Anda di halaman 1dari 15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Computed Radiography


Computed Radiography (CR) merupakan bagian dari sistem radiografi
diagnostik digital. Tujuan utama pencitraan diagnostik adalah untuk
memperoleh kualitas gambar yang optimal. Citra yang tidak memiliki nilai
diagnostik karena rendahnya kualitas citra sehingga perlu dilakukan
pengulangan disebut citra yang ditolak, pengulangan film atau reject film
(Greene,2001).

Salah satu kelebihan citra digital sistem CR adalah citra soft copy yang

dapat dimanipulasi terang gelap untuk menghasilkan kontras citra kualitas

tinggi. Karakteristik PSP yang memiliki rentang sensitifitas terhadap

paparan sinar-X yang lebar dan aplikasi perangkat lunak memungkinkan

penyesuaian hasil citra terhadap kondisi eksposi. Dengan kelebihan tersebut

memungkinkan penggunaan kondisi eksposi yang berlebih (over exposure),

sehingga dosis radiasi yang diterima pasien menjadi lebih tinggi daripada

sistem Radiografi Konvensional. Penelitian lebih lanjut meyebutkan bahwa

dengan dosis 1/10 lebih rendah dari dosis pemeriksaan sistem Radiografi

Konvensional didapatkan hasil radiografi dengan kualitas yang sama.

Pengurangan dosis pemeriksaan CR dapat secara langsung dan secara tidak

langsung, karena tidak ada pengulangan pemeriksaan akibat penolakan hasil

citra, pengurangan dosis pada beberapa pemeriksaan dapat menghasilkan

citra radiografi yang dapat memberikan informasi diagnosa. (Seibert, J.A,

2006).
2.2 Film Radiography

Film dalam radiografi secara umum mempunyai fungsi sebagai

pencatat bayangan sehingga gambaran yang kita inginkan bisa dapat dilihat

melalui film. Bahan film radiografi yang paling utama adalah emulsi.

Emulsi film radiografi terbuat dari senyawa yang bernama perak bromide

atau dengan rumus senyawa kimianya adalah AgBr. Ukuran film yang

umum digunakan adalah berukuran 18×24 cm, 24×30 cm, 30×40 cm, dan

35×35 cm (Nova Rahman, 2009).

Film sinar-x terbagi menjadi dua dalam jumlah emulsinya yaitu:

1. Film Single Emulsi

Jenis single emulsi atau emulsi satu lapis yang biasa digunakan untuk

subtraksi dan duplikasi. Film dengan jenis single emulsi disusun dengan

lapisan super coat ,lapisan emulsi, substratum dan alas film

(hauss,2000).

Gambar 2.1 Film single emulsi (http://ilmuradiologi.blogspot.com)


2. Film Double Emulsi

Jenis double emulsi atau emulsi bolak-balik yang biasa

digunakan untuk film radiografi. Film dengan jenis emulsi bolak-

balik terdiri dari susunan lapisan supercoat, lapisan emulsi,

substratum, lapisan emulsi dan supercoat (Hauss,2000).

Gambar 2.2 Film double emulsi (Bushong, 2008)

2.3 Anatomi Thorax

Thorax merupakan rongga yang dibatasi dan dikelilingi oleh dinding

Thorax yang dibentuk oleh tulang, kartilage, dan otot. Didalam rongga

Thorax terdapat dua ruangan yaitu paru-paru dan mediastinum serta terjadi

proses sistem pernapasan dan peredaran darah.Organ yang terletak dalam

rongga dada yaitu; esophagus, paru paru, hepar, jantung, pembuluh darah

dan saluran limfe (Ombregt, 2013).

Dinding Thorax merupakan sistem kompleks dari sejumlah struktur

tulang, tulang rawan, ligamen, otot dan tendon.Bagian superfisial dari

dinding Thorax adalah struktur tulang dan muskulus-tendon yang


menghubungkan tungkai atas dengan batang tubuh. Bagian kranial dibatasi

oleh tulang vertebra Thorax pertama, tulang kosta pertama, klavikula dan

tepi atas manubrium. Batas inferior dipisahkan terhadap abdomen oleh

diafragma. Suatu kurungan Thorax terdiri dari 12 pasang tulang kosta.

