Anda di halaman 1dari 32

Uraian Materi

1. Pengertian Pola Konstruksi

Pola dalam bidang busana menjadi dasar sebuah perwujudan desain busana.
Teknik konstruksi pembuatan busana adalah teknik pembuatan pola dengan
menggunakan perhitungan matematis maupun sistematis, menyesuaikan lekuk-
lekuk tubuh seseorang sehingga menghasilkan bentuk serasi. Pembuatan pola
konstruksi tergantung pada sistem menggambar pola yang digunakan,
berhubungan erat dengan ukuran-ukuran yang diambil, sistem pola konstruksi
mempunyai cara sendiri dan memiliki kelebihan dan kekurangan. Pendapat lain
menyatakan bahwa teknik konstruksi adalah pembuatan pola berdasarkan ukuran
dan perhitungan matematika sesuai dengan metode yang digunakan. Berdasarkan
beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa, pola konstruksi adalah pola
yang dibuat berdasarkan ukuran dari bagian-bagian badan dengan perhitungan
metematik dan digambar di atas kertas.
Peranan pola sangat penting dalam pembuatan busana karena pola
menentukan baik tidaknya busana yang dibuat. Pola konstruksi sering digunakan
pada pembuatan busana secara perorangan. Teknik menjahit dengan pola
konstruksi menggunakan teknik menjahit secara halus dan penyelesaiannya
banyak dikerjakan dengan tangan. Pembuatan pola konstruksi harus
memperhatikan teknik pengukuran badan yang tepat sehingga hasil busana yang
dibuat nyaman saat digunakan. Pembuatan pola dasar dengan sistem konstruksi
banyak macamnya dengan jumlah ukuran dan metode pembuatannya. Metode
pembuatan pola dasar busana antara lain pola dasar Soen, J.H. Meyneke,
Dressmaking, Danckaerts, Charmant, Cuppen Geurs, Bunka, dan lain sebagainya.
Pola konstruksi dapat dibuat untuk semua jenis bentuk badan dengan
berbagai perbandingan. Untuk memperoleh pola konstruksi yang baik harus
menguasai tahapan-tahapan berikut ini meliputi:
1) Cara pengambilan ukuran dengan cermat dan tepat, menggunakan peter
ban sebagai alat penolong sewaktu mengukur dan menggunakan pita
pengukur yang permukaannya mempunyai ukuran sama (cm).

1
2) Cara menggambar bentuk pola tertentu seperti garis leher maupun garis
kerung lengan, tinggi panggul, lingkar bawah rok dan sebagainya secara
luwes dengan bantuan penggaris.
3) Perhitungan pecahan dari ukuran-ukuran konstruksi secara cermat dan
tepat, meskipun pola konstruksi dapat dibuat untuk semua jenis bentuk
tubuh, namun tidak terlepas dari kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Kualitas pola ditentukan oleh beberapa hal, meliputi :


1) Ketepatan mengambil ukuran tubuh baik kecermatan maupun ketelitian
menganalisa posisi titik dan garis tubuh si pemakai. Kemampuan
menentukan kebenaran garis-garis pola, keluwesan, kecermatan, ketelitian
melakukan pengecekan ukuran seperti garis lingkar kerung lengan, garis
lekuk leher, bahu, sisi badan, sisi rok, bentuk lengan, kerah dan lain-lain.
2) Ketepatan memilih kertas untuk pembuatan pola, seperti kertas dorslag dan
kertas coklat.
3) Ketelitian memberi tanda dan keterangan setiap bagian-bagian pola,
misalnya tanda pola bagian muka dan belakang, tanda arah benang atau serat
kain, tanda lipit pantas, tanda kampuh, tiras, tanda kelim dan lain-lain.
4) Ketelitian menyimpan dan mengarsipkan pola agar pola tahan lama
sebaiknya disimpan di tempat-tempat khusus seperti rak, dalam kantong
plastik dan diarsipkan dengan memberi nomor, nama, tanggal serta
dilengkapi dengan buku katalog.

2. Kelebihan dan Kekurangan Pola Konstruksi


Pola konstruksi dapat dibuat untuk semua bentuk badan. Agar memperoleh
pola konstruksi yang baik, hal-hal yang harus dikuasai adalah teknik pengambilan
ukuran yang harus dilakukan secara cermat dan tepat menggunakan pita ukur.
Selain itu, cara menggambar bentuk tertentu seperti garis leher, garis kerung
lengan, bagian panggul, dan sebagainya yang berbentuk kurva, serta perhitungan
dari pecahan ukuran yang ada dalam pola konstruksi harus benar. Hal ini akan
sangat berpengaruh terhadap kualitas pola dan busana yang nanti dibuat.

