Anda di halaman 1dari 8

2.

Pembahasan
3.1. Sesak Nafas
Sesak nafas (dyspnea) adalah nafas yang sulit sebagai gejala subyektif yang dirasakan
oleh pasien, tetapi merupakan tanda obyektif yang bisa dilihat oleh orang lain(Murray dkk,
2005). Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya sesak nafas, antara lain:
kardiovaskular (gagal jantung), respirasi (pneumonia, bronkitis, dll), pendarahan (shock),
hormon, neurologi (GBS), muskuloskeletal(gangguan otot pernafasan), imunitas
(myasthenia gravis) dan penyakit lain yang mengganggu suplai dan kebutuhan oksigen
dalam tubuh.
Berdasarkan teori “length-tension inappropriate.” sesak napas timbul akibat
ketidaksesuaian antara aktivitas pusat pernapasan motorik dan informasi aferen dari reseptor
di saluran napas, paru dan struktur dinding dada. Saat perubahan pada tekanan pernapasan,
aliran darah atau pergerakan paru dan dinding dada tidak sesuai dengan perintah dari pusat
motorik sehingga terjadi sensasi ketidaknyamanan dalam bernapas.
Pada kasus Anak A, sesak nafas yang terjadi karena pneumonia yang disebabkan paru-
paru terisi cairan dan kerusakan pada alveolus sehingga proses pertukaran gas tidak dapat
terjadi dengan sempurna.
3.2. Pneumonia
Pneumonia adalah keradangan parenkim paru dimana asinus terisi dengan cairan
radang, dengan atau tanpa disertai infiltrasi dari sel radang ke dalam interstitium.
Pneumonia digolongkan atas dasar anatomi seperti proses lobar atau lobuler, alveolus, atau
interstisial, tetapi klasifikasi pneumonia infeksius atas dasar etiologi dugaan atau yang
terbukti secara diagnostik atau terapeutik lebih relevan(Behrman dkk, 2012: 883).
 Etiologi
Pneumonia yang ada di kalangan masyarakat umumnya disebabkan oleh bakteri, virus,
mikoplasma, dan protozoa.

 Epidimiologi
Pneumonia dapat terjadi di semua negara, tetapi data untuk perbandingan sangat sedikit
terutama di negara berkembang. Di Amerika pneumonia merupakan penyebab kematian

