani
yang prima dan mapan, sehingga perjalanan itu bias dilakukan dan dilalui dengan baik.

Pelatihan-pelatihan pembuka dilakukan. Seperti melakukan puasa-puasa sunnah di bulan Sya’ban,


atau pada bulan Rajab. Pokoknya, kelompok ini betul-betul siap menghadapi perjalanan rohani selama
bulan Ramadhan.

Mereka mengerti benar peta perjalanan rohani itu dengan sebaik-baiknya. Sehingga, secara mental
mereka tidak terkejut dan bahkan merasakan hentakan kenikmatan, kala akan memasuki bulan suci ini.
Tapi kami memperkirakan bahwa golongan ini bukanlah golongan mayoritas di tengah umat dewasa ini.
Mereka adalah para pemburu takwa.

Kedua, mereka yang biasa-biasa saja dalam menyambut kedatangan bulan suci ini, tanpa ekspresi
dan tanpa apresiasi apa-apa. Karena mereka tidak mengerti apa sebenarnya yang ada dalam bulan
Ramadhan. Golongan ini adalah mereka yang biasa-biasa saja dalam menyabut kedatangan bulan suci
ini.

Tak ada riak spiritual dan gairah jiwa yang meluap-luap penuh gembira menyambut bulan ampunan dan
suci ini.
Kehadiran Ramadhan sama sekali tidak mempengaruhi kebangkitan spiritualnya, tidak
menggairahkan ‘urat-urat” kepekaan nuraninya. Tak ada yang berubah. Tak ada yang bergeser. Jiwanya
demikian dingin, walaupun suasana bulan suci telah memercikkan kehangatan-kehangatan. Hati mereka
tak lagi terangsang untuk memeluk erat sang tamu agung ini.

Di bulan suci ini, bukan tidak mungkin manusia semacam ini banyak jumlahnya. Bahkan, bisa
menjadi bagian paling besar dari lapisan umat ini. Namun, kita berharap dan berdo’a semoga tidak.
Untuk mereka, bonus-bonus Ramadhan tiada guna dan mereka memang tidak berhak mendapatkannya.

Ketiga, adalah kelompok yang gembira dengan kehadiran bulan Ramadhan, karena mereka merasa
bahwa kedatangannya dianggap akan membuat mereka menangguk keuntungan besar.

Siapa mereka? Mereka adalah sosok-sosok pencari “nafkah” dengan kehadiran bulan suci.
Dibenaknya, yang bertaburan bukan pahala-pahala yang Allah turunkan dari langit karena amal-amalnya
yang sempurna, Yang terbayang dalam benaknya adalah “honor-honor” jutaan atau amplop-amplop
dalam sekali tampil di publik, di meda radio dan televisi, atau di mana saja yang dianggap mendatangkan
uang.

Hatinya sama sekali tidak terpaut dengan “imaan dan ihtisaab” di bulan Ramadhan. Yang tertayang
dalam benaknya adalah seberapa banyak penghasilan yag akan didapatkan dengan kehadiran bulan suci
ini. Baginya tak perlu apakah bulan ini bulan ampunan atau bukan bulan ampunan, yang penting aliran
uang mengalir deras ke kantong atau rekeningnya.

Sosok ini bisa menimpa seorang pedagang, bisa seorang artis, dan selebritis, bisa seorang kiayi, bisa
seroang ustadz ternama, bisa seorang qari dan qori’ah, bisa seorang dai’ kondang, bisa seorang
presenter, bisa seorang pengelola televise, radio, pengelola pengajian,

pengelola transportasi, dan siapa saja yang menjadikan uang sebagai target utama pada saat Ramadhan
datang menjelang..

Kelompok ini, ada dan bahkan jauh-jauh hari telah melakukan kalkulasi sejauh mana Ramadhan kali ini
dia bisa eksploitasi sebaik-baiknya.

Dia memang puasa, namun puasanya kosong dari makna dan spirit Ramadhan yang sebanarnya.
Mereka memang puasa, namuin puasa yang tidak memiliki bobot apa-apa. Alias Hampa!

Keempat, kategori terakhhir, adalah sosok manusia yang demikian ketakutan dengan kehadiran
Ramadhan. Kelompok ini kita anggap sebagai kelompok yang sangat parah dibandingkan dengan
kelompok kedua dan ketiga.
Kelompok ini menjadikan Ramadhan sebagai momok yang selalu menghantui dirinya. Sebulan
sebelum Ramadhan datang, mereka telah menggigil karena akan tiba bulan suci ini. Mereka merasa
ngeri karena harus menahan makan dan minum, harus sembunyi-sembuni jika mrreka tidak puasa,
mereka harus malu jika kepergok sedang makan-makan.

Bahkan bukan itu saja, ada diantara mereka yang merasa terancam roda hidupnya dengan
kedatangan bulan susci ni. Mereka merasa bahwa Ramadhan telah menyumbat rzkinya.

Mereka bisa saja terdiri dari pelaku bisnis haram, para pengelola nait club ang diperintahkan untuk
ditutup selama Ramadhan. Mereka bisa saja adalah para pelacur kelas kakap yang setiap harinya
menjual kehormatan kepada para si hidung belang. Bisa saja mereka adalah para pedagang makanan di
pinggir-pinggir jalan, yang seakan hidup menjadi kiamat karena penghasilan drastis berkurang. Mereka
bisa saja pengelola restoran atau siapa saja yang menganggap bahwa Ramadhan bukan bulan
penyucian diri dan jiwa.

Mereka adalah bukan pemburu takwa, bukan pula manusia yang mengharap ridha Tuhannya.
Mereka tidak akan dapat nilai apa-apa di bulan mulia ini. Karena mereka adalah termasuk kelompok
manusia pongah yang dengan terang-terangan tampil di depan orang menampilkan “keberaniannya”,
bahwa mereka tidak puasa tanpa alasan apa-apa. Untuk yang terakhir ini, hanya Allah yang bisa
memasukkan mereka kedalam neraka.

Marilah kita, berdo’a, semoga kita masuk pada golongan pertama. Golongan yang semangat
menyambut kedatangan Ramadhan yang mulia. Semangat memeluk nilai-nilai dan semangat pula
memaknainya.

Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan hari pertama, semoga Allah memberikan
kekuatan kepada kita semua. (mohisa). Jkt/1 Ramadahan 1431H/11 Agustus 2010

Kuliah Subuh Ramadhan-2

AGAR RAMADHAN PENUH RAHMAT, BERKAH

DAN BERMAKNA
Hari ini kita baru selesai melaksanakan shoum Ramadhan yang pertama. Banyak hikmah yang bisa
kita petik di bulan suci dan mulia ini, yang semuanya mengarah pada peningkatan makna kehidupan,
peningkatan nilai diri, maqam spiritual, dan pembeningan jiwa dan nurani.