2
Ketepatan pola konstruksi akan terlihat pada jatuhnya busana ketika di pas pada
tubuh seseorang.
Pola konstruksi merupakan pola yang dibuat secara dua dimensi, di atas kertas
menggunakan perhitungan secara sistematis dengan perbandingan serta rumus
pembagian tertentu. Meskipun pola konstruksi dapat dibuat untuk berbagai bentuk
badan, tetapi masih memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dan
kekurangan pola konstruksi diantaranya sebagai berikut:
Tabel 4. Kelebihan dan Kekurangan Pola Konstruksi

Kelebihan Kekurangan
1) Bentuk pola lebih sesuai dengan 1) Lebih sulit untuk menggambarnya,
bentuk badan seseorang. karena membutuhkan kecermatan
2) Besar kecilnya kupnat lebih dan ketelitian.
sesuai dengan besar kecilnya 2) Memerlukan waktu lebih lama.
bentuk pinggang dan buah dada 3) Membutuhkan banyak latihan.
seseorang. 4) Harus benar-benar menguasai teknik
3) Perbandingan bagian-bagian dari atau metode pola konstruksi yang
model lebih sesuai dengan besar dipilih.
kecilnya bentuk badan pemakai. 5) Harus mengetahui kelemahan dari
konstruksi yang dipilih.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam proses


pembuatan pola secara konstruksi harus lebih cermat, teliti dan tepat agar
memperoleh pola konstruksi yang baik. Hal-hal yang harus dikuasai adalah teknik
pengambilan ukuran, membuat sistem pola dasar tertentu dan perhitungan dari
pecahan ukuran yang ada dalam konstruksi.
Urutan pembuatan pola konstruksi adalah sebagai berikut:
a. Mengambil ukuran
b. Menggambar pola dasar
c. Mengepas pola dasar
d. Mengubah pola dasar sesuai dengan model yang diinginkan.

3
3. Teknik Pembuatan Pola dasar badan Sistem Dressmaking

Pola dasar badan sistem Dressmaking adalah pola dasar badan yang
digambar terpisah antara pola depan dan belakang. Kebaikan dari pola ini
adalah lipit kup cukup untuk orang kurus dan sedang dan letak lipit kup berada
pada sisi. Cara menggambar pola sistem Dressmaking dimulai dari pola bagian
belakang.
Cara pembuatan pola dasar badan Sistem Dressmaking

Ukuran yang diperlukan:


L.L. (Lingkar Leher) = 36 cm
L.B. (Lingkar Badan) = 92 cm
L.Pi. (Lingkar Pinggang) = 70cm
P.P. (Panjang Punggung) = 37 cm
L.P. (Lebar Punggung) = 33 cm
L.M. (Lebar Muka) = 32 cm
T.Dada (dari leher) = 18 cm
L. Dada (Lebar Dada) = 18 cm
P. Bahu = 12 cm

C B A A B C
F
E
E D
D
F

J I I J
TB

G K
K G

N M N
M
TM

P1

K1 L
O N1O1 H H K1
K2

O N1 O1 K2
H1 L

Gambar 46. Pola Dasar Badan sistem Dressmaking


Sumber: Konstruksi Pola Busana Wanita (2006)

4
Keterangan:

Bagian Belakang

Tarik garis bersiku mulai dari titik A


AB = 1/6 L. leher + 0,5 cm
BC = P.Bahu
CD = 6 cm
BE = P.Bahu
AF = 1cm
AG = 1/2 P.Punggung + 1cm
FH = P. Punggung
FI = P. Bahu
IJ = 1/2 Lb.Punggung
GK = 1/4 L.Badan -1cm
HL = ¼ L.Pinggang -1cm +2cm (kupnat)
KK1 = GH, K1 turun 0,5cm (K2)
Tarik garis dari K2 menuju O
GM = 4cm
MN = ½ jarak dada dikurangi 1cm, Tarik garis
N ke N1 menyentuh garis HK1, Tarik N1
ke kiri 1cm, kanan 1cm (kupnat)

Bagian Depan
Tarik garis bersiku mulai dari titik A
AB = 1/6 L. leher + 0,5 cm
BC = P. Bahu
CD = 3,5cm
BE = P.Bahu
AF = AB + 1cm
AG = ½ P. Punggung + 1,5 cm
AH = AH pada pola belakang, GH=KK1
FI = 1/2 FG
IJ = ½ Lebar Muka
GK = ¼ L.Badan +1cm
HH1 = 3 cm , sama dengan K1K2
H1L = 1/4 L. Pinggang + 1 cm +3 (kupnat)
HM = tinggi buah dada dari pinggang, atau FM puncak

5
buah dada dari lekuk leher
MN = ½ jarak buah dada, N1O dan N1O1 adalah kupnat.
4. Teknik Pembuatan Pola Dasar Badan Sistem Meyneke

Pola dasar badan system Meyneke merupakan pola badan muka dan badan
belakang bersatu. Lipit kup cukup besar pada bahu. Serongnya bahu sering jatuh
tidak tepat sehingga perlu diberi ukuran uji untuk kontrol serongnya bahu.

