Anda di halaman 1dari 20

PENDIDIKAN AGAMA

(HUKUM ISLAM DAN KONTRIBUSI UMAT ISLAM


DI INDONESIA)

Oleh :
RAHMAT HAFIS RIFALDI
NIM : 1879202011
Dosen Pengampu : Ridwan SS, M.Ag

PROGRAM STUDI SASTRA INGRRIS


FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS LANCANG KUNING
2019
HUKUM ISLAM DAN KONTRIBUSI UMAT ISLAM
DI INDONESIA

1.1. Latar Belakang


Mayoritas penduduk Indonesia ialah memeluk agama islam, tentu sangat
berpengaruh terhadap pola hidup bangsa Indonesia. Perilaku pemeluknya tidak
lepas dari syari'at yang dikandung agama tersebut. Melaksanakan syari'at agama
yang berupa hukum-hukum menjadi salah satu parameter ketaatan seseorang
dalam menjalankan agamanya. Ada beberapa kata yang harus diberikan
penjelasan dari judul di atas, yaitu: kontribusi, hukum Islam, perkembangan,
hukum, dan nasional.
Kamus Besar Bahasa Indonesia menyebutkan bahwa kata "kontribusi"
berarti sumbangan. Kamus bahasa Inggeris (Oxford) menyebutnya dengan
contribution, yang berarti act of contributing, perbuatan memberikan
sumbangan. Menurut penulis, sumbangan yang dimaksud dengan kata tersebut
pada umumnya bersifat immaterial. Kata hukum yang dikenal dalam bahasa
Indonesia berasal dari bahasa Arab hukum yang berarti putusan (judgement) atau
ketetapan (Provision). Dalam buku Ensiklopedi Hukum Islam, hukum berarti
menetapkan sesuatu atas sesuatu atau meniadakannya.
Sementara dalam A Dictionary of Law dijelaskan tentang pengertian hukum
sebagai berikut "Law is "the enforceable body of rules that govern any society or
one of the rules making up the body of law, such as Act of Parliament." "Hukum
adalah suatu kumpulan aturan yang dapat dilaksanakan untuk
mengatur/memerintah masyarakat atau aturan apa pun yang dibuat sebagai suatu
aturan hukum seperti tindakan dari Parlemen."
Bagi kalangan muslim, jelas yang dimaksudkan sebagai hukum adalah Islam,
yaitu keseluruhan aturan hukum yang bersumber pada AIquran, dan untuk kurun
zaman tertentu lebih dikonkretkan oleh Nabi Muhammad dalam tingkah laku
Beliau, yang lazim disebut Sunnah Rasul. Sementara itu Rifyal Ka'bah
mengemukakan bahwa hukum Islam adalah terjemahan dari istilah Syari'at Islam
(asy-syari'ah al-lslamiyyah) atau fiqih Islam (alfiqih al- Islami). Syariat Islam dan
fiqih Islam adalah dua buah istilah otentik Islam yang berasal dari perbendaharaan
kajian Islam sejak lama. Kedua istilah ini dipakai secara bersama-sama atau silih
berganti di Indonesia dari dahulu sampai sekarang dengan pengertian yang
kadangkadang berbeda, tetapi juga sering mirip. Hal ini sering menimbulkan
kerancuan-kerancuan di kalangan masyarakat bahkan di antara para ahli. Kaidah-
kaidah yang bersumber dari Allah SWT kemudian lebih dikonkretkan
diselaraskan dengan kebutuhan zamannya rnelalui ijtihad atau penemuan hukum
oleh para mujtahid dan pakar di bidangnya masing-masing, baik secara
perorangan maupoun kolektif.

1.2. Rumusan Masalah.


Berdasarkan latar belakang permasalahan yang ada maka dikemukakan
perumusan masalah sebagai berikut ini :
1. Apa pengertian Hukum Islam ?
2. Apa saja Sumber – Sumber Hukum Islam ?
3. Apakah Fungsi Hukum Islam dalam Kehidupan Masyarakat ?
4. Apa Kontribusi Umat Islam dalam Perumusan Sistem Hukum
Nasional?

1.3. Tujuan Penulisan


Adapun tujuan yang ingin dicapai, adalah :
1. Untuk mengetahui pengertian hukum islam
2. Untuk mengetahui sumber – sumber Hukum Islam
3. Untuk mengetahui fungsi hukum islam dalam kehidupan masyarakat
4. Untuk menambah wawasan tentang kontribusi umat islam dalam
perumusan sistem hukum nasional
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Hukum Islam


