Anda di halaman 1dari 14

JURNAL ARTEKS VOL. I, No.

1 – DESEMBER 2016/ISSN 2541-0598

EVALUASI PASKA GUNA DENGAN PENEKANAN PADA


ASPEK FUNGSIONAL EVAKUASI DARURAT

Forest Jieprang
Magister Arsitektur, Program Pascasarjana, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung, Indonesia
Email: forest@penta.co.id

Abstrak
Evaluasi paska guna merupakan salah satu alat untuk mengukur kualitas sebuah bangunan ketika
bangunan tersebut telah digunakan. Evaluasi ini digunakan untuk meningkatkan kualitas sebuah
bangunan dari segi yang tidak dapat dilihat ketika proses perencanaan berlangsung. Terdapat berbagai
aspek yang sering dievaluasi dalam proses evaluasi paska guna. Namun aspek yang sering dijadikan
objek evaluasi yaitu aspek teknis, aspek fungsional dan aspek perilaku. Penelitian ini menekankan
pada aspek fungsional dengan tujuan untuk mencari permasalahan dari segi evakuasi darurat Stadion
Si Jalak Harupat dengan membandingkan objek pengamatan dengan pengalaman pengguna dalam
mengenali dan menyadari elemen evakuasi darurat. Pengalaman pengguna akan diambil menggunakan
kuesioner dan mental maping, dan respondennya adalah para suporter PERSIB yang menonton di
Stadion Si Jalak Harupat. Kedua alat ini akan menggambarkan persepsi dan pengetahuan penonton
mengenai legibilitas (keterbacaan) elemen evakuasi darurat pada Stadion Si Jalak Harupat.
Kesimpulan yang diambil dari penelitian ini menjelaskan sejauh mana elemen-elemen evakuasi di
dalam Stadion Si Jalak Harupat diketahui oleh pengguna dan mencari solusi untuk meningkatkan
kesadaran pengguna terhadap elemen-elemen evakuasi darurat di dalam stadion.

Kata kunci: Evaluasi paska guna, aspek fungsional evakuasi darurat, stadion Si Jalak Harupat,
legibilitas, mental mapping.

Abstract

Title: Post Occupancy Evaluation for Functional Aspects with Emphasis on Emergency Evacuation

Post occupancy evaluation is a tool to measure the qualities of an in-use building with the purpose of
increasing the qualities of the building from the perspective which design process could overlook.
There is a lot of aspects that has to be evaluated in the post occupancy evaluation, but the most
frequently evaluated aspects are technical aspects, functional aspects, and behavioral aspects. This
research emphasizes on the functional aspect to search for problems concerning evacuation
circulation of Si Jalak Harupat Stadium by comparing observed object with the experience of users in
how they recognize and aware of emergency evacuation elements. Users experience will be collected
by using questionnaire and mental mapping. The respondents are Persib supporters who watch the
matches at Si Jalak Harupat Stadium. Both of the tools will describe user perception and knowledge
regarding evacuation elements legibility. This research will be concluded by describing just how far
the evacuation elements of Si Jalak Harupat Stadium known by the users and find the solution to
increase users awareness regarding evacuation elements inside the stadium.

Keywords: Evaluation of post-use, functional aspects of emergency evacuation, si Jalak Harupat


stadium, legibilitas, mental mapping.

