Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PENDAHULUAN

GANGGUAN PSIKOSOSIAL (DIAGNOSA RESIKO)

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Jiwa


Dalam Praktek Klinik Keperawatan

Disusun oleh:

WAHYU SUDANA
4006180030

PROGRAM PROFESI NERS

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN DHARMA HUSADA


BANDUNG
2019

LAPORAN PENDAHULUAN
A. KASUS ANSIETAS
1. DEFINISI
Ansietas adalah keadaan dimana individu/kelompok mengalami perasaan gelisah
(penilaian atau opini) dan aktivasi sistem saraf otonom dalam merespon terhadap
ancaman yang tidak jelas, non spesifik (Linda Juall Carpenito, Edisi 8).
Ansietas adalah kekhawatiran yang tidak jelas menyebar dialam dan terkait dengan
perasaan ketidakpastian dan ketidakberdayaan perasaan isolasi, keterasingan dan
ketidakamanan juga hadir (Stuart dan Laraia, 2010). Ansietas merupakan alat peringatan
internal yang memberikan tanda bahaya kepada individu.
Sisi negatif ansietas atau sisi yang membahayakan ialah rasa khawatir yang
berlebihan tentang masalah yang nyata atau potensial. Hal ini menghabiskan tenaga,
menimbulkan rasa takut, dan menghambat individu melakukan fungsinya dengan adekuat
dalam situasi interpersonal, situasi kerja, dan situasi sosial. Diagnosis gangguan ansietas
ditegakkan ketika ansietas tidak lagi berfungsi sebagai tanda bahaya, melainkan menjadi
kronis dan mempengaruhi sebagian besar kehidupan individu sehingga menyebabkan
perilaku maladaptif dan disabilitas emosional. Misalnya, diagnosis gangguan ansietas
umum ditegakkan ketika individu selalu khawatir tentang sesuatu atau semua hal tanpa
alasan yang nyata, merasa gelisah, lelah, dan tegang, serta sulit berkonsentrasi selama
sekurang-kurangnya enam bulan terakhir. Makalah ini berfokus pada gangguan ansietas
yang menyebabkan ansietas yang ekstrenm dan melemahkan, yang mengganggu
kehidupan sehari-hari individu.

2. TANDA DAN GEJALA


Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan oleh orang yang mengalami ansietas
(Hawari, 2008), sebagai berikut:
a. Cemas, khawatir, firasat buruk, takut akan pikirannya sendiri, mudah tersinggung.
b. Merasa tegang, tidak senang, gelisah, mudah terkejut
c. Takut sendirian, takut pada keramaian dan banyak orang
d. Gangguan pola tidur, mimpi-mimpi yang menegangkan
e. Gangguan konsentrasi dan daya ingat
f. Keluhan-keluhan somatic, misalnya rasa sakit pada otot dan tulang, pendengaran
berdenging (tinitus), berdebar-debar, sesak nafas, gangguan pencernaan, gangguan
perkemihan, sakit kepala dan sebagainya.

3. TINGKATAN
Ansietas memiliki dua aspek yakni aspek yang sehat dan aspek membahayakan, yang
bergantung pada tingkat ansietas, lama ansietas yang dialami, dan seberapa baik individu
melakukan koping terhadap ansietas. Menurut Peplau (dalam, Videbeck, 2008) ada empat
tingkat kecemasan yang dialami oleh individu yaitu ringan, sedang, berat dan panik :
a. Ansietas ringan
Perasaan bahwa ada sesuatu yang berbeda dan membutuhkan perhatian khusus.
Stimulasi sensori meningkat dan membantu individu memfokuskan perhatian untuk
belajar, menyelesaikan masalah, berpikir, bertindak, merasakan, dan melindungi diri
sendiri. Menurut Videbeck (2008), respons dari ansietas ringan adalah sebagai
berikut:
1) Respons fisik
 Ketegangan otot ringan
 Sadar akan lingkungan
 Rileks atau sedikit gelisah
 Penuh perhatian
 Rajin
2) Respon kognitif
 Lapang persepsi luas
 Terlihat tenang, percaya diri
 Perasaan gagal sedikit
 Waspada dan memperhatikan banyak hal
 Mempertimbangkan informasi
 Tingkat pembelajaran optimal
3) Respons emosional
 Perilaku otomatis
 Sedikit tidak sadar
 Aktivitas menyendiri
 Terstimulasi
 Tenang
b. Ansietas sedang
Merupakan perasaan yang menggangu bahwa ada sesuatu yang benar-benar berbeda;
individu menjadi gugup atau agitasi. Memusatkan pada hal yang penting dan
mengesapingkan yang lain, sehinggga seseorang mengalami perhatian yang selektif.
Menurut Videbeck (2008), respons dari ansietas sedang adalah sebagai berikut :
1) Respon fisik :
 Ketegangan otot sedang
 Tanda-tanda vital meningkat
 Pupil dilatasi, mulai berkeringat
 Sering mondar-mandir, memukul tangan
 Suara berubah : bergetar, nada suara tinggi
 Kewaspadaan dan ketegangan menigkat
 Sering berkemih, sakit kepala, pola tidur berubah, nyeri punggung
2) Respons kognitif
 Lapang persepsi menurun
 Tidak perhatian secara selektif
 Fokus terhadap stimulus meningkat
 Rentang perhatian menurun
 Penyelesaian masalah menurun
 Pembelajaran terjadi dengan memfokuskan
3) Respons emosional
 Tidak nyaman
 Mudah tersinggung
 Kepercayaan diri goyah
 Tidak sabar
 Gembira

c. Ansietas berat
Cenderung memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik dan tidak dapat
berpikir tentang hal lain. Ada sesuatu yang berbeda dan ada ancaman,
memperlihatkan respons takut dan distress. Menurut Videbeck (2008), respons dari
ansietas berat adalah sebagai berikut :
1) Respons fisik
 Ketegangan otot berat
 Hiperventilasi
 Kontak mata buruk
 Pengeluaran keringat meningkat
 Bicara cepat, nada suara tinggi
 Tindakan tanpa tujuan dan serampangan
 Rahang menegang, mengertakan gigi
 Mondar-mandir, berteriak
 Meremas tangan, gemetar
2) Respons kognitif
 Lapang persepsi terbatas
 Proses berpikir terpecah-pecah
 Sulit berpikir
 Penyelesaian masalah buruk
 Tidak mampu mempertimbangkan informasi
 Hanya memerhatikan ancaman
 Preokupasi dengan pikiran sendiri
 Egosentris
3) Respons emosional
 Sangat cemas
 Agitasi
 Takut
 Bingung
 Merasa tidak adekuat
 Menarik diri
 Penyangkalan
 Ingin bebas
d. Tingkat panik
Individu kehilangan kendali dan detail perhatian hilang, karena hilangnya kontrol,
maka tidak mampu melakukan apapun meskipun dengan perintah. Peningkatan
aktifitas motorik, menurunnya kemampuan berhubungan dengan orang lain, persepsi
menyimpang, kehilangan pemikiran rasional. Menurut Videbeck (2008), respons dari
panik adalah sebagai berikut :
1) Respons fisik
 Flight, fight, atau freeze
 Ketegangan otot sangat berat
 Agitasi motorik kasar
 Pupil dilatasi
 Tanda-tanda vital meningkat kemudian menurun
 Tidak dapat tidur
 Hormon stress dan neurotransmiter berkurang
 Wajah menyeringai, mulut ternganga
2) Respons kognitif
 Persepsi sangat sempit
 Pikiran tidak logis, terganggu
 Kepribadian kacau
 Tidak dapat menyelesaikan masalah
 Fokus pada pikiran sendiri
 Tidak rasional
 Sulit memahami stimulus eksternal
 Halusinasi, waham, ilusi mungkin terjadi
3) Respon emosional
 Merasa terbebani
 Merasa tidak mampu, tidak berdaya
 Lepas kendali
 Mengamuk, putus asa
 Marah, sangat takut
 Mengharapkan hasil yang buruk
 Kaget, takut
 Lelah

4. RENTANG RESPON
5. FAKTOR PREDISPOSISI
Stressor predisposisi adalah semua ketegangan dalam kehidupan yang dapat
menyebabkan timbulnya kecemasan (Suliswati, 2010). Ketegangan dalam kehidupan
tersebut dapat berupa:
a. Peristiwa traumatik, yang dapat memicu terjadinya kecemasan berkaitan dengan
krisis yang dialami individu baik krisis perkembangan atau situasional.
b. Konflik emosional, yang dialami individu dan tidak terselesaikan dengan baik.
Konflik antara id dan superego atau antara keinginan dan kenyataan dapat
menimbulkan kecemasan pada individu.
c. Konsep diri terganggu akan menimbulkan ketidakmampuan individu berpikir secara
realitas sehingga akan menimbulkan kecemasan.
d. Frustasi akan menimbulkan rasa ketidakberdayaan untuk mengambil keputusan yang
berdampak terhadap ego.
e. Gangguan fisik akan menimbulkan kecemasan karena merupakan ancaman terhadap
integritas fisik yang dapat mempengaruhi konsep diri individu.
f. Pola mekanisme koping keluarga atau pola keluarga menangani stress akan
mempengaruhi individu dalam berespon terhadap konflik yang dialami karena pola
mekanisme koping individu banyak dipelajari dalam keluarga.
g. Riwayat gangguan kecemasan dalam keluarga akan mempengaruhi respons individu
dalam berespons terhadap konflik dan mengatasi kecemasannya.
h. Medikasi yang dapat memicu terjadinya kecemasan adalah pengobatan yang
mengandung benzodizepin, karena benzodiazepine dapat menekan neurotransmiter
gamma amino butyric acid (GABA) yang mengontrol aktivitas neuron di otak yang
bertanggung jawab menghasilkan kecemasan.

6. FAKTOR PRESIPITASI
Stresor presipitasi adalah semua ketegangan dalam kehidupan yang dapat
mencetuskan timbulnya kecemasan (Suliswati, 2010). Stressor presipitasi kecemasan
dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu :
a. Ancaman terhadap integritas fisik. Ketegangan yang mengancam integritas fisik yang
meliputi :
1) Sumber internal, meliputi kegagalan mekanisme fisiologis sistem imun, regulasi
suhu tubuh, perubahan biologis normal (misalnya : hamil).
2) Sumber eksternal, meliputi paparan terhadap infeksi virus dan bakteri, polutan
lingkungan, kecelakaan, kekurangan nutrisi, tidak adekuatnya tempat tinggal.
b. Ancaman terhadap harga diri meliputi sumber internal dan eksternal.
1) Sumber internal : kesulitan dalam berhubungan interpersonal di rumah dan tempat
kerja, penyesuaian terhadap peran baru. Berbagai ancaman terhadap integritas
fisik juga dapat mengancam harga diri.
2) Sumber eksternal : kehilangan orang yang dicintai, perceraian, perubahan status
pekerjaan, tekanan kelompok, sosial budaya.

7. MEKANISME KOPING
Kemampuan individu menanggulangi kecemasan secara konstruksi merupakan faktor
utama yang membuat klien berperilaku patologis atau tidak. Bila individu sedang
mengalami kecemasan ia mencoba menetralisasi, mengingkari atau meniadakan
kecemasan dengan mengembangkan pola koping. Pada kecemasan ringan, mekanisme
koping yang biasanya digunakan adalah menangis, tidur, makan, tertawa, berkhayal,
memaki, merokok, olahraga, mengurangi kontak mata dengan orang lain, membatasi diri
pada orang lain (Suliswati, 2010). Mekanisme koping untuk mengatasi kecemasan
sedang, berat dan panik membutuhkan banyak energi. Menurut Suliswati (2010),
mekanisme koping yang dapat dilakukan ada dua jenis, yaitu:
a. Reaksi yang berorientasi pada tugas. Tujuan yang ingin dicapai dengan melakukan
koping ini adalah individu mencoba menghadapi kenyataan tuntutan stress dengan
menilai secara objektif ditujukan untuk mengatasi masalah, memulihkan konflik dan
memenuhi kebutuhan.
1) Perilaku menyerang digunakan untuk mengubah atau mengatasi hambatan
pemenuhan kebutuhan.
2) Perilaku menarik diri digunakan baik secara fisik maupun psikologik untuk
memindahkan seseorang dari sumber stress.
3) Perilaku kompromi digunakan untuk mengubah cara seseorang mengoperasikan,
mengganti tujuan, atau mengorbankan aspek kebutuhan personal seseorang.
b. Reaksi berorientasi pada ego. Koping ini tidak selalu sukses dalam mengatasi
masalah. Mekanisme ini seringkali digunakan untuk melindungi diri, sehingga
disebut mekanisme pertahanan ego diri biasanya mekanisme ini tidak membantu
untuk mengatasi masalah secara realita. Untuk menilai penggunaan makanisme
pertahanan individu apakah adaptif atau tidak adaptif, perlu di evaluasi hal-hal berikut
:
1) Perawat dapat mengenali secara akurat penggunaan mekanisme pertahanan klien.
2) Tingkat penggunaan mekanisme pertahanan diri terebut apa pengaruhnya
terhadap disorganisasi kepribadian.
3) Pengaruh penggunaan mekanisme pertahanan terhadap kemajuan kesehatan klien.
4) Alasan klien menggunakan mekanisme pertahanan.

B. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA FOKUS PENGKAJIAN


1. PENGKAJIAN
Ansietas dapat diekspresikan secara langsung melalui perubahan fisiologis dan
perilaku. Secara tidak langsung melalui timbulnya gejala atau mekanisme koping sebagai
upaya untuk melawan ansietas. Intensitas perilaku akan meningkat sejalan dengan
peningkatan tingkat ansietas. Masalah yang sering muncul pada gangguan ansietas adalah
sebagai berikut:
a. Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
b. Gangguan perilaku; kecemasan
c. Koping individu tak efektif

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Ansietas (Kecemasan)
3. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
NO STRATEGI PELAKSANAAN KETERANGAN
SP 1 PASIEN: Asessmen Ansietas dan Latihan Relaksasi
1. Bina hubungan saling percaya a. Mengucapkan salam terapeutik,
memperkenalkan diri, panggil pasien
sesuai nama panggilan yang disukai
b. Menjelaskan tujuan interaksi: melatih
pengendalian ansietas agar proses
penyembuhan lebih cepat

2. Membuat kontrak (Inform


Consent) dua kali pertemuan
latihan pengendalian ansietas

3. Bantu pasien mengenal ansietas: a. Bantu pasien untuk mengidentifikasi


dan menguraikan perasaannya.
b. Bantu pasien mengenal penyebab
ansietas
c. Bantu klien menyadari perilaku akibat
ansietas

4. Latih teknik relaksasi a. Tarik napas dalam


b. Mengerutkan dan mengendurkan otot-
otot

SP 2 PASIEN: Evaluasi asessmen ansietas, manfaat teknik relaksasi dan latihan


hipnotis diri sendiri (latihan 5 jari) dan kegiatan spiritual
1. Pertahankan rasa percaya pasien a. Mengucapkan salam dan memberi
motivasi
b. Asesmen ulang ansietas dan
kemampuan melakukan teknik
relaksasi

2. Membuat kontrak ulang: latihan


pengendalian ansietas

3. Latihan hipnotis diri sendiri


(lima jari) dan kegiatan spiritual

SP 1 KELUARGA: Penjelasan kondisi pasien dan cara merawat


1. Bina hubungan saling percaya a. Mengucapkan salam terapeutik,
memperkenalkan diri
b. Menjelaskan tujuan interaksi:
menjelaskan ansietas pasien dan cara
merawat agar proses penyembuhan
lebih cepat
2. Membuat kontrak (inform
consent) dua kali pertemuan
latihan cara merawat ansietas
pasien

3. Bantu keluarga a. Menjelaskan ansietas, penyebab, proses


mengenal
ansietas terjadi, tahap dan gejala, serta
akibatnya
b. Menjelaskan cara merawat ansietas
pasien: tidak menambah masalah
(stres) dengan sikap positif, memotivasi
cara relaksasi yg telah dilatih perawat
pada pasien
c. Sertakan keluarga saat melatih teknik
relaksasi pada pasien dan minta untuk
memotivasi pasien melakukannya
SP 2 KELUARGA : Evaluasi peran keluarga merawat pasien, cara merawat dan
follow up
1. Pertahankan rasa percaya
keluarga dengan mengucapkan
salam, menanyakan peran
keluarga merawat pasien &
kondisi pasien

2. Membuat kontrak ulang: latihan


lanjutan cara merawat dan
follow up

3. Menyertakan keluarga saat


melatih pasien hipnotis diri
sendiri (lima jari) dan kegiatan
spiritual

4. Diskusikan dengan keluarga


follow up dan kondisi pasien
yang perlu dirujuk (lapang
persepsi menyempit, tidak
mampu menerima informasi,
tanda-tanda fisik semakin
meningkat) dan cara merujuk
pasien
LAPORAN PENDAHULUAN

A. KASUS GANGGUAN CITRA TUBUH


1. DEFINISI
Citra tubuh adalah integrasi persepsi, pikiran dan perasaan individu tentang bentuk,
ukuran, berat tubuh dan fungsi tubuh serta bagian-bagiannya yang digambarkan dalam
bentuk penampilan fisik (Fontaine, 2009). Citra tubuh adalah kumpulan dari sikap
individu yang disadari dan tidak disadari terhadap tubuhnya termasuk persepsi masa lalu
dan sekarang, serta perasaan tentang ukuran, fungsi, penampilan dan potensi tubuh
(Stuart-Laraia, 2008).
Gangguan citra tubuh adalah perasaan tidak puas terhadap perubahan bentuk, struktur
dan fungsi tubuh karena tidak sesuai dengan yang diinginkan (Stuart-Laraia, 2008).
Gangguan Citra tubuh adalah kebingungan diri dalam cara memandang dan menerima
gambaran tubuh (Nanda, 2010).
Gangguan Citra tubuh adalah kebingungan secara mental dalam memandang fisik diri
sendiri (Nanda, 2010).

2. TANDA DAN GEJALA


Menurut Harnawatiaj (2008), tanda dan gejala gangguan citra tubuh sebagai berikut:
a. Menolak melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah
b. Tidak menerima perubahan tubuh yang telah terjadi/akan terjadi
c. Menolak penjelasan perubahan tubuh
d. Persepsi negatif pada tubuh
e. Mengungkapkan keputusasaan
f. Mengungkapkan ketakutan.

3. FAKTOR PREDISPOSISI
Adanya riwayat :
a. Biologis
Penyakit genetik dalam keluarga, Pertumbuhan dan perkembangan masa bayi, anak
dan remaja, Anoreksia, bulimia, atau berat badan kurang atau berlebih dari berat
badan ideal, perubahan fisiologi pada kehamilan dan penuaan, pembedahan elektif
dan operasi, trauma, penyakit atau gangguan organ dan fungsi tubuh lain ; Stroke,
Kusta, Asthma dan lain-lain, pengobatan atau kemoterapi, penyalahgunaan obat atau
zat ; coccaine, Amphetamine, Halusinogen dan lain-lain.
b. Psikologis
Gangguan kemampuan verbal, konflik dengan nilai masyarakat, pengalaman masa
lalu yang tidak menyenangkan, ideal diri tidak realistis.
c. Sosial budaya
Pendidikan masih rendah, masalah dalam pekerjaan, nilai budaya bertentangan
dengan nilai individu, pengalaman sosial yang tidak menyenangkan, kegagalan peran
sosial.

4. FAKTOR PRESIPITASI
a. Trauma
b. Penyakit, kelainan hormonal
c. Operasi atau pembedahahan
d. Perubahan masa pertumbuhan dan perkembangan ; maturasi
e. Perubahan fisiologis tubuh ; kehamilan, penuaan.
f. Prosedur medis dan keperawatan, efek pengobatan, radioterapi, kemoterapi.

5. MEKANISME KOPING
a. Konstruktif
1) Berfokus pada masalah : negosiasi, konfrontasi dan meminta nasehat/saran.
2) Berfokus pada kognitif : perbandingan yang positif, penggantian rewards,
antisipasi.
b. Destruktif
Berfokus pada emosi : denial, proyeksi, represi, kompensasi, isolasi.

B. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA FOKUS PENGKAJIAN


1. PENGKAJIAN
a. Data Objektif
1) Hilangnya bagian tubuh.
2) Perubahan anggota tubuh baik bentuk maupun fungsi.
3) Menyembunyikan atau memamerkan bagian tubuh yang terganggu.
4) Menolak melihat bagian tubuh.
5) Menolak menyentuh bagian tubuh.
6) Aktifitas sosial menurun.
b. Data Subjektif
1) Menolak perubahan anggota tubuh saat ini, misalnya tidak puas dengan hasil
operasi.
2) Mengatakan hal negatif tentang anggota tubuhnya yang tidak berfungsi.
3) Menolak berinteraksi dengan orang lain.
4) Mengungkapkan keinginan yang terlalu tinggi terhadap bagian tubuh yang
terganggu.
5) Sering mengulang-ulang mengatakan kehilangan yang terjadi.
6) Merasa asing terhadap bagian tubuh yang hilang.
c. Konsep diri
Ideal diri, tidak realistis, ambisius
d. Sosial budaya :
1) Nilai budaya yang ada di masyarakat.
2) Nilai budaya yang dianut individu
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Gangguan Citra Tubuh

3. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN


NO STRATEGI PELAKSANAAN KETERANGAN
SP 1 PASIEN: Assesmen gangguan citra tubuh dan menerima keadaan tubuh saat
ini
1. Bina hubungan saling percaya a. Mengucapkan salam terapeutik,
memperkenalkan diri, panggil pasien
sesuai nama panggilan yang disukai
b. Menjelaskan tujuan interaksi: melatih
pengendalian ketidakberdayaan agar
proses penyembuhan lebih cepat

2. Membuat kontrak (Inform


Consent) dua kali pertemuan
latihan pengendalian gangguan
citra tubuh

3. Bantu pasien mengenal a. Bantu pasien untuk mengidentifikasi


gangguan citra tubuhnya dan menguraikan perasaannya
b. Bantu pasien mengenal penyebab
gangguan citra tubuh
c. Bantu klien menyadari perilaku akibat
gangguan citra tubuhnya

4. Diskusikan persepsi pasien


tentang citra tubuhnya : dulu
dan saat ini, perasaan tentang
citra tubuhnya dan harapan
terhadap citra tubuhnya saat ini.

5. Diskusikan potensi bagian


tubuh yang lain.

6. Bantu pasien untuk


meningkatkan fungsi bagian
tubuh yang terganggu

7. Ajarkan pasien meningkatkan a. Gunakan protese, wig, kosmetik atau


citra tubuh dengan cara yang lainnya sesegera mungkin,
gunakan pakaian yang baru (jika
diperlukan)
b. Motivasi pasien untuk melihat bagian
yang hilang secara bertahap.
c. Bantu pasien melihat, menyentuh
bagian tubuh yang terganggu

SP 2 PASIEN: Evaluasi assesmen gangguan citra tubuh, manfaat mengembangkan


harapan positif dan latihan mengontrol perasaan ketidakberdayaan
1. Pertahankan rasa percaya pasien a. Mengucapkan salam dan memberi
motivasi
b. Asesmen ulang ketidakberdayaan dan
kemampuan mengembangkan pikiran
postif

2. Membuat kontrak ulang: latihan


mengontrol perasaan
ketidakberdayaan

3. Motivasi pasien untuk


melakukan aktifitas yang
mengarah pada pembentukan
tubuh yang ideal

4. Lakukan interaksi secara a. Susun jadual kegiatan sehari-hari


bertahap dengan cara b. Dorong melakukan aktifitas sehari-hari
dan terlibat dalam aktifitas dalam
keluarga dan social
c. Dorong untuk mengunjungi teman atau
orang lain yang berarti/mempunyai
peran penting baginya.
d. Beri pujian terhadap keberhasilan
pasien melakukan interaksi

SP 1 KELUARGA: Penjelasan kondisi pasien dan cara merawat


1. Bina hubungan saling percaya a. Mengucapkan salam terapeutik,
memperkenalkan diri
b. Menjelaskan tujuan interaksi:
menjelaskan gangguan citra tubuh
pasien dan cara merawat agar proses
penyembuhan lebih cepat

2. Membuat kontrak (inform


consent) dua kali pertemuan
latihan cara merawat gangguan
citra tubuh pasien

3. Bantu keluarga mengenal a. Menjelaskan gangguan citra tubuh,


gangguan citra tubuh penyebab, proses terjadi, tanda dan
gejala, serta akibatnya
b. Menjelaskan cara merawat
gangguan citra tubuh pasien:
membantu mengembangkan
motivasi bahwa pasien untuk
menerima kondisi tubuhnya yang
telah dilatih perawat pada pasien

4. Sertakan keluarga saat melatih


pasien menggunakan protese

SP 2 KELUARGA : Evaluasi peran keluarga merawat pasien, mengatasi gangguan


citra tubuh melalui aktifitas yang mengarah pada pembentukan tubuh yang ideal
dan follow up
1. Pertahankan rasa percaya
keluarga dengan mengucapkan
salam, menanyakan peran
keluarga merawat pasien &
kondisi pasien

2. Membuat kontrak ulang: latihan


lanjutan cara merawat dan
follow up

3. Menyertakan keluarga saat


melatih pasien mengatasi
gangguan citra tubuh melalui
aktifitas yang mengarah pada
pembentukan tubuh yang ideal

4. Diskusikan dengan keluarga


follow up dan kondisi pasien
yang perlu dirujuk (penolakan
terhadap perubahan diri bersifat
menetap dan tidak mau terlibat
dalam perawatan diri) dan cara
merujuk pasien
LAPORAN PENDAHULUAN

A. KASUS HARGA DIRI RENDAH SITUASIONAL


1. DEFINISI
Harga diri adalah pencapaian diri dan penilaian diri individu dengan
menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri (Stuart & Sundeen,2009).
Pencapaian diri dan cita-cita, harapan langsung yang menghasilkan perasaan berharga.
Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri
sendiri,hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai ssuatu keinginan. Gangguan
harga diri dapatterjadi secara situsional yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba, misalnya
harus operasi, kecelakaan,dicerai suami, putus sekolah, putus hubungan kerja,
perasaan malu karena sesuatu terjadi (korban perkosaan, dituduh KKN, dipenjara
tiba-tiba).
Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti dan rendah diri yang
berkepanjangan akibat evaluasi yang negatif terhadap diri sendiri dan kemampuan diri.
Adanya perasaan hilang percaya diri , merasa gagal karena karena tidak mampu
mencapai keinginansesuai ideal diri (Keliat. 2010)
Menurut Schult & videbeck (2008) gangguan harga diri rendah adalah penilaian
negatif seseorang terhadap diri dan kemampuan, yang diekspresikan secara langsung
maupun tidak langsung.

2. TANDA DAN GEJALA


Menurut Carpenito, L.J (2008 : 352); Keliat, B.A (2010 : 20)
a. Perasaan malu terhadap diri sendiri akibat penyakit dan akibat tindakan terhadap
penyakit. Misalnya : malu dan sedih karena rambut jadi botak setelah mendapat terapi
sinar pada kanker
b. Rasa bersalah terhadap diri sendiri. Misalnya : ini tidak akan terjadi jika saya segera
ke rumah sakit, menyalahkan/ mengejek dan mengkritik diri sendiri.
c. Merendahkan martabat. Misalnya : saya tidak bisa, saya tidak mampu, saya orang
bodoh dan tidak tahu apa-apa
d. Gangguan hubungan sosial, seperti menarik diri. Klien tidak ingin bertemu dengan
orang lain, lebih suka sendiri.
e. Percaya diri kurang. Klien sukar mengambil keputusan, misalnya tentang memilih
alternatif tindakan.
f. Mencederai diri. Akibat harga diri yang rendah disertai harapan yang suram, mungkin
klien ingin mengakhiri kehidupan.
3. FAKTOR PREDISPOSISI
Menurut (Stuard and Sudeen, 2008)
a. Penolakan orang tua
b. Harapan orang tua yang tidak realistis
c. Kegagalan yang berulang kali
d. Kurang mempunyai tanggung jawab personal
e. Ketergantungan pada orang lain
f. Ideal diri tidak realistis

4. FAKTOR PRESIPITASI
Faktor presipitasi dapat disebabkan oleh faktor dari dalam atau faktor dari luar individu (
eksternal or internal sources ) yang dibagi lima kategori.
a. Ketegangan peran adalah stress yang berhubungan dengan frustasi yang dialami
individu dalam peran atau posisi yang diharapkan. Terdapat tiga jenis transisi peran
yaitu perkembangan, situasi dan sehat-sakit.
b. Trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau menyaksikan kejadian yang
mengancam kehidupan.

B. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA FOKUS PENGKAJIAN


1. PENGKAJIAN
a. Data Subjektif
Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh,
mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri

b. Data Obyektif
Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan,
ingin mencederai diri/ingin mengakhiri hidup.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Harga diri rendah situasional

3. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN


NO STRATEGI PELAKSANAAN KETERANGAN
SP 1 PASIEN: Assesmen harga diri rendah dan latihan melakukan kegiatan positif
1. Bina hubungan saling percaya c. Mengucapkan salam terapeutik,
memperkenalkan diri, panggil pasien
sesuai nama panggilan yang disukai
d. Menjelaskan tujuan interaksi: melatih
pengendalian ansietas agar proses
penyembuhan lebih cepat
2. Membuat kontrak (Inform
Consent) dua kali pertemuan
latihan pengendalian harga diri
rendah

3. Bantu pasien mengenal harga a. Bantu pasien untuk mengidentifikasi


diri rendah dan menguraikan perasaannya
b. Bantu pasien mengenal penyebab harga
diri rendah
c. Bantu pasien menyadari perilaku akibat
harga diri rendah
d. Bantu pasien dalam menggambarkan
dengan jelas keadaan evaluasi diri yang
positif yang terdahulu

4. Bantu pasien mengidentifikasi


strategi pemecahan yang lalu,
kekuatan, keterbatasan serta
potensi yang dimiliki

5. Jelaskan pada pasien hubungan


antara harga diri dan
kemampuan pemecahan masalah
yang efektif
6. Diskusikan aspek positif dan
kemampuan diri sendiri,
keluarga, dan lingkungan

7. Latih satu kemampuan positif


yang dimiliki

8. Latih satu kemampuan positif

9. Tekankan bahwa kegiatan


melakukan kemampuan positif
berguna untuk menumbuhkan
harga diri positif

SP 2 PASIEN: Evaluasi assesmen harga diri rendah, manfaat latihan melakukan


kemampuan positif 1, melatih kemampuan positif 2
1. Pertahankan rasa percaya pasien a. Mengucapkan salam dan memberi
motivasi
b. Asesmen ulang harga diri rendah dan
kemampuan melakukan kegiatan
positif
2. Membuat kontrak ulang: cara
mengatasi harga diri rendah

3. Latih satu kemampuan positif 2

4. Evaluasi efektifitas melakukan


kegiatan positif untuk
meningkatkan harga diri

5. Tekankan kembali bahwa


kegiatan melakukan kemampuan
positif berguna untuk
menumbuhkan harga diri

SP 1 KELUARGA: Penjelasan kondisi pasien dan cara merawat:


1. Bina hubungan saling percaya a. Mengucapkan salam terapeutik,
memperkenalkan diri
b. Menjelaskan tujuan interaksi:
menjelaskan keputusasaan pasien dan
cara merawat agar proses
penyembuhan lebih cepat
2. Membuat kontrak (inform
consent) dua kali pertemuan
latihan cara merawat pasien
dengan harga diri rendah

3. Bantu keluarga mengenal harga a. Menjelaskan harga diri rendah,


diri rendah pada pasien penyebab, proses terjadi, tanda dan
gejala, serta akibatnya
b. Menjelaskan cara merawat pasien
dengan harga diri rendah:
menumbuhkan harga diri positif
melalui melakukan kegiatan positif
c. Sertakan keluarga saat melatih latihan
kemampuan positif

