Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Perkembangan dan kemajuan peradaban manusia dewasa ini tidak terlepas
dari peran ilmu. Bahkan perubahan pola hidup manusia dari waktu ke waktu
sesungguhnya berjalan seiring dengan sejarah kemajuan dan perkembangan ilmu.
Tahap-tahap itu kita menyebut dalam konteks ini sebagai priodesasi sejarah
perkembangan ilmu; sejak dari zaman klasik, zaman pertengahan, zaman modern
dan zaman kontemporer.
Kemajuan ilmu dan teknologi dari masa ke masa ibarat mata rantai yang
tidak terputus satu sama lain. Hal-hal baru yang ditemukan suatu masa menjadi
unsur penting bagi penemuan-penemuan lainnya di masa berikutnya. Satu hal
yang tak sulit untuk disepakati, bahwa hampir semua sisi kehidupan manusia
modern telah disentuh oleh berbagai efek perkembangan ilmu dan teknologi,
sektor ekonomi, politik, pertahanan dan keamanan, sosial dan budaya, komunikasi
dan transportasi, pendidikan, seni, kesehatan, dan lain-lain, semuanya
membututuhkan dan mendapat sentuhan teknologi.
Manusia sebagai ciptaan tuhan yang sempurna dalam memahami alam
sekitarnya terjadi proses yang bertingkat, salah satunya adalah ilmu. Dengan ilmu
bukan hanya dapat diketahui apa itu suatu obyek, melainkan juga dapat diketahui
mengapa dan bagaimana berkaitan dengan obyek tersebut. Ilmu memiliki definisi
yang beragam berdasarkan segi wujudnya, sesuai dengan pendapat The Liang Gie
(1987) memahami ilmu sebagai aktifitas ilmiah yang dapat berwujud penelaahan
(study). Penelaahan ilmu tersebut berdasarkan pada tiga cabang filsafat, yang
pertama yaitu landasan ontologi, yaitu yang berkaitan dengan pemahaman
seseorang tentang kenyataan, yaitu obyek apa yang dikaji oleh pengetahuan itu,
yang kedua adalah landasan epistimologi memberikan pemahaman tentang
sumber dan sarana pengetahuan manusia, yaitu bagaimana cara mendapatkan
pengetahuan tersebut, dan yang ketiga adalah aksiologi yang memberikan suatu
pemahaman tentang nilai hubungan kualitas obyek dengan subjek (ilmuan). Dari

Landasan Epistomologi, Ontologi, dan Aksiologi 1


ketiga landasan penelaahan ilmu, maka akan dapat diketahui apa/hakikat ilmu,
bagaimana cara mendapatkan dan nilai dari ilmu yang akan dibahas dalam
makalah ini.
1.2. Rumusan Masalah
1. Apa hakikat ontologi?
2. Apa pokok pikiran ontologi?
3. Apa dasar dari ontologi ilmu?
4. Apa pengertian dari epistomologi?
5. Apa hubungan antara epistomologi dengan pendidikan?
6. Apa jenis-jenis metode ilmiah?
7. Bagaimana ruang lingkup epistomologis?
8. Apa pengertian aksiologi?
9. Bagaimana penilaian dalam aksiologi?
10. Apa kaitan aksiologi terhadap tujuan ilmu pengetahuan?

1.3. Tujuan Penulisan


1. Menjelaskan hakikat ontology.
2. Menjelasakan pokok pikiran ontologi
3. Menjelaskan dasar dari ontologi ilmu.
4. Menjelaskan pengertian dari epistomologi.
5. Menjelaskan hubungan antara epistomologi dengan pendidikan.
6. Menjelaskan jenis-jenis metode ilmiah.
7. Menjelaskan ruang lingkup epistomologis.
8. Menjelaskan pengertian aksiologi.
9. Menjelaskan penilaian dalam aksiologi.
10. Menjelaskan keterkaitan aksiologi terhadap tujuan ilmu pengetahuan.

1.4. Metode Penulisan


Metode penulisan dengan teknik studi kepustakaan atau literatur, yaitu
pengetahuan yang bersumber dari beberapa media tulis baik berupa buku, litelatur

Landasan Epistomologi, Ontologi, dan Aksiologi 2


dan media lainnya yang tentu ada kaitannya masalah yang dibahas di dalam
makalah ini.

Landasan Epistomologi, Ontologi, dan Aksiologi 3


BAB II
LANDASAN ONTOLOGIS, EPISTOMOLOGIS, DAN AKSIOLOGIS
DALAM PENDIDIKAN

2.1 Ontologis
A. Hakikat Ontologi
Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang
merupakan ultimate reality baik yang berbentuk jasmani/konkret maupun
rohani/abstrak (Bakhtiar, 2004)
Ontologi, merupakan azas dalam menerapkan batas atau ruang
lingkup wujud yang menjadi obyek penelaahan (obyek ontologis atau obyek
formal dari pengetahuan) serta penafsiran tentang hakikat realita
(metafisika) dari obyek ontologi atau obyek formal tersebut dan dapat
merupakan landasan ilmu yang menanyakan apa yang dikaji oleh
pengetahuan dan biasanya berkaitan dengan alam kenyataan dan keberadaan
(Soetriono, 2007).

B. Pokok Pemikiran Ontologi


Dalam pemahaman ontologi dapat dikemukakan pandangan-
pandangan pokok pemikiran:
a. Monoisme
b. Dualisme
c. Pluralisme
d. Nihilisme
e. Agnotiisme
a) Monoisme: Paham ini menganggap bahwa hakikat yang asal dari
seluruh kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mungkin dua baik yang
asal berupa materi ataupun berupa rohani
b) Dualisme: Aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri dari dua macam
hakikat sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat
ruhani. Dualisme mengakui bahwa realitas terdiri dari materi atau

Landasan Epistomologi, Ontologi, dan Aksiologi 4


yang ada secara fisis dan mental atau yang beradanya tidak kelihatan
secara fisis.
c) Pluralisme: Paham ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk
merupakan kenyataan. Pluralisme bertolak dari keseluruhan dan
mengakui bahwa segenap macam bentuk ini semuanya nyata.
d) Nihilisme: berasal dari bahasa Latin yang berati nothing atau tidak
ada. Sebuah doktrin yang tidak mengakui validitas alternatif yang
poditif
e) Agnotiisme: Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk
mengetahui hakikat benda. Baik hakikat materi maupun hakikat
ruhani.

C. Dasar Ontologi Ilmu


Secara ontologis, ilmu membatasi masalah yang dikajinya hanya
pada masalah yang terdapat pada ruang jangkauan pengalaman manusia.
Istilah yang dipakai untuk menunjukkan sifat kejadian yang terjangkau
fitrah pengalaman manusia disebut dengan dunia empiris.
Ilmu mempelajari berbagai gejala dan peristiwa yang menurut
anggappannya mempunyai manfaat bagi kehidupan manusia. Berdasarkan
obyek yang ditelaahnya, maka ilmu dpat dissebut sebagai pengetahuan
empiris. Inilah yang merupakan salah satu ciri ilmu yakni orientasi terhadap
dunia empiris terjadi, dengan membatasi diri pada hal-hal yang asasi. Atau
dengan perkataan lain, proses keilmuan bertujuan untuk memeras hakekat
obyek empiris tertentu, untuk mendapatkan sari berupa pengetahuan
mengenai obyek tertentu
Untuk mendapatkan pengetahuan ini ilmu membuat beberapa
andaian (asumsi) mengenai obyek-obyek empiris. Asumsi ini diperlukan
sebagai arah dan landasan bagi kegiatan penelaahhan kita. Sebuah
pengetahuan baru dianggap benar selama kita bisa menerima asumsi yang
dikemukakannya.

Landasan Epistomologi, Ontologi, dan Aksiologi 5


2.2 Epistomologis
A. Pengertian Epistomologi
Istilah epistemologi didalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah
“Theory of knowledge”. Epistemologi berasal dari kata “episteme” dan
“logos”. Episteme berarti pengetahuan dan logos berarti teori. Ada beberapa
pengertian epistemologi yang diungkapkan para ahli yang dapat dijadikan
pijakan untuk memahami apa sebenarnya epistemologi itu.
Epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge).
Istilah epistemologi berasal dari kata Yunani episteme berarti pengetahuan,
dan logos berarti teori.
Menurut Musa Asy’arie, epistemologi adalah cabang filsafat yang
membicarakan mengenai hakikat ilmu, dan ilmu sebagai proses adalah
usaha yang sistematik dan metodik untuk menemukan prinsip kebenaran
yang terdapat pada suatu obyek kajian ilmu.
Menurut Dagobert D.Runes epistemologi adalah cabang filsafat yang
membahas sumber, struktur, metode-metode dan validitas pengetahuan.
Sementara itu, Azyumardi Azra menambahkan, bahwa epistemologi sebagai
“ilmu yang membahas tentang keaslian, pengertian, struktur, metode dan
validitas ilmu pengetahuan”.
Jadi, Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang
mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode dan sahnya
(validitasnya) pengetahuan.
Epistemologi adalah cabang filsafat yang menyelidiki asal, syarat,
susunan, metode, ilmu pengetahuan. Epistemologi meneliti sumber
pengetahuan, proses dan syarat terjadinya pengetahuan, batas ilmu
pengetahuan.
Menurut Titus (1984 : 20) terdapat tiga persoalan yang mendasar
dalam epistemologi, yaitu:
 Tentang sumber pengetahuan manusia
 Tentang teori kebenaran pengetahuan manusia
 Tentang watak pengetahuan manusia

Landasan Epistomologi, Ontologi, dan Aksiologi 6


Sumber pengetahuan dibedakan dibedakan secara kualitatif, antara:
 Sumber primer, yang tertinggi dan terluas, orisinal: lingkungan alam,
semesta, sosio-budaya, sistem kenegaraan dan dengan dinamikanya;
 Sumber sekunder: bidang-bidang ilmu yang sudah ada/ berkembang,
kepustakaan, dokumentasi;
 Sumber tersier: cendekiawan, ilmuwan, ahli, narasumber, guru.