Cara pembuatan pola dasar badan Sistem Meyneke

Ukuran yang diperlukan:

Lingkar badan = 92 cm
Lingkar pinggang = 70 cm
Lingkar leher = 36 cm
Panjang punggung = 37 cm
Lebar punggung = 33 cm
Panjang sisi = 16 cm
Lebar muka = 32 cm
Panjang muka = 32 cm
Panjang bahu = 12 cm
Tinggi dada = 17 cm
Ukuran kontrol =41/79 cm

6
0.5
E F G
K
L2 O
G1 N
N1
L H P1 O1

1cm L1
H1 O2
D P

D1 D2
D3

D4
TM

TB
A2 B1
Q
Q1
C2

3 3
A A1 M M1 B R R1 C1 C
Gambar 47. Pola Dasar Badan system Meyneke
Sumber: Konstruksi Pola Busana Wanita (2006)

Keterangan:
Bagian Depan

AB = 1/4 L. Badan + 1 cm
AD = P.Muka
DE = 1/6 L. Leher + 2,5 cm
EF = 1/6 L. Leher + 1 cm, datar teruskan ke G
GH = 1/3 P.Bahu +1cm
FL = P. Bahu, dan L harus jatuh pada garis datar pertolongan. Tarik garis F-L
terus ke sisi, dapat titik L'
= 1/2 P. Bahu + 1 cm
L1L2 = 1/2 P Bahu -1cm
FK = 4 atau 5 cm
DD1 ditambah D3D4= 1/2 L. Muka
D1D2 = P.sisi
BB1 = 1/10 L. Pinggang +1cm
AA1 = 1/4 L. Pinggang + 1 cm dikurang A-A1
MM1 = ukuran kontrol pola depan
AA2L1 Garis lipit bahu disamakan dengan titik K dinaikkan 0,5 cm. Lubang
lengan di sisi, dapat diturunkan untuk diperbesar 2 atau 3 cm

7
Bagian Belakang

BC = 1/4 L. Badan -1 cm
CN = P. Punggung
CQ = BB1
NN1 = 1/6 L. leher + 1 cm
N1O = 1 cm
G1H1 = 1/3 P. Bahu
OP = Panjang Bahu + 1 cm (boleh tidak pakai lipit di bahu belakang)
OO1 = 1/2 P. Bahu - 1 cm
PP1 = 1/2 P. Bahu + 1 cm
QQ1 = 1/2 L. Punggung
CC1 = 1/10 L. Pinggang -1 cm
RR1 = 1/4 L. Pinggang - 1 cm dikurang C-C1
PC2C = ukuran control pola belakang

5. Teknik Pembuatan Pola dasar badan sistem Bunka

Pola konstruksi sistem Bunka adalah salah satu metode membuat pola

konstruksi (flat pattern), hasil kajian atau perkembangan terakhir dari sistem

Meyneke dan Soen, dengan kata lain pola dasar sistem Bunka merupakan hasil

penyempurnaan dari sistem pembuatan pola yang lama. Pembuatan pola dasar

sistem Bunka adalah hasil riset atau penelitian yang dilakukan oleh University of

Wuman Tokyo di Jepang atau Bunka Daigaku. University of Wuman adalah satu-

satunya perguruan tinggi di Jepang yang secara terus menerus berkarya dan

menerbitkan buku-buku khusus dibidang Fashion atau tentang busana (Eri

Novida, 2013).

Karaketristik pola sistem Bunka berbeda dengan pola-pola konstruksi sistem

lainnya, beberapa kelebihan dan kekurangan secara umum antara lain:

8
Tabel 5. Kelebihan dan Kekurangan Pola Konstruksi Sistem Bunka
Sumber: Dasar Pola II (2013)
Karakteristik/Kelebihan Kekurangan
1) Ukuran yang dibutuhkan sederhana, yaitu 1) Perhitungan rumit
panjang punggung, lingkar pinggang dan lingkar 2) Kurang praktis
badan 3) Membutuhkan waktu
2) Akurat, berdasarkan perbandingan ukuran tubuh yang lama dalam
sehingga meminimalisir kegagalan membuat polanya
3) Adanya tabel ukuran yang memudahkan
menghitung perbandingan-perbandingan agar
hasilnya tepat
4) Kupnat yang lebar sehingga fleksibel untuk
menyesuaikan dengan setiap bentuk tubuh,
termasuk wanita gemuk
5) Kedudukan kurva kerung lengan yang bagus,
tidak terdapat sisa karena terdapat kupnat di
kerung lengan

a. Cara Mengambil Ukuran Pola Dasar Sistem Bunka

Pembuatan pola dasar sistem Bunka pengambilan ukuran tubuh adalah dengan

cara ukuran diambil pas. Penambahan dilakukan pada saat pembuatan pola sebab

yang dikatakan pola dasar adalah dasar dari bentuk tubuh manusia. Pola yang

sudah ada garis-garis kupnat, berarti pola tersebut sudah mengalami perubahan

menyesuaikan bentuk pinggang atau sisi atau bentuk lain. Ukuran yang diperlukan

dalam pembuatan pola dasar sistem Bunka:

a) Lingkar Badan

Diukur pas melingkari badan terbesar


atau melalui titik puncak payudara
dan diukur rata muka dan belakang
Gambar 48. Cara Mengambil
Ukuran Lingkar Badan

9
b) Lingkar Pinggang

Diukur sekeliling pinggang pas atau


pita ukuran dilingkarkan pada
pinggang yang paling kecil sehingga
pita ukuran tidak bergeser ke atas dan
ke bawah (sebelumnya sesudah diikat
Gambar 49. Cara Mengambil dengan peterban)
Ukuran Lingkar Pinggang

c) Panjang Punggung

Diukur dari tonjolan tulang leher


belakang sampai pada garis ke
pinggang (pita ukuran lurus)

