Anda di halaman 1dari 67

LAPORAN MODUL 1

IDENTIFIKASI MASALAH KESEHATAN


WILAYAH KERJA PUSKESMAS LEPO-LEPO

Oleh : Kelompok 3
Tutor: dr. Ekha Desiastuti Mulyadi

Moh. Fachrul R. K1A112089 Adji Harjanto K1A116053


Shally Ariasnitra K1A116018 Sandhi Wirya A. K1A116054
Siti Nurjaha Taiso K1A116019 Masra Linda Sari K1A116055
Sitti Masyita Wakano K1A116020 Erik Veri Ramadani K1A116056
Fatimah Yuningsih K1A116052 Andre Gunawan K1A116128

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI 2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepadaTuhan Yang Maha Esa yang


telah memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat
menyelesaikan laporan modul 1 tentang identifikasi masalah
kesehatan.
Tujuan dari pembuatan laporan ini adalah agar mahasiswa
mampu melakukan penilaian masalah kesehatan di suatu wilayah kerja
contohnya di Puskesmas Lepo-lepo sebagai bentuk pembelajaran
dalam mengidentifikasi masalah kesehatan menggunakan Metode
Hanlon Kuantitatif dan Metode Pohon Masalah untuk menyelesaikan
masalah.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dari laporan
ini, baik dari materi maupun teknik penyajiannya. Oleh karena itu, kritik
dan saran yang membangun sangat kami harapkan.

Kendari, 10 April 2019

Kelompok III

2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................... Error! Bookmark not defined.i

DAFTAR ISI........................................................ Error! Bookmark not defined.i

BABI PENDAHULUAN ........................................ Error! Bookmark not defined.

A. Latar Belakang ...................................... Error! Bookmark not defined.

B. Rumusan Masalah .............................................................................. 3

C. Tujuan .................................................................................................. 3

D. Manfaat ................................................................................................ 5

BAB II TINJAUN PUSTAKA ............................................................................... 5

A. Geografi ............................................................................................... 6

B. Demografi ............................................................................................. 7

C. Keadaan Sosial Ekonomi ..................................................................... 7

D. Keadaan Lingkungan ........................................................................... 8

E. Sarana Kesehatan .............................................................................. 12

F. Sumber Daya Manusia Kesehatan ........ Error! Bookmark not defined.

BAB III IDENTIFIKASI UPAYA PELAYANAN................................................... 19

A. Analisis Masalah ................................................................................ 19

BAB IV PENUTUP............................................................................................ 24

A. Kesimpulan......................................................................................... 60

B. Saran .................................................................................................. 61

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 62

LAMPIRAN DOKUMANTASI KEGIATAN ......................................................... 63

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Upaya pelayanan kesehatan yang dilakukan pemerintah kepada
masyarakat tidak lepas dari peran puskesmas. Pusat kesehatan masyarakat
(Puskesmas) merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan bagi
masyarakat karena cukup efektif membantu masyarakat dalam memberikan
pertolongan pertama dengan standar pelayanan kesehatan sesuai dengan
wilayah kerjanya (Kemenkes RI, 2013). Pelayanan kesehatan yang dikenal
murah seharusnya menjadikan puskesmas sebagai tempat pelayanan
kesehatan utama bagi masyarakat, namun pada kenyataannya banyak

4
masyarakat yang lebih memilih pelayanan kesehatan pada dokter praktek
atau petugas kesehatan praktek lainnya. (Sanah, 2017)
Sejak 20 tahun terakhir, citra pelayanan kesehatan dasar melalui
puskesmas sudah semakin terpuruk di mata masyarakat, sementara
pembangunan Rumah Sakit sangat didorong maju oleh banyak pihak.
Akhirnya kesenjangan rujukan pelayanan kedokteran semakin melebar dan
masyarakat menjerit karena mahalnya biaya pelayanan kedokteran.
Sementara itu, sudah banyak dana yang dimanfaatkan untuk
mengembangkan puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan,
tetapi hasilnya malah kontraproduktif. Puskesmas semakin ditinggal oleh
masyarakat dan tidak menjadi pilihan utama mereka mendapatkan
pelayanan kesehatan. Masyarakat menganggap pelayanan puskesmas di
wilayahnya kurang bermutu. Kondisi ini juga terkait dengan jam kerja unit
pelayanan Puskesmas yang terbatas hanya sampai pukul 12.00, peralatan
dan jenis pelayanan puskesmas kurang memadai, dan kinerja staf yang
sangat kurang profesional. Semua kondisi tersebut sangat erat terkait
dengan rendahnya insentif yang diterima staf, lemahnya leadership dan
keterampilan manajerial pimpinan dan staf puskemas serta lemahnya
pembinaan puskesmas oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota (Muninjaya,
2006). Selain itu Kondisi ini didasari oleh persepsi awal yang negatif dari
masyarakat terhadap pelayanan puskesmas, seperti pelayanan yang
terkesan seadanya, artinya puskesmas tidak cukup memadai dalam
memberikan pelayanan kepada masyarakat, baik dilihat dari sarana dan
prasarananya maupun dari tenaga medis serta kurang ramahnya pelayanan
yang diberikan kepada masyarakat dan ditambah lagi kurang disiplinnya
petugas kesehatan puskesmas sehingga pasien masih harus menunggu
lama dalam menerima pelayanan. (Sanah, 2017)
Prinsip penyelenggaraan pelayanan kesehatan Puskesmas adalah
pemenuhan kebutuhan dan tuntutan dari para pengguna jasa pelayanan
kesehatan dimana pasien mengharapkan suatu penyelesaian dari masalah
kesehatannya. Oleh karena itu Puskesmas harus mampu memberikan

5
pelayanan medik sebagai upaya penyembuhan/ pemulihan dan tindakan
ringan yang memenuhi standar kualitas. (Gozali, 2012)
Menurut keputusan Menteri Kesehatan No. 128 Tahun 2004, salah
satu fungsi Puskesmas adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Puskesmas memerlukan suatu pedoman yang dapat dijadikan standar
dalam hal ini Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan
Kabupaten/Kota dalam upaya membantu tugas Puskesmas sebagai Unit
Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
(Bangsawan, 2017)
Prinsip Standar Pelayanan Minimal berdasarkan Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia adalah : (1) Merupakan kebutuhan dasar
bagi setiap individu secara universal, (2) Pemenuhan kebutuhan dasar
dapat dipenuhi sendiri oleh warga Negara, atau oleh pemerintah daerah, (3)
Merupakan pelayanan dasar yang menjadi kewenangan daerah provinsi
maupun Kabupaten/Kota, (4) Merupakan kewajiban bagi pemerintah daerah
provinsi maupun Kabupaten/Kota untuk menjamin setiap warga Negara
memperoleh kebutuhan dasarnya, (5) Tanggung jawab Pemda berlaku
secara Nasional. (Kemenkes RI, 2017)

B. Rumusan Masalah
1. Apa sajakah masalah-masalah kesehatan yang terdapat di
Puskesmas Lepo-Lepo berdasarkan indikator SPM?
2. Berapakah nilai dari masing-masing besar masalah berdasarkan
rumus interval?
3. Bagaimana kegawatan dari masing-masing masalah kesehatan
ditinjau dari aspek keganasan, tingkat urgensi dan biaya?
4. Seberapa besar kemudahan penanggulangan dari masing-masing
masalah kesehatan ?
5. Berapa nilai dari masing-masing masalah berdasarkan PEARL
FAKTOR?

6
6. Bagaimana cara menentukan prioritas dan seberapa besar masalah
dari masing-masing masalah kesehatan berdasrkan rumus NPD dan
NPT?
7. Apa saja penyebab masalah untuk masalah kesehatan dengan
proritas tertinggi?
8. Bagaimana cara mencari penyelesaian masalah menggunakan tabel
kumulatif dari hasil Paired Comparison?
9. Apa penyebab masalah yang perlu diselesaikan berdasarkan nilai
kumulatif?
10. Apa saja rencana kegiatan sebagai solusi dari masalah kesehatan
Puskesmas Lepo-Lepo?
11. Apa saja kriteria mutlak dari rencana kegiatan?
12. Apa saja program yang akan dilaksanakan?
13. Bagaimana Plan of Action dari rencana kegiatan yang telah disusun?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mampu membuat diagnosis masalah berdasarkan hasil
penyelidikan epidemiologis, menganalisis prioritas masalah, mengkaji
penyebab masalah, menyusun pemecahan masalah dan mampu
membuat perencanaan puskesmas (plan of action) dari masalah yang
ditemukan secara mandiri, berdasarkan standar akademik.