PBL 3.1 DASAR PENETAPAN DIAGNOSIS DAN TERAPI 1


keempat pada usia lanjut dengan angka kematian 169,7 per100.000 penduduk. Tingginya
angka kematian pada pneumonia sudah dikenal sejak lama, bahkan ada yang menyebut
pneumonia sebagai “teman pada usia lanjut”. Usia lanjut merupakan risiko tinggi untuk
pneumonia. Hal ini juga tergantung pada keadaan pejamu dan berdasarkan tempat mereka
berada. Pada orang-orang yang tinggal di rumah sendiri insiden pneumonia berkisar antara
25–44 per 1000 orang dan yang tinggal di tempat perawatan 68–114 per 1000 orang.
Di Indonesia, pneumonia menjadi penyebab kematian nomor tiga setelah kardiovaskuler
dan TBC. Dari seluruh kematian kematian balita, proporsi kematian yang disebabkan oleh
ISPA mencakup 20-30%. Kematian ISPA ini sebagian besar ialah oleh karena pneumonia.
Menurut laporan WHO sekitar 800.000 hingga 1 juta anak meninggal dunia tiap tahun
akibat pneumonia. Angka kematian Pneumonia pada balita di Indonesia diperkirakan
mencapai 21 % (Unicef, 2006).
 Patofisiologi
Mikroorganisme dapat mencapai paru-paru dengan 4 rute: (1) perluasan langsung dari
mediastinum atau ruang subphrenikus; (2) pembenihan hematogen dari paru; (3) inhalasi
mikroorganisme ke dalam saluran udara yang lebih rendah; dan (4) aspirasi isi orofaringeal.
Dua mekanisme terakhir yang paling sering bertanggung jawab untuk pengembangan
pneumonia.
Table 32.1 Mekanisme patofisiologi Pneumonia
Mekanisme Contoh Kuman
Penyebaran hematogen Staphylococcus aureus; Bakteri paru
Mycoplasma pneumoniae, Chlamydophila pneumoniae,
Menghirup aerosol
Legionella pneumophila, Chlamydophila psittaci
Aspirasi sekresi Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, Basil
orofaringeal gram negatif
Reaktivasi
Mycobacterium tuberculosis, Pneumocystis jiroveci
mikroorganisme
Partikel dengan diameter lebih besar dari 100 mikron mengendap sangat cepat sehingga
tidak akan terhirup, Sedangkan partikel dengan diameter lebih besar dari 10 mikron terjebak
dalam sekresi hidung. Hanya bahan dengan diameter akhir kurang dari 5 mikron yang dapat
mencapai alveolus(Murray dkk, 2005). Mikroorganisme menginfeksi alveolus yang
menyebabkan membran paru mengalami peradangan dan berlubang-luabang sehingga cairan
dan bahkan sel darah merah dan sel darah putih keluar dari darah masuk ke dalam alveolus.
Alveolus yang terinfeksi secara progresif terisi cairan dan sel-sel. Infeksi menyebar melalui
perluasan bakteri atau virus dari alveolus ke alveolus. Akibatnya kadang-kadang seluruh
lobus bahkan seluruh paru menjadi berkonsolidasi yang artinya paru berisi cairan dan sisa-
sisa sel(Guyton & Hall, 2007:554).
Pada pneumonia, fungsi pertukaran udara paru berubah dalam berbagai stadium
penyakit yang berbeda-beda. Pada stadium awal, proses pneumonia dapat dilokalisasikan
dengan baik hanya pada satu paru disertai dengan penurunan ventilasi alveolus, sedangkan
aliran darah yang melalui paru tetap normal. Hal ini mengakibatkan 2 kelainan utama paru:
(1) penurunan luas permukaan total membran pernafasan dan (2) menurunnya rasio ventilasi-
perfusi. Kedua efek ini menyebabkan hipoksia dan hiperkapnea(Guyton & Hall, 2007:554).
 Manifestasi Klinis