Kewajiban puasa ini bukan sesuatu yang baru dalam tradisi keagamaan manusia. Puasa telah Allah
wajibkan kepada kaum beragama sebelum datangnya Nabi Muhammad saw. Ini jelas terlihat dalam
firman Allah berikut:

﴾١٨٣﴿ َ‫علَى الَّذِينَ ِمن قَ ْب ِل ُك ْم لَ َعلَّ ُك ْم تَتَّقُون‬ ِ ‫علَ ْي ُك ُم‬


َ ِ‫الص َيا ُم َك َما ُكت‬
َ ‫ب‬ َ ِ‫َيا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُواْ ُكت‬
َ ‫ب‬
183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas
orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, QS. Al Baqarah [2]: 183

Ayat ini menegaskan tujuan final dari disyariatkannya puasa, yakni tergapainya takwa. Namun, perlu
diingat bahwa ketakwaaan yang Allah janjikan itu bukanlah sesuatu yang gratis dan cuma-cuma
diberikan kepada isapa saja yang berpuasa. Manusia-manusia takwa yang akan lahir dari “rahim”
Ramadhan adalah mereka yang lulus dalam ujian-ujian yang berlangsung pada bulan diklat itu.

Tak heran kiranya jika Rasulullah bersabda: “banyak orang yang berpuasa yang tidak mendapatkan
apa-apa dari puasanya, kecuali lapar dan haus” HR An Nasai dan Ibnu Majah.

‫ رواه ابن ماجه‬. ‫ش‬


ُ ‫ط‬ ُ ‫ام ِه اِالَّ ال ُجو‬
َ ‫ع َوال َع‬ ِ ‫ْس لَهُ ِم ْن‬
ِ َ‫صي‬ َ ‫صائِ ٍم لَي‬
َ َّ‫ُرب‬
“Banyak sekali orang yang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu selain lapar dan
dahaga” HR Ibnu Majah.

Mereka berpuasa, namun tidak melakukan pengendapan makna spiritual puasa, akan kehilangan
kesempatan untuk meraih kandungan hakiki puasa itu.

Lalu apa yang mesti kita lakukan? Beberapa hal berikut ini mungkin akan bisa membantu menjadikan
puasa kita penuh rahmat, berkah, dan bermakna, yaitu;

Pertama: Mempersiapkan persepsi yang benar tentang Ramadhan..

Bergairah dan tidaknya seseorang melakukan pekerjaan dan aktivitas, sangat korelatif dengan
sejauh mana persepsi yang dia miliki tentang pekerjaan itu. Hal ini juga bisa menimpa kita, saat kita
tidak memiliki persepsi yang benar tentang puasa.

Oleh karena itulah, setiap kali Ramadhan menjelang Rasulullah saw mengumpulkan para sahabatnya
untuk memberikan persepsi yang benar tentang Ramadhan itu. Rasulullah bersabda:
“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan keberkahan, Allah mengunjungimu pada bulan ini
dengan menurunkan rahmat, menghapus dosa-dosa dan mengabulkan do’a. Allah melihat berlomba-
lombanya kamu pada bulan ini dan membanggakan kalian pada para malaikat-Nya. Maka tunjukkanlah
kepada Allah hal-hal yang baik dari kalian. Karena orang yang sengsara adalah orang yang tidak
mendapat rahmat Allah di bulan ini.: HR Ath Thabrani.

Ini Rasulullah sampaikan agar para sahabat dan tentu saja kita semua bersiap-siap menyambut
kedatangan bulan suci ini dengan hati berbunga. Maka menurut Rasulullah, sungguh tidak beruntung
manusia yang melewatkan Ramadhan ini dengan sia-sia. Berlalu tanpa kenangan dan tanpa makna apa-
apa.

Persepsi yang benar akan mendorong kita untuk tidak terjebak dalam kesia-siaan di bulan
Ramadhan. Saat kita tahu bahwa Ramadhan bulan ampunan, maka kita akan meminta ampunan pada
Sang Maha Pengampun. Jika kita tahu bulan ini bertabur rahmat, kita akan berlomba dengan antuasias
untuk menggapainya. Jika pintu surga dibuka, kita akan berlari kencang untuk memasukinya. Jika pintu
neraka ditutup kita tidak akan mau mendekatinya sehingga dia akan menganga.

Kedua; membekali diri dengan ilmu yang cukup dan memadai.

Untuk memasuki puasa, kita harus memiliki ilmu yang cukup tentang puasa itu. Tentang rukun yang
wajib kita lakukan, syarat-syaratnya, hal yang boleh dan membatalkan, dan apa saja yang dianjurkan.

Pengetahuan yang memadai tentang puasa ini akan senantiasa menjadi panduan pada saat kita
pusa. Ini sangat berpengaruh terhadap kemampuan kita untuk meningkatkan kualitas ketakwaan kita
serta akan mampu melahirkan puasa yang berbobot dan berisi. Sebagaimana yang Rasulullah sabdakan:

“Barangsiapa yang puasa Ramadhan dan mengetahui rambu-rambunya dan memperhatikan apa yang
semestinya diperhatikan, maka itu akan menjadi pelebur dosa yang dilakukan sebelumnya: HR Ibn
Hibban dan Al Baihaqi.

Agar puasa kita brtabaur rahmat, penuh berkah, dan bermakna, sejak awal kita harus siap mengisi
puasa dari dimensi lahir dan batinnya. Puasa merupakan “sekolah moralitas dan etika”, tempat berlatih
orang-orang mukmin. Latihan bertarung membekap hawa nafsunya, berlatih memompa kesabarannya,
berlatih mengokohkan sifat amanah. Berlatih meningkatkan semangat baja dan kemauan. Berlatih
menjernihkan otak dan akal pikiran.

Puasa akan melahirkan pandangan yang tajam. Seab, perut yang selalu penuh makanan akan
mematikan pikiran, meluberkan hikmah, dan meloyokan anggota badan.

Puasa melatih kaum muslimin untuk disiplin dan tepat waktu, melahirkan perasaan kesatuan kaum
muslimin, menumbuhkan rasa kasih sayang, solidaritas, simpati, dan empati terhadap sesama.
Tak kalah pentingnya yang harus kita tekankan dalam puasa adalah dimensi batinnya. Dimana kita
mampu menjadikan anggota badan kita puasa untuk tidak melakukan hal-hal yang Allah murkai.

Dimensi ini akan dicapai, kala mata kita puasa untuk tidak melihat hal-hal yang haram, telinga
tidak untuk menguping hal-hal yang melalaikan kita dari Allah, mulut kita pusa untuk tidak mengatakan
perkataan dusta dan sia-sia. Kaki kita tidak melangkah ke tempat-tempat bertabur maksiat dan
kekejian, tangan kita tidak pernah menyentuh harta haram. Pikiran kita bersih dari sesuatu yang
menggelapkan hati. Dalam pikiran dan hati tidak bersarang ketakaburan, kedengkian, kebencian pada
sesama, angkara, rakus dan tamak serta keangkuhan.