2. Tujuan Khusus
a. Melakukan identifikasi masalah dgn melihat indikator SPM di
puskesmas
b. Melakukan penilaian besar masalah dengan rumus interval
c. Menentukan besar masalah dari masing-masing indikator
d. Menentukan kegawatan masalah dari aspek keganasan, tingkat
urgensi dan biaya
e. Menghitung kemudahan penanggulangan
f. Menghitung PEARL FAKTOR

7
g. Menentukan prioritas masalah dengan rumus NPD & NPT
h. Mengidentifikasi penyebab masalah untukmasalah dengan prioritas
tertinggi
i. Melakukan pengkajian dimensi mutu
j. Melakukan analisis penyebab masalah
k. Melakukan paired comparison
l. Membuattabel kumulatif dari hasil paired comparison untuk
penyelesaian masalah
m. Menentukan penyebab masalah yang perlu diselesaikan berdasar
nilai kumulatif
n. Membuat rencana kegiatan
o. Menentukan kriteria mutlak dari rencana kegiatan
p. Menentukan kriteria keinginan dari rencana kegiatan
q. Menentukan program yang akan dilaksanakan
r. Membuat PLAN OF ACTION
s. Melakukan Lokakarya Mini Puskesmas (Pleno)

D. Manfaat
1. Manfaat bagi mahasiswa
a. Dapat mendiagnosis masalah berdasarkan hasil penyelidikan
epidemiologis, menganalisis prioritas masalah, dan mengkaji
penyebab masalah kesehatan
b. Dapat menyusun pemecahan masalah dan membuat perencanaan
puskesmas (plan of action) dari masalah yang ditemukan secara
mandiri, berdasarkan standar akademik

2. Manfaat bagi puskesmas


a. Puskesmas dapat lebih melengkapi lagi data terkait upaya pelayanan
kesehatan di puskesmasnya

8
b. Puskesmas dapat mempertimbangkan POA (Plan of Action) untuk
analisis masalah yang telah disusun oleh mahasiswa

3. Manfaat bagi masyarakat


a. Masyarakat mendapat perhatian tentang masalah kesehatan
komunitas oleh mahasiswa dan puskesmas
b. Masyarakat lebih mengetahui lagi tentang pentingnya peran
puskesmas dalam hal upaya pelayanan kesehatan terhadap
masyarakat

BAB II

ANALISIS SITUASI PUSKESMAS

A. Geografi
a) Wilayah kerja Puskesmas Lepo-lepo terdiri dari 4 kelurahan (Lepo-
lepo , Wundudopi , Baruga, Watubangga ) yang merupakan wilayah
Kecamatan Baruga.
b) Luas wilayah kerja : 13.130 Ha
c) Batas – batas wilayah :
 Sebelah Utara : Kecamatan Wua-wua dan Kecamatan Kadia
 Sebelah Timur : Kecamatan Poasia

9
 Sebelah Selatan : Kecamatan Konda ( Kab.Konsel )
 Sebelah Barat : Kecamatan Ranomeeto (Kab.Konsel) dan
Kecamatan Mandonga Kota Kendari.

d) Keadaan Alam : 80 % dataran dan 20 % Perbukitan.


e) Prasarana Transportasi : ± 85 % jalan aspal dan ± 15 % jalan
berbatu dan tanah.

Gambar. 1 Peta wilayah kerja Puskesmas Lepo-lepo

B. Kependudukan/Demografi
Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Lepo-lepo pada tahun
2018 sebanyak 24762 jiwa yang tersebar di 4 kelurahan (Lepo-lepo,
Wundudopi, Baruga, Watubangga).

Distribusi penduduk per kelurahan disajikan pada tabel berikut :

Tabel 1. Distribusi Penduduk Per Kelurahan Tahun 2018

No. Nama Kelurahan Jumlah KK Jumlah Jiwa

1. Lepo - Lepo 1184 5443

10
2. Wundudopi 802 4002

3. Baruga 2018 9537

4. Watubangga 1521 5780

JUMLAH 5525 24762

Berdasarkan tabel di atas,terlihat bahwa jumlah penduduk


terbanyak di Kelurahan Baruga yaitu 9537 jiwa dari 2018 KK dan yang
paling sedikit di Kelurahan Wundudopi yaitu 4002 jiwa yang terhimpun
dalam 802 KK.

C. Keadaan Sosial Ekonomi


1. Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan sumber
daya manusia. Di Wilayah Puskesmas Lepo-lepo jumlah sarana
pendidikan terbagi: Taman Kanak-kanak (TK) berjumlah 18 sekolah,
Sekolah Dasar (SD) berjumlah 12 sekolah, SLB 1 sekolah, SMP
berjumlah 7 sekolah dan SMA berjumlah 7 sekolah. Sedangkan
Perguruan Tinggi ada 3 yaitu STAIN dan UNSULTRA. Data lebih
lengkap terlihat pada tabel jumlah sarana Pendidikan di wilayah
Puskesmas Lepo-lepo tahun 2018.

2. Agama
Perkembangan pembangunan dibidang spiritual dapat dilihat dari
banyanyaknya sarana peribadatan masing-masing agama. Menurut
data statistic tahun 2018 Penduduk Kecamatan Baruga sebagian besar
menganut agama Islam. Jumlah sarana ibadah dapat dilihat pada table
berikut :
Tabel.2 Sarana Tempat Ibadah di Wilayah Puskesmas Lepo-lepo
Tahun 2018

11
Jenis Sarana
No Kelurahan Masjid Gereja
1. Lepo-lepo 8 1
2. Wundudopi 9 1
3. Baruga 14 2
4. Watubangga 10 0
Jumlah 41 4

D. Keadaan Lingkungan

D.1. Rumah Sehat


Rumah sehat adalah bangunan tempat berlindung dan
beristirahat serta sebagai sarana pembinaan keluarga yang
menumbuhkan kehidupan sehat secara fisik, mental dan social
sehingga seluruh anggota keluarga dapat bekerja secara produktif.
Syarat-syarat rumah sehat antara lain : memiliki sarana air bersih,
memiliki jamban yang sehat, memiki tempat pembuangan sampah
yang tertutup, ada sarana pembuangan air limbah yang sehat,
ventilasi dan jendela yang cukup, atap lantai dan dinding kedap air
serta kepadatan hunian rumah sesuai dengan luas rumah.
Dari data yang terkumpul menunjukkan bahwa jumlah rumah
yang diperiksa sebanyak 5140 dan rumah yang sehat sebanyak 4861
( 94,5% ). Dari data tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar
rumah yang ada di wilayah Puskesmas Lepo-lepo kondisinya sudah
cukup memenuhi syarat-syarat kesehatan/mempunyai fasilitas sanitasi
kesehatan sesuai criteria rumah sehat.

D.2. Akses Terhadap Air Bersih


Air merupakan sumber dari kehidupan manusia. Kebutuhan
manusia akan air sangatlah komplek antara lain untuk minum, masak,
mandi, mencuci dan lain sebagainya. Air yang tidak sehat dapat
menjadi perantara penyakit, oleh karena itu air harus memenuhi

12
syarat-syarat kesehatan agar tidak mengganggu kesehatan manusia
antara lain tidak berbau, tidak berasa dan tidak berwarna, selain itu air
juga tidak terkontaminasi oleh bakteri pathogen serta tidak
mengandung zat-zat kimia yang berbahaya dalam jumlah yang
melebihi ambang batas yang ditentukan.
Untuk memenuhi kebutuhan akan air bersih, masyarakat di
wilayah Puskesmas Lepo-lepo mengakses air dari berbagai sumber
yaitu penduduk yang menggunakan sumur gali dengan pompa
sebanyak 1566 jiwa, sumur bor sebanyak 1477 jiwa dan yang
menggunakan depot air minum sebanyak 20168 jiwa.
Berdasarkan data tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar
masyarakat untuk memenuhi kebutuhan akan air terutama air minum
yaitu menggunakan depot air minum. Banyaknya masyarakat
memakai depot air minum dikarenakan lebih praktis, tidak repot serta
harganya terjangkau. Banyaknya masyarakat yang menggunakan
depot air minum maka perlu dilakukan pemeriksaan kualitas air
maupun kondisi sanitasi depot tersebut agar tidak merugikan dan
membahayakan pengguna depot. Depot air minum yang kotor dan
terkontaminasi kuman dapat menjadi sumber penularan penyakit bagi
pengguna depot serta dapat menular ke masyarakat terutama
penyakit yang mudah menular seperti Diare. Penggunaan sumur bor
di masyarakat juga cukup tinggi, akan tetapi rata-rata air sumur bor
mengandung kapur yang tinggi, oleh karena itu dalam mengkonsumsi
air untuk minum atau untuk memasak yang lain sebaiknya memakai
air yang telah direbus dahulu untuk mengurangi kandungan kapur
yang terdapat dalam air tersebut.

