Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Klimakterium merupakan masa yang bermula dari akhir tahap reproduksi,


berakhir pada awal senium dan terjadi pada wanita berumur 40-65 tahun. Masa ini
ditandai dengan berbagai macam keluhan endokrinologis dan vegetatif. Secara
endokrinologis, masa klimakterium ditandai oleh turunnya kadar estrogen dan
meningkatnya pengeluaran gonadotropin. Kekurangan hormon estrogen ini
menyebabkan menurunnya berbagai fungsi degeneratif ataupun endokrinologik
dari ovarium yang menimbulkan rasa cemas pada sebagian besar wanita.
Keluhan-keluhan pada masa ini disebabkan oleh sindroma klimaterik. Sindroma
ini dialami oleh seluruh penduduk dunia. Tercatat di Eropa sekitar 70-80 %,
Amerika sekitar 60%, Malaysia sekitar 57 %, China 18 % dan di Jepang serta
Indonesia sekitar 10 % (Fajri, 2005).
Setiap tahunnya sekitar 25 juta wanita diseluruh dunia diperkirakan
mengalami menopause. Jumlah wanita usia 50 tahun keatas dapat diperkirakan
meningkat dari 500 juta pada saat ini menjadi lebih dari 1 miliar pada 2030.
Menurut data World Health Organization (WHO) pada tahun 2025 jumlah wanita
yang berusia tua diperkirakan akan melonjak dari 107 juta ke 373 juta (Ali, 2009).
Sebagai negara berkembang, Indonesia tidak hanya memiliki potensi sumber daya
alam dan sumber daya manusia yang merupakan tombak bagi pembangunan
perekonomian negara. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik tahun 2006 jumlah
penduduk Indonesia adalah sekitar 225 juta dan 52% nya adalah perempuan. Pada
tahun 2010 jumlah perempuan yang berusia diantara 50-55 tahun diperkirakan
mencapai 30,3 juta atau kira-kira 15% dari jumlah total penduduk Indonesia
(Kumala, 2008). Menurut data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi
jumlah pralansia perempuan pada tahun 2013 di Kalimantan Selatan yang berusia
sekitar 40-64 berjumlah 400.004 orang, dan di Wilayah Banjarmasin sendiri
jumlah pralansia perempuan yang berusia 40-64 berjumlah 17.450 orang.
Wanita pada masa klimakterium akan mengalami berbagai macam
perubahan tertentu yang dapat menyebabkan gangguan baik ringan maupun berat.
Perubahan dan gangguan itu sifatnya berbeda-beda. Tahap awal perubahan yang
dialami oleh wanita masa klimakterium adalah menstruasi tidak teratur dan sering
terganggu. Periode ini disebut sebagai masa pramenopause. Masa pramenopause
sering pula diikuti dengan meningkatnya aktifitas yang ditandai oleh gejala

1
menurunnya rangsangan seksual. Selain perubahan fisik, juga dapat terjadi
perubahan bersifat psikis (Proverawati & Suliswati, 2010).
Gangguan psikis yang muncul pada masa klimakterium meliputi mudah
tersinggung, depresi, kelelahan, semangat berkurang, dan susah tidur. Perubahan
psikologis masa klimakterium pada setiap wanita tidak sama dan sangat
individual tergantung pada kehidupan psikologis emosional serta pada pandangan
sebelumnya terhadap masa klimakterium. Wanita dengan keseimbangan
psikologis emosional yang baik, berpengetahuan luas dan dikelilingi keluarga
yang harmonis, umumnya hanya mengalami sedikit gangguan psikologis. Wanita
yang memiliki anggapan salah akan diliputi kecemasan yang berlebihan.
Perasaan-perasaan yang demikian bila berlebihan dapat menimbulkan gejala –
gejala seperti susah tidur, mudah marah, gelisah dan cemas (Proverawati &
Suliswati, 2010).
Kecemasan terhadap sindrom klimakterium ini dapat dinyatakan sebagai
adanya perasaan terganggu dengan hadirnya berbagai macam gejala yang
menyertai kondisi masa klimakterium. Penelitian yang dilakukan oleh Contesha
dan Idrus (2010) menemukan bahwa gejala ansietas yang lebih berat banyak
ditemukan pada masa perimenopause (7,7%) dibandingkan dengan masa
klimakterium awal (5,8%) dan masa klimakterium akhir (1,9%). Gejala ansietas
yang lebih berat banyak ditemukan pada wanita yang memiliki tingkat pendidikan
rendah, tidak bekerja, dan status ekonomi rendah.
Masa klimakterium yang diikuti dengan banyak gejala penyerta
berpengaruh terhadap upaya penyesuaian diri. Hurlock (dalam Putri, 2012)
menyatakan bahwa penyesuaian diri yang paling sulit dilakukan pada usia dewasa
madya adalah adanya perubahan fungsi seksual yaitu menopause pada wanita.
Seseorang akan dikatakan memiliki penerimaan diri yang baik, ketika mereka
sudah dapat memahami dan menerima segala kelebihan serta kekurangan yang
dimilikinya.

