Anda di halaman 1dari 5

Ulama yang berpendapat kuatnya anjuran karena Rasulullah

melakukannya secara terus menerus, mereka berkata, "Sesungguhnya hal


itu termasuk sunnah yang dikuatkan," sementara orang yang tidak
meyakini kuatnya anjuran, mereka berkata, "Sesungguhnya hal itu hanya
sebatas mustahab (anjuran semata)," semua ini jika mereka yakin bahrYa
kedua tangannya bersih (maksudnya bagi yang menyatakan sunnah, dan
yang menyatakan nadb).
Adapun ulama yang berpendapat tidak adanya alasan membawa
hadits ini ke dalam lafazh khusus yang bermaksud umum, mereka
berpendapat bahwa hadits ini khusus bagi orang yang bangun tidur,
sementara orang yang menjadikan "ragu" sebagai illat (alavn hukum)
dan memahaminya ke dalam lafazh khusus bermaksud umum, mereka
berpendapat bahwa hadits ini berlaku pula bagi orang yang ragu, karena
orang ragu memiliki kedudukan sama dengan orang tidur.
Nampaknya hadits ini tidak bermaksud membahas hukum
membasuh telapak tangan saat berwudhu, akan tetapi membahas air yang
digunakan dalam berwudhu jika disyaratkan dalam keadaan suci-
Adapun riwayat yang dinukil bahwa Rasulullah SAW sering
membasuh kedua telapak tangannya sebelum memasukannya ke dalam
wadah air, bisa saja dipahami bahwa membasuh kedua telapak tangan di
awal merupakan tata cara dalam berwudhu, bisa pula membahas hukrmr
air (maksudnya, agar tidak terkena najis, atau tidak ada keraguan di
dalamnya ketika kita menyatakan bahwa keraguan itu memiliki pengaruh
hukum).

Masalah ketiga: Tentang rukun (berkumur dan istinsyoq\


Para ulama berbeda pendapat tentang berkumur dan istinsyaq
(memasukkan air ke hidung) dalam wudhu menjadi tiga pendapat:
l.
Keduanya termasuk sunnah dalam berwudhu, ini adalah
pendapat Malik, Syaf i, dan Abu Hanifah.
2. Keduanya adalah fardhu, inilah pendapat lbnu Abi laila, dan
pengikut murid Daud.
3. Sesungguhnya istinsyaq adalah wajib sementara berkumur
adalah sunah, ini adalah pendapat Abu Tsaur, Abu Ubaidah, dan
seke lompok dari Azh-Zhahiri.

Bidayatul Mujtehid 2l
Sebab perbedaan pendapat: Perbedaan mereka dalam memahami
berbagai hadits yang membahas tentang hal ini, apakah merupakan
tambahan yang kontradiksi dengan ayat wudhu.
Ulama yang meyakini bahwa jika tambahan ini dipahami wajib
maka akan menyebabkan kontradiksi, karena ayat tersebut menguraikan
rukun wudhu pula. Saat itu mereka mengeluarkan hukum wajib kepada
sunah. Sementara ulama yang tidak meyakini adanya kontradiksi
memahaminya secara zhahir, yaitu wajib.
Dan ulama yang menganggap setara antara ucapan dan perbuatan
ketika memahami hal ini, mereka tidak membedakan antara berkumur
dan istinsyaq (keduanya wajib).

Adapun ulama yang memahami bahwa ucapan mengandung hukum


wajib sementara perbuatan mengandung hukum sunah, mereka
membedakan antara berkumur dengan istinsyaq, lebih jelasnya berkumur
dinukil dari perbuatan Nabi SAW, sementara istinsyaq keluar dari ucapan
dan perbuatannya, yaitu saMa beliau:

';'ril ,"-,i,,r ;', ;.i) ;i" ai g'J414Li r2g sr


'"Jika
salah ,'roronf i*, *r*, berwudhu, maka masukanlaht arr te
hidungnya dan keluarlconlah, don barangsiapa hendak beristijmar
(bersuci dengan batu), maka lokukanlah secara ganjil.-6 (HR. Malik
dalam Al Muwaththa, dan Al Bukhari dalam Shahihnya dari hadits Abu
Hurairah)

Masalah keempat: Batasan membasuh muka


Para ulama telah sepakat bahwa membasuh muka secara umum
termasuk rukun wudhu, berdasarkan firman Allah :

-#;31j'*:t'
*Maka basuhlah mukemu." (Qs. Al Maa'idah
[5]: 6)

Muttafaq 'Alaihi. HR. AI Bukhari (162), Muslim (237), dan Abu Daud (140)
tanpa menyebutkan "Barang siapa ber-lsrijmar (bersuci dengan batu) maka
lakukanlah dengan ganjil", diriwayatkan pula oleh An-Nasa'i (l/65), Ahmad
(2/242,278, 463), dan Malik dalam Al Muwaththa' (l l9), dan Al Humaidi
(e57).

22 BidayatulMujtahid
Mereka berbeda pendapat pada tiga masalah membasuh bagian
antara jambang dengan telinga, membasuh jenggot yang terurai dan
mereraikannya.
Pendapat yang masyhur di kalangan madzhab Maliki, bahwa kulit
tak berbulu antara jambang dan telinga termasuk wajah, dalam madzhab
itu pun diungkapkan adanya perbedaan antara orang yang tidak
berjenggot dengan yang berjenggot, jadi dalam madzhab Maliki ada tiga
pendapat. Sementara Abu Hanifah memasukannya ke dalam bagian
wajah.
Adapun jenggot yang terurai, Imam Malik berpendapat wajib
mengucurkan air kepadanya, sementara Abu Hanifah tidak
mewajibkannya, demikian pula Syaf i dalam salah satu pendapatnya.
Sebab perbedaan pendapat dalam dua masalah ini adalah
ketidakjelasan apakah wajah mencakup dua tempat ini atau tidak.
Adapun menyelah-nyelahi jenggot, madzhab Maliki berpendapat bahwa
hal itu tidak wajib, ini pun dikatakan oleh Abu Hanifah dan Syaf i,
sementara Ibnu Abdil Hakim dan pengikut Malik mewajibkannya.
sebab perbedaan pendapat: Perbedaan mereka dalam ke-shahih-
an riwayat yang memberikan perintah untuk menyelah-nyelahi jenggot,
bahkan kebanyakan dari atsar tersebut tidak shahih, selain itu riwayat-
riwayat shahih yang menjelaskan tata cara wudhu Rasulullah SAW tidak
menje laskan penyelah-nyelahan jenggot.

Masalah kelima: Batasan membasuh kedua tangan


Para ulama bersepakat bahwa membasuh kedua tangan dan kedua
siku hukumnya fardhu dalam berwudhu, berdasarkan firman Allah:

e'?i)1ftxii
"Dan tanganmu sampai dengan siku." (Qs- Al Maa'idah [5]: 6)
Para ulama berbeda pendapat dalam membasuh siku:
1. Jumhur ulama, yakni Imam Malik, Syaf i dan Abu Hanifah
berpendapat waj ib membasuhnya.

BidayatulMujtahid 23
2. Ahlu zhahir dan sebagian ulama di kurun terakhir dari kalangan
pengikut Malik, juga Ath-Thabari berpendapat tidak wajib
membasuhnya.
sebab perbedaan pendapat: Perbedaan mereka dalam memahami
istytirak(ragam makna) pada huruf (J) dan kata ("r!) dalam bahasa arab.

Maksudnya huruf (J) terkadang bermakna sampai, dan terkadang

bermakna beserta, demikian pula "tangan" dalam bahasa arab


mengandung tiga makna: telapak tangan saja, telapak tangan beserta siku,
telapak tangan beserta siku dan lengan atas.

Ulama yang berpendapat bahwa (JD di sini maknanya beserta, atau


memahami bahwa yang dimaksud dengan (t'D adalah tiga anggota di
atas, mereka berpendapat bahwa siku wajib dibasuh.

Adapun ulama yang memahami bahwa (Jl) di sini maknanya


sampai, dan melihat bahwa yang dimaksud (.rJt; adalah yang dibavvah
lengan, mereka pun berpendapat bahwa batasan initidak masuk ke dalam
bagian yang dibatasi, jadi mereka tidak mewajibkan membasuh siku.
Muslim meriwayatkan dalam Ktab Shahih-ny a dari Abu Hurairah:
'i ,u,o 6'_Jt i ,y,
€Lli ,? H,iu-'S;';t
;lu;;Jk 6'_Jt l-;,9tu' €L';i &,Hte:'F
&tf i' P i' 3';"1trsil
"Bahwa beliau SAW membasuh tangan kanannya hampir ke lengan
atasnya, kemudian tangan kiri seperti demikian, kemudian membasuh
kaki kanannya hampir ke betis, kemudian membasuh yang kiri seperti
demikian, Abu Hurairah berkata, 'Demikianlah aku melihat Rasulullah
berwudhu'."7
Ini adalah hujjah bagi kelompok yang mewajibkan membasuh siku,
karena jika ada satu lafazh mengandung dua makna, maka kita tidak

' Shahih. HR. Muslim (246). Ahmad (2/400) dengan lafazh yang sama, dan Al
Baihaqi (l/57).

24 Bidayatul Mujtahtd
boleh mengambil salah satunya kecuali ketika ada dalil yang
menentukannya, walaupun pada dasarnya lafazh (,rl) dalam bahasa arab
lebih zhahir mengandung makna sampai daripada besefta, demikian pula
1-+lt; lebih zhahir mengandung makna sesuatu yang ada di bawah lengan
atas daripada sesuatu yang ada di atas lengan atas.
Walhasil orang yang tidak mewajibkannya lebih kuat dari sisi
petunjuk lafazh, sementara yang mewajibkannya lebih jelas dari sisi
atsar, kecuali jika atsor tersebut dipahami mengandung makna sunnah.
Jadi, masalah ini bersifat muhtamal (mengandung banyak
kemungkinan) sebagaimana Anda lihat. Yang lain berpendapat jika
batasan ini termasuk jenis yang dibatasi maka ia masuk ke dalam
hukumnya.

Masalah keenam: Batasan mengusap kepala


Para ulama telah sepakat bahwa mengusap kepala termasuk
kefardhuan wudhu, lalu mereka berbeda pendapat tentang batasan yang
dianggap cukup.
l. Malik berpendapat sesungguhnya yang wajib adalah mengusap
semuanya.
2. Sementara Syaf i, sebagian pengikut Maliki dan Abu Hanifah
berpendapat bahwa yang fardhu adalah mengusap sebagian. Diantara
pengikut imam Malik ada yang membatasinya dengan 713, ada pula yang
membatasainya dengan 2l3,lalu Abu Hanifah membatasidengan ll4,dan
membatasi luas tangan yang digunakan untuk mengusap, dia berkata,
"Bahwa mengusap dengan kurang dari tiga jari adalah tidak cukup (tidak
sah)", sementara imam Syaf i tidak membatasi luas tangan, demikian
pula yang luas, yang diusap.
Sebab perbedaan pendapat: Adanya isytirok (ragam makna) pada
huruf baa' dalam bahasa arab, seperti firman Allah:
, t.a t vl'
Cerlt-l c;:
"Yang menghasilkan minyak." (Qs. AI Mukminuun [23]:20).

BidayatulMujtahid 25