Anda di halaman 1dari 17

Bab II

Tinjauan Pustaka

II.1.Rokok

II.1.1. Definisi

Rokok merupakan salah satu bentuk olahan dari tembakau yang sediannya
berbentuk gulungan tembakau yang dibakar dan dihisap (Arta,2014). Rokok adalah
silinder dari kertas berukuran panjang antara 70 hingga 120mm (bervariasi tergantung
negara) dengan diameter sekitar 10mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah
dicacah. Rokok dibakar pada salah satu ujungnya dan dibiarkan membara agar
asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujung lain. Ada 2 jenis rokok, yaitu rokok
yang berfilter dan tidak berfilter. Filter pada rokok terbuat dari bahan busa serabut
sintesis yang berfungsi menyaring nikotin (Imarina, 2008)

Merokok adalah suatu proses pembakaran tembakau yang menimbulkan


polusi udara yang secara langsung dihirup dan diserap oleh tubuh bersama udara
pernapasan. Merokok merupakan suatu kebiasaan yang dapat menimbulkan
kenikmatin semu bagi si perokok, tetapi di lain pihak menimbulkan dampak buruk
bagi si perokok sendiri maupun bagi orang-orang di sekitarnya (Prabaningtyas, 2010).

Jenis-jenis rokok

Berdasarkan bahan baku atau isinya rokok terdiri dari rokok putih, yaitu rokok
yang hanya berisikan daun tembakau yang diberi saus untuk mendapatkan efek rasa
dan aroma tertentu dan biasanya berisikan filter penyaring pada bagian yang akan
dihisap dan rokok kretek yang berisikan daun tembakau dan cengkeh yang diberi saus
untuk mendapatkan efek rasa dan aroma tertentu. Rokok kretek inilah yang
kebanyakan tidak menggunakan filter pada bagian yang akan dihisap (Arta, 2014)
II.1.2 Kandungan rokok

Pada saat rokok dihisap komposisi rokok yang dipecah menjadi komponen
lainnya, misalnya komponen yang cepat menguap akan menjadi asap bersama-sama
dengan komponen lainnya terkondensasi. Dengan demikian komponen asap rokok
yang dihisap oleh perokok terdiri dari bagian gas (85%) dan bagian partikel (15%).

Rokok mengandung kurang lebih 4.000 jenis bahan kimia, dengan 40 jenis di
antaranya bersifat karsinogenik (dapat menyebabkan kanker), dan setidaknya 200
diantaranya berbahaya bagi kesehatan. Racun utama pada rokok adalah tar, nikotin,
dan karbon monoksida (CO). Selain itu, dalam sebatang rokok juga mengandung
bahan-bahan kimia lain yang tak kalah beracunnya (David E, 2003). Zat- zat beracun
yang terdapat dalam rokok antara lain adalah sebagai berikut :

1. Nikotin
Komponen ini paling banyak dijumpai di dalam rokok. Nikotin merupakan
alkaloid yang bersifat stimulan dan pada dosis tinggi bersifat racun. Zat ini hanya ada
dalam tembakau, sangat aktif dan mempengaruhi otak atau susunan saraf pusat.
Nikotin yaitu zat atau bahan senyawa porillidin yang terdapat dalam
Nicotoana Tabacum, Nicotiana Rustica dan spesies lainnya yang sintesisnya bersifat
adiktif dapat mengakibatkan ketergantungan. Nikotin ini dapat meracuni saraf tubuh,
meningkatkan tekanan darah, menyempitkan pembuluh perifer dan menyebabkan
ketagihan serta ketergantungan pada pemakainya.