Perubahan-perubahan inilah yang membuat munculnya sikap negatif


terhadap menopause karena wanita khawatir tentang menopause dan beranggapan
akan kehilangan daya tarik serta khawatir orang-orang yang dicintainya akan
meninggalkannya. Sampai sejauh ini penyesuaian diri yang paling sulit dilakukan
pada usia dewasa madya adalah adanya perubahan fungsi seksual yaitu
menopause pada wanita. Seseorang akan dikatakan memiliki penerimaan diri
yang baik, ketika mereka sudah dapat memahami dan menerima segala kelebihan
serta kekurangan yang dimilikinya (Putri, 2012). Peran perawat kepada pasien
yang mengalami klimakterium adalah dengan memberikan konsultasi yang
baik, mengajarkan kepada ibu cara – cara merawat diri apabila ibu sudah

2
mengalami klimakterium, dan memberikan informasi tentang pencegahan
terhadap sindrom klimakterium.

B. Tujuan
1. Mengetahui pengertian klimakterium
2. Mengetahui etiologi klimakterium
3. Mengetahui tanda awal klimakterium
4. Mengetahui patofisiologi klimakterium
5. Mengetahui penetalaksanaan klimakterium
6. Mengetahui pencegahan klimakterium
7. Mengetahui asuhan keperawatan klimakterium

C. Manfaat
1. Institusi Pendidikan Keperawatan
Sebagai sumber informasi dan bahan bacaan pada kepustakaan institusi dalam
meningkatkan mutu pendidikan pada masa yang akan datang di bidang
keperawatan.
2. Institusi Pelayanan Kesehatan
Sebagai masukan bagi perawat pelaksana di unit Pelayanan Keperawatan Jiwa
dalam rangka mengambil kebijakan untuk meningkatkan mutu pelayanan
kesehatan khususnya pada pasien yang mengalami gangguan persepsi sensori:
halusinasi pendengaran.
3. Penulis
Sebagai tambahan pengalaman dan pengetahuan bagi penulis dalam
penerapan ilmu yang telah di dapatkan selama pendidikan.
4. Klien
Sebagai membantu klien dalam mengenali gangguan yang di alami klien dan
membantu klien mengontrol gangguan yang di alami klien untuk sebagian
cara proses penyembuhan.

