Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN PRAKTIKUM

BAHAN PAKAN DAN FORMULASI RANSUM


(PENGENALAN BAHAN PAKAN)

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Kelulusan Mata Kuliah


Bahan Pakan dan Formulasi Ransum pada Jurusan Ilmu
Peternakan Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Alauddin
Makassar

OLEH:

KHUSNUL KHATIMA
60700117002

LABORATORIUM PETERNAKAN
JURUSAN ILMU PETERNAKAN
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN
MAKASSAR
2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Jika kita merenungi akan ciptaan Allah SWT banyak sekali ciptaannya

yang memberikannya tanda-tanda kebesaranNya kepada mahluknya.Salah satunya

yaitu adanya penciptaan tumbuhan dan hewan yang memberikan manfaat bagi

kehidupan manusia. Salah satunya contoh pemanfaatan dari penciptaan tumbuhan

adalah sebagai salah satu sumber pakan untuk ternak agar ternak tersebut tumbuh

dengan baik dan memberikan manfaat bagi manusia baik itu dari segi hasil seperti

daging,telur, susu serta untuk kebutuhan ekonomi.

Bahan pakan adalah setiap bahan yang dapat dimakan, disukai, dapat

dicerna sebagian atau seluruhnya, dapat diabsorpsi dan bermanfaat bagi ternak.

Oleh karena itu agar dapat disebut sebagai bahan pakan maka harus memenuhi

semua persyaratan tersebut, sedang yang dimaksud dengan pakan adalah bahan

yang dapat dimakan, dicerna dan diserap baik secara keseluruhan atau sebagian

dan tidak menimbulkan keracunan atau tidak mengganggu kesehatan ternak yang

mengkonsumsinya ( kamal, 2010).

Pakan berfungsi sebagai pembangunan dan pemeliharaan tubuh, sumber

energi, produksi, dan pengatur proses-proses dalam tubuh. Kandungan zat gizi

yang harus ada dalam pakan adalah protein, lemak, karbohidrat, mineral, vitamin

dan air (Tillman et al., 2010).


Berdasarkan uraian diatas maka hal yang melatarbelakangi dilakukannya

praktikum ini untuk mengetahui jenis-jenis bahan pakan, kandungan bahan pakan

serta karakteristik dari beberapa bahan pakan.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah pada patikum ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana mengetahui jenis-jenis bahan pakan ?

2. Bagaimana mengetahui karakteristik fisik beberapa jenis bahan pakan ?

C. Tujuan Pratikum

Tujuan dilaksanakan pratikum ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui jenis-jenis bahan pakan.

2. Untuk mengetahui karakteristik fisik beberapa jenis bahan pakan.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Bahan Pakan

Pakan adalah campuran berbagai macam bahan organik dan anorganik

yang diberikan kepada ternak untuk memenuhi kebutuhan zat-zat makanan yang

diperlukan bagi pertumbuhan, perkembangan dan produksi. Agar pertumbuhan

dan produksi maksimal, jumlah dan kandungan zat-zat makanan yang diperlukan

ternak harus memadai (Suprijatna, 2010).

Pakan ternak ruminansia terdiri dari pakan hijauan, konsentrat, vitamin

dan mineral sebagai suplemen. Hijauan yang biasa digunakan sebagai pakan pada

usaha peternakan rakyat di pedesaan adalah rumput lapangan dan hasil samping

pertanian, serta beberapa rumput introduksi sebagai rumput unggulan. Hasil

sampingan pertanian yang sering digunakan adalah jerami padi, jerami jagung,

jerami kedelai, jerami sorgum, daun ubi jalar, daun ubi kayu dan pucuk tebu,

sedangkan bahan baku konsentrat yang sering digunakan adalah dedak padi,

gaplek, bungkil kelapa, bungkil kelapa sawit dan lain-lain (Sitindaon, 2013).

Hijauan sebagai bahan pakan ternak ruminansia di Indonesia memegang

peranan penting karena hijauan mengandung hampir semua zat yang diperlukan.

Upaya untuk meningkatkan produksi peternakan secara cepat hanya dapat dicapai

apabila ditunjang dengan penyediaan pakan yang berkualitas. Bahan pakan

hijauan memegang peranan istimewa karena merupakan sumber makanan utama

bagi ternak ruminansia untuk dapat bertahan hidup dan berproduksi. Produksi
ternak yang tinggi perlu didukung oleh ketersediaan pakan hijauan yang cukup

dan kontinu (Suryana, 2010).

Pakan merupakan salah satu aspek penting dalam usaha peternakan.

Kualitas pakan yang diberikan akan mempengaruhi produktivitas ternak kambing.

Teknologi pengolahan pakan yang tepat dan efisien diperlukan agar kebutuhan

nutrisi ternak dapat terpenuhi. Salah satu cara untuk memperbaiki kualitas pakan

ternak adalah mengolah pakan menjadi bentuk pellet. Keuntungan pengolahan

pakan menjadi pellet diantaranya akan mengurangi pengambilan ransum secara

selektif oleh ternak, membantu ternak untuk menyerap nutrisi-nutrisi yang

terkandung dalam pakan, karena pada setiap pellet telah mengandung semua

nutrisi yang diperlukan, sehingga tidak ada nutrisi yang terbuang, meningkatkan

kepadatan ransum, sehingga distribusi pakan lebih mudah (Akhadiarto, 2010).

Protein merupakan nutrisi yang sangat penting bagi tubuh ternak protein

yang tidak dihasilkan dalam tubuh ternak harus diberikan melalui bahan pakan.

Bahan pakan sumber protein yang diberikan juga harus mengandung asam amino

yang lengkap serta berimbang sehingga penggunaan protein lebih efisien. Bahan

pakan sumber protein yang digunakan sebagai pakan unggas sebagian besar

merupakan pakan konvensional seperti bungkil kedelai, tepung ikan, Meat Bone

Meal (MBM), Poultry Meat Meal (PMM) yang memiliki harga cukup mahal,

sehingga pemberiannya harus tepat untuk menekan biaya pakan (Varianti, 2017).

Protein yang dikonsumsi akan disintesis menjadi asam amino dan

digunakan untuk pembentukan daging sehingga bobot badan akan bertambah.

Pertambahan bobot badan sangat erat hubungannya dengan asupan protein ke


dalam tubuh ternak. Asupan protein dipengaruhi oleh konsumsi protein dan

kecernaan protein, semakin tinggi konsumsi protein dan kecernaan protein maka

asupan protein dalam tubuh ternak semakin tinggi, namun tingginya konsumsi

protein akan menyebabkan rendahnya rasio efisiensi penggunaan protein. Rasio

efisiensi protein akan menunjukkan tingkat koefisien seekor ternak untuk

mengubah setiap gram protein yang dikonsumsi menjadi pertambahan bobot

badan (Situmorang dkk., 2013).