2. Tar
Tar adalah senyawa polinuklin hidrokarbon aromatika yang bersifat
karsionogenik. Pada saat rokok dihisap, tar masuk ke dalam rongga mulut sebagai
uap padat asap rokok. Setelah dingin akan menjadi padat dan membentuk endapan
berwarna coklat pada permukaan gigi, saluran pernapasan dan paru-paru. Walaupun
rokok diberi filter, efek karsinogenik tetap bisa masuk dalam paru-paru, ketika
hirupannya dalam dan jumlah rokok yang dihisap banyak (sitepoe, M, 1997)
3. Karbon Monoksida (CO)
Gas karbon monksida (CO) adalah sejenis gas yang tidak memiliki bau. Unsur
ini dihasilkan oleh pembakaran yang tidak sempurna dari unsur zat arang atau karbon.
Gas karbon monoksida bersifat toksis yang bertentangan dengan oksigen dalam
transport maupun penggunaannya. Gas CO yang dihasilkan sebatang rokok dapat
mencapai 3-6%, sedangkan CO yang dihisap oleh perokok paling rendah sejumlah
400 ppm (parts per million) sudah dapat meningkatkan kadar karboksi haemoglobin
dalam darah sejumlah 2-16% (Sitepoe, M., 1997)

4. Timah Hitam (Pb)


Timah Hitam (Pb) yang dihasilkan oleh sebatang rokok sebanyak 0,5 µg.
sebungkus rokok (isi 20 batang) yang habis dihisap dalam satu hari akan
menghasilkan 10 µg. sementara ambang batas bahaya timah hitam yang masuk ke
dalam tubuh adalah 20 µg per hari (Sitepoe, M., 1997).

5. Amoniak
Amoniak merupakan gas yang tidak berwarna yang terdiri dari nitrogen dan
hydrogen. Zat ini tajam baunya dan sangat merangsang. Begitu kerasnya racun yang
ada pada ammonia sehingga jika masuk sedikitpun ke dalam peredaran darah akan
mengakibatkan seseorang pingsan atau koma.

6. Hidrogen Sianida (HCN)


Hidrogen sianida merupakan sejenis gas yang tidak berwarna, tidak berbau
dan tidak memiliki rasa. Zat ini merupakan zat yang paling ringan, mudah terbakar
dan sangat efisien untuk menghalangi pernapasan dan merusak saluran pernapasan.
Sianida adalah salah satu zat yang mengandung racun sangat berbahaya. Sedikit saja
sianida dimasukkan langsung ke dalam tubuh dapat mengakibatkan kematian.
7. Nitrous Oxide
Nitrous oxide merupakan sejenis gas yang tidak berwarna, dan bila terhisap
dapat menyebabkan hilangnya pertimbangan dan menyebabkan rasa sakit.

8. Fenol
Fenol adalah campuran dari Kristal yang dihasilkan dari distilasi beberapa zat
organik seperti kayu dan arang, serta diperoleh dari tar arang. Zat ini beracun dan
membahayakan karena fenol ini terikat ke protein dan menghalangi aktivitas enzim.

9. Hidrogen sulfide
Hidrogen sulfide adalah sejenis gas yang beracun yang mudah terbakar
dengan bau yang keras. Zat ini menghalangi oksidasi enzim (zat besi yang berisi
pigmen).

10. Metanol
Metanol adalah sejenis cairan ringan yang mudah menguap dan mudah
terbakar. Meminum metanol dapat mengakibatkan kebutaan dan bahkan kematian.

11. Senyawa karbohidrat (pati, pectin, selulosa, gula)


Pati, pektin dan selulose merupakan senyawa bertenaga tinggi yang merugian
aroma dan rasa isap, sehingga selama proses harus dirombak menjadi gula. Gula
mempunyai perasan dalam meringankan rasa berat dalam penghisapan rokok, tetapi
bila terlalu tinggi menyebabkan panas dan iritasi kerongkongan, dan menyebabkan
tembakau mudah menyerap air sehingga lembab. Dalam asap keseimbangan gula dan
nikotin akan menentukan kenikmatan dalam merokok (Tirtosastro,2009)
II.1.3. Derajat merokok

Menurut PDPI (2000), derajat merokok seseorang dapat diukur dengan Indeks
Brinkman, dimana perkalian antara jumlah batang rokok yang dihisap dalam sehari
dikalikan dengan lama merokok dalam tahun, akan menghasilkan pengelompokan
sebagai berikut : (Prabaningtyas, 2010)

1) Perokok ringan : 0 – 200 batang


2) Perokok sedang : 200-600 batang
3) Perokok berat : lebih dari 600 batang

II.1.4 Bahaya rokok terhadap mata

Sepertinya yang telah disebutkan bahwa tembakau pada rokok mengandung


lebih dari 4000 komponen yang bersifat toksik akut atau kronis dan secara umum
mengandung racun pada jaringan mata yang dapat menyebabkan iskemik atau
mekanisme oksidatif, nikotin pada rokok dapat menyebabkan penyempitan pembuluh
darah kecil baik pada jantuk, otak dan mata.

