Anda di halaman 1dari 54

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sesuai dengan visi pembangunan kesehatan melalui puskesmas adalah tercapainya

kecamatan sehat, merupakan gambaran masyarakat kecamatan masa depan yang ingin

dicapai melalui pembangunan kesehatan yang ditandai dengan penduduknya hidup dalam

lingkungan sehat dan dengan prilaku hidup sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau

pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan

yang setinggi-tingginya. Upaya pelayanan kesehatan tingkat pertama yang diselenggarakan

oleh puskesmas terpadu dan berkesinambungan yang sangat dibutuhkan oleh sebagian

besar masyarakat serta mempunyai nilai strategis untuk meningkatkan derajat kesehatan

masyarakat.

Penyelenggaraan Puskesmas di era desentralisasi hanya dapat digolongkan menjadi

program kesehatan dasar dan program kesehatan pengembangan.Program kesehatan

dasar Puskesmas yang ditetapkan berdasarkan kebutuhan sebagian besar masyarakat

Indonesia serta mempunyai daya ungkit tinggi dalam mengatasi permasalahan kesehatan

nasional dan internasional yang berkaitan dengan kesakitan, kecacatan dan kematian.

Program kesehatan dasar tersebut meliputi: promosi kesehatan, kesehatan lingkungan,

KIA/KB, perbaikan gizi, P2M, dan pengobatan. Sedangkan program kesehatan

pengembangan hendaknya disesuaikan dengan permasalahan kesehatan masyarakat

setempat terutama yang bersifat KLB atau sesuai dengan tuntutan masyarakat sebagai

program inovatif dengan mempertimbangkan ketersediaan dan kemampuan sumber daya

setempat serta dukungan dari masyarakat.

1
UPTD Puskesmas Jati Raya merupakan pemekaran dari Puskesmas Perumnas , dan

resmi menjadi Puskesmas Induk berdasarkan Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kota

Kendari Nomor 820 / 985.A yaitu tentang penetapan puskesmas pembantu Jati Raya

sebagai Puskesmas tanggal 28 Juni 2008.

Letak UPTD Puskesmas Jati Raya sangat strategis dan mudah di akses oleh

masyarakat di wilayah kerja Puskesmas maupun masyarakat yang berada di luar wilayah

kerja UPTD Puskesmas Jati Raya, karena UPTD Puskesmas Jati Raya dilalui oleh jalur

transportasi dari Kota Kendari menuju Kampus Baru, dengan rata-rata kunjungan pasien

perhari sekitar 30 – 60 orang. UPTD Puskesmas Jati Raya yang merupakan Puskesmas

Rawat Jalan ditunjang oleh adanya layanan pemeriksaan Laboratorium sederhana dan

dapat melayani Pemeriksaan Malaria & Basil Tahan Asam (BTA).Sejak bulan Februari tahun

2008, UPTD Puskesmas Jati Raya bekerjasama dengan Lembaga Advokasi HIV/AIDS

(LAHA) SULTRA membuka layanan Konseling & Terapi bagi pecandu NAPZA di Kota

Kendari, dengan waktu pelayanan setiap hari Selasa dan Kamis, pukul 15.00 – 18.00 WITA.

Walaupun UPTD Puskesmas Jati Raya hanya memiliki sarana dan prasarana

Kesehatan yang sederhana serta sumber daya manusia yang terbatas, tetapi semangat

untuk memberikan pelayanan yang berkualitas dan terjangkau bagi masyarakat dalam

rangka mewujudkan Kota Kendari Sehat, menjadi niat dan tekad UPTD Puskesmas Jati

Raya Kota Kendari.

Profil puskesmas sebagai sarana informasi kesehatan dapat memberikan bukti- bukti

dalam pengambilan keputusan dalam pembangunan kesehatan baik pada tingkat

puskesmas secara berkala.

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan

2
1. Tujuan Instruksional Umum
Diharapkan sesudah melakukan kegiatan keterampilan klinik mahasiswa mampu
melakukan penilaian masalah kesehatan disuatu wilayah kerja sesuai standar
kompetensi dokter.

2. Tujuan Instruksional Khusus


Diharapkan sesudah melakukan kegiatan keterampilan klinik, mahasiswa dapat :
a. Melakukan identifikasi masalah kesehatan.
b. Menentukan prioritas masalah kesehatan dengan Metode Hanlon Kuantitatif.
c. Merumuskan masalah kesehatan.
d. Menentukan akar penyebab masalah kesehatan dengan Metode Pohon Masalah.

D. Manfaat

3
BAB II

ANALISIS SITUASI

A. Puskesmas

Visi, Misi, Program Pokok dan Fungsi Puskesmas

1. Visi UPTD Puskesmas Jati Raya

Terwujudnya UPTD Puskesmas Jati Raya Sebagai Pusat Pelayanan Kesehatan Yang

Profesional, Berkualitas, Mandiri dan Menghasilkan Layanan Yang Memuaskan Secara

Merata Kepada Masyarakat Guna Tercapainya Kecamatan Sehat Pada Tahun 2022.

2. Misi UPTD Puskesmas Jati Raya

a. Meningkatkan SDM yang berkualitas dan berkomitmen tinggi;

b. Memberikan pelayanan kesehatan sesuai standar dan berkualitas kepada masyarakat;

c. Mendorong kemandirian masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat;

d. Berupaya untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas sarana pelayanan kesehatan;

e. Meningkatkan peran serta masyarakat dan lintas sektor dalam pembangunan yang

berwawasan kesehatan.

3. Tugas Pokok

1. Memberikan pelayanan kesehatan dalam bentuk rawat jalan dan konsultasi.

2. Meningkatakan pembinaan peran serta masyarakat dalam mendukung program –

program yang dirancangkan pemerintah.

3. Membina kerjasama lintas sektoral yang terkait untuk melaksanakan pembagunan yang

berwawasan kesehatan.

4. Tujuan

a. Menjadi puskesmas pilihan masyarakat yang memberikan pelayanan optimal sesuai

standar dan peraturan yang berlaku, dengan berorientasi pada kepuasan masyarakat;

4
b. Memberikan pelayanan dengan menggunakan tenaga yang berkompeten dibidangnya

masing-masing;

c. Mewujudkan tata kelola puskesmas yang profesional, efektif, efisien, transparan dan

akuntabel sesuai dengan peraturan yang berlaku.

5. Tata Nilai

Tata nilai dalam memberikan pelayanan terdiri dari dari Profesional, Kualitas, Mandiri dan

Bersih, disingkat dengan PROKLAMASI.

Profesional : Mampu melaksanakan pelayanan kesehatan dan bekerja sesuai standar

profesi yang dapat dipertanggung jawabkan.

Kualitas : Dalam memberikan pelayanan kesehatan disesuaikan dengan Standar

Operasional Prosedur yang telah ditetapkan

Mandiri : Memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah kesehatan yang terjadi

dimasyarakat dan melaksanakan pelayanan kesehatan sesuai prosedur

tanpa ada intervensi dari pihak lain.

Bersih : Dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan senantiasa mengikuti

aturan yang berlaku.

6. Motto

Motto dalam memberikan pelayanan yaitu Melayani Setulus Hati, disingkat dengan MELATI.

C. Gambaran Umum Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Jati Raya

1. Geografi

UPTD Puskesmas Jati Raya terletak di dalam Kota Kendari yaitu di Jalan Rambutan

Kelurahan Wowawanggu Kecamatan Kadia, dengan titik koordinat lintang 3°59'41.5"S dan

bujur 122°30'32.8"E.Wilayah kerja 3 kelurahan yaitu : Kelurahan Wowawanggu , Kelurahan

5
Anaiwoi, dan Kelurahan Bonggoeya, yang merupakan administratif kecamatan Kadia dan

kecamatan Wua- Wua Kota Kendari.

Adapun batas-batas UPTD Puskesmas Jati Raya adalah :

a. Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Bende (Kec.Kadia )

b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Wundudopi ( Kec. Baruga)

c. Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Lalolara (Kec. Poasia)

d. Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Mataiwoi (Kec. Wua-wua)

2. Luas Wilayah

Luas wilayah kerja UPTD Puskesmas Jati Raya secara keseluruhan yaitu 3,42 km2, -

dengan rincian luas wilayah setiap Kelurahan sebagai berikut :

a. Kelurahan Wowawanggu : 0,70km2

b. Kelurahan Anaiwoi : 0,42 km2

c. Kelurahan Bonggoeya : 2,30 km2

3. Demografi

Jumlah Penduduk dalam wilayah kerja UPTD Puskesmas Jati Raya dari data tahun 2018

adalah sebagai berikut :

Tabel 1
Jumlah Penduduk Pada Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Jati Raya
Pada Tahun 2018
JUMLAH PENDUDUK JUMLAH
NO KELURAHAN TOTAL RUMAH
LAKI-LAKI PEREMPUAN
PENDUDUK TANGGA
1 BONGGOEYA 3140 3269 6409 1492
2 WOWAWANGGU 1956 1888 3844 888
3 ANAIWOI 1068 1136 2204 490
JUMLAH 6164 6293 12457 2870
Sumber : Kantor Kelurahan Wowawanggu, Bonggoeya, Anaiwoi (2018)

