Anda di halaman 1dari 26

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Proses pembuatan pulp dilakukan dengan memasak potongan kayu (chip) yang
ditambahkan bahan kimia sebagai bahan untuk memisahkan serat dari perekat kayu
(lignin). Bahan kimia yang digunakan pada proses pemasakan kayu yaitu NaOH +
Na2S +Na2CO3 atau disebut juga White Liquor (WL). (Job Training RC IKPP, 2016)
Serat-serat selulosa dari pulp kayu dilepas dari lignin ketika dimasak pada
tekanan tertentu dengan suatu campuran NaOH dan Na 2S. campuran lignin dan
bahan kimia yang pada dasarnya dalam bentuk Na 2CO3 dan Na2SO4 dibakar dalam
tungku soda dimana bahan-bahan kimianya didapat kembali sebagai suatu fungsi
yang mudah terbentuk yang terdiri dari Na 2CO3 dan Na2S. Hasil fungsi yang terlarut
dapat disebut sebagai Green Liquor (GL). Green liquor kembali dirubah menjadi
white liquor ketika secara bersama-sama dicampur dengan kapur tohor (reaksi
causticizing). (Ir. Marzuki, 1996)
Larutan kimia sisa pemasakan (black liquor) dari proses pemasakan potongan
kayu (chip) dilakukan proses penguapan (evaporasi) atau pemekatan black liquor
pada Recovery Boiler (RB). Tujuan dari penguapan ini adalah untuk meningkatkan
kadar padatan terlarut pada black liquor (dari 12% - 18% solid sampai 60% solid).
Proses daur ulang ini dilakukan di recorvery boiler berfungsi untuk memperoleh
kembali bahan pemasak atau white liquor dari black liquor. Black liquor akan dibakar
atau burning kemudian akan meleleh (smelt). Selama pembakaran senyawa organik
dibakar dan Na2SO4 direduksi menjadi Na2S. ( Job Training IKPP, 2007)
Smelt yang diperoleh dari proses pembakaran high black liquor akan dilarutkan
dengan air terlebih dahulu menjadi green liquor didalam tangki dissolving (Job
Training IKPP, 2007). Pelarut smelt yaitu Weak White Liquor (WWL) yang berasal dari
2

unit Recausticizing yaitu hasil dari pencucian lime mud (Anton dan Yogi, 1997). Setelah
itu green liquor akan diproses menjadi white liquor dengan cara proses
recausticizing.
Recausticizing merupakan unit untuk mengolah kembali green liquor menjadi
white liquor yang digunakan dalam proses pulp making dengan penambahan CaO.
Salah satu parameter yang dapat mempengaruhi pada proses di recausticizing
adalah konsentrasi Na2S dan Na2CO3 pada green liquor. Konsentrasi Na2S dan Na2CO3
sangat berpengaruh terhadap pemakaian CaO (kapur) pada proses recausticizing
(Anton, 2016). Oleh karena itu perlu dilakukan analisa konsentrasi Na 2S untuk
mengetahui seberapa banyak CaO yang dibutuhkan pada proses recausticizing untuk
menghasilkan White Liquor.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pengaruh konsentrasi Na2S terhadap konsumsi CaO?
2. Bagaimana cara mengurangi pemakaian CaO?

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan penelitian ini antara lain :
1. Untuk mengetahui pengaruh konsentrasi Na2S terhadap konsumsi CaO
untuk menghasilkan white liquor,
2. Untuk mengetahui cara mengurangi pemakaian CaO pada proses
recausticizing.

1.4 Manfaat Penelitian


3

1. IPTEK
Penelitian ini dapat bermanfaat untuk menambah pengetahuan
tentang proses recausticizing dalam industri pulp & paper.
2. Jurusan Teknik Kimia Industri
Penelitian ini bermanfaat untuk menambah referensi bagi mahasiswa
Teknik Kimia Industri dalam mempelajari proses bahan kimia yang
dihasilkan pada proses recausticizing di industri pulp & paper.
3. Masyarakat
Penelitian ini dapat bermanfaat untuk memberikan pengetahuan
tentang bahan kimia dan limbah yang dihasilkan pada proses
recausticizing dalam industri pulp & paper.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
4

2.1 Proses Recausticizing


Proses recausticizing adalah konversi dari pendauran bahan kimia anorganik
berupa green liquor (Na2Co3) yang dikirim dari Recovery Boiler (RB) menjadi bahan
cairan pemasak white liquor (NaOH) yang akan digunakan di degester (Anton dan
Yogi, 1997). Green liquor yang dihasilkan dari proses pelarutan smelt oleh Weak
White Liquor (WWL) akan diproses menjadi white liquor dengan cara proses
recausticizing.

