Anda di halaman 1dari 31

A.

KONSEP DASAR PENYAKIT

1. Definisi

HIV ( Human Immunodeficiency Virus ) adalah virus pada manusia


yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia yang dalam jangka waktu
yang relatif lama dapat menyebabkan AIDS. Sedangkan AIDS sendiri adalah
suatu sindroma penyakit yang muncul secara kompleks dalam waktu relatif
lama karena penurunan sistem kekebalan tubuh yang disebabkan oleh infeksi
HIV. Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan
gejala penyakit karena menurunnya sistem kekebalan tubuh yang disebabkan
oleh infeksi HIV. Centers for Disease Control (CDC) merekomendasikan
bahwa diagnosa AIDS ditujukan pada orang yang mengalami infeksi
opportunistik, dimana orang tersebut mengalami penurunan sistem imun yang
mendasar (sel T berjumlah 200 atau kurang) dan memiliki antibodi positif
terhadap HIV. Kondisi lain yang sering digambarkan meliputi kondisi
demensia progresif, “wasting syndrome”, atau sarkoma kaposi (pada pasien
berusia lebih dari 60 tahun), kanker-kanker khusus lainnya yaitu kanker
serviks invasif atau diseminasi dari penyakit yang umumnya mengalami
lokalisasi misalnya, TB (Tubercolosis). (Doenges, 2000).
Acquired Immune Deficiency syndrome (AIDS) merupakan kumpulan
gejala penyakit yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus
(HIV). Virus HIV ditemukan dalam cairan tubuh terutama pada darah, cairan
sperma, cairan vagina dan air susu ibu. Virus tersebut merusak kekebalan
tubuh manusia dan mengakibatkan turunnya atau hilangnya daya tahan tubuh
sehingga mudah terjangkit penyakit infeksi. (Nursalam, 2007)

2. Epidemiologi
Kejadian ini berawal pada musim panas di Amerika Serikat tahun 1981,
ketika itu untuk pertama kalinya oleh Centers for Disease Control and Prevention
dilaporkan bahwa ditemukannya suatu peristiwa yang tidak dapat dijelaskan
sebelumnya dimana ditemukan penyakit Pneumocystis Carinii Pneumonia (infeksi
paru-paru yang mematikan) yang mengenai 5 orang homosexual di Los Angeles,
kemudian berlanjut ditemukannnya ’penyakit’ Sarkoma Kaposi yang menyerang
sejumlah 26 orang homosexsual di New York dan Los Angeles. Beberapa bulan
kemudian penyakit tersebut ditemukan pada pengguna narkoba suntik, segera hal itu
juga menimpa para penerima transfusi darah.
Sesuai perkembangan pola epidemiologi penyakit ini, semakin jelaslah bahwa
penyebab proses penularan yang paling sering adalah melalui kontak sexual, darah
dan produk darah serta cairan tubuh lainnya.
Pada tahun 1983, ditemukan virus HIV pada penderita dan selanjutnya pada
tahun 1984 HIV dinyatakan sebagai faktor penyebab terjadinya Aquired
Immunodeficiency Syndrom (AIDS).

3. Etiologi
AIDS adalah gejala dari penyakit yang mungkin terjadi saat system imun
dilemahkan oleh virus HIV. Penyakit AIDS disebabkan oleh Human
Immunedeficiency Virus (HIV), yang mana HIV tergolong ke dalam
kelompok retrovirus dengan materi genetik dalam asam ribonukleat (RNA),
menyebabkan AIDS dapat membinasakan sel T-penolong (T4), yang
memegang peranan utama dalam sistem imun. Sebagai akibatnya, hidup
penderita AIDS terancam infeksi yang tak terkira banyaknya yang sebenarnya
tidak berbahaya, jika tidak terinfeksi HIV (Daili, 2005)
Transmisi infeksi HIV dan AIDS terdiri dari lima fase yaitu :
a. Periode jendela. Lamanya 4 minggu sampai 6 bulan setelah infeksi. Tidak
ada gejala.
b. Fase infeksi HIV primer akut. Lamanya 1-2 minggu dengan gejala flu
likes illness.
c. Infeksi asimtomatik. Lamanya 1-15 atau lebih tahun dengan gejala tidak
ada.
d. Supresi imun simtomatik. Diatas 3 tahun dengan gejala demam, keringat
malam hari, BB menurun, diare, neuropati, lemah, rash, limfadenopati,
lesi mulut.
e. AIDS. Lamanya bervariasi antara 1-5 tahun dari kondisi AIDS pertama
kali ditegakkan. Didapatkan infeksi oportunis berat dan tumor pada
berbagai system tubuh, dan manifestasi neurologist.
AIDS dapat menyerang semua golongan umur, termasuk bayi, pria maupun
wanita. Yang termasuk kelompok resiko tinggi adalah :
a. Lelaki homoseksual atau biseks.
b. Orang yang ketagian obat intravena
c. Partner seks dari penderita AIDS
d. Penerima darah atau produk darah (transfusi).
e. Bayi dari ibu/bapak terinfeksi.

4. Patofisiologi

Virus masuk ke dalam tubuh manusia terutama melalui perantara darah,


semen dan secret Vagina. Sebagaian besar ( 75% ) penularan terjadi melalui
hubungan seksual.
HIV tergolong retrovirus yang mempunyai materi genetic RNA. Bilaman
virus masuk kedalam tubuh penderita ( sel hospes ), maka RNA virus diubah
menjadi
oleh ensim reverse transcryptase yang dimiliki oleh HIV . DNA pro-virus
tersebut kemudian diintegrasikan kedalam sel hospes dan selanjutnya
diprogramkan untuk membentuk gen virus.
HIV cenderung menyerang jenis sel tertentu, yaitu sel-sel yang mempunyai
antigen pembukaan CD4, terutama sekali limfosit T4 yang memegang
peranan penting dalam mengatur dan mempertahankan system kekebalan
tubuh. Selain tifosit T4,virus juga dapat menginfeksi sel monosit makrofag,
sel Langerhans pada kulit, sel dendrit folikuler pada kelenjar limfe, makrofag
pada alveoli paru, sel retina, sel serviks uteri dan sel-sel mikroglia otak Virus
yng masuk kedalam limfosit T4 selanjutnya mengadakan replikasi sehingga
menjadi banyak dan akhirnya menghancurkan sel limfosit itu sendiri.
Kejadian awal yang timbul setelah infeksi HIV disebut sindrom retroviral
akut atau Acute Roviral Syndrome. Sindrom ini diikuti oleh penurunan CD4
(Cluster Differential Four) dan peningkatan kadar RNA Nu-HIV dalam
plasma. CD4 secara perlahan akan menurun dalam beberapa tahun dengan
laju penurunan CD4 yang lebih cepat pada 1,5 – 2,5 tahun sebelum pasien
jatuh dalam keadaan AIDS. Viral load ( jumlah virus HIV dalam darah ) akan
cepat meningkat pada awal infeksi dan kemudian turun pada suatu level titik
tertentu maka viral load secara perlahan meningkat. Pada fase akhir penyakit
akan ditemukan jumlah CD4 < 200/mm3 kemudian diikuti timbulnya infeksi
oportunistik, berat badan turun secara cepat dan muncul komplikasi
neurulogis. Pada pasien tanpa pengobatan ARV rata – rata kemampuan
bertahan setelah CD4 turun < 200/mm3 adalah 3,7 tahun. (DEPKES RI,2003)