6
Tabel 2.
Jumlah KK Miskin Pada Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Jati Raya
Pada Tahun 2018

NO KELURAHAN JUMLAH KK MISKIN

1 BONGGOEYA 130

2 WOWAWANGGU 237

3 ANAIWOI 75

JUMLAH 442

Sumber :Sumber : Kantor Kelurahan Wowawanggu, Bonggoeya, Anaiwoi (2018)

4. Program Pokok

Kegiatan pokok UPTD Puskesmas Jati Raya Kota Kendari dilaksanakan sesuai

kemampuan tenaga maupun fasilitasnya, karena kegiatan pokok di setiap Puskesmas dapat

berbeda-beda. Namun kegiatan pokok UPTD Puskesmas Jati Raya yang lazim dan

seharusnya dilaksanakan adalah sebagai berikut :

a. Upaya Kesehatan Ibu

 Pemeriksaan Kehamilan

 Pelaksanaan program P4K

 Pemanatauan bumil Resiko Tinggi

 Pelaksanaan kelas ibu hamil

 Kemitraan Bidan-Dukun

b. Upaya Kesehatan Neonatus dan Bayi

7
 Kunjungan rumah PUS yang tidak berKB atau DO

 Otopsi verbal kematian ibu dan anak

 Pelayanan ibu nifas termasuk nifas resti dan promosi KB

 Kunjungan rumah ibu hamil (termasuk DO)

 Pemantauan kesehatan neonatus termasuk neonatus resti

 Kunjungan rumah tindak lanjut screening hipotyroid kogenital (SHK)

 Rujukan bayi positif hypothyroid kogenital ke RS

c. Usaha Kesehatan Anak Balita dan Pra Sekolah

 Pengukuran pertumbuhan balita di Posyandu

 Pemberian vitamin A di TK dan PAUD

 Sweeping vitamin A di posyandu

 Kunjungan rumah ( termasuk yang Drop Out)

 PMT penyuluhan di Posyandu

 Sosialisasi tablet Fe pada remaja putri

 Distribusi tablet Fe pada remaja putri

 Surveilans dan Pelacakan Gizi Buruk dan Gizi Kurang

d. Upaya Kesehatan Anak Usia Sekolah dan Remaja

 Pembinaan UKS/Dokter kecil

 Penjaringan peserta didik ( kelas 1, 7, 10 )

 Pemeriksaan berkala peserta didik

 Penyuluhan kesehatan reproduksi termasuk KB

 Pendataan BIAS

e. Upaya Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2M)

 Pemantauan kepatuhan minum obat Tb

8
 Pemeriksaan kontak serumah penderita Tb Paru

 Pemantauan dan tatalaksana kasus Tb

 Penemuan dan tatalaksana kasus DBD dan Malaria

 Penemuan dan tatalaksana kasus campak, diare, ispa, thypoid

 Pembentukan Posbindu PTM

 Pelayanan kesehatan di Posbindu PTM

 Penemuan dan tata laksana kasus kusta

 Pemantauan kepatuhan minum obat kusta

 Skrining RDT pada ibu hamil di Posyandu

 Konseling dan pencegahan transmisi penularan penyakit malaria

 Deteksi dini kasus IMS HIV/AIDS pada ibu hamil

f. Upaya Kesehatan Lingkungan

 Inspeksi kesehatan lingkungan untuk TTU

 Inspeksi kesehatan lingkungan untuk TPM

 Pemeriksaan kualitas air minum ( Depot Air Minum)

 Inspeksi sanitasi sumur gali

 Survey jentik

 Implementasi HSP di rumah tangga dengan metode MPAPHAST

g. Upaya Kesehatan Usila

 Pelayanan Kesehatan Usila

h. Penyuluhan Kesehatan Masyarakat (PKM)

 Pendampingan penyusunan rencana kegiatan STBM

 Pelayanan pemicuan stop BAB di sembarang tempat

 Pelaksanaan STBM

9
i. Upaya Promosi Kesehatan

 Penyuluhan kelompok dan massa tentang program kesehatan

 Pembinaan PHBS RT

 Pembinaan PHBS sekolah

 Pembinaan Toga

j. Imunisasi

 Pemberian imunisasi dasar lengkap di Posyandu

 Sweeping imunisasi dasar lengkap

 Sosialisasi Pekan Imunisasi Nasional (PIN)

5. Fungsi Puskesmas

a. Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan

Berupaya menggerakkan lintas sektor dan dunia usaha wilayah kerjanya agar

penggerakan pembangunan yang berwawasan kesehatan, aktif memantau dan melaporkan

dampak kesehatan dari penyelenggaraan setiap program pembangunan di wilayah kerjanya.

b. Pusat Pemberdayaan Masyarakat

Berupaya agar perorangan terutama pemuka masyarakat, keluarga dan masyarakat :

1) Memiliki kesadaran, kemauan dan kemampuan melayani diri sendiri dan masyarakat

untuk hidup sehat.

2) Berperan aktif dalam memperjuangkan kepentingan kesehatan termasuk pembiayaan

3) Ikut menetapkan dan memantau pelaksanaan program kesehatan

4) Membina peran serta masyarakat di wilayah kerjanya dalam rangka meningkatkan

kemampuan untuk hidup sehat.

5) Merangsang masyarakat termasuk swasta untuk melaksanakan kegiatan kegiatan

dalam rangka menolong dirinya sendiri

10
6) Memberikan petunjuk kepada masyarakat tentang bagaimana menggali dan

menggunakan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien.

c. Pusat Pelayanan Kesehatan Strata Pertama

Menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu dan

berkesinambungan :

1) Pelayanan kesehatan perorangan

2) Pelayanan kesehatan masyarakat

D. Struktur Organisasi

UPTD Puskesmas Jati Raya merupakan UPTD Kota Kendari (dibawah naungan

Dinas Kesehatan Kota Kendari).Dalam pelaksanaan program, Puskesmas bertanggung

jawab kepada Kepala Dinas Kesehatan Kota Kendari.

Dalam pengelolaan dan pertanggungjawaban Dokumen Pelaksanaan Anggaran

Satuan Kerja Perangkat Daerah (DPA-SKPD), Kepala Puskesmas Selaku Pengguna

Anggaran bertanggung jawab langsung kepada Walikota Kendari (melalui Sekretaris Kota

Kendari).

11
Gambar 1.
Struktur Organisasi UPTD Puskesmas Jati Raya
Tahun 2018

KEPALA PUSKESMAS
MASRIN, S.Gz., M.P.H.

BENDAHARA TATA USAHA


Jamila, AMK, S.Si Andarias Mangera, STP

UNIT I UNIT II UNIT III UNIT IV UNIT V UNIT VI UNIT VII

KIA P2M GIMUL PHN PKM P.RAWAT KEFARMA


Sitti Samsah, Muhammad drg. Rosdiawati Waode Nur Suwarty, JALAN SIAN/APO
S.ST Rusmin, SKM Aslin, SKM AMKL TIK
POLI Junety
KB IMUNISASI UKS UMUM Lebang,
Sitti Samsah, Nurnaningsih,S KES MANULA Sundusia, dr. Maryam S.Farm
S.ST KM Wasmawaty SKM
Botji, SKM
GIZI KESLING KES.JIWA &
Miswan, Suwarti, AMKL MATA
S.Tr.Gz Harliyanti,
LABORATORI AMK
UM
Putri Ayulya,
Amd. AK

12
E. Tujuan

1) Tujuan Umum

Profil ini diharapkan dapat memberikan gambaran kesehatan yang menyeluruh di daerah

UPTD Puskesmas Jati Raya dalam rangka meningkatkan kemampuan manajemen secara

berdaya guna dan berhasil guna.

2) Tujuan Khusus

a. Dapat menganalisis data situasi Puskesmas sehingga di dapatkan inventarisasi

masalah yang berdasarkan fakta

b. Dapat menentukan prioritas masalah

c. Dapat disusunnya Rencana Pelaksanaan Kegiatan (RPK) atau rencana strategi

Puskesmas, berdasarkan prioritas masalah.