Green Liquor
CaO

RC LK
CaCO3
White Liquor

(Sumber : Job Training RC & LK IKPP, 2016)

Gambar 1 Proses Umum Recausticizing Plant

Green liquor mengalami proses pengendapan terlebih dahulu untuk


menghilangkan kotoran-kotoran (dregs) yang terkandung dalamnya. Green liquor
yang telah dijernihkan kemudian direaksikan dengan kapur tohor (CaO), dibawah
kondisi terkontrol untuk membentuk Natrium Hidroksida (NaOH) dan Kalsium
Karbonat (CaCO3) yang disebut dengan proses recausticizing (Anton dan Yogi, 1997).
White liquor yang dihasilkan akan disempurnakan reaksinya di causticizer.
Penyempurnaan reaksi berlangsung sebanyak dua tahap. Reaksi tahap pertama
5

disebut “slaking”, reburned lime ini bereaksi dengan air menghasilkan susu kapur
(milk of lime).

CaO + H2O Ca (OH)2


(reburned lime) water (milk of lime)

Reaksi tahap kedua disebut “causticizing”, milk of lime CaO(OH)2 bereaksi dengan
zat-zat kimia di dalam green liquor untuk menghasilkan white liquor dan lumpur
kapur (kalsium karbonat (CaCO3), atau lime mud). Lime mud ini dihasilkan sebagai
bahan padat tersuspensi. Reaksi causticizing yang terjadi :

Ca(OH)2 + Na2CO3 2NaOH + CaCO3


(milk of lime) (green liquor) (white liquor) (lime mud)
(Sumber : FLS SMIDTH, 1995)

Reaksi secara keseluruhan yang terjadi di slaker yaitu:

CaO + H2O + Na2CO3 2NaOH + CaCO3


(Kapur) (Green Liquor) (White Liquor) (Lime Mud)
(Job Training RC IKPP, 2016)

White liquor akan mengalami proses pengendapan untuk memisahkan lumpur


kapur atau biasa disebut lime mud (CaCO3). White liquor yang telah mengalami
proses pengendapan akan digunakan sebagai cairan pemasak Chip (bahan baku pulp)
pada proses di degester. Lime mud yang telah dipisahkan selanjutnya akan dicuci
dengan air panas untuk mengambil kembali alkali yang masih terkandung
didalamnya, hasil dari pencucian lime mud tersebut yang disebut Weak White Liquor
(WWL) yang akan dikirim ke Recovary Boiler (RB) untuk dicampur dengan Smelt
(hasil pembakaran HBL) sehingga membentuk cairan yang disebut green liquor. Lime
mud setelah mengalami proses dewatering di lime mud filter kemudian akan
6

diproses kembali menjadi kapur (CaO) dengan cara proses kalsinasi di lime kiln untuk
membentuk kapur bakar yang direaksikan kembali dengan green liquor. (Anton dan
Yogi, 1997)

2.2 Istilah – Istilah Penting pada Proses Recausticizing

Beberapa istilah dan hal yang perlu dipahami yang digunakan pada proses
recausticizing, dijelaskan pada Tabel 1.

Tabel 1 Istilah-istilah di Unit Recausticizing


No Nomenclature Senyawa
1 RGL (Raw Green Liquor) Na2CO3 + Na2S + NaOH
2 CGL (Clarified Green Liquor) Na2CO3 + Na2S + NaOH
3 TTA (Total Titrable Alkali) Na2S + NaOH + Na2CO3
4 CE (Causticizing Efisiensi) {NaOH /(NaOH + Na2CO3)} x 100
5 TSS (Total Suspended Solid) mg solid / 1 ltr Solution
6 AA (Active Alkali) NaOH + Na2S
7 TA (Total Alkali) NaOH + Na2S + Na2CO3 + Na2SO4
8 WL (White Liquor) NaOH + Na2S + Na2CO3
(Sumber : Job Training RC IKPP, 2016)