PBL 3.1 DASAR PENETAPAN DIAGNOSIS DAN TERAPI 2


Gejala dan tanda klinis pneumonia bervariasi tergantung kuman penyebab, usia pasien,
status imunologis pasien, dan beratnya penyakit. Gejala dan tanda pneumonia dapat
dibedakan menjadi gejala umum infeksi (non spesifik), gejala pulmonal, pleural dan
ekstrapulmonal. Gejala non spesifik meliputi demam, menggigil, sefalgia dan gelisah.
Beberapa pasien mungkin mengalami gangguan gastrointestinal seperti muntah, kembung,
diare atau sakit perut.
Gejala pada paru biasanya timbul setelah beberapa saat proses infeksi berlangsung.
Setelah gejala awal seperti demam dan batuk pilek, gejala nafas cuping hidung, takipnea,
dispnea dan apnea baru timbul. Wheezing mungkin akan ditemui pada anak-anak dengan
pneumonia viral atau mikoplasma, seperti yang ditemukan pada anak-anak dengan asma
atau bronkiolitis. Keradangan pada pleura biasa ditemukan pada pneumonia yang
disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae dan Staphylococcus aureus, yang ditandai
dengan nyeri dada pada daerah yang terkena.
Gejala ekstra pulmonal mungkin ditemukan pada beberapa kasus. Abses pada kulit atau
jaringan lunak seringkali didapatkan pada kasus pneumonia karena Staphylococcus aureus.
Otitis media, konjuntivitis, sinusitis dapat ditemukan pada kasus infeksi karena
Streptococcus pneumoniae atau Haemophillus influenza. Sedangkan epiglotitis dan
meningitis khususnya dikaitkan dengan pneumonia karena Haemophillus influenza.
Frekuensi nafas merupakan indeks paling sensitif untuk mengetahui beratnya penyakit.
Perkusi toraks tidak bernilai diagnostik, karena umumnya kelainan patologinya
menyebar. Suara redup pada perkusi biasanya karena adanya efusi pleura. Pada auskultasi
suara nafas yang melemah seringkali ditemukan bila ada proses peradangan subpleura dan
mengeras (suara bronkial) bila ada proses konsolidasi. Ronki basah halus yang khas untuk
pasien yang lebih besar, mungkin tidak akan terdengar untuk bayi. Secara klinis pada anak
sulit membedakan antara pneumonia bakterial dan pneumonia viral. Namun sebagai
pedoman dapat disebutkan bahwa pneumonia bakterial awitannya cepat, batuk produktif,
pasien tampak toksik, lekositosis dan perubahan nyata pada pemeriksaan radiologis..
Pada kasus ini, telah ditemukan manifestasi klinis yang serupa, seperti demam, muntah,
batuk produktif, pilek, gejala nafas cuping hidung, takipnea, peradangan pada oropharynx,
leukositosis, suara ronki basah halus, dan adanya infiltrat pada pemeriksaan radiologis.
Demam, batuk produktif, pilek, peradangan pada oropharynx, dan leukositosis merupakan
manifestasi dari adanya infeksi. Sedangkan, sputum pada anak tersebut bersifat
mukoid(putih kental karena adanya pus) yang menandakan stadium awal dari infeksi
saluran pernafasan. Sputum sendiri merupakan campuran dari mucus yang dihasilkan
saluran pernafasan dan air liur. Mucus ini akan menghambat saluran pernafasan, sehingga
anak tersebut akan berusaha mengeluarkannya dengan cara batuk. Namun, refleks batuk
pada anak sekecil itu belumlah begitu baik sehingga refleks muntah pun dapat terangsang.
Pada batuk dengan pilek, lendir dapat masuk ke lambung dan menyebabkan mual.
Selain itu, hambatan oleh mucus dapat menyebabkan si anak sulit bernafas sehingga ia
akan berusaha keras untuk memperoleh oksigen dengan meningkatkan frekuensi nafasnya
disertai gerakan cuping hidung. Mucus dan sel-sel inflamasi pada parenkim paru terutama di
distal dapat menyebabkan tertimbunnya infiltrat dan menghasilkan suara ronki basah
halus(Setiawati dkk, 2008:50-52).
Ronchi dapat terjadi karena terisinya saluran nafas oleh sekret maupun benda asing.
Suara ini juga dapat ditemukan baik saat inspirasi maupun ekspirasi pada pasien yang

