Anda di halaman 1dari 23

TUGAS PERANCANGAN PRODUK DAN PROSES KIMIA

PEMBUATAN PABRIK PUPUK ZA DENGAN BAHAN BAKU AMONIA


DAN ASAM SULFAT
Disusun Oleh :
KELOMPOK 2-B

Atikah Destya Candra Pratiwi NIM 21030116120017


Aprisanda Andarani NIM 21030116140142
Malvin Muhammad Zain NIM 21030116140173
Meilinda Putri Wijayanti NIM 21030116120073
Novriadi Tri Kurnianto NIM 21030116140159
Nur Asyiah NIM 21030116140196

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tanah sebagai media tumbuh tanaman mempunyai fungsi menyediakan
air, udara dan unsur-unsur hara untuk pertumbuhan tanaman, namun demikian
kemampuan tanah menyediakan unsur hara sangat terbatas. Hal ini terbukti
dengan pemakaian tanah yang terus menerus secara intensif tanpa penambahan
unsur hara mengakibatkan merosotnya produktifitas tanah, menurunkan hasil
panenan dan rusaknya sifat fisik, kimia dan biologi tanah dan kesuburan tanah.
Pengambilan sisa tanaman serta bahan-bahan buangan turut membantu suplai
nitrogen. Suplai alami demikian ditambah pula dengan pemberian pupuk
nitrogen misalnya Za yang mengandung nitrogen dan belerang. Meningkatnya
perkembangan populasi manusia yang mendorong meningkatkan kebutuhan
pangan dunia akan berarti pula peningkatan suplai nitrogen pada tanah.
Penggunaan pupuk Za merupakan pupuk yang marak digunakan di kalangan
para petani karena kegunaan dari pupuk ini adalah membantu proses
perumbuhan tanaman para petani, menambah daya tahan tanaman terhadap
gangguan hama, penyakit dan kekeringan, memperbaiki rasa dan warna hasil
panen. Untuk itu tidak heran jika para petani beralih pupuk ke pupuk Za ini
karena macam manfaat tersebut.

1.2 Rumusan Masalah


Pada makalah ini ada beberapa masalah yang akan dibahas, seperti :
1. Apa saja bahan baku utama dan bahan baku tambahan untuk pembuatan
pupuk ammonium sulfat ?
2. Bagaimana proses yang terjadi dalam pembuatan pupuk ammonium sulfat?
3. Bagaimana kondisi produk yang dihasilkan dalam pembuatan pupuk
ammonium sulfat?
1.3 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui bahan baku utama dan bahan baku pembantu dari pupuk
ammonium sulfat ( ZA )
2. Mengetahui proses yang terjadi dan kondisi operasi pada proses yang terjadi.
3. Mengetahui produk yang dihasilkan dari pembuatan pupuk ammonium
sulfat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Amonium Sulfat (ZA)