69
JURNAL ARTEKS VOL. I, No. 1 – DESEMBER 2016/ISSN 2541-0598

Pendahuluan yang menjadi arena pertandingan


Persib.
Stadion merupakan bangunan untuk Saat pertandingan sepak bola
kegiatan olahraga termasuk fasilitas berlangsung, stadion dapat
untuk menonton baik pertandingan menampung puluhan ribu orang
tingkat daerah, nasional, atau sekaligus (30.000 – 50.000 penonton)
internasioanal, maupun untuk latihan. dengan waktu penggunaan sangat
Tipologi bangunan stadion sepak bola singkat (2 – 4 jam saja). Dengan
diklasifikasikan berdasarkan besarnya kondisi tersebut, masalah evakuasi
kapasitas penonton, yakni stadion tipe menjadi penting karena harus
A (kapasitas penonton 30.000 - mengevakuasi keluar stadion 30.000 –
50.000), stadion tipe B (kapasitas 50.000 penonton dalam waktu singkat
penonton 10.000 - 50.000), dan stadion (menurut Permenpora 0400 tahun
tipe C (kapasitas penonton 5000 - 2013, waktu untuk evakuasi darurat
10.000). Perencanaan stadion sepak adalah tidak lebih dari delapan menit).
bola dengan standar nasional dan Berbagai kejadian darurat di dalam
internasional harus merujuk pada stadion telah terjadi di berbagai
Peraturan Menteri Pemuda dan belahan dunia, salah satunya adalah
Olahraga (Permenpora) Republik kebakaran di Stadion Bradford City,
Indonesia Nomor 0400 Tahun 2013 Yorkshire Barat, Inggris, pada tahun
tentang Stadion Atletik dan Sepakbola 1985. Kebakaran ini terjadi pada salah
dan FIFA Football Stadiums: satu tribun stadion dan menyebabkan
Technical Recommendations and 56 orang meninggal dunia. Terjadi
Requirements. kepanikan dan kebingunan diantara
Di Provinsi Jawa Barat terdapat penonton saat dilakukannya evakuasi.
beberapa bangunan stadion sepak bola Peristiwa lain terjadi di Stadion Heysel
tipe A, yakni Stadion Si Jalak Harupat di Kota Brussels, Belgia. Peristiwa
(Kabupaten Bandung), Stadion Gelora yang disebut sebagai “Tragedi Heysel”
Bandung Lautan Api (Kota Bandung), ini terjadi pada tanggal 29 Mei 1985
Stadion Patriot (Kota Bekasi), Stadion pada saat pertandingan antara
Wibawa Mukti (Kabupaten Bekasi), Liverpool dan Juventus di Piala
Stadion Pakansari Cibinong Champions. Penonton yang tidak dapat
(Kabupaten Bogor). melarikan diri melalui jalur evakuasi
Penggunaan stadion, sesuai fungsi mendekati dinding pembatas dan
utamanya, lebih banyak dipergunakan menyebabkan dinding roboh. Ratusan
untuk menyelenggarakan pertandingan orang tertimpa dinding yang
sepakbola. Masyarakat Indonesia berjatuhan. Akibat peristiwa ini
termasuk masyarakat yang memiliki sebanyak 39 orang meninggal dunia
ketertarikan yang sangat besar dan 600 lebih lainnya luka-luka. Pada
terhadap olahraga sepakbola. Salah tanggal 12 Maret 1988 tragedi di
satu fenomena fanatisme penonton dalam stadion terjadi pula di Negara
klub sepakbola yang sangat menonjol Nepal, tragedi ini terjadi saat penonton
terlihat di Kota Bandung, yang melarikan diri akibat akibat badai
memiliki klub sepakbola Persib hujan es. Terjadi kepanikan saat para
Bandung. Klub sepakbola ini selalu penonton hendak keluar dari stadion
mengundang daya tarik bagi yang menyediakan delapan pintu
masyarakat Jawa Barat. Hal ini dapat keluar, hanya satu pintu saja yang
dilihat dengan selalu penuhnya stadion terbuka. Akibat tragedi ini 93 orang

70
JURNAL ARTEKS VOL. I, No. 1 – DESEMBER 2016/ISSN 2541-0598

menjadi korban jiwa dan dua Mengingat pengguna stadion yang


diantaranya adalah anggota kepolisian, akan diteliti adalah penonton, maka
sedangkan 100 orang lebih menderita pengambilan data untuk evaluasi harus
luka-luka. dilakukan melalui kuesioner, baik
Dengan berbagai kejadian darurat yang kuantitatif melalui data terukur
terjadi di dalam stadion, kita perlu maupun kualitatif melalui wawancara
memastikan sistem evakuasi darurat mental mapping. Hasil Evaluasi Paska
dapat bekerja dengan baik. Untuk Guna Fungsional Evakuasi Darurat
mengetahui bekerjanya sistem adalah tingkat legibilitas elemen-
evakuasi darurat dari sebuah stadion elemen evakuasi dan pengetahuan akan
maka perlu dilakukan sebuah Evaluasi fase-fase proses evakuasi darurat yang
Paska Guna atas elemen-elemen ada di dalam benak penonton.
evakuasi darurat dan proses evakuasi
darurat yang terdapat pada stadion
tersebut. Evaluasi Paska Guna adalah Metode Penelitian
proses mengevaluasi bangunan secara
sistematik dan teliti setelah bangunan
tersebut dibangun dan digunakan
dalam beberapa waktu. Fokus dari
Evaluasi Paska Guna adalah pengguna
bangunani. Pengguna memiliki peran
sebagai penentu atau penilai apakah
bangunan yang mereka gunakan
bekerja dengan baik atau tidak. Salah
satu aspek yang erat dengan pengguna Gambar 1. Aerial view stadion Si Jalak
adalah aspek fungsional. Aspek Harupat
fungsional yang sangat erat kaitannya Sumber:
dengan stadion, karena menampung http://22koleksi.blogspot.co.id/2015/09/cara-
ke-stadion-si-jalak-harupat-bandung.html
pengguna dalam jumlah besar dan
waktu singkat adalah aspek evakuasi Perlunya Evaluasi Paska Guna
darurat, saat kejadian bencana terjadi. Fungsional Evakuasi Darurat pada
Lebih lanjut lagi, menurut Heru bangunan Stadion Sepakbola
Susetyo (2015), dosen peneliti dikarenakan banyaknya pengguna
Universitas Indonesia, masyarakat stadion (30.000 – 50.000 penonton),
Indonesia masih belum memiliki apabila terjadi keadaan darurat
budaya siaga bencana. Kesadaran akan bencana, maka seluruh penonton harus
siaga bencana khsusunya atas dapat dievakuasi dalam waktu singkat
kehadiran elemen-elemen evakuasi dan kurang dari delapan menit sesuai
legibilitasnya belum secara aktif dengan Permenpora 0400. Evaluasi
diperhatikan oleh masyarakat Paska Guna Evakuasi Darurat ini
Indonesiaii. Dengan demikian, sangat penting karena budaya siaga
legibilitas (keterbacaan) dari elemen- bencana dari rakyat Indonesia pada
elemen evakuasi dan proses evakuasi umumnya masih sangat rendah
yang ada di benak pengguna stadion sehingga Evaluasi Paska Guna
(30.000 – 50.000 penonton) perlu Fungsional Evakuasi Darurat pada
dievaluasi melalui Evaluasi Paska stadion diharapkan dapat memberikan
Guna Fungsional Evakuasi Darurat. rekomendasi perbaikan pada legibilitas
elemen evakuasi darurat dan

71
JURNAL ARTEKS VOL. I, No. 1 – DESEMBER 2016/ISSN 2541-0598

percepatan proses evakuasi darurat.