Hukum adalah seperangkat norma atau peraturan-peraturan yang mengatur
tingkah laku manusia, baik norma atau peraturan itu berupa kenyataan yang
tumbuh dan berkembang dalam masyarakat maupun peraturan atau norma yang
dibuat dengan cara tertentu dan ditegakkan oleh penguasa. Bentuknya bisa berupa
hukum yang tidak tertulis, seperti hukum adat, bisa juga berupa hukum tertulis
dalam peraturan perundangan-undangan. Hukum sengaja dibuat oleh manusia
untuk mengatur hubungan manusia dengan manusia lain dan harta benda.
Sedangkan hukum Islam adalah hukum yang bersumber dan menjadi bagian
dari agama Islam. Konsepsi hukum islam, dasar, dan kerangka hukumnya
ditetapkan oleh Allah. Hukum tersebut tidak hanya mengatur hubungan manusia
denganmanusia dan benda dalam masyarakat, tetapi juga hubungan manusia
dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia dengan dirinya sendiri,
hubunganmanusia dengan manusia lain dalam masyarakat, dan hubungan manusia
dengan benda alam sekitarnya.
Sebagai sistem hukum, hukum Islam berbeda dengan sistem hukum lain,
yang pada umumnya terbentuk dan berasal dari kebiasaan-kebiasaan masyarakat
dan hasil pemikiran manusia serta budaya manusia pada suatu tempat dan masa.
Hukum islam tidak hanya merupakan hasil pemikiran yang dipengaruhi
kebudayan manusia di suatu tempat dan masa, tapi pada dasarnya ditetapkan
Allah melalui wahyu-wahyuNya, yang terdapat dalam Al-Quran dan dijelaskan
oleh Nabi Muhammad SAW sebagai rasulNya melalui sunah-sunah beliau yang
kini pun terhimpun dalam kitab-kitab hadits.
Dasar inilah yang membedakan hukum islam secara fundamental dengan
hukum-hukum lain yang semata-mata lahir dari kebiasaan dan hasil pemikiran
atau buatan manusiaAda istilah syariat, hukum syara, maupun fiqih. Bagi setiap
umat Islam selayaknya memahami ketiga istilah tersebut, agar memiliki wawasan
yang cukup mengenai wilayah dan cukupan-cakupan ilmuagama islam. Syariat
adalah segala sesuatu yang ditetapkan oleh Allah swt. Bagi hamba-hambaNya
yang dibawa oleh para Nabi Allah termasuk Nabi Muhammad SAW. Baik yang
berkaitan dengan teknik suatu amal perbuatan (yang kemudian tersusun dalam
ilmu fiqih), maupun persoalan-persoalan kepercayaan dan keimanan
(yangkemudian tersusun dalam ilmu kalam).
Hukum syara’ adalah firman Allah yang mengikat (mengatur) tindakan-
tindakan orang mukallaf (orang Islam yang telah layak menerima hak dan
kewajiban hukum) baik yang berupa tuntutan, pilihan, maupun penetapan. Hukum
syara dibagi menjadi 2 bagian:
1. Al-hukmu at-taklifiy (hukum yang bersifat pembebanan ),menurut
mayoritas ulama ada 5 tingkatan:
a. Ijab/ wajib (kewajiban), yaiti suatu perbuatan jika dilakukan
mendapat imbalan phala dan kalau ditinggalkan akan mendapat
siksa dan dosa.
b. Sunnah/ mandub (anjuran), yaitu suatu perbuatan jika dilakukan
mendapat imbalan tetapi jika ditinggalkan tidak memiliki resiko
berdosa.
c. Ibahah/ mubah (kebolehan), yaitu suatu pernuatan jika dikerjakan
mauoun ditinggalkan tidak mengandung konsekuensi pahala
ataupun dosa.
d. Karahah/ makruh (kebencian/ keterpaksaan), yaitu perbuatan jika
ditinggalkan akan mendapatkan imbalan pahala dan jika dikerjakan
tidak beresiko siksa dan dosa.
e. Tahrim/ haram (larangan) yaitu suatu perbuatan jika dikerjakan
akan mendapat siksa dan dosa, dan jika ditinggalkan akan dapat
imbalan paahala.
2. Al-hukmu al-wadl’iy (hukum yang bersifat penetapan-penetapan
khusus), terdiri dari ketetapan-ketetapan yang menentukan keberlakuan
hukum taklifiy, yaitu:
a. As-sabab (sebab), yaitu sesuatu yang ditetapkan oleh Allah sebagai
faktor datangnya ketentuan hukum taklifiy, seperti condongnya
matahari ke arah barat menjadi faktor datangnya sholat dhuhur;
seperti hadinya suatu penyakit atau kegiaatan bepergian (musafir)
menjadi dihapuskannya kewajiban puasa ramadhan pada hari itu.
Jadi, ada hubungan sebab akibat antara datangnya suatu faktor
dengan datangnya hukum.
b. As-syarath (syarat) yaitu sesuatu yang ditetapkan oleh Allah untuk
menjadi faktor bagi keabsahan suatu hukum walaupun tidak
memiliki hubungan mutlak sebab akibat, seperti akad nikah yang
sah merupakan syarat ditetapkannya talak/ perceraian karena tidak
ada perceraian jika sepasang manusia tidak pernah menikah secara
