Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH KRITIK KARYA SASTRA MENGGUNAKAN

PENDEKATAN OBJEKTIF PADA NOVEL ISINGA

oleh:

Lutfi Ristiani Putri

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA

JAKARTA

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa penulis ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa berkat
rahmat dan hidayahnya, sehingga makalah yang berjudul “ Kritik Karya Sastra Menggunakan
Pendekatan Objektif pada Novel Isinga” ini dapat diselesaikan dengan baik dan tepat pada
waktunya, dengan memenuhi tugas mata kuliah “Pembelajaran Apresiasi Sastra”

Makalah ini dibuat dengan harapan agar yang membaca mendapatkan ilmu yang
bermanfaat serta membuka wawasan pembaca tentang wacana itu sendiri. Semoga makalah
ini dapat menambah pengetahuan kita, khususnya selaku penulis, kami sadar dalam makalah
ini masih banyak kekurangan dalam hal isi maupun penulisan, untuk itu penulis sampaikan
mohon maaf yang sebesar besarnya dan mengharapkan kritik dan saran yang dapat membangun
untuk penyusunan makalah kedepannya. Akhir kata penulis ucapkan terima kasih.

Jakarta, 9 juni 2019

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................................................... i
DAFTAR ISI............................................................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................................. 1
A. Latar Belakang ................................................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah........................................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN.............................................................................................................................. 2
A. Pengertian ..................................................................................................................................... 2
B. Ciri-Ciri ............................................................................................................................................ 2
C. Tujuan ............................................................................................................................................ 3
D. Fungsi kritik .................................................................................................................................... 3
E. Jenis-jenis kritik ............................................................................................................................... 3
F. Langkah-Langkah Menulis Kritik..................................................................................................... 5
BAB III HASIL ANALISIS ............................................................................................................................ 6
BAB IV SIMPULAN ................................................................................................................................. 11
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................. 12

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Semua orang dapat membaca dan menafsirkan dengan baik serta dapat pula menikmatinya
dengan baik, tanpa adanya kritik satra. Namun kenyataannya sering mendapat kecaman atau
keluhan bahwa karya si A tidak berisi, tidak mempunyai nilai kemanusiaan, atau bahkan
dikatakan karya tersebut tidak berguna atau tidak membawa pesan apa-apa hanya sebuah karya
kosong.

Dengan adanya kondisi tersebut kritik memiliki peran sebagai jembatan penghubung
antara karya dengan penikmatnya. Sumbangan pikiran dan analisis pengkritik yang baik bisa
menimbulkan minat yang menyala-nyala bagi penikmatnya untuk menikmati karya tersebut.
Pengkritik dalam hal ini dapat menjadi pemandu pembaca dalam menikmati suatu karya. Selain
itu kritik berguna untuk dijadikan alat pemandu bakat penulis muda dan dapat mematangkan
penuulis-penulis yang telah berkarya.

Kritik bukan untuk dihindari, tetapi untuk dijadikan sebagai motivasi untuk menempa
diri. Jangan pernah takut dalam menghadapi kritik karena pemanfaatannya sangat baik untuk
diri anda dan karena pada prinsipnya memang tidak ada manusia yang sempurna. Jadikan kritik
sebagai pembelajaran untuk memperbaiki kesalaan yang ada pada karya yang kiata buat.

B. Rumusan Masalah

a. Apa pengertian kritik?


b. Apakah yang menjadi ciri-ciri kritik?
c. Apakah tujuan dari menulis kritik?
d. Apa fungsi kritik?
e. Apa saja yang termasuk dalam jenis kritik?
f. Bagaimana langkah-langkah menulis kritik?
g. Bagaimana kritik objektif pada sebuah novel “Isinga”?