Sahabat Rasulullah Jabir bin Abdullah berkata, “Jika kamu berpuasa, maka hendaknya puasa pula
pendengar dan lisanmu dari dusta dan dosa-dosa. Tinggalkanlah menyakiti tetangga dan hendaknya
kamu bersikap tenang pada hari kamu berpuasa. Jangan pula kamu jadikan hari berbukamu (saat tidak
berpuasa) sama dengan hari kamu berpuasa”.

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan dia mengamalkannya maka Allah tidak
menghajatkan dari orang itu untuk tidak makan dan tidak minum” HR Bukhari dan Ahmad dan lainnya.

Mari kita jadikan puasa ini sebagialangkah awal untuk membangun gugusan amal ke depan. Semoga
Allah meridloi kita semua.

Kuliah Subuh Ramadhan : 3

RAMADHAN, SAAT TEPAT BERAUBAT

Kemuliaan dan keistimewaan bulan Ramadhan telah disaari. Didalamnya ada rahmat,
keberkahan, kebaikan, keselamatan, ampunan yang tak terhingga, pahala yang berlipat ganda, dan
kenikmatan berlimpah ruah.

Karena itu, Rasulullah saw, menjelaskan dalam sabdanya.

“ seandainya manusia mengetahui kebaikan dan keistimewaan yang ada dibulan Ramadhan, maka
mereka akan menginginkan seandainya seluruh bulan yang ada menjadi bulan Ramadhan “.

Semangat berlomba – lomba dalam ibadah dan kebaikan menjadi cirri khas dari Ramadhan.
Secara umum, kecendrungan kaum muslimin meningkatkan ibadahnya sangat tinggi dibulan Ramadhan.
Orang awam pun berlomba – lomba meningkatkan ibadahnya, seperti : Memakmurkan masjid,
bersedekah, menambah sholat sunah, melaksanakan tarawih, memberikan buka puasa, dan lain – lain.
Semangat beribadah dan melakukan kebaikan belum sempurna bila seseorang belum memiliki
kepedulian terhadap usaha menghindari perangkap – perangkap dosa.
Bahkan, memelihara dan menjaga diri dari dosa dan menjauhkan segala perangkap – perangkapnya,
sangat besar fadhilah dan keutamaannya disisi Allah SWT. Mari kita renungkan riwayat hadist Rasulullah
SAW, yang menjelaskan tentang tujuh golongan yang akan dilindungi oleh Allah SWT di akhirat kelak.
Dimana tidaj ada perlindungan selain perlindungan Allah SWT.

Bulan Ramadhan disamping menyediakan banyak peluang ibadah dan kebaikan, ia juga membuka
lebar – lebar pintu untuk menjauhkan diri dari maksiat dan dosa. Upaya menjauhkan diri dan
membersihkan diri dari dosa dan maksiat tidak terlepas dari keharusan orang bertaubat dan
membersihkan diri dari dosa – dosa dan maksiat mereka yang pernah terjerumus kedalamnya. Itulah
istighfar dan taubat.

Urgensi Taubat

Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan dan dosa, kecuali Rasulullah SAW. Kenyataan ini
mengharuskan setiap orang intropeksi diri dan kembali bertaubat kepada Allah SWT. Rasulullah SAW
sendiri yan telah bebas dari dosa selalu beristighfar dan bertaubat tidak kurang dari tujuh puluh kali
setiap hari. Dalam riwayat lain, seratus kali. ( HR. Bukhari Muslim )

Dalam Al-Quran ditemukan banyak ayat tentang pentingnya bertaubat. Diantaranya, “dan
bertaubatlah kalian semua kepada Allah SWT, wahai orang – orang yang beriman, agar kalian meraih
kemenangan”. ( An-Nur:30 )

Ayat ini turun di Madinah kepada generasi terbaik umat ini, dari Muhajirin dan Anshar. Bahwa , bila
mereka ingin meraih kemenangan, kejayaan, dan kebahagiaan, maka harus dengan syarat bertaubat.
Padahal, mereka telah mempersembahkan segalanya untuk perjuangan iman melawan siksaan dan
intimidasi kafir Quraisy, menghadapi segala rintangan dan penderitaan dalam berhijrah, dan
menghadapi kilatan pedang, serangan musuh, dan ancaman syahid dalam berjihad dimedan perang.

Ayat ini seolah – olah menyatakan bahwa tidak cukup hanya dengan beriman, berhijrah, dan
berjihad untuk mencapai kemenangan. Tetapi, harus pula dengan banyak bertaubat.

Ayat lain menyatakan hakikat yang lebih menggetarkan hati. Allah SWT. Berfirman , “dan barang
siapa yang tidak bertaubat, maka mereka pasti orang – orang yang zhalim”. ( Al-Hujarat:11 )

Kewajiban Taubat dan Keutamaannya


Wahsyi. Pembunuh Hamzah, paman tersayang RasulullahSAW. Pernah ragu – ragu masuk islam, karena
takut dosanya tidak akan terampuni dan taubatnya tidak diterima oleh Allah SWT. Namun, setelah
mendapat jawaban dari Rasulullah SAW. Berdasarkan ayat – ayat Al-Quran, tampa ragu diapun masuk
islam an bertaubat menuju Madinah. Dari Abbas ra. Berkata :

“ sesungguhnya Wahsyi, pembunuh Hamzah ra. paman Rasulullah SAW. Menulis surat kepada
Rasulullah SAW dari Mekkah, yang menyebutkan bahwa sesungguhnya aku ingin masuk islam, namun
yang menjadi penghalangku dari masuk islam adalah ayat Al-Quran yang turun kepada Anda, yaitu
firman Allah SWT ”.

“ dan orang –orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allaj SWT dan tidak membunuh
jiwa yang diharamkan Allah SWT ( membunuhnya ) kecuali dengan ( alasan ) yang benar, dan tidak
berzina, barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat ( pembalasan ) dosa (nya ) “.
( Al-Furqon:68 )

Aku telah melakukan tiga perkara itu. Sekarang apakah aku berpeluang untuk bertaubat ?. kemudian
turun firman Allah SWT.

“ kecuali orang – orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan
mereka diganti Allah SWT dengan kebajikan. Dan adalah Allah SWT Maha pengampun lagi Maha
penyayang “. ( Al-Furqon:70 )

Rasulullah SAW pun membalas surat Wahsyi dengan ayat itu.

Wahsyi menulis surat lagi yang isinya menyebutkan tentang syarat taubat, yaitu beramal saleh,
dan aku tidak tahu apakah aku dapat melakukan amal saleh atau tidak ?. kemudian turun firman Allah
SWT.