Pupuk ZA adalah pupuk kimia buatan yang dirancang untuk memberi
tambahan hara nitrogen dan belerang bagi tanaman. Nama ZA adalah singkatan
dari istilah bahasa Belanda, zwavelzure ammoniak, yang berarti amonium
sulfat (NH4)2SO4. Pupuk ZA diperlukan tanaman untuk memenuhi kebutuhan
unsur hara nitrogen (N) dan belerang (S). Unsur nitrogennya sebesar 21 % dan
sulfur (belerang) sebesar 24 % (Ihsan, 2012). Pupuk ZA aman digunakan untuk
semua jenis tanaman. Manfaat dari pupuk ZA adalah dapat meningkatkan
produksi dan kualitas panen, menambah daya tahan tanaman terhadap
gangguan hama, penyakit, dan kekeringan, serta memperbaiki rasa dan warna
hasil panen (Horties, 2011). Ammonium Sulfat (ZA) merupakan salah satu
jenis pupuk sintetis yang mengandung unsur hara N. Unsur hara N yang berasal
dari Urea dan ZA merupakan hara makro utama bagi tanaman selain P dan K
dan seringkali menjadi factor pembatas dalam produksi tanaman. Menurut
Gardner dkk, (1991), definisi N membatasi pembesaran sel dan pembelahan
sel. N berperan sebagai bahan penyusun klorofil dan asam amino,
pembentukan protein, esensial bagi aktivasi karbohidrat, dan komponen enzim,
serta menstimulasi perkembangan dan aktivitas akar serta meningkatkan
penyerapan unsur-unsur hara yang lain (Aditya et al, 2012). Wujud pupuk ini
butiran kristal mirip garam dapur dan terasa asin di lidah. Pupuk ini higroskopis
(mudah menyerap air) walaupun tidak sekuat pupuk urea. Karena ion sulfat
larut secara kuat, sedangkan ion ammonium lebih lemah, pupuk ini berpotensi
menurunkan pH tanah yang terkena aplikasinya. Sifat ini perlu diperhatikan
dalam penyimpanan dan pemberiannya. Pupuk ZA mengandung belerang 24
% dan nitrogen 21 %. Kandungan nitrogennya hanya separuh dari urea,
sehingga biasanya pemberiannya dimaksudkan sebagai sumber pemasok hara
belerang pada tanah-tanah yang miskin unsur ini. Namun demikian, pupuk ini
menjadi pengganti wajib urea sebagai pemasok nitrogen bagi pertanaman tebu
karena tebu akan mengalami keracunan bila diberi pupuk urea.
2.2 Produksi ZA I/III (Amonium Sulfat)
Pupuk Zwavelzur Ammonia (amonium sulfat) atau yang biasa dikenal
dengan pupuk ZA adalah salah satu produk pupuk berbasis nitrogen yang di
produksi oleh PT Petrokimia Gresik. Di Departemen Produksi I, ZA diproduksi
oleh pabrik ZA I dan ZA III dengan kapasitas total 610 ton/hari.
2.2.1 Bahan Baku Utama
Bahan baku utama dalam unit produksi Ammonium Sulfat (ZA I/III)
ada dua, yaitu ammonia fase gas yang disuplai dari pabrik ammonia unit
Produksi I dan asam sulfat yang disuplai dari pabrik asam sulfat unit
Produksi III. Berikut spesifikasi bahan baku utama pembuatan ZA I/III:
1. Gas Ammonia (NH3)
Komposisi : NH3 99-99,5 %berat (min)
H2O 0,5-1 %berat (maks)
Wujud : Gas
Kenampakan : Tidak berwarna
Bau : Khas ammonia
Temperatur : 1°C
Tekanan : 3-4 kg/cm2
2. Asam Sulfat Cair
Komposisi : H2SO4 98-99,5 %berat (min)
H2O 0,5-1 %berat (maks)
Wujud : Cair
Kenampakan : Tidak berwarna
Bau : Khas asam sulfat
Tekanan : 5 kg/cm2

2.2.2 Bahan Baku Penunjang


Adapun bahan baku pendukung pembuatan ZA I/III sebagai berikut:
1. Pencoat
Digunakan sebagai bahan anti caking
2. Petro Dye
Digunakan sebagai pewarna pupuk subsidi dari pemerintah
2.2.3 Produk
Amonium Sulfat
• Komposisi : Nitrogen min 20,80%
• H2SO4 : maks 0,1%
• H2O : maks 1,0%
• Wujud : padat
• Bentuk : kristal
• Kenampakan : putih
• Ukuran : > 50% tertahan US mesh 30