F. Manfaat

1) Sebagai panduan dalam melaksanakan intervensi kegiatan program

2) Sebagai panduan untuk meningkatkan efisiensi pelayanan kesehatan

3) Sebagai bahan masukan dalam pembuatan perencanaan tahunan

4) Sebagai bahan pembanding dalam penyusunan pembuatan perencanaan tahunan baik

puskesmas maupun bagi dinas kesehatan

13
BAB III

IDENTIFIKASI MASALAH

A. Analisis Masalah
Analisis masalah di Puskesmas Jati Raya pada bulan Januari –
Desember tahun 2018 terdiri dari 46 indikator dengan terbagi atas 5 upaya
kesehatan wajib, yaitu Program Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga
Berencana (KIA/KB),Promosi Kesehatan (Promkes),Kesehatan Lingkungan
(Kesling), Gizi, dan Pemberantasan Penyakit Menular (P2M). Adapun yang
akan dianalisis pada laporan ini adalah masalah upaya Program Wajib di
Puskesmas Jati Raya. Upaya Wajib Puskesmas Jati Raya memiliki 5
indikator yaitu Program Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana
(KIA/KB),Promosi Kesehatan (Promkes),Kesehatan Lingkungan (Kesling),
Gizi, dan Pemberantasan Penyakit Menular (P2M).
Tabel 4. Analisis masalah Upaya Kesehatan Wajib Puskesmas Jati Raya
bulan Januari- Oktober 2018
No Indikator Program Sasaran Cakupan Selisih
(%) (%) (%)
Kesehatan Ibu Anak dan Keluarga Berencana
1 K1 100 100 0
2 K4 100 100 0
3 KN1 100 100 0
4 Persalinan 100 100 0
5 KN Lengkap 100 100 0
6 Kunjungan Nifas ke-3 100 100 0
7 Deteksi Faktor Resti 100 100 0
8 Komplikasi obstentri 100 100 0
9 Kompilkasi neonatus 100 100 0
10 Kunjungan Bayi 100 100 0
11 Pelayanan anak balita 100 100 0
12 KB Aktif 75 75 0
Imunisasi

14
13 HB 0 100 92,4 7,6
14 BCG 100 77,9 22,1
15 DPT HB HIB 1 100 79,2 20,8
16 DPT HB HIB 2 100 92,4 7,6
17 DPT HB HIB 3 100 87,9 12,1
18 Polio 1 100 81,1 18,9
19 Polio 2 100 92,2 7,8
20 Polio 3 100 94,1 5,9
21 Polio 4 100 85,2 14,8
22 IPV 100 81,1 18,9
23 Campak 100 103,9 +3,9
P2M
24 TBC 100 80 20
Kesehatan Lingkungan
25 Pemeriksaan Jaga 78 100 +22
26 Pemeriksaan Rumah 92 93,6 +1,6
27 Pemeriksaan SPAL 92 93,3 +1,6
28 PEMERIKSAAN TPS 92 94,4 +2,4
29 TTU 85 85,5 +0,5
30 TPM 89 89,2 +0,2
31 Jentik 95 95 0
32 Air minum 100 100 0
33 PDDK Akses Air minum 68 85 +17
berkualitas
34 Jumlah Sarana air bersih 100 100 0
Promosi Kesehatan
35 Posyandu 100 85 15
36 PHBS rumah tangga 85 62,17 22,83
37 Desa Siaga aktif 100 85 15
38 PHBS sekolah 100 100 0
Perbaikan Gizi Masyarakat
39 Balita yang ditimbang Bbnya 100 94,2 5,8
40 Konsumsi Garam Beryodium 100 100 0
41 Bayi 6-59 bulan mendapat 100 95,2 4,8

15
kapsul Vit.A
42 BUMIL KEK yang mendapat PMT 100 100 0
43 Balita yang mendapat makanan 100 100 0
tambahan
44 Remaja putri yang mendapat 100 92,3 7,7
TTB
45 Balita Gizi Buruk mendapat 100 100 0
perawatan
46 Bayi usia <6 bulan mendapat 100 100 0
ASI eksklusif
47 BUMIL yang mendapat TTD 100 94 6
48 Ibu nifas yang mendapat kapsul 100 100 0
Vit.a
49 BBL yang mendapat IMD 100 90 10
50 Balita yang mendapat KMS 100 96 4
51 Balita Ditimbang Yang Naik 100 92 8
Bbnya
Sumber : Data primer puskesmas Jati Raya bulan Januari – Desember 2018

B. Prioritas Masalah
Dalam penentuan prioritas masalah kita harus melalui beberapa
tahap yaitu menilai besar masalah, kegawatan masalah, kemudahan
penanggulangan dan PEARL faktor. Dalam Analisa Penyebab Masalah
dilakukan analisis secara individu oleh seorang dokter muda.
1. Besar Masalah (Kriteria A)
Penilaian besar masalah dengan menggunakan interval
menggunakan rumus sebagai berikut:
a. Kelas N = 1 + 3,3 log n
= 1 + 3,3 log 51
= 1 + 3,3 (1,7)
= 1 + 5,61
= 6,61
=7

16
Interval = ( nilai tertinggi – nilai terendah )
Jumlah kelas
= (22,83 – 0) / 7
= 22,83 / 7
= 3,26

Tabel 5. Kriteria A (Besar Masalah)


NO Indikator Besar masalah terhadap pencapaian program Nilai
Program Interval
0-.3,2 3,3- 6,6- 9,9- 13,2- 16,5- 19,8-
6,5 9,8 13,1 16,4 19,7 23
Nilai
1.4 2.8 4.2 5.6 7,0 8.4 10
Kesehatan Ibu Anak dan Keluarga Berencana
1 K1 X 1,4
2 K4 X 1,4
3 KN1 X 1,4
4 Persalinan X 1,4
5 KN Lengkap X 1,4
6 Kunjungan Nifas X 1,4
ke-3
7 Deteksi Faktor X 1,4
Resti
8 Komplikasi X 1,4
obstentri
9 Kompilkasi X 1,4
neonatus
10 Kunjungan Bayi X 1,4
11 Pelayanan anak X 1,4

17
balita
12 KB Aktif X 1,4
Imunisasi
13 HB 0 X 4,2
14 BCG X 10
15 DPT HB HIB 1 X 10
16 DPT HB HIB 2 X 4,2
17 DPT HB HIB 3 X 5,6
18 Polio 1 X 8,4
19 Polio 2 X 4,2
20 Polio 3 X 2,8
21 Polio 4 X 7,0
22 IPV X 8,4
23 Campak X 1,4
P2M
24 TBC X 10
Kesehatan Lingkungan
25 Pemeriksaan Jaga X 1,4
26 Pemeriksaan X 1,4
Rumah
27 Pemeriksaan SPAL X 1,4
28 PEMERIKSAAN X 1,4
TPS
29 TTU X 1,4
30 TPM X 1,4
31 Jentik X 1,4
32 Air minum X 1,4
33 PDDK Akses Air X 1,4

18
minum berkualitas
34 Jumlah Sarana air X 1,4
bersih
Promosi Kesehatan
35 Posyandu X 7,0
36 PHBS rumah X 10
tangga
37 Desa Siaga aktif X 7,0
38 PHBS sekolah X 1,4
Perbaikan Gizi Masyarakat
39 Balita yang X 2,8
ditimbang BBnya
40 Konsumsi Garam X 1,4
Beryodium
41 Bayi 6-59 bulan X 2,8
mendapat kapsul
Vit.A
42 BUMIL KEK yang X 1,4
mendapat PMT
43 Balita yang X 1,4
mendapat makanan
tambahan
44 Remaja putri yang X 4,2
mendapat TTB
45 Balita Gizi Buruk X 1,4
mendapat
perawatan
46 Bayi usia <6 bulan X 1,4
mendapat ASI
eksklusif
47 BUMIL yang X 2,8

19
mendapat TTD
48 Ibu nifas yang X 1,4
mendapat kapsul
Vit.a
49 BBL yang X 5,6
mendapat IMD
50 Balita yang X 2,8
mendapat KMS
51 Balita Ditimbang X 4,2
Yang Naik Bbnya

2. Kegawatan Masalah (Kriteria B)

Keganasan Biaya Urgensi


Sangat ganas 5 Sangat murah 5 Sangat mendesak 5
Ganas 4 Murah 4 Mendesak 4
Cukup berpengaruh 3 Cukup murah 3 Cukup mendesak 3
Kurang ganas 2 Mahal 2 Kurang mendesak 2
Tidak ganas 1 Sangat mahal 1 Kurang mendesak 1

Tabel 6. Kriteria B (Kegawatan Masalah)


No Indikator Program Keganasan Tingkat Biaya yang Nilai
Urgensi dikeluarkan
Kesehatan Ibu Anak dan Keluarga Berencana
1 K1 1 1 5 7
2 K4 1 4 4 9
3 KN1 1 3 4 8
4 Persalinan 1 4 4 9
5 KN Lengkap 1 2 4 7
6 Kunjungan Nifas ke-3 5 4 4 13

20
7 Deteksi Faktor Resti 2 3 4 9
8 Komplikasi obstentri 4 4 3 11
9 Kompilkasi neonatus 4 4 3 11
10 Kunjungan Bayi 1 2 4 7
11 Pelayanan anak balita 1 1 4 6
12 KB Aktif 1 2 3 6
Imunisasi
13 HB 0 5 4 5 14
14 BCG 5 4 5 14
15 DPT HB HIB 1 4 4 4 12
16 DPT HB HIB 2 4 4 4 12
17 DPT HB HIB 3 4 4 4 12
18 Polio 1 4 4 4 12
19 Polio 2 4 4 4 12
20 Polio 3 4 4 4 12
21 Polio 4 4 4 4 12
22 IPV 4 4 4 12
23 Campak 4 4 4 12
Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular
26 TBC 5 4 5 14
Kesehatan Lingkungan
25 Pemeriksaan Jaga 1 1 5 7
26 Pemeriksaan Rumah 2 1 5 8
27 Pemeriksaan SPAL 3 3 5 11
28 PEMERIKSAAN TPS 3 4 4 11
29 TTU 1 1 5 7
30 TPM 4 3 3 10
31 Jentik 3 4 5 12
32 Air minum 1 4 4 9
33 PDDK Akses Air minum 1 4 4 9
berkualitas

21
34 Jumlah Sarana air bersih 1 3 4 8
Promosi Kesehatan
35 Posyandu 4 2 4 10
36 PHBS rumah tangga 1 1 5 7
37 Desa Siaga aktif 1 1 3 5
38 PHBS sekolah 1 1 4 6
Perbaikan Gizi Masyarakat
39 Balita yang ditimbang 2 1 5 8
Bbnya
40 Konsumsi Garam 1 1 5 7
Beryodium
41 Bayi 6-59 bulan mendapat 1 1 5 7
kapsul Vit.A
42 BUMIL KEK yang mendapat 5 3 5 13
PMT
43 Balita yang mendapat 3 4 4 11
makanan tambahan
44 Remaja putri yang 3 3 4 10
mendapat TTB
45 Balita Gizi Buruk mendapat 5 5 5 15
perawatan
46 Bayi usia <6 bulan 5 5 5 15
mendapat ASI eksklusif
47 BUMIL yang mendapat 5 5 5 15
TTD
48 Ibu nifas yang mendapat 2 2 4 8
kapsul Vit.a
49 BBL yang mendapat IMD 5 5 5 15
50 Balita yang mendapat KMS 3 3 5 11
51 Balita Ditimbang Yang Naik 3 3 5 11
Bbnya

22
3. Penilaian Kemudahan Penanggulangan (Kriteria C)
Sangat mudah :5 Sulit :2
Mudah :4 Sangat sulit :1
Netral :3
Tabel 7. Kriteria C (Kemudahan Penanggulangan)
No Indikator program Kemudahan
penaggulangan
Kesehatan Ibu Anak dan Keluarga Berencana
1 K1
2 K4
3 KN1
4 Persalinan
5 KN Lengkap
6 Kunjungan Nifas ke-3
7 Deteksi Faktor Resti
8 Komplikasi obstentri
9 Kompilkasi neonatus
10 Kunjungan Bayi
11 Pelayanan anak balita

12 KB Aktif
Imunisasi
13 HB 0
14 BCG
15 DPT HB HIB 1
16 DPT HB HIB 2
17 DPT HB HIB 3
18 Polio 1
19 Polio 2
20 Polio 3

23
21 Polio 4
22 IPV
23 Campak
Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular
24 TBC
Kesehatan Lingkungan
29 Survey Jentik 3,2
30 SAB 3,4
31 SPAL 2,9
32 TPM 2,6
33 TPS 3,1
34 JAGA Sehat 2,7
Promosi Kesehatan
35 Penyuluhan Penyakit Menular 3
36 Advokasi Kesehatan 3
37 Posyandu 4
38 Posbindu 3
39 Penyuluhan KTR di Sekolah dan Instansi 3
Pemerintah
40 Survey PHBS 4
41 UKK 3
42 Pembinaan Sekolah Sehat 4
43 Pos Lansia 4
Perbaikan Gizi Masyarakat
44 D/S 4
45 Pemberian Tablet Fe 4
46 Pemberian vitamin A (usia 6-11 bulan) 3
47 N/S 3
48 MP ASI 3
49 Perawatan Balita Gizi Buruk 4

4. Penilaian PEARL FAKTOR (Kriteria D)


Kriteria D (PEARL Faktor)

24
Terdiri dari beberapa faktor yang saling menentukan yaitu :
a. Propriety : Kesesuaian dengan program daerah/ nasional/
dunia
b. Economy : Memenuhi syarat ekonomi untuk melaksanakannya
c. Acceptability : Dapat diterima oleh petugas, masyarakat, dan
lembaga terkait
d. Resources : Tersedianya sumber daya
e. Legality : Tidak melanggar hukum dan etika
Skor yang digunakan yaitu:
Setuju :1
Tidak Setuju : 0

Tabel 8. Faktor PEARL


NO Indikator Program P E A R L Nilai
Kesehatan Ibu Anak dan Keluarga Berencana
1 K1 1 1 1 1 1 1
2 K4 1 1 1 1 1 1
3 Bumil Resti 1 1 1 1 1 1
4 Persalinan nakes 1 1 1 1 1 1
5 Bufas Resti 1 1 1 1 1 1
6 KF 1 1 1 1 1 1 1
7 KF lengkap 1 1 1 1 1 1
8 Neonatus 1 1 1 1 1 1
9 Bayi 1 1 1 1 1 1
10 Anbal 1 1 1 1 1 1
11 Batita 1 1 1 1 1 1
12 KB 1 1 1 1 1 1
Imunisasi
13 HB 0 1 1 1 1 1 1
14 BCG 1 1 1 1 1 1
15 DPT HB-1 1 1 1 1 1 1
16 DPT HB-2 1 1 1 1 1 1
17 DPT HB-3 1 1 1 1 1 1
18 Campak Bayi 1 1 1 1 1 1

25
19 Campak Anak 1 1 1 1 1 1
20 IPV 1 1 1 1 1 1
21 TT 1 1 1 1 1 1 1
22 TT 2 1 1 1 1 1 1
23 DT 1 1 1 1 1 1
24 TD 1 1 1 1 1 1
Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular
25 Diare 1 1 1 1 1 1
26 TBC 1 1 1 1 1 1
27 ISPA 1 1 1 1 1 1
28 DBD 1 1 1 1 1 1
Kesehatan Lingkungan
29 Survey Jentik 1 1 1 1 1 1
30 SAB 1 1 1 1 1 1
31 SPAL 1 1 1 1 1 1
32 TPM 1 1 1 1 1 1
33 TPS 1 1 1 1 1 1
34 JAGA Sehat 1 1 1 1 1 1
Promosi Kesehatan
35 Penyuluhan Penyakit Menular 1 1 1 1 1 1
36 Advokasi Kesehatan 1 1 1 1 1 1
37 Posyandu 1 1 1 1 1 1
38 Posbindu 1 1 1 1 1 1
39 Penyuluhan KTR di Sekolah dan 1 1 1 1 1 1
Instansi Pemerintah
40 Survey PHBS 1 1 1 1 1 1
41 UKK 1 1 1 1 1 1
42 Pembinaan Sekolah Sehat 1 1 1 1 1 1
43 Pos Lansia 1 1 1 1 1 1
Perbaikan Gizi Masyarakat
44 D/S 1 1 1 1 1 1
45 Pemberian Tablet Fe 1 1 1 1 1 1
46 Pemberian vitamin A (usia 6-11 1 1 1 1 1 1
bulan)
47 N/S 1 1 1 1 1 1

26
48 MP ASI 1 1 1 1 1 1
49 Perawatan Balita Gizi Buruk 1 1 1 1 1 1

5. Nilai Prioritas Masalah


Setelah kriteria A, B, C, dan D ditetapkan, nilai tersebut dimasukkan
ke dalam rumus :
Nilai Prioritas Dasar (NPD) =(A+B)xC
Nilai Prioritas Total (NPT) =(A+B)xCxD
Tabel 9. Prioritas Masalah Dengan Rumus NPD dan NPT
NO Indikator A B C D NPD NPT
Program
Kesehatan Ibu Anak dan Keluarga Berencana
1 K1 1.42 7 4 1 33,6 33,6
2 K4 1.42 8 4 1 37,68 37,68
3 Bumil Resti 1.42 11 3 1 37,26 37,26
4 Persalinan nakes 1.42 10 3 1 34,26 34,26
5 Bufas Resti 4,26 11 3 1 45,78 45,78
6 KF 1 1.42 9 3 1 31,26 31,26
7 KF lengkap 1.42 9 3 1 31,26 31,26
8 Neonatus 1.42 10 3 1 34,26 34,26
9 Bayi 1.42 8 2 1 18,84 18,84
10 Anbal 1.42 8 4 1 37,68 37,68
11 Batita 1.42 7 4 1 33,6 33,6
12 KB 1.42 5 4 1 25,68 25,68
Imunisasi
13 HB 0 1.42 11 4,2 1 52,164 52,164
14 BCG 1.42 11 3,3 1 40,986 40,986
15 DPT HB-1 1.42 11 3,6 1 44,712 44,712
16 DPT HB-2 1.42 11 3,7 1 45,954 45,954
17 DPT HB-3 1.42 11 3,6 1 44,712 44,712
18 Campak Bayi 1,42 12 3,5 1 46,97 46,97
19 Campak Anak 4,26 12 3,6 1 58,536 58,536
20 IPV 1,42 11 3,7 1 45,954 45,954
21 TT 1 1.42 12 4,1 1 55,022 55,022

27
22 TT 2 2,84 12 4,1 1 60,844 60,844
23 DT 2,84 12 3,8 1 56,392 56,392
24 TD 4,26 12 3,9 1 36,414 36,414
Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular
25 ISPA 7,1 9 4 1 64,3 64,3
26 DBD 10 9 4 1 76 76
27 Diare 1.42 8 3 1 28,26 28,26
28 TBC 1.42 8 3 1 28,26 28,26
Kesehatan Lingkungan
29 Survey Jentik 1.42 9 3,2 1 33,344 33,344
30 SAB 1.42 10 3,4 1 38,828 38,828
31 SPAL 1.42 10 2,9 1 33,118 33,118
32 TPM 4,26 8 2,6 1 31,876 31,876
33 TPS 1.42 8 3,1 1 29,202 29,202
34 JAGA Sehat 1.42 8 2,7 1 25,434 25,434
Promosi Kesehatan
35 Penyuluhan 1.42 7 3 1 25,26 25,26
Penyakit Menular
36 Advokasi 1.42 5 3 1 19,26 19,26
Kesehatan
37 Posyandu 1.42 10 4 1 45,68 45,68
38 Posbindu 1.42 9 3 1 31,26 31,26
39 Penyuluhan KTR 1.42 8 3 1 28,26 28,26
di Sekolah dan
Instansi
Pemerintah
40 Survey PHBS 1.42 10 4 1 45,68 45,68
41 UKK 1.42 10 3 1 34,26 34,26
42 Pembinaan 1.42 10 4 45,68 45,68
Sekolah Sehat
43 Pos Lansia 1.42 10 4 45,68 45,68
Perbaikan Gizi Masyarakat
44 D/S 1.67 10 4 1 46,68 46,68
45 Pemberian Tablet 1.67 9 4 1 42,68 42,68
Fe

28
46 Pemberian vitamin 1.67 9 3 1 32,01 32,01
A (usia 6-11 bulan)
47 N/S 1.67 9 3 1 32,01 32,01
48 MP ASI 1.67 11 3 1 38,01 38,01
49 Perawatan Balita 1.67 14 4 1 62,68 62,68
Gizi Buruk

Prioritas masalah :

1 DBD 76
2 ISPA 64,3
3 Perawatan Balita Gizi Buruk 62,68
4 TT 2 60,844
5 Campak Anak 58,536
6 DT 56,392
7 TT 1 55,022
8 HB 0 52,164
9 D/S 46,68
10 Campak Bayi 46,97
11 IPV 45,954
12 DPT HB-2 45,954
13 Bufas Resti 45,78
14 Pos Lansia 45,68
15 Pembinaan Sekolah Sehat 45,68
16. Survey PHBS 45,68
17. Posyandu 45,68
18 DPT HB-3 44,712
19 DPT HB-1 44,712
20 Pemberian Tablet Fe 42,68
21 BCG 40,986
22 SAB 38,828
23 MP ASI 38,01
24 Anbal 37,68

29
25 K4 37,68
26 Bumil Resti 37,26
27 TD 36,414
28 UKK 34,26
29 Neonatus 34,26
30 Persalinan nakes 34,26
31 Batita 33,6
32 K1 33,6
33 Survey Jentik 33,344
34 N/S 32,01
35 Pemberian vitamin A (usia 6-11 bulan) 32,01
36 TPM 31,876
37 Posbindu 31,26
38 KF lengkap 31,26
39 KF 1 31,26
40 SPAL 33,118
41 TPS 29,202
42 Penyuluhan KTR di Sekolah dan 28,26
Instansi Pemerintah
43 TBC 28,26
44 Diare 28,26
45 KB 25,68
46 JAGA Sehat 25,434
47 Penyuluhan Penyakit Menular 25,26
48 Advokasi Kesehatan 19,26
49 Bayi 18,84

30
BAB IV

PENUTUPAN

Hendrik E.Blum menyatakan bahwa untuk bisa mengerti suatu proses perencanaan

terhadap kesehatan masyarakat, kita perlu mengerti tentang dua paradigm yaitu:

1. PARADIGMA KEADAAN SEHAT / THE WELL BEING PARADIGM

Yaitu keadaan derajat kesehatan masyarakat yang menyatakan tingkat/derajat baiknya

status kesehatan masyarakat. Tinggi rendahnya derajat kesehatan ini dapat di ukur dari 12 aspek

31
/indicator yang dapat diukurLife span, lamanya umur harapan hidup dari masyarakatDisease or

infirmity adalah keadaan sakit atau cacat secara fisiologis dan anatomis darfi masyarakat.

Discomfort or illness adalah keluhan sakit dari masyarakat tentang keadaan somatik,

kejiwaan maupun sosial dari dirinya.Disability or incapacity adalah ketidak mampuan seseorang

dalam masyarakat untuk melakukan pekerjaannya dan menjalankan peranan sosialnya karena

sakit.

Participation in heath care adalah kemampuan dan kemauan masyarakat

untukberpartisipasi dalam manjaga dirinya untuk selalau dalam keadaan sehat.Health behavior

adalah perilaku nyata dari anggota masyarakat yang secara langsung berkaitan dengan

kesehatan.

Ecologic behavior adalah perilaku masyarakat terhadap lingkungan hidupnya, terhadap

spesies lain, sumber daya alam dan ekosistem.Social behavior adalah perilaku anggota

masyarakat terhadap sesamanya.

Interpersonal relation ship adalah kualitas komunikasi anggota masyarakat terhadap

sesamanya.Reserve or positive health adalah daya tahan anggota masyarakat terhadap penyakit

atau kapasitas anggota masyarakat dalam menghadapi tekanan-tekanan somatic, kejiwaan dan

sosial.

External satisfaction adalah rasa kepuasan anggota masyarakat terhadap lingkungan

sosialnya, meliputi rumah, sekolah, pekerjaan, rekreasi, transportasi, dan sarana pelayanan

kesehatan yang ada.Internal satisfaction adalah kepuasan anggota masyarakat terhadap seluruh

aspek kehidupan dirinya sendiri.

32
2. PARADIGMA KEKUATAN LAPANGAN / THE FORCE FIELD PARADIGM

Yaitu pengaruh faktor-faktor dilapangan terhadap derajat kesehatan masyarakat.Dari

paradigm diatas. BLUM menjelaskan bahwa terdapat empat faktor yang mempengaruhi tinggi

rendahnya derajat kesehatan suatu masyarakat yaitu:

Gambar 1.
Bagan Faktor Yang Mempengaruhi Derajat Kesehatan

Faktor Lingkungan / Environment

Contoh : Akses terhadap air bersih, Jamban/ tempat BAB, Sampah, Lantai Rumah, Breeding

places, Polusi, Sanitasi tempat umum, Bahan Beracun Berbahaya (B3), Kebersihan TPU

(Tempat Pelayanan Umum).

Faktor Perilaku / Life Styles

Contoh : alkohol, rokok, promiscuity: tempat-tempat berisiko, narkoba, olah raga dan Health

seeking behavior : Kalau tidak sakit parah tidak akan pergi ke puskesmas.

Faktor Pelayanan Kesehatan / Medical Care Services

33
Contoh : ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan (balai pengobatan) maupun rujukan

(rumah sakit), ketersediaan tenaga, peralatan kesehatan bersumberdaya masyarakat;

Kinerja/cakupan serta pembiayaan /anggaran.

Faktor Herediter atau Kependudukan / Heredity

Contoh : Penyakit-penyakit yang sifatnya turunan dan mempengaruhi sumberdaya masyarakat,

Jumlah penduduk dan Pertumbuhan penduduk serta jumlah kelompok khusus/rentan: bumil,

persalinan, bayi, dan lain-lain.

Gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari kejadian kematian di

suatu wilayah dari waktu ke waktu.Disamping itu, kejadian kematian juga dapat digunakan

sebagai indicatordalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan

kesehatan lainnya. Perkembangan tingkat kematian dan penyakit-penyakit penyebab utama

kematian yang terjadi pada tahun 2018akan diuraikan di bawah ini.

3. MORTALITAS.

Gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari kejadian

kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu. Disamping itu kejadian kematian juga dapat

digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program

pembangunan kesehatan lainnya. Angka kematian pada umumnya dapat dihitung dengan

melakukan berbagai survey dan penelitian.

34
Tabel 3.
Angka Kematian Bayi Dan Balita UPTD Puskesmas Jati Raya Tahun 2018

JUMLAH KEMATIAN
LAKI – LAKI PEREMPUAN LAKI - LAKI + PEREMPUAN
NO KELURAHAN
NEONA ANAK NEONA ANAK NEONA ANAK
BAYI BALITA BAYI BALITA BAYIa BALITA
TAL BALITA TAL BALITA TAL BALITA

1 BONGGOEYA 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

2 WOWAWANGGU 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

3 ANAIWOI 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

JUMLAH 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

30
1. Angka Kematian Neonatal

Pada Tahun 2018 di wilayah kerja UPTD Puskesmas Jati Raya,yang terdiri dari Kelurahan

Bonggoeya, Anaiwoi dan Wowawanggu tidak terdapat kematian neonatal.

2. Angka Kematian Bayi (AKB)

Angka kematian bayi (AKB) pada tahun 2018 di UPTD Puskesmas Jati Raya yaitu tidak ada

kematian bayi.

3. Angka Kematian Anak Balita

Angka kematian anak balita pada tahun 2018 di UPTD Puskesmas Jati Raya yaitu tidak ada

kematian.

4. Angka Kematian Balita (AKABA)

Angka kematian balita pada tahun 2018 di UPTD Puskesmas Jati Raya tidak ada kematian

balita.

5. Angka Kematian Ibu ( AKI ).

Angka Kematian Ibu diperoleh berbagai survei yang dilakukan secara khusus. Pada tahun

2018 untuk UPTD Puskesmas Jati Raya angka kematian ibu maternal yaitu tidak ada

kematian ibu.

31
4. MORBIDITAS

Tabel 4.
Sepuluh Besar Penyakit UPTD Puskesmas Jati Raya Tahun 2018

Jumlah
No. Nama Penyakit
2.520
1. ISPA
760
2. Penyakit Pada Sistem Otot dan Jaringan Pengikat
671
3. Penyakit dan Kelainan Susunan Saraf Lainnya
562
4. Penyakit Pulpa dan Jaringan Periapikal
513
5. Penyakit Kulit Alergi
453
6. Hipertensi
309
7. Diare
210
8. Tonsilitis
194
9. Penyakit Mata
197
10 Ginggivitis dan Penyakit Periodental

Infeksi Saluran Pernafasan Akut atau sering disebut sebagai ISPA adalah terjadinya infeksi

yang parah pada bagian sinus, tenggorokan, saluran udara, atau paru-paru. Infeksi yang terjadi

lebih sering disebabkan oleh virus meski bakteri juga bisa menyebabkan kondisi ini. Penyakit ini

tercatat sebagai penyakit yang terbanyak di UPTD Puskesmas Jati Raya tahun 2018 dengan

2.520 orang.

Kondisi ini menyebabkan fungsi pernapasan menjadi terganggu.Jika tidak segera ditangani,

ISPA dapat menyebar ke seluruh sistem pernapasan tubuh.Tubuh tidak bisa mendapatkan cukup

oksigen karena infeksi yang terjadi dan kondisi ini bisa berakibat fatal, bahkan mungkin

mematikan.

32
ISPA harus dianggap sebagai kondisi darurat, jika mencurigai terjadinya serangan ISPA,

segera cari bantuan medis.Kondisi ini berpotensi menyebar dari orang ke orang. Bagi yang

mengalami kelainan sistem kekebalan tubuh dan juga orang yang lanjut usia akan lebih mudah

terserang penyakit ini. Terlebih lagi pada anak-anak, di mana sistem kekebalan tubuh mereka

belum terbentuk sepenuhnya.

Seseorang bisa tertular infeksi saluran pernapasan akut ketika orang tersebut menghirup

udara yang mengandung virus atau bakteri.Virus atau bakteri ini dikeluarkan oleh penderita

infeksi saluran pernapasan melalui bersin atau ketika batuk. Selain itu, cairan mengandung virus

atau bakteri yang menempel pada permukaan benda bisa menular ke orang lain saat mereka

menyentuhnya. Ini disebut sebagai penularan secara tidak langsung.Untuk menghindari

penyebaran virus maupun bakteri, sebaiknya mencuci tangan secara teratur terutama setelah

Anda melakukan aktivitas di tempat umum.

Gejala ISPA

ISPA akan menimbulkan gejala yang terutama terjadi pada hidung dan paru-paru. Beberapa

gejalanya antara lain:

 Hidung tersumbat atau berair.

 Paru-paru terasa terhambat.

 Batuk-batuk dan tenggorokan terasa sakit.

 Kerap merasa kelelahan.

 Tubuh merasa sakit.

Apabila ISPA bertambah parah, gejala yang lebih serius akan muncul, seperti:

 Kesulitan bernapas.

 Demam tinggi dan menggigil.

 Tingkat oksigen dalam darah rendah.

33
 Kesadaran yang menurun dan bahkan pingsan.

Penyebab ISPA

Berikut ini adalah beberapa mikroorganisme penyebab munculnya ISPA yang sudah diketahui.

Adenovirus.Gangguan pernapasan seperti pilek, bronkitis, dan pneumonia bisa disebabkan oleh

virus ini yang memiliki lebih dari 50 jenis.

Rhinovirus.Ini adalah jenis virus yang menyebabkan pilek.Tapi pada anak kecil dan orang

dengan sistem kekebalan yang lemah, pilek biasa bisa berubah menjadi ISPA pada tahap yang

serius.

Pneumokokus.Ini adalah jenis bakteri yang menyebabkan meningitis. Tapi bakteri ini bisa

memicu gangguan pernapasan lain, seperti halnya pneumonia.

Sistem kekebalan tubuh seseorang sangat berpengaruh dalam melawan infeksi virus maupun

bakteri terhadap tubuh manusia. Risiko seseorang mengalami infeksi akan meningkat ketika

kekebalan tubuh lemah. Hal ini cenderung terjadi pada anak-anak dan orang yang lebih tua.Atau

siapa pun yang memiliki penyakit atau kelainan dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.

ISPA sendiri akan lebih mudah menjangkiti orang yang menderita penyakit jantung atau memiliki

gangguan dengan paru-parunya. Perokok juga berisiko tinggi terkena infeksi saluran pernapasan

akut dan cenderung lebih sulit untuk pulih dari kondisi ini.

Cara Mendiagnosis ISPA

Untuk mendiagnosis ISPA, dokter akan memeriksa sistem pernapasan Anda. Suara napas Anda

akan diperiksa untuk mengetahui apakah ada penumpukan cairan atau terjadinya peradangan

pada paru-paru. Hidung dan tenggorokan juga akan diperiksa. Pemeriksaan dengan CT scan dan

X-ray mungkin diperlukan apabila ISPA yang diderita sudah memasuki tahap lanjutan. Kondisi

paru-paru Anda akan diamati dengan kedua prosedur di atas.

34
Prosedur tes fungsi paru-paru dilakukan untuk melihat seberapa jauh pernapasan pasien

terganggu dan perkembangan kondisinya.Untuk memeriksa seberapa banyak oksigen yang

masuk ke paru-paru, prosedur oksimetri nadi dapat dilakukan. Sedangkan untuk menentukan

jenis virus penyebab ISPA, sampel dahak akan diambil untuk diteliti di laboratorium.

Pengobatan yang Dilakukan pada ISPA

Belum ada obat yang efektif membunuh kebanyakan virus yang menyerang manusia.Pengobatan

yang dilakukan biasanya hanya untuk meredakan gejala yang muncul akibat infeksi virus.

Apabila infeksi yang terjadi disebabkan oleh bakteri, serangkaian tes akan dilakukan untuk

mengetahui jenis bakteri. Setelah itu, dokter bisa menentukan antibiotik yang paling tepat untuk

membasmi bakteri penyebab infeksi.

Komplikasi yang terjadi akibat ISPA sangat serius dan bisa berakibat fatal atau mematikan jika

dibiarkan.Komplikasi yang sering kali terjadi bersamaan dengan ISPA adalah gagal napas dan

gagal jantung kongestif.

Mewaspadai ISPA

Pencegahan adalah cara terbaik dalam menangani ISPA. Berikut ini adalah beberapa pola hidup

higienis yang bisa dilakukan sebagai tindakan pencegahan.

Mencuci tangan secara teratur terutama setelah beraktivitas di tempat umum.

Hindari menyentuh bagian wajah, terutama mulut, hidung, dan mata, agar Anda terlindung dari

penyebaran virus dan bakteri.

Perbanyak mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin terutama vitamin C. Vitamin

sangat membantu dalam meningkatkan dan menjaga sistem kekebalan tubuh Anda.Hindari

merokok dan ketika anda bersin, pastikan menutupnya dengan tisu atau tangan. Hal ini dilakukan

untuk mencegah penyebaran penyakit yang bisa menular kepada orang lain.

35
Angka Kesakitan penduduk didapat dari data yang berasal dari petugas P2M Puskesmas

maupun dari sarana pelayanan kesehatan yang diperoleh melalui sistem pencatatan dan

pelaporan.

1. Penyakit Menular.

Penyakit menular yang disajikan data profil kesehatan antara lain penyakit TB Paru, Kusta,

DBD.

a. Penyakit TB Paru

Tabel 5.
Jumlah Kasus Tb Paru UPTD Puskesmas Jati Raya Tahun 2018

JUMLAH
JUMLAH KASUS KASUS TB
SELURUH
NO KELURAHAN BARU TB BTA+ ANAK 0-14
KASUS TB
TAHUN
L P L+P L P L+P

1 BONGGOEYA 5 4 9 7 5 12 1

2 WOWAWANGGU 9 5 14 11 9 20 0

3 ANAIWOI 4 4 8 4 4 8 0

JUMLAH 18 9 31 22 18 40 1

Menurut hasil kinerja petugas P2M UPTD Puskesmas Jati Raya tahun 2018, jumlah

kasus Tb paru baru pada tahun 2018 yaitu berjumlah 20 orang, dengan rincian 12 orang

laki-laki dan 8 orang perempuan. Sedangkan untuk jumlah kasus keseluruhan yaitu 30

orang dengan rincian 16 orang laki-laki dan 14 orang perempuan.

36
b. Penyakit Kusta

Tabel 6.
Jumlah Kasus Kusta UPTD Puskesmas Jati Raya Tahun 2018

KASUS BARU
Pausi Basiler Multi Basiler (MB)/
NO KELURAHAN PB + MB
(PB)/Kusta kering Kusta Basah
L P L+P L P L+P L P L+P
1 WOWAWANGGU 0 0 0 0 0 0 0 0 0
2 BONGGOOEYA 1 0 0 0 0 0 1 0 1
3 ANAIWOI 0 0 0 0 0 0 0 0 0

JUMLAH 1 0 0 0 0 0 1 0 1

Menurut hasil kinerja UPTD Puskesmas Jati Raya tahun 2018, terdapatpenderita Kusta

di sebanyak 1 (satu) orang.

2. Penyakit Menular Yang dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)

PD3I merupakan penyakit yang diharapkan dapat diberantas/ditekan

denganpelaksanaan program imunisasi, pada studi ini akan dibahas penyakit campak, polio

dan hepatitis B.

