Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 latar belakang

Indonesia mempunyai ragam agama, adat, suku, bahasa dan budaya oleh karena itu tak heran
indonesia disebut negara yang multikulturalisme. Untuk mempertahankan negara seperti
Indonesia ini sangatlah sulit karena rentan sekali terjadinya konflik. Maka untuk
mempersatukannya perlu lah memupuk rasa persatuan antar warga, namun hal ini pun akan
berdampak buruk apabila terjadinya kubu-kubu antar warga. Simmel mengatakan bahwa
semakin kuat hubungan dalam kelompok, potensi tindak permusuhan juga makin menigkat.
Hal ini berkaitan dengan realita salah satu kenakalan remaja saat ini seperti tawuran antar
pelajar.
Tawuran sering terjadi dan dilakukan oleh sekelompok remaja sudah bukan hal yang biasa,
hal ini sudah sering kita dengar bahkan tidak asing lagi bagi telinga kita. apalagi di sekolah
menengah kejuruan (SMK) atau sering disebut dengan STM. Biasanya tawuran ini dilakukan
secara turun temurun yang dilakukan antar sekolah. Gejala sosial yang seperti ini sudah
sangat jelas melanggar norma dan nilai dalam masyarakat. Tawuran ini terjadi akibat konflik
antar satu sekolah, entah karena perasaan solidaritas antar siswa dan sebagainya..
Tawuran antar pelajar ini sangatlah menganggu ketertiban dan keamanan lingkungan
sekitarnya. Saat ini tawuran tidak hanya terjadi disekolah atau lingkungan sekitarnya tetapi
tawuran saat ini melakukan aksinya dijalanan dan menggunakan alat-alat bantu ( senjata
tajam). Yang dapat menimbulkan kerugian yang serius yang dapat mengakibatkan korban
yang tidak bersalah dan dapat merusaka benda-benda yag ada disekitar

1.2 tujuan
1.2.1 Untuk memenuhi tugas dari Bapak Dr. Sugeng Widodo, M.Pd

1.3 Kegunaan
1.3.1 untuk mengetahui cara menyelesaikan masalah tawuran antar pelajar menggunakan teori
belajar
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Tawuran
2.1.1 Dalam kamus bahasa Indonesia “tawuran”dapat diartikan sebagai perkelahian yang
meliputi banyak orang.
2.2 Pelajar
2.2.1 Menurut Sinolungan (1997), mengemukakan bahwa pengertian pelajar secara luas adalah
setiap orang yang terlibat dengan proses pendidikan untuk memperoleh pengetahuan sepanjang
hidupnya. Sedangkan dalam arti sempit, pengertian pelajar adalah setiap siswa yang belajar di
sekolah.
2.3 SMK
2.3.1 Menurut Evans dalam Djojonegoro (1999) mendefinisikan bahwa pendidikan
kejuruan adalah bagian dari sistem pendidikan yang mempersiapkan seseorang agar
lebih mampu bekerja pada suatu kelompok pekerjaan atau satu bidang pekerjaan
daripada bidang-bidang pekerjaan lainnya.
2.4 Teori- teori belajar
2.4.1 Teori Behaviour
Menurut Gage dan Berliner Teori Behavioristik merupakan teori dengan pandangan tetang
belajar adalah perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara
stimulus dan respon. Atau dengan kata lain belajar adalah perubahan yang dialami
siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai
hasil interaksi antara stimulus dan respon.

2.4.2 teori konstruktivisme

Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan dapat diartikan
Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya
modern.

Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu


bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas
melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong.
Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk
diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna
melalui pengalaman nyata.

Dengan teori konstruktivisme siswa dapat berfikir untuk menyelesaikan masalah, mencari
idea dan membuat keputusan. Siswa akan lebih paham karena mereka terlibat langsung
dalam mebina pengetahuan baru, mereka akan lebih pahamdan mampu
mengapliklasikannya dalam semua situasi. Selian itu siswa terlibat secara langsung
dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua konsep.