3
BAB II
LANDASAN TEORI

A. PENGERTIAN
Klimakterium adalah masa transisi yang berawal dari akhir tahap
reproduksi dan berakhir pada awal senium, terjadi pada wanita usia 35 – 65
tahun. Masa ini ditandai dengan berbagai macam keluhan endokrinologis dan
vegetatif. Keluhan tersebut terutama disebabkan oleh menurunnya fungsi
ovarium. Gejala menurunnya fungsi ovarium adalah berhentinya menstruasi pada
seorang wanita yang dikenal sebagai menopause. Menopause merupakan suatu
peristiwa fisiologis yang disebabkan oleh menuanya ovarium yang mengarah
pada penurunan produksi hormon estrogen dan progesteron yang dihasilkan dari
ovarium. Kekurangan hormon ini menimbulkan berbagai gejala somatik,
vasomotor, urogenital, dan psikologis yang mengganggu kualitas hidup wanita
secara keseluruhan (Chuni dkk, 2011).
Pada akhir abad ini Indonesia telah ditemukan sebanyak 8-10% lansia
dimana jumlah wanita lebih banyak di bandingkan dengan jumlah laki-laki.
Sekitar separuh dari semua wanita berhenti menstruasi antara usia 45-50 tahun
seperempat lagi akan terus menstruasi sampai melewati sebelum usia 45 tahun
(kuswita, 2012).
Keluhan-keluhan klimakterik yang dapat timbul pada masa klimakterium
adalah panas pada kulit (hot flushes), keringat pada malam hari, kelelahan, sakit
kepala, vertigo, jantung berdebar-debar, berat badan bertambah, sakit dan nyeri
pada persendian, osteoporosis, kekeringan kulit dan 2 rambut, kulit genitalia dan
uretra menipis dan kering (Hillegas, 2005). Selain itu juga terdapat gejala psikis
yang muncul pada masa klimakterium, yaitu mudah tersinggung, depresi,
gelisah, mudah marah, dan sebagainya (Baziad, 2003)

B. ETIOLOGI
Sebelum haid berhenti, sebenarnya pada seorang wanita terjadi berbagai
perubahan dan penurunan fungsi pada ovarium seperti, berkurangnya jumlah
folikel dan menurunnya sintesis steroid seks, penurunan sekresi estrogen.
Perkembangan dan fungsi seksual wanita secara normal dipengaruhi oleh
sistem poros hipotalamus-hipofisis-gonad yang merangsang dan mengatur
produksi hormon-hormon seks yang dibutuhkan. Hipotalamus menghasilkan
hormon gonadotropin releasing hormone (GnRH) yang akan merangsang
kelenjar hipofisis untuk menghasilkan follicle stimulating hormone (FSH) dan
4
luteinizing hormone (LH). Kedua hormon FSH dan LH ini yang akan
mempersiapkan sel telur pada wanita. FSH dan LH akan meningkat secara
bertahap setelah masa haid dan merangsang ovarium untuk menghasilkan
beberapa follicle (kantong telur). Dari beberapa kantong telur tersebut hanya satu
yang matang dan menghasilkan sel telur yang siap dibuahi. Sel telur dikeluarkan
dari ovarium (disebut ovulasi) dan ditangkap oleh fimbria (organ berbentuk
seperti jari-jari tangan di ujung saluran telur) yang memasukkan sel telur ke tuba
fallopii (saluran telur). Apabila sel telur dibuahi oleh spermatozoa maka akan
terjadi kehamilan tetapi bila tidak, akan terjadi haid lagi. Begitu seterusnya
sampai mendekati masa klimakterium, dimana fungsi ovarium semakin
menurun.
Masa pramenopause atau sebelum haid berhenti, biasanya ditandai
dengan siklus haid yang tidak teratur. Pramenopause bisa terjadi selama
beberapa bulan sampai beberapa tahun sebelum menopause. Pada masa ini
sebenarnya telah terjadi aneka perubahan pada ovarium seperti sklerosis
pembuluh darah, berkurangnya jumlah sel telur dan menurunnya pengeluaran
hormon seks. Menurunnya fungsi ovarium menyebabkan berkurangnya
kemampuan ovarium untuk menjawab rangsangan gonadotropin. Hal ini akan
mengakibatkan interaksi antara hipotalamus-hipofisis terganggu. Pertama-
pertama yang mengalami kegagalan adalah fungsi korpus luteum. Turunnya
produksi steroid ovarium menyebabkan berkurangnya reaksi umpan balik negatif
terhadap hipotalamus. Keadaan ini akan mengakibatkan peningkatan produksi
dan sekresi FSH dan LH. Peningkatan kadar FSH merupakan petunjuk hormonal
yang paling baik untuk mendiagnosis sindrom klimakterik.
Secara endokrinologis, klimakterik ditandai oleh turunnya kadar estrogen dan
meningkatnya pengeluaran gonadotropin. Pada wanita masa reproduksi, estrogen
yang dihasilkan 300-800 ng, pada masa pramenopause menurun menjadi 150-
200 ng, dan pada pascamenopause menjadi 20-150 ng. Menurunnya kadar
estrogen mengakibatkan gangguan keseimbangan hormonal yang dapat berupa
gangguan neurovegetatif, gangguan psikis, gangguan somatik, metabolik dan
gangguan siklus haid. Beratnya gangguan tersebut pada setiap wanita berbeda-
beda bergantung pada:
1. Penurunan aktivitas ovarium yang mengurangi jumlah hormon steroid seks
ovarium. Keadaan ini menimbulkan gejala-gejala klimakterik dini (gejolak
panas, keringat banyak, dan vaginitis atrofikans) dan gejala-gejala lanjut
akibat perubahan metabolik yang berpengaruh pada organ sasaran
(osteoporosis).
2. Sosio-budaya menentukan dan memberikan penampilan yang berbeda dari
keluhan klimakterik.
3. Psikologik yang mendasari kepribadian wanita klimakterik itu, juga akan
membe-rikan penampilan yang berbeda dalam keluhan klimakterik.
5
C. TANDA AWAL KLIMAKTERIUM
Tanda Awal Klimakterium : Masa ini ditandai dengan berbagai macam keluhan
endokrinologi vegetatif, yaitu, terjadi perubahan pada ovarium seperti sclerosis
pembuluh darah, berkurangnya jumlah folikel dan menurunnya sintesis steroid
seks, lalu henti haid. Dan ditandai dengan turunnya kadar estrogen dan
meningkatkan pengeluaran gonadotropin.

