Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN METODE


OPERATIF WANITA (MOW) DI RUANG SERUNI RSUD
dr. ABDOER RAHEM SITUBONDO

OLEH:
Elik Anistina, S. Kep
NIM 182311101070

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
JANUARI, 2019
PERSETUJUAN
Asuhan Keperawatan Klien dengan Metode Operatif Wanita (MOW) yang telah
dilaksanakan pada tanggal Di Ruang Seruni Rumah Sakit Umum Daerah dr.
Abdoer Rahem Situbondo

Situbondo, Januari 2019

Pembimbing Ruangan Pembimbing Akademik

Ns. Dini Kurniawati, M.Psi., M.Kep.,Sp.Kep.Mat Chairiyah S. ST


NIP. 19820128 200801 2 012 NIP. 19791012 200604 2 019

Mengetahui,
Kepala Ruangan

Dina Purwanti, S.Tr.Keb.


NIP. 19800527 200604 2 025
LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN METODE


OPERATIF WANITA (MOW) DI RUANG SERUNI RSUD
dr. ABDOER RAHEM SITUBONDO
Oleh: Elik Anistina, S.Kep

A. Definisi
Kontrasepsi mantap adalah satu metode kontrasepsi yang
dilakukan dengan cara mengikat atau memotong saluran telur (pada
perempuan) atau saluran sperma (pada lelaki). Kontrasepsi mantap (
Kontap ) dikenal ada dua macam, yaitu Kontap Pria dan Kontap Wanita.
Kontap Wanita atau merupakan metode sterilisasi pada wanita dikenal
dengan MOW atau tubektomi.
MOW (Medis Operatif Wanita) / Tubektomi atau juga dapat
disebut dengan sterilisasi. MOW merupakan tindakan penutupan terhadap
kedua saluran telur kanan dan kiri yang menyebabkan sel telur tidak dapat
melewati saluran telur, dengan demikian sel telur tidak dapat bertemu
dengan sperma laki laki sehingga tidak terjadi kehamilan, oleh karena itu
gairah seks wanita tidak akan turun (BKKBN, 2006).
Tubektomi adalah prosedur bedah sukarela untuk menghentikan
fertilitas atau kesuburan perempuan dengan mengokulasi tuba fallopi
(mengikat dan memotong atau memasang cincin) sehingga sperma tidak
dapat bertemu dengan ovum, jadi dasar dari MOW ini adalah mengokulasi
tuba fallopi sehingga spermatozoa dan ovum tidak dapat bertemu.

B. Etiologi
Tuba falopi adalah saluran sepanjang sekitar 10 cm yang
menghubungkan ovarium dengan uterus. Pada saat ovulasi, sel telur
dikeluarkan dari ovarium dan bergerak menuju uterus. Bila ada sperma di
tuba falopi, ovum akan terbuahi dan menjadi embrio yang kemudian
melekat di uterus.
Cara memblokir saluran tuba dapat dilakukan dalam beberapa cara.
Tuba bisa ditutup dengan mempergunakan implan, klip atau cincin serta
dengan memotong atau mengikat. Metode yang paling dipakai sekarang
adalah dengan mempergunakan laparoskopi kemudian menjepit kedua
saluran tuba dengan klip atau dengan memasang ring.
Terdapat beberapa macam tindakan bedah / operasi sterilisasi tuba
yaitu : laparoskopi, mikro-laparoskopi, laparotomi (bersamaan dengan
Seksio Cesarea (SC), mini-laparotomi (operasi kecil), histereskopi (dengan
memasang implan yang akan merangsang jaringan ikat, sehingga saluran
tuba akan terblokir), dan pendekatan / teknik melalui vagina (sekarang
tidak dipakai lagi karena tingginya angka infeksi).
Pembedahan biasanya dilakukan dengan pembiusan umum. Dokter
dapat menggunakan alat bantu berupa teleskop khusus yang disebut
laparoskop. Teleskop berupa pipa kecil bercahaya dan berkamera ini
dimasukkan melalui sebuah sayatan kecil di perut untuk menentukan
lokasi tuba falopi. Sebuah sayatan lainnya kemudian dibuat untuk
memasukkan alat pemotong tuba falopi Anda. Biasanya, ujung-ujung tuba
falopi kemudian ditutup dengan jepitan. Cara yang lebih tradisional yang
disebut laparotomi tidak menggunakan teleskop dan membutuhkan
sayatan yang lebih besar.

