Anda di halaman 1dari 12

Anamnesa Gangguan System Integumen dan Imun

OLEH:

Agnia Kamila (173294)


Andi Sri Ulfa Amar (173298)
Ilham Awat (173309)
Indah Pratiwi (173311)
Nurhidaya (173323)
Nurindah Sari (173324)
ANAMNESA GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN

A. IDENTIFIKASI PASIEN
Tanggal dan waktu pengkajian. Biodata: nama, umur (penting mengetahui angka
prevelensi), jenis kelamin, pekerjaan (pada beberapa kasus penyakit kulit, banyak terkait
dengan factor pekerjaan, [misalnya, dermatitis kontak alergi]).

B. RIWAYAT KESEHATAN
a. Kesehatan Terkini
Keluhan Utama
Masalah yang sering terkait masalah integument adalah gatal (pruritis), kering, ruam, lesi,
ekimosis (bercak hemoragi kecil), benjolan, massa, dan penampakan kosmetik. Tanyakan
tentang perubahan pada kulit, rambut, dan kuku yang akan berhubungan dengan keluhan
utama.

Manifestasi Klinis
1. Pruritis
Gatal yang persisten atau pruritus merupakan manifestasi yang sering membawa klien
mendatangi tenaga kesehatan. Catat apakah gatal berhubungan dengan lesi kulit dan
apakah lokal atau merata. Gatal persisten tanpa berhubungan dengan lesi dapat
menunjukkan penyakit sistemik yang penting seperti obstruksi bilier, diabetes
mellitus, uremia, limfoma, atau hipertiroidisme. Jika pruritus berhubungan dengan
lesi kulit, maka pertimbangkan scabies, berbagai jenis dermatitis, psoriasis, xerosis,
dan dermatofitosis pada saat proses diagnosis.
2. Lesi
Tanyakan kapan waktu muncul lesi, adanya perubahan warna, adanya eksudat, dan
perubahan lain yang telah terjadi. Lesi dapat berubah karena garukan, trauma, infeksi,
atau pembentukan jaringan parut. Tentukan lesi pada area kulit yang telah mendapat
paparan signifikan sinar matahari.
3. Infeksi
Infeksi kulit dapat mendorong klien untuk mencari evaluasi lebih lanjut, terutama
jika terdapat riwayat kegagalan dalam usaha mengobati diri sendiri. Sama halnya
dengan infeksi lain, penekanan dilakukan jika ada demam,menggigil, tipe dan jumlah
eksudat, serta nyeri pada daerah infeksi.
b. Riwayat Medis Sebelumnya
1. Tanyakan dermatologis sebelumnya?
2. Gangguan sistemik berkaitan dengan kulit (imunologis, endokrin, kolagen,vaskuler,
ginjal, atau kondisi hati?
3. Penyakit masa kanak-kanak?
4. Status vaksinasi?
5. Infeksi akut yang baru?
6. Trauma yang berakibat jaringan parut atau perubahan bentuk?
c. Riwayat pembedahan sebelumnya
1. Riwayat prosedur, trauma, jaringan parut sebelumnya, daerah operasi sebelumnya?
2. Tindikan, tato?
d. Alergi
Alergi adalah respon imunologi yang terjadi secara konsisten dengan adanya paparan.
Iritasi dapat terjadi tanpa dapat diprediksi.
Tanyakan kepada klien: alergi terhadap medikasi, makanan, inhalasi, lateks,dan bahan
kimia lain? Apakah kontak dengan polpen, inhalan, atau binatang menyebabkan biduran?
Apakah dengan makanan tertentu menyebabkan rasa gatal, rasa terbakar, atau erupsi
kemerahan
e. Medikasi, penggunaan obat bebas, nutraseutikal, terapi komplementer
Tanyakan:
1. Bagaimana dosis obat yang digunakan?
2. Berapa frekuensi yang digunaka?
3. Berapa durasi atau lama pemberian medikasi?
4. Alasan pengobatan (resep atau obat bebas)?
5. Bagaiman efek samping penggunaan obat?
6. Suplemen vitamin atau mineral?
7. Medikasi yang menyebabkan memar dengan mudah?
8. Medikasi yang menyebabkan fotosensitivitas(kemerahan seperti terbakar sinar
matahari pada area yang terpapar sinar matahari)
Reaksi pada medikasi, penggunaan obat bebas, nutraseutikal, terapi komplementer akan
menyebabkan:
- Morbiliformis (ruam seperti cacar)
- Makulopapular tanpa vasikel bula
- Fotosensitivitas (kemerahan seperti terbakar sinar matahari pada area yang terpapar
sinar matahari)
- Eksema
f. Kebiasaan Makan
Tanyakan: Bagaimana hubungan dengan manifestasi di kulit terhadap pencernaan
makanan atau minuman?
Asupan air yang baik secara rutin dilakukan merupakan sesuatu yang sehat untuk system
genitourinaria dan system lain. Alergi makanana yang dicurigai dapat berperan pada
kondisi dermatologis spesifik, seperti dermatitis atopic dan urtikaria. Makanan yang
menyebabkan alergi harus dievaluasi dan ditetapakan untuk menghindari eliminasi yang
tidak diperlukan untuk menghindari eliminasi yang tidak diperlukan dari tipe atau
kelompok makanan tertentu
.

