Anda di halaman 1dari 22

BAB II

KONSEP TEORI

A. PENGERTIAN
Anemia didefenisikan sebagai penurunan volume eritrosit atau kadar Hb sampai
dibawah rentang nilai yang berlaku untuk orang sehat (Behrman E Richard, IKA
Nelson;1680).
Anemia bukan merupakan penyakit, melainkan merupakan pencerminan keadaan
suatu penyakit (gangguan) fungsi tubuh. Secara fisiologis anemia terjadi apabila
terdapat kekurangan jumlah hemoglobin untuk mengangkut oksigen ke jaringan.
Anemia tidak merupakan satu kesatuan tetapi merupakan akibat dari berbagai proses
patologik yang mendasari (Smeltzer C Suzanne, Buku Ajar Keperawatan medical-
bedah Brunner&Suddarth;935).

TABEL 1. Nilai Hematologi Selama Masa Bayi dan Anak sampai dewasa
Hemoglobin Hematokrit Limfosit Eusinofil Monosit
Retikulosit Leukosit (sel/mm3)
(g/dl) (%) (%) (%) (%)

Rerat Rerat Rentan Rerat


Umur Rentang Rerata Rentang Rerata Rerata Rerata
a a g a
13,7- (9000-
Talipusat 16,8 55 45-65 5,0 18000 31 2 6
20,1 30000)

13,0- (5000-
2minggu 16,5 50 42-66 1,0 12000 63 3 9
20,0 21000)

(6000-
3 bulan 12,0 9,5-14,5 36 31-41 1,0 12000 48 2 5
18000)

10,5- (6000-
6bl-6 th 12,0 37 33-42 1,0 10000 48 2 5
14,0 15000)

11,0- (4500-
7-12 th 13,0 38 34-40 1,0 8000 38 2 5
16,0 13500)

Dewasa

12,0- (5000-
Wanita 14 42 37-47 1,6 7500 35 3 7
16,0 10000)

14,0-
Pria 16 47 42-52
18,0
B. ETIOLOGI

Ada beberapa jenis anemia sesuai dengan penyebabnya;


1. Anemia pasca perdarahan
Terjadi sebagai akibat perdarahan yang masif seperti kecelakaan, operasi dan
persalinan dengan perdarahn atau yang menahun seperti pada penyakit cacingan.
2. Anemia defisiensi
Terjadi karena kekurangan bahan baku pembuat sel darah.
3. Anemia hemolitik
Terjadi penghancuran (hemolisis) eritrosit yang berlebihan kerena;
a. Faktor intrasel
Misalnya talasemia, hemoglobnopatia (talasemia HbE, sickle cell anemia),
sferositas, defiseiensi enzim eritrosit (G-6PD, piruvatkinase, glutation
reduktase).
b. Faktor ekstrasel
Karena intoksikasi, infeksi (malaria), imunologis (inkompatibilitas golongan
darah, reaksi hemolitik pada tranfusi darah).
4. Anemia aplastik
Disebabkan terhentinya pembuatan sel darah sumsum tulang (kerusakan sumsum
tulang).

D. MANIFESTASI KLINIS
Secara umum gejala anemia adalah;
Penurunan BB, Kelemahan
Hb menurun (< 10 g/dl), trombositosis/ trombositopenia,
pansitopenia
Takikardia, TD menurun, pengisian kapiler lambat, extremitas
dingin, palpitasi, kulit pucat
Mudah lelah ; sering istirahat, nafas pendek, proses menghisap
yang buruk (bayi)
Sakit kepala, pusing, kunang-kunang, peka rangsang.
Manifestasi klinis berdasarkan jenis anemia;
1. Anemia karena perdarahan
Perdarahan akut; akibat kelhilangan daarah yang cepat, terjadi reflex
kardiovaskuler yang fisiologis berupa kontraxi arteriola, pengurangan aliran
darah atau komponennya keorgan tubuh yang kurang vital (anggota gerak,
ginjal). Gejala yang timbul tergantung dari cepat dan banyaknya darah yang
hilang dan apakah tubuh masih dapat mengadakan kompensasi. Kehilangan
darah sebanyak 12-15 % akan memperlihatkan gejala pucat, transpirasi,
takikardia, TD rendah atau normal. Kehilangan darah sebanyak 15-20% akan
mengakibatkan TD menurun dan dapat terjadi renjatan (shock) yang masih
reversible. Kehilangan lebih dari 20 % akan menimbulkan renjatan yang
irreversible dengan angka kematian yang tinggi.
Perdarahan kronik, leukositosis (15.000-20.000/mm3) nilai hemoglobin,
eritrosit dan hematokritmerendah akibat hemodelusi (Buku kuliah ilmu
kesehatan Anak UI;431).