D.3. Ketersediaan Jamban


Jamban keluarga adalah suatu bangunan yang digunakan untuk
membuang kotoran/tinja manusia. Jamban keluarga yang sehat harus
memenuhi syarat antara lain : tidak mencemari sumber air minum,
tertutup(leher angsa ) tidak berbau, mudah dibersihkan, aman

13
digunakan, ada pelindung yang kedap air, penerangan dan ventilasi
cukup, bebas serangga dan tikus serta tersedia air bersih.
Pada tahun 2018 jumlah KK yang mempunyai jamban yang
sehat di wilayah kerja Puskesmas Lepo-lepo sebanyak 5429 (98,2%).
Ada beberapa KK yang belum mempunyai jamban sehat hal ini
disebabkan karena mereka menganggap jamban belum merupakan
suatu kebutuhan, selain itu juga masih luas pekarangan rumah dan
kebun mereka sehingga mereka memanfaatkan kebun untuk
membuang kotoran (buang air besar).
A. Keadaan Perilaku Masyarakat
1. Jaminan Kesehatan Pra Bayar
Dalam upaya meningkatkan peran serta masyarakat dalam
pembiayaan kesehatan sudah sejak lama dikembangkan berbagai cara
untuk memberikan jaminan kesehatan bagi masyarakat. Saat ini
berkembang berbagai cara pembiayaan kesehatan antara lain
Jamkesda, Kartu Indonesia Sehat, BPJS Ketenagakerjaan yang
merupakan transformasi dari program Jamsostek serta BPJS Kesehatan
yang merupakan peleburan dari Askes dan Jamkesmas. Untuk
masyarakat wilayah kota Kendari diberi pelayanan gratis untuk berobat
di rawat jalan dengan menunjukkan kartu identitas diri (KTP/SIM).
Pada tahun 2018 jumlah peserta BPJS ( mandiri, PNS,
ketenagakerjaan, Jamkesda, KIS ) adalah sebanyak 22929 peserta.
Jumlah besaran kapitasi adalah Rp. 6000,- per kepala. Jumlah peserta
BPJS tersebut bukan hanya berasal dari wilayah Puskesmas Lepo-lepo
saja tapi juga berasal dari wilayah Pusksmas lain tetapi mereka lebih
memilih Puskesmas Lepo-lepo karena alasan lebih mudah dijangkau dan
dekat dengan jalan raya.

2. PHBS Rumah Tangga


Faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan ada 4 faktor
yaitu: Perilaku, Pelayanan Kesehatan, Lingkungan dan Genetik. Dari 4
faktor tersebut factor perilaku merupakan factor yang besar pengaruhnya

14
terhadap masalah kesehatan oleh karena itu diharapkan masyarakat
mampu menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dalam kehidupan
sehari-hari.
Pada tahun 2018 dilaksanakan pendataan PHBS di wilayah kerja
Puskesmas Lepo-lepo. Jumlah rumah tangga yang dilakukan survey
PHBS sebanyak 3561 Keluarga. Dari jumlah tersebut yang yang ber
PHBS sebanyak 2570 Keluarga. Ada 10 indikator dalam PHBS Rumah
Tangga yang bila dipenuhi akan mendapat kriteria sehat, namun
mayoritas Rumah Tangga hanya memenuhi beberapa indicator hal ini
disebabkan karena tingkat pengetahuan, kesadaran dan kepedulian
masyarakat terhadap kesehatan masih kurang, antara lain masih ada
yang menganggap jamban bukan merupakan kebutuhan yang penting
sehingga mereka membuang kotorannya disembarang tempat seperti di
kali atau di kebun sehingga dapat menularkan penyakit seperti Diare,
Kecacingan dan lain-lain. Kebiasaan merokok merupakan kebiasaan
buruk yang sulit untuk dihilangkan, dan sebagian rumah yang dilakukan
PHBS ada penghuni rumah yang mempunyai kebiasaan merokok di
dalam rumah. Di dalam rokok terkandung berbagai macam zat kimia
berbahaya yang tidak hanya membahayakan perokok sendiri tapi juga
orang lain yang menghisap asap rokok tersebut oleh karena itu apabila
perokok belum bisa menghentikan kebiasaan merokoknya disarankan
agar tidak merokok di dalam rumah agar asap rokok tidak terhisap
penghuni rumah yang lain. Masih banyak kebiasaan yang dianggap
sepele namun mereka kurang menyadari bahwa kebiasaan tersebut
dapat menyebabkan sakit seperti tidak mencuci tangan sebelum makan.

E. Sarana Kesehatan
1. Puskesmas dan Jaringannya
Sarana Kesehatan (Pembinaan UKBM) yang ada di wilayah
Kecamatan Baruga meliputi :

a. Sarana Kesehatan Pemerintah :

15
a.1. Puskesmas

Puskesmas Lepo-lepo merupakan Puskesmas induk


yang membawahi 2 Puskesmas Pembantu yaitu Pustu Nanga-
nanga dan Pustu Allo Jaya serta mempunyai wilayah yang
cukup luas sehingga memerlukan sarana transportasi baik
kendaraan roda 2 maupun roda 4 untuk kegiatan luar gedung
maupun merujuk pasien. Sarana transportasi (kendaraan
dinas) yang digunakan di Puskesmas lepo-lepo adalah
kendaraan roda 4 berjumlah 3 unit dan kendaraan roda 2
berjumlah 13 unit.
Sumber pembiayaan pendapatan (PAD) puskesmas
lepo-lepo Tahun 2018 berasal dari retribusi pelayanan
kesehatan pada Puskesmas Lepo-Lepo.

Tabel 4 Retribusi Pelayanan Kesehatan pada Puskesmas Lepo-Lepo


tahun 2018

Uraian Juml.Anggara
Jumlah n Juml.Anggara %
No Retribusi Anggar n yg telah penca
Pelayanan an (Rp) Yg diterima disetor (Rp) paian
Kesehatan (Rp)

1. Administrasi
0 991.500,- 991.500,- 0
karcis

2 Tindakan 0
0 - -
Operasi

16
3 Rawat jalan jasa 0
0 1.983.000,- 1.983.000,-
sarana

4 Rawat inap 0
0 52.090.000,- 52.090.000,-
umum

5 Obat-obatan 0 - - 0

6 Laboratorium 0 6.390.000,- 6.390.000,- 0

7 Ambulance 0 3.185.000,- 3.185.000,- 0

8 Tindakan medis 0 3.966.000,- 3.966.000,- 0

9 P3K / UGD 0 13.802.500,- 13.802.500,- 0

10 Poli Gigi 0 1.855.000,- 1.855.000,- 0

11 Pelayanan Haji 0 - - 0

12 Visum 0 825.000,- 825.000,- 0

13 SKBS 0 4.425.000,- 4.425.000,- 0

14 Jamkesmas 0 - - 0

15 Jampersal 0 74.250.000,- 50.030.000,- 0

16 BOK 0 484.820.000,- 484.820.000,- 0

17 Rawat Inap 0 28.640.000,- 28.640.000,- 0

18 IOM (Imigran) 0 - - 0

19 BPJS Rawat 1.458.762.000, 1.458.762.000,


0 0
jalan - -

20 BPJS Rawat inap


0 91.280.000,- 91.280.000,- 0
Perawatan

17
21 BPJS Rawat Inap
0 23.100.000,- 23.100.000,- 0
K. Bersalin

22 BPJS Rujukan 0 2.405.000,- 2.405.000,- 0

23 Loundri 755.000,- 755.000,- 0

2.253.525.000, 2.229.305.000,
Jumlah
- -

Sumber : Lap. Bag. Keuangan

Berdasarkan tabel tersebut, terlihat bahwa Retribusi


Puskesmas terbanyak bersumber dari Dana Kapitasi BPJS
Rawat Jalan yang berjumlah Rp, 1.458.762.000,- dari
seluruh PAD.

a.2. Rumah Sakit

Rumah Sakit yang ada di wilayah Kecamatan Baruga


adalah Rumah Sakit Propinsi Kendari yang merupakan
rumah sakit negeri kelas B. Rumah Sakit ini mampu
memberikan pelayanan kedokteran spesialis dan
subspesialis terbatas. Rumah sakit ini juga menampung
pelayanan rujukan dari Rumah Sakit Kota/Kabupaten.
Rumah Sakit Propinsi terletak di Kelurahan Watubangga
Kecamatan Baruga.

b. Sarana Kesehatan Swasta

18
- Rumah Sakit Umum dan Klinik : ada 4 yaitu Rumah Sakit Hati
Mulia yang terletak di Kelurahan Wundudopi, Rumah Sakit
Dewi Sartika yang terletak di Kelurahan Watubangga, Rumah
Sakit Aliyah 3 di Baruga dan Klinik Nur di Kelurahan
Wundudopi

- Rumah Bersalin : 2 Unit, yang berlokasi di Kelurahan Lepo-


lepo dan Kelurahan Baruga.

- Praktek dokter perorangan : 5

2. Sarana Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat


a. Posyandu
Dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan
kepada masyarakat berbagai upaya dilakukan dengan
memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada di
masyarakat. Posyandu merupakan UKBM

yang paling dikenal oleh masyarakat. Posyandu


menyelenggarakan minimal 5 program prioritas yang dikenal
dengan istilah sistem 5 meja.

Posyandu dikelompokkan menjadi 4 strata yaitu Pratama,


Madya, Purnama dan Mandiri.

