Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Filsafat pendidikan merupakan ilmu filsafat yang mempelajari hakikat
pelaksanaan dan pendidikan. Filsafat pendidikan adalah filsafat terapan
untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang dihadapi. Filsafat
pendidikan merupakan filsafat yang diaplikasikan untuk menelaah dan
memecahkan masalah-masalah dalam pendidikan. Dalam sejarah
perkembangan filsafat telah lahir sejumlah aliran filsafat. Dengan adanya
aliran-aliran filsafat, maka konsep mengenai filsafat pendidikan telah
dipengaruhi oleh aliran-aliran tersebut.
Filsafat pendidikan pada dasarnya menggunakan cara kerja filsafat
dan akan menggunakan hasil-hasil dari filsafat yaitu berupa hasil pemikiran
manusia tentang realitas, pengetahuan dan nilai. Filsafat pendidikan
berupaya untuk memikirkan permasalahan pendidikan. Salah satu yang
dikritisi secara konkret adalah relasi antara pendidik dan peserta didik dalam
pembelajaran.

1.2 Rumusan Masalah


1. Jelaskan hakikat filsafat pendidikan?
2. Apa saja tujuan dari filsafat pendidikan?
3. Bagaimana relevansi antara pendidik dan peserta didik ?
4. Jelaskan metode pembelajaran dalam filsafat pendidikan?
5. Bagaimana kurikulum dalam filsafat pendidikan?
6. Bagaimana keterkaitan atau hubungan antara pendidikan, filsafat,
kurikulum, dan pengajaran?

1.3. Tujuan Penulisan


1. Menjelaskan hakikat filsafat pendidikan?
2. Menjelaskan tujuan dari filsafat pendidikan?

1
3. Menjelaskan relevansi antara pendidik dan peserta didik ?
4. Menjelaskan metode pembelajaran dalam filsafat pendidikan?
5. Menjelaskan kurikulum dalam filsafat pendidikan?
6. Menjelaskan keterkaitan atau hubungan antara pendidikan, filsafat,
kurikulum, dan pengajaran?

1.4 Manfaat Penulisan


Manfaat penulisan makalah ini adalah agar mahasiswa mampu
menjelaskan hakikat filsafat pendidikan, tujuan dari filsafat pendidikan,
relevansi antara pendidik dan peserta didik, metode pembelajaran dalam
filsafat pendidikan, kurikulum dalam filsafat pendidikan dan keterkaitan
atau hubungan antara pendidikan, filsafat, kurikulum, dan pengajaran.

2
BAB II
ISI

2.1 Hakikat Filsafat Pendidikan


Filsafat pendidikan merupakan studi mengenai masalah-masalah
pendidikan, landasan bagi semua pendidikan, dan sarana dalam pemecahan
atau jawaban- jawaban bagi permasalahan khususnya masalah pendidikan.
Hakikat filsafat pendidikan yang relevan dengan pendidikan Indonesia
adalah filsafat pancasila dimana bersifat universal sebagai pedoman
penyelenggaraan suatu negara. Kelima sila nya; Ke-Tuhanan, Kemanusiaan,
Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan merupakan sistem nilai yang mengatur
hubungan manusia dengan Penciptanya, dengan sesamanya, dan dengan
kelompoknya (negara). Selanjutnya kelima sila tersebut juga menjadi prinsip
dasar dalam mengelola keteraturan sosial, masyarakat, dan di dalam
kehidupan berbangsa. Pancasila menjadi dasar dalam berbagai aspek
kehidupan masyarakat Indonesia, di dalam adat istiadatnya, kebudayaan,
keagamaan (Kaelan, 2004:72).
Nilai dan etika yang terkandung di dalam setiap sila nya merupakan
dasar aksiologis yang menjadi penuntun bagi Bangsa Indonesia untuk
bersikap (Sadulloh, 2012:189).