2.3 Peralatan Recausticizing

2.3.1 Green Liquor Stabilization Tank

Raw Green Liqour (RGL) dari recovery boiler dipompakan kedalam Green Liquor
Stabilization Tank (GLST). Fungsi utamanya yaitu untuk menstabilkan flow, density,
temperatur dan konsentrasi pada green liquor yang akan diumpankan ke slaker.
Didalamnya RGL diaduk sedemikian rupa sehingga seluruh partikel padatan yang
berada dalam larutan green liquor dapat tercampur secara merata (homogen) (Anton
dan Yogi, 1997). Total Suspended Solid (TSS) green liquor di tangki sangat tinggi karena

mengandung banyak dregs. Penambahan polimer berfungsi sebagai flokulan supaya


dregs lebih cepat tersedimentasi (Job Training RC IKPP, 2016).
7

Gambar 2 Green Liquor Stabilization Tank

2.3.2 Green Liquor Clarifier Tank


Green Liquor dari stabilization tank kemudian dipompakan ke GLC. Fungsi
utamanya yaitu untuk mengendapkan padatan yang tersuspensi di dalam green
liquor dan memberikan green liquor yang bersih dan jernih. Partikel-partikel dregs
yang tersuspensi didalam green liquor akan diendapkan kedasar tangki, selanjutnya
endapan tersebut dikumpulkan pada under well dengan menggunakan rake,
menghasilkan green liquor yang bersih dan jernih. Rake akan berputar searah jarum
jam. Didalam GLC ini juga terdapat feedwell (seperti payung) yang berfungsi untuk
meredam aliran pumping yang sangat kuat. Dregs nya dipompakan ke dregs washer
tank guna dilakukan pencucian, agar jangan terlalu banyak alkali yang terbuang.
Sedangkan cairan jernih yang berada dibagian atas GLST tersebut akan langsung
dialirkan menuju slaker. (Anton dan Yogi, 1997)
8

Gambar 3 Green Liquor Clarifier Tank

2.3.3 Dregs Washer Tank


Fungsi utamanya untuk membersihkan padatan dregs yang mengandung solid
tinggi, sehingga senyawa sodanya bisa diambil kembali. Fase yang lebih berat akan
mengendap kedasar tangki lalu dengan menggunakan rake akan dikumpulkan ke
under well guna diumpankan ke dregs precoat filter untuk di filtrasi. (Anton dan Yogi,
1997)

Gambar 4 Dregs Washer Tank


9

2.3.4 Dregs Precoat Filter


Dregs filter ini memiliki tipe “Precoat”. Lapisan lime mud disebut “Precoat”
disimpan di drum filter sebelum operasi penyaringan dimulai dan ini berguna seperti
medium filter untuk dewatering (proses penanggalan air dari padatan) dregs (FLS
SMIDTH, 1995). Mekanisme prosesnya yaitu precoat ditempelkan diatas cloud (bagian

luar roll) sehingga dengan begitu dregs akan menempel diatas roll. Dengan
berputarnya roll mud, dregs yang menempel diatas cloud akan terkikis oleh doctor
blade (pisau penggerus) yang berada pada ujung sistem. Dregs akan jatuh ke bunker,
lalu dikirim ke landfill. Filtrat dari hasil proses ini akan dikirim ke green liquor
stabilization tank untuk diproses kembali (Job Training RC IKPP, 2016).

Gambar 5 Dregs Precoat Filter

2.3.5 Slaker
Filtrat yang terbentuk dari proses di green liquor clarifier akan dikirim terlebih
dahulu ke green liquor cooler, hal ini bertujuan untuk mengkondisikan temperatur
dari green liquor sehingga sesuai dengan temperatur reaksi yang diinginkan slaker
serta menghindari terjadinya boiling. Disana kandungan panas green liquor akan
berubah dari cairan menjadi uap. Dengan terbentuknya uap yang akan melewati
cooler, dimana setiap pipa di cooler dilewati air yang temperaturnya ± 30°C, kondisi
10