Mengingat pengguna yang menjadi
fokus penelitian ini adalah penonton,
maka pengumpulan data dilakukan
melalui kuesioner dengan responden
para penonton.
Terkait dengan kasus studi stadion
yang dapat menampung 30.000 –
50.000 penonton pada waktu yang
relatif singkat (2-4 jam saja), ruang
lingkup dalam penelitian ini dibatasi
pada evaluasi paska guna pada aspek
fungsional evakuasi darurat. Dalam
kaitannya dengan objek penelitian
maka evaluasi paska guna fungsional
evakuasi darurat ini dibatasi pada
penonton stadion saja. Legibilitas
elemen evakuasi darurat dan proses
evakuasi penonton merupakan produk
dari mental seseorang yang dimana
produk tersebut akan berbeda setiap
orangnya. Meskipun legibilitas elemen
evakuasi darurat dan proses evakuasi
darurat berbeda setiap orangnya,
terdapat pola-pola yang dapat
ditemukan kemiripan atau
kesamaannya.

Gambar 2. Beberapa gambar tangga yang


ada di tribun utara dan selatan stadion Si
Jalan Harupat
Sumber: Dokumentasi Penulis, 2015

72
JURNAL ARTEKS VOL. I, No. 1 – DESEMBER 2016/ISSN 2541-0598

darurat pada Stadion Si Jalak


Harupat?

Kajian Teori
Pengertian Evakuasi Darurat
Evakuasi darurat adalah pergerakan
Gambar 3. Beberapa gambar rambu manusia yang sesegera mungkin atau
darurat yang ada di stadion Si Jalan
Harupat
darurat untuk menjauh dari ancaman
Sumber: Dokumentasi Penulis, 2016 atau kejadian berbahaya. Contoh skala
kecil dari evakuasi adalah evakuasi
Untuk mengetahui pola-pola dalam dari dalam gedung akibat badai atau
mental seseorang, metode kebakaran hingga skala besar yang
pengumpulan data yang digunakan diakibatkan oleh banjir, pengeboman
adalah kuesioner dan mental mapping. atau cuaca yang sangat buruk yang
Metode pengumpulan data ini penting melanda di suatu kawasan.
untuk dilakukan karena metode ini
(kuesioner dan mental mapping) dapat Alasan untuk Melakukan Evakuasi
langsung mengumpulkan data dari Banyak alasan untuk seseorang
mental seseorang yang tidak ada orang melakukan evakuasi. Evakuasi dapat
lain selain responden yang dituju yang dilakukan sebelum, saat sedang
mengetahuinya. Dengan kata lain data berlangsung atau setelah bencana.
yang dikumpulkan merupakan data Alasan-alasan untuk evakuasi adalah
yang spesifik. Hal ini yang menjadi sebagai berikut:
pertimbangan pemilihan metode 1. Bencana alam:
pengmumpulan data menggunakan a. Letusan gunung merapi;
kuesioner maupun mental mapping. b. Badai tropis;
Selain itu, batasan penelitian ini karena c. Banjir;
tidak mungkinnya melakukan simulasi d. Gempa bumi;
evakuasi secara langsung di stadion e. Tsunami;
sepak bola terkait legibilitas elemen f. Kebakaran hutan.
evakuasi dan proses evakuasi, 2. Kecelakaan industri:
merupakan alasan lain mengapa a. Tumpahan zat kimia;
kuesioner dan mental mapping menjadi b. Kecelakaan nuklir.
sangat penting di dalam penelitian ini. 3. Kecelakaan lalu lintas; termasuk
Dengan demikian disusunlah kecelakaan kereta dan
pertanyaan penelitian yang bertujuan penerbangan
untuk mengevaluasi elemen evakuasi 4. Kebakaran
dan proses evakuasi darurat yang akan 5. Serangan militer:
menjadi fokus dalam penelitian ini a. Pemboman;
sebagai berikut: b. Serangan teroris;
a. Bagaimana pemahaman terhadap c. Pertempuran militer
legibilitas (keterbacaan) elemen 6. Kegagalan struktur
evakuasi darurat pada Stadion Si 7. Pandemik
Jalak Harupat?
b. Bagaimana hasil mental mapping Rangkaian Fase Evakuasi
penonton terhadap proses evakuasi Evakuasi adalah proses dimana
manusia di dalam gedung menyadari

73
JURNAL ARTEKS VOL. I, No. 1 – DESEMBER 2016/ISSN 2541-0598

keadaan darurat dan dimana mereka rambu adalah material reflektif.


