Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Listrik merupakan sarana yang kerap digunakan untuk membantu kehidupan manusia

secara luas, misalnya sebagai penerangan, pengoperasian alat-alat dalam melaksanakan

kegiatan-kegiatan rumah tangga ataupun hiburan, dan alat-alat dalam bidang lain, misalnya

bidang medis (misalnya untuk radioterapi, dan fasilitas medis lain yang membutuhkan listrik

dalam pengoperasiannya).1

Namun demikian, bahaya dari penggunaan listrik dapat menyebabkan luka hingga

kematian (seringkali karena kecelakaan, dan jarang dalam hal bunuh diri, namun dapat juga

terjadi pada kasus pembunuhan), yang bisa disebabkan juga oleh listrik alam (misalnya

petir).1

Sekitar 50% dari seluruh trauma listrik fatal disebabkan oleh kecelakaan di tempat

kerja, dan hal ini berkontribusi 5-6% terhadap seluruh kematian pekerja terkait trauma di

tempat kerja. Karena trauma listrik berat cenderung terjadi di tempat kerja, korban biasanya

merupakan orang dewasa berusia 40-50 tahun. Sekitar 75% dan 85% dari seluruh kasus

kematian akibat listrik terjadi pada pria dalam rentang usia 25-45 tahun, 30% terjadi pada

pekerja yang bekerja di luar ruangan, dan 25% terjadi pada orang-orang yang rekreasi di luar

ruangan. Sedangkan sambaran petir menyebabkan trauma berat pada 1000-1500 orang per

tahun, dengan perbandingan jumlah kematian terhadap jumlah kasus yang hanya mengalami

1
cedera berkisar antara 2-10, dan paling sering terjadi pada musim panas saat tengah hari, di

lingkunga pegunungan atau tropis yang lembab.2

Dengan luasnya pemakaian listrik, dan potensi bahaya yang dapat terjadi akibat

penggunaan listrik, maka seorang dokter perlu mengetahui mengenai trauma listrik.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Listrik

Listrik adalah suatu bentuk energi yang dapat menimbulkan kerusakan tubuh

bahkan hingga kematian pada keadaan tertentu. Listrik tersebut dapat berupa listrik

alam (antara lain listrik yang terbentuk dalam gumpalan awan listrik di udara yang

berupa petir), dan listrik buatan (antara lain listrik yang dihasilkan alat pembangkit

listrik).1

Dikenal beberapa bagian-bagian dari listrik, antara lain arus listrik, frekuensi

listrik, tegangan (voltase), dan tahanan listrik (resistensi).1

Faktor-faktor yang mempengaruhi dampak listrik terhadap tubuh manusia antara

lain jenis/macam aliran listrik, tegangan/voltase, tahanan/resistansi, kuat

arus/intensitas (amperage), ada tidaknya hubungan dengan bumi (Earthing), lamanya

kontak dengan konduktor, jalur aliran listrik (path of current), dan faktor-faktor lain

(misalnya komorbiditas).1

Kontak dengan konduktor beraliran listrik dapat menimbulkan berbagai efek, antara

lain:4

 Trauma listrik akibat stimulasi listrik pada otot, saraf, dan sistem konduksi

jantung.

 Cedera elektrotermal akibat panas yang dihasilkan aliran listrik, misalnya kulit

yang hangus arang atau metalisasi kutis.

3
 Cedera tak langsung akibat listrik, misalnya cedera akibat jatuh dari ketinggian

setelah tersengat listrik.

1. Arus Listrik

Arus listrik adalah muatan listrik yang mengalir dari suatu tempat yang

berpotensial listrik tinggi ke yang rendah, yang mana searah dengan gerakan dari

muatan-muatan yang positif, dan berlawanan arah dengan gerakan elektron-elektron

pada konduktor logam.1

Arus listrik itu sendiri dibagai menjadi Direct Current (DC) dan Alternating

Current (AC). Arus listrik DC atau arus listrik searah mengalir ke satu arah secara

terus menerus, dan digunakan misalnya pada proses elektrolisis (misalnya pada

proses pemurnian, pelapisan, atau penyepuhan logam), pada telepon (30 – 50 V), dan

kereta listrik (600 – 1500 V) Sumber arus DC misalnya baterai, sel surya, dan Accu.

Arus AC atau arus listrik bolak-balik (satu kali bolak-balik arah disebut satu siklus),

digunakan pada perumahan atau pada pabrik-pabrik, biasanya dengan voltase 110 –

220 Volt.1, 2

Sensitivitas tubuh manusia 4 – 6 kali lebih besar terhadap arus AC daripada arus

DC, dan hal ini tergambarkan oleh fakta bahwa dari 212 kasus kematian akibat

trauma listrik, hanya 8 dari kasus-kasus tersebut yang disebabkan arus DC, dan

banyak kematian oleh trauma listrik yang dilaporkan disebabkan oleh arus listrik AC

dengan tegangan 110, 220, atau 240 V dan jarang pada voltase < 100 Volt, sedangkan

arus listrik DC dengan tegangan yang sama jarang menimbulkan kematian. Arus

4
listrik AC dengan intensitas 70 – 80 mA sudah bersifat letal, sedangkan arus listrik

DC dengan intensitas 250 mA masih bisa ditolerir tanpa adanya kerusakan.1, 3

2. Frekuensi Listrik

Frekuensi listrik dinyatakan dalam satuan cycle per second atau Hertz (Hz).

Frekuensi listrik yang kerap digunakan adalah 50 Hz dan 60 Hz. Frekuensi yang

sangat tinggi adalah frekuensi 1.000.000 Hz dengan voltase dalam kisaran 20.000 –

40.000 Volt, dan frekuensi ini tidak begitu berbahaya, serta dapat digunakan dalam

proses diatermi. Sensitivitas tubuh manusia sangat rendah terhadap frekuensi yang

sangat tinggi atau sangat rendah, misalnya frekuensi > 1000 Hz atau < 40 Hz.1

Aliran listrik AC yang biasanya digunakan di rumah tangga memiliki frekuensi 50 Hz.

Kecenderungan aliran listrik AC dengan frekuensi siklus 50 x/detik untuk mengaliri jantung

pada fase rentan jantung (stimulus tertentu pada fase rentan jantung dapat memicu fibrilasi

ventrikel) secara signifikan lebih besar daripada kecenderungan aliran listrik DC. Frekuensi

aliran listrik AC yang berbahaya menimbulkan fibrilasi atrial berkisar antara 40-150 Hz.

Namun, frekuensi yang sangat tinggi tidak mampu penetrasi jaringan baik, tetapi mampu

menimbulkan efek termal yang lebih besar. Maka dari itu, bedah frekuensi tinggi

menggunakan frekuensi kisaran antara 300 – 2000 kHz. Frekuensi > 100.000 Hz tidak

berbahaya, karena saraf tidak lagi terangsang, dan pada frekuensi yang lebih tinggi bahkan

aliran listrik mengaliri tubuh di lapisan superfisial tanpa mempengaruhi organ dalam.4

Tubuh manusia lebih resisten terhadap frekuensi < 10 Hz atau > 1000 Hz.