2. Anemia defisiensi
Anemia defisiensi besi (DB)
Pucat merupakan tanda paling sering, pagofagia (keinginan untuk makan bahan
yang tidak biasa seperti es atau tanah), bila Hb menurun sampai 5 g/dL
iritabilitas dan anorexia. Takikardia dan bising sistolik. Pada kasus berat akan
mengakibatkan perubahan kulit dan mukosa yang progresif seperti lidah yang
halus, keilosis, terdapat tanda-tanda mal nutrisi. Monoamine oksidase suatu
enzim tergantung besi memainkan peran penting dalam reaksi neurokimiawi
disusunan saraf pusat sehingga DB dapat mempengaruhi fungsi neurologist dan
intelektual. Temuan laboratorium Hb 6-10 g/dL, trombositosis (600.000-
1.000.000) (Behrman E Richard, IKA Nelson;1692).
Anemia defisiensi asam folat
Gejala dan tanda pada anemia defesiensi asam folat sama dengan anemia
defesiensi vitamin B12, yaitu anemia megaloblastik dan perubahan
megaloblastik pada mukosa, mungkin dapat ditemukan gejala-gejala neurologis,
seperti gangguan kepribadian dan hilangnya daya ingat. Gambaran darah seperti
anemia pernisiosa tetapi kadar vitamin B12 serum normal dan asam folat serum
rendah, Biasanya kurang dari 3 ng/ml. Yang dapat memastikan diagnosis adalah
kadar folat sel darah merah kurang dari 150 ng/ml (Mansjoer arif, kapita selekta
kedokteran; 550).