Gambar 50. Cara Mengambil


Ukuran Panjang Punggung

Ketepatan ukuran dalam pembuatan pola akan mempengaruhi baik buruknya

hasil dari busana yang akan dibuat, maka perlu ketelitian sehingga tidak terjadi

kesalahan untuk melanjutkan pada tahap pemotongan bahan. Hal yang terpenting

dalam pembuatan pola yaitu ketepatan ukuran bila terjadi kekurangan atau

kelebihan ukuran walaupun hanya sedikit (misalnya: 0,5 cm) akan berpengaruh

pada hasil busana yang akan dibuat.

Berdasarkan penjelasan di atas, ketepatan ukuran menjadi bagian yang sangat

penting dalam proses pembuatan pola. Bila terjadi kesalahan dalam pengukuran

maka akan berpengaruh besar pada busana yang akan dijahit. Untuk menghindari

kesalahan tersebut maka sebelum pola dipotong dan diletakkan di atas bahan

dilakukan pengecekan ukuran pada setiap bagian pola. Akan tetapi, alangkah lebih

10
baiku ntuk selalu menjaga ketelitian pada ketepatan pola mulai dari proses

pembuatan pola sehingga diperoleh hasil akhir pola yang tepat.

Pola sistem Bunka berasal dari negara Jepang, sehingga ada sedikit perbedaan

dalam singkatan-singkatan penyebutan jenis ukuran yang perlu diketahui agar

mempermudah dalam memahami cara membuat pola dasar badan sistem Bunka,

yakni sebagai berikut:

Tabel 6. Singkatan Istilah dalam Pola Dasar Sistem Bunka


Sumber: Dasar Pola II (2013: 166)

Singkatan Kepanjangan Arti (Bahasa Indonesia)


B Bust Lingkar Badan/Dada
W Waist Lingkar Pinggang
MH Middle Hip Pertengahan Pinggul
HL Hip Pinggul
BL Bust Line Garis Lingkar Badan
WL Waist Line Garis Pinggang
HL Hip Line Garis Pinggul
EL Elbow Line Garis Siku
BP Bust Point Puncak Dada
SNP Side Neck Point Titik Leher Atas
FNP Front Neck Point Titik Leher Depan
BNP Back Neck Point Titik Leher Belakang
SP Shoulder Point Titik Bahu
AH Arm Hole Garis Kerung Lengan
BAH Back Arm Hole Lingkar Kerung Lengan Belakang
FAH Front Arm Hole Lingkar Kerung Lengan Depan

Salah satu perbedaan pola Bunka dengan sistem pola konstruksi lainnya adalah

adanya daftar ukuran hitung cepat (cepat guna) untuk mempermudah menghitung

perbandingan titik-titik ukuran tubuh yang lainnya, yaitu sebagai berikut:

11
Tabel 7. Daftar Ukuran Hitung Cepat (Cepat Guna)
Sumber: Dasar Pola II (2013)

b. Cara Membuat Pola Dasar Sistem Bunka 2

Perbedaan dengan pola Bunka cara 1 antara lain adanya kupnat pada bagian

kerung menuju ke puncak dada. Jumlah kupnat pinggang lebih banyak

dibandingkan dengan pola Bunka cara 1. Garis pinggang badan depan pola Bunka

2 sejajar dengan badan belakang. Pada modul kali ini yang akan dijelaskan adalah

pembuatan pola Bunka 2.

Ukuran yang diperlukan

Bust = 86cm

Waist = 66cm

Back Length = 37cm

12
Langkah pertama
Membuat Garis Dasar
10
B

A 7

FRONT
8
8 11
9
4 6 chest
E width B + 8,3
B + 13,7 1
D line 5
12 BACK
0 ,5 G
1 5 B 12
B + 6,2
center + 7,4
8 8
back
length BL
C F
B
32 0,7
14 3
center center
back side front
line line line

13
WL
2 B +6
Body width =
2
Gambar 51. Membuat Garis Dasar
Sumber: Dasar Pola II (2013: 176)

Langkah-langkah:
(1) Ukur panjang punggung dari titik A untuk membuat garis tengah belakang
(TB/CB).
(2) Ukur (Lebar Badan) pada garis pinggang (WL).

(3) Ukur pada garis tengah belakang (TB), turun dari titik A untuk

menentukan posisi titik BL.