“ sesungguhnya Allah SWT tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia,
dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa
yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Akllah SWT, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh –
jauhnya “.(An-Nisa:116)

Rasulullah SAW pun membalas surat Wahsyi dengan ayat itu. Wahsyi menulis surat lagi yang isinya
menyebutkan tentang syarat taubat yang juga terdapatdalam ayat tersebut, dan aku tidak tahu apakah
aku mendapatkan ampunan atau tidak ?.

Kemudian turun firman Allah SWT,.

“ katakanlah : Hai hamba – hamba Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah SWT. Sesungguhnya Allah SWT mengampuni dosa –
dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang “. (Az-Zumar:24)

Rasulullah SAW pun membalas surat Wahsyi dengan ayat itu. Wahsyi tidak lagi melihat ada
syarat dalam ayat tersebut, maka dia pun bertolak menuju Madinah dan masuk islam.

Keadilan dan kebijakan Allah SWT menentukan bahwa setiap bani Adam berdosa, sebagaimana
disebutkandalam hadits Rasulullah SAW, dari Anas bin Malik. Rsulullah SAW bersabda :
“ setiap anak Adam bersalah, dan sebaik – baik orang yang bersalah adalah orang – orang yang
bertaubat “. (HR.Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Hakim)

Namun Allah SWT tidak Zhalim terhadap manusia. Ketika mereka berpeluang untuk bersalah, maka
Allah SWT membuka lebar – lebar pintu untuk membersihkan dosa –dosanya.

Oleh karena itu Allah SWT telah mewajibkan taubat atas setiap hamba-Nya. Allah SWT berfirman.

“ dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit
dan bumi yang disediakan untuk orang – orang yang bertakwa, (yaitu) orang –orang yang mnafkahkan
(hartanya), baik diwaktu lapang maupun sepit, dan orang –orang yang menahan amarahnya dan
memaafkan (kesalahan) orang. Allah SWT menyukai orang –orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga)
orang –orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan
Allah SWT, lalu memohon ampun terhadap dosa –dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni
dosa selain dari pada Allah SWT. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedan mereka
mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang didalamnya
mengalir sungai – sungai, sedang mereka kekal didalamnya; dan itulah sebaik –baik pahala orang –
orang yang beramal “. (Ali Imran:133-136)

Rasulullah SAW mengilustrasikan keutamaan taubat dalam haditsnya mengenai diri beliau sendiri.

“ Aku adalah nabi taubat dan nabi yang penuh kasih saying “. (HR. Muslim)

Rasulullah SAW juga menggambarkan orang – orang yang bertaubat kepada Allah SWT, bahwa mereka
disisi Allah SWT sangat mulia dan Allah SWT sangat senang dengan taubat seseorang.lebih daripada
senangnya seorang pengelana yang menemukan kembali onta beserta perbekalannya yang hilang
dipadang pasir, sedangkan dia sendiri tidak lagi memiliki perbekalan lainnya selain itu. Sehingga saking
gembiranya dia berseru;

“ Ya Allah SWT, Engkau hambaku, dan aku adalah tuhan-Mu, tampa dia sadari kekeliruannya
yang sangat fatal “.

Kuliah Subuh Ramadhan: 4

RAMADHAN BULAN LIMPAHAN KASIH SAYANG


Kasih sayang dan rahmat Allah Swt berlimpah dalam bulan Ramadhan. Pintu-plintu rahmat
terbuka lebar dan pintu-pintu kemurkaan-Nya tertutup rapat. Syaitan yang menjadi sombol perusak dan
pengganggu ketenteraman dan kasih sayang antar amanusia, dibelenggu dengan erat di neraka. Kondisi
telah dibuat sedemikian rupa, sehingga kaum muslimin dapat menumbuhkan dan menyuburkan rasa
kasih sayang antar mereka, khususnya orang-orang yang butuh bantuan dan ditimpa kemalangan dari
orang-orang yang beriman.

Kasih sayang antar sesama umat Islam dan orang-orang yang beriman merupakan salah satu
factor penting dalam kesempurnaan iman. Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra bahwa Rasulullah saw
bersabda:

“ Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak akan beriman seorang dari
kalian, hingga dia mencintai sesuatu bagi saudaranya (yang beriman) sebagiamana apa yang dicintai
untuk dirinya sendiri” HR Bukhari dan Muslim.

Rasulullah saw memberikan perumpamaan tentang cinta kasih sayang antara orang beriman
laksana sebatang tubuh yang saling bertenggang rasa, saling menopang, saling megasihi, dan berbagi
rasa. Sada beliau: “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam cinta dan kasih sayang mereka
adalah laksana sebatang tubuh, dimana bila salah satu anggota tubuh merasakan sakit, maka seluruh
tubuh akan merasakan demam dan kesulitan tidur” HR Muslim.

Bahkan kasih sayang antara umat Islam merupakan salah satu karakter dan sifat pokok atau
utama yang ditetapkan Allah Swt atas umat Muhammad saw. Sifat ini sangat dipuji oleh Allah
sebagaimana firmanNya: dalam surat Al Fath: 29, yang artinya: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan
orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama
mereka”.

Dalam bulan Ramadhan, rasa kasih sayang dan cinta antara umat Islam, sangat tepat untuk
disemai dan dipupuk kembali, sehingga tumbuh subur dan bersemi. Kasih sayang itu berupa segala
macam bentuk kebaikan dan pembelaan terhadap sesama mukmin. Dalam hal ini Rasulullah saw
bersabda:“Barang siapa yang meutup aib saudaranya yang muslim di dunia maka Allah swt akan
menutup aibnya di dunia dan di ahirat. Dan barangsiapa yang membantu menyelesaikan masalah yang
menghimpit saudaranya (yang beriman) di dunia, maka Allah swt akan menyelesaikan masalah yang
menghimpitnya pada hari kiamat. Dan Allah swt pasti menolong seorang hamba, selama hambanya
menolong saudara (yang beriman). HR Muslim.

Membina sifat kasih sayang.

Rasulullah saw memberikan contoh dan keteladanan berkenaan dengan kasih sayang. Rasulullah
saw adalah sosok yang penuh kasih dan sayang. Sifat kasih sayang telah terbina dalam diri beliau sejak
masih belia. Diantara factor yang sangata berpengaruh dalam menunjukan sifat kasih sayang dalam diri
beliau adalah kecintaan dan kasih saying terhadap binatang, khususnya terhadap kambing yang beliau
gembala.

Beliau menyebutkan bahwa tidak seorang nabi dan rasul pun yang diutus oleh Allah Swt melainkan
pernah menggembala kambing. Termasuk Rasulullah saw pernah menggembala kambing beberapa
tahun, ketika masih remaja. Hikmahnya yang tersirat dalam aktivitas menggembala kambing adalah
Allah Swt menguji dan mendidik mental para nabi dan rasul agar bersabar dan bersifat kasih sayang
terhadap binatang, sehingga mereka lebih bisa mencintai dan lebih menyayangi manusia, umatnya, dan
sesama makhluk yang lain.