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian

Dalam pengertian sehari-hari kata kritik diartikan sebagai pennilaian terhadap suatu
fenomena yang terjadi dalam masyarakat. Secara etimologis, krtik berasal dari kata “krites”
(bahasa Yunani) yang berarti “hakim”. Kata kerjanya adalah “krinein” (menghakimi). Kata
tersebut juga merupakan pangkal dari kata benda “criterion” (dasar penghakiman). Dari kata
tersebut mmuncul “kritikos” untuk menyebut hakimkarya sastra. (dalam buku kritik sastra
feminis oleh Wellek, 1978; Pradopo, 1997).

Berdasarkan KBBI, kritik adalah kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai


uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya.
Kritik tidak hanya mencari kesalahan atau cacat suatu karya, tetapi juga menampilkan
kelebihan atau keunggulan karya itu seperti adanya (Curtis, dkk., 1996: 284).

Teori kritik dalam arti luas menitik beratkan pada upaya pembebasan manusia
seutuhnya dari hal-hal yang memperbudaknya (Didi Pramono dalam blogger). Teori kritik
harus memenuhi tiga kriteria, yaitu harus jelas, praktis, dan normatif, semua pada waktu yang
sama. Teori harus menjelaskan sesuatu yang keliru, kemudian melakukan identifikasi agar
sasaran dapat merubah kekeliruannya. Menyiapkan keduanya dalam hal norma-norma yang
tepat untuk kritik dan tujuan yang praktis yang dapat dicapai untuk transformasi.

Mengkritik berarti memberikan tanggapan terhadap sesuatu atau karya orang lain.
Tanggapan tersebut dapat berupa penilain baik atau buruknya suatu karya yang dilakukan
secara objektif. Kritik biasanya menampilkan kelebihan ataupun kekurangan dari sebuah
karya. Kritik tidak hanya berupa tulisan, namun kritik juga dapat disampaikan secara langsung
ataupun lisan. Kritik biasanya di buat berdasarkan selera personal berdasarkan pengalaman
masing masing. Jadi dapat di simpulkan bahwa kritik merupakan kegiatan mencari kesalahan,
memuji, menilai, membandingkan dan menikmati sebuah karya. Kritik sering kali di kaitkan
dengan sastra.

B. Ciri-Ciri

Untuk mempermudah mengenali sebuah kritik maka berdasarkan beberapa pengertian para ahli
dapat diketahui sebuah kritik memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

a. Bersifat menanggapi atau mengomentari karya orang lain.


b. Menunjukkan kelebihan dan kekurangan karya tersebut.
c. Kritik berisi tafsiran terhadap suatu karya dengan disertai penjelasan dan alasan.
d. Dalam kritikan terdapat sebuah penalaran analisis,interprestasi dan evaluasi.
e. Kritik merupakan pendapat yang bersifat objektif.
f. Kritik dapat berisi kecaman dan pujian terhadap suatu karya.

2
C. Tujuan

Dalam mengkritik, tentu kita memiliki tujuan yang ingin kita sampaikan. Adapun tujuan dari
kritik adalah :

a. Memperbaiki suatu karya ,yaitu dengan melakukan koreksi terhadap kesalahan yang
terdapat dalam suatu karya.
b. Bertujuan menjembatani pemahaman pembaca/apresiator/apresian dengan karya yang
bersangkutan.
c. Memberikan penilaian secara subjektif, ilmiah dan terstruktur terhadap suatu karya
d. Bertujuan akademis. Kegiatan krtitik ini dilakukan oleh mahasiswa untuk memperoleh
gelar akademis.
e. Bertujuan komersil, motivasi seorang kritikus untuk mendapat bayaran atas kegiatan
kritik,seperti menulis pada kolom surat kabar.

D. Fungsi kritik

Setelah diperoleh pemahaman mengenai pengertian, ciri-ciri dan tujuan dari kritik maka kritik
mempunyai beberapa fungsi:

a. Meningkatkan kualitas suatu karya setelah dikoreksi beberapa kekurangannya.