Frekuensi dari arus listrik AC dinyatakan berbahaya apabila berkisar antara 39 – 150

Hz (paling berbahaya antara 40-60 Hz), dan dikatakan kritis bila berkisar antara 50 –

60 Hz.1, 2 Dan potensi bahaya arus listrik AC semakin menurun dengan peningkatan

frekuensi listriknya, bahkan arus listrik AC dengan frekuensi 1720 Hz lebih dapat

5
ditolerir jantung daripada jenis arus listrik yang sama yang berfrekuensi 150 Hz.

Frekuensi arus listrik AC yang sebesar 60 Hz yang biasa digunakan dalam rumah

tangga dan industri juga dapat menyebabkan kerusakan pada pusat-pusat di medulla

oblongata dan pada jantung.1

3. Tegangan Listrik

Tegangan listrik dinyatakan dalam satuan Volt. Satu Volt diperlukan untuk

menghasilkan intensitas listrik sebesar 1 Ampere melalui suatu konduktor

(penghantar) yang memiliki resistensi sebesar 1 Ohm.1

Ada dua macam tegangan berdasarkan tingkatnya, antara lain tegangan rendah

(low voltage) dan tegangan tinggi (high voltage). Voltase dinyatakan rendah apabila <

1000 Volt, yang biasanya digunakan untuk penerangan pada perumahan (110 – 220

V). Voltase dinyatakan tinggi apabila > 1000 V, misalnya pada terapi rontgen (X-ray)

yang menggunakan voltase sebesar 20.000 – 1.000.000 V. Perbedaan tegangan tinggi

dan rendah memiliki arti signifikan secara fisik, namun tidak signifikan bagi

implikasi biologisnya.1

Voltase terendah yang dapat bersifat letal bagi manusia adalah 50 Volt, dan

dampak yang timbul pada tubuh manusia baik secara lokal ataupun general akan

meningkat seiring peningkatan voltase. Kematian akibat listrik bertegangan rendah

terutama diakibatkan terjadinya fibrilasi ventrikel, dan sekitar 60% kematian akibat

trauma listrik disebabkan oleh listrik bertegangan 115 Volt, sedangkan listrik

bertegangan tinggi dapat bersifat letal terkait dengan trauma elektrotermis yang dapat

ditimbulkannya.1

6
Kematian terjadi pada 25% kasus-kasus kontak dengan aliran listrik 127-380

Volt; 50% kasus-kasus kontak dengan aliran listrik 1000 Volt; dan 100% pada kasus-

kasus kontak dengan aliran listrik 3000 Volt.2

4. Tahanan Listrik (Resistensi)

Tahanan listrik didefinisikan sebagai tahanan dari kolom air raksa dengan tinggi

dan lebar tertentu dalam suhu tertentu, dan dinyatakan dalam satuan Ohm. Hukum

Ohm menyatakan bahwa besar intensitas listrik (I) sama dengan besarnya tegangan

(V) dibagi resistensi (R) dari medium. Panas yang timbul (W) tergantung dari: kuat

arus (I), durasi kontak (t), dan besarnya resistensi (R).1

𝑉
Hukum Ohm: 𝐼 = 𝑅

Panas yang dihasilkan atau 𝑊 = 𝐼 2 𝑅𝑡

Tahanan listrik tubuh manusia bervarias antarjaringan, dan dipengaruhi oleh

kandungan air dari jaringan-jaringan tersebut. Secara umum dinyatakan bahwa

konduktivitas jaringan tubuh manusia lebih buruk dibandingkan logam. Apabila

diurutkan dari tahanan listrik yang terbesar ke yang terendah dari jaringan-jaringan

tubuh manusia, maka antara lain kulit (rata-rata 500 – 10.000 Ohm), tulang, lemak,

urat syaraf, otot, darah, dan cairan tubuh.1

Resistensi dalam jaringan kulit juga bervariasi, dipengaruhi oleh kekerasan kulit

(kulit yang keras lebih resisten daripada yang lunak), ketebalan kulit (makin tebal

kulit maka makin resisten), jumlah relatif dari folikel rambut, kelenjar keringat (kulit

kering memiliki resistensi berkisar antara 2000 – 3000 Ohm, sedangkan kulit kering

7
memiliki resistensi sekitar 500 Ohm) dan lemak dalam kulit tersebut, serta faktor-

faktor lain seperti demam (demam akan menurunkan resistensi kulit). Resistensi pada

telapak tangan dan kaki lebih tinggi dibandingkan resistensi pada bagian kulit lainnya

pada tubuh manusia, dan berkisar antara 1 – 2 juta Ohm. Berkeringat dapat

mengurangi resistensi kulit dari 3000 Ohm menjadi 2500 Ohm, dan resistensi tersebut

dapat turun menjadi lebih rendah lagi jika kulit basah oleh air atau saline, menjadi

1200 – 1500 Ohm. Dengan demikian, obat-obat yang mempengaruhi sekresi keringat

juga akan mempengaruhi resistensi kulit.1 Kulit yang basah dapat menurunkan

resistensi kulit yang awalnya jutaan Ohm menjadi ratusan Ohm.3

Kulti telapak yang tebal dan berkalus jauh lebih resisten listrik dibandingkan kulit

yang tipis, misalnya bagian medial dari lengan. Resistensi kulit berkurang jika

mengalami kerusakan (misalnya pada kulit yang tertusuk atau terkerok), atau jika

basah. Jika resistensi kulit tinggi, maka trauma listrik cenderung bersifat lokal,

kadang hanya menyebabkan luka bakar. Sedangkan resistensi kulit yang rendah akan

cenderung mengalami trauma listrik yang lebih banyak melibatkan organ dalam,

maka dari itu, individu yang kontak dengan sumber listrik dalam keadaan basah

(misalnya ketika hair dryer jatuh ke dalam bak mandi, atau ketika seseorang

menginjak secara langsung genangan air yang terhubung dengan aliran listrik)

cenderung tidak tampak ada electric mark pada pemeriksaan luar.2

Dalam menganalisa suatu trauma akibat listrik sebaiknya mempertimbangkan

pula resistensi transisional, yaitu resistensi penyerta yang disebabkan oleh medium

yang berada antara konduktor dengan tubuh, atau antara tubuh dengan bumi,

misalnya pakaian, dan alas kaki.1

8
5. Intensitas Listrik (Amperage)

Amperage ialah intensitas arus listrik yang mampu mengendapkan perak dengan

berat tertentu dari larutan perak nitrat per detik, dan dinyatakan dalam satuan

Ampere, serta dapat dihitung dengan membagi tegangan listrik dengan resistensi

listrik.1

Dampak arus listrik terhadap tubuh juga dipengaruhi besar kecilnya intensitas

arus. Kuat arus sampai 10 mA dapat menimbulkan sensasi tidak nyaman, antara 10 –

60 mA dapat menghentikan voluntaritas otot dan menyebabkan asfiksia, dan kuat arus