2.2 Tujuan Filsafat Pendidikan


Tujuan filsafat pendidikan memberikan inspirasi bagaimana
mengorganisasikan proses pembelajaran yang ideal. Teori pendidikan
bertujuan menghasilkan pemikiran tentang kebijakan dan prinsip-rinsip
pendidikan yang didasari oleh filsafat pendidikan. Praktik pendidikan atau
proses pendidikan menerapkan serangkaian kegiatan berupa implementasi
kurikulum dan interaksi antara guru dengan peserta didik guna mencapai
tujuan pendidikan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori-teori
pendidikan. Peranan filsafat pendidikan memberikan inspirasi, yakni
menyatakan tujuan pendidikan negara bagi masyarakat, memberikan arah

3
yang jelas dan tepat dengan mengajukan pertanyaan tentang kebijakan
pendidikan dan praktik di lapangan dengan menggunakan rambu-rambu dari
teori pendidik. Seorang guru perlu menguasai konsep-konsep yang akan
dikaji serta pedagogi atau ilmu dan seni mengajar materi subyek terkait, agar
tidak terjadi salah konsep atau miskonsepsi pada diri peserta didik. Berikut
merupakan tujuan dari filsafat pendidikan :
a. Dengan berfikir filsafat seseorang bisa menjadi manusia, lebih mendidik
dan membangun diri sendiri
b. Seseorang dapat menjadi orang yang dapat berfikir sendiri
c. Memberikan dasar-dasar pengetahuan, memberikan pandangna yang
sintesis pula sehingga seluruh pengetahuan merupakan satu kesatuan
d. Hidup seseorang tersebut dipimpin oleh pengetahuan yang dimiliki oleh
seseorang tersebut. Sebab itu mengetahuai pengetahuan-pengetahuan
terdasar berarti mengetahui dasar-dasar hidup diri sendiri
e. Bagi seorang pendidik filsafat mempunyai kepentingan istimewa karena
filsafatlah yang memberikan dasar-dasar dari ilmu-ilmu pengetahuan
lainnya yang mengenai manusia seperti misalnya ilmu mendidik

2.3 Relevansi Pendidik dan Peserta Didik


a. Pendidik
Pembukaan Undang Undang Dasar 1945 yang memuat tujuan
negara antara lain adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Keadaan
kehidupan bangsa Indonesia saat ini masih jauh dari cita - cita bangsa
yang cerdas. Reformasi yang ditandai keterbukaan, jaminan kepastian
hukum, demokrasi, hak asasi manusia masih jauh dari harapan. Disinilah
dituntut peran guru yang profesional untuk tampil melaksanakan
tugasnya untuk membawa bangsa dan negara kearah yang lebih baik.
Dari peserta didik yang nasionalis sejati diharapkan terbentuk dari guru
guru profesional, peserta didik inilah yang nantinya akan memegang
tongkat estafet kepemimpinan dimasa depan,yaitu pemimpin yang
nasionalis yang mampu membawa bangsa dan negara duduk sama rendah

4
dan berdiri sama tinggi dengan negara-negara maju didunia ini.
(Marwanti)
Dalam Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I pasal 1 ayat 6 dinyatakan
bahwa “Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai
guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur,
fasilitator, dan sebuatan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta
berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan”. (Abd. Majid, 2010)
Selanjutnya, pendidik secara khusus dinyatakan pada bab XI pasal
39 dinyatakan dalam butir (2) Pendidik merupakan tenaga profesional
yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran,
menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan,
serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama
bagi pendidik pada perguruan tinggi, dan butir(3) pendidik yang
mengajar pada satuan pendidikan dasar dan menengah disebut guru dan
pendidik yang mengajar pada satuan pendidikan tinggi disebut dosen.
(Abd. Majid, 2010)
Undang-undang tersebut di atas menegaskan kepada publik tentang
tiga hal, bahwa (1) pendidik haruslah profesional melaksanakan
tugasnya, (2) tugas pendidik pada satuan pendidikan dasar dan menengah
adalah: mengajar, mendidik, membimbing, melatih, dan menilai peserta
didik, (3) tugas pada satuan pendidikan tinggi, selain kelima hal di atas,
ditambah lagi dengan melakukan pengabdian kepada masyakarat, (4)
pendidik yang bertugas pada satuan pendidikan dasar dan menengah
dinamai guru, sedangkan yang di satuan pendidikan tinggi dinamai
dosen. (Abd. Majid, 2010)
Supaya pendidik dinyatakan profesional, maka pendidik wajib
memenuhi indikator-indikator, yang dinyatakan dalam Undang-undang
Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 bahwa “Guru wajib memiliki
kualifikasi akademika, kompetensi, sertifikasi pendidik, sehat jasmani
dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan

5
pendidikan nasional”. Demikian halnya pada bab V pasal 45 dinyatakan
bahwa “Dosen wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi,
sertifikasi pendidik, sehat jasmani dan rohani, dan memenuhi kualifikasi
lain yang dipersyaratkan satuan pendidikan tinggi tempat bertugas, serta
memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”.
Dalam hal kompetensi, seorang pendidik harus memiliki kompetensi
pedagogis, kepribadian, profesional, dan sosial. (Abd. Majid, 2010)
Salah satu poin penting mengenai siapa itu guru dan dosen, mereka
dalam melaksanakan profesinya dituntut dan berkewajiban mewujudkan
tujuan pendidikan nasional, yaitu “Mencerdaskan kehidupan bangsa dan
meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman, bertakwa dan
berakhlak mulia serta menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil dan makmur dan
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang dasar Negara Kesatuan
Republik Indonesia”. Ini berarti bahwa pendidik (guru dan dosen) dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara di Republik Indonesia mempunyai
pernanan, fungsi serta kedudukannya sangat strategis dalam mewujudkan
pembangunan nasional sehingga mereka memeroleh perhatian untuk
dikembangkan, dihargai, karena profesinya yang bermartabat (Abd.
Majid, 2010)
Adapun peranan guru dalam pembelajaran yaitu:
1. Korektor, artinya guru dapat membedakan nilai yang baik dan
buruk. Peserta didik yang dihadapi guru boleh jadi ada yang telah
mimiliki nalai-nilai baik dan buruk yang memungkinkan
mempengaruhi perilaku peserta didik. Nilai yang baik harus
dijastivikasi dan dikembangkan oleh guru sehingga pengaruh nalai
baik dapat berkembang dan meluas pengaruhnya baik terhadap
teman temannya maupun masyarakat disekitarnya. Hal lain adalah
peserta didik dengan interaksinya di masyarakat yang mungkin
masyarakat yang kurang baik, maka peserta didik memiliki
kebiasaan buruh yang dapat mempengaruhi terhadap dirinya dan

6
masyarakat sekitarnya. Perilaku dan kebiasaan buruk peserta didik
harus dikoreksi dan diperbaiki sehingga perilaku tersebut tidak
mendatangkan perilaku negatif terhadap diri peserta didik dan
masyarakat sekitarnya.
2. Inspirator, pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang
memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk menemukan
dan menyelesaikan problem yang dihadapi peserta didik.
Pembelajaran tersebut membuka ruang yang seluasnya kepada
peserta didik untuk melatih dirinya melahirkan berbagai pemikiran
dan inspirasi positif dalam rangka mengembangkan meteri
pelajaran yang telah disampaikan oelh guru di sekolah. Selain itu,
guru diperlukan berbagai penafsiran dan argumentasi yang luas,
sebagai upaya mempertemukan pendapat yang dimiliki peserta
didik dengan guru. Argumentasi juga diperlukan sebagai jalan
memudahkan memahami isi materi pelajaran yang didalami.
3. Informator, artinya guru sebagai sumber informasi dan mendorong
peserta didik untuk mendapatkan informasi yang sesuai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan tegnologi. Penguasaan
informasi bagi peserta didik dapat menjadi pendukung timbulnya
metivasi belajar bagi peserta didik. Informasi yang disedorkan
seorang guru dapat menambah pengetahuan peserta didik, juga bisa
dijadikan sebagai pengubung keilmuan antara pengetahuan yang
satu dengan pengetahuan yang lain.
4. Organisator, dalam kegiatan pembelajaran guru harus
mengorganisasi pembelajaran dengan melakukan pengelolaan
akademik, penyusunan tata tertib sekolah dan menyusun kelender
akademik. Pengorganisaian tersebut sebagai langkah pembelajaran
yang efesien dan efektifitas. Bila pembelajaran tidak diorganisasi
dengan baik, memungkinkan capaian tujuan pembelajaran akan
jauh dari kesempurnaan sekaligus pembelajaran tidak dapat diukur
dengan baik. Pengorganisasi dalam pembelajaran selain diperlukan

