Anda di halaman 1dari 13

Ambari Sutardi, Model Penilaian Bahasa Indonesia Dalam Pelaksanaan Kurikulum Sekolah Dasar

Model Penilaian Bahasa Indonesia Dalam Pelaksanaan Kurikulum


Sekolah Dasar

Ambari Sutardi
Pusat Kurikulum, Balitbang, Kemendiknas

Abstrak: Model penilaian Bahasa Indonesia dalam pelaksanaan kurikulum SD berbeda dari sebelumnya,
di mana perbedaan tersebut dimaksudkan agar para pelaksana memahami dalam menerapkan model
penilaian di beberapa SD di kabupaten/kota yang berbeda. Perbedaan menggunakan model mulai dari
yang sederhana hingga ke yang kompleks. Sederhana artinya hanya mencantumkan satu nilai untuk
mata pelajaran tersebut dan kompleks karena mencantumkan empat nilai, untuk empat kategori
kompetensi dalam berbahasa Indonesia, yaitu: mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis.
Penggunaan aneka ragam model penilaian Bahasa Indonesia akan menimbulkan permasalahan karena
sistem penilaian memiliki pengaruh kuat terhadap pelaksanaan pembelajaran di kelas. Dikhawatirkan
keempat kategori kompetensi Bahasa Indonesia yang telah ditetapkan tidak akan tercapai secara optimal
oleh peserta didik, terutama sekolah yang menggunakan model penilaian yang sederhana. Oleh karena
itu, model penilaian Bahasa Indonesia yang ideal merupakan model yang kompleks, dengan harapan
agar penyampaian informasi tentang prestasi dapat dicapai peserta didik secara rinci dan objektif.

Kata kunci: multi teknik, model penilaian ideal.

Abstract: The evaluation model for Indonesian language sustaining the implementation of the in-effect
primary school curriculum is different from the previous one. Accordingly, this results in different perceptions
and different use of the model by the implementers at some primary schools in different districts/
municipalities. The difference of using the model are ranging from the simple to the more complext. The
simple one merely covers one score for the subject concerned while the complext one encompasses four
scores, for: listening, speaking, reading and writing respectively. The use of various evaluation models
for Indonesian language would certainly results in a problem because the evaluation system has strong
impact againsts the learning process in the classroom. So it is worried that the four predetermined
competence catagories of Indonesian language would not totally be achieved by students in the primary
schools which use the simple model one. Because of such reason, the ideal evaluation model to sustain
the implementation of the an in-effect primary school curriculum is the complex one so that it would tell
the information about learners’ achievement in more detailed and transparent.

Key words: Multi-techniques, the ideal evaluation model.

Pendahuluan maka yang menjadi pertanyaan adalah apakah


Berdasarkan kurikulum 1994 dan kurikulum angka lima tersebut merupakan hasil penguasaan
sebelumnya, model penilaian di sekolah dasar (SD) kompetensi mendengarkan, berbicara, membaca,
hanya meliputi satu nilai untuk satu mata pelajaran atau menulis?
dan kebijakan ini berlaku secara nasional selama Ketid akjelasan ini pe rlu di benahi o leh
puluhan tahun. Model te rsebut tidak dapat penyelenggara pendidikan agar ke depan, orang
menggambarkan prestasi peserta didik yang tua peserta didik maupun unsur terkait lainnya
sesungguhnya. Akibatnya, pihak pembaca rapor dapat memahami secara jelas prestasi setiap
(guru, peserta didik, orang tua, dan unsur terkait) peserta didik. Para pemerhati pendidikan, antara
tidak mengetahui secara jelas prestasi yang telah lain: Prof. Habibie ketika menjabat Menteri Riset
dicapai oleh setiap peserta didik. Misalnya, dan Teknologi dan Prof. Slamet Imam S. sebagai
seorang peserta didik memperoleh angka/nilai Rektor Universitas Indonesia mempertanyakan
lima untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, kualitas soal yang disajikan kepada peserta didik.

215
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. 16, Nomor 2, Maret 2010

Menurutnya, soal-soal ulangan didominasi oleh mencap ai kompe tens i, pal ing ti dak, yang
pilihan ganda dan benar-salah termasuk untuk tercantum dalam SI. Begitu pula dengan Pedoman
Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS). Penilaian Kelas dan SPP, keduanya sama-sama
Lebih lanjut, bentuk soal-soal seperti itu hanya difokuskan pada bag aimana seharusnya
menuntut aspek kognitif tingkat rendah. Pada melaksanakan proses penilaian terhadap peserta
hakikatnya, soal yang disajikan kurang menuntut didik dengan menekankan penggunaan berbagai
peserta didik memiliki kemampuan yang tinggi. teknik yang disesuaikan dengan kompetensi yang
Oleh karena itu, disarankan untuk diubah dengan harus dicapai peserta didik.
bentuk essay agar peserta didik memiliki tingkat Standar Isi 2006 be rlaku pada jenja ng
pemahaman dan kompetensi yang lebih tinggi. pendidikan dasar dan menengah sesuai dengan:
Saran tersebut ditanggapi oleh para pemangku a) Undang-Undang Nomor: 20/2003 Tentang
kepentingan dalam bentuk pro dan kontra. Pihak Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN), b) Peraturan
yang berseberangan (kontra) mengatakan bahwa Pemerintah (PP) 19/2005, dan c) Peraturan
guru akan mengalami kesulitan dalam meme- Menteri Pendidikan Nomor. 22, 23, dan 24, Tahun
riksanya. Pemerintah merespon saran tersebut 2006. SI tahun 2006 terdiri atas beberapa
dengan melakukan perubahan/penyempurnaan komponen, antara lain: struktur program, beban
melalui pengembangan kompetensi yang harus belajar, kalender pendidikan, Standar Kompetensi
dikuasai oleh setiap peserta didik pada setiap jenis (SK) dan Kompetensi Dasar (KD), serta Kurikulum
dan jenjang pendidikan. Bentuk konkrit tanggapan Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang disusun
Pemerintah antara lain mengadakan perubahan oleh setiap satuan pendidikan. Selanjutnya, KTSP
kurikulum pada jenjang pendidikan dasar dan terdiri atas beberapa komponen, antara lain:
menengah, yaitu mela lui penyempurnaan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran
Kurikulum 1994 menjadi Kurikulum Berbasis (RPP). Silabus dan RPP terdiri atas SK dan KD yang
Kompetensi (KBK) 2004 yang kemudian menjadi telah ditetapkan dalam SI. RPP ditambah dengan
Standar Isi (SI) kegiatan pembelajaran secara rinci sebagai
Bersamaan dengan perubahan kurikulum jabaran dari KD dan proses penilaian yang
tersebut, sejak awal proses penyusunan KBK merujuk pada Permendiknas Nomor 20/2007.
2004 terjadi paradigma baru tentang pentingnya Kompetensi pada mata pelajaran Bahasa
perubahan dalam cara menilai prestasi peserta Indonesia pada Standar Isi (SI) 2006 dinyatakan
didik yang kemudian paradigma tersebut dianggap bahwa setiap peserta didik dituntut untuk memiliki
se suai dan mendukung pel aksanaan KBK. empat kategori kompetensi berbahasa, yaitu: 1)
Pedoman p elaksanaan penilai an dimaksud mendengarkan, 2) berbicara, 3) membaca, dan
dinamakan “Pedoman Penilaian Kelas 2004”. Pada 4) menulis. Sejak Tahun 2009, sebagian SD di
intinya, guru disarankan untuk menggunakan beberapa kabupaten dan kota di provinsi yang
berbagai teknik dalam melaksanakan penilaian berbeda menggunakan model penilaian yang
terhadap peserta didik serta menggunakan model bervariasi, mulai dari yang sederhana sampai ke
penilaian yang lebih rinci. Agar pelaksanaan KBK yang lebih kompleks. Kompleks artinya penilaian
berjalan sesuai dengan tuntutan kompetensi dil aksanakan te rhadap empat kat egori
maka kemudian KBK dan Pedoman Penilaian Kelas kompetensi berbahasa Indonesia.
disempurnakan oleh badan independen yaitu Permasalahan yang ada antara lain bahwa
Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). penggunaan mod el yang se de rhana tida k
Selanjutnya, dokumen tersebut disahkan dengan menggambarkan secara jelas pencapaian kategori
diberi nama KBK menjadi Standar Isi (SI 2006) dan kompetensi berbahasa Indonesia oleh peserta
Pe do man Pe nilaian Kela s menjadi Standa r didik. Kondisi ini dikhawatirkan akan berpengaruh
Pe ni laia n Pe ndidikan (SPP) 2 007 di mana pada SD lainnya sehingga akan kembali ke sistem
keduanya merupakan bagian dari delapan Standar penilaian lama di mana yang diukur bukan
Nasional Pendidikan (SNP) yang berlaku saat ini. penguasaan berbagai ko mp etensi , namun
Pada hakikatnya inti dari KBK dan SI relatif penguasaan berbagai konsep.
sama. Keduanya menuntut peserta didik untuk