5. Klasifikasi

Terdapat dua definisi tentang AIDS, yang keduanya dikeluarkan oleh Centers
for Disease Control and Prevention (CDC). Awalnya CDC tidak memiliki
nama resmi untuk penyakit ini; sehingga AIDS dirujuk dengan nama penyakit
yang berhubungan dengannya, contohnya ialah limfadenopati. Para penemu
HIV bahkan pada mulanya menamai AIDS dengan nama virus
tersebut.[47][48] CDC mulai menggunakan kata AIDS pada bulan September
tahun 1982, dan mendefinisikan penyakit ini.[49]Tahun 1993, CDC
memperluas definisi AIDS mereka dengan memasukkan semua orang yang
jumlah sel T CD4+ di bawah 200 per µL darah atau 14% dari seluruh
limfositnya sebagai pengidap positif HIV.[50] Mayoritas kasus AIDS di negara
maju menggunakan kedua definisi tersebut, baik definisi CDC terakhir
maupun pra-1993. Diagnosis terhadap AIDS tetap dipertahankan, walaupun
jumlah sel T CD4+ meningkat di atas 200 per µL darah setelah perawatan
ataupun penyakit-penyakit tanda AIDS yang ada telah sembuh.

Klasifikasi Stadium Klinis HIV AIDS Menurut WHO

Klasifikasi Stadium klinis WHO

Asimtomatik 1

Ringan 2

Sedang 3

Berat 4

Stadium Klinis WHO untuk Bayi dan Anak yang Terinfeksi HIV a, b

Stadium klinis 1

 Asimtomatik
 Limfadenopati generalisata persisten

Stadium klinis 2

 Hepatosplenomegali persisten yang tidak dapat dijelaskana


 Erupsi pruritik papular
 Infeksi virus wart luas
 Angular cheilitis
 Moluskum kontagiosum luas
 Ulserasi oral berulang
 Pembesaran kelenjar parotis persisten yang tidak dapat dijelaskan
 Eritema ginggival lineal
 Herpes zoster
 Infeksi saluran napas atas kronik atau berulang (otitis media, otorrhoea, sinusitis,
tonsillitis )
 Infeksi kuku oleh fungus

Stadium klinis 3
 Malnutrisi sedang yang tidak dapat dijelaskan, tidak berespons secara adekuat
terhadap terapi standara
 Diare persisten yang tidak dapat dijelaskan (14 hari atau lebih ) a
 Demam persisten yang tidak dapat dijelaskan (lebih dari 37.5o C intermiten atau
konstan, > 1 bulan) a
 Kandidosis oral persisten (di luar saat 6- 8 minggu pertama kehidupan)
 Oral hairy leukoplakia
 Periodontitis/ginggivitis ulseratif nekrotikans akut
 TB kelenjar
 TB Paru
 Pneumonia bakterial yang berat dan berulang
 Pneumonistis interstitial limfoid simtomatik
 Penyakit paru-berhubungan dengan HIV yang kronik termasuk bronkiektasis
 Anemia yang tidak dapat dijelaskan (<8g/dl ), neutropenia (<500/mm3) atau
trombositopenia (<50 000/ mm3)

Stadium klinis 4b

 Malnutrisi, wasting dan stunting berat yang tidak dapat dijelaskan dan tidak
berespons terhadap terapi standara
 Pneumonia pneumosistis
 Infeksi bakterial berat yang berulang (misalnya empiema, piomiositis, infeksi tulang
dan sendi, HIV/AIDS, kecuali pneumonia)
 Infeksi herpes simplex kronik (orolabial atau kutaneus > 1 bulan atau viseralis di
lokasi manapun)
 TB ekstrapulmonar
 Sarkoma Kaposi
 Kandidiasis esofagus (atau trakea, bronkus, atau paru)
 Toksoplasmosis susunan saraf pusat (di luar masa neonatus)
 Ensefalopati HIV
 Infeksi sitomegalovirus (CMV), retinitis atau infeksi CMV pada organ lain, dengan
onset umur > 1bulan
 Kriptokokosis ekstrapulmonar termasuk HIV/AIDS
 Mikosis endemik diseminata (histoplasmosis, coccidiomycosis)
 Kriptosporidiosis kronik (dengan diarea)
 Isosporiasis kronik
 Infeksi mikobakteria non-tuberkulosis diseminata
 Kardiomiopati atau nefropati yang dihubungkan dengan HIV yang simtomatik
 Limfoma sel B non-Hodgkin atau limfoma serebral
 Progressive multifocal leukoencephalopathy

6. Gejala klinis

Gejala Mayor:
a. Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan
b. Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan
c. Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan

Gejala Minor:
a. Batuk menetap lebih dari 1 bulan
b. Adanya herpes zostermultisegmental dan herpes zoster berulang
c. Kandidias orofaringeal
d. Limfadenopati generalisata
e. Ruam
Menurut Anthony (Fauci dan Lane, 2008), gejala klinis HIV/AIDS dapat
dibagikan mengikut fasenya.
1. Fase akut
Sekitar 50-70% penderita HIV/AIDS mengalami fase ini sekitar 3-6 minggu
selepas infeksi primer. Gejala-gejala yang biasanya timbul adalah demam,
faringitis, limpadenopati, sakit kepala, arthtalgia, letargi, malaise, anorexia,
penurunan berat badan, mual, muntah, diare, meningitis, ensefalitis, periferal
neuropati, myelopathy, mucocutaneous ulceration, dan erythematous
maculopapular rash. Gejala-gejala ini muncul bersama dengan ledakan
plasma viremia. Tetapi demam, ruam kulit, faringitis dan mialgia jarang
terjadi jika seseorang itu diinfeksi melalui jarum suntik narkoba daripada
kontak seksual. Selepas beberapa minggu gejala-gajala ini akan hilang akibat
respon sistem imun terhadap virus HIV. Sebanyak 70% dari penderita HIV
akan mengalami limfadenopati dalam fase ini yang akan sembuh sendiri.
2. Fase asimptomatik
Fase ini berlaku sekitar 10 tahun jika tidak diobati. Pada fase ini virus HIV
akan bereplikasi secara aktif dan progresif. Tingkat pengembangan penyakit
secara langsung berkorelasi dengan tingkat RNA virus HIV. Pasien dengan
tingkat RNA virus HIV yang tinggi lebih cepat akan masuk ke fase
simptomatik daripada pasien dengan tingkat RNA virus HIV yang rendah.
3. Fase simptomatik
Selama fase akhir dari HIV, yang terjadi sekitar 10 tahun atau lebih setelah
terinfeksi, gejala yang lebih berat mulai timbul dan infeksi tersebut akan
berakhir pada penyakit yang disebut AIDS.

7. Pemeriksaan Fisik

a. Keadaan umum: composmetis, stupor, semi koma, koma.

b. Ekspresi wajah, penampilan ( berpakaian)

c. Tanda-tanda vital meliputi: suhu, nadi, pernapasan. Tekanan darah

d. Antropometri meliputi: panjang badan, berat badan, lingkar lengan atas,


lingkar kepala, lingkar dada, lingkar abdomen.

Head To Toe

Kulit : Pucat dan turgor kulit agak buruk

1) Kepal dan leher : Normal tidak ada kerontokan rambut, warna hitam dan
tidak ada peradangan
2) Kuku : Jari tabuh
3) Mata / penglihatan :Sklera pucat dan nampak kelopak mata cekung
4) Hidung :Tidak ada Peradangan, tidak ada reaksi alergi, tidak ada polip, dan
fxungsi penciuman normal
5) Telinga :Bentuk simetris kanan/kiri, tidak ada peradangan, tidak ada
perdarahan
6) Mulut dan gigi: Terjadi peradangan pada rongga mulut dan mukosa, terjadi
Peradangan dan perdarahan pada gigi ,gangguan menelan(-), bibir dan
mukosa mulut klien nampak kering dan bibir pecah-pecah.
7) Leher: Terjadi peradangan pada eksofagus.
8) Dada : dada masih terlihat normal
9) Abdomen : Turgor jelek ,tidak ada massa, peristaltik usus meningkat dan
perut mules dan mual.
10) Perineum dan genitalia : Pada alat genital terdapat bintik-bintik radang
11) Extremitas atas/ bawah : Extremitas atas dan extremitas bawah tonus otot
lemah akibat tidak ada energi karena diare dan proses penyakit.

11 Pola Fungsi GORDON

a. Pola persepsi dam manajemen kesehatan


Pada kasus ini klien dan keluarga tidak mengerti bahwa seks bebas dan
kehamilan dengan ibu pengindap dapat menyebabkan penyakit yang berbahaya,
seperti penyakit yang sedang diderita klien. perawat perlu mengkaji bagaimana
klien memandang penyakit yang dideritanya, apakah klien tau apa penyebab
penyakitnya sekarang?

b. Pola nutrisi dan metabolic

Biasanya pada pasien terdapat bising usus hiperaktif; penurunan berat badan:
parawakan kurus, menurunnya lemak subkutan/massa otot; turgor kulit buruk;
lesi pada rongga mulut, adanya selaput putih dan perubahan warna; kurangnya
kebersihan gigi, adanya gigi yang tanggal; edema. Pada kasus pasien ini
mengalami penurunan BB sejak 2 bulan yang lalu.

c. Pola eliminasi

Biasanya pasien mengalami Diare intermitten, terus menerus dengan/tanpa


nyeri tekan abdomen, lesi/abses rektal/perianal, feses encer dan/tanpa disertai
mukus atau darah, diare pekat, perubahan jumlah, warna, dan karakteristik urine.
Pada kasus pasien ini sudah 1 bulan mengalami diare berat.

d. Pola latihan /aktivitas

Biasaya pada pasien HIV Massa otot menurun, terjadi respon fisiologis terhadap
aktivitas seperti perubahan pada tekanan darah, frekuensi denyut jantung, dan
pernafasan. Pada kasus ini pasien hanya terbaring lemah diatas tempat tidurnya
dan mengalami sesak nafas.

e. Pola istirahat tidur

Pasien diduga mengalami gangguan tidur dikarenakan klien mengalami sesak


nafas dan batuk yang menetap.

f. Pola persepsi kognitif

Biasanya terjadi Perubahan status mental dengan rentang antara kacau mental
sampai dimensia, lupa, konsentrasi buruk, kesadaran menurun, apatis, retardasi
psikomotor/respon melambat. Ide paranoid, ansietas berkembang bebas, harapan
yang tidak realistis. Timbul refleks tidak normal, menurunnya kekuatan otot,
gaya berjalan ataksia. Tremor pada motorik kasar/halus, menurunnya motorik
fokalis, hemiparase, kejang Hemoragi retina dan eksudat (renitis CMV).

g. Pola persepsi diri


Biasanya pasien memiliki Perilaku menarik diri, mengingkari, depresi, ekspresi
takut, perilaku marah, postur tubuh mengelak, menangis, kontak mata kurang,
gagal menepati janji atau banyak janji.

h. Pola Koping dan toleransi stress

Biasanya pasien mengalami depresi dikarenakan penyakit yang dialaminya.


Serta adanya tekanan yang datang dari lingkungannya.

i. Pola peran hubungan

Biasanya pasien mengalami Perubahan pada interaksi keluarga/orang terdekat,


aktivitas yang tak terorganisasi, perobahan penyusunan tujuan.

j. Pola reproduksi seksual

Biasanya pasien mengalami Herpes, kutil atau rabas pada kulit genitalia.

k. Pola keyakinan

Pola keyakinan perlu dikaji oleh perawat terhadap klien agar kebutuhan spiritual
klien data dipenuhi selama proses perawatan klien di RS. kaji apakah ada
pantangan agama dalam proses pengobatan klien.