(4) Tarik garis tengah depan (TD/CF) dan tarik garis BL secara horizontal.
(5) Ukur (Lebar Punggung) pada BL dari tengah belakang (TB) untuk

menentukan titik C.
(6) Tarik garis lurus ke atas dari titik C untuk menentukan lebar punggung.
(7) Masukkan garis horizontal dari titik A dan gambar empat persegi panjang.
(8) Tarik garis horizontal pada posisi 8cm turun dari titik A dan membuat letak
titik persilangan/potong dengan garis lebar punggung, titik D dari

13
pembagian titik antara garis tengah belakang (TB) dan titik D,buat posisi
1cm pada garis lebar punggung, titik E, dan buat titik bantu kup bahu.
(9) Ukur ke atas dari titik BL pada garis tengah depan (TD/CF) untuk

menentukan titik B.
(10) Tarik garis horizontal dari titik B.
(11) Ukur pada BL (Lebar Dada) dari garis tengah depan (TD/CF) dan

buat/letakkan posisi 0,7 cm dari pembagian titik lebar dada kea rah garis
sisi, yaitu titik BP (Bust Point)
(12) Masukkan garis lebar dada dan tarik garis segi empat panjang.
(13) Dari garis lebar dada pada BL, ukur ke arah garis kampuh sisi untuk

menentukan titik F. Buat titik G titik dimana garis lurus keatas titik F,
dengan garis perpotongan garis horizontal 0.5 cm di bawah garis
pembagian antara titik C dan D. Buat garis horizontal G.
(14) Bagi dua garis antara titik C dan F untuk menentukan garis sisi.

Langkah kedua
Membuat Garis Leher, Bahu, Kerung Lengan dan Kupnat
B
+ 32 - 0,8 B + 3,4
24
=

o
1,8 22

A 18

+ 0,5
B - 0,8 =1,8
+ 0,2 32
1,5
8
0,5
0,5
B+ 13,7 FRONT
= 20,5
12 BACK
1 + 0,5

O
(B/4-2,5)
+ 0,8
2
BL
2-3
1,5

WL
f e d c b a
Gambar 52. Membuat Garis Lengkung
Sumber: Dasar Pola II (2013: 179)

14
Langkah-langkah:
(1) Garis leher depan
Ukur (lebar garis leher) pada garis horizontal dari titik B untuk

menentukan SNP (Shoulder Neck Point). Ukur O + 0.5 cm (dalam garis leher)
pada garis tegak lurus dari titik B, dan tarik garis empat persegi panjang. Bagi
garis diagonal menjadi tiga bagian, di titik bantu kedua, gambar garis leher
depan.
(2) Garis bahu depan
Menggunakan SNP sebagai titik dasar, ukur 22*garis miring bahu depan
(gunakan alat penggaris busur) berhubungkan ke garis horizontal,
memperpanjang/sampai 1.8 cm dari persimpangan dengan garis lebar dada
dan gambar garis bahu depan.
(3) Gambar bagian kup badan dan bagian atas garis kerung lengan depan
bersambung ke titik G dan titik BP, dan garis ke atas, ukur ukuran kup badan
menurut sudut dari derajat. Dan atur panjang garis kup, dan tarik garis

kerung lengan bagian depan dan ini bersambung ke garis lebar dada dari bahu
depan.
(4) Gambar bagian bawah kerung lengan depan
Bagi area antara titik F dan garis sisi menjadi tiga bagian, dan ukuran (1/3+
0.5 (▲ + 0.5)cm dari titik F dengan garis sudut 45* untuk menentukan titik
bantu. Dan tarik garis kerung lengan dari titik G ke garis sisi kampuh terus ke
titik bantu.
(5) Garis leher belakang
Ukuran + 0.2cm (lebar leher belakang) pada garis horizontal dari titik A,buat
posisi sebesar 1/3 dari ukuran, lurus ke atas menuju SNP (ShoulderNeck
Point) dan tarik garis leher belakang.
(6) Tarik garis bahu belakang
Tarik garis horizontal dari SNP dan ukur garis bahu dengan miring/landai18*
dari garis horizontal dengan menggunakan SNP menjadi titik dasar, untuk
menentukan garis bahu belakang.

15
(7) Masukkan kup bahu belakang
Menambah volume/besar kup menjadi ukuran lebar bahu depan pada

garis bahu dari SNP, dan gunakan ukuran bahu belakang. Perpanjang ke titik
E lurus keatas dan tarik kup bahu pada sisi SP (Shoulder Point)1.5 cm dari
persimpangan dengan garis bahu belakang.
(8) Garis kerung lengan belakang
Ukur + 0.8cm pada garis 45* dari titik C untuk menentukan titik bantu.
Hubungkan ke garis lebar punggung dari bahu belakang dan tarik garis kerung
lengan belakang terus ke titik bantu.
(9) Kup pinggang
Kup a – dibawah BP
Kup b – 1.5cm ke arah tengah depan (TD/CF) dari titik F
Kup c – garis sisi
Kup d – 1cm ke arah tengah belakang (TB/CB) dari persimpangan garis lebar
punggung dan garis G
Kup e – 0.5cm ke arah tengah belakang (TB/CB) dari titik E
Kup f – Tengah belakang (TB/CB.
Buat garis tegak lurus disetiap titik, garis tengah kup.
Ukuran setiap kup adalah hasil dari perhitungan dari keseluruhan ukuran
proporsi
Jumlah ukuran kup akan menjadi lebar badan – [(W/2) + 3]cm. Menunjuk ke
tabel di bawah untuk ukuran kup.