g. Riwayat Sosial
Penyakit kronis visual atau fisik yang berhubungan dengan penganguran yang lama,
kesehatan mental buruk, dan bahkan keinginan bunuh diri.
Tanyakan:
1. Aktivitas rekreasional yang melibatkan paparan lama terhadap sinar matahari, dingin
yang tidak biasa, atau kondisi lain yang dapat merusak integument?
2. Riwayat seksual, yang dapat memberi peringatan atau untuk menjelaskan adanya
trauma jaringan atau lesi yang disebabkan oleh infeksi menular seksual
3. Riwayat pekerjaan, masalah kulit disebabkan atau diperburuk oleh paparan terhadap
iritan dan bahan kimia dalam rumah dan lingkungan pekerjaan? h.
h. Riwayat Keluarga
Apakah ada keturunan penyakit dari keluarga:
1. Alopesia (kehilangan rambut sejumput)?
2. Iktiosis (penebalan kulit dan berskuama),dermatitis atopic?
3. Psoriasis?
4. Diabetes Melitus?
5. Diskrasia darah?
6. Penyakit kolagen vakuler (lupus eritematosus)?

C. Pemeriksaan Fisik
1. Perubahan menyeluruh
Kaji ciri kulit secara keseluruhan. Informasi tentang kesehatan umum klien
dapat diperoleh dengan memeriksa turgor, tekstur, dan warna kulit. Turgor kulit
umumnya mencerminkan status dehidrasi. Pada klien yang dehidrasi dan lansia, kulit
terlihat kering. Pada klien lansia, turgor kulit mencerminkan hilangnya elastisitas
kulit dan keadaan kekurangan air ekstrasel. Tekstur kulit pada perubahan menyeluruh
perlu dikaji, karena tekstur kulit dapat berubah-ubah di bawah pengaruh banyak
variabel. Jenis tekstur kulit dapat meliputi kasar, kering atau halus.
Perubahan warna kulit juga dipengaruhi oleh banyak variabel. Gangguan pada
melanin dapat bersifat menyeluruh atau setempat yang dapat menyebabkan kulit
menjadi gelap atau lebih terang dari pada kulit yang lainnya. Kondisi tanpa
pigmentasi terjadi pada kasus albino. Ikterus adalah warna kulit yang kekuningan
yang disebabkan oleh endapan pigmen empedu didalam kulit, sekunder akibat
penyakit hati atau hemolisis sel darah merah.Sianosis adalah perubahan warna kulit
menjadi kebiruan; paling jelas terlihat pada ujung jari dan bibir. Sianosis ini
disebabkan oleh desiturasi hemoglobin. Pada teknik palpasi, gunakan ujung jari untuk
merasakan permukaan kulit dan kelembapannya. Tekan ringan kulit dengan ujung jari
untuk menentukan keadaan teksturnya. Secara normal, tekstur kulit halus, lembut dan
lentur pada anak dan orang dewasa. Kulit telapak tangan dan kaki lebih tebal,
sedangkan kulit pada penis paling tipis. Kaji turgor dengan mencubit kulit pada
punggung tangan atau lengan bawah lalu lepaskan. Perhatikan seberapa mudah kulit
kembali seperti semula. Normalnya, kulit segera kembali ke posisi awal . pada area
pitting tekan kuat area tersebut selama 5 detik dan lepaskan. Catat kedalaman pitting
dalam millimeter, edema +1 sebanding dengan kedalaman 2 mm, edema +2
sebanding dengan kealaman 4 mm.
Inspeksi
- Kulit:
Warna kulit merata, lebih gelap pada daerah yang terpapar yaitu wajah, leher, lengan,
dan tungkai bawah, lebih ternag pada tubuh dan punggung. Bintik-bintik kecoklatan
tersebar pada wajah dan lengan. Tidak ada jaringan parut dan stiria.
- Rambut dan kulit kepala:
Rambut secara merata terdistribusi pada kulit kepala. Bersih tanpa adanya tingsa
(telur kutu) atau kutu. Tidak ada ketombe, skuama, atau lesi kulit kepala. Aksila dan
tungkai mungkin dicukur, rambut pubis hingga perineum (wanita) rambut pubis
terdistribusi seperti terbentuk wajik dari bawah umbilicus menuju perineum (pria).
- Kuku:
hangat, halus, bentuk oval. Bantalan kuku merah jambu. Kutikel dirawat, bersih,
sudut bantalan kaku 160 derajat (tidak ada clubbing finger).

