Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH PARASITOLOGI

Hymenolepis diminuta dan Hymenolepis nana

DI SUSUN OLEH :

AKIKAH AULIA NIM : 1813453083

DIAN BERLIANA SWANDY NIM : 1813453087

HELVIOLA NIM : 1813453091

LARA SATI PUTRI NIM : 1813453095

MELPASANDY NIM : 1813453097

PUTRI ADE NINGSIH NIM : 1813453104

DIII TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK FKIK

UNIVERSITAS ABDURRAB PEKANBARU

2019
Kata Pengantar

Dengan menyebut nama ALLAH SWT yang Maha Pengasih lagi


Maha Penyayang. Tak lupa pula shalawat serta salam selalu tercurah kepada
baginda nabi besar Muhammad SAW. Segala puji syukur kita ucapkan
kepada ALLAH SWT yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan
inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini
dengan judul “Hymenolepis diminuta dan Hymenolepis nana” dalam rangka
memenuhi tugas mata kuliah Parasitologi Studi DIII Analis Kesehatan.

Makalah ini telah kami susun dan mendapatkan bantuan dari


berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah in. Untuk
itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang
telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih


ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh
karena itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik
dari pembaca guna penyempurnaan makalah ini kedepannya sehingga dapat
bermanfaat bagi para pembaca semuanya.
Terima kasih

Pekanbaru, Mei 2019


Penulis

Kelompok 3

i
Daftar Isi

Kata pengantar ............................................................................................ i

Daftar isi ...................................................................................................... ii

Bab 1 Pendahuluan ...................................................................................... 1

1.1 Latar belakang ............................................................................. 1

1.2 Rumusan masalah ........................................................................ 2

1.3 Tujuan .......................................................................................... 2

Bab 2 Pembahasan ...................................................................................... 3

2.1 Cestoda ........................................................................................ 3

2.2 Hymenolepis nana ....................................................................... 3

2.3 Hymenolepis diminuta ................................................................. 7

Bab 3 Penutup ............................................................................................. 11

3.1 Kesimpulan .................................................................................. 11

3.2 Saran ............................................................................................ 11

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 12

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang.

Parasit yang termasuk golongan cestoda dikenal sebagai cacing pita.


Badanya terdiri atas rangkaian segmen atau proglotid. Diantara skoleks
dan segmen satu ada bagian yang sempit yang disebut leher. Bagian
parasit ini mengandung sel-sel germinal yang berbentuk strobilla.
Skoleks adalah utama untuk pergerakandan untuk berpegangan pada
jaringan hospes, dan dilengkapi dengan lekuk, batil isap atau kait-kait.

merupakan cacing berbentuk pipih seperti pita dan di sebut cacing


pita. Cacing ini tubuhnya berwarna putih dan tertutup kutikula. di bawah
kutikulaterdapat otot sirkuler, longitudinal, dan transversal. Tidak
memiliki rongga tubuh.Cacing pita termasuk subkelas cestoda kelas
cestoidea, filumplatyhelminthes. Cacing dewasanya, menempati saluran
usus vertebrata danlarvanya hidup di jaringan vertebrata dan invertebrata.
Bentuk badan cacingdewasa memanjang menyerupai pita, biasanya pipih
dorsovenral, tidakmempunyai alat cerna atau saluran vaskular dan
biasanya terbagi dalam segmen-segmenyang disebut proglotid yang bila
dewasa berisi alat reproduksi jantan danbetina. Ujung bagian antarior
berubah menjadi sebuah alat perekat disebut skoleks,yang dilengkapi
dengan alat isap dan kait-kait.
Spesies yang masuk kedalam cestoda usus antara lain
Diphyllobothrium latum, Taenia saginata, Taenia soleum, Hymenolepis
nana, Hymenolepis diminuta, Diphyllidium caninum.
Hymenolepiasis merupakanpenyakit zoonosis yang disebabkan oleh
dua spesies cacing pita kerdil /dwarftapeworm dari genus Hymenolepis
yangmenginfeksi manusia. Dua spesies tersebutadalah Hymenolepis nana
yang secara primer merupakan parasit pada manusia dan Hymenolepis
diminuta yang secara primer merupakan parasit pada tikus, mencit dan
rodensia lain tetapi dapat juga menginfeksi manusia.Hymenolepis nana

1
merupakan salah satu parasit cestoda yang paling umum menginfestasi di
seluruh dunia. Hymenolepis nana dapat menginfestasi penderita tanpa
memerlukan hospes perantara dan kebanyakan infestasi terjadi secara
langsung fecal-oral.