7
dalam kegiatan akademik juga diperlukan dalam proses
pembelajaran. Guru harus memahami bahwa peserta didik yang
dihadapi beraneka ragam baik kemampuan yang dimilikinya, latar
belakang sosial, juga bakat yang dimiliki masing-masing individu.
Hubungannya dengan hal tersebut guru harus mengambil peranan
dengan mengelola dan menempatkan peserta didik yang
memungkinkan masing individu mendapatkan nilai-nilai positif
dalam pembelajaran. Misalnya dalam kegiatanm kerja kelompok,
peserta didik digabungkan antara yang pintar dengan yang
kurang/tidak pintar. Dalam proses pembelajaran akan terjadi
interaksi diantara peserta didik. (Djamarah, 2003)
5. Motivator. Motivator berasal dari kata metif artinya gerakan yang
dilakukan oleh manusia atau disebut juga perbuatan atau tingkah
laku (Fauzi, 1999). Juga bermakna ransangan, dorongan atau
pembangkit tenaga terjadinya suatu tingkah laku. Setiap orang
termetivasi terhadap sesuatu disebabkan oleh beberapa hal yaitu; a)
Kebutuhan fisik atau jasmani, b) Kebutuhan memperoleh
keselamatan; c) Kebutuhan sosial; d) Kebutuhan memperoleh
harga diri; e) dan kebutuhan mewujudkan diri. Guru sebagai
metivator artinya guru hendaknya dapat mendorong peserta didik
agar bergairah dan aktif belajar baik pada saat berada disekolah
maupun dirumah. Peserta didik keadannya bisa berlangsung parsial
artinya mudah berubah, kadang-kadang rajin belajar dan juga
malas. Bila peserta didik mengalami keadaan (malas) maka seorang
guru harus segera bertindak dengan mengadakan analisis yang
menyebabkan keadaan (malas belajar) dan sekaligus mencarikan
selusinya agar dapat aktif dalam belajar.
6. Fasilitator, artinya guru hendaknya menyediakan fasilitas yang
memungkinkan peserta didik dapat belajar dengan mudah.
Lingkungan belajar yang menyenangkan, ruang kelas yang tertata

8
rapi dan baik dan ketersediaan perangkat pembelajaran yang
sempurna sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.
7. Mediator, guru sebagai mediator hendaknya memiliki pengetahuan
dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan dalam
berbagai bentuk dan jenisnya, baik media non material maupun
material. Pemanfaatan media yang dibutuhkan peserta didik dalam
pembelajaran memungkinkan peserta didik dapat belajar dengan
mudah dan efektif. Guru dalam konteks mediator artinya
penghubung dalam pembelajaran, peserta didik mengerti dan
mengetahui pengetahuan melalui mediator seorang guru. Demikian
halnya kemudahan dalam pembelajaran juga tidak terlepas dari
guru sebagai mediator. Oleh karena itu, ”guru sebagai penengah,
pengatur jalannya pembelajaran (Djamarah, 2003). Guru dalam
fungsinya sebagai mediator sangat penting karena peserta didik
mendapat kesempatan yang luas untuk berkreasi, menemukan
sendiri sesuai dengan kemampuan yang dimilkinya (Nur Khalisah,
49)