Sehingga seseorang yang menghasilkan karya dapat mengetahui apa yang harus
diperbaiki dalam karya tersebut agar lebih baik.
b. Kegiatan yang dapat mendorong penciptaan suatu karya. Semakin banyak orang yang
mengadakan kritik, maka akan mendorong orang lain untuk membuat karya yang
bermanfaat dan bernilai tinggi.
c. Sebagai apresiasi suatu karya seorang pengarang akan merasa dihargai jika karya
tersebut diapresiasi salah satunya melalui kegiatan kritik.
d. Memberikan informasi dengan sudut pandang lain dari sebuah karya. Membantu
pembaca mengungkap nilai yang tersembunyi dari sudut pandang yang berbeda.
e. Mempermudah penyampaian pesan suatu karya kepada penikmat karya tersebut.

E. Jenis-jenis kritik

Berdasarkan pemaparan di atas, kritik dapat dibagi atas beberapa jenis berdasarkan tujuan,
nada kalimat, sasaran, karya.

a. Dilihat dari tujuan

1) Kritik konstruktif, yaitu kritik yang dilakukan dengan sikap welas asih terhadap orang
memenuhi syarat untuk kritik yang bertujuan untuk membangun.
2) Kritik destruktif, yaitu kritik yang bertujuan tidak membangun yang bersifat destruksi
(merusak, memusnahkan, atau menghancurkan).

3
b. Dilihat dari nada kalimat

1) Kritik lunak, yaitu kritik yang digunakan dengan kata-kata yang lunak.
2) Kritik keras, yaitu kritik yang digunakan dengan kata-kata yang keras dan sedikit
menyinggung.

c. Dilihat dari siapa sasaran kritiknya

1) Pejabat atau tokoh publik, yaitu terhadap pejabat atau tokoh publik yang digaji
memakai uang rakyat.
2) Bukan tokoh publik atau bukan pejabat publik, yaitu kritik terhadap orang-orang
terkenal yang tidak digaji memakai uang rakyat.

d. Dilihat dari karya

1) Kritik sastra, yaitu bidang studi sastra yang berhubungan dengan pertimbangan karya
sastra, mengenai bernilai atau tidaknya sebuah karya sastra. Bila dilihat dari segi
pendkeatan atau metode kritik maka kritik sastra dapat dibagi atas dua jenis:
a) Kritik sastra penilaian (Judicial Critism), yaitu kritik sastra yang sifatnya
memberikan penilaian terhadap pengarang dan karyanya.
b) Kritik sastra induktif (inductive criticsm), yaitu kritik sastra yang tidak mau
mengakui adanya aturan-aturan atau ukuran-ukuran yang ditetapkan sebelumnya.
c) Disamping itu masih ditemui pembagian yang lain yang sifatnya merupakan
perincian dari sastra penilaian (Judicial criticism) di atas, yaitu sebagai berikut:
d) Kritik sastra ilmiah (scientific criticism)
e) Kritik sastra estetis (Aestehetic criticism)
f) Kritik sastra sosial (Sosiological criticism)

Berdasarkan pendekatannya terhadap karya sastra, kritik sastra itu digolongkan menjadi empat
jenis (Abrams;1981) yaitu:

a) Kritik mimetik (mimetic criticism), yaitu kritik yang bertolak pada pandangan bahwa
karya sastra merpakan suatu tiruan atau penggambaran dunia dan kehidupan manusia.
b) Kritik pragmatik (pragmatic cristicism), yaitu suatu kritik yang disusun berdasarkan
pandangan bahwa sebuah karya sastra itu disusun untuk mencapai efek-efek tertentu
kepada pembacanya, seperti efek kesenangan, estetika, pendidikan dan sebagainya.
c) Kritik ekspresif, yaitu kritik sastra yang menekankan tealaahan kepada kebolehan
pengarang dalam mengekspresikan atau mencurahkan idenya kedalam wujud sastra
(umumnya puisi).
d) Kritik objektif, yaitu kritik sastra yang menggunakan pandangan bahwa suatu karya
sastra adalah karya yang mandiri.