Wujud dan tingkatan pengetahuan dibedakan secara hierarkis:


 Pengetahuan indrawi;
 Pengetahuan ilmiah;
 Pengetahuan filosofis;
 Pengetahuan religius.
Pengetahuan manusia relatif mencakup keempat wujud tingkatan itu.
Ilmu adalah perbendaharaan dan prestasi individual maupun sebagai karya
dan warisan budaya umat manusia merupakan kualitas martabat kepribadian
manusia. Perwujudannya adalah pemanfaatan ilmu guna kesejahteraan
manusia, martabat luhur dan kebajikan para cendekiawan (kreatif, sabar,
tekun, rendah hati, bijaksana). Ilmu membentuk kepribadian mandiri dan
matang serta meningkatkan harkat martabat pribadi secara lahiriah, sosial
(sikap dalam pergaulan), psikis (sabar, rendah hati, bijaksana). Ilmu menjadi
kualitas kepribadian, termasuk kegairahan, keuletan untuk berkreasi dan
berkarya.
Martabat kepribadian manusia dengan potensi uniknya memampukan
manusia untuk menghayati alam metafisik jauh di balik alam dan
kehidupan, memiliki wawasan kesejarahan (masa lampau, kini dan masa
depan), wawasan ruang (negara, alam semesta), bahkan secara suprarasional
menghayati Tuhan yang supranatural dengan kehidupan abadi sesudah mati.
Pengetahuan menyeluruh ini adalah perwujudan kesadaran filosofis-religius,
yang menentukan derajat kepribadian manusia yang luhur. Berilmu/
berpengetahuan berarti mengakui ketidaktahuan dan keterbatasan manusia
dalam menjangkau dunia suprarasional dan supranatural. Tahu secara

Landasan Epistomologi, Ontologi, dan Aksiologi 7


‘melampaui tapal batas’ ilmiah dan filosofis itu justru menghadirkan
keyakinan religius yang dianut seutuh kepribadian: mengakui keterbatasan
pengetahuan ilmiah-rasional adalah kesadaran rohaniah tertinggi yang
membahagiakan.
Secara umum dipahami bahwa epistemologi menjadi landasan nalar
filsafat, untuk memberikan keteguhan dan kekukuhannya bahwa manusia
dapat memperoleh kebenaran dan pengetahuan. Di bawah ini, dapat
disebutkan beberapa nilai penting epistemologi, yaitu:
1) Epistemologi memberikan kepercayaan bahwa manusia mampu
mencapai pengetahuan. Kita ketahui bahwa pada masa Yunani Kuno,
ada kelompok sophis yang menggugat kemampuan manusia untuk
memperoleh pengetahuan, dan masa kini kelompok ini lebih dikenal
dengan skeptisisme dan agnotisisme. Kelompok ini menegaskan
bahwa manusia tidak memiliki pengetahuan, karena tidak ada fondasi
yang pasti bagi pengetahuan kita. Untuk itulah, maka kajian
epistemologi penting guna mengupas problematika ini sehingga kita
dapat menyatakan bahwa manusia dapat memperoleh pengetahuan
dan mendapatkan kepastian.
2) Epistemologi memberikan manusia keyakinan yang kuat akan
pandangan dunia (world view) dan ideologi yang dianutnya. Agama
berisi pandangan dunia, pandangan dunia diperoleh melalui penalaran
filsafat yang basisnya epistemologi. Karena itu, jika epistemologinya
kokoh, maka kajian filsafatnya juga akan kokoh sehingga pandangan
dunia dan ideologi, serta agama yang dianut pun akan memiliki
kekokohan dan keutuhan.
3) Di dunia ini banyak aliran pemikiran yang berkembang dan terus
disosialisasikan oleh para penganutnya. Karena setiap aliran
pemikiran didapat dari penyimpulan pengetahuan, ini berarti
pemikiran juga berurusan dengan epistemologi. Untuk itu,
epistemologi akan memberikan kita kemampuan untuk memilih dan
memilah pemikiran yang berkembang dan membanding-

Landasan Epistomologi, Ontologi, dan Aksiologi 8


bandingkannya sehingga diketahui mana yang benar dan mana yang
keliru.
4) Epistemologi mengukuhkan nilai dan kemampuan akal serta
kebenaran dan kesahihan metodenya dalam mendapatkan
pengetahuan yang benar. Bagi kalangan empirisme, indera
merupakan jalan utama memperoleh pengetahuan. Adapun akal, tidak
dapat memberikan kita pengetahuan tentang dunia, karenaseperti
dikatakan David Hume semua yang masuk akal tentang dunia adalah
bersifat induktif, dan pemikiran induktif tidak menjamin kebenaran
hasilnya. Jadi epistemologi akan mengkaji leshahihan metode akal
atau pun metode empiris.
5) Salah satu hal yang sering kita lakukan adalah tindakan akumulatif
pengetahuan. Artinya, manusia memiliki kemampuan untuk
memperbanyak pengetahuan dari berbagai hal yang umumnya telah
kita ketahui terlebih dahulu. Untuk itulah, epistemologi memberikan
sarana bagi manusia untuk melipatgandakan pengetahuannya dari
bahan-bahan dasar yang telah ada dalam mentalnya melalui teknik-
teknik yang sistematis dan teratur.