Jumlah Posyandu yang ada di wilayah Puskesmas Lepo-


lepo adalah sebanyak 18 Posyandu Balita, dan 7 Posbindu. Dari
18 Posyandu tersebut yang masuk dalam kriteria madya
berjumlah 2 Posyandu, Purnama 7 Posyandu dan Mandiri
sebanyak 9 Posyandu. Berdasarkan data tersebut dapat
diketahui bahwa hampir semua Posyandu di wilayah Puskesmas
Lepo-lepo sudah masuk strata yang diharapkan yaitu Purnama
dan Mandiri ( 16 Posyandu ). Strata tersebut harus
dipertahankan dan ditingkatkan agar tidak turun statusnya
dengan cara meningkatkan jumlah kunjungan Balita di Posyandu

19
serta mempertahankan dan meningkatkan jumlah kader yang
aktif di Posyandu.

b. Polindes
Jumlah Polindes yang ada di wilayah Puskesmas Lepo-lepo
adalah 2 buah yaitu di Kelurahan Baruga 1 sarana dan di
Kelurahan Watubangga 1 sarana akan tetapi sarana tersebut
kurang berfungsi
karena masyarakat lebih cenderung untuk datang di Puskesmas
daripada di Polindes karena mereka merasa pelayanan di
Puskesmas lebih lengkap serta jarak ke Puskesmas juga tidak
terlalu jauh.
c. Desa Siaga
Desa siaga merupakan suatu konsep peran serta dan
pemberdayaan masyarakat di tingkat Desa/Kelurahan, disertai
dengan pengembangan kesiagaan dan kesiapan masyarakat
untuk memelihara kesehatannya secara mandiri. Tujuan desa
siaga adalah terujudnya masyarakat kelurahan yang sehat, peduli
dan tanggap terhadap terhadap permasalahan kesehatan di
wilayahnya.
Semua Kelurahan di wilayah Puskesmas Lepo-lepo ( 4
Kelurahan ) sudah masuk Kelurahan siaga. Di setiap Kelurahan
masing-masing ada 2 bidan kelurahan yang siap membantu
masyarakat terutama ibu hamil dan melahirkan serta pelayanan
KB. Disamping itu ada juga kader kesehatan yang membantu
Bidan Desa/Kelurahan untuk mendorong peran serta masyarakat
dalam program kesehatan seperti pendataan dan posyandu.

F. Sumber Daya Manusia Kesehatan


a. Tenaga Kesehatan Puskesmas lepo-lepo Tahun 2018
Untuk upaya peningkatan mutu dan jangkauan pelayanan
kesehatan, maka tenaga kesehatan yang ada harus memadai
jumlahnya. Jumlah tenaga kesehatan yang bertugas di Puskesmas

20
Lepo-lepo pada tahun 2018 sebanyak 89 orang dengan uraian
sebagai berikut :
Tabel.5 Jumlah Tenaga Kesehatan di Puskesmas Lepo-lepo Tahun
2018
Status
No Jenis Tenaga PNS Kontrak Sukarel Jumlah
a
1. Dokter Umum 4 - - 4
2. Dokter Gigi 2 - 1 3
3. Perawat 32 3 21 56
4. Perawat Gigi 3 - 2 5
5. Bidan 17 1 13 31
6. Apoteker 1 - - 1
7. Farmasi 2 - 1 3
8. Kesehatan Lingkungan 4 - 1 5
9. Gizi 4 1 2 7
10. Epidemiologi 7 - 2 9
11. Administrasi Kesehatan 6 - 3 9
12. JFU 6 - - 6
13. Analis Kesehatan 1 - 2 3
14. Petugas Umum - 5 1 6

Jumlah 89 10 49 148

Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa pegawai yang berstatus


sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) sebanyak 89 orang, tenaga kontrak
sebanyak 10 orang, dan tenaga sukarela sebanyak 49 orang. Menurut jumlah
kebutuhan dokter umum yang ada per jumlah penduduk (24762) maka
kebutuhan dokter umum seharusnya berjumlah 4, dan yang ada sebanyak 4
dokter umum berarti jumlah dokter umum untuk Puskesmas Lepo-lepo sudah
cukup. Sedangkan untuk tenaga paramedic sudah cukup banyak bahkan
cenderung sudah lebih dari jumlah yang dibutuhkan.

21
BAB III
IDENTIFIKASI UPAYA PELAYANAN

A. Analisis Masalah
Analisis masalah di Puskesmas Lepo-Lepo pada bulanJanuari –
Oktober tahun 2017 terdiri dari 46 indikator dengan terbagi atas 5 upaya
kesehatan wajib, yaitu Program Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga
Berencana (KIA/KB),Promosi Kesehatan (Promkes),Kesehatan Lingkungan
(Kesling), Gizi, dan Pemberantasan Penyakit Menular (P2M). Adapun yang
akan dianalisis pada laporan ini adalah masalah upaya Program Wajib di
Puskesmas Lepo-Lepo. Upaya Wajib Puskesmas Lepo-Lepo memiliki 5
indikator yaitu Program Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana
(KIA/KB),Promosi Kesehatan (Promkes),Kesehatan Lingkungan (Kesling),
Gizi, dan Pemberantasan Penyakit Menular (P2M).

22
Tabel 4. Analisis masalah Upaya Kesehatan Wajib Puskesmas Lepo-Lepo
bulan Januari- Oktober 2017
NO INDIKATOR SASARAN CAKUPAN SELISIH
MASALAH % % %
1 Keluarga dengan 75 95 20
jamban sehat
2 Keluarga dengan 85 86 1
tempat sampah
sehat
3 Keluarga yang 85 86 1
memiliki SPAL
4 Rumah bebas 96 96 0
jentik
5 Keluarga degan 66 96 30
sumber air
terlindung
6 Rumah sehat 84 84 0
7 Sarana TTU 86 87 1
yang memenuhi
syarata
kesehatan
8 Sarana tempat 76 44 32
pengelolaan
makanan yang
memenuhi syarat
kesehatan
9 Posyandu 81 50 31
purnama
10 Posyandu 81 11 70
mandiri
11 Cakupn desa 81 100 19
siaga aktif

23
12 Cakupan 91 60 3
sekolah ber
PHBS
13 Rapat lintas 100 100 0
sektor
Cakupan rumah
14 81 60 21
tangga sehat
Upaya
15 82 0 82
penyuluhan ptm
16 Upaya 82 68 14
penyuluhan
NAPZA DAN HIV
17 Cakupan balita 100 100 0
gizi buruk
mendapat
perawatan
18 Cakupan bayi 87 94 7
mendapat kapsul
vit a
19 Cakupan balita 87 92 5
mendapat kapsul
vit a
20 Cakupan ibu 92 89 3
nifas mendapat
kapsul vit a
21 Cakupan ibu 96 95 1
hamil mendapat
tablet fe 90
22 Balita yang 86 81 5
dating ditimbang
(D\S)
23 Balita yang naik 82 71 11

24
berat badannya
(N\D)
24 Rumah tangga 92 100 8
menggunakan
garam yodium
25 Bayi mendapat 47 76 29
asi ekslusif
26 Cakupan DDTK 82 70 12
anak sekolah
27 Cakupan 100 100 0
Kelurahan UCI
28 Cakupan 100 100 0
Pemberian
UNIJEK
29 Cakupan BIAS 100 100 0
30 Cakupan 100 100 0
Campak Balita
31 Kasus AFP 100 0 100
ditangani
32 KesembuhanPen 100 98 2
derita TB BTA
Positif
33 Penanganan 100 0 100
Kasus Rabies
34 Kasus IMS 100 100 0
Diobati
35 Penderita DBD 100 100 0
Ditangani
36 Penderita Diare 100 100 0
Ditangani
37 Penderita 100 100 0
Peneumonia

25
Balita Diobati
38 Kasus HIV AIDS 100 100 0
Ditangai
39 Penderita Kusta 100 0 100
Selesai (RFT)
RAT
40 Penderita 100 0 100
Malaria Terobati
41 Kasus Filariasis 100 0 100
Tertangani
42 Cakupan 100 - -
Kelurahan yang
Mengalami KLB
yang dilakukan
PE <24 Jam
43 Cakupan 100 100 0
Pelayanan PTM
44 Cakupann - - -
Penjarian
Kesehatan
Siswa Kelas 1
SD/MI
45 Cakupann 100 100 0
Penjarian
Kesehatan
Siswa Kelas 1
SMP/MTS
46 Cakupann 96 97 1
Penjarian
Kesehatan
Siswa Kelas 1
SMA/MA/SMK

26
47 Cakupan 92 91 1
Kunjungan Ibu
Hamil K1
48 Cakupan 100 100 0
Kunjungan Ibu
Hamil K4
49 Cakupan 83 90 7
Pertolongan
Persalinan oleh
Tenaga
Kesehatan yang
Punya
Kompetensi
Kebidanan
50 Ibu Hamil Resiko 83 90 7
Tinggi dan
Komplikasi yang
Di tangani
51 Cakupan 93 99 6
Kunjungan
Neonatus
52 Cakupan 82 58 24
Kunjungan Bayi
53 Cakupan DDTK 78 77 1
Balita dan
Prasekolah
54 Neonatal 82 58 24
Rest/Komplikasi
yang di tangani
55 Cakupan 78 77 1
Peserta KB Aktif

