Anda di halaman 1dari 8

Aplikasi Teori Peaceful End of Life Pada Pasien dengan Kanker

Tyroid di RS Kanker Dharmais Jakarta


Faqih Ruhyanudin

ABSTRAK
Kanker adalah pertumbuhan sel baru yang tidak terkontrol, mampu menyebar dan menginvasi sehingga
mengancam kehidupan. Insiden kanker dilaporkan dari tahun ke tahun terjadi peningkatan. Dampak
penyakit kanker terhadap ketahanan sumber daya manusia sangat besar karena selain merupakan
penyebab kematian dan kesakitan juga dapat menurunkan produktivitas penderitanya. Kanker tyroid
merupakan jenis kanker yang paling umum terjadi pada sistem endokrin, meskipun insidennya relatif
rendah. Kanker tyroid merupakan salah satu kanker yang paling curable, berbagai upaya telah dilakukan
untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas kanker termasuk daiantaranya adalah penerapan beberapa
konsep maupun teori keperawatan yang sesuai dalam memberikan asuhan keperawatan. Angka kematian
kanker dapat diturunkan dengan penemuan dini, diagnosa dini, dan terapi dini serta meningkatkan mutu
perawatan. Karya Ilmiah ini merupakan laporan pemberihan asuhan keperawatan aplikasi teori peaceful
end of life (PEOL) pada pasien kanker tyroid di RS Kanker Dharmais Jakarta. Kesimpulan: bahwa teori
PEOL tepat digunakan dalam pemberian asuhan keperawatan paliatif kepada pasien penyandang kanker
tyroid.
Kata kunci: Peaceful end of life, Aplikasi teori

Pendahuluan
Kanker merupakan keganasan yang terjadi melalui proses di tingkat seluler yang kompleks.
Banyak peristiwa, perilaku dan faktor pencetus eksternal (kimia, biologi, dan fisik) yang mendasarinya.
Kanker telah menjadi masalah kesehatan global yang mengancam penduduk dunia, karena tingkat
kematian yang disebabkan cukup tinggi (Otto, 2005; Yarbro, Wujcik, & Gobel, 2011; Kresno,
2012). Angka kematian global yang disebabkan oleh kanker dilaporkan 8,2 juta kasus pada tahun
2012 atau meningkat 4% dari 4 tahun sebelumnya (Rasjidi, 2011). Di Amerika Serikat, berdasarkan
data dari National Center for Health Statistic (NCHS) menunjukkan jumlah kasus kanker baru pada
tahun 2012 sebanyak 1.638.910 orang dan 577.190 meninggal karena kanker, 1 dalam 4 kasus
kematian adalah disebabkan oleh kanker (Siegel, Naishadham, & Jemal, 2012).
Data Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 menunjukkan prevalensi tumor/kanker
adalah 4,3 per 1000 penduduk, artinya dari setiap 1000 orang Indonesia sekitar 4 orang di antaranya
menderita kanker (PKP-Setjen mengalami peningkatan Kemenkes, 2012). Data yang dikeluarkan
oleh bidang Rekam Medis RS Kanker Dharmais (2014) menunjukkan bahwa insiden pada 10 besar
penyakit kanker di RS Kanker Dharmais dari tahun 2009-2013 setiap tahunnya meningkat rata-
rata 9,89%, dimana insiden tertinggi adalah kanker payudara, urutan kedua adalah kanker servik.