Merokok dapat juga mengiritasi permukaan bola mata yang mana terlebih
dahulu menstimulasi konjungtiva dan kornea yang mempengaruhi radikal bebas
oksigen dan menurunkan mekanisme antioksidan (Moss SE, et al., 2000)

Ada hubungan antara merokok dan sejumlah penyakit-penyakit mata yang


meliputu Graves’ ophtalmopathy, age-related macular degeneration, glaukoma, dan
katarak. Berdasarkan beberapa penyebab dari sindrom-sindrom mata tersebut
merokok adalah faktor resiko terdalam pada sindrom mata karena merokok dapat
menyebabkan perubahan morfologi dan fungsi terhadap lensa dan retina yang
memicu efek penggumpalan darah, arterosklerosis pada kapiler mata, merokok juga
merupakan radikal bebas dan menurunkan tingkat antioksidan pada peredaran darah,
aquos humor dan jaringan mata. Mata lebih berisiko terkena radikal bebad dan
oksidasi pada perokok (ACK Cheng, et al., 2000)

Mukosa konjungtiva sangat sensitif terhadap zat kimia di udara, asap, dan
iritasi gas yang terdapat pada asap rokok. Yang menyebabkan kemerahan pada
konjungtiva, lakrimasi berlebihan, dan rasa tidak nyaman (Cornetto-Muniz JE, (1992)

Merokok dapat memperburuk lapisan air mata dan permukaan mata dengan
cara menurunkan kuantitas dan kualitas air mata, menurunkan sensitivitas kornea dan
perubahan sel squamous hal ini juga berhubungan dengan jumlah rokok yang dihisap.
Merokok juga meningkatkan risiko sindrom mata kering (Okvianto, 2013).

(ASAP ROKOK)

II.2. Sistem lakrimasi

Unit fungsional lakrimal (LFU) terdiri dari kelenjar lakrimal, permukaan mata
yang terdiri dan kornea, konjungtiva, kelenjar meibom, serta saraf sensorik dan
motorik. LFU mengontrol sekresi komponen utama lapisan air mata, transparansi
kornea dan kualitas gambar yang diproyeksikan ke retina (Tiwari et al., 2013). Unit
fungsional lakrimal bertanggung jawab dalam regulasi, produksi, dan kesehatan
lapisan air mata (Weisenthal et al., 2014)

1. Kelenjar lakrimal
Kelenjar lakrimal adalah kelenjar serosa dengan bentuk sebesar 20 x 12 x 5
mm, strukturnya unik terdiri dari jaringa epitel dan limfoid. Fungsi kelenjar ini diatur
oleh saraf sekretorik yang berasal dari superios salivary pontine nucleus. Serat post
ganglionic menuju ke cabang saraf maksilaris dan meninggalkannya lagi untuk
bergabung dengan cabang lakrimal dari saraf mata (Hughes and Miszkiel, 2006)
2. Kornea
Kornea mudah terpapar oleh lingkungan karena terletak pada fisura
interpalpebral. Kornea memiliki nosiseptor-nosiseptor sensoris yang tersebar merata
pada permukaan epitel guna unutk melindungi diri (Beuerman et al., 2004)
3. Konjungtiva
Konjungtiva merupakan membrane mukosa yang terdiri dari epitel squamous
nonkeratinisasi, mengandung banyak sel goblet yang mensekresi musin, substansia
propia yang kaya akan vascular, pembuluh limfatik, sel plasma, makrofag dan sel
mast (Harvey et al., 2013; Lawrenxe et al 2014).