2.2.4 Konsep Proses


Dalam pemilihan konsep proses, dilakukan perbandingan dari
beberapa jenis proses yang ada berdasarkan kondisi operasi, jenis bahan
baku, jumlah alat proses, kerumitan proses serta konversi reaksi.
Perbandingan antar jenis proses dapat dilihat melalui tabel berikut.
Tabel 2.1 Perbandingan Karakteristik Proses Pembuatan Pupuk ZA
Jenis Proses
Uraian Karbonasi
Netralisasi Merseburg Marino
Batubara
Kondisi Operasi
- Suhu Sedang Rendah Rendah Tinggi
- Tekanan Rendah Rendah Rendah Tinggi
Jenis Bahan Baku Sedikit Sedang Banyak Banyak
Jumlah Alat Proses 1 3 3 2
Kerumitan Proses
- Katalis - - - √
- Reaksi
- √ √ √
Samping
- Reaksi
- - √ -
Reversibel
Konversi Tinggi Rendah Sedang Rendah
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa penggunaan proses
netralisasi lebih baik dibandingkan proses lain. Reaksi yang terjadi pada
pabrik ammonium sulfat I dan III didasarkan pada reaksi netralisasi
irreversible dengan bahan utama gas amoniak yang diperoleh dari unit
sintesa amoniak dan asam sulfat cair yang diperoleh dari Departemen
Produksi III PT. Petrokimia Gresik.
Reaksi netralisasi irreversible dapat dituliskan sebagai berikut:
H2SO4 (l) + 2 NH3 (g) → (NH4)2SO4 (s) + Q
Reaksi tersebut terjadi menurut mekanisme reaksi berikut:
H2SO4 ↔ 2H+ + SO42-
2NH3 + 2H+ → 2NH4+
2NH4+ + SO42+ → (NH4)2SO4
H2SO4 (l) + 2 NH3 → (NH4)2SO4(s) + Q
Dalam pembuatan pupuk ZA, terdapat 5 tahapan yaitu :
1) Persiapan bahan baku.
2) Reaksi netralisasi dan pembentukan kristal ZA.
3) Pemisahan kristal ZA dari larutan induk (mother liquor).
4) Pengeringan kristal ZA.
5) Penampungan dan pengemasan produk.

2.2.5 Blok Diagram Proses


Tahapan produksi pupuk ZA I/III digambarkan pada diagram berikut.

Gambar 2.1 Blok Diagram Proses Produksi ZA I/III


2.3 Kelebihan dan Kekurangan Proses
Dari beberapa proses yang ada mengenai pembuatan ZA, kami memilih
proses netralisasi dalam pembuatan ZA ini. Hal ini dikarenakan terdapat
beberapa kelebihan dari proses netralisasi yaitu:
1. Dalam proses netralisasi ini, lebih efisien karena reaksi antara Ammonia
dan Asam Sulfat tejadi di saturator yang mana saturator tersebut memiliki
2 fungsi yaitu sebagai penetral (netralisasi) dan pembentukan kristal
(kristalisasi).
2. Apabila dilihat dari segi ekonomi, proses netralisasi ini lebih ekonomis
dibandingkan proses – proses pembuatan ZA yang lain.
3. Proses netralisasi lebih sederhana.
4. Bahan baku untuk proses netralisasi mudah didapat.
5. Selama proses netralisasi tidak menggunakan katalis.
6. Proses netralisasi menghasilkan konversi yang tinggi.
Selain itu, terdapat kekurangan dari proses produksi menggunakan
netralisasi ini, antara lain:
1. Tidak dapat digunakan di negara yang tidak memiliki sulfur sehingga
harus melakukan impor bahan baku.
2. Reaktan berupa asam sulfat yang merupakan asam kuat, sehingga proses
penyimpanan dan transportasi harus dijaga dengan baik untuk
menghindari terjadinya korosi pada alat.
BAB III
TAHAPAN SINTESA PROSES

