Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Makhluk hidup memiliki ciri diantaranya dapat berkembang biak, begitu
juga dengan manusia. Manusia hanya mengalami reproduksi secara kawin
(seksual/ generatif). Laki-laki dan perempuan memiliki sitem reproduksi yang
berbeda sesuai dengan fungsinya.
Proses reproduksi pada manusia membutuhkan sperma dan ovum. Sperma
merupakan sel kelamin manusia yang dihasilkan oleh laki-laki. Adapn ovum
merupakan sel kelamin manusia yang dihasilkan oleh perempuan.
Organ reproduksi laki-laki terdiri atas testis, saluran pengeluaran, dan
penis. Testis memiliki dua fungsi yaitu sebagai tempat spermatogenesis dan
produksi androgen. Spermatogenesis terjadi dalam suatu struktur yang disebut
tubulus seminifirus. Proses pembentukan sperma disebut spermatogenesis.
Testis berjumlah sepasang dan terletak pada kantong yang disebut skrotum.
Organ reproduksi pada wanita terdiri tas ovarium, tuba fallopi, uterus dan
vagina. Ovarium terletak di bawah perut, dan berfungsi sebagai tempat
produksi ovum (sel telur). Tuba fallopi (saluran telur dan oviduk) berbentuk
seperti pipa dan ujungnya berbentuk corong dengan rumbai-rumbai. Rumbai
ini berfungsi untuk menangkap ovum yang dilepaskan ovarium. Uterus atau
Rahim merupakan tempat tumbuh dan berkembangnya janin. Vagina
merupakan tempat keluarnya bayi saat dilahirkan.
Gangguan pada sistem reproduksi biasa disebabkan oleh jamur, bakteri
atau virus. Bakteri dapat menyebabkan beberapa gangguan pada organ
reproduksi. Bakteri juga dapat menyebabkan gangguan lebih lanjut berupa
kusta bahkan bisa menimbulkan kanker Rahim.
(Linda J. Heffner dan Danny J. Schust)

1
1.2 Rumusan masalah
A. Sistem Reproduksi Wanita Dewasa
1. Apa anatomi dan fisiologi sistem reproduksi pada wanita?
2. Apa saja fungsi sistem reproduksi pada wanita?
3. Apa saja gangguan sistem reproduksi pada wanita dewasa?
B. Sistem Reproduksi Pria Dewasa
1. Apa anatomi dan fisiologi sistem reproduksi pada pria?
2. Apa saja fungsi sistem reproduksi pada pria?
3. Apa saja gangguan sistem reproduksi pada pria dewasa?

1.3 Tujuan Penulisan


A. Tujuan Umum
1. Mengetahui anatomi dan fisiologi sistem reproduksi pada wanita
2. Mengetahui fungsi sistem reproduksi pada wanita
3. Mengetahui gangguan sistem reproduksi pada wanita dewasa
4. Mengetahui anatomi dan fisiologi sistem reproduksi pada pria
5. Mengetahui fungsi sistem reproduksi pada pria
6. Mengetahui gangguan sistem reproduksi pada pria dewasa
B. Tujuan Khusus
1. Dapat menjelaskan anatomi dan fisiologi sistem reproduksi pada
wanita
2. Dapat menyebutkan fungsi sistem reproduksi pada wanita
3. Dapat menjelaskan gangguan sistem reproduksi pada wanita dewasa
4. Dapat menjelaskan anatomi dan fisiologi sistem reproduksi pada pria
5. Dapat menyebutkan fungsi sistem reproduksi pada pria
6. Dapat menjelaskan gangguan sistem reproduksi pada pria dewasa

2
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Sistem Reproduksi Pada Wanita Dewasa

2.1.1. Anatomi dan Fisiologi Sistem Reproduksi Wanita Dewasa

Organ-organ internal sistem reproduksi wanita terdiri dari: dua ovarium


dan dua tuba fallopi atau saluran telur, uterus dan vagina. Genitalia eksterna
secara keseluruhan disebut vulva dan terdiri dari struktur-struktur yang
tampak dari luar, mulai dari pubis sampai ke perineum: mons pubis, labia
mayora, labia minora, klitoris, vestibulum yang berbentuk seperti buah
amandel di dalam labia minora. Meatus uretra, lubang vagina atau introitus,
dua perangkat kelenjar yaitu kelenjar Skene dan Bartholini, yang bermuara
pada vestibulum.

