Anda di halaman 1dari 6

3.

Tahap Organization (Current stage dan critical stage)

Ini merupakan tahap akut, dimana krisis sudah menyerang, dan organisasi tidak punya pilihan lain
kecuali melakukan tindakan. Saat ini organisasi tidak bisa diam lagi. Pada tahap ini sudah mulai adanya
kemarahan publik yang menuntut perubahan, pengawasan media dan keterlibatan regulasi. Stakeholder
sangat menyadari perubahan, dan organisasi atau industri dalam krisis mengalami penurunan ekuitas
merek serta keuntungan yang signifikan.

Meskipun ada banyak definisi mengenai krisis, namun secara garis besar dapat dikatakan bahwa Krisis
adalah suatu peristiwa yang merupakan tak terduga, ancaman utama yang dapat memiliki efek negatif
pada organisasi, industri atau stakeholder jika tidak ditangani dengan tepat. Karena itu dapat dikatakan
tahapan ini juga merupakan tahap organisasi, karena pada tahap ini publik sudah mulai
mengorganisasikan diri dan membentuk jaringan-jaringan. Isu berkembang menjadi lebih popular karena
media massa memberitakannya berulang kali dengan eskalasi yang tinggi dan ditambah interaksi di
media sosial dan jaringan. Akibatnya, isu menjadi diskusi publik dan bermunculan beberapa pemimpin
opini publik. Mereka biasanya memberikan komentar-komentar yang mempengaruhi publik melalui
media massa.

4.Tahap Resolution (dormant stage)

Pada tahap ini, organisasi sudah mulai dapat mengatasi isu dengan baik, sehingga isu diasumsikan telah
berakhir sampai seseorang memunculkan kembali dengan pemikiran dan persoalan baru atau muncul isu
baru yang ternyata mempunyai keterkaitan dengan isu sebelumnya atau pada waktu peringatan saat isu
mulai muncul pertama kali. Pada titik ini konflik yang muncul dari krisis akan berhenti di media dan
regulator. Umumnya pada kondisi ini organisasi telah melakukan perubahan perubahan. Dengan kata
lain Setelah krisis mereda, krisis akan bergerak ke tahap tidur (mati suri), yang merupakan akhir dari
siklus dari sebuah isu. Namun kondisi-kondisi diatas dapat memunculkan isu yang sama kembali jika
masih terdapat ketidakpuasan pada publik..

B. Langkah-langkah pengendalian dan pengelolaan isu

Pendekatan manajemen isu

Ketika organisasi dihadapkan pada sebuah isu yang berpotensi menjadi krisis, idealnya mereka akan
segera melakukan tindakan manajemen untuk mengelola isu dan mengendalikan isu agar tidak semakin
liar. Model proses manajemen yang digunakan setiap organisasi sendiri bervariasi tergantung
pendekatan yang digunakan.
Ada beberapa pendekatan dominan yang biasa digunakan untuk menganalisa model-model proses
manajemen sebagaimana ditulis Prayudi (2007). Tiga (3) pendekatan utama yang biasa digunakan dalam
menganalisa manajemen isu, diantaranya adalah pendekatan sistem (system approach), pendekatan
stratejik reduksi ketidakpastian (strategic reduction of uncertainty approach) dan pendekatan retoris
(rethorical approach). Selanjutnya Taylor, Vasquez dan Doorley menambahkan pendekatan terbaru yang
merupakan pendekatan terintegrasi (engagement approach) yang mengatasi isolasi, mendorong
komunikasi dan menstimulasi reformation.

Pendekatan Sistem (System approach)

Pendekatan sistem didasarkan pada teori sistem dan prinsip manajemen bisnis. Sebagaimana dikatakan
oleh William G. Scott (1961) bahwa “cara yang paling bermakna mempelajari organisasi…adalah sebagai
sebuah sistem”. Semua bagian saling berhubungan dan berinteraksi satu sama lain. Walaupun ada teori
lain yang menjelaskan bagaimana bagian-bagian ini saling berhubungan, proses hubungan yang utama
adalah komunikasi (dalam Pace dan Faules, 1994).

Terdapat dua tujuan manajemen berdasarkan pendekatan ini. Pertama, manajemen isu berupaya
meminimalisir “kejutan” dari lingkungan dengan bertindak sebagai sistem eringatan dini bagi ancaman
potensial dan peluang. Kedua, pendekatan ini mempromosikan respon yang lebih sistematis dan efektif
dengan bertindak sebagai kekuatan koordinasi dan integrasi di dalam organisasi. Di sini manajemen isu
bertindak sebagai pemberi nasehat, pendidikan, informasi, penyelesaian masalah dan respon terhadap
media.