Palpasi
- Kulit
Hangat, terhidrasi baik, halus, elastis, tidak ada nyeri tekan. Tidak ada lesi, massa
atau bengkak
- Rambut dan kulit kepala
Rambut tidak berminya, tekstur halus, elastis, kulit kepala tersa halus, utuh, tidak ada
nyeri tekan.
- Kuku
Kukuh tanpa nyeri tekan atau celah. Respon pemutihan cepat

2. Perubahan setempat
Mula-mula, lakukan pemeriksaan secara sepintas ke seluruh tubuh.
Selanjutnya, anjurkan klien untuk membuka pakaiannya dan amati seluruh tubuh
klien dari atas kebawah, kemudian lakukan pemeriksaan yang lebih teliti dan evaluasi
distribusi, susunan, dan jenis lesi kulit. Distribusi lesi dan komposisi kulit sangat
bervariasi dari satu bagian tubuh kebagian tubuh lainnya. Lesi yang timbul hanya
pada daerah tertentu menandakan bahwa penyakit tersebut berkaitan dengan
keistimewaan susunan kulit daerah tersebut.
Pada daerah kulit yang lembab permukaan kulit bergesekan dan mengalami
maserasi dan mudah terinfeksi jamur superficial. Kondisi ini banyak kita jumpai pada
daerah aksila, lipat paha, lipat bokong, dan lipatan di bawah kelenjar mamae. Pada
daerah kulit yang kaya keratin, seperti siku, lutut, dan kulit kepala, sering tejadi
gangguan keratinisasi. Misalnya psoriasis, yaitu kelainan kulit pada bagian epidermis
yang berbentuk plak bersisik. Mengenai susunan lesi, tanyakan bagaiman pola
lesinya. Lesi kulit dengan distribusi sepanjang dermatom menunjukan adanya
penyakit herpes zoster. Disini, lesi vesikuler timbul tepat pada daerah distribusi saraf
yang terinfeksi. Linearitas merupakan lesi yang terbentuk garis sepanjang sumbu
panjang suatu anggota tubuh yang mungkin mempunyai arti tertentu. Garukan pasien
merupakan penyebab tersering lesi linear. Erupsi karena poison iny, seperti
dermatitis kontak, berbentuk linear karena iritannya disebabkan oleh garukan yang
bergerak naik-turun. Peradangan pembuluh darah atau pembuluh limfe dapat
menyebabkan lesi linear berwarna merah. Sedangkan parasit scabies dapat membuat
liang-liang pendek pada lapisan epidermis, terutama pada kulit di antara jari- jari
tangan, kaki, atau daerah lain yang memiliki lapisan epidermis tipis dan lembap
sehingga akan membentuk lesi linear yang khas berupa garis kebiru-biruan. Lesi
satelit adalah suatu lesi sentral yang sangat besar yang dikelilingi oleh dua atau lebih
lesi serupa tetapi lebih kecil yang menunjukan asal lesi dan penyebarannya, seperti
yang dijumpai pada melanoma malignum atau infeksi jamur. Tapi lesi merupakan
cirri penting yang berguna dalam menegakkan diagnosis. Lesi berbatas tegas adalah
lesi yang mempunyai batas yang jelas, sedangkan lesi terbatas tidak tegas adalah lesi
kulit yang menyatu tanpa batas tegas dengan kulit yang normal.
3. Ruam kulit
Untuk mempelajari ilmu penyakit kulit, mutlak diperlukan pengetahuan tentang ruam
kulit atau ilmu yang mempelajari lesi kulit. Ruam kulit dapat berubah pada waktu
berlangsungnya penyakit. Kadang-kadang perubahan ini dapat dipengaruhi oleh
keadaan dari luar, misalnya trauma garkan dan pengobatan yang diberikan., sehingga
perubahan tersebut tidak biasa lagi. Perawat perlu menguasai pengetahuan tentang
ruam primer atau ruam sekunder untuk digunakan sebagai dasar dalam melaksanakan
pengkajian serta membuat diagnosis penyakit kulit secara klinis. Ruam primer adalah
kelainan yang pertama timbul, berbentuk macula, papula, plak, nodula, vesikula, bula,
pustule, irtika, dan tumor. Ruam sekunder adalah kelainan berbentuk skuama, krusta,
fisura, erosion, ekskoriasio, ulkus, dan parut.