PROSIDING Rapat Kerja Fakultas Ilmu Kesehatan 2017 | 73


Prosiding: Peningkatan Keilmuan Solusi Tantangan Profesi Kesehatan
Namun apabila dilihat dari persentasi kasus per kasus peningkatan insiden tertinggi terjadi pada
kasus kanker tyroid, selama periode 4 tahun meningkat 88,46%, yaitu terjadi 78 kasus baru pada
tahun 2009 dan tahun 2013 sebanyak 147. Dan ternyata hal ini juga terjadi di Amerika Serikat,
secara umum insiden kanker kepala dan leher di Amerika Serikat menurun, tetapi insiden kanker
tyroid dilaporkan meningkat. Setiap tahunnya insiden kanker tyroid naik hampir 50% sejak tahun
1975, diperkirakan pada tahun 2007 lebih dari 33.550 kasus baru dan sekitar 1.530 meninggal, dan
sebanyak 37.200 orang pada tahun 2009 (Gardner & Shoback, 2007).
Kanker tyroid merupakan jenis kanker yang paling umum terjadi pada sistem endokrin,
meskipun insidennya relatif rendah. Kanker tyroid merupakan salah satu kanker yang paling curable,
angka survival dalam 5 tahun pada semua tipe adalah 97% dan survival dalam 10 tahun adalah
85-93% (Gardner & Shoback, 2007; Davies & Welch, 2006). Keganasan pada sistem endokrin
menyebabkan terjadinya gangguan produksi hormon, terjadi hiposekresi atau hipersekresi. (Yarbro,
Wujcik, & Gobel, 2011; Desen, 2011). Manifestasi klinis pada kanker tyroid yang terjadi dapat
diakibatkan karena perubahan anatomi seperti gangguan menelan, sesak nafas, perubahan suara.
Kanker juga dapat menyebabkan gangguan fungsi kelenjar tyroid. Gangguan fungsi kelenjar tyroid
dapat berupa hipotyroid maupun hipertyroid yang menyebabkan gangguan metabolisme tubuh,
berpengaruh pada sitem sirkulasi seperti tekanan darah, kontraktilitas jantung, dan temperatur
tubuh. Apabila terjadi metastase ke organ lain seperti kelenjar limfe maka dapat menimbulkan
gangguan sistem imun maupun keseimbangan cairan (Gardner & Shoback, 2007).
Nyeri merupakan diagnosa keperawatan paling sering dan masalah paling umum terjadi pada
pasien kanker (Mobily, Herr, & Kelley, 1993). Secara umum nyeri dapat menyebabkan keadaan
tidak menyenangkan, distress, dan perasaan tidak nyaman sehingga berdampak pada kualitas hidup
individu, gangguan fisik dan psikologis (Ferrel, 1995). Dampak psikologis yang sering terjadi adalah
ancaman kematian yang diikuti perasaan takut dan ketidakpastian, ketidakberdayaan, kecemasan,
dan penurunan kualitas hidup sehingga menyebabkan situasi depresif. Hal ini juga menuntut peran
dan fungsi perawat untuk terus berkembang mengikuti setiap perkembangan kasus perawatan.
Sehingga pada saat ini bidang keperawatan sudah mengembangkan diri dan terfokus pada masing-
masing area kekhususan perawatan, yaitu pada spesialis keperawatan dan bahkan pada sub spesialis
keperawatan. Intervensi yang diberikan oleh perawat sebagai sebuah profesi hendaknya berdasarkan
suatu evidence-based atau riset. Penatalaksanaan yang berpedoman pada suatu evidence-based akan
meningkatkan keberhasilan suatu tindakan (Ackley & Ladwig, 2011). Berdasarkan uraian diatas,
maka penulis mencoba untuk menerapkan teori peaceful end of life dalam memberikan asuhan
keperawatan pada pasien kanker tyroid.
Metode Penulisan
Karya Ilmiah ini merupakan laporan kegiatan paktek residensi keperawatan medikal bedah
yang dilaksanakan mulai bulan September 2013 sampai dengan bulan Mei 2014 di RS Kanker
Darmais Jakarta. Karya ilmiah ini berisi tentang laporan penerapan teori peaceful end of life (PEOL)
dalam mengelola kasus pasien kanker. Fokus perawatan mengacu pada 5 konsep utama PEOL, yaitu:
bebas dari nyeri, memperoleh rasa nyaman, bermartabat dan dihormati, merasakan kedamaian, dan
kedekatan dengan orang yang bermakna.

74 | PROSIDING Rapat Kerja Fakultas Ilmu Kesehatan 2017


Prosiding: Peningkatan Keilmuan Solusi Tantangan Profesi Kesehatan
Hasil
Pengelolaan kasus pasien dengan kanker merupakan pelaksanaan terhadap fungsi dan peran
perawat. Semua fungsi dan peran perawat diaplikasikan dalam proses pengelolaan kasus ini, yaitu
sebagai care provider, case manager, educator, inovator, dan termasuk juga sebagai advocat. Dalam
pemberian asuhan keperawatan selama kegiatan praktik ini penulis menggunakan pendekatan teori
peaceful end of life (PEOL), yang berfokus pada 5 domain konsep utama. Berfokus pada hasil yang
ingin dicapai yaitu pasien bebas dari nyeri, memperoleh rasa nyaman, merasakan bermartabat dan
dihormati, merasakan kedamaian, dan kedekatan dengan orang yang bermakna dalam hidupnya
serta orang yang peduli terhadapnya.
Dari data hasil evaluasi diidentifikasi bahwa masalah keperawatan utama yang bisa timbul pada
pasien kanker tyroid adalah nyeri akut/kronis, keseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan, cemas,
dan intoleransi aktivitas.

