Anda di halaman 1dari 7

1

JURNAL TEKNIK ITS Vol. X, No. Y, (2019) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print)

Perencanaan Terowongan Bawah Laut Sistem


Immersed Tunnel di Teluk Balikpapan
Fitriyah Ulfa, Dr. Trihnyndio Rendy S., S.T., M.T., dan Prof. Ir. Indrasurya B. Mochtar, M.Sc., Ph.D.
Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil, Lingkungan, dan Kebumian
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia
e-mail: indrasurya@ce.its.ac.id

Abstrak— Teluk Balikpapan merupakan salah satu Immersed tunnel adalah terowongan yang
perairan di Provinsi Kalimantan Timur yang memisahkan Kota ditenggelamkan dibawah laut. Pembangunan terowongan
Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Lama sistem immersed tunnel paling banyak dilakukan di beberapa
perjalanan dari atau menuju PPU-Balikpapan membutuhkan negara maju karena biaya konstruksi yang dibutuhkan lebih
waktu yang lama baik melalui jalur darat maupun jalur laut. murah dibandingkan biaya konstruksi jembatan, dan
Hal tersebut mampu menghambat kegiatan ekonomi antara pelaksanaan konstruksi immersed tunnel lebih mudah
Balikpapan – PPU. Sehingga dibutuhkan infrastruktur baru daripada pelaksanaan konstruksi jenis terowongan bawah laut
yang dapat mempersingkat waktu perjalanan tersebut. lainnya. Oleh karena sebab tersebut, perencanaan terowongan
Immersed tunnel adalah terowongan yang bawah laut jenis immersed tunnel yang menghubungkan Kota
ditenggelamkan dibawah laut. Pembangunan immersed tunnel Balikpapan-Kabupaten PPU ini perlu untuk dilakukan.
sudah banyak dilakukan di beberapa negara maju karena biaya Terdapat beberapa perencanaan yang perlu diperhatikan
konstruksi yang dibutuhkan lebih murah, dan pelaksanaan dalam perencaanan immersed tunnel yaitu rute terowongan,
konstruksinya lebih mudah daripada jenis terowongan lainnya.
alinemen segmen utama terowongan, perencanaan dimensi
Selain itu, material yang dibutuhkan juga dapat diperoleh
terowongan, dan perencanaan backfill terowongan. Karena
secara lokal.
terowongan ini terdapat dibawah laut, maka gaya angkat air
Dari hasil perencanaan yang telah dilakukan, immersed
laut yang terjadi terhadap segmen utama harus diperhatikan,
tunnel pada Teluk Balikpapan berada pada kedalaman -15 m
untuk menghindari segmen terangkat sehingga sambungan
MSL, dengan panjang ±5 km dibagi menjadi beberapa segmen
dengan panjang per segmen adalah 154,5 m dan 150 m, lebar
antara segmen bisa patah.
segmen adalah 43,8 m. Immersed tunnel memiliki 2 ruang jalan
raya, 2 ruang jalan rel, dan 2 ruang darurat. Segmen Dalam menentukan kelayakan dari pembangunan Jalan
terowongan telah dilakukan kontrol berat sehingga segmen ini Tol Pandaan – Malang ini ditentukan dari besarnya nilai
dapat mengambang di permukaan air pada saat konstruksi dan Benefit Cost Ratio (BCR), Net Present Value (NPV),
tetap berada di bawah laut dengan bantuan timbunan backfill Payback Return, dan Internal Rate of Return (IRR).
pada saat masa operasional. Pembangunan proyek dikatakan layak apabila nilai BCR >1,
nilai NPV > 0, Payback Return < lama konsesi
Kata Kunci: immersed tunnel, backfill, foundation bed, buoyancy, pembangunan, dan IRR > Discount Rate.
Teluk Balikpapan

I. PENDAHULUAN
eluk Balikpapan merupakan salah satu perairan di
T Provinsi Kalimantan Timur yang memisahkan Kota
Balikpapan dan Kabupaten Penajam. Sebagai kabpaten
termuda di Kalimantan Timur, Kabupaten PPU sedang
berupaya mengembangkan pemerintahannya dengan
membangun beberapa infrastruktur agar pelayanan
pemerintah terhadap masyarakat dapat berjalan maksimal.
Salah satu infrastruktur yang perlu dikembangkan adalah
sarana transportasi dari atau menuju Kabupaten PPU-Kota
Balikpapan. Perjalanan dari atau menuju Kabupaten PPU-
Balikpapan membutuhkan waktu yang lama baik melalui
jalur darat maupun jalur laut. Hal tersebut mampu
menghambat kegiatan ekonomi antara Balikpapan-PPU.
Sehingga dibutuhkan infrastruktur baru yang dapat
mempersingkat waktu perjalanan tersebut.
Infrastruktur yang akan dibangun antara Penajam-
Balikpapan diharapkan tidak hanya dapat digunakan
kendaraan roda dua dan roda empat, tapi juga kereta api.
Kereta api memiliki kecepatan melebihi kendaraan roda
empat. Selain itu kereta api juga mampu mengangkut muatan
lebih banyak daripada transportasi lain, sehingga kegiatan II. METODOLOGI
ekspor impor menggunakan kereta api lebih efisien. Urutan penyelesaian Tugas Akhir ini dapat dilihat
pada bagan alir di bawah ini:
2

