Anda di halaman 1dari 12

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Dalam keadaan normal, sistem saraf secara terus menerus menerima ribuan
informasi dari organ saraf sensori, menyalurkan informasi melalui saluran-saluran
yang sesuai, dan mengintegrasi informasi menjadi respons yang bermakna.
Stimulus sensori mencapai organ sensori dan menghasilkan reaksi yang segera
atau informasi saat itu yang disimpan ke otak untuk digunakan masa depan.
Penerimaan, persepsi, dan reaksi adalah tiga komponen setiap pengalaman
sensori. Persepsi adalah fenomena yang kompleks yang dimulai dengan stimulus
dari reseptor sensorik, namun melibatkan pengolahan stimulus yang di dalam
otak. Menurut Guyton(1992), otak hanya membuang hal yang tidak penting atau
tidak relevan 99% dari input sensorik yang diterima. Otak menyeleksi lewat data
sensoris sebagai bagian dari fungsi integratifnya. Sinyal sensorik yang kuat
kemungkinan besar akan dikomunikasikan dalam otak. Otak juga akan
mengkomunikasikan sinyal sensorik yang berhubungan dengan rangsangan yang
berarti. Jika fungsi sensori berubah maka kemampuan seseorang untuk
berhubungan dan berfungsi di dalam lingkungan berubah secara drastis.
Banyak klien mencari pelayanan kesehatan karena telah mengalami
perubahan sensori sebelumnya. Sehingga presepsi sensori akan dibahas lebih
lanjut dalam makalah ini.

1.2. Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah yang didapat yaitu:
1. Apakah definisi sensori dan persepsi?
2. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi sensori?
3. Apa saja gangguan persepsi sesori?

1.3. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi sensori dan persepsi.

1
2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi sensori.
3. Untuk mengetahui gangguan persepsi sensori.

2
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Persepsi Sensori


Sensori adalah stimulus atau rangsang yang datang dari dalam maupun luar
tubuh. Stimulus tersebut masuk ke dalam tubuh melalui organ sensori (panca
indera) ditambah dengan dua sistem lain, yaitu sistem vestibular (sistem dalam
tubuh yang bertanggung jawab untuk menjaga keseimbangan, postur, dan
orientasi tubuh dalam ruangan) dan sistem propioseptif (kemampuan seseorang
untuk memahami keberadaan tubuhnya dalam ruang).
Persepsi adalah pengalaman tentang obyek, peristiwa, atau hubungan-
hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan
pesan. (Rahmat, 2005). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1989)
mengartikan persepsi sebagai tanggapan (penerimaan) langsung dari suatu
serapan/proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya. Jadi
persepsi sensori adalah kemampuan setiap individu untuk menafsirkan rangsang
atau stimulus yang datang dari dalam maupun luar tubuh.
2.2. Faktor yang Mempengaruhi Persepsi
Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi pada dasarnya dibagi menjadi 2
yaitu Faktor Internal dan Faktor Eksternal.
1. Faktor Internal yang mempengaruhi persepsi, yaitu faktor-faktor yang
terdapat dalam diri individu, yang mencakup beberapa hal antara lain :
a. Fisiologis. Informasi masuk melalui alat indera, selanjutnya informasi
yang diperoleh ini akan mempengaruhi dan melengkapi usaha untuk
memberikan arti terhadap lingkungan sekitarnya. Kapasitas indera
untuk mempersepsi pada tiap orang berbeda-beda sehingga
interpretasi terhadap lingkungan juga dapat berbeda.
b. Perhatian. Individu memerlukan sejumlah energi yang dikeluarkan
untuk memperhatikan atau memfokuskan pada bentuk fisik dan
fasilitas mental yang ada pada suatu obyek. Energi tiap orang berbeda-

