Anda di halaman 1dari 5

PERAN VISUM ET REPERTUM KASUS HIDUP SEBAGAI ALAT BUKTI HUKUM, STUDI KASUS:

TINGKAT KEPUASAN PENYIDIK


DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TERHADAP VISUM ET REPERTUM RSUP DR SARDJITO 1
YANG DIKELUARKAN MULAI JANUARI 2012 HINGGA DESEMBER 2012
R.A. Kusparwati Ika Pristianti
Universitas Gadjah Mada, 2013 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar belakang

Di rumah sakit Dr. Sardjito, angka kejadian kasus forensik klinik (hidup) yang dilakukan

dengan kekerasan tajam maupun tumpul atau keduanya, seksual, kecelakaan lalu lintas

meningkat tajam. Seiring dengan meningkatnya jumlah kasus, timbul semakin banyak

permintaan visum et repertum(VeR). Kasus yang melibatkan kekerasan tajam dan tumpul sering

dijumpai di instalasi gawat darurat walau tidak menutup kemungkinan pasien datang di poli

dengan keluhan mengalami kekerasan. Untuk kasus seksual dilakukan pemeriksaan di UPKT PA

(Unit Pelayanan Krisis Terpadu Perempuan dan Anak). Banyaknya permintaan visum

menunjukkan bahwa diperlukan keahlian dokter forensik untuk melakukan pemeriksaan lebih

lanjut. Hal ini menunjukkan bahwa forensik tidak hanya meliputi pemeriksaan mayat saja seperti

pandangan orang awam, melainkan meliputi korban hidup dengan kasus yang beragam.

Dalam hal barang bukti yang terdapat pada korban hidup, maka korban harus dipandang

dari dua sisi, yaitu sisi medis dan sisi hukum. Dari sisi medis korban adalah seseorang yang

mengalami luka, sehingga perlu untuk ditangani supaya korban dapat sembuh seperti sedia kala,

meminimalkan cacat, terutama mencegah kematian. Dari sisi hukum berarti tubuh korban

merupakan barang bukti. Karena tubuh manusia hidup dapat mengalami perubahan pada luka-

luka yang dideritanya, maka laporan tertulis tentang keadaan korban dapat dijadikan alat bukti.

Penanganan dan pelaporan yang tepat akan membantu korban untuk mencapai kesembuhan dan

mendapat keadilan.
PERAN VISUM ET REPERTUM KASUS HIDUP SEBAGAI ALAT BUKTI HUKUM, STUDI KASUS:
TINGKAT KEPUASAN PENYIDIK
DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TERHADAP VISUM ET REPERTUM RSUP DR SARDJITO 2
YANG DIKELUARKAN MULAI JANUARI 2012 HINGGA DESEMBER 2012
R.A. Kusparwati Ika Pristianti
Universitas Gadjah Mada, 2013 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/
Kasus forensik klinik tersebut berkaitan dengan penegakan hukum, karena seorang dokter

forensik memiliki tugas membantu penyidik dalam memecahkan suatu perkara yang menyangkut

tubuh manusia, termasuk kasus luka atau keracunan. Pada kasus perlukaan pada korban hidup,

seorang dokter dapat memberikan keterangan tentang luka tersebut. Jenis luka, jenis kekerasan,

perkiraan terjadinya kekerasan serta kualifikasi luka dan kadang bisa memberikan informasi

mengenai senjata yang digunakan jika terlihat jejaknya di dalam luka yang timbul, yang

diterangkan oleh dokter forensik kepada penyidik sehingga perkara menjadi jelas. Pemeriksaan

korban hidup harus dilakukan dengan upaya maksimal, karena bukan hanya untuk pengobatan

tetapi juga untuk tujuan pembuktian, yang dibuat dalam laporan tertulis dalam bentuk visum et

repertum. Terkadang dalam melakukan pemeriksaan korban hidup diperlukan kerjasama tim

yang bisa terdiri dari berberapa dokter dengan keahlian masing-masing atau tenaga ahli yang

mempunyai keahlian yang dibutuhkan dalam melakukan pemeriksaan. Dibuatnya visum yang

mengandung kualifikasi/derajat luka, maka penyidik dapat menyiapkan pasal dakwaan terhadap

tersangka. (Afandi, D, 2011)