Ditinjau dari segi bentuknya, kritik sastra dibagi atas kritik relatif dan kritik absolut. Adapula
pemisahan antara kritik teoritis dan kritik praktis.

4
F. Langkah-Langkah Menulis Kritik

Dalam melakukan penilaian atau kritik terhadap sebuah karya, hendaknya seorang kritikus
memperhatikan beberapa langkah-langkah berikut:

a. Sikap serba menanya


Dengan sikap serba menanya hendaknya seorang kritikus melakukan penjelajahan
sambil melakukan penikmatan. Menyelami maksud yang disampaikan dalam karya
tersebut. Setelah menyelami isi karya tersebut maka pertanyaaan pertanyaaan yang
timbul satu persatu akan terjawab.
b. Membuat tafsiran-tafsiran
Setelah menjelajahi isi dari karya tersebut maka seorang kritikus hendaknya membuat
tafsiran-tafsiran kemudian dipadukan dengan pengalaman membaca, mengamati, dan
menikmati karya yang lain. Dengan kata lain kritikus akan membandingkan karya yang
satu dengan yang lainnya. Disitu akan muncul penilaian.
c. Menempatkan diri dalam karya tersebut
Dalam hal ini seorang kritikus hendaknya memposisikan diri menjadi bagian dari karya
tersebut. Sebab mau tidak mau ia pasti telah terpegaruh oleh unsur-unsur yang
melahirkan karya tersebut.
d. Menentukan dasar-dasar penilaian
Menentukan dasar-dasar penilaian seagai tolak ukur dalam melakukan penilaiaan baik
atau buruknya sebuah karya. Hal ini menuntut seorang kritikus untuk syarat-syarat
suatu karya yang dikatakan baik.
e. Membuka dirinya terhadap nilai baru yang muncul dalam karya tersebut.
Hal ini tentu sangat bergantung pada keterbukaan dan kepekaan jiwa yang bersangkutan
dan daya mampu karya itu memberikan nilai baru.

5
BAB III

HASIL ANALISIS

A. Tema

Berupa potret kehidupan masyarakat Papua. Masyarakat Papua yang dimaksud lebih
tepatnya adalah masyarakat Desa Aitubu dan Hobone yang tinggal di bawah Pegunungan
Megafu. Masyarakat yang tinggal di bawah Pegunungan Megafu termasuk masyarakat
pedalaman Papua. Kehidupan masyarakat Aitubu dan Hobone digambarkan dengan banyaknya
kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan masyarakat Aitubu dan Hobone. Kebiasaan ini berkaitan
dengan adat maupun kepercayaan kepercayaan masyarakat setempat. Gambaran kehidupan
yang ditampilkan semata-mata memperlihatkan warna lokal Papua yang khas.

Masyarakat Aitubu dan Hobone menggunakan cawat dan koteka sebagai pakaian
sehari-hari. Cawat dipakai untuk perempuan dan koteka dipakai untuk laki-laki. Cawat dan
koteka dibuat sendiri dari alam. Cawat terbuat dari ilalang yang biasa tumbuh di air. Koteka
dibuat dari labu yang dikeringkan. Masyarakat Aitubu dan Hobone tidak mengenal kain, tidak
mengenal celana, hanya cawat dan koteka pakaian sehari-hari untuk menutup kemaluan
sedangkan bagian dada mereka dibiarkan terbuka.

B. Sudut Pandang

Sudut pandang persona ketiga “dia” mahatahu. Cerita dikisahkan dari sudut “dia”, namun
pengarang, narator, dapat menceritakan apa saja hal-hal yang menyangkut tokoh “dia” tersebut.
Narator mengetahui segalanya. Pengarang layaknya Tuhan yang bertindak sebagai pencipta
segalanya. Menciptakan apa saja pada tokohnya, pikiran, perasaan, jalan pikiran, sikap hidup,
pandangan hidup tokohnya. Sudut pandang persona ketiga mahatahu memudahkan pembaca
memahami situasi, konflik, dan tokoh-tokoh yang terdapat dalam novel.