16
Tabel 8. Referensi Cepat Ukuran Kupnat Pinggang
Sumber: Dasar Pola II (2013: 177)

Cara Menghitung Kemiringan Bahu dan Kupnat Badan

Gambar 53. Kupnat Kerung Lengan Badan Depan


Sumber: Dasar Pola II (2013)

Langkah-langkah:
(1) Sudut bahu depan
Ukur 8cm di atas garis horizontal dari SNP, dan kemudian ukur 3,2 cm ke
bawah dengan sudut yang tepat. Hubungkan titik ini ke SNP untuk menarik
garis bahu depan.

17
(2) Sudut bahu belakang
Ukur 8cm di atas garis horizontal dari SNP, dan kemudian ukur 2,6 cm ke
bawah dengan sudut yang tepat. Hubungkan titik ini ke SNP untuk menarik
garis bahu belakang
(3) Hubungkan titik G ke BP, dan ukur cm dari titik G, untuk

menentukan besar kup badan (bust)

Langkah Ketiga
Memberi tanda dan garis pola

B
+ 32 - 0,8 B + 3,4
24
=

o
1,8 22

A 18

+ 0,5
B - 0,8 =1,8
+ 0,2 32
1,5
8
0,5
0,5
B+ 13,7 FRONT
= 20,5
12 BACK
1 + 0,5

O
(B/4-2,5)
+ 0,8
2
BL
2-3
1,5

WL
f e d c b a

Gambar54. Pola Dasar Badan Sistem Bunka Cara 2


Sumber : Dasar Pola I (2013: 162)

18
6. Teknik Pembuatan Pola Dasar Lengan

Ukuran yang diperlukan

Lingkar lubang lengan = 36+4 =40cm


Tinggi kepala lengan = (1/4x40)+2 = 12cm
Panjang lengan (pendek) = 24cm

Gambar 55. Pola Dasar Lengan


Sumber:Konstruksi Pola Busana Wanita (2006)

Keterangan :

AB = tinggi kepala lengan, Tarik garis ke kanan (titik E) dan ke kiri (titik D)
AC = panjang lengan, Tarik garis ke kanan E1 dan ke kiri (D1)
AD = AE = ½ lingkar lubang lengan
AD = dibagi 3, pertengahan titik pertama turun 0,25cm, pada titik kedua naik
1.5cm
AE = dibagi 4, titik kedua naik 1cm, dan titik ketiga naik 2cm
D2G = E2F = masuk 1cm
Bentuk kerung lengan sesuai titik bantuan yang sudah dibuat, warnai pola sesuai
tanda pola

19
7.Pembuatan Pola Dasar Rok

Ukuran yang diperlukan meliputi:

Lingkar pinggang = 68cm


Lingkar panggul = 92cm
Tinggi panggul = 18cm
Panjang rok = 60cm

Gambar 56. Pola Dasar Rok


Sumber:Konstruksi Pola Busana Wanita (2006)

Keterangan:

Pola Bagian Depan


AB = tinggi panggul
AC = panjang rok
AF = BE =CD =1/4 lingkar panggul +1cm
AA1 = 2cm,
AG = ¼ lingkar pinggang +1cm , hubungkan titik A1 ke G (garis pinggang)
D = keluar 3cm, dan naik 2cm, Hubungkan G-E-D2 membentuk sisi rok

Pola Bagian Belakang


AB = tinggi panggul
AC = panjang rok
AF = BE =CD =1/4 lingkar panggul -1cm
AA1 = 2cm,
AG = ¼ lingkar pinggang -1cm +2cm (kupnat) ,hubungkan titik A1 ke G
(garis pinggang)

20
D = keluar 3cm, dan naik 2cm
A1A1 = 1/10 lingkar pinggang -1
A2A4 = kupnat
A2A3 = tinggi kupnat (9cm)
Hubungkan G-E-D2 membentuk sisi rok

8. Pengertian Draping
Draping adalah metode unik untuk menciptakan atau mengkreasikan disain
tanpa bantuan sebuah pola atau ukuran. Membuat pola dengan teknik draping
adalah membuat pola sesuai dengan ukuran dan bentuk badan seorang model,
untuk mempermudah prosedur pembuatan pola, model dapat diganti dengan dress
form atau boneka jahit yang ukurannya sama atau mendekati ukuran model. Pola
dengan teknik draping adalah salah satu teknik pembuatan pola untuk
mewujudkan suatu busana yang dikerjakan secara langsung di badan boneka (3
dimensi). Pembuatan pola dengan teknik draping adalah cara pembuatan pola
dengan menyampirkan bahan atau kertas baik pada dress form maupun langsung
pada badan seseorang.
Dari penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa draping adalah
teknik pembuatan pola dengan teknik memulir langsung kain atau kertas tela pada
boneka coba/ dress form/ dummy.