Bentuk-bentuk ruam primer


1. Macula
adalah kelainan kulit yang sama tinggi dengan permukaan kulit, warna berubah
dan berbatas jelas, contoh : meladonema, petekie
2. Papula
adalah kelainan kulit yang lebih tinggi dari permukaan kulit, padat, berbatas jelas,
ukuran kurang dari 1 cm. contoh : dermatitis, kutil
3. Plak
adalah kelainan kulit yang melingkar, menonjol, lesi menonjol lebih dari 1 cm.
contoh : Fugoides mikosis terlokalisasi, neurodermatitis
4. Nodula
adalah kelainan kulit yang lebih tinggi dari permukaan kulit, padat berbatas jelas,
ukurannya lebih dari 1 cm. contoh ; epitelioma. Vesikula adalah gelembung berisi
cairan, berukuran kurang ari 1 cm. contoh ; cacar air, dermatitis kontak
5. Bula
adalah sama dengan vesikula, tapi ukurannya lebih dari 1 cm, contoh ; luka bakar
6. Postula
adalah sama dengan vesikula tapi berisi nanah, contoh ; scabies
7. Urtika
adalah kelainan kulit yang lebih tinggi dari permukaan kulit, edema, warna merah
jambu, bentuknya bermacam-macam. Contoh ; gigitan serangga
8. Tumor
adalah kelainan kulit yang menonjol, ukurannya lebih besar dari 0,5 cm

Bentuk-bentuk ruam sekunder


1. Skuama
adalah jaringan mati dari lapisan tanduk yang terlepas, sebagian kulit menyerupai
sisik. Contoh : ketombe, psoriasis.
2. Krusta
adalah kumpulan eksudat atau sekret diatas kulit. Contoh : impetigo, dermatitis
terinfeksi.
3. Fisura
adalah epidermis yang retak, hingga dermis yerlihat, biasanya nyeri. Contoh :
sifilis konginetal, kaki atlet.
4. Erosion
adalah kulit yang bagian epidermisnya bagian atas terkelupas, contoh : abrasi.
Eksrosio adalah kulit yang epidermisnya terkelupas, lebih dalam dari pada
erosion.
5. Ulkus
adalah kulit (epidermis dan dermis) terlepas karena destruksi penyakit. Pelepasan
ini dapat sampai kejaringan subkutan ataulebih dalam. Parut adalah jaringan ikat
yang kemudian terbentuk menggantikan jaringan lebih dalam yang telah hilang.
Contoh : keloid

D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan kalium Hidroksida dan Kultur Jamur
Infeksi jamur pada kulit, rambut, dan kuku harus dikonfirmasi oleh identifiksai
mikroskopik atau kultur dari krokan pada area atau keduanya.
2. Apusan Tzank
Untuk Pengkajian mikroskopik cairan dan sel dari vesikel dan bula
3. Keroka Skabies
Menyeleksi lesi yang belum digaruk yang akan diambil sebagai specimen
4. Pemeriksaan dengan wood’s Light
Menggunakan lamp merkuri tekanan tinggi yang menstramisi cahaya ultraviolet
gelombang panjang (UVA atau cahaya 360 mm).
5. Tes temple untuk mendapatkan identifikasi substansi yang menyebabkan respons
alergi pada kulit.
6. Biopsi Merujuk pada penghilanagan specimen jaringan kulit utnuk pemeriksaan
histologi mikroskopik seluler dan/atau imunofluoresen (media khusu sebelum
evaluasi mikroskopik khusus)
ANAMNESA GANGGUAN SISTEM IMUN

Pengkajian pada klien dengan gangguan system imun perlu dilakukan dengan teliti, sistematis,
serta memahami denganbaikfisiologisdari setiap organ system hematologi. Hal ini perlu
dilakukan agar kemungkinan adanya kesulitan dikarenakan gambaran klinis atau tanda serta
gejala yang hampir sama antara gangguan hematologi primer dan sekunder dapat diminimalkan.
Informasi dilakukan baik dari klien maupun keluarga tentang riwayat penyakit dan kesehatan
dapat dilakukan dengan anamnesis ataupun pemeriksaan fisik.

Agar data dapat terkumpul dengan baik dan terarah, sebaiknya dilakukan penggolongan atau
klasifikasi data berdasarkan identitas klien, keluhan utama, riwayat kesehatan, keadaan fisik,
psikologis, sosial, spiritual, intelegensi, hasil-hasil pemeriksaan dan keadaan khusus lainnya.

Metode yang digunakan dalam pengumpulan data keperawatan pada tahap pengkajian adalah
Wawancara (interview), pengamatan (observasi), danpemeriksaanfisik (pshysical assessment).
dan studi dokumentasi.

1. Wawancara
Biasa juga disebut dengan anamnesa adalah menanyakan atau tanya jawab yang berhubungan
dengan masalah yang dihadapi klien dan merupakan suatu komunikasi yang direncanakan.
Dalam berkomunikasi ini perawat mengajak klien dan keluarga untuk bertukar pikiran dan
perasaannya yang diistilahkan teknik komunikasi terapeutik.
Macam wawancara:
- Auto anamnesa: wawancara dengan klien langsung
- Allo anamnesa: wawancara dengan keluarga / orang terdekat.
Teknik Pengumpulan Data Yang Kurang Efektif:
- Pertanyaan tertutup : tidak ada kebebasan dalam mengemukakan pendapat / keluhan /
respon. misalnya : “Apakah Anda makan tiga kali sehari ?“
- Pertanyaanterarah: secara khas menyebutkan respon yang diinginkan. Misalnya:
“……………. Anda setuju bukan?”
- Menyelidiki : mengajukan pertanyaan yang terus-menerus
- Menyetujui /tidakmenyetujui.Menyebutkansecaratidak langsung bahwa klien benar atau
salah. Misalnya : “Anda tidak bermaksud seperti itu kan?”

2. Tahap kedua dalam pengumpulan data adalah pengamatan, dan pada praktiknya kita lebih
sering menyebutnya dengan observasi. Observasi adalah mengamati perilaku dan keadaan
klien untuk memperoleh data tentang masalah kesehatan dan keperawatan klien. Tujuan dari
observasi adalah mengumpulkan data tentang masalah yang dihadapi klien melalui kepekaan
alat panca indra. Contohkegiatanobservasi misalnya : terlihat adanya kelainan fisik, adanya
perdarahan, ada bagian tubuhyang terbakar,baualkohol,urin, feses, tekanan darah, heart rate,
batuk, menangis, ekspresi nyeri, dan lain-lain.
3. Pengkajian
a. Identitas
Biasanya perawat mewawancara klien untuk mendapatkan Identitas klien yang meliputi:
nama, umur, agama, jeniskelamin, pekerjaan, status perkawinan, alamat, tanggal masuk,
yang mengirim, cara masuk RS, diagnosa medis.
Biasanya perawat juga mewawancarai keluarga untuk mendapatkan identitas penanggung
jawab: nama, umur, hubungan dengan pasien, pekerjaan, alamat.
- Riwayat Kesehatan Sekarang (Keluhan Utama)
Apakah klien masih merasakan kelelahan, limfadenopati, lesi ulseratif, perubahan
tanda-tanda vital.
- Riwayat Kesehatan Dahulu
Perawat melakukan pengkajian riwayat kesehatan masa lalu dengan interview apakah
pasien menderita: mononukleosus, malabsorpsi, gangguan liver: hepatitis, sirosis;
tromboplebitis atau trombosis; gangguan limpa
- Riwayat Kesehatan Keluarga
- Biasanyakeluargaklienmemiliki riwayat penyakit yang meliputi: jaundis, gangguan
imun.