Pada perubahan fisik seorang wanita mengalami perubahan kulit. Lemak bawah
kulit menghilang sehingga kulit mengendor, sehingga jatuh dan lembek. Kulit
mudah terbakar sinar matahari dan menimbulkan pigmentasi dan menjadi
hitam. Pada kulit tumbuh bintik hitam, kelenjar kulit kurang berfungsi sehingga
kulit kulit menjadi kering dan keriput.

Karena menurunnya estrogen dapat menimbulkan perubahan kerja usus menjadi


lambat, dan mereabsorbsi sari makanan makin berkurang. Kerja usus halus yang
semakin berkurang maka akan menimbulkan gangguan buang air besar berupa
obstipasi. Perubahan yang terjadi pada alat genetalia meliputi liang senggama
terasa kering, lapisan sel liang senggama menipis yang menyebabkan mudah
terjadi (infeksi kandung kemih dan liang senggama).
Daerah sensitif makin sulit untuk dirangsang. Saat berhubungan seksual dapat
menjadi nyeri. Perubahan pada tulang terjadi oleh karena kombinasi rendahnya
hormon paratiroid. Tulang mengalami pengapuran, artinya kalium menurun
sehingga tulang keropos dan mudah terjadi patah tulang terutama terjadi pada
persendian paha.

Masalah yang timbul pada Klimakterium


a. Gambaran klinis dari defesiensi estrogen dapat berupa gangguan siklus
haid, gangguan neurovegetatif, gangguan psikis dan gangguan somatik.
b. Gangguan siklus haid : Perdarahan tidak teratur, seperti oligomenore,
polimenore dan hipermenore.
c. Gangguan nerovegetatif : Gejolak panas (hotflushes), keringat banyak, rasa
kedinginan, sakit kepala, desing dalam telinga, tekanan darah yang goyah,
jari-jari atrofi, gangguan usus (meteorismus).
d. Gangguan psikis : Mudah tersinggung, lekas lelah, semangat, berkurang,
susah tidur.
e. Gangguan somatik : Infark miokard aterosklerosis, porosis, afipositas,
kolpitis, ektropium uretra, inkontinensia urin, disuria, desnsus, prolaps,
penyakit kulit klimakterik, dispareumia artritis, sklerosis koroner,
adipositas, gejala endokrinium berupa hipertirosis defeminisasi, virilasi dan
gangguan libido. Klimakterium berakhir kira-kira 6 – 7 tahun sesudah

6
menopause. Pada saat ini kadar estrogen telah mencapai nilai yang rendah
yang sesuai dengan keadaan senium, dan gejala-gejala neurovege tatif telah
terhenti. Dengan demikian, lamanya klimakterium ± 13 tahun.