27
Sumber : Data primer puskesmas Lepo-Lepobulan Januari – Desember
2017

B. Prioritas Masalah
Dalam penentuan prioritas masalah kita harus melalui beberapa
tahap yaitu menilai besar masalah, kegawatan masalah, kemudahan
penanggulangan dan PEARL faktor. Dalam Analisa Penyebab Masalah
dilakukan analisis secara individu oleh seorang dokter muda.
1. Besar Masalah (Kriteria A)
Penilaian besar masalah dengan menggunakan interval
menggunakan rumus sebagai berikut:
a. Kelas N = 1 + 3,3 log n
= 1 + 3,3 log 55
= 1 + 3,3 (1,74)
= 1 + 4,74
= 6,74
=7
b. Interval = ( nilai tertinggi – nilai terendah )
Jumlah kelas
= (31,12 - 0) / 7
= 31,12 / 7
= 4,44

Tabel 5. Kriteria A (Besar Masalah)

Besar masalah terhadap pencapaian program


Interval
Indikator 0- 14,3 28,59 42,88 57,17 71,4 85,7
NO Nilai
Program 14,29 0- - - - 6- 5-
28,5 42,87 57,16 71,45 85,7 100
8 4

28
Nilai
1.42 2.84 4.26 5.68 7.1 8.52 10
1 Keluarga dengan X 1.42
jamban sehat
2 Keluarga dengan X 1.42
tempat sampah
sehat
3 Keluarga yang X 1.42
memiliki SPAL
4 Rumah bebas X 1.42
jentik
5 Keluarga degan X 4,26
sumber air
terlindung
6 Rumah sehat X 1.42
7 Sarana TTU yang X 1.42
memenuhi syarata
kesehatan
8 Sarana tempat X 1.42
pengelolaan
makanan yang
memenuhi syarat
kesehatan
9 Posyandu purnama X 1.42
10 Posyandu mandiri X 1.42
11 Cakupn desa siaga X 1.42
aktif
12 Cakupan sekolah X 1.42
ber PHBS
13 Rapat lintas sektor X 1.42

14 Cakupan rumah X 1.42

29
tangga sehat
Upaya penyuluhan
15 X 1.42
ptm
16 Upaya penyuluhan X 1.42
NAPZA DAN HIV
17 Cakupan balita gizi X 1.42
buruk mendapat
perawatan
18 Cakupan bayi X 1,42
mendapat kapsul
vit a
19 Cakupan balita X 4,26
mendapat kapsul
vit a
20 Cakupan ibu nifas X 1,42
mendapat kapsul
vit a
21 Cakupan ibu hamil X 1.42
mendapat tablet fe
90
22 Balita yang dating X 2,84
ditimbang (D\S)
23 Balita yang naik X 2,84
berat badannya
(N\D)
24 Rumah tangga X 4,26
menggunakan
garam yodium
25 Bayi mendapat asi X 1.42
ekslusif
26 Cakupan DDTK X 1.42
anak sekolah

30
27 Cakupan X 10
Kelurahan UCI
28 Cakupan X 10
Pemberian UNIJEK
29 Cakupan BIAS X 10
30 Cakupan Campak X 10
Balita
31 Kasus AFP X 1.42
ditangani
32 KesembuhanPend X 10
erita TB BTA Positif
33 Penanganan Kasus X 1.42
Rabies
34 Kasus IMS Diobati X 1.42

35 Penderita DBD X 1.42


Ditangani
36 Penderita Diare X 1.42
Ditangani
37 Penderita X 1.42
Peneumonia Balita
Diobati
38 Kasus HIV AIDS X 1.42
Ditangai
39 Penderita Kusta X 1.42
Selesai (RFT) RAT
40 Penderita Malaria X 1.42
Terobati
41 Kasus Filariasis X 1.42
Tertangani
42 Cakupan X 1.42

31
Kelurahan yang
Mengalami KLB
yang dilakukan PE
<24 Jam
43 Cakupan X 1.42
Pelayanan PTM
44 Cakupann X 7,1
Penjarian
Kesehatan Siswa
Kelas 1 SD/MI
45 Cakupann X 5,68
Penjarian
Kesehatan Siswa
Kelas 1 SMP/MTS
46 Cakupann X 5,68
Penjarian
Kesehatan Siswa
Kelas 1
SMA/MA/SMK
47 Cakupan X 5,68
Kunjungan Ibu
Hamil K1
48 Cakupan X 5,68
Kunjungan Ibu
Hamil K4
49 Cakupan X 5,68
Pertolongan
Persalinan oleh
Tenaga Kesehatan
yang Punya
Kompetensi
Kebidanan

32
50 Ibu Hamil Resiko X
Tinggi dan
Komplikasi yang Di
tangani
51 Cakupan X
Kunjungan
Neonatus
52 Cakupan X
Kunjungan Bayi
53 Cakupan DDTK
Balita dan
Prasekolah X
54 Neonatal X
Rest/Komplikasi
yang di tangani
55 Cakupan Peserta X
KB Aktif

2. Kegawatan Masalah (Kriteria B)

Keganasan Biaya Urgensi


Sangat ganas 5 Sangat murah 5 Sangat mendesak 5
Ganas 4 Murah 4 Mendesak 4
Cukup berpengaruh 3 Cukup murah 3 Cukup mendesak 3
Kurang ganas 2 Mahal 2 Kurang mendesak 2
Tidak ganas 1 Sangat mahal 1 Kurang mendesak 1

Tabel 6. Kriteria B (Kegawatan Masalah)


RUMUS B

1 Keluarga dengan 3 3 2 8

33
jamban sehat
2 Keluarga dengan 2 3 2 7
tempat sampah
sehat
3 Keluarga yang 3 2 3 8
memiliki SPAL
4 Rumah bebas 4 3 3 10
jentik
5 Keluarga degan 2 2 3 7
sumber air
terlindung
6 Rumah sehat 2 2 2 6
7 Sarana TTU yang 3 2 4 9
memenuhi syarata
kesehatan
8 Sarana tempat 3 3 3 9
pengelolaan
makanan yang
memenuhi syarat
kesehatan
9 Posyandu purnama 1 4 1 6
10 Posyandu mandiri 1 4 1 6
11 Cakupn desa siaga 2 3 4 9
aktif
12 Cakupan sekolah 1 4 2 7
ber PHBS
13 Rapat lintas sektor 4 2 2 8
Cakupan rumah
14 1 1 2 4
tangga sehat
Upaya penyuluhan
15 2 4 2 8
ptm

34
16 Upaya penyuluhan 5 2 4 11
NAPZA DAN HIV
17 Cakupan balita gizi 2 1 2 5
buruk mendapat
perawatan
18 Cakupan bayi 2 4 3 9
mendapat kapsul
vit a
19 Cakupan balita 4 2 1 7
mendapat kapsul
vit a
20 Cakupan ibu nifas 3 2 1 6
mendapat kapsul
vit a
21 Cakupan ibu hamil 3 4 2 9
mendapat tablet fe
90
22 Balita yang dating 2 1 4 7
ditimbang (D\S)
23 Balita yang naik 2 4 2 8
berat badannya
(N\D)
24 Rumah tangga 4 2 1 7
menggunakan
garam yodium
25 Bayi mendapat asi 2 3 3 8
ekslusif
26 Cakupan DDTK 1 4 2 7
anak sekolah
27 Cakupan 3 1 3 7
Kelurahan UCI
28 Cakupan 2 2 2 6

35
Pemberian UNIJEK
29 Cakupan BIAS 2 3 2 7
30 Cakupan Campak 3 2 3 8
Balita
31 Kasus AFP 3 2 4 9
ditangani
32 KesembuhanPend 2 3 1 6
erita TB BTA Positif
33 Penanganan Kasus 2 4 3 9
Rabies
34 Kasus IMS Diobati 3 2 4 9
35 Penderita DBD 2 1 1 4
Ditangani
36 Penderita Diare 2 2 2 6
Ditangani
37 Penderita 4 3 3 10
Peneumonia Balita
Diobati
38 Kasus HIV AIDS 3 2 1 6
Ditangai
39 Penderita Kusta 2 3 2 7
Selesai (RFT) RAT
40 Penderita Malaria 2 1 1 4
Terobati
41 Kasus Filariasis 3 2 2 7
Tertangani
42 Cakupan 2 1 4 7
Kelurahan yang
Mengalami KLB
yang dilakukan PE
<24 Jam