3. Anemia hemolitik
Anemia hemolitik autoimun
Anemia ini bervariasi dari yang ringan sampai yang berat (mengancam jiwa).
Terdapat keluhan Fatigue dapat terlihat bersama gagal jantung kongestif dan
angina. Biasanya ditemukan ikterus dan spleno megali. Apabila pasien
mempunyai penyakit dasar seperti LES atau Leukemia Limfositik Kronik,
gambaran klinis penyakit tersebut dapat terlihat. Pemeriksaan Laboratorium
ditemukan kadar HB yang bervariasi dari ringan sampai berat (HT< 10%)
Retikulositosis dan Sferositosis biasanya dapat terlihat pada apusan darah tepi.
Pada kasus Hemolisis berat, penekanan pada sumsum tulang dapat
mengakibatkan SDM yang terpecah-pecah (Mansjoer arif, kapita selekta
kedokteran; 552).
Anemia hemolitik karna kekurangan enzim
Manifestasi klinik beragam mulai dari anemia hemolitik neonatus berat sampai
ringan, hemolisis yang terkompensasi dengan baik dan tampak pertama pada
dewasa. Polikromatofilia dan mikrositosis ringan menggambarkan angka
kenaikan retikulosit. Manifestasi klinis sangat beragam tergantung dari jenis
kekurangan enzim, defesiensi enzim glutation reduktase kadang-kadang disertai
trombopenia dan leukopenia dan sering disertai kelainan neurologis. Defesiensi
piruvatkinase khasnya ada peninggian kadar 2,3 difosfogliserat (2,3 DPG).
Defesiensi Triose Phosphate-Isomerase (TPI) gejala menyerupai sferositosis,
tetapi tidak ada peninggian fragilitas osmotik dan hapusan darah tepi tidak
ditemukan sferosit (Buku kuliah ilmu kesehatan Anak UI;442).
Sferositosis herediter
Sferositosis herediter mungkin menyebabkan penyakit hemokitik pada bayi baru
lahir dan tampak dengan anemia dan hiperbillirubinemia yang cukup berat.
Keparahan penyakit pada bayi dan anak bervariasi. Beberapa penderita tetap
tidak bergejala sampai dewasa, sedangkan lainnya mungkin mengalami anemia
berat yang pucat, ikterus, lesu dan intoleransi aktivitas. Bukti hemolisis meliputi
retikulositosis dan hiperbillirubinemia. Kadar Hb biasanya 6-10 g/dL. Angka
rerikulositosis sering meningkat sampai 6-20% dengan nilai rerata 10%.
Eritrosit pada apus darah tepi berukuran macam-macam dan terdiri dari
retikulosit polikromatofilik dan sferosis (Behrman E Richard, IKA
Nelson;1698).
Thalasemia
Anemia berat tipe mikrositik dengan limpa dan hepar yang membesar. Pada
anak yang besar biasanya disertai dengan dengan keadaan gizi yang jelek dan
mukanya memperlihatkan fasies mongoloid. Jumlah retikulosit dalam darah
meningkat. Temuan laboratorium pada talasemia β HbF>90% tidak ada Hb A.
Pada talasemia –α anemianya biasanya tidak sampai memerlukan tranfusi darah,
mudah terjadi hemolisis akut pada serangan infeksi berat, kadar HB 7-10 g/dL,
sediaan hapus darah tepi memperlihatkan tanda-tanda hipokromia yang nyata
dengan anisositosis dan poikilositosis (Buku kuliah ilmu kesehatan Anak
UI;449).

4. Anemia aplasitk
Awitan anemia aplastik biasanya khas dan bertahap ditandai oleh kelemahan,
pucat, sesak nafas pada saat latihan. Temuan laboratorium biasanya ditemukan
pansitopenia, sel darah merah normositik dan normokromik artinya ukuran dan
warnanya normal, perdarahan abnormal akibat trombositopenia (Smeltzer C
Suzanne, Buku Ajar Keperawatan medical-bedah Brunner&Suddarth;939).
E. PENATALAKSANAAN
1. Anemia karena perdarahan
Pengobatan terbaik adalah tranfusi darah. Pada perdarahan kronik diberikan
tranfusi packed cell. Mengatasi renjatan dan penyebab perdarahan. Dalam
keadaan darurat pemberian cairan intravena dengan cairan infuse apa saja yang
tersedia (Buku kuliah ilmu kesehatan Anak UI;431).

2. Anemia defisiensi
Anemia defisiensi besi (DB)
Respon regular DB terhadap sejumlah besi cukup mempunyai arti diagnostik,
pemberian oral garam ferro sederhana (sulfat, glukonat, fumarat) merupakan
terapi yang murah dan memuaskan. Preparat besi parenteral (dekstran besi) adalah
bentuk yang efektif dan aman digunakan bila perhitungan dosis tepat, sementara
itu keluarga harus diberi edukasi tentang diet penerita, dan konsumsi susu harus
dibatasi lebih baik 500 mL/ 24 jam. Jumlah makanan ini mempunyai pengaruh
ganda yakni jumlah makanan yang kaya akan besi bertambah dan kehilangan
darah karna intoleransi protein susu sapi tercegah (Behrman E Richard, IKA
Nelson;1692).
Anemia defisiensi asam folat
Meliputi pengobatan terhadap penyebabnya dan dapat dilakukan pula dengan
pemberian/ suplementasi asam folat oral 1 mg per hari (Mansjoer arif, kapita
selekta kedokteran; 553).