3
beda sehingga perhatian seseorang terhadap obyek juga berbeda dan
hal ini akan mempengaruhi persepsi terhadap suatu obyek.
c. Minat. Persepsi terhadap suatu obyek bervariasi tergantung pada
seberapa banyak energi atau perceptual vigilance yang digerakkan
untuk mempersepsi. Perceptual vigilance merupakan kecenderungan
seseorang untuk memperhatikan tipe tertentu dari stimulus atau dapat
dikatakan sebagai minat.
d. Kebutuhan yang searah. Faktor ini dapat dilihat dari bagaimana
kuatnya seseorang individu mencari obyek-obyek atau pesan yang
dapat memberikan jawaban sesuai dengan dirinya.
e. Pengalaman dan ingatan. Pengalaman dapat dikatakan tergantung
pada ingatan dalam arti sejauh mana seseorang dapat mengingat
kejadian-kejadian lampau untuk mengetahui suatu rangsang dalam
pengertian luas.
f. Suasana hati. Keadaan emosi mempengaruhi perilaku seseorang,
mood ini menunjukkan bagaimana perasaan seseorang pada waktu
yang dapat mempengaruhi bagaimana seseorang dalam menerima,
bereaksi dan mengingat.
2. Faktor Eksternal yang mempengaruhi persepsi, merupakan karakteristik
dari linkungan dan obyek-obyek yang terlibat didalamnya. Elemen-
elemen tersebut dapat mengubah sudut pandang seseorang terhadap dunia
sekitarnya dan mempengaruhi bagaimana seseoarang merasakannya atau
menerimanya. Sementara itu faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi
persepsi adalah :
g. Ukuran dan penempatan dari obyek atau stimulus. Faktor ini
menyatakan bahwa semakin besarnya hubungan suatu obyek, maka
semakin mudah untuk dipahami. Bentuk ini akan mempengaruhi
persepsi individu dan dengan melihat bentuk ukuran suatu obyek
individu akan mudah untuk perhatian pada gilirannya membentuk
persepsi.

4
h. Warna dari obyek-obyek. Obyek-obyek yang mempunyai cahaya lebih
banyak, akan lebih mudah dipahami (to be perceived) dibandingkan
dengan yang sedikit.
i. Keunikan dan kekontrasan stimulus. Stimulus luar yang
penampilannya dengan latar belakang dan sekelilingnya yang sama
sekali di luar sangkaan individu yang lain akan banyak menarik
perhatian.
j. Intensitas dan kekuatan dari stimulus. Stimulus dari luar akan
memberi makna lebih bila lebih sering diperhatikan dibandingkan
dengan yang hanya sekali dilihat. Kekuatan dari stimulus merupakan
daya dari suatu obyek yang bisa mempengaruhi persepsi.
k. Motion atau gerakan. Individu akan banyak memberikan perhatian
terhadap obyek yang memberikan gerakan dalam jangkauan
pandangan dibandingkan obyek yang diam.
2.3. Faktor yang Mempengaruhi Fungsi Sensori
1. Usia
Usia sangat mempengaruhi stimulus sensori seseorang.
a. Bayi tidak mampu membedakan stimulus sensori karena jalur
sarafnya masih belum matang.
b. Penglihatan berubah selama usia dewasa mencakup presbiopi
(ketidakmampuan memfokuskan pada objek dekat) dan kebutuhan
kacamata baca (biasanya terjadi pada usia 40-50 tahun).
c. Pendengaran berubah, yang dimulai pada usia 30 tahun, termasuk
penurunan ketajaman pendengaran, kejelasan bicara, perbedaan pola
tinggi suara, dan ambang pendengaran. Tinitus sering kali menyertai
hilangnya pendengaran pendengaran sebagai efek samping obat.
Lansia mendengar suara pola rendah dengan baik tetapi mempunyai
kesulitan mendengar percakapan dengan latar belakang yang berisik.
d. Lansia mengalami penurunan lapang penglihatannya, peningkatan
sensivitas cahaya yang menyilaukan, kerusakan penglihatan pada