sah, dan seoarang yang menikah secara sah, dan seorang yang
menikah secara sah dan tidak selalu berakhir dengan perceraian.
c. Al- mani’ (penghalang), yaitu segala sesuatu yangt ditetapkan oleh
Allah menjadi penghalang pelaksanaan suatu hukum. Maka jika
sesuatu itu ada, secara otomatis hukum itu tidak berlaku, seperti
batalnya hak mewarisi bagi seorang pembunuh bagi yang
dibunuhnya. Dalam hukum waris, seorang anak memperoleh bagian
harta waris dari orang tuanya dalam keadaan apapun juga. Namun
hal ini bisa di anulir jika terbukti ternyata anak tersebut ternyata
menjadi pembunuh bagi orang tuanya. Maka dalam hal ini
“membunuh”adalah mani’/ penghalanh untuk menerima waris.
d. Azimah (ketetapan reguler), yaitu ketetapan Allah yang
disampaikan kepada umatnya secara umum dengan tidak disertai
dengan relevansi-relevansi khusus baik dalam keadaan tertentu
maupun terhadap kelompok tertentu. Seperti shalat 5 waktu
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan waktu dan jumlah rekaatnya.
e. Rukhshah (dipensasi), yaitu ketetapan Allah untuk memberikan
dipensasi bagi umatnya dalam keadaan khusus yang menghajatkan
seperti itu. Seperti shalat dhuhur yang dapat digabung dengan shalat
ashar dengan masing- masing dua rekaat saja (disebut dengan jama’
dan qashar); orang yang sakit memperoleh dispensasi puasa
ramadhan untuk dikerjakan di bulan lainnya saja.
f. As-Shihhah (valid/ absah) yaitu ketetapan Allah bagi amalan-
amalan yang telah memenuhi standar kriteria syarat dan rukunnya.
Seperti shalat yang dilakukan sebagaimana syarat dan ketentuan
secara lengkap maka shalat itu ditetapkan sabagai shalat yang sah.
g. Al-buthlan (batal) yaitu ketetapan Allah bagi amalan-amalan yang
telah memenuhi ketetentuan syarat dan rukun padahal tidak
memiliki dispensasi apapun.
Istilah fiqih didefinisikan dengan pengetahuan tentang hukum-hukum syara
yang bersifat praktis dari dalil-dalil yang terperinci, yang dihasilkan dari rasio dan
ijtihad melalui proses pemikiran dan perenungan. Banyak definisi tentang fiqih,
ada yang menyebutkan bahwa fiqih dengan ilmu pengetahuan tentang hukum
syara’ yang praktis digali dari sumber-sumbernya yang terperinci. Oleh karena itu,
fiqih bersifat instrumental, dari ruang lingkupnya terbatas pada hukum yang
mengatur perbuatan manusia, yang disebut dengan perbuatan hukum. Karena fiqih
adalah hasil karya manusia, maka ia tidak berlaku abadi dan dapat berubah dari
masa ke masa, dan dapat berbeda dari satu tempat ke tempat yang lain. Hal ini
terlihat dari aliran-aliran hukum yang disebut dengan istilah mazahib atau
mahzab-mahzab. Oleh karena itu, dalam fiqih menunjukan keragaman dalam
hukum islam. Fiqih dalam bahasa Indonesia berisi perincian-perincian sdari
syariah karena itu ia dapat dikatakan sebagai elaborasi terhadap syariah. Elaboarsi
yang dimaksud adalah suatu kegiatan ijtihad dengan menggunakan akal pikiran
atau ar-ra’yu.
Ijtihad adalah usaha atau ikhtiar yang sungguh-sungguh dengan
mempergunakan segenap kemampuan yang ada, dilakukan oleh orang (ahli
hukum) yang memenuhi syarat untuk mendapat garis hukum yang belum jelas
atau tidak ada ketentuannya dalam al-quran dan sunah Rasulullah. Jika
mempelajari kitab-kitab fiqih, maka seseorang akan menemukan pemikiran para
fukaha antara lain pendiri empat mazhab yang dikenal sampai sekarang masih
berpengaruh dikalanngan umat islam sedunia, yaitu: Abu Hanifah (pendiri
mazhab hanafi), Malik bin Annas (pendiri mazhab Maliki), Muhammad bin Idris
asy Syafi’I (pendiri mazhab Syafi’i), dan Ahmad bin Hambal (pendiri mazhab
Hambali). Para yuris islam tersebut sangat berjasa bagi perkembangan hukum
islam melalui pemikiran-pe ikiran mereka yang mengagumnkan.
Menurut Tahir Azhary, ada tiga sifat hukum Islam, Dengan sifat ini, hukum
islam mempunyai validitas baik bagi perorangan maupun masyarakat. Sifat-sifat
itu adalah:
a. Bidimensional yang artinya mengandung segi kemanusiaan dan segi
ketuhanan (illahi) sehingga luas atau komprehensif.
b. Adil, sifat ini merupakan tujuan penetapan hukum islam, dan telah
melekat sejak kaidah-kaidah dalam syariah ditetapkan.
c. Individualistik, dan kemasyarakatan yang diikat oleh nilai-nilai
transdental yaitu wahyu Allah yang di sampaikan kepada Nabi
Muhammad SAW.