D. PATOFISIOLOGI
Klimakterium terbagi menjadi tiga yaitu pra menopause, menopause
penurunan fertilasi 5%, post menopause ketidakmampuan mempunyai anak. Pra
menopause terjadi penurunan fertilasi 60% sehingga penipisan dini pada folikel
kemudian fase folikuler pendek saat menstruasi terjadi penurunan ovulasi dan
feedback berkurang di pituiraty dan hipotalamus sehingga peningkatan kadar
gonadotropin dan peningkatan FSH kemudian penurunan Inhibin, penurunan
estrogen, penurunan progesteron dan dari penurunan progesteron terjadi
penurunancorpus luteum, penurunan estrogen terjadi penurunan estradiol dibagi
menjadi dua yaitu SSP/Vasomotor dan tulang. SSP/Vasomotor dibagi menjadi
dua yaitu peningkatan Norepinephrine dan peningkatan serotin terjadi Hot
flushes, keringat di malam hari, terjadi stress psikologis dan diagnosa gangguan
pola tidur.
Tulang menghasilkan penurunan Apoptosis osteoclast dan penurunan
Sekresi OPG (osteoprotegerin)oleh osteoblast terjadi peningkatan Maturasi
osteoclast setelah itu Resorpsi tulang > pembentukan sehingga terjadi
Dekalsifikasi/pengapuran menghasilkan Osteoporosis dan gangguan
Fisik/Psikologik terjadi diagnosa nyeri.

7
E. PENATALAKSANAAN
1. Penatalaksanaan Umum: Merupakan pendapat umum yang salah bahwa
semua masalah klimakterik dan menopause dapat dihilangkan dengan hanya
pemberian estrogen saja. Tujuan pengobatan dengan estrogen bukanlah
memperlambat terjadinya menopause, melainkan memudahkan wanita-
wanita tersebut memasuki masa klimakterium. Hubungan pribadi yang baik,
saling percaya antara suami-istri, maupun antara dokter-penderita akan
memberikan harapan yang besar akan kesembuhan. Pemberian obat-obat
penenang bukanlah cara pengobatan yang terbaik. Psikoterapi superfisial
oleh dokter keluarga sering sekali menolong.
2. Pengobatan hormonal: Menopause merupakan suatu peristiwa fisiologis dari
keadaan defisiensi estrogen. Sindrom klimakterik pada umumnya terjadi
akibat kekurangan estrogen, sehingga dengan sendirinya pengobatan yang
tepat adalah pemberian estrogen, meski bukan tanpa risiko. Pada masa lalu,
estrogen diberikan untuk selang waktu yang singkat dan kemudian
berangsur-angsur dikurangi sehingga gejolak panas sirna. Konsep ini tidak
berlaku lagi. Seorang wanita yang mengalami gejala-gejala menopause telah
mengidap defisiensi estrogen dan akan tetap begitu sepanjang hayatnya.
Defisiensi estrogen jangka panjang dapat menyebabkan berkembangnya
osteoporosis, penyakit jantung aterosklerotik, dan mungkin perwujudan
psikogenik. Program yang seimbang dari pengobatan estrogen-pengganti
yang dikombinasikan dengan progestogen siklik merupakan pengobatan
terbaik, karena tujuan nyata dari estrogen-pengganti adalah tidak hanya
untuk meredakan gejala-gejala vasomotor melainkan juga untuk mencegah
akibat metabolik seperti osteoporosis dan ateroskletosis.