PBL 3.1 DASAR PENETAPAN DIAGNOSIS DAN TERAPI 3


menderita pneumonia, bronkitis kronis, dan cystic fibrosis. Terkadang, suara ini dapat
hilang apabila pasien batuk.
 Faktor Resiko
Banyak faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya pneumonia pada balita
(Depkes, 2004), diantaranya:
1. Status gizi
Keadaan gizi adalah faktor yang sangat penting bagi timbulya pneumonia.
Tingkat pertumbuhan fisik dan kemampuan imunologik seseorang sangat dipengaruhi
adanya persediaan gizi dalam tubuh dan kekurangan zat gizi akan meningkatkan
kerentanan dan beratnya infeksi suatu penyakit seperti pneumonia.
2. Status imunisasi
Kekebalan dapat dibawa secara bawaan, keadaan ini dapat dijumpai pada balita
umur 5-9 bulan, dengan adanya kekebalan ini balita terhindar dari penyakit.
Dikarenakan kekebalan bawaan hanya bersifat sementara, maka diperlukan imunisasi
untuk tetap mempertahankan kekebalan yang ada pada balita (Depkes RI, 2004). Salah
satu strategi pencegahan untuk mengurangi kesakitan dan kematian akibat pneumonia
adalah dengan pemberian imunisasi. Melalui imunisasi diharapkan dapat menurunkan
angka kesakitan dan kematian penyakit yang dapapat dicegah dengan imunisasi.
3. Pemberian ASI (Air Susu Ibu)
Asi yang diberikan pada bayi hingga usia 6 bulan selain sebagai bahan makanan
bayi juga berfungsi sebagai pelindung dari penyakit dan infeksi, karena dapat mencegah
pneumonia oleh bakteri dan virus. Riwayat pemberian ASI yang buruk menjadi salah
satu faktor risiko yang dapat meningkatkan kejadian pneumonia pada balita.
4. Umur Anak
Umur merupakan faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian pneumonia.
Risiko untuk terkena pneumonia lebih besar pada anak umur dibawah 2 tahun
dibandingkan yang lebih tua, hal ini dikarenakan status kerentanan anak di bawah 2
tahun belum sempurna dan lumen saluran napas yang masih sempit.
5. Jenis Kelamin
Di dalam buku pedoman P2 ISPA, disebutkan bahwa laki-laki adalah faktor
risiko yang mempengaruhi kesakitan pneumonia (Depkes RI, 2004: 7). Penelitian di
Srilanka juga memperlihatkan bahwa balita dengan jenis kelamin laki-laki mempunyai
risiko 2,19 kali lebih tinggi dibandingkan perempuan.
 Komplikasi
1. Efusi pleura
Jika terjadi efusi pleura kemungkinan disebabkan oleh infeksi Staphylococcus. Jika
efusi minimal dan respon pasien baik terhadap pemberian antibiotika maka pemberian
antibiotika tetap diteruskan. Jika efusi cukup banyak maka perlu dilakukan pungsi
cairan pleura untuk diagnostik (pemeriksaan makroskopik, pengecatan gram, jumlah
sel, kultur).
2. Abses Paru
Staphylococcus aureus merupakan penyebab yang paling banyak, tetapi juga terdapat
kemungkinan infeksi oleh karena kuman anaerob. Pemberian antibiotika parenteral
diteruskan sampai 7 hari bebas demam, dilanjutkan pemberian oral antibiotik sampai
lama terapi mencapai minimal 4 minggu.
3. Empiema/Piopneumotoraks

PBL 3.1 DASAR PENETAPAN DIAGNOSIS DAN TERAPI 4


Seringkali disebabkan oleh Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae,
Haemophillus influenza, dan Streptococcus group A. Selain itu terdapat juga
kemungkinan infeksi kuman anaerob. Selain pemberian antibiotika yang optimal sesuai
dugaan kuman penyebab, diindikasikan juga pemasangan pleural drain.
4. Sepsis
Sepsis sebagai komplikasi dari pneumonia terutama disebabkan oleh Staphyllococcus
aureus dan Streptococcus pneumoniae. Penanganan dengan antibiotika yang sesuai dan
terapi suportif lainnya.
5. Gagal nafas
Pada kondisi gagal nafas, perlu dilakukan intubasi dan pemberian bantuan ventilasi
mekanik(Setiawati dkk, 2008:50-52).
Berdasarkan kasus ini, belum ditemukan adanya komplikasi pada anak
tersebut..
3.3. Tata Laksana
1. Rencana Pemeriksaan Lanjutan
Kultur darah dan sputum dianjurkan bagi Anak A karena menjadi media untuk melihat
adanya infeksi mikroorganisme pada tubuh pasien serta biayanya yang tidak terlalu mahal.
Namun, kultur darah tidak selalu memunculkan bakteri kecuali jika darah yang dikultur
benar-benar steril. Selain kultur darah kelompok kami menyaran PCR atau serologi serta
sensitivitas obat.
2. Terapi
Anak A dianjurkan untuk masuk rumah sakit karena sesak nafas dan pernafasan dengan
cuping hidung. Indikasi masuk rumah sakit adalah sebagai berikut:

 Terapi farmakologis (Pasien ini dilakukan rawat inap):


 Pemberian Oksigen 1-2 L per menit
Pemberian oksigen ini bertujuan untuk mengurangi sesak yang dialami anak.
Sesak yang dialami anak dapat diketahui melalui gejala seperti ditemukan adanya
pernafasan cuping hidung, ada bantuan otot pernafasan (retraksi intercostal), pola
pernafasan cepat dan berat. Pemberian oksigen dihentikan jika anak sudah tidak sesak.
 Pemberian Infus D5 ¼ NS

PBL 3.1 DASAR PENETAPAN DIAGNOSIS DAN TERAPI 5


Infus D5 ¼ NS merupakan salah satu jenis cairan kristaloid dengan komposisi
per 1000 mL glucosa 55 gr, NaCl 2,25 gr, air untuk larutan injeksi ad 1000 mL.
Indikasinya untuk mengatasi dehidrasi, menambah kalori, dan mengembalikan
keseimbangan elektrolit. Pemberian infus dihentikan apabila anak sudah mampu untuk
menelan.
 Ampisilin dan Kloramfenikol
Ampisilin memiliki aktivitas terhadap organisme gram negatif. Obat ini
menghambat pertumbuhan bakteri dengan mengganggu reaksi transpeptidasi sintesis
dinding sel bakteri, menghentikan sintesis peptidoglikan, dan menyebabkan kematian
sel (autolisis dan gangguan morfogenesis dinding sel).
Kloramfenikol adalah inhibitor kuat sintesis protein mikroba. Obat ini berikatan
secara reversibel dengan subunit 50S ribosom bakteri dan menghambat pembentukan
ikatan peptida. Kloramfenikol adalah antibiotik spektrum luas yang bersifat
bakteriostatik dan aktif terhadap organisme gram positif dan negatif aerob dan anaerob.
Sebagian besar bakteri gram positif dihambat pada konsentrasi 1-10 mg/mL dan bakteri
gram negatif dihambat pada konsentrasi 0,2-5 mg/mL. H. influenzae, Neisseria
meningitidis, dan beberapa galur bakteroides sangat rentan, dan bagi organisme ini,
kloramfenikol bersifat bakterisidal. Tujuan kombinasi kedua obat ini karena kelompok
kami masih belum mengetahui bakteri penyebab pneumoni pada anak tergolong gram
positif ataupun gram negative sehingga kelompok kami memberikan antibiotik broad
spectrum. Pemberian antibiotik ini di evaluasi dalam 5-7 hari sambil menunggu hasil
kultur bakteri dan sensitivitas antibiotik keluar(Olson, 2007:68-71).

 Paracetamol
Paracetamol diberikan untuk menurunkan suhu tubuh. Obat ini merupakan
penghambat biosintesis PG yang lemah. Paracetamol diabsorpsi cepat dan sempurna
melalui saluran cerna. Konsentrasi tertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu ½ jam
dan masa paruh plasma antara 1-3 jam. Obat ini tersebar ke seluruh cairan tubuh dan
diekskresi melalui ginjal. Paracetamol boleh dikonsumsi anak tapi tidak lebih dari 5 hari
(jika demam sudah turun, obat dapat langsung dihentikan) dengan dosis 60-120 mg
untuk usia 3bulan–1tahun(Katzung, 2013: 894-923).
 Ambroxol (Mukolitik)
Ambroxol (Mukolitik) diberikan untuk mengencerkan sekret saluran nafas
dengan jalan memecah benang-benang mukoprotein dan mukopolisakarida dari sputum.
Dosis yang dipakai untuk anak-anak adalah setengah sendok makan sirup 2 kali
sehari(Olson, 2007:68-71).
3. Rencana Evaluasi
 Setelah memberikan terapi yang harus diperhatikan adalah mengurangi gejala yang
dialami anak dan menghilangkan infiltrat yang ada dengan pengobatan yang tepat. Jika
pengobatan gagal, maka harus segera dipertimbangkan segala pengobatan yang sudah
diberikan
 CT-scan toraks atau USG toraks bisa menjadi alat untuk menentukan adanya komplikasi
atau kegagalan terapi
4. Edukasi dan Prevensi
 Menghidari kontak terhadap infeksi