8. Pemeriksaan Penujang

Jenis pemeriksaan laboratorium HIV dapat berupa:

1. Uji Serologis

 Rapid test: reagen yang sudah dievaluasi oleh institusi yang


ditunjuk Kementerian Kesehatan, dapat mendeteksi baik antibodi
terhadap HIV-1 maupun HIV-2.

 Enzyme immunoassay (EIA): untuk mendeteksi antibodi untuk


HIV-1 dan HIV-2

 Western Blot: konfirmasi pada kasus yang sulit

2. Uji Virologis dengan Polymerase Chain Reaction (PCR)

 HIV DNA kualitatif: untuk diagnosis pada bayi.

 HIV RNA kuantitatif : untuk memeriksa jumlah virus di dalam darah


dan dapat digunakan untuk pemantauan terapi ARV pada dewasa dan
diagnosis pada bayi jika HIV DNA tidak tersedia.
3. CD4: untuk mengukur status imunodefisiensi sebagai petunjuk dini
progresivitas penyakit karena jumlah CD4 menurun lebih dahulu dibandingkan
kondisi klinis pasien. Pemantauan CD4 dapat digunakan untuk memulai
pemberian ARV atau penggantian obat.

Pemeriksaaan untuk diagnosis HIV dilakukan dengan tes antibodi


menggunakan strategi III (pemeriksaan dengan menggunakan 3 jenis tes
antibodi yang berbeda sensitivitas dan spesivisitasnya). Kombinasi 3
reagen rapid testHIV dapat digunakan untuk tujuan diagnosis. Reagen yang
dipilih didasarkan pada sensitivitas dan spesifisitas tiap jenis reagen. Untuk
diagnosis pasien tanpa gejala harus menggunakan strategi III dengan
persyaratan reagen sebagai berikut :

 Sensitvitas reagen pertama ≥ 99%

 Spesifisitas reagen kedua ≥98% dan lebih tinggi dari spesifisitas reagen
pertama

 Spesifisitas reagen ketiga ≥99% dan lebih tinggi dari spesifisitas reagen
pertama dan kedua

 Asal antigen atau prinsip tes dari reagen 1,2,dan 3 tidak sama

Kombinasi reagen dengan hasil indeterminate ≤ 5%.

Interpretasi hasil dan tindak lanjutnya adalah sebagai berikut:

1. Positif: A1, A2, dan A3 reaktif

Dirujuk untuk pengobatan HIV

2. Negatif:

a. A1 non reaktif

b. A1 reaktif, pengulangan A1 dan A2 non reaktif

c. Salah satu reaktif, tapi tidak ada risiko

d. Bila berisiko, dianjurkan pemeriksaan ulang minimum 3 bulan, 6 bulan


dan 12 bulan dari pemeriksaan pertama sampai satu tahun.
3. Indeterminate:

1 tes reaktif dengan risiko atau pasangan berisiko

Tes diulang 2 minggu lagi dengan sampel berbeda, jika tetap indeterminate,
lanjutkan dengan PCR

Jika tidak ada PCR, rapid test diulang 3, 6, dan 12 bulan dari pemeriksaan
yang pertama. Jika sampai satu tahun hasil tetap indeterminate dan faktor
risiko rendah, hasil dapat dinyatakan sebagai negatif

9. Diagnosis / Kriteria Diagnosis

Keadaan Umum :

Kehilangan berat badan > 10% dari berat badan dasar


Demam (terus menerus atau intermiten, temperatur oral >
37,50 C) lebih dari satu bulan

Diare (terus menerus atau intermiten) yang lebih


dari satu bulan Limfadenofati meluas

Kulit :

PPE* dan kulit kering yang luas merupakan dugaan kuat


infeksi HIV. Beberapa kelainan seperti kutil genital (genital
warts), folikulitis dan psoriasis sering terjadi pada ODHA tapi
tidak selalu terkait dengan HIV

Infeksi
Kandidosis oral*
Dermatitis seboroik

Infeksi jamur Kandidosis vagina kambuhan

Herpes zoster (berulang/melibatkan lebih dari satu dermatom)*


Herpes genital (kambuhan)
Moluskum kontagiosum

Infeksi viral Kondiloma

Batuk lebih dari satu bulan


Sesak nafas
Gangguan TB
pernafasan Pnemoni kambuhan
Sinusitis kronis atau berulang

Nyeri kepala yang semakin parah (terus menerus dan tidak


jelas
penyebabnya)

Gejala Kejang demam

neurologis Menurunnya fungsi kognitif

b). Diagnosis Laboratorium

Metode pemeriksaan laboratorium dasar untuk diagnosis


infeksi HIV dibagi dalam dua kelompok yaitu :

1). Uji Imunologi

Uji imunologi untuk menemukan respon antibody terhadap


HIV-1 dan digunakan sebagai test skrining, meliputi enzyme
immunoassays atau enzyme – linked immunosorbent assay
(ELISAs) sebaik tes serologi cepat (rapid test). Uji Western blot
atau indirect immunofluorescence assay (IFA) digunakan untuk
memperkuat hasil reaktif dari test krining.

Uji yang menentukan perkiraan abnormalitas sistem imun


meliputi jumlah dan persentase CD4+ dan CD8+ T-limfosit
absolute. Uji ini sekarang tidak digunakan untuk diagnose HIV
tetapi digunakan untuk evaluasi.

Deteksi antibodi HIV

Pemeriksaan ini dilakukan pada pasien yang diduga telah


terinfeksi HIV. ELISA dengan hasil reaktif (positif) harus
diulang dengan sampel darah yang sama, dan hasilnya
dikonfirmasikan dengan Western Blot atau IFA (Indirect
Immunofluorescence Assays). Sedangkan hasil yang negatif tidak
memerlukan tes konfirmasi lanjutan, walaupun pada pasien yang
terinfeksi pada masa jendela (window period), tetapi harus
ditindak lanjuti dengan dilakukan uji virologi pada tanggal
berikutnya. Hasil negatif palsu dapat terjadi pada orang-orang
yang terinfeksi HIV-1 tetapi belum mengeluarkan antibodi
melawan HIV-1 (yaitu, dalam 6 (enam) minggu pertama dari
infeksi, termasuk semua tanda-tanda klinik dan gejala dari
sindrom retroviral yang akut. Positif palsu dapat terjadi pada
individu yang telah diimunisasi atau kelainan autoimune, wanita
hamil, dan transfer maternal imunoglobulin G (IgG) antibodi
anak baru lahir dari ibu yang terinfeksi HIV-1. Oleh karena itu
hasil positif ELISA pada seorang anak usia kurang dari 18 bulan
harus di konfirmasi melalui uji virologi (tes virus), sebelum anak
dianggap mengidap HIV-1.