3.1 Langkah Proses


1. Persiapan Bahan Baku
Tahap ini bertujuan untuk persiapan bahan baku gas amonia
dengan temperatur 1°C dan udara murni untuk proses pembuatan
ammonium sulfat di saturator (R301ABCD).
a. Tahapan Penguapan Amonia
Bahan baku amoniak untuk pembuatan ZA dibedakan
menjadi dua jenis yaitu amoniak gas dengan temperatur 1°C
dan tekanan 3.4 kg/cm2 yang disuplai dari unit sintesa amoniak
serta amoniak cair dari TK-801. Amoniak cair cenderung
dipakai sebagai cadangan amoniak apabila unit sintesa
amoniak sedang terganggu. Pengubahan amoniak cair menjadi
gas dilakukan menggunakan vaporizer (E304AB) yang
dilengkapi dengan steam coil. Media pemanas yang digunakan
adalah LPS (Low Pressure Steam) pada tekanan 10 kg/cm2g
dengan suhu 187-190°C yang didapatkan dari Unit Utilitas I.
Gas amoniak dengan temperatur akhir 70°C selanjutnya
dialirkan kedalam saturator (R301ABCD).
b. Tahap Pemurnian Udara sebagai Udara Pengaduk
Fungsi udara dalam pembuatan ZA yakni untuk
mencegah pengendapan kristal ZA di dasar saturator serta
sebagai pengaduk untuk mempercepat reaksi.
Udara bebas dari atmosfer masuk ke filter udara untuk
memisahkan udara dari partikel-partikel yang tidak diinginkan
agar tidak mengganggu proses selanjutnya. Udara luar
dikompresi menggunakan air compressor C303AB sehingga
tekanannya naik menjadi 5 atm dan temperatur 90°C,
selanjutnya dialirkan ke diafter cooler (E303) untuk
diturunkan temperaturnya.
Media pendingin yang digunakan adalah air pendingin
dari Unit Utilitas I dengan temperatur 30°C dan temperatur
udara keluar diafter cooler +80°C. Kemudian udara masuk ke
liquor receiver D310 untuk pemisahan oil yang terikut ke
proses. Selanjutnya uap air akan terkondensasi dan keluar
melalui dasar tangki pemisah oil D-308 untuk menghilangkan
kandungan minyak yang terikut dalam udara yang
kemungkinan besar berasal dari kompresor. Udara kering
bertekanan kemudian ditampung pada vessel udara tekan D-
304 untuk selanjutnya dialirkan ke saturator R-301ABCD
dengan temperatur +70°C.

2. Reaksi Netralisasi dan Pembentukan Kristal ZA


Reaksi netralisasi dan kristalisasi ZA terjadi didalam saturator
R-301ABCD. Reaksi netralisasi terjadi antara amoniak (basa) dengan
asam sulfat (asam). Secara umum reaksi yang terjadi adalah sebagai
berikut:
H2SO4(l) + 2 NH3 → (NH4)2SO4(s) ∆H = 109.72 kkal/mol
Process water dari tangki TK-301 dialirkan kedalam saturator
R-301ABCD menggunakan pompa P-302. Saat ketinggian air
mencapai 5.0 m dari atas permukaan distributor ammonia, uap
ammonia dengan konsentrasi 99% berat dialirkan ke dalam saturator
R-301ABCD pada kondisi 70°C dengan tekanan 3.4 kg/cm2g. Gas
amoniak yang akan direaksikan dengan asam sulfat dimasukkan dari
bagian bawah melalui pipa-pipa yang tercelup lebih dalam dari pipa
asam sulfat, kemudian didistribusikan dengan sparger.
Asam sulfat cair 98.98% dari tangki TK-200 dipompakan
kedalam saturator R-301ABCD pada temperatur 32°C dan tekanan
5kg/cm2 menggunakan pompa P-305. Udara dimasukkan dari bagian
bawah untuk membantu pendistribusian amoniak, mencegah
terjadinya pengendapan kristal ZA di dasar saturator dan sebagai
pengaduk yang mempercepat terjadinya reaksi.
Reaksi pembentukan ammonium sulfat bersifat eksotermis
irreversible dengan panas yang dihasilkan 109.72 kkal/mol. Dengan
penambahan uap amoniak dan asam sulfat secara terus menerus maka
konsentrasi ammonium sulfat yang terbentuk akan semakin
meningkat dan panas yang dihasilkan juga akan semakin besar.
Desain operasi saturator R-301ABCD adalah pada 110-120°C dan
tekanan 1 atm.
Pada temperatur 100°C dan tekanan 1 atm process water akan
berubah fasa menjadi uap sehingga larutan ammonium sulfat dalam
saturator akan menjadi jenuh, lewat jenuh, dan kemudian terbentuk
kristal ammonium sulfat (ZA). Uap air proses yang terjadi segera
dialirkan menuju kondensor shell and tube E-301ABCD untuk
diembunkan. Kondensat yang didapat kemudian dialirkan kedalam
tangki TK-301. Kondensat ini dapat dikembalikan ke saturator
sebagai kondensat return untuk mengatur konsentrasi dan menyerap
panas reaksi.
Kristal ZA yang terbentuk dari proses mempunyai
kecenderungan mengendap didasar saturator yang dapat
mengganggu jalan keluar slurry ZA. Untuk mengatasi hal tersebut
maka udara murni bertekanan 1 kg/cm2 dan temperatur 70°C
dihembuskan kedalam saturator R-301ABCD. Setelah ketinggian
slurry dalam saturator mencapai 4.0 – 4.5 m dan kandungan kristal
ZA dalam saturator sudah mencapai 50% berat, slurry dikeluarkan
dari saturator.
Selama reaksi, larutan ammonium sulfat jenuh (larutan induk)
diumpankan secara kontinyu ke saturator untuk menjaga
perbandingan padat : cair dalam larutan jenuh di saturator 50:50. Hal
ini bertujuan untuk mempercepat pembentukan Kristal, menjaga level
slurry ZA di dalam saturator, serta menghindari terjadinya
penggumpalan di dasar saturator sebelum masuk ke centrifuge
separator.
Diagram alir proses netralisasi dan kristalisasi adalah sebagai
berikut:

Gambar 3.1 Diagram Alir Proses Netralisasi – Kristalisasi

3. Pemisahan Kristal ZA dari Larutan Induk


Outlet slurry dari saturator R-301ABCD yang terdiri dari 50:50
kristal dan larutan induk ditampung dalam Hopper D-302AB untuk
selanjutnya diumpankan ke centrifuge separator M-301AB. Didalam
centrifuge separator, larutan dialirkan melalui pipa secara kontinyu
melewati distributing cone lalu masuk ke drum yang berputar dengan
kecepatan 1200-1500 rpm. Kristal ZA akan terlempar ke dinding
drum karena gaya sentrifugal, sedangkan larutan ZA akan melewati
screen 25 mesh dan jatuh ke filtrate housing kemudian dialirkan ke
tangki mother liquor D-301AB. Kristal ZA dengan ukuran rata-rata
25 mesh ini akan tertahan pada dinding screen dan terkumpul di
silinder screen. Pusher bergerak maju mundur secara kontinyu untuk
mendorong kristal ZA yang terkumpul di screen ke solid discharge.
Setelah terpisah, kristal ZA dengan kadar air sekitar 1% berat dikirim
ke rotary dryer M-302 melalui belt conveyor M-303 secara kontinyu.
Larutan ZA yang tertampung didalam tangki mother liquor D-
301AB dianalisa kadar kation-kation bebasnya seperti Fe3+, Cr3+,
serta Al3+. Kristal yang memiliki kation tersebut dengan jumlah
tertentu dapat menyebabkan kristal ZA berbentuk panjang seperti
jarum. Kandungan kation bebas dalam mother liquor dibatasi
maksimum 10 ppm. Bila melebihi batas, maka kedalam tangki D-
301AB ditambahkan asam fosfat untuk mengurangi jumlah kation
dalam larutan sehingga akan terbentuk endapan putih yang mudah
dipisahkan. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
Fe3+ + PO43- → FePO4
Al3+ + PO43- → AlPO4
Cr3+ + PO42- → CrPO4
Larutan ZA dalam tangki mother liquor harus dijaga suhunya
pada 70°C dan dilakukan pengadukan secara kontinyu sebelum
dialirkan ke saturator R-301 ABCD dengan menggunakan pompa P-
301.