3. Anemia Hemolitik
Anemia hemolitik autoimun
Terapi inisial dengan menggunakan Prednison 1-2 mg/Kg BB/hari. Jika Anemia
mengancam hidup, tranfusi harus diberikan dengan hati-hati. Apabila Prednison
tidak efektif dalam menanggulangi kelainan ini, atau penyakit mengalami
kekambuhan dalam periode taperingoff dari prednisone maka dianjurkan untuk
dilakukan splenektomi. Apabila keduanya tidak menolong, maka dilakukan terapi
dengan menggunakan berbagai jenis obat imunosupresif. Immunoglobulin dosis
tinggi intravena (500 mg/kg BB/hari selama 1-4 hari ) mungkin mempunyai
efektifitas tinggi dalam mengontrol hemolisis. Namun efek pengobatan ini hanya
sebentar (1-3 minggu) dan sangat mahal harganya. Dengan demikian pengobatan
ini hanya digunakan dalam situasi gawat darurat dan bila pengobatan dengan
prednisone merupakan kontra indikasi (Mansjoer arif, kapita selekta kedokteran;
552).
Anemia hemolitik karna kekurangan enzim
Pencegahan hemolisis adalah cara terapi yang paling penting. Tranfusi tukar
mungkin terindikasi untuk hiperbillirubinemia pada neonatus. Tranfusi eritrosit
terpapar diperlukan untuk anemia berat atau krisis aplastik. Jika anemia terus
menerus berat atau jika diperlukan tranfusi yang sering, splenektomi harus
dikerjakan setelah umur 5-6 tahun (Behrman E Richard, IKA Nelson;1713).
Sferositosis herediter
Anemia dan hiperbillirubinemia yang cukup berat memerlukan fototerapi atau
tranfusi tukar. Karna sferosit pada SH dihancurkan hampir seluruhnya oleh limfa,
maka splenektomi melenyapkan hampir seluruh hemolisis pada kelainan ini.
Setelah splenektomi sferosis mungkin lebih banyak, meningkatkan fragilitas
osmotik, tetapi anemia, retikulositosis dan hiperbillirubinemia membaik
(Behrman E Richard, IKA Nelson;1700).
Thalasemia
Hingga sekarang tidak ada obat yang dapat menyembuhkannya. Tranfusi darah
diberikan bila kadar Hb telah rendah (kurang dari 6 %) atau bila anak mengeluh
tidak mau makan atau lemah. Untuk mengeluarkan besi dari jaringan tubuh
diberikan iron chelating agent, yaitu Desferal secara intramuskuler atau
intravena. Splenektomi dilakukan pada anak yang lebih tua dari 2 tahun, sebelum
didapatkan tanda hiperplenisme atau hemosiderosis. Bila kedua tanda itu telah
tampak, maka splenektomi tidak banyak gunanya lagi. Sesudah splenektomi
biasanya frekuensi tranfusi darah menjadi jarang. Diberikan pula bermacam-
macam vitamin, tetapi preparat yang mengandung besi merupakan indikasi
kontra (Buku kuliah ilmu kesehatan Anak UI;449).

4. Anemia aplasitk
Dua metode penanganan yang saat ini sering dilakukan:
Transplantasi sumsum tulang dilakukan untuk memberikan
persediaan jaringan hematopoesti yang masih dapat berfungsi. Agar
transplantasi dapat berhasil, diperlukan kemampuan menyesuaikan sel donor
dengan resipien serta mencegah komplikasi selama masa penyembuhan.
Dengan penggunaan imunosupresan clyclosporine.
Terapi imunosupresif dengan ATG (globulin antitimosit) diberikan untuk
menghentikan fungsi imunologis yang memperpanjang aplasia sehingga
memungkinkan sumsum tulang mengalami penyembuhan. ATG diberikan setiap
hari melalui kateter vena sentral selama 7 sampai 10 hari. Pasien yang berespon
terhadap terapi biasanya akan sembuh dalam beberapa minggu sampai 3 bulan,
tetapi respon dapat lambat sampai 6 bulan setelah penanganan. Pasien yang
mengalami anemia berat dan ditangani secara awal selama perjalanan penyakitnya
mempunyai kesempatan terbaik berespon tehadap ATG (Smeltzer C Suzanne,
Buku Ajar Keperawatan medical-bedah Brunner&Suddarth;939).
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN ANAK DENGAN PENYAKIT ANEMIA