Rapid test

Merupakan tes serologik yang cepat untuk mendeteksi IgG


antibodi terhadap HIV-1. Prinsip pengujian berdasarkan
aglutinasi partikel, imunodot (dipstik), imunofiltrasi atau
imunokromatografi. ELISA tidak dapat digunakan untuk
mengkonfirmasi hasil rapid tes dan semua hasil rapid tes reaktif
harus dikonfirmasi dengan Western blot atau IFA.

Western blot

Digunakan untuk konfirmasi hasil reaktif ELISA atau hasil


serologi rapid tes sebagai hasil yang benar-benar positif. Uji
Western blot menemukan keberadaan antibodi yang melawan
protein HIV-1 spesifik (struktural dan enzimatik). Western blot
dilakukan hanya sebagai konfirmasi pada hasil skrining berulang
(ELISA atau rapid tes). Hasil negative Western blot
menunjukkan bahwa hasil positif ELISA atau rapid tes
dinyatakan sebagai hasil positif palsu dan pasien tidak
mempunyai antibodi HIV-1. Hasil Western blot positif
menunjukkan keberadaan antibodi HIV-1 pada individu dengan
usia lebih dari 18 bulan.

Indirect Immunofluorescence Assays (IFA)

Uji ini sederhana untuk dilakukan dan waktu yang


dibutuhkan lebih sedikit dan sedikit lebih mahal dari uji Western
blot. Antibodi Ig dilabel dengan penambahan fluorokrom dan
akan berikatan pada antibodi HIV jika berada pada sampel. Jika
slide menunjukkan fluoresen sitoplasma dianggap hasil positif
(reaktif), yang menunjukkan keberadaan antibodi HIV-1.

Penurunan sistem imun

Progresi infeksi HIV ditandai dengan penurunan CD4+ T


limfosit, sebagian besar sel target HIV pada manusia. Kecepatan
penurunan CD4 telah terbukti dapat dipakai sebagai petunjuk
perkembangan penyakit AIDS. Jumlah CD4 menurun secara
bertahap selama perjalanan penyakit. Kecepatan penurunannya
dari waktu ke waktu rata-rata 100 sel/tahun.

2). Uji Virologi

Tes virologi untuk diagnosis infeksi HIV-1 meliputi kultur


virus, tes amplifikasi asam nukleat / nucleic acid amplification
test (NAATs) , test untuk menemukan asam nukleat HIV-1
seperti DNA arau RNA HIV-1 dan test untuk komponen virus
(seperti uji untuk protein kapsid virus (antigen p24)).

Kultur HIV

HIV dapat dibiakkan dari limfosit darah tepi, titer virus


lebih tinggi dalam plasma dan sel darah tepi penderita AIDS.
Pertumbuhan virus terdeteksi dengan menguji cairan supernatan
biakan setelah 7-14 hari untuk aktivitas reverse transcriptase
virus atau untuk antigen spesifik virus.

NAAT HIV-1 (Nucleic Acid Amplification Test)

Menemukan RNA virus atau DNA proviral yang banyak


dilakukan untuk diagnosis pada anak usia kurang dari 18 bulan.
Karena asam nuklet virus mungkin berada dalam jumlah yang
sangat banyak dalam sampel. Pengujian RNA dan DNA virus
dengan amplifikasi PCR, menggunakan metode enzimatik untuk
mengamplifikasi RNA HIV-1. Level RNA HIV merupakan
petanda prediktif penting dari progresi penyakit dan menjadi alat
bantu yang bernilai untuk memantau efektivitas terapi antivirus.

Uji antigen p24

Protein virus p24 berada dalam bentuk terikat dengan antibodi p24
atau dalam keadaan bebas dalam aliran darah indivudu yang terinfeksi
HIV-1. Pada umumnya uji antigen p24 jarang digunakan dibanding
teknik amplifikasi RNA atau DNA HIV karena kurang sensitif.
Sensitivitas pengujian meningkat dengan peningkatan teknik yang
digunakan untuk memisahkan antigen p24 dari antibodi
10. Therafi / tindakan penangaan