II.2.1 Komponen lapisan air mata

Permukaan mata yang sehat meliputi suatu struktur unit fungsional yang
terdiri dari lapisan air mata, kornea, epitel kongjungtiva, meibomian, kelenjar
lakrimal, dan kelopak mata (Hosaka et al., 2011). Komponen antimirkoba yang
terkandung di dalamnya meliputi peroksidase, latoferin, lisozim, dan immunoglobulin
A (Beuerman et al., 2004). Lapisan ini merupakan larutan protein yang sama dengan
serum namun memiliki konsentrasi berbeda. Konsentrasi glukosanya lebih rendah
dibandingkan dengan plasma (25 mg/L dibandingkan dengan 85 mg/L), sedangkan
klorin dan potasiumnya lebih tinggi. Komponen elektrolit lain meliputi kalsium,
magnesium, bikarbonat, nitrat, fosfat, dan sulfat (Hosaka et al., 2011)

Secara terus menerus air mata diisi ulang dengan cara mengedipkan mata
(Hosaka et al., 2011). Pada saat mata terbuka, lapisan air mata (aquous) akan
berkurang akibat dari evaporasi serta aliran keluar melalui pungtum dan duktus
nasolacrimal. Apabila mata mulai terasa kering dan terjadi dry spot pada kornea, mata
akan terasa perih, menimbulkan rangsangan pada saraf sensoris dan terjadi refleks
mengedip sehingga lapisan air mata terbentuk lagi dan seterusnya (Asyari Fatma,
2007). Produksinya kira-kira 1,2 µl per menit dengan volume total 6 µl. tebal lapisan
air mata diukur dengan interferometry adalah 6,0 µm dan ± 2,4 µm pada mata normal
dan menurun menjadi 2,0 µm ± 1,5 µm pada pasien dry eye (Hosaka et al., 2011).

II.2.2 Fungsi lapisan air mata

Lapisan air mata berfungsi sebagai lubrikan untuk menjaga ketajaman mata,
melindungi kornea, dan sel epitel konjungtiva (Hosaka et al., 2011). Selain itu,
lapisan ini dapat melindungi permukaan mata dari iritan, alergen, temperatur,
patogen, dan polutan (Bauerman et al., 2004). Lapisan air mata mensuplai glukosa,
elektrolit, dan growth factors, serta mencuci dan menghilangkan radikal bebas.
Terdapat antioksidan seperti vitamin C, tisosin, dan glutation yang berfungsi
meredam radikal bebas sehingga membantu meminimalisir reaksi oksidasi. Selain
komponen-komponen tersebut, komponen lain seperti growth factors, neuropeptide,
dan penghambat protease sangat penting untuk merawat kesehatan kornea dan
menstimulasi penyembuhan luka. Lapisan ini memiliki permukaan refraksi yang
lembut di atas mikrovili pada epitel kornea. Jika terjadi ketidakstabilan dan
pengeringan lapisan air mata maka mata akan mengalami degradasi, fluktuasi,
kehilangan kontras dan ketidaknyamanan (Hosaka et ak., 2011)