Setiap kosta terdiri dari kepala, leher, dan badan. Pada bagian kepala

memiliki suatu faset untuk terhubung dengan sendi kostovertebra.Kecuali

kosta satu dan dua, semuanya mempunyai cekungan untuk perjalanan serat

saraf dan pembuluh darah pada tepi bawah tulang(Ombregt, 2013). Tulang

kosta berfungsi melindungi organ vital rongga Thorax seperti jantung, paru-

paru, hati dan Lien(Assi & Nazal, 2012)

Di dalam rongga Thorax juga terdapat beberapa sistem diantaranya

yaitu sistem pernafasan dan peredaran darah. Organ pernafasan yang

terletak dalam rongga Thorax yaitu esofagus dan paru, sedangkan pada

sistem peredaran darah yaitu jantung, pembuluh darah dan saluran linfa.

Pembuluh darah pada sistem peredaran darah terdiri dari arteri yang

membawa darah dari jantung, vena yang membawa darah ke jantung dan

kapiler yang merupakan jalan lalu lintas makanan dan bahan buangan

(Pearce, 2003)
Gambar 2.3 (A) Cavum Thorax Anterior (B) Dinding Thorax Bagian

Posterior (Snell, 2012)

2.4 Radiography Thorax


Foto thorax atau sering disebut chest X-ray merupakan suatu

proyeksi radiografi dari thorax untuk mendiagnosis kondisi-kondisi yang

mempengaruhi thorax, isi dan struktur-struktur di dekatnya. Foto thorax

menggunakan radiasi terionisasi dalam bentuk sinar-X. Foto thorax

digunakan untuk mendiagnosis banyak kondisi yang melibatkan dinding

thorax, tulang thorax dan struktur yang berada di dalam rongga Thorax

termasuk paru-paru, jantung dan saluran-saluran yang besar (Pearce, 2009)

Foto thorax digunakan untuk mendiagnosis banyak kondisi yang

melibatkan dinding thorax, tulang thorax dan struktur yang berada di dalam

kavitas thorax termasuk paru-paru, jantung dan saluran-saluran yang besar.


Pneumonia dan gagal jantung kongestif sering terdiagnosis oleh foto thorax.

foto thorax sering digunakan untuk skrining penyakit paru yang terkait

dengan pekerjaan di industri-industri seperti pertambangan dimana para

pekerja terpapar oleh debu (Anonim, 2016).

Gambar 2.4 (A) Gambaran Radiography Thorax posisi AP (B) Gambaran

Radiography posisi Lateral.

Gambaran yang berbeda dari thorax dapat diperoleh dengan merubah

orientasi relatif tubuh dan arah pancaran sinar-X. Gambaran yang paling

umum digunakan adalah posterior-anterior (PA) atau anterior-posterior

(AP).

1. Posterior-anterior (PA)

Pada posisi ini sumber sinar-X diposisikan sehingga sinar-X masuk

melalui posterior dari thorax dan keluar dari anterior dimana sinar-X

tersebut terdeteksi. Untuk mendapatkan gambaran ini, pasien

diposisikan menghadap bucky stand (kaset vertikal), kedua punggung


tangannya diletakkan di atas panggul dan siku di tekan ke depan atau

merangkul bucky (seperti gambar 2.8). Sumber radiasi diposisikan di

belakang pasien dengan jarak fokus film sejauh 150 cm, dan pancaran

sinar-X ditransmisikan ke pasien (WHO, 1990).

2. Anterior-posterior (AP)

Pada posisi AP sumber sinar X berkebalikan dengan PA. Posisi

AP lebih sulit diinterpretasi dibandingkan dengan posisi PA. Posisi ini

digunakan pada pasien yang tidak bisa bangun dari tempat tidur atau

pada bayi. Pada situasi seperti ini, pasien diposisikan setengah duduk

atau supine di atas meja pemeriksaan/brandcare, kedua lengan lurus

disamping tubuh, kaset di belakang tubuh dengan jarak fokus film

keobjek sebesar 100 cm (Widayati,2013). Thorax Pediatric

2.4.1 Thorax Pediatric

Pediatric Radiography merupakan teknik pemeriksaan

radiography untuk anak usia 0-12 tahun. Pemeriksaan ini tidak

berbeda jauh dengan pemeriksaan radiografi pada orang dewasa

hanya saja ada berapa hal yang berbeda seperti persiapan

pemeriksaan, alat fiksasi, faktor eksposi, dan lain- lain.