Keterangan:
Ruas A = Jalan Raya Malang – Surabaya (Sukorejo)
Ruas B = Jalan Raya Pasuruan (Purwosari)
Ruas C = Jalan Raya Gempol – Malang (Purwodadi)
Ruas D = Jalan Raya Mondoroko (Singosari)
Ruas E = Jalan A. Yani Utara (Arjosari)
Ruas F = Jalan Letjend S. Parman
Jalan Tol = Jalan Tol Pandaan – Malang
B. Analisis Lalu Lintas Kondisi With Project
Sedangkan untuk perhitungan derajat kejenuhan,
maka menggunakan formula:
Dj = Q/C (2)
Dimana:
Dj = Derajat Kejenuhan
Q = Arus Lalu Lintas (skr/jam)
C = Kapasitas jalan (skr/jam)
Sehingga didapatkan nilai derajat kejenuhan pada
Gambar 3.1 Diagram Alir Penyelesaian Tugas Akhir tahun 2019 dari masing-masing jalan eksisting sebagaimana
pada Tabel 4.2.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 4.2 Derajat kejenuhan Jalan Eksisting Without Project
A. Analisis Data Lalu Lintas Ruas Jalan Q C Dj
Ruas A Arah
Dari data Traffic Counting yang didapat dari Malang - Pandaan
2555 3534 0.723
Laboratorium Perhubungan Teknik Sipil Institut Teknologi Ruas A Arah
2834 3534 0.802
Sepuluh Nopember akan digunakan untuk menganalisis Pandaan - Malang

kapasitas ruas jalan, volume kendaraan, dan derajat Ruas B Arah


1810 3640 0.497
Malang - Pandaan
kejenuhan. Kapasitas jalan adalah jumlah kendaraan Ruas B Arah
1846 3640 0.507
maksimum yang dapat melewati suatu jalur atau ruas jalan Pandaan - Malang
selama periode waktu tertentu dalam kondisi jalan raya dan Ruas C Arah
2546 3534 0.720
Malang - Pandaan
arus lalu lintas tertentu [4]. Berikut ini adalah formula yang Ruas C Arah
2039 3534 0.577
digunakan untuk menghitung kapasitas ruas : Pandaan - Malang
C = C0 * FCLJ * FCPA * FCHS (1) Ruas D Arah
3516 3534 0.995
Malang - Pandaan
Dimana : Ruas D Arah
3436 3534 0.972
C = adalah kapasitas ( skr/jam ) Pandaan - Malang
C0 = kapasitas dasar ( skr/jam ) Ruas E Arah
3231 3534 0.914
Malang - Pandaan
FCLJ = adalah faktor penyesuaian kapasitas terkait lebar
Ruas E Arah
3028 3534 0.857
lajur atau jalur lalu lintas. Pandaan - Malang
FCPA =adalah faktor penyesuaian kapasitas terkait Ruas F Arah
2654 3534 0.751
Malang - Pandaan
pemisahan arah, hanya pada jalan tak terbagi.
Ruas F Arah
FCHS = adalah faktor penyesuaian kapasitas terkait KHS 2147 3534 0.608
Pandaan - Malang
pada jalan berbahu atau berkereb. Dari hasil perhitungan sesuai Tabel 4.2. terlihat bahwa
Sehingga didapatkan nilai kapasitas ruas dari beberapa ruas jalan eksisting sudah mendekati kondisi jenuh
masing-masing jalan eksisting dan jalan tol sebagaimana (>0,75) dan bahkan ada yang melebihi kondisi jenuh. Maka
pada Tabel 4.1. berikut: selanjutnya dilakukan analisis pertumbuhan lalu lintas pada
jalan eksisting dengan menggunakan data laju pertumbuhan
Tabel 4.1. Kapasitas Ruas Jalan Eksisting dan Jalan Tol yaitu data jumlah penduduk menurut kabupaten dan kota,
data PDRB atas dasar harga konstan kabupaten dan kota, dan
Kapasitas
(C)
data PDRB perkapita atas dasar harga konstan kabupaten dan
Jalan C0 FCLJ FCPA FCHS kota. Data-data tersebut digunakan sebagai acuan
(skr/jam)
(perlajur) pertumbuhan kendaraan hingga tahun rencana.
Ruas A 1900 1.000 1.000 0.93 1767 Untuk mengetahui kecepatan kendaraan pada saat
Ruas B 1900 1.030 1.000 0.93 1820 tidak ada hambatan atau Dj = 0, maka digunakan perhitungan
Ruas C 1900 1.000 1.000 0.93 1767 Kecepatan Arus Bebas. Kecepatan arus bebas didefiniskan
Ruas D 1900 1.000 1.000 0.93 1767 sebagai kecepatan rata-rata teoritis dari arus lalu lintas pada
Ruas E 1900 1.000 1.000 0.93 1767 waktu kerapatan mendekati nol atau sama dengan nol, yaitu
Ruas F 1900 1.000 1.000 0.93 1767
Jalan Tol 2300 1.012 - - 2328
3