ini menyebabkan uap yang terbentuk akan terekomendasi kembali menjadi cairan.
Cairan tersebut akan bercampur dengan green liquor yang tidak menjadi uap,
menyebabkan temperaturnya akan turun dengan sendirinya. Biasanya retention time
pada proses ini kurang lebih 30 menit. (Job Training RC IKPP, 2016)
Pada dasarnya temperatur yang diinginkan slaker 101-104°C, sedangkan
temperatur green liquor yang diinginkan keluar dari green liquor cooler (GLC) adalah
85-88°C. Hal ini dikarenakan reaksi antara kapur (CaO) dan green liquor merupakan
reaksi eksotermis dimana terjadi kenaikan temperatur sebesar 13-16°C. setelah
melewati cooler, green liquor akan dikirim ke slaker, dimana adanya penambahan
kapur dari lime kiln (Job Training RC IKPP, 1998). Kapur yang dimasukkan mengandung
kotoran yang harus dibuang, maka digunakan alat slaker. Selain itu, slaker juga
merupakan sarana penting untuk rekasi causticizing (Seksi Recausticizing, 1998).
Kapur (CaO) yang berasal dari silo CaO diumpankan ke slaker dengan
menggunakan screw conveyer, pada slaker ini terjadi reaksi :

Slaking : CaO + H2O Ca (OH)2

Causticizing : Ca (OH)2 + Na2CO3 2NaOH + CaCO3

Reaksi causticizing ini sudah berlangsung sekitar 70-90% dan selanjutnya


diselesaikan di causticizer tank. Untuk mendapatkan reaksi dengan konversi yang
tinggi, slaker dilengkapi dengan buffle dan agitator (Anton dan Yogi, 1997). Pada
proses ini juga memungkinkan adanya kapur yang tidak bereaksi, disebut sebagai
grits (Job Training RC IKPP, 2016) . Grits ini nantinya akan dikeluarkan dan dibuang
dengan menggunakan screw conveyor ke bunker, kemudian cairan dari slaker
dialirkan ke causticizer tank (Anton dan Yogi, 1997).
11

Gambar 6 Slaker

2.3.6 Causticizer Tank


Setelah terbentuk white liquor (slurry), tahapan selanjutnya dialirkan ke
causticizer yang tersusun seri berjumlah 3 unit. Tangki Causticizer ini merupakan
reactor berpengaduk continue dan dilengkapi dengan buffle (Anton dan Yogi, 1997).
Causticizer memberikan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai reaksi causticizing
yang lengkap (homogen). Liquor dari slaker memasuki causticizer no. 1 ; dari
causticizer no. 1, liquor over flow ke causticizer no. 2, dan dari no. 2 ke causticizer no.
3 (FLS SMIDTH, 1995). Hasil penelitian dan percobaan, bila diinginkan reaksi
causticizing yang seimbang dan ideal, diperlukan 90 menit waktu reaksi, karena
reaksi yang sifatnya cepat bisa menimbulkan endapan yang menggumpal (Seksi
Recausticizing, 1998).
12

Gambar 7 Causticizer

2.3.7 White Liquor Reacticizer Tank


White liquor (slurry) yang berasal dari causticizer stand pipe dipompakan ke
tangki WLR untuk dijernihkan. Prinsip kerja tangki WLR yaitu berdasarkan perbedaan
density dari masing-masing fase serta dilengkapi dengan peralatan turbin yang
berfungsi mempercepat proses pengendapan (Anton dan Yogi, 1997). Turbin
reacticizer menyatukan partikel-partikel lumpur untuk mempercepat pengendapan
(FLS SMIDTH, 1995). Partikel padatan yang lebih besar akan mengendap lebih cepat
ke dasar tangki. Kemudian dengan menggunakan rake dikumpulkan di under well
untuk dipompakan ke tangki LMR, sedangkan cairan jernih masuk ke WL polishing
tank dan dipompakan ke White liquor storage dan dikirim ke digester Pulp Making
untuk pemasakan chip (Anton dan Yogi, 1997). Sebelum masuk ke tangki LMR partikel
padat dipompakan terlebih dahulu ke Clari Disc Filter (CDF) untuk dijernihkan
kembali, cairan jernih masuk kembali ke WLS, sedangkan partikel padatan
dipompakan ke LMR (Job Training RC IKPP, 1998).
13