Subekti (2010), Penilaian terhadap bahan pakan perlu juga dilakukan

untuk mengetahui kualitas dari bahan pakan yang dipilih atau akan digunakan

meliputi:

1. Penilaian fisik yaitu dengan melihat perubahan warna, bentuk, bau dan

berat jenis penilaian fisik juga sering dilakukan pada penyimpanan pakan untuk

melihat apakah pakan yang disimpan masih baik atau sudah rusak

2. Penilaian kimia yaitu menilai komposisi kimia yang terdapat dalam bahan

pakan. Metode yang digunakan ada beberapa macam tetapi umumnya yang dinilai

adanya zat gizi, non gizi dan anti gizi yang terdapat dalam bahan pakan

diantaranya zat gizi yaitu pati, serat kasar, lemak, protein, air, mineral, vitamin

dan asam amino. Sedangkan anti gizi/anti nutrisi antaranya yaitu tanin, gosipol,

HCN, siklo propenoat, caumarin, antitripsin, mimosin, lignin dan selulosa.

3. Penilaian biologis yaitu penilaian bahan pakan untuk melihat kegunaan

dan pengaruhnya pada ternak yaitu dengan mengamati respon ternak yang diberi

pakan.
Allah Swt berfirman dalam QS. An Naba/78: 15.

  


 
Terjemahnya:
15. Supaya kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-
tumbuhan (Kementerian Agama RI, 2017).

Agar, dengan air itu, Kami mengeluarkan biji-bijian serta tumbuh-

tumbuhan sebagai bahan makanan untuk manusia dan hewan (Tafsir Quraish

Shihab, 2017).

B. Pengelompokan Bahan Pakan

Berdasarkan bentuknya bahan baku pakan ternak digolongkan menjadi 4

kategori menurut Thutenq (2011), yaitu bentuk butiran, tepung, pilih dan bentuk

cairan.

1. Bahan Pakan Berbentuk Butiran

Bentuk ini umumnya lebih disukai ternak unggas seperti bahan baku pakan

jagung, gandum, sorgum, dan lain-lain dengan komposisi ekonomis mencapai

25%. Bentuk butiran, yaitu bahan pakan yang pemberiannya berbentuk biji atau

butiran. Bahan pakan ini perlu digiling terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai

bahan pakan ransum. Pakan ini biasanya berikan untuk ternak unggas karena

unggas lebih suka pakan berbentuk butiran sesuai dengan bentuk paruhnya.

Contohnya jagung, kacang kedelai, kacang hijau, kacang merah dan shorgum.

2. Bahan Pakan Berbentuk Tepung

Bentuk tepung umumnya diperoleh dari bahan baku seperti bekatul, dedak,

gandum, tepung tulang, dan lain-lain dengan komposisi mencapai 25-35%. Bahan
pakan ini berasal dari bahan pakan hewani dan nabati yaitu bahan pakan yang

berbentuk tepung. Pakan ini biasanya diberikan untuk ternak ruminan karena

ternak ruminant tidak bisa mencerna pakan yang berupa butiran. Biasanya

pengusaha (Poutry shop) lebih cenderung menjual ransum yang sudah jadi, seperti

konsentra, Feed suplement, antibiotik serta jenis obat-obatan lainnya. Bahan

pakan ini berasal dari bahan pakan hewani dan nabati, misalnya tepung ikan,

tepung daging, tepung tulang dan lainnya, bungkil kopra, hasil samping

pembuatan minyak kopra, bungkil kelapa sawit, hasil samping pembuatan minyak

kelapa sawit, tepung gaplek, yaitu singkong kering yang dibuat tepung, pollar,

hasil samping industry tepung terigu dan dedak padi, hasil samping penggilingan

padi.

3. Bahan Pakan Berbentuk Pilih (Bongkahan/serpihan)

Bentuk pilih umumnya diperoleh dari bahan baku seperti bungkil kedelai,

bungkil kacang tanah, bungkil kelapa, dan lain-lainnya dengan komposisi

ekonomis mencapai 10-25%. Misalnya bungkil kedelai, hasil samping pembuatan

minyak kedelai, bungkil kacang tanah, hasil samping pembuatan minyak kacang

tanah, bungkil kelapa sawit, hasil samping pembuatan minyak kelapa sawit,

ampas singkong, hasil samping industri tepung tapioka, gaplek dan singkong yang

dikeringkan.

4. Bahan Pakan Berbentuk Cair

Bahan pakan berbentuk cair terutama minyak nabati maupun minyak

hewani sering digunakan pada ternak unggas pedaging yang membutuhkan energi

tinggi. Penggunaan bahan pakan berbentuk cair (minyak) di dalam ransum, selain
membantu memenuhi kebutuhan energi juga menambah selera nafsu makan

ternak unggas. Selain itu juga dapat mengurangi sifat berdebu pada ransum yang

berbentuk tepung lengkap (All mash). Bahan pakan berbentuk cair terutama

minyak nabati maupun minyak hewani sering digunakan pada ternak unggas

pedaging yang membutuhkan energi tinggi, misalnya tetes (Molasses), hasil

samping industri gula tebu. Warna hitam seperti kecap, rasanya manis dan baunya

harum. Minyak goreng/CPO (Crude Palm Oil), minyak ikan dan lainnya.

Menurut Santoso (2010), klasifikasi bahan pakan menurut asalnya terbagi

atas 3 yaitu:

1. Bahan Pakan Nabati

Adalah bahan pakan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Bahan pakan

nabati ini umumnya mempunyai serat kasar tinggi, misalnya dedak dan daun-

daunan. Disamping itu bahan pakan nabati banyak pula yang mempunyai

kandungan protein tinggi seperti bungkil kelapa. bungkil kedelai dan bahan pakan

asal kacang-kacangan. Serta tentu saja kaya akan energi seperti jagung.

2. Bahan Pakan Asal Hewan

Umumnya merupakan limbah industri, sehingga sifatnya memanfaatkan

limbah. Bahan pakan hewani yang biasa digunakan adalah tepung ikan, tepung

tulang, tepung udang dan tepung kerang. Beberapa bahan pakan hewan yang lain

adalah cacing, serangga, ulat dan lain-lain. Bahan-bahan pakan ini ditemukan

ayam yang dipelihara secara intensif, cacing, serangga dan lain-lain tidak

diberikan. Tetapi bekicot yang banyak didapat di musim hujan sudah mulai
diternakkan merupakan bahan pakan alternatif yang dapat digunakan untuk

memenuhi kebutuhan protein pada ransum ayam.

3. Bahan Pakan Asal Ikan

Adalah pakan ternak yang berasal ikan. Contohnya yakni tepung ikan dan

tepung kepala udang (tepung rese). Tepung ikan berasal dari ikan sisa atau

buangan yang tidak dikonsumsi oleh manusia, atau sisa pengolahan industri

makanan ikan, sehingga kandungan nutrisinya beragam, tapi pada umumnya

berkisar antara 60 – 70%. Mineral kalsium dan fosfornyapun sangat tinggi.