Pembahasan
Secara umum penyebab terjadinya kanker tyroid belum diketahui secara pasti, demikian juga kanker
pada Tn. FL (pasien kanker tyroid yang dikelola dan/atau dirawat oleh penulis). Namun berdasarkan faktor
risiko terjadinya kanker penulis menduga bahwa kanker tyroid pada Tn. FL disebabkan karena faktor
gaya hidup yang buruk, yaitu faktor rokok dan makanan. Klien mempunyai riwayat merokok, sering
mengkonsumsi jenis makanan yang menjadi faktor resiko kanker, seperti: mengkonsumsi makanan yang
mengandung bahan pengawet dan penguat rasa. Namun faktor kerentanan genetik dapat juga berperan
terhadap terjadinya kanker pada Tn. FL. Klien mengaku dua orang pamannya juga ada yang mempunyai
riwayat terkena kanker. Situasi tersebut sejalan dengan hasil studi epidemologi selama hampir 25 tahun
di Amerika Serikat, menyatakan bahwa gaya hidup juga berkontribusi sebagai factor yang meningkatkan
resiko terjadinya kanker. Gaya hidup tersebut adalah: merokok (konsumsi tembakau) berperan pada 30%
dari semua kasus kanker, konsumsi alcohol terjadi pada 4% kasus, obesitas pada 15% kasus, inaktivitas
fisik terjadi pada 5% kasus, virus berkontribusi pada 3% kasus, kurang nutrisi terjadi pada 10-15% kasus
(Colditz, Sellers, & Trapido 2006).

Nyeri Kronis
Nyeri kronis merupakan sensori yang tidak menyenangkan dan rasa emosional yang timbul
dari kerusakan jaringan aktual maupun potensial atau cidera. onsetnya tiba-tiba maupun lambat
dengan intensitas ringan sampai berat, nyeri terus-menerus maupun hilang-timbul yang tidak
bisa diprediksi dengan durasi nyeri lebih dari 6 bulan. Karakter nyeri kronis dapat digambarkan
dari gejala-gejala yang dialami pasien yaitu adanya perubahan kemampuan beraktivitas, anoreksia,
kelemahan, depresi, gelisah, berfokus pada diri sendiri, dan menurunnya interaksi dengan orang lain
(Gray, 2000; Gecsedi & Decker, 2001; NANDA, 2012). Sensasi nyeri disertai mual, sulit bernafas,
dan berkeringat, disebabkan karena adanya stimulus refleks pada pusat mual dan muntah oleh
sensasi nyeri. Selain itu, juga dapat disebabkan oleh refleks vasovagal yang diinisiasi oleh respon
nyeri (Lewis, Dirksen, Heitkemper, Bucher & Camera, 2011).
Nyeri merupakan masalah utama dan menyebabkan timbulnya masalah keperawatan yang
lainnya. Nyeri yang dirasakan dapat menyebabkan terjadinya masalah psikologis cemas, gangguan