F. PENCEGAHAN
1. Mengonsumsi makanan-makanan bergizi yang secara alami bersifat anti-
inflamasi, seperti whole grain, buah-buahan, ikan, sayuran berdaun hijau
tua, kacang-kacangan, dan memasak dengan minyak zaitun. Hindari
konsumsi makanan yang mengandung trans fat, seperti margarin.
2. Berolahraga yang teratur, sebab olahraga teratur akan mengurangi jumlah
deposit lemak.
3. Merokok, minum alkohol, dan obat-obatnan harus dihindari karena bersifat
pro-inflamasi dan merusak jaringan yang sehat.
4. Hindari stres, karena stres dapat merusak sistem pertahanan tubuh.
5. Tidur yang cukup akan sangat bermanfaat untuk mencegah proses inflamasi
kronik

8
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
Biodata:
1. Identitas klien (Nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan,
status perkawinan, alamat)
2. Riwayat Kesehatan Saat Ini (Keluhan Utama)
3. Riwayat Penyakit
4. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
5. Klien pertama kali haid (menarche)
6. Riwayat Obstetrik dan abortus
7. Riwayat Kesehatan Keluarga
8. Riwayat Psikospritual (kecemasan, harapan, hubungan dengan keluarga,
keagamaaan, hubungan dengan masyarakat)
9. Kebutuhan dasar
10. Pola sehari hari (pola makan, tidur, eliminasi)
11. Pemeriksaan fisik:
a. Keadaan umum : TTV
b. Kulit: mulai keriput, tidak ada lesi, kemerahan.
c. Kepala: simetris tegak lurus dengan garis tengah tubuh, kulit kepala
bersih, rambut mulai beruban.
d. Muka: tampak cemas, kemerahan, hangat, tumbuh bercak-bercak
kecoklatan.
e. Mata: ikterus (-), pupil isokhor kiri dan kanan, anemis (-), palpebra
hitam
f. Telinga: bentuk simetris kiri dan kanan, pendengaran tidak terganggu.
g. Hidung: bentuk simetris, fungsi penciuman baik, polip (-) tidak
ditemukan darah/cairan keluar dari hidung.
h. Mulut: bibir agak kering, sianosis (-), lidah dapat dijulurkan dengan
maksimal dan dapat bergerak bebas.
i. Leher: tidak ada pembengkakan kelenjar tiroid, dapat digerakkan
dengan bebas.
j. Dada: bentuk dan gerakan simetris, tidak ada nyeri tekan.
k. Abdomen: tidak ada pembesaran hati, limpa
l. Tungkai/ekstremitas: simetris kiri dan kanan, dapat melakukan aktivitas
dengan baik
m. Kuku: pendek, bersih

9
B. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul
1. Gangguan pola tidur berhubungan dengan stress psikologis
2. Nyeri berhubungan dengan fisik/psikologik (sendi, tuang belakang, usia
lanjut)
3. Gangguan harga diri berhubungan dengan perubahan feminitas atau
ketidakmampuan mempunyai anak

C. Intervensi
DIAGNOSA RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
KEPERAWATAN TUJUAN INTERVENSI
Gangguan pola NOC NIC
tidur berhubungan Pasien melaporkan perubahan 1. Tentukan kebiasaan tidur dan
dengan stress dalam pola tidur/istirahat perubahan yang terjadi
psikologis Pasien mengungkapkan 2. Berikan tempat tidur yang
peningkatan rasa sejahtera atau nyaman
segar 3. Tingkatkan kenyamanan
waktu tidur, misal: mandi air
Kriteria Hasil: hangat, masase
 Jumlah jam tidur dalam batas 4. Kurangi kebisingan dan
normal 6-8 jam/hari lampu
 Pola tidur, kualitas dalam batas 5. Dorongn positif yang
normal nyaman
 Perasaan segar sesudah tidur 6. Berikan sedatife sesuai
atau istirahat indikasi
 Mampu mengidentifikasi hal-
hal yang meningkatkan tidur