2.2. Sumber Hukum Islam


Di dalam hukum islam rujukan-rujukan dan dalil telah ditentukan
sedemikian rupa oleh syariat, mulai dari sumber yang pokok maupun yang
bersifaat alternatif. Sumber tertib hukum Islam ini secara umumnya dapat
dipahami dalam firman Allah dalam QS. An-nisa: 59, “wahai orang-orang yang
beriman, taatilah Allah dan taatilah RasulNya dan ulil amri di antara kamu. Jika
kamu berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia pada Allah (al
quran) dan Rasul (sunnahnya) jika kamu benar-benar beriman kapada Allah dan
hari akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik (akibatnya).
Dari ayat tersebut, dapat diperoleh pemahaman bahwa umat islam dalam
menjalankan hukum agamanya harus didasarkan urutan:
a. Selalu menataati Allah dan mengindahkan seluruh ketentuan yang berlaku
dalam alquran.
b. Menaati Rasulullah dengan memahami seluruh sunnah-sunnahnya.
c. Menaati ulil amri (lembaga yang menguasai urusan umat islam.
d. Mengenbalikan kepada alquran dan sunah jika terjadi perbedaan dalam
menetapkan hukum,
Secara lebih teknis umat islam dalam berhukum harus memperhatikan
sumber tertib hukum:
1. Al Quran
Al-Quran juga di definisikan ialah 'Kalam Allah Swt yang diwahyukan
kepada nabi yang terakhir Muhammad SAW, yang merupakan mukjizat yang
terbesar diberikan Allah SWT terhadap Rasul SAW dan membacanya
merupakan ibadah (pahala). Dalam al-quran juga disebutkan ada beberapa
nama lain Al-quran seperti :
· Al-kitab
· Al-Syifa (obat)
· Al-Huda’ (petunjuk)
· Al-Furqan (pembeda), dan
· Al-Mau’izhah (nasihat).
Al-Qur’an adalah kitab yang berisikan petunjuk Allah Swt untuk menjelaskan
berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan hambanya, membedakan antara
yang haq dan yang bathil, serta menjadi peringatan, obat dan rahmat bagi orang-
orang yang beriman. Sebagaimana yang telah diwahyukan oleh Allah Swt dalam
QS.Al-Isra’ 82:
“Dan kami turunkan dari Al-quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat
bagi orang-orang yang beriman dan Al-quran itu tidaklah menambah kepada
orang-orang yang zalim selain kerugian”.
Al-Qur’an adalah sumber hukum utama dan pertama dalam islam. Karena
setiap muslim wajib berpegang teguh kepada isi kandungan Al-Qur’an dan
menempatka Al-Qur’an sebagai rujukan utama dan pertama dalam menetapkan
suatu hukum Allah SWT berfirman :
“Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah,
Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (QS. al-Maidah: 44).

2. Sunah atau hadits Rasul


As-sunnah menurut istilah yang dirumuskan oleh ‘Ulama Hadits adalah
“Segala sesuatu yang diambil dari Nabi Muhammad SAW baik berupa perkataan,
perbuatan maupun taqrir (ketentuan), pengajaran, sifat, kelakuan dan perjalanan
hidup baik yang terjadi sebelum masa kenabian ayau sesudahnya”
Sedangkan menurut ‘ulama Fiqih : “ Segala sesuatu yang diambil dari Nabi
Muhammad SAW baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan(taqrir) yang
mempunyai kaitan dengan hukum”
Berdasarkan pengertian di atas , dapat diklasifikasikan kepada 4 macam
yaitu;
a. Hadits Qauliyah
Seluruh hadits yang bersumber dari perkataan Nabi Muhammad SAW,
baik dalam bentuk perintah, larangan, anjuran atau nasehat , dan lain-lain.
Yang dapat dijadikan dalil untuk menetapkan hukum syara’
b. Hadits Fi’liyah
Seluruh hadits yang bersumber dari perilaku atau perbuatan yang
ditampilkan oleh Nabi Muhammad SAW agar diconthkan atau diteladani oleh
umatnya.Contohnya: tata cara wudu’ , shalat, haji, dan lain-lain yang
diperbua dan dicontohkan oleh Nabi.

c. Hadits Taqririyah
Seluruh hadits yang berbentuk ketetapan atau persetujuan Nabi
Muhammad SAW terhadap suatu perkara yang dilakukan sahabat atau
umatnya. Dalam hal ini, Nabi Muhammad SAW memberikan persetujuan
atau ketetapan terhadap hal-hal positif yang dilakukan sahabatnya. Sebagai
contoh, Nabi Muhammad SAW menyetujui kalimat-kalimat azan yang
dikumandangkan oleh sahabat yang bernama Bilal Bin Rabbah.
d. Hadits Hamiyah
Hadits Nabi Muhammad SAW yang masih berbentuk harapan. Menurut
ahli hadits, bentuk hadits seperti ini sangat sedikit, bahkan ada yang
mengatakan tidak ada. Hal ini dikarenakan Nabi Muhammad SAW adalah
sosok teladan yang tidak pernah meminta umatnya melakukan sesuatu
sebelum ia sendiri melakukannya. Begitupun, ada yang berpendapat bahwa
Nabi Muhammad SAW pernah berniat untuk berpuasa pada Muharram, tetapi
sebelum ia menunaikannya, beliau telah dipanggil Allah Swt inilah salah
satunya sumber informasi tentang hadits hammiyah.
Hadits terdiri dari :
a. Matan, yaitu isi atau kandungan dari suatu hadits yang memuat berbagai
pengertian.
b. Sanad, yaitu jalan yang menyampaikan kepada matan hadits,yaitu nama-
nama para perawinya yang berurutan menjadi sandaran dalam
periwayatan hadits menjadi perantara Nabi Muhammad SAW sampai
kepada perawi atau orang yang meriwayatkan suatu hadits
c. Rawi yaitu orang-orang yang meriwayatkan haditst

