Anda di halaman 1dari 7

KESEIMBANGAN EMOSI DAN INTELEKTUAL AUDITOR UNTUK

MENGARAHKAN SKEPTISIME MENJADI SENJATA AUDIT

Dalam ilmu filsafat, para filsuf zaman dahulu sudah menerapkan di berbagai bidang
kajian dalam menggunakan skeptisisme, salah satunya yang sering digunakan adalah
dalam bidang agama dan seringkali berperan besar di dalam perdebatan religius.
Argumen yang ditawarkan biasanya begini, “jika tidak ada yang dapat diketahui
sepenuhnya oleh manusia, maka ia hanya perlu mempercayainya”. Skeptisisme sendiri
menurut wikipedia adalah paham yang memandang sesuatu selalu tidak pasti
(meragukan, mencurigakan) contohnya; kesulitan itu telah banyak menimbulkan
skeptisisme terhadap kesanggupan dalam menanggapi gejolak hubungan internasional.
Menurut kamus besar bahasa indonesia skeptis yaitu kurang percaya, ragu-ragu
(terhadap keberhasilan ajaran dsb): contohnya; penderitaan dan pengalaman menjadikan
orang bersifat sinis dan skeptis. Jadi secara umum skeptisisme adalah ketidakpercayaan
atau keraguan seseorang tentang sesuatu yang belum tentu kebenarannya.
Dalam penggunaan sehari-hari skeptisisme bisa berarti suatu sikap keraguan
atau disposisi untuk keraguan baik secara umum atau menuju objek tertentu, doktrin
yang benar ilmu pengetahuan atau terdapat di wilayah tertentu belum pasti; ataumetode
ditangguhkan pertimbangan, keraguan sistematis, atau kritik yang karakteristik skeptis
(Merriam-Webster). Dalam filsafat, skeptisisme adalah merujuk lebih bermakna khusus
untuk suatu atau dari beberapa sudut pandang. Termasuk sudut pandang tentang:
1. Sebuah Pertanyaan,
2. Metode mendapatkan pengetahuan melalui keraguan sistematis dan terus
menerus pengujian
3. Kesembarangan, relativitas, atau subyektivitas dari nilai-nilai moral,
4. Keterbatasan pengetahuan,
5. Metode intelektual kehati-hatian dan pertimbangan yang ditangguhkan.
Pengertian Skeptisme Profesional Auditor Menurut Sukrisno Agoes (2012:71),
menyatakan bahwa,
“Skeptisme Profesional merupakan sikap yang penuh dengan pertanyaan di
dalambenaknya serta sikap penilaian kritis atas setiap bukti audit yang diperoleh“.
Pengertian Skeptisme Profesional Auditor menurut (Theodorus;2013:321) menyatakan
bahwa, Skeptisme profesional adalah kewajiban auditor untuk menggunakan
danmempertahankan skeptisme profesional, sepanjang periode penugasan terutama
kewaspadaanatas kemungkinan terjadinya kecurangan. Maka dapat dikatakan bahwa
Skeptisisme profesional auditor merupakan sikap kritis yangmencangkup pikiran yang
selalu mempertanyakan dan melakukan evaluasi secara kritisterhadap bukti audit,
memahami setiap bukti audit untuk mewaspadai kemungkinan terjadinyakecurangan.
Indikator Skeptisme Profesional Auditor dalam penelitian ini adalah:
1. Pemikiran yang selalu mempertanyakan (Arens et all, 2012)
2. Pemahaman terhadap bukti audit (Arens et all, 2012)
3. Evaluasi Kritis atas Bukti Audit(Arens et all, 2012)

AICPA mendefinisikannya sebagai berikut,


“Professional skepticism in auditing implies an attitude that includes a questioning mind
and a critical assessment of audit evidence without being obsessively suspicious or
skeptical. The Auditors are expected to exercise professional skepticism in conducting
the audit, and in gathering evidence sufficient to support or refute management’s
assertion" (AU 316 AICPA).
