Anda di halaman 1dari 5

MAKALAH

MANAJEMEN PERBANKAN
“ KLIPING PRODUK DAN CONTOH KASUS ”
( Studi kasus : Bank Panin )

Disusun Oleh :
Wenny Mellano
( NIM : 201511445 )

UNIVERSITAS ESA UNGGUL


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada ALLAH SWT karena dengan rahmat, karunia, serta
taufik dan hidayah-Nya penyusun dapat menyelesaikan makalah tentang klipping produk dan
contoh kasus yang ada di Bank Panin ini dengan baik meskipun banyak kekurangan
didalamnya. Dan juga penyusun berterima kasih pada Ibu Nisa selaku Dosen mata kuliah
Manajemen Perbankan UEU yang telah memberikan tugas ini kepada penyusun .
Penyusun sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan tentang kajian klipping produk dan contoh kasus yang ada di
Bank Panin ini. Penyusun juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah tentang
klipping ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, Penyusun
berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah tentang klipping yang telah
penyusun buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa
saran yang membangun.
Semoga makalah tentang klipping sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya makalah tentang klipping yang telah disusun ini dapat berguna bagi
penyusun sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya penyusun mohon maaf
apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan penyusun memohon kritik
dan saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Tangerang, 13 – April - 2018

Penyusun
KASUS
" PEKERJA BANK PANIN DIPECAT USAI
TEMUKAN FRAUD "

Permasalahan Kasus
Kasus ini bermula ketikaYus ditunjuk sebagai Ketua Tim Audit yang ditugaskan
Presiden Direktur Bank Panin untuk mengaudit cabang utama Bank Panin di Banjarmasin,
Kalimantan Selatan pada Januari 2010.Awal Februari 2010 Yus melaporkan hasil audit
sementara kepada Presdir. Intinya ia mengaku menemukan indikasi fraud. Ia juga
melaporkannya kepada Kepolisian Daerah Kalsel untuk diproses secara hukum pada 22
Februari 2010.
Yus dkk kemudian baru menyerahkan laporan hasil audit secara keseluruhan kepada Presdir
pada 2 Juli 2010. Setelah itu Yus diperintahkan untuk menyampaikan hasil audit kepada
pimpinan pusat. Hasil audit itu akan dilanjutkan ke BI. Lalu pada 25 Maret 2011 Yus dkk
dipanggil tim pemeriksa BI untuk menjelaskan temuan mereka itu.Ternyata kehadiran Yus
dkk ke BI itu tidak direstui oleh pihak manajemen. Atas dasar itu kemudian Yus dipanggil
menghadap staf Biro Umum dan Personalia pada 28 April 2011 dan diperintahkan agar
mengundurkan diri. Walau menolak mengundurkan diri Yus tetap diberikan surat pemutusan
hubungan kerja (PHK). Sehari kemudian Yus sudah tidak boleh lagi menginjakkan kaki di
lokasi kerja.
Meski PHK dijatuhkan, pihak manajemen mengirim surat pemanggilan kerja pertama
pada 6 Mei 2011 dan Yus memenuhi panggilan itu pada 11 Mei 2011. Ketika itu Yus
menjelaskan bahwa ketidakhadirannya pasca diputuskan hubungan kerja karena alasan
sakit.Walau telah hadir memenuhi surat pemanggilan pertama, manajemen kembali
melayangkan surat pemanggilan kedua keesokan harinya lewat kurir. Namun hari itu Yus tak
bisa menemui manajemen yang mengaku sibuk. Kemudian pada 19 Mei 2011 pihak
manajemen menerbitkan surat yang menyatakan bahwa Yuz dikategorikan mengundurkan
diri karena 14 hari berturut-turut absen. Yus juga tidak memenuhi pemanggilan kerja
sebagaimana telah disampaikan lewat surat.
Hal itu tentu saja membuat Yus kaget karena dia merasa telah memenuhi surat
pemanggilan itu. Proses penyelesaian perselisihan ini kemudian dilakukan melalui proses
bipartit dan tripartit namun tidak ada kesepakatan. Kuasa hukum Yus, Zoharsa Salim
menyebut perkara ini bukan masalah ketenagakerjaan saja tapi juga menyangkut tindak
pidana perbankan. Karena pekerja dipecat setelah mengerjakan audit dan dipanggil BI untuk
diminta keterangan terkait temuan itu. Karena menilai tindakan PHK yang dilakukan
manajemen bertentangan dengan hukum, Yus dalamgugatannya menuntut agar manajemen
dihukum membayar kompensasi pesangon sebesar 10 kali ketentuan pasal 156 ayat (2) UU
Ketenagakerjaan.
Terpisah, kuasa hukum manajemen Atum Burhanudin membantah disebut memecat Yus.
Perusahaan justru berdalih Yus telah mangkir sejak 28 April 2011. Pihak perusahaan merasa
tidak mendapat pemberitahuan dan alasan dari Yus perihal ketidakhadirannya ketika itu di
lokasi kerja.Oleh karenanya Atum menyebut Yus telah melanggar pasal 21 ayat (4) Peraturan
Perusahaan (PP) PT.Bank Panin Tahun 2010 – 2012.
Pada intinya ketentuan itu menyebut bahwa pekerja yang tidak masuk kerja tanpa
alasan yang dapat diterima atasannya dan bagian personalia, maka dianggap mangkir.Karena
dianggap mangkir, maka mengacu prinsip upah no work no pay pihak manajemen sudah tidak
membayarkan upah pekerja. Penghentian upah itu berlaku saat Yus dinyatakan mangkir dan
ketika putus hubungan kerjanya. Bagi Atum tindakan itu diatur dalam peraturan Pemerintah
No.8 Tahun 1981 tentang Perlindungan Upah juncto pasal 93 ayat (1) UU Ketenagakerjaan.