A. Non Farmakologi
1. Fisik
Aspek fisik pada PHIV ( pasien terinfeksi HIV ) adalah pemenuhan
kebutuhan fisik sebagai akibat dari tanda dan gejala yang terjadi.
Aspek perawatan fisik meliputi :
a) Universal Precautions
Universal precautions adalah tindakan pengendalian infeksi
sederhana yang digunakan oleh seluruh petugas kesehatan, untuk
semua pasien setiap saat, pada semua tempat pelayanan dalam
rangka mengurangi risiko penyebaran infeksi.
Selama sakit, penerapan universal precautions oleh perawat,
keluraga, dan pasien sendiri sangat penting. Hal ini di tunjukkan
untuk mencegah terjadinya penularan virus HIV.
Prinsip-prinsip universal precautions meliputi:
1). Menghindari kontak langsung dengan cairan tubuh. Bila
mengenai cairan tubuh pasien menggunakan alat pelindung,
seperti sarung tangan, masker, kacamata pelindung, penutup
kepala, apron dan sepatu boot. Penggunaan alat pelindung
disesuakan dengan jenis tindakan yang akan dilakukan.
2). Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan,
termasuk setelah melepas sarung tangan.
3). Dekontaminasi cairan tubuh pasien.
4). Memakai alat kedokteran sekali pakai atau mensterilisasi
semua alat kedokteran yang dipakai (tercemar).
5). Memelihara kebersihan tempat pelayanan kesehatan.
6). Membuang limbah yang tercemar berbagai cairan tubuh secara
benar dan aman.
b) Peran perawat dan pemberian ARV
1). Manfaat penggunaan obat dalam bentuk kombinasi adalah:
(a) Memperoleh khasiat yang lebih lama untuk
memperkecil kemungkinan terjadinya resistensi.
(b) Meningkatkan efektivitas dan lebih menekan aktivitas
virus. Bila timbul efek samping, bisa diganti dengan
obat lainnya, dan bila virus mulai rasisten terhadap
obat yang sedang digunakan bisa memakai kombinasi
lain.
2). Efektivitas obat ARV kombinasi:
(a) AVR kombinasi lebih efektif karena memiliki khasiat
AVR yang lebih tinggi dan menurunkan viral load
lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan satu
jenis obat saja.
(b) Kemungkinan terjadi resistensi virus kecil, akan tetapi
bila pasien lupa minum dapat menimbulkan terjadinya
resistensi.
(c) Kombinasi menyebabkan dosis masing-masing obat
lebih kecil, sehingga kemungkinan efek samping lebih
kecil.
c) Pemberian nutrisi
Pasien dengan HIV/ AIDS sangat membutuhkan vitamin dan
mineral dalam jumlah yang lebih banyak dari yang biasanya
diperoleh dalam makanan sehari- hari. Sebagian besar ODHA
akan mengalami defisiensi vitamin sehingga memerlukan
makanan tambahan
HIV menyebabkan hilangnya nafsu makan dan gangguan
penyerapan nutrient. Hal ini berhubungan dengan menurunnya
atau habisnya cadangan vitamin dan mineral dalam tubuh.
Defisiensi vitamin dan mineral pada ODHA dimulai sejak masih
dalam stadium dini. Walaupun jumlah makanan ODHA sudah
cukup dan berimbang seperti orang sehat, tetapi akan tetap terjadi
defisiensi vitamin dan mineral.
d) Aktivitas dan istirahat
(a) Manfaat olah raga terhadap imunitas tubuh
Hamper semua organ merespons stress olahraga. Pada
keadaan akut , olah raga akan berefek buruk pada kesehatan,
olahraga yang dilakukan secara teratur menimbulkan adaptasi
organ tubuh yang berefek menyehatkan
(b) Pengaruh latihan fisik terhadap tubuh
(1) Perubahan system tubuh
Olahraga meningkatkan cardiac output dari 5 i/menit
menjadi 20 1/menit pada orang dewasa sehat. Hal ini
menyebabkan peningkatan darah ke otot skelet dan
jantung.
(2) Sistem pulmoner
Olahraga meningkatkan frekuensi nafas, meningkatkan
pertukaran gas serta pengangkutan oksigen, dan
penggunaan oksigen oleh otot.
(3) Metabolisme
Untuk melakukan olah raga, otot memerlukan energi.
Pada olah raga intensitas rendah sampai sedang, terjadi
pemecahan trigliserida dan jaringa adiposa menjadi
glikogen dan FFA (free fatty acid). Pada olahraga
intensitas tinggi kebutuhan energy meningkat, otot
makin tergantung glikogen sehingga metabolisme
berubah dari metabolisme aerob menjadi anaerob
2. Psikologis (strategi koping)
Mekanisme koping terbentuk melalui proses dan mengingat. Belajar
yang dimaksud adalah kemampuan menyesuaikan diri (adaptasi) pada
pengaruh internal dan eksterna
3. Sosial
Dukungan social sangat diperlukan PHIV yang kondisinya sudah
sangat parah. Individu yang termasuk dalamdan memberikan
dukungan social meliputi pasangan (suami/istri), orang tua, anak,
sanak keluarga, teman, tim kesehatan, atasan, dan konselor.

B. Farmakologis :
Belum ada penyembuhan bagi AIDS, sehingga pencegahan infeksi HIV perlu
dilakukan. Pencegahan berarti tidak kontak dengan cairan tubuh yang
tercemar HIV.
a. Pengendalian Infeksi Oportunistik
Bertujuan menghilangkan, mengendalikan, dan pemulihan infeksi
opurtunistik, nasokomial, atau sepsis. Tidakan pengendalian infeksi yang
aman untuk mencegah kontaminasi bakteri dan komplikasi penyebab
sepsis harus dipertahankan bagi pasien di lingkungan perawatan kritis.
b. Terapi AZT (Azidotimidin)
Disetujui FDA (1987) untuk penggunaan obat antiviral AZT yang efektif
terhadap AIDS, obat ini menghambat replikasi antiviral Human
Immunodeficiency Virus (HIV) dengan menghambat enzim pembalik
traskriptase. AZT tersedia untuk pasien AIDS yang jumlah sel T4 nya < 3
. Sekarang, AZT tersedia untuk pasien dengan Human Immunodeficiency
Virus (HIV) positif asimptomatik dan sel T4 > 500 mm3.
c. Terapi Antiviral Baru
Beberapa antiviral baru yang meningkatkan aktivitas sistem imun dengan
menghambat replikasi virus / memutuskan rantai reproduksi virus pada
prosesnya. Obat-obat ini adalah : didanosine, ribavirin, diedoxycytidine,
dan recombinant CD 4 dapat larut.
d. Vaksin dan Rekonstruksi Virus
Upaya rekonstruksi imun dan vaksin dengan agen tersebut seperti
interferon, maka perawat unit khusus perawatan kritis dapat
menggunakan keahlian dibidang proses keperawatan dan penelitian untuk
menunjang pemahaman dan keberhasilan terapi AIDS.
1) Pendidikan untuk menghindari alkohol dan obat terlarang, makan-
makanan sehat, hindari stress, gizi yang kurang, alkohol dan obat-
obatan yang mengganggu fungsi imun.
2) Menghindari infeksi lain, karena infeksi itu dapat mengaktifkan sel T
dan mempercepat reflikasi Human Immunodeficiency Virus (HIV).

