Anda di halaman 1dari 57

PERAN PERAWAT DALAM PATIENT SAFETY

IRWAN SUBEKTI
IRWANSUBEKTI 1
IRWANSUBEKTI 2
Health Foundation
www.health.org.uk/areas-of-work/topics/patient-safety
IRWANSUBEKTI 3
Data di Indonesia
• Laporan Komite Keselamatan Pasien Rumah Sakit (KKPRS)
berdasarkan provinsi, tahun 2007:
– KNC sebesar 47,6%
– KTD sebesar 46,2%,
(tahun 2010 kasus KTD meningkat menjadi 63%, yang
terdiri dari 12 provinsi di Indonesia).
(Muthmainah, 2014).

Insidens patient safety : 28,3% dilakukan oleh perawat.


Contohnya koordinasi dan komunikasi yang kurang baik
antar perawat, penggunaan alat suntik yang tidak aman,
salah pemberian obat
IRWANSUBEKTI 4
Tujuan
• Menjelaskan pencegahan dan penurunan kejadian
medical error di RS
• Menjelaskan cara pencegahan kejadian medical error
di rumah sakit
• Menjelaskan risiko kesalahan medis pada
keselamatan pasien
• Mendiskripsikan budaya keselamatan
• Menjelaskan upaya pencegahan kesalahan dan
mengatasi dampaknya
• Menjelaskan strategi untuk mempromosikan budaya
keselamatan di lingkungan perawatan kesehatan
IRWANSUBEKTI 5
MENGAPA KESELAMATAN PASIEN ?

IRWANSUBEKTI 6
KESELAMATAN PASIEN

IRWANSUBEKTI 7
IRWANSUBEKTI 8
MODEL PELAYANAN TRADISIONAL VS
PELAYANAN BERFOKUS PASIEN

IRWANSUBEKTI 9
IRWANSUBEKTI 10
Perbedaan model pelayanan tradisional VS
pelayanan berfokus pasien

IRWANSUBEKTI 11
IRWANSUBEKTI 12
IRWANSUBEKTI 13
IRWANSUBEKTI 14
ADVERSE EVENT
Cedera yang terjadi karena pelayanan
kesehatan, bukan karena penyakit yang
mendasari

Bisa dicegah, bisa juga tidak dapat dicegah


Berikan 5
contoh
Contoh : komplikasi bedah, HAIs, medication lainnya
error

IRWANSUBEKTI 15
IRWANSUBEKTI 16
ERROR
Berikan contoh
masing-masing
SLIPS
ERROR OF
ACTION
LAPSES
ERROR

ERROR OF
KNOWLEDGE / MISTAKES
PLANNING

IRWANSUBEKTI
Vincent, 2011 17
MEDICAL ERROR
• The failure of a planned action to be
completed as intended (i.e., error of execusion)
or the use of a wrong plan to achieve an aim
(i.e., error of planning)
• “an unintended event . . . that could have
harmed or did harm a patient.”

Setiap tindakan medik yang dilaksanakan tetapi tidak


sesuai dengan rencana atau prosedur

IRWANSUBEKTI 18
TIPE-TIPE MEDICAL ERROR
1) ERROR OF OMISSION (Kesalahan dalam
mendiagnosis, keterlambatan dalam
penanganan pasien atau tidak meresepkan obat
untuk indikasi yang tepat, atau Melakukan
apendiktomi tanpa disertai dengan pemeriksaan
patologi anatomi ), dan
2) ERROR OF COMMISSION (meliputi kesalahan
dalam memutuskan pilihan terapi, memberikan
obat yang salah, atau obat diberikan melalui
cara pemberian yang keliru )

IRWANSUBEKTI 19
IRWANSUBEKTI 20
Berdasarkan Proses Terjadinya

Diagnostik
Kesalahan atau keterlambatan dalam
menegakkan diagnosis, tidak
melakukan suatu pemeriksaan padahal
ada indikasi untuk itu, penggunaan
uji/pemeriksaan atau terapi yang
sudah tergolong usang atau tidak
dianjurkan lagi.

IRWANSUBEKTI 21
LANGKAH LAPORAN KONDISI PASIEN OLEH
PERAWAT/DOKTER JAGA

Review hasil
Diskusikan pemeriksaan Baca catatan
Ketahui kapan Gunakan
keadaan untuk perkembangan
Visit dan pasien masuk standar SBAR
pasien dengan menetapkan terakhir dari
periksa pasien dan diagnosis untuk
Perawat dokter yg dokter dan
waktu masuk melaporkan
Primer tepat yang perawat
akan dilapori

IRWANSUBEKTI 22
Komunikasi Efektif

IRWANSUBEKTI 23
KOMUNIKASI YANG MUDAH TERJADI KESALAHAN

Terjadi pada saat:


 Perintah diberikan
secara lisan
 Perintah diberikan
melalui telpon
 Saat pelaporan
kembali hasil
pemeriksaan kritis.

IRWANSUBEKTI 24
Perintah Lisan/Lewat Telepon
 ISI PERINTAH
1. Tulis Lengkap  NAMA LENGKAP DAN TANDA TANGAN
PEMBERI PERINTAH
2. Baca Ulang - Eja
 NAMA LENGKAP DAN TANDA TANGAN
untuk NORUM/LASA PENERIMA PERINTAH
 TANGGAL DAN JAM
3. Konfirmasilisan
dan tanda tangan

NO TGL/ ISI PERINTAH NAMA PENERIMA PERINTAH NAMA PEMBERI PERINTAH PELAKSANA PERINTAH KETERANGAN
(TANDA TANGAN) (TANDA TANGAN) (NAMA DAN TANDA
JAM TANGAN)
IRWANSUBEKTI 25
IRWANSUBEKTI 26
REGINA
TURNER (52)
“LEFT SIDED
CRANIOTOMY
BYPASS”
DIOPERASI SISI
KANAN,
KARENA TIM
OPERASI TAK
MELAKUKAN
TIME OUT

IRWANSUBEKTI 27
OPERASI SALAH KAKI

IRWANSUBEKTI 28
OPERASI SALAH SISI

IRWANSUBEKTI 29
Berdasarkan Proses Terjadinya
Kesalahan (error) dalam memberikan
obat, dosis terapi yang keliru, atau
Treatment melakukan terapi secara tidak tepat
(bukan atas indikasi)

IRWANSUBEKTI 30
• Paralytic agent vs antacid
IRWANSUBEKTI 31
Ingat !!!!!
KETEPATAN IDENTIFIKASI PASIEN
LASA (LOOK ALIKE SOUND ALIKE)/NORUM ( NAMA
OBAT RUPA MIRIP)

PENINGKATAN KEAMANAN OBAT YANG PERLU


DIWASPADAI (HIGH-ALERT)

IRWANSUBEKTI 32
Ketepatan identifikasi pasien

IRWANSUBEKTI 33
IRWANSUBEKTI 34
IRWANSUBEKTI 35
LASA (LOOK ALIKE SOUND ALIKE)/NORUM ( NAMA OBAT RUPA MIRIP)

IRWANSUBEKTI 36
Look-Alike High Alert Drugs

HIGH ALERT

IRWANSUBEKTI 37
ELEKTROLIT KONSENTRAT
1. Kalium/Potasium Klorida = > 2 mEq/ml
2. Kalium/Potasium Fosfat => 3 mmol/ml
3. Natrium/Sodium Klorida > 0.9% !
4. Magnesium Sulfat => 50% atau lebih pekat HIGH
ALERT

IRWANSUBEKTI 38
KEBIJAKAN PENANDAAN LOKASI OPERASI
1. Penandaan dilakukan pada semua kasus termasuk sisi
(laterality), multipel struktur (jari tangan, jari kaki, lesi),
atau multipel level (tulang belakang)
2. Perlu melibatkan pasien
3. Tak mudah luntur terkena air/alkohol / betadine
4. Mudah dikenali
5. Digunakan secara konsisten di RS
6. dibuat oleh operator /orang yang akan melakukan
tindakan,
7. Dilaksanakan saat pasien terjaga dan sadar jika
memungkinkan, dan harus terlihat sampai saat akan
disayat IRWANSUBEKTI 39
TIME OUT

IRWANSUBEKTI 41
Berdasarkan Proses Terjadinya
Dalam kategori ini termasuk tidak
memberikan profilaksis untuk situasi
Preventive. yang memerlukan profilaksis, dan
pemantauan atau melakukan tindak
lanjut terapi secara tidak adekuat

IRWANSUBEKTI 42
1. Rumah sakit mengadopsi atau mengadaptasi
pedoman hand hygiene terbaru yang
diterbitkan dan sudah diterima secara umum al
dari WHO Patient Safety
2. Rumah sakit menerapkan program hand
hygiene yang efektif.
3. Kebijakan dan/atau prosedur dikembangkan
untuk mengarahkan pengurangan secara
berkelanjutan risiko infeksi yang terkait
pelayanan kesehatan
IRWANSUBEKTI 43
IRWANSUBEKTI 44
Contoh: PENGGGUNAAN JEMBATAN KELEDAI, UNTUK MEMUDAHKAN MENGINGAT URUTAN
ENAM AREA DALAM HAND-WASH/RUB
• TELAPAK TANGAN
• PUNGGUNG TANGAN TEPUNG SELACI PUPUT
• SELA- SELA JARI
• PUNGGUNG JARI-JARI (GERAKAN KUNCI) LAMA CUCI TANGAN:
• SEKELILING IBU JARI (PUTAR- PUTAR) HAND RUB : 20-30 DETIK
HAND WASH 40-60 DETIK
• KUKU DAN UJUNG JARI (PUTAR-PUTAR)

IRWANSUBEKTI 45
Acknowledgement : WHO World Alliance for Patient IRWANSUBEKTI
Safety 46
Berdasarkan Proses Terjadinya
Misalnya adalah kegagalan dalam
komunikasi, alat medik yang digunakan tidak
Lain-lain, memadai, atau kesalahan akibat kegagalan
sistem (system failure).

IRWANSUBEKTI 47
Mengapa medical error bisa terjadi
1. Outcome dari medical error sering sulit dibedakan
dengan gejala akibat penyakitnya sendiri;
2. Praktisi medik tidak mengenali adanya efek samping
yang terjadi akibat medical error;
3. Efek samping terdeteksi, tetap tidak dilaporkan dalam
catatan medik sebagai medical error (contoh
terjadinya decubitus pada penderita rawat inap atau
dehisensi pasca operasi); dan
4. Beberapa efek samping bersifat reversibel atau hilang
gejalanya dengan penghentian terapi, sehingga dokter
atau perawat merasa tidak perlu mencatatnya sebagai
suatu medical error.

IRWANSUBEKTI 48
BAGAIMANA MENCEGAH TERJADINYA
MEDICAL ERROR?
Pengukuran kinerja dan penerapan performance
improvement system
Contoh:
• Menyiapkan adrenalin dan kortison untuk
mengatasi risiko syok anafilaksi akibat pemberian
obat per injeksi.
• Program-program pengendalian infeksi
nosokomial di rumah sakit merupakan bentuk
lain dari pengukuran kinerja dan sekaligus
menyediakan instrumen untuk mencegah hal
tersebut.
IRWANSUBEKTI 49
BAGAIMANA MENCEGAH TERJADINYA
MEDICAL ERROR?
Menetapkan strategi pencegahan berbasis pada
fakta
Langkah-langkah:
• Mengidentifikasi dan memantau kejadian error
pada sekelompok pasien dengan risiko tinggi
serta memahami bagaimana error bisa terjadi,
khususnya untuk yang sifatnya preventable.
• Melakukan analisis, interpretasi dan
mendiseminasikan data yang ada ke para klinisi
maupun stakeholders.
IRWANSUBEKTI 50
BAGAIMANA MENCEGAH TERJADINYA
MEDICAL ERROR?
Menetapkan strategi pencegahan berbasis pada fakta
Langkah-langkah:
• Menetapkan strategi untuk mengurangir risiko terjadinya
medical error dengan mempertimbangkan bagaimana
strategi tersebut dapat diterapkan dalam sistem pelayanan
kesehatan yang ada.
• Jika diperlukan dapat diundang para expert dalam bidang
klinis, epidemiologi klinis, atau management training untuk
melakukan eksplorasi dan sekaligus memformulasikan
solusi pemecahan.
• Jika keempat langkat tersebut telah dilakukan maka tahap
berikutnya adalah melakukan evaluasi dampak program
terhadap keamanan pasien (patient safety).