C. Alur

Alur cerita ialah alur maju namun berdasarkan kriteria jumlah alur di dalam novel Isinga
memiliki alur/plot sub-subplot. Adanya dua alur cerita dalam novel Isinga dikarenakan terdapat
dua tokoh utama yang dikisahkan, yaitu Irewa dan Meage.

D. Latar
1. Latar Tempat
Latar tempat mengacu pada lokasi terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam
karya sastra.

a) Aitubu

Aitubu terletak di bawah pegunungan Megafu, tepatnya di Lembah


Piriom. Aitubu terletak di bagian tengah Papua. Orang-orang Aitubu telah

6
menetap di sana selama ratusan tahun. Aitubu sendiri merupakan sebuah desa
yang terdiri dari beberapa dusun dan beberapa klen. Dusun yang terletak di
Aitubu yaitu Dusun Kapo, Munda, Samfar, Msob, Eryas, dan Wodori. Letak
tiap tiap dusun berjauhan. Penduduk Aitubu kira-kira berjumlah 15.000 orang.
Irewa dan Meage adalah penduduk Desa Aitubu. Masing-masing tinggal di
dusun yang berbeda. Irewa tinggal di Dusun Kapo sedangkan Meage tinggal di
dusun Eryas.

b) Sungai Warsor

Sungai Warsor terletak di desa Aitubu. Sungai ini memisahkan Dusun


Kapo dan Dusun Eryas. Air Sungai Warsor sangatlah jernih. Di Sungai Warsor
banyak sekali dapat ditemui tali rotan pada hilir sungainya. Bebatuan di Sungai
Warsor digunakan perempuan Aitubu untuk mencuci sayur-sayuran. Di atas
Sungai Warsor membentang jembatan yang menghubungan Dusun Kapo dan
Dusun Eryas. Tali jembatannya terbuat dari tali rotan.

c) Sekolah dan Gereja

Sekolah terletak di Dusun Kapo Desa Aitubu. Orang Aitubu


menyebutnya “sekolah setahun”. Sekolah diperuntukan untuk anak laki-laki.
Namun hari Minggu bangunan sekolah difungsikan menjadi gereja. Pemimpin
gereja adalah Pendeta Ruben. Ia yang membawa ajaran agama kepada
penduduk. Di “sekolah setahun” Meage dan anak laki-laki lain mendapatkan
hal-hal baru. Hanya Irewa satu-satunya anak perempuan yang penasaran dengan
kegiatan di “sekolah setahun”. Walaupun sekolah hanya diperuntukan untuk
anak laki-laki namun Irewa selalu datang dan mendengarkan pelajaran untuk
para murid di dalam kelas.

d) Rumah Sakit

Rumah sakit di Aitubu letaknya sangat jauh. Orang Aitubu jarang


berobat ke rumah sakit. Jika sakit orang Aitubu datang pada dukun. Hanya jika
keadaan darurat atau jika sakit tak kunjung sembuh orang Aitubu datang ke
rumah sakit. Ketika Irewa sakit malaria dan kandungannya keguguran Irewa
dilarikan ke rumah sakit. Di rumah sakit Irewa ditolong oleh Suster Wawuntu
dan seorang perempuan muda yang ternyata adalah saudara kembarnya yang
pernah dipisahkan ketika lahir. Dia adalah Jingi Pigay. Jingi dirawat oleh Suster
Karolin dan Suster Wawuntu sejak kecil.

e) Hobone

Hobone adalah desa tetangga Aitubu. Hobone terdiri dari lima dusun,
yaitu Dusun Fafor, Dusun Perem, Dusun Egiwo, Dusun Onef, dan Dusun
Papopen. Hobone adalah tempat tinggal Malom Wos, tepatnya di Dusun Perem
yang merupakan wilayah terjauh di desa Hobone.