PROSIDING Rapat Kerja Fakultas Ilmu Kesehatan 2017 | 75


Prosiding: Peningkatan Keilmuan Solusi Tantangan Profesi Kesehatan
nutrisi kurang, dan intoleran aktivitas. Hal ini disukung oleh teori bahwa nyeri dapat menimbulkan
respon stres metabolik (MSR) yang mempengaruhi semua sistem tubuh dan memperberat
kondisi pasien. Akibatnya adalah terjadi perubahan fisiologi dan psikologi pasien, seperti:
(1) Perubahan kognitif (sentral): kecemasan, ketakutan, gangguan tidur dan putus asa, (2)
Perubahan neurohumoral: hiperalgesia perifer, peningkatan kepekaan luka, (3) Plastisitas neural
(kornudorsalis), transmisi nosiseptif yang difasilitasi sehingga meningkatkan kepekaan nyeri,
(4) Aktivasi simpatoadrenal: pelepasan renin, angiotensin, hipertensi, takikardi, (5) Perubahan
neuroendokrin: peningkatan kortisol, hiperglikemi, katabolisme (Price & Wilson, 2003). Oleh
karena itu penulis menempatkan diagona keperawatan nyeri kronis sebegai prioritas utama dalam
menanganinya. Hal ini sejalan dengan WHO yanng meletakkan nyeri kanker sebagai prioritas
utama untuk ditangani lebih dulu (Desen, 2011).
Nyeri yang dialami pasien kanker disebabkan karena aktivitas pertumbuhan dan invasi sel
tumor primer ke struktur didekatnya, adanya perlukaan bekas pengambilan sampel biopsi. Nyeri
kanker dapat juga disebabkan oleh psikologis pasein. Nyeri karena pembedahan mengalami
sedikitnya dua mekanisme, pertama karena pembedahan itu sendiri yang menyebabkan rangsang
nosiseptif, kedua karena efek setelah pembedahan yaitu terjadinya respon inflamasi pada daerah
sekitar luka. Pada perlukaan terjadi pelepasan zat-zat kimia oleh jaringan yang rusak dan sel-
sel inflamasi. Zat-zat kimia tersebut antara lain adalah prostaglandin, histamine, serotonin,
bradikinin, substansi P, leukotrien; dimana zat-zat tadi akan ditransduksi oleh nosiseptor dan
ditransmisikan oleh serabut saraf A delta dan C ke neuroaksis (Prince & Wison, 2003).
Terapi farmakologi dengan pemberian obat-obatan memberikan efek menurunkan nyeri
dengan cepat dan apabila diberikan dengan cara yang bernar tidak menyebabkan adiksi. Namun
pemberian obat jenis opioid sering menimbulkan efek samping, yaitu: depresi pernafasan,
konstipasi, mual, gatal-gatal, dan retensi urine. Depresi pernafasan adalah konsekuensi paling
menakutkan dari pemberian opioid. Hal ini disebabkan kerena terjadinya penurunan sensitivitas
medula terhadap peningkatan kadar Karbondioksisa (CO2). CO2 berfungsi mengatur pernafasan
spontan, dan bagian medula adalah tempat yang banyak tedapat opiate receptor. Reseptor opioid
terdapat juga di otot halus pada usus, selanjutnya opioid masuk kedalam neuromodulation of
acetylcholine (Ach) dan vasoactive intestinal peptide (VIP), dimana keduanya berpengaruh pada
peristaltik. Muntah terjadi karena opioid secara langsung chemoreceptor trigger zone (CTZ) di
medulla yang berpengaruh penting pada gastroparesis (Yarbro, Wujcik, & Gobel, 2011).
Terapi nonfarmakologi yang bisa diberikan untuk mengurangi nyeri adalah: (1) cutaneus
stimulation, misal kompres hangat atau kompres dingin, masase, vibrasi. Keuntungan: memyebabkan
toleransi terhadap nyeri, menurunkan nyeri, memberikan kenyamanan, dan dapat sebagai distraksi.
Namun terapi ini bukan mengobati penyebab nyeri, dan bahkan dapat merusak jaringan jika
dilakukan dengan cara tidak benar; (2) distraksi atau mengalihkan perhatian. Misalnya hipnoterapi,
menyanyi dalam hati, mendengarkan musik, membaca, bercakap-cakap, dan menonton televisi; (3)
Relaksasi. Misalnya dengan nafas pelan dan dalam, relaksasi pada otot, relaksasi mental imagery,
hipnoterapi; dan (4) model komprehensif (comprehensive models), misalnya dengan terapi cognitive-
behavioral intervention (CBT), dan dengan pendekatan psychoeducational (Yarbro, Wujcik, & Gobel,
2011).