tidak ada kendaraan di jalan atau kecepatan suatu kendaraan dengan menggunakan grafik pada PKJI ’14 hubungan derajat
yang tidak terpengaruh oleh kehadiran kendaraan lain (yaitu kejenuhan (DS) dengan tipe jalan masing-masing ruas jalan.
kecepatan dimana pengemudi merasa nyaman untuk bergerak Kecepatan tempuh kendaraan dianalisis pada kondisi without
pada kondisi geometrik, lingkungan, dan pengendalian lalu project pada jalan eksisting serta kondisi with project pada
lintas yang ada pada suatu segmen jalan tanpa lalu lintas lain jalan eksisting dan jalan tol.
[4].
Bentuk umum persamaan untuk menentukan C. Analisis Trip Assignment
Trip Assignment merupakan salah satu cara yang
kecepatan arus bebas untuk jalan luar kota adalah:
digunakan untuk memprediksi persentase perpindahan
VB = (VBD + FVB, W) × FVB, HS × FVB, KFJ (3)
kendaraan dari jalan eksisting ke Jalan Tol Pandaan – Malang
Dimana:
saat jalan tol tersebut beroperasi pada tahun 2019. Untuk
VB = adalah kecepatan arus bebas kendaraan ringan
melakukan perhitungan analisis trip assignment, dilakukan
pada kondisi lapangan (km/jam)
beberapa metode, yaitu Metode JICA I, Metode Davidson,
VBD = adalah arus bebas dasar kendaraan ringan pada
dan Metode Smock. Namun pada akhirnya memilih Metode
jalan dan alinemen yang diamati (km/jam)
Smock dengan parameter yang dianalisis melingkupi
FVB,W = adalah penyesuaian kecepatan akibat lebar jalan
kecepatan, panjang jalan, waktu tempuh perjalanan (TT), dan
(km/jam)
kapasitas jalan (C), sebelumnya diperlukan adanya
FVB,HS = adalah faktor penyesuaian akibat hambatan
pembagian zona untuk mengetahui perpindahaan kendaraan
samping dan lebar bahu
yang terjadi di jalan tol rencana. Dalam tugas akhir ini terbagi
FVB,KFJ = adalah faktor penyesuaian kelas fungsi jalan
menjadi 5 seksi sesuai dengan data perencanaan Jalan Tol
Untuk kecepatan arus bebas tipe kendaraan lain dapat
Pandaan – Malang. Berikut adalah langkah perhitungan Trip
ditentukan dengan rumus berikut:
Assignment dengan Metode Smock :
VB, KBM = VBD - FVB × FVB, KBM / VBD (4)
1. Menentukan volume kendaraan maksimum
Dimana,
(skr/jam) pada jalan eksisting.
FVB = VBD - VB (5)
2. Menentukan besarnya increment setiap iterasi.
3. Menentukan kecepatan rata-rata pada ruas jalan
Keterangan: eksisting maupun jalan tol.
FVB = adalah faktor penyesuaian kecepatan arus bebas 4. Menentukan panjang jalan eksisting dan panjang
KR (km/jam) jalan tol yang bersangkutan.
VBD = adalah kecepatan arus bebas dasar KR (km/jam) 5. Menentukan Travel Time (TT) dalam satuan menit
VB = adalah kecepatan arus bebas KR (km/jam) pada setiap jalan eksisting maupun pada jalan tol.
VBD, KBM = adalah kecepatan arus bebas dasar KBM, Untuk jalan eksisting, waktu tempuh didapatkan dari
(km/jam) membagi panjang jalan dengan kecepatan rata-rata
Dengan menggunakan data geometrik pada jalan tempuh kemudian dijadikan satuan menit.
eksisting dan jalan tol sebagai acuan menghitung kecepatan Sedangkan untuk jalan tol, waktu tempuh
arus bebas, maka didapatkan kecepatan arus bebas setiap didapatkan dari membagi panjang jalan dengan
kecepatan rata-rata arus bebas ditambah dengan
golongannya sebagaimana pada Tabel 4.3.
hasil pembagian dari tarif tol dengan nilai waktu
kemudian dijadikan satuan menit.
6. Menentukan kapasitas jalan (C) setiap jalan
eksisting maupun jalan tol yang telah ditentukan.
7. Pada iterasi pertama dimasukkan rata-rata volume
sepeda motor sebagai perbandingan antara jalan
eksisting dan jalan tol.
Tabel 4.3. KecepatanArus Bebas Jalan Eksisting dan Jalan 8. Dari hasil besarnya travel time setiap iterasi ini
Tol selanjutnya dibandingkan antara ruas jalan eksisting
dan jalan tol. Dari hasil perhitungan tersebut
Kecepatan Arus Bebas (km/jam)
Ruas Jalan didapatkan porsentase sebagaimana pada Tabel 4.4.
KR KBM BB TB berikut :
Ruas A 74.147 61.789 76.999 58.937
Ruas B 76.048 63.373 78.973 60.448 Tabel 4.4. Presentase Perpindahan Kendaraan Berdasarkan
Metode Smock
Ruas C 74.147 61.789 76.999 58.937
Asal Tujuan Arah Tidak Pindah Pindah
Ruas D 74.147 61.789 76.999 58.937
Malang - Pandaan 40.00% 60.00%
Ruas A dan Ruas B Jalan Tol Seksi 1
Ruas E 74.147 61.789 76.999 58.937 Pandaan - Malang 22.22% 77.78%
Malang - Pandaan 40.00% 60.00%
Ruas C Jalan Tol Seksi 2
Ruas F 74.147 61.789 76.999 58.937 Pandaan - Malang 44.44% 55.56%
Malang - Pandaan 40.00% 60.00%
Jalan Tol 88.800 70.636 90.818 65.591 Ruas D Jalan Tol Seksi 3
Pandaan - Malang 40.00% 60.00%
Setelah didapatkan kecepatan arus bebas (Free Flow) Malang - Pandaan 40.00% 60.00%
Ruas E Jalan Tol Seksi 4
untuk masing-masing tipe kendaraan di semua ruas jalan Pandaan - Malang 40.00% 60.00%
Malang - Pandaan 46.15% 53.85%
eksisting kemudian dianalisis kecepatan tempuh kendaraan Ruas F Jalan Tol Seksi 5
Pandaan - Malang 70.00% 30.00%
4