Dalam praktek para sahabat, dapat kita simpulkan betapa serius mereka membina kasih sayang itu
dalam diri mereka, dengan berusaha melayani sesama saudara. Betapa menakjubkan gambaran kasih
dan cinta yang terjalin antara para sahabat Anshar terhadap

kaum Muhajirin. Sebagimana Allah menyatakan dalam firmanNya: Surat Al Hasyar-9 yang artinya:

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum
(kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka
tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang
muhajirin), dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun
mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya,
mereka itulah orang –orang yang beruntung”

Oleh karena itu dalam potret diri Umar bin Khattab, seorang khalifah yang sangat bijak dan kasih
terhadap rakyatnya, kita temukan beberapa riwayat tentang cintanya terhadap rakyatnya. Dari Anas bin
Malik ra diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab ra pada satu malam sedang keliling melakukan ronda.
Dia melewati sekelompok orang yang mampir untuk menginap ( di kota Madinah) . Dia sangat khawatir
dan takut ada orang yang mencuri barang-barang mereka. Kemudian Umar mendatangi Abdurrahman
bin Auf ra yang kaget dan bertanya, “apa yang membuat Anda datang pada larut malam seperti ini,
wahai Amirul Mukminin? Dia menjawab, “aku melewati sekelompok orang yang mampir. Naluriku
berkata, bila mereka bermalam dan tidur, aku takut mereka akan kecurian. Maka ikutlah denganku agar
kita menjaganya malam ini.” Keduanya pun bertolak. Keduanya duduk dekat orang-orang itu semalam
suntuk, untuk menjaganya, hingga ketika melihat subuh telah tiba, Umar menyeru, “Wahai orang-orang,
shalat subuh….. shalat subuh….berkali-kali. Setelah melihat mereka telah bergerak dan bangkit dari
tidurnya, keduanyapun bangkit dan menuju ke masjid.

Bahkan para sahabt tidak hanya menyayangi orang-orang yang beriman. Kasih sayang mereka juga
tercurah bagi para ahli dzimmah, yaitu orang-orang non muslim yang berlindung dalam khilafah Islam.

Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab melihat seorang laki-laki tua dari ahli dzimmah yang
meminta-minta dari satu pintu ke pintu yang lain. Umar berkata kepadanya, :Kami telah berbuat tidak
adil terhadap anda. Kami telah mengambil jizyah (upeti) dari anda ketika anda masih muda, namun saat
ini kami telah menyia-nyiakan anda. Kemudian Umar memerintahkan agar mencukupi makanannya dari
baitul mal (gudang perbendaharaan Negara) milik kaum mslimin”.

Kasih sayang Rasulullah saw.

Allah swt selalu penuh perhatian terhadap hamba-hambaNya, dan diantara kasih saying-Nya, Dia
menganugerahkan risalahNya kepada manusia lewat pengutusan seorang Rasul, yang sangat kasih dan
cinta kepada umatnya. Allah swt menegaskan hal itu dalam firmanNya; Surat At Taubah: 128; yang
artinya: “Sesungguhnya telah datang kepada kalian, seorang rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa
olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas
kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang yang beriman”

Dengan misi sebagi teladan bagi seluruh manusia, seorng Rasul haruslah orang yang terbaik,
Muhammad bin Abdullah adalah orang yang terbaik itu. Beliau memiliki segala kelayakan dan
keistimewaan sebagai seorang yang paling pantas dijadikan teladan dan anutan. Dalam ayat diatas
sergambar jelas sebagiansifat istimewa Rasulullah saw itu.

Nah sudahkah kita menempatkan Rasulullah saw sebagai kekasih, teladan, dan uswah tertinggi dari
seluruh manusia lainnya. Ataukah kita masih lebih mengagungkan kyai, ulama, pemimpin tokoh politik,
negarawan dan lain-lain, melebihi pengagungan kita kepada Rasulullah saw? Konsekwensi yang paling
penting disadari oleh umat dari meneladani Raulllah saw adalah mentaati dan mengikuti sunnah beliau.
Mari kita ukur sikap meneladani kita kepadaRaulullah saw dari sisi itu, khususnya dalam hal kasih sayang
dan cinta.

Kuliah Ramadhan ke: 5

KEISTIMEWAAN RAMADHAN DARI BULAN LAINNYA

Demikian banyak keistimewaan yang ada di dalam bulan Ramadhan ini bila dibanging dengan bulan2
lainnya. Andaikata tersingkap semua hikmah bagi manusia di depan matanya dengan telanjang, maka
pastilah dia akan berharap sebelas bulan sisanya menjadi Ramadhan.

Sederet keistimewaan bisa kita dapatkan dalam hadits-hadits Rasulullah saw yang secara gamblang
mengambarkan apa yang ada dalam bulan suci ini. Simaklah hadits riwayat Bukhori dan Muslim berikut
ini, yang artinya:
“Semua amal manusia untuknya, kebaikan dilipat gandakan menjadi sepuluh hingga 700 kali. Allah
berfirman: “Kecuali puasa.Ia untuk-Ku dan Alu akan membalasnya. Sebab ia meninggalkan syahwatnya,
makanan dan minumannya karena Aku. “Orang yang berpuasa mendapatkan dua kegembiraan:
kegembiraan ketika berbuka dan kegembeiraan saat berjumpa Rabbnya. Sesungguhnya bau mulut orang
yang puasa lebih harum di sisi Allah dibandingkan bau kesturi”.

Puasa demikian istimewa di mata Allah. Dia hargai puasa tanpa ada batas pahala, Allah akan
membalasnya sesuai dengan kadar takwa yang dia persembahkan kepadaNya. Sesuai dengan apakah
puasa yang dilakukannya seratus persen untuk Tuhannya atau karena hal lainnya.

Allah memberi harga yang demikian mahal, bahkan sampai bau mulut mereka yang berpuasa lebih
harum dari minyak kasturi. Sebuah penghargaan yang sangat luar biasa. Sebuah nilai yang tiada tara.
Puasa demikian special kedudukannya di sisi Allah Ta’ala.

Di bulan ini, do’a-doa yang dipanjatkan pada Allah saat berbuka, tak lagi ditolak. Waktu berbuka
menjadi sangat istimewa di bulan ini. Doa-doa yang terlontar dari mulut yang tidak lagi kotor dan
belepotan dengan kata-kata keji dan munkar, menjadi demikian berharga di sisi Allah Ta’ala.