76 | PROSIDING Rapat Kerja Fakultas Ilmu Kesehatan 2017


Prosiding: Peningkatan Keilmuan Solusi Tantangan Profesi Kesehatan
Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan
Nutrisi merupakan faktor penting yang harus diperhatikan pada pasien kanker. Nutrisi penting
untuk meningkatkan kekebalan tubuh, mempertahankan keadaan umum, dan meningkatkan
energi. Pasien kanker sangat berisiko mengalami kekurangan nutrisi karena disebabkan oleh
peningkatan metabolisme tubuh. Kanker mempengaruhi perubahan metabolik tubuh dengan cara
menghasilkan suatu produk yang dapat meningkatkan proses katabolisme dan menghambat proses
anabolisme sehingga mengganggu proses perbaikan jaringan normal (Holmes, 2009; Hopkinson,
Wright & Foster, 2008). Gangguan proses perbaikan jaringan atau hambatan pertumbuhan sel baru
menyebabkan terjadi kehilangan jaringan yang signifikan. Selain itu reaksi antara kanker dan jaringan
tubuh memicu sistem peradangan yang juga dapat meningkatkan kemampuan metabolisme tubuh
serta pengeluaran produk yang dapat menekan nafsu makan dan rasa cepat kenyang (early satiety.)
sehingga terjadilah anoreksia. (Yarbro, Wujcik, & Gobel, 2011).
Berdasarkan evidence bahwa penurunan nafsu makan terjadi karena efek hormon (seperti
leptin, ghrelin), neuropeptida, dan cytokine yang dihasilkan oleh kanker dan tubuh sendiri dalam
menghadapi penyakit. cytokine, termasuk tumor necrosis factor-α (TNF- α), interferon-γ, leukemia
inhibitor factor (LIF), interlekuin 1 dan 6, dan ciliary neurotrophic factor (CNTF) adalah yang
berperan penting dalam stimulasi sirkuit anorexigenic dan orexigenic yang mengatur intake dan berat
badan. TNF-α menghasilkan efek anorectic yang dikendalikan oleh sistem saraf pusat. Berdasarkan
hipotesis, Mekanismenya tampaknya dimodulasi melalui efek pada aktivitas saraf neoron yang sensitif
terhadap glukosa yang berada di aerah hipotalamus lateral. Cytokine juga dapat menginduksi tumor
memproduksi lipid-mobilizing factor dan proteolysis-inducing factor (PIF) yang secara langsung dapat
mempengaruhi metabolisme jaringan. Beberapa evidence juga mendukung peran neurotansmiter
dalam memproduksi serotinin dan dan dopamin terhadap supresi nafsu makan, meskipun efek ini
diyakini saling berkaitan dengan efek dari hormon dan sitokin (Yarbro, Wujcik, & Gobel, 2011).
Selain faktor tumor itu sendiri, gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi juga disebabkan oleh
terapi anti kanker yang dijalani pasien seperti terapi radiasi. Terapi radiasi mempunyai efek samping
antara lain mual dan muntah, nyeri pada mulut yang disebabkan oleh sariawan, gangguan rasa dan
penciuman, diare serta fatigue (Davidson & Chasen, 2008).
Kondisi penurunan asupan nutrisi ini jika dipandang dari peaceful end of life akan berpengaruh
pada rasa nyaman pasien dan mempengaruhi kualitas hidupnya. Sehingga intervensi yang diberikan
adalah usaha untuk mengembalikan status nutrisi normal. Dengan meningkatkan intake makanan
baik melalui oral (enteral) maupun parenteral. Pemberian edukasi dan memberikan makan yang
disukai serta sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi adalah salah satu upaya perawat untuk
meningkatkan intake. Edukasi yang diberikan meliputi informasi tentang pentingnya kebutuhan
nutrisi bagi proses penyembuhan dan meningkatkan energi, menjelaskan cara mengatasi mual yang
berlebihan, Intervensi nonfarmakologi yang lain adalah dengan menciptakan lingkungan yang
menyenangkan, bersih, dan rapi sebagai upaya untuk tidak menurunkan nafsu makan.

Cemas
Diagnosis kanker merupakan stressor bagi penderitanya. Ketika mendengar kata kanker,
seseorang membayangkan tentang penyakit yang tidak dapat sembuh, penyakit yang mematikan,