4. Pengeringan
Kristal ZA yang dipisahkan di centrifuge separator masih
mengandung sedikit air, sehingga perlu dikeringkan lebih lanjut.
Pengering yang digunakan adalah rotary dryer M-302 yang terdiri
dari shell berbentuk silinder horizontal dengan sudut kemiringan
tertentu yang dipasang pada suatu roll sehingga silinder dapat
berputar. Dibagian dalam silinder terdapat sekat-sekat yang arahnya
membujur sejajar sumbu silinder dan berada di sepanjang silinder.
Sekat ini berfungsi untuk mengangkat butiran bahan yang akan
dikeringkan pada saat silinder berputar.
Kristal ZA yang sebelumnya telah terpisah di centrifuge
separator ditransportasikan dengan belt conveyor menuju ke rotary
dryer. Sebelum dimasukkan kedalam pengering, Kristal ditambahkan
larutan anticaking dan pewarna. Anticaking digunakan untuk
mencegah terjadinya gumpalan pada Kristal, sementara pewarna
digunakan unuk membedakan pupuk subsidi dan non subsidi. Untuk
pupuk bersubsidi digunakan pewarna merah PC07. Selain menjadi
media pengering, rotary dryer berfungsi untuk mencampurkan
bahan-bahan tambahan tersebut agar merata.
Pengeringan dalam rotary dryer menggunakan udara yang
dipanaskan dengan heater yang sudah terangkai dalam rotary dryer
tersebut. Media pemanas heater adalah Low Pressure Steam yang
disediakan dari unit utilitas I. Udara pemanas akan mengalir secara
co-current (searah) dengan kristal ZA. Temperatur udara masuk yaitu
130 – 150°C dengan temperatur udara keluar 60 – 650C. Kristal ZA
akan mengalir keluar sebagai produk kering dengan kandungan air
maksimum 0.1% berat.dan temperatur akhir produk 50 – 55°C. Udara
yang keluar dari rotary dryer pada tempertur 60-65oC diperkirakan
mengandung debu ZA. Untuk mengatasinya, udara dilewatkan ke wet
cyclone D-303/309, di-spray dengan air proses, kemudian air proses
dan debu ZA yang tertangkap akan mengalir ke tangki larutan ZA
encer D-307. Larutan ini kemudian dialirkan ke tangki mother liquor
sementara udara pemanas dari D-303/309 dilepaskan ke atmosfer.

Gambar 3.2 Diagram Alir Proses Pemisahan dan Pengeringan


Produk

5. Penampungan dan Pengemasan


Kristal ZA kering dengan bantuan vibrating feeder M-308
diumpankan ke bucket elevator M-306 kemudian diangkut setinggi
16.6 m. Kristal ZA dari bucket elevator dikirim ke bagian Hopper
D-306 kemudian diteruskan dengan menggunakan belt conveyor M-
662AB dan akhirnya ditampung dalam sebuah bin. Dari bin ini
selanjutnya kristal dikirim ke bagian pengantongan dan kemudian
dilakukan pengepakan (bagging). Kristal ZA dikemas dalam karung
plastic dengan berat bersih 50kg tiap karung.
Produk akhir pupuk ZA memiliki kadar N2 minimal 20.8%
berat, sulfur minimal 23.8% berat, H2SO4 maksimal 0.1% berat, H2O
maksimal 1% berat dan ukuran kristal yang tertinggal pada saringan
30 mesh sebanyak 75%.
Air 70oC, 1 atm

Asam sulfat 32oC dan 4.5 atm Kondesor shell and tube

Pompa Vessel Udara


Oil Separator
Amonia Gas, 70oC, 3.3 atm Tank
Cooling Water
Air
Amonia Cair 30oC, 19.5 atm
Air 30oC, 1 atm
Saturator
120oC, 1 atm
Filter
Liquor receiver
Sphere Tank
Air 30oC, 1 atm Compressor
Condensate
Air 80oC
5 atm
Amonia Gas, 70oC, 3.3 atm Diafter cooler
Water cooler 30oC Air 60 – 65oC Wet cyclone
Pompa Air 90oC, 5 atm

Low Pressure Steam


Wet cyclone
Vaporizer,steam coil 70oC, 3 atm
190oC dan 9.5 atm Condensate Tank

Hopper Hopper
Return Condensate Pompa

Uresoft Tank (anticaking)


Liquid ZA

Centrifuge Separator Centrifuge Separator

Pencoat
Rotary Dryer Hopper (NH4)2SO4 (ZA Product)
150oC 50.833,33 lb/hr

Belt Conveyor
Pump
Belt conveyor
Liquid (NH4)2SO4
ZA 50 – 55oC
Air 130 – 150oC
Mother Liquor Tank Mother Liquor Tank Bucket elevator
Storage bin
Vibrating feeder
Larutan (NH4)2SO4