Pakan penguat (konsentrat) adalah pakan yang mengandung serat kasar

relatif rendah dan mudah dicerna. Bahan pakan penguat ini meliputi bahan pakan

yang berasal dari biji-bijian seperti jagung giling, dedak, katul, bungkil kelapa,

tetes, dan berbagai umbi. Fungsi pakan penguat adalah meningkatkan dan

memperkaya nilai gizi pada bahan pakan lain yang nilai gizinya rendah (Sugeng,

2010).

C. Jenis-jenis pakan ternak

1. Kelompok Rumput-rumputan

a. Rumput Gajah (Pennisetum purpureum)

Rumput gajah merupakan salah satu jenis hijauan pakan yang memiliki

kualitas yang cukup baik dan palatabilitas yang cukup tinggi bagi ternak

ruminansia. Dari aspek pertumbuhannya, rumput gajah tahan terhadap

naungan, merespon baik terhadap adanya perlakuan pemupukan, serta

menghendaki tingkat kesuburan tanah. Di negara yang beriklim tropis seperti

Indonesia, hijauan pakan cepat mencapai fase generatif dan pada saat musim
penghujan produksi hijauan tinggi sebaliknya pada saat musim kemarau

produksi hijauan rendah (Raldi dkk., 2015).

Rumput gajah memiliki kandungan nutrien berupa bahan kering 20,29%,

protein kasar 6,26%, lemak 2,06%, serat kasar 32,60%, abu 9,12%. BETN

41,82%, kalsium 0,46%, dan fosfor o,37% (Fathul dkk., 2013).

b. Rumput Benggala (Panicum maximum)

Rumput benggala (Panicum maximum) merupakan jenis rumput pakan

ternak unggul di Indonesia dan dapat tumbuh hingga ketinggian 2000 m dpl,

serta baik untuk ditanam bersama legum. Menurut Aganga dan Tshwenyane

(2004), bahwa rumput benggala mengandung protein 5.0 sampai 5.6 %

(Purbajanti, 2010).

c. Rumput raja (Pennisetum purpuphades)

Hasil analisis Laboratorium Ilmu Pertanian dan Peternakan Universitas

Tadulako menunjukkan bahwa kadar serat kasar rumput raja mencapai 34.15%

dari bahan kering, sedangkan protein kasar hanya berkisar 10,19 % bahan

kering. Kadar serat kasar yang tinggi tersebut diakibatkan oleh lignin, selulosa

dan hemiselulosa yang merupakan komponen sulit dicerna dalam proporsi

yang tinggi (Rahman, 2006).

Rumput raja (Pennisetum purpupoides). Rumput ini merupakan hasil

persilangan antara rumput gajah (Pennisetum purpureum) dengan rumput barja

(Pennisetum thypoides). Rumput raja adalah tanaman tahunan (Perennial),

tumbuh tegak membentuk rumpun. Perakarannya dalam, bentuknya mirip

dengan tanaman tebu, tingginya 2-4 m dan apabila dibiarkan tumbuh tegak
dapat mencapai 7 m, berbatang tebal dan keras. Rumput raja memiliki

pertumbuhan yang sangat cepat mengalahkan rumput gajah. Produksi rumput

raja sangat tinggi dapat mencapai 1.076 ton rumput segar/ha/tahun (Suyitman

dkk., 2013).

d. Rumput Rodhes (Chloris gayana)

Di Indonesia ada di Jawa, Irian dan Sumut. Asal Afrika timur, tengah dan

selatan. Protein kasar umumnya berkisar antara 4-13%, walaupun demikian daun

yang muda bisa mencapai 16-17% dan yang paling rendah kandungannya 3%.

Kandungan protein kasar ini tergantung pada umur, cuaca dan pemupukan

nitrogen. Serat kasarnya bervariasi antara 30-40%, tetapi bisa mencapai 25% pada

saat pemotongan awal dan bisa mencapai lebih dari 45% pada pemotongan akhir.

Beta -N umumnya berkisar antara 40-50% dengan lemak kasar antara 1.0- 2.5%.

Kandungan karoten umumnya tersedia cukup tinggi untuk kebutuhan sapi.

Kalsium (Ca) dan phosphor (P) konsentrasinya sama dengan rumput tropis

lainnya, tetapi kandungan K dan Mg umumnya rendah. Palatabilitasnya umumnya

baik dengan kecernaan bahan kering yang cukup rendah yaitu sekitar 40-60%

(Tim lab, 2015).

e. Rumput Setaria (Setaria sphacelata)

Tanaman ini berumur panjang, tumbuh tegak mencapai tinggi 2 m dan

membentuk rumpun. Daun tanaman ini cukup halus dan berwarna hijau kelabu.

Jenis rumput ini dapat tumbuh baik pada tanah berstruktur ringan, sedang dan

berat dengan ketinggian tempat 200-3.000 m dpl dan curah hujan > 1.000 m

dpl. Tanaman ini cukup responsif terhadap pemupukan N. Biasanya lebih

mudah diperbanyak dengan sobekan rumpun (Pols) (Tim Guru, 2013).


2. Kelompok Leguminosa / Kacang-kacangan

a. Gamal (Gliricidia sepium)

Gamal berasal dari wilayah kawasan Pantai Pasifik Amerika Tengah yang

bermusim kering. Habitat asli gamal adalah hutan gugur daun tropika, dapat

tumbuh mulai dari dataran rendah hingga ketinggian tempat 1.300 m dpl,

beradaptasi pada beberapa jenis tanah, termasuk jenis tanah yang kurang subur,

tahan kering, juga tahan asam. Gamal merupakan tanaman yang cocok untuk

tanah asam dan marginal (Nusantara, 2010).

Batang gamal berukuran kecil hingga sedang, tingginya dapat mencapai

10-12 m, sering bercabang dari dasar dengan diameter basal mencapai 50-70

cm. Kulit batang halus dengan warna bervariasi, dari putih abu-abu kemerah

tua-coklat batang dan cabang-cabang pada umumnya ada bercak putih kecil

(Mustofa, 2010).

Daun gamal menyirip ganjil, biasanya perpasangan sepanjang sekitar 30

cm melebar 5-20 cm, helai daun berbentuk ovale atau elips, panjang daun 2-7

cm,dan lebar daun 1-3 cm. Helai daun, pelepah dan tulang belakang kadang-

kadang bergaris-garis merah. Bunga berwarna merah muda keunguan, sedikit

warna putih, biasanya dengan titik kuning pucat menyebar di dasar kelopak.