II.2.3 Komposisi lapisan air mata

Selama beberapa dekade, komposisi air mata dipercaya terdiri dari 3 lapisan
mata. Lapisan paling luar adalah lapisan lipid anterior sebagai perlindungan terhadap
penguapan. Dibagian tengah adalah lapisan aqueous (cair) sebagai penyedia volume
terbanyak air mata. Dan bagian paling dalam adalah lapisan musin yang memberi
perlindungan dan lubrikasi terhadap epitel kornea dan konjungtiva. Sedangkan model
lapisan air mata terbaru terdiri dari musin/aqueous glycocalyx gel yang meliputi
semua volume air mata ditambah dengan perlindungan eksternal berupa lapisan lipid
yang berfungsi untuk mencegah terjadinya penguapan (Foster et al., 2013)
Campuran heterogen dari lipid disekresi oleh kelenjar meiboman, yang
terletak di posterior garis atas dan bawah bulu mata. Fungsi lipid adalah mencegah
penguapan dari lapisan aqueous dan mempertahankan keterbalan lapisan air mata,
dan berperan sebagai surfaktan sehingga lapisan air mata menyebar merata.
Defisiensi lipid menyebabkan mata kering karena proses penguapan. Lapisan lipid
mempunyai tegangan permukaan rendah yang mampu menyeragamkan penyebaran
dari lapisan air mata sehingga permukaan air mata menjadi halus. Penghubungan
anatara lapisan lipid dan aqueous terdiri dari lipid polar, meliputi seramid, serebrosid,
dan fosfolipid. Sedangkan penghuung lipid dengan udara melipui beberapa
komponen meliputu kolestrol ester, trigiliserida, dan asam lemak bebas (Foster et al.,
2013)
Lapisan aqueous terdiri dari musin/ aqueous gel yang mengandung protein,
elektrolit, oksigen dan glukosa. Konsentrasi elektrolit dari lapisan ini sama dengan
serum, dengan osmolaritas 300 mOsm/L. Osmolaritas air mata berhubungan dengan
sindrom mata kering dan kebanyakan dipakai sebagai dasar penentuan diagnosa dan
klasifikasi penyakit. Osmolaritas yang normal penting untuk menjaga volume sel,
aktivitas enzim, dan homeostasis sel. Sekresi aqueous sebesar 95% berasal dari
kelenjar lakrimalis sedangkan sisanya disekresi oleh kelnjar Krause dan Wolfring.
Sekresi dapat berkurang dengan penggunaan topical anestesi dan ketika sedang tidur.
Naun, dapat meningkat sebesar 500% ketika terdapat luka pada permukaan mata.
Lapisan aqueous berfungsi menyediakan suplai oksigen untuk epitel kornea,
komponen antimikroba seperti IgA, lisozim dan lactoferin. Selain itu, untuk
menghilangkan debris, iritan, alergen dan memfasilitasi leukosit setelah terjadi luka
(Beuerman et al., 2004).
Komponen musin pada lapisan air mata glucocalyx gel disekresi oleh kelenjar
lakrimalis dan sel goblet konjungtiva. Musin terdiri dari bermacam jenis glikoprotein
yang berperan untuk mencegah perlekatan dan interaksi dari mikroba, debris dan sel-
sel inflamasi terhadap sel epitel. Musin juga berperan memberikan viskositas
sehingga dapat melindungi epitel kornea dari kerusakan karena kedipan mata
berulang. Selain itu, musin juga mencegah lapisan air mata berbentuk gumpalan pada
kornea dan memastikan bahwa lapisan air mata melembabkan seluruh permukaan
kornea dan konjungtiva (foster et al., 2013)

II.3.Dry eye syndrome

II.3.1. Definisi

Dry eye syndrome (sindrom mata kering) juga biasa disebut


keratonjungtivitis sicca atau sindroma disfungsi lapisan air mata didefinisikan oleh
National Eye Institute pada tahun 1995 merupakan sebuah gangguan lapisan air mata
akibat defisiensi air mata atau penguapan air mata yang berlebihan yang mana
kondisi tersebut menyebabkan kerusakan permukaan interpalpebral mata dan
berhubungan dengan gejala ketidaknyamanan mata. Sedangkan menurut
International Dry Eye Workshop pada tahun 2007 mendefinisikan dry eye syndrome
sebagai penyakit multifaktorial pada lapisan air mata dan permukaan mata dengan
gejala ketidaknyamanan, gangguan ketajaman mata, dan ketidak stabilan lapisan air
mata dengan kerusakan potensial pada permukaan mata. Kondisi tersebut disertai
dengan hiperosmolaritas pada lapisan air mata dan inflamasi pada permukaan mata
(Perry, 2008)