b. Peserta Didik
Peserta didik yang dimaksud, sebagaimana dinyatakan dalam
Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 bab I pasal 1
ayat 4, adalah “Anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan
potensi diri melalui proses pembejaran yang tersedia pada jalur, jenjang,
dan jenis pendidikan tertentu” (Abd. Majid, 2010)
Dalam dunia pendidikan peserta didik berperan sebagai organisme
yang rumit yang mempunyai kemampuan luar biasa untuk tumbuh.
Peranan peserta didik adalah belajar bukan untuk mengatur pelajaran.
Peserta didik dituntut aktif belajar dalam rangka mengkontruksi
pengetahuannya, dan karena itu peserta didik sendirilah yang harus
bertanggung jawab atas hasil belajarnya (Wahyudin, 2002)

9
Ciri khas peserta didik yang harus dipahami pendidik:
1. Individu yang memiliki potensi fisik dan psikis yang khas.
2. Individu yang sedang berkembang.
3. Individu yang membutuhkan bimbingan individual dan perlakuan
manusiawi.
4. Individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri (Hiryanto, 3)
Konsep mengajar sebagai proses menyampaikan materi pelajaran,
menempatkan siswa sebagai objek yang harus menguasai materi
pelajaran. Mereka dianggap sebagai individu yang belum memahami
apa yang harus dipahami, sehingga melalui proses pengajaran mereka
dituntut memahami segala sesuatu yang diberikan guru. Peran siswa
adalah sebagai penerima informasi yang diberikan guru. (Tim
Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UPI, 2007; 153)

2.4 Metode Pembelajaran dalam Filsafat Pendidikan


Metode yang relevan untuk pendidikan Indonesia adalah
kontruktivisme, merupakan aliran filsafat pengetahuan yang menekankan
bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi kita sendiri (Novak, J.D.
& Gowin, B). Konstruktivisme sebagai aliran filsafat, banyak mempengaruhi
konsep ilmu pengetahuan, teori belajar dan pembelajaran. Konstruktivisme
menawarkan paradigma baru dalam dunia pembelajaran. Sebagai landasan
paradigma pembelajaaran, konstruktivisme menyerukan perlunya partisipasi
aktif siswa dalam proses pembelajaran, perlunya pengembagan siswa belajar
mandiri, dan perlunya siswa memiliki kemampun untuk mengembangkan
pengetahuannya sendiri.
a. Langkah-Langkah Pembelajaran Kontrutivisme
1. Identifikasi tujuan. Tujuan dalam pembelajaran akan memberi arah
dalam merancang program, implementasi program dan evaluasi.
2. Menetapkan Isi Produk Belajar. Pada tahap ini, ditetapkan konsep-
konsep dan prinsip-prinsip fisika yang mana yang harus dikuasai siswa.