Dasar kelopak bunga bulat dan hampir tegak, dengan ukuran sekitar 20 mm,

panjang kelopak bunga 15-20 mm, dan lebarnya 4-7 mm. Polong muda

berwarna hijau kemerahan-unguan, berwarna kuning kecokelatan setelah

masak, dan berwarna kuning coklat muda sampai coklat bila sudah tua. Polong
berbentuk pipih hampir bulat, panjang polong 10-18 cm, lebarnya 2 cm, jumlah

biji 4-10 (Simon and Stewart, 2010).

b. Lamtoro (Leucaena leucocephala)

Tumbuhan lamtoro merupakan suatu jenis tumbuhan dari famili Fabaceae

yang berasal dari amerika tengah dan meksiko. Sekarang, lamtoro sudah

banyak ditemukan di daerah tropis maupun subtropis seperti di kepulauan

karibia, Asia Selatan, Asia Tenggara, dan di daerah pasifik termasuk New

Guinea, Australia dan Hawaii. Lamtoro merupakan tanaman yang dapat

tumbuh dengan baik dan banyak ditemukan diberbagai tempat di Indonesia.

Dibuktikan dengan pemanfaatan yang telah dilakukan masyarakat Indonesia

sebagai pohon peneduh, pencegah erosi, sumber bahan kayu serta sebagai

bahan pakan ternak (Virgiansyah, 2018).

c. Tapal kuda (Cantella asiatica)

Tapak kuda merupakan tanaman yang tumbuh merambat di sekitar pantai

dengan bunga berwarna ungu yang mekar hanya pada pagi hari dan daunnya

berbentuk seperti telapak kaki kuda. ekstrak daun tanaman Tapak kuda

memiliki aktivitas antiinflamasi, antiiritasi dan bersifat insulinogenik. Secara In

vitro ekstrak daun Tapak kuda memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri

gram positif yaitu Staphylococcus aureus. Penelitian ini bertujuan untuk

menguji kualitas basis krim dan krim ekstrak daun Tapak Kuda yang dibuat

pada variasi konsentrasi 2,5 %, 5 %, dan 7,5 % (Raintung dkk., 2013).


d. Kalopo (Calopogonium mucunoides)

Tumbuh setiap tahun pada musim panas dibawah kondisi basah dan berbiji

setiap tahun. Suhu untuk tumbuh sesuai dengan suhu di daerah tropis basah,

sedangkan suhu minimum tidak terlalu dingin, seperti suhu yang dibutuhkan

oleh Centro atau Puero. Ludlow melaporkan, hanya 2% Bahan kering, 4,8%

rata-rata tumbuh dan 14% luas daun ketika tumbuh pada suhu 20oC

dibandingkan dengan pertumbuhan pada suhu 30oC. Tumbuh pada lintang 29–

30 oS, juga tumbuh baik pada ketinggian 2000 m dpl di Colombia lebih banyak

tumbuh pada ketinggian 300-1500 m curah hujan yang baik untuk

pertumbuhannya adalah 1125 mm/tahun atau lebih, melaporkan curah hujan

sampai 1250 mm, dapat tumbuh pada kondisi genangan /basah, biasanya

tumbuh baik pada tanah basah yang subur, beradaptasi pada berbagai tekstur

tanah, pH yang baik untuk pertumbuhannya 4,5–5,0. Dapat tumbuh baik

dengan hampir semua rumput tropis, semisal Panicum sp, Setaria sp,

Brachiaria sp , serta legum seperti Centrosema atau Puero, dapat tumbuh cepat

untuk menekan gulma, merupakan hijauan yang kuat karena dapat menjadi

penutup tanah terus menerus selama 4-6 bulan (Andika dan Prawiradiputra,

2010).

e. Siratro (Micoptilium athropurpureum)

Tanaman siratro dengan akar tunggang yang besar dan dalam, batangnya

membelit, menjalar dan memanjat. Batang pada dasar tanaman lebih tua

berserat, diameter >5 mm, batang yang lebih muda berdiameter sekitar 1-2

mm, kadang-kadang membentuk nodul akar pada kondisi yang ideal. Berdaun
tiga (Trifoliate), helai daun memanjang 2-7 x 1,5-5 cm, hijau tua dan berbulu

halus pada permukaan atas, berwarna hijau abu. Bunga berbentuk tabung,

panjang 8-9 mm dan lebar 3 mm, berwarna ungu tua dengan merah didekat

dasar bunga. Buah polong lurus, panjang 5-10 cm, diameter 3-5 mm,

mengandung sampai 12-15 biji. Buah polong akan menyebar ketika masak. Biji

berbentuk bulat dan pipih, coklat muda sampai hitam (Daru dan Yusuf, 2015).

3. Kelompok Bahan Pakan Asal Limbah

a. Tepung tongkol jagung

Kandungan nutrisi tongkol jagung terdiri dari bahan kering 90,0%, protein

kasar 2,8%, lemak kasar 0,7%, abu 1,5%, serat kasar 32,7%, dinding sel 80%,

lignin 6,0% dan ADF 32%. Permasalahan utama penggunaan tongkol jagung

sebagai pakan ternak ruminansia adalah tingginya kandungan serat kasar.

Kadar lignin dan silika yang tinggi mengakibatkan kecernaan tongkol jagung

menjadi rendah dan konsumsinya oleh ternak terbatas. Sehingga perlu dicari

teknologi yang dapat meningkatkan nilai nutrisi dan kecernaannya (Arianti,

2015).

b. Ampas jambu air

Jambu air termasuk suku jambu-jambuan atau Myrtaceae yang berasal dari

Asia Tenggara. Kayu buah jambu air yang keras dan berwarna kemerahan

cukup baik sebagai bahan bangunan. jambu air yang banyak ditanam yaitu

Syzygium quaeum (jambu air kecil) dan Syzygium samarangense (jambu air

besar). Bentuk daunnya bulat telur sampai lonjong atau elips. Warna daun yang

muda merah, sedang yang tua hijau.


c. Tepung sukun

Sukun menjadi tepung merupakan alternatif cara pengolahan yang

memiliki beberapa keunggulan yaitu meningkatkan daya simpan dan

memudahkan pengolahan bahan bakunya, tepung sukun selain mudah diolah

menjadi produk lain juga memiliki kandungan gizi relatif tidak berubah.

Tepung sukun dapat mensubstitusi tepung terigu sampai 75% dalam

pembuatan makanan olahan. Tepung sukun mengandung 84% karbohidrat,

9,9% air, 2,8% abu, 3,6% protein, dan 0,4%. Selain itu tepung sukun juga

mengandung amilopektin 77,48% dan amilosa 22,52% (Agustin, 2011).

d. Tepung ikan

Tepung ikan (TI) merupakan sumber protein yang banyak digunakan

dalam pakan buatan karena memiliki kandungan protein sebesar 64 % (Thomas

et al., 2015). Tepung ikan adalah sumber bahan baku yang terbatas dan mahal.