11. Komplikasi
a. Oral lesi
Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral,
gingivitis, peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV),
leukoplakia oral, nutrisi, dehidrasi, penurunan berat badan, keletihan
dan cacat.
1. Kandidiasis oral
Kandidiasis oral adalah suatu infeksi jamur, hampir terdapat
secara universal pada semua penderita AIDS serta keadaan yang
berhubungan dengan AIDS. Infeksi ini umumnya mendahului
infeksi serius lainnya. Kandidiasi oral ditandai oleh bercak-bercak
putih seperti krim dalam rongga mulut. Tanda –tanda dan gejala
yang menyertai mencakup keluhan menelan yang sulit serta nyeri
dan rasa sakit di balik sternum (nyeri retrosternal). Sebagian pasien
juga menderita lesi oral yang mengalami ulserasi dan menjadi
rentan terutama terhadap penyebaran kandidiasis ke sistem tubuh
yang lain.
2. Sarcoma Kaposi
Sarcoma Kaposi (dilafalkan KA- posheez), yaitu kelainaan
malignitas yang berkaitan dengan HIV yang sering ditemukan ,
merupakan penyakit yang melibatkan lapisan endotil pembuluh
darah dan limfe.
b. Neurologik
1. Kompleks dimensi AIDS karena serangan langsung HIV pada sel
saraf, berefek perubahan kepribadian, kerusakan, kemampuan
motorik, kelemahan, disfasia, dan isolasi sosial. Sebagian basar
penderita mula-mula mengeluh lambat berpikir atau sulit
berkonsentrasi dan memusatkan perhatian. Penyakit ini dapat
menuju dimensia sepenuhnya dengan kelumpuhan pada stadium
akhir. Tidak semua penderita mencapai stadium akhir ini.
2. Enselophaty akut karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia,
ketidakseimbangan elektrolit, meningitis/ ensefalitis. Dengan efek
sakit kepala, malaise, demam, paralise total/ parsial.
Ensefalopati HIV. Disebut pula sebagai kompleks demensia AIDS
(ADC; AIDS dementia complex), ensefalopati HIV terjadi
sedikitnya pada dua pertiga pasien –pasien AIDS. Keadaan ini
berupa sindrom klinis yang ditandai oleh penurunan progresif pada
fungsi kognitif, perilaku dan motorik. Tanda –tanda dan gejalanya
dapat samar- samar serta sulit dibedakan dengan kelelahan, depresi
atau efek terapi yang merugikan terhadap infeksi dan malignansi
3. Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler, hipotensi sistemik,
dan menarik endokarditis.
4. Neuropati karena inflamasi demielinasi oleh serangan HIV dengan
disertai rasa nyeri serta patirasa pada akstremitas, kelemahan,
penurunan refleks tendon yang dalam, hipotensi orthostatik dan
impotensi.
c. Gastrointestinal
1. Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal,
limpoma dan sarkoma Kaposi. Dengan efek penurunan berat badan,
anoreksia, demam, malabsorbsi, dan dehidrasi.
2. Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma, sarcoma kaposi, obat
illegal, alkoholik. Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen,
ikterik, demam atritik.
3. Penyakit anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi
perianal yang sebagai infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit,
nyeri rectal, gatal-gatal dan diare.
d. Respirasi
Infeksi karena pneumocystic carinii, cytomegalovirus, virus influenza,
pneumococcus, dan strongyloidiasis dengan efek nafas pendek, batuk,
nyeri, hipoksia, keletihan gagal nafas.
e. Dermatologi
Lesi kulit stafilokokus: virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis ,
reaksi otot, lesi scabies, dan dekopitus dengan efek nyeri, gatal, rasa
terbakar, infeksi sekunder dan sepsis.
f. Sensorik
1. Pandangan: Sarkoma kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan.
2.Pendengaran: otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan
pendengaran dengan efek nyeri.
B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAAWATAN

1. Pengkajian
a. Identitas klien
b. Riwayat Keperawatan
1. Riwayat kesehatan saat ini
2. Riwayat kesehatan masa lalu
3. Riwayat penyakit keluarga
4. Diagnosa medis dan terapi
5. Pola fungsi kesehatan (Riwayat bio-psiko-sosial-spiritual)
a) Pola persepsi dan pengetahuan
Perubahan kondisi kesehatan dan gaya hidup akan mempengaruhi
pengetahuan dan kemampuan dalam merawat diri.
b) Pola nutrisi dan metabolisme
Adanya mual dan muntah, penurunan nafsu makan selama sakit,
Keluarga mengatakan saat masuk RS px hanya mampu menghabiskan
⅓ porsi makanan, Saat pengkajian keluarga mengatakan px sedikit
minum, sehingga diperlukan terapi cairan intravena.
c) Pola eliminasi
Mengkaji pola BAK dan BAB px
d) Pola aktifitas dan latihan
Pasien terganggu aktifitasnya akibat adanya kelemahan fisik, tetapi px
mampu untuk duduk, berpindah, berdiri dan berjalan.
e) Pola istirahat
Px mengatakan tidak dapat tidur dengan nyenyak, pikiran kacau, terus
gelisah.
f) Pola kognitf dan perseptual (sensoris)
Adanya kondisi kesehatan mempengaruhi terhadap hubungan
interpersonal dan peran serta mengalami tambahan dalam
menjalankan perannya selama sakit, px mampu memberikan
penjelasan tentang keadaan yang dialaminya.
g) Pola persepsi dan konsep diri
Pola emosional px sedikit terganggu karena pikiran kacau dan sulit
tidur.
h) Peran dan tanggung jawab
Keluarga ikut berperan aktif dalam menjaga kesehatan fisik pasien.
i) Pola reproduksi dan sexual
Mengkaji perilaku dan pola seksual pada px
j) Pola penanggulangan stress
Stres timbul akibat pasien tidak efektif dalam mengatasi masalah
penyakitnya, px merasakan pikirannya kacau. Keluarga px cukup
perhatian selama pasien dirawat di rumah sakit.
k) Pola tata nilai dan kepercayaan
Timbulnya distres dalam spiritual pada pasien, maka pasien akan
menjadi cemas dan takut, serta kebiasaan ibadahnya akan terganggu,
dimana px dan keluarga percaya bahwa masalah px murni masalah
medis dan menyerahkan seluruh pengobatan pada petugas kesehatan.
6. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
b. Sistem kardiovaskuler (mengetahui tanda-tanda vital, ada tidaknya
distensi vena jugularis, pucat, edema, dan kelainan bunyi jantung)
c. Sistem hematologi (mengetahui ada tidaknya peningkatan leukosit
yang merupakan tanda adanya infeksi dan pendarahan, mimisan
splenomegali)
d. Sistem urogenital (ada tidaknya ketegangan kandung kemih dan
keluhan sakit pinggang)
e. Sistem muskuloskeletal (mengetahui ada tidaknya kesulitan dalam
pergerakkan, sakit pada tulang, sendi dan terdapat fraktur atau tidak)
f. Sistem kekebalan tubuh (mengetahui ada tidaknya pembesaran
kelenjar getah bening)
7. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan darah rutin (mengetahui adanya peningkatan leukosit
yang merupakan tanda adanya infeksi).
b. Pemeriksaan foto abdomen (mengetahui adanya komplikasi pasca
pembedahan).

2. Dignosa keperwatan

1. Resiko ketidakseimbangan Volume Cairan b/d Asupan Kurang d/d Membran


mukosa kering.

2. Resiko kerusakan Integritas jaringan b/d Kurangnya pengetahuan tetang


pemeliharaan intergritas kulit d/d Ruam serta kulit kering.