PROSIDING Rapat Kerja Fakultas Ilmu Kesehatan 2017 | 77


Prosiding: Peningkatan Keilmuan Solusi Tantangan Profesi Kesehatan
dan gambaran negatif lainnya (Coyne & Barbosi, 2009; CANO/ACIO, 2012). Dampak dari semua
tersebut dapat mempengaruhi psikologis penderita yang akan memperburuk kondisi kesehatannya.
Dampak psikologis yang sering terjadi adalah ancaman kematian yang diikuti perasaan takut dan
ketidakpastian, ketidakberdayaan, kecemasan, dan penurunan kualitas hidup sehingga menyebabkan
situasi depresif. Dimensi kualitas hidup yang terganggu meliputi dimensi fisik, psikologis, sosial, dan
spiritual (Ratna, 2003).
National Comprehensive cancer Network (NCCN) dalam merespon stigma negatif yang
melekat pada kata psychiatric, psychosocial, dan emosional memilih kata distress. Distress merupakan
pengalaman emosi yang tidak menyenangkan berhubungan dengan banyaknya jumlah stressor
yang dihadapi oleh penderita kanker. Tingkat distres juga dipengaruhi oleh jenis kanker, stadium
penyakit, keadaan hidup seseorang. Rata-rata pasien kanker yang mengalami distres sekitar 35,1%
dari seluruh total kanker (Yarbro, Wujcik, & Gobel, 2011).
Intervensi keperawatan yang diberikan mengacu pada kriteria hasil yang diinginkan yaitu
tindakan pengurangan ansietas, akan menunjukkan Anxiety Self-Control. Pasien diharapkan
kooperatif selama proses terapi, dapat beristirahat, melaporkan tidak ada manifestasi kecemasan
spesifik, mempertahankan hubungan sosial, dapat mendemonstrasikan kontrol cemas, dan
tanda vital dalam batas normal. Bentuk intervensi selain ditujukan kepada klien langsung, yang
penting adalah melibatkan dukungan orang lain yang terdekat dengan klien. Dukungan dari
orang lain akan memberikan kekuatan semangat dan penerimaan pasien terhadap sakitnya.
Dukungan dari orang lain yang dapat dipercaya, menyebabkan klien merasa bahwa masih ada
orang lain yang memperhatikan, menghargai dan mencintainya. Hal tersebut sangat bermanfaat
dalam pengendalian seseorang terhadap tingkat kecemasan dan dapat pula mengurangi tekanan-
tekanan yang ada pada konflik yang terjadi pada dirinya. Dukungan tersebut berupa dorongan,
motivasi, empati, ataupun bantuan yang dapat membuat individu yang lainnya merasa lebih
tenang dan aman.

Intoleransi Aktivitas
Intoleransi aktivitas merupakan hal yang lazim dialami oleh pasien kanker, pasien yang tidak
toleran terhadap aktivitas dipengaruhi oleh faktor fisik dan psikis. Secara prinsip umum intoleransi
aktivitas berhubungan dengan kelemahan. Kelemahan merupakan dampak sekunder terhadap
ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, kurangnya asupan energi tubuh, dan
imobilitas.
Kelemahan yang terjadi pada pasien kanker diakibatkan karena proses penyakit kanker yang
dialaminya. Sel kanker mensekresi sitokin yang berpengaruh pada mekanisme pertahanan tubuh,
anemia, imobilisasi lama, dan kelelahan emosional. Kelemahan kronis ditandai dengan kurang
minat terhadap rutinitas keseharian, kurang motivasi, dan ketidakmampuan untuk berkonsentrasi.
Selain itu, klien tidak banyak berkomunikasi dan berespon lambat ketika diajak bicara. Secara klinis
terlihat adanya keterkaitan secara langsung antara keletihan dengan nyeri, mual, ketakutan, dan
ansietas. Dengan aktivitas terencana dapat meminimalkan efek keletihan.
Studi menunjukkan bahwa kelemahan adalah kondisi multidimensi yang ditandai dengan
energi berkurang dan peningkatan kebutuhan untuk beristirahat, perubahan tidak proporsional dari

78 | PROSIDING Rapat Kerja Fakultas Ilmu Kesehatan 2017


Prosiding: Peningkatan Keilmuan Solusi Tantangan Profesi Kesehatan
tingkat aktivitas, dan disertai dengan berbagai karakteristik lainnya, termasuk kelemahan umum,
berkurang konsentrasi mental, insomnia atau hipersomnia, dan reaksi emosional (Yarbro, Wujcik
& Gobel, 2011).

Kesimpulan
Pengelolaan terhadap kasus utama klien dengan kanker tyroid dilakukan dengan pendekatan
teori “peaceful end of life” (PEOL). Teori ini tepat digunakan sebagai acuan dalam perawatan pasien
kanker paliatif. Pada dasarnya tujuan peaceful end of life bukanlah mengoptimalkan perawatan yang
paling baik dengan menggunakan teknologi tercanggih, tetapi lebih berfokus kepada perawatan
yang mengutamakan kenyamanan pasien serta keterlibatan keluarga yang optimal. Sehingga pasien
diakhir kehidupannya dapat meningkatkan kualitas hidup dan menghadapi kematian dengan tenang
dan damai.