Ketersediaan tepung ikan yang masih bergantung pada komponen impor

menyebabkan harga pelet ikan semakin tinggi, sehingga biaya produksi dan

pemasaran juga meningkat (Sullivan, 2010).

e. Tepung daging dan tulang

Tepung daging dan tulang mengandung protein sekitar 45-55%. Pakan

yang disubtitusi dengan tepung tulang dan daging sampai 50% dapat

meningkatkan pertumbuhan benih patin (Pangasius sp.). Tetapi aplikasi TDT

belum pernah dilakukan untuk nila merah (Oreochromis niloticus). Aplikasi

TDT sebagai substitusi tepung ikan dalam kegiatan budidaya nila merah

(Hasibuan 2010).
f. Daun kelor (Moriga oleifera)

Daun kelor mengandung zat besi lebih tinggi daripada sayuran lainnya

yaitu sebesar 17,2 mg/100 g, kandungan nilai gizi daun kelor yaitu kadar air

pada daun segar 94,01% pada daun kering 4,09 % protein pada daun segar

22,7% pada daun kering 28,44% kandungan lemak pada daun segar 4,65%

pada daun kering 2,74% kadar abu pada daun kering 7,95% kandungan

karbohidrat pada daun segar 51,66% pada daun kering 57,01% kandungan serat

pada daun segar 7,92% pada daun kering 12,63% dan kandungan kalsium pada

daun segar berkisar antara 350- 550 mg sedangkan pada daun kering berkisar

antara 1600 – 2200 mg (Yameogo et al., 2011).


BAB III

METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Waktu dan tempat dilaksanakannya praktikum ini yaitu pada hari Jum’at

tanggal 17 Mei 2019 pukul 16.00-17.00 WITA bertempat di Laboratorium

Peternakan, Jurusan Ilmu Peternakan, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas

Islam Negeri Alauddin Makassar.

B. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah sebagai berikut:

1. Alat

Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah alat tulis menulis.

2. Bahan

Bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu rumput setaria (Setarias

Sphacelata), rumput benggala (Panicum maximum), rumput gajah (Pennisetum

purpureum), rumput raja (Pennisetum typoides), rumput rhodes (Cloris gayana),

gamal (Gliceridia sepium), tapal kuda (Cantella asiatica), lamtoro (Leuchena

Leucochepala), calopo (Calopogonium mucunoides), siretro (Micoptilium

athropurpureum), tepung tongkol jagung, Daun kelor (Moriga oleifera), ampas

jambu air, tepun sukun, tepun ikan dan tepung daging dan tulang.
C. Prosedur Kerja

Adapun prosedur kerja pada praktikum ini yaitu:

1. Menyiapkan alat dan bahan.

2. Mengamati karakteristik setiap jenis bahan pakan berdasarkan warna,

tekstur, aroma, asal dan sumbernya.

3. Mencatat hasil pengamatan pada lembar kerja yang disediakan.

4. Mengambil gambar.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil pengamatan

Hasil pengamatan pada praktikum bahan pakan adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Hasil Pengamatan Jenis-jenis Bahan Pakan.


No Bahan pakan Warna Tekstur Aroma Asal Sumber

1 Rumput Setaria Hijau Kasar Khas Nabati Karbohidrat


(Setarias kekunin
Sphacelata) gan
2 Rumput Hijau Kasar Khas Nabati Karbohidrat
Benggala tua
(Panicum
maximum)
3 Rumput Gajah Hijau Kasar Khas Nabati Karbohidrat
(Pennisetum muda
purpureum)
4 Rumput Raja Hijau Kasar Khas Nabati Karbohidrat
(Pennisetum
typoides)
5 Rumput Rhodes Hijau Halus Khas Nabati Karbohidrat
(Cloris gayana) tua
6 Gamal Hijau Halus Khas Nabati Protein
(Gliceridia kekunin
sepium) gan
7 Tapal Kuda Hijau Halus Khas Nabati Protein
(Cantella muda
asiatica)
8 Lamtoro Hijau Halus Khas Nabati Protein
(Leuchena tua
Leucochepala)

9 Kalopo Hiaju Kasar Khas Nabati Protein


(calopogonium kekunin
mucunoides) gan
10 Siratro Hijau Halus Khas Nabati Protein
(Micoptilium
athroprpureum)
11 Tepung tongkol Putih Kasar Khas Nabati Karbohidrat
jagung kecokla
tan
12 Daun kelor Hijau Kasar Khas Nabati Protein
(Moriga tua
oleifera)
13 Ampas jambu Coklat Kasar Khas Nabati Vitamin
air kekunin
gan
14 Tepung sukun Putih Halus Khas Nabati Karbohidrat
kekunin
gn
15 Tepung Ikan Coklat Sedikit Khas Hewani Potein
halus
16 Tepung daging Kecokla Halus Khas Hewani Mineral dan
dan tulang tan Kalsium
Sumber: Laboratorium Peternakan Jurusan Ilmu Peterakan Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Alauddin. Makassar, 2019.

Tabel 2. Gambar bahan pangan


No Bahan pakan Gambar

1 Rumput Setaria (Setarias


sphacelata)

2 Rumput Benggala (Panicum


maximum)
3 Rumput Gajah (Pennisetum
purpureum)

4 Rumput Raja (Pennisetum


typoides)

5 Rumput Rhodes (Cloris gayana)

6 Gamal (Gliceridium sepium)

7 Tapal Kuda (Cantella asiatica)


8 Lamtoro (Leuchena
Leucochepala)

9 Kalopo (Calopogonium
mucunoides)

10 Siratro
(Micoptilium athropurpureum

11 Tepung tongkol jagung

12 Daun kelor (Moriga oleifera)


13 Ampas jambu air

14 Tepung sukun

15 Tepung Ikan

16 Tepung daging dan tulang

Sumber: Laboratorium Peternakan Jurusan Ilmu Peterakan Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Alauddin. Makassar, 2019.
B. Pembahasan

Bahan pakan adalah setiap bahan yang dapat dimakan, disukai, dapat

dicerna sebagian atau seluruhnya, dapat diabsorpsi dan bermanfaat bagi ternak

seperti bahan pakan asal hijauan dan bahan pakan sisa hasil limbah.

Berdasarkan hasil pengamatan bahwa rumput setaria (Setarias sphacelata)

memiliki warna hijau kekuningan, berstektur kasar yang memiliki aroma yang

khas dan merupakan bahan pakan sumber karbohidrat asal nabati atau tumbuh-

tumbuhan. Hal ini sesuai dengan pendapat Tim Guru (2013), bahwa tanaman ini

berumur panjang, tumbuh tegak mencapai tinggi 2 m dan membentuk rumpun.

Daun tanaman ini cukup halus dan berwarna hijau kelabu. Jenis rumput ini dapat

tumbuh baik pada tanah berstruktur ringan, sedang dan berat dengan ketinggian

tempat 200-3.000 m dpl dan curah hujan > 1.000 m dpl. Tanaman ini cukup

responsif terhadap pemupukan N. Biasanya lebih mudah diperbanyak dengan

sobekan rumpun (Pols).

Berdasarkan hasil pengamatan bahwa rumput benggala (Panicum

maximum) memiliki warna hijau tua, berstektur kasar yang memiliki aroma yang

khas dan merupakan bahan pakan sumber karbohidrat asal nabati atau tumbuh-

tumbuhan. Hal ini sesuai dengan pendapat Purbajanti (2010), rumput benggala

(Panicum maximum) merupakan jenis rumput pakan ternak unggul di Indonesia

dan dapat tumbuh hingga ketinggian 2000 m dpl, serta baik untuk ditanam

bersama legum. Rumput benggala mengandun protein 5.0 sampai 5.6 %.