Tabel 7.
Jumlah Kasus PD3I UPTD Puskesmas Jati Raya Tahun 2018

JUMLAH KASUS PD3I


CAMPAK
NO KEL POLIO HEPATITIS B
JUMLAH KASUS MENI
NGG
L P L+P AL L P L+P L P L+P
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 BONGGOEYA 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
2 WOWAWANGGU 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
3 ANAIWOI 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
JUMLAH 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

37
a. Campak

Campak merupakan penyakit menular yang sering menyebabkan kejadian luar biasa.

Sepanjang tahun 2018 di UPTD Puskesmas Jati Raya tidak terdapat penderita campak.

b. Polio

Polio termasuk penyakit menular yang jumlah kasusnya relatif rendah, rendahnya kasus

polio sangat dipengaruhi adanya program imunisasi, kasus Polio di UPTD Puskesmas Jati

Raya tahun 2018 tidak ada (nihil).

c. Hepatitis B

Jumlah kasus Hepatitis pada tahun 2018yaitu tidak terdapat kasus Hepatitis B.

3. Penyakit Potensi KLB / Wabah

a. Demam Berdarah Dengue

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) telah menyebar luas ke seluruh wilayah.

Penyakit ini sering muncul sebagai KLB dengan angka kesakitan dan kematian relatif tinggi,

sedangkan angka kematian cenderung menurun.

Demam dengue atau yang dikenal secara umum oleh masyarakat Indonesia sebagai

demam berdarah merupakan penyakit yang dapat membuat suhu tubuh penderita menjadi

sangat tinggi dan pada umumnya disertai sakit kepala, nyeri sendi, otot, dan tulang, serta

nyeri di bagian belakang mata.

Sesungguhnya demam dengue dan demam berdarah merupakan dua kondisi yang

berbeda, namun sebagian besar masyarakat Indonesia sudah sering salah kaprah.Demam

berdarah atau dengue hemorrhagic fever (DBD) merupakan komplikasi dari demam dengue

(dengue fever) yang memburuk.Gejala DBD tergolong parah (meskipun pada fase ini panas

tubuh mengalami penurunan) di antaranya adalah kerusakan pada pembuluh darah dan

kelenjar getah bening, muntah-muntah yang disertai darah, keluarnya darah dari gusi dan

38
hidung, napas terengah-engah, dan pembengkakan organ hati yang menyebabkan nyeri di

sekitar perut.Dikarenakan kebanyakan masyarakat sudah terlanjur salah kaprah, maka

tulisan ini tetap diberi judul “Demam Berdarah” namun tanpa mengurangi nilai edukasinya.

Penyebab demam dengue

Penyakit demam dengue disebabkan oleh virus dengue yang penyebarannya terjadi

melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus.Karena diperantarai oleh kedua

serangga tersebut, maka demam dengue tidak bisa menular dari orang ke orang secara

langsung selayaknya penyakit flu. Nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus banyak

berkembang biak di daerah padat penduduk, misalnya di kota-kota besar beriklim lembap

dan hangat.

Masalah penyakit demam dengue biasanya dialami oleh negara-negara subtropis dan

tropis, termasuk Indonesia.Diperkirakan ada seratus juta kasus demam dengue yang terjadi

pada tiap tahunnya di dunia, bahkan ribuan orang di antaranya terjangkit dalam waktu

singkat akibat wabah penyakit ini.

Penyakit demam dengue di Indonesia

Menurut data yang dihimpun oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada

tahun 2013, telah terjadi 112.511 kasus demam dengue di 34 provinsi di Indonesia.Dari

jumlah tersebut, tercatat ada 871 penderita yang meninggal dunia.

Pada tahun 2014, kasus demam dengue di Indonesia mengalami penurunan. Menurut

data yang dikumpulkan hingga pertengahan Desember 2014, telah terjadi 71.668 kasus

dengan 641 orang di antaranya meninggal dunia.

Data di atas menempatkan Indonesia sebagai negara nomor 1 di Asia Tenggara terkait

kasus penyakit demam dengue.Sedangkan di dunia, Indonesia adalah nomor 2 setelah

Brazil.

39
Diagnosis dan pengobatan demam dengue

Jika Anda mengalami gejala seperti flu (misalnya sakit kepala dan demam tinggi) selama

lebih dari satu minggu, sebaiknya periksakan diri Anda ke dokter.Terlebih lagi jika gejala tersebut

dirasakan setelah berkunjung ke daerah yang sedang dilanda wabah demam dengue.

Para dokter yang sudah terbiasa menangani demam dengue biasanya dapat langsung

mengenali penyakit ini hanya dari gejala-gejala yang Anda rasakan.Apabila dokter yang

memeriksa Anda belum yakin bahwa Anda terkena demam dengue, maka pemeriksaan darah

dapat dilakukan untuk melihat keberadaan virus di dalam aliran darah.Selain untuk memperkuat

diagnosis, pemeriksaan darah juga bisa dilakukan untuk mengetahui dampak infeksi terhadap

darah.

Demam dengue bisa ditangani dengan meminum banyak cairan, beristirahat, serta

mengonsumsi parasetamol dan acetaminophen. Jika langkah pengobatan ini diterapkan,

biasanya gejala demam dengue akan mulai menunjukkan tanda-tanda pulih dalam waktu 2-5

hari.

Tidak diperbolehkan untuk mengonsumsi obat pereda nyeri jenis ibuprofen, aspirin, dan

naproxen sodium jika Anda menderita demam dengue karena dikhawatirkan dapat meningkatkan

risiko terjadinya pendarahan internal.

Pencegahan demam dengue

Berikut ini beberapa langkah pencegahan demam berdarah yang bisa Anda terapkan, di

antaranya:

 Mensterilkan bagian dalam rumah Anda dengan menyemprotkan cairan pembasmi nyamuk

 Membersihkan bak mandi dan menaburkan serbuk abate agar jentik-jentik nyamuk mati.

 Menutup, membalik, atau jika perlu menyingkirkan media-media kecil penampung air lainnya

yang ada di rumah Anda.

40
 Memasang kawat antinyamuk di seluruh ventilasi rumah Anda.

 Memasang kelambu di ranjang tidur Anda.

 Memakai losion antinyamuk, terutama yang mengandung N-diethylmetatoluamide (DEET)

yang terbukti efektif. Namun jangan gunakan produk ini pada bayi yang masih berusia di

bawah dua tahun.

 Mengenakan pakaian yang longgar yang bisa melindungi Anda dari gigitan nyamuk.

 Melakukan gotong royong untuk membersihkan lingkungan

 Mengadakan fogging untuk mensterilkan lingkungan dari nyamuk dan jentik-jentiknya.

Komplikasi demam dengue

Meski hanya terjadi pada segelintir kasus, demam dengue bisa berkembang menjadi

komplikasi yang lebih serius, yaitu dengue hemorrhagic fever atau demam berdarah dengue

(DBD) dan dengue shock syndrome yang dapat menyebabkan kematian akibat pendarahan

hebat.

Kedua komplikasi tersebut berisiko tinggi dialami oleh orang yang sistem kekebalan

tubuhnya tidak mampu melawan infeksi dengue yang dia derita, atau oleh orang yang

sebelumnya pernah terkena demam dengue lalu terkena kondisi ini kembali.

Segera bawa ke rumah sakit apabila di sekitar Anda ada penderita demam dengue yang

gejalanya mengarah pada demam berdarah dengue dan dengue shock syndrome.

Upaya pemberantasan DBD dititikberatkan pada penggerakkan potensi masyarakat untuk

dapat berperan serta dalam pemberantasan sarang nyamuk (gerakan 3 M), pemantauan angka

bebas jentik (ABJ) serta pengenalan gejala DBD dan penanganannya di rumah tangga. Jumlah

Kasus Demam Berdarah Dengue di wilayah kerja UPTD Puskesmas Jati Raya yaitu 10 kasus

dengan rincian 7 orang laki-laki dan 3 orang perempuan.

41
b. Diare

Diare merupakan kondisi yang ditandai dengan encernya tinja yang dikeluarkan dengan

frekuensi buang air besar (BAB) yang lebih sering dibandingkan dengan biasanya.Pada

umumnya, diare terjadi akibat konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi

bakteri, virus, atau parasit.Biasanya diare hanya berlangsung beberapa hari, namun pada

sebagian kasus memanjang hingga berminggu-minggu.

Penderita diare di Indonesia

Diare merupakan salah satu masalah kesehatan terbesar di dalam masyarakat

Indonesia. Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan RI pada tahun

2007, diare menduduki peringkat ketigabelas sebagai penyebab kematian semua umur

dengan proporsi sebesar 3,5 persen. Sedangkan berdasarkan kategori penyakit menular,

diare menduduki urutan ketiga penyebab kematian setelah Pneumonia dan TBC. Dari data

tersebut, golongan usia yang paling banyak mengalami diare adalah balita dengan

prevalensi sebesar 16,7 persen.

Diare bisa berdampak fatal apabila penderita mengalami dehidrasi akibat kehilangan

banyak cairan dari tubuh.Oleh sebab itu diare tidak boleh dianggap enteng walaupun kondisi

ini umum terjadi.