Gambar 8 White Liquor Reacticizer Tank

2.3.8 Clari Disc Filter (CDF)


Under flow dari WLRT masuk terlebih dahulu ke feed tank kemudian menuju ke
CDF. CDF berbentuk seperti disc dengan total ada 8 disc. Didalam CDF sisa-sisa alkali
yang masih tertinggal pada lime mud akan ditarik lagi sehingga total alkalinya bisa
serendah mungkin. Setelah melewati separator, sisa alkali tersebut akan dipompakan
ke storage, sedangkan lime mudnya menuju ke lime mud tank yang kemudian akan
dipompakan lime mud mixing tank. (Job Training RC IKPP, 2016)

Gambar 9 Clarifier Disc Filter


14

2.3.9 Lime Mud Reacticizer Tank (LMRT)


Lime mud Reacticizer Tank (LMRT) berfungsi untuk menarik kembali alkali yang
terbawa oleh under flow WLRT dan untuk mencuci lime mud sehingga kandungan
alkali dalam lime mud diharapkan serendah mungkin. Pengoperasian LMR ini sama
dengan WLR, namun pada peralatan ini ada penambahan filtrat/air panas yang
berfungsi sebagai pencuci lime mud (Anton dan Yogi, 1997). Lime mud yang
mengendap didasar tangki yang miring. Under flow (lime mud) dari reacticizer
dikeluarkan pada konsistensi solids 37% dan dipompakan ke tangki Lime mud
storage (FLS SMIDTH, 1995).

Gambar 10 Lime mud Reacticizer Tank (LMRT)

2.3.10 Lime Mud Storage (LMS)


Lime mud storage berfungsi sebagai penghubung antara lime kiln dan
recauticizing plant. Selain itu juga dapat berfungsi sebagai tempat penampungan
sementara lime mud dari washer sebelum di filtrasi di lime mud filter sehingga bila
terjadi masalah pada lime mud filter maka dapat ditampung sementara di lime mud
storage (Job Training RC IKPP, 2016). Pada peralatan tangki ini dilengkapi dengan
pengaduk yang berfungsi agar mud tidak sampai mengendap, serta memberikan
dencity yang stabil sebelum mud di umpankan ke LMF ( Anton dan Yogi, 1997).
15

Strorage tank dilengkapi dengan pengaduk tipe paddle untuk menjaga solids lime
mud dalam bentuk suspensi. Lime mud dari tangki penyimpan lime mud dicairkan
lebih lanjut sehingga mencapai konsentrasi yang cocok untuk umpan ke lime mud
filters (solids 25%) dan laju alir dikontrol untuk menggunakan berat solids kering
yang diinginkan untuk umpan ke kiln (FLS SMIDTH, 1995).

Gambar 11 Lime Mud Storage Tank (LMST)

2.3.11 Lime Mud Filter


Lime mud filter merupakan salah satu komponen penting dalam unit
rekaustisasi, berfungsi untuk mendapatkan kembali tingkat kekeringan (dryness)
pada lime mud agar bisa di burning pada lime kiln dan mendapatkan kembali soda
yang tersisa di lime mud. (Job Training RC IKPP, 2016)
Unit lime mud filter biasanya berada diantara lime kiln dan lime mud storage
tank. Unit ini juga berhubungan erat dengan lime mud washer. Sehingga bila ingin
mendapatkan dryness yang tinggi, kandungan alkali-alkali yang tertinggal pada lime
mud harus dikondisikan sekecil mungkin, karena semakin sedikit alkali maka dryness
yang diperoleh akan semakin tinggi. (Job Training RC IKPP, 2016)
Lime mud filter adalah dari tipe precoat untuk memperoleh solids maksimum di
dalam mud yang di discharge ke lime kiln. Unit filter memiliki precoat dari padatan-
16

padatan mud di wire drum dan solids yang didapat disimpan pada permukaan
precoat tersebut. Lime mud ini dihilangkan airnya dengan memanfaatkan vacuum
disebelah dalam drum dan di discharge dengan sebuah variable position scrapper.
Pengaduk di dalam filter menjaga lime mud di dalam tong dalam bentuk suspense
(FLS SMIDTH, 1995). Dengan cara tersebut maka lime mud yang kering dan rendah

alkali dapat diperoleh, sehingga akan meminimalkan pemakaian natural gas pada
lime kiln (Job Training RC IKPP, 2016).