IRWANSUBEKTI 51
BAGAIMANA MENCEGAH TERJADINYA
MEDICAL ERROR?
Menetapkan standard kinerja (performance standards) untuk
keamanan pasien → Pengembangan dan tersedianya standard-
standard untuk keperluan patient safety antara lain bertujuan
untuk:
• Sebagai standard minimum kinerja yang harus dilaksanakan oleh
setiap petugas untuk meminimalkan terjadinya risiko
• Standard kinerja juga dimaksudkan untuk menjamin konsistensi
dan keseragaman prosedur bagi setiap petugas kesehatan dalam
melakukan upaya medik, sehingga kalaupun tetap terjadi error,
maka harus ditelusuri kembali apakah standard yang ditetapkan
adekuat.
• Menjamin bahwa pelaksanaan standard (yang
merepresentasikan kesepakatan seluruh petugas yang ada)
adalah dalam kerangka profesionalisme
IRWANSUBEKTI dan akuntabilitas 52
KOMPONEN YANG MEMBENTUK IKLIM KESELAMATAN SUATU ORGANISASI
(Adapted from : Neal & Griffin, 2002)

ANTECEDENTS DETERMINANTS COMPONENTS

Management commitment/leadership
Communication
Rules/procedures/protocols/guidance
Appreciation of risk(s)
Involvement Safety Knowledge & Skill Safety Compliance
Work environment Climate Motivation Safety Participation
Supportive environment
Priority of safety
Personal priorities If an individual does not have Compliance and participation represent
sufficient knowledge and skill to behaviours that individuals perform
comply with safety regulations or whilst at work. Safety compliance describes
Safety climate is one of many participate in safety activities, they the core activities that must be carried out to
antecedents of safety will not be able to perform these maintain safety; safety participation describes
performance, for example, actions. If they do not have sufficient behaviours that do not directly contribute to
management commitment and motivation to comply with safety safety, but which help to develop an
leadership are felt to play an regulations to participate in safety environment that supports safety.
important role in shaping activities they will choose not to carry
workers perceptions of the out these actions.
safety climate in their
organisation

IRWANSUBEKTI 53
RESPON AWAL DALAM SUATU
INSIDEN?
• Menyalahkan seseorang!
• Padahal !!!…
– Insiden terjadi seringkali merupakan kontribusi dari
banyak faktor
– Menyalahkan seseorang tidak akan mengubah faktor-
faktor tsb, dan insiden yang sama masih dapat
terulang

IRWANSUBEKTI 54
BAGAIMANA MENJADIKAN LEBIH
BAIK?

Masalahnya bukan pada “orang”

Sistem yang harus dibangun menjadi lebih


aman

Pencegahan Error dan Peningkatan


Keselamatan Pasien, memerlukan Pendekatan
Sistem
IRWANSUBEKTI 55
7 Standar Keselamatan Pasien
1. Hak Pasien
2. Mendidik Pasien Dan Keluarga
3. Keselamatan Pasien Dalam Kesinambungan Pelayanan
4. Penggunaan Metode Peningkatan Kinerja Untuk
Melakukan Evaluasi Dan Program Peningkatan
Keselamatan Pasien
5. Peran Kepemimpinan Dalam Meningkatkan
Keselamatan Pasien
6. Mendidik Staf Tentang Keselamatan Pasien
7. Komunikasi Merupakan Kunci Bagi Staf Untuk
Mencapai Keselamatan Pasien.

IRWANSUBEKTI 56
KEBIJAKAN PELAPORAN
HASIL PEMERIKSAAN KRITIS
• Proses pelaporan hasil pemeriksaan/tes
dikembangkan rumah sakit untuk pengelolaan
hasil kritis dari tes diagnostik untuk menyediakan
pedoman bagi para praktisi untuk meminta dan
menerima hasil tes pada keadaan gawat darurat.
• RS mempunyai Prosedur yang meliputi
– penetapan tes kritis dan ambang nilai kritis bagi setiap
tipe tes,
– oleh siapa dan kepada siapa hasil tes kritis harus
dilaporkan
– menetapkan metode monitoring yang memenuhi
ketentuan
IRWANSUBEKTI 57
IRWANSUBEKTI 59