A. PENGKAJIAN
Dari hasil anamnesis dapatkan riwayat kesehatan yang lalu, riwayat kesehatan
sekarang yang berkenaan dengan anemia, riwayat diet yang cermat dapat
mengidentifikasi adanya defesiensi besi (Donna L Wong, pedoman klinis
keperawatan pediatric; 536).
Observasi adanya manifestasi anemia
- Manifestasi umum
Kelemahan otot
Mudah lelah ; sering istirahat, nafas pendek, proses menghisap yang buruk
(bayi)
Kulit pucat ; pucat lilin pada anemia berat
- Manifestasi system saraf pusat
Sakit kepala
Pusing
Kunang-kunang
Peka rangsang
Proses berpikir lambat
Penurunan lapang pandang
Apatis
- Syok (anemia kehilangan darah)
Perfusi perifer buruk
Kulit Lembab dan dingin
Peningkatan frekuensi jantung (Donna L Wong, pedoman klinis
keperawatan pediatric; 536).
Data pengkajian pasien
Aktifitas/ istirahat
Gejala; Keletihan, kelemahan, toleransi terhadap aktifitas rendah, kebutuhan
untuk tidur dan istirahat lebih banyak.
Tanda; Takikardia, takipnea, dispnea pada saat bekerja, lesu, kurang tertarik
untuk bermain, berjalan lambat.
Sirkulasi
Gejala; Riwayat kehilangan darah
Tanda; Bunyi jantung (murmur sistolik), pengisian kapiler melambat, extremitas
pucat, bibir pucat.
Integritas ego
Gejala; Penolakan terhadap tranfusi darah
Tanda; Ansietas
Makanan/cairan
Gejala; Penurunan nafsu makan, adanya penurunan BB
Tanda; Lidah tampak merah daging/halus (anemia defisiensi asam folat dan
B12), turgor buruk, sudut mulut pecah (DB)
Neurosensori
Gejala; Sakit kepala, pandangan berkunang-kunang, pusing
Tanda; peka rangsang, gelisah, apatis, lambat dalam berespon.
Lakukan pemeriksaan diagnostic
- Jumlah darah lengkap Hemoglobin, hematokrit (biasanya menurun)
Jumlah eritrosit: Menurun (AP), menurun berat (Aplastik), menurun dan
mikrositik dengan eritrosit hipokromik (DB)
Jumlah retikulosit : Bervariasi, mis; menurun (AP), meningkat (respon
sumsum tulang terhadap kehilangan darah/ hemolisis)
LED: Peningkatan menunjukkan adanya reaksi inflamasi, mis;
peningkatan kerusakan SDM atau penyakit malignan
Tes kerapuhan: Menurun (DB)
SDP: meningkat (hemolitik), menurun (aplastik)
- Jumlah trombosit: menurun (aplastik), meningkat (DB), normal atau
tinggi (hemolitik)
- Folat serum dan vitamin B12: membantu mendiagnosa anemia
sehubungan dengan defisiensi masukan/absorbsi.
- Besi serum: tak ada (DB), tinggi (hemolitik)
- Masa perdarahan: memanjang (aplastik)
- Pemeriksaan endoskopik dan radiografik: memeriksa sisi perdarahan.
B. ANALISA DATA
No Data Penyebab Masalah
1. Pengurangan aliran darah dan Perubahan perfusi jaringan
komponennya ke organ tubuh
yang kurang vital (anggota gerak),
penambahan aliran darah ke otak
Ds: klien/ keluarga dan jantung
menyatakan kelelahan/
sesak nafas saat
Pengiriman oksigen dan
beraktifitas nutrien ke sel berkurang
Do: Takikardia, takpnea,
dispnea pada saat
Perubahan perfusi
bekerja, lesu, kurang jaringan
tertarik untuk bermain,

berjalan lambat. Perubahan nutrisi; kurang


2.
dari kebutuhan tubuh
Hb menurun (< 10 g/dl),
trombositosis/trombositopenia,
pansitopenia
Ds: klien/ keluarga
menyatakan Penurunan
Gangguan absorbsi nutrient
nafsu makan, adanya yang diperlukan untuk
penurunan BB pembentukan sela darah merah
Do: turgor buruk, sudut
mulut pecah, lesu,
Perubahan nutrisi kurang
kurang tertarik untuk dari kebutuhan tubuh
bermain, berjalan
Intoleransi aktifitas
3.
lambat.