B. Landasan Epistomologis
Landasan epistemologi ilmu disebut metode ilmiah; yaitu cara yang
dilakukan ilmu dalam menyusun pengetahuan yang benar. Metode ilmiah
merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu.
Jadi, ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat
metode ilmiah. Tidak semua pengetahuan disebut ilmiah, sebab ilmu
merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi
syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu
pengetahuan bisa disebut ilmu yang tercantum dalam metode ilmiah.
Dengan demikian, metode ilmiah merupakan penentu layak tidaknya
pengetahuan menjadi ilmu, sehingga memiliki fungsi yang sangat penting

Landasan Epistomologi, Ontologi, dan Aksiologi 9


dalam bangunan ilmu pengetahuan. Metode ilmiah telah dijadikan pedoman
dalam menyusun, membangun dan mengembangkan pengetahuan ilmu.
Menurut Burhanudin Salam Metode ilmiah dapat dideskripsikan
dalam langkah-langkah sebagai berikut :
(1) Penemuan atau Penentuan masalah. Di sini secara sadar kita
menetapkan masalah yang akan kita telaah denga ruang lingkup dan
batas-batasanya. Ruang lingkup permasalahan ini harus jelas. Demikian
juga batasan-batasannya, sebab tanpa kejelasan ini kita akan mengalami
kesukaran dalam melangkah kepada kegiatan berikutnya, yakni
perumusan kerangka masalah;
(2) Perumusan Kerangka Masalah merupakan usaha untuk
mendeskrisipakn masalah dengan lebih jelas. Pada langkah ini
kita mengidentifikasikan faktor-faktor yang terlibat dalam masalah
tersebut. Faktor-faktor tersebut membentuk suatu masalah yang
berwujud gejala yang sedang kita telaah.
(3) Pengajuan hipotesis merupakan usaha kita untuk memberikan
penjelasan sementara menge-nai hubungan sebab-akibat yang mengikat
faktor-faktor yang membentuk kerangka masalah tersebut di atas.
Hipotesis ini pada hakekatnya merupakan hasil suatu penalaran induktif
deduktif dengan mempergunakan pengetahuan yang sudah kita ketahui
kebenarannya.
(4) Hipotesis dari Deduksi merupakan merupakan langkah perantara dalam
usaha kita untuk menguji hipotesis yang diajukan. Secara deduktif kita
menjabarkan konsekuensinya secara empiris. Secara sederhana dapat
dikatakan bahwa deduksi hipotesis merupakan identifikasi fakta-fakta
apa saja yang dapat kita lihat dalam dunia fisik yang nyata, dalam
hubungannya dengan hipotesis yang kita ajukan.
(5) Pembuktian hipotesis merupakan usaha untuk megunpulkan fakta-fakta
sebagaimana telah disebutkan di atas. Kalau fakta-fakta tersebut memag
ada dalam dunia empiris kita, maka dinyatakan bahwa hipotesis itu
telah terbukti, sebab didukung oleh fakta-fakta yang nyata. Dalam hal

Landasan Epistomologi, Ontologi, dan Aksiologi 10


hipotesis itu tidak terbukti, maka hipotesis itu ditolak kebenarannya dan
kita kembali mengajukan hipotesis yang lain, sampai kita menemukan
hipotesis tertentu yang didukung oleh fakta.
(6) Penerimaan Hipotesis menjadi teori Ilmiah hipotesis yang telah terbukti
kebenarannya dianggap merupakan pengetahuan baru dan diterima
sebagai bagain dari ilmu. Atau dengan kata lain hipotesis tersebut
sekarang dapat kita anggap sebagai (bagian dari) suatu teori ilmiah
dapat diartikan sebagai suatu penjelasan teoritis megnenai suatu gejala
tertentu. Pengetahuan ini dapat kita gunakan untuk penelaahan
selanjutnya, yakni sebagai premis dalam usaha kita untuk menjelaskan
berbagai gejala yang lainnya. Dengan demikian maka proses kegiatan
ilmiah mulai berputar lagi dalam suatu daur sebagaimana yang telah
ditempuh dalam rangka mendapakan teori ilmiah tersebut.

C. Epistomologis Pendidikan
Epistemologi diperlukan dalam pendidikan antara lain salah satunya
dalam hubungannya dengan penyusunan dasar kurikulum. Pengetahuan apa
yang harus diberikan pada anak didik, diajarkan di sekolah dan bagaimana
cara memperoleh pengetahuan dan cara menyempaikannya seperti apa?
Semua itu adalah epistemologinya pendidikan. Lahirnya KBK (Kurikulum
Berbasis Kompetensi) adalah salah satu usaha baik dari pemerintah untuk
memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia. Baik dari segi kognitif,
afektif, dan psikomotor.
Melihat kondisi ini, dilihat dari sudut epistemologi adalah
seharusnya pengetahuan apa yang harus diberikan kepada anak didik?. Hal
ini tentu terkait dengan pengetahuan kita akan kebutuhan yang diperlukan
anak didik. Harus mengetahui dan memahami berbagai kemampuan atau
kelebihan atau kecerdasan yang dimiliki anak. tidak bisa semua siswa
diberlakukan sama.
Bagaimana cara memperoleh pengetahuan? Pada dunia pendidikan
cara memperoleh pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhan justru pada

Landasan Epistomologi, Ontologi, dan Aksiologi 11


sekolah-sekolah swasta yang pada dasarnya tidak ingin tergantung pada
kapitalisme semata. Mereka mendidik anak-anak dengan
mengembangkanpotensi yang ada dengan harapan anak-anak bisa
berkembangan secara maksimal. Cara tradisional, guru dianggap sebagai
pusat segala-galanya. Guru yang paling pandai dan gudang ilmu. Siswa
adalah penerima. Cara model sekarang, banyak diantaranya
mengembangkan metode active learning untuk memacu kreativitas dan
daya inisiatif siswa. Guru hanya sebagai fasiltator saja. Guru mengarahkan
siswa. Siswa dapat memperolehnya melalui diskusi, problem based
learning (PBL), pergi ke perpustakaan, belajar dengan e-learning (internet),
membaca dan sebagainya. Cara-cara seperti ini akan memacu potensi siswa
daripada siswa diperlakukan hanya sebagai objek yag pasif saja.
Bagaimana cara menyampaikannya?. Pertanyaan ini terkait dengan
kompetensi guru serta metode atau gaya pengajaran yang mereka terapkan.
Cara penyampaian cukup mempengaruhi motivasi siswa dalam belajar.
Salah satu contoh SD Kreatif. SD ini memberikan pengajaran yang unik.
Kadang guru memberikan pendidikan dengan outbound, dengan bentuk
dongeng atau cerita, atau dengan memberikan pesan moral dan mengajak
untuk berpikir rasional.