Pendekatan Stratejik (Strategic reduction of uncertainty approach)

Pendekatan ini berasal dari kajian pembuatan keputusan stratejik, proses organisasi, perilaku
manajemen dan prilaku sosio-politik untuk mengembangkan pemahaman peristiwa lingkungan dan aksi
organisasi.Secara implisit pendekatan stratejik menekankan pada orientasi kognitif aksi organisasi dan
perilaku keputusan individu. Perhatian utama adalah bagaimana interpretasi individu dan kelompok
terhadap sebuah isu berhubungan dengan aksi di tingkat organisasi. Penelitian Dutton menekankan
seperangkat konsep yang memberikan cara bagaimana isu diidentifikasi, dieksplorasi dan akhirnya
mengarah pada pembuatan keputusan organisasi. Inti dari konsep ini adalah diagnosis isu stratejik
(strategic issues diagnosis – SID) (Journal of Management Studies, 1993:339).

Pendekatan retoris (Rethorical approach)

Pendekatan ini muncul sebagai respon terhadap model manajemen isu Chase, Jones dan Crane dan
dikembangkan oleh ilmuwan retoris yang tertarik pada wacana korporat dan public relations. Crable dan
Vibbert (1986) mengidentifikasi tiga masalah dalam pendekatan Chase, Jones dan Crane. Pertama,
pendekatan model proses manajemen isu beranggapan organisasi memiliki wewenang yang sama
dengan pemerintah ketika berhubungan dengan penciptaan kebijakan publik. Menurut Crable dan Vibert
organisasi tidak memiliki wewenang dalam kebijakan publik, namun bisa mempengaruhi kebijakan
publik. Kedua, Chase, Jones dan Crane memandang isu sebagai sebuah masalah yang belum
terselesaikan dan siap untuk sebuah keputusan. Crable dan Vibert (1986) mendefinisikan isu sebagai
sebuah pertanyaan dan menyatakan bahwa isu “diciptakan jika satu atau lebih manusia berhubungan
secara signifikan dengan situasi atau masalah.” Ketiga, Chase dan Jones merekomendasikan tiga strategi
respon terhadap isu, yakni :

reaktif : menentang perubahan dan bereaksi terhadap inisiatif kelompok kepentingan demikian pula
dengan pejabat yang dipilih dan diangkat

adaptif : untuk mengantisipasi perubahan dan menawarkan akomodasi sebelum perubahan perubahan
yang tidak dapat diterima disahkan

dinamis : untuk mengantisipasi dan berusaha membentuk arah perubahan dengan mengembangkan
solusi nyata untuk masalah yang sesungguhnya dengan hasil yang sesungguhnya

Ketiga kategori tanggapan ini menciptakan spektrum yang luas dari strategi potensial. Model ini –
berbarengan dengan model selanjutnya – sangat direkomendasikan dalam mengelola isu. Namun
kemudian , Crable dan Vibbert (1985 ) berpendapat bahwa pendekatan dinamis bersifat defensif yang
selanjutnya mendukung pada Kategori keempat : katalitik dimana organisasi berupaya “membawa isu
melalui siklusnya sehingga dapat diselesaikan sesuai dengan tujuan organisasi.” Dengan demikian,
manajemen isu bisa menjadi aktivitas organisasi proaktif untuk mempengaruhi dan memformulasi
kebijakan publik.

Ada tiga asumsi penting yang berkaitan dengan pendekatan terintegrasi. Pertama, semua organisasi
berusaha memaksimalkan hasil atau outcome mereka. Manajemen isu membantu organisasi tumbuh
dan bertahan hidup karena memberikan organisasi alat untuk memaksimalkan peluang. Bagaimana pun
kepentingan organisasi tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya. Oleh karena itu, pendekatan integrasi
mengedepankan pemahaman, bahwa kepentingan organisasi dikontekstualisasikan oleh hubungan
dengan beragam publiknya. Kedua, pendekatan integrasi yang menjelaskan kepentingan publik
merupakan konsekuensi yang muncul dikarenakan asumsi pertama. Dalam pendekatan ini, publik dilihat
sebagai sumber daya dengan mana organisasi bergantung. Terakhir fokus pada konvergensi antar
kepentingan-kepentingan ini.