PBL 3.1 DASAR PENETAPAN DIAGNOSIS DAN TERAPI 6


 Memberi informasi kepada orang tua akan adanya kemungkinan tertular penyakit di
tepat-tempat umum.
 Vaksinasi Hib, PCV, influenza
 Pemberian nutrisi yang adekuat, kekurangan zinc terutama dapat meningkatkan resiko
anak terkena pneumonia
 Meningkatkan hygiene dan membiasakan cuci tangan
 Menghindari polusi udara termasuk asap rokok
 Meminta orang tua untuk segera mencari tenaga kesehatan jika anak menagalami
respiratory distress syndrome
3.4. Prognosis
Prognosis pada anak A adalah baik karena pneumonia pada anak A tidak termasuk
pneumonia berat yang disertai dengan kejang, kebiruan dan menarik perut dalam saat
benapas. Pada kasus anak A faktor-faktor yang membantu mempercepat proses
penyembuhan seperti gizi baik, imunisasi, tidak adanya riwayat penyakit dan penyakit
sekunder sangat mempengaruhi prognosis. Penanganan sedini mungkin terhadap infeksi
juga mengurangi keparahan dari pneumonia.
3.5. Diagnosis Banding
 Bronkiolitis
Bronkiolitis merupakan penyakit bayi yang umumnya terjadi akibat obstruksi radang
saluran pernafasan kecil. Bronkiolitis menyerang pada usia 2 tahun pertama dengan insiden
puncak pada sekitar usia 6 bulan. Lebih dari 50% kasus, penyebab bronkiolitis akut ini
adalah Virus Sinsisium Respiratorik(VSR), sedangkan penyebab lainnya adalah virus para
influenza 3, mikoplasma dan beberapa adenovirus lainnya. Penyakit ini sering terjadi pada
bayi laki-laki yang belum pernah diberi ASI oleh ibunya.
Manifestasi klinis yang muncul antara lain: bayi mula-mula menderita infeksi ringan
pada saluran pernafasan atas, penurunan nafsu makan, dan demam 38,5˚-39˚C (101-102˚F).
Perkembangan kegawatan pernafasan secara bertahap ditandai dengan batuk mengi
paroksismal, dispnea, iritabilitas dan sianosis. Manifestasi klinis lainnya seperti muntah dan
diare tidak ada. Pernafasan berkisar antara 60-80 kali/menit, cuping hidung membesar dan
terdapat retraksi interkostal serta subkostal yang dangkal. Teraba hepar yang mengalami
depresi. Pada pemeriksaan rontgenografi ditemukan hiperinflasi paru, kenaikan diameter
anteroposterior pada pandangan lateral, dan infiltrat paru. Biasanya sel darah putih dan
hemogram sel ada dalam batas normal(Behrman dkk, 2012:1484-1487). Alasan kelompok
kami tidak memilih bronkiolitis adalah pada Anak A tidak ditemukan adanya wheezing dan
sianosis, ada muntah, frekuensi nafas 48kali/menit, dan tidak ada hepatomegali.