3. Nyeri Akut b/d Agen cedera Biologis d/d Prilaku Ekspresif.

4. Bersihan Jalan Nafas b/d Mukus Berlebihan d/d Dipsnea, Batuk Tidak Efektf.

5. Nutrisi Kurang dari Keutuhan Tubuh b/d Asupan Diet Kurang d/d Penurunan
Berat Badan Dengan Asupan Makanan Adekuat.
3. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
No Diagnosa Tujuan dan kriteria Intervensi Rasional
keperawatan evaluasi

1 Resiko Setelah diberikan Nic: 1. Untuk mengetahui


ketidakseimb asuhan keperawatan perkembanagn status
O: 1. Monitor status
angan selama ...X .....jam rehidrasi
hidrasi ( kelembaban
Volume diharapkan
membran mukoa, nadi 2. Untuk mengetahui
Cairan b/d kebutuhan cairan
adekuat. Tekanan TTV batas normal
Asupan dapat terpenuhi
darah otorstatik)
Kurang d/d 3.Untuk memantau
KH
Membran 2.Moniter TTV status cairan
mukosa - 1.Tidak ada tanda-
3.Monitor status
kering. tanda dehidrasi.
cairan termasuk intake
2.turgor kulit dan autput cairan
normal, membran
N:Anjurkan
mukosa lembab
menambah intek oral (
cairan maupun nutrisi)
4.Untuk memenuhi
E: Dorong keluarga kebutuhan cairan dan
untuk membatu px nutrisi
makan

C: Kolaborasi dengan
5.Untuk lebih
tim medis lainnya
memenuhi kebutuhan
untuk memenuhi
nutrisi
cairan

Untuk dapat memenuhi


cairan px

2 Resiko Setelah diberikan Nic: 1.jjika terdapat


kerusakan asuhan keperawatan frekuensi yang besar
O:catat kecendrungan
Integritas selama ...X.... jam agar dapat diintervensi
dan frekuensi yang
jaringan b/d diharapkan secara tepat
besar dalam tekanan
Kurangnya kerusakan integritas
darah
pengetahuan jaringan dapat
tetang teratasi N: bersihkan dengan
pemeliharaan NaCl atau pembersih
2. Agar tidak terjadi
intergritas KH nontoksik reaksi inflasi akibat dari
kulit d/d cairan pembersih luka
1. Perfusi jaringan
Ruam serta
teratasi
kulit kering. E: menganjurkan px
2.integritas kuli untuk rajin
membaik bisa di membersihkan diri
3.agar px mengetahui
pertahankan
pentingnya menjaga
3.tidakada luka/lesi kebersihan diri
pada kulit
C:kolabirasi dengan
doter jika ada keluhan

4. Untuk tindakan lebih


lanjut

3 Nyeri Akut Setelah diberikan 1.


b/d Agen asuhan keperawatan
cedera selama ...X.... jam
Biologis d/d diharapkann
Prilaku
Ekspresif

4. Bersihan Setelah diberikan 1.


Jalan Nafas asuhan keperawatan
b/d Mukus selama ...X.... jam
Berlebihan diharapkan
d/d Dipsnea,
Batuk Tidak
Efektf.

5. Nutrisi Setelah diberikan


Kurang dari asuhan keperawatan
Keutuhan selama ...X.... jam
Tubuh b/d diharapkan
Asupan Diet
Kurang d/d
Penurunan
Berat Badan
Dengan
Asupan
Makanan
Adekuat.

DAFTAR PUSTAKA

Dochterman, Joanne Mccloskey., Bulechek, Gloria M. 2004. Nursing


Interventions Classification (NIC), Fourth Edition. Missouri: Mosby

Morhead, Sue., Johnson, Marion, Maas, Meriden L., Swanson, Elizabeth. 2006.
Nursing Outcomes Classification (NOC), Fourth Edition. Missouri: Mosby

Ninuk Dian K, S.Kep.Ners, Dr. Nursalam, M.Nurs (Hons). 2007. Asuhan


Keperawatan pada Pasien Terinfeksi HIV/AIDS. Jakarta : Salemba Medika

Nursalam, dkk. 2007. Jurnal Keperawatan Edisi Bulan November.


Surabaya;Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga

NANDA International. 2009. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi


2012-2014. Jakarta: EGC

Price, Sylvia Anderson, Wilsom, Lorraine M. 2006. Patofisiologi: Konsep Klinis


Proses-Proses Penyakit, Ed.6. Vol:2. Jakarta: EGC

Smelltzer, Suzane C., Bare, Brenda G. 2002. Keperawatan Medikal-Bedah.


Volume 1. Edisi 8. Jakarta: EGC
Rencana Asuhan Keperawatan

Diagnosa Rencana Tindakan Keperawatan Paraf


No
Keperawatan NOC NIC
1 Penurunan curah Setelah dilakukan asuhan O: Observasi TTV
jantung b/d penurunan keperawatan selama 1X
N: Atur periode latihan dan
tekanan vena central 24 jam diharapkan
istirahat untuk menghindari
penurunan tekanan vena
kelelahan
central
E: Ajurkan keluarg supaya px
KH:
dapat mengendalikan stress
Ttv dalam batas normal
C: kolaborasi dengan dokter
Dapat mentoleransi dalam peberian obat
aktivitas

Tidakada edema paru,


perifer, dan tidakada
asistes

Setelah dilakukan asuhan


keperawatan selama 1x24
jam diharapkan volume
Kekurangan volume
cairan px dapat teratasi
cairan b/d hanbatan
mengakses cairan KH: O: Observasi volume cairan
setiaap 1jam. Cm: CK, VS, tanda
Memelihara tekanan vena
2 syok
sentral, tekanan kapiler
paru, autput jantung dan N: Berikan cairan IV sesuai
TTV dalam batas normal instruksi

E: Ajarkan keluarga Px
menguasai input dan autput cairan

C: Kolaborasi dengan tim dokter


Setelah dilakuakan
dalam pemberian tranfusi
asuhan keperawatan
selama 1x24 jam
Resiko perfusi diharapkan hambatan
Jaringan cereberal b/d perfusi jaringan cereberal
penurunan dapat teratasi
konsenteasi hb KH: O: Observasi TTV. Monitor level
kebingungan dan orientasi

N: Catat perubahan px dalam


3
merespon stimulus, berikan posisi
semi folwler

E: Anjurkan keluarga px untuk


bicara dengan px walaupun hanya
sentuhan

C: kolaborasi dengan dokter

Setelah dilakukan asuhan


keperawatan selama
1x24jam diharapkan pola
nafas efektif

KH:

1. Menujukan jalan nafas


yang paten

2. TTV dalam batas


normal

3. Mendemontrasikan
batuk efektif
O;

N:

E:

C: