Anda di halaman 1dari 29

SPESIFIKASI BAHAN

SEKSI 01100

NO Satuan Pekerjaan | Spesifikasi Bahan


A Struktur
1 Sub Struktur Pondasi Tiang Pancang (Spun Pile)
Struktur Utama / Upper
2 Struktur Beton Bertulang
3 StrukturAtap Beton Bertulang
4 Penutup Atap Plat Beton Bertulang
B Arsitektur
1 Dinding Bata Merah & Bata Ringan
• Keramik lantai Platinum 60x60, interior
• Keramik Lantai Platinum daerah basah 20x20, anti slip
2 Lantai • Keramik lantai Platinum area tangga 60x60, interior
• Keramik teras 15x60, anti slip border
• Stair noising (Stepnose) Platinum 10x60, anti slip
• Rabat beton (floor hardener)
• Keramik platinum 10x30, anti slip
3 Plint (Base) • Lapisan kedap air (waterproofing)
• Finishing cat Interior Dulux.
4 Finishing Dinding Interior • Finishing cat Interior Dulux Weathershield.
• Keramik platinum 20X40.
• Gypsum 9 mm (dalam + list.plafond, finishing cat)
5 Plafon • Gypsum 9 mm waterproof / water resistant (daerah basah)
• Beton Ekspose.
• Cat Eksterior setara Dulux Weathershield.
• Kusen Alumunium Indalex / Alexindo
6 Finishing Dinding Exterior
• Kaca t=6 mm
• Kaca tempered t=12 mm
7 Realing Pengisi Besi D-12 Bsp Finishing Cat Duko.
• Wastafel Toto type LW 640
8 Sanitair • Kran Type TX 115 LESN
• Closet Jongkok Toto type CE 6
• Floor Drain Toto type TX1BN
9 Assesories Kend
C MEP
Plumbing
• Pipa Air Bersih PPR PN-10 Wavin
• Pipa Air Kotor PVC AW kelas 10 k
1 Pemipaan
• Pipa Air Bekas PVC AW kelas 10 k
• Pipa Air Hujan PVC AW kelas 10 k
2 Fitting Rucika
• Pompa Sumpit (Grundfos / Artur)
3 Pompa & Toren • Pompa Air Bersih / Boster Pum (Grundfos / Artur)
• Pinguin
4 Valve Kitz / Toyo
5 Check Valve Kitz / Toyo
6 Flesible Joint Tozen / Muraflex
7 Exoss Vent KDK / Panasonix
Electrikal
1 Kabel Suprime / Kabel Metal / Kabel Indo / Belden
2 Pipa Pipa Conduit HIC (Ega / Klipsal / Boss)
3 Panel Saka
4 Induk Panel Simetri / Kuni Makmur
5 Kabel Tray Tree Star / Tree Abadi
6 Assesoris Clipsal / Snaider / Panasonic
Data & Telp
1 CCTV Sony / Samsung / Panasonic
2 Montor Sony / Samsung / Panasonic
Penerangan
1 Lampu LED Philips / Osram
2 Balas Philips / Osram
3 Armatur Lampu Artolite

JN/ SPC-Pgd/011/SPC 01110 - 1/3


URAIAN LINGKUP PEKERJAAN
SEKSI 01110

Pekerjaan Pengurugan Tanah, Asrama Putra dan Flat dosen Politeknik KP Pangandaran
ini secara garis besar tercantum dalam BoQ meliputi pembangunan Infrastruktur dan
Gedung- Gedung sebagai berikut :

PENGURUGAN TANAH
GEDUNG ASRAMA PUTRA
GEDUNG FLAT DOSEN

I. URUGAN TANAH
Area Gedung Asrama Putra
Area Gedung Flat Dosen
Tanggul Belakang Gedung Asrama Putra dan Flat Dosen
II. GEDUNG ASRAMA PUTRA
Lantai Dasar
Lantai Satu
Lantai Dua
Lantai Atap Dak Beton

III. GEDUNG FLAT DOSEN


Lantai Dasar
Lantai Satu
Lantai Atap Dak Beton

JN/SPC-Pgd/011/SPC 01100A - 1/1


STANDARD YANG DIGUNAKAN
SEKSI 01200

1. Keseluruhan pekerjaan sebagaimana tertera pada Spesifikasi Teknis Seksi 01100


serta yang tercantum dalam Gambar-gambar kerja, mengacu pada standard-
standard yang berlaku di Indonesia.

2. Standard-standard tersebut adalah; namun tidak terbatas pada:


1. Standard Industri Indonesia (SII)
2. Standard Nasional Indonesia (SNI)
3. Peraturan Umum Bahan Bangunan di Indonesia (PUBI-1982)
4. Metoda pembuatan dan perawatan benda uji beton di laboratorium
( SK.SNI.M-62-1990-03 )
5. Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Rumah dan Gedung
( SK.SNI.T15-1991-03 )
6. Spesifikasi bahan tambahan untuk beton ( SK.SNI-S-18-1990-03 )
7. Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBI-1971-NI2)
8. Peraturan Perencanaan untuk Struktur Beton Bertulang Biasa & Struktur
Tembok Bertulang untuk Gedung 1983.
9. Peraturan Konstruksi Kayu di Indonesia (PKKI-NI-5)
10. Peraturan Semen Portland Indonesia 1972-NI8
11. Ketentuan-ketentuan Umum untuk Pelaksanaan Pemborongan Pekerjaan
Umum (AV) – no.9, Tgl 28 Mei 1941.
12. Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL-1987)
13. PeraturanUmum mengenai Instalasi Listrik (A.V.E)
14. Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia 1983 (PPBBI’83)
15. Peraturan Umum mengenai Instalasi Air Ledeng (AVWI)
16. Peraturan Plambing Indonesia – PPI 1979
17. Peraturan Umum Instalasi Penangkal Petir (PUIPP-1983)
18. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.45/PRT/M/2007 tentang Pedoman
Teknis Pembangunan Bangunan Gedung Negara
19. Peraturan Dinas Kebakaran Setempat
20. Peraturan yang ditetapkan oleh Perusahaan Listrik Negara
21. Peraturan yang ditetapkan oleh Perusahaan Daerah Air Minum
22. Persyaratan Umum dari Dewan Teknik Pembangunan Indonesia (DTPI 1980)
23. Pedoman Tata Cara Penyelengaraan Pembangunan Bangunan Gedung Negara
oleh Departemen P.U
24. Peraturan Pembebanan Indonesia untuk gedung 1983
25. Peraturan Perencanaan Tahan Gempa Indonesia untuk gedung 1981 beserta
pedomannya
26. Peraturan Keselamatan Kerja Departemen Tenaga Kerja RI.
27. Peraturan-peraturan Pemda setempat yang terkait
28. Peraturan tentang mitigasi bencana

Jika tidak terdapat dalam Peraturan/Standard/Normalisasi tersebut diatas, maka


berlaku Peraturan/Standard/Normalisasi Internasional ataupun dari Negara asal
produsen bahan/komponen yang bersangkutan.

JN/ SPC-Pgd/011/SPC01200 - 1/2


Selain ketentuan-ketentuan tersebut berlaku pula dalam ketentuan ini:
Dokumen Lelang sudah disyahkan oleh Pemberi Tugas adalah Gambar
Kerja, RKS, BQ dan Draft Surat Perjanjian/Kontrak.
Shop Drawing yang dibuat oleh Pemborong dan sudah disetujui/disyahkan
oleh Pemberi Tugas dan Pengawas
Petunjuk-petunjuk dan peringatan-peringatan tertulis yang diberikan oleh
Konsultan Pengawas

3. Di samping Standard/Peraturan di Indonesia, untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu,


bagi pekerjaan-pekerjaan yang peraturan dalam negerinya belum lengkap.
Peraturan-peraturan tersebut adalah:
1. American Society of Testing Materials/ASTM
2. American Institute of Steel Construction /AIS
3. American Welding Society/AWS
4. National Society of Heating, Refrigerating and Air Conditioning
Engineers/ASHRAE
5. National Fire Protection Articles/NFPA
6. International Electronical Commission/EIC
7. British Standard/BS
8. Deutsche Institute fur Normungs
9. Japanese Industrial Standard

JN/ SPC-Pgd/011/SPC01200 - 2/2


KETENTUAN UMUM
SEKSI 01300

1. PENJELASAN UMUM PEKERJAAN

Dalam melaksanakan pekerjaan ini Kontraktor perlu memahami dan menghayati


dengan sebaik-baiknya seluruh item pekerjaan yaitu Gambar Kerja, Rencana Kerja
dan Syarat-Syarat Teknis seperti diuraikan dalam buku ini, termasuk ketentuan-
ketentuan dalam kontrak.
Didalam hal terdapat ketidakjelasan, perbedaan atau kesimpang siuran informasi di
dalam pelaksanaan, kontraktor wajib mengadakan konsultasi dengan konsultan
Pengawas untuk mendapatkan kejelasan pelaksanaan.

2. TANGGUNG JAWAB KONTRAKTOR DAN SERTIFIKAT

a) Kontraktor harus mematuhi segala ketentuan, baik yang ditetapkan oleh


Pemerintah, Peraturan Daerah, Undang-Undang Gangguan maupun hukum
lainnya yang berlaku di Indonesia.

b) Kontraktor harus bertanggung jawab penuh atas kualitas pekerjaan sesuai


dengan ketentuan-ketentuan dalam RKS dan Gambar Kerja

c) Kehadiran Konsultan Pengawas selaku wakil Pemberi Tugas untuk melihat,


mengawasi, menegur, atau memberi nasihat tidak mengurangi tanggung jawab
penuh tersebut diatas

d) Kontraktor bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan yang timbul akibat


pelaksanaan pekerjaan

e) Bilamana terjadi gangguan yang dapat mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan,


maka Kontraktor berkewajiban memberikan saran-saran perbaikan kepada
Pemberi Tugas melalui Konsultan Pengawas Apabila hal ini tidak dilakukan,
Kontaktor bertanggung jawab atas kerusakan yang timbul.

f) Kontarktor bertanggung jawab atas keselamatan tenaga kerja yang dikerahkan


dalam pelaksanaan
g) Segala biaya yang timbul akibat kelalaian Kontraktor dalam melaksanakan
pekerjaan menjadi tanggung jawab Kontraktor

h) Kontraktor bertanggung jawab atas pekerjaan pelaksanaan proyek ini harus


memiliki pas / sertifikat golongan tertinggi, diantaranya :
1. SIPP
2. Pas untuk listrik dan pemipaan ( plumbing ) ( SIKA, SPI )
3. Dan lain-lain yang berlaku di wilayah
4. SIPP dan Badan Keselamatan Kerja
5. Dlsb

JN/SPC-Pgd/011/SPC 01300 - 1/16


i) Selama pekerjaan berlangsung, Kontraktor harus menjaga keamanan
bahan/material, barang milik proyek, Konsultan Pengawas dan milik Pihak
Ketiga yang ada di lapangan, maupun bangunan yang dilaksanakannya sampai
tahap serah terima. Bila terjadi kehilangan bahan-bahan bangunan yang telah
disetujui, baik yang telah dipasang maupun belum adalah tanggung jawab
kontraktor dan tidak akan diperhitungkan dalam biaya pekerjaan tambah.

j) Apabila terjadi kebakaran akibat kelalaian Kontraktor, maka Kontraktor


bertanggung jawab atas akibatnya, baik yang berupa barang-barang maupun
keselamatan jiwa

k) Apabila pekerjaan telah selesai, Kontraktor harus segera mangangkut bahan


bongkaran dan sisa-sisa bahan bangunan yang sudah tidak dipergunakan lagi
keluar lokasi pekerjaan. Segala pembiayaannnya menjadi tanggung jawab
Kontraktor.

l) Kontraktor harus memelihara keadaan tetap bersih sampai dengan selesainya


serah terima pekerjaan.

3. TENAGA DAN SARANA KERJA DAN BAHAN

a) Kontraktor harus menyediakan tenaga kerja yang ahli, bahan-bahan, peralatan


berikut alat bantu lainnya untuk melaksanakan bagian-bagian pekerjaan serta
mengadakan pengamanan, pengawasan dan pemeliharaan terhadap bahan-
bahan, alat-alat kerja maupun hasil pekerjaan selama masa pekerjaan
berlangsung sehingga seluruh pekerjaan selesai dengan sempurna sampai
dengan diserah terima pekerjaan ke I dan II kepada Pemberi Tugas.

b) Tenaga Kerja dan Tenaga Ahli tersebut diatas harus dalam jumlah yang
memadai dan berpengalaman sesuai dengan jenis dan volume pekerjaan yang
akan dilaksanakan

c) Kontraktor harus mengatur segala sesuatu yang berhubugan dengan


pengerahan tenaga kerja yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan
sebagaimana ditetapkan dalam Dokumen Kontrak, sehingga tidak
menimbulkan hambatan dalam kelancaran kerja.

d) Segala masalah atau perselisihan yang timbul antara Kontraktor dan pekerja
/karyawannya atau perselisihan yang timbul dengan Sub Kontraktor,
merupakan tanggung jawab Kontraktor sepenuhnya dan tidak melibatkan
Pemberi Tugas.

e) Kontraktor harus menyediakan alat-alat dan perlengkapan-perlengkapan


pekerjaannya sesuai dengan bidangnya masing-masing, seperti :
a. Alat ukur ( Total Station, Theodolit, Waterpass, dll )
b. Alat-alat pemotong, pendukung dan penarik
c. Alat-alat bantu
d. Alat-alat pengetesan lainnya yang diperlukan
e. Alat-alat bor
f. Alat-alat pengangkut dan pengangkat

JN/SPC-Pgd/011/SPC 01300 - 2/16


g. Mesin las
h. Dlsb
Semua alat-alat yang digunakan harus dalam kondisi baik dan dapat
difungsikan.

f) Bahan-bahan bangunan dalam jumlah dan kualitas yang memadai untuk setiap
jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan serta tepat pada waktunya harus
dipersiapkan oleh Kontraktor

4. PENCEGAHAN TERHADAP ORANG-ORANG YANG TIDAK


BERKEPENTINGAN

a) Kontraktor wajib melaksanakan operasi kerjanya pada batas-batas lahan


yang telah disediakan, serta mencegah masuknya orang-orang yang tidak
berkepentingan kedalam daerah kerja.

b) Kontraktor harus menginstruksikan kepada personil-personilnya untuk


melaksanakan peraturan ini secara ketat.

5. PERLINDUNGAN TERHADAP MILIK UMUM DAN TETANGGA.

a) Kontraktor harus memelihara semua jalan-jalan publik dan pribadi dan jalan-
jalan setapak yang berkaitan dengan operasi kerjanya sehingga tidak terjadi
kerusakan ataupun sampah-sampah maupun tumbuhnya tanaman liar sebagai
akibat gerak operasinya.

b) Hal diatas ini juga termasuk bagi-bagi instalasi-instalasi air, telephone, listrik,
dsb.

c) Bilamana timbul kerusakan, atau retak-retak atau kotoran-kotoran akibat


operasi kerja kontraktor maka kontraktor wajib memperbaiki dan
membersihkan atas biaya sendiri.

6. PERLINDUNGAN TERHADAP BANGUNAN-BANGUNAN ATAU


STRUKTUR-STRUKTUR EXISTING.

Selama pelaksanaan kerja sebagaimana tertera dalam kontrak, maka Kontraktor


bertanggung jawab penuh untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan yang terjadi
pada bangunan-bangunan, instalasi-instalasi, jalan-jalan, saluran-saluran dsb yang
exsisting pada tapak proyek, atau memberi penggantian atas kerugian yang terjadi.

7. KESELAMATAN PEKERJA, KEAMANAN DAN PERLENGKAPAN P3K.

a) Kontraktor bertanggung jawab penuh untuk keselamatan kerjanya termasuk


bahan-bahan, serta perlengkapan pada tapak sampai dengan serah terima,
pekerjaan yang kedua.
Kontraktor wajib menyediakan tenaga, bahan-bahan, peralatan-peralatan yang
perlu bagi keselamatan pekerjaan, termasuk perlindungan dari hujan, banjir

JN/SPC-Pgd/011/SPC 01300 - 3/16


dan lain sebagainya yang diperlukan atau sesuai Instruksi Pengawas/Manager
Konstruksi.

b) Kontraktor wajib menyediakan dan memelihara fasilitas-fasilitas atau


perlengkapan-perlengkapan bagi keamanan personil-personil yang ada
termasuk tamu-tamu yang datang ketapak. Perlengkapan-perlengkapan ini,
seperti alat pemadam kebakaran, dlsb harus sesuai dengan peraturan-peraturan
yang berlaku mengenai keselamatan kerja serta telah disetujui oleh Pengawas /
Manager Konstruksi

c) Perlengkapan-perlengkapan diatas termasuk juga perlengkapan-perlengkapan


P3K, dimana Kontraktor harus juga menempatkan personil terlatih dalam
menggunakan perlengkapan-perlengkapan diatas.

8. GANGGUAN TERHADAP TETANGGA.

Kontraktor harus telah memperhitungkan kemungkinan gangguan-gangguan yang


dapat timbul terhadap tetangga akibat operasi kerjanya. Bila pertimbangan
Pengawas menginstruksikan Kontraktor untuk mengatasi gangguan yang timbul,
maka Kontraktor wajib mengambil langkah-langkah penanganan untuk mengatasi
gangguan ini tanpa mengajukan biaya tambahan.

9. PEMASANGAN IKLAN.

Kontraktor dilarang untuk memasang iklan ataupun benda-benda lainnya yang


berbentuk iklan didalam lingkungan tapak maupun yang berbatasan.

10. TULANG BELULANG DAN BEKAS KUBURAN.

Bilamana ditemukan tulang belulang atau bekas kuburan pada lahan saat
pelaksanaan pekerjaan, Kontraktor harus segera mengambil langkah pengamanan
atas tempat ini serta melaporkan ke Konsultan Pengawas.
Tindakan selanjutnya dilakukan, sesuai instruksi atau disposisi dari Pengawas.
Kejadian diatas ini tidak dapat dijadikan alasan oleh Kontraktor bagi perpanjangan
waktu pelaksanaan.

11. AIR KERJA

a) Air tawar untuk melaksanakan pekerjaan harus disediakan oleh Kontraktor dari
sumber-sumber PDAM atau lainnya yang memiliki kualitas yang baik.
Kontraktor harus memasang instalasi penyimpanan bilamana diperlukan atau
mengusahakan transportasi air ke setiap lokasi pekerjaan
b) Sumber-sumber pengambilan air kerja harus mendapat persetujuan Konsultan
Pengawas
c) Semua biaya pengadaan air kerja ini merupakan beban Kontraktor

12. TENAGA LISTRIK SEMENTARA

a) Kontraktor diwajibkan menyediakan tenaga listrik untuk penerangan atau


peralatan-peralatan lainnya yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pekerjaan,
termasuk juga penerangan bagi sekuriti/keamanan malam hari.

JN/SPC-Pgd/011/SPC 01300 - 4/16


b) Daya /tenaga listrik ini termasuk semua kabel-kabel sementara, beban biaya
serta pemberesannya setelah pekerjaan selesai menjadi tanggung jawab
Kontraktor

13. BARANG-BARANG DAN BAGIAN-BAGIAN DARI SUMBER SPESIFIK

Bilamana didalam RKS, Kontraktor diwajibkan menyediakan benda-benda atau


bahan-bahan dari sumber spesifik, maka biaya pengadaan benda atau bahan-bahan
ini sudah harus termasuk didalam biaya kontrak, termasuk transportasi, bongkar
muat, penyimpanan, dll

14. PENCANTUMAN MERK ATAU NAMA PRODUK

Bilamana dalam RKS atau Gambar Kerja dicantumkan nama produk dari suatu
pabrik tertentu, hal ini hanya dimaksud untuk mengindikasikan kualitas dan type
barang atau bahan yang memenuhi standard Pemberi Tugas
Kontraktor dapat mengganti dengan produk sejenis namun memiliki kualitas yang
setara, sesuai persetujuan Konsultan Pengawas.

15. KESEJAHTERAAN DAN KESELAMATAN PEKERJA

a) Kontraktor berkewajiban menyediakan air minum yang bersih, sehat dan cukup
di tempat pekerjaan untuk para pekerja
b) Kontraktor berkewajiban menyediakan air yang layah untuk keperluan MCK
bagi para pekerja di tempat pekerjaan
c) Kontraktor/Pemborong berkewajiban menyediakan kotak P3K dan obat-obatan
ditempat pekerjaan.
d) Dari permulaan hingga penyelesaian pekerjaan dan selama masa pemeliharaan,
Kontraktor bertanggung jawab atas keselamatan pekerjaan, bahan dan
peralatan teknis serta konstruksi yang diserahkan Pemberi Tugas, dalam hal
terjadinya kerusakan-kerusakan, maka kontraktor harus bertanggung jawab
untuk memperbaikinya.
e) Apabila terjadi kecelakaan, Kontraktor secepat mungkin memberitahukan
kepada Konsultan Pengawas dan mengambil tindakan yang perlu untuk
keselamatan korban kecelakaan itu
f) Sesuai dengan Surat Keputusan Bersama Menteri Pekerjaan Umum dan
Menteri Tenaga Kerja No. 30/KPTS/1984 dan Kep-07/Men/1984 tanggal 27
Januari 1984 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun1977
bagi Tenaga Kerja Borongan Harian Lepas pada Kontraktor Induk maupun Sub
Kontraktor yang melaksanakan Proyek-Proyek Departemen Pekerjaan Umum,
pihak Kontraktor/Pemborong yang sedang melaksanakan pembangunan agar
ikut serta dalam program BPJS dan memberitahukan secara tertulis kepada
Pemberi Tugas.

JN/SPC-Pgd/011/SPC 01300 - 5/16


16. SUPPLIER DAN SUB KONTRAKTOR

a) Jika Kontraktor menunjuk Kontraktor Bawahan (Sub-Kontraktor), maka


Kontraktor wajib mendapat persetujuan dari Konsultan Pengawas yang
dilajutkan kepada Pemberi Tugas.

b) Kontraktor wajib mengadakan koordinasi pelaksanaan atas petunjuk Konsultan


Pengawas dengan Kontraktor Bawahan

c) Kontraktor Bawahan wajib hadir mendampingi konsultan Pengawas di


lapangan untuk pekerjaan khusus dimana pelaksanaan dan pemasangan bahan
tersebut perlu persyaratan khusus sesuai instruksi pabrik

d) Kontraktor tetap bertanggung jawab atas hasil pekerjaan yang dilakukan oleh
Kontraktor Bawahan.

17. MEMULAI KERJA

Selambat-lambatnya 1 (satu) minggu setelah tanggal penandatanganan Surat


Perintah Mulai Kerja Pekerjaan (SPMK), Pihak Kontraktor sudah harus memulai
melaksanakan pembangunan fisik secara nyata di lapangan.
Dan apabila setelah 1 (satu) minggu Kontraktor yang ditetapkan belum
melaksanakan pembangunan fisik secara nyata di lapangan, maka akan
diberlakukan ketentuan yang telah dibuat oleh Pihak Pemberi Tugas

18. JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN (TIME SCHEDULE)

a) Selambat-lambatnya 1 (satu) minggu setelah dikeluarkannya Surat Perjanjian,


Kontraktor wajib membuat dan mengajukan Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan,
kepada Konsultan Pengawas untuk mendapatkan persetujuan Pemberi Tugas.
Jadwal Pelaksanaan Pekerjaaan ini berupa barchart dan selain dicantumkan
item-item pekerjaan, juga harus dilengkapi dengan:
- Prosentase bobot tiap volume jenis pekerjaan terhadap seluruh
pekerjaan
- S.Curve (Kurva S)
- Kolom-kolom mingguan dan bulanan

b) Apabila terjadi keterlambatan waktu pelaksanaan atau keterlambatan waktu


mendatangkan material maka Kontraktor harus bersedia membuat detail
program kerja baru sesuai permintaan Konsultan Pengawas.

c) Kontraktor wajib melaksanakan pekerjaan menurut jadwal pelaksanaan


Pekerjaan yang telah disetujui tersebut. Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan tersebut
akan dipakai sebagai dasar untuk menentukan nilai prestasi pekerjaan.

d) Pelaksanaan Pekerjaan wajib meminta persetujuan tertulis lebih dulu dari


Pemberi Tugas bila ada penyimpangan-penyimpangan dari Jadwal Pelaksanaan
Pekerjaan.

JN/SPC-Pgd/011/SPC 01300 - 6/16


19. PROGRAM KERJA DAN METODA PELAKSANAAN KONSTRUKSI

Kontraktor diharuskan mengajukan suatu Program Kerja Pekerjaan Konstruksi


mencakup metoda pelaksanaannya untuk setiap bagian dari pekerjaan
Program Kerja ini harus memuat:
1. Tanggal Pelaksanaan dan Penyelesaian Pelaksanaan Konstruksi induk seluruh
bagian dari pekerjaan
2. Tanggal pembelian bahan-bahan yang sudah memperhitungkan perkiraan
waktu pengirimannya ke lapangan
3. Jumlah waktu yang diusulkan bagi pekerjaan lapangan personil Kontraktor
4. Jumlah personil Kontraktor yang dilibatkan dalam pelaksanaan pekerjaan
termasuk uraian fungsi tugas masin-masing
5. Usulan jumlah dan tipe peralatan yang akan digunakan pada masing-masng
bagian pekerjaan.
6. Usulan tanggal-tanggal bilamana dibutuhkan ekstra gambar-gambar dan
petunjuk-petunjuk

20. GAMBAR-GAMBAR KERJA DI LAPANGAN

Gambar-gambar Kerja untuk seluruh pekerjaan harus senatiasa tersedia di


lapangan. Gambar-gambar ini harus dipelihara dalam kondisi yang baik, dapat
dibaca serta merupakan gambar-gambar terbitan terakhir.

21. PENGERJAAN DILUAR JAM KERJA NORMAL

a) Apabila dilihat dari segi sifatnya, suatu bagian pekerjaan mutlak tidak dapat
ditunda serta harus dilemburkan baik pada hari libur, hari besar maupun
melampaui jam kerja tersebut diatas maka Kontraktor harus segera mengajukan
Rencana Kerja Lembur kepada Konsultan Pengawas dilengkapi dengan alasan-
alasannya untuk kemudian setelah diteliti disampaikan kepada Pemberi Tugas
guna mendapatkan persetujuan.
b) Apabila dipandang perlu Pemberi Tugas berhak menunda/menghentikan
pelaksanaan sebagian/seluruh pekerjaan yang sedang dilaksanakan.
Dalam hal demikian, maka Kontraktor wajib melanjutkan pekerjaannya yang
tertunda diluar jam kerja atau hari libur/besar dengan biaya atas beban
Kontraktor sepenuhnya.
c) Apabila Kontraktor menganggap perlu, bahwa pekerjaan yang dilemburkan
harus didampingi oleh Konsultan Pengawas, maka biaya lembur Konsultan
menjadi tanggungan Kontraktor.
d) Apabila Konsultan Pengawas beranggapan bahwa pekerjaan yang dilemburkan
tidak perlu diawasi secara fisik, maka Kontraktor wajib memberikan laporan
secara tertulis mengenai pekerjaan yang perlu dilemburkan, jumlah waktu yang
diperlukan dan semua peristiwa yang terjadi di lapangan menjadi tanggung
jawab Kontraktor.
e) Ketentuan lainnya yang dianggap perlu yang berkaitan dengan Kerja Lembur
akan ditentukan kemudian sesuai situasi dan kondisi kegiatan pelaksanaan
proyek.

JN/SPC-Pgd/011/SPC 01300 - 7/16


22. KEADAAN MEMAKSA

1. Sesuatu keadaan dapat dinyatakan Keadaan Memaksa, apabila terjadi:


Bencana alam, pemogokan, wabah penyakit, huru-hara, pemberontakan,
perang, waktu kerja yang diperpendek oleh Pemerintah mengenai keadaan
bahaya, sehingga Kontraktor tidak dpat memenuhi kewajibannya. Keadaan
tersebut harus dinyatakan oleh petugas setempat.
2. Apabila terjadi keadaan memaksa Kontraktor harus memberitahuakan
secara tertulis kepada Pemberi Tugas dalam waktu paling lambat 7 (tujuh)
hari setelah terjadinya keadaan memaksa tersebut.

23. DIMENSI-DIMENSI / UKURAN-UKURAN.

Dimensi atau ukuran-ukuran yang dipakai bagi pelaksanaan pekerjaan harus sesuai
dengan ukuran, skala pada gambar-gambar serta digunakan sebagai ukuran yang
jadi.
Bilamana timbul keraguan atas ukuran-ukuran yang ada, maka tidak dibenarkan
untuk menggunakan instropeksi sendiri melainkan harus dikonsultankan, dengan
Konsultan Pengawas, tanpa mengharapkan perpanjangan waktu pelaksanaan.

24. RAPAT-RAPAT KOORDINASI

Selama jangka waktu pelaksanaan pekerjaan, secara berkala seminggu sekali


diadakan Rapat Lapangan, kecuali ditentukan lain.

a) Rapat Lapangan ini dihadiri oleh:


i. Pemberi Tugas (apabila dianggap perlu)
ii. Konsultan Pengawas
iii. Kontraktor
iv. Pihak-pihak lain yang ada sangkut pautnya dengan pelaksanaan
pekerjaan ini (apabila dianggap perlu)

b) Dalam rapat ini dibahas berbagai masalah yang timbul, selama pelaksanaan
pekerjaan, yang dipimpin oleh Konsultan Pengawas

c) Keputusan-keputusan dalam rapat ini dituangkan/dicatat dalam Risalah


Rapat Lapangan.
Keputusan-keputusan sifatnya mengikat dan paling lambat 2 (dua) hari
sebelum rapat lapangan berikutnya harus sudah didistribusikan kepada
semua pihak yang terkait dengan pekerjaan ini yaitu:
1. Pemberi Tugas
2. Konsultan Perencana
3. Konsultan Pengawas
4. Kontraktor
5. Pihak-pihak lain yang ada sangkut pautnya dengan pelaksanaan
pekerjaan ini (apabila dianggap perlu)

JN/SPC-Pgd/011/SPC 01300 - 8/16


25. LAPORAN HARIAN, MINGGUAN, DAN BULANAN

a) Kontraktor harus membuat laporan harian setiap harinya dalam rangkap 3 (tiga)

b) Dalam Laporan Harian harus dicatat:


- Uraian Kemajuan Pekerjaan aktual sampai dengan akhir minggu terakhir
- Jumlah tenaga kerja minggu ini dalam catatan hari per hari
- Bahan-bahan yang datang
- Jumlah pemakaian bahan
- Aktifitas serta keterlibatan tenaga kerja pada hari yang bersangkutan dan
volume yang dihasilkan
- Keadaan cuaca
- Pekerjaan tambah dan pekerjaan kurang serta hal lainnya yang berhubungan
dengan pelaksanaan pekerjaan serta catatan-catatan khusus lainnya bila ada.
- Kunjungna Pemberi Tugas atau tamu lainnya yang berkaitan dengan
Pembangunan ini.
- Informasi-Informasi, Gambar-Gambar, Instruksi yang diperlukan dari
Pemberi Tugas atau Konsultan Perencana
c) Laporan Harian tersebut akan diteliti dan diketahui oleh Konsultan Pengawas
sebagai data kemajuan fisik di lapangan dan merupakan bahan masukan dari
Pemberi Tugas

d) Selain laporan harian tersebut diatas, Kontraktor harus membuat Laporan


Mingguan yang tiap kali ditandatangani oleh Kontraktor dan Konsultan
Pengawas.

e) Laporan ini memuat kejadian-kejadian termasuk apabila terjadinya kecelakaan


atau hal yang tak terduga di lapangan, prestasi pekerjaan yang dicapai dan lain
sebagainya dalam periode 1 (satu) minggu.

f) Kontraktor harus membantu dalam hal supply data-data kepda Konsultan


Pengawas dalam rangka pembuatan laporan mingguan dan laporan bulanan
secara rutin.

26. FOTO DOKUMENTASI


a) Selain laporan Kontraktor diwajibkan melakukan pemotretan untuk memberi
gambaran kemajuan pekerjaan secara visual

b) Foto-foto berwarna harus dibuat cetakan (afdruk) ukuran postcard biasa dalam
rangkap 3 (tiga) yang masing-masing disusun dalam format album/ Harddisk.
Foto- foto dokumentasi proyek meliputi :
- Foto-foto kegiatan proyek, antara lain kegiatan uitzet, penempatan peralatan –
peralatan lapangan ( beto batcher ), penempatan material, pengerasan jalan,
dll.
- Foto-foto tahapan pekerjaan yang penting antara lain pembesian, bekisting,
pekerjaan beton sebelum dan sesudah pengecoran.
- Dan lain-lain kegiatan yang dianggap penting oleh pengawas

c) Pemilihan obyek yang akan dipotret sebaiknya dibicarakan terlebih dahulu


dengan Konsultan Pengawas

JN/SPC-Pgd/011/SPC 01300 - 9/16


d) Harus dibuat foto paling sedikit untuk 20 exp dengan obyek jalan sbb:
- Situasi sebelum pekerjaan dimulai
- Pelaksanaan pekerjaan urugan tanah
- Pekerjaan galian pondasi
- Pekerjaan pondasi
- Pengecoran beton untuk kolom-kolom dan balok-balok
- Pemasangan kuda-kuda
- Pelaksanaan pekerjaan interior: tembok, pintu-pintu, counter, jendela, plafond,
finishing lantai, dan lain sebagainya.
- Pelaksanaan lansekap (pengerasan halaman, tanaman pohon dan semak-
semak)
- Pemasangan pagar dan papan nama
- Selesai pekerjaan dan siap untuk diserah terimakan untuk pertama kali,
meliputi bangunan induk dan bangunan penunjang.

e) Tahapan Pemotretan
Kondisi proyek pada progress pekerjaan mencapai 0%, 5%, 10%, 20% dan
seterusnya sampai dengan 100% setiap peningkatan progres 5% dan kondisi
pada waktu pemeliharaan adalah tahapan-tahapan yang perlu dilakukan
pemotretan.

27. BUKU HARIAN


Kontraktor diharuskan untuk memiliki Buku Harian yang membuat catatan-catatan
atas segala instruksi-instruksi, serta semua bagian-bagian pekerjaan yang penting.

28. BARANG CONTOH (SAMPLE)


a) Kontraktor diwajibkan menyediakan barang-barang contoh (sample) dari
material yang akan dipasang/dipakai, untuk mendapatkan persetujuan
pengawas.

b) Barang-barang contoh (sample) tertentu harus dilampirkan dengan tanda


bukti/sertfikat pengujian dan spesifikasi teknis dari barang-barang/material
tersebut.

c) Untuk barang-barang/material-material yang akan didatangkan ke site (melalui


pemesanan) maka kontraktor diwajibkan menyerahkan brosur :
- Katalog
- Gambar kerja dan shop drawing
- Mock up dan sample lain-lain yang dianggap perlu oleh direksi lapangan /
pengawas dan harus mendapat persetujuan direksi lapangan / pengawas

d) Sample-sample bahan yang dibutuhkan oleh Pemberi Tugas/Konsultan


Pengawas harus segera dipenuhi oleh Kontraktor serta memenuhi standar
sample yang diinginkan

e) Sample-sample ini diambil dengan cara yang benar atau metode yag benar yang
dapat mewakili kwalitas dan kwantitas bahan atau pekerjaan dari mana ia
diambil. Sample-sample ini setelah mendapat persetujuan akan disimpan oleh
Pemberi Tugas/ Pengawas, sebagai patokan untuk menolak bahan-bahan yang

JN/SPC-Pgd/011/SPC 01300 - 10/16


tidak sesuai dengan kwalitas dan ciri-ciri dari sample ini. Bila diperlukan
tempat penyimpanan, maka kontraktor wajib menyediakan tempat yang aman.

f) Kontraktor dalam biaya penawaran/kontrak harus sudah memperhitungkan


biaya-biaya tes bahan dan pekerjaan-pekerjaan. Adanya kegagalan-kegagalan
dari hasil tes harus sudah diperhitungkan, termasuk m.elakukan tes-tes sampai
memenuhi syarat-syarat yang diinginkan. Hasil tes akan disimpan oleh Pemberi
Tugas/Pengawas

29. KETIDAKSESUAIAN ANTARA RAB/RKS DAN GAMBAR

a) Bila gambar tidak sesuai dengan RAB/RKS, maka untuk mengikat/berlaku


adalah RAB.

b) Untuk revisi-revisi pada pada alignment, lokasi, seksi (bagian), dan detail
gambar mungkin akan dilakukan pada waktu pelaksanaan kerja. Kontraktor
harus melaksanakan pekerjaan sesuai dengan maksud gambar dan
spesifikasinya, dan tidak boleh mencari keuntungan dari kesalahan atau
kelalaian dalam gambar atau spesifikasinya. Setiap deviasi dari karakter yang
tidak dijelaskan dalam gambar spesifikasi atau gambar kerja yang mungkin
diperlukan oleh keadaan darurat konstruksi atau lain-lainnya, akan ditentukan
oleh Konsultan Pengawas dan disyahkan secara tertulis.

c) Konsultan Pengawas akan memberikan instruksi berkenaan dengan penafsiran


yang semestinya untuk memenuhi ketentuan gambar dan spesifikasinya.

30. PERBEDAAN GAMBAR

a) Bila suatu gambar tidak cocok dengan gambar yang lain dalam suatu didiplin
kerja, maka gambar yang mempunyai skala yang lebih besar yang
mengikat/berlaku
b) Bila ada perbedaan antara gambar kerja Arsitektur denagn Sipil/Struktur, maka
Kontraktor wajib melaporkannya kepada Konsultan Pengawas yang akan
memutuskannya setelah berkonsultasi dengan Perencana
c) Bila ada perbedaan antara gembar kerja Arsitektur dan Sanitasi,
Elektrikal/Listrik dan Mekanikal, maka yang dipakai sebagai pegangan adalah
ukuran fungsional dalam gambar kerja Arsitektur
d) Mengingat setiap kesalahan maupun ketidaktelitian didalam pelaksanaan satu
bagian pekerjaan akan selalu mempengaruhi bagian pekerjaan lainnya, maka
didalam hal terdapat ketidakjelasan, kesimpangsiuran, perbedaan-perbedaan
dan ataupun ketidaksesuaian dan keragu-raguan diantar setiap Gambar Kerja,
Kontraktor diwajibkan melaporkan secara tertulis kepada Konsultan Pengawas.
Pemberi Tugas akan mengadakan pertemuan dengan Konsultan Pengawas dan
Konsultan Perencana untuk mendapat keputusan gambar mana yang akan
dijadikan pegangan.
e) Ketentuan tersebut diatas tidak dapat dijadikan alasan oleh Kontraktor untuk
mengklaim biaya tambahan maupun memperpanjang waktu pelaksanaan.

JN/SPC-Pgd/011/SPC 01300 - 11/16


31. SHOP DRAWING (GAMBAR-GAMBAR KERJA PELAKSANAAN)

a) Kontraktor wajib membuat Shop Drawing/gambar detail pelaksanaan di


lapangan berdasarkan Gambar Dokumen Kontrak yang telah disesuaikan
dengan keadaan di lapangan.

b) Kontraktor wajib membuat shop Drawing juga untuk detail-detail khusus yang
belum terungkap lengkap dalam Gambar Kerja/Dokumen Kontrak maupun
yang diminta oleh Konsultan Pengawas

c) Dalam semua Shop Drawing harus jelas dicantumkan dan digambarkan semua
data yang diperlukan termasuk pengajuan contoh dari semua bahan, keterangan
produk, cara pemasangan dan atau spesifikasi/persyaratan khusus sesuai dengan
spesifkasi pabrik yang belum tercakup secar lengkap di dalam Gambar
Kerja/Dokumen Kontrak maupun di dalam buku ini.

d) Kontraktor wajib mengajukan Shop Drawing tersebut kepada Konsultan


Pengawas untuk mendapat persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas.
Semua gambar dipersiapkan oleh Kontraktor dan diajukan kepada Konsultan
Pengawas untuk diminta persetujuannya harus sesuai dengan format standar
dari proyek.

32. IJIN MEMASUKI TEMPAT KERJA

Konsultan Pengawas atau setiap petugas yang diberi kuasa olehnya, setiap waktu
dapat memasuki tempat pekerjaan atau semua bengkel dan tempat-tempat dimana
pekerjaan sedang dikerjakan/dipersiapkan atau dimana bahan/barang dibuat.
Kontraktor harus memberi fasilitas dan membantu untuk memasuki tempat-tempat
tersebut.

33. PENGUJIAN MUTU PEKERJAAN DAN PEMERIKSAAN PEKERJAAN

1. PENGUJIAN
a) Kontraktor diwajibkan mengadakan pengujian mutu pekerjaan ataupun atas
pekerjaan yang telah diselesaikan sesuai dengan kebutuhannya masing-
masing, misalnya :
- Pengujian mutu beton
- Pengujian kabel-kabel listrik ( merger )
- Pengujian tekanan pipa-pipa ( plumbing )
- Pengujian kebocoran
- Pengujian bekerjanya mesin-mesin peralatan-peralatan lainnya.

b) Semua biaya-biaya tersebut diatas, ditanggung oleh kontraktor.

c) Laporan pengujian mutu beton harus segera diserahkan selambat-lambatnya


2 (dua) hari setelah tanggal pengujian kubus beton yang bersangkutan,
laporan yang diterima 3 (tiga) hari atau lebih setelah tanggal pengujian
dianggap batal apabila perlu oleh pengawas, kontraktor dapat diperintahkan
untuk mengadakan core drilling atas biaya kontraktor.

JN/SPC-Pgd/011/SPC 01300 - 12/16


2. PERIKSAAN

a) Pekerjaan atau bagian pekerjaan yang telah dilaksanakan oleh Kontraktor,


tetapi karena bahan/material ataupun komponen jadi, maupun mutu
pekerjaannya sendiri ditolak oleh Konsultan Pengawas harus segera
dihentikan dan selanjutnya dibongkar atas biaya Kontraktor dalam waktu
yang ditetapkan oleh Konsultan Pengawas/Pemberi Tugas.

b) Semua pekerjaan tidak boleh tertutup atau menjadi tidak terlihat sebelum
mendapatkan persetujuan Konsultan Pengawas.

c) Kontraktor harus melaporkan kepada Konsultan Pengawas kapan setiap


pekerjaan sudah siap untuk diperkirakan akan siap diperiksa dan pengawas
tidak boleh menunda waktu pemeriksaan, kecuali apabila pengawas
memberikan petunjuk tertulis kepada Kontraktor apa yag harus dilakukan.

d) Bila permohonan pemeriksaan pekerjaan dalam waktu 2x24 jam (dihitung


dari jam diterimanya surat permohonan pemeriksaan, tidak terhitung dari
hari libur/hari raya) tidak dipenuhi/ditangggapi oleh Konsultan
Pengawas/Pemberi Tugas, maka Kontraktor dapat meneruskan pekerjaannya
dan bagian yang seharusnya diperiksa dianggap telah disetujui oleh
Konsultan Pengawas/Pemberi Tugas.

e) Bila Kontraktor melalaikan perintah, konsultan Pengawas/Pemberi Tugas


berhak menyuruh membongkar bagian pekerjaan sebagian atau seluruhnya
untuk diperbaiki.

f) Biaya pembongkaran dan pemasangan/perbaikan kembali menjadi


tanggungan kontraktor tidak dapat diklaim sebagai biaya pekerjaan tambah
maupun alasan untuk perpanjangan waktu pelaksanaan.

34. KEMAJUAN PEKERJAAN

a) Seluruh bahan, peralatan konstruksi dan tenaga kerja yang harus disediakan
oleh Kontraktor demikian pula metoda/cara pelaksanaan pekerjaan harus
diselenggarakan sedemikian rupa, sehingga diterima oleh Pengawas.

b) Apabila laju kemajuan pekerjaan atau bagian pekerjaan pada suatu waktu
menurut penilaian Konsultan Pengawas telah terlambat, untuk menjamin
penyelesaian pada waktu yang telah ditentukan atau pada waktu yang
diperpanjang maka Pengawas harus memberikan petunjuk secar tertulis
langkah-langkah yang perlu diambil guna melancarkan laju pekerjaan sehingga
pekerjaan dapat diselesaikan pada waktu yang telah ditentukan.

35. PERINTAH UNTUK PELAKSANAAN

Bila Kontraktor atau petugas lapangannya tidak berada di tempat kerja dimana
Konsultan Pengawas bermaksud untuk memberikan petunjuk atau perintah, maka
petunjuk atau perintah tersebut harus dituruti dan dilaksanakan oleh semua petugas

JN/SPC-Pgd/011/SPC 01300 - 13/16


Pelaksana atau petugas yang ditunjuk oleh Kontraktor untuk menangani pekerjaan
itu.

36. PERSYARATAN BAHAN BANGUNAN

1. Semua bahan bangunan adalah berkwalitas baik, memenuhi segala persyaratan


yang terdapat dalam peraturan :
a. Standar Nasional Indonesia ( SNI ) yang berisi tentang peraturan
standarisasi bahan bangunan yang berlaku dalam wilayah Indonesia
b. Standar Industri Indonesia ( SII )
2. Semua bahan bangunan dan peralatan kerja untuk keperluan pekerjaan ini,
seluruhnya ditanggung dan disediakan oleh Kontraktor.
3. Pengawas lapangan berhak untuk minta keterangan mengenai asal dari bahan
bangunan dan lain-lain, serta sebelum digunakan agar diperiksakan terlebih
dahulu kepada Pengawas Lapangan di tempat pekerjaan.
4. Penyebutan suatu merk dagang pada bestek ini adalah untuk keseragaman mutu
dan melindungi Pemberi Tugas dari suatu merk dagang lain yang belum
terkenal dan teruji kwalitasnya. Apabila terdapat perselisihan tentang merk/
pemeriksaan bahan, maka Pengawas Lapangan berhak mengirimkan contoh-
contoh bahan ke Balai Penelitian Bahan Bangunan dan segala biaya
berhubungan dengan hal tersebut menjadi tanggung jawab Kontraktor.
5. Yang dimaksud Bahan Bangunan adalah semua bahan yang dipergunakan
dalam pelaksanaan pembangunan sebagaimana tercantum dalam Rencana Kerja
dan Syarat-syarat serta Gambar-gambar.
6. Bahan yang datang sebelum diturunkan dari kendaraan pengangkut harus
diperiksa terlebih dahulu oleh Pengawas (terutama bahan yang bervolume
besar) untuk disetujui atau ditolak / dikembalikan.
7. Dalam jangka waktu 2 x 24 jam, semua bahan yang dinyatakan ditolak oleh
Pengawas Lapangan supaya segera dikeluarkan dari lokasi proyek. Apabila
bahan-bahan tersebut masih tetap dipergunakan oleh Pelaksana, maka
Pengawas Lapangan berhak untuk memerintahkan untuk membongkar kembali
dan segala kerugian menjadi tanggung jawab Kontraktor.

37. PENYIMPANAN BARANG-BARANG DAN MATERIAL

1. Kontraktor diwajibkan untuk menempatkan dan merawat barang-barang dan


material-material untuk kebutuhan pelaksanaan baik diluar (terbuka) ataupun
didalam gudang sesuai dengan sifat-sifat barang dan material tersebut atas
persetujuan Pengawas sehingga akan menjamin :
a. Keamanannya
b. Terhindarnya kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh cara
penyimpanan yang salah
2. Barang-barang dan material yang tidak akan digunakan untuk kebutuhan
langsung pada pekerjaan yang bersangkutan, tidak akan diperkenankan untuk
disimpan di dalam site.
3. Material-material yang ditolak untuk dipakai supaya segera dikeluarkan dari
site, selambat-lambatnya 7 hari setelah pemberitahuan penolakan.

JN/SPC-Pgd/011/SPC 01300 - 14/16


38. DOKUMENTASI DAN MANUAL/PETUNJUK PEMELIHARAAN

a) Menjelang penyelesaian pekerjaan, Kontraktor diharuskan mempersiapkan 2


(dua) copy manual, yang terdiri atas:
Pengaturan seluruh sisitem Mekanikal & Elektrikal termasuk:
- Spesifikasi pompa-pompa terpasang
- Daftar assesoris dan peralatan
- Brosur-brosur teknik dan pabrik-pabrik terpakai, manual-manual serta
daftar nama dan alamat pemasok peralatan dan assesoris
- Petunjuk pengoperasian untuk peralatan serta sistemnya
- Daftar perusahaan yang memberi layanana pemeliharaan

b) Copy draft gambar dan manual-manual diatas harus diajukan ke Konsultan


Pengawas untuk mendapatkan persetujuan

c) Serah terima pekerjaan terakhir tidak akan dilakukan sebelum Manual


Pemeliharaan dapat disetujui.

39. GARANSI

a) Kontraktor harus menerbitkan surat garansi yang berjangka waktu 12 (dua


belas) bulan terhitung dari tanggal serah terima ke-II pekerjaan, untuk
peralatan-peralatan yang dipasang.

b) Garansi ini dikeluarkan dari supplier peralatan untuk atas nama Pemberi Tugas.

40. PERUBAHAN, PENAMBAHAN, PENGURANGAN PEKERJAAN DAN


PEMBUATAN AS-BUILT DRAWING

a) Tata cara pelaksanaan dan penilaian perubahan, penambahan dan pengurangan


pekerjaan disesuaikan dengan Dokumen Kontrak

b) Setelah pekerjaan selesai dan sebelum diserahterimakan, Kontraktor


berkewajiban membuat gambar-gambar yang memuat seluruh perubahan, dan
sesuai dengan kenyataan yang telah dikerjakan/dibangun oleh Kontraktor (As-
Built Drawing) untuk kebutuhan pemeriksaan dan pemeliharaan di kemudian
hari. Biaya untuk penggambaran As-Built Drawing, sepenuhnya menjadi
tanggungan Kontraktor. Gambar As Built Drawing tersebut diatas diserahkan
minimal dalam rangkap lima, masing-masing untuk user (pemakai gedung) dan
dinas-dinas terkait lainnya.

41. PEMERIKSAAN DAN PENYERAHAN PEKERJAAN

a) Penyerahan Pekerjaan, baik Penyerahan Pekerjaan Pertama maupun


Penyerahan Pekerjaan Kedua, oleh Kontraktor harus dinyatakan secara tertulis
dengan menyebutkan tanggal penyerahan yang dicantumkan dalam Berita
Acara Serah Terima Pekerjaan.

JN/SPC-Pgd/011/SPC 01300 - 15/16


Sebelum dilakukan penyerahan pekerjaan, Konsultan Pengawas akan
melakukan pemeriksaan serta evaluasi bersama-sama Kontraktor. Hasil
pemeriksaan tersebut dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan dan
kemajuan Pekerjaan.

b) Apabila dalam pemeriksaan tersebut ternyata terdapat kekurangan-kekurangan,


maka berdasarkan Berita Acara Pemeriksaan dan Kemajuan Pekerjaan
Kontraktor wajib segera melakukan perbaikan sampai penyerahan pekerjaan
dapat diterima.

c) Apabila dalam pemeriksaan tersebut tidak terdapat kekurangan-kekurangan dan


telah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan, maka Pemberi Tugas akan
menerima penyerahan pekerjaan sebagai serah terima pertama yang dinyatakan
dalam Berita Acara Serah Terima Pertama Pekerjaan disertai gambar sesuai
pelaksanaan (As Built Drawings) berupa dan cetakan 5 (lima) eksemplar.

42. KEBERSIHAN DAN KELELUASAAN HALAMAN

a) Kontraktor diwajibkan menjaga keleluasaan halaman dengan menempatkan


barang-barang dan material-material sedemikian rupa sehingga:
1. Memudahkan pekerjaan
2. Menjaga kebersihan dari sampah-sampah, kotoran-kotoran bangunan
(puing-puing, material) dan air yang menggenang.
3. Tidak menyumbat saluran-saluran air yang ada.
c) Kontraktor harus membersihkan semua sampah/kotoran-kotoran agar terjamin
tempat kerja dalam keadaan bersih, rapi, nyaman dan aman untuk bekerja.
d) Setelah selesainya pekerjaan, Kontraktor harus meninggalkan lapangan proyek
dalam keadaan bersih dan rapih sesuai persetujuan Konsultan Pengawas.

43. MASA PEMELIHARAAN DAN JAMINAN PEKERJAAN


a) Masa pemeliharaan untuk pekerjaan konstruksi dan finishing adalah 6 (enam)
bulan, dihitung dari tanggal penyerahan pertama
b) Jaminan pekerjaan dan pemasangan instalasi alat-alat meliputi:
- Instalasi listrik dan mekanikal adalah 6 ( enam ) bulan
- Mesin-mesin adalah 6 (enam) bulan dihitung dari tanggal penyerahan
pertama.
c) Selama masa pemeliharaan, Kontraktor harus memperbaiki keruskan-kerusakan
yang timbul akibat kekurangsempurnaan pelaksanaan dan/atau bahan-bahan
yang dipergunakan atau karena kelalaian Kontraktor.
d) Apabila Kontraktor gagal didalam melaksanakan perbaikan-perbaikan seperti
tersebut diatas, maka Pemberi tugas akan mencairkan jaminan pemeliharaan
untuk kas negara
e) Setelah masa pemeliharaan berakhir dan kekurangan-kekurangan dimaksud
diatas telah diperbaiki/disempurnakan maka pekerjaan dapat diserahkan untuk
kedua/terakhir kalinya dengan Berita Acara Serah Terima Pekerjaan Kedua.

JN/SPC-Pgd/011/SPC 01300 - 16/16


PEKERJAAN PERSIAPAN
SEKSI 01400

1. MOBILISASI PERALATAN :

a. Pekerjaan mobilisasi mencakup : pengadaan tenaga kerja, pembuatan kantor,


gudang, dan pengadaan peralatan dilokasi pekerjaan
b. Kontraktor harus mempersiapkan dan mengadakan peralatan yang akan digunakan
ditempat kerja sesuai dengan lingkup pekerjaan untuk melaksanakan pekerjaan.
c. Segala biaya untuk pengadaan peralatan diatas baik pembelian atau harga sewa,
maupun transportasi ke lokasi maupun pembongkarannya setelah selesai pekerjaan,
adalah menjadi tanggung jawab Kontraktor.
d. Pemberi tugas berhak memerintahkan untuk menambah peralatan atau menolak
peralatan yang tidak sesuai dengan jenis pekerjaan yang ada termasuk kwalitas/
kelancaran pekerjaan yang diharapkan, tanpa dibebani biaya apapun.
e. Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari setelah pemberitahuan mulai pekerjaan
Kontraktor harus menyerahkan rencana mobilisasi kepada Konsultan Pengawas
untuk mendapat persetujuan.

2. KUASA KONTRAKTOR DI LAPANGAN


a. Di lapangan Kontaktor wajib menunjuk seorang Site Manager yang cakap dan ahli
untuk memimpim pelaksanaan pekerjaan di lapangan.
b. Dengan adanya Site Manager tidak berarti bahwa Kontraktor lepas tanggung jawab
sebagian atau keseluruhan terhadap kewajibannya
c. Kontraktor wajib memberitahukan secara tertulis kepada Pemberi Tugas dan
Konsultan pengawas, nama dan jabatan Site Manager untuk mendapat persetujuan.
d. Bila dikemudian hari menurut Pemberi Tugas dan Konsultan Pengawas bahwa Site
Manager dianggap kurang mampu atau tidak cukup cakap memimpin pekerjaan
maka akan diberitahukan kepada Kontraktor secara tertulis untuk mengganti Site
Manager.
e. Dalam waktu 7 (tujuh) hari setelah dikeluarkan surat pemberitahuan, Kontraktor
harus sudah menunjuk Site Manager yang baru atau Kontraktor sendiri
(penanggung jawab/Direktur perusahaan) yang akan memimpin pelaksana
pekerjaan.

3. RENCANA KERJA
a. Sebelum mulai pekerjaan pelaksanaan pekerjaan di lapangan, kontraktor wajib
membuat dan menyampaikan rencana kerja pelaksanaan dari bagian-bagian
pekerjaan berupa Bar-Chart dan S-Curve Bahan dan Tenaga kepada Konsultan
Pengawas dan Pemberi Tugas.
b. Rencana Kerja tersebut harus sudah mendapat persetujuan terlebih dahulu dari
Konsultan Pengawas, paling lambat dalam waktu 7 (tujuh) hari kalender setelah
Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) diterima Kontraktor. Rencana kerja yang telah
disetujui konsultan pengawas akan disahkan oleh Pemberi Tugas.

JN/SPC-Pgd/011/SPC 01400 - 1/9


c. Kontraktor pelaksana wajib memberikan salinan rencana kerja rangkap 4 (empat)
kepada Konsultan Pengawas untuk diberikan kepada Pemberi Tugas dan Perencana.
1 (satu) salinan Rencana Kerja harus ditempel pada dinding direksi keet kontraktor
di lapangan yang selalu diikuti dengan grafik kemajuan/prestasi kerja.
d. Kontraktor dalam pelaksanaan pembanguan pekerjaan harus selalu sesuai dengan
Rencana Kerja tersebut diatas.
e. Konsultan Pengawas akan menilai pekerjaan Kontraktor berdasarkan rencana kerja
tersebut diatas.

4. PENGUKURAN TATA LETAK DAN PEMBUATAN PATOK REFERENSI :

a. Lingkup Pekerjaan :
Kontraktor harus sudah memperhitungkan biaya untuk pekerjaan pengukuran Tata
Letak dan ketinggian bangunan atau konstruksi, termasuk dalam pekerjaan ini
pembuatan patok beton, kayu maupun bouwplank.

Pekerjaan ini meliputi juga penyediaan peralatan, upah tenaga kerja, material dan
pelaksanaan pengukuran dan pematokan. Termasuk dalam pekerjaan ini pembuatan
titik Referensi (Bench Mark), pematokan, penentuan titik-titik dan penarikan
garis-garis ketinggian sebagai referensi, ketetapan letak ketinggian dimensi dan
meratakan/meluruskan dari semua bagian yang harus dikerjakan sesuai dengan
gambar perencanaan dan spesifikasi teknis ini.

b. Syarat-syarat Umum :
1). Pelaksanaan pekerjaan harus mengikuti petunjuk-petunjuk yang dinyatakan
dalam dokumen kontrak atau secara khusus ditentukan oleh Pemberi Tugas.

2). Pengukuran harus dilakukan dengan Theodolite, Waterpass dan dilakukan oleh
Juru Ukur yang berpengalaman dalam bidang ini. Hasil pengukuran harus
diserahkan kepada Konsultan Pengawas.

c. Cara Pelaksanaan Pekerjaan :


1). Sebelum memulai pekerjaan, Kontraktor harus mengetahui dan menentukan
titik referensi di lapangan (Bench Mark).
Selanjutnya dilakukan penentuan titik-titik dan penarikan garis-garis ketinggian
sebagai referensi dan pematokan untuk menentukan lokasi bangunan, pagar,
saluran, peil bangunan dan elevasi dasar saluran (EDS).

2). Patok referensi, Bench Mark dibuat dari beton bertulang sesuai dengan gambar
perencanaan, ditanam dalam tanah dicor kuat, tidak mudah berubah posisi
maupun ketinggian ujung bagian atas yang berada diatas permukaan tanah,
menunjukan peil/elevasi diberi tanda cat, kemudian dibuat patok-patok
pembantu lainnya menurut kepentingan guna menunjukan letak bangunan,
saluran dan pagar.

3). Kontraktor bertanggung jawab dan melindungi terhadap patok-patok, titik-titik


dan garis referensi ketinggian terhadap kemungkinan perubahan letak atau
perusakan.

JN/SPC-Pgd/011/SPC 01400 - 2/9


4). Semua pekerjaan pengukuran harus dilakukan oleh tenaga berpengalaman/ahli,
serta pekerja-pekerja terampil, serta menggunakan peralatan yang baik untuk
melaksanakan pekerjaan tersebutt.

5). Semua kegiatan yang dilakukan dalam rangka pekerjaan pengukuran harus
dilakukan oleh Kontraktor sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan
gangguan terhadap kepentingan umum. Apalagi gangguan sedemikain tak dapat
dihindarkan, Kontraktor harus membebaskan Pemberi Tugas dari segala
tuntutan (claim) yang timbul akibat gangguan tersebut.

6). Hasil pengukuran harus segera digambar dan dibuat laporan untuk disampaikan
kepada Konsultan Pengawas, guna mendapat pemeriksaan dan persetujuan.
Berdasarkan laporan tersebut Konsultan Pengawas mengadakan pemeriksaan
dan evaluasi bila diperlukan untuk diambil sebagai dasar sesuatu keputusan.

5. PAGAR SEMENTARA DAN RUMAH JAGA :

a. Lingkup pekerjaan, pengadaan bahan, upah, tenaga kerja, peralatan dan


pelaksanaan. Untuk pembuatan pagar keliling sementara pada batas area/tanah
Proyek, termasuk pembuatan pintu masuk serta Rumah Jaga pada tempat-tempat
yang memerlukan keamanan.

b. Bahan :
1). Kayu kaso ukuran 5/7 cm dan 5/10 cm, kelas Borneo panjang 2-3 meter, lurus,
tidak retak / lengkung.
2). Seng gelombang BJLS 40, dimeni dan dicat setara Afian, Nippon Paint atau
setaraf.
3). Kayu papan ukuran 2/20 cm kelas kamper Borneo.

6. JALAN MASUK SEMENTARA :

Apabila dianggap perlu, sesuai dengan situasi dan kondisi masing-masing Tapak,
Kontraktor harus sudah memperhitungkan pembuatan jalan masuk sementara atau
jembatan kerja sementara. Jalan sementara berupa timbunan tanah dengan konstruksi
perkerasan jalan sederhana atau konstruksi jembatan kayu glugu (batang kelapa) yang
cukup kuat untuk digunakan selama berlangsungnya pelaksanaan pekerjaan atau dengan
cara-cara lain sehingga menjamin kelancaran lalu lintas pekerja, peralatan, kendaraan
atau pemasukan.

Dalam pembuatan jalan masuk atau jembatan sementara Kontraktor harus tunduk kepada
peraturan daerah setempat dan semua perijinan sehubungan dengan pekerjaan tersebut
menjadi tanggung jawab Kontraktor.

Kontraktor harus sejauh mungkin mengusahakan dihindarinya kerusakan pada fasilitas


jalan masuk yang disebabkan oleh lalu-lintas angkutan barang-barang Kontraktor,
dengan jalan mengatur trayek kendaraan yang digunakan serta membatasi dan membagi

JN/SPC-Pgd/011/SPC 01400 - 3/9


beban muatan sedemikian rupa, sehingga tidak menimbulkan kerusakan pada fasilitas
jalan masuk tersebut.

Kerusakan jalan atau benda-benda lain yang diakibatkan oleh pekerjaan Kontraktor,
mobilisasi peralatan, serta pemasukan bahan menjadi tanggung jawab Kontraktor dan
harus segera diganti atau diperbaiki. Kontraktor harus membebaskan Pemberi Tugas dari
segala tuntutan (claim) akibat kerusakan jalan tersebut.

7. PEKERJAAN PEMBONGKARAN :

a. Lingkup Pekerjaan Pelaksanaan :


Pekerjaan ini meliputi pembongkaran bangunan-bangunan, jalan ataupun
benda-benda lainnya yang akan terkena atau mengganggu pelaksanaan pekerjaan
pembangunan yang akan dilakukan Kontraktor, termasuk pekerjaan pengangkutan
dan pembuangan material-material bekas bongkaran sesuai petunjuk Konsultan
Pengawas.

b. Cara Pelaksanaan Pekerjaan :


1). Dalam melaksanakan pekerjaan pembongkaran tersebut Kontraktor harus
mengikuti petunjuk-petunjuk dari Konsultan Pengawas.
2). Bekas-bekas bangunan atau pondasi didalam tanah harus tetap dibongkar,
sampai bebas untuk melakukan pekerjaan konstruksi baru. Alat-alat yang
digunakan harus disesuaikan dengan jenis bangunan atau benda yang akan
dibongkar.
3). Pekerjaan pembongkaran yang dilakukan tidak boleh menimbulkan
kerusakan-kerusakan pada benda-benda lain milik Pemberi Tugas maupun
pihak lain. Setiap kerusakan yang diakibatkan oleh pekerjaan pembongkaran
menjadi tanggung jawab Kontraktor.

4). Kontraktor diwajibkan membebaskan Pemberi Tugas dari tuntutan (claim) pihak
lain atas kerugian maupun kerusakan yang ditimbulkan oleh Kontraktor.

5). Pemborongan pekerjaan pembongkaran tersebut haruslah sedemikian rupa


sehingga menjamin barang-barang berharga yang berada di lapangan terhindar
dari kerusakan.

6). Reparasi kerusakan pada benda-benda milik kepentingan umum, atau pribadi,
didalam atau diluar lapangan pekerjaan bukanlah tanggung jawab Pemberi Tugas
dan semuanya merupakan tanggung jawab Kontraktor.

7) Semua material bekas bongkaran Proyek, baik sebelum atau sesudah Proyek
berlangsung sesuai dengan perintah dan petunjuk Konsultan Pengawas untuk
dipindahkan atau dibuang keluar proyek. Semua biaya pemindahan dan atau pem-
buangan keluar Proyek menjadi tanggung jawab Kontraktor.

JN/SPC-Pgd/011/SPC 01400 - 4/9


Material-material yang harus diselamatkan dibuat sedemikian rupa sehingga
mudah diangkut dan disimpan atau dijaga oleh Kontraktor pada tempat yang
ditentukan oleh Konsultan Pengawas. Material yang dimaksud adalah: pagar
sementara, los pekerja, gudang dan kantor Kontraktor, bongkaran bangunan,
Direksi Keet dan perlengkapannya.

8. PEKERJAAN PEMBERSIHAN DAN PEMINDAHAN :

a. Lingkup Pekerjaan :

Kontraktor harus melaksanakan pekerjaan Pembersihan sebelum dimulai pekerjaan,


selama pekerjaan berlangsung dan sebelum selesainya Proyek.

b. Cara Pelaksanaan Pekerjaan :

1). Sebelum Pekerjaan Dimulai :

Kontraktor diwajibkan melaksanakan pembersihan seluruh lapangan (lokasi


pekerjaan) sebelum melakukan pengukuran, dari puing-puing, sampah-sampah,
rumput, semak-semak atau tumbuhan lainnya yang tidak diperlukan termasuk
akar-akarnya dan benda-benda lain sedalam sampai permukaan tanah aslinya.
Bahan-bahan bekas bongkaran tidak boleh digunakan lagi untuk pelaksanaan
pembangunan ini kecuali ada ketentusn lain.

2). Selama Pekerjaan Berlangsung :


Kontraktor diwajibkan menjaga kebersihan lapangan dan mengatur lokasi
penempatan bahan bangunan serta daerah kerja sehingga kelancaran
pelaksanaan pekerjaan tidak mengalami hambatan.

3). Pemindahan semua material-material akibat pembongkaran puing-puing dan


semua yang merintangi pekerjaan, harus menuruti dan tunduk kepada
peraturan-peraturan Pemerintah Daerah setempat, serta sesuai instruksi
Konsultan Pengawas

4). Seluruh pohon-pohon, semak-semak, rumput-rumput dan seluruh


tumbuh-tumbuhan yang semacam itu harus dipindahkan seluruhnya dari daerah
yang akan ditimbun, kecuali pohon-pohon dan benda-benda yang dinyatakan
harus tetap berada disitu.

5). Sesudah Pekerjaan Selesai :


Setelah pelaksanaan pekerjaan selesai dan sebelum dilakukan penyerahan
pekerjaan kepada pemberi Tugas, Kontraktor harus membersihkan seluruh site
dari segala macam kotoran-kotoran, puing-puing dan segala macam peralatan
yang digunakan selama proyek berlangsung.
Segala macam kotoran-kotoran, puing-puing dan peralatan-peralatan tersebut
harus dibuang dan dikeluarkan dari site.

JN/SPC-Pgd/011/SPC 01400 - 5/9


9. LOKASI DAN PERLINDUNGAN UTILITAS

a. Sebelum melakukan pekerjaan konstruksi, kontraktor harus melakukan survey untuk


mengetahui detail lokasi segala saluran-saluran utilitas (PLN, Air, Telepon, dlsb)
yang akan kena pengaruh oleh pekerjaan. Hasil survey harus dicatat dalam format
rencana sesuai dengan petunjuk Konsultan Pengawas, dan patok permukaan (surface
pegs) pada tempat kerja yang menunjukan lokasi seluruh utilitas yang berada
dibawah tanah harus sudah ditancapkan. Patok-patok harus tetap terpancang selama
berlakunya kontrak.
b. Bila Kontraktor akan melaksanakan pekerjaan sementara atau permanen pada daerah
sekitar utilitas, Kontrktor harus menggunakan metoda konstruksi yang memadai,
menyediakan peralatan perlindungan semestinya, tanpa ada biaya tambahan dalam
rangka mencegah kerusakan pada utilitas tersebut. Segala kerusakan pada utilitas
yang disebabkan langsung atau tidak langsung oleh peerjaan Kontraktor dianggap
sebagai tanggung jawab dari Kontraktor.

10. SALURAN DRAINASE SEMENTARA


Dengan mempertimbangkan keadaan topografi/kontur tanah yang ada di tapak,
Kontraktor wajib membuat saluran air sementara yang berfungsi untuk pembuangan air
yang ada untuk menjaga agar lahan konstruksi tetap kering. Arah aliran ditujukan ke
daerah permukaan yang rendah yang ada di tapak atau ke saluran yang sudah ada di
lingkungan proyek.
Ketentuan tersebut harus dilaksanakan tanpa biaya atau beban Kontraktor.

11. SALURAN DRAINASE YANG SUDAH ADA/EXISTING


Kontraktor harus memelihara drainase yang memasuki, melintasi atau mempengaruhi
tempat kerja. Kewajiban ini mencakup pembersihan saluran-saluran, parit dan pipa-pipa
menuju hulu atau hilir
Ketentuan tersebut hrus dilaksanakan tanpa ada biaya tambahan.

12. PAPAN BANGUNAN (BOUWPLANK)


a. Papan bangunan (bouwplank) dibuat dari kayu Borneo dengan ukuran tebal minimal
2 cm dan lebar 15 cm, lurus dan diserut rata pada sisi sebelah atasnya
b. Papan bangunan dipasang pada patok kayu 5/7 cm dengan jarak satu sama lain
adalah 1,5 m tertancap ditanah sehingga tidak dapat digerakan atau diubah
c. Papan bangunan dipasang sejarak 2,00 m dari as pondasi terluar atau sesuai dengan
keadaan setempat
d. Tinggi sisi atas papan bangunan harus sama dengan lainnya dan rata waterpass
kecuali dikehendaki oleh konsultan Pengawas
e. Pemasangan bowplank harus benar-benat siku ( 90’ ) dan untuk mendapatkan
ketepatan yang maksimal dapat dengan menggunakan waterpass / alat ukur theodolit
atau alat lain ( selang dengan air ).
f. Setelah selesai pemasangan papan bangunan, Kontraktor harus melaporkan kepada
Konsultan Pengawas untuk mendapatkan persetujuan.
g. Kontraktor harus menjaga dan memelihara keutuhan dan ketepatan letak papan
bangunan patok-patok, titik-titik dan garis referensi ketinggian sampai tidak
diperlukan lagi.

JN/SPC-Pgd/011/SPC 01400 - 6/9


h. Kontraktor tidak diperkenankan mencabut atau membongkar bouwplank tanpa
seizin Konsultan Pengawas. Pada setiap jarak tertentu dibuat tanda sebagai
pedoman letak-letak kolom atau letak bagian bangunan tertentu.

13. PAPAN NAMA PROYEK :


Sebelum memulai pekerjaan Kontraktor harus membuat Papan Nama Proyek. Papan
nama proyek dibuat dari plat baja t = 2 mm dengan ukuran 200 x 100 cm, berdiri tegak
diatas tiang besi setinggi 240 cm, diletakan pada tempat yang mudah dilihat umum atas
petunjuk Konsultan Pengawas.
Pada Papan Nama memuat :
a. Nama Proyek.
b. Pemilik Proyek.
c. Lokasi Proyek.
d. Nama Konsultan Perencana.
e. Nama Konsultan Konsultan Pengawas
f. Nama Kontraktor.
g. Nomor Kontrak.
h. Nilai Kontrak
i. Waktu palaksanaan pekerjaan
j. Jenis pekerjaan yang dilaksanakan.

Untuk keseragaman gambar Rencana Papan Nama dibuat oleh Kontraktor dan
dimintakan persetujuan kepada Konsultan Perencana.

14. PENGADAAN FASILITAS :

1) Kontraktor harus menyediakan air tawar bagi pelaksanaan Proyek. Air yang
dimaksud adalah air bersih, baik yang berasal dari PAM atau sumber air, serta
pengadaan dan pemasangan pipa-pipa distribusi untuk suplai air yang memenuhi
syarat bagi keperluan pelaksanaan pekerjaan dan Direksi Keet, Kantor Kontraktor
KM & WC.

2) Kontraktor harus sudah memperhitungkan biaya penyediaan air bersih untuk


keperluan air kerja, air minum untuk para pekerja, air untuk kamar mandi dan WC
selama berlangsungnya Proyek.

3) Kontraktor harus menyediakan Tenaga Listrik untuk kepentingan pekerja Proyek,


penerangan Direksi Keet, serta penerangan lampu sorot 250 watt Proyek pada malam
hari untuk keamanan selama Proyek Berlangsung.

4) Pengadaan penerangan dapat diperoleh dari sambungan PLN atau dengan Generating
Set. Semua perijinan dan biaya untuk pekerjaan tersebut diatas menjadi tanggung
jawab Kontraktor.

5) Penyediaan penerangan/tenaga listrik berlangsung selama 24 jam penuh dalam


sehari. Pengadaan fasilitas penerangan tersebut termasuk pemasangan instalasi kabel
dan lampu, stop kontak serta sakelar (Panel).

JN/SPC-Pgd/011/SPC 01400 - 7/9


15. LOS PEKERJA :

Kontraktor harus membuat fasilitas los pekerja dan bangunan tempat istirahat, sholat
dan tempat tidur.
Los pekerja tersebut meliputi bangunan tempat istirahat para pekerja, terlindung dari
cuaca, baik hujan atau gangguan-gangguan air hujan atau panas terik matahari
syarat-syarat kesehatan dan keamanan beratap seng atau asbes gelombang dengan
penerangan listrik.

16. KAMAR MANDI DAN W.C PEKERJA :

Kontraktor atas biaya sendiri harus menyediakan fasilitas kamar mandi dan WC
yang cukup baik pada tempat-tempat tertentu yang disetujui Konsultan Pengawas dan
dibuat saluran air yang cukup baik demi terjaminnya kesehatan didalam Proyek.

Kamar mandi dan WC dibuat dari pasangan kayu atau batu, terlindung dari cuaca hujan
maupun sinar matahari.

17. KANTOR DAN GUDANG PELAKSANA :

Kontraktor atas biaya sendiri harus membuat kantor dimana wakil dan seluruh stafnya
bekerja, dilengkapi dengan alat-alat kantor, laptop , meja gambar, meja biro dan
almari serta papan tulis yang memuat rencana aktivitas kerja.
Disamping itu kantor harus dilengkapi pula dengan gudang yang diperlukan untuk
melindungi material-material bahan bangunan serta peralatan-peralatan dari gangguan
cuaca serta menjamin terhadap pencurian.

Gudang dibuat dari konstruksi kayu, papan cukup kuat dengan ukuran sesuai dengan
kebutuhan ruang penyimpanan material.

Peralatan kantor dan gudang diatur sedemikian di lokasi Proyek, mudah dijangkau dan
tidak menghalangi pelaksanaan pekerjaan. Kontraktor tidak diperkenankan
memindahkan bekas bongkaran Proyek tanpa seijin atau perintah dari Konsultan
Pengawas.

18. DIREKSI KEET DAN PERLENGKAPANNYA :

Kontraktor harus menyediakan sarana bekerja untuk Konsultan Pengawas dilokasi


pekerjaan dengan ketentuan berupa bangunan konstruksi kayu klas II sesuai dengan
gambar perencanaan.

JN/SPC-Pgd/011/SPC 01400 - 8/9


Ruang kantor Konsultan Pengawas Konstruksi tersebut terdiri dari :
a. Ruang pengawas.
b. Ruang Rapat.
c. Kamar mandi dan WC.
d. Ruang Musholla.

Kontraktor dengan biaya sendiri harus menyediakan perlengkapan Direksi Keet yang
sesuai instruksi Konsultan Pengawas.

19. PENYEDIAAN PERLENGKAPAN KERJA LAPANGAN :


Kontraktor harus menyediakan alat-alat kerja Konsultan Pengawas atas instruksinya
seperti :
a. 6 (enam) pasang sepatu lapangan.
b. 6 (enam) buah helm penutup kepala.
c. 2 (dua) buah roll meter steel tape 5 meter.
d. 1 (satu) buah roll meter fibre glass 50 meter.
e. 1 (satu) buah caliper schuifmaat.
f. 1 (satu) buah penyiku besi.
g. 1 (satu) buah theodolite T.O merk Wild + bak ukur.
h. 1 (satu) buah kotak P3K + obat-obatan.

Semua peralatan kerja diatas harus dalam keadaan baik sudah dikalibrasi dan langsung
dapat dipergunakan.

20. PERIJINAN :

a. Kontraktor wajib mengurus Ijin Lingkungan, Ijin Gangguan dan ijin-ijin lain yang
berkaitan dengan paket pekerjaan ini.

b. Pemberi Tugas berkewajiban menyediakan dan memberikan dokumen- dokumen


dan surat-surat yang diperlukan dalam perijinan tersebut kepada Kontraktor, jika hal
tersebut merupakan syarat untuk mendapat perijinan tersebut.

c. Semua biaya resmi untuk pengurusan Ijin-ijin antara lain :


- Ijin Gangguan.
- Ijin Lingkungan.
- Ijin Standar Laik Fungsi (SLF)
- Ijin-ijin lain yang berkaitan dengan Pekerjaan ini.

d. Seluruh berkas Perijinan yang asli harus diserahkan oleh Kontraktor kepada
Pemberi Tugas.

JN/SPC-Pgd/011/SPC 01400 - 9/9