Pada wanita dewasa, ovarium berkembang dan melepaskan sel telur


(oogenesis) dan menghasilkan hormon-hormon steroid: estrogen—estron
(E1), estradiol (E2), dan estriol (E3)—dan androgen setra progesteron.
Sejumlah kecil estrogen dan androgen juga disekresi oleh korteks adrenal.
Androgen di ubah menjadi estrogen pada jaringan lemak. Estradiol adalah
estrogen yang paling kuat dan disekresi dalam jumlah banyak oleh ovarium.

Tuba fallopi adalah penghubung ovarium dengan uterus dan bermuara ke


dalam rongga uterus, sehingga terjadi hubungan yang langsung dari rongga
peritoneal dengan rongga uterus.

Uterus terletak di tengah-tengah panggul dan secara struktur dibagi


menjadi badan atau korpus, dan serviks. Lapisan dalam, endometrium, terdiri
dari permukaan epitelium, kelenjar, dan jaringan ikat (stroma). Endometrium
dilepaskan selama menstruasi. Pada bagian terbawah dari korpus terdapat os
internal dari serviks. Dengan demikian, kanalis servikalis merupakan
penghubung antara rongga korpus uteri, melalui os internal, dengan vagina.

3
Vagina dimulai dari serviks uteri sampai ke introitus pada vestibulum,
yang merupakan batas antara struktur genitalia interna dan eksterna. Dengan
demikian, ada hubungan langsung antara bagian luar tubuh dengan rongga
peritoneal melalui struktur sistem reproduksi. Organ-organ pelvis interna
dapat dipalpasi melalui dinding tipis vagina bagian atas, dan akses
pembedahan ke rongga peritoneal dapat dicapai melalui dinding vagina di
belakang serviks. Mons pubis meliputi permukaan anterior dari simfisis pubis
dan berlanjut kebawah dan menyatu dengan labia mayora. Di sebelah medial
dari labia mayora terdapat labia minora. Labia minora menyatu dan
bergabung di inferior membentuk fourchette dan di superior membentuk
prepusium dari klitoris. Klitoris adalah jaringan erektil yang kecil terletak di
atas labia minora.

2.1.2 Fungsi Sistem Reproduksi Pada Wanita Dewasa

1. Fungsi Sistem Reproduksi Wanita

Fungsi-fungsi sistem reproduksi wanita berlangsung melalui interaksi


hormonal yang kompleks, dan bertujuan untuk menghasilkan ovum yang
matang menurut siklus dan mempersiapkan serta memelihara lingkungan bagi
konsepsi dan gestasi.

A. Fungsi Hormonal

Perubahan hormonal siklik mengawali dan mengatur fungsi ovarium dan


perubahan endometrium. Siklus menstruasi yang berlangsung secara teratur
tiap bulan, tergantung kepada serangkaian langkah-langkah siklik yang
terkoordinir dengan baik, yang melibatkan sekresi hormon pada berbagai
tingkat dalam sistem terintegrasi. Pusat pengendalian hormon dari sistem
reproduksi adalah hipotalamus. Dua gonadotropic hormones-releasing
hormone dari hipotalamus (GnRH), yaitu follicle-stimulating hormone-
releasing hormone (FSHRH) dan luteinizing hormone-releasing hormone
(LHRH). Kedua hormon itu masing-masing merangsang hipofisis anterior
untuk mensekresi follicle-stimulating hormone (FSH) dan luteinizing
hormone (LH). Rangkaian peristiwa akan diawali oleh sekresi FSH dan LH

4
yang menyebabkan produksi estrogen dan progesteron dari ovarium dengan
akibat perubahan fisiologik pada uterus. Estrogen dan progesteron, pada
gilirannya juga mempengaruhi produksi gonadotropic-releasing hormone
spesifik, sebagai mekanisme umpan balik yang mengatur kadar hormon
gonadotropik. Langkah-langkah ini telah dipelajari dengan seksama melalui
pengukuran kadar FSH dan LH dalam darah dan kemih setiap hari. Siklus
ovarium, siklus endometrium, dan perubahan dalam kadar hormon pada satu
siklus menstruasi.