36
43 Cakupan 2 2 4 8
Pelayanan PTM
44 Cakupann 3 2 2 7
Penjarian
Kesehatan Siswa
Kelas 1 SD/MI
45 Cakupann 3 2 4 9
Penjarian
Kesehatan Siswa
Kelas 1 SMP/MTS
46 Cakupann 2 1 2 5
Penjarian
Kesehatan Siswa
Kelas 1
SMA/MA/SMK
47 Cakupan 2 1 4 7
Kunjungan Ibu
Hamil K1
48 Cakupan 2 2 1 5
Kunjungan Ibu
Hamil K4
49 Cakupan 4 3 1 8
Pertolongan
Persalinan oleh
Tenaga Kesehatan
yang Punya
Kompetensi
Kebidanan
50 Ibu Hamil Resiko 2 1 3 6
Tinggi dan
Komplikasi yang Di
tangani

37
51 Cakupan 4 3 2 9
Kunjungan
Neonatus
52 Cakupan 2 1 1 4
Kunjungan Bayi
53 Cakupan DDTK 2 2 6
Balita dan 2
Prasekolah
54 Neonatal 3 2 5 10
Rest/Komplikasi
yang di tangani
55 Cakupan Peserta 3 2 1 6
KB Aktif

3. Penilaian Kemudahan Penanggulangan (Kriteria C)


Sangat mudah :5 Sulit :2
Mudah :4 Sangat sulit :1
Netral :3
Tabel 7. Kriteria C (Kemudahan Penanggulangan)

1 Keluarga dengan 3
jamban sehat
2 Keluarga dengan 2
tempat sampah
sehat
3 Keluarga yang 3
memiliki SPAL

38
4 Rumah bebas 4
jentik
5 Keluarga degan 2
sumber air
terlindung
6 Rumah sehat 2
7 Sarana TTU yang 3
memenuhi syarata
kesehatan
8 Sarana tempat 4
pengelolaan
makanan yang
memenuhi syarat
kesehatan
9 Posyandu purnama 3
10 Posyandu mandiri 2
11 Cakupn desa siaga 3
aktif
12 Cakupan sekolah 3
ber PHBS
13 Rapat lintas sektor 2
Cakupan rumah
14 2
tangga sehat
Upaya penyuluhan
15 3
ptm
16 Upaya penyuluhan 4
NAPZA DAN HIV
17 Cakupan balita gizi 4
buruk mendapat
perawatan
18 Cakupan bayi 3

39
mendapat kapsul
vit a
19 Cakupan balita 2
mendapat kapsul
vit a
20 Cakupan ibu nifas 2
mendapat kapsul
vit a
21 Cakupan ibu hamil 3
mendapat tablet fe
90
22 Balita yang dating 2
ditimbang (D\S)
23 Balita yang naik 4
berat badannya
(N\D)
24 Rumah tangga 3
menggunakan
garam yodium
25 Bayi mendapat asi
ekslusif
26 Cakupan DDTK 2
anak sekolah
27 Cakupan 4
Kelurahan UCI
28 Cakupan 3
Pemberian UNIJEK
29 Cakupan BIAS 3
30 Cakupan Campak 4
Balita
31 Kasus AFP 3
ditangani

40
32 KesembuhanPend 2
erita TB BTA Positif
33 Penanganan Kasus 3
Rabies
34 Kasus IMS Diobati 3
35 Penderita DBD 2
Ditangani
36 Penderita Diare 2
Ditangani
37 Penderita 3
Peneumonia Balita
Diobati
38 Kasus HIV AIDS 5
Ditangai
39 Penderita Kusta 3
Selesai (RFT) RAT
40 Penderita Malaria 4
Terobati
41 Kasus Filariasis 3
Tertangani
42 Cakupan 3
Kelurahan yang
Mengalami KLB
yang dilakukan PE
<24 Jam
43 Cakupan 2
Pelayanan PTM
44 Cakupann 2
Penjarian
Kesehatan Siswa
Kelas 1 SD/MI
45 Cakupann 1

41
Penjarian
Kesehatan Siswa
Kelas 1 SMP/MTS
46 Cakupann 2
Penjarian
Kesehatan Siswa
Kelas 1
SMA/MA/SMK
47 Cakupan 4
Kunjungan Ibu
Hamil K1
48 Cakupan 3
Kunjungan Ibu
Hamil K4
49 Cakupan 4
Pertolongan
Persalinan oleh
Tenaga Kesehatan
yang Punya
Kompetensi
Kebidanan
50 Ibu Hamil Resiko 2
Tinggi dan
Komplikasi yang Di
tangani
51 Cakupan 4
Kunjungan
Neonatus
52 Cakupan 4
Kunjungan Bayi
53 Cakupan DDTK 2
Balita dan

42
Prasekolah 3
54 Neonatal 4
Rest/Komplikasi
yang di tangani
55 Cakupan Peserta 3
KB Aktif

4. Penilaian PEARL FAKTOR (Kriteria D)


Kriteria D (PEARL Faktor)
Terdiri dari beberapa faktor yang saling menentukan yaitu :
a. Propriety : Kesesuaian dengan program daerah/ nasional/
dunia
b. Economy : Memenuhi syarat ekonomi untuk melaksanakannya
c. Acceptability : Dapat diterima oleh petugas, masyarakat, dan
lembaga terkait
d. Resources : Tersedianya sumber daya
e. Legality : Tidak melanggar hukum dan etika
Skor yang digunakan yaitu:
Setuju :1
Tidak Setuju : 0

43
Tabel 8. Faktor PEARL

1 Keluarga dengan 1 1 1 1
jamban sehat
2 Keluarga dengan 1 1 1 1
tempat sampah
sehat
3 Keluarga yang 1 1 1 1
memiliki SPAL
4 Rumah bebas 1 1 1 1
jentik
5 Keluarga degan 1 1 1 1
sumber air
terlindung
6 Rumah sehat 1 1 1
7 Sarana TTU yang
memenuhi syarata
kesehatan
8 Sarana tempat X
pengelolaan
makanan yang
memenuhi syarat
kesehatan
9 Posyandu purnama X
10 Posyandu mandiri
11 Cakupn desa siaga x
aktif
12 Cakupan sekolah X
ber PHBS
13 Rapat lintas sektor x

14 Cakupan rumah X

44
tangga sehat
Upaya penyuluhan
15
ptm
16 Upaya penyuluhan x
NAPZA DAN HIV
17 Cakupan balita gizi x
buruk mendapat
perawatan
18 Cakupan bayi x
mendapat kapsul
vit a
19 Cakupan balita x
mendapat kapsul
vit a
20 Cakupan ibu nifas X
mendapat kapsul
vit a
21 Cakupan ibu hamil X
mendapat tablet fe
90
22 Balita yang dating X
ditimbang (D\S)
23 Balita yang naik x
berat badannya
(N\D)
24 Rumah tangga x
menggunakan
garam yodium
25 Bayi mendapat asi x
ekslusif
26 Cakupan DDTK X
anak sekolah

45
27 Cakupan x
Kelurahan UCI
28 Cakupan x
Pemberian UNIJEK
29 Cakupan BIAS x
30 Cakupan Campak x
Balita
31 Kasus AFP
ditangani
32 KesembuhanPend x
erita TB BTA Positif
33 Penanganan Kasus
Rabies
34 Kasus IMS Diobati X
35 Penderita DBD X
Ditangani
36 Penderita Diare
Ditangani
37 Penderita
Peneumonia Balita
Diobati
38 Kasus HIV AIDS X
Ditangai
39 Penderita Kusta
Selesai (RFT) RAT
40 Penderita Malaria
Terobati
41 Kasus Filariasis
Tertangani
42 Cakupan
Kelurahan yang
Mengalami KLB

46
yang dilakukan PE
<24 Jam
43 Cakupan X
Pelayanan PTM
44 Cakupann X
Penjarian
Kesehatan Siswa
Kelas 1 SD/MI
45 Cakupann X
Penjarian
Kesehatan Siswa
Kelas 1 SMP/MTS
46 Cakupann X
Penjarian
Kesehatan Siswa
Kelas 1
SMA/MA/SMK
47 Cakupan X
Kunjungan Ibu
Hamil K1
48 Cakupan X
Kunjungan Ibu
Hamil K4
49 Cakupan X
Pertolongan
Persalinan oleh
Tenaga Kesehatan
yang Punya
Kompetensi
Kebidanan
50 Ibu Hamil Resiko X
Tinggi dan

47
Komplikasi yang Di
tangani
51 Cakupan X
Kunjungan
Neonatus
52 Cakupan
Kunjungan Bayi
53 Cakupan DDTK
Balita dan
Prasekolah X
54 Neonatal X
Rest/Komplikasi
yang di tangani
55 Cakupan Peserta X
KB Aktif

5. Nilai Prioritas Masalah


Setelah kriteria A, B, C, dan D ditetapkan, nilai tersebut dimasukkan
ke dalam rumus :
Nilai Prioritas Dasar (NPD) =(A+B)xC
Nilai Prioritas Total (NPT) =(A+B)xCxD
Tabel 9. Prioritas Masalah Dengan Rumus NPD dan NPT
NILAI PRIORITAS