Berdasarkan hasil pengamatan bahwa rumput gajah (Pennisetum

purpureum) memiliki warna hijau muda, bertekstur kasar yang memiliki aroma
yang khas dan merupakan bahan pakan sumber karbohidrat asal nabati atau

tumbuh-tumbuhan. Hal ini sesuai dengan pendapat Raldi dkk., (2015) bahwa

rumput gajah tahan terhadap naungan, merespon baik terhadap adanya perlakuan

pemupukan, serta menghendaki tingkat kesuburan tanah.

Berdasarkan hasil pengamatan bahwa rumput raja (Pennisetum typoides)

memiliki warna hijau, bertekstur kasar yang memiliki aroma yang khas dan

merupakan bahan pakan sumber karbohidrat asal nabati atau tumbuh-tumbuhan.

Hal ini sesuai dengan pendapat Suyitman et al., (2013) rumput raja adalah

tanaman tahunan (Perennial), tumbuh tegak membentuk rumpun. Perakarannya

dalam, bentuknya mirip dengan tanaman tebu, tingginya 2-4 m dan apabila

dibiarkan tumbuh tegak dapat mencapai 7 m, berbatang tebal dan keras. Rumput

raja memiliki pertumbuhan yang sangat cepat mengalahkan.

Berdasarkan hasil pengamatan bahwa rumput rhodes (Cloris gayana)

memiliki warna hijau tua, bertesktur halus yang memiliki aroma yang khas dan

merupakan bahan pakan sumber karbohidrat asal nabati atau tumbuh-tumbuhan.

Hal ini sesuai dengan pendapat Andika (2010), kandungan protein kasar ini

tergantung pada umur, cuaca dan pemupukan nitrogen. Serat kasarnya bervariasi

antara 30-40%, tetapi bisa mencapai 25% pada saat pemotongan awal dan bisa

mencapai lebih dari 45% pada pemotongan akhir.

Berdasarkan hasil pengamatan bahwa gamal (Gliceridia sepium) memiliki

warna hijau kekuningan, bertekstur halus yang memiliki aroma yang khas dan

merupakan bahan pakan sumber protein asal nabati atau tumbuh-tumbuhan. Hal

ini sesuai dengan pendapat Simon and Stewart (2010), Helai daun, pelepah dan
tulang belakang kadang-kadang bergaris-garis merah. Bunga berwarna merah

muda ke unguan, sedikit warna putih, biasanya dengan titik kuning pucat

menyebar di dasar kelopak. Dasar kelopak bunga bulat dan hampir tegak, dengan

ukuran sekitar 20 mm, panjang kelopak bunga 15-20 mm, dan lebarnya 4-7 mm.

Polong muda berwarna hijau kemerahan-unguan, berwarna kuning-cokelat setelah

masak, dan berwarna kuning coklat muda sampai coklat bila sudah tua. Polong

berbentuk pipih hampir bulat, panjang polong 10-18 cm, lebarnya 2 cm, jumlah

biji 4-10.

Berdasarkan hasil pengamatan bahwa tapal kuda (Cantella asiatica)

memiliki warna hijau muda, bertekstur halus yang memiliki aroma yang khas dan

merupakan bahan pakan sumber protein asal nabati atau tumbuh-tumbuhan. Hal

ini sesuai dengan pendapat Souza et al., (2010) tapal kuda merupakan tanaman

yang tumbuh merambat di sekitar pantai dengan bunga berwarna ungu yang

mekar hanya pada pagi hari dan daunnya berbentuk seperti telapak kaki kuda.

Berdasarkan hasil pengamatan bahwa lamtoro (Leuchena leucochepala)

memiliki warna hijau tua, berstektur halus yang memiliki aroma yang khas dan

merupakan bahan pakan sumber protein asal nabati atau tumbuh-tumbuhan. Hal

ini sesuai dengan pendapat Virgiansyah (2018), lamtoro merupakan tanaman yang

dapat tumbuh dengan baik dan banyak ditemukan diberbagai tempat di Indonesia.

Dibuktikan dengan pemanfaatan yang telah dilakukan masyarakat Indonesia

sebagai pohon peneduh, pencegah erosi, sumber bahan kayu serta sebagai bahan

pakan ternak.
Berdasarkan hasil pengamatan bahwa kalopo (Calopogonium mucunoides)

memiliki warna hijau kekuningan, bertekstur kasar yang memiliki aroma yang

khas dan merupakan bahan pakan sumber protein asal nabati atau tumbuh-

tumbuhan. Hal ini sesuai dengan pendapat Andika dan Prawiradiputra (2010),

tumbuh setiap tahun pada musim panas dibawah kondisi basah dan berbiji setiap

tahun. Suhu untuk tumbuh sesuai dengan suhu di daerah tropis basah, sedangkan

suhu minimum tidak terlalu dingin, seperti suhu yang dibutuhkan oleh Centro atau

Puero. Hanya 2% Bahan kering, 4,8% rata-rata tumbuh dan 14% luas daun ketika

tumbuh pada suhu 20oC dibandingkan dengan pertumbuhan pada suhu 30oC.

Tumbuh pada lintang 29-30oS, juga tumbuh baik pada ketinggian 2000 m dpl.

Berdasarkan hasil pengamatan bahwa siratro (Micoptilium

athropurpureum) memiliki warna hijau, bertekstur halus yang memiliki aroma

yang khas dan merupakan bahan pakan sumber protein asal nabati atau tumbuh-

tumbuhan. Hal ini sesuai dengan pendapat Daru dan Yusuf (2015), siratro

Berdaun tiga (Trifoliate), helai daun memanjang 2-7x1,5-5 cm, hijau tua dan

berbulu halus pada permukaan atas, berwarna hijau abu. Bunga berbentuk tabung,

panjang 8-9 mm dan lebar 3 mm, berwarna ungu tua dengan merah didekat dasar

bunga. Buah polong lurus, panjang 5-10 cm, diameter 3-5 mm, mengandung

sampai 12-15 biji. Buah polong akan menyebar ketika masak. Biji berbentuk bulat

dan pipih, coklat muda sampai hitam.

Berdasarkan hasil pengamatan bahwa tepung tongkol jagung memiliki

warna Putih kecoklatan, bertekstur kasar yang memiliki aroma yang khas dan

merupakan bahan pakan sumber karbohidrat asal nabati atau tumbuh-tumbuhan.


Hal ini sesuai dengan pendapat Murni dkk (2008), kandungan nutrisi tongkol

jagung terdiri dari bahan kering 90,0%, protein kasar 2,8%, lemak kasar 0,7%,

abu 1,5%, serat kasar 32,7%, dinding sel 80%, lignin 6,0% dan ADF 32%.