Gambar 12 Lime Mud Precoat Filter


17

2.4 Kontrol Operasional Recausticizing


Secara garis besar kondisi operasi yang harus dikontrol pada Reacausticizing
Plant dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2 Kontrol Operasional Recausticizing
No Liquid Name Standard
TTA 127 gpl
1 Raw Green Liquor TSS ≤ 1000 ppm
CaCO3 78 - 80 gpl
Clarified Green TTA 118 - 125 gpl
2
Liquor TSS ≤ 150 ppm
TEMP. 102 - 105°C
3 Slaking
CE 68 - 74 %
CE ≥ 82 %
4 Last Causticizier
AA 103 – 105
CE ≥ 82 %
AA 105 - 110 gpl
5 White Liquor
TSS ≤ 40 ppm
S 25 - 38 %
TA ≤ 20 gpl
6 Weakwash
TSS ≤ 150 ppm
(Sumber : Quality Control Recausticizing IKPP, 2016)

BAB III
METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH
18

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian


Pelaksanaan penelitian dilaksanakan selama dua bulan secara berturut-turut
sejalan dengan pelaksanaan Kerja Praktik (KP) pada tanggal 29 Maret – 27 Mei 2016.
Tempat pelaksanaan penelitian di PT. Indah Kiat Pulp and Paper, Tbk. Perawang Mill.
Tepatnya di unit Recausticizing (RC) plant-9, Recovery Boiler Devision (RBP).
3.2 Alat dan Bahan
Penelitian dilakukan dengan menganalisa konsentrasi Na 2S pada green liquor
dan white liquor. Alat dan bahan yang digunakan yaitu :
Alat :
a. Pipet gondok 5 ml
b. Dispenser buret
c. Erlenmeyer 250 ml
d. Gelas ukur 100 ml
e. Buret 50 ml.

Bahan :

a. 10 % BaCl2, 5 % BaCl2
b. 0.5 N HCl
c. Indikator Phenol Ptalein (PP)
d. Indikator Methyl Orange (MO)
e. Formaline ( 37 % formaldehid )
f. Air murni (pure water).

3.3 Perlakuan dan Rancangan Penelitian


Penelitian dilaksanakan dengan turun langsung kelapangan untuk pengambilan
sampel. Sampel yang diambil berupa cairan sebanyak 100 ml. Pengambilan sampel
dilakukan pada pagi, siang, dan malam seperti pada tabel 1.
Tabel 3 Jadwal Pengambilan Sampel
19

Shif
Waktu Pagi Sore Malam
07.00 WIB 11.00 WIB 15.00 WIB 19.00 WIB 23.00 WIB 03.00 WIB
RGL RGL RGL RGL RGL RGL
GLS Caust I GLP Caust I Caust I Caust I
GLP Caust II caust I Caust II WLR Caust II
Sampel WLR WLR WLS
WLS WLS DWT
Caust I WWL
Spill
(Sumber : Laboratorium RC Plant-9, 2016)

Langkah kerja untuk menganalisa konsentrasi Na2S yang terdapat pada green
liquor dan white liquor adalah :

a. Dipipet sampel liquor 5 ml ke dalam erlemeyer 250 ml yang berisi air


murni 50 ml.
b. Ditambahkan 10 % BaCl2 25 ml untuk GL, dan ditambahkan 5 % BaCl 2 25
ml WL ( pada tabung erlemeyer yang berbeda ).
c. Ditambahkan 2-3 tetes PP sebagai indikator, warna larutan akan
berubah menjadi merah muda (pink).
d. Dititrasi dengan 0.5 N HCl secara perlahan hingga warna berubah dari
pink ke warna awal. Catat pembacaan titik akhir sebagai a ml.
e. Ditambahkan 37 % formaldehid 2 ml warna larutan menjadi pink
kembali. Dilanjutkan titrasi dengan 0.5 N HCl sampai warna larutan
berubah ke warna aslinya. Catat pembacaan titik akhir sebagai b ml.
f. Ditambahkan 2-3 tetes indicator MO, larutan akan berubah warna
menjadi kekuning-kuningan (yellow wish). Ditritrasi dengan 0,5 N HCl
sampai warna berubah orange pada titik akhir atau pH 4. Dicatat ml titik
akhir sebagai nilai c ml.
Keterangan :

a = ml titrasi pada titik akhir I ( PP indikator )


20

b = ml titrasi pada titik akhir II ( formal dehid )

c = ml titrasi pada titk akhir III ( MO indikator )

F = Faktor larutan penitrasi.

