Anda di halaman 1dari 4

PENDAHULUAN

KASUS PENGGELAPAN PAJAK OLEH PERUSAHAAN DI INDONESIA

Pengertian Pajak secara umum dapat diartikan sebagai iuran atau pungutan yang
dilakukan oleh pemerintah dari masyarakat berdasarkan Undang-Undang dan hasilnya
digunakan demi pembiayaan pengeluaran umum pemerintah dengan tanpa balas jasa yang
ditunjuk secara langsung.
Beberapa kasus pajak di Indonesia saat ini sudah meresahkan banyak pihak, Pajak
yang seharusnya menjadi alat pembiayaan dan pengaturan negara sudah di komoditikan
berbagai kepentingan.
Pemerintah dianggap kurang tegas dan memberikan banyak peluang dalam
menghadapi kasus pajak, Terlalu banyak terjadi pelanggaran atau kolusi di berbagai lini.
Memang ada yang ketahuan dan mendapat sanksi, namun jika dibandingkan dengan yang tidak
ketahuan, jumlahnya lebih banyak yang tidak ketahuan.
Grup Bakrie merupakan kumpulan perusahaan yang dimiliki oleh Aburizal Bakrie
(Ical), ada banyak perusahaan yang dimilikinya, antara lain PT Bumi Resources Tbk PT Kaltim
Prima Coal PT Arutmin Indonesia (KPC). Seharusnya sudah menjadi kewajiban bagi mereka
untuk membayar pajak.
Namun pada kenyataannya masih banyak kasus dimana mereka merugikan
masyarakat. Kasus ini menjadi menarik karena disatu sisi kegiatan mafia pajak mereka
dimaksudkan untuk kepentingan pribadi yang sebesar- besarnya. Hal ini bertentangan dengan
UUD 1945 pasal 39 Undang-Undang Ketentuan Umum Perpajakan, disisi lain tindakan Grup
Bakrie ini justru belum atau bahkan tidak menunjukkan kinerja yang baik

PEMBAHASAN

Jenderal (Ditjen) Pajak. ICW menemukan selisih pajak lebih rendah US$ 1,060 miliar
dalam laporan keuangan salah satu perusahaan Grup Bakrie tersebut. Beberapa perusahan Grup
Bakrie melakukan tindakan pegurangan dalam membayar pajak. Kasus ini berawal ketika
Direktorat Jenderal Pajak menemukan kekurangan bayar pajak tiga perusahaan Grup Bakrie
pada 2007 senilai Rp 2,1 triliun. Jumlah ini merupakan rekor kasus pajak di Indonesia. Kasus
pajak terbesar sebelumnya berasal dari penyimpangan pajak Asian Agri Group senilai Rp 1,3
triliun. Berikut Kronologis Perseteruan Bakrie-Pajak:
2007
Keuntungan kotor PT Bumi Resources Tbk
induk usaha PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT Arutmin Indonesia
naik 42 persen menjadi US$ 754 juta (Rp 6,8 triliun) dari US$ 529 juta (Rp 4,8 triliun) pada
2006.
Pertengahan 2008
Direktorat Jenderal Pajak memeriksa kasus dugaan manipulasi pajak tiga perusahaan Grup
Bakrie itu untuk tahun buku 2007.

4 Maret 2009
Kantor Pajak menemukan dugaan kekurangan pembayaran pajak pada 2007 oleh ketiga
perusahaan batu bara Grup Bakrie itu sekitar Rp 2,1 triliun. Perinciannya: KPC kurang Rp 1,5
triliun, Bumi Resources kurang Rp 376 miliar, Arutmin kurang Rp 300 miliar.

20 Maret 2009
KPC menggugat Ditjen Pajak ke Pengadilan Pajak untuk membatalkan surat perintah bukti
permulaan penyidikan tanggal 4 Maret 2009.

29 Juni 2009
Kasus PT Bumi Resources ditingkatkan ke penyidikan.

8 Desember 2009
Pengadilan Pajak membatalkan surat tanggal 4 Maret 2009. Namun Ditjen Pajak tetap
melanjutkan penyidikan.

29 Januari 2010
Ditjen Pajak mengajukan peninjauan kembali (PK) ke Mahkamah Agung atas putusan
pengadilan pajak tanggal 8 Desember 2009.