216
Ambari Sutardi, Model Penilaian Bahasa Indonesia Dalam Pelaksanaan Kurikulum Sekolah Dasar

Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk setelah lulus mereka memiliki berbagai kompetensi
mensosialisasikan gagasan tentang penggunaan yang telah ditentukan tersebut. Minimal artinya
model penilaian Bahasa Indonesia yang ideal suatu sekolah, karena alasan tertentu, diper-
untuk mendukung pelaksanaan kurikulum sekolah bolehkan menambah kompetensi tetapi jangan
dasar secara optimal. menghilangkan yang sudah ada. Yang dimaksud
dengan kompetensi adalah perpaduan antara
Kajian Literatur dan Pembahasan penge tahuan, kete rampilan dan s ikap-
”competence...encompasses a combination of
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana
knowledge, skills and behaviour utilized to improve
untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
performance” (WIKIPEDIA, 2009a)
pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki Kompetensi-kompetensi minimal yang ada
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, dalam SI (Permendiknas Nomor 22/2006) yang
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta harus dicapa i pe serta didik dalam li ngkup
keterampilan yang diperlukan dirinya, masya- pendidikan dasar dan menengah dipetakan oleh
rakat, bangsa dan negara (UUSPN/2003. Dengan Pemerintah dan dikategorikan berdasarkan
kata lain, Pemerintah mengharapkan setiap satuan pe ndidikan, ke las, semester, mata
pelajaran, SK dan KD. Berikut adalah contoh
peserta didik memiliki kompetensi/keterampilan
gambaran SK dan KD minimal dimaksud untuk
yang harus dikuasai oleh setiap peserta didik
mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas IV
sehingga menggambarkan secara objektif kualitas
semester 1.
performance para tamatan satuan pendidikan.
Oleh karena suatu sekolah diperbolehkan
Selanjutnya, PP Nomor 19/2005 tentang
menambah ko mpet ensi , maka ter lihat ada
penilaian yang tercantum pada Bab IV Pasal 22,
kebebasan bagi setiap SD untuk menentukan
ayat: (1) dan Permendiknas Nomor 20/2007
kuantitas kompetensi yang harus dicapai oleh
tentang Penilaian, huruf C tentang Teknik dan
peserta didiknya. Berangkat dari kebebasan ini,
Instrumen Penilaian, butir 1 dinyatakan bahwa
pada akhirnya suatu SD akan memiliki KTSP serta
“Penilaian hasil belajar oleh pendidik meng-
gunakan berbagai teknik penilaian berupa tes, silabus dan RPP yang berbeda dengan yang

o bservasi, pe nuga san perseorang an atau dimiliki oleh SD lain yang terdekat. Kondisi ini juga

kelompok, dan bentuk lain yang sesuai dengan mendorong adanya perbedaan mutu lulusan dari
karakt eristik ko mpetensi dan t ingkat per- satu sekolah dengan sekolah lainnya.
kembangan peserta didik”. Teknik tes meliputi “tes
tertulis, tes lisan, dan tes praktik atau tes kinerja” Jabaran Standar Isi (SI)
(butir 2) dan “teknik observasi atau pengamatan Dalam upaya mengembangkan SK, KD, dan SI,
dilakukan selama pembelajaran berlangsung dan/ dal am pembe lajaran di kelas, sebaiknya
atau di luar kegiatan pembelajaran” (butir 3). menjabarkan secara sistimatik. Pertama guru,
Teknik observasi dan praktik sama-sama memerlu- kepala seko lah dan ko mi te s ekol ah s ecara
kan waktu lama dalam pelaksanaannya. Namun bersama menyusun kurikulum sekolah ber-
demikian, keduanya menjadi penting karena dasarkan SI yang disesuaikan dengan kepen-
dengan mengadakan observasi dan peserta didik tingan daerah dan lingkungan sekolah, dan
mengadakan praktik guru akan memperoleh kurikulum ini dikenal dengan Kurikulum Tingkat
informasi yang objektif “tentang sejauh mana
Satuan Pendidikan yang dikenal dengan KTSP
hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kom-
atau School-Based Curriculum. “In Practice, School-
petensi peserta didik” (Akhmad Sudrajat, 2008.)
Based Curriculum Development can range from in-
dividual teachers interpreting and adapting existing
Kompetensi Dalam Standar Isi (SI) curricula to whole staff working together to create
Pemerintah menyusun dan memetakan SK dan KD curricula, sometimes with input from students, or
minimal untuk semua mata pelajaran yang ada di people from outside the school” (Rachel Bolstad,
lingkup pendidikan dasar dan menengah wajib 2004).
menyampaikannya kepada peserta didik agar

217
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. 16, Nomor 2, Maret 2010

Tabel 1. Kompetensi Bahasa Indonesia, Kelas IV, Semester 1

Standar Kompetensi (SK) Kompetensi Dasar (KD)

1. Mendengarkan
Mendengarkan 1.1 Membuat gambar/denah berdasarkan penjelasan yang
penjelasan tentang didengar
petunjuk denah dan 1.2 Menjelaskan kembali secara lisan atau tulis penjelasan
simbol daerah/lambang tentang simbol daerah/lambang korps
korps

2. Berbicara
Mendeskripsikan secara 2.1 Mendeskripsikan tempat sesuai dengan denah atau
lisan tempat sesuai gambar dengan kalimat yang runtut
denah dan petunjuk 2.2 Menjelaskan petunjuk penggunaan suatu alat dengan
penggunaan suatu alat bahasa yang baik dan benar

3. Membaca
Memahami teks agak 3.1 Menemukan pikiran pokok teks agak panjang (150-200
panjang (150-200 kata) dengan cara membaca sekilas
kata), petunjuk 3.2 Melakukan sesuatu berdasarkan petunjuk pemakaian
pemakaian, makna kata yang dibaca
dalam 3.3 Menemukan makna dan informasi secara tepat dalam
kamus/ensiklopedi kamus/ensiklopedi melalui membaca memindai.