3.4 Prosedur Penelitian


Penelitian ini dilakukan dengan pengumpulan data menggunakan metode
sebagai berikut :
1. Data Sekunder
Data historis mengenai konsentrasi Na 2S pada green liquor dan white liquor serta
konsumsi CaO yang sudah ada di kantor unit Recausticizing pada bulan Februari –
Mei 2016, kemudian diolah sesuai dengan kebutuhan penelitian.
2. Interview
Melakukan interview dengan pihak/karyawan terkait mengenai proses
recausticizing dan penelitian untuk mendapatkan data yang dibutuhkan.
3. Field Reseach
Penelitian dilakukan dengan turun langsung kelapangan untuk mengambil
sampel dan melakukan percobaan di laboratorium Recausticizing (RC) plant-9 untuk
menganalisa kandungan Na2S pada green liquor dan white liquor.

4. Library Reseach
Penelitian dilakukan dengan cara mencari data atau keterangan dari berbagai
sumber yang ada kaitannya dengan masalah proses recausticizing dan penelitian
yang dilakukan.
21

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1 Analisa Konsentrasi Na2S pada green liquor dan white liquor
Tabel 4 Data Hasil Analisa Laboratorium RC Plant-9
Analisa Sampel
22

GL From RB WLS
a (ml) 8,2 29,0
b (ml) 12,0 32,8
c (ml) 38,5 38,5
NaOH (g/l) 13,7 78,3
Na2S (g/l) 24,7 24,0
Na2CO3 (g/l) 83,6 20,0
S (%) 79,6
AA (g/l) 108,3
(Sumber : Laboratorium RC Plant-9, 03 April 2016)
4.1.2 Analisa Data Konsentrasi Na2S dan Konsumsi CaO
Tabel 5 Data Analisa Bulan Februari-Maret 2016
Konsentrasi Konsumsi
Bulan Na2S CaO
Februari 21.1 17444
Maret 24.7 17468
April 25.5 16397
Mei 25.8 15156

4.2 Pembahasan
4.2.1 Analisa Konsentrasi Na2S pada Green Liquor dan White Liquor
Proses recausticizing merupakan unit untuk mengolah kembali bahan kimia
sisa pemasak chip (black liquor) menjadi white liquor. Black Liquor akan diolah
menjadi green liquor dengan cara proses pembakaran, hasil sisa pembakaran yang
dicairkan menggunakan cairan putih (weak white liquor) disebut green liquor (Job
Training RC, 2016). Proses ini dilakukan di Recovary Boiler (RB). Setelah menjadi
green liquor kemudian dialirkan ke unit Recausticizing yang akan direaksikan dengan
kapur (CaO) sebagai bahan kimia tambahan. Senyawa kimia pada green liquor yang
akan proses menjadi white liquor yaitu Na2S + Na2CO3 + NaOH, memiliki konsentrasi
dengan standar yang telah ditentukan.
Percobaan yang telah dilakukan yaitu untuk menganalisa konsentrasi Na 2S pada Green
Liquor (GL) dan White Liquor (WL). Sampel diambil pada tanggal 03 April 2016 jam 07.00
WIB, sampel green liquor diambil di GLS, GLC dan GLP. Sedangkan sampel white liquor
23