Pelayanan pembuatan visum et repertum di RSUP Dr Sardjito dilaksanakan secara

sistematis, dimulai dengan pemeriksaan medis terhadap korban, pengisian rekam medis hingga

rapat pembuatan visum et repertum. Pembuatan visum tentunya setelah ada surat permintaan

penyidik. Visum et repertum di buat sebenar-benarnya dan itu membutuhkan waktu, sehingga

kadang terjadi suatu permasalahn antara penyidik dan dokter yang membuat visum et repertum di

RSUP Dr Sardjito. Penyidik berdasarkan proses penyelidikan terkendala waktu penahanan bagi

tersangka sedangkan proses pembuatan visum et repertum tidak selamanya bisa cepat, tergantung

dari banyaknya hal-hal yang harus dituangkan di dalam visum et repertum ataupun kontribusi

beberapa petugas medis karena tidak menutup kemungkinan di dalam satu visum et repertum
PERAN VISUM ET REPERTUM KASUS HIDUP SEBAGAI ALAT BUKTI HUKUM, STUDI KASUS:
TINGKAT KEPUASAN PENYIDIK
DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TERHADAP VISUM ET REPERTUM RSUP DR SARDJITO 3
YANG DIKELUARKAN MULAI JANUARI 2012 HINGGA DESEMBER 2012
R.A. Kusparwati Ika Pristianti
Universitas Gadjah Mada, 2013 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/
dibuat tidak hanya oleh satu petugas medis melainkan beberapa petugas medis tergantung kasus

medis yang dihadapi. Hal ini yang kadang masih menimbulkan perdebatan antara petugas medis

di RSUP Dr Sardjito dan penyidik hingga sekarang.

2. Permasalahan

Berdasarkan hal diatas maka perumusan masalah dari penelitian ini adalah:

Bagaimanakah Tingkat kepuasan penyidik di wilayah kerja Kepolisian Daerah Istimewa

Yogyakarta terhadap visum et repertum terutama yang dikeluarkan oleh RSUP Dr Sardjito

sebagai alat bukti hukum dan membantu dalam proses penyidikan dinilai berdasarkan waktu,

data informatif dan keandalan pelayanan tim medis dalam membuat visum et repertum?

3. Keaslian penelitian

Menurut data dari Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta, pada tahun 2012 kasus

tindak pidana yang memerlukan visum klinis seperti kasus penganiayaan dan kecelakaan lalu

luntas yang masuk kedalam laporan Kepolisian Daerah Istimewa Yogakarta melalui laporan atau

pengaduan berjumlah lima puluh tujuh kasus dan kasus kecelakaan lalu lintas merupakan kasus

yang paling banyak terjadi dibandingkan kasus tindak pidana lainnya.

Penelitian yang pernah dilakukan Herkuntanto pada tahun 1997 – 1998 di DKI Jakarta

terhadap kualitas VeR kecederaan pada pasien hidup menunjukkan hasil yang rendah. Nilai rerata

hasil kualitas VeR adalah 55, 5% dan 16, 65. (Herkutanto, 2004)

Berdasarkan penelitian Jamil Roy et all kualitas VeR perlukaan di RSUD Arifin Achmad

Pekanbaru periode 1 Januari – 30 September 2007, dari 102 sampel diperoleh hasil kualitas VeR

sebagai berikut : kualitas pendahuluan VeR perlukaan sebesar 70% ( sedang ), kualitas

pemberitaan VeR perlukaan sebesar 29,9% ( buruk ), kualitas bagian kesimpulan VeR perlukaan

sebesar 37,5% (buruk). (Jamil Roy et all, 2008)