Keuntungan Pembuatan Pola Teknik Draping


Ada beberapa keuntungan dari pembuatan pola dengan teknik draping antara lain:
1. Dapat melihat proporsi garis-garis disain pada tubuh
2. Dapat melihat pas atau tidaknya pola tersebut pada tubuh
3. Dapat melihat keseimbangan garis-garis disain pada tubuh
4. Dapat melihat style busana

Untuk membuat pola dasar dengan teknik draping, ada beberapa tahapan yaitu :
1. Membuat bodyline pada dress form

21
2. Menyiapkan kain/kertas tela untuk draping sesuai perkiraan kebutuhan
3. Membuat pola dasar badan atas dan bawah sesuai langkah-langkah
membuat pola dengan menyemat dengan jarum, lalu ditandai dengan
pensil/kapur jahit
4. Setelah selesai dengan keseluruhan bagian pola dan menandai garis-garis
penting, kain/kertas tela diangkat dengan hati-hati
5. Memperbaiki, membentuk kembali garis-garis yang didapat pada hasil
draping
6. Menyesuaikan dengan ukuran tubuh si pemilik busana, grading seperti
pada patokan pola datar
7. Menjahit kain/kertas tela, fitting, melakukan perbaikan jika diperlukan

9. Teknik Pembuatan Pola Dasar Badan Secara Draping


a. Membuat Pola Dasar Badan Muka
Mendraping pola dasar bagian muka dan bagian belakang dress form
merupakan kelanjutan dari langkah-langkah dalam memperkirakan bahan untuk
mendraping.
1) Langkah memperkirakan bahan untuk mendraping badan muka adalah
sebagai berikut :

a. Panjang bahan : diukur dari bahu


+ 3cm
tertinggi + 3cm, melewati puncak
dada turun hingga ke garis + 6cm
pinggang + 4 cm
b. Lebar bahan: diukur dari TM
+ 4cm
melewati puncak dada hingga
menuju ke garis sisi + 6 cm

Gambar 57. Cara menghitung


kebutuhan bahan pola badan atas
Sumber: Draping (2016)

22
Hasil pengukuran dipindahkan pada kain dengan diukur pada arah serat
memanjang sama dengan hasil pengukuran memanjang pada dressform,
dan arah serat melebar sama dengan hasil pengukuran lebar pada
dressform.

2) Memberi tanda pada bahan


Kegunaan memberi tanda pada bahan adalah agar pada bagian atas pola atau
bagian bawah pola tidak mengalami kekurangan. Cara memberi tanda pada
bahan adalah sebagai berikut:
a.Buat garis TM 3-4 cm dari tepi kampuh

kain
b.Buat garis dada, tegak lurus
garis tepi
dengan TM. Terlebih dahulu ukur
panjang dari bahu ke dada
ditambah 3cm. garis dada

Gambar. 58. Tanda pada bahan

Langkah – langkah mendraping pola badan muka


Memberikan sematan jarum, dengan urutan sebagai berikut:

23
1 2 3 4
1. Menyemat pada tanda puncak dada
2. Menyemat pada tengah muka, yaitu tepat pada badan terbesar
3. Menyemat pada tengah muka, yaitu tepat pada garis lebar
muka
4. Menyemat pada tengah muka, yaitu tepat pada garis leher

5 6 7 8
5. Menyemat pada sisi, dengan memberi kelonggaran 0,5 cm, sebab dress form tanpa
memakai BH
6. Menyemat pada tengah muka, yaitu tepat pada pinggang
7. Menyemat sisi bawah, yaitu pada pinggang dan arah serat harus lurus dari sisi atas
8. Membentuk kupnat pinggang, kupnat dibentuk dari kelebihan kain antara TM dan
sisi lalu semat pada tengah-tengah garis pinggang

9 10 10 11
9. Membentuk kampuh pada leher dengan cara menggunting kelebihan kain
dengan menyisakan sekitar 2 cm untuk kampuh

24
10. Menyemat pada bahu terendah, tepat pada ujung bahu di bagian kerung
lengan
11. Membentuk kupnat bahu, kupnat dibentuk dari kelebihan kain antara bahu
tertinggi dan bahu terendah lalu semat pada tengah-tengah garis bahu
12. Merapikan sisa kampuh

Gambar59. Langkah mendraping Pola Badan Muka


Sumber: Modul Draping (2014)

b. Membuat Pola Dasar Badan Belakang


Langkah memperkirakan bahan untuk mendraping badan belakang adalah
sebagai berikut :
1) Panjang bahan : diukur dari bahu tertinggi turun lurus hingga ke garis
pinggang + 10 cm
2). Lebar bahan : diukur dari TB lurus ke samping hingga menuju ke
lingkar badan bagian sisi + 10 cm
3). Gambar garis arah serat panjang, di tengah belakang (TB), 2,5 cm dari
pinggir guntingan
4). Gambar garis leher tengah belakang, ukur 6 cm dari pinggir guntingan

25
Memberi tanda pada bahan

6 Cm

2,5 cm
T
B

Gambar 60. Menandai bahan


Sumber: Modul Draping (2014)

Langkah – langkah mendraping pola badan belakang


a) Memberi sematan jarum, dengan urutan sebagai berikut :

1 2 3 4
1. Menyemat pada TB, yaitu tepat pada tekuk leher
2. Menyemat pada TB, yaitu tepat pada garis lebar punggung
3. Menyemat pada TB, yaitu tepat pada garis lingkar badan
4. Menyemat pada TB, yaitu tepat pada garis pinggang