7
2. Latar Waktu
1) Bulan kelima 1974
Secara eksplisit pengarang menggambarkan latar waktu di tahun1974
tepatnya di bulan Mei dengan peristiwa datangnya rombongan pemuda Hobone
ke Aitubu untuk menghadiri undangan makan-makan di Aitubu. Namun, itu
adalah sebuah jebakan yang dibuat orang-orang Aitubu. Pemuda Hobone pun
datang tanpa persiapan perang.

2) Pemilu 1977
Secara eksplisit pengarang menggambarkan latar waktu di tahun1997
yakni bertepatan dengan peristiwa pemilu di Perkampungan Doken. Penduduk
Doken yang sudah dapat mengikuti pemilu diminta memilih dengan mencoblos
salah satu dari tiga gambar. Tentara memaksa Penduduk Doken untuk memilih
yang bergambar pohon. Namun, Penduduk Doken ingat apa yang di katakan
orang Kapak Besi, guru dan pendeta, bahwa mereka bisa memilih gambar apa
saja.

3) 1983
Secara eksplisit pengarang menggambarkan latar waktu di tahun 1983,
saat itu Meage sudah tujuh tahun hidup bersama orang Yebikon. Di Yebikon
kemampuan Meage bertambah, ia pandai menangkap buaya. Buaya
tangkapannya dijual kulitnya ke luar hutan, ke wilayah yang lebih ramai, yakni
di kota. Di sana Meage banyak berkenalan dengan para penduduk lain, Meage
mengembangkan kosa kata bahasa Indonesianya. Meage jadi bisa mengajari
orang Yebikon bahasa Indonesia. Sepulangnya dari kota Meage juga membawa
barang- barang yang tak ada di hutan. Barang-barang itu Meage bawa karena
Meage berpikir akan sangat berguna di Yebikon.

E. Tokoh dan Penokohan

Dalam novel Isinga karya Dorothea Rosa Herliany terdapat beberapa tokoh,
diantaranya yaitu Irewa Ongge, Meage Aromba, Malom Wos, Jingi Pigay, Bapa
Labobar, Pendeta Ruben dan istrinya Marike, Dokter Leon dan istrinya Lea, Suster
Karolin, Suster Wawuntu, Mama Kame, Falimo, Bapak Meage, Bapa Ulunggi, Mama
Fos, anak-anak Irewa (Kiwana, Mery, Ansel, Nela), Lepi, Silak, Alys, Ibu Selvi
Warobay.

Dari tokoh-tokoh yang ada di dalam novel, terdapat beberapa tokoh yang
dianggap penting dan menjadi fokus dalam cerita. Penulis memfokuskan kepada tokoh
Irewa Ongge, Meage Aromba, Malom Wos, Jingi Pigay. Adapun penokohan lebih
jelasnya penulis paparkan sebagai berikut:
a. Irewa Ongge
Ciri-ciri fisik tokoh Irewa adalah gadis Papua berkulit hitam seperti orang
Papua pada umumnya. Irewa memiliki wajah yang sangat cantik, namun badannya
kurus. Irewa juga tampak lebih tua dari umurnya yang sebenarnya. Irewa menyukai
seni tari dan seni musik tifa khas Papua. Irewa adalah sosok wanita yang mandiri

8
dan pintar, menjadi bagian dari masyarakat Hobone dan menjadi istri dari orang
Hobone membuat Irewa harus menyesuaikan diri dengan kebiasaan orang Hobone.
Walaupun Irewa masih sangat muda namun berbagai tugas rumah tangga harus
dapat Irewa kerjakan sendiri. Kehidupan barunya menuntut Irewa menjadi
perempuan yang mandiri Irewa banyak belajar hal baru di masa modern: uang,
telepon genggam, bahkan internet.