mengalami beberapa proses mental dan Rambu darurat atau rambu kotak
melalukan beberapa tindakan sebelum obat berbentuk persegi atau
dan atau ketika sedang bergerak persegi panjang dengan piktogram
menuju tempat yang aman di dalam putih pada latar hijau.
atau di luar bangunan. Proses evakuasi
memiliki tiga karakterisik yang
berdasarkan aktivitas dan fase dasar: Hasil dan Pembahasan
1. Kesadaran akan bahaya akibat
stimulus eksternal (masa Legibilitas Elemen Evakuasi
membenarkan tanda bahaya); Darurat Menurut Penonton
2. Membenarkan dan atau respon Legibilitas sesuai dengan intesitas
terhadap indikator bahaya (masa menonton.
pengambilan keputusan); Pada grafik 1 menunjukan responden
3. Bergerak menuju atau mengungsi yang baru pertama kali datang
ke tempat yang aman (masa menonton di Stadion Si Jalak Harupat,
pergerakan). keduanya tidak mengetahui keberadaan
tangga darurat. Dalam hal kemudahan
Elemen-elemen Evakuasi Darurat mencari jalur evakuasi darurat dan
Dalam evakuasi darurat terdapat apakah mereka pernah melihat rambu
beberapa elemen yang mendukung evakuasi di Stadion Si Jalak Harupat,
aktivitas evakuasi darurat. Elemen- satu responden menjawab ya dan yang
elemen tersebut adalah jalur keluar dan lain tidak.
rambu keamanan. Responden yang pernah satu hingga
a. Jalur Keluariii tiga kali datang menonton di Stadion
Jalur keluar merupakan sebuah Si Jalak harupat, 100% tidak
satu kesatuan sistem dimana mengetahui keberadaan tangga darurat.
terdiri dari beberapa elemen yang Dalam hal kemudahan mencari jalur
bertujuan untuk evakuasi penonton evakuasi darurat, 100% menjawab sulit
di dalam stadion. Sistem jalur untuk mencari jalur evakuasi. Dan
keluar dapat terdiri dari koridor, dalam hal apakah mereka pernah
lorong, tangga, ramp atau berbagai melihat rambu evakuasi di Stadion Si
alat untuk keluar. Semua jalan Jalak Harupat, 82% responden
keluar harus dapat dikenali dalam menjawab belum pernah.
keadaan normal ataupun ketika Sembilan belas responden yang lebih
bencana terjadi. dari tiga kali datang menonton di
b. Rambu Keamananiv Stadion Si Jalak Harupat, 74% tidak
Bagian terpenting dalam sistem mengetahui keberadaan tangga darurat.
komunikasi di dalam gedung Dalam hal kemudahan mencari jalur
adalah rambu yang ukuran, evakuasi darurat, 63% menjawab sulit
kejelasan, keterbacaan yang baik untuk mencari jalur evakuasi. Dan
dan lokasi yang tepat. Rambu ini dalam hal apakah mereka pernah
harus dapat dengan mudah dilihat melihat rambu evakuasi di Stadion Si
dan dimengerti dalam kondisi Jalak Harupat, 53% responden
cahaya alami yang buruk dan bila menjawab belum pernah.
dibutuhkan dapat ditambahkan Yang terakhir, sebelas responden yang
pencahayaan buatan dan atau selalu datang menonton di Stadion Si
material yang digunakan untuk Jalak harupat, 82% tidak mengetahui
keberadaan tangga darurat. Dalam hal

74
JURNAL ARTEKS VOL. I, No. 1 – DESEMBER 2016/ISSN 2541-0598

kemudahan mencari jalur evakuasi Grafik Legibilitas Responden


darurat, 64% menjawab sulit untuk Yang Selalu Menonton di Stadion
mencari jalur evakuasi. Dan dalam hal 10 82% 82%
9 64%
apakah mereka pernah melihat rambu 8
7
6
evakuasi di Stadion Si Jalak Harupat, 5
4
36%
18% 18%
82% responden menjawab belum 3
2
1
pernah. 0
Mudah
Mengetahui Pernah
Menemukan
Keberadaan Melihat
Jalur
Tangga Rambu
Grafik Legibilitas Responden Evakuasi
Darurat Evakuasi
Darurat
Yang Baru Menonton Satu Kali
Ya 2 4 2
2.5 100% Tidak 9 7 9
2
1.5 50%50% 50%50%
1 Ya Tidak
0.5 0%
0
Mudah
Mengetahui Pernah
Menemukan Gambar 4. Grafik legibiltas responden
Keberadaan Melihat
Jalur
Tangga Rambu dikelompokkan sesuai intensitas menonton
Evakuasi
Darurat Evakuasi
Darurat di stadion Si Jalak Harupat
Ya 0 1 1 Sumber: Analisa Penulis, 2016
Tidak 2 1 1