B. Siklus Menstruasi Normal

Menarke, yaitu menstruasi pertama, biasanya terjadi antara usia 12-13


tahun, yaitu dalam rentang usia 10-16 tahun. Dalam keadaan normal, menarke
diawali dengan periode pematangan yang dapat memakan waktu 2 tahu.
Selama selang waktu ini, ada serangkaian peristiwa yang terjadi, berupa
perkembangan payudara, pertumbuhan rambut pubis dan aksila, dan
pertumbuhan badan yang cepat. Umumnya, jarak siklus berkisar dai 15
sampai 45 hari, dengan rata-rata 4-6 hari. Darah menstruasi biasanya tidak
membeku. Jumlah kehilangan darah tiap siklus berkisar dari 60-80 ml.

Siklus ovarium

Fase folikular. Siklus diawali dengan hari pertama menstruasi, atau


terlepasnya endometrium. FSH merangsang pertumbuhan beberapa folikel
primordial dalam ovarium. Umumnya hanya satu yang terus berkembang dan
menjadi folikel degraaf dan yang lain nya berdegenerasi.folikel terdiri dari
sebuah ovum dan dua lapisan sel yang mengelilinginya.lapisan dalam yaitu
sel sel granulosa mensintesis progesterone yang di sekresi ke dalam cairan
folikular selama paruh pertama siklus menstruasi,dan bekerja sebagai
prikursor pada sintesis ekstrogen oleh lapisan sel teka interna yang
mengelilinginya.ekstrogen disentesis dalam sel sel lutein pada teka
interna.jalan diosintesis ekstrogen berlangsung dari progesterone dan
proenenolon melalaui 17 hidoksilasi turunan dari
androstenedion,testoteron,dan ekstradiol.kandungan enzim aromatisasi yang

5
tinggi pada sel-sel ini mempercepat perubahan androgen menjadi
ekstrogen.didalam folikel,oosit primer mulai menjalani proses pemotongan
nya.pada waktu yang sama,folikel yang sedang berkembang mengsekresi
ekstrogen lebih banyak ke dalam sistem ini.kadar ekstrogen yang meningkat
menyebabkan pelepasan LHRH melalui mekanisme umpan balik positif.

Fase luteal. LH merangsang ovulasi dari oosit yang matang. Tepat


sebelum ovulasi oosit primer selesai menjalani pembelahan neiosis
pertamanya. Kadar estrogen yang tinggi kini menghambat produksi PSH.
Kemuadian kadar estrogen mulai menurun. Setelah oosit terlepas dari folikel
degraaf, lapisan granulosa menjadi banyak mengandung pembuluh darah dan
sangat terluteinisasi, berubah menjadi korpus luteum yang berwarna kuning
pada ovarium. Korpus luteum terus mensekresi sejumlah kecil estrogen dan
progesterone yang makin lama makin tinggi.

Siklus endometrium

Fase proliferasi. Segera setelah menstruasi, endometrium dalam


keadaan tipis dan dalam stadium istirahat. Stadium ini berlangsung kira-kira 5
hari. Kadar estrogen yang meningkat dari folikel yang berkembang akan
merangsang stroma endometrium untuk mulai tumbuh dan menebal, kelenjar-
kelenjar menjadi hipertrofi dan berproliferasi, dan pembuluh darah menjadi
banyak sekali. Kelenjar-kelenjar dan stroma berkembang sama cepatnya.
Kelenjar makin bertambah panjang tetapi tetap lurus dan berbentuk tubulus.
Epitel kelenjar berbentuk toraks dengan sitoplasma eosinofilik yang seragam
dengan inti ditengah. Stroma cukup padat pada lapisan basal tetapi makin ke
permukaan semakin longgar. Pembuluh darah akan mulai berbentuk spiral
dan lebih kecil. Lamanya fase proliperasi sangat berbeda-beda pada tiap
orang, dan berakhir pada saat terjadi ovulasi.

Fase sekresi. Setelah ovulasi, dibawah pengaruh progesterone yang


meningkat dan terus diproduksinya estrogen oleh korpuus luteum, maka
endometrium menebal dan menjadi seperti beledu. Kelenjar menjadi lebih
besar dan berkelok-kelok, dan epitel kelenjar menjadi berlipat-lipat, sehingga

6
memberikan gambaran seperti “gigi gergaji”. Inti sel bergerak kebawah, dan
permukaan epitel tampak kusut. Stroma menjadi edemakosa. Terjadi pula
infiltrasi leukosit yang banyak, dan pembulh darah menjadi makin berbentuk
spiral dan melebar. Lamanya fase seksresi sama pada setiap wanita yaitu 14
kurang lebih 2 hari.