Perhitungan nantinya akan digunakan untuk  Harga Kendaraan : Rp. 545.000.000


menghitung volume kendaraan yang berpindah dari jalan  Bahan Bakar : Rp. 9.500,00 (Biosolar)
eksisting ke jalan tol.  Pelumas : Rp. 50.000,00 (Cartago)
 Tipe Ban : Dunlop
D. Analisis Lalu Lintas Kondisi With Project  Harga Ban : Rp. 1.260.000,00 / ban
Dari hasil perhitungan trip assignment maka akan  Biaya Pemeliharaan : Rp. 15.000,00 / jam
didapatkan presentase kendaraan yang akan berpindah ke b. Golongan II (truk 2 As)
jalan tol dan kendaraan yang tetap menggunakan jalan  Tipe Kendaraan : Hino dutro 110 LD
eksisting sehingga dapat diketahui jumlah arus lalu lintas  Harga Kendaraan : Rp. 248.400.000
yang akan melewati Jalan Tol Pandaan – Malang. Setelah  Bahan Bakar : Rp. 9.500,00 (Biosolar)
didapatkan jumlah arus lalu lintas yang melewati jalan tol dan  Pelumas : Rp. 50.000,00 (Cartago)
telah dilakukan perhitungan kapasitas jalan tol, maka dapat  Tipe Ban : Dunlop
diketahui besarnya derajat kejenuhan pada jalan tol rencana  Harga Ban : Rp. 1.059.000,00 / ban
sebagaimana pada Tabel 4.5. berikut :  Biaya Pemeliharaan : Rp. 15.000,00 / jam
c. Golongan III (Truk 3 As)
Tabel 4.5. Derajat kejenuhan Jalan Tol Pandaan -  Tipe Kendaraan : Hino FL235JN
Malang with Project  Harga Kendaraan : Rp. 660.000.000
 Bahan Bakar : Rp. 9.500,00 (Biosolar)
Ruas Jalan Arah Q C Dj
Malang - Pandaan 630 4655 0.14  Pelumas : Rp. 50.000,00 (Cartago)
SEKSI 1 (Pandaan - Purwodadi)
Pandaan - Malang 760 4655 0.16  Tipe Ban : Dunlop
SEKSI 2 (Purwodadi - Lawang)
Malang - Pandaan 1082 4655 0.23  Harga Ban : Rp. 1.260.000,00 / ban
Pandaan - Malang 646 4655 0.14  Biaya Pemeliharaan : Rp. 15.000,00 / jam
Malang - Pandaan 1359 4655 0.29
SEKSI 3 (Lawang - Singosari) d. Golongan IV (Truk 4 As)
Pandaan - Malang 1477 4655 0.32
Malang - Pandaan 1239 4655 0.27  Tipe Kendaraan : Hino SG 260J ABS
SEKSI 4 (Singosari - Pakis)
Pandaan - Malang 1257 4655 0.27  Harga Kendaraan : Rp. 677.000.000
SEKSI 5 (Pakis - Malang)
Malang - Pandaan 852 4655 0.18  Bahan Bakar : Rp. 9.500,00 (Biosolar)
Pandaan - Malang 368 4655 0.08  Pelumas : Rp. 50.000,00 (Cartago)
 Tipe Ban : Dunlop
E. Analisis Biaya Operasinal Kendaraan
 Harga Ban : Rp. 1.260.000,00 / ban
Perhitungan Biaya Operasional Kendaraan (BOK)
 Biaya Pemeliharaan : Rp. 15.000,00 / jam
pada tugas akhir ini menggunakan metode Jasa marga. BOK