Doa mereka tidak akan tertolak. Doa mereka akan tembus menembus lais-lapis langit menuju Sang
Maha Pengabul doa. “Sesungguhnya orang yang berpuasa saat berbuka memiliki doa yang tidak akan
tertolak” HR Ibnu Majah. Doa mereka menjadi demikian mujarab. Doa mereka menjadi demikian
berbobot di sisi Allah Taala.

Bulan Ramadhan adalah penghulu bulan-bulan lainnya. Karena, bulan ini adalah bulan merekahnya
bunga ketaatan, semburatnya kedekatan pada Tuhan. Bulan ini adalah bulan ampunan, rahmah dan
keridlaan.

Orang-orang yang berpuasa akan menjadi tamu VIP surga, sehingga dia akan diperkenankan masuk
secara khusus dari sebuah pintu yang disebut dengan Ar Rayyan. Dalam sebuah hadis ditegaskan,
“Sesungguhnya di dalam surga itu ada sebuah pintu yag disebut Ar Rayyan. Darinya orang-orang yang
berpuasa akan memasuki surga dan tidak akan memasukinya kecuali orang yang puasa” HR Bukhari
Muslim.

Tatkala orang-orang yang berpuasa telah masuk secara keseluruhan, maka pintu itu akan segera
ditutup kembali, dan tertutuplah bagi siapa pun untuk memasukinya. Barangsiapa yang masuk darinya,
maka dia akan minum. Siapa yang minum, maka dia tidak akan haus untuk selamanya.

Ramadhan menjadi demikian special, karena Allah turunkan Al Quran yang mulia di bulan ini.
sebagai Kitab Suci petunjuk bagi manusia. Dan Allah beri kesempatan kaum muslimin untuk memburu
malam seribu bulan di bulan yang suci ini, dengan melakukan i’tikaf di masjid-masjid. Allah buka
kesempatan manusia bisa menjadi laksana bayi yang baru dilahirkan ibunya, tatkala dia sukses
melakukan puasa.
Terbuka lebar bagi kita semua untuk bersih dari dosa-dosa masa lalu kita. Kemudian, kita
membangun gugus amal kita dengan lebih baik dan lebih indah. Kita hapus dosa-dosa kita dengan
amal-amal mulia yang Allah perintahkan dan kita jauhi semua larangan Allah dengan sungguh-sungguh.
Puasa akan menjadi perisai dari neraka, laksana seseorang yang memakai perisai saat berperang. Puasa
adalah perisai, Ia adalah benteng dari sekian banyak benteng kaum muslimin (HR Thabrani).

Seutama-utamanya sedekah adalah sedekah di bulan Ramadhan (HR Tirmidzi). Tak heran, jika Allah
menjanjikan kepada setiap orang yang memberi bukaan pada orang yang puasa, dia akan
mendapatkan pahala sebagaimana pahala yang didapat oleh mereka yang puasa. Tanpa dikurangi
sedikitpun pahala itu dari orang yang puasa.

Puasa juga akan memberikan syafaat pada pelakunya di hari kiamat, sebagaimana sabda Rasulullah
Saw dalam HR Ahmad, yang artinya:

“Puasa dan Al-Quran akan memberikan syafaat bagi seorang hamba di hari Kiamat. Puasa akan berkata:
Wahai Tuhanku, aku telah menghalanginya dari makan dan minum pada siang hari. Sedangkan Al Quran
akan berkata; Wahai Tuhanku, aku telah mencegahnya dari tidur di malam hari, maka perkenankanlah
syafaatku kepadanya. Maka syafaat keduanya diperkenankan”.

Diantara sekian banyak yang mungkin bisa kita tangkap dan rasakan dari ibadah puasa adalah bahwa
dia menjadi sarana pembersihan jiwa, latihan diri untuk menjauhi segala larangan-Nya, melatih diri
menyempurnakan ibadah kepada Allah semata. Puasa selain bisa membuat jasmani menjadi sehat,
sebagaimana dikatakan oleh para dokter, ia juga bias menjadikan aspek kejiwaan manusia mengungguli
aspek materi. Unsur-unsur yang memiliki sifat-sifat kehewanan menjadi terkuburkan. Sebab, saat itu
setiap pelaku biasa dilatih untuk sabar dan ikhlas hanya karena Allah semata.

Puasa membuat unsur tanah terkalahkan, sehingga dia tidak menjadi laksana binatang. Ruhnya
menguasai dirinya, sehingga dia melambung tinggi menuju derajat para malaikat. Dalam pusa terdapat
kemenangan ruh atas materi, akal dan pikiran atas nafsu syahwat. Puasa berfungsi mematahkan gelora
syahwat dan mengangkat sisi nalurinya.

Puasa akan menajamkan rasa syukur nikmat kepada Allah. Saat dia lapar, dia akan merasakan
bahwa kenyang demikian nikmatnya. Saat dia haus, dia akan merasakan betapa nikmatnya regukan air.
Perasaan syukur nikmat ini menjalarkan kerja-kerja solidaritas dan empati yang demikian besar
terhadap sesama. Puasa memiliki sisi hikmah ijtimaiyyah. Karena pelaksanaan puasa Ramadhan akan
mengajak pada kasih sayang, persamaan, lemah lembut antara seorang muslim dengan muslim lainnya.

Puasa juga akan melahirkan kecerdasan-kecerdasan dan kepekaan pikiran. Sehingga disebutkan,
bahwa barangsiapa yang membuat perutnya lapar, maka pikiran-pikirannya menjadi agung dan
istimewa.
Sementara itu, Lukman al Hakim berkata kepada anaknya: “Wahai anakku jika perut telah penuh sesak,
maka pikiran akan tidur lelap dan hikmah (sikap bijak) akan keruan dan tubuh akan menjadi demikian
malas untuk beribadah”.

Maka sudah sangat pantas jika kita mengerti keistimewaan dan hikmah bulan Ramadhan, jika kita
semua bertekad bulat untuk menjadikan Ramadhan ini sebagai bulan zuhud, ta’abbud, berbuat
kebajikan terhadap orang-orang yang fakir dan miskin. Jadikanlah ia sebagai bulan menjaga
pencernaan, menjaga mulut, membersihkan jiwa dan raga. Jangan tunda untuk menjadi hamba Allah
yang selalu mengejar nikmat Allah. Mari kita telusuri lorong-lorong hikmah Ramadhan itu dengan
antusiasme ibadah dan amal sholeh yang membara. Semoga Allah memberikan kemampuan kepada kita
semua.