Meskipun Standar Profesional Akuntan Publik telah mendefinisikan skeptisisme
profesional, namun tidak ada pedoman praktis mengenai skeptisisme dalam
penerapannya. Setelah membaca berbagai standar dan riset di berbagai bidang profesi
dan akademis yang berkaitan dengan skeptisisme profesional, (Hurtt; 2003)
mengembangkan sebuah model skeptisisme profesional dan memetakan karakteristik
yang dimiliki seseorang yang memiliki skeptisisme profesional. Karakteristik tersebut
terdiri dari enam, yakni
1. Pola pikir yang selalu bertanyatanya (questioning mind),
2. Penundaan pengambilan keputusan (suspension of judgment),
3. Mencari pengetahuan (search for knowledge),
4. Kemampuan pemahaman interpersonal (interpersonal understanding),
5. Percaya diri (self-confidence), dan
6. Determinasi diri (self-determination).
Dari keenam karakteristik tersebut, Hurtt memetakannya menjadi tiga karakteristik
besar, yang pertama berkaitan dengan pengumpulan bukti-bukti audit (yakni
questioning mind, suspension of judgment, dan search for knowledge), yang kedua
berkaitan dengan orang-orang yang menyediakan bukti-bukti atau sumber diperolehnya
bukti-bukti audit (yakni interpersonal understanding), dan yang ketiga berkaitan dengan
kemampuan auditor dalam mengolah bukti-bukti audit yang diperolehnya (yakni
selfconfidence dan self-determination). Karakteristik pertama, pola pikir yang selalu
bertanya-tanya (questioning mind), mencerminkan sikap keragu-raguan seperti yang
terdapat dalam definisi skeptisisme profesional secara umum maupun khusus dalam
auditing. Karakteristik kedua, penundaan pengambilan keputusan (suspension of
judgment), mencerminkan sikap yang tidak tergesa-gesa dalam melakukan suatu hal.
Orang yang skeptis tetap akan mengambil suatu keputusan, namun tidak segera, karena
mereka membutuhkan informasi-informasi pendukung lainnya untuk mengambil
keputusan tersebut (Hurtt, 2003). Karakteristik ketiga, mencari pengetahuan (search for
knowledge), menunjukkan bahwa orang yang skeptis memiliki sikap 16 keingintahuan
akan suatu hal. Berbeda dengan sikap bertanya-tanya, yang didasari keraguan atau
ketidakpercayaan, karakteristik ketiga ini didasari karena keinginan untuk menambah
pengetahuan (Hurtt, 2003). Karakteristik keempat, pemahaman interpersonal
(interpersonal understanding), memberikan pemahaman bahwa orang yang skeptis akan
mempelajari dan memahami individu lain yang memiliki pandangan dan persepsi yang
berbeda mengenai suatu hal (Hurtt; 2003). Dengan memahami persepsi orang lain,
orang yang skeptis akan mengambil kesimpulan dan beragumentasi untuk mengoreksi
pendapat orang lain. Karakteristik kelima, percaya diri (self-confidence), diperlukan
oleh auditor untuk dapat menilai buktibukti audit, selain itu, percaya diri diperlukan
oleh auditor untuk dapat berhadapan dengan berinteraksi dengan orang lain atau klien,
termasuk juga beradu argumentasi dan mengambil tindakan audit yang diperlukan
berdasarkan keraguan atau pertanyaan yang timbul dalam dirinya (Hurtt; 2003).
Karakteristik keenam, determinasi diri (self-determination), diperlukan oleh auditor
untuk mendukung pengambilan keputusan, yakni menentukan tingkat kecukupan bukti-
bukti audit yang sudah diperolehnya (Hurtt; 2003).
Pentingnya skeptisisme profesional banyak ditekankan oleh berbagai jenis
profesi. Umumnya profesi yang membutuhkan skeptisisme profesional adalah profesi
yang berhubungan dengan pengumpulan dan penilaian bukti-bukti secara kritis, dan
melakukan pertimbangan pengambilan keputusan berdasarkan bukti yang dikumpulkan.
Profesi-profesi yang dirujuk antara lain, detektif, polisi, auditor, pengacara dan hakim,
dan penyelidik. Namun, dari berbagai bidang profesi dan akademis yang membutuhkan
skeptisisme profesional, hanya auditor yang menyaratkan skeptisisme profesional dalam
standar profesionalnya (Hurtt; 2003).