Berdasarkan hasil pengamatan bahwa daun kelor (Moriga oleifera)

memiliki warna hijau tua, bertekstur kasar yang memiliki aroma yang khas dan

merupakan bahan pakan sumber protein asal nabati atau tumbuh-tumbuhan. Hal

ini sesuai dengan pendapat Yameogo et al (2011), daun kelor mengandung zat

besi lebih tinggi daripada sayuran lainnya yaitu sebesar 17,2 mg/100 g, kandungan

nilai gizi daun kelor yaitu kadar air pada daun segar 94,01% pada daun kering 4,09

% protein pada daun segar 22,7% pada daun kering 28,44% kandungan lemak

pada daun segar 4,65% pada daun kering 2,74% kadar abu pada daun kering

7,95% kandungan karbohidrat pada daun segar 51,66% pada daun kering 57,01%

kandungan serat pada daun segar 7,92% pada daun kering 12,63% dan kandungan

kalsium pada daun segar berkisar antara 350- 550 mg sedangkan pada daun kering

berkisar antara 1600 – 2200 mg.

Berdasarkan hasil pengamatan bahwa ampas jambu air memiliki warna

coklat kekuningan, berstektur kasar yang memiliki aroma yang khas dan

merupakan bahan pakan sumber protein asal nabati atau tumbuh-tumbuhan dan

mengandung glukosa dan sedikit fruktosa hal ini sesuai dengan pendapat Adieb

(2010), bahwa jambu air termasuk suku jambu-jambuan atau Myrtaceae yang

berasal dari Asia Tenggara. Kayu buah jambu air yang keras dan berwarna

kemerahan cukup baik sebagai bahan bangunan. jambu air yang banyak ditanam

yaitu Syzygium quaeum (jambu air kecil) dan Syzygium samarangense (jambu air
besar). Bentuk daunnya bulat telur sampai lonjong atau elips. Warna daun yang

muda merah, sedang yang tua hijau.

Berdasarkan hasil pengamatan bahwa tepung sukun memiliki warna putih

kekuningan, berstektur kasar yang memiliki aroma yang khas dan merupakan

bahan pakan sumber karbohidrat asal nabati atau tumbuh-tumbuhan. Hal ini

sesuai dengan pendapat Agustin (2011), tepung sukun dapat mensubstitusi tepung

terigu sampai 75% dalam pembuatan makanan olahan. Tepung sukun

mengandung 84% karbohidrat, 9,9% air, 2,8% abu, 3,6% protein, dan 0,4% lemak

(Balai Besar Pengembangan Pasca Panen Pertanian, 2009). Selain itu tepung

sukun juga mengandung amilopektin 77,48% dan amilosa 22,52%.

Berdasarkan hasil pengamatan bahwa tepung ikan memiliki warna coklat,

berstektur sedikit halus yang memiliki aroma yang khas dan merupakan bahan

pakan sumber protein asal hewani. Hal ini sesuai dengan pendapat Sullivan

(2010), tepung ikan adalah sumber bahan baku yang terbatas dan mahal.

Ketersediaan tepung ikan yang masih bergantung pada komponen impor

menyebabkan harga pelet ikan semakin tinggi, sehingga biaya produksi dan

pemasaran juga meningkat.

Berdasarkan hasil pengamatan bahwa tepung daging dan tulang memiliki

warna kecoklatan, bertekstur halus yang memiliki aroma yang khas dan

merupakan bahan pakan sumber mineral dan kalsium asal hewani. Hal ini sesuai

dengan pendapat Tepung daging dan tulang mengandung protein sekitar 45-55%.

Hal ini sesuai dengan pendapat Hasibuan (2007), bahwab pakan yang disubtitusi

dengan tepung tulang dan daging sampai 50% dapat meningkatkan pertumbuhan
benih patin (Pangasius sp.). Tetapi aplikasi TDT belum pernah dilakukan untuk

nila merah (Oreochromis niloticus). Aplikasi TDT sebagai substitusi tepung ikan

dalam kegiatan budidaya nila merah.


BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah sebagai berikut :

1. Jenis-jenis bahan pakan terdiri dari kelompok hijauan yaitu Rumput

Setaria (Setarias Sphacelata), rumput benggala (Panicum Maximum), rumput

gajah (Pennisetum Purpureum), rumput raja (Pennisetum Typoides), rumput

rhodes (Cloris Gayana). Kelompo leguminosa atau kacang-kacangan yaitu gamal

(Gliceridia Sepium), tapal kuda (Cantella Asiatica), lamtoro (Leuchena

Leucochepala), calopo (Calopogonium Mucunoides), siretro (Micoptilium

Athropurpureum). Dan kelompok bahan pakan asal limbah seperti tepung tongkol

jagung, Daun kelor (Moriga oleifera), ampas jambu air, tepun sukun, tepun ikan

dan tepung daging dan tulang.

2. Dalam menilai karakteristik bahan pakan dapat dilakukan dengan

menggunakan penilaian fisik dimana penilaian ini terdiri dari uji organoleptik

seperti uji bau, warna dan tekstur. Pada penilaian bahan pakan asal hijauan dan

legum dapat diperoleh uji fisik yaitu warna hijau dan hijau kekuningan, tekstur

ada yang halus dan kasar dan memiliki bau khas. Pada penilaian bahan pakan asal

tepung dapat diperoleh uji fisik yaitu warna hijau, putih dan coklat, tekstur ada

yang halus dan kasar dan masing-masing memiliki bau yang khas.
B. Saran

Saran yang dapat disampaikan pada praktikum ini adalah sebaiknya jenis

bahan pakan jenis tepug bisa ditambah agar setiap kelompok dapat mengamati

sendiri dengan kelompokta tanpa harus menunggu giliran dari kelompok lain guna

untuk lebih mengifisienkan waktu.


DAFTAR PUSTAKA

Al-Qu’an. 2017. Departemen Agama RI Al-Qur’an Terjemahan dan Tajwid.