D. Beberapa Jenis Metode Ilmiah


Menurut Burhanudin Salam beberapa jenis metode ilmiah yaitu :
1. Observasi
Beberapa ilmu seperti astronomi dan botani telah dikembangkan
secara cermat dengan metode observasi. Didalam metode observasi
melingkupi pengamatan indrawi seperti : melihat, mendengar,
menyentuh, meraba.
2. Trial and Error
Teknik yang diperoleh karena mengulang-ulang pekerjaan baik
metode, teknik, materi, parameter-parameter sampai akhirnya

Landasan Epistomologi, Ontologi, dan Aksiologi 12


menemukan sesuatu, memerlukan waktu yang lama dan biaya yang
tinggi.
3. Metode eksperimen
Kegiatan ekperimen adalah berdasarkan pada prinsip metode
penemuan sebab akibat dan pengajuan hipotesis. Peranan metode ini
adalah hanya untuk membedakan satu faktor atau kondisi pada suatu
waktu, sedangkan faktor-faktor lainnya diusahakan tidak berubah atau
tetap.
4. Metode Statistik
Istilah statistik berarti pengetahuan tentang mengumpulkan,
menganalisis dan menggolongkan data sebagai dasar induksi. Metode
statistik telah ada sejak lama, yaitu untuk membantu pemimpin dan
penguasa mengumpulkan data tentang penduduk, kematian, kesehatan
dan perpajakan. Metode statistik ini telah berkembang dan lebih
menarik minat lagi, sehingga metode statistik dipakai dalam
kehidupan sehari-hari misalnya perdagangan, peredaran uang dan lain
sebagainya. Statistik memungkinkan kita untuk menjelaskan sebab
dan akibat dan pengaruhnya, melukiskan tipe-tipe dari fenomena-
fenomena dan kita dapat membuat perbandingan-perbandingan
dengan mempergunakan tabel-tabel dan grafik. Statistik juga dapat
meramalkan kejadian-kejadian yang akan datang dengan tingkat
ketepatan yang tinggi.
5. Metode Sampling
Terjadinya sampling, yaitu apabila kita mengambil beberapa
anggota atau bilangan tertentu dari suatu kelas atau kelompok sebagai
wakil dari keseluruhan kelompok tersebut dapat mewakli secara
keseluruhan atau tidak. Seandainya bahan yang akan kita uji itu
menunjukkan kesamaan jenisnya melalui sebuah sampel dapatlah
diperoleh hasil dengan ketepatan yang tinggi.
6. Metode Berpikir Reflective

Landasan Epistomologi, Ontologi, dan Aksiologi 13


Metode reflective thinking pada umumnya melalui enam tahap,
yaitu :
a. Adanya kesadaran kepada sesuatu masalah
b. Data yang diperoleh dan relevan yang harus dikumpulkan
c. Data yang terorganisasi
d. Formulasi Hipotesis
e. Deduksi Hipotesis
f. Deduksi harus berasal dari hipotesis
g. Pembuktian kebenaran verifikasi

E. Ruang Lingkup Epistemologi


M. Arifin merinci ruang lingkup epistemologi, meliputi hakekat,
sumber dan validitas pengetahuan. Mudlor Achmad merinci menjadi enam
aspek, yaitu hakikat, unsur, macam, tumpuan, batas, dan sasaran
pengetahuan. Bahkan, A.M Saefuddin menyebutkan, bahwa epistemologi
mencakup pertanyaan yang harus dijawab, apakah ilmu itu, dari mana
asalnya, apa sumbernya, apa hakikatnya, bagaimana membangun ilmu yang
tepat dan benar, apa kebenaran itu, mungkinkah kita mencapai ilmu yang
benar, apa yang dapat kita ketahui, dan sampai dimanakah batasannya.
Semua pertanyaan itu dapat diringkat menjadi dua masalah pokok ; masalah
sumber ilmu dan masalah benarnya ilmu.
Mengingat epistemologi mencakup aspek yang begitu luas, sampai
Gallagher secara ekstrem menarik kesimpulan, bahwa epistemologi sama
luasnya dengan filsafat. Usaha menyelidiki dan mengungkapkan kenyataan
selalu seiring dengan usaha untuk menentukan apa yang diketahui dibidang
tertentu.
Dalam pembahasa-pembahsan epistemologi, ternyata hanya aspek-
aspek tertentu yang mendapat perhatian besar dari para filosof, sehingga
mengesankan bahwa seolah-olah wilayah pembahasan epistemologi hanya
terbatas pada aspek-aspek tertentu. Sedangkan aspek-aspek lain yang
jumlahnya lebih banyak cenderung diabaikan.