Gejala diare

Gejala diare bermacam-macam, dimulai dari yang hanya merasakan sakit perut singkat

dengan tinja yang tidak terlalu encer hingga ada yang mengalami kram perut dengan tinja

yang sangat encer. Pada kasus diare parah, kemungkinan penderitanya juga akan

mengalami demam dan kram perut hebat.

42
Faktor penyebab diare secara umum

Penyebab diare pada orang dewasa dan anak-anak umumnya adalah infeksi

usus.Infeksi usus bisa terjadi ketika kita mengonsumsi makanan atau minuman yang kotor

dan terkontaminasi.Mikroorganisme yang sering menyebabkan infeksi usus adalah bakteri,

parasit, dan virus seperti norovirus dan rotavirus.

Diare juga bisa timbul akibat faktor-faktor berikut ini:

 Efek samping obat-obatan tertentu,

 Faktor psikologi, misalnya gelisah,

 Konsumsi minuman beralkohol dan kopi yang berlebihan.

Diagnosis diare

Dalam mendiagnosis diare, dokter biasanya akan menanyakan seputar gejala yang

dialami dan melakukan pemeriksaan fisik, termasuk mencari apakah terjadi dehidrasi. Pada

sebagian kasus, dokter perlu melakukan pemeriksaan rektum, meneliti sampel tinja, atau

bahkan pemeriksaan darah.

Seputar pengobatan diare

Jika parah, diare bisa berujung kepada dehidrasi.Dehidrasi memiliki konsekuensi yang

fatal dan berpotensi merenggut nyawa penderita, terutama jika terjadi pada anak-anak.Hal

ini karena ketahanan tubuh anak-anak terhadap dehidrasi jauh lebih rendah dibandingkan

orang dewasa.Maka dari itu, orang tua disarankan untuk mewaspadai tanda-tanda dehidrasi

pada anak.Penderita juga disarankan untuk meminum banyak cairan selama diare masih

berlangsung.

Oralit bisa diminum untuk menghindari dehidrasi, tetapi konsultasikan pemakaiannya

terlebih dahulu dengan dokter atau apoteker, terutama jika Anda menderita penyakit

tertentu, seperti penyakit jantung.

43
Obat antidiare biasanya tidak terlalu dibutuhkan, kecuali bagi mereka yang memiliki

aktivitas padat atau yang ingin bepergian jarak jauh.Salah satu obat antidiare yang efektif

dan cepat dalam menghentikan diare adalah loperamide.Meski begitu, loperamide tidak

boleh diberikan kepada anak-anak.

Sebagian besar penderita diare sembuh setelah beberapa hari tanpa melakukan

pengobatan.Pada orang-orang dewasa, diare biasanya sembuh setelah 2-4 hari.Sedangkan

pada anak-anak, diare biasanya berlangsung lebih lama, yaitu antara 5-7 hari.

Jika anak Anda mengalami diare yang parah, berkelanjutan, atau jika dia mulai

menunjukkan tanda-tanda dehidrasi, segera periksakan ke dokter. Diare sebanyak enam

kali atau lebih dalam jangka waktu 24 jam pada anak juga sebaiknya dikonsultasikan

kepada dokter.

Begitu juga dengan diare yang membuat kondisi tubuh menurun drastis harus

dikonsultasikan kepada dokter, terlebih jika ada darah atau nanah pada tinja.Pemeriksaan

tinja di laboratorium mungkin diperlukan sebagai bagian dari penelitian lebih jauh.Diare yang

berlangsung lebih dari beberapa minggu pada orang dewasa bisa diakibatkan oleh sindrom

iritasi usus, kanker usus, atau penyakit Crohn.

Cara mencegah diare

Diare bukan saja berdampak kepada diri penderita, tapi juga berpotensi menyebar,

terutama kepada anggota keluarga.Oleh sebab itu, diare sebaiknya dicegah mulai dari

kontak pertama hingga penyebarannya.

Berikut adalah langkah-langkah pencegahan terkena diare akibat kontaminasi:

 Mencuci tangan sebelum makan.

 Menjauhi makanan yang kebersihannya diragukan dan tidak minum air keran.

 Memisahkan makanan yang mentah dari yang matang.

44
 Utamakan bahan makanan yang segar.

 Menyimpan makanan di kulkas dan tidak membiarkan makanan tertinggal di bawah

paparan sinar matahari atau suhu ruangan.

Jika mengalami diare, dianjurkan mengambil langkah-langkah seperti berikut, untuk

mencegah diare menyebar kepada orang-orang di sekitar, antara lain :

 Jika tinggal satu rumah, pastikan penderita menghindari penggunaan handuk atau

peralatan makan yang sama dengan anggota keluarga lainnya.

 Membersihkan toilet dengan disinfektan tiap setelah buang air besar.

 Tetap berada di rumah setidaknya 48 jam setelah periode diare yang terakhir.

 Mencuci tangan setelah menggunakan toilet atau sebelum makan dan sebelum

menyiapkan makanan.

Jumlah Kasus diare di wilayah kerja UPTD Puskesmas Jati Raya yaitu 316 kasus dengan

rincian 150 orang laki-laki dan 166 orang perempuan.

45
4. Status Gizi

Status gizi masyarakat dapat diukur melalui beberapa indikator, antara lain bayi dengan beat

badan lahir rendah (BBLR), status gizi balita, status gizi wanita usia subur kurang energi kronis

(KEK).

a. Bayi Dengan Berat Badan lahir Rendah (BBLR)

Tabel 8.
Jumlah Kasus BBLR UPTD Puskesmas Jati Raya Tahun 2018

JUMLAH LAHIR BAYI BARU LAHIR BBLR


NO KELURAHAN HIDUP DITIMBANG
L P L+P L P L+P
L P L+P
1 BONGGOEYA 107 88 195 107 88 195 7 2 9
2 WOWAWANGGU 63 83 146 63 83 146 0 0 0
3 ANAIWOI 45 82 77 45 82 77 0 5 5
JUMLAH 215 203 418 215 203 418 7 7 14

Berat badan lahir rendah (kurang dari 2.500 gram) merupakan salah satu faktor utama yang

berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal. BBLR dibedakan dalam 2 kategori yaitu

BBLR karena premature atau BBLR karena intrauterine growth retardation (IUGR), yaitu bayi

yang lahir cukup bulan tetapi berat badannya kurang. Untuk tahun 2018 di UPTD Puskesmas Jati

Raya terdapat 14 bayi BBLR yaitu 9 orang di Kelurahan Bonggoeya, dan 5 orang Kelurahan

Anaiwoi.

b. Status Gizi Balita

Status gizi balita merupakan salah satu indikator yang menggambarkan tingkat

kesejahteraan masyarakat. Salah satu cara penilaian status gizi balita adalah pengukuran secara

anthropometric yang menggunakan indeks berat badan menurut umur (BB/U).

46
Tabel 9.
Jumlah Kasus Gizi Buruk UPTD Puskesmas Jati Raya Tahun 2018

KASUS BALITA GIZI BURUK


NO KELURAHAN JUMLAH MENDAPAT PERAWATAN
DITEMUKAN L P L+P
1 BONGGOEYA 0 0 0 0 0 0
2 WOWAWANGGU 0 0 0 0 0 0
3 ANAIWOI 0 0 0 0 0 0
JUMLAH

5. Jumlah Kelahiran

Jumlah Kelahiran Hidup sepanjang tahun 2018 adalah 437 orang yaitu

KelurahanBonggoeya sebanyak 207 orang, Kelurahan Wowawanggu151 orang, dan Kelurahan

Anaiwoi sebanyak 79 orang .

Tabel 10.
Jumlah Bayi Baru Lahir UPTD Puskesmas Jati Raya Tahun 2018

JUMLAH LAHIR HIDUP


NO KELURAHAN
L P L+P
1 BONGGOEYA 101 106 207
2 WOWAWANGGU 72 79 151
3 ANAIWOI 38 41 79
JUMLAH 211 226 437

47
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Penyakit yang tertinggi di UPTD Puskesmas Jati Raya untuk tahun 2018adalah ISPA

dengan jumlah penderita yaitu 2.520orang .

2. Program pelayanan gizi buruk di UPTD Puskesmas Jati Raya pada tahun 2018 yaitu

tidak terdapat penderita gizi buruk .

3. Jumlah keseluruhan Penderita TB Paru BTA Positif di wilayah kerja UPTD Puskesmas

Jati Raya tahun 2018 berjumlah 31 orang.

4. Sarana dan prasarana yang ada di UPTD Puskesmas Jati Raya masih belum memadai

seperti kendaraan roda dua yang masih kurang dan barang meubiler (Meja, Kursi dan

Lemari/Rak).

5. Di UPTD Puskesmas Jati Raya belum memiliki SPAL dan pagar keliling yang juga

kurang memadai.

B. Saran

1. Untuk meningkatkan cakupan Program, maka penyuluhan kepada masyarakat perlu

lebih di intensifkan lagi.

2. Perlunya penambahan fasilitas kendaraan roda dua, roda empat dan barang meubiler

guna meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan di masyarakat.

3. Perlunya pembangunan/rehabilitasi UPTD Puskesmas Jati Raya dalam hal ini

pengadaan SPAL, dan pagar keliling UPTD Puskesmas Jati Raya.

48
Lampiran

49