Gambar 3.4 Diagram Alir Proses Pembuatan Produk ZA secara Lengkap


BAB IV
HEURISTIK DAN SPESIFIKASI ALAT PROSES

4.1 Heuristik Alat Proses


1. Saturator Tank
Saturator tank berfungsi untuk membuat larutan super saturasi hingga
didapatkan kristal ZA melalui proses kristalisasi. Proses kristalisasi ini
harus disesuaikan dengan heuristik 12. Reaksi yang terjadi bersifat
eksotermis rendah, sehingga harus disesuaikan dengan heuristik 22.
2. Pompa
Pompa berfungsi sebagai alat transportasi zat cair / larutan. Penggunaan
pompa ini harus disesuaikan dengan heuristik 37, 38, dan 43.
3. Kompresor
Kompresor berfungsi sebagai alat transportasi gas. Penggunaan kompresor
harus disesuaikan dengan heuristik 34.
4. Kondenser
Kondenser berfungsi untuk mengembunkan uap air proses menjadi
kondensat sebagai pengatur konsentrasi dan penyerap panas reaksi.
Penggunaan harus kondenser disesuaikan dengan heuristik 29 dan 31.
5. Cooler
Cooler berfungsi sebagai menurunkan suhu udara dalam proses pembuatan
udara sebagai udara pengaduk. Penggunaan cooler harus disesuaikan
dengan heuristik 29.
6. Rotary Dryer
Rotary dryer berfungsi sebagai alat filtrasi antara padatan ZA dan larutan
ZA. Penggunaan rotary dryer harus disesuaikan dengan heuristik 19.
7. Bucket Elevator
Bucket elevator berfungsi sebagai alat transportasi produk ZA padat menuju
hopper. Penggunaan bucket elevator harus disesuaikan dengan heuristik 48.
8. Belt Conveyor
Belt conveyor berfungsi sebagai alat transportasi padatan ZA dari separator
menuju dryer ataupun hopper menuju tangka penyimpanan. Penggunaan
belt conveyor ini harus disesuaikan dengan heuristik 48.
4.2 Spesifikasi Alat Utama
4.2.1 Ammonia Converter
Tipe : Vessel
Fungsi : Tempat sintesis amoniak dengan
mereaksikan N2 dan NH3 yang merupakan
reaktor crossflowconverter dengan 3 bed
katalis dan terpadat exchanger ungtuk
pendingin/pemanas secara tidak langsung.
Posisi : Horizontal Converter
Ukuran : Panjang : 23295 mm
Diameter : 2800 mm
Temperatur operasi : 454-482 ᴼC
Tekanan operasi : 173-177 kg/cm2
Katalis : 0,8-1,2 % K2O, 2,4-3,8% Al2O3, 1,9-2,8%
CaO, less than 0,7% SiO2, Fe metal 72% Fe
oxides balance
Bulk Density : 2,2 g/cm3
Jumlah : 1 buah

4.2.2 Ammonia Storage


Tipe : Vessel
Fungsi : Tempat untuk menyimpan amoniak cair
dari 120-C
Posisi : Vertikal
Ukuran : Panjang : 32000 mm
Diameter : 1900 mm
Temperatur operasi : -33 ᴼC
Tekanan operasi : 0,05 kg/cm2
Jumlah : 1 buah

4.3 Spesifikasi Alat Pendukung


4.3.1 Knock Out Drum (144-F)
Tipe : Vessel
Fungsi : Tempat untuk memisahkan fraksi ringan
dengan kandungan kondensat dan fraksi
berat dari gas alam umpan. Pada prinsipnya
karena adanya perbedaaan densitas cairan
dengan uap.
Posisi : Vertikal
Ukuran : Panjang : 1676 mm
Diameter : 3353 mm
Temperatur operasi : 16 ᴼC
Tekanan operasi : 18,3 kg/cm2
Jumlah : 1 buah

4.3.2 Air Compressor (101-J)


Tipe : Kompresor sentrifugal yang terdiri dari tiga
stage
Fungsi : Mengambil udara dari atmosfer dan
mengkompresi udara sampai 38 kg/cm2
Posisi : Vertikal
Ukuran : Panjang : 1676 mm
Diameter : 3353 mm
Temperatur operasi : Inlet 37 ᴼC, outlet 183,5 ᴼC
Tekanan operasi : Inlet 0,99 kg/cm2, Outlet 38,9 kg/cm2
Kecepatan Turbin : 12,637 ppm
Penggerak : Tipe HPS 123 kg/cm2, 9650 kW