4. Pola persepsi dan penanganan kesehatan


a. Persepsi Sehat-Pola Penanganan Kesehatan
Perawat mengkaji persepsi sehat-pola penanganan kesehatan pasien, apakah pasien
merasakan kekurangan energi/lemah, merokok atau minum alcohol, pernah menerima
transfuse.
Apakah pasienpernahmenderitasalahsatudari:SLE, leukemia, myelodisplastik syndrome,
infeksi Ebstein-Barrvirus,sytomegalovirus,rubellavirus,hepatitisvirus(A,B, atau C),
infeksi saluran nafas atas, atau bastroenteritis, infeksi HIV, ketergantungan obat (bila ya,
jenis obat-obatan apa yang di konsumsi), pembedahan, trauma kepala, sakit kepala,
pandangan berkunang-kunang, somnolen, penurunan tingkat kesadaran, perdarahan
intracranial.
b. Kesehatan Keluarga
Apakah diantara anggota keluarga ada yang menderita anemia, leukemia, perdarahan,
masalah pembekuan.
c. Pola Metabolisme-Nutrisi
Perawat mengkaji apakah pasien mengalami kesulitan makan, mengunyah, menelan,
bagaimanaseleramakanpasein,apakahpasienmengkonsumsivitamin, suplemen, zat besi,
apakah pasien merasa mual, mengalami muntah, perdarahan, memar, perubahan kondisi
kulit, keringat malam, intoleransi terhadap suhu/iklin yang dingin, pembengkakan pada
lipatan ketiak, leher, lipatan paha.
d. Pola Eliminasi
Perawat mengkaji apakah pasien mengalami buang air besar berwarna hitam atau seperti
ter, kencing berdarah, urine output berkurang, diare, menorrhagia, ekimosis, epistaxis.
e. Pola Latihan-Aktifitas
Perawat mengkaji apakah pasien mengalami rasa lelahan yang berlebihan, bernafas
pendek-pendek saat istirahat dan/atau saat beraktifitas, mengalami keterbatasan gerak
sendi, gait yang tidak baik, perdarahan dan atau memar setelah beraktifitas.
f. Pola Istirahat-Tidur
Perawat mengkaji apakah pasien mengalami rasa lelahan dan/atau kelelahan yang lebih
dari biasanya, merasa baik setelah beristirahat.
g. Pola Persepsi-Kognitif
Perawat mengkaji apakah pasien mengalami mati rasa, rasa geli, masalah penglihatan,
pendengaran, pengecapan, perubahan fungsi mental, nyeri tulang, sendi, abdominal,
perut kembung, nyeri sendi saat melakukan gerakan, nyeri otot.
h. Pola Konsep-diri-Persepsi-diri
Perawat mengkaji apakah pasien merasa: masalah kesehatannya membuat perasaan
berbeda tentang dirinya sendiri, perubahan fisik yang menyebabkan distress.
i. Pola Berhubungan-Peran
Perawat mengkaji apakah pasien bekerja pada lingkungan yang kontak dengan bahan-
bahan yang merusak/merugikan, apakah pasien merasakan bahwa penyakitnya merubah
perandan hubungan dirinya dengan orang lain.
j. Pola Reproduksi-Seksual
Perawat mengkaji apakah pasien mempunyai masalah hematology yang menyebabkan
masalah seksual, wanita: kapan mens terakhir, siklus normal, berapa lama mengalami
perdarahan tiap siklus, peningkatan pembekuan, volume mensturasi, pria: mengalami
impotensi
k. Pola Toleransi Stres-Koping
Perawat mengkaji apakah pasien mempunyai system dukungan
(keluraga,teman,organisasi, dll) yang dapat menolong, bagaimana strategi koping yang
digunakan selama sakit.
l. Pola Keyakinan-Nilai
Perawat mengkaji bagaimana pengetahuan/pendapat pasien tentang imun, apakah pasien
mempunyai konflik antara rencana terapi dan sisteem keyakinan-nilai yang di anut.

5. Pemeriksaan fisik
 Tanda Vital
Tanda-tanda vital terdri dari : suhu, nadi, tekanan darah, RR, TB, BB Sebelum masuk RS
dan saat di RS.