4 Februari 2010
KPC menggugat Ditjen Pajak ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan karena tidak menaati
putusan pengadilan pajak pada 8 Desember 2009.

9 Februari 2010
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan mengalahkan KPC.

24 Mei 2010
MA menolak PK Ditjen Pajak mengenai keberatan atas putusan pengadilan pajak tanggal 8
Desember 2009 yang membatalkan surat dimulainya penyidikan KPC.

3 November 2010
Gugatan Bumi Resources terhadap Ditjen Pajak dikalahkan Pengadilan Pajak. Kasus pajak
tiga perusahaan Grup Bakrie menjadi heboh, terutama karena ada pengakuan Gayus, tersangka
kasus dugaan penggelapan pajak, memberikan keterangan di persidangan Pengadilan Negeri
Jakarta Selatan, 28 September lalu. Gayus mengaku menerima dana US$ 3 juta dari Grup
Bakrie untuk mengurusi perkara pajak tiga perusahaan kelompok usaha itu. Masing-masing
untuk mengurus surat banding ketetapan pajak untuk PT Bumi Resources Tbk, surat ketetapan
pajak untuk PT Kaltim Prima Coal dan
sunset policy
atau pemutihan pajak PT Arutmin. Gayus memerinci, untuk Kaltim Prima dia dibayar US$
500 ribu; Bumi US$ 500 ribu; dan Arutmin US$ 2 juta. Menurut Gayus mengaku pekerjaan itu
diterima dari Alief Kuncoro melalui adiknya yang bernama Imam Cahyo Maliki. Dua nama
terakhir menurut Gayus masing-masing mendapat bayaran US$ 500 ribu. Gayus juga menyebut
meminta bantuan atasannya Maruli Pandopotan Manurung, dengan imbalan US$ 1,5 juta.
Pengakuan Gayus menerima bayaran dari Grup Bakrie itu, adalah pengakuan yang
kesekiankalinya. Pada 3 Juni 2010, Kabareskrim Komjen Ito Sumardi mengatakan,
berdasarkan hasil penyidikan, Gayus mengaku

menerima bayaran dari tiga perusahaan Grup Bakrie. Lalu di persidangan Haposan, 3 Agustus
lalu, Gayus kembali mengakui ada pembayaran dari perusahaan-perusahaan Grup Bakrie.

PENUTUP

KESIMPULAN
Dalam penerimaan negara yang bersumber dari pajak terdapat beberapa hambatan
yang menyebabkan proses pemungutan pajak menjadi tidak berjalan lancar dan tidak
dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Seperti kasus penyelewengan pajak oleh
perusahaan Bakrie Group. Dari kasus ini dapat disimpulkan bahwa perusahaan Bakrie Group
telah melakukan tindakan molor pajak, yang menyebabkan kerugian pada masyarakat.
Tindakan Grup Bakrie ini telah melanggar pasal 39 Undang-Undang Ketentuan Umum
Perpajakan atau terindikasi tak melaporkan Surat Pemberitahuan Tahunan secara benar.
Kasus ini juga menunjukkan bahwa sistem perpajakan di Indonesia belum berjalan
dengan semestinya. Masih banyak kasus-kasus penyelewengan pajak yang terjadi baik kasus
yang ketahuan atau tidak. Dan banyak dari kasus-kasus tersebut yang tidak segera
ditindaklanjuti.

SARAN
1. Sebagai warga negara yang baik kita harus memenuhi kewajiban sebagai wajib pajak dan
mematuhi peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.
2. Seharusnya pemerintah mengusahakan agar tidak terjadi penyelewengan pajak melalui
peraturan perpajakan yang berlaku, serta menindaklanjuti pelanggaran terkait perpajakan yang
dilakukan oleh wajib pajak dan fiskus.

DAFTAR PUSTAKA
P e r p a j a k a n : K o n s e p , T e o r i , d a n Isu
Jakarta : Kencana. Diperoleh : 14 Mei 2013

Budi Marsono, dari : http://marsonos.blogspot.com/2011/11/etika-bisnis-kasus-pajak-


grup- bakrie.html Diperoleh : 14 Mei 2013