e. Golongan V (Truk 5 As)
terdiri dari biaya tidak tetap (variable cost): biaya konsumsi  Tipe Kendaraan : Hino TH C/R ABS
bahan bakar, biaya pelumas, biaya ban, biaya pemeliharaan  Harga Kendaraan : Rp. 917.000.000
(suku cadang), biaya pemeliharaan (upah mekanik), dan  Bahan Bakar : Rp. 9.500,00 (Biosolar)
biaya tetap (fixed cost): biaya depresiasi kendaraan, biaya  Pelumas : Rp. 50.000,00 (Cartago)
bunga modal, dan biaya over head [5]. Parameter yang  Tipe Ban : Dunlop
digunakan dalam perhitungan biaya operasional kendaraan  Harga Ban : Rp. 1.260.000,00 / ban
adalah harga dari tiap-tiap komponen pada berbagai jenis  Biaya Pemeliharaan : Rp. 15.000,00 / jam
kendaraan dan kecepatan dari tiap jenis kendaraan. Berikut Dengan menggunakan formula jasa marga, maka total
ini adalah asumsi yang dipakai untuk tiap-tiap jenis golongan BOK didapatkan dengan cara:
kendaraan beserta harga satuan yang digunakan dalam
perhitungan BOK. Total BOK =Total Biaya Gerak (konsumsi BBM +
a. Golongan I (mobil penumpang, bus, elf) Konsumsi oli mesin + pemakaian ban +
 Tipe Kendaraan :Grand New Avanza Depresiasi) + Total biaya tetap (biaya bunga
Type 1.3 E Modal + baya asuransi) (6)
 Harga Kendaraan : Rp. 191.100.000 Dan cara menghitung total biaya operasional adalah
 Bahan Bakar : Rp. 7.800,00 (Pertalite) Total = Harga BOK (Rp/km) * Jarak (km) * Volume
 Pelumas : Rp. 69.000,00 (Castrol) Kendaraan (skr/tahun) (7)
 Tipe Ban : Bridgestone
E. Nilai Waktu
 Harga Ban : Rp. 828.000,00 / ban
 Biaya Pemeliharaan : Rp. 15.000,00 / jam Nilai waktu merupakan besarnya jumlah uang yang
 Tipe Kendaraan : Isuzu Elf NLR 55 B dikeluarkan oleh pengguna jalan untuk melakukan satu unit
Microbus waktu perjalanan secara ekonomis [5]. Besarnya nilai
 Harga Kendaraan : Rp. 359.300.000 keuntungan (benefit) dari nilai waktu diperoleh dari
 Bahan Bakar : Rp. 9.500,00 (Biosolar) perhitungan nilai penghematan (saving) nilai waktu. Untuk
 Pelumas : Rp. 50.000,00 (Cartago) mendapatkan nilai penghematan nilai waktu yaitu dengan
 Tipe Ban : Bridgestone cara membandingkan nilai waktu sebelum ada jalan tol
 Harga Ban : Rp. 1.059.000,00 / ban (without project) dengan nilai waktu sesudah ada jalan tol
 Biaya Pemeliharaan : Rp. 15.000,00 / jam (with project). Untuk mendapatkan nilai waktu digunakan
 Tipe Kendaraan : Hino A215 rumus:
5