b. Meage Aromba
Ciri- ciri fisik tokoh Meage digambarkan sebagai sosok yang kuat, ia
memiliki tubuh yang kuat dengan tangan berotot dan kaki yang kokoh. Meage
pandai bermain tifa, sejak kecil Meage senang bermain tifa. Meage juga pandai
berburu. Meage berburu menggunakan panah dan busurnya serta ditemani
anjingnya Jack. Meage memiliki jiwa penolong, hal ini diajarkan oleh Dokter Leon
kepadanya. Meage memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi jika dibandingkan
dengan laki-laki Aitubu lain. Dari lingkungan kehidupannya Meage seorang yang
pintar, tidak sombong, mudah beradaptasi dan belajar menyesuaikan diri dengan
banyak hal di mana pun iaberada. Selain itu, Meage juga digambarkan sebagai
orang yang penyayang, lemah lembut, terutama kepada perempuan. Meage sangat
baik dan sosok pemuda yang sangat menghargai perempuan.

c. Malom Wos
Ciri-ciri fisik tokoh Malom merupakan pemuda Papua yang memiliki badan
dan otot yang kuat dan usianyalebih tua dari usia Irewa, istrinya. Malom menyukai
Irewa, ia gigih dan mempunyai keinginan yang kuat. Malom memiliki nafsu yang
tinggi sehingga tidak dapat hidup tanpa perempuan. Malom tidak setia dan senang
bermain perempuan. Tidak hanya bermain perempuan Malom juga suka
bersenang- senang, menghabiskan uang, minum-minuman keras. Malom tidak
takut melakukan pelanggaran adat. Malom memiliki watak yang buruk, licik dan
bukanlah suami yang baik, ia ringan tangan dan kasar, merendahkan dan tidak
menghargai istrinya, Irewa. Malom juga tak pernah mengurus keluarga dan
mendidik anaknya. Kemudian dilihat dari aspek sosial, tokoh Malom merupakan
seorang pemuda Hobone. Ia tinggal di dusun Perem Hobone, bapaknya merupakan
seorang yang berpengaruh di Hobone, yaitu Bapa Ulunggi. Malom pernah terpilih
sebagai pendayung Papua dan menjadi juara kedua lomba dayung di Surabaya.

d. Jingi Pigay
Ciri- ciri fisiknya, tokoh Jingi adalah perempuan yang cantik, tubuhnya
bersih, segar, dan berisi. Jingi tertarik dengan bidang kesehatan dan dunia
kedokteran sejak kecil dan memiliki keinginan memperdalam ilmunya di Belanda.
Jingi memiliki jiwa penolong, ia sangat menyayangi Irewa dan anak-anaknya. Jingi
merasa beruntung dari Irewa. Jingi peduli dan aktif mensosialisasikan penyakit
kelamin yang berbahaya bersama Irewa. Jingi adalah perempuan yang menyukai
kehidupan perkotaan. Jingi menganggap Meage seperti kakaknya sendiri, ia tidak
memiliki perasaan khusus pada Meage. Jingi merupakan saudara kembar Irewa dan

9
anak Mama Kame. Jingi dirawat dan diangkat anak oleh Suster Karolin dan Suster
Wawuntu. Jingi adalah mahasiswa kedokteran di Manado dan menjadi seorang
perawat di Aitubu yang juga. aktif mendukung kegiatan Irewa menjadi konselor
penyakit kelamin berbahaya. Lalu Jingi tinggal di Belanda untuk melanjutkan
studinya. dan tinggal bersama Mama Karolin juga menjadi sahabat Meage di
Jerman.