II.3.2.Prevalensi

Dry eye merupakan salah satu kondisi mata yang paling sering ditemukan
dan alasan utama pasien mencari pengobatan terutama pada orang tua. Pada studi
epidemiologi yang telah dilakukan pada populasi yang bervariasi, prevalensi gejala
dry eye sebesar 6% pada populasi Australia berusia 40 tahun atau lebih sampai 15%
pada populasi di atas 65 tahun di Maryland, Amerika Serikat. Studi berbasis
populasi The Beaver Dam menyatakan bahwa prevalensi dry eye sebanyak 14%
pada dewasa dengan rentang umur 48-91 tahun. Studi ini juga menemukan bahwa
dry eye lebih banyak terjadi pada perempuan (16,7%) disbanding laki-laki (11,4%).
(Guyton, 2009). Frekuensi dan diagnosis klinis dry eye banyak ditemukan pada
populasi Hispanik dan Asia dibandingkan populasi Kaukasia. Prevalensi di
Indonesia juga pernah dilaporkan oleh Lee dkk yang menemukan bahwa dari 1058
sampel, terdapat 27,5% sampel yang mengeluh gejala dry eye sepanjang waktu. (Lee
dkk, 2002).
Umumnya studi-studi melaporkan peningkatan prevalensi sesuai
pertambahan umur. Variasi pada hasil-hasil penelitian tersebut cenderung akibat
perbedaan kriteria subjektif dan pbjektif untuk dry eye.

II.3.3. Faktor resiko

Faktor-faktor yang dapat memicu resiko terjadinya dry eye baik pada wanita
maupun pria dan beberapa diantaranya tidak dapat dihindari adalah (Asyari Fatma,
2007) :
a. Usia lanjut. Dry eye dialami oleh hampir semua penderita usia
lanjut, 75% di atas 65 tahun baik laki-laki maupun perempuan.
b. Hormonal yang lebih sering dialam oleh wanita seperti saat
kehamilan, menyusui, pemakaian obat kontrasepsi, dan menopause
c. Beberapa penyakit seringkali dihubungkan dengan dry eye seperti:
artritis rematik, diabetes, kelainan tiroid, asma, lupus
erythematosus, sjogren syndrome, scleroderma.
d. Obat- obatan dapat menurunkan produksi air mata seperti
antidepresan, dekongestan, antihistamin, antihipertensi,
kontrasepsi oral, diuretic, obat-obat tukak lambung, tranquilizers,
beta bloker, antimuskarinik, anestesi umum.
e. Pemakaian lensa kontak mata terutama lensa kontak lunak yang
mengandung kadar air tinggi akan menyerap air mata sehingga
mata terasa perih, iritasi, nyeri, menimbulkan rasa tidak
nyaman/intoleransi saat menggunakan lensa kontak, dan
menimbulkan deposit protein.
f. Faktor lingkungan seperti, udara panas dan kering, asap, polusi
udara, angin, berada diruang ber-AC terus menerus akan
meningkatkan evaporasi air mata.
g. Mata yang menatap terus menerus sehingga lupa berkedip seperti
saat membaca, menjahit, menatap monitor TV, komputer, dan
ponsel.
h. Pasien yang telah menjalani operasi refraktif seperti
Photorefractive keratectomy (PRK), laser-assited in situ
keratomileusis (LASIK) akan mengalami dry eye untuk sementara
waktu.

II.3.4. Klasifikasi

Secara umum dry eye dibagi atas 2 kategori, yaitu aqueous tear deficiendy
(ATD) dan evaporative dry eye. Klasifikasi pasien menurut penyebab utama berguna
untuk diagnosis dan terapi. Namun biasanya manifestasi klinik dry eye berupa
gabungan antara kedua jalur pathogenesis (Inter dkk, 2003)
II.3.5. Gejala klinis

Pasien yang mengalami mata kering akan mengeluh gatal, mata seperti
berpasir, silau, penglihatan kabur sementara, iritasi mata dan berair (Okvianto,
2013).
Perasaan seperti terbakar atau adanya sensasi benda asing, penglihatan yang
menurun dari ringan sampai sedang, adanya air mata yang banyak, sering diperburuk
oleh asap, angina, panas, kelemababn yang rendah, atau penggunaan mata dalam
waktu lama. Biasanya bilateral dan kronik (walaupun kadang-kadang terlihat pada
satu mata yang onsetnya baru terjadi) Kunimoto, et al., 2004)

II.3.6. Komplikasi mata kering

Ketidaknyamanan sindrom mata kering dapat berubah menjadi lebih buru.