Naskah Kuliah Subuh Ramadahan ke:6

AKRAB DENGAN AL-QURAN

Al Quran adalah kitab suci terachir yang diturunkan oleh Allah Swt.Isinya merupakan penyempurna
dan pengoreksi semua isi kitab suci terdahulu. Dengan diturunkannya ayat terakhir dari Al Qurn, berarti
terhentilah wahyu dari langit dan berakhirlah pengutusan para rasul ke dunia. Nabi Muhamad saw
sebagai penerima wahyu terakhir tersebut adalah pamungkas para Rasul. (QS Al Ahab: 40)

ً ‫ع ِليما‬ ْ ‫َّللاُ ِب ُك ِل ش‬
َ ٍ‫َيء‬ َّ َ‫َّللاِ َوخَات ََم النَّبِ ِيينَ َو َكان‬ ُ ‫كانَ ُم َح َّمدٌ أ َ َبا أ َ َح ٍد ِمن ِر َجا ِل ُك ْم َولَ ِكن َّر‬
َّ ‫سو َل‬ َ ‫َّما‬
040. Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah
Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Al Quran merupakan undang-undang langit terakhir yang berfungsi mengubah undang-undang


samawi sebelumnya. Apa yang masihdianggap relevan dengan tuntutan zaman masih tersirat dan atau
tersurat di dalamnya, karena Al Quran adalah puncak dari perundang-undangan Ilahi dan pamungkas
wahyu samawi. Isi kitab samawi sebelumnya yang telah diubah oleh tangan-tangan kotor manusia,
dikoreksi dan diluruskan. Undang-undang pokok yang dibutuhkan umat manusia sampai akhir zaman
untuk mengatur kehidupannya telah lengkap tercantum dalam Al Quran.

ٍ‫غي َْر ُمت َ َجانِف‬ ُ ‫ض‬


َ ‫ط َّر ِفي َم ْخ َم‬
َ ‫ص ٍة‬ ْ ‫اإل ْسالَ َم دِينا ً فَ َم ِن ا‬
ِ ‫ضيتُ لَ ُك ُم‬ َ ُ‫ْال َي ْو َم أ َ ْك َم ْلتُ لَ ُك ْم دِينَ ُك ْم َوأَتْ َم ْمت‬
ِ ‫علَ ْي ُك ْم ِن ْع َم ِتي َو َر‬
﴾٣﴿ ‫ور َّر ِحي ٌم‬ ٌ ُ‫غف‬ َ َ‫ِ ِإلثْ ٍم فَإ ِ َّن َّللا‬
003. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu
ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barangsiapa terpaksa karena
kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al
Maidah: 3)

Al Quran diturunkan berfungsi membenarkan dan meluruskan apa yang ada pada kitab suci
sebelumnya serta menyempurnakan risalah para Nabi terdahulu, untuk dijadikan sebagai risalah
universal yang mencakup semua kebutuhan manusia, kapan dan dimana saja mereka berada (Al
Maidah:48)

‫علَ ْي ِه فَاحْ ُكم بَ ْينَ ُهم بِ َما أَنزَ َل َّللاُ َوالَ تَتَّبِ ْع‬ ِ ‫صدِقا ً ِل َما بَيْنَ يَدَ ْي ِه ِمنَ ْال ِكت َا‬
َ ً ‫ب َو ُم َهي ِْمنا‬ َ ‫ق ُم‬ ِ ‫َاب بِ ْال َح‬
َ ‫َوأَنزَ ْلنَا إِلَيْكَ ْال ِكت‬
ِ ‫عةً َو ِم ْن َهاجا ً َولَ ْو شَاء َّللاُ لَ َج َعلَ ُك ْم أ ُ َّمةً َو‬
‫احدَة ً َولَـ ِكن ِل َي ْبلُ َو ُك ْم فِي‬ َ ‫ق ِل ُك ٍل َج َع ْلنَا ِمن ُك ْم ِش ْر‬
ِ ‫ع َّما َجاءكَ ِمنَ ْال َح‬ َ ‫أ َ ْه َواء ُه ْم‬
﴾٤٨﴿ َ‫ت إِلَى هللا َم ْر ِجعُ ُك ْم َج ِميعا ً فَيُنَبِئ ُ ُكم بِ َما ُكنت ُ ْم فِي ِه ت َْخت َ ِلفُون‬ ِ ‫َما آت َا ُكم فَا ْستَبِقُوا ال َخي َْرا‬

048. Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang
sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu;
maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu
mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami
berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja),
tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat
kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah
kamu perselisihkan itu,

Kesempurnaan dan Kelengkapan Isi Al Quran.

Dalam surat Al Maidah ayat 3 diataqsa Allah menyatakan,

ٍ‫غ ْي َر ُمت َ َجانِف‬ ُ ‫ض‬


َ ‫ط َّر فِي َم ْخ َم‬
َ ‫ص ٍة‬ ْ ‫اإل ْسالَ َم دِينا ً فَ َم ِن ا‬
ِ ‫ضيتُ لَ ُك ُم‬ َ ُ‫ْاليَ ْو َم أ َ ْك َم ْلتُ لَ ُك ْم دِينَ ُك ْم َوأَتْ َم ْمت‬
ِ ‫علَ ْي ُك ْم نِ ْع َمتِي َو َر‬
﴾٣﴿ ‫ور َّر ِحي ٌم‬ ٌ ُ‫غف‬ َ َ‫ِ ِإلثْ ٍم فَإ ِ َّن َّللا‬
003. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan
telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat
dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ayat ini menyiratkan dua hal pokok. Pertama; Allah telah menyempurnakan isi Al Quran. Dalam artian dari
aspek kualitas ajaran Al Quran amat sempurna dan tidak terdapat kontradiski sama sekali.

Kedua; Allah telah mencukupkan atau melengkapkan nikmat-Nya kepada Muhammad saw. Diantara nikmat yang
paling agung adalah nikmat Islam Berarti Allah telah melengkapkan ajaran Islam.
Kelengkapan ajaran Al Quran ini ditinjau darisegi kuantita ajarannya. Menurut ayat tersebut ajaran al Quran
telah mencakup semua aspek hukum dan aspek kehidupan manusia. Sebagaimana ditegaskan Allah dalam
firmanNya:

﴾٣٨﴿ َ‫ش ْيءٍ ث ُ َّم ِإلَى َر ِب ِه ْم يُحْ ش َُرون‬


َ ‫ب ِمن‬ ْ ‫َّما فَ َّر‬
ِ ‫طنَا ِفي ال ِكت َا‬
038. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab Al Quran ini, kemudian kepada Tuhanlah mereka
dihimpunkan.

Para ahli tafsir mengatakan maksud ayat ini, bahwa Allah tidak meninggalkan sedikit pun masalah-masalah
agama dalam Al Quran. Allah telah menjelaskan semuanya baik dengan terperinci maupun secara global yang
diterangkanoleh Rasulullah saw atau ijma’ dan qyas. (Al Jami; Li ahkaamil Quran, Al Qurthubi, juz VI hal 4200).

Dalam ayat lain ditegaskan, “Dan telah Kami turunkan kepadamu Al-Quran untuk menerangkan segala
sesuatu” (Al Jami’ Li ahkaamil Quran, A; Qurthubi, Juz X hal 164).