SP 2 KELUARGA : Evaluasi peran keluarga merawat pasien, cara merawat dan


follow up
1. Pertahankan rasa percaya
keluarga dengan mengucapkan
salam, menanyakan peran
keluarga merawat pasien &
kondisi pasien

2. Membuat kontrak ulang: latihan


lanjutan cara merawat dan
follow up

3. Menyertakan keluarga saat


melatih pasien melatih
kemampuan positif ke 2

4. Diskusikan dengan keluarga


follow up dan kondisi pasien
yang perlu dirujuk (kondisi
pengabaian diri dan perawatan
dirinya) dan cara merujuk pasien
LAPORAN PENDAHULUAN

A. KASUS KEPUTUSASAAN
1. DEFINISI
Keputusasaan merupakan keadaan subjektif seorang individu yang melihat
keterbatasan atau tidak ada alternatif atau pilhan pribadi yang tersedia dan tidak dapat
memobilisasi energy yang dimilikinya (NANDA, 2010).
Keputusasaan adalah keadaan emosional ketika individu merasa bahwakehidupannya
terlalu berat untuk dijalani ( dengan kata lain mustahil ). Seseorangyang tidak memiliki
harapan tidak melihat adanya kemungkinan untuk memperbaikikehidupannya dan tidak
menemukan solusi untuk permasalahannya, dan ia percaya bahwa baik dirinya atau
siapapun tidak akan bisa membantunya
Keputusasaan berkaitan dengan kehilangan harapan, ketidakmampuan, keraguan,
duka cita, apatis, kesedihan, depresi, dan bunuh diri. (Cotton dan Range,2011).
Keputusasaan merupakan status emosional yang berkepanjangan dan
bersifatsubyektif yang muncul saat individu tidak melihat adanya alternatif lain atau
pilihan pribadi untuk mengatasi masalah yang muncul atau untuk mencapai apa
yangdiiginkan serta tidak dapat mengerahkan energinya untuk mencapai tujuan
yangditetapkan

2. TANDA DAN GEJALA


Adapun tanda dan gejala dari gangguan psikososial keputusasaan menurut Keliat
(2008) sebagai berikut :
a. Ungkapan klien tentang situasi kehidupan tanpa harapan dan terasa hampa (“saya
tidak dapat melakukan”)
b. Sering mengeluh dan Nampak murung.
c. Nampak kurang bicara atau tidak mau berbicara sama sekali
d. Menunjukkan kesedihan, afek datar atau tumpul.
e. Menarik diri dari lingkungan.
f. Kontak mata kurang.
g. Mengangkat bahu tanda masa bodoh.
h. Nampak selalu murung atau blue mood.
i. Menunjukkan gejala fisik kecemasan (takikardia, takipneu)
j. Menurun atau tidak adanya selera makan
k. Peningkatan waktu tidur.
l. Penurunan keterlibatan dalam perawatan.
m. Bersikap pasif dalam menerima perawatan.
n. Penurunan keterlibatan atau perhatian pada orang lain yang bermakna.
3. RENTANG RESPON

Respon Adaptif Respon Maladaptif

Reaksi Reaksi
kehilangan Mania/
Responsif kehilangan Supresi yang Depresi
yang wajar memanjang

4. FAKTOR PREDISPOSISI
a. Faktor genetik , transimisi gangguan alam perasaan diteruskan melalui garis
keturunan.
b. Berbalik pada diri sendiri , perasaan marah yang dialihkan pada diri sendiri.
(kehilangan obyek atau orang ) sehingga menyalahkan diri sendiri.
c. Faktor perkembangan , individu tidak berdaya mengatasi kehilangan.
d. Akibat gangguan perkembangan terhadap penilaian diri ( pesimis , tidak berharga ,
tidak ada harapan )
e. Modal belajar ketidakberdayaan adanya pengalaman kegagalan , menjadi pasif dan
tidak mampu menghadapi masalah .
f. Modal perilaku karena kurang penguatan positif selama bereaksi dengan lingkungan .
g. Modal biologi , perubahan kimiawi , defisiensi katekolamin , tidak berfungsinya
endokrin dan hipersekresi kortisol.

5. FAKTOR PRESIPITASI
a. Faktor biologis
Ketidak seimbangan metabolisme, kususnya obat anti hipertensi dan zat adiktif
b. Faktor Psikologis
1) Kehilangan kasih sayang (kehilangan cinta, harga diri )
2) Faktor sosiokultural
3) Kejadian penting dalam kehidupan
4) Banyak peran dan konflik peran

B. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA FOKUS PENGKAJIAN


1. PENGKAJIAN
a. Status emosional
1) Apakah emosi sesuai perilaku?
2) Apakah klien dapat mengendalikan emosi?
3) Bagaimana perasaan klien yang tampil seperti biasanya?
4) Apakah perasaan hati sekarang merupakan ciri khas klien?
5) Apa yang klien lakukan jika marah atau sedih?
b. Konsep diri
1) Bagaimana klien menilai dirinya sebagai manusia?
2) Bagaimana orang lain menilai diri klien?
3) Apakan klien suka akan dirinya?
c. Cara komunikasi
1) Apakah klien mudah merespon?
2) Apakah spontanitas atau hanya jika ditanya?
3) Bagaimana perilaku non verbal klien dalam berkomunikasi?
4) Apakah klien menolak untuk memberi respons?
d. Pola interaksi
1) Kepada siapa klien mau berinterkasi?
2) Siapa yang paling penting atau berpengaruh bagi klien?
3) Bagaimana sifat asli klien: mendominasi atau positif?
e. Pendidikan dan pekerjaan
1) Pendidikan terakhir
2) Keterampilan yang mampu dilakukan
3) Pekerjaan klien
4) Status keuangan
f. Hubungan sosial
1) Teman dekat klien
2) Bagaimana klien menggunakan waktu luang?
3) Apakah klien berkecimpung dalam kelompok masyarakat?
g. Faktor kultur sosial
1) Apakah agama dan kebudayaan klien?
2) Bagaimana tingkat pemahaman klien tentang agama?
3) Apakah bahasa klien memadai untuk berkomunikasi dengan orang lain?
h. Pola hidup
1) Dimana tempat tinggal klien?
2) Bagaimana tempat tinggal klien?
3) Dengan siapa klien tinggal?
4) Apa yang klien lakukan untuk meyenangkan diri?
i. Keluarga
1) Apakah klien sudah menikah?
2) Apakah klien sudah mempunyai anak?
3) Bagaimana status kesehatan klien dan keluarga?
4) Masalah apa yang terutama dalam keluarga?
5) Bagaimana tingkat kecemasaan klien?