PERAN VISUM ET REPERTUM KASUS HIDUP SEBAGAI ALAT BUKTI HUKUM, STUDI KASUS:
TINGKAT KEPUASAN PENYIDIK
DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TERHADAP VISUM ET REPERTUM RSUP DR SARDJITO 4
YANG DIKELUARKAN MULAI JANUARI 2012 HINGGA DESEMBER 2012
R.A. Kusparwati Ika Pristianti
Universitas Gadjah Mada, 2013 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/
Penelitian yang lebih mendekati dengan penelitian ini, dilakukan oleh Rahmi et all, yaitu

tingkat kepuasan penyidik di Pekanbaru dengan Visual Analogue Scale dengan hasil Kepuasan

waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan visum et repertum berada dalam kategori baik yaitu

63,1 %, kepuasan keandalan pelayanan seorang dokter dalam membuat visum et repertum dan

bekerjasama dengan penyidik termasuk kategori baik yaitu 81,6 %, kepuasan data informatif

pada VeR yang dihasilkan menurut sebagian besar responden berada dalam kategori cukup yaitu

82,5 %. (Rahmi et all, 2008)

Di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta belum ada yang meneliti tingkat kepuasan

penyidik. mengenai hasil visum et repertum yang berhubungan dengan perkara yang

ditanganinya. Sedangkan permintaan visum hidup baik dalam kasus kecelakaan lalu lintas,

penganiayaan, kekerasan dalam rumah tangga maupun seksual meningkat dan sampai sekarang

tidak ada laporan tingkat keberhasilan visum et repertum yang dikeluarkan oleh RSUP Dr

Sardjito terhadap penanganan hukumnya. Menelaah masalah kualitas pelayanan di rumah sakit

tidaklah mudah karena di satu sisi mempunyai tanggung jawab dengan memberikan pelayanan

kesehatan tetapi di satu sisi juga harus mempertahankan prinsip penyelenggaraan rumah sakit.

Kepuasan merupakan tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja atau hasil yang

dirasakan dengan harapannya. Tingkat kepuasan merupakan fungsi dari perbedaan antara kinerja

yang dirasakan dengan harapan. Tingkat kepuasan penyidik pada hasil visum et repertum dinilai

berdasarkan waktu, data informatif dan keandalan pelayanan dokter dalam membuat visum et

repertum dengan kriteria baik, cukup dan kurang. Untuk mendapat data maka akan disebar

kuisioner terhadap penyidik yang menangani kasus forensik klinik dan kuisioner di dalamnnya

berisi pertanyaan-pertanyaan seputar kepuasan penyidik terhadap visum et repertum yang

dikeluarkan di RSUP Dr Sardjito.


PERAN VISUM ET REPERTUM KASUS HIDUP SEBAGAI ALAT BUKTI HUKUM, STUDI KASUS:
TINGKAT KEPUASAN PENYIDIK
DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TERHADAP VISUM ET REPERTUM RSUP DR SARDJITO 5
YANG DIKELUARKAN MULAI JANUARI 2012 HINGGA DESEMBER 2012
R.A. Kusparwati Ika Pristianti
Universitas Gadjah Mada, 2013 | Diunduh dari http://etd.repository.ugm.ac.id/
4. Manfaat penelitian

Dengan adanya penelitian ini, diharapkan memberikan faedah bagi ilmu pengetahuan dan

bagi pembangunan bangsa dan Negara, terutama untuk RSUP Dr Sardjito sebagai masukan

dalam meningkatkan mutu pelayanannya.

5. Tujuan penelitian

Tujuan penelitian ini adalah dengan adanya tingkat kepuasan penyidik terhadap visum et

repertum yang dikeluarkan oleh RSUP Dr Sardjito, maka akan diketahui bagaimana kepuasan

penyidik terhadap waktu, pelayanan dan data informatif. Dan hasilnya bisa digunakan untuk

meningkatkan kualitas pelayanan di RSUP dr Sardjito.