Nilai Waktu = Max {(k + Nilai Waktu Dasar * faktor berapa penghematan dari nilai waktu proyek menggunakan
kalibrasi); (Nilai Waktu Minimum * faktor rumus:
kalibrasi)} (8)
Saving Nilai Waktu = Nilai Waktu(without project) – Nilai
Sehingga dapatkan nilai waktu tiap golongannya: Waktu(with project)
• Gol. I = Rp. 70.923
• Gol. IIA = Rp. 106.983 Sehingga didapatkan penghematan nilai waktu pada tahun
• Gol. IIB = Rp. 79.472 2054 sejumlah Rp1.534.310.267.889
Nilai waktu pada umur rencana mengalami kenaikan
inflasi sebesar 4,25% yang didapatkan dari rata-rata kenaikan 3. Kelayakan Ekonomi
inflasi selama 3 tahun belakangan ini. Data inflasi ini
Dalam analisis ini kelayakan dinilai dari parameter NPV
didapatkan dari website resmi Bank Indonesia
(Net Present Value) dan BCR (Benefit Cost Ratio). Selama
(www.bi.go.id). Nilai inflasi digunakan untuk perhitungan
umur rencana, kedua parameter tersebut didapat dari
selama 35 tahun ke depan. Selanjutnya nilai waktu dikalikan
dengan waktu tempuh perjalanan untuk mendapatkan nilai membandingkan antara nilai manfaat dan biaya
waktu pada satu tahun. pembangunan Jalan Tol Pandaan - Malang.
Hasil perhitungan kelayakan ini diberikan dalam
Nilai Waktu = Waktu Tempuh x Nilai Waktu x Jumlah bentuk cashflow selama 35 tahun yang akan menghasilkan
Kendaraan x 365 hari perhitungan untung rugi di setiap tahun rencana dari sudut
pandang pengguna jalan. Nilai investasi dan biaya
F. Analisis Kelayakan Ekonomi pemeliharaan yaitu:
Analisis kelayakan ekonomi keuntungan ditinjau dari • Biaya Investasi = Rp 5.970.055.000.000
sudut pandang kebermanfaatnya terhadap masyarakat • Biaya Pemeliharaan = Rp. 82.292.000.000
sebagai pengguna jalan (user cost). Dalam analisis ini • Tingkat Suku Bunga = 4,86% (BI rate) flat.
kelayakan dinilai dari parameter NPV (Net Present Value) Kemudian setelah dilakukan perhitungan didapatkan:
dan BCR (Benefit Cost Ratio) selama umur rencana. Nilai
• Benefit= Rp24.181.721.363.481
manfaat didapatkan dari jumlah penghematan (saving) Biaya
• Cost = Rp8.649.848.530.752
Operasional Kendaraan (BOK) dan penghematan (saving)
Sehingga didapatkan nilai BCR:
nilai waktu sebelum dan sesudah adanya proyek
pembangunan Jalan Tol Pandaan – Malang. Sedangkan biaya BCR =Rp24.181.721.363.481 / Rp8.649.848.530.752
investasi pembangunan jalan tol ini berupa biaya konstruksi = 2,796 > 1
dan biaya pembebasan lahan, serta biaya operasional dan Dan nilai NPV:
pemeliharan. NPV = Rp24.181.721.363.481 - Rp8.649.848.530.752
1. Saving BOK = Rp15.531.872.832.729 > 0
Penghematan Biaya Operasional Kendaraan merupakan Maka dapat disimpulkan bahwa pembangunan Jalan
perbandingan besarnya nilai BOK pada kondisi without Tol Pandaan - Malang dikatakan “LAYAK” secara ekonomi.
project dan kondisi with project. Kondisi without project
G. Analisis Kelayakan Finansial
adalah sebuah kondisi sebelum dibangunnya Jalan Tol
Pandaan - Malang sedangkan kondisi with project adalah Analisis kelayakan finansial keuntungan ditinjau dari
sebuah kondisi setelah dibangunnya Jalan Tol Pandaan – sudut pandang investor sebagai pihak yang memberi investasi
Malang. Perhitungan penghematan BOK didapatkan dari: terhadap biaya pembangunan Jalan Tol Pandaan – Malang.
Untuk menentukan analisis kelayakan finansial dapat
Total BOKwithout project = BOK semua Ruas jalan eksisting ditentukan dari beberapa indikator seperti Benefit Cost Ratio
without project (BCR), Net Present Value (NPV), Payback Period, dan
Total BOKwith project = BOKsemua ruas jalan eksisting Internal Rate of Return (IRR). Dalam perhitungan kelayakan
with project + BOK Jalan Tol finansial proyek, maka perlu dicari :
Pandaan - Malang
Saving BOK = BOKwithout project - BOKwith 1. Pendapatan Tarif Tol Pandaan - Malang
project Tarif tol yang digunakan untuk Tol Pandaan - Malang
Sehingga didapatkan penghematan pada tahun 2054 sejumlah berdasarkan hasil interpolasi tarif Tol Solo - Ngawi Segmen
Rp1.668.479.397.334 Kertasura Sragen berdasarkan Badan Pengatur Jalan Tol
(BPJT) (dengan panjang 35,2 km) sesuai dengan panjang
2. Saving Nilai Waktu Jalan Tol Pandaan – Malang.
Penghematan Nilai Waktu merupakan perbandingan Golongan I = Rp. 1.000,00 /km
antara besarnya nilai waktu pada kondisi without project dan Golongan II = Rp. 1.600,00 /km
kondisi with project. Kondisi without project adalah sebuah Golongan III = Rp. 1.600,00 /km
kondisi sebelum dibangunnya Jalan Tol Pandaan - Malang Golongan IV = Rp. 2.100,00 /km
sedangkan kondisi with project adalah sebuah kondisi setelah
Golongan V = Rp. 2.100,00 /km
dibangunnya Jalan Tol Pandaan – Malang. Untuk mengetahui
6