Fase menstruasi. Korpus luteum berfungsi sampai kira-kira hari ke-23


atau 24 pada siklus 28 hari, dan kemudian mulai beregresi. Akibatnya terjadi
penurunan yang tajam dari progesterone dan estrogen sehingga
menghilangkan perangsangan pada endometrium. Perubahan eskemik terjadi
pada arteriola dan diikuti dengan menstrusasi.

2.1.3 Gangguan Sistem Reproduksi Pada Wanita Dewasa


1. Servisitis
Servisitis adalah inflamasi dari serviks yang dikaitkan dengan adanya
organisme patologik atau infeksi pada masa nifas. Keluarnya cairan
mukopurulen dari os bisa terlihat pada beberapa infeksi. Gejala-gejala
servisitis adalah keluarnya cairan vagina yang purulen atau perdarahan
intermenstrual. Pengobatan harus diberikan sesuai dengan etiologinya.
Keadaan lain yang dapat menyebabkan serviks tampak merah dengan
cairan mukus adalah serviks ektopik. Pada keadaan ini terdapat epitel
kolumnar endoserviks pada eksoserviks (tampak dari luar), yang
menghasilkan cairan mukoid tetapi tidak membutuhkan pengobatan.
2. Leiomioma
Leiomioma adalah tumor jinak uterus yang berbatas tegas. Nama lainnya
adalah fibroid, mioma, fibroma, dan fibromioma. Kira-kira 20-25% dari
wanita di atas usia 35 tahun mempunyai leiomioma uteri. Umumnya tumor
terdiri dari otot polos dan sebagian jaringan fibrosa.
Leiomioma diklasifikasikan menurut lokasinya. Tumor intramural terletak
didalam dinding otot uterus dan dapat merusak bentuk rongga uterus, atau
dapat pula menonjol pada permukaan luar. Tumor subserosa terletak tepat di
bawah lapisan serosa dan menonjol keluar dari permukaan uterus. Tumor
dapat bertangkai dan meluas ke dalam rongga panggul atau rongga abdomen.

7
Tumor submukosa terletak tepat di bawah lapisan endometrium. Tumor-
tumor ini juga dapat bertangkai dan dapat menonjol ke dalam rongga uterus,
melalui ostium serviks ke dalam vagina, atau keluar melalui lubang vagina.
Pada kasus yang terakhir, dapat terjadi komplikasi infeksi.
Ukuran dari leiomioma sangat bervariasi, dan dapat begitu besar sehingga
memenuhi rongga panggul dan abdomen. Tumor ini dapat berdegenerasi
karena perubahan dalam aliran darah yang menuju tumor akibat
pertumbuhan, kehamilan, atau atrofi uterus pada menopause. Torsi atau
terputarnya tumor leiomioma bertangkai dapat juga terjadi.
Leiomioma kadang-kadang dapat dipalpasi pada abdomen, tumor ini
paling sering didiagnosis jika teraba massa pada pemeriksaan panggul
bimanual. Kebanyakan dari leiomioma tidak menimbulkan gejala, sehingga
tidak memerlukan penanganan. Tetapi masalah dapat timbul jika terjadi
perdarahan uterus abnormal yang berlebihan sehingga mengakibatkan
anemia, penekanan pada kandung kemih yang menyebabkan sering berkemih
dan urgensi, serta potensial untuk terjadinya sistitis, penekanan pada rektum
menyebabkan konstipasi, dan nyeri jika tumor berdegenerasi atau jika terjadi
torsi dari leiomoima bertangkal.
Pada wanita yang simtomatik atau mendekati usia menopause, atau yang
memiliki tumor dengan ukuran kecil, tidak diperlukan tindakan khusus.
Pemeriksaan teratur harus dilakukan untuk memantau perubahan. Selama
masa usia reproduksi, dapat dilakukam miomektomi jika timbul gejala-gejala
yang bermakna yang mengakibatkan infertilitas akibat leiomioma. Pada
beberapa kasus, mungkin perlu dilakukan histerektomi, contohnya jika terjadi
perdarahan uterus abnormal yang nyata, khususnya pada wanita
perimenopause.
3. Endometrium
Kanker endometrium dapat terjadi setiap saat dalam usia dewasa.
Hiperplasia adenomatosa endometrium menyatakan adanya aktivitas yang
meningakat atau fase lebih lanjut dari hiperplasia endometrioum. Pada
keadaan yang sangat berat dapat berubah menjadi kanker pra invasif, kadang-
kadang disebut sebagai karsinoma endometrium in situ. Insidens tertinggi