Dalam International Standards on Auditing 200 (IAASB; 2009) juga ditekankan
pentingnya skeptisisme profesional. Disebutkan bahwa auditor harus merencanakan dan
melaksanakan proses audit berlandaskan skeptisisme profesional dengan menyadari
kemungkinan terjadinya kesalahan material dalam laporan keuangan. Pekerjaan auditor
selalu berhubungan dengan pembuktian dan pencarian kebenaran bukti-bukti dari
dokumen dan kertas kerja, dan dari prosedur standar yang mereka anut, namun hal ini
bukan berarti auditor hanya bekerja untuk memenuhi prosedur standar yang ada,
terutama saat ditemukannya buktibukti yang penting (Peursem, 2010), karena tanpa
keberanian untuk beradu argumentasi mengenai asersi manajemen, auditor tidak akan
dapat menjalankan fungsinya sebagai pencegah dan pendeteksi fraud (Financial
Reporting Council; 2010). Untuk itu auditor harus mampu menerapkan tingkat
skeptisisme profesional yang tepat. Penerapan tingkat skeptisisme dalam audit sangatlah
penting karena dapat memengaruhi efektifitas dan efisiensi audit. Skeptisisme yang
terlalu rendah akan memperburuk efektivitas audit, sedangkan terlalu tinggi akan
meningkatkan biaya yang harus dikeluarkan (Financial Reporting Council; 2010). Oleh
karena itu, dalam melaksanakan audit, auditor seharusnya tidak serta-merta membuat
pola pikir bahwa dalam informasi keuangan yang disediakan manajemen terdapat salah
saji material atau kecurangan yang disengaja. Namun, seiring dengan proses
pengumpulan bukti-bukti audit, auditor dapat meningkatkan kewaspadaannya jika
terdapat kemungkinan informasi keuangan tersebut memiliki salah saji material atau
kecurangan yang disengaja.
Sikap skeptis auditor sangat berharga dalam mengarahkan langkah auditor
dalam mencari ketidakwajaran dalam laporan keuangan maupun dalam menyelesaikan
auditnya. dalam penelitian yang berjudul “A Model of Trust and Professional
Skepticism in the Auditor-Client Relationship” menyatakan bahwa sikap yang
menyeimbangkan antara sikap curiga dan sikap percaya. Keseimbangan sikap antara
percaya dan curiga ini tergambarkan dalam perencanaan audit dengan prosedur audit
yang dipilih akan dilakukannya. Jadi berdasarkan pengalamannya, auditor akan bersikap
skeptic dalam keadaan – keadaan tertentu yang pernah dialaminya, maka dari itu
prosedur analitisnya pun akan dibuat sedemikian rupa untuk menambah daya tajam
audit dan akan juga efisien dalam audit. Dalam ilmu psikologi skeptisisme akan tumbuh
seiring dengan bertambahnya pengalaman seseorang, lingkungan seseorang dan
pendidikan seseorang.
Dalam Penelitian (Kopp lori; 2003) “Trust and professional skepticism form an uneasy
relationship that must be skillfully balanced. (It can be argued that the Enron-Andersen
situation is an example of extreme imbalance between the two.) The auditor must begin
with some level of trust in order to efficiently conduct the audit. This level of trust can
be expected to grow during the course of the audit and, perhaps, continue to grow over
the years. It could be argued that the need to trust is a natural human predisposition.
Yet, at the same time, the auditor must always be prepared to distrust. This is indeed a
difficult balancing act” yang artinya kepercayaan dan skeptisisme profesional
membentuk hubungan yang tidak nyaman yang harus seimbang secara terampil. (Dapat
dikatakan bahwa situasi Enron-Andersen adalah contoh ketidakseimbangan ekstrim
antara keduanya.) Auditor harus memulai dengan beberapa tingkat kepercayaan untuk
melakukan secara efisien audit. Tingkat kepercayaan ini dapat diharapkan tumbuh
selama audit dan, mungkin, terus tumbuh selama bertahun-tahun. Dapat dikatakan
bahwa kebutuhan untuk percaya adalah hal yang alami predisposisi manusia. Namun,
pada saat yang sama, auditor harus selalu siap untuk tidak mempercayai. Ini memang
tindakan penyeimbangan yang sulit. Maka dari itu adanya etika, pengalaman dan sikap
dasar auditor akan membawa kualitas audit yang wajar, efektif serta efisien.