Kemudian didapatkan total pendapatan tarif tol pada tahun IV. KESIMPULAN DAN SARAN
2054 sebagaimana pada Tabel 4.6. berikut: A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil perhitungan dan analisis, maka
Tabel 4.6. Total Pendapatan Tarif Tol pada Tahun 2054 didapatkan kesimpulan bahwa:
1. Berdasarkan hasil analisis dan perhitungan volume
Jalan Tol Pandaan - Malang Total Pendapatan
without project dalam tugas akhir ini, maka didapatkan
Seksi 1 Rp 2,440,738,351,000 kondisi derajat kejenuhan (DS) pada jalan eksisting
Seksi 2 Rp 1,674,451,754,000 sebelum pembangunan Jalan Tol Pandaan - Malang pada
tahun pertama.
Seksi 3 Rp 2,319,436,405,000
 Jalan Raya Malang – Surabaya (Sukorejo) Arah
Seksi 4 Rp 1,366,613,135,000 Malang – Pandaan = 0,72
Seksi 5 Rp 442,880,242,000  Jalan Raya Malang – Surabaya (Sukorejo) Arah
Pandaan – Malang = 0,80
 Jalan Raya Pasuruan (Purwosari) Arah Malang –
2. Analisis Kelayakan Finansial BCR dan NPV
Pandaan = 0,50
Dalam menganalisis kelayakan pembangunan Jalan  Jalan Raya Pasuruan (Purwosari) Arah Pandaan –
Pandaan - Malang ditinjau dari aspek finansial, maka Malang = 0,51
dibutuhkan analisis BCR dan NPV sebagai indikator layak  Jalan Raya Gempol – Malang (Purwodadi) Arah
atau tidaknya pembangunan Jalan Tol Pandaan - Malang. Malang – Pandaan = 0,72
Dari hasil analisis maka dapat disimpulkan:  Jalan Raya Gempol – Malang (Purwodadi) Arah
• Benefit (Income) = Rp25.409.947.022.739 Pandaan – Malang = 0,58
• Cost (Outcome) = Rp8.649.848.530.752  Jalan Raya Mondoroko (Singosari) Arah Malang –
Sehingga hasilnya didapatkan sebagai berikut ini: Pandaan = 0,99
 Jalan Raya Mondoroko (Singosari) Arah Pandaan –
BCR = Rp25.409.947.022.739 / Rp8.649.848.530.752 Malang = 0,97
= 2,938 > 1  Jalan A. Yani Utara (Arjosari) Arah Malang -
NPV = Rp25.409.947.022.739 - Rp8.649.848.530.752 Pandaan = 0,91
= Rp16.760.098.491.986 > 0  Jalan A. Yani Utara (Arjosari) Arah Pandaan –
Malang = 0,86
Maka proyek pembangunan Jalan Tol Pandaan - Malang  Jalan Raya Letjend S. Parman Arah Malang –
dikatakan “LAYAK” secara finansial. Pandaan = 0,75
 Jalan Raya Letjend S. Parman Arah Pandaan –
Malang = 0,61
3. Analisis Payback Period
Dalam analisis kelayakan finansial, maka perlu diketahui 2. Berdasarkan hasil analisis dan perhitungan trip
berapa lama jangka waktu pengembalian biaya investasi. assignment dengan metode smock maka didapatkan
Analisis ini dihitung dengan cara menghitung waktu yang persentase volume kendaraan yang akan pindah ke Jalan
diperlukan pada saat total arus kas masuk sama dengan arus Tol Pandaan - Malang :
kas keluar (NPV = 0). Dari hasil perhitungan didapatkan  Dari Jalan Raya Malang – Surabaya (Sukorejo) dan
waktu pengembalan investasi (Payback Period) selama 17 Jalan Raya Pasuruan (Purwosari) ke Jalan Tol Seksi
Tahun 6 Bulan 22 Hari 1 Arah Malang – Pandaan =60%
Payback Period < Lama konsesi = 35 Tahun  Dari Jalan Raya Malang – Surabaya (Sukorejo) dan
Maka proyek pembangunan Jalan Tol Pandaan - Malang Jalan Raya Pasuruan (Purwosari) ke Jalan Tol Seksi
dikatakan “LAYAK” secara finansial. 1 Arah Pandaan - Malang =77,78%
 Dari Jalan Raya Gempol – Malang (Purwodadi) ke
4. Analisis Kelayakan Finansial Internal Rate of Return Jalan Tol Seksi 2 Arah Malang – Pandaan =60%
Analisis Internal Rate of Return merupakan tingkat  Dari Jalan Raya Gempol – Malang (Purwodadi) ke
Jalan Tol Seksi 2 Arah Pandaan – Malang = 55,56%
pengembalian yang menghasilkan NPV arus kas masuk sama
 Dari Jalan Raya Mondoroko (Singosari) ke Jalan Tol
dengan NPV arus kas keluar. Analisis ini dilakukan dengan Seksi 3 Arah Malang – Pandaan =60%
cara membandingkan tingkat suku bunga yang menyebabkan  Dari Jalan Raya Mondoroko (Singosari) ke Jalan Tol
nilai NPV = 0 dan tingkat suku bunga pengembalian terendah Seksi 3 Arah Pandaan - Malang =60%
MARR (Minimum Attractive Rate of Return).  Dari Jalan A. Yani Utara (Arjosari) ke Jalan Tol
Dari hasil perhitungan didapatkan tingkat pengembalian suku Seksi 4 Arah Malang – Pandaan =60%
bunga (IRR) = 11,926 %  Dari Jalan A. Yani Utara (Arjosari) ke Jalan Tol
IRR > Discount Rate = 4,86% Seksi 4 Arah Pandaan – Malang =60%
 Dari Jalan Raya Letjend S. Parman ke Jalan Tol
Maka proyek pembangunan Jalan Tol Pandaan - Malang
Seksi 5 Arah Malang – Pandaan =53,85%
dikatakan “LAYAK” secara finansial
 Dari Jalan Raya Letjend S. Parman ke Jalan Tol
Seksi 5 Arah Pandaan – Malang = 30%
7