Landasan Epistomologi, Ontologi, dan Aksiologi 14


M. Amin Abdullah menilai, bahwa seringkali kajian epistemologi
lebih banyak terbatas pada dataran konsepsi asal-usul atau sumber ilmu
pengetahuan secara konseptual-filosofis. Sedangkan Paul Suparno menilai
epistemologi banyak membicarakan mengenai apa yang membentuk
pengetahuan ilmiah. Sementara itu, aspek-aspek lainnya justru diabaikan
dalam pembahasan epistemologi, atau setidak-tidaknya kurang mendapat
perhatian yang layak.
Namun, penyederhanaan makna epistemologi itu berfungsi
memudahkan pemahaman seseorang, terutama pada tahap pemula untuk
mengenali sistematika filsafat, khususnya bidang epistemologi. Hanya saja,
jika dia ingin mendalami dan menajamkan pemahaman epistemologi,
tentunya tidak bisa hanya memegangi makna epistemologi sebatas metode
pengetahuan, akan tetapi epistemologi dapat menyentuh pembahasan yang
amat luas, yaitu komponen-komponen yang terkait langsung dengan
“bangunan” pengetahuan.

2.3 Aksiologis
A. Pengertian Aksiologi
Aksiologi berasal dari perkataan axios (Yunani) yang berarti sesuatu
yang wajar dan logos yang berarti teori (ilmu). Jadi, dapat dipahami bahwa
aksiologi adalah “teori tentang nilai”. Menurut John Sinclair, dalam lingkup
kajian filsafat nilai merujuk pada pemikiran atau sebuah sistem seperti
politik, sosial dan agama. Sistem memiliki rancangan sebagaimana tatanan,
rancangan, dan aturan sebagai satu bentuk pengendalian terhadap satu
institusi dapat terwujud (Endraswara, 2012:146).
Aksiologi ialah bidang ilmu yang menyelidiki nilai-nilai. Brameld
membagi aksiologi menjadi tiga, yaitu: 1) moral conduct, yaitu tindakan
moral yang membentuk disiplin ilmu khusus yaitu etika; 2) esthetic
expression, yaitu ekspresi keindahan yang memformulasikan disiplin ilmu
estetika; 3) socio-political life, kehidupan sosio-politik yang melahirkan
filsafat sosio-politik. Nilai hasil perenungan aksiologis tersebut selanjutnya

Landasan Epistomologi, Ontologi, dan Aksiologi 15


diuji dan diintegrasikan dalam kehidupan bermasyarakat (Endraswara,
2012:148).
Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan
bagaimana manusia menggunakan ilmunya. Aksiologi dipahami sebagai
teori nilai. mengartika aksiologi sebagai teori nilai yang berkaitan dengan
kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Menurut John Sinclair, dalam
lingkup kajian filsafat nilai merujuk pada pemikiran atau suatu sistem
seperti politik, sosial dan agama. sedangkan nilai itu sendiri adalah sesuatu
yang berharga, yang diidamkan oleh setiap insan (Jujun S. Suriasuantrim,
1998).
Aksiologi adalah ilmu yang membicarakan tentang tujuan ilmu
pengetahuan itu sendiri. Jadi Aksiologi merupakan ilmu yang mempelajari
hakikat dan manfaat yang sebenarnya dari pengetahuan, dan sebenarnya
ilmu pengetahuan itu tidak ada yang sia-sia kalau kita bisa
memanfaatkannya dan tentunya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan di
jalan yang baik pula. Karena akhir-akhir ini banyak sekali yang mempunyai
ilmu pengetahuan yang lebih itu dimanfaatkan di jalan yang tidak benar
(Jujun S. Suriasuantrim, 1998).
Pembahasan aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Ilmu
tidak bebas nilai. Artinya pada tahap-tahap tertentu kadang ilmu harus
disesuaikan dengan nilai-nilai budaya dan moral suatu masyarakat; sehingga
nilai kegunaan ilmu tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat dalam
usahanya meningkatkan kesejahteraan bersama, bukan sebaliknya malahan
menimbulkan bencana (Jujun S. Suriasuantrim, 1998).

B. Penilaian Dalam Aksiologi


Dalam aksiologi, ada dua penilain yang umum digunakan, yaitu etika
dan estetika. Etika adalah cabang filsafat yang membahas secara kritis dan
sistematis masalah-masalah moral. Kajian etika lebih fokus pada prilaku,
norma dan adat istiadat manusia. Etika merupakan salah-satu cabang filsafat
tertua. Setidaknya ia telah menjadi pembahasan menarik sejak masa

Landasan Epistomologi, Ontologi, dan Aksiologi 16


Sokrates dan para kaum shopis. Di situ dipersoalkan mengenai masalah
kebaikan, keutamaan, keadilan dan sebagianya. Etika sendiri dalam buku
Etika Dasar yang ditulis oleh Franz Magnis Suseno diartikan sebagai
pemikiran kritis, sistematis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan
pandangan-pandangan moral. Isi dari pandangan-pandangan moral ini
sebagaimana telah dijelaskan di atas adalah norma-norma, adat, wejangan
dan adat istiadat manusia. Berbeda dengan norma itu sendiri, etika tidak
menghasilkan suatu kebaikan atau perintah dan larangan, melainkan sebuah
pemikiran yang kritis dan mendasar. Tujuan dari etika adalah agar manusia
mengetahi dan mampu mempertanggungjawabkan apa yang ia lakukan .