F. Gaya Bahasa
Dalam penulisan novel Isinga karya Dorothea Rosa Herliany, pengarang banyak
menggunakan gaya bahasa kiasan langsung. Kiasan langsung yang digunakan adalah
kiasan persamaan personifikasi, yaitu mengungkapkan atau mengutarakan suatu benda
dengan pembanding tingkah dan kebiasaan manusia. Kutipan dalam novel yang berupa
majas personifikasi adalah sebagai berikut:

Jika para perempuan memetik daun-daun, esoknya daun itu menjawab: sebuah
tunas kecil tumbuh. Pagi, sekuntum bunga masih putik. Siang, riang bunga mekar
sambil bersiul. Lumut-lumt di antara batu-batu dan pohon tua hanya bergumam
menyaksikan itu semua. Seekor burung jatuh. Sayapnya patah. Bumi menerimanya
dalam pangkuan. (hlm. 155)
Kutipan di atas menggambarkan seolah-olah daun, bunga, lumut dan pohon tua
hidup layaknya manusia yang dapat berbicara, bersiul, dan bergumam. Seperti
kepercayaan orang Papua yang hidup di alam. Bagi mereka alam memanglah hidup.
Matahari bagai mata yang selalu mengawasi mereka dan alam sebagai tempat tinggal
yang mau menerima keberadaan mereka tinggal.

G. Amanat
Amanat dalam novel Isinga karya Dorothea Rosa Herliany berkenaan dengan
kebiasaan kebiasaan yang dilakukan masyarakat Aitubu dan Hobone. Banyak hal-hal
buruk yang mulai ditinggalkan masyarakat Aitubu dan Hobone. Tak ada peperangan
lagi antara Aitubu dan Hobone. Pentingnya untuk menghargai hidup. Manusia tidak
boleh membunuh manusia lain. Karena hidup adalah hak, harus dijaga dan
dipertahankan. Kalau sakit, dirawat agar sembuh. Kalau memang mati, biarlah itu
karena alam. Bukan karena manusia lain. Budaya dan tradisi baik tidak boleh
ditinggalkan, harus dijaga dan dikenalkan sampai ke anak cucu. Budaya merupakan ciri
khas masyarakat, jika budaya tersebut hilang, maka punah jugalah masyarakatnya.

10
BAB IV
SIMPULAN

Jadi, kritik pada pada dasarnya merupakan sebuah penilaian, penikmatan, dan
penghayatan terhadap sebuah karya. Dalam melakukan kritik hendaknya seorang kritikus
mengetahui wawasan yang luas, serta mengetahui kriteria dari sebuah karya yang dapat
dikatakan baik maupun karya yang dikatakan kurang baik. Pada dasarnya karya merupakan
sebuah hasil dari kreatifitas manusia. oleh sebab itu kritik biasanya bersifat pandangan
personal.

Dalam membuat kritik diharapkan kritikus dapat mencapai tujuan-tujuan dari kritik
yang dibuatnya. Kebebasan yang dilakukan dalam mengkritik dapat berupa menunjukkan
kelemahan sebuah karya atau dapat pula menunjukkan kelebihan yang terdapat pada karya
tersebut. Oleh sebab itu seorang kritikus hendaknya berhati-hati dalam menilai hasil karya
orang lain.

11
DAFTAR PUSTAKA

Dalman. 2013. Menulis Karya Ilmiah. Jakarta: Rajawali Pers.

Endraswara, Suwardi. 2013. Metodologi Kritik Sastra. Yogyakarta: Ombak (Anggota Ikapi)

Endraswara, Suwardi. 2013. Teori Kritik Sastra. Yogyakarta: CAPS (Center for Academic
Publishing Service)

Junus, Umar. 1985. Persepsi Sastra Sebuah Pengatur. Jakarta: PT. Gramedia.

Semi, Atar. 1984. Kritik Sastra. Bandung: Angkasa.

Sugihastuti, Suharto. 2015. Kritik Sastra Feminis “Teori dan Aplikasi”.Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.

Wiyatmi. 2012. Kritik Sastra Feminis. Yogyakarta: Ombak.

https//ffugm.wordpres.com/2012/04/30/filsafat-mengenal-macam-macam-kritik/

12