4. Menulis
Mengungkapkan pikiran, 4.1 Melengkapi percakapan yang belum selesai dengan
perasaan, dan informasi memperhatikan penggunaan ejaan (tanda titik dua, dan
secara tertulis dalam tanda petik)
bentuk percakapan, 4.2 Menulis petunjuk untuk melakukan sesuatu atau
petunjuk, cerita, dan penjelasan tentang cara membuat sesuatu
surat 4.3 Melengkapi bagian cerita yang hilang (rumpang) dengan
menggunakan kata/kalimat yang tepat sehingga
menjadi cerita yang padu
4.4 Menulis surat untuk teman sebaya tentang pengalaman
atau cita-cita dengan bahasa yang baik dan benar dan
memperhatikan penggunaan ejaan (huruf besar, tanda
titik, tanda koma, dll.)

KTSP ini mencakup beberapa komponen Contoh Silabus Bahasa Indonesia kelas IV, Semes-
termasuk silabus untuk semua mata pelajaran. ter Satu.
Keberad aan sila bus pent ing kare na akan Aspek: Mendengarkan, Berbicara, Membaca, dan
bermanfaat sebagai “pedoman bagi pengem- Menulis
bangan pembelajaran lebih lanjut”(Yahya Nursidik,
2009), yaitu penyusunan RPP. RPP atau lesson plan Standar Kompetensi:
meliputi penjelasan lebih rinci daripada uraian di
Me nd engarkan: Me ndengarkan penje lasa n
silabus, sehingga di dalam lesson plan benar-
tentang petunjuk denah dan simbol daerah/
benar menggambarkan kegiatan yang akan
lambang korps.
dilaksanakan di dalam kelas-”a lesson plan is a
Berbicara: Mendeskripsikan secara lisan tempat
teacher’s detailed description of the course of instruc-
sesuai denah dan petunjuk penggunaan
tion for an individual lesson”(WIKIPEDIA, 2009b).
suatu alat.
Lesson plan dapat juga di definisikan sebagai “an
organized outline for a single instructional period. It Membaca: Memahami teks agak panjang (150-
is a necessary guide for the instructor in that it tells 200 kata), petunjuk pemakaian, makna kata
what to do, in what order to do it, and what proce- dalam kamus/ensiklopedi.
dure t o use in t eaching the mate ri al o f a Menulis: Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan
lesson”(Google, 2003). informasi s ec ara te rtulis dal am bentuk
percakapan, petunjuk, cerita, dan surat.

218
Ambari Sutardi, Model Penilaian Bahasa Indonesia Dalam Pelaksanaan Kurikulum Sekolah Dasar

Kompetensi Dasar Materi Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilai Alo- Sumber/


Pembe- an kasi Bahan
lajaran Wak Ajar
tu
1.1 Membuat Denah  Mendengarkan  Mendeskrip Tes -Denah
gambar/denah suatu penjelasan tentang sikan lisan sekolah
berdasarkan tempat cara membaca secara lisan dan -Buku
penjelasan yang denah dan tulisan tertulis Bahasa
didengar  Berpasangan tentang Indonesia
2.1 Mendeskripsikan berdialog secara lisan denah kelas IV
tempat secara lisan menceriterakan  Memahami
sesuai dengan denah tentang cara menuju teks tertulis
atau gambar dengan ke suatu tempat dengan
kalimat yang runtut yang ditentukan menjawab
3. 2 Melakukan  Membaca beberapa beberapa
sesuatu berdasarkan teks tentang cara pertanyaan
petunjuk pemakaian menuju ke beberapa yang di-
yang dibaca tempat/ lokasi ajukannya
4.2 Menulis petunjuk  Menulis beberapa pa-
untuk melakukan ragraf memberitahu-
sesuatu atau kan kepada teman
penjelasan tentang satu kelas cara
cara membuat menuju ke suatu
sesuatu tempat

Contoh RPP Bahasa Indonesia Kelas IV: yang didengar; 2) Mendeskripsikan gambar/denah
Semester : Satu secara lisan sesuai dengan denah/gambar yang
Waktu : 2 x 30 menit diperlihatkan; 3) Melakukan sesuatu berdasarkan
Aspek : Mendengarkan, Berbicara, Membaca, petunjuk yang dibaca; 4) Menulis petunjuk untuk
dan Menulis melakukan sesuatu atau penjelasan tentang cara
membuat sesuatu (Materi Pembelajaran: Denah
Tujuan Pembel ajaran: Pe serta di dik dapat
sekolah dan kelas)
memahami, dan menjelaskan secara lisan dan
tulisan tentang denah sekolah dan kelas.
Kegiatan Pembelajaran

Standar Kompetensi Kegiatan Awal pembelajaran dilakukan dengan


mengadakan apersepsi, bertanya tentang alamat
Me nd engarkan: Me ndengarkan penje lasan
rumah mereka. Kemudian, dilanjutkan dengan
tentang petunjuk denah dan simbol daerah/
Kegiatan Inti, yang mencakup: 1) Peserta didik
lambang korps
mendengarkan penjelasan tentang suatu denah,
Berbicara: Mendeskripsikan secara lisan tempat
kemudian mereka membuat denah berdasarkan
sesuai denah dan petunjuk penggunaan suat
penjelasan tersebut; 2) Peserta didik menerima
alat.
denah l ain yang berbeda-beda, kemudia n
Membaca: Memahami teks agak panjang (150- menceriterakannya secara lisan kepada teman;
200) kata, petunjuk pemakaian, makna kat 3) Secara berpasangan peserta didik membaca
dalam kamus/ensiklopedia. pet unjuk sederhana yang berbe da denga n
Menulis: Mengungkapkan pikiran, perasaan, dan pasangan lain untuk membuat suatu denah; 4)
informasi secara tertulis dalam bentuk per- Denah yang dibuat dijelaskan secara lisan kepada
cakapan, petunjuk, cerita, dan surat pasangan lain; 5) Peserta didik ditugaskan untuk
mengamati lokasi sekolah dan kelas mereka
Kompetensi Dasar seandainya mereka masuk dari luar sekolah; 6)
Kompetensi dasar dimaksud terdiri atas: 1) Secara individu mereka membuat petunjuk tertulis
Membuat gambar/denah berdasarkan penjelasan tentang lokasi sekolah, dan kelas mereka yang

219
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. 16, Nomor 2, Maret 2010

ditujukan kepada teman mereka masing-masing fasilitator dalam kegiatan pembelajaran daripada
yang dianggap belum pernah datang ke sekolah sebagai penyaji pengetahuan, 2) pengelolaan
mereka. kelas yang lebih kondusif terhadap kegiatan dan
Kegiatan Akhir, meliputi: 1) Peserta didik dan interaksi peserta didik yang mengarah pada
guru mengadakan refleksi tentang proses belajar pengalaman belajar yang produktif, dan 3) peserta
yang ba ru dil akukan dan 2) Pese rta di di k didik aktif dalam kegiatan yang berkaitan dengan
ditugaskan untuk menulis satu paragraf tentang pembelajaran daripada hanya duduk manis dan
lokasi kelas lain dengan kata dan kalimat serta pasif selama kegiatan belajar berlangsung di
tanda baca yang benar. Selanjutnya, Indikator dal am kelas .”(Sudirman Siahaan, 2 00 8).
harus tercermin dalam: a) Mendeskripsikan secara Selanjutnya, kegiatan pembelajaran Bahasa In-
lisan dan tulisan tentang denah sekolah dan kelas, donesia yang melibatkan peserta didik aktif dan
dan b) Memahami teks tertulis tentang denah kreat if menuju ke t ercapainya berbagai
dengan menjawab beberapa pertanyaannya. kompetensi minimal berbahasa yang ada dalam
Adapun, aspek penilaian, mencakup: Tes lisan dan SI dan KTSP akan mengubah fenomena peserta
te s tuli s; sed angkan Metode Pe mb elajar an didik dari pasif menjadi aktif, dari arah kegiatan
dengan menggunakan Ceramah dan penugasan, pembelajaran yang kurang jelas menjadi lebih
dan di lengkapi dengan Sumber Belajar: Gambar jelas. Namun, perlu disadari bahwa perubahan ini
Denah, dan Buku Bahasa Indonesia kelas IV tidak akan menjamin pelaksanaan SI dan KTSP
berlangsung berkelanjutan. Oleh karena itu, perlu
didukung oleh adanya aspek lain yang dianggap
Kegiatan Pembelajaran
mendasar dan signifikan dalam mendukung
Pa da tahap p elaksa naan, guru disarankan pelaksanaan SI dan KTSP, yaitu model penilaian
melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan yang sesuai.
memberi kesempatan kepada peserta didik untuk
terlibat aktif secara maksimal dan mengarah pada Ilustrasi Proyek Cara Belajar Siswa Aktif
pencapaian kompetensi yang ditentukan. Pada (CBSA)
akhir pe mbel ajaran mer eka tidak hanya
Hasil penelitian tentang CBSA menunjukkan
memahami konsep, melainkan juga mengalami
adanya keterlibatan peserta didik yang cukup
sendiri untuk melakukan sesuatu agar kompetensi
tinggi dalam proses pembelajaran. Berikut
yang menjadi targetnya tercapai secara matang.
disajikan tiga conto h kegi atan yang dapat
Sebaliknya, apabila guru dominan memberi
direkam. Misalnya untuk mata pelajaran Bahasa
ceramah dan peserta didik hanya mendengarkan,
Indonesia, guru menugaskan peserta didik untuk
mereka akan sulit untuk mencapai kompetensi
membentuk kelompok kecil dan mengamati
yang diharapkan. Ada pepatah yang mengatakan:
tumbuhan yang ada di sekitar sekolah selama
We listen we forget,We see we remember, We do
beberapa menit. Setelah itu mereka dianjurkan
we understand.
membuat sua tu sajak be rdasarkan ca tat an
Apabila guru berceritera dan peserta didik pengamat an mereka. Kemudian, mereka
hanya mendengarkan, mereka akan cepat lupa membacakan sajak di depan kelas. Selanjutnya,
isi dari ceriteranya. Apabila mereka hanya melihat peserta didik melaksanakan seminar mini di kelas
guru yang mela kukan/me nd emonst rasikan mereka. Di antara mereka ada yang menjadi
sesuatu, hasilnya mereka hanya akan ingat. penceramah, moderator, ada yang bertanya, dan
Apabila mereka di beri kes empatan untuk menjawab pertanyaan. Kemudian diakhiri dengan
melakukan, mengamati sendiri, mereka akan peserta didik mewawancarai bapak RT, dan Polisi
mengerti. Itulah makna pepatah tersebut dan hal pada waktu yang berb eda. Kemud ian hasil
ini relevan dengan kebijakan Pemerintah yang wawancaranya ditulis secara baik, kemudian
dituangkan dalam SNP melalui standar proses. dilaporkan secara lisan di depan kelas. Beberapa
Ada bebera pa karakte ri stik kegiatan conto h kegiat an tersebut menggambarka n
pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, adanya kecenderungan fokus perhatian guru
antara lain “1) guru lebih berperan sebagai kepada peserta didik atau diistilahkan dalam

220
Ambari Sutardi, Model Penilaian Bahasa Indonesia Dalam Pelaksanaan Kurikulum Sekolah Dasar

bahasa Inggris Child Centered. “child centered menurut guru yang diwawancarai, adalah salah
adal ah sistem pembel ajaran dimana fokus satu penyebab sulitnya bagi mereka untuk melak-
pembelajaran adalah dengan pelajar, bukan guru. sanakan dan mempertahankan proyek tersebut.
Guru sebagai fasilitator atau manager proses Karena itu dapat dikatakan bahwa model penilaian
pembelajaran”(Phillip Rekdale,2008). Jadi “proses yang digunakan memiliki pengaruh kuat terhadap
pembelajaran aktivitasnya dalam bentuk interaksi pelaksanaan inovasi kegiatan pembelajaran.
bel ajar mengaja r da lam suas ana interaksi
edukat if, yait u inte ra ksi yang sadar akan Proses Penilaian
tujuan...”(Damajanti Kusuma Dewi, 2009).
Kuatnya pengaruh sistem peni laian pe rl u
Pa da waktu yang bersamaan SD yang dijadi kan ba han pertimbangan di dalam
mengikuti proyek CBSA tetap harus menggunakan mendukung pelaksanaan SI dan KTSP. Di tingkat
model penilaian yang pada waktu itu dirancang kebij akan yang te rtuang dalam Lampira n
oleh pusat yang mencakup satu angka untuk satu Permendiknas Nomor 20, Tanggal 11 Juni 2007
mata pelajaran dan tidak ada ruangan yang dapat tentang Standar Penilaian Pendidikan dijelaskan
mengakomodir nilai untuk aspek keterlibatan, bagaimana sebaiknya melaksanakan proses
kreativitas dan pencapaian kompetensi peserta penilaian yang sesuai dengan tuntutan SK dan
didik. Hal ini terjadi karena pada waktu itu belum KD. Seperti dipaparkan di atas, SK dan KD
tersentuh o leh wa cana agar ke terlib atan, bervariasi dan dituntut untuk dicapai peserta didik.
kreatifitas dan pencapaian kompetensi oleh Untuk mengetahui apakah tercapai atau tidak,
peserta didik layak diberi penghargaan dari guru/ guru perlu menggunakan berbagai tekni k
sekolah dalam bentuk nilai atau deskripsi baik penilaian yang sesuai. Karena itu, pelaksana di
sebagai hasil dari ulangan/tes harian maupun lapangan diharuskan menggunakan berbagai
hasil ujian nasional. Penilaian pada waktu itu teknik penilaian yang sesuai dengan tuntutan
secara jela s menekankan ketercapa ian pe- kompetensi. Dengan menggunakan berbagai
teknik, prosesnya lebih kompleks baik dalam
nguasaan konsep-konsep. Indikasinya baik di
tahap persiapan (penyusunan kisi-kisi dan soal),
dalam ulangan harian maupun ujian nasional
pelaksanaan maupun perekaman hasil penilaian.
terjadi dominasi soal dalam bentuk pilihan ganda
Misalnya pada tahap persiapan, pelaksana harus
dan atau benar salah. Dari hasil wawancara
mempersiapkan berbagai instrumen penilaian.
dengan guru kelas di SD-CBSA “sistem penilaian
Pada tahap pelaksanaan, untuk memberi nilai
dengan model penilaian yang sederhana, satu
satu aspek, misalnya aspek kinerja peserta didik,
angka unt uk sat u ma ta pelajaran kurang
guru dituntut untuk mengamati mereka satu per
memotivasi guru untuk melaksanakan CBSA
satu. Guna menilai keterampilan berbicara dan
secara maksimal dan berkelanjutan mengingat
kebiasaan mereka baik di dalam maupun di luar
pelaksanaan dan tuntutan yang berbeda. Jadi
lingkungan sekolah yang tidak terpantau, guru
sistem penilaian memiliki pengaruh kuat terhadap
dituntut untuk mengadakan wawancara satu per
pelaksanaan kegiatan belajar di kelas” (Ambari satu. Ketika akan menilai aspek kerja sama
Sutardi, 1992). dengan t eman, ketel itian, perenca naan,
Simpulan dari ilustrasi di atas adalah pelak- pelaksanaan dan penyajian hasil, guru dituntut
sanaan CBSA di SD yang menjadi objek penelitian untuk memberi tugas/proyek dan mengamatinya
dapat dikatakan baik karena adanya keterlibatan mulai dari perencanaan, pelaksanaa n da n
peserta didik yang tinggi untuk aktif dan kreatif penyajian hasilnya. Bila akan menilai apakah ada
selama pembelajaran berlangsung. Kekhasan dari atau tidak kemajuan dalam membuat karya tulis,
CBSA ini cukup baik dalam mengembangkan guru harus mengumpulkan beberapa karya tulis
gagasan dan kreatifitas peserta didik, namun pada mereka, kemudian dianalisis guna mengetahui
kenyataannya hal ini tidak terekam karena pihak ada tidaknya kemajuan belajarnya. Walaupun
sekolah harus menggunakan model penilaian berbagai teknik, ini tidak serta merta harus
yang sederhana dan berlaku secara nasional di digunakan secara simultan untuk menilai pen-
mana aspek keterlibatan dan kreatifitas peserta capaian satu kompetensi, namun semuanya akan
didik tidak tergambar di dalam buku rapor. Hal ini, memerlukan ekstra waktu, tenaga dan perhatian.

221
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. 16, Nomor 2, Maret 2010

Kesiapan sekolah setiap kabupaten/kota, dan belum ditemukan


Hasil penelitian yang dilaksanakan oleh Pusat suatu SD memiliki rancangan rapor sendiri.
Kurikulum pada akhir pengembangan KBK 2004 Sebagai konsekuensinya data menunjukkan ada
menunjukkan bahwa responden guru SD telah beberapa model rapor SD yang berbeda yang
mengikuti penataran tentang penilaian berbasis diperoleh dari beberapa kabupaten/kota, namun
kelas dan sebagian dari mereka merasa lebih sulit pada tulisan ini hanya dipaparkan tiga model.
untuk melaksanakan model penilaian yang baru Model 1 penampilannya sangat sederhana,
tersebut karena mereka menganggap lebih hanya meliputi satu angka untuk satu mata
kompleks dalam merancang instrumen, melak- pelajaran serta nilai rata-rata kelas, dan ini model
sanakan penilaian, dan merekam nilai ke dalam yang telah berlaku secara nasional selama
buku rapor. Kondisi ini nampaknya berlanjut ketika bertahun-tahun sebelum ada KBK 2004 dan SI
penulis mengadakan sos ialis asi tentang SI 2006. Seperti dipahami bahwa model penilaian
umumnya dan workshop tentang KTSP di beberapa dapat dijadikan tuntutan bagi guru/pihak sekolah
kabupaten dan kota khususnya selama tahun untuk melaksanakan pembelajaran dan juga
2007 dan 2008. Fenomena ini oleh para penentu dapat digunakan sebagai gambaran pencapaian
kebijakan baik di pusat maupun di daerah jangan prestasi peserta didik. Karena itu model 1 dapat
dijadikan hambatan dalam mendukung pelak- juga di pahami o le h sebagi an guru untuk
sanaan SI dan KTSP. Sebaliknya, dijadikan menyusun kisi-kisi dan butir-butir soal serta
tantangan untuk lebih proaktif dalam membantu pelaksanaan penilaiannya hanya melalui paper and
unsur terkait di daerah dalam melaksanakan pen test dengan dominasi soal pilihan ganda dan
sistem penilaian sesuai dengan aturan yang benar – salah seperti ketika berlaku kurikulum
berlaku (SNP) yang tertuang di dalam lampiran 1994 dan sebelumnya.
Permendiknas Nomor 20, Tahun 2007, mulai dari Ada beberapa kemungkinan alasan kenapa
menyusun kisi-kisi, penyusunan butir-butir soal sebagian SD menggunakan model 1. Pertama,
berbasis kompetensi serta merancang buku rapor sekolah belum memahami ruh dari perubahan
yang dapat mengakomodasi berbagai nilai yang kurikulum hingga menjadi SI 2006. Kedua, sekolah
menggambarkan pencapaian kompetensi oleh harus menerima dan menggunakan model yang
peserta didik. ada dari instansi yang berwenang di daerah
mereka yang juga kurang memahami ruh tersebut.
Keanekaragaman format rapor sekolah Ketiga, pihak sekolah belum memiliki dana yang
Belum diperoleh informasi secara tertulis yang cukup untuk membuat sendiri buku rapor yang
menyata kan bahwa se tiap SD be rwenang sesuai dengan tuntutan SI dan KTSP. Keempat,
merancang buku rapor sendiri. Namun, pada karena ada petunjuk di dalam SNP melalui standar
kenyataan di lapangan hingga akhir tahun 2008, penilaian yang tertuang pada butir 13 bagian D
yang merancang buku rapor di daerah berbeda- tentang mekanisme dan prosedur penilaian yang
beda dari satu daerah dengan daerah lainnya. menegaskan bahwa nilai yang dituangkan di
Misalnya, di suatu provinsi, buku rapor SD disusun dal am r apor satu angka untuk satu mata
oleh Dinas Pendidikan tingkat provinsi. Di provinsi pelajaran. Sementara itu, di bagian lain di dalam
yang berbeda penyusunannya diserahkan ke standar tersebut tepatnya pada bagian C. Ten-

Format Rapor Model 1.

No. Mata Pelajaran Nilai Nilai rata-rata kelas


1. Pendidikan Agama
2. Pend. Kewarganegaraan
3. Bahasa Indonesia
4. Matematika
5. Pengetahuan Alam
6. Kerajinan Tangan dan Kesenian
7. Pendidikan Jasmani yang
8. Muatan Lokal
Jumlah Nilai Prestasi Hasil Belajar:………………………….

222
Ambari Sutardi, Model Penilaian Bahasa Indonesia Dalam Pelaksanaan Kurikulum Sekolah Dasar

Format rapor Model 2

No Mata Pelajaran KKM Nilai


Angka Huruf
1. Pendidikan Agama
2. Pendidikan
Kewarganegaraan
3. Bahasa Indonesia
4. Matematika
5. Pengetahuan Alam
6. Kerajinan Tangan dan
Kesenian
7. Pendidikan Jasmani
8. Muatan Lokal

Format Rapor Model 3

No. Mata Pelajaran Aspek Penilaian Angka

1. Pendidikan Agama Penguasaan Konsep dan nilai-nilai


Penerapan
2. Pendidikan Penguasaan Konsep dan nilai-nilai
Kewarganegaraan Penerapan
3. Bahasa Indonesia Mendengarkan
Berbicara
Membaca
Menulis
4. Matematika Pemahaman Konsep
Penalaran dan Komunikasi
Pemecahan masalah
5. Ilmu Pengetahuan Pemahaman dan penerapan
Alam konsep
Kinerja Ilmiah

6 Ilmu Pengetahuan Penguasaan Konsep


Sosial Penerapan
7 Seni Budaya dan Apresiasi
Keterampilan
Kreasi
8 Pendidikan Jasmani, Kemampuan gerak dasar
Olahraga dan Keterampilan cabang olahraga
Kesehatan Kebugaran dan kesehatan
Pilihan: Akuatik/Pend.Luar Satuan
pendidikan
9. Muatan Lokal………

tang Teknik dan Instrumen Penilaian dinyatakan tertuang di dalam satu kebijakan menyulitkan
penilaian menggunakan multi-teknik yang juga pelaksana di lapangan karena dirasa kontradiktif.
ditegaskan di dalam PP Nomor 19 tentang Menjadi kontradiktif karena pemahaman mereka
penilaian yang tercantum di dalam Bab IV Pasal dengan menggunakan multiteknik akan meng-
22, ayat 1. hasilkan lebih dari satu nilai untuk satu mata
Hasil wawancara dengan beberapa penentu pelajaran dan pola ini akan menggambarkan
kebijakan di daerah me ngatakan bahwa, pencapaian prestasi peserta didik yang se-
pernyataan “menggunakan multiteknik dalam sungguhnya (Model 3). Masih menjadi kontradiktif
pelaksanaan penilaian” dan “satu nilai untuk satu dengan “penggunaan multiteknik” apabila para
mata pelajaran di dalam buku rapor” yang pelaksana ingin melaksanakan prinsip satu nilai

223
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. 16, Nomor 2, Maret 2010

untuk satu mata pelajaran (model 1), dan karena- akan menyimpang dari yang seharusnya dan akan
nya memungkinkan mereka hanya melaksanakan kembali ke pembelajaran model lama, peserta
penilaian dengan paper and pen test. didik pasif dan guru sangat dominan serta
Tidak menjadi kontradiktif apabila guru/pihak pelaksanaan proses penilaian yang sederhana.
sekolah dapat melaksanakan kedua aturan di Apabila, dengan alasan tertentu, instansi atau
atas sehingga pada tahap pelaksanaannya akan unsur terkait bersikukuh untuk mencantumkan
terjadi sebagai berikut: mulai dari persiapan, satu angka untuk satu mata pelajaran di dalam
pelaksanaan penilaian hingga penyusunan format rapor, hal ini dapat dilaksanakannya dengan
perekaman nilai sifatnya ideal dalam arti benar- catatan ketika buku rapor tersebut akan disampai-
benar menga rahkan dan mence rminkan kan kepada peserta didik perlu disertakan nilai
penguasaan peserta didik terhadap kompetensi asli bagi setiap aspek/kategori kompetensi untuk
sasaran mereka. Akan tetapi hasil yang tercatat satu mata pelajaran. Hal ini penting agar pembaca
di dalam buku rapor hanya satu angka untuk satu dapat memahami prestasi yang sesungguhnya
mata pelajaran dengan rumusan sebagai berikut: dari seorang peserta didik dengan mudah.

Nilai Akhir (NA) = Model 2 berbeda dari model 1, meliputi kriteria


ketuntasan minimal (KKM). Kolom KKM terdiri dari
P tambah Q per dua (NA = P + Q )
nilai yang ditentukan oleh guru/pihak sekolah
2
pada awal tahun akademik sebelum pelayanan
Keterangan:
proses belajar berlangsung berdasarkan profes-
P (nilai perolehan = jumlah nilai ulangan harian+
sional judgment. Penentuan besaran nilai untuk
nilai tugas + nilai proses)
KKM didas arkan pada tiga hal. Pertama,
Q (nilai ulangan semester) kompetensi peserta didik yang dimiliki sebelum
Atau menggunakan rumusan lain yang tertera di proses pembelajaran berlangsung dan informasi-
dalam Materi Pelatihan KTSP 2009 untuk SD, nya diperoleh dari unsur terkait, misalnya guru
Departemen Pendidikan Nasional sebagai berikut: kelas 2 memperoleh informasinya dari guru kelas
ULHAR + UTS + UAS + Tugas 1. Kedua, tingkat kompleksitas kompetensi yang
4 menjadi target atau paling tidak kompetensi mini-
mal yang ada di dalam SI terhadap peserta didik.
Dengan menggunakan rumusan-rumusan
Ketiga, keberadaan sarana di sekolah yang dapat
tertentu angka/nilai menjadi satu untuk setiap
mendukung pelaksanaan pembelajaran. Bagian
mata pelajaran dan hasilnya seperti Model 1. Yang
ketiga tentunya ditentukan melalui diskusi terbuka
menjadi masalah model tersebut tetap tidak
di dalam rapat yang melibatkan warga sekolah
dapat menyampaikan informasi kepada pembaca
beserta komite sekolah. Manfaat pencantuman
rapor tentang kompetensi yang dicapai oleh
peserta didik, dan ini suatu kelemahan. Bila nilai KKM di dalam rapor akan dapat diketahui ada