Pengurangan aliran darah dan


komponennya ke organ tubuh
yang kurang vital (anggota gerak),
penambahan aliran darah ke otak
Ds: klien/ keluarga
dan jantung
menyatakan Keletihan,
kelemahan, toleransi
terhadap aktifitas rendah, Pengiriman oksigen dan
nutrien ke sel berkurang
kebutuhan untuk tidur dan
istirahat lebih banyak.
Do: Takikardia, takipnea, Intoleransi aktifitas
dispnea pada saat
beraktifitas, lesu, kurang
tertarik untuk bermain,
berjalan lambat.
C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen
seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen/ nutrisi ke sel (Doenges E
Marilynn, Rencana Asuhan Keperawatan;573).
2. Perubahan nutrisi; kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakmampuan mencerna/ absorbsi nutrient yang diperlukan untuk
pembentukan SDM normal (Doenges E Marilynn, Rencana Asuhan
Keperawatan;575).
3. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan penurunan pengiriman oksigen
ke jaringan (Donna L Wong, pedoman klinis keperawatan pediatric; 536)
4. Ansietas berhubungan dengan prosedur diagnostik/ tranfusi (Donna L
Wong, pedoman klinis keperawatan pediatric; 536).
5. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan pertahanan skunder tidak
adekuat mis, penurunan hemoglobin, penurunan granulosit (Doenges E Marilynn,
Rencana Asuhan Keperawatan;578).
DAFTAR PUSTAKA

Behrman R. 1999. Ilmu Kesehatan Anak. Edisi 15. Jakarta. EGC.


Doenges Marilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi III. Jakarta. EGC.
Ngastiah. 1995. Perawatan Anak Sakit. Jakarta. EGC.
Staf Pengajar FKUI. 1985. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Bagian Ilmu Kesehatan
Anak UI.
Wong Donna L. 2003. Pedoman Klinis Perawatan Pediatrik. Edisi IV. Jakarta. EGC.
C. WOC Perdarahan masif Eritrosit prematur Defisiensi besi, B12, Fe Depresi sumsum tulang kongenital
atau akibat obat-obatan

Kehilangan Umur eritrosit pendek akibat Kekurangan bahan baku pembuat


banyak darah Penghancuran sel darah merah sel darah merah
Pembentukan sel hemopoetik
terhenti atau berkurang

Tranfusi darah
Hb menurun (< 10 g/dl), trombositosis/ Resti infeksi
trombositopenia, pansitopenia

Ansietas

Gastrointestinal Kardiovaskuler

Gangguan absorbsi nutrient yang Perubahan nutrisi kurang Kontraxi arteriole


diperlukan untuk pembentukan sela dari kebutuhan tubuh
darah merah

Pengurangan aliran darah dan komponennya ke organ


Pengiriman oksigen dan tubuh yang kurang vital (anggota gerak), penambahan
nutrien ke sel berkurang aliran darah ke otak dan jantung