Ada 4 teknik dalam pemeriksaan fisik yaitu:


a. Inspeksi
Adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan cara melihat bagian tubuh yang diperiksa
melalui pengamatan. Cahaya yang adekuat diperlukan agar perawat dapat membedakan
warna, bentuk dan kebersihan tubuh klien. Fokus inspeksi pada setiap bagian tubuh
meliputi : ukuran tubuh, warna, bentuk, posisi, simetris. Dan perlu dibandingkan hasil
normal dan abnormal bagian tubuh satu dengan bagian tubuh lainnya. Contoh : mata
kuning (ikterus), terdapat struma di leher, kulit kebiruan (sianosis), dan lain-lain.
b. Palpasi
Palpasi adalah suatu teknik yang menggunakan indera peraba. Tangan dan jari-jari adalah
instrumen yang sensitif digunakan untuk mengumpulkan data, misalnya tentang:
temperatur, turgor, bentuk, kelembaban, vibrasi, ukuran.
Langkah-langkah yang perlu diperhatikan selama palpasi:
 Ciptakan lingkungan yang nyaman dan santai
 Tangan perawat harus dalam keadaan hangat dan kering
 Kuku jari perawat harus dipotong pendek
 Semua bagian yang nyeri dipalpasi paling akhir. Misalnya : adanya tumor, oedema,
krepitasi (patah tulang), dan lain-lain.
c. Perkusi
Perkusi adalah pemeriksaan dengan jalan mengetuk bagian permukaan tubuh tertentu
untuk membandingkan dengan bagian tubuh lainnya (kiri kanan) dengan tujuan
menghasilkan suara. Perkusi bertujuanuntukmengidentifikasi lokasi, ukuran, bentuk dan
konsistensi jaringan. Perawat menggunakan kedua tangannya sebagai alat untuk
menghasilkan suara.
Adapun suara-suara yang dijumpai pada perkusi adalah;
 Sonor : suara perkusi jaringan yang normal
 Redup : suara perkusi jaringan yang lebih padat, misalnya di daerah paru-paru pada
pneumonia
 Pekak : suara perkusi jaringan yang padat seperti pada perkusi daerah jantung,
perkusi daerah hepar
 Hipersonor/timpani : suara perkusi pada daerah yang lebih berongga kosong,
misalnya daerah caverna paru, pada klien asthma kronik.dan timpani pada usus.
d. Auskultasi
Adalah pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara mendengarkan suara yang
dihasilkan oleh tubuh.Biasanyamenggunakanalatyangdisebutdenganstetoskop. Hal-hal
yang didengarkan adalah : bunyi jantung, suara nafas, dan bising usus.
Suara tidak normal yang dapat diauskultasi pada nafas adalah:
 Rales : suara yang dihasilkan dari eksudat lengket saat saluran-saluran halus
pernafasan mengembang pada inspirasi (rales halus, sedang, kasar). Misalnya pada
klien pneumonia, TBC
 Ronchi : nada rendah dan sangat kasar terdengar baik saat inspirasi maupun saat
ekspirasi. Ciri khas ronchi adalah akan hilang bila klien batuk. Misalnya pada edema
paru
 Wheezing : bunyi yang terdengar “ngiii….k”. bisa dijumpai pada fase inspirasi
maupun ekspirasi. Misalnya pada bronchitis akut, asma
 PleuraFrictionRub ; bunyi yangterdengar“kering”seperti suaragosokanamplaspada
kayu. Misalnya pada klien dengan peradangan pleura.

Pendekatan pengkajian fisik dapat menggunakan:


 Head to toe (kepala ke kaki)
Pendekatan ini dilakukan mulai dari kepala dan secara berurutan sampai ke kaki.
Mulai dari : keadaan umum, tanda-tanda vital, kepala, wajah, mata, telinga, hidung,
mulut dan tenggorokan, leher, dada, paru, jantung, abdomen, ginjal, punggung,
genetalia, rectum, ektremitas.
 ROS (Review of System / sistem tubuh)
Pengkajian yang dilakukan mencakup seluruh sistem tubuh, yaitu : keadaan umum,
tanda vital, sistem pernafasan, sistem kardiovaskuler, sistem persyarafan, sistem
perkemihan, sistem pencernaan, sistem muskuloskeletal dan integumen, sistem
reproduksi. Informasi yang didapat membantu perawat untuk menentukan system
tubuh mana yang perlu mendapat perhatian khusus.
Daftar Pustaka
https://www.scribd.com/document/372865646/Anamnesa-Sistem-Integumen-Ketik
https://www.slideshare.net/nindycofiana/pengkajian-pada-sistem-imun