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Keputusasaan
3. RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
NO STRATEGI PELAKSANAAN KETERANGAN
SP 1 PASIEN: Assesmen keputusasaan dan latihan berfikir positif melalui
penemuan harapan dan makna hidup
1. Bina hubungan saling percaya a. Mengucapkan salam terapeutik,
memperkenalkan diri, panggil pasien
sesuai nama panggilan yang disuka
b. Menjelaskan tujuan interaksi: melatih
pengendalian perasaan putus asa agar
proses penyembuhan lebih cepat

2. Membuat kontrak (Inform


Consent) dua kali pertemuan
latihan pengendalian putus asa

3. Bantu pasien mengenal a. Bantu pasien untuk mengidentifikasi


keputusasaan dan menguraikan perasaan sedih/
kesendirian/ keputusasaannya
b. Bantu pasien mengenal penyebab putus
asa
c. Diskusikan perbedaan antara perasaan
dan pikiran klien terhadap kondisinya
dengan kondisi real kondisi klien
d. Bantu pasien menyadari perilaku
akibat putus asa
e. Dukung klien untuk mengungkapkan
pengalaman yang mendukung pikiran,
perasaan dan perilaku positif

4. Latih restrukturisasi pikiran


melalui latihan berpikir positif
dengan mengidentifikasi harapan
dan penemuan makna hidup

SP 2 PASIEN: Evaluasi assesmen keputusaan, manfaat berfikir positif, dan latihan


melakukan aktivitas untuk menumbuhkan harapan dan makna hidup
1. Pertahankan rasa percaya pasien a. Mengucapkan salam dan memberi
motivasi
b. Asesmen ulang keputusasaan dan
kemampuan melakukan restrukturisasi
pikiran
2. Membuat kontrak ulang: cara
mengatasi keputusaaan

3. Diskusikan aspek positif diri


sendiri, keluarga, dan
lingkungan

4. Diskusikan kemampuan positif


diri sendiri

5. Latih satu kemampuan positif

6. Tekankan bahwa kegiatan


melakukan kemampuan positif
berguna untuk menumbuhkan
harapan dan makna hidup

SP 1 KELUARGA: Penjelasan kondisi pasien dan cara merawat


1. Bina hubungan saling percaya a. Mengucapkan salam terapeutik,
memperkenalkan diri
b. Menjelaskan tujuan interaksi:
menjelaskan keputusasaan pasien dan
cara merawat agar proses
penyembuhan lebih cepat

2. Membuat kontrak (inform


consent) dua kali pertemuan
latihan cara merawat pasien
dengan keputusasaan

3. Bantu keluarga mengenal putus a. Menjelaskan keputusasaan, penyebab,


asa pada pasien proses terjadi, tanda dan gejala, serta
akibatnya
b. Menjelaskan cara merawat pasien
dengan putus asa: menumbuhkan
harapan positif melalui restrukturisasi
pikiran melalui penemuan harapan dan
makna hidup serta melatih kemampuan
positif
c. Sertakan keluarga saat melatih
restrukturisasi pikiran dan latihan
kemampuan positif

SP 2 KELUARGA : evaluasi peran keluarga merawat pasien, cara merawat dan


follow up
1. Pertahankan rasa percaya
keluarga dengan mengucapkan
salam, menanyakan peran
keluarga merawat pasien &
kondisi pasien

2. Membuat kontrak ulang: latihan


lanjutan cara merawat dan
follow up

3. Menyertakan keluarga saat


melatih pasien melatih
kemampuan positif
4. Diskusikan dengan keluarga
follow up dan kondisi pasien
yang perlu dirujuk (muncul ide
bunuh diri atau perilaku
pengabaian diri) dan cara
merujuk pasien.
LAPORAN PENDAHULUAN

A. KASUS KETIDAKBERDAYAAN
1. DEFINISI
Persepsi individu bahwa tindakannya sendiri tidak akan mempengaruhi hasil secara
bermakna ; suatu kurang kontrol terhadap situasi tertentu atau kejadian baru yang di
rasakan (Townsend,2011)
Kondisi ketika individu atau kelompok merasakan kurangnya kontrol personal
terhadap sejumlah kejadian atau situasi tertentu yang mempengaruhi pandangan , tujuan ,
dan gaya hidup (Carpenito 2009)

2. TANDA DAN GEJALA


Batasan karakteristik tanda dan gejala menurut Carpenito (2009) diantaranya adalah
sebagai berikut :
a. Mayor ( harus ada )
Memperlihatkan atau menutupi (marah, apatis) ekspresi ketidakpuasan atas
ketidakmampuan mengatasi situasi (misalnya, pekerjaan, penyakit, prognosis,
perawatan, tingkat penyembuhan) yang mengganggu pandangan , tujuan dan gaya
hidup .
b. Minor ( mungkin ada )
1) Apatis dan pasif
2) Ansietas dan depresi
3) Marah dan perilaku kekerasan
4) Perilaku buruk dan ketergantungan yang tidak memuaskan orang lain
5) Gelisah dan menarik diri
Tanda dan gejala batasan karakteristik menurut Towsend diantaranya adalah sebagai
berikut :
a. Ekspresi verbal dari tidak adanya control atau pengaruh atau situasi, hasil atau
perawatan diri
b. Tidak berpartisipasi dalam perawatan atau pengambilan keputusan saat kesempatan
diberikan
c. Mengekspresikan keragu-raguan yang berkenaan dengan pelaksanaan peran
d. Segan mengekspresikan perasaan sebenarnya, takut diasingkan dari pengasuh
e. Apatis dan pasif
f. Ketergantungan pada orang lain yang dapat menghasilkan, lekas tersinggung,
kebencian, marah dan rasa bersalah

3. KLASIFIKASI
Stephenson (2009) dalam Carpenito (2009) menggambarkan 2 jenis ketidakberdayaan
yaitu :
a. Ketidakberdayaan situasional
Ketidakberdayaan yang muncul pada sebuah peristiwa spesifik dan mungkin
berlangsung singkat.
b. Ketidakberdayaan dasar (trait powerlessness)
Ketidakberdayaan yang bersifat menyebar , mempengaruhi pandangan, tujuan, gaya
hidup dan hubungan.

B. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA FOKUS PENGKAJIAN


1. PENGKAJIAN
a. Data Subjektif :
1) Mengatakan secara verbal ketidakmampuan mengendalikan atau mempengaruhi
situasi .
2) Mengatakan tidak dapat menghasilkan sesuatu .
3) Mengatakan ketidakmampuan perawatan diri .
b. Objektif :
1) Tidak berpartisipasi dalam pengendalian keputusan saat kesempatan diberikan.
2) Segan mengekspresikan perasan yang sebenarnya.
3) Apatis , pasif.
4) Ekspresi muka murung.
5) Bicara dengan gerakan lambat.
6) Nafsu makan tidak ada atau berlebihan.
7) Tidur berlebihan.
8) Menghindari orang lain.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Ketidakberdayaan

3. RENCANA DAN TINDAKAN KEPERAWATAN


a. Tujuan umum pasien :
1) Pasien mampu membina hubungan saling percaya
2) Pasien mampu mengenali dan mengekspresikan emosinya.
3) Pasien mampu memodifikasi pola kognitif yang negatif
4) Pasien mampu berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang berkenaan
dengan perawatannya sendiri.
5) Pasien mampu termotivasi untuk aktif mencapai tujuan yang realistis.
b. Tujuan umum keluarga:
1) Keluarga mampu mengenal masalah ketidakberdayaan pada anggota keluarganya
2) Keluarga mampu merawat anggota keluarga yang mengalami ketidakberdayaan
3) Keluarga mampu memfollow up anggota keluarga yang mengalami
ketidakberdayaan
NO STRATEGI PELAKSANAAN KETERANGAN
SP 1 PASIEN: Assesmen ketidakberdayaan dan latihan berpikir positif
1. Bina hubungan saling percaya a. Mengucapka
n salam terapeutik, memperkenalkan
diri, panggil pasien sesuai nama
panggilan yang disukai
b. Menjelaskan
tujuan interaksi: melatih pengendalian
ketidakberdayaan agar proses
penyembuhan lebih cepat

2. Membuat kontrak (Inform


Consent) dua kali pertemuan
latihan pengendalian
ketidakberdayaan

3. Bantu pasien mengenal a. Bantu pasien untuk mengidentifikasi


ketidakberdayaan dan menguraikan perasaannya.
b. Bantu pasien mengenal penyebab
ketidakberdayaan
c. Bantu klien menyadari perilaku akibat
ketidakberdayaan
d. Bantu Bantu klien untuk
mengekspresikan perasaannya dan
identifikasiarea-area situasi
kehidupannya yang tidak berada dalam
kemampuannya untuk mengontrol
e. Bantu klien untuk mengidentifikasi
faktor-faktor yang dapat berpengaruh
terhadap ketidak berdayaannya
f. Diskusikan tentang masalah yang
dihadapi klien tanpa memintanya
untuk menyimpulkan
g. Identifikasi pemikiran yang negatif dan
bantu untuk menurunkan melalui
interupsi atau subtitusi
h. Bantu pasien untuk meningkatkan
pemikiran yang positif
i. Evaluasi ketepatan persepsi, logika dan
kesimpulan yang dibuat pasien
j. Identifikasi persepsi klien yang tidak
tepat, penyimpangan dan pendapatnya
yang tidak rasional
4. Latih mengembangkan harapan
positif (afirmasi positif)
SP 2 PASIEN: Evaluasi asesmen ketidakberdayaan, manfaat mengembangkan
harapan positif dan latihan mengontrol perasaan ketidakberdayaan
1. Pertahankan rasa percaya pasien a. Mengucapkan salam dan memberi
motivasi
b. Asesmen ulang ketidakberdayaan dan
kemampuan mengembangkan pikiran
postif

2. Membuat kontrak ulang: latihan


mengontrol perasaan
ketidakberdayaan

3. Latihan mengontrol perasaan


ketidakberdayaan melalui
peningkatan kemampuan
mengendalikan situasi yang
masih bisa dilakukan pasien
(Bantu klien mengidentifikasi
area-area situasi kehidupan yang
dapat dikontrolnya. Dukung
kekuatan – kekuatan diri yang
dapat di identifikasi oleh klien)
misalnya klien masih mampu
menjalankan peran sebagai ibu
meskipun sedang sakit.

SP 1 KELUARGA: Penjelasan kondisi pasien dan cara merawat


1. Bina hubungan saling percaya a. Mengucapkan salam terapeutik,
memperkenalkan diri
b. Menjelaskan tujuan interaksi:
menjelaskan ketidakberdayaan pasien
dan cara merawat agar proses
penyembuhan lebih cepat

2. Membuat kontrak (inform


consent) dua kali pertemuan
latihan cara merawat pasien
dengan keputusasaan

3. Bantu keluarga mengenal a. Menjelaskan ansietas, penyebab,


ketidakberdayaan proses terjadi, tanda dan gejala, serta
akibatnya
b. Menjelaskan cara merawat
ketidakberdayaan pasien: membantu
mengembangkan motivasi bahwa
pasien dapat mengendalikan situasi dan
memotivasi cara afirmasi positif yang
telah dilatih perawat pada pasien

4. Sertakan keluarga saat melatih


afirmasi positif

SP 2 KELUARGA : Evaluasi peran keluarga merawat pasien, cara latihan


mengontrol perasaan ketidakberdayaan dan follow up
1. Pertahankan rasa percaya
keluarga dengan mengucapkan
salam, menanyakan peran
keluarga merawat pasien &
kondisi pasien

2. Membuat kontrak ulang: latihan


lanjutan cara merawat dan
follow up

3. Menyertakan keluarga saat


melatih pasien latihan
mengontrol perasaan tidak
berdaya

4. Diskusikan dengan keluarga


follow up dan kondisi pasien
yang perlu dirujuk (klien tidak
mau terlibat dalam perawatan di
Rumah Sakit) dan cara merujuk
pasien
DAFTAR PUSTAKA

Azis R, dkk. (2010). Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa. Semarang : RSJD Dr. Amino
Gondoutomo.

Carpenito, L.J. (2009 ). Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 8. Penerbit Buku Kedokteran
EGC: Jakarta

Hawari, D. (2008). Manajemen Stres Cemas dan Depresi. Jakarta: Balai Penerbit FKUI

Nanda. (2010). Panduan Diagnosa Keperawatan. Jakarta: Prima Medika.

Stuart, G.W dan Sundden, S.J. (2008). Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 3. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Suliswati, dkk. (200). Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.

Videbeck, S.J., (2008). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.