diambil pada causticizer I, WLR dan WLS. Masing-masing sampel diambil sebanyak 100 ml,
kemudian sampel liquor dipipet sebanyak 5 ml dimasukkan kedalam erlemeyer 250 ml yang
berisi air murni 50 ml. Sampel ditambakan 10% BaCl 2 25 ml untuk GL dan ditambahkan 5%
BaCl2 untuk WL (pada tabung erlemeyer yang berbeda). Hasil analisa konsentrasi Na 2S yang
dilakukan bahwa konsentrasi Na 2S pada GL dan WL telah memenuhi standar yang telah
ditentukan yaitu ≥25 g/l.
Penambahan BaCl2 berfungsi untuk memudahkan dalam menentukan konsentrasi yang
terkandung pada GL dan WL, karena BaCl2 merupakan larutan garam yang paling baik larut
dalam air dan paling bagus dalam penentuan ion sulfat. Selanjutnya sampel ditambahkan
dengan indikator Phenol Ptalein (PP) untuk menentukan nilai a ml, Methyl Orange (MO)
sebagai penentu nilai b ml dan formaline (37% formaldehid) penentu nilai c ml.
4.2.2 Analisa Data Konsentrasi Na2S dan Konsumsi CaO
Penggunaan CaO yang dibutuhkan pada proses di slaker untuk mengubah green
liquor menjadi white liquor, salah satunya dipengaruhi oleh konsentrasi Na 2S pada
green liquor. Standar konsentrasi Na2S pada green liquor yang dikirim dari recovery
boiler yang diinginkan yaitu ≥ 25 g/l (Quality RC IKPP, 2016). Apabila konsentrsi Na2S
pada green liquor kurang dari standar (≥ 25 g/l), maka penggunaan CaO akan
semakin banyak karena untuk memenuhi nilai Aktif Alkali (AA) white liquor yaitu 100
g/l.
24

Gambar 13 Grafik Perbandingan konsentrasi Na2S Terhadap Konsumsi CaO


Berdasarkan analisa data konsentrasi Na 2S dan konsumsi CaO, konsentrasi Na2S
pada green liquor sangat berpengaruh terhadap penggunaan CaO. Semakin tinggi
konsentrasi Na2S pada green liquor maka semakin sedikit CaO yang digunakan
karena nilai sulfidity pada white liquor telah tercapai (25-38%). Proses pencampuran
CaO pada green liquor bertujuan untuk memenuhi Aktif Alkali (AA) pada white
liquor.
Data yang diambil dari bulan Februari-Mei 2016, menunjukkan adanya
penurunan penggunakan CaO. Hal ini terjadi karena adanya pengaruh terhadap
proses di White Liquor Reacticizer Tank (WLRT), karena semakin tinggi konsumsi CaO
maka endapan (lime mud) yang dihasilkan akan semakin banyak. Lime mud
sebaiknya dipisahkan dengan segera, untuk menjaga level mengendap padatan-
padatan (solids) tetap rendah. Endapan yang berlebih akan menambah beban
torque (beban puntir) rake , jika beban rake agitator terus bertambah akibatnya
rake agitator tersebut trip. Jika sudah terjadi trip maka harus dilakukan pencucian
tangki dan proses produksi stop. (FLS SMIDTH, 1995)
25

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari laporan yang telah dibuat berdasarkan penelitian yang telah dilakukan
dengan menganalisa data yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa :
1. Semakin tinggi konsentrasi Na2S pada green liquor (24-30 g/l), maka
penggunaan CaO akan semakin sedikit. Hal ini terjadi karena nilai Sulfidity
pada white liquor telah tercapai (25-38%).
2. Untuk mengurangi konsumsi CaO harus dilakukan perbaikan meningkatkan
konsentrasi Na2S yang harus dilakukan di Recovery Boiler (RB).

5.2 Saran
Setelah melakukan penelitian di bagian Recovary Boiler Devition (RBD) unit
Recaucticizing plant-9, beberapa hal yang dapat disarankan sebagai berikut :
1. Untuk mempelajari proses merubah black liquor menjadi green liquor di
recovery boiler supaya mengetahui cara memenuhi standar konsentrasi Na 2S
(24-30 g/l).
2. Dalam melakukan penelitian, diperlukan menggunakan Alat Pelindung Diri
(APD) yang telah dianjurkan. Supaya pada saat penelitian keselamat dan
kesehatan diri tetap terjaga.
26

DAFTAR PUSTAKA

Job Training. 2007. Proses Recausticizing & Lime Kiln, Perawang.


Job Training. 2016. Proses Recausticizing & Lime Kiln, Perawang.
Marzuki. 1996. Lime Reburning Plant, Diktat Proses Recausticizing, Perawang.
Recausticizing Section. 1995. Manual Pengoperasian R/C Pulp-8, Diktat Proses
Recausticizing, Perawang.
Suprayogi & Anton. 1997. Gambaran Umum Proses Recausticizing & Interlocking,
Diktat Proses Recausticizing, Perawang.
Seksi Recausticizing. 1998. Norma-Norma Pengoperasian Recausticizing, Diktat
Proses Recausticizing, Perawang.