10
3. Identifikasi dan Klarifikasi Pengetahuan Awal Siswa. Identifikasi
pengetahuan awal siswa dilakukan melalui tes awal, interview klinis
dan peta konsep.
4. Identifikasi dan Klarifikasi Miskonsepsi Siswa. Pengetahuan awal
siswa yang telah diidentifikasi dan diklarifikasi perlu dianalisa lebih
lanjut untuk menetapkan mana diantaranya yang telah sesuai dengan
konsepsi ilmiah, mana yang salah dan mana yang miskonsepsi.
5. Perencanaan Program Pembelajaran dan Strategi Pengubahan Konsep.
Program pembelajaran dijabarkan dalam bentuk satuan pelajaran.
Sedangkan strategi pengubahan konsepsi siswa diwujudkan dalam
bentuk modul.
6. Implementasi Program Pembelajaran dan Strategi Pengubahan
Konsepsi. Tahapan ini merupakan kegiatan aktual dalam ruang kelas.
Tahapan ini terdiri dari tiga langkah yaitu : (a) orientasi dan penyajian
pengalaman belajar, (b) menggali ide-ide siswa, (c) restrukturisasi ide-
ide.
7. Evaluasi. Setelah berakhirnya kegiatan implementasi program
pembelajaran, maka dilakukan evaluasi terhadap efektivitas model
belajar yang telah diterapkan.
8. Klarifikasi dan analisis miskonsepsi siswa yang resisten. Berdasarkan
hasil evaluasi perubahan miskonsepsi maka dilakukaan klarifikasi dan
analisis terhadap miskonsepsi siswa, baik yang dapat diubah secara
tuntas maupun yang resisten.
9. Revisi strategi pengubahan miskonsepsi. Hasil analisis miskonsepsi
yang resisten digunakan sebagai pertimbangan dalam merevisi strategi
pengubahan konsepsi siswa dalam bentuk modul.

b. Ciri-Ciri Pembelajaran Secara Konstuktivisme


1. Memberi peluang kepada murid membina pengetahuan baru melalui
penglibatan dalam dunia sebenar

11
2. Menggalakkan soalan/idea yang dimul akan oleh murid dan
menggunakannya sebagai panduan merancang pengajaran.
3. Menyokong pembelajaran secara koperatif Mengambilkira sikap dan
pembawaan murid.
4. Mengambilkira dapatan kajian bagaimana murid belajar sesuatu ide
5. Menggalakkan & menerima daya usaha & autonomi murid
6. Menggalakkan murid bertanya dan berdialog dengan murid & guru
7. Menganggap pembelajaran sebagai suatu proses yang sama penting
dengan hasil pembelajaran.
8. Menggalakkan proses inkuiri murid mel alui kajian dan eksperimen.

c. Prinsip-Prinsip Konstruktivisme
Secara garis besar, prinsip-prinsip Konstruktivisme yang diterapkan
dalam belajar mengajar adalah :
1. Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri
2. Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kemurid, kecuali hanya
dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar
3. Murid aktif megkontruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi
perubahan konsep ilmiah
4. Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses
kontruksi berjalan lancar.
5. Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa
6. Struktur pembalajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah
pertanyaan
7. Mencari dan menilai pendapat siswa
8. Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa.

2.5 Kurikulum dalam Filsafat Pendidikan


Dalam teori kurikulum (Anita Lie:2012) keberhasilan suatu kurikulum
merupakan proses panjang, mulai dari kristalisasi berbagai gagasan dan
konsep ideal tentang pendidikan, perumusan desain kurikulum, persiapan

12
pendidik dan tenaga kependidikan, serta sarana dan prasarana, tata kelola
pelaksanaan kurikulum, termasuk pembelajaran dan penilaian pembelajaran
serta kurikulum.
Fenomena pengembangan kurikulum di Indonesia menjadi suatu
permasalahan yang hangat dibicarakan, hal ini dikarenakan begitu seringnya
dunia pendidikan menganti kurikulumnya dalam waktu yang relatif singkat.
Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan
sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat
berbangsa dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana
pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan
perubahan yang terjadi di masyarakat. Semua kurikulum nasional dirancang
berdasarkan landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945,
perbedaanya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan
dalam merealisasikannya. Lebih spesifik, Herliyati (2008) menjelaskan
bahwa setelah Indonesia merdeka dalam pendidikan dikenal beberapa masa
pemberlakuan kurikulum yaitu kurikulum sederhana (1947-1964),
pembaharuan kurikulum (1968 dan 1975), kurikulum berbasis keterampilan
proses (1984 dan 1994), dan kurikulum berbasis kompetensi (2004 dan
2006).

