Anda di halaman 1dari 3

Perkembangan dalam dunia pendidikan abad 21 harus sejalan dengan

perkembangan teknologi. Kondisi ini menuntut pembelajaran harus menyesuaikan diri


dengan perkembangan dan dinamikanya. Salah satu tantangan yang dihadapi adalah
menyiapkan anak didik sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan di abad 21.

Gagasan rancangan pembelajaran yang saat ini sesuai terutama pada SMK adalah
menggunakan pembelajaran Teaching Factory. Teaching factory merupakan
pengembangan dari unit produksi yakni penerapan sistem industri mitra di unit
produksi yang telah ada di SMK.

Pembelajaran melalui teaching factory bertujuan untuk menumbuh-kembangkan


karakter dan etos kerja (disiplin, tanggung jawab, jujur, kerjasama, kepemimpinan,
dan lain-lain) yang dibutuhkan DU/DI serta meningkatkan kualitas hasil pembelajaran
dari sekedar membekali kompetensi (competency based training) menuju ke
pembelajaran yang membekali kemampuan memproduksi barang/jasa (production
based training).

Hubungan kerjasama antara SMK dengan industri dalam pola pembelajaran Teaching
Factory akan memiliki berdampak positif untuk membangun mekanisme kerjasama
(partnership) secara sistematis dan terencana didasarkan pada posisi tawar win-win
solution. Penerapan pola pembelajaran Teaching Factory merupakan interface dunia
pendidikan kejuruan dengan dunia industri, sehingga terjadi check and
balance terhadap proses pendidikan pada SMK untuk menjaga dan memelihara
keselarasan (link and match) dengan kebutuhan pasar kerja.

Tujuan yang selaras tentang pembelajaran teaching factory (Sema E. Alptekin, Reza
Pouraghabagher, atPatricia McQuaid, and Dan Waldorf; 2001) adalah sebagai
berikut.
 Menyiapkan lulusan yang lebih profesional melalui pemberian konsep
manufaktur moderen sehingga secara efektif dapat berkompetitif di industri;
 Meningkatkan pelaksanaan kurikulum SMK yang berfokus pada konsep
manufaktur moderen;
 Menunjukan solusi yang layak pada dinamika teknologi dari usaha yang
terpadu;
 Menerima transfer teknologi dan informasi dari industri pasangan terutama
pada aktivitas peserta didik dan guru saat pembelajaran.

Keberhasilan dari implementasi metode pembelajaran teaching factory secara


sederhana dapat dilihat dari dua indikator utama di antaranya:
1. Utilitas dan keberlanjutan penggunaan peralatan (dapat dilihat melalui
penerapan sistem pembelajaran blok dan kontinyu).
2. Integrasi proses produksi atau layanan jasa ke dalam bahan ajar.

Pada teaching factory kita dapat menggunakan metode pembelajaran Project Based
Learning dimana metode pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai
media. Metode proyek berasal dari gagasan tentang konsep “Learning by doing” yaitu
proses perolehan hasil belajar dengan mengerjakan tindakan-tindakan tertentu
sesuai dengan tujuan.

pembelajaran berbasis proyek adalah pembelajaran yang menitikberatkan pada


aktifitas siswa untuk dapat memahami suatu konsep dengan melakukan investigasi
mendalam tentang suatu masalah dan menemukan solusi dengan pembuatan proyek.

Dalam pelaksanaan Teaching Factory hal yang harus selalu diperhatikan adalah
bentuk pembelajaran yang diselenggarakan harus berbasis produksi/layanan jasa
yang mengacu pada standard dan prosedur kerja baku yang dilaksanakan dalam
suasana dan budaya industri, dan hal ini diwujudkan dalam bentuk:
1. Ruang Praktik. Kegiatan praktik dilaksanakan dalam suasana kerja di industri,
hal ini tercermin pada ruang praktik yang berada dalam kondisi bersih, rapi,
tenang, nyaman, tertata baik dan tata letak telah disesuaikan dengan prosedur
kerja seperti di industri.
2. Produk (Barang dan atau Jasa). Produk yang dihasilkan merupakan hasil
analisis dan kajian yang mendalam yang telah mempertimbangkan kondisi,
potensi, dan prospek kedepan.
3. Pelaksanaan Pembelajaran. Pelaksanana pembelajaran berbasis produk/ jasa
sesuai standar, prosedur dan budaya industri dengan memperhatikan hasil
analisis perencanaan pembelajaran Teaching Factory. Sesuai dengan hasil
dari penjadwalan dan pembagian kekompok praktik, diupayakan agar setiap
anak dapat berpraktik dengan menggunakan peralatan fungsi tunggal secara
mandiri, dengan demikian tersedia waktu yang cukup banyak untuk dapat
memperoleh keterampilan dalam melaksanakan kegiatan produksi.
4. Nilai Akhir. Penilaian hasil kegiatan Teaching Factory berorientasi pada azas
kualitas, efisiensi, serta kreatifitas dan mandiri.