 Bronkitis Akut
Bronkitis akut adalah peradangan pada bronkus disebabkan oleh infeksi saluran nafas.
Alasan memilih bronkitis akut sebagai diagnosis banding adalah karena ditemukan
kesamaan manifestasi klinis penyakit ini dengan yang dialami oleh anak A. Manifestasi
klinis tersebut berupa :
a. Batuk pilek 3-4 hari
b. Batuk kering, pendek, dan tidak produktif
c. Batuk paroksismal atau rasa mencekik pada saat sekresi kadang-kadang disertai
dengan muntah

PBL 3.1 DASAR PENETAPAN DIAGNOSIS DAN TERAPI 7


d. Tidak demam atau demam ringan
e. Anoreksia
f. Peningkatan leukosit
g. Ditemukan tanda-tanda rinitis, nasofaringitis (ditemukan kondisi faring hiperemi)
dan infeksi konjungtivita(Behrman dkk, 2012:1483).
Alasan tidak menjadikan bronkitis akut sebagai diagnosis utama adalah :
a. Pada foto thorax anak A ditemukan adanya infiltrate, sedangkan foto thorax
bronkitis akut normal.
b. Pada auskultasi paru anak A ditemukan ronkhi basar halus, sedangkan pada pasien
bronkitis ronkhi basah kasar atau ronkhi kering.
c. Pada pasien bronkitis akut terdapat ketidakenakkan substernal bawah atau nyeri
terbakar dada depan, sedangkan pada anak A tidak tampak.
4. Kesimpulan
Sesak napas timbul akibat ketidaksesuaian antara aktivitas pusat pernapasan motorik dan
informasi aferen dari reseptor di saluran napas, paru dan struktur dinding dada. Saat perubahan
pada tekanan pernapasan, aliran darah atau pergerakan paru dan dinding dada tidak sesuai
dengan perintah dari pusat motorik sehingga terjadi sensasi ketidaknyamanan dalam bernapas.
Pneumonia adalah keradangan parenkim paru dimana asinus terisi dengan cairan radang,
dengan atau tanpa disertai infiltrasi dari sel radang ke dalam interstitium. Pneumonia yang ada
di kalangan masyarakat umumnya disebabkan oleh bakteri, virus, mikoplasma, dan protozoa. Di
Indonesia, pneumonia menjadi penyebab kematian nomor tiga setelah kardiovaskuler dan TBC.
Faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya pneumonia pada balita ialah status gizi, status
imunitas, pemberian ASI, umur, dan jenis kelamin. Mikroorganisme menginfeksi alveolus yang
menyebabkan membran paru mengalami peradangan dan berlubang-luabang sehingga cairan
dan bahkan sel darah merah dan sel darah putih keluar dari darah masuk ke dalam alveolus.
Alveolus yang terinfeksi secara progresif terisi cairan dan sel-sel. Infeksi menyebar melalui
perluasan bakteri atau virus dari alveolus ke alveolus. Akibatnya kadang-kadang seluruh lobus
bahkan seluruh paru menjadi berkonsolidasi yang artinya paru berisi cairan dan sisa-sisa sel.
Komplikasi pneumonia ialah efusi pleura, abses paru, empiema/piopneumotoraks, sespsis, dan
gagal nafas. Manifestasi klinis pada Anak A ialah demam, muntah, batuk produktif, pilek,
gejala nafas cuping hidung, takipnea, peradangan pada oropharynx, leukositosis, suara ronki
basah halus, dan adanya infiltrat pada pemeriksaan radiologis.
Tatalaksana Anak A dengan farmakoterapi (Pemberian oksigen 1-2L/menit, Pemberian
infus D1/4 NS, Ampisilin dan Kloramfenikol, Paracetamol, dan Ambroxol (mucolytic)),
mengevaluai antibiotik dan farmakoterapi, memberikan edukasi dan prevensi kepada keluarga.
Meminta pemeriksaan kultur darah, sputum, PCR, & serologi. Prognosis Anak A adalah baik
dan dapat beraktivitas sehari-hari.
Diagnosis banding yang dipilih adalah bronkitis akut dan bronkiolitis. Bronkitis akut adalah
peradangan pada bronkus disebabkan oleh infeksi saluran nafas, sedangkan bronkiolitis
merupakan penyakit bayi yang umumnya terjadi akibat obstruksi radang saluran pernafasan
kecil.

PBL 3.1 DASAR PENETAPAN DIAGNOSIS DAN TERAPI 8