2.6 Keterkaitan atau Hubungan antara Pendidikan, Filsafat, Kurikulum,


dan Pengajaran
Pendidikan, filsafat, kurikulum dan pengajaran sangat memiliiki
hubungan yang erat satu sama lain. Pendidikan, konsep pendidian bertolak
dari asumsi bahwa seluruh warisan budaya, yaitu pengetahuan, ide-ide, atau
nilai-nilai yang telah ditentukan oleh para pemikir terdahulu. Pendidikan
berfungsi memelihara, mengawetkan dan meneruskan semua warisan budaya
tersebut kepada generasi berikutnya. (Nana S. Sukmadinata, 2010, hlm. 4)
Di dalam pendidikan terdapat beberapa elemen-elemen penting yang
perlu diketahui dan saling terkait satu sama lainnya. diantaranya adalah
kurikulum dan pengajaran. Kurikulum merupakan suatu rencana yang

13
memberi pedoman atau pegangan dalam proses kegiatan belajar-mengajar,
sedangkan pengajaran adalah keseluruhan pertautan kegiatan yang
memungkinkan dan berkenaan dengan terjadinya interaksi belajar-mengajar.
Pada hal lain, beberapa ahli memandang kurikulum sebagai rencana
pendidikan atau pengajaran. Salah satunya adalah Mc Donal (1965, hlm. 3
dalam Nana S. Sukmadinata 2010, hlm.5). Dia berpendapat, sistem
persekolahan terbentuk atas empat subsistem, yaitu mengajar, belajar,
pembelajaran, dan kurikulum. Mengajar merupakan kegiatan atau perlakuan
profesional yang diberikan oleh guru. Belajar merupakan kegiatan atau upaya
yang dilakukan oleh siswa sebagai respon terhadap kegiatan mengajar yang
diberikan oleh guru. Keseluruhan pertautan kegiatan yang memungkinkan
dan berkenaan dengan terjadinya interaksi belajar-mengajar disebut
pembelajaran.
Dalam pelaksanaannya semua hal-hal di atas sangat memerlukan
landasan filsafat. filsafat mempunyai hubungan yang sangat erat dengan teori
pendidikan. Kebanyakan teori pendidikan yang ada, kalau tidak berlandaskan
pada psikologi maka bersumber pada filsafat. filsafat berangkat dari keragu-
raguan terhadap sesuatu dan berusaha untuk memecahkannya. Seperti yang
kita ketahui falsafah bangsa ini adalah pancasila, semua unsur-unsur
pendidikan kita dilandasi oleh pancasila tersebut serta didukung juga oleh
UUD 1945. Filsafat memberikan kontribusi yang besar terutama dalam
memberikan kajian sistematis berkenaan dengan kepentingan pendidikan.
Nasution (1982) mengidentifikasikan beberapa manfaat filsafat pendidikan,
yaitu:
a. Filsafat pendidikan dapat menentukan arah akan dibawa kemana anak-
anak melalui pendidikan di sekolah. Sekolah ialah suatu lembaga yang
didirikan untuk mendidik anak-anak ke arah yang dicita-citakan oleh
masyarakat, bangsa, dan negara.
b. Dengan adanya tujuan pendidikan yang diwarnai filsafat yang dianut,
kita mendapat gambaran yang jelas tentang hasil yang harus dicapai.

14
c. Filsafat dan tujuan pendidikan memberi kesatuan yang bulat kepada
segala usaha pendidikan
d. Tujuan pendidikan memungkinkan si pendidik menilai usahanya, hingga
manakah tujuan itu tercapai.
e. Tujuan pendidikan memberikan motivasi dan dorongan bagi kegiatan-
kegiatan pendidikan