Ya Tidak Dari data yang telah disampaikan


terlihat bahwa legibilitas elemen-
elemen evakuasi darurat di Stadion Si
Grafik Legibilitas Responden Yang Pernah Jalak Harupat menunjukan nilai yang
Menonton Sekali Hingga Tiga Kali
rendah. Atau dengan kata lain, tingkat
100% 100%
12
10
82% kesadaran penonton akan adanya
8
6
elemen-elemen evakuasi darurat
18%
4
2 0% 0% (tangga darurat dan rambu evakuasi
0 darurat) terlihat rendah.
Mudah
Mengetahui Pernah
Menemukan
Keberadaan
Jalur
Melihat Penilaian Legibilitas Elemen Sirkulasi
Tangga Rambu
Darurat
Evakuasi
Evakuasi Evakuasi.
Darurat
Ya 0 0 2 Teridentifikasi terdapat indikasi bahwa
Tidak 11 11 9 legibilitas penonton berpengaruh
Ya Tidak
kepada penilaian dari elemen evakuasi
yang ada di dalam Stadion Si Jalak
Harupat. Pada Grafik 2 menunjukan
53% orang yang tidak mengetahui
Grafik Legibilitas Responden Yang Pernah keberadaan tangga darurat menilai
Menonton Lebih dari Tiga Kali buruk kemudahan mencari tangga
74%
16
14
darurat, sehingga dapat diketahui
12 63% 47%53%
10 38%
bahwa mayoritas responden tidak
8 26%
6
4
mengetahui keberadaan tangga darurat
2
0
karena tangga darurat tidak mudah
Mudah
Mengetahui
Menemukan
Pernah untuk ditemukan.
Keberadaan Melihat
Tangga
Jalur
Evakuasi
Rambu Selain kemudahan mencari, yang
Darurat Evakuasi
Darurat mempengaruhi responden untuk
Ya 5 6 9
mengetahui keberadaan tangga darurat
Tidak 14 10 10
adalah kemudahan untuk mengenali.
Ya Tidak Pada Grafik 2 menunjukan 57% orang
yang tidak mengetahui keberadaan

75
JURNAL ARTEKS VOL. I, No. 1 – DESEMBER 2016/ISSN 2541-0598

tangga darurat menilai buruk Selanjutnya pada Grafik 2 menunjukan


kemudahan untuk mengenali tangga 46% orang yang tidak melihat rambu
darurat, sehingga dapat diketahui evakuasi menilai buruk kemudahan
bahwa mayoritas responden tidak menemukan rambu evakuasi, sehingga
mengetahui keberadaan tangga darurat dapat diketahui bahwa mayoritas
karena tangga darurat tidak mudah responden tidak pernah melihat rambu
untuk dikenali. evakuasi karena rambu evakuasi tidak
mudah untuk ditemukan.

Mengetahui Keberadaan Tangga


Mengetahui Keberadaan Tangga

2% Sangat Baik 0%
Sangat Baik 0%
2%

15% 20%
Baik Baik
4% 9%

Darurat
Darurat

53% 57%
Buruk Buruk
6% 9%
15%
Sangat Buruk Sangat Buruk 7%
2% 0%
0 10 20 30
0 10 20 30
Kemudahan Mencari Tangga Darurat
Kemudahan Mengenali Tangga Darurat
Tidak Ya
Tidak Ya

0%
Sangat Baik
4%
Pernah Melihat Rambu Evakuasi

13%
Baik
19%

46%
Buruk
4%

13%
Sangat Buruk
2%

0 5 10 15 20 25

Kemudahan Mencari Rambu

Tidak Ya

Gambar 5. Grafik koreksi antara mengetahui keberadaan tangga dan pernah melihat
rambu dengan kemudahan mencarinya
Sumber: Analisa Penulis, 2016

Face Evakuasi Menurut Penonton dikelompokan beradasarkan


Untuk mengetahui proses evakuasi kesesuaian tindakan dalam proses
yang diketahui selama ini oleh evakuasi. Hal ini dilakukan untuk
penonton, maka data tahapan-tahapan memudahkan dalam mengelompokan
evakuasi diperoleh melalui wawancara fase evakuasi.
mental mapping. Hasilnya kemudian
tahapan-tahapan evakuasi

76
JURNAL ARTEKS VOL. I, No. 1 – DESEMBER 2016/ISSN 2541-0598

Gambar 6. Diagram pengelompokan face evakuasi responden menurut hasil mental mapping
Sumber: Analisa Penulis, 2016

Gambar 6 menunjukan pengelompokan seperti yang telah diuraikan dalam


dari tindakan yang dilakukan oleh teori evakuasi sebelumnya. Dengan
masing-masing responden sesuai demikian, dengan melihat gambar 7
dengan pemahaman mereka dalam kita dapat melihat fase-fase proses
mengevakuasi diri. Berikutnya adalah evakuasi yang selama ini diketahui
memasukan kelompok-kelompok oleh penonton.
tersebut kedalam fase-fase evakuasi

Gambar 7. Diagram pengelompokan proses evakuasi ke dalam face evakuasi sesuai teori
evakuasi
Sumber: Analisa Penulis, 2016

Dari seluruh responden, hanya Namun pada wawancara, semua


responden B yang mencari informasi responden mencari tahu keadaan
atau mengidentifikasi mengenai dengan bertanya kepada orang lain.
kejadian yang terjadi, sedangkan Dengan kata lain, responden
responden lain langsung mengambil mengetahui cara mengidentifikasi
keputusan untuk mencari jalan keluar.