Klasifikasi Hadits
a. Hadits Shahih
Yaitu hadits yang dapat dipakai sebagai landasan hukum. Hadits yang
sahih para perawinya bersambung sampai kepada Nabi SAW, perawinya
orang yang taat beragama, kuat hafalannya dan isinya tidak bertentangan
dengan Al-Qur’an.
b. Hadits Hasan (baik)
Yaitu hadits yang memenuhi persyaratan seperti perawinya semuanya
bersambungan, perawinya taat beragama, agak kuat hafalannya, tidak
bertentangan dengan Al-Qur‟an dan tidak cacat di dalamnya.
c. Hadits Daif (lemah)
Yaitu hadits yang tidak memenuhi criteria persyaratan hadits hasan
apalagi shahih. Hadits daif tidak boleh dijadikan sebagai landasan hukum.

3. Ijtihad
Menurut bahasa Ijtihad artinya bersungguh-sungguh. Menurut istilah Ijtihad
ialah bersungguh-sungguh menggunakan akal pikiran untuk merumuskan dan
menetapkan hukum atau suatu perkara yang tidak ditemukan kepastian hukumnya
dalam Al-Qur’an maupun Hadits.
Bentuk-bentuk Ijtihad :
a. Ijma’
Menggunakan bahasa Ijma’ berarti menghimpun, mengumpulkan dan
menyatukan pendapat. Menurut istilah ijma’ adalah kesepakatan para ulama
tentang hukum suatu masalah yang tidak tercantum di dalam Al-Qur’an dan Al-
Hadits.
b. Qiyas
Menurut bahasa Qiyas berarti mengukur sesuatu dengan contoh yang lain,
kemudian menyamakannya. Menurut istilah, Qiyas adalah menentukan hukum
suatu masalah yang tidak ditentukan hukumnya dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits
dengan cara menganalogikan suatu masalah dengan masalah yang lain karena
terdapat kesamaan ‘illat (alasan).
c. Istihsan
Menurut bahasa, Istihsan berarti menganggap/mengambil yang terbaik dari
suatu hal. Menurut istilah, Istihsan adalah meninggalkan qiyas yang jelas (jali)
untuk menjalankan qiyas yang tidak jelas (khafi), atau meninggalkan hukum
umum (universal / kulli) untuk menjalankan hukum khusus (pengecualian
/istitsna’), karena adanya alasan yang menurut pertimbangan logika
menguatkannya. Contoh: menurut istihsan sisa minuman dari burung-burung yang
buas seperti elang, gagak, rajawali dan lain-lain itu tetap suci berbeda dengan sisa
minuman dari binatang-binatang buas seperti harimau, singa, serigala dan lain-
lain yang haram dagingnya karena sisa makanan binatang-binatang buas ini
mengikuti hukum dagingnya, maka sisa minumannya juga haram (najis).
d. Masalihul Mursalah
Menurut bahasa, Masalihul Mursalah berarti pertimbangan untuk mengambil
kebaikan. Menurut istilah, Masalihul Mursalah yaitu penetapan hukum yang
didasarkan atas kemaslahatan umum atau kepentingan bersama dimana hukum
pasti dari maslah tersebut tidak ditetapkan oleh oleh syar’I (al Qur’an dan Hadits)
dan tidak ada perintah memperhatikan atau mengabaikannya. Contoh penggunaan
masalihul mursalah kebijaksanaan yang diambil sahabat Abu Bakar shiddiq
mengenai pengumpulan al Qur’an dalam suatu mush-haf, penggunaan ‘ijazah,
surat-surat berharga.
e. Istish-hab
Melanjutkan berlakunya hukum yang telah ada dan telah diterapkan karena
adanya suatu dalil sampai datangnya dalil lain yang mengubah kedudukan hukum
tersebut. Misalnya apa yang diyakini ada, tidak akan hilang oleh adanya keragu-
raguan, contoh : orang yang telah berwudlu, lalu dia ragu-ragu apakah sudah batal
atau belum, maka yang dipakai adalah dia tetap dalam keadaan wudlu dalam
pengertian wudhunya tetap sah. Seperti itu juga dalam hal menentukan suatu
masalah yang hukum pokoknya mubah (boleh), maka hukumnya tetap mubah
sampai datang dalil yang mnegharuskan meninggalkan hukum tersebut.