C. Jenis-jenis
1. Minilaparotomi
Metode ini merupakan penyerdahanaan laparotomi terdahulu, hanya
diperlukan sayatan kecil sekitar 3 cm baik pada perut bawah
(suprapubik) maupun sub umbilical (pada lingkar perut pusat).
Tindakan ini dapat dilakukan terhadap banyak klien, relative murah,
dan dapat dilakukan oleh dokter yang diberi latihan khusus. Operasi ini
aman dan efektif.
2. Laparoskopi
Prosedur ini memelukan tenaga Spesialis Kebidanan dan Penyakit
Kandungan yang telah dilatih secara khusus agar pelaksanaannya aman
dan efektif. Teknik ini dapat dilakukan pada 6-8 minggu pasca
persalinan atau setelah atau abortus (tanpa komplikasi). Laparoskopi
sebaiknya digunakan pada jumlah klien yang cukup banyak karena
peralatan laparoskopi dan biaya pemeliharaannya cukup mahal.

D. Keuntungan dan Kerugian


1. Keuntungan tubektomi
a. Motivasi hanya dilakukan 1 kali saja, sehingga tidak diperlukan
motivasi yang berulang-ulang
b. Efektivitas hampir 100%
c. Tidak mempengaruhi libido seksual
d. Kegagalan dari pihak pasien tidak ada
e. Tidak mempengaruhi proses menyusui (breastfeeding)
f. Tidak bergantung pada faktor senggama
g. Baik bagi klien apabila kehamilan akan menjadi resiko kesehatan
yang serius
h. Pembedahan sederhana, dapat dilakukan dengan anestesi lokal
i. Tidak ada efek samping dalam jangka panjang
j. Tidak ada perubahan dalam fungsi seksual (tidak ada efek pada
produksi hormon ovarium).

2. Kerugian Tubektomi
a. Rasa sakit/ketidak nyamanan dalam jangka pendek setelah tindakan
b. Ada kemungkinan mengalami resiko pembedahan
c. Klien dapat menyesal dikemudian hari
d. Risiko komplikasi kecil (meningkat bila digunakan anestesi umum)
e. Rasa sakit atau ketidaknyamanan dalam jangka pendek setelah
tindakan
f. Tidak melindungi diri dari Infeksi Menular Seksual (IMS)

E. Manifestasi Klinis
1. Nyeri tekan lokal pada bagian post operasi
2. Pucat

F. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan darah rutin : untuk mengetahui adanya peningkatan
leukosit yang merupakan tanda adanya infeksi
2. Pemeriksaan foto abdomen : untuk mengetahui adanya komplikasi
pasca bedah.

G. Syarat-syarat Kontrasepsi Tubektomi


1. Harus sudah memiliki paritas > 2 anak terkecil berumur 2 tahun.
2. Umur ibu
Menganjurkan rumus 100 artinya umur ibu dikalikan dijumlah
anak setidak-tidaknya mendekati angka 100/lebih, contoh : ibu yang
berumur 30 tahun bila 12 berumur 25 dijumlah anak minimal adalah 4
(Santoso, 2006) dan menurut Prawirohardjo (2003), usia ibu > 26 tahun.
3. Perkawinan stabil (Keluarga harmonis). Karena perceraian setelah
kontap dapat membuat penyesalan yang sangat sulit diatasi.
4. Konseling
Konseling adalah proses yang berjalan dan menyatu dengan semua
aspek pelayanan keluarga berencana dan bukan hanya informasi yang
diberikan dan dibicarakan pada satu kesempatan yakni pada saat
pemberian pelayanan. Klien diberi kesempatan untuk menilai
keuntungan, kerugian, akibat, prosedur dan alternatif lain dan tidak
harus menentukan pilihannya ada saat itu juga. Sangat penting karena
penyesalan setelah kontap kebanyakan terjadi karena konseling yang
kurang adekuat. Konseling harus dilakukan pada saat calon klien
(pasangan) berada pada kondisi psikologis yang prima.
5. Informed consent
Adalah pernyataan klien bahwa 12 menerima atau menyetujui
sebuah tindakan medis (dalam hal ini Tubektomi) secara sukarela dan
menyadari sepenuhnya semua risiko dan akibatnya

H. Indikasi
Yang Dapat Menjalani Tubektomi :
1. Usia > 26 tahun.
2. Paritas (jumlah anak) minimal 2 dengan umur anak terkecil > 2 thn.
3. Yakin telah mempunyai keluarga besar yang sesuai dengan kehendak
4. Pada kehamilannya akan menimbulkan resiko kesehatan yang serius.
5. Pascapersalinan.
6. Pascakeguguran.
7. Paham dan secara sukarela setuju dengan prosedur ini

Indikasi sterilisasi (tubektomi) dapat dibagi lima macam, yaitu :