Salah satu kesulitan pada thorax pediatric yaitu diantaranya

karena sulitnya memperoleh foto dengan inspirasi yang baik dan

juga adanya perbedaan anatomi antara bayi anak dan dewasa (WHO,

1990: 81). Imobilisasi Pada pemeriksaan radiografi pada bayi atau

anak-anak harus dilakukan komunikasi yang baik dengan pasien.


Imobilisasi yang dilakukan diusahakan tidak menyakiti pasien,

aman serta mudah dilakukan. Seperti , Bantuan Orang Tua atau

Keluarga Untuk anak yang aktif dengan umur kisaran 2-7 tahun,

yang mana anak ini biasanya sangat agresif bila bertemu dengan

orang asing, perlu bantuan dari orang tua atau keluarga. Selain itu,

radiographer diharuskan dapat melakukan komunikasi yang baik

dengan orang tua si anak dan memastikan bahwa pemeriksaan yang

dilakukan tidak akan menyakiti sang anak. Jika memang terpaksa

dilakukan oleh sebab sang anak tidak mau dilakukan pemeriksaan

tersebut, sang anak harus dilakukan imobilisasi guna menjamin

kelancaran, keselamatan, dan menjamin anak tersebut merasa aman

selama pemeriksaan berlangsung.

Gambar 2.5 Posisi Pasien Thorax Pediatric posisi AP

(European Commission, 1996)


Gambar 2.6 Hasil foto rontgen pada pediatric (Arthur, 2003)

2.5 Rejct Analysis

Menurut Joel E. Gray (1983), program reject analisis adalah suatu

metode yang digunakan oleh instalasi radiologi untuk menentukan analisis

film yang ditolak, efektifitas biaya, konsistensi radiografer dan bahan dalam

menghasilkan radiograf yang berkualitas.

Tujuan utama dari program reject analisa adalah menekan jumlah

film yang ditolak (rejected) dan diulang (repeated). Sehingga dapat

membatasi terjadinya pengulangan dalam pembuatan radiograf sehingga

secara tidak langsung akan mengurangi dosis radiasi pada pasien dan dapat

menekan biaya serta bagi pihak radiologi dapat memastikan bahwa bahan-

bahan yang ada dapat digunakan secara efektif dan efisien.

2.5.1 Tujuan Reject analysis

1. Memastikan standar yang tinggi pada teknik radiografi dan

pemanfaatan film pada unit radiologi.


2. Memastikan peralatan radiografi dapat dimanfaatkan secara

konsisten dengan standar yang tinggi.

3. Memastikan bahwa bahan-bahan yang ada digunakan secara

efektif (cost efective way).

4. Menyediakan data untuk digunakan dalam menganalisis film

yang di reject dan faktor-faktor penyebabnya yang

membutuhkan perhatian.

5. Sebagai perencanaan awal dari Quality Control (QC Program).

2.5.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Reject analysis

1. Kesalahan penolakan film akibat kesalahan manusia (human

error) Kesalahan atau kekurangtelitian personal atau radiografer

dalam mengatur faktor eksposi sehingga gambaran yang

dihasilkan tidak memberikan informasi yang jelas untuk

menegakkan diagnosa. Gambar yang dihasilkan dapat menjadi

under expossure atau over expossure. Adapun under expossure

terjadi karena faktor eksposi yang diberikan kurang sehingga

gambaran menjadi putih akibat kurangnya kontras dan densitas.

Sedangkan over expossure terjadi karena faktor eksposi yang

diberikan terlalu banyak sehingga gambaran yang dihasilkan

menjadi terlalu gelap akibat kelebihan kontras dan densitas.

(Nova Rahman, 2009).

2. Kesalahan penolakan film akibat kesalahan peralatan (tools

error) Penyebab penolakan film akibat alat adalah akibat kurang

berfungsinya alat yang digunakan dalam radiologi, seperti


pesawat rontgen yang tidak stabil karena ada hambatan pada

tegangan. (Nova rahman, 2009).