> 60 mA selama > 1 detik dapat menyebabkan fibrilasi ventrikel. Kuat arus listrik DC

sebesar 60 – 80 mA atau 200 – 250 mA berbahaya bagi manusia. Titik kritis ada pada

kuat arus 100 mA, di mana waktu 0,2 deti dengan frekuensi 50 Hz dapat bersifat

letal.1 Kuat aliran listrik hingga 50 mA untuk arus listrik DC, atau 10 mA untuk arus

AC, dianggap lebih aman.2

Kuat arus sebesar 30 mA dikatakan sebagai ambang batas ketahanan seseorang,

dan sebesar 40 mA dapat menyebabkan hilangnya kesadaran, sedangkan kuat arus

sebesar setidaknya 100 mA dapat menyebabkan kematian.1

Akibat listrik digolongkan oleh Koeppen ke dalam 4 kelompok, antara lain:1

1. Kelompok I: Arus listrik AC < 25 mA (atau arus listrik DC 25 – 80 mA)

dengan resistensi transisional yang tinggi tidak berbahaya.

9
2. Kelompok II: Arus listrik AC 25 – 80 mA (atau arus listrik DC 80 – 300

mA) dengan resistensi transisional lebih rendah dari kelompok I dapat menyebabkan

hilangnya kesadaran, spasme pernapasan, dan aritmia.

3. Kelompok III: Arus listrik AC 80 – 100 mA (atau arus listrik DC 300 –

3000 mA) dengan resistensi transisional lebih rendah daripada kelompok III, yang

berlangsung 0,1 – 0,3 detik dapat menimbulkan efek serupa efek dari kelompok II,

sedangkan jika berlangsung > 0,3 detik maka dapat menyebabkan fibrilasi ventrikel

yang ireversibel.

4. Kelompok IV: Arus dengan intensitas > 3 A dapat menimbulkan henti

jantung (cardiac arrest).

Kontak dengan konduktor logam beraliran listrik dengan kuat listrik mencapai

sekitar 10 mA akan menyebabkan rasa nyeri dan kedutan otot, namun jika kuat

listrik melebihi sekitar 30 mA, akan menyebabkan spasme otot yang

menyebabkan korban justru makin menggenggam konduktor tersebut (karena otot

flexor lebih kuat daripada ekstensor), dan spasme ini tidak dapat dilepaskan

secara volunter, sehingga durasi paparan menjadi lebih lama, sehingga lebih

beresiko terjadi gangguan seperti aritmia jantung. Jika aliran listrik yang melewati

jantung berkekuatan 50 mA atau lebih, meskipun hanya beberapa detik,

cenderung akan terjadi fibrilasi ventrikel fatal, terutama jika listrik tersebut

merupakan alternating current.3

Jika tangan melakukan kontak dengan konduktor beraliran listrik berkekuatan 1

mA maka akan terjadi kontraksi otot, jika berkekuatan 5 mA maka lengan bawah

akan ikut terpengaruh, dan korban masih dapat melepas kontak dengan konduktor

10
jika kekuatan aliran listrik tidak melebih 15 mA. Pada kontak dengan listrik

berkekuatan > 15 mA, aliran listrik tersebut akan menyebabkan kontraksi otot

terus-menerus, sehingga korban tidak bisa melepas kontak secara volunter, maka

dari itu kuat listrik > 15 mA disebut dengan “let go threshold” (ambang batas

pelepasan). Jika kuat listrik berkisar antara 25-80 mA akan terjadi peningkatan

tekanan darah dan berkemungkinan menyebabkan aritmia jantung. Kuat arus > 80

mA dapat menyebabkan fibrilasi ventrikel dan hilangnya kesadaran.4

Tabel. Pengaruh intensitas dan voltase listrik pada jantung.4

Tabel. Efek Intensitas Arus Listrik AC (Alternating Current).4

11
6. Adanya hubungan dengan bumi ( Earthing )

Bumi dianggap sebagai kutub negatif. Orang yang berdiri tanpa alas kaki, terutama

pada tanah basah, akan lebih terancam daripada yang berdiri dengan alas kaki kering,

karena resistensinya rendah sehingga lebih besar pula ancaman trauma akibat kontak

dengan listrik. Resistensi pada telapak kaki yang kering juga tinggi sehingga dapat

berperan sebagai isolator yang baik, namun perlu diperhatikan adanya logam seperti

paku. Sepatu dapat digunakan sebagai alat pelindung diri, terutama bila sepatu yang

digunakan adalah sepatu karet.1

Karena pada arus AC terjadi arus listrik dengan arah yang bolak-balik, maka istilah

“sumber (source)” dan “ground” lebih tepat digunakan daripada istilah titik masuk

dan keluar. Titik sumber listrik yang paling sering adalah tangan, disusul oleh kepala.

Titik ground yang tersering adalah kaki.2

7. Lamanya waktu kontak dengan konduktor

Semakin lama seseorang terpapar dengan konduktor maka semakin banyak

jumlah arus yang melalui tubuh, adalah sangat berbahaya bagi keselamatan manusia

akibatnya, kerusakan tubuh akan bertambah besar dan luas. Tegangan yang rendah

12
juga dapat menyebabkan kematian seseorang bilamana kontak dengan konduktor

berlangsung beberapa menit. Dengan tegangan yang rendah arus listrik bisa

menyebabkan spasme otot-otot dan menyebabkan korban malah menggenggam

konduktor, dengan keadaan ini korban dapat terjadi shock yang dapat menyebabkan

kematian. Sedangkan untuk tegangan listrik yang tinggi, seseorang dapat terlempar

atau melepaskan konduktor yang tersentuh oleh karena arus listrik dengan tegangan

tinggi dapat menyebabkan timbulnya kontraksi otot. Semakin lama korban kontak

dengan arus listrik maka semakin jelas current-mark nya dan semakin besar juga

untuk bahaya kematian. 1

8. Aliran arus listrik ( path of current )

Aliran arus listrik di definisikan sebagai tempat-tempat pada tubuh yang dilalui

oleh arus listrik sejak masuk sampai meninggalkan tubuh, efek dari arus listrik

tersebut juga bervariasi dari yang ringan sampai berat karena titik masuk dan

keluarnya listrik juga bervariasi. 1

Arus listrik yang masuk dari sebelah kiri tubuh lebih berbahaya. Kematian akibat

trauma listrik ditemukan 88% disebabkan kontak antara konduktor dengan tangan kiri

korban. Bahaya terbesar akan timbul jika otak atau jantung terletak dalam jalur aliran

listrik tersebut. 1

Resiko kematian akibat aliran listrik akan meningkat jika aliran listrik mengalir

melalui jantung (aliran listrik mengalir antarlengan, atau dari lengan ke kaki),

terutama jika mengalir secara longitudinal melalui jantung dibandingkan dengan arah

transversal (lengan satu ke lengan lain), karena pada arah transversal, lebih sedikit

13
dari aliran listrik tersebut yang mengenai jantung. Aliran listrik yang melalui antara 2

jari biasanya hanya menyebabkan cedera termal lokal.4

9. Faktor-Faktor lain Trauma Listrik

- Adanya penyakit tertentu yang sudah ada pada korban sebelumnya, seperti

penyakit jantung, kondisi mental yang menurun dan sebagainya.