2.4.3 Teori Kognitifis

Teori belajar kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai protes terhadap teori
perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya. Model kognitif ini memiliki
perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan pelajaran melalui
upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan antara
pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Model ini menekankan pada
bagaimana informasi diproses.

Peneliti yang mengembangkan teori kognitif ini adalah Ausubel, Bruner, dan Gagne. Dari
ketiga peneliti ini, masing-masing memiliki penekanan yang berbeda. Ausubel
menekankan pada apsek pengelolaan (organizer) yang memiliki pengaruh utama terhadap
belajar.Bruner bekerja pada pengelompokkan atau penyediaan bentuk konsep sebagai
suatu jawaban atas bagaimana peserta didik memperoleh informasi dari lingkungan.

2.4.4 Teori Humanistik


Menurut Teori humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusia. proses belajar dianggap
berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri.
Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri
dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang
pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.
Tujuan utama para pendidik adalah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu
masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu
dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka Para ahli humanistik melihat adanya
dua bagian pada proses belajar, ialah :
1. Proses pemerolehan informasi baru.
2. Penyampaian informasi ini pada individu.

2.4.5 Teori Sibernetik


Teori belajar sibernetik merupakan teori belajar yang relatif baru dibandingkan dengan teori-
teori yang sudah dibahas sebelumnya. Menurut teori ini, belajar adalah pengolahan informasi.
Proses belajar memang penting dalam teori ini, namun yang lebih penting adalah system
informasi yang diproses yang akan dipelajari siswa. Asumsi lain adalah bahwa tidak ada satu
proses belajarpun yang ideal untuk segala situasi, dan yang cocok untuk semua siswa. Sebab cara
belajar sangat ditentukan oleh sistem informasi.
BAB III
PEMBAHASAN

Tawuran Pelajar SMK di Bogor, 1 Siswa Tewas

Achmad Sudarno

02 Jan 2018, 17:05 WIB

Liputan6.com, Bogor - Hari pertama masuk sekolah di Bogor, Jawa Barat, diwarnai aksi
tawuran pelajar, Selasa (2/1/2018). Tawuran antarpelajar ini menyebabkan satu orang tewas dan
enam luka akibat sabetan senjata tajam.

Korban tewas bernama Yudi Saputra (18), pelajar SMK PGRI 2 Bogor. Adapun korban luka
adalah Gilang Setiawan (16), Muhamnad Dafikri (17), Aura Lio alias Ahonk (17), Wahyu alias
Gayung (16), Rendi (17), dan Algi Fahri (17).

Kapolsek Citeureup Kompol Tri Suhartanto menuturkan, aksi tawuran bermula saat sekelompok
siswa SMK Karya Nugraha bersama pelajar SMK PGRI 2 Kota Bogor (AOET) sedang
nongkrong sambil menunggu angkutan umum di depan Ruko Jalan Mayor Oking Citeureup pada
pukul 08.15 WIB.

Tiba-tiba remaja berseragam putih abu-abu yang sedang nongkrong ini diserang dari arah Gang
Pasar Citeureup oleh sekelompok pelajar lainnya yang berjumlah kurang lebih 30 orang.

Para pelajar dari sekolah SMK Yapis dan Mekanika Kota Bogor ini menyerang menggunakan
senjata tajam seperti celurit, sehingga menyebabkan satu korban tewas dan enam luka.

Tawuran itu diduga karena salah satu siswa dari sekolah SMK Yapis dan Mekanika Kota Bogor
ini mempunyai dendam dan siswa lainnya ikut terlibat dalam tawuran tersebut dank arena factor
ingin menunjukan kalau SMK Yapis berkuasa.
"Akibat tawuran ini satu pelajar tewas dan enam lainnya terluka akibat sabetan benda tajam,"
kata Tri.