8
terjadi pada usia 45-50 tahun, atau kira-kira 10 tahun lebih muda daripada
karsinoma endometrium.
Adenokarsinoma endometrium dapat bermula sebagai lesi diskret(di satu
tempat), misalnya polip,atau pada beberapa tempat yang berbeda.kebanyakan
karsinoma berkembang dari hyperplasia prakanker.kemudian menyebar
sekeliling endometrium,dan jika tidak ditangani,dapat sampai ke
miometrium.semakin jauh,kelenjar limfe regional juga akan terkena,dan
ovarium merupakan tempat metastasis utamanya.keadaan yang lebih lanjut
akan ,melibatkan serviks,membuka rute baru untuk penyebaran lebih
jauh.pada keadaan lanjut dapat terjadi penyebaran hematogen ke paru dan
hati.perforasi spontan dari uterus dapat menyebarkan benih sel tumor ke
dalam rongga panggul dan abdomen.perdarahan adalah gejala utama dari
karsinoma endometrium dan menunjukan adanya ulserasi.wanita sering kali
mengalami keluarnyacairan serosa sebelum terjadi perdarahan yang
jelas.nyeri merupakan gejala yang lanjut dan menunjukan adanya penyebaran
penyakit.
Diagnosis dibuat berdasarkan pemeriksaan jaringan biopsy kuretase
rongga endometrium.penanganan meliputi histerektomi abdominal
totalis,salpingo-oofektromi bilateral,dan mungkin juga diperlukan seksi
kelenjar limfe,tergantung pada stadium penyakit.prognosis tergantung pada
beratnya penyakit pada saat penanganan.
4. Karsinoma Payudara
Kanker kedua yang paling sering terjadi pada wanita adalah karsinoma
payudara(setelah kanker paru).karsinoma payudara merupakan 27% dari
kanker pada wanita dan menyebalkan 20% kematian akibat kanker.sekitar 1
dari 11 wanita akan mengalami kanker payudara selama kehidupannya.kanker
payudara kebanyakan menyerang kelompok usia 40-70 tahun,tetapi resiko
terus meningkat dengan tajam dengan makin bertambahnya usia .karsinoma
ini jarang terjadi pada usia dibawah 30 tahun:3% terjadi selama
kehamilan;99% dari kanker payudara terjadi pada wanita.

9
Sebab-sebab keganasan pada payudara masih belum jelas ,tetapi
virus,faktor lingkungan,faktor hormonal,dan faktor familial semuannya
berkaitan dengan risiko terjadinnya tumor.
Kanker payudara berasal dari jaringan epitel,dan paling sering terjadi
pada sistem duktal.mula-mula terjadi hyperplasia sel-sel dengan
perkembangan sel-sel atipik.sel-sel ini akan berlanjut menjadi karsinoma
insitu dan menginvasi stroma.kanker membutuhkan waktu 7 tahun untuk
bertumbuh dari sebuah sel tunggal sampai menjadi massa yang cukup besar
untuk dapat teraba(kira-kira berdiameter 1 cm).

2.2 Sistem Reproduksi Pada Pria Dewasa

2.2.1 Anatomi dan Fisiologi Sistem Reproduksi Pria Dewasa

Struktur reproduksi pria terdiri dari penis, testis (jamak, testes) dalam
kantong skrotum, sistem duktus yang terdiri dari epididimis, vas deferens,
duktus ejakulatorius, dan uretra; dan glandula asesoria yang terdiri dari
vesikula seminalis, kelenjar prostat, dan kelenjar bulbouretralis.