N INDIKATOR A B C D NPD NPT


O MASALAH
1 Keluarga dengan 1,42 8 3 1 28,26 28,26
jamban sehat
2 Keluarga dengan 1,42 7 2 1 16,84 16,84

48
tempat sampah
sehat
3 Keluarga yang 1,42 8 3 1 28,26 28,26
memiliki SPAL
4 Rumah bebas 1,42 10 4 1 45,68 45,68
jentik
5 Keluarga degan 1,42 7 2 1 16,84 16,85
sumber air
terlindung
6 Rumah sehat 1,42 6 2 1 14,82 14,82
7 Sarana TTU yang 1,42 9 3 1 31,26 31,26
memenuhi syarata
kesehatan
8 Sarana tempat 4,26 9 4 1 53,04 53,04
pengelolaan
makanan yang
memenuhi syarat
kesehatan
9 Posyandu purnama 4,26 8 3 1 36,78 36,78
10 Posyandu mandiri 7,1 8 2 1 30,2 30,2
11 Cakupn desa siaga 1,42 9 3 1 31,26 31,26
aktif
12 Cakupan sekolah 4,26 8 3 1 36,78 36,78
ber PHBS
13 Rapat lintas sektor 1,4 8 2 1 18,8 18,8
2
Cakupan rumah 2,8
14 10 2 1 25,68 25,68
tangga sehat 4
Upaya penyuluhan
15 1,42 8 3 1 28,26 28,26
ptm
16 Upaya penyuluhan 1,4 7 4 1 33,68 33,68

49
NAPZA DAN HIV 2
17 Cakupan balita gizi 1,4 5 4 1 25,58 25,68
buruk mendapat 2
perawatan
18 Cakupan bayi 1,4 9 3 1 31,26 31,26
mendapat kapsul 2
vit a
19 Cakupan balita 1,42 7 2 1 16,84 16,84
mendapat kapsul
vit a
20 Cakupan ibu nifas 1,42 6 2 1 14,84 14,84
mendapat kapsul
vit a
21 Cakupan ibu hamil 1,4 9 3 1 31,26 31,26
mendapat tablet fe 2
90
22 Balita yang dating 1,42 7 2 1 16,84 16,84
ditimbang (D\S)
23 Balita yang naik 1,42 8 4 1 37,68 37,68
berat badannya
(N\D)
24 Rumah tangga 1,4 7 3 1 25,6 25,6
menggunakan 2
garam yodium
25 Bayi mendapat asi 1,42 8 - 1 9,42 9,42
ekslusif
26 Cakupan DDTK 1,42 7 2 1 16,84 16,84
anak sekolah
27 Cakupan 1,42 7 4 1 33,68 33,68
Kelurahan UCI
28 Cakupan 1,42 6 3 1 22,26 22,26
Pemberian UNIJEK

50
29 Cakupan BIAS 1,4 7 3 1 25,26 25,26
2
30 Cakupan Campak 1,4 8 4 1 37,68 37,68
Balita 2
31 Kasus AFP 10 9 3 1 47 47
ditangani
32 KesembuhanPend 1,4 6 2 1 14,84 14,84
erita TB BTA Positif 2
33 Penanganan Kasus 10 9 3 1 57 57
Rabies
34 Kasus IMS Diobati 1,4 9 3 1 31,26 31,26
2
35 Penderita DBD 1,4 4 2 1 10,84 10,84
Ditangani 2
36 Penderita Diare 10 6 2 1 32 32
Ditangani
37 Penderita 10 10 3 1 60 60
Peneumonia Balita
Diobati
38 Kasus HIV AIDS 1,4 6 5 1 37,1 37,1
Ditangai 2
39 Penderita Kusta 10 7 3 1 51 51
Selesai (RFT) RAT
40 Penderita Malaria 10 4 4 1 56 56
Terobati
41 Kasus Filariasis 10 7 3 1 51 51
Tertangani
42 Cakupan 10 7 3 1 51 51
Kelurahan yang
Mengalami KLB
yang dilakukan PE
<24 Jam

51
43 Cakupan 1.4 8 2 1 18,84 18,84
Pelayanan PTM 2
44 Cakupann 1.42 7 2 1 16,84 16,84
Penjarian
Kesehatan Siswa
Kelas 1 SD/MI
45 Cakupann 1,4 9 1 1 10,42 10,42
Penjarian 2
Kesehatan Siswa
Kelas 1 SMP/MTS
46 Cakupann 1,4 5 2 1 10,42 10,42
Penjarian 2
Kesehatan Siswa
Kelas 1
SMA/MA/SMK
47 Cakupan 1,4 7 4 1 33,68 33,68
Kunjungan Ibu 2
Hamil K1
48 Cakupan 1,4 5 3 1 19,26 19.26
Kunjungan Ibu 2
Hamil K4
49 Cakupan 1,4 8 4 1 37,68 37,68
Pertolongan 2
Persalinan oleh
Tenaga Kesehatan
yang Punya
Kompetensi
Kebidanan
50 Ibu Hamil Resiko 1,42 6 2 1 14,84 14,84
Tinggi dan
Komplikasi yang Di
tangani

52
51 Cakupan 1,42 9 4 1 41,68 41,68
Kunjungan
Neonatus
52 Cakupan 10 4 4 1 56 56
Kunjungan Bayi
53 Cakupan DDTK 1,42 6 2 1 14,84 14,84
Balita dan
Prasekolah
54 Neonatal 1,42 8 4 1 37,68 37,68
Rest/Komplikasi
yang di tangani
55 Cakupan Peserta 1,42 6 3 1 22,26 22,26
KB Aktif

6. Identifikasi Penyebab Masalah dengan Prioritas Tertinggi


Identifikasi penyebab masalah Posyandu Mandiri dengan analisis
pendekatan sistem.
Tabel 10. Identifikasi Penyebab
Komponen Kemungkinan Penyebab Masalah
MAN 1. Sumber daya (tenaga medis)
sudah tersedia, tetapi peran serta
masyarakat sangat rendah.
2. Rendahnya pengetahuan
masyarakat tentang pentingnya
posyandu mandiri
3. Kurangnya koordinasi dari pihak
INPUT kelurahan mengenai posyandu
mandiri dengan pihak
puskesmas.
MONEY 1. Tidak Anggaran yang
dilokasikan untuk kegiatan

53
Posyandu Mandiri sehingga
menyebabkan masyarakat harus
mengumpulkan dana sendiri
untuk terlaksananya kegiatan
Posyandu Mandiri
2. Rendahnya keikutsertaan
masyarakat untuk
mengumpulkan dana guna
terlaksananya Posyandu Mandiri
MATERIAL 1. Tidak Ada Masalah
METODE 1. Tidak Ada Masalah

MARKETING 1. Kurangnya penyuluhan ataupun


sosialisasi dalam bentuk poster
publik yang menarik dan mudah
dipahami oleh masyarakat tentang
Pentingnya Posyandu Mandiri
LINGKUNGAN 1. Tidak Ada Masalah
PROSES P1 Belum maksimal dikarenakan
kurangnya koordinasi dari
puskesmas dan pihak setempat
P2 Tidak terlaksana dengan baik
karena kurangnya pengetahuan
masyarakat tentang pentingnya
Posyandu Mandiri
P3 Dijalankan oleh pihak kelurahan

7. Analisa Penyebab Masalah


A. Sumber daya (tenaga medis) sudah tersedia, tetapi peran serta
masyarakat sangat rendah.
B. Rendahnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya posyandu
mandiri

54
C. Kurangnya koordinasi dari pihak kelurahan mengenai posyandu
mandiri dengan pihak puskesmas.
D. Tidak adanya anggaran yang dilokasikan untuk kegiatan Posyandu
Mandiri sehingga menyebabkan masyarakat harus mengumpulkan
dana sendiri untuk terlaksananya kegiatan posyandu mandiri.
E. Rendahnya keikutsertaan masyarakat untuk mengumpulkan dana
guna terlaksananya Posyandu Mandiri
F. Kurangnya penyuluhan ataupun sosialisasi dalam bentuk poster
publik yang menarik dan mudah dipahami oleh masyarakat tentang
Pentingnya Posyandu Mandiri.