Skeptisisme profesional auditor hendaknya tidak menjadi kecurigaan yang
berlebihan atau membuat auditor sepenuhnya menjadi skeptis Dalam hal ini, auditor
yang memiliki skeptisisme 11 profesional akan menerapkan sikap skeptisnya hanya
sebatas melaksanakan tugas profesinya saja, tanpa sepenuhnya menjadi skeptis. Oleh
karena itu, dengan adanya skeptisisme profesional dalam diri auditor akan
mengakibatkan, sebagai contoh, auditor memberikan pertanyaan lebih dari yang biasa
yang bersifat investigatif, menganalisa jawaban-jawaban dengan kritis dan secara hati-
hati membandingkan hasil analisisnya dengan bukti-bukti yang diperoleh (Basu; 2009).
Dengan keseimbangan emosional auditor, maka proses audit yang dilakukan akan
berjalan sesuai dengan prosedur audit yang sudah diterapkan dan semakin
berpengalaman maka audit akan berjalan semakin rapih dan istilah anjing pelacak yang
sudah terlatih dia akan mencium bau kejahatan secara cepat dan tepat.
Steven M. Glover and Douglas F. Prawitt; (2013) dari Brigham Young
University “Each of the different perspectives on the mindset underlying professional
skepticism has implications for audit effectiveness and potentially for efficiency. The
problem with any particular perspective is that each is incomplete in a practical audit
setting—none is necessarily optimal under all circumstances.” Yang menarik pada
bukunya tersebut bahwa skeptisisme adalah Masing-masing perspektif yang berbeda
pada pola pikir yang mendasari skeptisisme profesional memiliki implikasi untuk
efektivitas audit dan berpotensi untuk efisiensi. Masalah dengan perspektif tertentu
adalah bahwa masing-masing tidak sepenuhnya optimal dalam prosedur audit praktis —
tidak ada yang optimal dalam semua keadaan, intinya adalah skeptisisme bertujuan
untuk mengefisienkan pekerjaan dan bukan untuk memperumit, ditambahkan lagi
bahwa tidak ada yang optimal di semua keadaan, jadi kita harus menakar dan tidak
boleh berlebihan. Karena audit juga butuh waktu dan biaya.
Ditambah lagi oleh penelitian yang berjudul “Thinking Fast Versus Thinking
Slow: The Effect On Auditor skepticism” (Christopher J. Wolfe; 2015) menjelaskan
bahwa ditemukan auditor menggunakan proses analitik, dan tak jarang menggunakan
intuisi mereka. Penelitian kami menunjukkan intuisi itu dapat berguna bagi auditor, dan
ketika diabaikan, auditor bisa menjadi kurang skeptis. Menariknya dalam penelitian
tersebut adalah sikap skeptic tersebut didukung oleh emotional question dalam hal ini
intiusi dari auditor, semakin tinggi EQ seseorang maka akan semakin tinggi pula dia
dapat mengatur emosi dalam mengarahkan sikap,sifat dan keputusan dalam
menyelesaikan auditnya. Menurut (Chung dkk; 2005) Suasana hati (moods) dapat
memengaruhi tingkah laku seseorang berdampak terhadap sikap, cara bekerja, dan cara
berinteraksi dengan orang lain. Suasana hati positif (positive moods), akan membentuk
perasaan senang, gembira, dan bahagia. Sedangkan suasana hati yang negatif (negative
moods) akan membentuk perasaan seperti sedih, depresi, dan duka. Penelitian (Chung
dkk; 2005) membuktikan bahwa suasana hati berpengaruh terhadap tingkat skeptisisme
profesional auditor, yang juga berpengaruh terhadap cara kerja, metode audit yang
digunakan, dan keputusan yang diambil. Suasana hati yang positif akan menurunkan
skeptisisme profesional auditor, sedangkan suasana hati negatif akan meningkatkan
skeptisisme profesional auditor. Menurut Chung, hal ini disebabkan karena pada saat
suasana hati positif, auditor akan membentuk pola pikir positif dan akan menerima
pendapat manajemen dengan senang dan menganggap semua hal adalah baik dan benar.