77
JURNAL ARTEKS VOL. I, No. 1 – DESEMBER 2016/ISSN 2541-0598

kejadian namun tidak secara sadar penonton, dan mendesain ulang area
untuk melakukannya. sekitar elemen-elemen evakuasi
Selanjutnya, semua responden kecuali darurat. Memberikan elemen evakuasi
responden D, melakukan tahapan darurat suatu alat yang dapat menjadi
pengambilan keputusan dimana simbol bagi jalur evakuasi darurat
mereka harus mencari pintu keluar tidak dapat dilakukan. Juga untuk
darurat terlebih dahulu sebelum memudahkan penonton mengingat
bertindak. Namun berbeda pada hasil lokasi elemen evakuasi darurat, tidak
wawancara, seluruh responden kecuali mungkin dengan melatih penonton.
responden E menjawab pertanyaan ke Kedua hal tersebut tidak dapat
lima dengan mencari jalan keluar atau dilakukan untuk memberikan solusi
tempat aman. Dengan ini menandakan bagi meningkatkan imageability
bahwa responden belum menyadari elemen evakuasi, karena pertama
lokasi dari tangga darurat evakuasi rambu sudah merupakan sebuah alat
sebagai jalur evakuasi di dalam simbolik yang memudahkan pengguna
Stadion Si Jalak Harupat. untuk bergerak dan rambu merupakan
Dan pada tahap bertindak semua orang elemen sirkulasi evakuasi itu sendiri.
akan melarikan diri keluar stadion Dan yang kedua, melatih penonton
untuk menyelamatkan diri atau bukan merupakan sebuah solusi
menjauhkan diri dari keadaan bahaya. arsitektural sehingga tidak dapat
Hanya responden F yang tidak menjadi solusi di dalam penelitian ini.
melakukan tindakan menyelamatkan Dengan demikian, solusi untuk
diri. Proses evakuasi yang diketahui meningkatkan imageability yang
penonton secara garis besar langsung terbaik adalah mendesain ulang area
berawal dari mencari jalan keluar tanpa sekitar elemen-elemen evakuasi.
mencari tahu keadaan yang sedang Memberikan sebuah alat yang simbolik
terjadi. Hanya responden B yang dapat diterapkan kepada tangga
melakukan tindakan membenarkan darurat. Hal ini didukung dengan
keadaan bahaya. Dan bahkan pernyataan dari responden E yang
responden D langsung melakukan menyatakan akan lebih mudah mencari
evakuasi diri tanpa mencari jalan tangga darurat bila ada pagar.
keluar. Responden E mengasosiasikan pagar
sebagai sebuah simbol yang dapat
Temuan Face Evakuasi untuk Dapat melambangkan sebuah lokasi pintu
Mempercepat Proses Evakuasi keluar. Tangga darurat memiliki dua
Darurat alternatif solusi dalam meningkatkan
Untuk meningkatkan legibilitas dari imageability-nya, yang pertama
elemen evakuasi, kita perlu untuk dengan memberikan alat simbolik, dan
meningkatkan imageability yang kedua adalah dengan
(kemampuan memberikan citra yang memberikan warna yang menarik
kuat kepada pengamat) dari setiap perhatian. Untuk meningkatkan
elemen evakuasi, yaitu tangga darurat legibilitas rambu-rambu darurat,
dan rambu evakuasi. Untuk imageability rambu dapat diperkuat
meningkatkan imageability elemen dengan membentuk atau mendesain
evakuasi darurat menurut Kevin Lynch ulang lingkungan sekitar rambu-rambu
pada imageability-nya adalah dengan darurat. Hal ini dikarenakan desain
memberikan alat-alat simbolik pada rambu sudah memiliki aturan yang
elemen evakuasi darurat, melatih ulang

78
JURNAL ARTEKS VOL. I, No. 1 – DESEMBER 2016/ISSN 2541-0598

ditentukan oleh Green Guide (Guide to terjadi. Oleh karena itu, proses
Safety at Sports Grounds). evakuasi darurat perlu dievaluasi.
Dengan meningkatkan imageability Untuk mengevaluasi proses evakuasi
elemen-elemen evakuasi darurat, darurat, hal pertama yang dilakukan
implikasi terhadap proses evakuasi adalah mengubah fase pada teori (lihat
adalah mengubah perspektif pengguna gambar 6) menjadi fase-fase yang lebih
terhadap proses evakuasi yang telah mencerminkan hasil mental mapping
mereka ketahui. Responden B dan juga untuk memudahkan proses
mengatakan akan mudah berevakuasi analisis selanjutnya. Terminologi dari
bila telah mengingat lokasi tangga setiap tahap kita rubah. Tahap satu dari
darurat (elemen evakuasi). Dengan masa membenarkan tanda bahaya,
demikian perlu ada perubahan tahapan menjadi mengidentifikasi situasi.
proses evakuasi yang diketahui oleh Tahap dua dari masa menggambil
penonton stadion dan membuat keputusan dirubah menjadi mencari
penonton mengingat lokasi tangga jalan keluar. Dan tahap tiga dari masa
darurat sebelum kejadian darurat bertindak dirubah menjadi
menyelamatkan diri.