1. Indikasi medis
Adalah penyakit yang berat dan kronik seperti penyakit jantung
(termasuk derajat 3 dan 4) ginjal, paru dan penyakit kronik lainnya.
Penyakit jantung, gangguan pernafasan, diabetes mellitus tidak
terkontrol, hipertensi, maligna, anemia gravis, tumor ginekologik,
infeksi panggul 3 bulan terakhir, riwayat penyakit operasi yang sulit
observasi (Santoso, 2006).
2. Indikasi obsetri
Adalah keadaan dimana risiko kehamilan berikutnya meningkat.
Meskipun secara medis tidak menunjukkan apa-apa seperti
multiparitas (banyak anak) dengan usia relatif lanjut
(grandemultigravida) yakni paritas umur 35 tahun atau lebih, seksio
sesarea dua kali atau lebih.
3. Indikasi genetik
Adalah penyakit herediter yang membahayakan keselamatan dan
kesehatan anak seperti : Huntington`s chorea, Tayschs disease dan
lain-lain.
4. Indikasi kontrasepsi
Adalah indikasi yang murni ingin menghentikan (mengakhiri)
kesuburan artinya pasangan tersebut tidak menginginkan kelahiran
anak lagi.
5. Indikasi ekonomi
Adalah pasangan suami istri menginginkan sterilisasi karena
merasa beban ekonomi keluarga menjadi terlalu berat dengan
bertambahnya anak dalam keluarga

I. Kontra Indikasi
Yang sebaiknya tidak menjalani tubektomi
1. Hamil (sudah dideteksi atau dicurigai).
2. Perdarahan vaginal yang belum terjelaskan (hingga harus dievaluasi).
3. Infeksi sistemik atau pelvic yang akut (hingga masalah itu
disembuhkan atau dikontrol).
4. Tidak boleh menjalani proses pembedahan.
5. Kurang pasti mengenai keinginannya untuk fertilitas dimasa depan.
6. Belum memberikan persetujuan tertulis.
7.
J. Efek Samping
1. Reaksi alergi anestesi
Penanggulangan KIE:
Menjelaskan sebab terjadinya bahwa adanya reaksi hipersensitif
atau alergi karena masuknya larutan anestesi lokal ke dalam sirkulasi
darah atau pemberian anestesi lokal yang melebihi dosis. Reaksi ini
dapat terjadi pada saat dilakukan tindakan operasi baik operasi besar
atau kecil.
2. Infeksi atau abses pada luka
Penanggulangan KIE:
Menjelaskan sebab terjadinya karena tidak terpenuhinya standar
sterilitasi alat operasi dan pencegahan infeksi, atau kurang
sempurnanya teknik perawatan luka pasca operasi.Gejala ini
umumnya terjadi karena kurang diperhatikannya strerilitas alat dan
ruangan, kurang sempurnanya persiapan operasi teknik dan perawatan
luka pasca operasi
3. Perforasi rahim
Penanggulangan KIE :
Menjelaskan sebab terjadinya dikarenakan elevator rahim didorong
terlalu kuat kearah yang salah, teknik operasi yang cukup sulit dan
peralatan yang kurang memadai, serta keadaan anatomi tubuh yang
rumit (biasanya posisi rahim hiperretrofleksi, adanya perlengketan
pada rahim, pasca keguguran). Terangkan mengenai teknik yang
dipakai pada tubektomi serta anatomi tubuh manusia.
4. Perlukaan kandung kencing
Penanggulangan KIE :
Menjelaskan sebab terjadinya dikarenakan tidak sempurnanya
pengosongan kandung kencing. Terangkan mengenai teknik yang
dipakai pada tubektomi serta anatomi tubuh manusia.
5. Perlukaan usus
Penanggulangan KIE :
Menjelaskan sebab terjadinya karena tindakan yang tidak sesuai
prosedur, teknik operasi yang cukup sulit dan peralatan yang kurang
memadai, serta keadaan anatomi tubuh yang rumit. Terangkan
mengenai teknik yang dipakai pada tubektomi serta anatomi tubuh
manusia.
6. Perdarahan mesosalping
Penanggulangan KIE :
Menjelaskan sebab terjadinya karena terpotongnya pembuluh darah
di daerah mesosalping.
K. Komplikasi
1. Komplikasi selama operasi
a. Perdarahan dan syok.
b. Sesak nafas (apnoe).
2. Komplikasi pasca bedah
a. Nyeri perut, perut kembung, nyeri dada.
b. Infeksi dan febris.
c. Disparenea karena pertumbuhan jaringan granulasi pada bekas luka
kolpotomi
DAFTAR PUSTAKA

BKKBN, 2012, Pedoman Pelayanan Keluarga berencana Pasca Persalinan,


Jakarta, BKKBN.

Bobak, 2005, Rencana Asuhan Keperawatan Maternitas, Jakarta, EGC.

Doengoes, Marilyn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk


Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Ed 3. Jakarta : EGC.

Nanda. 2005. Diagnosis Keperawatan Nanda: Definisi & Klasifikasi 2005-2006.


Jakarta : prima Medika.

Prawirohardjo, S, 2003, Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, Jakarta,


Yayasan Bina Pustaka.