Selain itu, suasana hati positif ini akan membuat auditor cenderung untuk
mempertahankan suasana hatinya agar terus merasa senang dan bahagia dengan cara
tidak menggali bukti-bukti audit atau pernyataan-pernyataan secara lebih mendalam
karena khawatir jika mendapatkan sesuatu yang kurang menyenangkan, seperti
kecurangan atau salah saji material, akan memengaruhi kondisinya saat itu,
menimbulkan stress, dan dapat mengubah suasana hatinya menjadi negatif. Di sisi lain,
suasana hati negatif akan membuat auditor menjadi lebih skeptis karena akan
memancing ingatan/memori negatif dari pengalaman-pengalaman sebelumnya dan akan
23 membuat penilaian yang negatif terhadap hal-hal yang diterimanya. Oleh karena itu,
auditor yang memiliki suasana hati negatif akan lebih menggali bukti-bukti audit secara
lebih mendalam, tidak mudah mempercayai asersi yang diberikan manajemen,
mengambil waktu lebih lama dalam membuat keputusan, dan mengubah metode audit
yang digunakannya.
Dalam prakteknya, auditor seringkali diwarnai secara psikologis yang kadang
terlalu curiga, atau sebaliknya terkadang terlalu percaya terhadap asersi manajemen.
Padahal seharusnya seorang auditor secara profesional menggunakan kecakapannya
untuk ‘balance’ antara sikap curiga dan sikap percaya tersebut. Ini yang kadang sulit
diharapkan, apalagi pengaruh-pengaruh di luar diri auditor yang bisa mengurangi sikap
skeptisme profesional tersebut. Pengaruh itu bisa berupa ‘self-serving bias‘ karena
auditor dalam melaksanakan tugasnya mendapatkan imbalan dari auditee. Auditor
dalam auditnya harus menggunakan kemahirannya secara profesional, cermat dan
seksama. Auditor harus menggunakan kemahiran profesional secara cermat dan
seksama dalam menentukan jenis pemeriksaan yang akan dilaksanakan dan standar
yang akan diterapkan terhadap pemeriksaan; menentukan lingkup pemeriksaan, memilih
metodologi, menentukan jenis dan jumlah bukti yang akan dikumpulkan, atau dalam
memilih pengujian dan prosedur untuk melaksanakan pemeriksaan. Kemahiran
profesional harus diterapkan juga dalam melakukan pengujian dan prosedur, serta dalam
melakukan penilaian dan pelaporan hasil pemeriksaan.
DAFTAR PUSTAKA

American Institute of Certified Public Accountants (AICPA). (2003). Auditing Fair


Value Measurements and Disclosure. New York: AICPA
Arens, Alvin., Randal J.Elder, dan Mark S Beasley. (2012). Auditing and Assurance
Service. England: Peason Education.
Basu,S. K. (2009). Fundamentals of Auditing. India: Pearson Education
Chung, J, Jeffrey Cohen, Gary S. Monroe. 2005. A Research Note The Effect Of
Mood States Onprofesional Skepticism. Accounting and Finance Association
of Australia and New Zealand Conference
Christopher J. Wolfe (2004). Thinking Fast Versus Thinking Slow: The Effect On
Auditor Skepticism. PCAOB
Financial Reporting Council. (2010). Auditor Scepticism : Raising the Bar. London:
The Auditing Practices Board.
Hurrt, R. K, Eining, M., Plumlee , R. D. (2003). “Professional Scepticism: A model
with Implication for Research , Practice, and Education. Working Paper
Kopp, Lori S., W. Morley Lemon, dan Morina Rennie. (2003). A Model of Trust and
Professional Skepticism in the Auditor-Client Relationship. Working Paper.
Peursem, Karen Ann Van. (2010). Diary Containers’ New Zealand Audits 1981- 1989:
Pyrrhic Victory for the Ancient Sceptic. The Sixth Accounting History
International Conference. New Zealand
Steven M. Glover, (2013) Enhancing Auditor Professional Skepticism, Brigham Young
University
Sukrisno Agoes. 2012. Auditing. Salemba Empat. Jakarta.(hal 2-72)
Theodorus M Tuanakotta. 2013. Audit Berbasis ISA (International Standards on
Auditing). Jakarta: Salemba Empat.(hal 321-322)
Yoon Ju Kang., (2015) The effect of an Audit Judgment Rule on audit committee
members’ professional skepticism: The case of accounting estimates,
Accounting, Organizations and Society. Elsevier.