1.2 Rumusan masalah.


1. Mengetahui Pengertian Hymenolepis diminuta dan Hymenolepis
nana.
2. Mengetahui klasifikasi.
3. Mengetahui Morfologi dan Siklus Hidup.
4. Mengetahui Patofisiologi dan gejala klinis.
5. Mengetahui pencegahan dan pengobatan.

1.3 Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui


klasifikasi, morfologi dan daur hidup, hospes dan nama penyakit, patologi
dan gejala klinis, diagnosis, pengobatan serta epidemiologi dari
Hymenolepis diminuta dan Hymenolepis nana.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Cestoda

Cacing pita termasuk subkelas CESTODA, kelas CESTOIDEA,


filum PLATYHELMINTES. Cacing dewasanya menempati saluran usus
vertebrata dan larvanya hidup di jaringan vertebrata dan invertebrata.
Bentuk badan cacing dewasa memanjang menyerupai pita, biasanya pipih
dorsoventral, tidak mempunyai alat pencernaan atau saluran vaskular
dan biasanya terbagi dalam segmen-segmen yang disebut proglotid yang
bila dewasa berisi alat reproduktif jantan dan betina. Ujung bagian
anterior berubah menjadi sebuah alat pelekat, disebut skoleks, yang
dilengkapi dengan alat isap dan kait-kait.
Manusia merupakan hospes cestoda ini dalam bentuk :
A. Cacing dewasa, untuk spesies Diphyllobothrium latum, Taenia
saginata, Taenia solium, Hymenolepis nana, Hymenolepis diminuta,
Dipylidium caninum.
B. Larva, untuk spesies Diphyllobothrium sp, Taenia solium,
Hymenolepis nana, Echinococcus granulosus, Multiceps sp.

2.2 Hymenolepis nana

A. Sejarah

Spesies ditemukan oleh Thedor Bilharz pada tahun 1851 dalam


usus halus seorang anak asli di Kairo. Grasee dan Rovell ( 1887, 1892 ),
pertama kali memperkenalkan daur hidup yang tidak mempunyai hospes
perantara. Inang definitifnya meliputi manusia, primata, tikus, dan
mencit.

B. PengertianHymenolepis nana

Hymenolepis nana adalah cestoda yang tersebar di seluruh dunia


baik (kosmopolit) di daerah beriklim tropis maupun sedang yang
terdapat dalam usus halus manusia dan tikus. Seperti Mesir, Sudan,

3
Thailand, India,Jepang, Amerika Selatan, Eropa Selatan, dan juga
ditemukan di Indonesia. Infeksi dari Hymenolepis nana ditemukan
banyak terdapat pada orang-orang dengan sanitasi yang buruk dan
padat. Infeksi cestoda sering terjadi pada anak-anak.

C. Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Phylum : Platyhelminthes
Class : Cestoda
Ordo : Cyclophyllidea
Family : Hymenolepididae
Genus : Hymenolepis
Species : Hymenolepis nana.
Nama penyakit : Hymenolepiasis.

D. Morfologi dan Daur Hidup

Dari golongan Cestoda yang di temukan pada manusia, cacing ini


mempunyai ukuran terkecil. Panjangnya 25-40 cm dan lebarnya 1 mm.
Ukuran strobila biasanya berbanding terbalik dengan jumlah cacing
yang ada dalam hospes. Skoleks berbentuk bulat kecil, mempunyai 4
buah batil isap dan rostelum yang pendek dan berkait – kait. Bagian
leher panjang dan halus. Strobila dimulai dengan proglotid imatur yang
sangat pendek dan sempit, lebih ke distal menjadi lebih lebar dan luas.
Pada ujung distat strobila membulat.

Telur keluar dari proglotid paling distal yang hancur. Bentuknya


lonjong, ukurannya 30-47 mikron, mempunyai lapisan yang jernih dan
lapisan dalam yang mengelilingi sebuah onkosfer dengan penebalan
pada kedua kutub. Dari masing-masing kutub keluar 4-8 filamen.
Dalam onkosfer terdapat 3 pasang duri (kait) yang berbentuk lanset.
Cacing dewasa hidup dalam usus halus untuk beberapa minggu.
Proglotid gravid melepaskan diri dari badan, telurnya dapat ditemukan

4
dalam tinja. Cacing ini tidak memerlukan hospes perantara. Bila telur
tertelan kembali oleh manusia atau tikus, maka di rongga usus halus
telur menetas, larva keluar dan masuk ke selaput lendir usus halus dan
membentuk larva sistiserkoid, kemudian keluar ke rongga usus dan
menjadi dewasa dalam waktu 2 minggu atau lebih. Pada infeksi
percobaan, berbagai pinjal dan kutu beras dapat menularkan murine
strain.

Orang dewasa kurang rentan dibandingkan dengan anak. Kadang-


kadang telur dapat menetas di rongga usus halus sebelum dilepaskan
bersama tinja. Keadaan ini disebut autoinfeksi interna. Hal ini memberi
kemungkinan terjadi infeksi berat sekali yang disebut hiperinfeksi,
sehingga cacing dewasa dapat mencapai 2000 ekor pada seorang
penderita.

Telur Hymenolepis nana

Cacing dewasa

5
E. Patologi dan gejala klinis

Hymenolepis nana biasanya tidak menyebabkan gejala. Jumlah yang


besar dari cacing yang menempel di dinding usus halus menimbulkan
iritasi mukosa usus. Kelainan yang sering timbul adalah toksemia
umum karena penyerapan sisa metabolit parasit masuk ke dalam
sistemperedaran darah penderita. Pada anak kecil dengan infeksi berat,
cacing ini kadang-kadang menyebabkan keluhan neurologi yang gawat,
mengalami sakit perut dengan atau tanpa diare,kejang-kejang, sukar
tidur dan pusing. Eosinofilia sebesar 8-16 % sakit perut, diare,obstipasi
dan anoreksia merupakan gejala ringan.

F. Diagnosis

Diagnosis ditegakkan dengan menemukan telur dalam tinja.

G. Pengobatan
Obat yang efektif adalah prazikuantel dan niklosamid, tetapi saat ini
obat-obat tersebut sulit didapat di indonesia obat yang efektif adalah
amodiakuin. Hiperinfeksi sulit diobati, tidak semua cacing dapat
dikeluarkan dan sistiserkoid masih ada dimukosa usus.
H. Prognosis

Prognosis baik, tetapi diperlukan pengobatan yang lama.

I. Epidemologi

Hymenolepis nana tidak memerlukan hospes perantara. Infeksi


kebanyakan terjadi secara langsung dari tangan ke mulut. Hal ini sering
terjadi pada anak-anak umur 15 tahun kebawah.Kontaminasi dengan
tinja tikus perlu mendapat perhatian.

Infeksi pada manusia selalu disebabkan oleh telur yang tertelan dari
benda-benda yang terkena tanah, dari tempat buang air atau langsung
dari anus ke mulut. Kebersihan perorangan terutama pada keluarga
besar dan di perumahan panti asuhan harus diutamakan.

6
J. Pencegahan
1. Dilakukan dengan menjaga kebersihan makanan dan
minuman, meningkatkan higien pribadi.
2. Pemberantasan tikus untuk menghindari penularan dari tikus
dan pengobatan penderita untuk menghilangkan sumber
penularan.

2.3 Hymenolepis diminuta

A. Pengertian
Hymenolepis diminuta merupakan parasit yang termasuk dalam
kelas cestoda yang hidup dalam usus tikus dan manusia. Nama lain dari
Hymenolepis diminuta adalah cacing pita tikus, the rat tape worm, dan
Taenia diminuta. Hospes defenitif dari Hymenolepis diminuta yaitu
manusia dan tikus, hospes perantara pinjal, tikus, dan kumbang. Cacing
ini dapat menyebabkan penyakit Hymenolepiasis diminuta.
B. Klasifikasi
Filum : Platyhelminthes
Kelas : Cestoidea
Sub kelas : Cestoda
Ordo : Cyclophyllidea
family : Hymenoplepididae
Genus : Hymenolepis
Spesies : Hymenolepis diminuta

C. Morfologi
Cacing dewasa berukuran 10-60 cm, lebarnya 3-5 mm, lebih besar
dari Hymenolepis nana, mempunyai 800-1000 proglotid. Scolexnya
bulat mempunyai rostellum di puncaknya tanpa kait-kait dan ada 4 batil
isap kecil. Proglotid lebarnya jauh lebih besar dari panjangnya.
Panjangnya 0,8 mm, lebarnya 2,5 mm. Proglotid gravid mengandung

7
uterus yang berbentuk kantong, berisi telur yang berkelompok-
kelompok.
Telur berukuran 58 x 86 mikron, dinding luar tebal, dinding dalam
terdapat penebalan tanpa filamen, berbeda dengan Hymenolepis nana
karena tidak ada filamen pada kedua kutubnya. Hospes perantaranya
larva pinjal tikus dan kumbang tepung dewasa. Dalam serangga ini
embrio yang keluar dari telurnya berkembang menjadi cysticercoid.
Manusia terinfeksi bila termakan larva pinjal atau kumbang tepung
yang mengandung cysticercoid.