Nyeri berhubungan NOC NIC


dengan Keluhan nyeri berkurang/terkontrol 1. Kaji keluhan nyeri,
fisik/psikologik Pasien tampak rileks perhatikan intensitas (skala 0-
(sendi, tuang Pasien mampu melakukan aktivitas 10), lamanya dan lokasi
belakang, usia 2. Beri tindakan kenyamanan
lanjut) Kriteria Hasil: 3. Batasi aktivitas fisik pasien
Klien dapat mengikuti aturan 4. Dorong tehnik manejemen
farmakologi yang ditentukan. stres (relaksasi)
Klien dapat mendemontrasikan 5. Berikan analgesik sesuai
penggunaan keterampilan relaksasi indikasi
dan aktifitas hiburan sesuai indikasi
situasi individu.
Harga diri rendah NOC NIC
situasional  Body image 1. Tunjukan rasa percaya
berhubungan  Coping, ineffective percaya diri terhadap
dengan gangguan  Personal identity, disturbed kemampuan pasien untuk
fungsional Pasien menyatakan masalah dan mengatasi situasi
menunjukkan pemecahanmasalah 2. Dorong pasien
yang sehat mengidentifikasi kekuatas
Pasien menyatakan penerimaan diri dirinya
pada situasi dan adaptasi terhadap 3. Dukung pasien untuk

10
perubahan pada citra tubuh. menerima tantangan bar
4. Kolaborasi dengan sumber-
Kriteria Hasil: sumber lain (pelayanan
Adaptasi terhadap ketunandayaan kesehatan)
fisik : respon adaptif klien terhadap
tantangan fungsional penting akibat
ketunandayaan fisik
Menunjukan penilaian pribadi
tentang harga diri
Mengungkapkan penerimaan diri
Komunikasi terbuka

11
BAB IV
KESIMPULAN

Klimakterium adalah masa transisi yang berawal dari akhir tahap reproduksi dan
berakhir pada awal senium, terjadi pada wanita usia 35 – 65 tahun. Masa ini
ditandai dengan berbagai macam keluhan endokrinologis dan vegetative.
Menopause merupakan suatu peristiwa fisiologis yang disebabkan oleh menuanya
ovarium yang mengarah pada penurunan produksi hormon estrogen dan
progesteron yang dihasilkan dari ovarium. Kekurangan hormon ini menimbulkan
berbagai gejala somatik, vasomotor, urogenital, dan psikologis yang mengganggu
kualitas hidup wanita secara keseluruhan. Masa pramenopause atau sebelum haid
berhenti, biasanya ditandai dengan siklus haid yang tidak teratur. Pramenopause
bisa terjadi selama beberapa bulan sampai beberapa tahun sebelum menopause

Tanda awal klimakterium ditandai dengan berbagai macam keluhan


endokrinologi vegetatif, yaitu, terjadi perubahan pada ovarium seperti sclerosis
pembuluh darah, berkurangnya jumlah folikel dan menurunnya sintesis steroid
seks, lalu henti haid. Dan ditandai dengan turunnya kadar estrogen dan
meningkatkan pengeluaran gonadotropin.

Adapun pencegahannya yaitu dengan cara mengonsumsi makanan-makanan


bergizi yang secara alami bersifat anti-inflamasi, seperti whole grain, buah-
buahan, ikan, sayuran berdaun hijau tua, kacang-kacangan, dan memasak dengan
minyak zaitun. Hindari konsumsi makanan yang mengandung trans fat, seperti
margarin.

12
Daftar Pustaka

Riyanti Imron et al. (2016). Asuhan kebidanan patologi. TIM


Purwoastuti, Endang et al. (2015). Panduan materi kesehatan reproduksi dan
keluarga berencana. Pustaka Baru Press
http://eprints.ums.ac.id/
http://digilib.unimus.ac.id/
https://ejurnal.poltekkes-tjk.ac.id
http://ojs.dinamikakesehatan.stikessarimulia.ac.id
Nurarif, Amin Huda, Hardhi. (2015). NANDA NIC-NOC. MediAction

13