dengan kelemahannya tetap digunakan secara tidaknya perbedaan antara nilai berdasarkan
nasional, ada kekhawatiran akan 1) meng- asumsi guru/pihak sekolah dan nilai berdasarkan
hilangkan makna transparansi dalam sistem hasil pembelajaran yang diikutinya.
penilaian, 2) mengurangi makna dari tujuan Dalam kondisi transisi saat ini kenyataan di
perubahan kurikulum, 3) mengurangi motivasi guru lapangan menunjukkan ada SD yang telah dan
dalam melaksanakan pembelajaran dan proses belum mencantumkan nilai KKM di rapor sehingga
penilaian sesuai dengan SNP yang tertuang di ditemui kasus sebagai berikut. Ada seorang
dalam standar proses dan standar penilaian, 4) peserta didik pindah ke suatu SD dengan mem-
mendorong pihak sekolah dalam menyusun soal bawa buku rapor yang tidak mencantumkan nilai
yang kembali akan didominasi oleh bentuk benar- KKM. Sementara di SD yang akan ditempatinya
salah atau pilihan ganda. mencantumkannya, karena perbedaan ini menjadi
Bila kondisi ini berlangsung secara ber- suatu permasalahan, peserta didik tersebut tidak
kesinambungan, suatu saat pelaksanaan SI diterima. Hal ini oleh unsur terkait dianggap
umumnya, standar proses, standar penilaian serta sebagai suatu kasus kecil, namun sebaiknya ada
pelaksanaan KTSP khususnya secara perlahan petunjuk yang jelas tentang hal itu agar kasus

224
Ambari Sutardi, Model Penilaian Bahasa Indonesia Dalam Pelaksanaan Kurikulum Sekolah Dasar

seperti itu tidak terulang lagi di masa yang akan Dengan pe rtimbangan letak geografis,
datang. strategi tersebut dianggap lebih efektif dan efisien
Model 3 nampak lebih kompleks, namun dapat dan akan lebih cepat informasi ke daerah terpencil
menggambarkan beberapa pencapaian kom- pun. Yang menjadi masalah adalah perlunya ada
petensi peserta didik sehingga dapat dikatakan kesepahaman tentang pentingnya pelaksanaan
le bi h tr ansparan a pala gi model t ersebut penataran antara pusat dan daerah sehingga
mencantumkan aspek kinerja/psikomotor peserta benar-benar berjalan tanpa ada rintangan yang
didik untuk setiap mata pelajaran. Bagi pembaca berarti. Di samping itu, perlu dijaga konsistensi
pun model ini dapat memberi informasi yang lebih kualitas informasi sehingga ketika sampai ke kota-
jelas. Untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia ko ta kec il tid ak ada disto rsi pemaha ma n
misalnya, model ini dapat menggambarkan pelaksana di daerah terlepas di kecamatan mana
pencapaian hasil belajar peserta didik sesuai mereka berada.
dengan tuntutan terhadap mereka seperti yang
tertuang di dalam SI, silabus dan RPP. Karena itu,
Simpulan dan Saran
model 3 di dalam tulisan ini dapat dikatakan model
rapor yang le bih idea l dalam me ndukung Simpulan
pelaksanaan SI dan KTSP. Berkaitan dengan diberlakukan Standar Isi (SI),
Model 3 tentunya akan menyulitkan para model penilai an Bahasa Indone sia dalam
pelaksana di lapangan khususnya dalam hal pelaksanaan kurikulum SD merupakan salah satu
persiapan, pelaksanaan serta perekaman nilai, komponen yang tidak dapat terpisahkan dalam
namun di sisi lain ada dampak positif bagi seorang satu kesatuan pembelajaran. Model penilaian ini
guru. Mereka akan lebih mudah mengetahui dan berbeda dari yang berlaku sebelumnya, lebih
menentukan materi atau bahan ajar yang lebih kompleks terutama dalam proses penilaiannya
tepat bagi peserta didik apabila guru tersebut dengan menggunakan multi teknik. Karena
harus menyelenggarakan program remedial bagi perbedaan tersebut, maka terjadi perbedaan
mereka. Seperti dis adari bahwa kebijakan persepsi dan bahkan perbedaan penggunaan
pemerintah, khususnya yang be rhub ungan model penilaian di tingkat pelaksana di sebagian
dengan SI yang kemudian dikembangkan menjadi SD di Kab upaten/Kota yang berbe da . Ada
kurikulum operasional yang dikenal dengan istilah sebagian SD yang masih menggunakan model
KTSP, bagi guru dan pelaksana di lapangan sampai penilaian Bahasa Indonesia yang sederhana
saat ini masih merupakan masa peralihan yaitu seperti sebelum diberlakukan SI 2006 yaitu satu
mencari-cari pola pelaksanaan penilaian yang angka untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia.
menurut mereka dianggap terbaik. Karena kondisi Tetapi ada SD yang menggunakan model yang
seperti ini belum terlambat bagi instansi terkait lebih kompleks yang menggambarkan pencapaian
untuk memberikan arahan secara periodik, peserta didik terhadap empat kategori kom-
khususnya yang berkaitan dengan proses penilai- petensi berbahasa Indonesia; mendengarkan,
an. Hal ini perlu karena berdasarkan informasi berbi cara, me mbac a dan menulis. Adanya
yang diperoleh, para pelaksana di lapangan perbedaan penggunaan model penilaian Bahasa
sangat memerlukan bantuan tersebut. Indonesia di SD juga diakibatkan oleh adanya

Dalam rangka membantu mereka di lapangan, kewenangan daerah dalam menentukan model
penilaian Bahasa Indonesia di SD.
ada strategi agar kegiatan menjadi efektif, efisien
dan cepat sampai kepada sasaran di pelosok Penggunaan berbagai model penilaian ini
sekali pun. Pertama, instansi pusat menyeleng- diasumsikan menimbulkan permasalahan bagi
garakan penataran bagi peserta yang berasal dari peserta didik di SD yang menggunakan model
tingkat provinsi. Kemudian peserta menjadi yang sederhana. Dikatakan demikian karena
penatar bagi peserta yang berasal dari kabu- model penilaian memiliki pengaruh kuat terhadap
paten/kota yang ada di provinsi mereka masing- perbelajaran di kelas. Sehingga apabila suatu SD
masing. Kemudian peserta dari kabupaten dan menggunakan mo del yang sede rhana di-
kota menata r pe serta yang berasal dari khawatirkan pro ses pembel ajarannya tid ak
kecamatan di wilayah mereka masing-masing. mengarah kepada pencapaian peserta didik