Model proses manajemen isu


Sebagaimana dibahas diatas, bahwa model proses manajemen isu sendiri sangat bervariasi. Satu
diantaranya adalah model yang dikemukakan Chase & Jones

(dalam Regester & Larkin, 2003:59-60; Chase, 1984:38-68; Harrison, 2001). Model ini terdiri dari lima
tahap, diantaranya adalah :

Identifikasi Issue:

Tujuan utama identifikasi issue adalah untuk menempatkan prioritas awal atas berbagai issue yang mulai
muncul. Issue-issue tersebut dapat diklasifikasikan berdasarkan:

-Jenis: sosial, ekonomis, politis, teknologis

-Sumber Respon: sistem bisnis, industri, perusahaan, anak perusahaan, departemen

-Geografi: internasional, nasional, regional, daerah, lokal

-Jarak terhadap kontrol: tak terkontrol, agak terkontrol, terkontrol

-Kepentingan: segera, penting

-Faktor seperti tingkat dampak serta kemungkinan bahwa issue akan berkembang dalam periode waktu
yang dapat diprediksi juga harus dipertimbangkan.

Identifikasi isu terdiri dari tiga langkah utama:

Pertimbangan tren di bidang sosial, politik, dan ekonom serta teknologi

Perbandingan tren tersebut dengan tujuan dasar organisasi atau rencana bisnis organisasi
Identifikasi isu utama

Analisis Issue:

Fokus utama dalam tahap ini adalah untuk memanfaatkan pengalaman masa lalu dengan isu saat ini. Hal
ini dapat dilakukan dengan pengamatan/penelitian kuantitatif dan kualitatif mengenai bagaimana yang
orang rasakan berkaitan dengan isu tersebut, tindakan apa yang telah diambil, bagaimana perusahaan
melakukan sesuatu dengan hal tersebut. Secara umum, harus dilihat bagaimana dampak isu tersebut
terhadap organisasi dengan melihat posisi perusahaan pada saat ini serta kekuatan dan kelemahannya
dalam memposisikan diri untuk berperan dalam pembentukan issue akan membantu untuk memberikan
fokus yang jelas bagi tahap perencanaan tindakan.Riset aplikasi tentang hubungan issue terhadap
perusahaan harus ditargetkan pada para pembentuk opini dan penanggungjawab media. Tahap riset dan
analisa awal ini akan membantu mengidentifikasi apa yang dikatakan oleh para individu dan kelompok
berpengaruh tentang issue-issue dan memberikan ide yang jelas pada manajemen tentang asal serta
perkembangan issue-issuetersebut.

Pilihan Strategi Perubahan Issue :

Tahap ini melibatkan pembuatan keputusan-keputusan dasar tentang respon organisasi. Pada dasarnya,
setiap isu memerlukan “posisi/sikap.” Ada beberapa alternatif sikap yang bisa diambil oleh organisasi,
yang dapat bersifat reaktif, adaptif atau dinamis :

1) Strategi Perubahan Reaktif:

Mengacu pada keengganan suatu organisasi untuk berubah dengan penekanan pada melanjutkan sikap
lama, contohnya dengan berusaha untuk menunda keputusan kebijakan publik yang tidak bisa dihindari.
Keengganan untuk berubah ini jarang menyisakan ruang bagi kompromi terhadap masalah legislatif.

2) Strategi Perubahan Adaptif:

Menyarankan pada keterbukaan terhadap perubahan serta kesadaran bahwa hal ini tidak bisa dihindari.
Pendekatan ini berlandaskan pada perencanaan untuk mengantisipasi perubahan serta menawarkan
dialog konstruktif untuk menemukan sebuah bentuk kompromi atau akomodasi.
3) Strategi Respon Dinamis:

Mengantisipasi dan mengusahakan untuk membentuk arah keputusan kebijakan publik dengan
menentukan bagaimana berkampanye melawan issue akan dilakukan. Pendekatan ini menjadikan
organisasi sebagai pelopor pendukung perubahan.

Pemrograman Tindakan terhadapIssue:

Dalam tahap ini Organisasi harus memutuskan kebijakan yang mendukung perubahan yang diinginkan
untuk masuk ke tahap keempat. Oleh karena itu semua bagian organisasi harus dimanfaatkan dan
disinkronisasikan satu sama lain. dengan kata lain tahap ini membutuhkan koordinasi sumber-sumber
untuk menyediakan dukungan maksimal agar tujuan dan target dapat tercapai.

Evaluasi Hasil:

Tanap akhir adalah mengevaluasi hasil program yang didapat (actual) dibandingkan dengan hasil
program yang diinginkan.