Telur Hymenolepis diminuta

D. Siklus Hidup
Cacing dewasa berada di usus halus manusia akan mengalami
perkembangbiakan dari proglotid immature menjadi mature selanjutnya
menjadi proglotid gravid yang mengandung banyak telur cacing pada
uterusnya. Proglotid gravid akan melepaskan diri dan bila pecah maka
keluarlah telur cacing yang bisa dikeluarkan bersama feses manusia.
Telur yang berisi embrio tersebut memerlukan hospes perantara, yaitu
pinjal. Dalam usus pinjal, telur menetas menjadi larva dan berkembang
menjadi sistiserkoid dalam rongga tubuh. Apabila pinjal secara

8
kebetulan termakan oleh manusia atau tikus selanjutnya di usus halus
sistiserkoid pecah dan keluarlah skolek yang selanjutnya akan melekat
pada mukosa usus. Skolek akan berkembang lebih lanjut menghasilkan
proglotid immature, mature dan gravid. Proglotid gravid akan terlepas
dari strobila dan bila pecah akan mengeluarkan telur yang dikeluarkan
bersama feses.

Telur ditemukan pada tinja hospes definitif. Cacing ini memerlukan


hospes perantara I yaitu larva pinjal tikus dan kumbang tepung dewasa.
Didalam serangga ini embrio yang keluar dari telurnya berkembang
menjadi sistiserkoid. Bila dimakan oleh hospes definitif, sistiserkoid
akan berkembang menjadi cacing dewasa di dalam usus halus dalam
waktu kira-kira 18-20 hari.

E. Patologi dan Gejala Klinik


Biasanya tanpa gejala atau bisa dengan gejala ringan seperti
perasaan tidak enak di perut atau diare.

F. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan menemukan telurnya dalam tinja.
Sekali-sekali cacing dapat keluar secara spontan secara purgasi.
Pemeriksaan dapat dilakukan secara langsung atau dengan cara tak
langsung (konsentrasi).

9
G. Pencegahan dan Pengobatan
1. Upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah menghindari
kontak dengan hospes perantara yang memungkinkan terjadinya
kontaminasi.
2. Selalu mencuci tangan sebelum makan juga dapat mengurangi
infeksi karena kontaminan yang menempel pada tangan akan
mati ketika mencuci tangan.
3. Membasmi tikus dan serangga yang berperan sebagai hospes
perantara.
Obat yang efektif adalah niclosamid dan atebrin.
H. Epidemiologi
Penyebaran cacing ini kosmopolit, tetapi lebih suka daerah beriklim
panas daripada dingin termasuk Indonesia. Hospes definitif mendapat
infeksi bila hospes perantara yang mengandung parasit tertelan secara
kebetulan.
I. Pencegahan
Membasmi tikus dan serangga yang berperan sebagai hospes
perantara.

10
BAB III
PENUTUP

A.Kesimpulan
Hymenolepis termasuk ke dalam kelas cestoda atau biasa di kenal
sebagai cacing pita. penyebaran Cacing ini tubuhnya berwarna putih dan
tertutup kutikula, badannya terdiri atas rangkain segmen / proglotid.
Hymenolepiasis merupakan penyakit zoonis yang disebabkan oleh
dua spesies cacing pita kerdil dari genus hymenolepis yang menginfeksi
manusia. Dua spesies tersebut Hymenolepis nana parasit pada manusia dan
Hymenolepis diminuta pada tikus, pinjal, kumbang dan juga dapat
menginfeksi manusia. Penyebarannya bersifat kosmopolit, kedua spesies
tersebut berhabitat di usus halus, ukuran cacing dewasa Hymenolepis
diminuta lebih besar dari Hymenolepis nana, jumlah proglotid
Hymenolepis diminuta sebanyak 800-1000 dan proglotid Hymenolepis nana
200, sama-sama mempunyai 4 batil isap, pada telur Hymenolepis nana
mempunyai filamen.
Diagnosa dari spesies Hymenolepis yaitu ditegakkan dengan
menemukan telur dalam tinja. Infeksi langsung dari tangan ke mulut,
Hymenolepis nana tidak memerlukan hospes perantara.

B.Saran
Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu penyusun
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.

11
DAFTAR PUSTAKA

Prasetyo, Heru.2012.Buku Ajar Parasitologi Kedokteran Parasit


Usus.Surabaya:Sagung Seto

Safar, Rosdiana.2009.Parasitologi Kedokteran Protozoologi, Helmintologi,


Entomologi. Bandung : CV. YRAMA WIDYA

Staff Pengajar FKUI. 2009. Parasitologi Kedokteran. Jakarta : Balai


Penerbit FKUI

Irianto, Koes. 2009. Panduan Praktikum Parasitologi Dasar Untuk Para


Medis dan Non Medis. Bandung : YRAMA WIDYA

12