2.3. Fungsi Hukum Islam Dalam Kehidupan Bermasyarakat


Hukum islam memiliki tiga orientasi, yaitu:
a. Mendidik indiividu (tahdzib al-fardi) untuk selalu menjadi sumber
kebaikan,
b. Menegakkan keadilan (iqamat al-‘adl),
c. Merealisasikan kemashlahatan (al-mashlahah).
Orientasi tersebut tidak hanya bermanfaat bagi manusia dalam jangka
pendek dalam kehidupan duniawi tetapi juga harus menjamin kebahagiaan
kehidupan di akhirat yang kekal abadi. Sedangkan fungsi hukum islam
dirumuskan dalam empat fungsi, yaitu:
1. Fungsi ibadah. Dalam adz-Dzariyat: 56, Allah berfirman: “Dan tidak aku
ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu’. Maka
dengan dalil ini fungsi ibadah tampak paling menonjol dibandingkan dengan
fungsi lainnya.
2. Fungsi amar makruf nahi munkar (perintah kebaikan dan peencegahan
kemungkaran). Maka setiap hukum islam bahkan ritual dan spiritual pun
berorientasi membentuk mannusia yang yang dapat menjadi teladan kebaikan
dan pencegah kemungkaran.
3. Fungsi zawajir (penjeraan). Adanya sanksi dalam hukum islam yang bukan
hanya sanksi hukuman dunia, tetapi juga dengan aancaman siksa akhirat
dimaksudkan agar manusia dapat jera dan takut melakukan kejahatan.
4. Fungsi tandzim wa ishlah al-ummah (organisasi dan rehabilitasi masyarakat).
Ketentuan hukum sanksi tersebut bukan sekedar sebagai batas ancaman dan
untuk menakut-nakuti masyarakat saja, akan tetapi juga untuk rehaabilitasi
dan pengorganisasian umat mrnjadi lebih baik. Dalam literatur ilmu hukum
hal ini dikenal dengan istilah fungsi enggineering social.
Keempat fungsi hukum tersebut tidak dapat dipilah-pilah begitu saja untuk bidang
hukum tertentu tetapi satu dengan yang lain juga saling terkait.