Pengiriman oksigen dan


Penurunan BB, Kelemahan Intoleransi aktifitas
nutrien ke sel berkurang

Takikardia, TD menurun, pengisian kapiler


lambat, extremitas dingin, palpitasi, kulit pucat Perubahan perfusi jaringan
Ket:
: Masalah keperawatan
Perencanaan
No. DX Kep Tujuan Kriteria Hasil
Intervensi Rasional
1. Perubahan perfusi Perfusi Menunjukkan perfusi Mandiri :
jaringan berhubungan jaringan jaringan adequat, 1. Awasi tanda vital, kaji 1. Memberi informasi tentang derajat/ ke
dengan penurunan adequat mis; pengisian kapiler, warna kulit/ adequatan perfusi jaringan dan membantu
komponen seluler yang - Tanda vital membrane mukosa, dasar kuku menentukan kebutuhan intervensi.
diperlukan untuk stabil, membran 2. Tinggikan kepala tempat 2. Meningkatkan ekspansi paru dan
pengiriman oksigen/ mukosa warna tidur sesuai toleransi memaksimalkan oksigenasi.
nutrisi ke sel merah muda, 3. Awasi upaya pernafasan 3. Memberi informasi tentang kemampuan
pengisian kapiler 4. Catat keluhan rasa dingin, pasien bernafas, menentukan adanya dispnea
baik. pertahankan suhu lingkungan dan 4. Vasokontriksi nenurunkan sirkulasi perifer.
tubuh hangat sesuai indikasi Pemberian rasa hangat harus seimbang
Kolaborasi dengan kebutuhan pasien
5. Berkolaborasi dalam 5. meningkatkan jumlah sel pembawa oksigen
pemberian tranfusi, pemeriksaan agar transport O2 ke jaringan dapat
Hb/Ht, pemberian oksigen sesuai maksimal.
indikasi
2. Perubahan nutrisi; kurang anak - Menunjukk Mandiri:
dari kebutuhan tubuh mendapatkan an peningkatan BB 1. Kaji riwayat nutrisi dan makanan 1. Menduga
berhubungan dengan kebutuhan - Dapat yang disukai kemungkinan penyebab defisiensi dan
ketidakmampuan besi minimum melakukan aktifitas 2. Berikan konseling diet pada mengidentifikasi intervensi
mencerna/ absorbsi harian. tanpa bantuan keluarga khususnya mengenai 2. menambah
nutrient atau zat besi yang orang lain sumber besi dari makanan mis, pengetahuan kelurga
diperlukan untuk daging, kacang, gandum, sereal
pembentukan SDM bayi yang diperkaya zat besi
normal 3. Beri susu pada anak sebagai
makanan suplemen setelah
makanan padat diberikan 3. sebagai tambahan
4. Berikan makan sedikit dan nutrisi yang berguna untuk pembentukan
frekuensi sering SDM
5. Berikan dan Bantu hygiene mulut
yang baik; sebelum dan sesudah 4. untuk mencegah
makan, gunakan sikat gigi halus kebosanan pada anak
untuk penyikatan lembut
6. Anjurkan keluarga untuk 5. agar anak merasa
mengkonsulkan anak pada ahli gizi nyaman, bersih sehingga dapat menambah
7. Berikan obat sesuai indikasi; nafsu makan pada anak
vitamin dan suplemen mineral mis,
vitamin B12, asam folat, vitamin
C, besi dextran (IM/IV) (Doenges 6. agar ahli gizi
E Marilynn, Rencana Asuhan membantu untuk mengatasi masalah gizi
Keperawatan;576) yang dihadapi anak
7. suplemen tmbahan
1. Observasi
3. Intoleransi aktifitas anak penting untuk menggantikan masukan oral
adanya tanda berikut setelah kerja
berhubungan dengan menunjukkan - anak dapat yang kurang.
fisik dan anjurkan berhenti bila
penurunan pengiriman peningkatan melakukan
terdapat tanda berikut saat
oksigen ke jaringan toleransi aktifitas tanpa
beraktivitas (takikardia, palpitasi,
ditandai dengan aktivitas sesak nafas,
takipnea, dispnea, hiperpnea, sesak
kelemahan, lebih banyak terlihat anak
memerlukan istirahat. bersemangat nafas, pusing, kunang-kunang,