26
5 6 7 8 9

5. Menyemat lebar punggung bagian luar (kerung lengan)


6. Menyemat pada sisi bagian atas, yaitu pada badan
terbesar
7. Menyemat pada sisi bagian bawah, yaitu dengan cara meluruskan arah
serat dari sisi bagian atas
8. Membentuk kupnat pada pinggang, kupnat dibentuk dari kelebihan kain
antara TB dengan sisi lalu semat pada tengah-tengah garis pinggang
9. Menyemat pada bahu tertinggi, tepat pada lingkar leher dengan
memastikan kain rata pada badan tidak ada gelembung atau lipatan

10 11 12 13
Gambar 61. Langkah mendraping Pola Badan Belakang
Sumber: Modul Draping (2014)

10. Menyemat pada bahu terendah, tepat pada ujung bahu di bagian kerung
lengan

27
11. Membentuk kupnat bahu, kupnat dibentuk dari kelebihan kain antara bahu
tertinggi dan bahu terendah lalu semat pada tengah-tengah garis bahu
12. Merapikan sisa kampuh,menggunting sisa kampuh dengan menyisakan 2
cm untuk kampuh
13. Memberi tanda-tanda pola seperti TM, TB,lingkar leher, garis bahu, garis
sisi, garis pinggang. Memberi tanda kupnat,Melepas hasil draping dari
dress form. Membentangkan pola hasil draping. Memperbaiki tanda-tanda
pola seperti TM, TB, lingkar leher, garis bahu, garis sisi, garis pinggang.

Gambar 62. Hasil Pola Dasar Badan Teknik Draping


Sumber: Modul Draping (2014)

1. Cara Membuat Pola Dasar Rok Teknik Draping


Langkah memperkirakan bahan untuk mendraping rok muka dan belakang adalah
sebagai berikut :
a) Panjang bahan : diukur dari pinggang sampai panjang yang
diinginkan +10cm
b) Lebar bahan : diukur dari sisi panggul terbesar sampai TM/TB
+10cm

28
Langkah berikutnya adalah memberi tanda pada bahan

Gambar 63. Menandai bahan


Sumber: Modul Draping (2014)

Langkah – langkah mendraping pola rok muka


Memberi sematan jarum, dengan urutan sebagai berikut :
1) Menyemat bagian pinggang, yaitu pada TM
2) Menyemat pada panggul, yaitu pada bagian TM
3) Menyemat pada panggul, yaitu pada bagian sisi
4) Menyemat pada pinggang bagian sisi, dengan meluruskan arah serat
dari panggul
5) Menyemat panjang rok, yaitu pada TM
6) Menyemat panjang rok pada sisi
7) Membentuk kupnat pinggang, yaitu kupnat dibentuk dari kelebihan
kain antara TM dan sisi lalu semat pada tengah-tengah garis pinggang

29
1 2 3 4

5 6 7
Gambar 64. Mendraping pola rok muka
Sumber: Modul Draping (2014)

Langkah – langkah mendraping pola rok belakang


a) Memberi sematan jarum, dengan urutan sebagai berikut :

1 2 3 4

30
5 6 7
Gambar 65. Mendraping pola rok belakang
Sumber: Modul Draping (2014)

1) Menyemat bagian pinggang, yaitu pada TB


2) Menyemat pada panggul, yaitu pada bagian TB
3) Menyemat pada panggul, yaitu pada bagian sisi
4) Menyemat pada pinggang bagian sisi, dengan meluruskan arah serat
dari panggul
5) Menyemat panjang rok pada TB
6) Menyemat panjang rok pada sisi
7) Membentuk kupnat pinggang, yaitu kupnat dibentuk dari kelebihan
kain antara TB dan sisi lalu semat pada tengah-tengah garis pinggang
b) Memberi tanda-tanda pola seperti TM, TB, garis sisi, garis pinggang
c) Memberi tanda kupnat.
d) Melepas hasil draping dari dress form
e) Membentangkan hasil draping
f) Memperbaiki tanda-tanda pola seperti TM, TB, garis sisi, kupnat, garis
pinggang

Gambar 66. Hasil pola rok


Sumber: Modul Draping (2014)

31
Daftar Pustaka
Armaini Rambe. 2017. Sumber Belajar Penunjang PLPG 2017 Mapel Tata Busana
Materi Dasar Pola.Kemendikbudt. Dirjen Guru Dan Tenaga Kependidikan
Bintang Elly Simanjuntak. 2013. Dasar Pola II. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah
Kejuran. Jakarta.
Djati Pratiwi.. (2002). Pola Dasar dan Pecah Pola Busana.. Yogyakarta: Kanisus.

Eri Novida. 2013. Dasar Pola I Bahan Ajar Kurikulum 2013 Sekolah Menengah Kejuruan
Program Keahlian Tata Busana. Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan.
Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuran. Jakarta.
Ernawati, dkk. 2008. Tata Busana Untuk SMK Jilid 2. Direktorat Pembinaan Sekolah
Menengah Kejuruan, Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar Dan
Menengah, Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.
Porrie Muliawan. 2006. Konstruksi Pola Busana Wanita. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia
Ratna Suhartini. 2016. Draping. Surabaya: Unesa University Press
Sri Wening, 2014. Modul Teknik Draping. Jurusan Teknik Boga Dan Busana Fakultas
Teknik. Universitas Negeri Yogyakarta