2.4. Kontribusi Umat Islam Dalam Perumusan dan Penegakan Sistem


Hukum Indonesia
Hukum islam ada dua sifat, yaitu:
a. Al- tsabat (stabil), hukum islam sebagai wahyu akan tetap dan tidak
berubah sepanjang masa.
b. At-tathawwur (berkembang),hukum islam tidak kaku dalam berbagai
kondisi dan situasi sosial.
Hukum Islam memiliki prospek dan potensi yang sangat besar dalam
pembangunan hukum nasional. Ada beberapa pertimbangan yang menjadikan
hukum Islam layak menjadi rujukan dalam pembentukan hukum nasional yaitu :
1. Undang-undang yang sudah ada dan berlaku saat ini seperti, UU Perkawinan,
UU Peradilan Agama, UU Penyelenggaraan Ibadah Haji, UU Pengelolaan
Zakat dan UU Otonomi Khusus Nanggroe Aceh Darussalam serta beberapa
undang-undang lainnya yang langsung maupun tidak langsung memuat
hukum Islam seperti UU Nomor 10 Tahun 1998 tentang perbankan yang
mengakui keberadaan Bank Syari'ah dengan prinsip syari'ahnya., atau UU
NO. 3 Tahun 2006 tentang Peradilan Agama yang semakin memperluas
kewenangannya, dan UU Nomor 21Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah.
2. Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih kurang 90 persen beragama
Islam akan memberikan pertimbangan yang signifikan dalam
mengakomodasi kepentingannya.
3. Kesadaran umat Islam dalam praktek kehidupan sehari-hari. Banyak aktifitas
keagamaan masyarakat yang terjadi selama ini merupakan cerminan
kesadaran mereka menjalankan Syari'at atau hukum Islam, seperti pembagian
zakat dan waris.
4. Politik pemerintah atau political will dari pemerintah dalam hal ini sangat
menentukan. Tanpa adanya kemauan politik dari pemerintah maka cukup
berat bagi Hukum Islam untuk menjadi bagian dari tata hukum di Indonesia.
Untuk lebih mempertegas keberadaan hukum Islam dalam konstalasi hukum
nasional dapat dilihat dari teori eksistensi tentang adanya hukum Islam di dalam
hukum nasional Indonesia. teori ini mengungkapkan bahwa bentuk eksistensi
hukum Islam di dalam hukum nasional lndonesia itu ialah:
1. Ada dalam arti sebagai bagian integral dari hukum nasional lndonesia.
2. Ada dalam arti kemandirian, kekuatan dan wibawanya diakui adanya oleh
hukum nasional dan diberi status sebagai hukum nasional.
3. Ada dalam hukum nasional dalam arti norma hukum Islam (agama) berfungsi
sebagai penyaring bahan-bahan hukum nasionallndonesia.
4. Ada dalam arti sebagai bahan utama dan unsur utama hukum nasional
Indonesia.
Ada tiga faktor yang menyebabkan hukum Islam masih memiliki peran besar
dalam kehidupan bangsa kita.
1. Hukum Islam telah turut serta menciptakan tata nilai yang mengatur
kehidupan umat Islam, minimal dengan menetapkan apa yang harus dianggap
baik dan buruk, apa yang menjadi perintah, anjuran, perkenan, dan larangan
agama.
2. Banyak keputusan hukum dan unsur yurisprudensial dari hukum Islam telah
diserap menjadi bagian dari hukum positif yang berlaku.
3. Adanya golongan yang masih memiliki aspirasi teokratis di kalangan umat
islam dari berbagai negeri sehingga penerapan hukum islam secara penuh
masih menjadi slogan perjuangan yang masih mempunyai appeal cukup
besar.
Secara sosiologis, kedudukan hukum islam (hukum fiqih) itu sendiri di
Indonesia, melibatkan kesadaran keagamaan mayoritas penduduk yang sedikit
banyak berkaitan pula dengan masalah kesadaran hukum. Baik norma agama
maupun norma hukum selalu sama-sama menuntut ketaatan.
Tahir Azhari mengatakan bahwa hukum Islam mengikat setiap individu
yang beragama Iilam untuk melaksanakannya, yang implementasinya terbagi
dalam 2 perspektif, yaitu : ibadah mahdlah dan tanpa campur tangan penguasa
kecuali untuk fasilitasnya muamalah, baik yang bersifat perdata maupun publik,
yang melibatkan kekuasaan negara. Kontribusi baru dari hukum Islam terhadap
hukum nasional adalah berupa kehadiran Kompilasi Hukum Ekonomi Syari'ah
melalui PERMA Nomor 02 Tahun 2008. Pasal 1 Perma tersebut menyatakan
bahwa Kitab ini menjadi pedoman prinsip syari'ah bagi para Hakim dengan tidak
mengurangi tanggung jawab Hakim untuk menggali dan menemukan hukum
untuk menjamin putusan yang adil dan benar.
Secara filosofis-politis, keeratan hubungan keduanya dapat dilihat dari
perspektif pancasila yang menurut doktrin ilmu hukum di Indonesia merupakan
sumber dari segala sumber hukum. Di dalam pancasila itu sendiri, agama
mempunyai posisi yang sentral. Di dalamnya, terkandung prinsip yang
menempatkan agama dan ke-Tuhanan Yang Maha Esa dalam posisi yang pertama
dan utama. Demikian juga dengan tinjauan juridis, kedudukan agama dalam
konteks hukum dan keeratan hubungan antara keduanya dijamin menurut
Pembukaan UUD 1945 dan Pasal 29 UUD 1945 yang menyatakan:
Dilihat dari sketsa historis, hukum islam masuk ke Indonesia bersama
masuknya islam ke Indonesia pada abad ke 1 hijriyah atau 7/8 masehi. Sedangkan
hukum barat bary diperkenalkan VOC awal abad 17 masehi. Sebelum islam
masuk Indonesia, rakyat Indonesia menganut hukum adat yang bermacam-macam
sistemnya dan sangat majemuk sifatnya. Namun setelah islam datang dan menjadi
agama resmi di berbagai kerajaan nusantara, maka hukum islam pun munjadi
hukum resmi kerajaan-kerajaan tersebut dan tersebar manjadi hukum yang berlaku
dalam masyarakat. Dalam pembentukan hukum islam di Indonesia, kesadaran
berhukum islam untuk pertama kali pada zaman kemerdekaan adalah di dalam
Piagam Jakarta 22 juni 1945 , yang di dalam dasar ketuhanan diikuti dengan
pernyataan “dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemeluk-
pemeluknya”. Tetapi dengan pertimbangan untuk persatuan dan kesatuan bangsa
Indonesia akhirnya mengalami perubahan pada tanggal 18 Agustus 1945 yang
rumusan sila pertamanya menjadi “ketuhanan yang maha esa.
Demikian pula halnya dengan peran akademisi dalam pengembangan dan
penelitian yang dapat menunjang perkembangan hukum Islam di Indonesia. Dan
yang juga tidak kalah pentingnya adalah peran para ulama, kyai yang
mengajarkan dan tetap menyiarkan materi-materi hukum Islam kepada para santri
serta jamaahnya yang tersebar di berbagai pelosok tanah air.
Demikian beberapa argumen yang memberikan peluang kepada hukum Islam
untuk berkembang dan layak dijadikan bahan pertimbangan dalam pembangunan.
kukum nasional, karena bangsa Indonesia perlu menformulasikan hukum sesuai
dengan filsafat hukum Indonesia, sebab aturan hukum yang ada sekarang ini
masih banyak yang merupakan warisan bangsa Belanda. Contohnya sistem
Hukum Pidana yang kita berlakukan sampai saat ini merupakan warisan Belanda
yang diperuntukkan berlakunya terutama bagi bangsa Indonesia sebagai bangsa
yang terjajah. Pada waktu itu sistem hukum demikian sesuai dengan keadilan
menurut versi penjajah. Setelah Indonesia merdeka tentu perlu ditinjau kembali
dan kalau tidak sesuai dengan kebutuhan bangsa serta rasa keadilan kiranya tidak
perlu dan tidak akan dipertahankan. Dengan demikian kontribusi umat islam
dalam perumusan dan penegakan hukum sangat besar. Ada pun upaya yang harus
dilakukan untuk penegakan hukum dalam praktek bermasyarakat dan bernegara
yaitu melalui proses kultural dan dakwah. Apabila islam telah menjadikan suatu
keebijakan sebagai kultur dalam masyarakat, maka sebagai konsekuensinya
hukum harus ditegakkan. Bila perlu “law inforcement” dalam penegakkan hukum
islam dengan hukum positif yaitu melalui perjuangan legislasi. Sehingga dalam
perjaalananya suatu ketentuan yang wajib menurut islam menjadi wajib pula
menurut perundangan.
BAB III
PENUTUP