C. Kegunaan Aksiologi Terhadap Tujuan Ilmu Pengetahuan


a. Nilai Kegunaan Teoritis
1) Kegunaan Bagi Ilmu dan Teknologi
Hasil Ilmu Pendidikan adalah konsep-konsep ilmiah tentang
aspek-aspek dan dimensi-dimensi pendidikan sebagai salah satu gejala
kehidupan manusia. Dengan kata lain, pemahaman terhadap konsep-
konsep ilmiah pendidikansecara potensial mempunyai nilai kegunaan
untuk mengembangkan isi dan metode Ilmu Pendidikan. Konsep-
konsep ilmiah tentang pendidikan menjadi salah satu dasar penting
bagi berkembangnya teknologi pendidikan dalam arti program-
program pendidikan.
Pada dasarnya teknologi pendidikan adalah suatu pendekatan
pemecahan masalah pendidikan secara rasional, suatu cara berpikir
skeptis dan sistematis tentang belajar dan mengajar. Teknologi
pendidikan berkenaan dengan keseluruhan proses pendidikan, pada
dasarnya terdiri atas tiga tahap, yaitu a). Perencanaan, b). Pelaksaan,
dan c). Penilaian. Oleh karena itu, secara konseptual teknologi
pendidikan mencakup:
1) Teknologi Perancangan Pendidikan
2) Teknologi Belajar-Mengajar

Landasan Epistomologi, Ontologi, dan Aksiologi 17


3) Teknologi Evaluasi Pendidikan
Teknologi belajar berkenaan dengan pengembangan yang
berfungsi: (1). Melibatkan motivasi siswa, (2). Meningkatkan kembali
hasil belajar yang lama, (3). Memberikan rangsangan baru dalam
belajar, (4). Meningkatkan tanggapan siswa, (5). Memberikan balikan
secara cepat, (6). Mendorong timbulnya aktivitas yang tepat pada
siswa.

2) Kegunaan Bagi Filsafat


Berkenaan dengan nilai guna ilmu, baik itu ilmu umum maupun
ilmu agama, tak dapat dibantah lagi bahwa kedua ilmu itu sangat
bermanfaat bagi seluruh umat manusia, dengan ilmu sesorang dapat
mengubah wajah dunia.
Nilai kegunaan ilmu, untuk mengetahui kegunaan filsafat ilmu
atau untuk apa filsafat ilmu itu digunakan, kita dapat memulainya
dengan melihat filsafat sebagai tiga hal, yaitu:
1. Filsafat sebagai kumpulan teori digunakan memahami dan
mereaksi dunia pemikiran.
Jika seseorang hendak ikut membentuk dunia atau ikut
mendukung suatu ide yang membentuk suatu dunia, atau hendak
menentang suatu sistem kebudayaan atau sistem ekonomi, atau
sistem politik, maka sebaiknya mempelajari teori-teori
filsafatnya. Inilah kegunaan mempelajari teori-teori filsafat
ilmu.
2. Filsafat sebagai pandangan hidup.
Filsafat dalam posisi yang kedua ini semua teori ajarannya
diterima kebenaranya dan dilaksanakan dalam kehidupan.
Filsafat ilmu sebagai pandangan hidup gunanya ialah untuk
petunjuk dalam menjalani kehidupan.
3. Filsafat sebagai metodologi dalam memecahkan masalah.

Landasan Epistomologi, Ontologi, dan Aksiologi 18


Dalam hidup ini kita menghadapi banyak masalah. Bila
ada batui didepan pintu, setiap keluar dari pintu itu kaki kita
tersandung, maka batu itu masalah. Kehidupan akan dijalani
lebih enak bila masalah masalah itu dapat diselesaikan. Ada
banyak cara menyelesaikan masalah, mulai dari cara yang
sederhana sampai yang paling rumit. Bila cara yang digunakan
amat sederhana maka biasanya masalah tidak terselesaikan
secara tuntas.penyelesaian yang detail itu biasanya dapat
mengungkap semua masalah yang berkembang dalam
kehidupan manusia.

b. Nilai Kegunaan Praktis


1) Kegunaan Bagi Praktek Pendidikan
Hasil penelitian Aora Kamla menyatakan bahwa karakteristik
pribadi yang sangat berpengaruh terhadap efektivitas guru mengajar
adalah: 1). Kepercayaan diri, 2). Rasa wajib dan tanggung jawab, 3).
Suara yang merdu dan khas, dan 4). Kesehatan yang baik.
Hasil penelitian Aora Kamla menyatakan bahwa karakteristik
profesional yang sangat mempengaruhi efektivitas guru mengajar
adalah berkenaan dengan kemampuan-kemampuan:
1) Menerangkan dengan jelas topik-topik yang menjadi bahan
ajaran.
2) Menyajikan dengan jelas tentang mata pelajaran.
3) Mengorganisasikan dengan jelas tentang mata pelajaran.
4) Berekspresi.
5) Membangkitkan minat dan dorongan siswa untuk belajar.
6) Menyusun rencana dan persiapan mengajar.

2) Kegunaan Bagi Seni Pendidikan


Sebuah kegiatan pendidikan dikatakan seni pendidikan, apabila
kegiatan tersebut tidak saja mencapai hasil yang diharapkan, tetapi

Landasan Epistomologi, Ontologi, dan Aksiologi 19


proses pelaksanaannya dapat memberikan keasyikan dan kesenangan,
baik bagi peserta didik maupun pendidiknya. Dalam pendidikan
sebagai seni, berlangsungnya suatu proses hubungan sosial,
melibatkan emosi yang cukup mendalam dan nilai-nilai kemanusiaan.
Dezin serta Pelto dan Pelto mengemukakan adanya tiga macam
tingkatan teori dalam ilmu-ilmu sosial. Ketiga tingkatan tersebut
adalah: 1). Teori induk (grand theory), 2). Teori tingkat menengah
dan formal (midlle-range and formal theories), 3). Teori-teori
substantif (substantive theorises).