Daftar Pustaka
Akcley, B.J., & Ladwig, G.B. (2011). Nursing diagnosis handbook: an evidence based guide to planning
care, 9th ed. Missouri: Mosby, Inc.
Canadian Association of Nurses in Oncology/Association Canadienne des Infirmieres en Oncologie
(CANO\ACIO). (2012). CANO/ACIO Standards and competencies for cancer chemotherapy
nursing practice
Coyne, E., & Borbasi, S. (2009). Living the experience of breast cancer treatment: The younger
women‘s perspective. Australian Journal Of Advanced Nursing, 26(4): 6-13
Davidson, A.J., & Chasen, R.M. (2008). Managing cancer cachexia : a guide to current therapy.
Oncology Exchange. 7 (3), 8-11
Desen, W. (2011).Buku ajar onkologi klinis, Edisi 2. Jakarta: Balai Penerbit FKUI
Ferrel, B.R. (1995). The impact of pain on quality of life. Nursing Clinics of North America, 30 (4),
609-624
Gardner, D.G., & Shoback, D. (2007). Greenspan’s basic & clinical endocrinology, eighth editions.
USA: The McGraw-Hills Companies, Inc.
Joaquin, A,. Custodio, S., Oliveira, A., & Pimentel, F.L. (2012). Differences between Cancer
Patients’ Symptoms Reported by Themselves and in Medical Records. Cancer and Clinical
Oncology. Vol. 1, No. 1; 2012. doi:10.5539/cco.v1n1p138
Gray, R.A. (2000). T, 77-82he use massage therapy in palliative care. Complementary Therapies I
Nursing and Midwifery. 6, 2
Gescedi, R., & Decker, G. (2001). Incorporating alternative therapies into pain management: more
pastient are considering complementary approaches. American Journal of Nursing. 101, Suppl
4, 35-39
Ignatavicius, D.D, Workman, M.L. (2010). Medical-Surgical Nursing critical thinking for collaborative
care. (6th ed.). St. Louis. Missouri: Saunders Elsevier.
Lewis, L.S., Dirksen, R.S., Heitkemper, M.M., Bucher, L., & Camera, M.I. (8th ed.). (2011).
Medical-surgical nursing: Assessment and management of clinical problems (Vol.1). St. Louis,
Missouri: Elsevier-Mosby Inc.

PROSIDING Rapat Kerja Fakultas Ilmu Kesehatan 2017 | 79


Prosiding: Peningkatan Keilmuan Solusi Tantangan Profesi Kesehatan
NANDA. (2012). Nursing diagonsis definitions & classification 2012 – 2014. Oxford : Wiley Blackwell
Otto, S.E. (2005). Pocket guide to oncology nursing.Terjemahan. Jane Freyana Budi dan Eny Meiliya.
Buku Saku Keperawatan Onkologi. Jakarta: EGC
Persatuan Perawat Nasional Indonesia [PPNI], Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia [AIPNI],
& Asosiasi Institusi Pendidikan Diploma Keperawatan Indonesia [AIPDiKI], (2012). Standar
kompetensi perawat. Diunduh dari http://hpeq.dikti.go.id/v2/ images/Produk/18.3-Draf-
STANDAR KOMPE-TENSI-PERAWAT.pdf
Price, S.A., Wilson, L.M. (2002). Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit (eds. 6). Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC
Rasjidi, I. (2010). Perawatan Paliatif Suportif & Bebas Nyeri pada Kanker. Jakarta : Sagung Seto
Ratna, J.M.J. (2003). Dampak Penyakit Kanker Terhadap Aspek Psikologis-Sosial dan Spiritual
Penderita. Makalah Ilmiah
Siegel, R., Naishadham, D., & Jemal, A. (2012). Cancer statistics, 2012. CA: A Cancer Journal for
Clinicians; 62: 10–29. American Cancer Society, Inc. doi:10.3322/caac.20138.
Tomey, A. M., & Alligood, M. R. (2010). Nursing theory and their work. (6th ed). St. Louis , Missouri
: Mosby Elsevier
Yarbro, C.H., Wujcik, D., & Gobel, B.H. (2011). Cancer nursing principle and practice (7th ed.).
London: Jones and Bartlett Publisher, LLC

80 | PROSIDING Rapat Kerja Fakultas Ilmu Kesehatan 2017


Prosiding: Peningkatan Keilmuan Solusi Tantangan Profesi Kesehatan