Menurut ayat-ayat tersebut, segala sesuatu sudah ada dan diatur oleh Allah swt dalam al Quran. Bagi orang
yang mengikuti peraturan-peraturan yang sudah ada dalam

al Quran, akan sempurna merasakan nikmat Allah dalam penghidupan dan kehiudupan di atas duia ini.

Kalau kita bawa maksud al Quran ini kepada suatu konotasiyang lebih sempit, yaitu pedoman hidup dan
hukum, maka al Quran merupakan pedoman hidup dan aturan hukum yang sempurna dan lengkap. Tidak ada lagi
aturan atau hukum pokok yang dibutuhkan manusia yang tertinggal. Apalagi manusia berpedoman pada al Quran,
mengikuti dan menjalankan peraturan-peraturan hukum yang ada di dalamnya, maka akan sempurnalah nikmat
kehidupan umat manusia di dunia ini. (Al Jami; Li ahkaamil Qurn, al Qurthubi, juz VI hal. 420).

Manusia membutuhkan petunjuk al Quran.

Totalitas dan kesempurnaan ajaran yang dimiliki Al Quran menuntut penganutnya agar komitmen terhadap
Islam secara total. Seorang Muslim tidak boleh mengambil satu aspek saja dari ajarannya, akan tetapi ia harus
mengambil semua asapek dari ajaran-ajaran Islam secara utuh (kafah). Al Quran mencela Bani Israil yang
menerima sebagian ayat dan menolak sebagian yang lainya sesuai dengan kemauan dan hawa nafsu mereka .

‫ي فِي ْال َح َياةِ الدُّ ْنيَا َويَ ْو َم ْال ِق َيا َم ِة‬


ٌ ‫ض فَ َما َجزَ اء َمن َي ْف َع ُل ذَلِكَ ِمن ُك ْم ِإالَّ ِخ ْز‬ ِ ‫ض ْال ِكت َا‬
ٍ ‫ب َوت َ ْكفُ ُرونَ بِ َب ْع‬ ِ ‫أَفَتُؤْ ِمنُونَ بِ َب ْع‬
﴾٨٥﴿ َ‫ع َّما ت َ ْع َملُون‬
َ ‫ب َو َما َّللاُ بِغَافِ ٍل‬ ِ ‫ي َُردُّونَ إِلَى أَش َِد ْالعَذَا‬
085. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain?
Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan
pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu
perbuat.
Untuk menghadapi era globalisasi sekarang ini, manusia amat membutuhkan petunjuk al Quran, karena
kebutuhannya melebihi kebutuhan umat manusia terdahulu Ada beberapa alasan yang menyebabkan kita amat
membutuhkan petunjuk al Quran.

Pertama: Al Quran diturunkan kepada Rasulullah saw untuk membebaskan umat manusia dari kegelapan
menuju cahaya hidup yang terang benderang.

﴾١﴿ ‫يز ْال َح ِمي ِد‬


ِ ‫اط ْالعَ ِز‬ ِ ‫ور بِإ ِ ْذ ِن َربِ ِه ْم ِإلَى‬
ِ ‫ص َر‬ ِ ‫الظلُ َما‬
ِ ُّ‫ت ِإلَى الن‬ َ َّ‫الَر ِكتَابٌ أَنزَ ْلنَاهُ ِإلَيْكَ ِلت ُ ْخ ِر َج الن‬
ُّ َ‫اس ِمن‬

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap
gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa
lagi Maha Terpuji.

Kedua; Al Quran sebagai pedoman hidup penuntun ummat manusia ke jalan kehidupan yang lurus:

﴾٩﴿ ً ‫ت أ َ َّن لَ ُه ْم أَجْ را ً َك ِبيرا‬ َّ ‫ِي أ َ ْق َو ُم َويُبَش ُِر ْال ُمؤْ ِمنِينَ الَّذِينَ يَ ْع َملُونَ ال‬
ِ ‫صا ِل َحا‬ َ ‫ِإ َّن هَـذَا ْالقُ ْرآنَ ِي ْهدِي ِللَّتِي ه‬

009. Sesungguhnya Al Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar
gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,

Mengikuti petunjuk al-Quran adalah jaminan kebahagiaan pribadi dan masyarakat, kebahagiaan dunia dan
akhirat, karena pembuat petunjuk itu adalah Pencipta dan Yang Maha Tahu tentang cipataan-Nya.

Pedoman dan petunjuk hidup itu berlakku bagi seluruh ummat manusia, baik bagi orang Arab maupun orang
non Arab, baik orang pandai ataupun orang biasa, baik kelas atas, menengah atau pun kelas bawah. Oleh karena
itu, Allah swt Yang Maha Bijakksana menurunkan al Quran ini dengan uslub (susunan bahasa) yang mudah, yang
dapat difahami oleh ummat manusia. Bahkan al Quran sendiri mengulang ulang pernyataan ini empat kali dalam
satu surat yaitu surat al Qamar: 17, 22, 32 dan 40.

﴾١٧﴿ ‫س ْرنَا ْالقُ ْرآنَ ِل ِلذ ْك ِر فَ َه ْل ِمن ُّمدَّ ِك ٍر‬


َّ ‫َولَقَ ْد َي‬
017. Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil
pelajaran?

Para sahabat Nabi dengan berbagai macam jenis kemampuan penalaran mereka, dengan mudah memahami,
mencerna, dan mengamalkan al Quran, karena mereka siap mendengar, menerima dan mentaatinya. Namun
Rasulullah saw pernah mengadu kepada Allah swt tentang sikap kaumnya terhadap al Qurn ini sebagaimana
direkam oleh al Quran sendiri:

﴾٣٠﴿ ً ‫ب إِ َّن قَ ْو ِمي ات َّ َخذُوا َهذَا ْالقُ ْرآنَ َم ْه ُجورا‬


ِ ‫سو ُل يَا َر‬ َّ ‫َوقَا َل‬
ُ ‫الر‬
030. Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an ini suatu yang tidak diacuhkan".
Ibnu Katsir mengatakan bahwa tidak beriman dan tidak membenarkan al Quran termasuk “mahjura”. Tidak
mentadabbur (menelaah) dan tidak memahaminya adalah termasuk “mahjura”. Tidak mengamalkannya dan tidak
melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya adalah termasuk “mahjura”.

Pengaduan itu terhadap kaumnya yang memusuhi Al Quran (orang-orang kafir), bagaimana kalau terjadi
pada ummatnya sendiri.

Oleh kakrena itu, marilah dalam bulan Ramadhan ini kita gunakan kesempatan sebaik-baiknya untuk
memahami al Quran, dan dilanjutkan pada bulan-bulan setelah Ramadhan. Supaya kita tidak termasuk orang-
orang yang mahjuura, yaitu yang tidak mengacuhkan alQuran.