D. Kaitan Aksiologi Dengan Filsafat Ilmu


Nilai itu bersifat objektif, tapi kadang-kadang bersifat subjektif.
Dikatakan objektif jika nilai-nilai tidak tergantung pada subjek atau
kesadaran yang menilai. Tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya,
bukan pada subjek yang melakukan penilaian. Kebenaran tidak tergantung
pada kebenaran pada pendapat individu melainkan pada objektivitas fakta.
Sebaliknya, nilai menjadi subjektif, apabila subjek berperan dalam memberi
penilaian; kesadaran manusia menjadi tolak ukur penilaian. Dengan
demikian nilai subjektif selalu memperhatikan berbagai pandangan yang
dimiliki akal budi manusia, seperti perasaan yang akan mengasah kepada
suka atau tidak suka, senang atau tidak senang.
Bagaimana dengan objektivitas ilmu? Sudah menjadi ketentuan umum
dan diterima oleh berbagai kalangan bahwa ilmu harus bersifat objektif.
Salah satu faktor yang membedakan antara peryataan ilmiah dengan
anggapan umum ialah terletak pada objektifitasnya. Seorang ilmuan harus
melihat realitas empiris dengan mengesampingkan kesadaran yang bersifat
idiologis, agama dan budaya. Seorang ilmuan haruslah bebas dalam
menentukan topik penelitiannya, bebas melakukan eksperimen-eksperimen.
Ketika seorang ilmuan bekerja dia hanya tertuju kepada proses kerja ilmiah
dan tujuannya agar penelitiannya be rhasil dengan baik. Nilai objektif hanya
menjadi tujuan utamanya, dia tidak mau terikat pada nilai subjektif.

Landasan Epistomologi, Ontologi, dan Aksiologi 20


BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
1. Ontologi adalah ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada, yang
merupakan ultimate reality baik yang berbentuk jasmani/konkret
maupun rohani/abstrak.
2. Dalam pemahaman ontologi dapat dikemukakan pandangan-pandangan
pokok pemikiran:
a) Monoisme
b) Dualisme
c) Pluralisme
d) Nihilisme
e) Agnotiisme
3. Secara ontologis, ilmu membatasi masalah yang dikajinya hanya pada
masalah yang terdapat pada ruang jangkauan pengalaman manusia.
4. Istilah epistemologi didalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah
“Theory of knowledge”. Epistemologi berasal dari kata “episteme” dan
“logos”. Episteme berarti pengetahuan dan logos berarti teori.
5. Epistemologi diperlukan dalam pendidikan antara lain salah satunya
dalam hubungannya dengan penyusunan dasar kurikulum.
6. Menurut Burhanudin Salam beberapa jenis metode ilmiah yaitu :
1. Observasi
2. Trial and error
3. Metode ekspereimen
4. Metode statistik
5. Metode sampling
6. Metode Berpikir Reflective
7. M. Arifin merinci ruang lingkup epistemologi, meliputi hakekat,
sumber dan validitas pengetahuan.

Landasan Epistomologi, Ontologi, dan Aksiologi 21


8. Aksiologi berasal dari perkataan axios (Yunani) yang berarti sesuatu
yang wajar dan logos yang berarti teori (ilmu). Jadi, dapat dipahami
bahwa aksiologi adalah “teori tentang nilai”.
9. Dalam aksiologi, ada dua penilain yang umum digunakan, yaitu etika
dan estetika.
10. nilai subjektif selalu memperhatikan berbagai pandangan yang dimiliki
akal budi manusia, seperti perasaan yang akan mengasah kepada suka
atau tidak suka, senang atau tidak senang.

3.2. Saran
Penulis mengharapkan semua pihak yang membaca makalah ini dapat
menjadikan makalah ini sebagai referensi dalam mempelajari mengenai Filsafat
Pendidikan, khususnya mengenai Landasan Epistomologi, Ontologi, dan
Aksiologi.

Landasan Epistomologi, Ontologi, dan Aksiologi 22


DAFTAR PUSTAKA
http://imdikotaparepare.blogspot.com/2012/11/epistemologi-sebagai-
landasan.html

Garna K Judistira. 2006. Filsafat Ilmu. Bandung: Judistira Garna Foundation dan
Primaco Akademika.
Jujun S. Suriasuantrim. 1998. Filsafah Ilm: Sebuah Pengembangan Populasi.
Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Soejono Soemargono. 1983. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Yogyakart: Nur Cahaya.

Suwardi Endraswara. 2012. Filsafat ilmu: konsep, sejarah, dan pengembangan


metode ilmiah. Jakarta: PT. Buku Seru.

Tim Dosen Filsafat Ilmu fakultas filsafat UGM. Filsafat Ilmu. Yogyakarta:
Liberty.

Yuyun S. Suriasumantri. 1991. Ilmu dalam Perspektif. Jakarta: Gramedia.

Mudyahardjo, Redja. 2012. Filsafat Ilmu Pendidikan. Bandung: PT. Remaja


Rosdakarya

Landasan Epistomologi, Ontologi, dan Aksiologi 23