5
malam hari, penurunan akomodasi dan kedalaman persepsi dan
penurunan diskriminasi warna.
e. Suara bicara lansia bergetar, dan terdapat perpanjangan persepsi dan
reaksi bicara.
f. Perubahan gustatori (indra pengecap/rasa) dan olfaktori (penciuman)
mencakup penurunan dalam jumlah ujung saraf pengecap dalam
tahun terakhir dan penurunan serabut saraf olfaktori pada usia 50
tahun. Penurunan diskriminasi rasa dan sensivitas terhadap bau
adalah umum.
g. Propriosetif berubah setelah usia 60 tahun termasuk kesulitan dengan
keseimbangan, orientasi mengenai tempat, dan koordinasi.
h. Lansia mengalami perubahan taktil, termasuk penurunan sensitivitas
terhadap nyeri, tekanan, dan suhu.
2. Medikasi
Beberapa antibiotika (misal streptomisin, gentamisin) adalah oksitosik
dan secara permanen dapat merusak saraf pendengaran, kloramfenikol
dapat mengiritasi saraf optik. Obat-obat analgesik narkotik, sedate dan
antidepresan dapat mengubah persepsi stimulus.
3. Lingkungan
Stimulus lingkungan yang berlebihan (misal peralatan bising dan
percakapan staf di dalam unit perawatan intensif) dapat menghasilkan
beban sensori yang berlebihan, ditandai dengan kebingungan,
disorientasi, dan ketidakmampuan membuat keputusan. Stimulus
lingkungan yang terbatas (misal dengan isolasi) dapat mengarah kepada
deprivasi sensori. Kualitas lingkungan yang buruk (misal penerangan
yang buruk, lorong yang sempit, latar belakang yang bising) dapat
memperburuk kerusakan sensasi.
4. Tingkat kenyamanan
Nyeri dan kelelahan mengubah cara seseorang berpresepsi dan bereaksi
terhadap stimulus.
5. Penyakit yang ada sebelumnya

6
Penyakit vascular perifer dapat menyebabkan penurunan sensasi pada
ekstremitas dan kerusakan kognisi. Diabetes kronik dapat mengarah pada
penurunan penglihatan, kebutaan atau neuropati perifer. Stroke seing
menimbulkan kehilangan kemampuan bicara.Beberapa kerusakan
neurologi merusak fungsi motorik dan penerimaan sensori.
6. Merokok
Penggunaan tembakau yang kronik dapat menyebabkan atrofi ujung-
ujung saraf pengecap, mengurangi persepsi rasa.
7. Tingkat kebisingan
Pemaparan yang konstan pada tingkat kebisingan yang tinggi (misal pada
lokasi pekerjaan konstruksi) dapat menyebabkan kehilangan
pendengaran.
8. Intubasi endotrakea
Kehilangan kemampuan bicara sementara akibat pemasukan selang
endotrakea melalui mulut atau hidung ke dalam trakea.
2.4. Gangguan Persepsi ( Dispersepsi )
Dispersepsi adalah kesalahan atau gangguan persepsi. Penyebab: Gangguan
otak karena kerusakan otak,keracunan,obat halusino-genik, gangguan jiwa,seperti
emosi tertentu yang dapat mengakibatkan ilusi,psikosis yang dapat menimbulkan
halusinasi,dan pengaruh lingkungan sosio- budaya, sosio-budaya yang berbeda.
Macam – macam gangguan persepsi: Menurut Maramis ( 1999), terdapat 7
macam gangguan persepsi yaitu : halusinasi,ilusi,depersonalisasi ,derelisasi,
gangguan somatosenserik pada reaksi konversi,gangguan psikologi dan agnosia.
1. Halusinasi atau maya
Halusinasi adalah pencerapan ( persepsi ) tanpa adanya rangsang apa
pun pada pancaindra seseorang, yang terjadi pada keadaan sadar/ bangun
dasarnya mungkin organic,fungsional,psikotik ataupun histerik (
Maramis,19990). Oleh karena itu,secara singkat hulusinasi adalah
persepsi atau pengamatan palsu. Jenis – jenis halusinasi:

7
a. Halusinasi penglihatan ( halusinasi optic ):
1) Apa yang dapat dilihat seolah – olah berbentuk : orang,binatang,
barang, atau benda
2) Apa yang dilihat seolah – olah tidak berbentuk : sinar,kilatan,atau
pola cahaya.
3) Apa yang dilahat seolah – olah berwarna atau tidak berwarna
b. Halusinasi auditif/halusinasi akustik - Halusinasi yang seolah – olah
mendengar suara manusia,suara hewan,suara barang,suara
mesin,suara musik, dan suara kejadian alami.
c. Hulusinasi olfaktori ( halusinasi penciuman) – Halusinasi yang
seolah- olah mencium suatu bau tertentu.
d. Halusinasi guatatorik ( halusinasi pengecap ) – Halusinasi yang seolah
– olah mengecap suatu zat atau rasa tentang sesuatu yang dimakan.
e. Halusinasi taktil ( halusinasi peraba ) - Halusinasi yang seolah – olah
merasa badannya bergerak di sebuah ruang tertentu dan merasa
f. Halusinasi kinestik ( halusinasi gerak ) – Halusinasi yang seolah –
olah merasa di raba – raba,disentuh,di colek – colek , ditiup,dirambati
ulat,dan disinari.
g. Halusinasi visceral – Halusinasi alat tubuh bagian dalam yang seolah
– olah ada perasaan tertentu yang timbul di tubuh bagian dalam ( mis.
Lambung seperti di tusuk – tusuk jarum ).
h. Halusinasi hipnagogik – persepsi sensorik bekerja yang salah yang
terdapat pada orang normal,terjadi tepat sebelum bangun tidur.
i. Halusinasi histerik – Halusinasi yang timbul pada neurosis histerik
karena konflik emosional.
Isi halusinasi adalah tema halusinasi dan interprestasi pasien tentang
halusinasinya seperti mengancam, menyalahkan, keagaman,
menghinakan, kebesaran, seksual, membersakan hati, membujuk atau hal
– hal yang baik.
2. Ilusi adalah interpretasi yang salah atau menyimpang tentang penyerapan
( persepsi) yang sebenarnya sungguh – sungguh terjadi karena adanya

8
rangsang pada panca indra. Secara singkat ilusi adalah persepsi atau
pengamatan yang menyimpang. Contoh:
a. Bayangan daun pisang dilihatnya seperti seorang penjahat.
b. Bunyi angina terdengar seperti ada seseorang memanggil namanya.
c. Suara binatang di semak – semak, terdengar seperti ada tangisan bayi.
3. Depersonalisai ialah persaan yang aneh tentang dirinya atau perasaan
bahwa pribadinya sudah tidak seperti biasa lagi, tidak menurut kenyataan
atau kondisi patologis yang seseorang merasa bahwa dirinya atau
tubuhnya sebagai tidak nyata. Contoh:
a. perasaan bahwa dirinya seperti sudah di luar badannya.
b. perasaan bahwa kaki kanannya bukan kepunyaannya lagi.
Depersonalisasi ialah perasaan yang aneh tentang dirinya atau
perasaan bahwa pribadinya sudah tidak menurut kenyataan sebenarnya
(mis.segala sesuatu dirasakan seperti dalam mimpi).
4. Gangguan somotosensorik pada reaksi konversi,secara harfiah soma
artinya tubuh, dan sensorik atrinya mekanisme neurologist yang terlibat
dalam proses pengindraan dan perasaan. Jadi,somatosensorik adalah suatu
keadaan menyangkut tubuh yang secara simbolik mengganbarkan adanya
suatu konflik emosional. Contoh:
a. Anastesia,yaitu kehilangan sebagai atau keseloruhan kepekaan indra
peraba pada kulit.
b. Parastesia,yaitu perubahan pada indra peraba,seperti ditusuk – tusuk
jarum,dibadannya ada semut berjalan, kulitnya terasa panas,atau
kulitnya terasa tebal.
c. Gangguan penglihatan atau pendengaran.
d. Makropsia ( megalopsia), yaitu melihat benda lebih besar dari
keadaan sebenarnya bahkan kadang – kadang terlalu besar sehingga
menakutkan.
e. Mikropsia, yaitu melihat benda lebih kecildari sebenarnya.