dalam bermain berkeringat dan perubahan warna 1. menadakan anak tidak boleh
kulit, keletihan, lemas, loyo) melanjutkan aktifitasnya
2. Antisipasi dan
bantu dalam aktivitas kehidupan
sehari-hari yang mungkin di luar
batas toleransi anak
3. Beri aktivitas
bermain sebagai pengalihan
4. Upayakan
untuk memilih teman sekamar yang 2. meningkatkan harga diri anak,
sesuai dengan usia dan dengan mempertahankan tingkat energi anak
minat yang sama yang memerlukan
aktivitas terbatas
5. Ukur tanda 3. agar anak tidak merasa jenuh
vital saat periode istirahat. Awasi
TD, nadi, pernafasan setelah 4. agar anak punya teman untuk bermain
aktivitas. Catat respon tanda-tanda
vital anak terhadap aktivitas
6. Pertahankan
posisi semi fowler dan beri oksigen 5. untuk mengetahui respon anak
bila terjadi sesak nafas setelah terhadap aktifitas
beraktifitas
7. Anjurkan
keluarga tetap selalu bersama anak,
tidak membiarkan anak sendirian 6. agar kebutuhan O2 tetap terpenuhi
Ansietas (Donna L Wong, pedoman klinis
4. Ansietas berhubungan hilang atau keperawatan pediatric; 536)
dengan prosedur berkurang anak dan keluarga 7. untuk mencegah injury.
diagnostik/ tranfusi. menunjukkan
1. Siapkan anak
ansietas yang
dengan baik sebelum tes
minimal dan
diagnostik dilakukan
keluarga
2. Anjurkan
menunjukkan
keluarga tetap bersama anak
pemahaman 1. ansietas tentang ketidaktehuan
selama tes atau tranfusi darah
tentang gangguan, lmeningkatkan tingkat stres yang
3. Berikan
tes diagnostik dan selanjutnya meningkatkan beban jantung.
inforamasi yang jelas pada anak
pengobatan. Pengetahuan tentang apa yang
(keluarga) tentang gangguan,
diperkirakan menurunkan ansietas.
tujuan tes diagnostik dan
terjadinya 2. anak akan merasa nyaman bila di
pengobatan (Donna L Wong,
5. Resiko tinggi infeksi infeksi dapat temani oleh orang tuannya
pedoman klinis keperawatan
berhubungan dengan dicegah Infeksi tidak terjadi 3. memberikan dasar pengetahuan
pediatric; 536).
pertahanan skunder tidak sehingga keluarga dapat membuat pilihan
adekuat mis, penurunan yang tepat. Menurunkan ansietas dan dapat
hemoglobin, penurunan meningkatkan kerjasama dalam program
1. Tindakan cuci
granulosit. terapi.
tangan yang baik oleh pemberi
perawatan sebelum kontak
1. mencegah kontaminasi silang
dengan anak
pasien dengan anemia aplastik dapat
2. Pertahankan
beresikko akibat flora normal kulit.
tehnik septic ketat pada prosedur 2. menurunkan resiko infeksi
perawatan luka bakteri
3. Berikan
perawatan kulit, perianal dan oral 3. menurunkan resiko
yang cermat kerusakan kulit yang dapat mempermuda
4. Tingkatkan terjadinya infeksi
masukan cairan yang adekuat 4. membantu dalam pengenceran sekret
5. Batasi pernafasan untuk mempermudah
pengunjung dan tumbuhn hidup/ pengeluaran dan mencegah statis cairan di
bunga potong tubuh
6. Pantau suhu. 5. membatasi pemajanan pada bakteri
Catat adanya menggigil dan yang kemungkinan di bawa oleh
takikardia dengan atau tanpa pengunjung.
demam (Doenges E Marilynn, 6. adanya proses inflamasi ditandai
Rencana Asuhan adanya peningkatan suhu
Keperawatan;578).
4. Ds: Anak menangis saat akan Ansietas
Kehilangan banyak darah
di tranfusi
Do: Penolakan terhadap
tranfusi darah
Tranfusi darah

Ansietas

5. Ds: - Perdarahan masif Resiko tinggi infeksi


Do: -
Depresi sumsum tulang

Defisiensi besi, B12, Fe

Eritrosit prematur

Hb menurun (< 10 g/dl),


trombositosis/
trombositopenia,
pansitopenia

Resiko tinggi infeksi