Jakarta.
Adieb, S. 2010. Dasar-dasar Perlindungan Tanaman. Bumi Aksara. Jakarta.
Agustin. 2011. Breadfuit Starch-wheat Flour Noodles. Preparation Proximate
Composition and Culinary Properties. International Food Research
Journal. 18, 1283-1287.
Akhadiarto, S. 2010. Pengaruh Pemanfaatan Limbah Kulit Singkong Dalam
Pembuatan Pellet Ransum Unggas. J. Tek. Ling. 11(1) : 127 – 138.
Andika. A. Prawiradiputra. B. R. 2010. Karakteristik Dan Pemanfaatan Kalopo
(Calopogonium Sp.) Lokakarya Nasional Tanaman Pakan Ternak. Balai
Penelitian Terna. Po Box 22. Bogor.
Arianti S, Y.D. 2015. “Kandungan Bahan Organik dan Protein Kasar Tongkol
Jagung (Zea mays) Yang Di Inokulasi Dengan Fungi Trichoderma sp. Pada
Lama Inkubasi Yang Berbeda”. Fakultas Peternakan Universitas
Hasanuddin. Makassar.
Daru T.P Dan Yusuf. R. 2015. Produksi Siratro (Macroptilium Atropurpureum)
Bermikoriza Di Tanah Pasca Penambangan Batubara. Ziraa’ah, Volume 40
Nomor 2, Juni 2015 Halaman 99-107.
Falles Raintung The, Hosea Jaya Edy, Hamidah Sri Supriati. 2013. Formulasi
Krim Penyembuh Luka Terinfeksi Staphylococcus aureus Ekstrak Daun
Tapak Kuda (Ipomoea pes-caprae). Sweet Jurnal Ilmiah Farmasi–Unsrat
vol. 2 no. 03 agustus.
Fathul, F., Liman, N. Purwaningsih, dan S. Tantalo. 2013. Pengetahuan Pakan
dan Formulasi Ransum. Jurusan Peternakan. Fakultas Pertanian. Lampung.
Hasibuan, R.D. 2010.Penggunaan Meat Bone Meal (MBM) Sebagai Bahan
Substitusi Tepung Ikan Dalam Pakan Ikan Patin Dengan Pola Kemitraan.
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalsel. Jurnal Litbang Pertanian 28
(1): 29 – 36.

Nusantara, S. 2010. Keunggulan Gamal Sebagai Pakan Ternak. BPTU Sembawa,


Ditjen Peternakan Dan Keswan Jl. Raya Palembang-Pangkalan Balai Km.
29 Sembawa.
Purbajanti, E. D., R.D.Soetrisno, E.Hanudin, Dan S.P.S.Budhi. 2010 Penampilan
Fisiologi dan Hasil Rumput Benggala (Panicum maximum) Pada Tanah
Salin Akibat Pemberian Pupuk Kandang, Gypsum Dan Sumber Nitrogen.
Jipi. 12 (1): 61-67.
Rahman, Koddang, M.Y., dan Damry, 2006. Pengaruh Penambahan tepung Ikan
dan Bungkil Kelapa dengan rumput gajah ad-libitum terhadap Daya Cerna
Protein Kasar, Serat Kasar dan Bahan Kering Ransum Sapi Bali Jantan.
Jurnal Ilmiah Impasja: ISSN: 1829-9997,Volume III No.1 Maret 2006.
Bogor.
Rahman, Koddang, M.Y., dan Damry. 2006. Pengaruh Penambahan tepung Ikan
dan Bungkil Kelapa dengan rumput gajah ad-libitum terhadap Daya Cerna
Protein Kasar, Serat Kasar dan Bahan Kering Ransum Sapi Bali Jantan.
Jurnal Ilmiah Impasja: ISSN: 1829-9997,Volume III No.1 Maret 2006,
Bogor.
Raintung, F.T., Edy H. J., Supriati H.S. 2013. Formulasi Krim Penyembuh Luka
Terinfeksi Staphylococcus Aureus Ekstrak Daun Tapak Kuda (Ipomoea Pes-
Caprae (L.) Sweet Pada Tipe A/M. Jurnal Ilmiah Farmasi – Unsrat Vol. 2
No. 03.
Raldi M. Kojo, Rustandi, Y. R. l. Tulung, S. S. 2015 Malalantang Pengaruh
Penambahan Dedak Padi dan Tepung Jagung Terhadap Kualitas Fisik Silase
Rumput Gajah (Pennisetum Purpureumcv.Hawaii). Jurnal Zootek
(“Zootek” Journal ) vol. 35 no. 1 : 21-29 (Januari 2015) in 0852 -2626.
Raldi, M. K. Rustandi, Y. R. L. Tulung. S.S. Malalantang. 2015. Pengaruh
Penambahan Dedak Padi Dan Tepung Jagung Terhadap Kualitas Fisik
Silase Rumput Gajah (Pennisetum Purpureumcv Hawaii). Jurnal Zootek
(“Zootek” Journal ) Vol. 35 No. 1 : 21-29.

Shihab, Muhammad Quraish. 2017. Tafsir Al-Qu’an. Lentera Hati. Jakarta.

Simon, A.J. and J.L. Stewart. 2010. Gliricidia sepium A Multi Purpose Forage
Tree Legume.
Sitindaon.S. H. 2013. Inventarisasi Potensi Bahan Pakanternak Ruminansia di
Provinsi Riau. Jurnal Peternakan. Vol 10 No 1 (18-23).
Situmorang, N.A., Mahfudz, L.D., Atmomarsono, U., 2013. Pengaruh Pemberian
Tepung Rumput Laut (Gracilaria Verrucosa) Dalam Ransum Terhadap
Efisiensi Penggunaan Protein Ayam Broiler. Jurnal Animal Agriculture. 2
(2) : 49-56.
Subekti, E. 2010. Ketahanan Pakan Ternak Indonesia. Mediagro. Vol5. No 2: Hal
63-71.
Sullivan, K.B.,. 2010. Replacement Of Fish Meal By Alternative Protein Sources
In Diets For Juvenile Black Sea Bass. Thesis. University Of North Carolina
Wilmington. 85 P.
Suprijatna, E. 2010. Strategi Pengembangan Ayam Lokal Berbasis Sumber
Daya Lokal Dan Berwawasan Lingkungan. Prosiding Seminar Nasional
Unggas Lokal Ke IV.Hal. 55 – 79.
Suryana. 2010. Pengembangan Usaha Ternak Sapi Potong Berorientasi Agribisnis
Suyitman, S. Jalaludin, Abudinar, N. Muis, Ifradi, N. Jamaran, M. Peto, Dan
Tanamasni. 2003. Agrostologi. Fakultas Peternakan Universitas Andalas,
Padang.
Tillman, A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprojo, S. Prawirokusumo. 2010. Ilmu
Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Tim Laboratorium. 2015. Pengetahuan Bahan Pakan Ternak. Ilmu dan teknologi
Pakan Fakultas Peternakan IPB. CV Nutri Sejahtera.
Varianti, I. N., Atmomarsono, U dan Mahfudz, L.D. 2017. Pengaruh Pemberian
Pakan dengan Sumber Protein Berbeda terhadap Efisiensi Penggunaan
Protein Ayam Lokal Persilangan. Agripet : Vol (17) No. 1 : 53-59.
Virgiansyah. R. 2018. Uji Kandungan Protein Dan Organoleptik Susu Biji Lamtoro
Gung (Leucaena leucocephala). Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas
Islam Negeri Raden Intan. Lampung.

Yameogo, A. Suharlina. 2011. Herbage Yield and Quality of Two Vegetative


Parts of Indigofera at Different Times of First Regrowth Defoliation. Media
Peternakan. 33 (1): 44-49.

Yatti Dwi Ariyanti S. 2015. Kandungan Bahan Organik dan Protein Kasar
Tongkol Jagung (Zea mays) Yang Diinokulasi Dengan Fungi Trichoderma
sp. Pada Lama Inkubasi Yang Berbeda. Universitas Hasanuddin Makassar
Makassar.