Testes bagian dalam terbagi atas lobulus yang terdiri dari tubulus
seminiferus, sel-sel sertoli, dan sel-sel leydig. Produksi sperma, atau
spermatogenesis, terjadi pada tubulus seminiferus. Sel-sel leydig mensekresi
testosteron. Pada bagian posterior tiap-tiap testis, terdapat duktus melingkar
yang disebut epididimis. Bagian kepalanya berhubungan dengan duktus
seminiferus (duktus untuk aliran ke luar) dari testis, dan bagian ekornya terus
melanjut ke vas deferens. Vas deferens adalah duktus ekskretorius testis yang
membentang hingga ke duktus vesikula seminalis, kemudian bergabung
membentuk duktus ejakulatorius. Duktus ejakulatorius selanjutnya bergabung
dengan uretra, yang merupakan saluran keluar bersama baik untuk sperma
maupun kemih. Kelenjar asesoria juga mempunyai hubungan dengan sistem
duktus. Prostat mengelilingi leher kandung kemih dan uretra bagian atas.
Saluran-saluran kelenjar bermuara pada uretra. Kelenjar bulbouretralis
(kelenjar cowper) terletak dekat meatus uretra. Penis terdiri dari 3 massa
jaringan erektil berbentuk silinder memanjang yang memberi bentuk pada

10
penis. Lapisan dalamnya adalah korpus spongiosum yang membungkus
uretra, dan dua massa paralel dibagian luarnya, yaitu korpus kavernosum.
Ujung distal penis, dikenal sebagai glans, ditutupi oleh prepusium (kulup).
Prepusium dapat dilepas dengan pembedahan (sirkumsisi, sunat).

2.2.2 Fungsi Sistem Reproduksi Pada Pria Dewasa

Organ reproduksi pria tidak terpisah dari saluran uretra dan sejajar dengan
kelamin luar, terletak di bagian ginjal, membentuk kelenjar reproduksi berisi
sel benih, dan membentuk struktur sekelilingnya. Organ reproduksi (traktus
genitalis) berhubungan dengan traktus urinarius tetapi tidak bersambung.
Sebagian besar organ reproduksi laki-laki terdiri dari:

a. Kelenjar: testis, vesika seminalis, kelenjar prostat, kelenjar


bulboretralis.
b. Duktus: epididimis, duktus seminalis, uretra.
c. Bangun penyambung: skrotum, fenikulus spermatikus, penis.

1) Testis

Testis merupakan 2 buah organ glandula yang memproduksi


semen, terdapat di dalam skrotum dan digantung oleh fenikulus
spermatikus. Pada janin, testis terdapat dalam kavum abdominalisdi
belakang peritoneum. Testis merupakan tempat terbentuknya spermatozoa
dan hormone laki-laki, terdiri dari belahan-belahan disebut lobules testis.

Testis menghasilkan hormone testosterone yang menimbulkan sifat


kejantanan setelah masa pubertas, di samping itu FSH dan LH.

2) Vesika seminalis

Vesika seminalis merupakan dua ruangan di antara fundus vesika


urinaria dan rectum, masing-masing ruangan berbentuk pyramid.
Permukaan anterior berhuubungan dengan fundus vesika urinaria.
Permukaan posterior terletak di atas rectum yang dipisahkan oleh fasia
rektovesikalis.

11
3) Glandula prostate

Kelenjar prostat berfungsi mengeluarkan caian alkali yang encer


seperti susu yang mengandung asam sitrat yang berguna untuk melindungi
spermatozoa terhadap tekanan pada uretra.

4) Kelenjar bulbouretralis

Kelenjar ini terdapat di belakang lateral pars membranasea uretra,


di antara kedua lapisan diafragma urogenitalis dan di sebelah bawah
kelenjar prostat. Bentuknya bundar, kecil, dan warnanya kuning,
panjangnya 2,5 cm. fungsinya hampir sama dengan kelenjar prostat.

5) Epididymis

Epididymis adalah saluran halus yang panjangnya kira-kira 6 cm,


terletak di sepanjang atas tepid an belakang testis.

6) Duktus differens

Duktus differens adalah duktus ekskretorius dari testis, merupakan


lanjutan dari kanalis epididymis, panjangnya 50-60 cm . mulai dari bagian
bawah kasuda, epididymis berbelit-belit, secara berangsunr-angsur naik
sepanjang tepi posterior testis dan sisi medialis bagian fenikulus
spermatikus. Melalui cincin kanalis inguinalis masuk ke fenikulus
spermatika, membelok sepanjang sisi lateral arteri epigastrika kemudian
menjurus ke belakang agak turun ke fosa illiaka eksterna dan mencapai
kavum pelvis.