Gambar 8. Diagram perubahan fase evakuasi


Sumber: Analisa Penulis, 2016

Untuk membuat penonton untuk membuat tahap ini berada di


mengetahui dan mengingat elemen awal proses evakuasi adalah dengan
evakuasi lebih awal, fase lama harus membuat denah yang menunjukan
mengalami perubahan dan perlu ada jalur evakuasi dan lokasi tangga
tahapan lain sebelum darurat. Denah ini dibutuhkan untuk
mengidentifikasi situasi dilakukan. membantu penonton mengetahui
Tahap awal ditambahkan adalah lokasi jalan keluar dan jalur evakuasi
karena untuk membuat penonton sebelum memasuki stadion. Hal ini
mengingat lokasi jalur evakuasi dibuktikan dengan jawaban
darurat terlebih dahulu, kita perlu responden E yang menyebutkan hal
membuat penonton mencari jalan yang dicari untuk menemukan lokasi
keluar sebelumnya. Maka tahap awal tangga darurat adalah denah
ini adalah tahap menemukan lokasi evakuasi.
jalan keluar (lihat gambar 9). Lalu,

79
JURNAL ARTEKS VOL. I, No. 1 – DESEMBER 2016/ISSN 2541-0598

Gambar 9. Perubahan fase dengan meningkatkan legibilitas pada stadion sehingga jalan
keluar sudah dapat dipahami sebelumnya
Sumber: Analisa Penulis, 2016

Denah yang menunjukan jalur Lalu implikasi merubah tahapan yang


evakuasi dan lokasi tangga darurat atau dilakukan dalam proses evakuasi akan
denah “Anda Sedang Di sini” (ASD) memiliki implikasi terhadap kecepatan
harus diletakan di setiap titik kumpul proses evakuasi. Sebelum merubah
penonton stadion terutama di setiap fase mencari jalan keluar, ketiga tahap
pintu gerbang dan tangga menuju proses evakuasi berlangsung ketika
tribun. Dengan demikian ASD akan kejadian darurat sedang terjadi. Setelah
mudah terlihat dan ditemukan. fase mencari jalan keluar dirubah,
Keterkaitan antara imageability dengan hanya mengidentifikasi jalan keluar
merubah proses evakuasi adalah upaya dan menyelamatkan diri yang
peningkatan imageability yang lebih berlangsung ketika kejadian darurat
lanjutnya meningkatkan legibilitas terjadi, dan mencari jalan keluar terjadi
pada elemen evakuasi darurat akan ketika kejadian darurat belum terjadi.
membantu penonton untuk melakukan Dengan demikan proses evakuasi
tahap satu di depan, atau menemukan ketika kejadian darurat terjadi menjadi
dan mengingat lokasi jalan keluar di dua tahap saja.
depan, saat evakuasi belum terjadi.

Gambar 10. Diagram perbedaan proses evakuasi antara fase teori (atas) dengan fase baru
(bawah)
Sumber: Analisa Penulis, 2016

80
JURNAL ARTEKS VOL. I, No. 1 – DESEMBER 2016/ISSN 2541-0598

Rekomendasi untuk Stadion Si Jalak lokasi dari denah itu sendiri


Harupat (denah ASD).
Hasil dari temuan menunjukan, jika
elemen evakuasi darurat yaitu tangga
darurat dan rambu-rambu evakuasi Kesimpulan
sulit ditemukan, dikenali dan dibaca,
maka legibilitas dari elemen-elemen Pemahaman Penoton Terhadap Elemen
evakuasi darurat akan rendah. Dengan Evakuasi Stadion Si Jalak Harupat
demikian perlu ada perbaikan untuk Legibilitas elemen evakuasi darurat
meningkatkan legibilitas elemen- Stadion Si Jalak Harupat adalah
elemen evakuasi darurat. Perbaikan rendah. Hasil dari kuesioner
tersebut adalah dengan meningkatkan menunjukan bahwa meskipun
kemudahan menemukan dan penonton sudah datang berkali-kali
mengenali tangga darurat dan rambu atau selalu menonton di Stadion Si
evakuasi darurat. Desain lingkungan Jalak Harupat, legibilitas dari elemen-
sekitar tangga darurat sedemikian elemen evakuasi darurat masih tetap
hingga perhatian penonton dapat menunjukan nilai yang rendah. Hal ini
dengan mudah mengenali dan dipengaruhi oleh buruknya kualitas
mengingat tangga darurat dan rambu dari legibilitas elemen-elemen
evakuasi. Selain desain lingkungan evakuasi darurat Stadion Si Jalak
sekitar tangga, juga dapat dengan Harupat. Kesulitan mengenali dan
memberikan alat simbolik untuk mengetahui elemen-elemen evakuasi
tangga darurat. Menambahkan denah darurat diakibatkan oleh kualitas yang
ASD (anda sedang di sini) di banyak buruk dari elemen evakuasi darurat itu
titik untuk memberikan petunjuk sendiri. Maka dari itu perlu ada
kepada penonton mengenai lokasi jalur peningkatan kualitas legibilitas dari
evakuasi terutama di dekat pintu elemen-elemen evakuasi darurat di
masuk dan tangga menuju tribun. Stadion Si Jalak Harupat.