3. Berdasarkan hasil analisis dan perhitungan volume with 2019. [Online]. Available:
project dalam tugas akhir ini, maka didapatkan kondisi https://jatim.bps.go.id/statictable/2018/10/29/1324/j
derajat kejenuhan (DS) pada jalan tol rencana setelah umlah-penduduk-dan-laju-pertumbuhan-penduduk-
pembangunan jalan tol Pandaan - Malang pada tahun menurut-kabupaten-kota-di-provinsi-jawa-timur-
pertama. 2010-2016-dan-2017.html. [Accessed: 16-Feb-
 Seksi 1 (Pandaan – Purwodadi) Arah Malang – 2018].
Pandaan = 0,14 [2] BPS, “Badan Pusat Statistik,” 2014. [Online].
 Seksi 1 (Pandaan – Purwodadi) Arah Pandaan – Available:
Malang = 0,16 https://www.bps.go.id/statictable/2014/02/18/1274/p
 Seksi 2 (Purwodadi – Lawang) Arah Malang – royeksi-penduduk-menurut-provinsi-2010---
Pandaan = 0,23 2035.html. [Accessed: 17-Feb-2018].
 Seksi 2 (Purwodadi – Lawang) Arah Pandaan – [3] Malang Times.com, “Jumlah Kunjungan Wisatawan
Malang = 0,14 di Kabupaten Malang Capai 5,8 Juta,” 2017.
 Seksi 3 (Lawang – Singosari) Arah Malang – [Online]. Available:
Pandaan = 0,29 https://www.malangtimes.com/baca/20126/2017081
 Seksi 3 (Lawang – Singosari) Arah Pandaan – 2/125427/wow-jumlah-kunjungan-wisatawan-di-
Malang = 0,32 kabupaten-malang-capai-58-juta/. [Accessed: 18-
Feb-2018].
 Seksi 4 (Singosari – Pakis) Arah Malang – Pandaan
= 0,27 [4] Kementerian Pekerjaan Umum, Pedoman Kapasitas
Jalan Indonesia. Jakarta: Kementerian Pekerjaan
 Seksi 4 (Singosari – Pakis) Arah Pandaan –Malang
Umum, 2014.
= 0,27
[5] Tamin, Ofyar Z. Perencanaan dan Permodelan
 Seksi 5 (Pakis – Malang) Arah Malang – Pandaan
Transportasi, 2nd ed. Bandung: ITB, 2000.
= 0,18
 Seksi 5 (Pakis – Malang) Arah Pandaan – Malang
= 0,08

4. Dari analisis aspek kelayakan ekonomi didapatkan hasil:


 Benefit = Rp24.181.721.363.481
 Cost = Rp8.649.848.530.752
Sehingga didapatkan Nilai Beneft Cost Ratio (BCR)
2,796 > 1 dan nilai Nett resent Value (NPV) Rp.
15.531.872.832.729 > 0 sehingga dapat disimpulkan
bahwa pembangunan Jalan Tol Pandaan - Malang
dikatakan “LAYAK” secara ekonomi.

5. Dari analisis aspek kelayakan finansial bedasarkan data


volume hasil perhitungan trip assignment, didapatkan
hasil:

 Benefit(Income) =Rp25.409.947.022.739
 Cost(Outcome) =Rp8.649.848.530.752
Sehingga didapatkan nilai Benefit Cost Ratio (BCR):
2,938 > 1 Nilai Nett Present Value (NPV): Rp
16.760.098.491.986 > 0. Dan nilai Internal Rate of Return
(IRR): 11,926% > 4,86%, serta Payback Period: 17
Tahun 6 Bulan 22 Hari < 35 Tahun. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa pembangunan Jalan Tol Pandaan –
Malang dikatakan “LAYAK” secara finansial.

B. Saran
Hasil analisis dan perhitungan tugas akhir ini
menunjukkan bahwa pembangunan Jalan Tol Pandaan –
Malang dinyatakan layak dari segi ekonomi dan finansial,
sehingga proyek ini diharapkan segera diselesaikan agar
mampu mengatasi masalah kepadatan lalu lintas.

DAFTAR PUSTAKA

[1] BPS, “Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur,”