3. Kesalahan penolakan film akibat pergerakan pasien (patient

error) Pergerakan pasien akan menyebabkan gambaran

radiografi menjadi kabur. Hal ini dapat terjadi karena pasien

yang tidak kooperatif, dapat juga terjadi karena pasien tidak

mengerti maksud dan jenis pemeriksaan karena tidak

mendapatkan instruksi yang jelas dari radiografer.

2.5.3 Prosedur Program Reject Analysis

Survey/data yang diperlukan dalam melakukan program reject

analisis maka, diperlukan survey terhadap :

1. Jumlah film yang belum terekspose di ruang processing termasuk

dalam kaset.

2. Jumlah film yang belum terekspose dimasing-masing ruang

pemeriksaan.

3. Tentukan jumlah film yang direject untuk masing-masing faktor

penyebab pengulangan dan penolakan radiograf.

4. Masing-masing ruang mencatat jumlah film yang digunakan dan

jumlah film yang ditolak serta faktor penyebab terjadinya reject.

5. Tim analisis melakukan pengumpulan data dari masing-masing

ruang seminggu sekali, film yang ditolak dihitung, disortir dan

dilakukan kategorisasi/pengelompokan menurut penyebab

terjadinya kerusakan.

6. Melakukan perhitungan dalam bentuk persentase.


2.5.4 Perhitungan Persentase Penolakan Radiografi

Keseluruhan presentase penolakan radiograf dapat dihitung

dengan cara menggunakan rumus (Watkinsons & Moores, 1984)

sebagai berikut :

1. Untuk reject dapat dirumuskan sebagai berikut :

Reject Rate : __________________ x 100 %

A+B+C

2. Untuk repeat dapat dirumuskan sebagai berikut :

Reject Rate : __________________ x 100 %

A+B+C

Keterangan :

A = Jumlah foto yang ditolak.

B = Jumlah foto yang diulang.

C = Jumlah foto yang baik.

Presentase penolakan film yang diperoleh adalah maksimal 10%

dari keseluruhan radiograf yang dihasilkan. Hal ini berarti bahwa dalam

setiap seratus radiograf yang dibuat, batas kerusakan yang terjadi adalah

maksimal sejumlah sepuluh radiograf.


2.6 Krieria Foto Thorax

Menurut (Kemenristekdikti Universitas Andalas, 2016) berikut merupakan

kriteria foto Thorax yang layak untuk di baca :

1. Identitas Foto yang akan dibaca harus mencantumkan identitas yang

lengkap sehingga jelas apakah foto yang dibaca memang milik pasien

tersebut.

2. Marker Foto yang akan di baca harus mencantumkan marker R (Right/

kanan) atau L (Left/ kiri).

3. Os scapula tidak superposisi dengan toraks Hal ini dapat tercapai dengan

posisi PA, tangan di punggung daerah pinggang dengan sendi bahu internal

rotasi.

4. Densitas cukup Densitas foto dikatakan cukup/ berkualitas jika corpus

vertebra di belakang jantung terlihat samar.

Gambar 2.7 Gambaran radiografi dengan densitas “lunak, densitas cukup

dan densitas “keras” (Kemenristekdikti Universitas Andalas, 2016)


5. Inspirasi cukup

Pada inspirasi yang tidak adekuat atau pada saat ekspirasi, jantung akan

terlihat lebar dan mendatar, corakan bronkovaskular akan terlihat ramai/

memadat karena terdorong oleh diafragma. Inpirasi dinyatakan cukup jika

iga 6 anterior atau iga 10 posterior terlihat komplit. Iga sisi anterior terlihat

berbentuk huruf V dan iga posterior terlihat menyerupai huruf A.

Gambar 2.8 Inspirasi cukup jika terlihat komplit iga 6 anterior atau

iga 10 posterior (Kemenristekdikti Universitas Andalas, 2016)

6. Simetris

Radiografi toraks dikatakan simetris jika terdapat jarak yang sama antara

prosesus spinosus dan sisi medial os clavikula kanan - kiri. Posisi asimetris

dapat mengakibatkan gambaran jantung mengalami rotasi dan densitas

paru sisi kanan kiri berbeda sehingga penilaian menjadi kurang valid

(Kemenristekdikti Universitas Andalas, 2016).


Gambar 2.9 Jarak yang sama antara prosesus spinosus dengan sisi

medial os clavikula bilateral (Kemenristekdikti Universitas Andalas, 2016)