Pedoman Perancangan Evakuasi Hasil Mental Mapping Terhadap


Darurat Proses Evakuasi Darurat
Berikut adalah beberapa temuan yang Hasil mental mapping menunjukan
dapat dijadikan pedoman perencanaan persepsi proses evakuasi dari setiap
evakuasi darurat bagi stadion sepak responden yang dikelompokan
bola. Beberapa pedoman tersebut kedalam fase proses evakuasi. Hasil ini
adalah sebagai berikut: menunjukan fase-fase yang terjadi
1. Desain lingkungan sekitar tangga selama proses evakuasi. Proses ini
darurat dan rambu darurat harus terdapat tiga tahap dimana tahap satu
menarik perhatian; merupakan tahap mengidentifikasi
2. Alat simbolik yang dapat situasi kejadian, tahap dua merupakan
mewakili tangga darurat dapat tahap mencari jalan keluar, dan tahap
ditambahkan pada desain ketiga adalah tahap melarikan diri.
lingkungan sekitar tangga; Ketiga tahap ini terjadi pada saat
3. Setiap stadion harus memiliki kejadian darurat berlangsung,
denah yang menunjukan lokasi Dengan meningkatkan legibilitas dari
tangga darurat, pentujuk yang elemen-elemen evakuasi dan petunjuk
mengarahkan ke luar gedung dan “ASD” (Anda Sedang Di sini), kita
dapat mempersingkat tahap-tahap
proses evakuasi yang terjadi disaat

81
JURNAL ARTEKS VOL. I, No. 1 – DESEMBER 2016/ISSN 2541-0598

kejadian darurat berlangsung. Menteri Pekerjaan Umum. (2007).


Sehingga munculnya tahap Peraturan Menteri Pekerjaan
menemukan jalur evakuasi terjadi Umum Nomor 45/PRT/M/2007,
ketika keadaan darurat belum terjadi. Tentang Pedoman Teknis
Dengan munculnya tahap awal ini Pembangunan Bangunan Gedung
(pra-evakuasi), tahap mencari jalan Negara.
keluar dapat dieliminasi, sehingga Menteri Pemuda dan Olahraga. (2013).
tahap evakuasi saat kejadian darurat Peraturan Menteri Pemuda dan
berlangsung hanya tersisa dua tahap Olahraga Nomor 0400 Tahun
saja yaitu tahap mengidentifikasi 2013, Tentang Standar Nasional
kejadian dan tahap melarikan diri. Stadion Atletik dan Sepakbola.
Dengan demikian proses evakuasi Prabowo, H. (n.d). Arsitektur,
dapat menjadi lebih cepat. Psikologi dan Masyarakat.
Dengan meningkatkan legibilitas dari Gunadarma, Jakarta
elemen rambu dan tangga darurat, Preiser, W. F., Rabinowitz, H. Z., &
maka penanda “ASD” (Anda Sedang White, E. T. (1988). Post-
Di sini) menjadi mudah dipahami, Occupancy Evaluation. Van
diingat dan diikuti, sehingga setelah Nostrand Reindhold Company Inc,
mengidentifikasi situasi bahaya, proses New York.
evakuasi tahap kedua, yaitu Snyder, J. C., & Catanese, A. J. (1997).
menyelamatkan diri dapt berjalan Pengantar Arsitektur. Erlangga,
dengan lancar karena elemen evakuasi Jakarta.
mudah dikenali dan diikuti arah Triyosoputri, E. (1992). Evaluasi
sirkulasinya. Purna Pakai Alun-alun Malang
dengan Pengekatan Aspek
Fungsional. Tesis Magister
Daftar Pustaka Arsitektur, Institut Teknologi
Bandung.
AUDE; Higher Education Founding Yafiz. (1994). Evaluasi Purna Huni
Council for England. (2006). Perumahan Nelayan Type Rumah
Guide to Post Occupancy Panggung di Muara Angke –
Evaluation England. Jakarta utara. Tesis Magister
Departement for Culture, M. A. Arsitektur, Institut Teknologi
(2008). Guide to Safety at Sport Bandung.
Grounds. Green Guide, 5th
Edition. TSO. i
Preiser, W. F., Rabinowitz, H. Z., & White,
FIFA. (2011). Football Stadiums, E. T. (1988). Post-Occupancy
Technical Recomenddation and Evaluation. New York: Van Nostrand
Requirements. 5th Edition. ii
Reindhold Company Inc
Susetyo, Heru. 20 Maret 2015. Budaya Siaga
Hoski, K. (2004). Fire Protection and Bencana. http://staff.ui.ac.id/node/
Evacuation Procedures of Stadia 47612. Diambil tanggal 27 Juni 2016.
iii
Venues New Zealand. Master of Departement for Culture, Media and Sport.
Engineering in Fire Engineering, (2008). Guide to Safety at Sports
University of Cartenbury. Grounds (Green Guide) 5th ed. Hal. 80
iv
Ibid. Hal 168
Liu, Y., Liu, D., Badler, N., &
Malkawi, A. (2011). Analysis of
Evacuation Performance of
Megiing Points in Stadiums based
on Crowd Simulation.

82