Anda di halaman 1dari 6

Aleppo kembali membara! Begitu kabar berita beberapa hari terakhir.

Sebuah
kota yang juga bagian penting dalam denyut nadi perekonomian Suriah dimasa
damai, berganti menjadi sebuah kota yang memproduksi aneka kisah tragedi
kemanusiaan yang memilukan. Menurut Anadolu Agency, tercatat sebanyak 7.500 orang
meninggalkan Aleppo dan kini berstatus sebagai pengungsi. Hingga kini, belum jelas
mau kemana para pengungsi ini hendak pergi.
Suriah adalah negara yang dilanda krisis perang ditahun 2011, setelah Timur Tengah
memasuki fase ‘musim semi Arab’. Yaitu sebuah fase yang ditandai runtuhnya rezim-
rezim anti-demokrasi, seperti Housni Mubarak di Mesir, Zainal Ben Ali di Tunisia, atau
Muamar Khadafy di Libia, termasuk Suriah, dikarenakan protes massal dari warga
negaranya yang jengah dengan kehidupan semasa rezim tiran itu berkuasa.

Jika agenda demokratisasi di Mesir, Tunisia, dan Libya berhasil menggulingkan


kekuasaan para tiran tersebut, maka hal itu tidak bekerja dengan baik di Suriah.
Basher Al Assad, Presiden Suriah, dengan menggunakan kekuatan militernya,
membungkam gerakan pro-demokrasi di negaranya, yang menyebabkan Suriah
semakin hari semakin buruk kondisinya. Sebab, kelompok pro-demokrasi merespon
tindakan Assad dengan memberikan perlawan militer yang tak kalah sengitnya.
Setidaknya, ada ratusan bahkan ribuan WNI Indonesia berada di Suriah. Baik karena alasan
study maupun karena keperluan bisnis. Hal ini seharusnya menjadi perhatian serius
pemerintahan Joko Widodo, minimal, memastikan bahwa para WNI tersebut berstatus
aman di daerah konflik tersebut, dan pemerintah bisa mencari solusi agar para WNI
tersebut bisa menemukan jalan keluar untuk kembali pulang ke Indonesia dengan proses
yang aman.

Lebih jauh, melalui kedutaan besar Indonesia yang ada di Suriah, harus terus memantau
perkembangan krisis Suriah agar para WNI yang berada di Suriah itu tidak terprovokasi
untuk menjadi bagian dari konflik berdarah tersebut. Misalnya, terlibat dan bahkan menjadi
bagian dari pengikut ISIS, memposisikan diri sebagai ‘pejuang jihad’, sehingga
menginspirasi anak-anak muda Indonesia untuk turut ambil bagian juga dalam krisis ini.
Bukan tidak mungkin para simpatisan ISIS ini menyebarkan pemahaman radikal ISIS ke
Indonesia melalui berbagai macam sarana sosial media yang hari ini sedemikian canggih,
salah satunya youtube.
Indonesia sebagai Negara muslim terbesar di dunia, seharusnya mengambil peran yang
lebih aktif untuk mendorong otoritasdunia, seperti PBB agar mampu memaksa para pihak
yang terlibat krisis ini segera masuk kepada bab utamanya; Solusi Damai. Indonesia juga
dapat menggunakan koneksi di Organisasi Kerjasama Islam (OKI) untuk merumuskan
solusi damai kepada kedua belah pihak yang bertikai. Selain itu, Indonesia lebih dari layak
untuk menjadi tuan rumah pertemuan antara pihak-pihak yang bertikai, untuk mencapai
kata sepakat berdamai, sebagaimana yang diperankan Norwegia ketika menjadi host yang
netral ketika Pemerintahan Indonesia bernegosiasi dengan GAM kala konflik dulu.
Peran aktif Indonesia agar berpartisipasi lebih dalam mengusahakan
perdamaian di Aleppo, dan Suriah umumnya, merujuk pada pembukaan UUD
1945 alinea pertama yang berbunyi, “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah
hak segala bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan
karena tidak sesuai dengan perikemanusian dan perikeadilan.” Selanjutnya, kita juga
bisa melihat landasan konstitusional agar Indonesia berpartisipasi aktif
dalam tata ketertiban dunia pada Alinea keempat yang menyatakan bahwa,
“…ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian
abadi dan keadilan sosial”.
Sudah lama kita menginginkan Indonesia agar tidak sekedar bergelut dengan
masalah-masalah dalam negeri saja, sehingga membuat kita sedikit abai
dengan keadaan saudara-saudara kita di luar sana, salah satunya di Aleppo,
Suriah. Padahal, dunia memiliki ekspektasi yang tinggi kepada kita sebagai
sebuah bangsa yang besar. Terlebih, identitas kita yang mewakili mayoritas
ummat islam di dunia. Sudah seharusnya kita menjadi “the big brother”
dengan secara konstan ambil bagian dalam setiap usaha “ketertiban dunia, dan
perdamaian abadi” sehingga visi besar itu bisa terealisasi menjadi nyata.