4.3.3 Feed Gas Compressor (102-J)


Tipe : Kompresor sentrifugal
Fungsi : Menaikkan tekanan feed gas menjadi 45,7
kg/cm2
Temperatur operasi : Inlet 16 ᴼC, Outlet 103 ᴼC
Tekanan operasi : Inlet 18,3 kg/cm2g, Outlet 45,7 kg/cm2g
Kecepatan Turbin : 7220 ppm
Penggerak : Tipe MPS 1353 kW

4.3.4 Desulfurizer (108-D)


Tipe : Vessel
Fungsi : Tempat untuk menghilangkan kandungan
sulfur dalam alam umpan dan mengubah
senyawa sulfur organik menjadi H2S terdiri
dari 2 bed katalis
Posisi : Vertikal
Ukuran : Panjang : 8000 mm
Diameter : 2600 mm
Temperatur operasi : 399 ᴼC
Tekanan operasi : 44,3 kg/cm2g
Katalis : Bed pertama : 11% MoO3, 3,5 % CoO
(4,25 m3)
Bed kedua : 90% ZnO (35,4 m3)
Jumlah : 1 buah

4.3.5 Steam Drum


Tipe : Vessel
Fungsi : Tempat untuk menampung steam
Posisi : Horizontal
Ukuran : Panjang : 10363 mm
Diameter : 1676 mm
Temperatur operasi : 327,9 ᴼC
Tekanan operasi : 126,5 kg/cm2g
Jumlah : 1 buah

4.3.6 Waste Heat Boiler (101-C)


Tipe : U-tube exchanger (Bayonet) bagian dalam
shell tahan api dan bagian luarnya
dilengkapi dengan water jacket
Jenis fluida : Shell side : gas sintesis
Tube side : Boiler Feed Water (BFW)
Panjang : 11500 mm
Diameter : 1425/1775 mm
Temperatur : Shell side : in 1005 ᴼC
Out 734 ᴼC
Tube side : in 138,6 ᴼC
Out 324,1 ᴼC
Jumlah : 1 buah

4.3.7 High Pressure Steam Superheater (102-C)


Tipe : U-tube exchanger (Bayonet)
Jenis fluida : Shell side : gas sintesisa
Tube side : Boiler Feed Water (BFW)
Panjang : 10000 mm
Diameter : 1220/1576 mm
Temperatur : Shell side : in 734 ᴼC
Out 371 ᴼC
Tube side : in 324,1 ᴼC
Out 435,9 ᴼC
Jumlah : 1 buah
BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Produk ZA (Ammonium Sulfat) dapat dibuat melalui proses netralisasi dan
kristalisasi gas ammonia dan asam sulfat. Tahapan proses secara lengkap
meliputi persiapan bahan baku, proses netralisasi dan kristalisasi, proses
pemisahan kristal ZA dari larutan induk, proses pengeringan kristal ZA, serta
penampungan dan pengemasan.

5.2. Saran
1. Dalam proses persiapan bahan baku, semua bahan baku harus memenuhi
spesifikasi yang dibutuhkan dalam proses.
2. Pastikan kondisi saturator tank disesuaikan dengan heuristik yang ada
untuk menghasilkan kristal yang optimal.
3. Larutan ZA yang menandung mineral lain dengan konsentrasi tinggi dapat
ditambahkan fosfat untuk mengurangi mineral yang tidak diinginkan.
DAFTAR PUSTAKA

Putri, I. Y. dan Devi, R. O. N. (2018). Laporan Kerja Prakter di PT. Petrokimia


Gresik Departemen Produksi I Bagian Amoniak. Universitas Diponegoro.
Wulan, D. C. (2007). Prarancangan Pabrik Amonium Sulfat dari Amoniak dan
Asam Sulfat dengan Proses Netralisasi Kapasitas 25.000 Ton Per
Tahun. Skripsi thesis, Universitas Muhammadiyah Surakarta.