9
5. Gangguan psikofisiligik ialah gangguan pada tubuh yang disarafi oleh
susunan saraf yang berhubungan dengan kehidupan ( nervus vegitatif)
dan disebabkan oleh gangguan emosi. Contoh :
Gangguan ini mumngkin terjadi pada :
a. Kulit : radang kulit ( dermatitis), biduran ( urtikaria), gatal – gatal (
pruritis), dan banyak cairan pada kulit ( hiperhidrosis).
b. Otot dan tulang : otot tegang sampai kaku ( tension headache),otot
tegang dan kaku di punggung ( lowback pain).
c. Alat pernapasan : sidrom hiperventilasi ( bernafas berlebihan) yang
mengakibatkan rasa pusing,kepala enteng,parestesia pada tangan dan
sekitar mulut,merasa berat di dada, nafas pendek, perut
gembung,tetani,dan asthma bronchiale.
d. Jantung dan pembuluh darah : debaran jantung yang cepat ( palpitasi),
TD meningkat ( hipertensi) dan vascular headache.
e. Alat kemih dan alat kelamin : sering berkemih,ngompol (
enuresis),memancarkan air mani secara dini ( evaculation precox),
hubungan seksual yang sakit pada wanita ( dispareunuia) sakit waktu
menstruasi ( dismenore),tidak mampu menikmati rangsangan seksual
pada wanita ( frigiditas), dan impotent.
f. Alat pencernaan: Lambung perih,mual dan muntah,kembung (
meteorisme), sembelit ( konstipasi) dan menceret ( diare).
g. Mata : mata berkunang – kunang dan telinga berdenging ( tinnitus).
6. Agnosia adalah ketidakmampuan untuk mengenal dan mengartikan
persepsi,baik sebagai maupun total sebagai akibat kerusakan otak.

10
BAB III
PENUTUP

3.1.Simpulan
Proses penerimaan dan pengolahan informasi dalam diri individu dimulai dari
proses penerimaan informasi yang paling awal, yaitu sensasi, kemudian diikuti
dengan proses persepsi sampai proses penyimpanan dan penggunaan kembali
informasi tersebut, Jadi persepsi adalah proses memberi makna pada sensasi.
Denganmelakukan persepsi manusia memperoleh pengetahuan baru. Persepsi
mengubah sensasi menjadi informasi Jika sensasi adalah proses kerja idera kita
maka persepsi adalah cara kita memproses data indera tadi menjadi informasi
agar dapat kita artikan. Proses penginderaan berlangsung setiap saat, pada waktu
individu menerima stimulus melalui alat indera. Persepsi stimulus dapat datang
dari luar, tetapi juga dapat datang dalam diri individu sendiri. Tetapi sebagian
besar stimulus datang dari luar individu yang bersangkutan. Karena persepsi
merupakan aktivitas yang integrated dalam diri individu,maka apa yang ada
dalam diri individu akan aktif dalam persepsi.serta dapat dikemukakan karena
perasaan, sedangkan sensasi dapat ditemukan pada waktu proses menangkap
stimuli. Proses sensasi dan presepsi itu berbeda. Dalam ungkapan lain
disebutkan,”sensasi ialah penerimaan stimulus lewat alat indra, sedangkan
persepsi adalah menafsirkan stimulusyang telah ada didalam otak”. Meskipun
alat untuk menerima stimulus itu serupa pada setiapindividu, interpretasinya
berbeda.

11
DAFTAR PUSTAKA

Purwato, Heri.2010.Pegantar perilakumanusiauntuk keperawatan.Jakarta:


Penerbit buku kedkteran EGC.
Widayatun, Tri Rusmini.2011.Ilmu Perilaku.CV INFOMEDIKA.
Sarwono, W Sarlito.2011.Psikolog Remaja.Jakarta: Penerbit PT Rajagravindo
Persada.

12