- Adanya antisipasi terhadap suatu shock akan membuat seseorang lebih waspada

dan berhati-hati, namun hal ini bukan merupakan perlindungan yang memadai.

- Kurang ke hati-hatian.

Hal ini sangat berperan dalam kasus-kasus kecelakaan akibat trauma listrik. Bila

diamati, maka faktor tersebut diatas semata mata adalah factor dari diri korban. 1

B. Cara Kematian

Kematian karena terkena aliran listrik paling sering terjadi karena kecelakaan (juga

meliputi kematian saat aktivitas autoerotic, misalnya kabel ditempelkan pada genitalia atau

anus, atau ke ekstremitas, dan selain itu, trauma listrik aksidental juga bisa terjadi saat korban

urinasi ke konduktor bertegangan tinggi), jarang terjadi karena pembunuhan atau bunuh diri

(misalnya dengan memasukkan hairdryer ke dalam bak mandi tempat korban berada). Oleh

karena itu, pemeriksaan Tempat Kejadian Perkara ( TKP ) sangat penting untuk dapat

memperkirakan cara kematian korban tersebut. 1, 4

C. Sebab Kematian

Pada banyak kasus kecelakaan karena listrik, kematiannya diakibatkan karena energy

listrik itu sendiri. Sering trauma listrik disertai luka mekanis. Ada pula kasus karena listrik

mengakibatkan korban terjatuh dari ketinggian, dalam hal ini sukar untuk mencari sebab

kematian.
14
Orang yang terkena aliran listrik selain terdapat luka bakar pada tubuh, juga dapat

meninggal dunia. Kematian yang sering terjadi diperkiraan antara 5% sampai 50% dari kasus

yang diketahui, angka tersebut diketahui dari kecelakaan dengan tegangan tinggi.

Pengetahuan tentang mekanisme kematian oleh karena listrik berdasarkan tiga sumber,

yaitu :

1. Percobaan pada binatang

2. Hukuman kursi listrik

3. Kecelakaan trauma listrik

Kemaitan akibat trauma listrik fatal adalah hasil beberapa mekanisme berbeda, antara lain

fibrilasi ventrikel, paralisis otot pernapasan, paralisis pusat pernapasan, renjatan, dan

sekuelae lanjut (disebabkan luka bakar atau cedera pada orang yang selamat selama waktu

yang lama dari trauma listrik). Pada kasus trauma listrik fatal, dapat terjadi delayed death,

disebabkan aritmia fatal, thrombosis atau infark myokard setelah 2-3 jam, kadang beberapa

hari setelah kejadian.2

Kadang meskipun korban awalnya selamat paska trauma listrik fatal, cedera elektrotermal

pada otot lurik dan jantung (terjadi kerusakan jaringan menyerupai infark) dapat

menyebabkan kematian nantinya akibat gagal multiorgan, meliputi gagal ginjal.4

1. Ventrikel fibrilasi

Besar arus minimum penyebab kelainan denyut jantung ( cardiac fibrilasi )

tergantung dari ukuran badan dan jantung. Bila besar arus efektif tetap dipertahankan,

maka frekuensi penyebab kelainan denyut jantung optimal adalah 60 Hertz bagi

manusia, sedangkan bagi anjing 150 Hertz.1

15
Ventrikel fibrilasi itu hanya merupakan mekanisme yang menyebabkan kematian,

tetapi menurut Jellink hal ini tidak pernah dicoba pada manusia. Dilziel ( 1961 )

memperkirakan pada manusia arus yang mengalir sedikitnya 70 mA dalam waktu 5

detik dari lengan ke tungkai akan menyebabkan fibrilasi. Yang paling bahaya bila

arus listrik masuk ke tubuh melalui tangan kiri dan keluarnya melalui kaki yang

berlawanan. Kalau arus listrik masuk tubuh melalui tangan yang satu kemudian

keluar dari tangan yang lain, maka 60% korban meninggal dunia. 1

2. Respiratory paralysis

Hal ini disebabkan karena adanya spasme dari otot-otot akibat arus listrik,

sehingga korban tidak dapat menggunakan otot-otot pernafasan, dengan demikian

korban meninggal karena asfiksia. Hasil percobaan menunjukan bahwa kematian

memang benar disebabkan karena asfiksia sehubungan dengan spasme otot-otot

karena jantung masih tetap berdenyut sampai timbul kematian. 1

Respiratory Paralysis ini terjadi bila arus listrik yang memasuki tubuh korban

diatas nilai ambang batas yang membahayakan, tetapi masih dibatas bawah yang

dapat menimbulkan ventrikel fibrilasi. 1

Menurut Koeppen, spasme otot-otot pernafasan terjadi pada arus 25-80 mA,

sedangkan ventrikel fibrilasi terjadi pada arus 8—100 mA. 1

Korban yang meninggal karena paralisis otot napas biasanya sianotik.3

3. Paralyse pusat pernafasan

Kematian dapat juga terjadi bila arus listrik masuk melalui pusat di batang otak,

dapat juga disebabkan oleh karena trauma pada pusat-pusat vital di otak yang terjadi

akibat koagulasi dan pergeseran jaringan yang disebabkan efek hypertermis,

16
meskipun lebih jarang terjadi daripada trauma listrik fatal yang menyebabkan fibrilasi

ventrikel ataupun paralisis otot pernapasan.1, 3


paralisis batang otak dan pusat

pernapasan sentral yang menyebabkan gagal napas dapat terjadi misalnya pada

pekerja tiang listrik atau rel kereta listrik yang menyentuhkan kepalanya ke

kondukor-konduktor beraliran listrik, yang biasanya bervoltase 660 Volt.3

Bila aliran listrik diputus, paralyse pusat pernafasan tetap ada, jantung pun masih

berdenyut. Oleh karena itu, dengan bantuan pernafasan buatan korban masih dapat

tertolong. Hal ini terjadi bila kepala merupakan jalur arus listrik dan tidak terjadi bila

arus listrik mengalir melalui lengan ke lengan atau dari tungkai ke tungkai. 1

D. Pemeriksaan korban

1. Pemeriksaan korban di Tempat Kejadian Perkara ( TKP )

Sebagian besar kasus tampaknya bukan merupakan kasus yang memerlukan

investigasi, bahkan pada kematian tanpa saksi pemeriksaan TKP dapat memberikan

bukti kemungkinan akibat luka listrik. Korban mungkin ditemukan sedang memegang

benda yang membuatnya kena listrik, terkadang ada busa pada mulut. 1

Di lokasi TKP yang perlu dilakukan pertama kali adalah mematikan aliran listrik

atau menjauhkan kawat listrik dengan kayu kering. Lalu kamudian korban diperiksa

apakah hidup atau sudah meninggal. Bilamana belum ada lebam mayat, maka

mungkin korban dalam keadaan mati suri dan perlu diberi pertolongan segera, yaitu

dengan pernafasan buatan dengan pijat jantung dan jika perlu dengan segera di bawa

ke rumah sakit. Pernafasan buatan ini bila dilakukan dengan baik dan benar masih

merupakan pengobatan utama untuk korban akibat listrik. Usaha pertolongan ini

17
dilakukan sampai korban menunjukan tanda-tanda hidup atau tanda-tanda kematian

pasti. 1

Terkait kasus kecelakaan akibat listrik, perlu ditentukan apakah ada kontak

dengan sumber listrik (misalnya kabel, atau peralatan listrik), dan deskripsi detail

mengenai posisi korban relatif terhadap sumber listrik tersebut. Perlu juga ditemukan

faktor-faktor predisposisi terjadinya kontak tersebut (misalnya adalah tingginya

kelembaban, pakaian basah, kurangnya pakaian protektif seperti sarung tangan dan

sepatu, dsb). Pada pakaian dapat ditemukant tanda-tanda pengaruh listrik (misalnya

tanda terbakar), dan pada sepatu dapat ditemukan kerusakan pada titik masuk atau

keluarnya aliran listrik.2 Biasanya titik masuknya adalah tangan yang kontak dengan

sumber listrik, sedangkan titik keluarnya adalah ground atau bagian tubuh yang

kontak dengan bumi (biasanya melalui tangan lainnya atau kaki). Akan sangat

berbahaya jika aliran listrik melewati dada, karena dapat melibatkan jantung atau

sistem pernapasan, yang dapat menyebabkan fibrilasi ventrikel dan/atau paralisis

pernapasan.3 Perlu juga ditemukan adanya luka bakar, kuku yang meleleh, atau

benda-benda logam yang termagnetisasi. Tanda-tanda terbakar oleh listrik juga perlu

dicari secara cermat pada tubuh korban, namun pada 20% kasus bisa tidak ditemukan.

Inspeksi luar pada tubuh dapat membantu mencari bukti cedera mekanik (misalnya

akibat jatuh dari tiang listrik atau atap). Pada kasus bunuh diri, dapat ditemukan kabel

terkelupas yang dililitkan atau direkatkan dengan suatu cara ke tubuh korban, dan

mungkin ditemukan surat yang ditinggalkan korban.2

18
Informasi mengenai awal mula dan proses kejadian perlu diperoleh dari saksi-

saksi selama proses inspeksi, sertai informasi mengenai gambaran klinis ketika

sebelum korban meninggal.2

Terkait kasus trauma listrik akibat tegangan tinggi atau busur listrik, luka bakar

lokal yang dalam, atau bahkan karbonasisasi pada titik kontak dengan sumber listrik,

metalisasi, rambut yang terbakar, atau tanda-tanda trauma akibat terlemparnya tubuh

korban dapat ditemukan.2

Terkait kasus trauma listrik akibat senjata listrik, dapat ditemukan perubahan-

perubahan identik dengan yang ditemukan pada trauma listrik fatal tegangan rendah,

misalnya luka bakar atau hyperemia berbentuk bulat atau titik berdiameter 5-7 mm.2

Terkait kasus trauma listrik akibat listrik atmosferik, terdapat situasi lingkungan

yang spesifik. Korban biasanya ada pada lingkungan terbuka, setelah badai petir, di

bawah pohon. Tanda-tanda adanya pengaruh listrik atmosferik pada lingkungan

sekitarnya dapat ditemukan, antara lain meliputi pohon yang terbelah atau terbakar,

objek atau material konstruksi logam yang meleleh atau termagnetisasi. Seringkali

pakaian dari korban terkoyak dan tubuhnya tertelanjangi. Rambut di kepala dapat

ditemukan hangus, rambut pada dada dan genitalia dapat terpilin, dan tanda-tanda

tipikal dari sekuelae luka bakar akibat listrik, meliputi stadium-stadium luka bakar

yang bervariasi, termasuk pula karbonisasi bagian-bagian tubuh.2

2. Pemeriksaan Luar

Pada kasus trauma listrik tegangan rendah, tanda-tanda luka bakar akibat listrik

muncul. Namun adanya tanda-tanda luka bakar akibat listrik bukan merupakan

19
kepastian bahwa kematian tersebut disebabkan oleh trauma listrik, karena tanda-

tanda tersebut juga bisa didapati berbulan-bulan seseorang selamat dari trauma

listrik, namun juga bisa muncul setelah kematian, dan bahkan 20% dari kematian

akibat kontak dengan listrik tegangan rendah tidak ditemukan adanya tanda-tanda

luka bakar akibat listrik tersebut.2

Pemeriksaan luar terhadap korban yang meninggal akibat listrik adalah sangat

penting karena justru kelainan yang menyolok adalah kelainan pada kulit. Dalam

pemeriksaan luar yang harus dicari adalah tanda-tanda listrik atau current mark =

electric mark = electric burn = stroomerk van jellink = joule burn.1, 2

Jenis-jenis electric mark antara lain lesi listrik fokal dan lesi spark burn (luka

bakar akibat percikan listrik). Lesi listrik fokal dan spark burn kadang bersebelahan.3

Electric mark fokal biasanya berupa bula (diameternya bisa bervariasi dari

beberapa millimeter hingga beberapa sentimeter), yang terjadi ketika konduktor

terkait bersentuhan dengan kulit secara erat, dan bula ini biasanya segera kempis

meninggalkan cekungan dengan tepi yang menonjol, dengan ciri khas kulit yang

tampak pucat (kadang putih), dan terdapat areola kepucatan (akibat vasokonstriksi

lokal), kadang disertai dengan tepi hiperemi. Bula yang besar biasanya terkelupas

dan meninggalkan dasar kemerahan.3

Jenis lain dari electric mark adalah spark burn (luka bakar percikan listrik),

ketika terdapat celah udara antara konduktor dengan kulit. Pada spark burn, terdapat

nodul sentral yang terbentuk dari keratin yang terfusi, berwarna coklat atau kuning,

dikelilingi areola kepucatan. Pada trauma listrik tegangan tinggi yang menyebabkan

20
spark burn, bisa terjadi spark burn multipel yang menyebabkan area kerusakan yang

luas, yang kadang disebut crocodile skin (kulit buaya) karena tampilannya.3

Figur. Crocodile skin akibat luka bakar multipel akibat busur listrik dengan tegangan tinggi yang
menyengat dari jarak yang cukup jauh.

Gambaran current mark berupa oval, berwarna kuning, coklat keputihan atau

kehitaman, atau abu-abu kekuningan dikelilingi daerah kemerahan dan edema

sehingga menonjol dari jaringan sekitarnya.1

Current mark adalah tanda untuk luka akibat listrik dan merupakan tempat

masuknya aliran listrik, berupa kerusakan kulit yang terletak pada titik kontak

dengan listrik, dan berupa nekrosis koagulasi. Current mark bervariasi dari derajat 1

sampai. tanda-tanda listrik tersebut adalah :1

1. Tanda listrik yang terkecil sebesar kepala jarum dengan warna kemerahan.

2. Tanda lain berupa gelembung berisi cairan seperti kulit setelah terkena api

rokok.

3. Tanda yang lebih berat yaitu kulit yang seperti terkena hangus arang, rambut

ikut terbakar, tulang dapat meleleh dengan pembentukan butir kapur ( kalk

parels ) yang terdiri dari calcium phosphate.

21
Panas yang ditimbulkan demikian besarnya hingga kawat listring menguap dan

mengkondesir di jaringan tubuh (metalisasi elektrik) karena ion-ion logam berekasi

dengan ion-ion asam di jaringan membentuk garam yang tersebar di jaringan,

menghasilkan warna sesuai dengan bahan logam yang ter-metalisasi (misalnya hitam

kecoklatan untuk besi, coklat kemerahan untuk tembaga, dan perah untuk

aluminium) dan tanda ini sangat membantu menegakkan bahwa korban telah

mengalami kekerasan listrik.

Figur. Electrical mark pada kulit: (a) bula yang kempis terbentuk setelah kontak erat
dengan konduktor; (b) spark burn akibat percikan listrik ke kulit.3

Diferensial diagnosis dari electrical burn adalah luka bakar kontak (contact burn).

Electrical burn pada tItik kontak dengan konduktor dapat berukuran sangat kecil

dengan tampilan yang tidak khas, atau bahkan tidak ada. Kontak listrik dengan luas

area yang luas dan permukaan yang basah kadang tidak tampak luka bakar akibat

listrik (electrical burn) sama sekali. Jika tampak electrical burn/mark, biasanya

22
tampak tanda-tanda cedera elektrotermik, antara lain: elevasi berbentuk seperti

kawah dengan depresi sentral; tepi berwarna pucat, seperti porcelain atau berwarna

seperti pualam; metalisasi.4

Figur. Diferensial diagnosis dari electrical burn adalah luka bakar kontak (contact burn).
Pada electrical burn terdapat tepi yang menonjol, dengan diskolorasi sentral.

Cara mencari current mark terutama pada telapak tangan dan kaki, dan sebelumnya

harus dicuci dahulu dengan sabun dan bila perlu disikat.1

Ketika terjadi kontak dengan tegangan tinggi dengan durasi lama, dapat tampak luka

bakar luas dan berat, namun pada kontak singkat terhadap peralatan listrik yang

bermasalah kemungkinan hanya meninggalkan sedikit tanda, dan bahkan bisa tidak

ditemukan tanda adanya pengaruh listrik sama sekali misalnya pada kontak kulit

basah dengan sumber listrik (misalnya saat mandi) karena jalur masuk dan keluarnya

aliran listrik begitu luasnya sehingga energi listrik tidak terfokus pada titik fokal

tertentu, sehingga tidak tampak lesi fokal. Terkadang bisa terdapat banyak titik

masuk yang jelas tampak, kadang hanya satu dan sukar diidentifikasi, namun karena

titik masuk aliran listrik pada kasus-kasus trauma listrik seringkali ada pada tangan,

maka tangan sangat penting untuk selalu diperiksa.3

23
Figur. Electrical mark multipel pada tangan, terkait bula dan luka bakar.

Figur. Tanda luka bakar akibat listrik tegangan rendah pada kaki.2

Figur. Trauma listrik tegangan rendah pada tangan (a), dan metalisasi kulit kaki (b).2

24
25
Pada kasus trauma listik fatal selama berendam, kadang dapat ditemukan kemerahan

linear halus setinggi permukaan air yang digunakan untuk berendam tersebut, namun

seluruh kasus kematian selama berendam perlu dicurigai adanya trauma listrik fatal

meskipun tidak ditemukan tanda-tanda apapun dengan atau tanpa ditemukan air yang

menggenang.4

26
Kadang meskipun korban awalnya selamat paska trauma listrik fatal, cedera

elektrotermal pada otot lurik dan jantung (terjadi kerusakan jaringan menyerupai

infark) dapat menyebabkan kematian nantinya akibat gagal multiorgan, meliputi

gagal ginjal.4

Pada trauma listrik tegangan tinggi, dapat terjadi kematian akibat kontak dengan

aliran listrik tegangan tinggi dalam waktu singkat sekalipun, yang bahkan bisa

disertai hanya sedikit kelainan yang dapat ditemukan pada korban, misalnya hanya

ditemukan electrical burn kecil yang sama dengan yang ditemui pada trauma listrik

tegangan rendah, dan temuan kecil ini pun kadang terlewatkan. Namun, trauma

listrik tegangan tinggi pada umumnya disertai temuan-temuan berikut, yang mana

keparahannya tergantung dari intensitas listriknya:4

 Sebagian besar berupa luka bakar derajat 3 ke daerah-daerah yang terpapar.

 Kemungkinan ditemukan bentukan “kaki gagak” (crow’s feet, yaitu area

berbentuk garis-garis dari kulit pada kantus mata yang tidak ikut terbakar pada

wajah yang terbakar akibat listrik), dapat disertai daerah-daerah serupa di tempat

lain pada wajah, dan ini merupakan tanda intravital pada kasus trauma listrik

tegangan tinggi dan trauma listrik akibat busur listrik.

 Dapat terjadi metalisasi, yang melibatkan lipatan-lipatan kulit di wajah, sehingga

menyerupai crow’s feet.

 Rambut kepala, bulu dan alis mata, dan rambut fasial kadang hangus.

 Tergantung durasi aliran listrik, dapat terjadi trauma termal berupa hangus arang,

dan rupture sendi.

27
 Butir-butir lelehan kalsium fosfat dari tulang.

 Pendarahan petekial pada konjungtiva, kulit wajah, mukosa saluran napas atas,

dan di bawah pleura dan epikardium kadang tampak. Tanda-tanda ini dapat

menandakan terjadinya asfiksia elektrik, akibat peningkatan tekanan intratoraks

akibat kontraksi otot-otot napas secara tetanik yang dipicu oleh aliran listrik.

Meskipun electrical burn kadang spesifik untuk trauma listrik fatal, ia bukan tanda

vitalitas kecuali ditemukan tanda reaksi seluler dan/atau pendarahan lokal, sehingga

kadang trauma listrik fatal merupakan diagnosis eksklusi.4

a. Pemeriksaan dalam

Secara internal, tidak ditemukan kelainan khas akibat trauma listrik fatal.3

Pada kasus-kasus kematian akibat trauma listrik domestik atau teknis, biasanya

tampak gambaran kematian mendadak. Fraktur, terbentuknya bone pearls dan cedera

traumatik lain dari organ dalam dapat terjadi pada trauma listrik tegangan tinggi.

Suatu tanda spesifik yang tampak pada beberapa kasus kematian akibat listrik

atmosferik adalah perforasi tympanum.2

Pada autopsi biasanya tidak ditemukan kelainan yang khas. Pada otak didapatkan

perdarahan kecil-kecil dan terutama paling banyak adalah pada daerah ventrikel III

dan IV. Organ jantung akan terjadi fibrilasi bila dilalui aliran listrik dan berhenti pada

fase diastole, sehingga terjadi dilatasi jantung kanan. Pada paru didapatkan edema

dan kongesti.

28
Pada korban yang terkena listrik tegangan tinggi, custer menemukan pada salah

satu puncak lobus paru terbakar, juga ditemukannya pneumothorax. Hal ini mungkin

sekali disebabkan oleh aliran listrik yang melalui paru kanan.

Organ visceral menunjukan kongesti yang merata. Ptechie atau perdarahan

mukosa gastro intestinal ditemukan pada 1 dari 100 kasus fatal akibat listrik. Pada

hati didapatkan lesi yang tidak pas. Sedangkan pada tulang, karena tulang mempunyai

tahanan listrik yang besar, maka apabila ada aliran listrik terjadi panas, sehingga

tulang meleleh dan terbentuklah butiran-butiran calcium phosphate yang menyerupai

mutiara atau pearl like bodies.

b. Pemeriksaan tambahan

Lesi kulit akibat trauma listrik biasanya bersifat trauma termis. Namun tampilan

histologis dinilai bervariasi terkait spesifisitasnya terhadap trauma listrik. Telah

dinyatakan bahwa inti-inti sel tersusun sejajar akibat medan listriknya, namun hal ini

dapat juga terjadi pada luka bakar murni.3

Pemeriksaan tambahan yang dilakukan adalah pemeriksaan PA pada current

mark. Walaupun pemeriksaan itu tidak spesifik untuk tanda kekerasan oleh listrik,

tetapi sangat menolong untuk menegakkan bahwa korban mendapatkan kekerasan

dengan listrik. Pada pemeriksaan histopatologis, dapat ditemukan:1,2,4

1. Ada bagian sel yang memipih, dan berwarna lebih gelap dari normal jika

diwarnai dengan hematoxylin eosin.

2. Sel-sel di stratum korneum menggelembung dan vakum.

3. Sel-sel dan inti-inti sel dari stratum basalis menjadi lonjong dan tersusun secara

palisade.

29
4. Identifikasi ada tidaknya metalisasi bisa dibantu dengan analisis spektrografik

ataupun analisis histologis.

5. Tepi menonjol pada luka bakar akibat listrik dapat timbul bula yang tampak

seperti sarang tawon (honeycomb pattern) secara histologis.

6. Sel yang mengalami karbonisasi dan sel-sel yang rusak dari stratum korneum.

7. kadang terbentuk retakan atau fisura pada perbatasan dengan epidermis, kadang

sampai terjadi pelepasan seluruh stratum korneum.

8. Pembuluh darah dermis menunjukkan berbagai perubahan, antara lain spasme,


paresis beberapa pembuluh darah, dan pembuluh darah lain tampak kosong

tanpa darah atau berisi hemolisat

Selain sampel kulit pada electrical burn, sampel kulit di sekitar electrical burn juga

perlu diambil untuk dilakukan analisis, karena kadang partikel logam juga

ditemukan pada kulit (misalnya partikel logam tembaga) pada seseorang meskipun

tidak terjadi trauma listik fatal, misalnya pada kulit seorang teknisi listrik.4

30
Perubahan-perubahan mikroskopis pada organ-organ dalam akibat trauma listrik

meliputi:2

 Pada otak: edema sekitar sel dan pembuluh darah, pendarahan-pendarahan fokal

di sekitar pembuluh darah, vakuolisasi dan karyolisis dari sel-sel pyramidal.

Tidak ditemukan perubahan-perubahan spesifik pada neuron.

 Pada myocardium: dilatasi pembuluh darah, sianosis hingga stasis, pendarahan

fokal, edema interstisial, fragmentasi serabut otot. Kadang gambaran cross

striation myokard hilang. Terdapat foki nekrosis kecil-kecil tetapi multipel pada

myokard.

 Pada paru: bronkospasme dengan edema epitel, edema interstisial, pendarahan

fokal, dan gangguan sirkulasi.

 Pada dinding-dinding pembuluh darah: daerah-daerah kerusakan pada intima

mungkin ditemukan, dengan perubahan nekrotik pada otot-otot polos dari

lapisan medium, yang cenderung terjadi thrombosis.

31
 Pada ginjal: edema mukosa pelvis, edema epitel saluran-saluran ginjal,

homogenisasi dan deskuamasi, dan perubahan sirkulasi yang serupa dengan

temuan-temuan di organ-organ dalam lainnya.

 Pada hepar: perubahan-perubahan nekrotik fokal pada hepatosit, dan syanosis

pembuluh darah dengan pendarahan-pendarahan fokal di sekitar pembuluh

darah.

E. Busur Listrik

Busur listrik adalah aliran listrik kontinu dengan densitas tinggi antara dua konduktor

terpisah dalam gas atau uap dengan perbedaan voltase yang relatif kecil antara konduktor

satu dengan yang lain tersebut. Jarak loncatan listrik dari busur listrik tersebut dapat

berjarak beberapa sentimeter hingga 1 meter, tergantung kuat arus listriknya.2

Pada trauma listrik tegangan tinggi, terjadinya aliran listrik melalui korban tidak perlu

melalui kontak langsung antara korban dan konduktor, melainkan dapat melalui terjadinya

busur listrik antara konduktor bertegangan tinggi dengan korban (busur listrik dari

konduktor bertegangan 10.000 Volt dapat menyengat korban yang letaknya beberapa

sentimeter dari konduktor, atau beberapa desimeter dari konduktor jika konduktornya

bertegangan 100.000 Volt), dan busur listrik ini merupakan suatu bentuk listrik dengan

intensitas tinggi, dengan derajat suhu dan cahaya yang tinggi dan ekstrim. Korban busur

listrik tampak mengalami hangus arang pada ekstremitas yang terkena, dan kontorsi

konvulsif pada otot-otot fasial (kelopak mata dapat tertutup).4

32
33
F. Petir Sebagai Pelepasan Energi

Petir adalah pelepasan muatan listrik mendadak dan sementara di atmosfir di antara

awan-awan, dengan ciri khas berupa kuat arus berkisar ratusan ribu Ampere, dan voltase

mencapai beberapa juta Volt, dalam durasi yang sangat singkat (< 0,0001 detik). Petir

memiliki efek mekanik, cahaya, termal, dan akustik yang dapat merusak.2 Meskipun jarang

terjadi, trauma listrik akibat sambaran petir (bertegangan beberapa juta Volt, yang

dihantarkan dalam waktu < 10-6 detik) memiliki laju mortalitas sebesar 40%. Cairan pada

benda-benda lembab pada jalur yang dilalui sambaran petir akan menguap, sementara cedera

termal dan mekanik juga dapat terjadi.4

Ratusan kematian terjadi per tahun akibat petir, terutama di negara-negara tropis. Lesi-

lesi pada orang yang tersambar petir secara langsung ataupun berada dekat dengan sambaran

petir terjadi akibat trauma listrik itu sendiri, atau dari efek eksplosif akibat kompresi udara

panas yang menyebabkan pecahnya membran timpani, cedera ledakan pada paru, dan

nekrosis otot atau myoglobinuria. Berbagai macam temuan dapat terjadi, terutama

terkoyaknya seluruh atau sebagian pakaian, yang dapat menimbulkan kecurigaan adanya

kekerasan. Luka bakar berat, fraktur, luka sobek, magnetisasi, dan metalisasi logam ke baju

dapat terjadi.

Dapat pula terjadi Lichtenberg figure (gambaran berpola seperti cabang-cabang atau

tanaman paku pada kulit), namun garis-garis merah sejalan dengan lipatan-lipatan kulit atau

kulit yang terbasahi keringat lebih cenderung terjadi, tetapi banyak jasad yang sama sekali

tidak ditemukan tanda-tanda tersebut.3 Fern-like injury (arborescent erythema, atau

Lichtenberg figure) merupakan suatu bentuk cedera yang disebabkan sambaran petir,

34
disebabkan oleh hyperemia pembuluh-pembuluh darah kecil dermis, dan menghilang dalam

beberapa jam postmortem. Titik masuk listrik sambaran petir ke tubuh pada kasus yang fatal

biasanya melalui kepala korban. Kadang dapat ditemukan luka bakar luas dan linear pada

dada tubuh dan anggota gerak bawah, dapat disertai metalisasi, baju yang terbakar dan/atau

terkoyak atau mengalami metalisasi dari aksesoris logam korban (misalnya jam tangan,

bagian dari sabuk logam, cincin, ataupun anting-anting), dan robekan atau lubang pada alas

kaki seperti yang ditemukan pada –trauma-trauma listrik tegangan tinggi.4

Figur. Lichtenberg figure berupa diskolorasi kulit berpola seperti tanaman paku atau cabang-cabang.

35
Petir yang diketahui secara umum adalah pelepasan energy potensial atmosfer diantara awan-

awan. Sedangkan serangan petir (lighting stroke) adalah pelepasan energi potensial antara

awan dan bumi. Petir dapat menimbulkan kejutan listrik dengan beberapa cara, antara lain :

1. Efek langsung, apabila korban terkena petir secara langsung, maka korban tidak dapat

dielakkan meninggal.

2. Efek tidak langsung, apabila korban berada ditempat dimana alian listrik petir telah

terpancar, korban dapat meninggal.

3. Induksi tegangan, apabila korban berada disekitar benda logam yang terinduksi oleh

cahaya petir, biasanya korban dapat hidup.

4. Apabila korban berhubungan dengan alat-alat listrik rumah tangga, seperti setrika

listrik, saklar listrik atau antenna radio pada saat terdpat petir.

Meskipun kasus terkena petir ini jarang, namun gambaran akibat serangan petir dapat

bermacam macam, karena ada beberapa factor yang mempengaruhi, yaitu :1, 2

1. Efek langsung dari pelepsan energi listrik

Pelepasan energy listrik yang mengalir ke bumi dapat menyebabkan kematian

korban akibat listrik bumi. Pada korban yang terkena petir akan ditemukan tanda

korban meninggal akibat listrik.

Petir bertegangan tinggi sekali, dapat mencapai jutaan Volt, dan memiliki

intensitas yang tinggi sampai ribuan ampere, sehingga dapat menimbulkan panas

hingga membakar korban, metalisasi perhiasan yang korban gunakan, dan mematikan

arlojo yang korban gunakan sehingga dapat dipakai menentukan jam terjadinya

sambaran petir.

36
Pada kulit korban ditemukan gambaran pohon gundul yang disebut arborescent

marking (Lichtenberg atau lightning figure), yang diakibatkan vasodilatasi venulae

korban yang tersentuh petir.

Lightning figures merupakan dilatasi paralitik dari pembuluh-pembuluh darah

subkutan, dengan bentuk seperti pohon atau tanaman paku, pada jalur arus listrik pada

tubuh pada kasus orang yang terkena listrik atmosferik.

2. Efek mekanik

Efek ini terjadi karena dorongan udara yang mendesak sekitar cahaya petir akibat

panas.

3. Efek kompresi

Waktu terjadi petir maka udara yang dilalui dipindahkan, kemudian tempat yg

vacuum itu di isi oleh udara lagi, sehingga terjadi suara yang menggelegar. Di sini

korban akan terlempar dari tempat semula, pakaian akan menjadi koyak dan kotor,

sehingga sering korban dianggap gelandangan. Kelainan yang didapat adalah

merupakan luka akibat persentuhan dengan benda tumpul. Pada kulit dapat terjadi

abrasion, contusio, dan avulsio. Pada kepala dapat terjadi fraktur tengkorak, epidural

bleeding, subdural bleeding, contusio, dan laceracio otak. Dapat dijumpai patah

tulang anggota gerak atas maupun bawah.

Bila korban tidak meninggal dapat mengalami kelumpuhan, ketulian, dan

kebutaan. Pada wanita haid dapat berhenti. Gejala-gejala tersebut bersifat sementara.

Cara kematian adlah pasti kecelakaan, sedangkan pembunuhan dan bunuh diri adalah

tidak mungkin. Akan tetapi yang perlu diperhatikan adalah pada waktu pemeriksaan

korban apakah korban meninggal karena petir atau bukan.

37
Meskipun resusitasi segera setelah tersambar petir dapat berhasil, luas luka bakar dan

kerusakan organ dalam akan menentukan prognosis lanjutannya. Derajat dan durasi defisit

neurologis (misalnya aphasia, buta sementara, gangguan menelan dan bicara, paraplegia spastik

pada kaki, paralisis temporer, dan cedera serebelar yang reversibel dalam 1 tahun paska trauma

listrik) mendominasi gambaran klinis korban yang selamat dari sambaran petir. Selain

konsekuensi fatal yang bisa disebabkan oleh kematian serebral atau kardiak akut setelah

tersambar petir, nekrosis myokardial atau bronkopneumonia fulminant dapat menyebabkan

kematian yang terlambat meskipun resusitasi awalnya berhasil. Gagal ginjal akut dapat terjadi,

tergantung dari keparahan cedera jaringan yang terjadi.

38
DAFTAR PUSTAKA

1. Mertodidjojo MS. Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal, Edisi Ketujuh. Departemen
Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Airnlangga,
Surabaya; 2010. Halaman 59 – 68.
2. Gonzales, TA Helpem M. Umberger, CJ, “Legal Medicine Pathology and toxicology’, 2nd ed.
New York appleton Centuri Crots Inc. 1954.
3. Payne-James J, Jones R, Karch SB, Manlove J. Simpson’s Forensic Medicine, 13th edition.
Hodder and Stoughton Ltd, Inggris Raya; 2011. Hal 178-180.
4. Dettmeyer RB, Verhoff MA, Schütz HF. Forensic Medicine: Fundamentals and
Perspectives. Springer, Berlin; 2014. Hal 213-221.

39