7) Uretra

Uretra menupakan saluran kemih dan saluran ejakulasi pada pria.


Pengeluaran urine tidak bersamaan dengan ejakulasi karena diatur oleh
kegiatan kontraksi prostat.

8) Skrotum

12
Skrotum merupakan sepasang kantong yang menggantung di dasar
pelvis. Di depan skrotum tedapat penis dan di belakang terdapat anus.

9) Fenikulus spermatikus

Fenikulus merupakan bangun penyambung yang berisi duktus


seminalis, pembuluh limfe, dan serabut saraf. Fenikulus spermatikus
memanjang dari abdominalis inguinalis dan tersusun konvergen ke bagian
belakang testis, melewati cincin subkutan dan turun hampir vertical ke
skrotum.

10) Penis

Penis terletak menggantung di depan skrotum. Bagian ujung


disebut glans penis, bagian tengah korpus penis, dan bagian pangkal radiks
penis. Kulit pembungkus amat tipis tidak berhubungan dengan bagian
permukaan dalam dari organ dan tidak mempunyai jaringan adiposa. Kulit
ini berhubungan dengan pelvis, skrotum dan perineum.

(Syaifuddin, 2011)

2.2.3 Gangguan Sistem Reproduksi Pada Pria Dewasa

1. Prostatitis
Prostatitis adalah peradangan prostat. Dapat bersifat akut maupun
kronik, dan sebabnya dapat berupa bakterial atau non-bakterial.
Prostatitis bakterial biasanya disebabkan oleh escherichia coli dan
kadang-kadang oleh enterokok. Infeksi dapat terjadi karena organisme
naik ke atas berupa melalui uretra, refluks kemih dari kandung kemih yang
terinfeksi, atau penyebaran langsung melalui aliran limfe atau darah.
Prostatitis bakterial akut menyebabkan demam, menggigil, nyeri
pada pinggang bawah, nyeri perineum, disuria, dan sepasme uretra. Pada
pemeriksaan rektral, prostat teraba nyeri, membengkak, hangat, dan keras.
Resiko bakteremia merupakan kontra indikasi pemijatan prostat sewaktu
melakukan pemeriksaan. Karena biasanya selalu disertai sistitis,

13
pembiakan sipesimen kemih sering kalo dapat mengidentifikasi
organismenya.
Pengobatan prostatitis bakterial adalah dengan pemberian agen-
agen antibakterial spesifik untuk organisme penyebab. Terapi penyokong
berupa tirah baring, hidrasi, analgesik, dan antipiretik prostatektomi
transuretral dapat dilakukan jika terapi dengan obat-obatan tidak berhasil.
Prostatitis bakterialbakterial kronik adalah sebab utama dari infeksi
saluran kemih yang sering kambuh pada pria. Gejala-gejalanya adalah
disuria, kebelet, sering berkemih, dan nokturia. Nyeri dapat terjadi
dipunggung bawah, daerah perineum, penis, struktum, dan suprapublik.
Pemeriksaan retral untuk meraba prostat mungkin tidak menghasilkan apa-
apa. Seringkali orang yang bersangkutan tidak menunjukkan gejala sampai
terjadi bakteriuria yang bermakna. Acapkali terjadi sistitis simtomatik
yang rekuren. Jika diobati dengan antibiotik, gejala-gejala ini merada dan
biakan kemih menjadi negatif. Tetapi organisme akan menetap di dalam
prostat dan sewaktu-waktu akan menginfeksi saluran kemih kembali.
Prostatitis non-bakterial menimbulkan gejala-gejala yang sama
dengan protatitis kronik, tetapi ada infeksi saluran kemih dan tidak
ditemukan organisme penyebabnya. Kadang-kadang orang yang
bersangkutan akan menemukan benang-benang mukusdi dalam kemihnya.
Tidak ada pengobatan atau tindakan spesifik untuk keadaan ini.
2. Testes
Tumor testis merupakan 1% daru seluruh kanker pada pria 95%
dari tumor testis bersifatganas dan berasal dan dari sel-sel benih. Tumor
testis diklarifikasikan sebagai berikut seminoma teratoma, karsinoma
embrial, teratokarsinoma, dan kariokarnisoma (makin ke belakang makin
ganas). Usia terbanyak dari pasien kanker testis adalah 20 sampai 35
tahun. Massa testis pada pria di atas usia 50 tahun paling sering
disebabkan oleh limforma
Asal dari massa pada skrotum harus ditentukan karena kebanyakan
dari massa yang tumbuh ke dalam atau berasal dari testis bersifat ganas,
sedangkan massa ekstratestikular biasanya jinak. Risiko utama untuk