Pada kasus yang berat dapat terjadi ulserasi kornea, penipisan kornea, dan perforasi.
Infeksi sekunder kadang-kadang terjadi, dan parut pada kornea serta vaskularisasi
dapat menyebabkan penurunan penglihatan.
Pada beberapa kasus berat terjadi neovaskularisasi korna supervicial perifer,
epitel rusak, mencari dan perforasi, serta adanya keratitis bakteri (Kanski, 2007)

II.3.7 Schirmer Test

Schirmer’s test dilakukan untuk menilai kuantitas produksi air mata yang
dihasilkan kelenjar lakrimal. Kertas filter schirmer 30 x 5 mm diletakan pada sakus
inferior 1/3 temporal agar tidak menyentuk kornea tanpa anestesi topical selama 5
menit (Asyari Fatma, 2007). Bagian kertas yang basah sebasar > 10 mm dianggap
normal, dibawah nilai tersebut dianggap mengalami dry eye (Shaharuddin dkk,
2008). Tes juga dapat dilakukan menggunakan anestesi tipikal unutk menilai sekresi
dasar air mata (Asyarai Fatma, 2007). Penelitian dilakukan di dalam ruang tertutup
tanpa hembusan kipas angin. Kedua mata diperlakukan secara serentak (Shaharuddin
dkk, 2008). Tes ini dapat dilakukan dengan mata terbuka atau tertutup, walaupun
beberapa merekomendasikan dengan mata tertutup unutk menghilangkan kedipan
mata. Jika tes ini dilakukan tanpa anestesi topical, dinamakan tes Schirmer I unutk
mengukur refleks sekresi air mata. Namun, jika dilakukan dengan menggunakan
anestesi topical, dinamakan tes Schirmer II, untuk mengukur sekresi basal air mata
(Weisenthal dkk, 2014).

II.4. Penelitian yang relevan

Nama Penulis Judul Tahun Hasil


Okvianto Hubungan Perilaku 2013  Secara statistika terdapat
Putra Merokok terhadap hubungan yang signifikan
Budiman Sindrom Mata Kering antara keluhan sindrom mata
kering dengan perilaku
meroko, namun tidak
didapatkan hubungan yang
signifikan antara hasil
schirmer test dengan perilaku
merokok
 Keluhan sindrom mata kering
dan hasil schirmer test tidak
berhubungan dengan jumlah
rokok yang dihisap perhari.
Alvin Renaldo Hubungan Pengaruh 2011  Terjadi peningkatan keluhan
Tanjaya Asap Rokok dengan mata pada kelompok perokok
Terjadinya Keluhan dibandingkan dengan
pada Mata kelompok bukan perokok
 Terdapat hubungan asap
rokok dengan terjadinya
keluhan pada mata yang
meliputi mata merah, mata
perih, mata berpasir, mata
lakrimasi, mata gatal dan
peningkatan frekuensi kedip.
II.5. Kerangka teori

Merokok Pengaruh Internal  Menurunkan


mekanisme
antioksidan
 Arterosklerosis pada
Pengaruh Eksternal
kapiler mata
 Penyempitan
pembuluh darah mata
Asap Rokok
Mengiritasi Mata
Sindroma Mata Kering

Faktor resiko Penyakit

 Usia  Defisiensi
 Pemakaian lensa komponen lemak
kontak air mata
 Suhu dan  Defisiensi
kelembaban kelenjar air mata
 Pemakaian  Defisiensi
komputer yang komponen musin
lama  Parut pada
kornea atau
hilangnya
mikrovili kornea
 Sikatrik yang
terdapat pada
konjungtiva
 Defisiensi vit A
II.6. Kerangka konsep

Merokok Pengaruh Internal  Menurunkan


mekanisme
antioksidan
Pengaruh Eksternal  Arterosklerosis pada
kapiler mata
 Penyempitan
pembuluh darah mata
Asap Rokok
Mengiritasi Mata
Sindroma Mata Kering