225
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Vol. 16, Nomor 2, Maret 2010

terhadap empat kategori kompetensi Bahasa In- memotivasi pihak sekolah atau unsur terkait di
donesia; mendengarkan, berbicara, membaca dan daerah agar model penilaian bahasa Indonesia
menulis. Akibatnya mereka tidak mencapai yang digunakan mencerminkan berbagai aspek/
kee mpat kategori ko mpetensi yang telah kategori kompetensi yang dicapai peserta didik
ditentukan sebelumnya yang tertuang di dalam sehingga sesuai dengan tuntutan di dalam SI atau
SI dan di dal am kurikulum tingkat s atuan kurikulum tingkat satuan pendidikan tepatnya di
pendidikan, tepatnya di dalam silabus dan RPP. dalam silabus dan RPP. Pembinaan tentunya
Karena itu model penilaian Bahasa Indonesia yang memerlukan dana yang tidak sedikit, tetapi bagi
ideal dalam pelaksanaan kurikulum SD yang pelaksana di lapangan dianggap penting agar
berlaku sekarang adalah model penilaian yang mereka dapat melaksanakannya sesuai dengan
kompeks yang menggambarkan pencapaian harapan pemerintah.
pese rta di di k te rhadap kee mpat kat egori Untuk itu, perlu ada perencanaan yang
keterampilan berbahasa Indonesia tersebut. matang tentang strategi pelaksanaan pembinaan
agar dapat menekan biaya yang diperlukan
Saran seefisien mungkin, namun menjadi efektif. Upaya
Meskipun rancangan model penilaian bahasa In- ini juga diharapkan akan membuka wawasan
donesia dalam p elaksanaan kurikulum SD secara maksimal bagi para pelaksana di lapangan
diserahkan ke sekolah atau instansi terlait lainnya sehingga mere ka memahami secara bai k
di daerah, namun instansi pusat yang memiliki pelaksanaan penilaian Bahasa Indonesia yang
gagasan awal adanya perubahan kurikulum perlu diharapkan tersebut. Kedepan perlu ada kebijakan
mengadakan pembinaan yang merata, dan yang tegas yang berlaku secara nasional untuk
berke sinambungan. Hal ini penti ng guna penyeragaman model penilaian Bahasa Indone-

Tabel 2. Rangkuman tiga model penilaian di atas dapat pula dibaca pada matrik merikut

No. Model Aspek yang dinilai Kesesuaian dengan Catatan


Penilaian SPN
1. Model 1 Yang dinilai dapat ter- Sesuai, karena Tidak jelas kompe-
jadi hanya satu, atau khusus-nya di dalam tensi berbahasa
dua, atau tiga, atau standar penilaian Indonesia yang di-
empat kategori kom- dikatakan bahwa di capai peserta didik.
petensi berbahasa rapor ditulis satu
Indonesia. Bahkan da- angka untuk satu mata
pat juga terjadi hanya pelajaran.
konsep atau komponen
bahasa saja.
2. Model 2 Sama dengan model 1, Sesuai, sama dengan Sama dengan model
namun ada gambaran model 1, hanya saja di 1, tidak jelas, namun
target nilai minimal model ini tergambar digambarkan target
yang harus dicapai target nilai minimal pencapaian minimal.
peserta didik yang harus dicapai
peserta didik.
3. Model 3 Yang dinilai pasti Sesuai dengan SPN Menggambarkan
empat keterampilan karena khususnya di pencapaian empat
berbahasa Indonesia dalam standar penilai- kategori kompetensi
yang secara implisit an dikatakan bahwa berbahasa sesuai
termasuk konsep atau proses penilaian meng- dengan di SK dan KD
komponen bahasa. gunakan multi teknik yang ada di SI serta
Dan ini menggambar- yang disesuaikan de- menggambarkan
kan pencapaian kom- ngan kompetensi yang penggunaan multi
petensi peserta didik dinilai. teknik dalam proses
“yang sempurna” se- penilaian seperti
suai yang ada di SI. dianjurkan di dalam
SPN.

226
Ambari Sutardi, Model Penilaian Bahasa Indonesia Dalam Pelaksanaan Kurikulum Sekolah Dasar

sia bagi peserta didik dalam rangka pelaksanaan kompetensi yang telah dicapai peserta didik.
kurikulum SD yang menggambarkan pencapaian Dengan kebijakan ini, sejak masih dalam proses
kompetensi berbahasa Indonesia secara utuh penilaian, guru dengan mudah dapat mengetahui
yang melip uti empat kategori kompet ensi; kelemahan dan kelebihan setiap peserta didik
mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis. terhadap setiap kategori kompetensi berbahasa.
Kebijakan ini penting agar pembaca laporan Karena itu, guru dapat menentukan dengan
(peserta didik, orang tua, dan orang lain yang mudah siapa yang harus mengikuti remedial untuk
berkepentingan) me ng etahui s ecara je las kategori kompetensi yang mana.

Pustaka Acuan
Ambari Sutardi, 1992. Laporan Penelitian Pelaksanaan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) di Kabupaten
Cianjur, Jawa Barat yang diselenggarakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan
Pendidikan bekerjasama dengan International Development Research Centre (IDRC) di
Otawa, Canada.
Damajanti Kusuma Dewi, 2009. Instructional Theory Course. Definisi Pembelajaran. http://
instructionaltheorycourse.blogspot.com/2009/02/1_introduction_18.html 4 September 2009 (22
Desember 2009).
Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Undang-undang Nomor 20, Tahun 2003, tentang Sistem
Pendidikan Nasional, Jakarta.
_______, 2006. Standar Isi, Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar, Mata Pelajaran Bahasa Indone-
sia, Jakarta
Google, 2003. Define: Lesson Plan. http://www.dynamicflight.com/avcfibook/glossary/ Last Updated on:
15 November 2003 (27 Desember 2009)
Peraturan Pemerintah Nomor 19, Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional-Permendiknas. 2006. Nomor 22, Tahun 2006 tentang Standar
Isi untuk satuan pendidikan dasar dan menengah, Jakarta
_______,2006. Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan
Dasar dan Menengah, Jakarta.
_______,2006. Nomor 24 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi
Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, Jakarta.
_______, 2007. Nomor 20 tentang Standar Penilaian Pendidikan, Jakarta
_______, 2007. Nomor 41 tentang Standar Proses untuk satuan Pendidikan Dasar dan Menengah,
Jakarta
Rachel Bolstad. 2004. School-Based Curriculum Development: Principles, Process, and Practices. http:/
/www.nzcer.org.nz/default.php?products_id=829 (27 Desember 2009)
WIKIPEDIA,2009a. The Free Encyclopedia. Competence (human resources). W http:/en. wikipedia. org/
wiki/Competence_(human_resources). This was last modified on 27 November 2009. (28
Desember 2009)
_______, 2009b. The Free Encyclopedia. Lesson Plan. W http://en.wikipedia.org/ wiki/Lesson plan. This
was last modified on 20 December 2009. (28 Desember 2009.
Yahya Nursidik. 2009. Deskripsi Rancangan Silabus atau Deskripsi Silabus. http:// apadefinisinya.
blogspot.com 7 Januari 2009 (16 Desember 2009).

227