8. TABEL PAIRED COMPARISON


Tabel 11. Paired Comparison
A B C D E F Total
A B C D E F 0
B C B B F 2
C D B F 0
D E F 0
E F 0
F 0
Total vertikal 0 1 2 2 2 5

Total 0 2 0 0 0 0
horizontal
Total 0 3 2 2 2 5 14

9. Tabel Kumulatif Dari Hasil Paired Comparison Untuk Penyelesaian


Masalah
Tabel 12. Kumulatif Dari Hasil Paired Comparison Untuk Penyelesaian
Masalah
F 5 5/14 X 100% 35,71% 35,71%

55
B 3 3/14 X 100% 21,43% 57,14%
C 2 2/14 X 100% 14,29% 71,43%
D 2 2/14 X 100% 14,29% 85,72%
E 2 2/14 X 100% 14,29% 100%
A 0 0/14 X 100% 0% 100%
JUMLAH 14 100%

10. Penyebab Masalah yang Perlu Diselesaikan Berdasarkan Nilai


Kumulatif
Berdasarkan nilai kumulatif, untuk menyelesaikan suatu masalah
berupa rendahnya cakupan Posyandu Mandiri, dengan menyelesaikan 4
penyebab yang belum mencapai 90%, diantaranya adalah :
1. F = Kurangnya penyuluhan ataupun sosialisasi dalam bentuk poster
publik yang menarik dan mudah dipahami oleh masyarakat tentang
Pentingnya Posyandu Mandiri.
2. B = Rendahnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya
posyandu mandiri
3. C = Kurangnya koordinasi dari pihak kelurahan mengenai posyandu
mandiri dengan pihak puskesmas.
4. D = Tidak adanya anggaran yang dilokasikan untuk kegiatan
Posyandu Mandiri sehingga menyebabkan masyarakat harus
mengumpulkan dana sendiri untuk terlaksananya kegiatan posyandu
mandiri.

11. Rencana Kegiatan


 Membuat perencanaan dan pelaksanaan kegiatan penyuluhan atau
sosialisasi dalam bentuk poster public atau video edukasi yang
menarik dan mudah dipahami oleh masyarakata tentang pentingnya
posyandu mandiri.

56
 Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya
posyandu mandiri melalui kegiatan terjun langsung ke rumah-rumah
warga.
 Rencana kegiatan meningkatkan koordinasi antar pihak kelurahan
dengan puskesmas mengenai posyandu mandiri.
 Meningkatkan kesadaran masyarakat dalam hal pengumpulan dana
sehat.

12. Kriteria Mutlak Dari Rencana Kegiatan


Berdasarkan alternatif pemecahan masalah di atas, maka dibuat
kriteria mutlak yaitu:
Tabel 13. Kriteria mutlak dapat atau tidaknya dilakukan
Input
Kegiatan Output Ket
Man Money Material Meth Mark
A 1 1 1 1 1 1 Dapat
dilakukan
B 1 1 1 1 1 1 Dapat
dilakukan
C 1 1 1 1 1 1 Dapat
dilakukan
D 1 1 1 1 1 1 Dapat
dilakukan

13. Program yang Akan Dilaksanakan


Berdasarkan kriteria mutlak dan kriteria keinginan, maka 3
rencana kegiatan di atas yang dapat dijadikan rencana kegiatan / Plan of
Action (POA), yaitu :
A. Melakukan penyuluhan dan sosialisasi dengan menggunakan media
publikasi seperti poster publik, video, banner dan lainnya yang
menarik bagi masyarakat dan mengadakan reward bagi masyarakat
yang berhasil memahami hasil penyuluhan.

57
B. Mengadakan pertemuan dengan Lurah di wilayah kerja puskesmas
lepo-lepo untuk membahas strategi dalam upaya menggerakkan
masyarakat dalam kegiatan posyandu mandiri.

58
Tabel 14.Plain Of Action (POA) masalah posyandu mandiri di Puskesmas Lepo-Lepo periode Januari-Desember 2019

No Rencana Kegiatan Tujuan Sasaran Target Waktu Tempat Personil Biaya


1. Melakukan penyuluhan Untuk 1.Masyara 100% dari Januari- Balai 10 Biaya
dan sosialisasi dengan membantu kat di total Desemb desa di Petugas transportasi
menggunakan media Meningkatka Wilayah masyarak er 2019 wilayah puskes 12 x 10 x
publikasi seperti poster n kesadaran kerja at (jumlah (Setiap kerja mas 40.000 =
publik, video, banner masyarakat Puskesm penduduk bulan) puskesma Rp.
dan lainnya yang tentang as Lepo- : 23.211 s lepo- 1 orang 4.800.000
menarik bagi pentingnya Lepo jiwa) lepo
masyarakat dan mengikuti
mengadakan reward posyandu 2. Pet 2 Banner Biaya
bagi masyarakat yang mandiri. ugas 2 pencetakka
berhasil memahami Kesehata Poster n Banner
hasil penyuluhan. n 2 x 80.000
Puskesma = Rp.
s Lepo- 160.000
Lepo Poster
3. Pih 2 x 50.000
ak = Rp.

59
kel 100.000
ura Biaya
han transportasi
set =
em Rp. 20.000
pat Biaya
Reward
12 x 5 kel. x
2 orng x
10.000 =
1.200.000

Total : Rp.
6.280.000

2. Mengadakan Meningkatka Masyarak 100% dari Januari- Kantor 4 Biaya


pertemuan dengan n koordinasi at di total Desemb kelurahan Petugas konsumsi
Lurah di wilayah kerja antara wilyah masyarak er 2019 puskes 12 x 5 kel. x
puskesmas lepo-lepo kelurahan kerja at (jumlah (Setiap mas 2 orang x
untuk membahas pihak Puskesma penduduk bulan) 20.000 =

60
strategi dalam upaya puskesmas. s Lepo- : 23.211 Rp.2.400.00
menggerakkan Lepo jiwa) 0
masyarakat dalam Biaya
kegiatan posyandu transportasi
mandiri. = 12 x 2
orang x 5
kel. Rp
10.000= Rp
1.200.000
Total: Rp.
3.600.000

61
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil wawancara dan pengolahan data sekunder yang
ada di profil Puskesmas Lepo-Lepo Periode 2018, dapat disimpulkan
beberapa hal, yaitu:
1. Prioritas masalah pada Puskesmas Lepo-Lepo Periode 2018 adalah
Posyandu Mandiri.
2. Prioritas penyebab masalah pada adalah sebagai berikut:
a. Kurangnya penyuluhan ataupun sosialisasi dalam bentuk
poster publik yang menarik dan mudah dipahami oleh
masyarakat tentang Pentingnya Posyandu Mandiri.
b. Rendahnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya
posyandu mandiri
c. Kurangnya koordinasi dari pihak kelurahan mengenai
posyandu mandiri dengan pihak puskesmas.
d. Tidak adanya anggaran yang dilokasikan untuk kegiatan
Posyandu Mandiri sehingga menyebabkan masyarakat harus
mengumpulkan dana sendiri untuk terlaksananya kegiatan
posyandu mandiri.

3. Adapun alternatif pemecahan masalah Posyandu Mandiri adalah


sebagai berikut:
 Membuat perencanaan dan pelaksanaan kegiatan penyuluhan atau
sosialisasi dalam bentuk poster public atau video edukasi yang
menarik dan mudah dipahami oleh masyarakata tentang pentingnya
posyandu mandiri.
 Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya
posyandu mandiri melalui kegiatan terjun langsung ke rumah-rumah
warga.
 Rencana kegiatan meningkatkan koordinasi antar pihak kelurahan
dengan puskesmas mengenai posyandu mandiri.

62
 Meningkatkan kesadaran masyarakat dalam hal pengumpulan dana
sehat.

B. Saran
Berdasarkan masalah kesehatan yang terdapat di Puskesmas Lepo-
Lepo maka sebaiknya pihak puskesmas lebih meningkatkan lagi kegiatan
penyuluhan kepada masyarakat dan pihak kelurahan agar meningkatkan
keikutsertaan masyarakat dalam kegiatan posyandu mandiri. Selain itu,
diharapkan kepada masyarakat setempat agar mau turut berpartisipasi
dalam kegiatan posyandu mandiri mengingat manfaat dari kegiatan
tersebut.

63
DAFTAR PUSTAKA

Bangsawan, A.K., Adisti A.R., Ardiansa A.T.T. 2017. Analisis Pelaksanaan


Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk Pelayanan Bayi di Puskesmas
Lolak Kabupaten Bulang Mongondow. Manado. Universitas Sam
Ratulangi

Gozali, Imam. 2012. Model Pelayanan Puskesmas (Pusat Kesehatan


Masyarakat) di Kota Semarang. Semarang. Media Ekonomi & Teknologi
Informasi Vol. 19 No. 1 Maret 2012 : 09 – 2011.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2013. Dasar-dasar Puskesmas.


Jakarta

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2017. Keterkaitan SPM Bidang


Kesehatan Program Indonesia Kesehatan dengan Pendekatan
Keluarga dan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat.

Sanah, Nor. 2017. Pelaksanaan Fungsi Puskesmas (Pusat Kesehatan


Masyarakat) Dalam Meningkatkan Kualitas Pelayanan Kesehatan Di
Kecamatan Long Kali Kabupaten Paser. Kalimantan. eJournal Ilmu
Pemerintahan, Volume 5, Nomor 1,

64
Lampiran Dokumentasi Kegiatan

Gambar 1: Lokasi pengambilan data (Puskesmas Lepo-Lepo)

Gambar 2: Peta wilayah kerja Puskesmas Lepo-Lepo

65
Gambar 3: Proses Pengambilan data

Gambar 4: Kegiatan pelayanan kesehatan Puskesmas

66
Gambar 5: Poster penyuluhan kesehatan

67