3.1 Penyebab Tawuran


Faktor- faktor yang menyebabkan tawuran pelajar
Berikut ini adalah faktor-faktor yang menyebabkan tawuran pelajar, diantaranya :
a. Faktor Internal
Faktor internal ini terjadi didalam diri individu itu sendiri yang berlangsung melalui
proses internalisasi diri yang keliru dalam menyelesaikan permasalahan disekitarnya
dan semua pengaruh yang datang dari luar. Remaja yang melakukan perkelahian
biasanya tidak mampu melakukan adaptasi dengan lingkungan yang kompleks.
Maksudnya, ia tidak dapat menyesuaikan diri dengan keanekaragaman pandangan,
ekonomi, budaya dan berbagai keberagaman lainnya yang semakin lama semakin
bermacam-macam. Para remaja yang mengalami hal ini akan lebih tergesa-gesa
dalam memecahkan segala masalahnya tanpa berpikir terlebih dahulu apakah akibat
yang akan ditimbulkan. Selain itu, ketidakstabilan emosi para remaja juga memiliki
andil dalam terjadinya perkelahian. Mereka biasanya mudah friustasi, tidak mudah
mengendalikan diri, tidak peka terhadap orang-orang disekitarnya. Seorang remaja
biasanya membutuhkan pengakuan kehadiran dirinya ditengah-tengah orang-orang
sekelilingnya.

b. Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang datang dari luar individu, yaitu :
1. Faktor Keluarga
Keluarga adalah tempat dimana pendidikan pertama dari orangtua diterapkan.
Jika seorang anak terbiasa melihat kekerasan yang dilakukan didalam
keluarganya maka setelah ia tumbuh menjadi remaja maka ia akan terbiasa
melakukan kekerasan karena inilah kebiasaan yang datang dari keluarganya.
Selain itu ketidak harmonisan keluarga juga bisa menjadi penyebab kekerasan
yang dilakukan oleh pelajar. Suasana keluarga yang menimbulkan rasa tidak
aman dan tidak menyenangkan serta hubungan keluarga yang kurang baik dapat
menimbulkan bahaya psikologis bagi setiap usia terutama pada masa remaja.
3 Menurut Hirschi (dalam Mussen dkk, 1994). Berdasarkan hasil penelitian ditemukan
bahwa salah satu
penyebab kenakalan remaja dikarenakan tidak berfungsinya orang tua sebagai figure teladan
yang baik bagi anak (hawari, 1997).
Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa salah satu penyebab kenakalan remaja
dikarenakan tidak berfungsinya orang tua sebagai figure teladan yang baik bagi anak (hawari,
1997). Jadi disinilah peran orangtua sebagai penunjuk jalan anaknya untuk selalu berprilaku
baik.

2. Faktor Sekolah
Sekolah tidak hanya untuk menjadikan para siswa pandai secara akademik namun juga
pandai secara akhlaknya . Sekolah merupakan wadah untuk para siswa mengembangkan diri
menjadi lebih baik. Namun sekolah juga bisa menjadi wadah untuk siswa menjadi tidak baik, hal
ini dikarenakan hilangnya kualitas pengajaran yang bermutu. Contohnya disekolah tidak jarang
ditemukan ada seorang guru yang tidak memiliki cukup kesabaran dalam mendidik anak
muruidnya akhirnya guru tersebut menunjukkan kemarahannya melalui kekerasan. Hal ini bisa
saja ditiru oleh para siswanya. Lalu disinilah peran guru dituntut untuk menjadi seorang pendidik
yang memiliki kepribadian yang baik.