Kesimpulan Kasus
Berdasarkan kasus di atas ada lima permasalahan yang terjadi dalam tindak kejahatan
yang terjadi pada kantor Bank Panin Cabang Banjarmasin berupa penemuan rekayasa kredit
senilai Rp. 30 miliar. Masalah temuan rekayasa kredit di perusahaan. Masalah sengketa
internal antara pemberi kerja dan pegawaiannya. Penyimpangan standar operasional prosedur
(SOP). Penyalahgunaan kewenangan pimpinan cabang terhadap SOP internal bank.
Pada tahun 2010 telah terjadi penjualan jaminan atau agunan kredit atas nama debitur
PT Masrur Borneo. Jaminan itu dijual dengan surat kuasa palsu, dan notaris tidak
dapat menunjukkan minuta akte kuasa menjual. Namun sangat disayangkan di tengah upaya
pemerintah menyeruakan kejahatan perbankan berkerah putih ini terjadi Pelaku (Herman
Kusuma) memang telah meninggal dunia, tetapi karyawan-karyawan dan pejabat bank Panin
lainnya yang terindikasi terkait kasus rekayasa pemberian kredit masih menjabat.
Pembentukan panja mengemuka sejak DPR menerima aduan dari Serikat Pekerja Niaga
Bank Jasa dan Asuransi Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia.
Solusi : Kasus Bank Panin, bisa menjadi pintu masuk untuk melihat maraknya
penyimpangan perbankan saat ini. Bank perlu pembenahan sistem, kontrol, operator, dan
pengawas secara periodik. Menurut saya Kompetensi Internal Audit Perbankan hukumnya
sangat wajib dan temuan dari seorang auditor internal sangat membantu untuk mengevaluasi
kinerja operasi suatu bank serta posisi seorang auditor yang juga harus terlindungi dari segala
tuntutan hukum. Semoga kasus yang terjadi pada Bank Panin dapat terselesaikan dengan baik
dan kejahatan kerah putih pada bank lain secara keseluruhan tidak terjadi lagi.