15
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Hakikat filsafat pendidikan yang relevan dengan pendidikan Indonesia
adalah filsafat pancasila dimana bersifat universal sebagai pedoman
penyelenggaraan suatu negara.
2. Tujuan filsafat pendidikan memberikan inspirasi bagaimana
mengorganisasikan proses pembelajaran yang ideal. Adapun teori
pendidikan bertujuan menghasilkan pemikiran tentang kebijakan dan
prinsip-rinsip pendidikan yang didasari oleh filsafat pendidikan.
3. Dalam Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional Bab I pasal 1 ayat 6 dinyatakan bahwa
“Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru,
dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator,
dan sebuatan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi
dalam menyelenggarakan pendidikan”.
4. Dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 bab I
pasal 1 ayat 4, Peserta didik adalah “Anggota masyarakat yang berusaha
mengembangkan potensi diri melalui proses pembejaran yang tersedia
pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu”.
5. Metode yang relevan untuk pendidikan Indonesia adalah kontruktivisme,
merupakan aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa
pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi kita sendiri.
6. Dalam teori kurikulum, keberhasilan suatu kurikulum merupakan proses
panjang, mulai dari kristalisasi berbagai gagasan dan konsep ideal tentang
pendidikan, perumusan desain kurikulum, persiapan pendidik dan tenaga
kependidikan, serta sarana dan prasarana, tata kelola pelaksanaan
kurikulum, termasuk pembelajaran dan penilaian pembelajaran serta
kurikulum.

16
7. Pendidikan, filsafat, kurikulum dan pengajaran sangat memiliiki hubungan
yang erat satu sama lain. Pendidikan, konsep pendidian bertolak dari
asumsi bahwa seluruh warisan budaya, yaitu pengetahuan, ide-ide, atau
nilai-nilai yang telah ditentukan oleh para pemikir terdahulu. Pendidikan
berfungsi memelihara, mengawetkan dan meneruskan semua warisan
budaya tersebut kepada generasi berikutnya.

3.2 Saran
Setelah membaca materi yang telah disampaikan di atas, kita sebagai
generasi penerus yang berpendidikan seharusnya menghargai berbagai
macam ilmu pengetahuan serta mengetahui akan manfaatnya dalam
kehidupan sekarang ini, diperlukannya referensi dan literatur yang lebih
banyak dan lebih jelas lagi untuk pendalaman materi tentang filsafat
pendidikan ini.

17
DAFTAR PUSTAKA

Anita Lie. 2012 dalam http://www.academia.edu Di akses pada tanggal 27 Mei


2015

Djamarah, Syaiful Bahri. 2003. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif,
cet II, Jakarta: Rineka Cipta.

Fauzi, Ahmad. 1999. Psikologi Umum, cet II. Bandung: Pustaka Setia.

Hiryanto, Majid, Abd. 2010. Peranan Pendidik dalam Upaya Membentuk


Karakter Peserta Didik. http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/M_K_D_U/195-
ABD_MAJID/ARTIKEL/Peranan_Pendidik_DGB_UPI.pdf 2010 Diakses
pada tanggal 27 Mei 2015

Kaelan dan Dosen Universitas gajah Mada. (2004). Pendidikan Pancasila.


Yogyakarta: Paradigma

Marwanti. Peran Guru Profesional dalam Mengubah Pola Pikir Peserta Didik
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/Peran%20guru%20%20malang.pdf
Diakses pada tanggal 27 Mei 2015

Novak, J.D. & Gowin, B. ( 1985). Learning how to Learn. Cambridge University
Press.

Nur Khalisah Latuconsina. Hakekat Guru dalam Pembelajaran. http://www.uin-


alauddin.ac.id/download-4.%20Nur%20Khalisah_Hakekat%20Guru.pdf
Diakses pada tanggal 27 Mei 2015

Sadulloh, Uyoh. (2012). Pengantar Filsafat Pendidikan. Alfabeta.

Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UPI. 2007. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan
Bagian 2. Bandung: PT. IMTIMA

Wahyudin, Dinn. 2002. Pengantar Pendidikan. Jakarta:Universitas Terbuka

18