3. Faktor Lingkungan
Lingkungan rumah dan lingkungan sekolah dapat mempengaruhi perilaku remaja. Seorang
remaja yang tinggal dilingkungan rumah yang tidak baik akan menjadikan remaja tersebut ikut
menjadi tidak baik. Kekerasan yang sering remaja lihat akan membentuk pola kekerasan
dipikiran para remaja. Hal ini membuat remaja bereaksi anarkis. Tidak adanya kegiatan yang
dilakukan untuk mengisi waktu senggang oleh para pelajar disekitar rumahnya juga bisa
mengakibatkan tawuran.
2. Hal yang menjadi pemicu tawuran
Tak jarang disebabkan oleh saling mengejek atau bahkan hanya saling menatap antar sesama
pelajar yang berbeda sekolahan. Bahkan saling rebutan wanita pun bisa menjadi pemicu tawuran.
Dan masih banyak lagi sebab-sebab lainnya.

3.2 Teori belajar yang digunakan


Tawuran atau Tubir adalah istilah yang sering digunakan masyarakat Indonesia,
khususnya di kota-kota besar sebagai perkelahian atau tindak kekerasan yang dilakukan oleh
sekelompok atau suatu rumpun masyarakat. Sebab tawuran ada beragam, mulai dari hal sepele
sampai hal-hal serius yang menjurus pada tindakan bentrok. Tawuran dapat menyebabkan
perpecahan di kalangan para pelajar.Tawuran merupakan suatu penyimpangan sosial yang berupa
perkelahian
Untuk menyelesaikan masalah Tawuran kami menggunakan teori behavioristk karena
teori ini membahasa tentang
Menurut teori behavioristik perilaku tawuran dipengaruhi oleh adanya keadaan mental dari
setiap individu atau kelompok yang melakukannya. Banyak faktor yang mempengaruhi
terjadinya tawuran ini misalnya adalah ajakan teman. Walaupun alasan nya sepele atau alasan
untuk melakukan tawuran dengan kelompok lain hanyalah sebuah urusan kecil tetapi tetap
dilakukan ini menunjukan bahwa si individu yang terpengaruh dan melakukan tawuran ini
menilai subyektif dari setiap lingkungan yang mempengaruhi nya. Sedangkan jika seseorang
mempunyai kepribadian yang sehat menurut behavioristik ia akan menilai dan mengambil
keputusan secara objektif dari lingkungan yang mempengaruhinya.

Banyak sekali dampak yang ditimbulkan oleh perilaku tawuran ini tidak sedikit peristiwa
tawuran yang sudah memakan korban jiwa. Walaupun begitu tetapi perilaku tawuran ini masih
saja marak terjadi di masyarakat. Hal ini jelas menunjukan bahwa individu dan kelompok yang
terlibat tawuran tidak memiliki mental yang sehat karena jelas dalam teori behavioristik individu
yang sehat mental adalah individu yang bisa mengambil pembelajaran dari pengalaman masa
lalu nya sehingga bisa menjadi individu yang lebih baik lagi.
BAB IV

PENUTUP

4.1 Simpulan

Jadi cara untuk menyelesaikan masalah tawuran antar pelajar kita bisa menerapkan teori
belajar Behavioristik. Karena teori behavioristik itu merupakan teori dengan pandangan
tetang belajar adalah perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara
stimulus dan respon. Atau dengan kata lain belajar adalah perubahan yang dialami
siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai
hasil interaksi antara stimulus dan respon. Jadi kita bisa merubah tingkah laku
seseorang agar tidak melakukan hal meyimpang lagi dengan menggunakan teori
behavioristik ini, semua tingkah laku yang menyimpang pada siswa bisa kita ubah jika
kita mengetahui bagaimana cara mebngubah nya.
4.2 saran
Kita sebagai calon guru seharus nya dapat membibing siswa-siswi untuk mempunyai perilaku yang tidak
menyimpang. Jika ada siswa-siswi kita yang mempunyai perilaku menyimpang kita sebagai guru harus
meluruskannya dengan pembelajaran pendidikan yang akan kita ajarkan kepada mereka dan kita
seharusnya menjaga perilaku atau tingkah laku kita didepan para murid karena mereka akan mencotoh
perilaku/tingkah laku yang kita lakukan.