14
keganasan tetsis adalah riwayat kriptorkidisme, meskipun testis telah
diturunkan secara pembedahan. Testis kontralateral juga mempunyai risiko
yang lebih besar untuk mengalami perubahan-perubahan ke arah
keganasan.
Tanda yang paling sering adalah adanya massa pada skrotum yang
semakin bertambah besar dan kadang-kadang menimbulkan nyeri.
Tindakan diagnosis utama adalah eksplorasi dengan pembedahan dan
identifikasi sel-sel tumor secara mikrokospik.
Penanganannya adalah orkiodektomi inguinal. Diseksi
(pembuangan) kelenjar limfe peritoneal juga biasa dilakukan jika tumor
bersifat teratoma, teratokarsinoma, atau karsinoma embrional, diikuti
dengan pemberian kemoterapi kombinasi. Seminoma ditangani dengan
orkidektomi yang diikuti pemnyinaran kelenjar limfe abdomen,
mediastinum, dan supraklavikular. Kemoterapi juga diberikan untuk
mengendalikan tumor metastasis.
Prognosis kelangsungan hidup 5 tahun berkisar dari hampir 0 untuk
kariokarsinoma yang sangat ganas sampai dengan 80% untuk seminoma
yang terbatas pada testis.
Sel-sel tumor non-germ (bukan benih) berkembang dari sel-sel
Leydig dan sel-sel Sertoli kebanyakan bersifat jinak tetapi pada 10% kasus
dapat menjadi ganas dan bermetastastis melalui saluran limfe. Sel-sel ini
dapat mensekresi hormon-hormon steroid, menyebabkan femininasi atau
virilisasi, tergantung dari hormon yang disekresi. Ginekomasta terjadi pada
sekitar 30% pria dengan tumor-tumor sel non-germ.
(Price dan Wilson, 1995)

15
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan

Makhluk hidup memiliki ciri diantaranya dapat berkembang biak, begitu


juga dengan manusia. Manusia hanya mengalami reproduksi secara kawin
(seksual/ generatif). Laki-laki dan perempuan memiliki sitem reproduksi yang
berbeda sesuai dengan fungsinya.

Gangguan perkembangan reproduksi pada wanita dewasa diantaranya


servisitis, leiomioma, endometrium, dan karsinoma payudara. Dan gangguan
perkembangan reproduksi pada pria dewasa diantaranya Prostatitis dan testes.

Untuk itu memiliki kelainan atau gangguan pada salah satu sistem
reproduksi dapat berakibat buruk pada kelangsungan hidup dan keturunan.

3.2 Saran

Pengetahuan mengenai seks dan seksualitas hendaknya dimiliki oleh


semua orang. Dengan pengetahuan yang dimiliki hendaknya orang tersebut
akan dapat menjaga alat reproduksinya untuk tidak digunakan secara bebas
tanpa mengetahui dampaknya. Pengetahuan yang diberikan harus mudah
dipahami, tepat sasaran, dan tidak menyesatkan. Dengan demikian orang
tersebut akan dapat menghadapi rangsangan dari luar dengan cara yang sehat,
matang dan bertanggung jawab.

16
DAFTAR PUSTAKA

Heffner L.J dan Schust D.J. At a Glance Sistem Reproduksi Edisi Kedua. Jakarta:
Erlangga

Price S.A dan Wilson L.N. 1995. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses
Penyakit Edisi 4. Jakarta: EGC

Syaifuddin. 2011. Anatomi Fisiologi: Kurikulum Berbasis Kompetensi Untuk


Keperawatan dan Kebidanan Edisi 4. Jakarta: EGC

https://www.academia.edu/8978838/BAB_I_gangguan_sistem_reproduksi?auto=d
ownload (diakses tanggal 8 Mei 2017, Jam 22:03)

17