1.1. Kesimpulan
Hukum Islam adalah hukum yang bersumber dan menjadi bagian dari
agama Islam. Konsepsi hukum islam, dasar, dan kerangka hukumnya ditetapkan
oleh Allah. Hukum tersebut tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan
manusia dan benda dalam masyarakat, tetapi juga hubungan manusia dengan
Tuhan, hubungan manusia dengan manusia dengan dirinya sendiri, hubungan
manusia dengan manusia lain dalam masyarakat, dan hubungan manusia dengan
benda alam sekitarnya.
Perkembangan hukum Islam di Indonesia memiliki peluang yang sangat
cerah dalam pembangunan hukum nasional, karena secara sosioantropologis dan
emosional, hukum Islam sangat dekat dengan rnasyarakat Indonesia yang
mayoritas penduduknya beragama Islam. Selain itu secara historis hukum Islam
telah dikenal jauh sebelum penjajah masuk ke Indonesia. Peluang bagi masa
depan hukum Islam di Indonesia juga terbuka karena telah banyak aturan dalam
hukum Islam yang disahkan menjadi hukum nasional dan hal ini memperlihatkan
bagaimana politicall will pemerintah yang memberikan respon dan peluang yang
baik bagi hukum Islam. Dengan melihat realitas kedekatan, kompleksitas materi
hukum Islam pada masa datang, peluang hukum Islam dalam pembangunan
hukum nasional akan lebih luas lagi.
Demikian juga peran akademisi yang melakukan pengembangan dan
penelitian yang konstruktif dapat menunjang perkembangan hukum Islam di
Indonesia. Yang tidak kalah pentingnya adalah peran para ulama, kyai yang secara
ikhlas mengajarkan dan tetap menyiarkan materi-materi hukum Islam kepada para
santri serta jamaahnya yang tersebar di berbagai pelosok tanah air. Semua itu
secara alami akan tetap menjaga keberadaan hukum Islam di Indonesia.
Ada tiga faktor yang menyebabkan hukum Islam masih memiliki peran
besar dalam kehidupan bangsa kita. Pertama, hukum Islam telah turut serta
menciptakan tata nilai yang mengatur kehidupan umat Islam, minimal dengan
menetapkan apa yang harus dianggap baik dan buruk, apa yang menjadi perintah,
anjuran, perkenan, dan larangan agama. Kedua, banyak keputusan hukum dan
unsur yurisprudensial dari hukum Islam telah diserap menjadi bagian dari hukum
positif yang berlaku. Ketiga, adanya golongan yang masih memiliki aspirasi
teokratis di kalangan umat Islam dari berbagai negeri sehingga penerapan hukum
Islam secara penuh masih menjadi slogan perjuangan yang masih mempunyai
appeal cukup besar.
DAFTAR PUSTAKA

AS Hornby, et. Al. 1942. OxfordAdvanced Dictionary of Current English. (edidi


revisi), (London: Oxford University [t. th.], ed. I, hal. 186-187.
Buletin Dakwah Rifyal Ka'bah. 2006. Hukum Islam di Indonesia .
Departemen Pendidikan Nasional. 2005. Kamus Besar Bahasa
Indonesia, Jakarta:Balai Pustaka, edisi ketiga, hal. 592.
Djamali, A. 2003. Pengantar Hukum Indonesia. PT Raja Grafindo Persada,
Jakarta: cet. Kedelapan, hal. 170.
Hartono, S. 1999. Bertenun dengan Benang-benang Kusut, Jakarta:
Yayasan Al-Hikmah, hal. 5 dan 11.
Iehtijanto.1994.Pengembangan Teori Berlakunya Hukum Islam di
Indonesia.Remaja Rosdakarya eet. ke-2, hal. 137
Muchsin. 2004. Ikhtisar Sejarah Hukum, Jakarta: BP IBLAM, hal .9-22.
Muchsin. 2004. Masa Depan Hukum Islam Di Indonesia, Jakarta: BP IBLAM,
hal. 17-18
Republika, Rabu 2 April 2008, hal. 5